• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penerimaan Negara Bukan Pajak Sektor Kehutanan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Penerimaan Negara Bukan Pajak Sektor Kehutanan"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

Penerimaan Negara Bukan Pajak

PNBP merupakan salah satu sumber pendapatan Negara, dan oleh karena itu, PNBP dapat setiap saat digunakan untuk membiayai pelaksanaan tujuan Negara sebagaimana di

Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945 tidak boleh bertentangan dengan peraturan perundang berlaku dibidang PNBP

Walaupun semua PNBP wajib disetor langsung secepatnya ke kas Negara, tetapi menurut pasal 8 ayat (1

jenis PNBP dapat digunakan untuk kegiatan tertentu yang berkaitan dengan jenis PNBP tersebut. instansi yang berhak menggunakan adalah instansi atau berhak menggunakan adalah instansi atau unit kerja yang menghasilkan PNBP.

Dalam setiap tahun anggaran, pencairan dana PNBP dilakukan dalam 4 tahap (triwulan). Dalam

setoran PNBP antara departemen kehutanan dan departemen keuangan, yang disaksikana dengan instan

(Dinas Kehutanan). Rekonsiliasi tersebut untuk mengetahui kesesuaian diantara keduanya sekaligus untuk meminimalisir adanya penyalahgunaan kewenangan. Satuan kerja setiap daerah diberikan kewenangan untuk menggunakan dana PNBP be

derektorat Jenderal Per pencairan dana DIPA.

Mekanisme Pemungutan PSDH dan Dana Reboisasi

Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sector kehutan merupakan kumpulan dari berbagai sekor penerimaan, dian

Sumber Daya Hutan (PSDH) dan Dana Reboisasi (DR) yang diperoleh dari Iuran Pemanfaatan Kayu (IPK).

bukan pajak ini, sebagaimana ditetapkan dalam p kehutanan P.18/Menhut

Pengenaan, Pemungutan dan Pembayaran Provisi Sumber Daya Hutan (PSDH) dan Dana Reboisasi (DR).

Sebagai tangungjawab penagihan atas PSDH dan DR p dalam hal ini Dinas

perusahaan, kemudian Pejabat Penagih menerbitkan Surat Perintah pembayaran (SPP) baik SPP

1Muhammad Dja’far Saidi dan Rohana Huseng, 2008, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, hlm.6.

Penerimaan Negara Bukan Pajak Sektor Kehutanan

PNBP merupakan salah satu sumber pendapatan Negara, dan oleh karena itu, PNBP dapat setiap saat digunakan untuk membiayai pelaksanaan tujuan Negara sebagaimana diamanatkan dalam alinea keempat Pembukaan Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945. Penggunaannya tidak boleh bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku dibidang PNBP1.

Walaupun semua PNBP wajib disetor langsung secepatnya ke kas Negara, tetapi menurut pasal 8 ayat (1) UU PNBP, sebagian dana dari suatu jenis PNBP dapat digunakan untuk kegiatan tertentu yang berkaitan dengan jenis PNBP tersebut. instansi yang berhak menggunakan adalah instansi atau berhak menggunakan adalah instansi atau unit kerja yang menghasilkan Dalam setiap tahun anggaran, pencairan dana PNBP dilakukan dalam 4 tahap (triwulan). Dalam setiap triwulan, akan dilakukan rekonsisliasi data setoran PNBP antara departemen kehutanan dan departemen keuangan, yang disaksikana dengan instansi daerah yang membidangi sector kehuatan (Dinas Kehutanan). Rekonsiliasi tersebut untuk mengetahui kesesuaian diantara keduanya sekaligus untuk meminimalisir adanya penyalahgunaan kewenangan. Satuan kerja setiap daerah diberikan kewenangan untuk menggunakan dana PNBP berdasarkan surat edaran yang dikeluarkan oleh derektorat Jenderal Perbendarahaan Negara mengenai bat

pencairan dana DIPA.

Mekanisme Pemungutan PSDH dan Dana Reboisasi (DR)

Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sector kehutan merupakan dari berbagai sekor penerimaan, diantaranya adalah Provisi Sumber Daya Hutan (PSDH) dan Dana Reboisasi (DR) yang diperoleh dari Iuran Pemanfaatan Kayu (IPK). Alur pungutan kedua penerimaan Negara bukan pajak ini, sebagaimana ditetapkan dalam peraturan ment kehutanan P.18/Menhut-II/2007, tentang Petunjuk Teknis Tata Cara Pengenaan, Pemungutan dan Pembayaran Provisi Sumber Daya Hutan (PSDH) dan Dana Reboisasi (DR).

Sebagai tangungjawab penagihan atas PSDH dan DR pemerintah daerah dalam hal ini Dinas Kehutanan, berdasarkan LHP yang diterima dari perusahaan, kemudian Pejabat Penagih menerbitkan Surat Perintah pembayaran (SPP) baik SPP-PSDH maupun SPP-DR. Selanjutnya wajib bayar

Muhammad Dja’far Saidi dan Rohana Huseng, 2008, Hukum Penerimaan Negara Bukan Pajak, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, hlm.6.

PNBP merupakan salah satu sumber pendapatan Negara, dan oleh karena itu, PNBP dapat setiap saat digunakan untuk membiayai pelaksanaan manatkan dalam alinea keempat Pembukaan . Penggunaannya undangan yang Walaupun semua PNBP wajib disetor langsung secepatnya ke kas ) UU PNBP, sebagian dana dari suatu jenis PNBP dapat digunakan untuk kegiatan tertentu yang berkaitan dengan jenis PNBP tersebut. instansi yang berhak menggunakan adalah instansi atau berhak menggunakan adalah instansi atau unit kerja yang menghasilkan Dalam setiap tahun anggaran, pencairan dana PNBP dilakukan dalam 4 setiap triwulan, akan dilakukan rekonsisliasi data setoran PNBP antara departemen kehutanan dan departemen keuangan,

membidangi sector kehuatan (Dinas Kehutanan). Rekonsiliasi tersebut untuk mengetahui kesesuaian diantara keduanya sekaligus untuk meminimalisir adanya penyalahgunaan kewenangan. Satuan kerja setiap daerah diberikan kewenangan untuk rdasarkan surat edaran yang dikeluarkan oleh bendarahaan Negara mengenai batas maksimal

Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sector kehutan merupakan ranya adalah Provisi Sumber Daya Hutan (PSDH) dan Dana Reboisasi (DR) yang diperoleh dari Alur pungutan kedua penerimaan Negara eraturan menteri 2007, tentang Petunjuk Teknis Tata Cara Pengenaan, Pemungutan dan Pembayaran Provisi Sumber Daya Hutan emerintah daerah n, berdasarkan LHP yang diterima dari perusahaan, kemudian Pejabat Penagih menerbitkan Surat Perintah elanjutnya wajib bayar

Hukum Penerimaan Negara Bukan Pajak,

(2)

(WB) berdasarkan SPP tersebut menyetorkan ke kas Negara melalui bendaharawan bank yang telah ditentukan.

