• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH BRAND COMMUNITY TERHADAP LOYALITAS MEREK SEPEDA MOTOR YAMAHA DAN HONDA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENGARUH BRAND COMMUNITY TERHADAP LOYALITAS MEREK SEPEDA MOTOR YAMAHA DAN HONDA"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

1

PENGARUH BRAND COMMUNITY TERHADAP LOYALITAS MEREK

SEPEDA MOTOR YAMAHA DAN HONDA

(Studi Kasus pada Komunitas Yamaha Vixion Club Bekasi dan Bekasi Tiger Club)

A reference group will be the main person in purchasing a product. Strong influence of reference groups can easily change the behavior of its members or prospective members. The existence of a corporate community to establish long term relationships with consumers. The purpose of this study was to analyze the influence of the dimensions of brand community that consists of shared consciousness, rituals and traditions, sense of moral responsibility towards the community of brand loyalty at the Yamaha Vixion Club and Bekasi Tiger Club and analyze the different dimensions of brand community that consists of mutual consent, Ritual and Tradition, Sense of Moral Responsibility of brand loyalty at the Yamaha motorcycle community Yamaha Vixion Club and Bekasi Tiger Club.

Data collection techniques with questionnaires. The questionnaire that was compiled by 50 of the Yamaha Vixion Club and 50 of Bekasi Tiger Club. Mechanical determination of respondents using nonprobability sampling technique is incidental sampling. At this stage of analysis tested the validity and reliability, multiple linear regression test and independent t test. SPSS 17.0 application is used to help test the model.

Regression results indicate that the community Yamaha Vixion Club and Bekasi Tiger Club equally variable indicates that the shared consciousness, rituals and traditions, a sense of moral responsibility is jointly significant and positive influence on brand loyalty. Independent variables and the t test with consciousness, rituals and traditions, a sense of moral responsibility is no difference in the average mutual consent, ritual and tradition, a sense of moral responsibility in the community partially Yamaha Vixion Club with an average of Bekasi Tiger Club community.

Keywords : shared consciousness, rituals and traditions, a sense of moral responsibility, brand loyalty

PENDAHULUAN

Perkembangan dunia teknologi

otomotif yang semakin pesat, membuat perusahaan ditutut bersaing dalam hal

mempertahankan dan menciptakan

konsumen loyal. Loyalitas konsumen bisa dilihat dari konsumen yang tidak mudah berpaling ke produk lain dan tidak mencari alternatif lain sebagai pengganti produk. Peran merek pada saat ini tidaklah hanya sekedar nama atau pembeda dengan produk

pesaing, namun sebagai indikator

keunggulan dalam bersaing. Menurut brannan (2005) bahwa pelaku pasar sadar betul bahwa menguasai para pelanggan berarti membangun suatu hubungan dengan merek.

Pada tahap praktis, menjalin hubungan dengan antar pelanggan berarti menemukan

cara memelihara loyalitas pelanggan

terhadap merek dan produk.

Disinilah timbulnya relationship marketing yakni pengenalan setiap pelanggan secara

(2)

lebih dekat dengan menciptakan komunikasi dua arah dengan mengelola

suatu hubungan yang saling

menguntungkan antara pelanggan dengan perusahaan (Retno, 2009).

Menurut Hebert dan Bastian (Yefri, 2009) loyalitas merek dipengaruhi oleh faktor social drivers, yaitu lingkungan

sosial di sekitar konsumen dapat

mempengaruhi sikap konsumen terhadap suatu merek, diantaranya yakni social

group. Salah satu contoh dari social groups

adalah virtual groups dan brand

community.

Virtual groups adalah sebuah komunitas yang terbentuk dan tergabung dari berbagai kalangan yang biasanya

memiliki hobbi yang sama dan

menyalurkan semua yang berkaitan

dengan hobbinya tersebut melalui sebuah dunia maya. Sedangkan para produsen sangat tertarik dalam mempelajari tentang mengorganisasi dan memfasilitasi suatu

brand community. Karena banyak alasan

yang mendasari ketertarikan tersebut, diantaranya kemampuan brand community

dalam mempengaruhi persepsi dan

tindakan anggotanya.

Komunitas merupakan sekelompok orang yang saling peduli dan berbagi pengalaman tentang sebuah produk yang biasaya memiliki minat yang sama bahkan menjadi bagian gaya hidup mereka antara satu sama lain. Keberadaan komunitas

tententu menjadikan perusahaan bisa

menjalin hubungan dengan konsumen, hingga memberikan keuntungan yang besar

bagi perusahaan yaitu memberikan

kesempatan bagi perusahaan untuk

mengenal dan mempelajari lebih jauh karakteristik konsumen dengan baik serta

meningkatkan loyalitas. Pada akhirnya bisa menciptakan hubungan jangka panjang terhadap konsumen dengan tujuan untuk mempertahankan kesetiaan konsumen. Objek penelitian pada komunitas motor Yamaha Vixion Club (YVC) dan dan Bekasi Tiger Club (BKTC) , karena komunitas ini merupakan komunitas yang sudah berlangsung berdiri lama di Bekasi.

