Bab V
Data dan Pembahasan
V.1 Kesetimbangan Air Pada Sistem Distribusi
Kesetimbangan air pada sistem distribusi Kota Bandung dapat dilihat dari jumlah air yang diproduksi dibandingkan dengan jumlah air yang terjual dan dimanfaatkan oleh masyarakat. Kesetimbangan air perlu diketahui agar kita dapat mengetahui berapa perkiraan kehilangan air yang terjadi di PDAM Kota Bandung. Berikut ditampilkan perbandingan nilai kehilangan air beberapa tahun terakhir oleh PDAM Kota Bandung pada Tabel V.1.
Tabel V.1 Perbandingan Nilai Kehilangan Air PDAM Kota Bandung Tahun 2004, 2005 dan 2006
* *
Sumber : *PDAM Kota Bandung, 2006
Dari tabel di atas dapat diprediksikan nilai kehilangan air di Kota Bandung. Nilai kehilangan air dapat dihitung dengan rumus (1).
(1) % 100 Air Distribusi an Dimanfaatk Air -Air Distribusi ) % ( Air Kehilangan = ×
∑
∑
∑
Dengan menggunakan rumus di atas didapat nilai kehilangan air di Kota Bandung beberapa tahun terakhir. Pada tahun 2004 kehilangan air mencapai 49,49% lalu berkurang sampai mencapai angka 46,86% pada tahun 2005. Puncaknya terjadi pada tahun 2006 yang mencapai angka 50,73%. Maka dari itu, upaya pengendalian kehilangan air diperlukan untuk mengatasi nilai kehilangan air yang makin meningkat.
Setelah nilai kehilangan air diketahui maka dapat dibuat neraca kesetimbangan air untuk PDAM Kota Bandung tahun 2006 seperti pada Tabel V.2.
Tabel V.2 Kesetimbangan Air untuk PDAM Kota Bandung Tahun 2006
Sumber : Asumsi dan Perhitungan Keterangan :
a didapat dari hasil penjumlahan distribusi air dari masing-masing reservoir, mata
air dan sumur bor ke daerah-daerah pelayanan PDAM Kota Bandung.
b didapat dari penjumlahan rekening air tiap kelurahan di wilayah pelayanan
PDAM Kota Bandung.
c didapat dari hasil penjualan air melalui mobil-mobil tanki.
d dan e didapat dari air-air operasional yang tidak terjual, seperti penanggulangan
kebocoran (distribusi), penggantian water meter (altek meter), bantuan sosial melalui mobil tanki gratis, pemakaian air oleh pemadam kebakaran, taman kota dan sebagainya. Keduanya merupakan hasil perhitungan dari PDAM Kota Bandug, 2006.
f dan g didapat dari air yang hilang akibat dari sambungan ilegal dan
kesalahan-kesalahan administrasi dalam pembacaan meter air serta penginputan, pelaporan dan pencetakan rekening air. Keduanya didapat dari perhitungan PDAM Kota Bandung, 2006.
Kehilangan air yang sebesar 50,73% merupakan kehilangan air fisik dan non fisik. Sedangkan kapasitas produksi harusnya cukup untuk melayani konsumen dengan sistem pelayanan 24 jam dalam sehari. Dengan demikian dalam sistem pelayanan ke daeerah distribusi debit sumber memungkinkan untuk pelayanan, sehingga tidak ada permasalahan dengan jumlah suplai air untuk konsumen. Untuk tabel lengkap perhitungan neraca kesetimbangan air dapat dilihat pada Lampiran 1.
V.2 Analisis Kehilangan Air di Tiap Kelurahan
Analisis kehilangan air tiap kelurahan diperlukan untuk mengetahui kelurahan mana yang memberikan nilai kehilangan air paling besar bagi PDAM Kota Bandung. Analisis ini belum pernah dilakukan, bahkan oleh PDAM Kota Bandung sendiri. Analisis ini dilakukan dengan melakukan perbandingan antara total suplai yang diberikan kepada tiap kelurahan (berdasarkan data node loading TA Rahmat Satria Dewangga, 2003) dengan total konsumsi tiap kelurahan. Daerah – daerah yang dibandingkan dapat dilihat pada Gambar V.1.
Perlu diketahui, kehilangan air yang akan dicari dengan cara ini hanya kehilangan air yang dipengaruhi oleh konsumsi resmi bermeter dan berekening dan diasumsikan tiap kelurahan berada pada keadaan ideal, dimana tidak terjadi intervensi aliran pada jaringan pipa distribusinya.
Untuk tahun 2006, konsumsi air bermeter berekening adalah sebesar 34039660 m3/tahun (Tabel V.2), yaitu sebesar 41,8% dari seluruh air yang didistribusikan.
Langkah – langkah menghitung nilai kehilangan air tiap kelurahan :
- Kalibrasi peta kelurahan saat ini dengan peta yang digunakan dalam model Epanet.
- Simulasi Epanet menggunakan data tahun 2002, kemudian diprediksikan ke tahun 2005 dan 2010. Maka dari itu, data tahun 2005 dipakai sebagai data acuan untuk analisis selanjutnya.
- Setelah dilakukan perhitungan, terdapat perbedaan antara total suplai air tahun 2005 dan tahun 2006. Maka, dipakailah metoda perbandingan seperti pada rumus (2) untuk menemukan faktor konversinya.
(2) 2005 Tahun Air Suplai Total 2006 Tahun Air Suplai Total Konversi Faktor =
Dengan total suplai air pada tahun 2006 sebesar 2358,17262 LPS (sumber : perhitungan) dan total suplai air pada tahun 2005 sebesar 2242,93 LPS, maka didapat faktor koversi sebesar 1,05138.
- Data suplai air tiap kelurahan tahun 2005 kemudian dikonversi dengan faktor konversi untuk mendapatkan data suplai air tiap kelurahan tahun 2006.
Gambar V.1 Gambar Model Epanet yang Digunakan PDAM Kota Bandung (PDAM Kota Bandung, 2006)
- Setelah itu dicari selisih antara total suplai air dengan total konsumsi tiap kelurahan. Hasilnya akan bernilai positif atau negatif. Nilai positif menunjukkan adanya kehilangan air dalam sistem distribusi air ke kelurahan tersebut. Sedangkan nilai negatif menunjukkan kelurahan tersebut mendapatkan suplai air yang kurang dari yang dibutuhkannya.