PSDH atau Resources Royalty Provision

sebagai pengganti nilai intristik dari hasil yang dipungut dari hutan Negara atau dengan kata lain nilai hasil hutan yang menjadi bagian pemerintah sebagai pemilik aset. PSDH diantaranya dikenakan pada IPK bagi pemanfaatan kawasan hutan yang diubah statusnya menjadi bukan kawasan hutan.

Sedangkan Dana reboisasi adalah dana untuk reboisasi dan rehabilitasi hutan serta kegiatan terkait lainnya. DR pada awalnya

sebagai penerimaan Negara dari kegiatan pengusahaan hutan, melainkan sekedar dana jaminan atas kelestarian hutan, namun selama ini diberlakukan sebagai penerimaan Negara bukan pajak. Sama halnya dengan PSDH, DR juga dikenakan pada IPK bag

menjadi bukan kawasan hutan

Berdasarkan Peraturan Menteri Kehutanan Nomor : P. 18/Menhut

tentang Petunjuk Teknis Tata Cara Pengenaan, Pemungutan, dan Pembayaran Provisi Sumber Daya Hutan (PSDH),

Hasil hutan yang dikenakan PSDH meliputi ; dan atau hutan tanaman yang berasal dari hutan

bukan kayu yang telah ada dan tumbuh secara alami walaupun areal tersebut telah dibebani alas titel yang mengalami perubahan peruntukan menjadi bukan kawasan hutan negara Hasil hutan bukan kayu pada hutan alam dan atau hutan tanaman yang berasal dari hutan

Pada pasal 4 P.

DR dikenakan pada,

hutan alam. Pemegang izin usaha pemanfaatan hasil hutan kayu pada hutan tanaman yang memanfaatkan kayu dari pembersihan (land clearing) areal hutan alam. Pemilik hasil hutan kayu yang telah ada dan tumbuh secara alami walaupun areal tersebut telah dibebani alas titel yang mengalami perubahan peruntukan menjadi bukan kawasan hutan n

Merujuk pada Paraturan Menteri Kehutanan ini disebutkan tentang tata cara

berdasarkan atas hasil hutan, hasil hutan bukan kayu dan hutan tanaman didasarkan pada LHP serta Pengenaan PSDH atas hasil hutan kayu dari hasil penjualan tegakan didasarkan pada LHP. Dengan demikian LHP adalah a

dalam bekerja bagi pejabat pemungut yang dibentuk di satuan kerja yang ada didaerah dalam memungut PNBP sektor kehutanan (PSDH/DR).

mekanisme cross check, dengan mempelajari Laporan Hasil Cruising sebelum kegiatan penebangan

berarti penerimaan PSDH/DR dari pelaku usaha hutan tanaman indust terjadi kebocoran yang menyebabkan kerugian Negara.

evaluasi (monev) PSDH/DR, sangat berpotensi terjadinya pejabat teknis dengan perusahaan

Rencana Kerja Tahunan (RKT) sebagai dasar

(WB) berdasarkan SPP tersebut menyetorkan ke kas Negara melalui bank yang telah ditentukan.

Resources Royalty Provision adalah pungutan yang dikenakan sebagai pengganti nilai intristik dari hasil yang dipungut dari hutan Negara atau dengan kata lain nilai hasil hutan yang menjadi bagian pemerintah emilik aset. PSDH diantaranya dikenakan pada IPK bagi pemanfaatan kawasan hutan yang diubah statusnya menjadi bukan kawasan Dana reboisasi adalah dana untuk reboisasi dan rehabilitasi hutan serta kegiatan terkait lainnya. DR pada awalnya bukan dimaksudkan sebagai penerimaan Negara dari kegiatan pengusahaan hutan, melainkan sekedar dana jaminan atas kelestarian hutan, namun selama ini diberlakukan sebagai penerimaan Negara bukan pajak. Sama halnya dengan PSDH, DR juga dikenakan pada IPK bagi pemanfaatan kawasan hutan yang diubah statusnya menjadi bukan kawasan hutan.

Berdasarkan Peraturan Menteri Kehutanan Nomor : P. 18/Menhut

tentang Petunjuk Teknis Tata Cara Pengenaan, Pemungutan, dan Pembayaran Provisi Sumber Daya Hutan (PSDH), dan Dana Reboisasi (DR) pasal 3 bahwa Hasil hutan yang dikenakan PSDH meliputi ; Hasil hutan kayu pada hutan alam dan atau hutan tanaman yang berasal dari hutan Negara. Hasil hutan kayu atau bukan kayu yang telah ada dan tumbuh secara alami walaupun areal tersebut telah dibebani alas titel yang mengalami perubahan peruntukan menjadi bukan kawasan hutan negara Hasil hutan bukan kayu pada hutan alam dan atau hutan tanaman

ang berasal dari hutan Negara. dll

P.18/menhut –II/2007 juga menjelaskan mengenai pengenaan dikenakan pada, Pemegang izin usaha pemanfaatan hasil hutan kayu pada Pemegang izin usaha pemanfaatan hasil hutan kayu pada hutan an yang memanfaatkan kayu dari pembersihan (land clearing) areal hutan alam. Pemilik hasil hutan kayu yang telah ada dan tumbuh secara alami walaupun areal tersebut telah dibebani alas titel yang mengalami perubahan peruntukan menjadi bukan kawasan hutan negara. Dll.

ada Paraturan Menteri Kehutanan ini pula

disebutkan tentang tata cara pengenaan Provisi Sumber Daya Hutan (PSDH) berdasarkan atas hasil hutan, hasil hutan bukan kayu dan hutan tanaman didasarkan pada LHP serta Pengenaan PSDH atas hasil hutan kayu dari hasil penjualan tegakan didasarkan pada LHP. Dengan demikian LHP adalah a

am bekerja bagi pejabat pemungut yang dibentuk di satuan kerja yang ada didaerah dalam memungut PNBP sektor kehutanan (PSDH/DR).

mekanisme cross check, dengan mempelajari Laporan Hasil Cruising sebelum kegiatan penebangan kemudian dibandingkan dengan LHP,

penerimaan PSDH/DR dari pelaku usaha hutan tanaman indust

yang menyebabkan kerugian Negara. Lemahnya monitoring dan evaluasi (monev) PSDH/DR, sangat berpotensi terjadinya Kongkalikong

pejabat teknis dengan perusahaan (pelaku konsesi hutan) dalam penerbitan Rencana Kerja Tahunan (RKT) sebagai dasar penentuan target PSDH/DR.

