• Tidak ada hasil yang ditemukan

KEMENTERIAN AGAMA REPUBLIK INDONESIA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "KEMENTERIAN AGAMA REPUBLIK INDONESIA"

Copied!
33
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

KEMENTERIAN AGAMA REPUBLIK INDONESIA

DIREKTORAT JENDERAL BIMBINGAN MASYARAKAT KRISTEN

Jalan M.H. Thamnn Nomor 6 Jakarta 10340

Telepon (021) 31924509, 31930565, 3920774, 3920739,3920791, Pest. 465, 496, 234,487 Telepon Langsung/Fax. : (021) 3812583, 3846832, 3920626, 3920628 Tromol Pos 3690

Website : https://www.bimaskristen.kemenag.goid, Email: bimaskiisten.kemenag.go.id

Nomor : B-946/D1.1V/Dt.IV.I/H M.01/05/2021 18 Mei 2021 Sifat : Biasa

Lampiran :

Perihal : Undangan Sebagai Narasumber

Yth. Pdt. Justitia Vox Dei Hattu, Th.D STT Jakarta

Sesuai program kerja Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Kristen Tahun Anggaran 2021, Direktorat Urusan Agama, Subdit Pemberdayaan Umat dan Pengembangan Budaya akan melaksanakan "Sosialisasi Pedoman dan Pelatihan Pembina Anak Sekolah Minggu Berkebutuhan Khusus ". Kegiatan ini bertujuan untuk mensosialisasikan buku pedoman dan pelatihan untuk Pembina Anak Sekolah Minggu di gereja-gereja seluruh Indonesia sehingga anak-anak yang berkebutuhan khusus tersebut bisa mendapatkan perhatian dan pendidikan sesuai kebutuhannya.

Adapun Kegiatan dilaksanakan pada tanggal 24-25 Mei 2021 di Bogor. Untuk itu kami mohon perkenan Saudara menjadi Narasumber pada :

Hari, tanggal Senin, 24 Mei 2021 Waktu : Puku116.00 ski selesai

Judul Materi : Landasan Teologis Pelayanan Gereja bagi Anak Sekolah Minggu Berkebutuhan Khusus

Tempat : Faye Hotel Padjajaran Bogor

Cidangiang no.1 Rt.4/Rw.05 Kel. Tegallego Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor, Jawa Barat 16129

Hash l yang diharapkan pada kegiatan ini adalah:

Tersosialisasi Pedoman dan Pelatihan Pembina Anak Sekolah Minggu Berkebutuhan Khusus;

Terlaksananya pelatihan bagi Pembina Anak Sekolah Minggu di gereja/Lembaga masing-masing di seluruh Indonesia.

Adanya kerjasama Ditjen Bimas Kristen dengan Direktorat Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas dalam penanganan Disabilitas.

Demikian disampaikan, atas Kerjasama Saudara diucapkan terimakasih.

an. Direktur Jenderal

Direktur Urusan Agama,

Tembusan :

Dirjen Bimas Kristen;

Kabag OKH;

PPK II

II*

/1,44 9.41

‘ki3A11;

‘\kjEM 4_

garibuan

(3)

SOSIALISASI PEDOMAN DAN PELATIHAN PEMBINA ANAK SEKOLAH MINGGU BERKEBUTUHAN KHUSUS DI BOGOR

Tanggal, 24 - 25 Mei 2021

JADWAL KEGIATAN

HARI/ JAM ACARA PELAKSANA

Hari Pertama: Senin, 24 Mei 2021

12.00 – 13.00 Pendaftaran Peserta/check in Panitia + Peserta

13.00 – 14.00 Pembukaan Dirjen Bimas Kristen

14.00 – 14.15 Coffee break Panitia + Peserta

14.15 – 16.15

Materi 1 :

Isu-isu disabilitas dan program Kementerian Sosial dalam penanganadisabilitas

Dra. Eva Rahmi Kasim, MDS Direktur Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas Kementerian Sosial

16.15 – 18.00

Materi 2 : Secara Panel

1. Landasan Psikologis bagi Pelayanan Gereja Anak Sekolah Minggu Berkebutuhan Khusus

2. Landasan Teologis Pelayanan Gereja bagi Anak Sekolah Minggu

Berkebutuhan Khusus

3. Landasan Pendidikan dalam Pelayanan Gereja bagi Anak Sekolah Minggu Berkebutuhan Khusus

1. Prof. Dr. Frieda Maryam Mangunsong br Siahaan, M.

Ed,

2. Pdt. Justitia Vox Dei Hattu, Th.D

3. Pdt. Helen Aramanda Setyoputri, S.Si, MA

18.00 – 19.00 Makan Malam Panitia/Peserta /pihak hotel

19.00 – 21.00

Materi 3 : Secara Panel 1. Lanjutan Panel materi 2 2. Diskusi dan Tanya Jawab

1. Prof. Dr. Frieda Maryam Mangunsong br Siahaan, M.

Ed,

2. Pdt. Justitia Vox Dei Hattu, Th.D

3. Pdt. Helen Aramanda Setyoputri, S.Si, MA

21.00 – 21.30 Ibadah Malam Peserta/Panitia

(4)

