• Tidak ada hasil yang ditemukan

SKRIPSI PERAN PT. BPRS MENTARI PASAMAN SAIYO DALAM MENGEMBANGKAN USAHA MIKRO KECIL DAN MENENGAH (UMKM)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "SKRIPSI PERAN PT. BPRS MENTARI PASAMAN SAIYO DALAM MENGEMBANGKAN USAHA MIKRO KECIL DAN MENENGAH (UMKM)"

Copied!
75
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

PERAN PT. BPRS MENTARI PASAMAN SAIYO DALAM MENGEMBANGKAN USAHA MIKRO KECIL DAN MENENGAH (UMKM)

(Studi Kasus pada PT. BPRS Mentari Pasaman Saiyo)

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Guna Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi pada Jurusan S1 Perbankan Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam

(FEBI)

Oleh

PEBRIA NINGSIH 3317335

PERBANKAN SYARIAH S1

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) BUKITTINGGI

2021/1443H

(2)

ABSTRAK

Skripsi ini berjudul “Peran PT. BPRS Mentari Pasaman Saiyo Dalam Mengembangkan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) (Studi Kasus Pada PT.

BPRS Mentari Pasaman Saiyo)”. Penelitian ini disusun oleh Pebria Ningsih Nim 3317335, Program Studi S1 Perbankan Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnin Islam Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukittinggi.

Latar belakang penulis melakukan penelitian ini adalah terjadinya permasalahan yang dialami oleh pelaku UMKM dalam mengembalikan pembiayaan sehingga pelaku UMKM macet dalam membayar angsuran pembiayaan kepada pihak Bank, hal tersebut disebabkan oleh pendapatan pelaku UMKM menurun, usaha bangkrut, dan hasil usaha yang didapatkan digunakan untuk keperluan yang lain. Maka dengan itu perlu adanya peran dari pihak Bank terhadap pelaku UMKM agar usaha UMKM dapat berkembang, pihak Bank memberikan modal, tambahan modal agar usaha pelaku UMKM tetap berjalan, memberikan pembinaan terhadap pelaku UMKM dan melakukan pengawasan terhadap usaha pelaku UMKM.

Metode penelitian dalam penelitian ini menggunakan metode pendekatan kualitatif deskriptif yaitu dari hasil wawancara, dokumentasi yang penulis peroleh, penulis mencoba mendeskripsikan, menggambarkan, menguraikan dan menelaah bagaimana peran PT. BPRS Mentari Pasaman Saiyo dalam mengembangkan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), secara logis, dan efektif, sehingga memudahkan pemahaman dan interprestasi data.

Berdasarkan analisis data, maka dapat disimpulkan bahwa peran PT. BPRS Mentari Pasaman Saiyo dalam mengembangkan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yaitu sebagai lembaga keuangan dimana bank membantu nasabah yang membutuhkan tambahan modal untuk mengembangkan usahannya, jadi bagi nasabah yang memerlukan tambahan modal kerja dan investasi yang berkaitan dengan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), maka bank bisa memberikan modal usaha dan investasi, keringanan yang diberikan oleh pihak Bank terhadap pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang mengalami penurunan pendapatan dengan cara memperpanjang waktu angsuran dengan memberikan margin yang lebih ringan. Peran PT. BPRS Mentari Pasaman Saiyo dalam mengembangkan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yaitu membantu nasabah yang membutuhkan tambahan modal usaha untuk mengembangkan usahannya, melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap nasabah dan pemantauan terhadap usaha nasabah.

Kata Kunci: Peran BPRS, UMKM

(3)

BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Bank merupakan lembaga keuangan yang berpengaruh dalam perekonomian suatu negara baik secara mikro maupun secara makro. Bank memiliki fungsi sebagai perantara keuangan (financial intermediary) antara pihak-pihak yang surplus dengan pihak-pihak yang membutuhkan dana atau defisit. Dalam menjalankan aktivitas usahanya sebagai lembaga keuangan yang menjual kepercayaan dan jasa, setiap bank akan berusaha menarik nasabah baru sebanyak mungkin, menghimpun dana dari masyarakat dan juga memperbesar komposisi kredit yang diberikan kepada nasabah.1

Perbankan di Indonesia yang mengalami perkembangan, yang diiringi dengan berkembangnya pemikiran masyarakat tentang sistem syariah yang tanpa mengunakan bunga. Bank terbagi menjadi dua, yaitu bank konvensional dan bank syariah. Kedua jenis bank ini memiliki produk bank yang hampir sama, hanya berbeda pada sistem operasinya. Bank konvensional menggunakan sistem bunga, sedangkan bank syariah menerapkan sistem bagi hasil. Dalam menjalankan operasinya, bank syariah tidak mengenal konsep bunga uang dan tidak mengenal peminjaman uang tetapi yang ada adalah kemitraan atau kerjasama dengan prinsip bagi hasil, sementara peminjaman uang hanya dimungkinkan untuk tujuan sosial tanpa adanya imbalan apapun. Sehingga

1 Ahmad Muhaemin dan Ranti Wiliasih, Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Profitabilitas Bank Pembiayaan Rakyat Syariah Di Indonesia, (Jurusan Ekonomi Syariah Departemen Ilmu Ekonomi Institut Pertanian Bogor, Jl. Raya Darmaga Kampus IPB Darmaga Bogor 16680, 2016), hlm. 82.

(4)

dalam operasinya dikenal beberapa produk bank syariah antara lain produk dengan prinsip Mudharabah dan Musyarakah.2

Bank syariah memiliki peranan yang signifikan pada pertumbuhan perekonomian di Indonesia. Peran ini terlihat pada usaha mereka membantu UMKM. Sektor UMKM memberikan konstribusi yang sangat penting bagi perekonomian Indonesia pada masa krisis dimana UMKM memiliki daya tahan menghadapi krisi ekonomi yang terjadi karena UMKM tidak banyak memiliki ketergantungan pada faktor eksternal seperti hutang dalam valuta asing, dan bahan baku impor dalam melakukan kegiatan operasionalnya.3 UMKM juga memiliki posisi yang penting karena konstribusinya dalam penyerapan tenaga kerja dan Pendapatan Domestik Bruto (PDB). Hal ini menjadikan UMKM sebagai harapan utama tulang punggung peningkatan perekonomian nasional. UMKM juga merupakan pelaku ekonomi yang strategis mengingat jumlahnya yang mencapai 99,5% dari total jumlah usaha Indonesia.

Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) merupakan salah satu lembaga keuangan syariah yang sudah lama di Indonesia. Lembaga keuangan ini sudah lama berdiri di Indonesia sejak tahun 1991. Lembaga keuangan syariah yang berbasis pada Pembiayaan rakyat menyentuh aspek-aspek mikro rakyat kecil. Jumlah Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) di Indonesia meningkat seiring permintaan dan kebutuhan nasabah.4

2 Arief Wibowo dan Sunarto, Pengaruh Pembiayaan Mudharabah Dan Musyarakah Terhadap Profitabilitas Perbankan Syariah, (Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta), hlm. 115.

3 Sri Maryanti, Peran Bank Pembiayaan Rakyat Syariah Dalam Mengembangkan UMKM dan Agribisnis Pendesaan di Sumatera Barat, (Jurnal Of Economic and Economic Educasion Vol.3, No 1, 2014), hlm.17.

4 Ahmad Azmy, Jurnal, Analisis Pengaruh Rasio Kinerja Keuangan Terhadap Profitabilitas Bank

(5)

Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) merupakan salah satu perpanjangan tangan dari lembaga keuangan syariah yang memiliki core kegiatan usaha pada pendanaan dan pembiayaan kepada sektor-sektor riil untuk mengangkat perekonomian masyarakat. Berdasarkan UU No. 21 Tahun 2008 pasal 1 tetang ketentuan umum menyebutkan bahwa pengertian BPRS adalah bank syariah yang dalam kegiatannya tidak memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran. Selanjutnya pada pasal 2 dijelaskan bahwa perbankan syariah dalam melakukan kegiatan usahanya berasakan prinsip syariah, demokrasi ekonomi, dan prinsip kehatia-hatian. Sedangkan pengertian pembiayaan disini adalah pendanaan yang diberikan suatu pihak kepada pihak lain untuk mendukung investasi yang telah direncanakan, baik dilakukan sendiri maupun lembaga. Dengan kata lain, pembiayaan adalah pendanaan yang dikeluarkan untuk mendukung investasi yang telah direncanakan. Menurut Ismal (2013) menyatakan bahwa perbankan syariah di Indonesia ada bagian dari institusi keuangan yang telah mampu menyediaan pelayanan peminjaman dan pembiayaan mereka sendiri dan tentu saja dengan berlandaska prinsip dan nilai islam. Meskipun perbankan syariah dibatasi untuk melakukan kegiatan usahanya seperti bank konvensional karena berlandaskan agama islam yang melarang praktik riba, kontirbusi dari perbankan syariah sebagai intermediator keuangan menuju pembangunan ekonomi Indonesia yang berkelanjutan tetap menujukkan tren yang positif sejauh ini.

Sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) memiliki peranan penting dalam mendorong percepatan pembangunan ekonomi di Indonesia. Dengan adanya sektor UMKM, angka pengangguran di Indonesia menjadi berkurang. Sektor UMKM telah terbukti menjadi pilar perekonomian yang tangguh. Terbukti saat terjadi krisis

(6)

ekonomi 1998 di Indonesia, hanya sektor UMKM yang bertahan dari collapse-nya perekonomian. UMKM memiliki kekuatan yang tidak dimiliki oleh perusahaan- perusahaan skala besar. Pada masa sulit dewasa ini, UMKM cukup fleksibel menyikapi kenaikan harga bahan bakar dan kenaikan harga faktor-faktor produksi lainnya.

Kontribusi UMKM dalam peningkatan Produk Domestik.5

Perkembangan sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) saat ini sudah sangat baik. Wajar bila UMKM menjadi fokus pembiayaan perbankan syariah. Sektor UMKM bahkan mampu menopang pertumbuhan ekonomi nasional dan menjadi pendorong perekonomian saat krisis melanda. Sama seperti UMKM, perbankan syariah yang selama ini seolah ditepikan justru menunjukkan perkembangannya saat krisis.

Meski UMKM mempunyai andil yang cukup besar dalam pembangunan nasional, sektor ini selalu mendapat kendala dalam pengembangannya. Permasalahan klasik dan mendasar yang dihadapi UMKM. Antara lain, permasalahn modal, bentuk badan hukum yang umumnya non-formal, SDM, pengembangan produk dan akses pemasaran. Permasalahan lanjutan yang dihadapi UMKM, antara lain pengenalan dan penetrasi pasar ekspor yang belum optimal, kurangnya pemahaman terhadap desain produk yang sesuai dengan karakter pasar, permasalahan hukum yang menyangkut hak paten, prosedur kontrak penjualan serta peraturan yang berlaku di negara tujuan ekspor.

Permasalahan antara (intermediate problems), yaitu permasalahan dari instansi terkait untuk menyelesaikan masalah dasar agar mampu menghadapi persoalan lanjutan secara

5Rina Destiana, Jurnal, Determinan Pembiayaan Usaha Mikro Kecil Dan Menengah Pada Bank Pembiayaan Rakyat Syariah, (Universitas Swadaya Gunung Jati, 2017), hlm. 59.

(7)

lebih baik. Permasalahan tersebut antara lain, dalam hal manajemen keuangan, agunan, dan keterbatasan dalam kewirausahaan.

Pada saat ini pengembangan UMKM masih dilanda berbagai hambatan dan tantangan dalam menghadapi dunia usaha yang semakin ketat. Namun demikian dengan berbagai keterbatasan yang ada, UMKM masih diharapkan mampu menjadi andalan perekonomian Indonesia. Usaha Mikro Kecil Menengah diharapkan dapat berperan sebagai salah satu sumber penting dalam meningkatan sumber pendapatan dan memperluas kesempatan kerja bagi masyarakat. Di Indonesia UMKM telah menjadi bagian penting dari sistem perekonomian di Indonesia. Hal ini dikarenakan UMKM merupakan unit-unit usaha yang lebih banyak jumlahnya dibandingkan usaha industri berskala besar dan memiliki keunggulan dalam menyerap tenaga kerja lebih banyak dan juga mampu mempercepat proses pemerataan sebagai bagian dari pembangunan.6

Bruto dan devisa negara juga tak diragukan lagi. Mengingat peranan dan kontribusi UMKM bagi perekonomian bangsa maka UMKM dijadikan agenda utama pembangunan ekonomi Indonesia.

Di Indonesia saat ini UMKM dianggap sebagai cara yang efektif dalam pengentasan kemiskinan. UMKM telah diatur secara undangundang Nomor 20 Tahun 2008 tentang usaha mikro, kecil, dan menengah. UMKM merupakan kelompok pelaku ekonomi terbesar dalam perekonomian Indonesia dan menjadi sektor terbesar kontribusinya terhadap pembangunan nasional. UMKM juga menciptakan peluang

6 Dewi Anggraini Syahrir Hakim Nasution, Peranan Kredit Usaha Rakyat (KUR) Bagi Pengembangan UMKM Di Kota Medan (Studi Kasus BANK BRI, 2013), (Jurnal Ekonomi dan Keuangan), hlm. 105-106

(8)

kerja yang cukup besar bagi kerja dalam negeri, sehingga sangat membantu dalam upaya mengurangi pengganguran.

Untuk mengembangkan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) maka PT.

BPRS Mentari Pasaman Saiyo yang ada di pasaman Barat memberikan pembiayaan atau penambahkan modal terhadap Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) untuk kelancaran usahanya, setelah PT. BPRS Mentari Pasaman Saiyo memberikan pembiayaan maka ada kewajiban dari pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) untuk angsuran pembiayaan tersebut. Masalah dalam penyaluran terhadap Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) itu lancar, yang menjadi kendala adanya pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) itu yang pendapatannya menurun dan bisa juga mengalami kebangrutan, maka dari itu pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) terkendala dalam membayar angsuran kepada PT. BPRS Mentari Pasaman Saiyo. Maka dari itu peran PT. BPRS Mentari Pasaman Saiyo dalam mengatasi hal tersebut dengan memberikan keringanan kepada pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dalam membayar ansuran pada saat mengalami penurunan pendapatan dan jika pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) mengalami kebangrutan atau tidak bisa membayar angsuran lagi maka langkah terakhir yang diambil oleh PT. BPRS Mentari Pasaman Saiyo dalam mengatasi masalah tersebut adalah melakukan exsekusi jaminan atau penjualan jaminan pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).

Peran PT. BPRS Mentari Pasaman Saiyo dalam mengembangan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) berdasarkan produk pembiayaan pada PT. BPRS Mentari Pasaman Saiyo dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

(9)

Tabel 1.1

Daftar Pembiayaan PT. BPRS Mentari Pasaman Saiyo Tahun 2014-2020 (Rp Juta)

TAHUN JUMLAH REKENING NOMINAL

2014 372 5.979.000.000

2015 415 6.657.340.000

2016 388 7.168.710.000

2017 417 8.792.588.000

2018 443 9.671.907.000

2019 528 10.525.970.770

2020 491 10.780.979.139

Sumber : Data PT.Bank Pembiayaan Rakyat Syariah Mentari Pasaman Saiyo (PT. BPRS MPS)

Dari tabel di atas tampak bahwa selama periode 2014-2020 telah terjadi kenaikan jumlah pembiayaan yang di berikan oleh PT. BPRS Mentari Pasaman Saiyo terhadap pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), dimana perkembangan nominal pembiayaan untuk Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) selama periode tahun 2014-2016 adalah 10,780,979,139. Dari sisi nominal pembiayaan, Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) mendapatkan pembiayaan yang besar.

Dilihat dari kondisi UMKM masih terdapat masalah yang menyebabkan UMKM sulit untuk mengembangkan usaha. Terutama sebagai masyarakat muslim yang menginginkan transaksi yang halal tanpa bunga dan sesuai dengan syariah agama Islam, pilihan pembiayaan yang tepat adalah dengan menggunakan pembiayaan

(10)

produktif melalui instrumen perbankan syariah yaitu Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS).

Oleh karena itu, untuk mengembangkan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), diperlukan lembaga keuangan yang sesuai dengan kebutuhan dan kondisi pelaku ekonomi rakyat itu. Namun disisi lain tingkat ke tidak berhasilan dari penerima pembiayaan juga cukup besar sehingga, peneliti merasa tertarik untuk melakukan penelitian secara dalam terkait dengan persoalan tersebut, artinya dengan pembiayaan yang besar tersebut, bagaimana peran PT. BPRS Mentari Pasaman Saiyo dalam mengembangkan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), oleh karena itu peneliti akan fokus pada judul “Peran PT. BPRS Mentari Pasaman Saiyo Dalam Mengembangkan Usaha Mikro Kecil Dan Menengah (UMKM)”.

B. Identifikasi Masalah

Dari latar belakang masalah yang telah di uraikan di atas dapat diidentifikasikan masalah sebagai berikut:

1. Menurunnya pendapatan pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dan pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) mengalami kebangrutan.

2. Macetnya pembayaran ansuran pembiayaan pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM)

(11)

C. Batasan Masalah

Untuk tidak memperluasnya masalah serta disebabkan karena keterbatasan biaya, dana, dan waktu, maka penulis membatasi penelitian ini pada peran PT. BPRS Mentari Pasaman Saiyo dalam mengembangkan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).

D. Rumusan Masalah

Adapun dari latar belakanag masalah yang diatas, maka permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini adalah:

1. Bagaimanakah Peran PT. BPRS Mentari Pasaman Saiyo dalam Mengembangkan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM)?

2. Faktor apa saja yang menjadi kendala dan solusi dalam mengembangkan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM)?

E. Tujuan dan Manfaat Penelitian

Adapun Tujuan dalam Penelitian ini adalah:

1. Untuk mengetahui dan menjelaskan bagaimanakah Peran PT. BPRS Mentari Pasaman Saiyo dalam Mengembangkan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).

2. Untuk mengetahui dan menjelaskan faktor kendala dan solusi PT. BPRS Mentari Pasaman Saiyo dalam Mengembangkan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).