- Untuk kelurahan yang menunjukkan adanya kehilangan air, maka nilai kehilangan airnya dapat dicari dengan rumus (3).
(3) % 100 Air Suplai Air Konsumsi -Air Suplai ) % ( Air Kehilangan = ×
Kelurahan yang menunjukkan adanya kehilangan air terbesar Kota Bandung adalah Kelurahan Sukaraja dengan nilai sebesar 99,58% dan kelurahan yang menunjukkan nilai kehilangan air terkecil adalah Kelurahan Antapani dengan nilai 22,06%. Nilai kehilangan air yang terjadi pada tiap kelurahan dapat dilihat pada Gambar V.2.
0 20 40 60 80 100 120 1 3 9 6 22 21 24 25 27 37 43 38 33 32 31 29 14 11 16 10 19 47 45129 49 50 52 54 56 96 63 60 59 65 67 70100 76 75 72 79 81 82 84 91 89 87120 No Kelurahan LP S
Total Suplai ( LPS ) Total Konsumsi ( LPS ) Kehilangan Air ( LPS ) Kekurangan Air ( LPS )
Selatan Utara
Gambar V.2 Grafik Nilai Kehilangan Air Tiap Kelurahan Tahun 2006
- Setelah semua kelurahan dicari nilai kehilangan air dan kekurangan airnya, maka perlu dicari nilai kehilangan air total untuk wilayah pelayanan PDAM Kota Bandung dengan rumus (4).
(4) % 100 Air Suplai Total Air Kekurangan Total -) Konsumsi Total -Air Suplai Total ( ) % ( Total Air Kehilangan = ×
Nilai kehilangan air total yang hanya berdasarkan konsumsi air resmi bermeter dan berekening untuk wilayah pelayanan PDAM Kota Bandung adalah sebesar 57,15%.
- Untuk mengetahui apakah model Epanet ini cukup relevan atau tidak dengan kondisi yang ada sekarang, maka perlu dicari juga nilai kehilangan air yang hanya berdasarkan konsumsi air resmi bermeter dan berekening jika dilihat dari neraca keseimbangan air yang telah dibuat sebelumnya. Nilai ini bisa dicari dengan rumus (5).
(5) % 100 Sistem Input Volume Berekening Bermeter Konsumsi -Sistem Input Volume ) % ( Air Kehilangan = ×
Dengan volume input sistem sebesar 81508262,04 m3/tahun dan konsumsi bermeter berekening sebesar 34039660 m3/tahun, maka didapat nilai kehilangan airnya sebesar 58,24%.
Setelah dibandingkan ternyata nilai kehilangan air tiap kelurahan yang dicari dengan cara membandingkan dengan model Epanet, dinilai cukup relevan.
Untuk diketahui, walaupun setelah dibandingkan dengan total konsumsi bermeter berekening ternyata nilai kehilangan air tiap kelurahan yang didapat dengan Epanet dinilai cukup relevan, akan tetapi pada kenyataan di lapangan perhitungan dengan cara seperti ini tidak bisa langsung dijadikan rujukan untuk semua daerah, hanya bisa digunakan untuk daerah-daerah yang pada sistem pengalirannya tidak mengalami intervensi aliran.
Hal ini disebabkan, perhitungan di atas hanya akan menghasilkan angka yang sesuai apabila tidak ada intervensi manual dalam pengoperasian sistem distribusi, yang berarti semua valve yang ada di lapangan dibiarkan tertutup sebagaimana adanya.
Tetapi, setelah melihat kenyataan di lapangan (terutama di daerah Bandung bagian Selatan), jika pada awalnya interkoneksi antar bagian dihubungkan oleh valve tertutup maka pada saat ini seluruh zona selatan yang merupakan gabungan dari bagian selatan-tengah, selatan-barat dan timur yang dihubungkan oleh valve yang terbuka penuh, sehingga bagian selatan merupakan bagian yang saling terinterkoneksi. Dalam prakteknya, pengoperasian buka tutup katup di jaringan pipa distribusi terkadang dilakukan untuk mengalirkan air dari daerah yang berlebih kepada daerah lain yang kekurangan air.
Pada beberapa bagian di wilayah selatan pun walau tampaknya mempunyai kondisi tekanan statik yang baik, tetapi dalam kenyataannya di lapangan air minum tidak pernah bergerak sedemikian jauhnya untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Kondisi ini terjadi, dikarenakan debit suplai air untuk beberapa daerah terlampau kecil. Hal ini berusaha diatasi dengan dilakukannya sistem penggiliran yang terjadwal untuk masing-masing daerah. Sistem penggiliran ini
sebenarnya bisa digunakan sebagai salah satu cara untuk mengetahui tingkat kesalahan yang terjadi pada grafik di atas. Tetapi, hal ini pun tidak dapat dilakukan karena penggiliran yang harusnya terjadwal pada kenyataan di lapangan sudah tidak mengikuti jadwal. Perhitungan lengkapnya untuk tiap kelurahan dapat dilihat pada Lampiran 2.
V.3 Pemilihan Wilayah Studi Kasus
Nilai kehilangan air yang mencapai angka 50,73% ini dapat menimbulkan kerugian yang sangat besar bagi PDAM Kota Bandung. Maka dari itu, untuk mengatasi hal ini diperlukan usaha pengendalian kehilangan air secepatnya. Tetapi, karena adanya ketidakteraturan dalam sistem distribusi air bersih Kota Bandung, maka pemilihan wilayah studi sangat diperlukan.
Wilayah studi ini nantinya akan menjadi sebuah pilot project yang akan mewakili Bandung. Oleh sebab itu, agar wilayah studi yang terpilih nantinya merupakan wilayah studi yang tepat guna, maka perlu ditetapkan beberapa hal dalam pemilihan wilayah studi ini.