Hari Kedua : Selasa, 25 Mei 2021

05.00 – 06.00 Olah Raga Panitia + Peserta

06.00 – 07.30 Sarapan Pagi Panitia + Peserta

07.30 – 08.00 Ibadah Pagi Panitia+Peserta

08.00 – 10.00

Materi 4: Panel

1. Sharing dan praktek pelayanan Lembaga Pendidikan bagi Anak Berkebutuhan Khusus

2.Sharing dan praktek pelayanan Gereja bagi Anak Sekolah Minggu

Berkebutuhan Khusus

Rini Prasetyaningsih

Yayasan Pendidikan Dwituna Rawinala

1. Majelis Jemaat GKI Kayuputih 2. CC : Penatua Pendamping 3. Pokja Disabilitas GKI Kayu

Putih

10.00 – 10.15 Coffee Break Panitia/Peserta /pihak hotel

10.15 – 12.30

Materi 5 : Panel Zoom

1. Sharing dan berbagi pengalaman 2. Tanya Jawab

1. Bapak Riston, Yayasan Elsafan 2. Pengurus Sekolah Minggu

Gereja Kristus Ketapang 3. Pengurus Panti Karya Karya

Hephata

4. Pengurus Alfa Omega GBKP

12.30 – 13.00

Penutupan : - Laporan Panitia - Sambutan - Ibadah

Panitia * Peserta

13.00 - selesai Makan Siang Panitia/Peserta /pihak hotel

Panitia

(5)
(6)

LAPORAN KEGIATAN SEBAGAI NARASUMBER SOSIALISASI BUKU PEDOMAN PEMBINA ANAK SEKOLAH MINGGU BERKEBUTUHAN KHUSUS -

DITJEN BIMAS KRISTEN KEMENTERIAN AGAMA 24 MEI 2021

1. Saya selaku dosen STFT Jakarta bidang Studi Pendidikan Kristiani diundang untuk menyampaikan materi tentang “Landasan Biblis Teologis Pelayanan Gereja Bagi Anak Sekolah Minggu Berkebutuhan Khusus” yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Kristen, kementerian Agama, pada tanggal 24 Mei 2021.

Kegiatan sosialisasi ini diperuntukkan untuk pembina Sekolah Minggu (pendeta, penatua, diaken, guru Sekolah Minggu, dan aktivis anak) di seluruh Indonesia. Kegiatan ini merupakan sosialisasi “Buku Pedoman Pembina Anak Sekolah Minggu Berkebutuhan Khusus” yang diterbitkan oleh Kementerian Agama pada Desember 2020 yang lalu. Saya terlibat sebagai salah seorang penulis materi buku ini.

2. Pemaparan materi yang saya sampaikan menekankan pada dua poin penting:

(1) Gereja dan anak berkebutuhan khusus. Pokok pertama ini memperlihatkan realitas menyedihkan yang masih diterima oleh anak-anak berkebutuhan khusus dalam lingkup pelayanan gereja. Disabilitas yang disandang oleh mereka seringkali dianggap sebagai hukuman dari Tuhan dan alasan untuk mendiskriminasikan mereka dari komunitas bergereja ; (2) Menjadi Gereja yang ramah terhadap anak berkebutuhan khusus. Pokok kedua ini berbicara banyak tentang sejumlah alasan mengapa gereja-gereja di Indonesia harus ramah terhadap anak berkebutuhan khusus, dengan berdasar pada sejumlah landasan biblis-teologis.

3. Pada saat kegiatan ini berlangsung ada sekitar 300 orang yang mengikutinya via zoom dan 25 orang peserta mengikutinya secara on sitedari Fave Hotel, Bogor. Pemaparan dan diskusi berlangsung sekitar 2 jam (14.30-16.30 WIB) yang difasilitasi oleh moderator dan berlangsung dengan baik.

4. Terlampir undangan kegiatan sosialisasi ini dan materi tertulis yang saya paparkan.

Jakarta, 30 Juni 2021

Justitia Vox Dei Hattu, Th.D.

(7)

Ditjen Bimas Kristen Kementerian Agama

Sosialisasi Buku Pedoman Pembina Anak Sekolah Minggu Berkebutuhan Khusus Senin-Selasa, 24-25 Mei 2021

LANDASAN BIBLIS-TEOLOGIS PELAYANAN GEREJA BAGI ANAK SEKOLAH MINGGU BERKEBUTUHAN KHUSUS

(Oleh: Justitia Vox Dei Hattu)

Gereja adalah “rumah” bagi semua orang. Oleh karena itu, siapapun selayaknya disambut dan diterima dalam rumah bersama ini. Sebagai rumah bagi semua orang, Gereja sudah selayaknya menolong setiap warga jemaat untuk bertumbuh dalam pengenalan yang benar akan Tuhan dan terhubung dengan warga jemaat lain sehingga mereka belajar bersama untuk saling menghargai satu dengan yang lain.