TELAAH PUSTAKA Relationship Marketing

Sedangkan menurut Retno (2009) relationship marketing adalah pengenalan setiap pelanggan secara lebih dekat dengan menciptakan komunikasi dua arah dengan mengelola suatu hubungan yang saling menguntungkan antara pelanggan dengan perusahaan. Fokus utama relationship

marketing adalah mendapatkan dan

mempertahankan konsumen. Umumnya pada sitem pemasaran tradisional banyak sekali ditemui tujuan pemasaran yang bertujuan mendapatkan pelanggan baru dari pada mempertahankan yang sudah ada. Salah satu bentuk yang dibuat menjadi aplikasi strategi relationship marketing adalah suatu komunitas merek. Hal ini sesuai dengan teori Philip Kotler (2006) bahwa relationship marketing melalui strategi membangun komunitas atau klub konsumen dapat memberikan manfaat keuangan bagi perusahaan, karena strategi ini menjaga konsumen untuk tetap setia pada suatu produk atau jasa.

(3)

Merek

Menurut Kotler (2000) merek adalah nama, istilah tanda, simbol, rancangan, atau kombinasi dari hal-hal tersebut, yang

dimaksudkan untuk mengidentifikasi

barang dan jasa dari seorang atau kelompok penjual dan untuk membedakan dari produk pesaing.

Sedangkan menurut Aaker (retno, 2009) merek adalah suatu giliran yang memberi tanda pada konsumen mengenai sumber produk tersebut. Disamping itu merek melidungi, baik konsumen maupun produsen dari pada kompetitor yang berusaha memberikan produk-produk yang tampak identik.

Menurut susanto dan wijanarko (2004) Merek adalah nama atau simbol yang diasosiasikan dengan produk atau jasa dan menimbulkan arti psikologis atau asosiasi. Inilah yang membedakan antara produk dan merek. Produk adalah sesuatu dibuat dipabrik, namun yang sesungguhnya di beli oleh pelanggan adalah mereknya. Merek bukan hanya apa yang tercetak di dalam produk atau kemasannya, tetapi termasuk apa yang ada dibenak konsumen dan bagaimana konsumen yang mengasosiasi. Komunitas Merek

Komunitas merek dapat diartikan suatu organisasi individual yang berorientasi pada suatu kebersamaan, adanya rasa saling bertanggung jawab antar sesama anggota (Rothaermel & Sugiyama, 2001).

Istilah brand community pertama dikemukaan oleh Muniz & O’Guinn dalam

Association for Consumer Research

Annual Conference in Minneapolis. Pada

tahun 2001 artikel berjudul “brand

community” dipublikasikan dalam jurnal

penelitian (SSCI), mereka menjelaskan konsep brand community sebagai “ A

specialized, non geographically bound community, based on a structure set of social relation among admires of a brand”

yang artinya suatu bentuk komunitas yang terspesialisai, komunitas yang memiliki ikatan yang tidak berbasis pada ikatan secara geografis, namun didasarkan pada

seperangkat stuktur hubungan sosial

diantara penggemar merek tertentu”.

Seiring dengan berjalanannya suatu komunitas mengenai konsep senses of

community yang pertama kali di ungkapkan

oleh Sarason (Retno, 2009) sebagai adanya persepsi kesamaan dan keyakinan adanya hubungan interdependensi dengan orang lain, serta adanya keyakinan bahwa dirinya adalah bagian dari stuktur yang lebih besar. Sehingga perusahaan mendukung aktivitas ini dengan memberikan dukungan dan menfasilitasi terbentuknya suatu komunitas tentu perusahaan berharap dengan strategi ini, perusahaan memperoleh hubungan jangka panjang (long term relationship) dengan konsumen yang terwujud dalam loyalitas merek.

Brand Community dari esensinya

yakni merek itu sendiri dan selanjutnya berfungsi dalam membentuk hubungan dari setiap anggota yang merupakan pengguna dari merek tersebut. Muniz dan O’Guinn (2001), dalam jurnal yang berjudul Brand

Community berpendapat bahwa ada tiga

tanda tradisional dalm komunitas dan tiap-tiap bagian komunitas merek yaitu :

(4)

Kesadaran bersama

Elemen terpenting dari komunitas adalah kesadaran anggota atas suatu jenis produk tentu terlihat dalam komunitas. Setiap anggota saling berbagi dan merasa hubungannya dengan merek tersebut penting, namun lebih penting lagi, mereka merasa lebih kuat hubungannya antara sesama anggota. Ada beberapa kualitas penting, tidak mudah diungkapkan secara verbal, yang membedakan mereka dari yang lain sehingga membuat mereka serupa satu sama lain. Seperti merek memiliki cara menyapa khusus atau

sebutan khusus antara anggota.

Kesadaraan dari jenis ini yang ditemukan pada komunitas merek tidak terbatas pada suatu geografis. Anggota merasa menjadi bagian dari anggota besar, namun dengan mudah membayangkan. Komunitas merek tidak hanya diakui namun juga dirayakan. Adapun dua elemen didalam indikator

Consciousness Of Kind yaitu : Legitimacy (Legitimasi)

Proses dimana anggota komunitas membedakan antara anggota komunitas dengan yang bukan termasuk dalam komunitas. Dalam konteks ini merek dibuktikan atau ditunjukan oleh yang

benar-benar mengetahui merek

dibandingkan dengan alasan yang salah memakai merek. Alasan yang salah bisanya dinyatakan oleh kegagalan dalam menghargai budaya, sejarah, ritual, tradisi dan simbol-simbol komunitas. Siapapun yang setia kepada suatu merek bisa

menjadi anggota komunitas, tanpa

kepemilikan. Namun kesetiaan kepada

merek harus tulus dan memiliki alasan yang tepat. Dalam membedakan antara anggota komunitas yang benar-benar memiliki kepercayaang merek dan mereka yang hanya kebetulan memiliki merek tersebut adalah kepeduliannya terhadap merek. Namun, legitimasi tidak selalu ada dalam suatu komunitas.