Page 2 of 13 (WB) berdasarkan SPP tersebut menyetorkan ke kas Negara melalui

adalah pungutan yang dikenakan sebagai pengganti nilai intristik dari hasil yang dipungut dari hutan Negara atau dengan kata lain nilai hasil hutan yang menjadi bagian pemerintah emilik aset. PSDH diantaranya dikenakan pada IPK bagi pemanfaatan kawasan hutan yang diubah statusnya menjadi bukan kawasan Dana reboisasi adalah dana untuk reboisasi dan rehabilitasi bukan dimaksudkan sebagai penerimaan Negara dari kegiatan pengusahaan hutan, melainkan sekedar dana jaminan atas kelestarian hutan, namun selama ini diberlakukan sebagai penerimaan Negara bukan pajak. Sama halnya dengan PSDH, DR juga i pemanfaatan kawasan hutan yang diubah statusnya Berdasarkan Peraturan Menteri Kehutanan Nomor : P. 18/Menhut-II/2007 tentang Petunjuk Teknis Tata Cara Pengenaan, Pemungutan, dan Pembayaran dan Dana Reboisasi (DR) pasal 3 bahwa Hasil hutan kayu pada hutan alam Hasil hutan kayu atau bukan kayu yang telah ada dan tumbuh secara alami walaupun areal tersebut telah dibebani alas titel yang mengalami perubahan peruntukan menjadi bukan kawasan hutan negara Hasil hutan bukan kayu pada hutan alam dan atau hutan tanaman 2007 juga menjelaskan mengenai pengenaan Pemegang izin usaha pemanfaatan hasil hutan kayu pada Pemegang izin usaha pemanfaatan hasil hutan kayu pada hutan an yang memanfaatkan kayu dari pembersihan (land clearing) areal hutan alam. Pemilik hasil hutan kayu yang telah ada dan tumbuh secara alami walaupun areal tersebut telah dibebani alas titel yang mengalami perubahan peruntukan pula dalam pasal 6 pengenaan Provisi Sumber Daya Hutan (PSDH) berdasarkan atas hasil hutan, hasil hutan bukan kayu dan hutan tanaman didasarkan pada LHP serta Pengenaan PSDH atas hasil hutan kayu dari hasil penjualan tegakan didasarkan pada LHP. Dengan demikian LHP adalah alat utama am bekerja bagi pejabat pemungut yang dibentuk di satuan kerja yang ada didaerah dalam memungut PNBP sektor kehutanan (PSDH/DR). Meskipun ada mekanisme cross check, dengan mempelajari Laporan Hasil Cruising (LHC) dibandingkan dengan LHP, namun tidak penerimaan PSDH/DR dari pelaku usaha hutan tanaman industri tidak Lemahnya monitoring dan Kongkalikong antara

dalam penerbitan penentuan target PSDH/DR.

(3)

Gambar: Skema Pengenaan & Tata Cara Pembayaran PSDH dan DR

Sumber: Hasil Olahan dari 2012

PNBP Sektor Kehut Pelepas Dahaga Rakyat

Sektor kehutanan yang digadang

dalam pembangunan ekonomi maupun pembangunan lingkungan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) tahun 2010 2014 hanya isapan jempol.

terus bergulir silih berganti, konflik masyarakat akibat konsesi lahan, juga dilihat dari PNBP sector kehutanan yang kecil, san

Negara gagal dalam menata kelola hutan.

LHC Ke Bupati

Bupati Memerintahkan Dinas Kehutanan Melakukan checking

Crossing

Bupati Mengesah

kan LHC

Pemegang IUPHHKH (Wajib Bayar)

Laporan Pelunasan DR PSDH Ke Bupati

Skema Pengenaan & Tata Cara Pembayaran PSDH dan DR

dari P.18/Permenhut-II/2007 dan Draf Revisi P.18/Mehut

Kehutanan, Rakyat

ektor kehutanan yang digadang-gadangkan mampu berperan, baik dalam pembangunan ekonomi maupun pembangunan lingkungan dalam Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) tahun 2010 2014 hanya isapan jempol. Selain dampak bencana alam seperti banjir yang terus bergulir silih berganti, konflik masyarakat akibat konsesi lahan, juga dilihat dari PNBP sector kehutanan yang kecil, sangat memperkuat bahwa Negara gagal dalam menata kelola hutan.

PSDH-DR

Pemegang IUPHHKH

LHP Ke Bupati LHC

Ke Bupati

Bupati Memerintahkan Dinas Kehutanan Melakukan checking

Crossing

Bupati Memerintahkan Dinas Kehutanan Melakukan Pengukuran dan Pengujian

Bupati Mengesah

kan LHC

Bupati Mengesah

kan LHP SPP

PSDH-DR

Pemegang IUPHHKH (Wajib Bayar)

SSBP Kas Negara

SSBP-Lunas

Laporan Pelunasan DR-

PSDH Ke Bupati Laporan Pelunasan DR

PSDH:

- Provinsi - DJA - Menkeu - Menhut

Skema Pengenaan & Tata Cara Pembayaran PSDH dan DR

II/2007 dan Draf Revisi P.18/Mehut-II/2007 tahun

gadangkan mampu berperan, baik dalam pembangunan ekonomi maupun pembangunan lingkungan dalam Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) tahun 2010-

Selain dampak bencana alam seperti banjir yang terus bergulir silih berganti, konflik masyarakat akibat konsesi lahan, juga gat memperkuat bahwa Bupati Memerintahkan Dinas

Kehutanan Melakukan Pengukuran dan Pengujian

Bupati Mengesah

kan LHP

Kas Negara Lunas

Laporan Pelunasan DR- PSDH:

Provinsi Menkeu

(4)

Selama kurun waktu 6 (enam) tahun dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (Realisasi 2007

hanya mampu menyumbang 2007 sebesar Rp. 2,1 triliun pada realisasi tahun

3,0 triliun. Selanjutnya realisasi tahun 2011 PNBP sektor kehutanan menyumbang APBN sebesar

PNBP sektor kehutanan hanya menyumbang dibawah ini.

Gambar 2. Persentase PNBP Sektor Kehutanan dengan Total PNBP Pusat

Sumber : Fitra Riau, diolah dari Dokumen NK RAPBN tahun 2013

Realisasi APBN tahun 2007 menyumbang 1%

Sedangkan tahun 20 1%, realisasi tahun

2012 PNBP kehutanan dibandingkan dengan PNBP secara umum hanya menyumbang 0,9%

Sumber penerimaan Negara sektor kehutanan terbesar yaitu pada Provisi Sumber Daya Hutan (PSDH) dan Dana

sumbangan PSDH dan DR dapat dilihat pada grafik berikut ini yaitu ata penerimaan dari PSDH dan DR dari tahun 2004

milyar dan Rp 1.83 triliyun, dengan rata sebesar 1.35%.