(12)

Adapun Manfaat dalam Penelitian ini adalah

1. Sebagai salah satu syarat untuk mencapai gelar Sarjana Ekonomi (SE) pada jurusan S1 perbankan syari’ah.

2. Hasil penelitian ini diharapakan dapat menjadi pengetahuan untuk menambah wawasan tentang Peran PT. BPRS Mentari Pasaman Saiyo dalam Mengembangkan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Pasaman Barat.

F. Penjelasan Judul

Untuk menjelaskan kekeliruan dalam memahami judul ini, maka penulis perlu untuk menjelaskan dari beberapa kata yang terdapat dalam judul yaitu:

Peran : Peran adalah suatu perilaku atau tindakan yang diharapkan sekelompok orang dan lingkungan untuk dilakukan oleh seseorang individu, kelompok, organisasi, badan atau lembaga yang karena status atau kedudukan yang dimiliki akan memberikan pengarus pada sekelompok orang atau lingkungan.

Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, peran adalah sesuatu yang menjadi bagian atau memegang pimpinan terutama dalam terjadinya suatu hal atau peristiwa.7

BPRS : Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) adalah Bank Syariah yang dalam kegiatannya tidak memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran (Pasal 1 angka 9 UU Perbankan Syariah). Semua

(13)

peraturan perundang-undangan yang menyebut BPRS dengan Bank Perkreditan Rakyat Syariah harus dibaca dengan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah.8

Pengembangan : Pengembangan adalah usaha yang terencana dari organisasi untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan pegawai. Pengembangan lebih menekankan pada peningkatan pengetahuan untuk melakukan pekerjaan pada masa yang akan datang, yang dilakukan melalui pendekatan yang terintegrasi dengan kegiatan lain untuk mengubah perilaku kerja. 9

UMKM : Usaha (mikro) kecil menengah di Indonesia merupakan bagian penting dari sistem perekonomian nasional karena berperan untuk mempercepat pemerataan pertumbuhan ekonomi melalui misi penyediaan lapangan usaha dan lapangan kerja, peningkatan pendapatan masyarakat dan ikut berperan dalam meningkatkan perolehan devisa serta memperkokoh struktur industri nasional.10

8 Farhat Amaliyah Ahmad, Manajemen Risiko terhadap Pembiayaan Murabahah di Bank Pembiayaan Rakyat Syariah, (Universitas Islma Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2018), hlm. 224.

9 Marihot Tua Effendi Hariandja, Manajemen Sumber Daya Manusia, (Jakarta: PT. Gramedia Widiasarana Indonesia, 2002), hlm. 215.

10 L Anggraeni, Herdiana P, Salahuddin EA, Ranti W, Akses UMKM Terhadap Pembiayaan Mikro Syariah dan Dampaknya Terhadap Perkembangan Usaha : Kasus BMT Tadbiirul Ummah, Kabupaten Bogor. ( Departemen Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Manajemen Institut Pertanian Bogor, 2013), hlm. 58.

(14)

Dari penjelasan judul di atas, maksud dari judul ini adalah untuk mengetahui Bagaimana Peran Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) dalam mengembankan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).

G. Kajian Terdahulu

Untuk mendukung penelitian ini, sebelumnya peneliti melakukan perbandingan antara penelitian-penelitian terdahulu. Penelitian terdahulu diantaranya, Pada penelitian yang dilakukan Isna Fadhillah (2019) yang berjudul “Peran PT. BPRS Al-Washliyah Medan Dalam Pengembangan Usaha Miro Kecil dan Menengah (UMKM)”. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Semua pihak harus berperan dalam hal ini, baik pemerintah, bank syariah, dan UMKM sendiri. Bank-bank syariah diharapkan dapat lebih memperluas akses dan mensosialisasikan kelebihannya dengan baik sehingga bank syariah bisa menjadi penguat dan pendamping pengembangan UMKM.

Sementara pemerintah dapat memberikan fasilitas pelatihan manajemen bagi para pelaku UMKM agar kompetensi mengenai pengelolaan administrasi usaha dapat meningakat.

Pada penelitian yang dilakukan Achmad Rifa’i (2017) yang berjudul “Peran Bank Pembiayaan Rakyat Syariah dalam Mengimplementasikan Keuangan Inklusif Melalui Pembiayaan UMKM”. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Bank Pembiayaan Syariah secara keseluruhan telah menjadi lembaga intermediasi yang secara konsisten dalam mengimplementasikan keuangan inklusif. Hal ini bisa dilihat dari tiga indikator utama yang ditetapkan Bank Indonesia yaitu akses, penggunaan, dan kualitas. Melihat terus meningkatnya ketiga komponen tersebut, tentu menjadi hal yang

(15)

menggembirakan bahwa BPRS mampu ikut berkontribusi untuk menjangkau masyarakat menengah bawah yang menjadi sasaran utama keuangan inklusif. UMKM diupayakan menjadi salah satu jalan untuk mempercepat strategi pengimplementasian keuangan inklusif di Indonesia, apalagi dilihat melalui data dari OJK bahwa BPRS menaruh porsi lebih besar terkait pembiayaan berdasarkan sektor usaha kepada UMKM dibandingkan kepada sektor usaha yang lain. Hal ini dilakukan BPRS karena meyakini bahwa cara paling efektif dalam melalukan persebaran keuangan inklusif adalah melalui pembiayaan UMKM yang memiliki efek multiplier tinggi.

Pada penelitian yang dilakukan Muslimin Kara (2013), yang berjudul

“Konstribusi Pembiayaan Perbankan Syariah Terhadap Pengembangan Usaha Mikro Kecil Dan Menengah (UMKM) Di Kota Makassar” Hasil penelitian menunjukkan bahwa Perkembangan pembiayaan perbankan syariah dalam upaya pengembangan UMKM di Kota Makassar selama tahun 2010–2011 mengalami peningkatan yang berfluktuasi. Hal tersebut mencerminkan bahwa peran serta pembiayaan perbankan syariah dalam peningkatan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) di Kota Makassar belum optimal. Secara rata-rata perkembangan pembiayaan perbankan syariah selama periode Januari–Desember 2010 sebesar 14,23%, sedangkan periode Januari–September tahun 2011 sebesar 18,43%. Meskipun besarnya pembiayaan perbankan syariah yang disalurkan oleh bank syariah di Kota Makassar berfluktuasi, secara umum tetap memiliki prospek yang cukup menggembirakan.

Peran serta pembiayaan perbankan syariah dalam upaya pengembangan usaha mikro kecil menengah (UMKM) di Kota Makassar sangat dibutuhkan mengingat

(16)

banyaknya UMKM yang selama ini belum memperoleh fasilitas pembiayaan. kendala dan tantangan yang selama ini banyak dihadapi oleh perbankan syariah di Kota Makassar dalam upaya pengembangan Usaha Mikro Kecil dan menengah adalah:

1. Relatif kecil pangsa perbankan syariah

2. Terbatasnya Sumber Daya Manusia yang mumpuni 3. Paradigma bank konvensional yang masih kuat 4. Masih dikejar target BEP

5. Kurangnya sosialisasi 6. Masih terbatasnya jaringan.

(17)

BAB II PEMBAHASAN A. Peran

1. Pengertian Peran

Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, peran adalah sesuatu yang menjadi bagian atau memegang pimpinan terutama dalam terjadinya suatu hal atau peristiwa. Menurut Soerjono Soekanto, peran merupakan aspek dinamis kedudukan (status). Apabila seseorang melaksanakan hak dan kewajibannya sesuai dengan kedudukannya, maka ia menjalankan suatu peranan. Dari hal diatas lebih lanjut kita lihat pendapat lain tentang peran yang telah ditetapkan sebelumnya disebut sebagai peranan normatif. Dalam hubungannya dengan tugas dan kewajibab dinas perhubungan dalam penegakan hokum mempunyai arti penegakan hukum secara total, yaitu penegakan hukum secara penuh.11

Menurut Gross, Masson, dan Mc Eachern mendefinisikan peranan yang dikutip oleh David Berry dalam bukunya yang berjudul Pokok-Pokok Pikiran dalam Sosiologi, peranan diartikan sebagai seperangkat harapan-harapan yang dikenakan pada individu yang menempati kedudukan sosial tertentu atau lembaga yang mumpunyai arti penting bagi struktur sosial. Harapan-harapan tersebut merupakan imbangan dari norma-norma sosial dan oleh karna itu dapat dikatakan bahwa peranan-peranan itu ditentukan oleh norma-norma di dalam masyarakat, maksutnya

11 W.J.S. Poerwadarminto, Kamus Umum Bahasa Indonesia, (Jakarta: PN Balai Pustaka, 1984), hlm. 735.

(18)

kita diwajibkan untuk melakukan hal-hal yang diharapkan oleh masyarakat di dalam pekerjaan kita, didalam keluarga dan didalam perananperanan lainnya.12

Berdasarkan pengertian diatas, peranan dapat diartikan sebagai suatu perilaku atau tingkah laku seseorang yang meliputi norma-norma yang diungkapkan dengan posisi dalam masyarakat. Pendapat lain dalam buku sosiologi suatu pengantar bahwa “peranan adalah suatu prilaku yang diharapkan oleh orang lain dari seseorang yang menduduki status tertentu.13

Peran merupakan aspek dinamis kedudukan. Apabila seseorang melaksanakan hak dan kewajibannya sesuai dengan kedudukannya, dia menjalankan suatu peranan. Setiap orang mempunyai macam-macam peranan yang berasal dari pola- pola pergaulan hidupnya. Hubungan sosial yang ada dalam masyarakat merupakan hubungan antara peranan-peranan individu dalam masyarakat. Peranan diatur oleh norma-norma yang berlaku.