Loyalitas Merek Oposisi

Proses sosial yang terlibat selain kesadaraan masyarakat atas suatu jenis produk. Melalui oposisi dalam kompetisi merek, anggota komunitas mendapatkan aspek pengalaman yang penting pada arti merek tersebut. Halini berfungsi untuk menggambarkan apa yang bukan merek

dan siapakah yang bukan anggota

komunitas.

Ritual dan Tradisi

Ritual dan tradisi nyata adanya dalam suatu komunitas serta mampu mengembangkan dan menyalurkan dalam

komunitas. Beberapa diantaranya

berkembang dan dimengerti oleh seluruh

komunitas, sementara yang lain

diterjemahkan dalam asal usul dan aplikasinya. Seluruh komunitas merek bertemu dalam suatu acara dimana dalam acara ini ada beberapa bentuk upacara

atau tradisi dan bertujuan untuk

mempertahankan tradisi budaya

komunitas. Ritual dan tradisi yang dilakukan diantaranya :

Merayakan Sejarah Merek

Menanamkan sejarah dalam komunitas dan melestarikan budaya adalah penting. Adanya konsistensi yang jelas membuat

(5)

sesuatu hal yang luar bisanya misalnya, adanya perayaan tanggal berdirinya suatu komunitas. Apresiasi dalam sejarah merek seringkali berbeda pada anggota yang benar-benar merek dibandingkan dengan yang hanya memiliki merek tersebut. Hal ini ditunjukan dengan suatu keahlian, status

keanggotaan dan komitmen pada

komunitas.

Berbagi Cerita Merek

Cerita berdasarkan pengalaman

memberikan arti khusus antara anggota

komunitas, tentu akan menimbulkan

hubungan kedekatan dan rasa solidaritas antara anggota yang bertujuan untuk

mengukuhkan kesadaran baik antara

anggota dan merek yang memberikan

konstribusi pada komunitas. Dengan

berabagi komentar dengan sesama anggota, maka salah satu anggota akan merasa lebih aman didalamnya dan pemahaman bahwa ada banyak anggota yang juga merasakan pengalaman yang sama.

Rasa Tanggung Jawab Moral

Memiliki rasa tanggung jawab dan berkewajiban secara keseluruhan kepada setiap anggota komunitas. Rasa tanggung jawab moral ini adalah hasil kolektif yang dilakukan dan memberikan konstribusi pada rasa kebersamaan dalam kelompok. Hal ini nyata paling tidak ada dua hal

elemen dalam indicator moral

responsibility yaitu :

Integrasi dan mempertahankan anggota Dalam suatu komunitas tradisional memperhatikan pada kehidupan umum. Perilaku yang konsisten dianggap sebagai

dasar tanggung jawab keanggotaan

komunitas. Untuk memastikan

kelangsungan hidup jangka panjang yang diperlukan untuk mempertahankan anggota lama dan mengitegrasikan baru. Komunitas formal dan informal mengetahui batas apa yang benar dan salah, yang tepat dan tidak tepat.

Membantu dan penggunaan merek

Tanggung jawab moral meliputi

pencarian dan membantu anggota lain

dalam penggunaan merek. Meskipun

terbatas dalam cakupan, bantuam ini merupakan komponen penting dalam

komunitas. Sebagian besar informan

melaporkan telah membantu orang lain baik yang dikenal maupun tidak dikenal, hal ini adalah sesuatu yang anggota komunitas lakukan “tanpa berfikir” hanya bertindak dari rasa tanggung jawab. Salah satu cara ini merupakan perwujudan dari diri sendiri, bantuan itu sendiri melaluli tindakan untuk membantu sesama anggota

komunitas memperbaiki produk atau

memecahkan masalah, khususnya yang melibatkan pengetahuan yang diperoleh dari pengalaman yang penggunaan merek. Loyalitas Merek

Menurut Rangkuti (2002) loyalitas adalah ukuran dari kesetiaan konsumen terhadap suatu merek. Sedangkan menurut Schiffman dan Kanuk (2004) mengatakan bahwa loyalitas merek merupakan hal yang paling diharapkan dari sebuah peneliti yang mengenai perilaku konsumen. Definisi umum loyalitas merupakan preferensi

(6)

melakukan pembelian secara berulang kepada produk yang sama.

Menurut Durianto (2001)

pelanggan yang loyal pada umumnya akan melanjutkan pembelian merek tersebut meski dihadapkan banyak alternatif merek pesaing yang menawarkan karateristik

produk yang lebih unggul.

Sebaliknya,pelanggan yang tidak loyal

pada suatu merek, makan mereka

melakukan pembelian berdarkan

karakteristik produk, harga dan

kenyamanan pemakainya serta atribut lainnya yang ditawarkan oleh merek lain. Pengukuran loyalitas merek mencerminkan pengukuran sikap konsumen terhadap suatu

merek. Pengukuran sikap konsumen

terhadap suatu merek menyangkut seluruh persepsi dan perasaan konsumen mengenai produk dan merek serta cenderung untuk membeli produk dan merek tersebut.