Kriteria pemilihan wilayah studi didasarkan pada : a. golongan kelas pelanggan
b. pengaliran air bersih selama 24 jam c. pendistribusian air yang relatif baik d. efisiensi penagihan yang relatif baik
e. tingkat permasalahan pembacaan meteran relatif tinggi
V.3.1 Golongan Kelas Pelanggan
Penggolongan kelas pelanggan PDAM didasarkan pada sifat dan fungsi bangunan, dimana sifat ini juga akan mempengaruhi pemakaian air bersih pada bangunan tersebut. Penggolongan kelas pelanggan yang ada saat ini adalah :
a. Sosial
IA Sosial Umum
1. kran umum
2. kamar mandi, cuci dan kakus umum 3. tempat ibadah
IB Sosial Khusus
1. puskesmas 2. klinik pemerintah 3. rumah yatim piatu 4. rumah jompo 5. rumah rehabilitasi 6. badan sosial lainnya
b. Non niaga
IIA Rumah Tangga
IIA1 Rumah tangga golongan A1 Rumah susun Perumnas
IIA2 Rumah tangga golongan A2
Rumah yang terletak di jalan kecil/gang dengan lebar jalan kurang dari 2 meter.
IIA3 Rumah tangga golongan A3
Rumah yang terletak di jalan besar bukan protokol dengan lebar jalan tidak kurang dari 2 meter dan tidak lebih dari 4 meter.
IIA4 Rumah tangga golongan A4
1. Rumah dengan lebar jalan di atas 4 meter atau jalan protokol 2. Rumah peristirahatan, villa, bungalow yang tidak dikomersilkan
3. Perumahan real estate/rumah dengan luas bangunan di atas 300 m2 atau luas tanah di atas 500 m2.
4. Apartemen/kondominium.
IIB Instansi Pemerintah/TNI/Polri
1. Sarana instansi pemerintah/TNI/Polri baik pusat maupun daerah. 2. Sekolah milik pemerintah (SD, SMP, SMA/Kejuruan).
3. Lain-lain lembaga.
c. Niaga
IIIA Niaga Kecil
1. Warung/kios/jongko
2. Bengkel kecil/pencucian motor 3. Penjahit
4. Kegiatan usaha yang menyatu dengan rumah tangga 5. Asrama/losmen/mess milik pemerintah
6. Praktek dokter umum
7. Sekolah milik swasta (TK/Playgrup, SD, SMP, SMA/Kejuruan) 8. Perusahaan dagang/jasa kecil lainnya
IIIB Niaga Menengah/Besar
1. Toko
2. Rumah Makan 3. Hotel/Motel
4. Rumah peristirahatan, villa dan bungalow yang dikomersialkan 5. Rumah sakit, klinik dan laboratorium
6. Perguruan tinggi/tempat kursus 7. Salon kecantikan
8. Asrama/losmen/mess milik swasta 9. Rumah kos
10. Sarana olahraga
11. Showroom/bengkel besar/pencucian mobil 12. Apotik/rumah obat
13. Percetakan 14. Pergudangan
15. Stasiun radio/broadcasting swasta 16. Bioskop/tempat hiburan
17. Mall/supermarket
18. Kamar pendingin/pabrik es 19. Bank/asuransi
20. Biro iklan/biro perjalanan
21. Praktek dokter spesialis/kantor pengacara/notaris/konsultan 22. Penggilingan padi
23. Perusahaan peternakan/perikanan 24. Perusahaan dagang
25. Perusahaan angkutan
27. Pemandian umum
28. Kamar mandi, cuci dan kakus yang dikomersilkan 29. Perusahaan dagang dan jasa menengah besar lainnya
d. Industri
IVA Industri Kecil
1. Industri rumah/home industri 2. Industri makanan/minuman 3. Industri sepatu
4. Industri garmen/konveksi 5. Industri kerajinan rumah tangga 6. Industri alat-alat rumah tangga 7. Industri keramik/genteng/bata
8. Industri Logam, seng/baja atau peleburan 9. Industri perkebunan
10. Industri kecil lainnya
IVB Industri Menengah/Besar
1. Industri menengah/besar makanan dan minuman 2. Industri menengah/besar sepatu
3. Industri menengah/besar garmen/konveksi 4. Industri menengah/besar kerajinan rumah tangga 5. Industri menengah/besar alat-alat rumah tangga 6. Industri menengah/besar keramik/genteng/batu
7. Industri menengah/besar logam, seng/baja atau peleburan 8. Industri menengah/besar perkebunan
9. Industri menengah/besar lainnya Sumber : PDAM, 2005
Perbedaan golongan kelas pelanggan ini juga akan mengakibatkan perbedaan tarif dasar PDAM. Berikut ditampilkan perbedaan tarif dasar air minum pada Tabel V.3.
Tabel V.3 Perbedaan Tarif Dasar Air Minum
Sosial Rumah Tangga/Non Niaga Niaga Industri M3
IA IB IIA1 IIA2 IIA3 IA4 IIB IIIA IIIB IVA IVB 0-10 560 560 560 700 875 1050 700 1050 875 1750 2100 11-20 560 560 875 1225 1400 1750 1225 1750 1400 2450 2800 21-30 560 875 1225 1750 2100 2625 1750 2625 2100 3325 3675 >30 560 1225 1750 2450 2975 3500 2450 3500 3850 4375 4725
Sumber : PDAM, 2005
Tarif air minum ditentukan berdasarkan Peraturan Daerah Kota Bandung No.29 Tahun 2001 tentang Pengaturan Pelayanan Air Minum dan Surat Keputusan Walikota Bandung No.1178 Tahun 2001 dan berlaku Oktober 2001.
Agar lebih dapat bersifat global dan mewakili seluruh Bandung, maka golongan kelas pelanggan ditetapkan sebagai salah satu kriteria penetapan wilayah studi. Kelurahan terpilih sebaiknya yang mempunyai seluruh golongan kelas pelanggan.
Setelah dilakukan pengecekan terhadap seluruh kelurahan di Kota Bandung, didapat lima kelurahan yang mempunyai seluruh golongan kelas pelanggan, yaitu kelurahan Arjuna, Cicadas, Pungkur, Balonggede dan Panjunan. Berikut ditampilkan kelurahan yang dimaksud berikut detail golongan kelas pelanggannya pada Tabel V.4. Golongan kelas pelanggan untuk seluruh kelurahan yang dilayani oleh PDAM Kota Bandung dapat dilihat pada Lampiran 3.