Secara sosiologi peranan adalah aspek dinamis yang berupa tindakan atau perilaku yang dilaksanakan oleh seseorang yang menempati atau memangku suatu posisi dan melaksanakan hak-hak dan kewajiban sesuai dengan kedudukannya. Jika seseorang menjalankan peran tersebut dengan baik, dengan sendirinya akan berharap bahwa apa yang dijalankan sesuai dengan keinginan diri lingkungan.

12 David Barry, Pokok-Pokok Pikiran dalam Sosiologi, (Jakarta: Raja Grafindo Perkasa, 2003), hlm. 106.

13 Bruce J Cohen, Struktur Sosial, (Jakarta: CIFOR, 1992), hlm. 76.

(19)

Peranan merupakan dinamis dari statis ataupun penggunaan dari pihak dan kewajiban atau disebut subjektif.14

2. Peran Pembiayaan BPRS

Peran BPRS (Bank Pembiayaan Rakyat Syariah ) dalam memberikan pembiayaan berdasarkan golongan pembiayaan pada sektor ekonomi di Indonesia, dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 2.1

Pembiayaan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) berdasarkan Golongan Pembiayaan Tahun 2008-2014 (Rp Juta)

14 Sutyo Bakir, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, (Tanggerang: Karisma Publishing Group, 2009), hlm.

348

GOLONGAN

PEMBIAYAAN 2008 2009 2010 2011 2012 1013 2014*

g (%) Usaha Kecil dan

Menengah 657,359 833,076 1,115,962 1,547,205 2,080,094 2,620,263 2,579,797 31,87 Porsi dari Total

Pembiayaan (%) 52.31 52.5 54.16 57.82 58.54 59.1 58.33 2,47 Selain Usaha Kecil dan

Menengah 599,291 753,843 944,475 1,128,725 1,473,426 1,813,230 1,842,877 24,79 Porsi dari Total

Pembiayaan (%) 47.69 47.5 45.84 42.18 41.46 40.9 41.67

- 3,03

(20)

Sumber: Statistik Perbankan Syariah, 2014 Catatan : *: data sampai Januari 2014

g = Pertumbuhan Rata-rata tahun 2008-2013 (%)

Dari tabel di atas tampak bahwa selama periode 2008-2014 telah terjadi kenaikan jumlah pembiayaan yang diberikan oleh BPRS terhadap sektor usaha kecil dan menengah, dimana pertumbuhan rata-rata pembiayaan untuk UMKM selama periode tahun 2008-2010 adalah 31,87 % dan untuk pembiayaan selain UMKN bertumbuh dengan 24,75%. Dari sisi porsi pembiayaan, UMKM mendapatkan pembiayaan yang lebih besar dibandingkan selain UMKM. Hal ini menunjukkan bahwa BPRS memiliki peran dalam mendorong usaha ini.

Di Sumatera Barat, UMKM juga menunjukan andil yang sangat besar dalam membangkitkan ekonomi di Sumatera Barat. Lebih kurang 56 ribu UMKM di Sumbar menjadi pengerak ekonomi masyarakat, dimana 88 persen diantaranya, dalam bentuk usaha kecil menengah sederhana. Mereka berperan sebagai sumber pendapatan yang menghidupkan aktifitas ekonomi masyarakat di daerah ini.

Kondisi terburuk dialami oleh UMKM pada saat terjadinya gempa yang mengguncang Sumatera Barat pada bulan September tahun 2009. Peristiwa tersebut telah menghancurkan sendi-sendi perekonomian daerah, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia memperkirakan sebanyak 80% UMKM menderita kerugian miliaran rupiah (Ekonomi Neraca, 2010).

Total 1,256,650 1,586,919 2,060,437 2,675,930 3,553,520 4,433,492 4,422,674 28,67

(21)

Meskipun pada tahun 2010 telah terjadi pemulihan ekonomi , namun menurut Bank Indonesia aktivitas ekonomi pada 2010 tersebut lebih banyak didorong oleh dana bantuan yang terus mengalir ke Sumatera Barat, pada kondisi riilnya aktivitas ekonomi di Sumatera Barat memang sangat lambat bahkan cenderung mundur atau tidak bergerak sebagai akibat dari terjadinya bencana gempa bumi dan tsunami. Untuk memacu pertumbuhan ekonomi daerah ini lebih cepat, maka upaya pertama yang harus dilakukan adalah memaksimalkan pemberdayaan UMKM. (Haluan, Senin, 06 Oktober 2014).

Melihat kondisi UMKM yang masih dihadapkan pada banyak permasalahan, ditambah lagi dengan terjadinya gempa yang menyebabkan UMKM semakin sulit untuk mengembangkan usahanya. Terutama sebagai masyarakat muslim yang menginginkan transaksi yang halal tanpa bunga dan sesuai dengan syariah agama Islam, pilihan pembiayaan yang tepat adalah dengan menggunakan pembiayaan produktif melalui instrumen perbankan syariah yaitu Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS).15

B. Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS)

Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) sebagai bagian dari perbankan syariah memiliki fokus melakukan kegiatan pada operasi sektor riil sehingga memiliki sifat yang berpengaruh besar dalam perubahan kondisi makro ekonomi, Hal tersebut akan mendorong pihak manajemen BPRS untuk melakukan berbagai

15 Sri Maryanti, Peran Bank Pembiayaan Rakyat Syariah Dalam Mengembangkan UMKM dan Agribisnis Pendesaan di Sumatera Barat, (Jurnal Of Economic and Economic Educasion Vol.3, No 1, 2014), hlm. 4.

(22)

usaha dan strategi guna mendukung tercapainya tingkat kesehatan perbankan yang optimal.

Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) merupakan salah satu perpanjangan tangan dari lembaga keuangan syariah yang memiliki core kegiatan usaha pada pendanaan dan pembiayaan kepada sektor-sektor riil untuk mengangkat perekonomian masyarakat. Berdasarkan UU No. 21 Tahun 2008 pasal 1 tetang ketentuan umum menyebutkan bahwa pengertian BPRS adalah bank syariah yang dalam kegiatannya tidak memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran.

Selanjutnya pada pasal 2 dijelaskan bahwa perbankan syariah dalam melakukan kegiatan usahanya berasakan prinsip syariah, demokrasi ekonomi, dan prinsip kehatia-hatian. Sedangkan pengertian pembiayaan disini adalah pendanaan yang diberikan suatu pihak kepada pihak lain untuk mendukung investasi yang telah direncanakan, baik dilakukan sendiri maupun lembaga. Dengan kata lain, pembiayaan adalah pendanaan yang dikeluarkan untuk mendukung investasi yang telah direncanakan. Menurut Ismal (2013) menyatakan bahwa perbankan syariah di Indonesia ada bagian dari institusi keuangan yang telah mampu menyediaan pelayanan peminjaman dan pembiayaan mereka sendiri dan tentu saja dengan berlandaska prinsip dan nilai islam. Meskipun perbankan syariah dibatasi untuk melakukan kegiatan usahanya seperti bank konvensional karena berlandaskan agama islam yang melarang praktik riba, kontirbusi dari perbankan syariah sebagai intermediator keuangan menuju pembangunan ekonomi Indonesia yang berkelanjutan tetap menujukkan tren yang positif sejauh ini.

(23)

Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) adalah Bank Syariah yang dalam kegiatannya tidak memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran (Pasal 1 angka 9 UU Perbankan Syariah). Semua peraturan perundang-undangan yang menyebut BPRS dengan Bank Perkreditan Rakyat Syariah harus dibaca dengan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah.16

BPRS berdiri berdasarakan UU No. 7 Tahun 1992 tentang perbankan dan Peraturan Pemerintah (PP) No. 72 Tahun 1992 tentang Bank berdasarkan prinsip bagi hasil. Pada pasal 1 (butir 4) UU No. 10 Tahun 1998 tentang perubahan atas UU No. 7 Tahun 1992 tentang perbankan, disebutkan bahwa BPRS adalah bank yang melaksanakan kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah yang dalam kegiatannya tidak memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran.17

BPRS merupakan tipe bank syariah yang secara khusus diarahkan untuk membiayai UMKM. Namun demikian, terdapat batasan-batasan dan fokus usaha BPRS, yaitu BPRS tidak diperkenankan menghimpun dana pihak ketiga (DPK) dalam bentuk giro, karena BPRS tidak menjalankan fungsi lalu lintas pembayaran dalam sistem pembayaran nasional, persyaratan modal BPRS relatif lebih kecil dibandingkan persyaratan modal bank umum syariah (BUS) dan unit usaha syariah (UUS) agar keberadaan BPRS dapat lebih fokus melayani segmen UMKM yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia dan belum sepenuhnya terjangkau oleh jaringan kantor BUS dan UUS (Mulyanto, 2011).