Menurut Durianto dkk (2004) dalam mengukur loyalitas konsumen dari suatu produk dan jasa, dapat dibagi menjadi lima tingkatan yakni :

1) Switcher (Berpindah-pindah)

Pelanggan yang berada pada tingkatan loyalitas ini dikatakan sebagai pelanggan yang berada pada tingkat yang paling dasar. Semakin tinggi frekuensi pelanggan untuk memindahkan pembelinya dari suatu merek ke merek yang lain mengindikasikan merek sebagai pembeli yang sama sekali tidak loyal dan tidak tertarik pada merek tersebut. Pada tingkat merek apapun dianggap memadai serta memegang peran yang sangat kecil dalam keputusan pembelian. Ciri yang paling Nampak dari

pelanggan ini hanya membeli saat merek produk harganya murah.

2) Habitual Buyer (Pembelian yang

bersifat kebiasaan)

Konsumen yang berada pada tingkat ini dikategorikan sebagai pembeli yang puas dengan merek produk yang dikonsumsikan atau setidaknya konsumen tidak mengalami ketidakpuasan dalam mengkonsumsi pada merek tersebut. Pada dasarnya tidak

didapati alasan yang cukup untuk

menciptakan keinginan untuk membeli produk lain atau berpindah merek terutama jika peralihan tersebut memerlukan usaha, biaya atau pengorbanan yang lain. Dapat disimpulkan bahwa konsumen dalam

membeli suatu merek berdasarkan

kebiasaan selama ini.

3) Satisfied Buyer (Pembelian yang puas dengan biaya peralihan)

Pada tingkat ini, konsumen masuk dalam

kategori puas bila konsumen

mengkonsumsi merek tersebut, meskipun

demikian konsumen bisa saja

memindahkan pembeliannya ke merek lain dengan menangung switching cost (biaya peralihan) yang terkait pada waktu, uang, atau resiko kinerja yang melekat dengan tindakan yang beralih merek. Untuk dapat menarik minat pembeli yang masuk dalam loyalitas ini maka para pesaing perlu mengatasi biaya peralihan yang harus ditanggung oleh yang masuk dalam kategori ini dengan menawarkan berbagai

manfaat yang cukup besar sebagai

(7)

4) Likes the brand (Menyukai merek) Konsumen yang termasuk dalam kategori ini merupakan pembeli yang sunguh-sungguh menyukai merek tersebut. Pada tingkat ini dijumpai persaaan emosional yang terakait pada merek. Rasa suka pembeli bisa saja didasari oleh asosiasi yang terkait dengan simbol, rangkaian

pengalaman dalam penggunaan

sebelumnya baik dialami pribadi maupun oleh kerabatnya ataupun disebabkan oleh pemahaman kualitas yang tinggi. Meskipun demikian sering sekali rasa suka ini merupakan suatu perasaan yang sulit

diindentifikasi dan ditelusuri dengan

cermat untuk dikategorikan kedalam

sesuatu yang spesifik.

5) Commited buyer (Komitmen pembeli) Pada kategori ini, pembeli merupakan pelanggan setia. Mereka memiliki suatu kebanggan sebagai pengguna merek dan bahkan merek tersebut menjadi sangat penting bagi pembeli dipandang dari segi fungsinya maupun sebagai suatu ekspresi mengenai siapa yang sebenarnya mereka. Pada tingkat ini salah satu aktualisasi loyalitas pembeli ditunjukan oleh tindakan merekomendasikan dan mempromosikan merek tersebut kepada pihak lain.

Hubungan antara Brand Community dengan Loyalitas Merek

Hal ini tentu untuk menarik calon pembeli dan mempertahankan konsumen untuk menjadi loyal. Sedangkan loyalitas merek dipengaruhi oleh faktor social drive, yaitu lingkungan sosial disekitar konsumen

dapat dipengaruhi sikap konsumen

terhadap suatu merek, diantaranya adalah

social group dan peer recommendation.

Salah satu contoh dari social group adalah

virtual group dan brand community.

Menurut Gounaris dan Stathakopoulus (2004) Kelompok sosial seperti brand

community berpengaruh secara langsung

terhadap sikap dan perilaku seseorang. Suatu kelompok akan menjadi referensi yang kuat dan mudah dapat mengubah

perilaku anggotanya dan calin

anggotannya.

Menurut Muniz dan O’Guinn (2001) adapun dimensi-dimensi yang terkait dalam pembentukkan suatu brand

community yaitu pertama conciousness of kind (kesadaran bersama), setiap anggota

saling berbagi dan merasa hubungannya dengan merek tersebut penting, namun lebih penting lagi, mereka merasa lebih

kuat hubungannya antara sesama anggota,

adapun dua elemen didalam indikator

Consciousness Of Kind yaitu Legitimacy

(Legitimasi) dan Opposotional Brand

Loyalty (Loyalitas Merek Oposisi).

Menurut Retno Purbaningtyas

(2009) consciousness of kind (kesadaran bersama), komunitas merek digambarkan oleh besarnya komunitas, anggota merasa menjadi bagian dari anggota besar, namun dengan mudah membayangkannya.