Tabel V.4 Kelurahan yang Mempunyai Seluruh Golongan Kelas Pelanggan
Golongan Kelas Pelanggan Kelurahan
1A 1B 2A1 2A2 2A3 2A4 2B 3A 3B 4A 4B Total Arjuna 10 1 1 516 768 120 7 114 95 5 11 1648 Cicadas 15 1 2 1152 236 21 15 66 70 4 2 1584 Pungkur 5 2 1 398 450 76 10 84 189 4 4 1223 Balonggede 17 3 1 83 398 106 6 239 327 10 2 1192 Panjunan 4 1 1 278 85 49 3 48 69 2 1 541 Sumber : PDAM, 2007
V.3.2 Pengaliran Air Bersih Selama 24 Jam
Kelurahan-kelurahan yang mempunyai pengaliran air bersih selama 24 jam diasumsikan merupakan kelurahan-kelurahan yang mempunyai rata-rata pemakaian air per pelanggan tiap kelurahan lebih besar dari 20 m3. Asumsi ini didapat setelah berdiskusi dengan pihak PDAM Kota Bandung.
Menurut PDAM Kota Bandung, dengan rata-rata pemakaian air per pelanggan lebih besar dari 20 m3, maka kebutuhan pokok akan air bersih sudah terpenuhi. Kebutuhan pokok yang dimaksud disini adalah untuk makan, minum dan mencuci dengan standar kebutuhan pokok sebesar 60 L/orang/hari.
Jika kebutuhan pokok sudah terpenuhi, maka diharapkan kelurahan tersebut sudah tidak perlu memakai pompa atau mencari sumber air tambahan yang baru dalam sistem distribusinya. Pemilihan kelurahan yang memakai pompa atau memakai sumber air tambahan baru dihindarkan untuk mengurangi kesulitan dalam perhitungan pemakaian air dan penentuan penyebab kehilangan air yang akan dilakukan berikutnya.
Perhitungan pemakaian air per pelanggan tiap kelurahan dilakukan dengan rumus (6) berikut ini.
(6) Pelanggan Jumlah Kelurahan Tiap Air Konsumsi Nilai Kelurahan Tiap Pelanggan Per Air Pemakaian =
Berikut ditampilkan rata-rata pemakaian air per pelanggan tiap kelurahan tahun 2006 pada Gambar V.3. 0 20 40 60 80 100 120 1 3 9 6 22 21 24 25 27 37 43 38 33 32 31 29 14 11 16 10 19 47 45129 495052 5456966360 59656770100 76 7572798182 84918987120 No Kelurahan R at a-R at a P em ak ai an A ir (m 3 20m3 <20 m3 >20m3 Utara Selatan
Setelah dilakukan perhitungan, ternyata ada 55 kelurahan yang rata-rata pemakaian airnya masih dibawah 20 m3 dan sisanya, sebanyak 41 kelurahan sudah mempunyai rata-rata pemakaian air diatas 20 m3. Kelurahan Lebak Siliwangi mempunyai rata-rata pemakaian air terbesar, sebesar 107,85 m3.
Kelurahan-kelurahan yang mempunyai rata-rata pemakaian air per pelanggan relatif besar sebagian besar berada di daerah Bandung bagian Utara, hal ini menunjukkan sistem pengaliran di daerah tersebut sudah cukup baik. Sedangkan kelurahan-kelurahan yang mempunyai rata-rata pemakaian air relatif kecil berada di Bandung bagian Selatan, tersebar antara Selatan-Barat, Selatan-Tengah dan Selatan-Timur. Walaupun begitu tidak semua kelurahan yang berada di Bandung Selatan pemakaian airnya berada di bawah 20 m3 ada sebagian kecil yang berada di atas 20 m3. Seperti Kelurahan Pelindung Hewan, Balonggede, Batununggal, Cijagra, Turangga, Kacapiring, Samoja, Cibangkong dan lain sebagainya.
Dengan melihat hasil perhitungan dan grafik di atas dapat diketahui bahwa hanya 42,7% kelurahan yang mengalami pengaliran air bersih 24 jam dari total 96 kelurahan yang dilayani oleh PDAM Kota Bandung. Nilai ini masih dibawah 50%, sehingga dapat disimpulkan pada kenyataannya, PDAM Kota Bandung belum dapat melayani seluruh daerah yang terdapat dalam wilayah pelayanannya. Perhitungan selengkapnya untuk tiap kelurahan dapat dilihat pada Lampiran 4.
V.3.3 Pendistribusian Air Relatif Baik
Efisiensi pendistribusian air tiap kelurahan ditunjukkan dengan jumlah pelanggan PDAM pada kelurahan tersebut. Jika semakin banyak pelanggan PDAM di kelurahan tersebut berarti para pelanggan merasa puas akan pelayanan PDAM di kelurahannya dan menunjukkan juga bahwa sistem pendistribusian air di kelurahan tersebut relatif baik (air mampu didistribusikan sampai pada daerah tersebut). Karena, daerah yang tampak di peta masih merupakan wilayah pelayanan air bersih PDAM Kota Bandung kadang pada kenyataannya di lapangan daerah tersebut masih harus mencari sumber air baru (sumur bor, sumur resapan dan sebagainya) atau memakai pompa karena head PDAM Kota Bandung tidak mencapai daerah tersebut (tekanan kurang) atau malah sudah tidak dilayani lagi oleh PDAM Kota Bandung.
Sebaliknya sedikitnya jumlah pelanggan menunjukkan ketidakpuasan pelanggan atau memang hanya sebagian saja daerah tersebut yang masih mampu dilayani oleh PDAM Kota Bandung. Hal ini menunjukkan pendistribusian air di wilayah tersebut relatif kurang baik
Tingkat langganan tiap kelurahan didapat dengan cara membandingkan antara jumlah pelanggan yang ada di tiap kelurahan dengan jumlah penduduk total di kelurahan tersebut, seperti pada rumus (7).
(7) 100% x Total Penduduk Jumlah Pelanggan Jumlah Kelurahan Tiap Langganan Tingkat =
Berikut ditampilkan jumlah pelanggan tiap kelurahan tahun 2006 pada Gambar V.4 SL (%) 0 5 10 15 20 25 30 1 4 7 10 13 16 19 22 25 28 31 34 37 40 43 46 49 52 55 58 61 64 67 70 73 76 79 82 85 88 91 94 No Kelurahan SL SL (%) Utara Selatan
Gambar V.4 Grafik Jumlah Pelanggan Tiap Kelurahan Tahun 2006
Setelah dilakukan perhitungan, dapat diketahui bahwa Cihapit yang mempunyai jumlah pelanggan terbesar, yaitu 1185 pelanggan atau sekitar 22,06% dari total penduduk di kelurahan tersebut. Kelurahan yang mempunyai jumlah pelanggan terkecil adalah Sukaraja yang mempunyai jumlah pelanggan sebanyak 41 pelanggan atau sekitar 0,71% dari total penduduk di kelurahan tersebut. Hal ini mungkin dipengaruhi juga oleh kenyataan bahwa Sukaraja yang memberikan kehilangan air terbesar di Kota Bandung sekitar 99,58%, sehingga hanya sedikit
penduduk disana yang menjadi pelanggan PDAM dan mampu dilayani oleh PDAM.