16 Farhat Amaliyah Ahmad, Manajemen Risiko terhadap Pembiayaan Murabahah di Bank Pembiayaan Rakyat Syariah, (Universitas Islma Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2018), hlm. 224.

17 Burhanudin Susanto, Hukum Perbankan Syariah di Indonesia, (Yogyakarta: UII Pres, 2008), hlm. 32.

(24)

1. Sejarah Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS)

Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) merupakan salah satu lembaga keuangan syariah yang sudah lama di Indonesia. Lembaga keuangan ini sudah lama berdiri di Indonesia sejak tahun 1991. Lembaga keuangan syariah yang berbasis pada Pembiayaan rakyat menyentuh aspek-aspek mikro rakyat kecil.

Jumlah Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) di Indonesia meningkat seiring permintaan dan kebutuhan nasabah UU No. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan dan Peraturan Pemerintah (PP) No. 72 Tahun 1992 tentang Bank Berdasarkan Prinsip Bagi Hasil.18

Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) pada awal terbentuknya masih bernama Bank Perkreditan Rakyat syariah. Istilah Bank Perkreditan Rakyat (BPR) dikenalkan pertama kali oleh Bank Rakyat Indonesia (BRI) pada akhir tahun 1977, ketika BRI mulai menjalankan tugasnya sebagai Bank pembina lumbung desa, bank pasar, bank desa, bank pegawai dan bank-bank sejenis lainnya. Pada masa pembinaan yang dilakukan oleh BRI, seluruh bank tersebut diberi nama Bank Perkreditan Rakyat (BPR).

Namun dalam perkembangan lebih lanjutnya, pada tahun 2009 Bank Indonesia merevisi aturan Bank Perkreditan Rakyat Syariah (BPRS). Ketentuan baru ini dibuat untuk memberikan landasan hukum yang lebih jelas mengenai syarat dan tata cara pendirian BPRS. Aturan baru ini tertuang dalam Peraturan Bank Indonesia Nomor 11/23/PBI/ 2009 tentang Bank Pembiayaan Rakyat

18 Muhammad Akhyar Adnan & Didi Purwoko, Jurnal, Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Rendahnya Pembiayaan Mudharabah Menurut Perspektif Manajemen Bank Syariah Dengan Pendekatan Kritis, (

(25)

Syariah, yang mulai berlaku 1 Juli 2009. Keberadaan BPRS dimaksudkan untuk dapat memberikan layanan perbankan secara cepat, mudah, dan sederhana kepada masyarakat khususnya pengusaha menengah, kecil, dan mikro baik di perdesaan maupun perkotaan yang selama ini belum terjangkau oleh layanan bank umum.

2. Tujuan didirikan BPRS

Terdapat beberapa tujuan pendirian Bank Pembiayaan Rakyat Syariah, yaitu:

a. Meningkatkan kesejahteraan ekonomi umat Islam terutama kelompok masyarakat ekonomi lemah yang pada umumnya berada di daerah pedesaan.

b. Menambah lapangan kerja terutama di tingkat kecamatan, sehingga mengurangi arus urbanisasi.

c. Membina ukhuwah islamiyah melalui kegiatan ekonomi dalam rangka peningkatan per kapita menuju kualitas hidup yang memadai.19

Sebagai lembaga keuangan syariah pada dasarnya Bank Pembiyaan Rakyat Syariah dapat memberikan jasa-jasa keuangan yang serupa dengan bank-bank umum syariah. Namun demikian, sesuai UU perbankan No. 1 Tahun 1998, BPR Syariah hanya dapat melakukan usaha-usaha sebagi berikut:

1) Menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan berupa deposito berjangka, tabungan dan bentuk lainnya.

19 Warkum Sumitro, Asas-Asas Perbankan Islam dan Lembaga-Lembaga Terkait, (Raja Grafindo Persada : Jakarta, 2004), hlm. 129-130.

(26)

2) Menyalurkan dana kepada masyarakat.

3) Menyediakan pembiayaan dan penempatan dana berdasarkan prinsip syariah sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan Bank Indonesia.

4) Menempatkan dananya dalam bentuk sertifikat Bank Indonesia, deposito berjangka, sertifikat deposito, atau pada tabungan pada bank lain.

Tujuan didirikannya Bank Pembiayaan Rakyat Syariah yang tercantum dalam peraturan BI Nomor 11/15/PBI/2009 yaitu:

1) Memiliki system perbankan syariah yang dapat melayani seluruh lapisan masyarakat termasuk kepada pengusaha menengah, kecil dan mikro.

2) Untuk meningkatkan pelayanan jasa perbankan syariah kepada usaha menengah, kecil dan mikro secara optimal, Bank Pembiayaan Rakyat Syariah harus sehat dan tangguh (sustainable). 20

3. Kegiatan Usaha BPRS

Berkaitan dengan BPRS, sebagaiman terlihat dalam Pasal 21 UU Perbankan Syariah, kegiatan usaha yang dapat dilakukan oleh BPRS adalah:21 a. Menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk; simpanan berupa

tabungan atau yang dipersamakan dengan itu berdasarkan akad wadiah atau akad lain yang tidak bertentangan dengan prinsip syariah, dan investasi berupa deposito atau tabungan atau bentuk lainnya yang

20Muhammad Akhyar Adnan & Didi Purwoko, Jurnal, Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Rendahnya Pembiayaan Mudharabah Menurut Perspektif Manajemen Bank Syariah Dengan Pendekatan Kritis, ( Prodi Akuntansi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, 2013), hlm. 16.

21 Farhat Amaliyah Ahmad, Manajemen Risiko terhadap Pembiayaan Murabahah di Bank Pembiayaan

(27)

dipersamakan denga itu berdasarkan akad mudharabah atau akad lain yang tidak bertentangan dengan prinsip syariah.

b. Menyalurkan dana kepada masyarakat dalam bentuk pembiayaan bagi hasil berdasarkan akad mudharabah atau musyarakah; pembiayaan berdasarkan akad murabahah, salam, atau istishna’; pembiayaan berdasarkan akad qardh; pembiayaan penyewaan barang bergerak atau tidak bergerak kepada nasabah berdasarkan akad ijarah atau sewa beli dalam bentuk ijarah muntahiya bittamlik; dan pengambil alihan utang berdasarkan akad hawalah;

c. Menempatkan dana pada bank syariah lain dalam bentuk titipan berdasarkan akad wadiah atau investasi berdasarkan akad mudharabah dan/atau akad lain yang tidak bertentangan dengan prinsip syariah;

d. Memindahkan uang, baik untuk kepentingan sendiri maupun untuk kepentingan nasabah melalui rekening BPRS yang ada di BUS, Bank Umum Konvensional, dan UUS;

e. Menyediakan produk atau melakukan kegiatan usaha Bank Syariah lainnya yang sesuai dengan prinsip syariah berdasarkan persetujuan Bank Indonesia.

(28)

4. Produk-Produk BPRS

Produk-produk yang ditawarkan Bank Pembiayaan Rakyar Syariah adalah:

a. Funding (Penghimpunan Dana)

Yakni kegiatan usaha yang dilakukan bank untuk menghimpun atau mengumpulkan dana dari nasabah, internal bank maupun masyarkat dalam bentuk simpanan berdasarkan konsep syariah.

1) Tabungan Wadiah

Tabungan yang dijalankan berdasarkan akad wadiah, yakni titipan murni dari satu pihak ke pihak yang lain, baik inidividu maupun badan hukum, yang harus dijaga dan dikembalikan kapan saja si penitip menghendaki. Bank bertanggung jawab atas pengembalian titipan tersebut.

2) Deposito Mudharabah

Akad kerjasama antara dua pihak, dimana pihak pertama bertindak sebagi pemilik dana (shahibul maal) dan pihak kedua yaitu bank bertindak sebagai pengelola dana (mudharib), bank mengelola dana tersebut dengan tujuan untuk memperoleh keuntungan. Dan apabila terdapat keuntungan dibagi berdasarkan kesepakatan, sampai jangka waktu yang telah ditentukan.

b. Financing (Penyaluran Dana)

Yakni kegiatan yang dilakukan bank dalam memanfaatkan dan menyalurkan dana nasabah yang telah terkumpul ke dalam investasi yang

(29)

telah direncanakan, baik dilakukan sendiri atau lembaga. Dan investasi tersebut, yang diperolehkan menurut syariat Islam.

Adapun produk penyaluran dana BPRS yaitu:

1) Pembiayaan Mudharabah

Merupakan akad kerjasama usaha antara pemilik dana (shahibul maal) dengan pengelola dana (mudharib) melalui nisbah bagi hasil menurut kesepakatan di muka. Jika usaha yang dijalankan mengalami kerugian akan ditanggung oleh pemilik usaha, kecuali adanya kelalaian atau kesaalahan oleh pengelola dana seperti penyelewengan, kecurangan, dan penyalahgunaan dana.