Grafik 4. Penerimaan PSDH dan DR 0,0%

0,2%

0,4%

0,6%

0,8%

1,0%

1,2%

R 2007

Persentase PNBP Sektor Kehutanan dengan Total PNBP Pusat

Sumber: ICW,diolah dari LKPP tahun 2004

Selama kurun waktu 6 (enam) tahun dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (Realisasi 2007- 2012 Perubahan), PNBP Sektor kehutanan hanya mampu menyumbang Rp. 16,0 Triliun lebih. Pada realis

Rp. 2,1 triliun, realisasi tahun 2008 Rp. 2,3 Triliun

pada realisasi tahun 2009 Rp. 2,3 triliun, realisasi tahun 2010 sebesar . Selanjutnya realisasi tahun 2011 PNBP sektor kehutanan menyumbang APBN sebesar Rp. 3,2 Triliun dan pada tahun 2012 APBN P PNBP sektor kehutanan hanya menyumbang Rp.3,1 Triliun

Persentase PNBP Sektor Kehutanan dengan Total PNBP Pusat Dalam Realisasi APBN 2007 - 2012 Perubahan

Fitra Riau, diolah dari Dokumen NK RAPBN tahun 2013

ealisasi APBN tahun 2007 PNBP sektor kehutanan hanya terhadap total PNBP, Realisasi tahun 2008 0,7%.

Sedangkan tahun 2009 PNBP sektor kehutanan menyumbang APBN sebesar 2010 1,1%, realisasi tahun 2011 sebesar 1% dan tahun 2012 PNBP kehutanan dibandingkan dengan PNBP secara umum hanya

terhadap PNBP.

Sumber penerimaan Negara sektor kehutanan terbesar yaitu pada Provisi Sumber Daya Hutan (PSDH) dan Dana Reboisasi (DR).

sumbangan PSDH dan DR dapat dilihat pada grafik berikut ini yaitu ata penerimaan dari PSDH dan DR dari tahun 2004- 2010 sebesar Rp 698.45 milyar dan Rp 1.83 triliyun, dengan rata-rata kontribusinya terhadap PNBP

Grafik 4. Penerimaan PSDH dan DR Nasional Tahun 2004-2010

Gambar tersebut

bahwa kurun waktu 7 (tujuh) tahu, penerimaan Negara dari Dana reboisasi lebih besar dibandingkan PSDH.

penerimaan Negara dari DR sebesar Rp. 2,415 Triliun

1,0%

0,7%

1,0% 1,1%

1,0%

R 2007 R 2008 R 2009 R 2010 R 2011 P 2012 Persentase PNBP Sektor Kehutanan dengan Total PNBP Pusat

Dalam Realisasi APBN 2007 - 2012 Perubahan

Sumber: ICW,diolah dari LKPP tahun 2004-2010 Page 4 of 13

Selama kurun waktu 6 (enam) tahun dalam Anggaran Pendapatan dan 2012 Perubahan), PNBP Sektor kehutanan . Pada realisasi tahun 2,3 Triliun. Kemudian , realisasi tahun 2010 sebesar Rp.

. Selanjutnya realisasi tahun 2011 PNBP sektor kehutanan dan pada tahun 2012 APBN P Rp.3,1 Triliun. Lihat gambar

Persentase PNBP Sektor Kehutanan dengan Total PNBP 2012 Perubahan

Fitra Riau, diolah dari Dokumen NK RAPBN tahun 2013

PNBP sektor kehutanan hanya , Realisasi tahun 2008 0,7%.

09 PNBP sektor kehutanan menyumbang APBN sebesar 2010 1,1%, realisasi tahun 2011 sebesar 1% dan tahun 2012 PNBP kehutanan dibandingkan dengan PNBP secara umum hanya Sumber penerimaan Negara sektor kehutanan terbesar yaitu pada Reboisasi (DR). Secara nasional sumbangan PSDH dan DR dapat dilihat pada grafik berikut ini yaitu ata-rata 2010 sebesar Rp 698.45 rata kontribusinya terhadap PNBP

menunjukkan bahwa kurun waktu 7 (tujuh) tahu, penerimaan Negara dari Dana reboisasi lebih besar dibandingkan PSDH. Tahun 2004 penerimaan Negara dari DR sebesar Rp. 2,415 Triliun

0,9%

P 2012

(5)

sedangkan PSDH Rp.907 Miliyar. Sampai tahun 2010 DR masih mendominasi PNBP sektor kehutanan sebesar Rp.1,7 Triliun dibandingkan dengan PSDH yang diterima Negara Rp. 797 miliyar.

Penerimaan Neg

tersebut, jika dibandingkan dengan PNBP lainnya dalam APBN, yang tidak berhubungan dengan ektrasi sumber daya alam

berasal dari Kementrian Komunikasi dan Informasi jumlahnya masih cukup rendah. PNBP Sekto kehutanan tahuan 2007 Rp. 2,1 Trili

yang berasal dari Keminfo mencapai Rp. 2,3 Triliun. Sampai APBN P tahun 2012 PNBP Sektor kehutanan masih diberada dibawah PNBP yang berasal dari Keminfo. (lihat gambar dibawah ini).

Sumber : FITRA Riau, diolah dari NK RAPBN Tahun 2012

Gambar diatas menunjukkan perbandingan anta PBNP yang berasal dari sektor kehutanan dengan PNBP yang berasal dari Kementrian Komunikasi dan Informasi (Keminfo).

sektor kehutanan dipersentasekan berkisar antara 26

besaran PNBP yang berasal dari K/L. tahun 2012 PNBP kehutanan 32% dari PNBP KL. Dengan demikian artinya sumbangan PNBP yang berasal dari sektor hutan tidak s

sektor lainnya yang tidak berdampak pada ekploitasi sumber daya alam.

Penerimaan Riau Dari DBH Sektor Kehutanan

Dengan diberlakukannya desentralisasi sejak era reformasi, maka terdapat beberapa penerimaan Negara yang dibagihasilkan ke daerah sesuai dengan Undang-undang No 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah yaitu

terdiri dari PBB dan BPHTB serta bagi hasil bukan pajak yaitu penerimaan sumber daya alam kehutanan (PSDH dan DR). Dana bagi hasil ini merupakan

Rp4,4 Rp2,1 48%

Rp- Rp2,0 Rp4,0 Rp6,0 Rp8,0 Rp10,0 Rp12,0

R 2007

PNBP Keminfo

sedangkan PSDH Rp.907 Miliyar. Sampai tahun 2010 DR masih mendominasi sektor kehutanan sebesar Rp.1,7 Triliun dibandingkan dengan PSDH yang diterima Negara Rp. 797 miliyar.

Penerimaan Negara yang berasal dari PNBP sektor kehutanan dibandingkan dengan PNBP lainnya dalam APBN, yang tidak berhubungan dengan ektrasi sumber daya alam, seperti PNBP lainnya yang berasal dari Kementrian Komunikasi dan Informasi jumlahnya masih cukup rendah. PNBP Sekto kehutanan tahuan 2007 Rp. 2,1 Triliun sedangkan PNBP yang berasal dari Keminfo mencapai Rp. 2,3 Triliun. Sampai APBN P tahun 2012 PNBP Sektor kehutanan masih diberada dibawah PNBP yang berasal

Keminfo. (lihat gambar dibawah ini).