Dengan melihat grafik di atas juga dapat diketahui rata-rata kelurahan yang memberikan jumlah pelanggan terbesar adalah kelurahan yang berada di Bandung bagian Bandung Utara. Hal ini juga mungkin dipengaruhi oleh pemakaian air rata-rata per pelanggan di daerah tersebut yang relatif besar. Walaupun daerah Bandung bagian Selatan mempunyai jumlah pelanggan relatif lebih sedikit dibandingkan daerah Bandung bagian Utara, tetapi ada beberapa kelurahan yang jumlah pelanggannya relatif cukup besar, yaitu kelurahan karang Anyar, Cibadak, Balonggede, Pungkur, Cijagra, turangga, Paledang dan lain sebagainya.
Seperti sudah dijelaskan di analisis sebelumnya bahwa pemakaian air rata-rata per pelanggan yang relatif besar mengindikasikan adanya pengaliran air bersih selama 24 jam (pengaliran kontinu). Pengaliran yang kontinu mengakibatkan kepuasan pelanggan meningkat dan juga menunjukkan kemampuan PDAM mengalirkan air ke daerah tersebut secara baik. Sehingga jumlah pelanggan pun akan cukup besar di daerah tersebut. Perhitungan lengkapnya untuk tiap kelurahan dapat dilihat pada Lampiran 5.
V.3.4 Efisiensi Penagihan Relatif Baik
Efisiensi penagihan yang relatif baik dapat diketahui dengan perbandingan Rp/m3 yang relatif besar juga. Hal ini menunjukkan suatu potensi pendukung terhadap PDAM, dimana dengan perbandingan Rp/m3 yang relatif tinggi menunjukkan tingkat kesadaran masyarakat yang relatif tinggi terhadap perlunya air bersih. Hal ini juga menunjukkan tingkat kepuasan masyarakat yang relatif tinggi di daerah tersebut.
Berikut ditampilkan perbandingan Rp/m3 tiap kelurahan tahun 2006 pada Gambar V.5.
2000 2500 3000 3500 4000 4500 1 8 21 28 43 35 29 13 19 46 50 55 63 64 70 77 79 83 89 109 No Kelurahan Rp /m 3 Selatan Utara
Gambar V.5 Grafik Perbandingan Rp/m3 Tiap Kelurahan Tahun 2006
Bisa dilihat pada gambar di atas, bahwa daerah Bandung Utara yang mempunyai rata-rata efisiensi penagihan yang cukup baik, jika dilihat dari perbandingan Rp/m3 yang ada di daerah tersebut. Daerah Bandung Selatan memberikan nilai yang relatif rendah untuk tingkat efisiensi penagihannya. Hal ini menunjukkan kurangnya tingkat kesadaran masyarakat atau bisa juga dikarenakan oleh kurangnya pelayanan PDAM pada daerah tersebut. Hal ini bisa dikaitkan juga dengan kenyataan bahwa kelurahan-kelurahan yang berada di Bandung Selatan merupakan kelurahan-kelurahan yang memberikan nilai kehilangan air terbesar bagi Kota Bandung.
Walaupun begitu, bisa dilihat juga dari grafik bahwa tidak semua kelurahan di Bandung Selatan mempunyai efisiensi penagihan yang rendah kelurahan-kelurahan yang berada di Kecamatan Regol, seperti Balonggede, Pungkur dan Ciateul, memberikan efisiensi penagihan cukup tinggi.
Setelah dilakukan perhitungan diketahui bahwa kelurahan yang memberikan perbandingan Rp/m3 terbesar adalah Citarum dengan nilai 3970,09 Rp/m3 dan kelurahan yang memberikan nilai terkecil adalah Babakan Sari dengan nilai 2235,07 Rp/m3. Perhitungan lengkapnya untuk tiap kelurahan dapat dilihat pada Lampiran 6.
V.3.5 Tingkat Permasalahan Pembacaan Meteran Relatif Tinggi
Tingkat permasalahan pembacaan meteran banyak macam dan sebabnya. Permasalahan pembacaan meteran inilah salah satu sebab yang cukup berpengaruh terhadap kehilangan air di Kota Bandung.
Pada pencatatan pemakaian air pelanggan oleh PDAM, permasalahan pembacaan meteran ini dikelompokkan menjadi kode-kode tertentu. Kode-kode ini menunjukkan perbedaan antara masalah yang satu dengan yang lainnya. Berikut ditampilkan masalah-masalah yang sering terjadi dalam pembacaan meteran di lapangan berikut kode-kodenya pada Tabel V.5.
Tabel V.5 Masalah Pembacaan Meteran dan Kode-Kodenya
Masalah Kode Masalah Kode
Alamat tidak ketemu 1 Stand kelebihan M Rumah dikunci 2 Rumah kosong R Meter tidak ada 3 Stand terbalik T
Meter baru 4 Meter rusak O
Meter tertimbun 5 Meter dicabut D Meter buram 6 Stand revisi W
Meter mati 7 Stand mundur F
Tidak ada air 8 Meter tidak ketemu I Loss meter 9 Rumah dibongkar K Stand konsumen Z Air tidak dipakai H Meter tidak dicatat X Lain-lain L
Alamat jauh V Sumber : PDAM, 2006
Tingkat permasalahan meteran ini tidak dilihat pada seluruh kelurahan yang ada di Bandung. Hal ini disebabkan oleh karena sulitnya memperoleh data permasalahan meteran ini. Jadi, agar lebih mudah maka tingkat permasalahan meteran hanya dilihat pada kelurahan-kelurahan yang mempunyai seluruh golongan kelas pelanggan, yaitu Arjuna, Balonggede, Cicadas, Panjunan dan Pungkur. Tingkat permasalahannya dapat dilihat pada Tabel V.6. Untuk pendataan permasalahan pembacaan meteran dapat dilihat pada Lampiran 7.