2) Pembiayaan Murabahah

Merupakan jual beli barang pada harga asal dengan tambahan keuntungan yang disepakati. Dalam arti al-murabahah, penjual harus member tahu harga produk yang ia beli dan menentukan suatu tingkat keuntungan sebagai tambahannya.

3) Pembiayaan Musyarakah

Merupakan akad kerjasama dua pihak atau lebih untuk suatu usaha tertentu dimana masing-masing pihak memberikan konstribusi dana (maal) dengan kesepakatan jika terdapat keuntungan dibagi berdasarkan kesepakatan dan apabila terdapat kerugian ditanggung bersama sesuai dengan kesepakatan.

(30)

4) Pembiayaan Istishna

Merupakan kontrak penjualan antara pemebli dan pembuat barang. Dalam kontrak ini, pembuat barang menerima pesanan dari pembeli. Pembuat barang lalu berusaha melalui orang lain untuk membuat atau membeli barang menurut spesifikasi yang telah disepakati dan menjualnya kepada pembeli akhir. Kedua belah pihak bersepakat atas harga serta sistem pembayaran, apakah pembayaran dilakukan dimuka, melalui cicilan, atau ditangguhkan sampai suatu pada masa yang akan datang.

5) Pembiayaan Bai Bitsaman Ajil

Merupakan proses jual beli antara bank dan nasabah, dimana bank menalangi lebih dahulu pembelian suatu barang pesanan nasabah, kemudian nasabah membayar barang tersebut sesuai harga yang telah disepakati.

6) Pembiayaan Qardhun Hasan

Merupakan perjanjian pinjam-meminjam uang atau barang yang dilakukan tanpa ada tujuan keuntungan, namun pihak bank sebagai pemberi pinjaman dapat meminta pengganti biaya yang diperlukan dalam pelaksanaan kontrak qardh. Dalam literatur fiqh klasik, qardh dikategorikan dalam aqd tathawwui atau akad saling membantu dan bukan transaksi komersial.

(31)

7) Pembiayaan Al-Hiwalah

Merupakan pengalih utang dari orang yang berutang kepada orang lain yang wajib menanggungnya. Dalam istilah para ulama, hal ini merupakan pemindahan beban utang dari muhil (orang yang berutang) menjadi tanggungan muhal alaih atau orang yang berkewajiban membayar utang.

C. Pengembangan

Pengembangan merupakan usaha yang terencana dari organisasi untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan pegawai.

Pengembangan lebih ditekankan pada peningkatan pengetahuan untuk melakukan pekerjaan pada masa yang akan datang, yang dilakukan melalui pendekatan yang terintegrasi dengan kegiatan lain untuk mengubah perilaku kerja.22

Pengembangan adalah, setiap usaha memperbaiki pelaksanaan pekerjaan yang sekarang maupun yang akan datang, dengan memberikan imformasi mempengaruhi sikap-sikap atau menambah kecakapan. Menurut H. Malayu S.P Hasibuan pengembangan adalah suatu usaha untuk meningkatkan kemampuan teknis teoritas, konseptual dan moral karyawan sesuai dengan kebutuhan pekerjaan atau jabatan melalui pendidikan dan pelatihan. Sedangkan pengembangan usaha adalah tugas atau proses persiapan analisis, peluang, pertumbuhan, potensial, dukudngan dan pemantauan pelaksaan peluang pertumbuhan usaha.

22 Marihot Tua Effendi Hariandja, Manajemen Sumber Daya Manusia (Jakarta: PT. Gramedia Widiasarana Indonesia, 2002), hlm. 215.

(32)

Upaya pengembangan UMKM seharusnya dilakukan melalui berbagai aspek manajemen, yaitu manajemen produksi, pemasaran, manajemen keuangan serta manajemen sumber daya manusia.23

D. Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM)

Menurut UUD 1945 kemuadian dikuatkan melalui TAP MPR NO.XVI/MPR- RI/1998 tentang Politik Ekonomi dalam rangka Demokrasi Ekonomi, Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah perlu diberdayakan sebagai bagian integral ekonomi rakyat yang mempunyai kedudukan, peran, dan potensi strategis untuk mewujudkan struktur perekonomian nasional yang makin seimbang, berkembang, dan berkeadilan. Selanjutnya dibuatklah pengertian UMKM melalui UU No.9 Tahun 1999 dan karena keadaan perkembangan yang semakin dinamis dirubah ke Undang-Undang No.20 Pasal 1 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah.24

Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) di Indonesia mempunyai peranan signifikan terhadap perekonomian nasional khususnya Produk Domestik Bruto (PDB), penyerapan tenaga kerja serta pengentasan kemiskinan. Kontribusi UMKM terhadap PDB nasional tahun 2010 tercatat sebesar 3,46 milyar rupiah dan mampu

23 Ana Dhaoud Daroin, dkk. Jurnal. Upaya Pengembangan Usaha Mikro Kecil Dan Menengah (UMKM)

Handycraft Kayu Jati Di Dusun Bandar Desa Batokan Kecamatan Kasiman Kabupaten Bojonegoro, (Magister

Pendidikan Ekonomi Program Pascasarjana UNS), hlm. 157.

24Yuli Rahmini Suci, Jurnal. Perkembangan UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah) Di

Indonesia.(Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Balikpapan, 2017), hlm. 54.

(33)

menyerap tenaga kerja sebesar 99,40 juta orang atau 97,22 persen dari angkatan kerja. Jumlah UMKM mengalami peningkatan sebesar 2,01 persen pada periode tahun 2009-2010, yaitu mencapai 53,82 juta unit usaha dimana 98,85 persen merupakan usaha mikro. Terlepas peranan penting UMKM terhadap perekonomian, sebagian besar menghadapi kendala permodalan. UMKM yang telah memiliki akses kredit pada perbankan hanya sekitar 37,36 persen atau 19,1 juta unit usaha (Kemenkop, 2011).25

Usaha (mikro) kecil menengah di Indonesia merupakan bagian penting dari sistem perekonomian nasional karena berperan untuk mempercepat pemerataan pertumbuhan ekonomi melalui misi penyediaan lapangan usaha dan lapangan kerja, peningkatan pendapatan masyarakat dan ikut berperan dalam meningkatkan perolehan devisa serta memperkokoh struktur industri nasional. Definisi UMKM diatur dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2008 tentang UMKM, dinyatakan bahwa usaha mikro adalah usaha produktif milik orang perseorangan atau badan usaha perseorangan yang memiliki nilai aset paling banyak Rp 50 juta atau dengan hasil penjualan tahunan paling besar Rp 300 juta.

Usaha kecil adalah usaha ekonomi produktif yang dilakukan oleh orang perseorangan atau badan usaha yang bukan anak perusahaan atau bukan cabang perusahaan yang memiliki nilai aset lebih dari Rp 50 juta sampai paling banyak Rp 500 juta atau memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp 300 juta hingga maksimum Rp 2,5 milyar. Sedangkan usaha menengah adalah usaha ekonomi

25L Anggraeni, Herdiana P, Salahuddin EA, Ranti W, Akses UMKM Terhadap Pembiayaan Mikro Syariah dan Dampaknya Terhadap Perkembangan Usaha : Kasus BMT Tadbiirul Ummah, Kabupaten Bogor, ( Departemen Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Manajemen Institut Pertanian Bogor, 2013) , hlm. 57.

(34)

produktif dengan nilai kekayaan bersih lebih dari Rp 500 juta hingga paling banyak Rp 10 milyar atau memiliki hasil penjualan tahunan di atas Rp 2,5 milyar sampai Rp 50 milyar. 26

UMKM sebagai penggerak sektor informal terbesar di Indonesia dengan jumlah serapan pekerja terbanyak mempunyai peran penting dalam sistem ekonomi.

Menurut Cole, Sampson, dan Zia (2010), cara tercepat untuk menggerakkan ekonomi di emerging market adalah dengan memberikan fokus pengembangan sektor informal (UMKM) yang akan berdampak pada meningkatnya tingkat pendapatan kelas menengah.

Para pelaku UMKM sangat berpotensi dalam mengembangkan usahanya dengan resiko kerugian kecil dan kesadaran untuk membayar cukup baik melalui pembinaan-pembinaan dan dengan konsep kekeluargaan yang profesional. Kondisi tersebut mencerminkan bahwa adanya potensi pemberian bantuan pembiayaan ke UMKM. Hal ini bertujuan dalam rangka penyebaran resiko perbankan, sementara suku bunga kredit UMKM sesuai dengan tingkat bunga pasar sehingga bank akan mempunyai margin yang cukup. Sektor ini memiliki ketahanan yang relatif lebih baik dibandingkan dengan usaha besar karena kurangnya ketergantungan pada bahan baku impor dan potensi pasar yang tinggi mengingat harga produk yang dihasilkan relatif rendah sehingga terjangkau oleh golongan ekonomi lemah.

Bagaimanapun juga, ini tetap harus mendapat dukungan baik perbankan sebagai

26 Lukytawati Anggraeni, dkk, Jurnal. Akses UMKM Terhadap Pembiayaan Mikro Syariah Dan

Dampaknya Terhadap Perkembangan Usaha ( Kasus BMT Tadbiirul Ummah Kabupaten Bogor). (Departemen Ilmu Ekonomi Fakultas Dan Manajemen Institut Pertanian Bogor, 2013), hlm. 58.

