• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V PEMBAHASAN. TM PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Timur Area Madiun telah diperoleh

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB V PEMBAHASAN. TM PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Timur Area Madiun telah diperoleh"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

commit to user BAB V PEMBAHASAN

A. Identifikasi Potensi Bahaya

Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan oleh penulis di PDKB TM PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Timur Area Madiun telah diperoleh gambaran mengenai potensi bahaya dan risiko bahaya yang dihadapi tenaga kerja pada saat melakukan pekerjaan pemeliharaan atau perbaikan teknik.

Identifikasi bahaya yang telah dilakukan oleh penulis mengenai jenis potensi bahaya, risiko bahaya, dan pengendalian sebagai upaya mencegah terjadinya kecelakaan atau mengurangi tingkat risiko terjadinya kecelakaan, telah memenuhi Undang-undang No. 1 tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja pasal 3 ayat 1 sub a yang menyebutkan bahwa dengan peraturan perundangan ditetapkan syarat-syarat keselamatan kerja untuk mencegah dan mengurangi kecelakaan.

Pengendalian yang dilakukan oleh perusahaan adalah dengan menyediakan alat pelindung diri. APD merupakan alternatif terakhir apabila potensi bahaya yang ada tidak dapat dihilangkan dengan cara pengendalian yang lain. APD akan memberikan perlindungan tambahan kepada tenaga kerja ketika terpapar potensi bahaya yang dapat menyebabkan kecelakaan dan penyakit akibat kerja.

(2)

B. Penyediaan APD

Perusahaan telah menyediakan alat pelindung diri secara cuma-cuma untuk tenaga kerja agar terlindungi dari faktor dan potensi bahaya di tempat kerja yang dapat menyebabkan kecelakaan, sehingga tenaga kerja dapat bekerja dengan produktif dan efisien. Dalam hal ini perusahaan telah memenuhi peraturan perudangan :

a. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi nomor. 01/MEN/1981 tentang Kewajiban Lapor Penyakit Akibat Kerja, pasal 4 ayat 3 yang menyebutkan bahwa pengurus wajib menyediakan alat pelindung diri secara cuma-cuma sebagai usaha pencegahan panyakit akibat kerja.

b. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia Nomor Per. 08/MEN/VII/2010 Tentang Alat Pelindung Diri pasal 2 ayat 1 menyebutkan bahwa pengusaha wajib menyediakan APD bagi pekerja/buruh di tempat kerja, serta pasal 2 ayat 3 menyebutkan bahwa APD wajib diberikan oleh pengusaha secara cuma-cuma.

c. Undang-undang No. 1 Tahun 1970, pasal 14 sub c yang menyebutkan bahwa pengurus diwajibkan menyediakan secara cuma-cuma, semua APD yang diwajibkan kepada tenaga kerja yang berada di bawah pimpinannya dan menyediakan bagi setiap orang lain yang memasuki tempat kerja tersebut, disertai petunjuk-petunjuk yang diperlukan menurut petunjuk pegawai atau ahli keselamatan kerja

Alat pelindung diri yang disediakan oleh perusahaan telah berstandar SNI sehingga perusahaan telah memenuhi peraturan perundangan Peraturan

(3)

Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia Nomor Per.

08/MEN/VII/2010 Tentang Alat Pelindung Diri pasal 2 ayat 2 yang menyebutkan bahwa APD sebagaimana harus sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI) atau standar yang berlaku

1. Perawatan APD

Perawatan alat pelindung diri dilakukan secara pribadi oleh tenaga kerja PDKB TM PT. PLN (Persero) Disribusi Jawa Timur Area Madiun.

Alat pelindung diri yang digunakan tenaga kerja apabila sudah kotor dan tidak nyaman ketika digunakan, maka tenaga kerja akan mencucinya dengan air sabun kemudian dibilas air bersih dan dijemur dibawah sinar matahari. Hal tersebut telah sesuai dengan Tarwaka (2008) yaitu prinsip pemeliharaan alat pelindung diri dapat dilakukan dengan cara penjemuran di panas matahari untuk menghilangkan bau dan mencegah tumbuhnya jamur dan bakteri serta pencucian dengan air sabun untuk pelindung diri seperti helm, kacamata, earplug yang terbuat dari karet, sarung tangan kain/kulit/karet dan lain-lain.