Dimensi kedua, Rituals and

Traditions (Ritual dan Tradisi) dimana

komunitas merek bertemu dalam suatu acara dan di dalam acara ini ada beberapa bentuk upacara atau tradisi dan bertujuan untuk mempertahankan tradisi budaya

komunitas. Ritual dan tradisi yang

(8)

Stories (Berbagi Cerita Merek) dan Celebrating The History Of The Brand

(Merayakan Sejarah Merek).

Dimensi ketiga, a sense of moral

responsibility (Rasa Tanggung Jawab

Moral), memiliki rasa tanggung jawab dan berkewajiban secara keseluruhan kepada setiap anggota komunitas. Hal ini nyata paling tidak ada dua hal elemen dalam indikator moral responsibility yaitu :

Integrating and retaining members

(Integrasi dan mempertahankan anggota) dan Assisting in the use of the brand (Membantu dan penggunaan merek)

Brand community merupakan topik

yang sedang trend dalam perkembangan strategi pemasaran. Dengan adanya brand

community tentu perusahaan akan mudah

untuk mengetahui sejauh mana kepuasan

konsumen terhadap merek sehingga

membentuk konsumen yang loyal terhadap merek.

Menurut Rangkuti (2002) loyalitas adalah ukuran dari kesetiaan konsumen terhadap suatu merek. Sedangkan menurut Schiffman dan Kanuk (2004) mengatakan bahwa loyalitas merek merupakan hal yang paling diharapkan dari sebuah peneliti yang mengenai perilaku konsumen.

Menurut Durianto (2001)

pelanggan yang loyal pada umumnya akan melanjutkan pembelian merek tersebut meski dihadapkan banyak alternatif merek pesaing yang menawarkan karateristik prodk yang lebih unggul.

Maka dapat disimpulkan, dengan

adanya brand community tentu

memberikan keuntungan yang besar bagi perusahaan yaitu memberikan kesempatan

bagi perusahaan untuk mengenal dan

mempelajari lebih jauh karakteristik

konsumen baik dari segi demografi.

consumer preference, gaya hidup

konsumen. serta masukan kosumen

mengenai berbagai aspek produk atau desain produk. hal terpenting lainnya adalah keberadaan komunitas merek dapat menciptakan hubungan jangka panjang pada konsumen dengan tujuan untuk mempertahankan kesetiaan konsumen dan juga bisa menciptakan calon konsumen loyal karena adanya keberadaan komunitas merek tersebut.

METODE PENELITIAN

Objek penelitian ini adalah anggota komunitas Yamaha Vixion Club Bekasi dan Bekasi Tiger Club yang berada dalam acara pertemuan rutin. Kedua komunitas ini sudah berdiri lama di bekasi barat, bisa dikatakan komunitas terlama yang bertahan dan aktif dalam melakukan kegitaan yang

menunjang komunitasnya maupun

anggotanya. Dengan jumlah sampel yang diambil yaitu sebanyak 50 responden Yamaha Vixion Club dan 50 responden Bekasi Tiger Club.

Model skala yang digunakan untuk mengetahui tingkat loyalitas adalah Skala Likert, dimana Skala likert memiliki kebaikan dimana terdapat keragaman

(9)

tingkat keputusan dengan bobot atau nilai pada setiap jawaban.

Pengujian validitas untuk skala tipe

bran community adalah dengan analisis

faktor Kaiser-Meyer-Olkin Measure of

Sampling Adequacy, sedangakan utnuk uji

realibilitas adalah dengan teknik Alphs

Cronbach. Analisis data dilakukan dengan

menggunakan SPSS 17.0.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Uji validitas dan realibilitas untuk menguji validitas dan realibilitas kedua alat

tes, yaitu skala brand community.

Berdasarkan hasil analisis item skala brand

community sebanyak 6 item dan 1 item

loyalitas merek, semua item dinyatakan valid dengan koefisien validitas KMO yang bergerak dari 0,556-0,746 dan Bartleet Test

of Sphericity sebesar 0,000-0,003.

Sedangkan hasil uji realibilitas untuk skal

tipe brand community menghasilkan

koefisien realibilitas sebesar 0,606-0,861.

Uji Asumsi

Sebelum dilakukan analisis lebih lanjut, dilakukan dengan uji asumsi yaitu uji normalitas, uji multikolinearitas, dan uji heteroskedastisitas. Hasil uji normalitas menunujukkan bahwa data terdistribusi normal untuk untuk variable brand

community dan loyalitas merek pada kedua

komunitas merek. Hasil uji menunujukkan ada hubungan positif linear antara variable

brand community dan loyalitas merek.

Hasil Analisis Data

Untuk menguji hipotesa dalam penelitian ini digunakan teknik korelasi KMO MSA. Analisi data dilakukan dengan

bantuan program SPSS 17.0 dan

Berdasarkan hasil deskriptif untuk

karakteristik jenis kelamin Bekasi Tiger Club dan Yamaha Vixion Club lebih cenderung laki-laki, ini dikarenakan motor tiger dan vixion cenderung motor sport yang terlihat lebih laki, sedangkan untuk karakteristik berdasarkan usia mayoritas anggota komunitas YVC berkisar rentang usia 22-26 tahun karena motor vixion lebih cenderung dengan type yang diminati oleh kalangan muda, sebaliknya dari komunitas BKTC lebih cenderung orang tua dengan rentang usia lebih dari 32 tahun. Jika di lihat sisi karakteristik pendidikan terakhir, dari kedua komunitas ini, mayoritas anggota komunitas YVC dan BKTC