Sumber : FITRA Riau, diolah dari NK RAPBN Tahun 2012

Gambar diatas menunjukkan perbandingan anta PBNP yang berasal dari sektor kehutanan dengan PNBP yang berasal dari Kementrian Komunikasi dan Informasi (Keminfo). Kurun waktu (2007

sektor kehutanan dipersentasekan berkisar antara 26-44% dibandingkan besaran PNBP yang berasal dari K/L. tahun 2012 PNBP kehutanan 32% dari Dengan demikian artinya sumbangan PNBP yang berasal dari sektor hutan tidak sebanding dengan pendapatan – pendapatan Negara dari sektor lainnya yang tidak berdampak pada ekploitasi sumber daya alam.

Dari DBH

Dengan diberlakukannya desentralisasi sejak era reformasi, maka terdapat beberapa penerimaan Negara yang dibagihasilkan ke daerah sesuai undang No 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah yaitu bagi hasil pajak yang terdiri dari PBB dan BPHTB serta bagi hasil bukan pajak yaitu penerimaan sumber daya alam kehutanan (PSDH dan DR). Dana bagi hasil ini merupakan

Rp7,0 Rp9,0 Rp10,9 Rp9,5 Rp10,1 Rp2,1 Rp2,3 Rp2,3 Rp3,0 Rp3,2

33%

26% 28% 34%

R 2008 R 2009 R 2010 R 2011 PNBP Kehutanan VS PNBP Keminfo

PNBP Keminfo PNBP Kehutanan Persentase

sedangkan PSDH Rp.907 Miliyar. Sampai tahun 2010 DR masih mendominasi sektor kehutanan sebesar Rp.1,7 Triliun dibandingkan dengan PSDH ara yang berasal dari PNBP sektor kehutanan dibandingkan dengan PNBP lainnya dalam APBN, yang tidak

seperti PNBP lainnya yang berasal dari Kementrian Komunikasi dan Informasi jumlahnya masih cukup

n sedangkan PNBP yang berasal dari Keminfo mencapai Rp. 2,3 Triliun. Sampai APBN P tahun 2012 PNBP Sektor kehutanan masih diberada dibawah PNBP yang berasal

Gambar diatas menunjukkan perbandingan anta PBNP yang berasal dari sektor kehutanan dengan PNBP yang berasal dari Kementrian Kurun waktu (2007-2013), PNBP 44% dibandingkan besaran PNBP yang berasal dari K/L. tahun 2012 PNBP kehutanan 32% dari Dengan demikian artinya sumbangan PNBP yang berasal dari pendapatan Negara dari sektor lainnya yang tidak berdampak pada ekploitasi sumber daya alam.

Dengan diberlakukannya desentralisasi sejak era reformasi, maka terdapat beberapa penerimaan Negara yang dibagihasilkan ke daerah sesuai undang No 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan bagi hasil pajak yang terdiri dari PBB dan BPHTB serta bagi hasil bukan pajak yaitu penerimaan sumber daya alam kehutanan (PSDH dan DR). Dana bagi hasil ini merupakan

Rp10,1 Rp3,1 31%

0%

10%

20%

30%

40%

50%

60%

T 2012 Persentase

(6)

bagian dari dana perimbangan yang akan menjadi tambahan pendapatan daerah selain pajak da

DBH hutan (PSDH), 80% untuk daerah dengan rincian provinsi, 32% untuk kabupaten/kota penghasil, dan 32%

porsi yang sama besar untuk kabupaten/kota lainnya bersangkutan. Untuk DR, 60% bagian pemerintah dan lahan secara nasional dan 40% bagian

hutan dan lahan di kabupaten/kota 80% dibagian ke daerah penghasil denga

dibagikan keKabupaten/kota penghasi, sedangkan sisanya 20% untuk pemerintah pusat untuk dibagikan ke seluruh Kabupaten Kota dengan porsi yang sama2.

Tabel. Persentase Dana Bagi Hasil PNBP Sektor Kehutanan Sesuaian Dengan

No

Jenis Penerimaan

Pusat

1 IIUPH

2 PSDH

3 DR

Provinsi Riau

pada tiga tahun terakhir 2009

hektar. Dengan laju deforestasi 188 ribu hektar pertahunnya, dan sekarang sisa hutan tinggal 22,5% dari luas daratan yang ada

deforestasi selain akibat alih fungsi hutan menjadi perkebunan kelapa sawit, penebangan hutan secara liar, juga Izin usaha perusahaan hutan industry.

Dari data yang diperoleh dari Dinas Kehutanan Provinsi Riau, luas lahan hutan yang diberikan izin

tersebut diberikan kepada 58 perusahaan

mulai dari seribu herktar sampai ratusan ribu hektar.

lahan terluas yaitu PT. Riau Andalan Pulp &

hektar. Kemudian disusul PT. Arara Abadi dengan luas lahan konsesi 299.975 hektar. Dengan luas lahan terbesar ke tiga yaitu PT. Sumatera Riang Lestari (SRL) dengan luas lahan konsesi 148,075 hektar.

Berdasarkan laporan has sampai tahun 2012,

menyumbang penerimaan Negara PNBP (PSDH) 653.021.784.095.

2UU nomor 33 tahun 200

bagian dari dana perimbangan yang akan menjadi tambahan pendapatan daerah selain pajak dan retribusi daerah serta pendapatan daerah lainnya

DBH hutan (PSDH), 80% untuk daerah dengan rincian

provinsi, 32% untuk kabupaten/kota penghasil, dan 32% dibagikan dengan porsi yang sama besar untuk kabupaten/kota lainnya dalam provinsi yang bersangkutan. Untuk DR, 60% bagian pemerintah untuk rehabilitasi hutan dan lahan secara nasional dan 40% bagian daerah untuk kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan di kabupaten/kota penghasil. Sedangkan untuk DBH IIUPH 80% dibagian ke daerah penghasil dengan rincian 16% untuk Provinsi, 64%

dibagikan keKabupaten/kota penghasi, sedangkan sisanya 20% untuk untuk dibagikan ke seluruh Kabupaten Kota dengan porsi Persentase Dana Bagi Hasil PNBP Sektor Kehutanan

Sesuaian Dengan UU 33 tahun 2004

UU 33 / 2004 Pusat Provinsi Kabupaten/kota

Penghasil Kabupaten Lainnya

20% 16% 64%

20% 16% 32% 32%

60% 40%

Provinsi Riau merupakan wilayah yang memiliki tinggkat emisi tinggi.

pada tiga tahun terakhir 2009 – 2012 riau kehilangan hutan alam 0,5 juta hektar. Dengan laju deforestasi 188 ribu hektar pertahunnya, dan sekarang sisa hutan tinggal 22,5% dari luas daratan yang ada. (Jikalahari

deforestasi selain akibat alih fungsi hutan menjadi perkebunan kelapa sawit, penebangan hutan secara liar, juga Izin usaha perusahaan hutan industry.