2. Penyimpanan APD

Menurut Tarwaka (2008), agar alat pelindung diri tetap dapat digunakan secara baik, harus disimpan pada tempat penyimpanan yang bebas dari debu, kotoran, dan tidak terlalu lembab, serta terhindar dari gigitan binatang. Penyimpanan harus diatur sedemikian rupa sehingga mudah diambil dan dijangkau oleh pekerja dan diupayakan disimpan di almari khusus alat pelindung diri. Dalam hal ini perusahaan belum sesuai

(4)

dengan teori yang dikemukakan oleh Tarwaka, karena perusahaan belum menyediakan almari atau tempat khusus untuk menyimpan APD sehingga diletakkan dan disimpan bersamaan dengan peralatan kerja lainnya.

3. Penggantian APD Rusak

Perusahaan akan mengganti alat pelindung diri yang telah rusak setelah tenaga kerja melakukan pelaporan sesuai dengan prosedur. APD yang baru akan segera diberikan setelah dilakukan tindak lanjut sehingga tenaga kerja tidak perlu menunggu lama. Dalam hal ini perusahaan telah memenuhi peraturan perundangan Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia Nomor Per. 08/MEN/VII/2010 Tentang Alat Pelindung Diri pasal 8 ayat 1 menyebutkan bahwa APD yang rusak, retak atau tidak dapat berfungsi dengan baik harus dibuang dan/atau dimusnahkan.

C. Jenis APD di PDKB TM

Sebagai upaya pencegahan terhadap kecelakaan dan penyakit akibat kerja, PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Timur Area Madiun menyediakan alat pelindung diri kepada tim PDKB TM sesuai dengan bahaya yang dihadapi. Alat pelindung diri tersebut antara lain :

a) Alat pelindung kepala berupa helmet

b) Alat pelindung tangan berupa sarung tangan karet dan sarung tangan kulit c) Alat pelindung kaki berupa sepatu karet dan sepatu kulit

d) Alat pelindung mata berupa kacamata anti UV

(5)

e) Sabuk pengaman keselamatan berupa safety belt dan safety body harness Perusahaan belum menyediakan alat pelindung pernafasan berupa masker atau respirator untuk tenaga kerja PDKB sebagai upaya penanggulangan terhadap potensi bahaya terhirup debu. Dalam hal ini perusahaan belum memenuhi peraturan perundangan :

a. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia Nomor Per. 08/MEN/VII/2010 Tentang Alat Pelindung Diri, pasal 3 ayat 1 yang menyebutkan bahwa APD meliputi pelindung kepala, pelindung mata dan muka, pelindung telinga, pelindung pernapasan beserta perlengkapannya, pelindung tangan, dan/atau pelindung kaki.

b. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia Nomor Per. 08/MEN/VII/2010 Tentang Alat Pelindung Diri pasal 3 ayat 2 menyebutkan bahwa selain APD sebagaimana dimaksud pada pasal 3 ayat 1, termasuk APD pakaian pelindung, alat pelindung jatuh perorangan, dan/atau pelampung.

D. Kedisiplinan Pemakaian APD

Perusahaan mewajibkan tenaga kerja PDKB TM untuk menggunakan APD selama melakukan pekerjaan. Hal yang dilakukan oleh PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Timur Area Madiun telah sesuai dengan Undang- Undang Nomor 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja pasal 12 sub b yang menyatakan bahawa dengan peraturan perundangan diatur kewajiban dan atau hak tenaga kerja untuk memakai alat-alat pelindung diri.

(6)

Berdasarkan hasil pengamatan terhadap penggunaan APD oleh tenaga kerja PDKB TM PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Timur Area Madiun, ditemukan salah satu tenaga kerja tidak menggunakan APD sarung tangan ketika bekerja. Dengan demikian perusahaan belum memenuhi peraturan perundangan Undang-Undang Tahun 1970 tentang Keselamatan kerja pasal 13 yang berbunyi “Barang siapa akan memasuki tempat kerja, diwajibkan mentaati semua petunjuk keselamatan kerja dan memakai alat pelindung diri yang diwajibkan”.