Sebagai rumah bagi semua orang, Gereja harus mengajar umatnya untuk menerima mereka yang berbeda: suku, ras, usia, karakter, kehidupan ekonomi, dan keadaan diri. Sayangnya, dalam praktik hidup menggereja, warga jemaat (terlebih anak- anak) berkebutuhan khusus belum sepenuhnya diterima oleh Gereja. Dengan mengatakan belum semua Gereja, itu berarti ada juga Gereja - baik pada aras lokal maupun sinodal - yang terbuka menerima warga jemaat berkebutuhan khusus.1 Kepada gereja-gereja ini, apresiasi patut diberikan.

A. Gereja dan Anak Berkebutuhan Khusus

Mengapa belum semua Gereja bisa menerima bahkan memberi perhatian kepada warga jemaat, terlebih anak-anak berkebutuhan khusus? Salah satu alasan utama penyebab kurangnya perhatian Gereja adalah karena stigma2 yang berkembang di kalangan warga jemaat terhadap anak-anak berkebutuhan khusus.

Misalnya: (1) anak berkebutuhan khusus lemah dan tidak bisa berbuat apa-apa.

Oleh karenanya, mereka tidak perlu dilibatkan dalam kegiatan-kegiatan gereja;

(2) anak berkebutuhan khusus adalah pengganggu dalam ibadah. Kehadiran

1Beberapa di antaranya adalah: GKI Kayu Putih di Jakarta, GKI Pasirkoja Bandung dan GKI Kebonjati Bandung yang sudah membuka kelas khusus bagi anak-anak penyandang disabilitas, bahkan gereja ini memiliki kelompok kerja (pokja) khusus bidang disabilitas dan teologi disabilitas.

2Stigma adalah sebuah ciri negatif yang dilekatkan kepada seseorang atau sekelompok orang.

(8)

mereka mengganggu warga jemaat yang lain, sehingga lebih baik mereka tinggal di rumah daripada datang ke gereja dan membuat kekacauan dalam ibadah;

(3) kondisi fisik atau psikis yang dialami oleh anak berkebutuhan khusus adalah hukuman Tuhan atas mereka atau dosa orangtua mereka (Aritonang dan Aritonang 2017, 192-196). Cara berpikir seperti ini masih menguasai banyak warga jemaat.

Gereja dilihat sebagai rumah bagi orang-orang yang dinilai “sempurna atau normal“3secara fisik dan psikis.

Akibat dari cara berpikir yang demikian, maka tidaklah mengherankan kalau anak-anak berkebutuhan khusus (dan keluarganya) tidak disambut dengan ramah di Gereja. Bahkan beberapa kali harus mengalami penolakan secara langsung maupun tidak langsung. Hal ini menyebabkan anak-anak dan orang tua mereka menjadi kecewa terhadap Gereja. Rasa kecewa ini membuat banyak orang tua memutuskan untuk tidak membawa anak-anak mereka ke sekolah Minggu, ibadah umum atau berbagai kegiatan gereja lainnya, dan lebih memilih untuk beribadah bersama mereka di rumah. Padahal, dari sisi orangtua yang memiliki anak berkebutuhan khusus, menerima realita bahwa anak-anak mereka terlahir dalam keadaan yang demikianpun, bukanlah hal yang mudah. Para orang tua setidaknya harus melewati beberapa tahap untuk sampai pada tahap penerimaan, yaitu: “shock dan terganggu, penolakan, kesedihan, kecemasan dan ketakutan, marah, dan akhirnya menyesuaikan diri” (Agustini 2018, 30). Reaksi para orang tua terhadap realitas inipun beragam, antara lain: “mengatasi secara realistik masalah anak, menolak kecacatan anak, mengasihi diri sendiri, perasaan ambivalen, proyeksi, rasa bersalah malu dan depresi, serta rasa saling ketergantungan” (Agustini 2018, 31- 32). Dengan melihat ragam reaksi dari para orang tua ini, maka kita menyadari sungguh bahwa realitas hidup bersama dengan anak berkebutuhan khusus bukanlah hal yang mudah, namun tidak kemudian menjadi alasan untuk tidak peduli dan bersikap abai terhadap mereka. Topangan warga jemaat yang lain sungguh dibutuhkan, sehingga anak-anak berkebutuhan khusus dan para orang tua mereka tidak merasa berjalan sendiri.

3Banyak orang yang menempatkan orang berkebutuhan khusus sebagai orang-orang yang terlahir tidak sempurna dan tidak normal, dan sebaliknya mereka adalah orang-orang yang sempurna/normal.