Tabel V.6 Tingkat Permasalahan Meteran di Beberapa Kelurahan
Permasalahan Nama Kelurahan Total Meteran
(satuan) (%) Arjuna 1649 384 23,29 Balonggede 1187 413 34,79 Cicadas 1549 761 49,13 Panjunan 533 154 28,89 Pungkur 1226 327 26,67 Sumber : Perhitungan
Setelah semua kriteria dianalisis, maka dapat diambil kesimpulan bahwa Kelurahan Balonggede yang terdapat di Kecamatan Regol dapat dijadikan pilot
project dan dianggap dapat mewakili Kota Bandung secara keseluruhan, karena
dianggap memenuhi semua kriteria yang ada.
V.4 Penentuan Jumlah Sampel
Jumlah anggota sampel sering dinyatakan dengan ukuran sampel. Jumlah sampel yang diharapkan 100% mewakili populasi adalah sama dengan jumlah anggota populasi itu sendiri. Makin besar jumlah sampel mendekati populasi, maka peluang kesalahan generalisasi semakin kecil dan sebaliknya (Sugiyono, 1999).
Berikut ini diberikan penentuan jumlah sampel dari populasi tertentu yang dikembangkan Isaac dan Michael, untuk tingkat kesalahan 10% pada Tabel V.7.
Tabel V.7 Penentuan Jumlah Sampel dari Populasi Tertentu dengan Taraf Kesalahan 10% N S N S N S 10 10 130 88 380 158 15 14 140 92 400 162 20 19 150 97 420 165 25 23 160 101 440 168 30 27 170 105 460 171 35 31 180 108 480 173 40 35 190 112 500 176 45 39 200 115 550 182 50 42 210 118 600 187 55 46 220 122 650 191 60 49 230 125 700 195 65 53 240 127 750 199 70 56 250 130 800 202 75 59 260 133 850 205 80 62 270 135 900 208 85 65 280 138 950 211 90 68 290 140 1000 213 95 71 300 143 1100 217 100 73 320 147 1200 221 110 78 340 151 ∞ 272 120 83 360 155
Sumber : Sugiyono, 1999 hal.99
Keterangan : N menunjukkan jumlah populasi
S menunjukkan jumlah sampel yang harus diambil. Kelurahan Balonggede mempunyai jumlah pelanggan sebanyak 1192 pelanggan. Dengan jumlah masing-masing kelas adalah sebagai berikut :
a. Kelas 1A sebanyak 17 pelanggan. b. Kelas 1B sebanyak 3 pelanggan. c. Kelas 2A1 sebanyak 1 pelanggan. d. Kelas 2A2 sebanyak 83 pelanggan. e. Kelas 2A3 sebanyak 398 pelanggan. f. Kelas 2A4 sebanyak 106 pelanggan. g. Kelas 2B sebanyak 6 pelanggan.
h. Kelas 3A sebanyak 239 pelanggan. i. Kelas 3B sebanyak 327 pelanggan. j. Kelas 4A sebanyak 10 pelanggan. k. Kelas 4B sebanyak 2 pelanggan.
Karena data ini merupakan data yang berstrata, maka sampel yang diambil juga harus sampel yang berstrata (Sugiyono, 1999). Stratanya ditentukan menurut jenis kelas pelanggan. Dengan demikian masing-masing sampel untuk jenis kelas pelanggan harus proporsional sesuai dengan populasi.
Melihat pada Tabel V.7, maka dapat disimpulkan dengan total populasi sebesar 1192 pelanggan, total sampel yang harus diambil untuk Kelurahan Balonggede adalah 218 sampel. Maka, jumlah sampel yang harus diambil tiap stratanya mengikuti rumus (8).
(8)
S
x
N
N
S
total total strata strata=
Setelah dilakukan perhitungan, didapat jumlah sampel untuk masing-masing strata kelas pelanggan adalah sebagai berikut :
a. Kelas 1A sebanyak 3 sampel. b. Kelas 1B sebanyak 1 sampel. c. Kelas 2A1 sebanyak 1 sampel. d. Kelas 2A2 sebanyak 15 sampel. e. Kelas 2A3 sebanyak 73 sampel. f. Kelas 2A4 sebanyak 19 sampel. g. Kelas 2B sebanyak 1 sampel. h. Kelas 3A sebanyak 44 sampel. i. Kelas 3B sebanyak 60 sampel. j. Kelas 4A sebanyak 2 sampel. k. Kelas 4B sebanyak 1 sampel.
Jumlah sampel total yang harus diambil ternyata ada 220 sampel. Perbedaan 2 sampel dari sampel total hasil perhitungan awal dikarenakan metoda sampling yang dipakai adalah metoda disproportionate stratified random sampling. Pada
metoda ini, apabila ada strata yang menghasilkan jumlah sampel nol, maka jumlah sampelnya dianggap satu sampel saja. Hal ini dilakukan agar tetap ada sampel yang mewakili strata tersebut.
V.5 Data Penelitian Lapangan
Setelah dilakukan penelitian ke lapangan, maka diketahui bahwa tidak memungkinkan untuk melakukan pengambilan data 220 sampel dalam satu hari. Sampling sebenarnya harus dilakukan dalam satu hari yang sama, karena ingin dilihat perbedaan pemakaian air dalam satu minggu penuh antar kelas pelanggan. Maka dari itu waktu sampling ditambah jadi 4 hari dan jumlah sampel yang diambil pada akhirnya mencapai angka 113 sampel rumah. Setengah dari target sampel yang ingin dicapai.
Berikut dilampirkan pemakaian pelanggan PDAM di daerah Balonggede selama satu minggu, kemudian dikonversi ke dalam hitungan bulan dan dibandingkan dengan hitungan PDAM Kota Bandung yang sudah ada. Semua itu terangkum dalam Tabel V.8.