E. Kesesuaian Jenis APD Berdasarkan Identifikasi Bahaya

PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Timur Area Madiun menyediakan APD untuk tenaga kerja PDKB TM disesuaikan dengan jenis potensi bahaya yang dihadapi. Berdasarkan analisis potensi bahaya yang telah dilakukan pada tim PDKB TM, perusahaan telah menyediakan APD sesuai dengan potensi bahaya yang ada, dengan demikian perusahaan telah memenuhi peraturan perundangan Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia Nomor Per. 08/MEN/VII/2010 Tentang Alat Pelindung Diri pada Lampiran mengenai Jenis dan Fungsi Alat Pelindung Diri.

1. Terjatuh dari ketinggian

Alat pelindung yang disediakan oleh perusahaan berupa safety belt dan safety body harness sudah sesuai dengan potensi bahaya yang ada. Hal tersebut telah sesuai dengan Peraturan Menteri Tenaga Kerja Dan Transmigrasi Republik Indonesia Nomor Per.08/MEN/VII/2010 Tentang

(7)

Alat Pelindung Diri, dalam Lampiran Fungsi dan Jenis Alat Pelindung Diri poin 8.1 yang menyatakan alat pelindung jatuh perorangan berfungsi membatasi gerak pekerja agar tidak masuk ke tempat yang mempunyai potensi jatuh atau menjaga pekerja berada pada posisi kerja yang diinginkan dalam keadaan miring maupun tergantung dan menahan serta membatasi pekerja jatuh sehingga tidak membentur lantai dasar dan poin 8.2 yang menyatakan jenis alat pelindung jatuh perorangan terdiri dari sabuk pengaman tubuh (harness), karabiner, tali koneksi (lanyard), tali pengaman (safety rope), alat penjepit tali (rope clamp), alat penurun (decender), alat penahan jatuh bergerak (mobile fall arrester), dan lain- lain.

2. Tersengat arus listrik

Untuk mencegah atau mengurangi risiko bahaya akibat tersengat arus listrik, perusahaan menyediakan safety shoes, helmet dan sarung tangan. Seluruh APD yang disediakan oleh perusahaan mempunyai daya isolasi sehingga dapat mengurangi risiko bahaya tersengat arus listrik yang dapat menimpa tenaga kerja. Hal tersebut telah sesuai dengan Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia Nomor Per.

08/MEN/VII/2010 Tentang Alat Pelindung Diri, dalam Lampiran Fungsi dan Jenis Alat Pelindung Diri poin 5.1 yang menyatakan pelindung tangan (sarung tangan) adalah alat pelindung yang berfungsi untuk melindungi tangan dan jari-jari tangan dari pajanan api, suhu panas, suhu dingin, radiasi elektromagnetik, radiasi mengion, arus listrik, bahan kimia,

(8)

benturan, pukulan dan tergores, terinfeksi zat patogen (virus, bakteri) dan jasad renik.

3. Tertimpa benda jatuh

Alat pelindung kepala yang disediakan oleh perusahaan berupa helmet telah sesuai dengan potensi bahaya yang dihadapi oleh tenaga kerja. Hal tersebut telah sesuai dengan Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia Nomor Per. 08/MEN/VII/2010 Tentang Alat Pelindung Diri, dalam Lampiran Fungsi dan Jenis Alat Pelindung Diri poin 1.1 yang menyatakan alat pelindung kepala adalah alat pelindung yang berfungsi untuk melindungi kepala dari benturan, terantuk, kejatuhan atau terpukul benda tajam atau benda keras yang melayang atau meluncur di udara, terpapar oleh radiasi panas, api, percikan bahan-bahan kimia, jasad renik (mikro organisme) dan suhu yang ekstrim dan poin 1.2 yang menyatakan jenis alat pelindung kepala terdiri dari helm pengaman (safety helmet), topi atau tudung kepala, penutup atau pengaman rambut, dan lain-lain.

4. Menghirup debu

Dalam hal pengendalian potensi bahaya terhirup debu, perusahaan belum menyediakan alat pelindung pernafasan berupa masker, sehingga perusahaan belum memenuhi Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia Nomor Per. 08/MEN/VII/2010 Tentang Alat Pelindung Diri dalam Lampiran Fungsi dan Jenis Alat Pelindung Diri poin 4.1 yang menyatakan alat pelindung pernapasan beserta

(9)

perlengkapannya adalah alat pelindung yang berfungsi untuk melindungi organ pernapasan dengan cara menyalurkan udara bersih dan sehat dan/atau menyaring cemaran bahan kimia, mikro-organisme, partikel yang berupa debu, kabut (aerosol), uap, asap, gas/ fume, dan sebagainya dan poin 4.2 yang menyatakan jenis alat pelindung pernapasan dan perlengkapannya terdiri dari masker, respirator, katrit, kanister, Re- breather, Airline respirator, Continues Air Supply Machine=Air Hose Mask Respirator, tangki selam dan regulator (Self-Contained Underwater Breathing Apparatus/SCUBA), Self-Contained Breathing Apparatus (SCBA), dan emergency breathing apparatus.