berpendidikan terakhir cenderungan

SMA/sederajat. Berdasarkan tingkat

pekerjaan, menghasilkan semua anggota komunitas terdiri dari latar belakang

pekerjaan yang berbeda-beda namun

kecenderungannya kepada pekerjaan

pegawai swasta dengan tingkat persentase yang tertinggi. Namun, tingkat pengeluaran

kedua komunitas dapat disimpulkan

persentase terbanyak pada tingkat

pengeluaran Yamaha Vixion Club berkisar kurang dari Rp 1.500.000 sedangkan Bekasi Tiger Club pengeluaran yang berkisar diatas Rp 3.500.001 kemungkinan hal dikarenakan BKTC dominan bekerja pegawai swasta dan wiraswata. Dari

dimensi demografi jenis kelamin,

pendidikan, dan pengeluaran dapat

(10)

memiliki varian yang sama hal ini di dukung dengan perhitungan independent t

test yang menghasilkan tidak ada perbedaan antara komunitas Yamaha Vixion Club dengan BekasiTiger Club. Dimana hasil analisis F test (Levene,s Test) menunjukkan bahwa Yamaha Vixion Club dan Bekasi Tiger Club menggunakan equal

variance assumed (diasumsikan kedua

varian sama). Dan hasil analisis

independent t test variabel kesadaran

bersama adalah tidak ada perbedaan rata-rata kesadaran bersama komunitas YVC

dengan rata-rata komunitas BKTC.

Sedangkan, variabel ritual dan tradisi adalah tidak ada perbedaan rata-rata ritual dan tradisi komunitas YVC dengan rata-rata komunitas BKTC. Terakhir variabel rasa tanggung jawab moral adalah tidak ada perbedaan rata-rata rasa tanggung jawab moral komunitas YVC dengan

rata-rata komunitas BKTC. Nilai t hitung negatif,

berarti rata-rata group1 (komunitas YVC) lebih rendah dari pada rata-rata group2 (komunitas BKTC).

Hasil untuk analisis regresi linier berganda menghasilkan bahwa komunitas Yamaha Vixion dan Bekasi Tiger Club variabel sama-sama menunjukan bahwa kesadaran bersama, ritual dan tradisi, rasa tanggung jawab moral secara bersama-sama mempunyai pengaruh positif dan signifikan terhadap loyalitas merek.

PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil analisis

menunujukkan bahwa sub variabel brand

community yang mempunyai pengaruh

terbesar terhadap loyalitas merek pada

kedua komunitas adalah rasa tanggung jawab moral. Hipotesisi pertama dalam penelitian ini menggunakan regresi linear berganda pada tabel uji F adalah ada pengaruh kesadaran bersama, ritual dan tradisi, rasa tanggung jawab moral terhadap loyalitas merek secara simultan.

Diantara kedua komunitas Yamaha Vixion Club dan Bekasi Tiger Club sama-sama menunjukan bahwa sub variabel

brand community yakni kesadaran bersama, ritual dan tradisi, rasa tanggung jawab moral berpengaruh bersama-sama terhadap loyalitas merek. Dengan nilai Fhitung sebesar 3,963 dan Sign. 0,014 , jadi

menunjukan bahwa (0,014) < α 0,05 maka hipotesis diterima pada komunitas Yamaha Vixion Club sedangkan pada komunitas

Bekasi Tiger Club nilai Fhitung sebesar 3,809

dan Sign. 0,014 , hal ini menunjukan bahwa (0,016) < α 0,05 maka hipotesis diterima.

Hal ini menunjukkan bawa

semakin tinggi kesadaran bersama, ritual dan tradisi, rasa tanggung jawab moral akan meningkatkan loyalitas merek. Dalam penelitian Albert M. Muniz, Jr. dan Thomas C.O`Guinn (2001), menunjukkan

bahwa semua sub variabel brand

community juga berpengaruh terhadap

loyalitas merek. Hal tersebut juga

dibuktikan oleh penelitian Vita Ruliana (2009) dan Fajar Matha Kusuma (2010) yang menghasilkan jawaban analisis bahwa sub variabel brand community berpengaruh besar terhadap loyalitas merek.

Karena, adanya brand community

tentu memberikan keuntungan yang besar

(11)

kesempatan bagi perusahaan untuk mengenal dan mempelajari lebih jauh karakteristik konsumen baik dari segi demografi. consumer preference, gaya hidup konsumen. serta masukan kosumen mengenai berbagai aspek produk atau desain produk. hal terpenting lainnya adalah keberadaan komunitas merek dapat menciptakan hubungan jangka panjang pada konsumen dengan tujuan untuk mempertahankan kesetiaan konsumen dan juga bisa menciptakan calon konsumen loyal karena adanya keberadaan komunitas merek tersebut.

Hipotesis penelitian kedua

penelitian ini menggunakan independent t

test adalah Ada perbedaan antara rata-rata

variabel kesadaran bersama, ritual dan tradisi, rasa tanggung jawab secara parsial Yamaha Vixion Club dengan nilai rata-rata Bekasi Tiger Club.

Sebelum menguji independent t

test, terlebih dahulu menguji F test

(Levene,s Test), dan hasilnya menunjukan nilai sign. 0,168 lebih besar dari α 0,05 dapat disimpulkan penggunaan uji t test menggunakan equal variance assumed (diasumsikan kedua varian sama). Dan

hasil analisis independent t test

menghasilkan nilai sign. lebih dari sama dengan 0,05 maka Hipotesis di tolak, artinya bahwa tidak ada perbedaan antara rata-rata variabel bebas pada komunitas Yamaha Vixion Club (YVC) dengan rata-rata variabel bebas komunitas Bekasi Tiger Club (BKTC).