(9)

Cara pandang keliru ini berdampak pula pada cara Gereja bersikap terhadap anak-anak berkebutuhan khusus. Beberapa contoh diantaranya adalah:

(1) Labelling yang diberikan kepada anak-anak berkebutuhan khusus sebagai anak yang tidak bisa apa-apa, pencipta kegaduhan, berisik, dan sebagainya.

(2) Desain dan arsitektur Gereja yang yang tidak terlalu memadai dan tidak ramah bagi anak-anak berkebutuhan khusus. “Ramah” yang dimaksudkan di sini adalah bagaimana sarana dan prasarana gereja memudahkan bahkan memungkinkan anak-anak berkebutuhan khusus bisa beraktivitas secara mandiri. Misalnya, tangga gereja yang terlalu tinggi seringkali membuat anak-anak yang buta sulit menapakinya satu per satu termasuk juga mereka yang menggunakan kursi roda; atau toilet umum yang tidak memiliki perangkat khusus di dalamnya yang menyulitkan anak-anak berkebutuhan khusus menggunakannya.

(3) Desain-desain ibadah dan model pembelajaran yang tidak membuka ruang secara maksimal untuk anak-anak berkebutuhan khusus bisa berpartisipasi di dalamnya. Misalnya: ketersediaan media visual, gambar, gerakan tubuh, ekspresi wajah, dan sebagainya.

Beberapa contoh di atas, sedikit-banyaknya memperlihatkan bahwa Gereja, mulai dari level pemimpin sampai dengan umatnya belum sepenuhnya siap menerima orang-orang, terlebih anak-anak berkebutuhan khusus, yang notabene adalah warga Gereja. Padahal, Gereja selalu mengklaim dirinya sebagai persekutuan yang terbuka terhadap siapa saja. Tindakan Allah yang terbuka dan menyambut siapa saja, rupa-rupanya belum dihidupi secara maksimal oleh Gereja. Sikap dan perilaku Gereja yang demikian memperlihatkan secara jelas apa yang dikatakan oleh Nancy L. Eiesland dalam bukunya berjudul The Disabled God: Toward a Liberatory Theology of Disability, bahwa Gereja dalam pandangan orang-orang berkebutuhan khusus seperti “city on a hill” – kota di atas bukit, sesuatu yang jauh dan tak terjangkau oleh orang-orang berkebutuhan khusus (Eiesland 1994, 20).

(10)

B. Menjadi Gereja yang Ramah terhadap Anak berkebutuhan Khusus

B.1. Mengapa Gereja Perlu Bersikap Ramah?

Menjadi Gereja yang ramah terhadap anak berkebutuhan khusus adalah sebuah pilihan yang harus dibuat dan dilakukan oleh Gereja. Ada sejumlah alasan mengapa Gereja harus bersikap ramah terhadap warga jemaat (terlebih kelompok anak) berkebutuhan khusus. Alasan pertama, Gereja adalah rumah yang terbuka bagi semua orang yang di dalamnya berhimpun seluruh umat dari berbagai latar belakang dan kondisi fisik/psikis. Oleh karena Gereja adalah rumah, maka siapa saja boleh datang, dan yang datang harus disambut dengan sebaik mungkin oleh anggota keluarga yang lain. Keterbukaan di sini tidak hanya bersifat basa-basi. Sebab dalam praktiknya banyak yang mengatakan terbuka terhadap berbagai perbedaan namun dalam kenyataannya sikap terhadap anak-anak berkebutuhan khusus masih dipandang sebelah mata oleh komunitas. Anak-anak berkebutuhan khusus tidak boleh dipandang dan diperlakukan sebagai kelompok kesekian atau pelengkap dalam kehidupan bergereja. Mereka adalah orang-orang yang berharga di hadapan Allah.

Alasan kedua, anak membutuhkan komunitas iman untuk bertumbuh dan berkembang. Kehadiran anak di Gereja membuka ruang baginya untuk bisa berinteraksi dengan teman-teman sebayanya maupun dengan warga jemaat lain yang datang dari generasi yang berbeda-beda. Dari semua orang yang berbeda ini, anak belajar tentang menjadi seorang Kristen. Itu sebabnya, pola relasi dan komunikasi yang dikembangkan di dalam Gereja haruslah mencerminkan kasih yang merangkul sesama tanpa batas (Mercer 2005, 11-12). Pola relasi dan komunikasi yang ramah terhadap anak-anak berkebutuhan khusus akan memengaruhi pertumbuhan iman (spiritualitas) sang anak, termasuk orangtuanya.