Tabel V.8 Pemakaian Air Kelurahan Balonggede Bulan Agustus Tahun 2007
Golongan 1A
No Pemakaian (m3) Pemakaian 1 bln (m3) Keterangan Pencatatan PDAM Perbedaan Kelas Selisih
1 50 250 269 19
Golongan 1B
No Pemakaian (m3) Pemakaian 1 bln (m3) Keterangan Pencatatan PDAM Perbedaan Kelas Selisih
1 0 0 20 IA 20
Golongan 2A1
No Pemakaian (m3) Pemakaian 1 bln (m3) Keterangan Pencatatan PDAM Perbedaan Kelas Selisih
1 - - - -
Golongan 2A2
No Pemakaian (m3) Pemakaian 1 bln (m3) Keterangan Pencatatan PDAM Perbedaan Kelas Selisih
1 15 75 8 2A3 67 2 0 0 0 0 0 3 3 15 10 5 4 17 85 17 68 5 2 10 8 2 6 2 10 0 0 10 7 4 20 22 2 Golongan 2A3
No Pemakaian (m3) Pemakaian 1 bln (m3) Keterangan Pencatatan PDAM Perbedaan Kelas Selisih
2 5 25 9 2A3 16 3 9 45 2 56 11 4 3 15 7 8 5 7 35 22 2A2 13 6 1 5 0 0 2A3 5 7 0 0 42 3B 42 8 3 15 12 3 9 0 0 10 10 10 3 15 17 2 11 5 25 19 6 12 3 15 0 0 15 13 3 15 4 11 14 4 20 Z 20 0 15 5 25 20 5 16 3 15 9 6 17 1 5 0 0 5 18 4 20 0 0 20 19 3 15 0 0 15 20 4 20 14 6 Golongan 2A4
No Pemakaian (m3) Pemakaian 1 bln (m3) Keterangan Pencatatan PDAM Perbedaan Kelas Selisih
1 38 190 29 3A 161 2 6 30 33 3A 3 3 4 20 60 3B 40 4 2 10 20 10 5 7 35 31 4 6 2 10 15 5 7 9 45 0 0 45 8 2 10 6 4 9 6 30 14 16 10 3 15 0 0 15 11 2 10 0 10 12 0 0 0 0 0 13 4 20 10 10 Golongan 2B
No Pemakaian (m3) Pemakaian 1 bln (m3) Keterangan Pencatatan PDAM Perbedaan Kelas Selisih
1 45 225 54 171
Golongan 3A
No Pemakaian (m3) Pemakaian 1 bln (m3) Keterangan Pencatatan PDAM Perbedaan Kelas Selisih
1 0 0 5 5 2 -312 -1560 F 2 3B 1562 3 129 645 12 633 4 6 30 35 5 5 0 0 0 0 0 6 7 35 0 0 35 7 0 0 0 0 0 8 16 80 22 58 9 11 55 54 1 10 4 20 20 0 11 1 5 6 1
12 5 25 21 4 13 3 15 11 4 14 3 15 11 4 15 3 15 17 2 16 2 10 8 2 17 2 10 10 0 18 3 15 0 15 19 1 5 0 5 20 3 15 0 15 21 1 5 6 1 22 2 10 9 1 23 13 65 35 30 24 2 10 0 10 25 6 30 30 0 26 3 15 26 11 27 2 10 2 8 Golongan 3B No Pemakaian (m3) Pemakaian 1 bln (m3) Keterangan Pencatatan PDAM Perbedaan Kelas Selisih 1 0 0 19 19 2 - - 4 60 3 3 15 6 9 4 5 25 0 0 25 5 2 10 8 2 6 7 35 7 -3 -15 F 8 3 15 0 2A3 15 9 5 25 20 5 10 6 30 22 8 11 9 45 45 12 2 10 10 13 11 55 55 14 10 50 50 15 2 10 10 16 2 10 10 17 5 25 15 10 18 6 30 0 30 19 4 20 17 3 20 2 10 0 0 10 21 4 20 0 0 20 22 3 15 0 0 15 23 68 340 346 6 24 3 15 0 0 15 25 2 10 0 0 10 26 3 15 0 0 15 27 2 10 9 1 28 4 20 19 1 29 1 5 9 4 30 1 5 1 4 31 0 0 0 0 0 32 2 10 7 3
33 6 30 26 4
34 6 30 29 1
35 4 20 14 6
36 2 10 13 3
Golongan 4A
No Pemakaian (m3) Pemakaian 1 bln (m3) Keterangan Pencatatan PDAM Perbedaan Kelas Selisih
1 12 60 53 7
Golongan 4B
No Pemakaian (m3) Pemakaian 1 bln (m3) Keterangan Pencatatan PDAM Perbedaan Kelas Selisih
1 86 430 430
2 90 450 8 442
Sumber : Hasil Penelitian Lapangan
Setelah dilakukan sampling lapangan, ternyata banyak data-data yang sudah tidak cocok dengan pencatatan yang ada. Seperti dapat dilihat pada golongan kelas 2A1 ternyata sudah tidak ada lagi pelanggan yang ada di lapangan, hal ini juga didukung dengan data kelurahan yang ada, tetapi pada pencatatan yang dilakukan PDAM Kota Bandung, masih terdaftar ada satu pelanggan 2A1.
Di lapangan juga ditemukan cukup banyak alamat-alamat yang tidak tercatat menjadi pelanggan PDAM, padahal pada kenyataannya bangunan tersebut masih memakai air PDAM dan terbukti meteran air yang dipakai masih berputar. Alamat-alamat yang tidak terdaftar ini mencapai 9 pelanggan, atau sekitar 8,2% dari total 110 sampel pelanggan yang diambil.
Meteran bermasalah yang ditemukan di lapangan mencapai angka 50 meteran dari total 113 sampel (dengan 3 sampel merupakan meteran hilang), atau sekitar 44,25%. Jika data ini dibandingkan dengan data meteran bermasalah yang ada di Kelurahan Balonggede, yang menunjukkan angka masalah mencapai 34%, maka data yang diperoleh jauh lebih besar. Hal ini berarti, data meteran bermasalah tersebut perlu dikaji ulang dan pengambilan sampel yang hanya 110 sampel dari total 1192 pelanggan di Kelurahan Balonggede, atau sekitar 9,23% cukup mewakili. Untuk lebih lengkapnya, hasil data lapangan dapat dilihat pada Lampiran 8.
Berikut ditampilkan selisih pemakaian air antara yang tercatat di lapangan dengan data yang tercatat di PDAM pada Gambar V.6.