5. Terpapar sinar matahari

Untuk mencegah atau mengurangi risiko bahaya akibat terpapar sinar matahari, perusahaan menyediakan helmet, kacamata dan pakaian kerja. Hal tersebut telah sesuai dengan Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia Nomor Per. 08/MEN/VII/2010 Tentang Alat Pelindung Diri, dalam Lampiran Fungsi dan Jenis Alat Pelindung Diri poin 1.1 yang menyatakan alat pelindung kepala adalah alat pelindung yang berfungsi untuk melindungi kepala dari benturan, terantuk, kejatuhan atau terpukul benda tajam atau benda keras yang melayang atau meluncur di udara, terpapar oleh radiasi panas, api, percikan bahan-bahan kimia, jasad renik (mikro organisme) dan suhu yang ekstrim dan poin 1.2 yang menyatakan jenis alat pelindung kepala terdiri dari helm pengaman

(10)

(safety helmet), topi atau tudung kepala, penutup atau pengaman rambut, dan lain-lain.

6. Radiasi sinar ultraviolet

Untuk mencegah potensi bahaya radiasi sinar ultraviolet, perusahaan telah menyediakan kacamata anti sinar UV sehingga tenaga kerja dapat bekerja dengan aman dan nyaman. Jenis APD yang disediakan oleh perusahaan sesuai dengan potensi bahaya yang dihadapi oleh tenaga kerja. Hal tersebut telah sesuai dengan Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia Nomor Per. 08/MEN/VII/2010 Tentang Alat Pelindung Diri, dalam Lampiran Fungsi dan Jenis Alat pelindung Diri poin 2.1 yang menyatakan alat pelindung mata dan muka adalah alat pelindung yang berfungsi untuk melindungi mata dan muka dari paparan bahan kimia berbahaya, paparan partikel-partikel yang melayang di udara dan di badan air, percikan benda-benda kecil, panas, atau uap panas, radiasi gelombang elektromagnetik yang mengion maupun yang tidak mengion, pancaran cahaya, benturan atau pukulan benda keras atau benda tajam dan poin 2.2 yang menyatakan jenis alat pelindung mata dan muka terdiri dari kacamata pengaman (spectacles), goggles, tameng muka (face shield), masker selam, tameng muka dan kacamata pengaman dalam kesatuan (full face masker).

Referensi

Dokumen terkait

Namun pada kenyataannya, tidak semua perawat dapat melakukan strategi koping dalam rangka menghadapi sumber atau situasi stres, hal itu terdeteksi dari hasil wawancara yang

Yakni, penulis melakukan interview dengan Users (pengguna). Yang itu, diwakili oleh kalangan Mahasiswa Unair dan Mahasiswa Uinsa. Kedua, mahasiswa ini penulis

ekstrak daun tengah sirsak dan ekstrak daun pangkal sirsak adalah 8,7 menit dengan luas area pada ekstrak daun pucuk sirsak 81416, ekstrak tengah daun sirsak 137731 dan ekstrak

Dasar dari konsep diri yang positif adalah adanya penerimaan diri. Hal ini disebabkan orang yang memiliki konsep diri positif mengenal dirinya dengan baik. Tidak seperti

Sektor perikanan merupakan suatu komoditas yang bernilai bagi suatu negara, mengingat konsumsi ikan di merupakan suatu komoditas yang bernilai bagi suatu negara,

Sehingga dengan alasan tersebut, lebih menguntungkan untuk head sistem yang tinggi digunakan pompa perpindahan positif apabila kapasitas aliran tidak menjadi tujuan utama dari

Oleh karena itu perlu adanya sistem pengendalian secara otomatis yang dapat dikendalikan secara jarak jauh, aman dan efisien pada proses powder coating sehingga operator

Adapun ketentuan besarnya dana tabarru’ didasarkan atas tabel penentuan iuran tabarru takaful dana investasi setelah dikurangi biaya pengelolaan (loading),