Sebab, anak belajar pertama-tama melalui pengamatannya terhadap lingkungan sekitar. Jika lingkungan, tempat dimana dia bertumbuh, ramah terhadapnya, maka anak akan merasa diterima dan dihargai dengan segala keberadaan dirinya. Namun, jika lingkungan, tempat dimana dia bertumbuh dan berkembang, menolak dan mendiskriminasikannya, maka anak akan menganggap dirinya tidak diterima di dalam komunitas. Pembentukan dan pertumbuhan iman seorang anak terjadi ketika ia berelasi dan berinteraksi dalam komunitas iman (Westerhoff 2012, 48).

(11)

Alasan ketiga, dengan menerima anak berkebutuhan khusus, Gereja mempraktikkan dalam tindakan ajarannya tentang kasih, keadilan dan penerimaan terhadap yang lain. Ajaran tentang kasih, keadilan dan penerimaan terhadap yang lain bukanlah slogan yang hanya untuk diucapkan saja dari waktu ke waktu, melainkan harus mewujud dalam sikap dan perilaku hidup setiap warga Gereja.

Dengan menjadikan hal ini sebagai gaya hidup, maka secara tidak langsung warga Gereja sementara menelandankan sesuatu yang baik bagi anak-anak berkebutuhan khusus dan bagi generasi-generasi berikutnya.

Alasan keempat, dengan menerima anak-anak berkebutuhan khusus dalam komunitas bergereja, Gereja menjadi model bagi masyarakat tentang bagaimana bersikap terhadap anak-anak berkebutuhan khusus. Meskipun pemerintah Indonesia sudah mengeluarkan Undang-undang No. 35 tahun 2014 tentang Perlindungan Anak dan menegaskan bahwa anak-anak berkebutuhan khusus memiliki kedudukan, hak, kewajiban, dan peran yang sama yang harus dipenuhi sama seperti warga Indonesia lainnya, namun faktanya UU ini belum sepenuhnya menuntun cara masyarakat Indonesia bersikap terhadap anak-anak berkebutuhan khusus. Mereka masih mengalami diskriminasi dan perlakuan tidak adil dari masyarakat. Masyarakat Indonesia masih membutuhkan sejumlahrole modeldan di sinilah Gereja bisa mengampanyekan yang tepat melalui tutur dan laku, maka akan menjadi contoh yang baik bagi masyarakat luas.

Alasan kelima, semua manusia pada waktu tertentu memiliki keterbatasan dan kerapuhan.Hal ini disebabkan karena tubuh manusia tidak selamanya berfungsi dengan baik di sepanjang waktu hidupnya; pada waktu-waktu tertentu siapa saja bisa mengalami keadaan khusus (lih. Creamer 2019, 31).

B.2. Bentuk-bentuk Keramahan Gereja terhadap Anak Berkebutuhan Khusus

Dengan berdasar pada prinsip-prinsip di atas, maka Gereja bisa melakukan berbagai hal sehingga anak-anak berkebutuhan khusus merasakan Gereja sebagai rumah mereka. Bentuk-bentuk pelayanan Gereja ini harus holistik, tidak bisa terpisah-pisah. Beberapa di antaranya adalah: Pertama, semua warga Gereja memiliki cara pandang yang benar terhadap anak-anak berkebutuhan khusus. Cara pandang yang benar akan terlihat secara jelas dalam sikap dan perilaku terhadap

(12)

anak-anak berkebutuhan khusus. Contoh tindakan sederhana yang bisa memberikan dampak luar biasa jika serius dilakukan adalah stoplabelling.Labelling adalah proses mengaitkan sebuah kondisi atau keadaan tertentu dengan penilaian negatif yang bernilai sama. Misalnya: anak berkebutuhan khusus suka merepotkan.

Kedua, menggunakan sapaan/istilah yang benar dan ramah dalam menyapa anak-anak berkebutuhan khusus. Kata “cacat” dan “tuna” sudah seyogyianya tidak digunakan lagi untuk menyapa anak-anak berkebutuhan khusus. Kata “cacat”

memberi kesan tegas bahwa ada yang terlahir sempurna, dan ada yang tidak. Dan anak-anak berkebutuhan khusus masuk dalam kategori yang tidak sempurna ini.

Sedangkan, kata “tuna” berasal dari bahasa Jawa kuno, yang berarti rusak atau rugi.

Ketiga, mendesain model-model peribadahan dan pembelajaran yang memerhatikan dengan saksama kebutuhan anak-anak berkebutuhan khusus sehingga mereka bisa terlibat dalam ibadah dan belajar bersama dengan anak-anak yang lain. Keempat, melibatkan anak-anak berkebutuhan khusus dalam berbagai aktivitas gerejawi, baik itu di lingkup Sekolah Minggu, ibadah umum maupun berbagai kegiatan Gereja lainnya. Kelima, sarana-prasarana termasuk arsitektur Gereja ramah terhadap anak-anak berkebutuhan khusus.