0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 110 120 130 140 150 160 170 1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 23 25 27 29 31 33 35 Rumah ke-S elisih Pem akaian Air (m 3 0 200 400 600 800 1000 1200 1400 1600 1800
Golongan 1A Golongan 1B Golongan 2A1 Golongan 2A2
Golongan 2A3 Golongan 2A4 Golongan 2B Golongan 3B
Golongan 4A Golongan 3A Golongan 4A
Gambar V.6 Grafik Selisih Pemakaian Air Sebenarnya Dengan yang Tercatat pada Kelurahan Balonggede Juli 2006
Bisa dilihat pada grafik ada bangunan yang menunjukkan angka yang begitu besar perbedaan selisihnya dengan catatan PDAM. Hal ini disebabkan pemakaian bangunan tersebut yang menunjukkan hasil negatif yang bernilai sangat besar. Hasil negatif didapatkan karena pemakaian air pada hari ke-6 lebih kecil jika dibandingkan pada pemakaian hari ke-0. Pemakaian yang bernilai negatif dapat ditimbulkan oleh banyak hal, misalnya karena adanya penggantian meter air dan berubahnya posisi meter air. Posisi meter yang dibolak-balik dapat mengakibatkan meter tidak berjalan sebagaimana mestinya. Tetapi, karena pada saat sampling dilakukan hanya ada satu pelaporan tentang penggantian meter, maka diasumsikan pemakaian negatif ini disebabkan oleh posisi meter yang dibolak-balik. Pemakaian air yang negatif ditemukan pada 2 pelanggan (sekitar 1,81%) dari total 110 sampel selama sampling dilakukan. Tetapi, ketika data yang ditemukan selama sampling dibandingkan dengan data yang tercatat di PDAM, ternyata pada
catatan PDAM tercatat hasil yang positif. Hal ini bisa mengindikasikan adanya sistem “main tembak” selama pencatatan dilakukan oleh PDAM .
Pada pencatatan PDAM juga ditemukan adanya pencatatan 0 m3. Pencatatan ini dapat diakibatkan karena adanya kesalahan pada saat penginputan atau pada saat pembacaan meteran air atau dapat juga kesalahan yang terjadi dari pihak pelanggan. Misalnya, seperti adanya penggunaan sambungan liar sehingga mengakibatkan tidak adanya pemakaian air yang tercatat pada meteran air, adanya kerusakan meteran yang tidak dilaporkan dan lain sebagainya. Maka dari itu perlu adanya studi lebih lanjut, jika selama beberapa bulan ditemukan pemakaian air yang tercatat sebesar 0 m3. Pencatatan 0 m3 ditemukan sebanyak 19,09% dari total 113 sampel pelanggan di Kelurahan Balonggede pada Bulan Agustus 2007.
Permasalahan meter yang lainnya adalah adanya meteran air yang dicabut. Sedangkan meteran tersebut sebenarnya mengukur pemakaian air MCK umum yang berada di wilayah Kelurahan Balonggede. Karena pemakaian air yang diukur merupakan pemakaian air yang ditujukan untuk MCK umum, maka bisa dibayangkan betapa besar kerugian yang diderita PDAM dari tercabutnya meteran tersebut. Pada saat sampling dilakukan ditemukan ada 3 meteran yang meterannya sudah ditemukan hilang/tercabut. Jika diasumsikan 3 pelanggan ini adalah hasil temuan untuk 113 sampel rumah, berarti meteran yang dicabut mencapai angka 2,65%.
Banyak juga ditemukan meteran-meteran yang sudah tidak ada rumah meternya, meteran buram, meteran tertimbun sampah, rumah dikunci dan ada juga masalah stand konsumen. Stand konsumen disini maksudnya adalah, pemilik rumah menuliskan berapa angka stand meteran dan karena keadaan rumah yang dikunci, jadi tidak dapat dilakukan pengecekan ulang nilai meteran oleh petugas PDAM. Rumah yang dikunci dapat mengakibatkan adanya sistem “main tembak” yang dilakukan oleh petugas pencatat meter air PDAM. Hal ini dikarenakan petugas tidak dapat memeriksa angka meter air yang tertera, sehingga untuk mempermudah pekerjaannya dilakukanlah sistem “main tembak”.
Tingkat kesalahan dalam penentuan kelas pelanggan juga cukup banyak ditemukan pada daerah sampling. Rumah-rumah dalam gang-gang yang sebenarnya masuk dalam golongan 2A3 atau 2A2, tetapi dalam rekening air yang
mereka miliki tercatat sebagai golongan pelanggan kelas 3A. Hal ini tentu merugikan masyarakat karena kenaikan kelas golongan juga menyebabkan adanya kenaikan juga dalam tarif rekening air mereka. Kesalahan dalam penentuan kelas pelanggan terdapat sebanyak 12 sampel dari 110 sampel, atau sekitar 10,91%.
Jika semua masalah-masalah meteran ini direkapitulasi, maka hasilnya akan seperti Tabel V.9.
Selama sampling juga ditemukan adanya tingkat kecurigaan masyarakat, hal ini dikarenakan kenaikan air yang baru saja terjadi. Masyarakat banyak yang menganggap pemeriksaan meter air kali ini dikarenakan akan terjadinya kenaikan air kembali.
Ketelitian meteran juga perlu dikaji ulang, perlu dilakukan kembali akurasi meteran di wilayah studi. Tingkat ketelitian meter air dipengaruhi oleh kecepatan aliran dan juga oleh adanya udara. Jika ditemukan adanya pipa yang bocor atau katup yang tidak sempurna bisa dipastikan tingkat ketelitian meter air akan menurun. Permasalahan-permasalahan meteran yang terjadi pada kelurahan Balonggede dapat dilihat pada Lampiran 9.
Tabel V.9 Masalah-Masalah Meteran di Kelurahan Balonggede Bulan Agustus Tahun 2007 Jumlah Masalah Meteran pelanggan (%) Tercatat 0m3 (PDAM) 21 19,09 Rumah Dikunci 1 0,91 Stand Konsumen 1 0,91 Meter Baru 1 0,91 Meter Mundur 2 1,82
Alamat Tak Terdaftar 9 8,18
Meteran Dicabut 3 2,65
Salah Penentuan Kelas Pelanggan 12 10,91 Sumber : Analisis Lapangan
Dapat dilihat pada Tabel V.9, bahwa tingkat masalah meteran di Kelurahan Balonggede pada bulan Agustus 2007 sebagian besar merupakan masalah dari sisi administratif pihak PDAM, yaitu pencatatan 0 m3, alamat yang tidak terdaftar dan
adanya salah penentuan kelas pelanggan. Dari analisis ini dapat disimpulkan upaya pengendalian kehilangan air yang paling baik untuk dilakukan di Kelurahan Balonggede adalah peningkatan kinerja perusahaan dan karyawannya.