(35)

penyokong dana maupun masyarakat Indonesia untuk lebih mencintai produk dalam negeri.27

Industri UMKM di tanah air saat ini menghadapi situasi yang demikian sulit di tengah perubahan lingkungan bisnis yang semakin kompleks. Persaingan pun telah menjadi kian ketat seiring dengan derasnya arus perdagangan bebas yang secara otomatis membuat kompetisi datang dari segala penjuru baik domestik, regional, maupun global. (Kartajaya, 2007:1)

Sektor usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) kini dinilai sebagai salah satu kekuatan ekonomi Indonesia yang cukup signifikan. Secara makro dapat dilihat bahwa potensi yang dimiliki sektor UMKM ini sudah cukup besar. Secara umum, pada 2006, sumbangan UMKM terhadap Produk Domestic Bruto ( PDB) mencapai 53,3%, artinya lebih dari setengah gerak perekonomian Indonesia kini ditopang oleh sektor UMKM. Dalam hal penyerapan tenaga kerja, pada 2006 UMKM berhasil menyerap tenaga kerja sebanyak 58.4 juta atau sekitar 96,2% dari total angkatan kerja. Meski UMKM mempunyai andil yang cukup besar dalam pembangunan nasional, sektor ini selalu mendapat kendala dalam pengembangannya. Permasalahan klasik dan mendasar yang dihadapi UMKM, antara lain, permasalahn modal, bentuk badan hukum yang umumnya non-formal, SDM, pengembangan produk dan akses pemasaran. Permasalahan lanjutan yang dihadapi UMKM, antara lain pengenalan dan penetrasi pasar ekspor yang belum

27 Achmad Rifa’i, Jurnal, Peran Bank Pembiayaan Rakyat Syariah dalam Mengimplementasikan Keuangan Inklusif Melalui Pembiayaan UMKM, (Program Magister Sains Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomika dan Bisnis, Universitas Gadjah Mada, 2017), hlm. 200.

(36)

optimal, kurangnya pemahaman terhadap desain produk yang sesuai dengan karakter pasar, permasalahan hukum yang menyangkut hak paten, prosedur kontrak penjualan serta peraturan yang berlaku di negara tujuan ekspor. Permasalahan antara (intermediate problems), yaitu permasalahan dari instansi terkait untuk menyelesaikan masalah dasar agar mampu menghadapi persoalan lanjutan secara lebih baik. Permasalahan tersebut, antara lain, dalam hal manajemen keuangan, agunan, dan keterbatasan dalam kewirausahaan.

Keunikan UMKM dibandingkan dengan perusahaan berskala luas, yaitu pangsa pasar yang lebih sempit. Orientasinya hanya terfokus pada pasar lokal atau lokasi sekitarnya. Modal usaha UMKM sangat terbatas dan akses ke bantuan permodalan juga relatif susah didapatkan, padahal mereka pada umumnya juga sangat membutuhkan modal untuk mengembangkan usahanya. Mereka membutuhkan banyak bahan dan alat yang mampu meningkatkan jumlah komoditas yang mereka hasilkan.28

Keterbatasan sumber pembiayaan yang dihadapi UMKM terutama dari lembaga keuangan formal seperti perbankan, pegadaian, maupun leasing menyebabkan UMKM cenderung bergantung dari pembiayaan informal. Bentuknya seperti pelepas uang (rentenir) yang kemudian biasanya berkembang menjadi koperasi simpan-pinjam yang membebankan bunga cukup tinggi sebagai konsekuensi mudahnya mendapatkan pinjaman. Dalam perkembangannya, lembaga-lembaga informal ini lebih diminati dikalangan pelaku UMKM karena sifatnya yang fleksibel seperti syarat peminjaman dan jumlah pinjaman yang tidak seketat

28 Singgih Muheramtohadi, Peran Lembaga Keuangan Syariah dalam Pemberdayaan UMKM di Indonesia,

(37)

lembaga formal dan proses pencairannya yang juga cepat. Hal ini merupakan salah satu indikator bahwa model pembiayaan yang cepat, mudah, dan tidak ketat dalam hal persyaratan dimana ini disediakan oleh lembaga informal merupakan strategi yang sesuai untuk menumbuhkan minat pelaku usaha yang membutuhkan pembiayaan pada skala yang relatif kecil dan sedang. Tetapi tentu saja lembaga informal ini membebankan konsekuensi yang cukup berat bagi keberlangsungan UMKM akibat penerapan bunga yang cenderung tinggi. Kondisi ini mengakibatkan ketidakberdayaan UMKM ketika menjalankan usahanya terutama ketika kondisi sedang lesu atau merugi sehingga menyebabkan berjatuhannya UMKM yang kemudian akan kembali meningkatkan pengangguran yang akhirnya menghambat program pengentasan kemiskinan yang dicanangkan pemerintah.

1. Landasan hukum Usaha Mikro Kecil dan Menengah

Landsan hukum tentang usaha kecil dan menengah (UKM) tercantum dalam undang-undang Nomor 9 Tahun 1995 tentang Usaha Kecil. Untuk memperkuat permodalan, dikeluarkan peraturan menteri Negara Koperasi dan UKM RI Nomor 10/PER/M.KUKM/VI/2006 tentang petunjuk teknis program pembiayaan produktif koperasi dan

usaha mikro (P3KUM) Pola Syariah.29

Ada beberapa perintah ajaran agama Islam agar umatnya melakukan usaha bisnis yaitu:

a. Berbisnis bagian dari kehidupan

b. Berbisnis mencari ridha Allah, bukan untung c. Berbisnis sama dengan manifestasi kerja keras

29 Eusi Amalia, Keadilan Distribusi Dalam Ekonomi Islam, (Jakarta: Rajawali Pres, 2009), hlm. 48.

(38)

2. Karakteristik Usaha Mikro Kecil dan Menengah

Sulistyastuti (2004) menyebutkan ada empat alasan yang menjelaskan posisi strategis UMKM di Indonesia.

a. UMKM tidak memerlukan modal yang besar sebagaimana perusahaan besar sehingga pembentukan usaha ini tidak sesulit usaha besar.

b. Tenaga kerja yang diperlukan tidak menuntut pendidikan formal tertentu.

c. Sebagian besar berlokasi di pedesaan dan tidak memerlukan infrastruktur sebagaimana perusahaan besar.

d. UMKM terbukti memiliki ketahanan yang kuat ketika Indonesia di landa krisis ekonomi.30

3. Kriteria Usaha Mikro Kecil dan Menengah

Berdasarkan kekayaan dan hasil penjualan, menurut Undang Undang Nomor 20 Tahun 2008 pasal 6 :

Kriteria Usaha Mikro adalah sebagai berikut:

a. Memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp. 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha.

b. Memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak Rp. 300.000.000,00 (tiga ratus uta rupiah).

Kriteria Usaha Kecil adalah sebagai berikut:

1) Memiliki kekayaam bersih lebih dari Rp. 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp. 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha.

(39)

2) Memiliki hasil penjualan tahunan dari Rp. 300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp. 2.5000.000.000,00 (dua miliyar lima ratus juta rupiah).

Sedangkan kriteria usaha menengah adalah sebagai berikut:

1) Memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp. 500.000.000,00 (lima

ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp. 10.000.000.000,00 (sepuluh milyar rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha.

2) Memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari

Rp. 2.500.000.000,00 (dua milyar lima ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp. 50.000.000.000,00 (lima puluh milyar rupiah).31

4. Jenis-jenis Usaha Kecil dan Menengah (UMKM)

Saat ini banyak ragam jenis usaha kecil dan menengah di Indonesia, tetapi secara garis besar dikelompokkan dalam 4 kelompok diantaranya:

a. Usaha Perdagangan

Meliputi keagenan seperti agen koran atau majalah, sepatu, pakaian dan lain-lain. Ekspor atau impor seperti produk local dan Internasional. Sector informasi seperti pengumpulan barang bekas, pedagang kaki lima, dan lain-lain.

31 Irvan Hartono, Peran Perbankan Syariah Dalam Mengembangkan UMKM, (Skripsi, Fakultas Ekonomi UNY, 2016), hlm. 23.

(40)

b. Usaha Pertanian

Meliputi perkebunan yaitu pembibitan dan kebun buah-buahan, sayur-sayuran, dan lain-lain. Pertenakan yaitu ternak ayam petelur, susu sapi. Serta perikanan yaitu darat atau laut seperti tambak udang, kolam ikan, dan lain-lain.

c. Usaha Industri

Industri makanan atau minuman, pertambangan, pengrajinan, konveksi, dan lain-lain.

d. Usaha Jasa

Jasa konsultan yaitu perbangkelan, restoran, jasa. Jasa konstruksi, jasa transportasi, jasa telekomunikasi, jasa pendidikan dan lain-lain.32

32 Irfadila, Peran Perbankan Syariah Dalam Mendorong Usah Kecil dan Menengah Menurut Tinjauan

(41)

BAB III

METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian

Penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Pendekatan analisisnya adalah analisis deskriptif, yaitu penelitian yang menekankan pada upaya menemukan dan menguraikan temuan tersebut dengan cara deskriptif analisis. Data-data yang bersifat kualitatif di olah dan dianalisa dalam bentuk uraian-urain teori yang didukung dengan beberapa refensi. Dengan demikian maka metode pengumpulan dan analisis data penelitian ini menggunakan pendekatan analisis deskriptif.33

B. Lokasi dan Waktu Penelitian

Tempat penelitian ini dilakukan di PT. BPRS Mentari Pasaman Saiyo yang bertempat di Simpang Empat, Pasaman Barat. Waktu penelitian dengan melakukan observasi yang dilakukan oleh peneliti pada bulan Agustus 2021 sampai dengan dimunaqasahkan. Penulis megambil data-data atau informasi mengenai Bagaimana Peran PT. BPRS Mentari Pasaman Saiyo dalam mengembangkan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).