Pada tabel Group Statistics terlihat

rata-rata (mean) variabel kesadaran

bersama untuk komunitas YVC adalah

33,36 dan komunitas BKTC adalah 34,86, artinya bahwa rata-rata variabel kesadaran bersama komunitas BKTC lebih tinggi daripada rata-rata komunitas YVC.

Rata-rata (mean) pada variabel ritual dan tradisi untuk komunitas YVC adalah 27,22 dan untuk komunitas BKTC adalah 28,46 artinya bahwa rata-rata variabel ritual dan tradisi komunitas BKTC lebih tinggi daripada rata-rata komunitas YVC.

Rata-rata (mean) pada variabel rasa tanggung jawab moral untuk komunitas YVC adalah 24,34 dan untuk komunitas BKTC adalah 25,06 artinya bahwa rata-rata variabel kesadaran bersama komunitas BKTC lebih tinggi daripada rata-rata komunitas YVC.

Nilai t hitung negatif, berarti rata-rata group1 (komunitas YVC) lebih rendah dari pada rata-rata group2 (komunitas

BKTC). Perbedaan rata-rata (mean

diference) kesadaran bersama sebesar

-1,500 (33,36-34,86) dan perbedaan

berkisar antara -3,001 sampai 0,001 (lihat pada lower dan upper). Perbedaan rata-rata (mean diference) ritual dan tradisi sebesar

-1,240 (27,22-28,46) dan perbedaan

berkisar antara -2,870 sampai 0,390 (lihat pada lower dan upper). Sedangkan pada variabel rasa tanggung jawab moral perbedaan rata-rata (mean diference) ritual dan tradisi sebesar -7,20 (24,34 – 25,06) dan perbedaan berkisar antara -2,199 sampai 0,759 (lihat pada lower dan upper).

(12)

KESIMPULAN DAN IMPILIKASI Kesimpulan

Berdasarkan hasil deskriptif untuk

karakteristik jenis kelamin Bekasi Tiger Club dan Yamaha Vixion Club lebih cenderung laki-laki, ini dikarenakan motor tiger dan vixion cenderung motor sport yang terlihat lebih laki. Sedangkan untuk karakteristik berdasarkan usia mayoritas anggota komunitas YVC berkisar rentang usia 22-26 tahun karena motor vixion lebih cenderung dengan type yang diminati oleh kalangan muda, sebaliknya dari komunitas BKTC lebih cenderung orang tua dengan rentang usia lebih dari 32 tahun. Dapat disimpulkan bahwa dengan perhitungan

independent t test yang menghasilkan tidak

ada perbedaan antara komunitas Yamaha Vixion Club dengan BekasiTiger Club. Dimana hasil analisis F test (Levene,s Test) menunjukkan bahwa Yamaha Vixion Club dan Bekasi Tiger Club menggunakan equal

variance assumed (diasumsikan kedua

varian sama). Dan hasil analisis

independent t test variabel kesadaran

bersama adalah tidak ada perbedaan rata-rata kesadaran bersama komunitas YVC dengan rata-rata komunitas BKTC.

Implikasi

Pada umumnya perusahaan hanya mendekati calon pembeli untuk menarik konsumen membeli produk sepeda motor, hanya sebatas untuk membeli dan untuk

berkelanjutan hingga jangka panjang

perusahaan kurang begitu perhatian

terhadap konsumen. Padahal hal ini lah

yang bisa mempertahankan kesetian

konsumen dengan keterkaitannya

keberadaan komunitas merek. Hasil

analisis terbukti menunjukkan bahwa keberadaan komunitas Yamaha Vixion Club dan Bekasi Honda Tiger sama-sama menghasilkan bahwa variabel kesadaran bersama, ritual dan tradisi, rasa tanggung jawab moral semuanya mempengaruhi loyalitas merek. Dan berdasarkan hasil regresi linear berganda menunjukkan semua hasil sub variabel brand community bertanda positif yang dapat disimpulkan semakin tinggi variabel bebas semakin meningkatkan loyalitas merek. Jika dilihat dari sub variabel brand community yang mempunyai pengaruh terbesar terhadap loyalitas merek pada kedua komunitas adalah rasa tanggung jawab moral.

Berdasarkan perbandingan

independent t test disimpulkan bahwa

diantara Yamaha Vixion Club dan Bekasi Honda Tiger tidak ada perbedaan antara

rata-rata variabel bebas (kesadaran

bersama, ritual dan tradisi, rasa tanggung

jawab moral) secara parsial pada

komunitas Yamaha Vixion Club dengan rata-rata variabel bebas komunitas Bekasi Tiger Club.

Untuk memperluas generalisasi

hasil penelitian, sebaiknya pada penelitian selanjutnya untuk menggunakan sampel dari semua kalangan komunitas baik sepeda motor matic, sport dan bebek yang

saat ini terlihat banyak mengikuti

komunitas sepeda motor.