Dari data yang diperoleh dari Dinas Kehutanan Provinsi Riau, luas lahan hutan yang diberikan izin IUPHHK-HTI seluas 1,659.311 hektar. Izin tersebut diberikan kepada 58 perusahaan dengan luas lahan yang bervariasi, mulai dari seribu herktar sampai ratusan ribu hektar. Perusahaan dengan PT. Riau Andalan Pulp & paper dengan luas lahan 350,150 hektar. Kemudian disusul PT. Arara Abadi dengan luas lahan konsesi 299.975 Dengan luas lahan terbesar ke tiga yaitu PT. Sumatera Riang Lestari (SRL) dengan luas lahan konsesi 148,075 hektar.

Berdasarkan laporan hasil rekonsiliasi PSDH dan DR tahun 2008 sampai tahun 2012, yang diusulkan kedepartemen keuangan RI, hutan Riau menyumbang penerimaan Negara PNBP (PSDH)

653.021.784.095. Sedangkan untuk Dana Reboisasi tahun 2008 sampai

UU nomor 33 tahun 2004 tentang Perimbangan Pusat dan Daerah

Page 6 of 13 bagian dari dana perimbangan yang akan menjadi tambahan pendapatan

n retribusi daerah serta pendapatan daerah lainnya DBH hutan (PSDH), 80% untuk daerah dengan rincian 16% untuk

dibagikan dengan dalam provinsi yang untuk rehabilitasi hutan daerah untuk kegiatan rehabilitasi Sedangkan untuk DBH IIUPH n rincian 16% untuk Provinsi, 64%

dibagikan keKabupaten/kota penghasi, sedangkan sisanya 20% untuk untuk dibagikan ke seluruh Kabupaten Kota dengan porsi Persentase Dana Bagi Hasil PNBP Sektor Kehutanan

UU Otsus Papua dan Kabupaten UUPA

Lainnya

80%

80%

40%

memiliki tinggkat emisi tinggi.

2012 riau kehilangan hutan alam 0,5 juta hektar. Dengan laju deforestasi 188 ribu hektar pertahunnya, dan sekarang . (Jikalahari, 2012). Laju deforestasi selain akibat alih fungsi hutan menjadi perkebunan kelapa sawit, penebangan hutan secara liar, juga Izin usaha perusahaan hutan industry.

Dari data yang diperoleh dari Dinas Kehutanan Provinsi Riau, luas HTI seluas 1,659.311 hektar. Izin dengan luas lahan yang bervariasi, Perusahaan dengan paper dengan luas lahan 350,150 hektar. Kemudian disusul PT. Arara Abadi dengan luas lahan konsesi 299.975 Dengan luas lahan terbesar ke tiga yaitu PT. Sumatera Riang Lestari il rekonsiliasi PSDH dan DR tahun 2008 yang diusulkan kedepartemen keuangan RI, hutan Riau menyumbang penerimaan Negara PNBP (PSDH) sebesar Rp.

edangkan untuk Dana Reboisasi tahun 2008 sampai

(7)

dengan tahun 2012 berdasark

lebih. Dengan rincian pada gambar dibawah ini.

Hasil Rekonsiliasi PSDH/DR Provinsi Riau 2008

Sumber : Fitra Riau diolah dari data

Sebagaimana data dari hasil rekonsiliasi tersebut, pada dasarnya penerimaan Negara yang bersal dari PNBP (PSDH/DR) yang berasal dari provinsi Riau dalam kurun waktu lima tahun (2008

vulkuatif (naik turun). Seperti PNBP sektor DR pada

mengalami peningkatan yang sangat signifikan dari Rp.4,3 Miliyar meningkata ditahun 2010 menjadi Rp. 563,9 Miliyar.

mengalami penurunan yang signifikan pula, Sedangkan PNBP sektor PSDH

namun peningkatan tidak

sebagaimana penerimaan DR, PSDH juga mengalami penurunan.

Sebagimana prinsip dana bagi hasil PNBP sebagaimana di atur dalam UU 33 tahun 2004 tentang

hutan (PSDH), 80% untuk daerah dengan rincian 16% untuk provinsi, 32%

untuk kabupaten/kota penghasil, dan 32% dibagikan dengan porsi yang sama besar untuk kabupaten/kota lainnya dalam provinsi yang bersangkutan. Untuk DR, 60% bagian pemerintah untuk rehabilitasi hutan dan lahan secara nasional dan 40% bagian daerah untuk kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan di kabupaten/kota penghasil.

Rendahnya penerimaan Negara PNBP yang berasal dari sektor kehutanan, yang berasal dari provinsi Riau, berimplikasi pada rendahnya DBH yang diperoleh dari ektraksi sumberdaya hutan.

Kehutanan Provinsi Riau hasil dari rekonsiliasi penerimaan Negara PNBP

3Hasil Rekonsiliasi Provisi Sumber Daya Hutan dan Reboisasi yang diusulkan Departemen Keuangan tahun 2008-208 (Dinas Kehutanan Provinsi Riau)

Rp- Rp100,00 Rp200,00 Rp300,00 Rp400,00 Rp500,00 Rp600,00

Billions

dengan tahun 2012 berdasarkan hasil rekonsiliasi sebesar Rp. 1.350 Triliun Dengan rincian pada gambar dibawah ini.

Hasil Rekonsiliasi PSDH/DR Provinsi Riau 2008-

diolah dari data Dinas Kehutanan Provinsi Riau

Sebagaimana data dari hasil rekonsiliasi tersebut, pada dasarnya penerimaan Negara yang bersal dari PNBP (PSDH/DR) yang berasal dari dalam kurun waktu lima tahun (2008-2012) berjalan secara (naik turun). Seperti PNBP sektor DR pada tahun 2008 mengalami peningkatan yang sangat signifikan dari Rp.4,3 Miliyar meningkata ditahun 2010 menjadi Rp. 563,9 Miliyar. Pada tahun 2012 justur mengalami penurunan yang signifikan pula, yaitu sebesar Rp. 204,7 miliyar.

Sedangkan PNBP sektor PSDH, pada dasarnya terus mengalami peningkatan, namun peningkatan tidak signifikan, dan pada tahun 2011 sebagaimana penerimaan DR, PSDH juga mengalami penurunan.