33Isna Fadhillah, Skripsi, Peran Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) dalam Pengembangan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). (Universitas Islam Negeri Sumatera Utara, 2019),

(42)

C. Jenis dan Sumber Data

Jenis dan sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah : 1. Data Primer

Data Primer adalah data yang dikumpulkan secara langsung sendiri oleh perorangan atau suatu perusahaan langsung melalui objeknya. 34 Dalam penelitian ini penulis melakukan pengamatan dan pembahasan masalah langsung melalui wawancara ke PT. BPRS Mentari Pasaman Saiyo dalam mengembangkan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).

2. Data Sekunder

Data sekunder yaitu data yang diperoleh dari hasil studi perpustakaan baik berupa bahan-bahan maupun data angka yang memungkinkan.35 Data sekunder merupakan data yang dikumpulkan diolah, dan disajikan oleh pihak lain.

Biasanya berbentuk jurnal dan buku sumber. Dalam penelitian ini data sekunder diperoleh dari hasil studi perpustakaan buku-buku dan jurnal tentang perkembangan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).

D. Teknik Pengumpulan Data 1. Observasi

Teknik Observasi ini adalah pengamatan dan pencatatan secara sistematik terhadap unsur-unsur yang tampak dalam suatu gejalan atau gejala-gejala dalam

34 J. Supranto, Metode Riset dan Aplikasinya Dalam Pemasaran, (Jakarta: Rineka Cipta, 1997) cet ke-1 hlm. 6.

35 Muhammad Teguh, Metodologi Penelitian Ekonomi Teori dan Aplikasi, (Jakarta: PT. Raja Grafindo

(43)

objek penelitian.36 Penelitian ini dilakukan dengan mengamati kegiatan pada PT. BPRS Mentari Pasaman Saiyo dalam mengembangkan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).

2. Wawancara

Teknik pengumpulan data dengan teknik wawancara. Wawancara adalah alat pengumpulan data informasi dengan cara mengajukan sejumlah pertanyaan secara lisan dan untuk dijawab secara lisan juga. Artinya antara peneliti dan responden berhadapan langsung mewawancarai pada perusahaan untuk mendapatkan informasi. Dalam penelitian ini penulis melakukan tanya jawab dengan pimpinan perusahaan dan karyawan PT. BPRS Mentari Pasaman Saiyo.

Wawancara dalam penelitian ini dilakukan kepada Bapak Yun Iswandi selaku Direktur dan Bapak Yufendri selaku Kabag Marketing.

3. Dokumentasi

Dokumentasi adalah mengumpulkan data-data tertulis yang mengandung keterangan dan penjelasan serta pemikiran tentang fenomena yang masih aktual dan sesuai dengan masalah penelitian. Dalam penelitian ini dilakukan dengan mengumpulkan dokumen-dokumen yang terkait dengan bagaimana Peran PT.

BPRS Mentari Pasaman Saiyo dalam mengembangkan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).

36 Afifudin dan Beni Ahmad Saebani, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: Pustaka Setia, 2012), hlm. 134.

(44)

BAB IV

HASIL PENENLITIAN

A. Gambaran Umum PT. BPRS Mentari Pasaman Saiyo

1. Sejarah Berdirinya PT. BPRS Mentari Pasaman Saiyo

Pada tanggal 17-19 mei tahun 1993 Pimpinan Pusat Majelis Ekonomi Muhamamadiyah (PP-MEK) mengadakan Rapat Kerja Nasional (RAKERNAS) yang diikuti oleh Majelis Ekonomi Muhammadyah (MEK) se-Indonesia. Pada waktu itu MEK Kabupaten Pasaman diwakili oleh Alm Bapak Chandra Mesra (Ketua Mek), Bapak Fachri (Seketaris Mek) dan Bapak Ramli Lubis (Bendahara MEK), dimana salah satu keputusan RAKERNAS saat itu adalah perlunya mendirikan BPR Syariah minimal satu buah disetiap Kabupaten/Daerah Muhammadyah sebagai Pondasi Pembangunan Ekonomi Warga Muhammadyah.

Keputusan RAKERNAS tersebut kemudian disampaikan kepada Pimpinan Daerah Muhammadyah (PDM) Kabupaten Pasaman yang saat itu di Ketuai oleh Bapak Thamrin K Nasir, kemudian pada tanggal 09 juni 1993 bertempat di Masjid Taqwa Ujung Gasing, PDM Kabupaten Pasaman mengadakan Rapat Pleno.

Pembahasan tentang rencana pendirian BPR Syariah di Kabupaten Pasaman pada rapat pleno tersebut memang menimbulkan perbedaan pendapatnamun pada akhirnya pleno PDM memutuskan untuk pendirian BPR Syariah oleh warga Muhammadyah di Kabupaten Pasaman.

(45)

Berkat dukungan dari keputusan pleno PDM dan juga semangat serta keyakinan terhadap kemampuan warga muhammadiyah untuk mendirikan BPR Syariah, Pada akhirnya MEK Kabupaten Pasaman membentuk panitia pendirian PT. BPR Syariah yang diketuai oleh Bapak Alm Chandra Mesar, berikut daftar susunan pendiri PT.

BPR Syariah Mentari Pasaman Saiyo:

Tabel 4.1

PT. BPRS Mentari Pasaman Saiyo

No Nama Keterangan

1 Chandra Mesra, SE Ketua Panitia

2 Mizlan Sekretaris Panitia

3 Syafrizal Mandayu, SH Bendahara Panitia

4 Fachri Anggota Panitia

5 Thamrin K Nasir Anggota Panitia 6 Abdul Mukhti Sihaloho Anggota Panitia

7 Andri Anggota Panitia

8 Dalmi Yasri Anggota Panitia

9 Yubhar Anggota Panitia

10 Muhammad Taswin Anggota Panitia

11 Yusri Anggota Panitia

12 Ramli Lubis Anggota Panitia

13 Mukhlis A Anggota Panitia

14 H. Rahimi Sutan Anggota Panitia 15 Drs. Dasman Lanin, M. Pd Anggota Panitia 16 Mukhar Khari Mukmin Anggota Panitia 17 H. Rajilis Hamzah Anggota Panitia

Sumber: Sejarah berdirinya PT. BPRS Mentari Pasaman Saiyo37

Sejak itu dimulailah registrasi calon pemenang saham oleh Panatela Pendiri dikalangan warga Muhammadyah, kemudian pada tanggal 25 Juni 1993 H. Taufik Martha (Bupati Pasaman pada saat itu) ikut memberikan dukungan atas rencana

37 PT. BPRS Mentari Pasaman Saiyo, Sejarah Berdirinya PT. BPRS Mentari Pasaman Saiyo), (Simpang Empat Kabupaten Pasaman Barat)

Referensi

Dokumen terkait

mengadakan penelitian tentang “ Pemberdayaan Usaha Mikro Kecil Menengah di Night Market Ngarsopuro oleh Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kecil. Menengah (UMKM) Kota Surakarta

Maksud penelitian ini adalah menganalisis, mengidentifikasikan data dan informasi tentang pemberdayaan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Kota Cimahi yang berkaitan

Menyatakan dengan sebenarnya bahwa tesis yang berjudul: “ PERAN PEMBIAYAAN LEMBAGA KEUANGAN MIKRO SYARIAH (LKMS) DALAM MEMBERDAYAKAN USAHA MIKRO KECIL DAN MENENGAH (UMKM)

Sukron, dalam penelitiannya yang berjudul strategi lembaga keuangan mikro syariah dalam mengembangkan dan meningkatkan pembiayaan usaha kecil dan menengah menyimpulkan bahwa

Tabel 1.2 Penyerapan Tenaga Kerja Kota Surakarta Oleh Usaha Mikro, Kecil, Dan Menengah UMKM Data : Disperindag kota Surakarta Data dinas perindustrian dan perdagangan kota Surakarta

Dari 51 Usaha Mikro Kecil dan Menengah UMKM yang peneliti wawancarai dapat diketahui bahwa lebih banyak pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah UMKM yang tidak paham mengenai ketentuan

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran Usaha Mikro Kecil dan Menengah UMKM serta faktor pendukung dan penghambat dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat pada

Peran Dekranasda Kabupaten Jombang dalam Mengembangkan