DAFTAR PUSTAKA

Albert M. Muniz, JR. dan Thomas C. O'Guinn,2001,”Brand Community”

(13)

University Of Illinois. vol.27, No.4, pp.412-432

Brannan Tom, 2005, Integrated Marketing

Communications : Memadukan Upaya Public Relations, Iklan dan Promosi Untuk Membangun Identitas Merek, (Slamet, penerjemah), Victory Jaya Abadi, Jakarta

Durianto, D., Sitinjak, 2001, Strategi

Menaklukkan Pasar Melalui Riset Ekuitas Dan Perilaku Merek,

GramediaPustaka Utama, Jakarta. Durianto,dkk., 2004, Analisa efektifitas

iklan Televisi Softener Soft & Fresh di Jakarta. Jurnal Ekonomi Perusahaan. VOL. 11 No. 1, Maret Duwi Priyatno, 2010, Paham Analisis

Statistika Dengan SPSS Plus Tata Cara Dan Tips Menyusun Skripsi Dalam Waktu Singkat, Mediakom,

Yogyakarta.

Fajar Martha Kusuma, 2010,"Analisis

Pengaruh Brand Community Terhadap Loyalitas Merek Pada Pengguna Megapro di Surakarta",

Skripsi, Program Sarjana Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro, Semarang.

Groonrose, 2000, Service Management and

Marketing : a Customer Relationship Management Approach, Chichester : John Wiley

& Sosn, Ltd.

Heng-Chiang Huang dan Chia-Wen Chang, 2007,"Building Brand Community :

a study of VW's." Vol. 1, No.1, hal.

1-26.

Imam Ghozali, 2006. Analisis Multivariate

Lanjutan dengan Program SPSS,

BP Undip, Semarang.

Karan Chaudry and Venkat R.Krishnan, 2007, "Impact Of Corporate Social

Responbility and Transformational Leadership on Brand Community : an Experimental Study". Global Business Revie.

Kotler, P., dan Armstrong, G., 2006.

Prinsip-Prinsip Pemasaran, Jilid 1,

Erlangga, Jakarta.

Kotler, Philip., 2000, Manajemen

Pemasaran. Edisi Milenium, Jakarta: Indeks.

Muhammad Farid, 2010, "Analisis

Pengaruh Self-Image Congruence Terhadap Prreferensi dan Kepuasan Konsumen Pada Smartphone Merek Blackbery"

Program Swadaya Jurusan

Manajemen Fakultas Ekonomika dan Bisnis, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

AISI, “Data Penjualan sepeda motor dari Januari – Maret 2012” diakses dari www.aisi.com pada tanggal 30 April 2012.

Retno Purbaningtyas, 2009, "Pengaruh

Brand Community Terhadap Loyalitas Merek (Studi Pada : Komunitas Motor Jakarta Mio Club), Skripsi Ilmu Administrasi

Universitas Indonesia, Depok. Rothermael F.T dan Sugiyama, 2001,

“Virtual Internet Communites and Commercial Succes Individual And Community”, Journal of Management 27. pp 297-312

Schiffman, Leon G. & Kanuk, Leslie, 2004, Consumer Behavior (8th ed), New Jersey, Prentice Hall.

(14)

Sekaran, U., 2006. Metodologi Penelitian

untuk Bisnis, Salemba Empat,

Jakarta.

Sugiyono, 2002, Metode Penelitian Bisnis, CV.Alfabeta, Cetakan ke empat, Bandung

Susanto, A.B dan Wijanarko , 2004, “Power Branding”, Bandung : Quantum. Umar, H., 2002. Metode Riset Bisnis:

Panduan mahasiswa untuk melakukan riset, PT. Gramedia

Pustaka Utama, Jakarta.

Vita Ruliana, 2009, “Pengaruh

Keterlibatan Pelanggan Dalam Komunitas Merek Terhadap Loyalitas Merek (studi kasus pada Komunitas Femina Friends Majalah Femina”, Skripsi Fakultas

Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, Depok. Yefri Yudianto, 2009,"Pengaruh Brand

Community Terhadap Loyalitas Merek Sepeda Motor Yamaha",

Skripsi, Program Sarjana Psikologi, Sumatera Utara.

Referensi

Dokumen terkait

Diharapkan angket penelitian yang telah diisi, dapat terkumpul 1 minggu kemudian yang akan saya ambil pada hari... Bapak/ Ibu Staf Edukatif dan

Whenever the thresholds were exceeded at health facility level (tier 1), primary health care staff notified the malaria control programme, which then confirmed adequate stocks

Selain pemanggilan dengan cara tersebut di atas, dalam hal tempat kediaman tergugat tidak jelas atau tidak mempunyai tempat kediaman yang tetap, pemanggilan

Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah pergantian manajemen, financial distress, presentase perubahan ROA, ukuran KAP,ukuran klien, share growth , dan

Berdasarkan analisis regresi dan korelasi yang diperoleh menunjukkan bahwa pengukuran respirasi dengan kosmotektor, dengan perlakuan awal inkubasi pada suhu 60 0 C selama

adanya pendekatan dan media dalam melakukan pembelajaran siswa akan lebih aktif dan semangat dalam belajar, siswa akan lebih mudah memahami materi yang diajarkan oleh

Bermain gerak binatang adalah aktivitas bermain dengan melakukan gerakan-gerakan hewan sekitar seperti melompat, berdiri dengan satu kaki, merayap,

Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa model periodik, stokastik, dan peri- odik-stokastik pasang surut dari stasiun pelabuhan Panjang yang menggunakan frekuensi dari