Sebagimana prinsip dana bagi hasil PNBP sebagaimana di atur dalam UU 33 tahun 2004 tentang perimbangan keuangan pusat dan daerah, hutan (PSDH), 80% untuk daerah dengan rincian 16% untuk provinsi, 32%

untuk kabupaten/kota penghasil, dan 32% dibagikan dengan porsi yang sama besar untuk kabupaten/kota lainnya dalam provinsi yang Untuk DR, 60% bagian pemerintah untuk rehabilitasi hutan dan lahan secara nasional dan 40% bagian daerah untuk kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan di kabupaten/kota penghasil.

Rendahnya penerimaan Negara PNBP yang berasal dari sektor berasal dari provinsi Riau, berimplikasi pada rendahnya DBH yang diperoleh dari ektraksi sumberdaya hutan. Menurut data Dinas Kehutanan Provinsi Riau hasil dari rekonsiliasi penerimaan Negara PNBP

Hasil Rekonsiliasi Provisi Sumber Daya Hutan dan Reboisasi yang diusulkan Departemen 208 (Dinas Kehutanan Provinsi Riau)

Rp38,83 Rp51,38

Rp201,19

Rp175,61 Rp186,01 Rp4,32

Rp114,97

Rp563,96

Rp462,35

Rp204,70

2008 2009 2010 2011 2012

Rp. 1.350 Triliun -2012

Dinas Kehutanan Provinsi Riau 20133 Sebagaimana data dari hasil rekonsiliasi tersebut, pada dasarnya penerimaan Negara yang bersal dari PNBP (PSDH/DR) yang berasal dari 2012) berjalan secara tahun 2008-2010 mengalami peningkatan yang sangat signifikan dari Rp.4,3 Miliyar Pada tahun 2012 justur yaitu sebesar Rp. 204,7 miliyar.

pada dasarnya terus mengalami peningkatan, , dan pada tahun 2011-2012 sebagaimana penerimaan DR, PSDH juga mengalami penurunan.

Sebagimana prinsip dana bagi hasil PNBP sebagaimana di atur dalam perimbangan keuangan pusat dan daerah, DBH hutan (PSDH), 80% untuk daerah dengan rincian 16% untuk provinsi, 32%

untuk kabupaten/kota penghasil, dan 32% dibagikan dengan porsi yang sama besar untuk kabupaten/kota lainnya dalam provinsi yang Untuk DR, 60% bagian pemerintah untuk rehabilitasi hutan dan lahan secara nasional dan 40% bagian daerah untuk kegiatan rehabilitasi Rendahnya penerimaan Negara PNBP yang berasal dari sektor berasal dari provinsi Riau, berimplikasi pada rendahnya Menurut data Dinas Kehutanan Provinsi Riau hasil dari rekonsiliasi penerimaan Negara PNBP

Hasil Rekonsiliasi Provisi Sumber Daya Hutan dan Reboisasi yang diusulkan Departemen PSDH DR

(8)

sektor kehutanan (PSDH/DR), maka diperoleh bagihasil Provinsi Riau dalam kurun waktu 2008

Sedangkang untuk DR 40% untuk provinsi Riau sebesar Rp.540,1Miliyar.

Dana Bagi Hasil PNPB (PSDH/DR) Provinsi Riau 2008 Tahun

2008 Rp 1,728,628,049.00 2009 Rp 45,987,596,334.00 2010 Rp 225,583,874,002.00 2011 Rp 184,940,281,823.00 2012 Rp 81,879,885,439.00 Total Rp 540,120,265,647.00

Sumber : Data rekonsiliasi PSDH/DR Dinas Kehutanan Riau

Penerimaan Negara sektor kehutanan (PSDH) dalam kegunaannya berbeda dengan Dana

kepada daerah dipergunakan sebagai anggaran pembangunan, pengentasan kemiskinan, pendidikan dan kesehatan masyarakat.

jumlah anggaran DBH sektor kehutanan (PSDH), tidak sebanding dampak yang timbul akibat ektraksi hutan.

perimbangan pusat dan daerah baik PNPB maupun pajak, tahun 2010 sampai 2012 PSDH hanya mampu menyumbang antara 0,9

Provinsi Riau.

Grafik. Persentase DBH PSD

Sumber :Fitra Riau, Diolah dari Dokumen APBD Se Provinsi Riau 2010 Rp130.000,00

Rp135.000,00 Rp140.000,00 Rp145.000,00 Rp150.000,00 Rp155.000,00 Rp160.000,00 Rp165.000,00

Millions

sektor kehutanan (PSDH/DR), maka diperoleh bagihasil 80% PS

Provinsi Riau dalam kurun waktu 2008-2012 sebesar Rp.522,4 miliyar.

Sedangkang untuk DR 40% untuk provinsi Riau sebesar Rp.540,1Miliyar.

Dana Bagi Hasil PNPB (PSDH/DR) Provinsi Riau 2008

DR (40%) PSDH (80%)

Rp 1,728,628,049.00 Rp 31,060,033,543.00 Rp 45,987,596,334.00 Rp 41,105,992,527.00 Rp 225,583,874,002.00 Rp 160,953,782,065.00 Rp 184,940,281,823.00 Rp 140,485,743,429.00 Rp 81,879,885,439.00 Rp 148,811,875,710.00 Rp 540,120,265,647.00 Rp 522,417,427,274.00 Sumber : Data rekonsiliasi PSDH/DR Dinas Kehutanan Riau

Penerimaan Negara sektor kehutanan (PSDH) dalam kegunaannya berbeda dengan Dana Reboisasi. Dana bagi hasil PSDH diberikan

dipergunakan sebagai anggaran pembangunan, pengentasan kemiskinan, pendidikan dan kesehatan masyarakat. Namun, jika dilihat dari jumlah anggaran DBH sektor kehutanan (PSDH), tidak sebanding

dampak yang timbul akibat ektraksi hutan. Jika dibandingkan dengan dana perimbangan pusat dan daerah baik PNPB maupun pajak, tahun 2010 sampai 2012 PSDH hanya mampu menyumbang antara 0,9-1,4% dalam APBD se Grafik. Persentase DBH PSDH Terhadap Dana Perimbangan Pusat

Dalam APBD Se Riau 2010-2012

Riau, Diolah dari Dokumen APBD Se Provinsi Riau 2010 Rp160.953,78

Rp140.485,74

Rp148.811,88 1,4%

0,9% 0,9%

Rp130.000,00 Rp135.000,00 Rp140.000,00 Rp145.000,00 Rp150.000,00 Rp155.000,00 Rp160.000,00 Rp165.000,00

2010 2011 2012

PSDH Persentase Dana Perimbang

Page 8 of 13 80% PSDH untuk 2012 sebesar Rp.522,4 miliyar.

Sedangkang untuk DR 40% untuk provinsi Riau sebesar Rp.540,1Miliyar.