C. Mengajar dengan Hati:

Sebuah Bentuk Keramahan Gereja terhadap Anak Berkebutuhan Khusus Salah satu bentuk keramahan yang bisa ditunjukkan oleh Gereja, secara khusus para pengajar di Gereja (dhi. Pendeta, Guru Sekolah Minggu, Penatua, Diaken, dll.) terhadap anak-anak berkebutuhan khusus adalah “Mengajar dengan Hati.”

Mengajar dengan hati tidak hanya dipahami sebagai sebuah aktivitas mengajar biasa, mentransfer seperangakat pengetahuan atau ajaran Kristen kepada yang diajar. Mengajar dengan hati melampaui hal tersebut. Kata “hati” di sini menunjuk kepada keutuhan diri manusia: intelektual, emosi, dan perilaku (Hattu 2019, 6;

Hendricks 1987, 85). Mengajar dengan hati memberi ciri yang kuat pada manusia yang membedakannya dengan mesin-mesin produksi di pabrik-pabrik yang bergerak dan memproduksi barang tanpa henti (Sufiyanta dan prihartini 2014, 96-

(13)

97). Mengajar dengan hati mendorong kita mengasah pikiran, emosi, dan perilaku secara bersamaan, tanpa mengutamakan satu di antara yang lain.

Mengajar dengan hati dicirikan oleh tiga hal berikut ini, yakni: kesiapan dan totalitas diri, pengenalan yang baik, dan keterampilan diri (Hattu 2019, 1-14;

Sufiyanta dan Prihartini 2014, 95-98). Pertama, mengajar dengan hati membutuhkan kesiapan dan totalitas diri. Mengajar bukan hanya sekadar memenuhi tanggung jawab yang diberikan oleh Gereja/lembaga tertentu, tetapi lebih dari itu, mengajar adalah merespons panggilan Tuhan atas kita. Kita merespons panggilan Tuhan tersebut dengan sukacita dan rasa syukur karena kita dipilih dari antara sekian banyak orang dan dipercayakan tanggung jawab tersebut.

Ketika kita memilih untuk merespons panggilan Tuhan melalui tanggung jawab mengajar, maka pilihan itu kita buat atas kehendak dan pertimbangan hati nurani, dan bukan atas desakan apalagi paksaan dari pihak lain. Orang yang mengajar karena pilihan pribadinya, akan menikmati setiap tanggung jawab yang dilakukan.

Sebaliknya, orang yang mengajar karena desakan atau paksaan, apalagi hanya untuk memenuhi kegemaran sesaat yang menggebu-gebu tidak akan bertahan lama, terlebih ketika ia berhadapan dengan tantangan dalam mengajar. Mengajar dengan hati membutuhkan komitmen yang sungguh dan menghidupi komitmen membutuhkan dedikasi yang tinggi. Tanggung jawab mengajar harus dijalani dengan kesungguhan hati, tidak dengan setengah hati apalagi dengan berat hati.

Kedua, mengajar dengan hati menuntut para pengajar memilikipengenalan yang baik tentang siapa anak berkebutuhan khusus. Pengenalan yang baik tentang mereka akan membentuk sebuah cara pandang yang tepat, yang kemudian mewujud dalam sikap dan perilaku yang tepat pula. Pengenalan yang baik bermula dari pola relasi yang bersahabat. Dalam pola relasi yang bersahabat tersedia “ruang yang aman dan nyaman” untuk orang saling mengenal satu terhadap yang lain, apa yang diinginkan dan tidak diinginkan, apa yang diharapkan dan tidak diharapkan, dan sebagainya. Pola relasi yang bersahabat meniadakan jarak dan birokrasi yang seringkali menciptakan gap antara pengajar dan yang diajar. Dengan demikian, ruang-ruang yang memungkinkan terjadinya relasi yang menguasai dan dikuasai ditiadakan, dan yang tercipta adalah pola-pola relasi yang setara dan menghargai setiap orang yang terlibat bersama dalam pembelajaran, entah dia pengajar atau

(14)

yang diajar. Pola relasi yang bersahabat mampu menyentuh hati setiap orang sehingga mereka merasakan keamanan dan juga kenyamanan dalam berelasi (Sufiyanta dan Prihartini 2014-118). Suasana yang aman dan nyaman membuka ruang bagi pengajar untuk mendekatkan diri kepada anak-anak dan juga sebaliknya.

Kedekatan yang didasarkan atas pengenalan yang benar ini membuat anak-anak merasa dirinya berharga, dirinya diterima, dirinya adalah sahabat bagi para pengajar dan teman-temannyanya yang lain.

Ketiga, mengajar dengan hati membutuhkanketerampilan. Niat hati saja tidak cukup dalam mengajar anak bekebutuhan khusus, karena dibutuhkan pula sejumlah keterampilan dalam mengajar. Keterampilan menjadi seperti sejumlah perangkat yang dibutuhkan oleh seorang petani ketika akan menggarap lahan pertanian.

Tanpa perangkat tersebut proses penggarapan tidak akan terjadi secara maksimal.

Demikian pula dengan seorang pengajar, ia perlu berkomitmen tinggi untuk memperlengkapi diri ketika akan terlibat dan mengajar anak-anak berkebutuhan khusus. Keterampilan yang perlu dimiliki mencakup banyak hal, antara lain:

kemampuan untuk berkomunikasi dengan anak-anak berkebutuhan khusus, kemampuan untuk menggunakan berbagai metode mengajar yang tepat dalam mengajar, dan sebagainya. Kesemuanya itu dibutuhkan supaya aktivitas belajar- mengajar yang terjadi mendatangkan manfaat bagi setiap anak. Karena itu, seorang pengajar tidak akan pernah jemu memperlengkapi diri dengan berbagai pengetahuan dan keterampilan baru.

Berdasarkan tiga ciri di atas, maka ada sejumlah langkah praktis dan strategis yang bisa kita kembangkan dalam mengajar anak berkebutuhan khusus, yaitu:

1. Mengutamakan interaksi dan dialog dengan anak-anak berkebutuhan khusus. Inisiatif untuk berinteraksi dan berkomunikasi harus lebih banyak datang dari para pengajar: berikanlah senyuman, sapalah si anak, tanyakanlah keadaannya dan bagaimana perasaannya, tawarkanlah bantuan jika dia membutuhkan, jadilah pendengar yang baik ketika anak bercerita, dan sebagainya.

2. Lingkungan belajar yang aman dan nyaman bagi kondisi fisik maupun psikis anak, sehingga ia merasa diterima dan disambut dengan ramah oleh pengajar dan semua warga jemaat yang ada di Gereja. Lingkungan yang aman dan

(15)

nyaman harus mengutamakan keselamatan si anak serta menolong anak berekspresi tanpa merasa diintimidasi dan dikekang kebebasannya.

3. Mengembangkan ragam metode dalam mengajar. Oleh karena setiap anak memiliki kebutuhan yang spesifik, maka satu metode pengajaran saja tidak cukup dan tidak bisa diberlakukan sama untuk semua. Setiap anak harus ditolong untuk belajar dengan metode yang sesuai dengan gaya belajar dan jenis disabilitasnya.

4. Membangun kerja sama dengan anak-anak dan para pengajar yang lain, warga jemaat dan orang tua si anak. Pengajar perlu menyadari bahwa ia tidak sendiri dan ia tidak bisa melakukan segalanya sendiri. Pengajar membutuhkan orang lain untuk mewujudkan sebuah proses pembelajaran yang baik.

Daftar Acuan

(16)

Aritonang, Jan S. dan Asteria T. Aritonang. 2017.Mereka juga citra Allah: Hakikat dan sejarah diakonia termasuk bagi yang berkeadaan dan berkebutuhan khusus.Jakarta: BPK Gunung Mulia.

Creamer, Deborah Beth. 2009.Disability and Christian theology: Embodied limits and constructive possibilities.San Francisco: Oxford University Press.

Hattu, Justitia Vox Dei. 2019. “Mengajar dan (belajar) dengan hati: Sebuah kritik dan alternatif terhadap proses pembelajaran yang mengutamakan dimensi

kognitif.” Dalam Justitia Vox Dei Hattu (Ed.),Mendidik dalam kasih, keadilan, dan kebenaran.Jakarta: BPK Gunung Mulia.

Sufiyanta, A. Mintara dan Yulia Sri Prihartini.Sang guru sang peziarah:

Spiritualitas guru kristiani. Yogyakarta: Kanisius.

Mercer, Joyce Ann. 2005.Welcoming children: A practical theology of childhood.St.

Louis, Missouri: Chalice Press.

Westerhoff III, John. 2012.Will our children have faith?New York: Morehouse.

(17)
(18)

Landasan Biblis-Teologis

Pelayanan Gereja

bagi Anak Sekolah Minggu

Berkebutuhan Khusus

(19)

Sumber: Lukisan Shim Soon Hwa

(20)

Gereja adalah “rumah” bagi semua orang

Gereja menolong setiap warga jemaat untuk bertumbuh dalam pengenalan yang benar akan Tuhan.

Gereja menolong warga jemaat terhubung satu dengan yang lain

sehingga mereka belajar keragaman

dan saling menghargai

(21)

Praktik hidup menggereja

(komunitas iman) memperlihatkan bahwa anak-anak berkebutuhan

khusus belum sepenuhnya

diterima oleh Gereja

(22)

Penyebab Utama: STIGMA TERHADAP ABK

Kondisi fisik atau psikis yang dialami ABK adalah HUKUMAN TUHAN atau karena DOSA ORANG TUA mereka

1 ABK lemah dan tidak bisa berbuat apa-apa

sehingga tidak perlu dilibatkan dalam kegiatan gereja

2 ABK adalah pengganggu dan pembuat kekacauan dalam ibadah

3

(23)

Sikap Gereja yang tidak ramah terhadap ABK

Desain ibadah, model pembelajaran,

pelayanan gereja lainnya tidak membuka ruang untuk ABK berpartisipasi di dalamnya

1 Memberikan label/nama khusus kepada ABK:

pembuat gaduh, tukang berisik, tidak mampu, dll.

2 Desain dan arsitektur Gereja tidak ramah bagi ABK.

“Ramah” berarti sarana prasarana yang tersedia

memungkinkan ABK bisa beraktivitas secara mandiri.

3

Gereja seperti “city on a hill”

(Nancy Eisland, The Disabled God)

(24)
(25)

Anak membutuhkan komunitas iman yang ramah untuk bertumbuh,

berkembang dan berinteraksi dengan orang lain.

1 Gereja adalah rumah yang terbuka bagi semua orang (Tubuh Kristus) yang di dalamnya berhimpun seluruh

umat dari berbagai latar belakang dan kondisi fisik/psikis, sehingga siapa saja boleh datang dan ia harus disambut dengan baik oleh anggota keluarga yang lain.

2

(26)

Hospitalitas tidak sama dengan kegiatan amal ( charity )

Jika hospitalitas hanya kegiatan amal

(charity) maka cara kita memperlakukan ABK tidak lebih karena rasa kasihan: kasihan karena mereka lemah, belum bisa berbuat

banyak, tidak tahu apa-apa, belum bisa

menghasilkan uang sendiri, dll.

(27)

Hospitalitas bukan hiburan ( entertainment )

Jika hospitalitas adalah hiburan, maka orientasi kita terpusat pada diri dan pemuasan keinginan pribadi. ABK tidak

lagi dilihat sebagai individu yang harus

dihargai karena nilai kediriannya.

(28)

Pola relasi dan komunikasi yang ramah terhadap ABK akan memengaruhi pertumbuhan imannya (spiritualitas)

termasuk orangtuanya.

Anak belajar melalui pengamatannya terhadap lingkungan sekitar.

Jika lingkungan ramah, maka anak akan merasa diterima dan dihargai.

Jika lingkungan menolak dan

mendiskriminasikannya, maka anak

akan menganggap dirinya tidak diterima

di dalam komunitas.

(29)

Gereja menjadi model bagi masyarakat, bagaimana bersikap yang tepat

terhadap ABK.

3 Gereja mempraktikkan ajarannya tentang kasih, keadilan dan penerimaan terhadap yang lain.

4

5 Semua manusia tanpa kecuali, pada waktu tertentu,

memiliki keterbatasan dan kerapuhan

sebab tubuh manusia tidak selamanya

berfungsi baik.

(30)
(31)

Semua warga Gereja memiliki

cara pandang yang benar terhadap para ABK,

termasuk meluruskan pemahaman teologis yang keliru. Cara pandang yang benar mewujud dalam perilaku yang ramah terhadap ABK.

Stop Pelabelan

Menggunakan sapaan yang ramah dan manusiawi terhadap ABK.

Stop gunakan kata “cacat” dan “tuna”

(32)

Mendesain model-model peribadatan dan pembelajaran yang memperhatikan dengan saksama kebutuhan ABK.

Melibatkan ABK dalam berbagai aktivitas/pelayanan gerejawi

berdasarkan karunia dan talentanya.

Sarana-prasarana termasuk

arsitektur Gereja harus ramah

terhadap ABK.

(33)

Referensi

Dokumen terkait

Desa atau lingkungan tertentu yang memiliki lahan pertanian rata-rata sama luasnya ( one class system ) akan berbeda pengaruhnya terhadap sistem pertanian

Kedepannya, diharapkan akan ada penelitian lain yang memperbaiki kekurangan dari penelitian ini, diantaranya adalah jumlah responden yang masih sedikiti dan

Selanjutnya agar Saudara mengajukan Perubahan Status dari Perusahaan PMA menjadi Perusahaan PMDN tersebut kepada Kepala BKPM sebagaimana diatur dalam Peraturan Kepala

Dalam rangka menyesuaikan dengan perkembangan dunia usaha, serta menciptakan iklim investasi di Badan Usaha Milik Negara yang lebih kompetitif dan produktif berdasarkan

Kesimpulan dalam penelitian ini adalah bahasa pemograman PHP dan MySQL terbukti mampu diimplementasikan dalam merekayasa sistem pakar untuk mendiagnosa penyakit

Pengamatan yang dilakukan pada penelitian ini yaitu suhu kompos diamati setiap minggu selama 8 minggu menggunakan termometer, pH diamati setiap minggu selama 8 minggu

Pada lagu O’Wulele Sanggula fungsi sosial di masa sekarang salah satunya yakni sebagai sarana pemertahanan bahasa daerah suku Tolaki terdapat pada tiap-tiap larik