Dana Bagi Hasil PNPB (PSDH/DR) Provinsi Riau 2008-2012 PSDH (80%)

Rp 31,060,033,543.00 Rp 41,105,992,527.00 Rp 160,953,782,065.00 Rp 140,485,743,429.00 Rp 148,811,875,710.00 Rp 522,417,427,274.00 Sumber : Data rekonsiliasi PSDH/DR Dinas Kehutanan Riau

Penerimaan Negara sektor kehutanan (PSDH) dalam kegunaannya Dana bagi hasil PSDH diberikan wewenang dipergunakan sebagai anggaran pembangunan, pengentasan Namun, jika dilihat dari jumlah anggaran DBH sektor kehutanan (PSDH), tidak sebanding dengan Jika dibandingkan dengan dana perimbangan pusat dan daerah baik PNPB maupun pajak, tahun 2010 sampai 1,4% dalam APBD se H Terhadap Dana Perimbangan Pusat

Riau, Diolah dari Dokumen APBD Se Provinsi Riau 2010-2012 Rp148.811,88

0,9%

0,0%

0,2%

0,4%

0,6%

0,8%

1,0%

1,2%

1,4%

1,6%

(9)

Inkonsistensi Data DBH

Mekanise pemungutan PNBP sektor hutan (PSDH/DR),

dijelaskan pada pembahasan sebelumnya, bahwa PSDH dipungut oleh petugas teknis yang bentuk oleh dinas kehutanan di daerah provinsi maupun kabupaten/kota. PSDH dikenakan berdasarkan Laporan Hasil Produksi (LHP) dari perusahaan yang disampaikan k

daerah. LHP yang dilaporkan perusahaan kemudian di lakukan cross chek dari laporan Hasil Cruising (LHC). Kemudian petugas pemungut PSDH/DR menerbitkan SPP PSDH dan SPP

penerima (bank) yang ditu

petugas pemungut dalam hal ini DInas Kehutanan didaerah penghasil,menjadi dasar dalam proses rekonsiliasi dengan Departemen kehutanan dan Departemen Keuangan

Namun panjangnya proses pemungutan tesebut masih terdapat selisih antara D

Kehutanan terkait penerimaan Negara PSDH/DR yang diperoleh dari ektraksi hutan di Provinsi Riau

untuk Provinsi Riau yang peraturan menteri keuangan

(PMK), tentang Penetapan Alokasi Dana Bagi Hasil PSDH/DR dari tahun 2008 – 2012 secara kumulatif DBH dari PSDH sebesar Rp. 559,09 Miliyar.

Sedangkan Dana Bagi Hasil DR sebesar Rp. 450,77 Miliyar.

maka antara data Dinas Kehutanan dengan PMK Menteri Keua PSDH selisih Rp. 36,6

Sedangkan untuk Dana Reboisasi

keuangan lebih kecil dari Data rekonsiliasi yang dimiliki Dinas Kehutanan.

Dana Bagi Hasil PSDH/DR Provinsi Riau tahun 2008 Versi PMK Menteri Keuangan Tahun

2008 Rp 74,326,712,628.00 2009 Rp 94,978,561,302.00 2010 Rp 134,509,547,328.00 2011 Rp 115,800,569,216.00 2012 Rp 139,480,571,907.00 Total Rp 559,095,962,381.00

Tahun PSDH(80%)

2008 2009 2010 2011 2012

Total 522,417,427,274

DBH (PSDH/DR)

ekanise pemungutan PNBP sektor hutan (PSDH/DR), sebagaimana dijelaskan pada pembahasan sebelumnya, bahwa PSDH dipungut oleh petugas teknis yang bentuk oleh dinas kehutanan di daerah provinsi maupun PSDH dikenakan berdasarkan Laporan Hasil Produksi (LHP) dari perusahaan yang disampaikan kepada petugas pemungut di LHP yang dilaporkan perusahaan kemudian di lakukan cross chek dari laporan Hasil Cruising (LHC). Kemudian petugas pemungut PSDH/DR menerbitkan SPP PSDH dan SPP-DR, untuk dibayarkan pada bendaharan penerima (bank) yang ditunjuk. Kemudian data PNBP PSDH/DR yang dimiliki petugas pemungut dalam hal ini DInas Kehutanan didaerah penghasil,menjadi dasar dalam proses rekonsiliasi dengan Departemen kehutanan dan Departemen Keuangan di pusat.

panjangnya proses pemungutan PBNP sektor PSDH/DR tesebut masih terdapat selisih antara Data yang dikeluarkan

Kehutanan terkait penerimaan Negara PSDH/DR yang diperoleh dari rovinsi Riau dengan data alokasi dana bagi hasil PSDH/DR yang dikeluarkan departemen kauangan berdasarkan peraturan menteri keuangan. Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan (PMK), tentang Penetapan Alokasi Dana Bagi Hasil PSDH/DR dari tahun 2008 2012 secara kumulatif DBH dari PSDH sebesar Rp. 559,09 Miliyar.

kan Dana Bagi Hasil DR sebesar Rp. 450,77 Miliyar. Secara kumulatif maka antara data Dinas Kehutanan dengan PMK Menteri Keuangan, DBH

Miliyar lebih besar dari data Dinas Kehutanan.

Dana Reboisasi selisih Rp. 89,3 Miliyar, PMK menteri keuangan lebih kecil dari Data rekonsiliasi yang dimiliki Dinas Kehutanan.

Dana Bagi Hasil PSDH/DR Provinsi Riau tahun 2008-2012 Versi PMK Menteri Keuangan

PSDH DR

Rp 74,326,712,628.00 Rp 10,292,812,028.00 Rp 94,978,561,302.00 Rp 29,017,903,342.00 Rp 134,509,547,328.00 Rp 187,308,049,350.00 Rp 115,800,569,216.00 Rp 151,965,865,838.00 Rp 139,480,571,907.00 Rp 72,191,830,962.00 Rp 559,095,962,381.00 Rp 450,776,461,520.00

Versi Dinas Kehutanan

PSDH(80%) DR(40%)

31,060,033,543.00 1,728,628,049.00 41,105,992,527.00 45,987,596,334.00 160,953,782,065.00 225,583,874,002.00 140,485,743,429.00 184,940,281,823.00 148,811,875,710.00 81,879,885,439.00 522,417,427,274,00 540,120,265,647,00

sebagaimana dijelaskan pada pembahasan sebelumnya, bahwa PSDH dipungut oleh petugas teknis yang bentuk oleh dinas kehutanan di daerah provinsi maupun PSDH dikenakan berdasarkan Laporan Hasil Produksi epada petugas pemungut di LHP yang dilaporkan perusahaan kemudian di lakukan cross chek dari laporan Hasil Cruising (LHC). Kemudian petugas pemungut PSDH/DR DR, untuk dibayarkan pada bendaharan Kemudian data PNBP PSDH/DR yang dimiliki petugas pemungut dalam hal ini DInas Kehutanan didaerah penghasil,menjadi dasar dalam proses rekonsiliasi dengan Departemen sektor PSDH/DR dikeluarkan Dinas Kehutanan terkait penerimaan Negara PSDH/DR yang diperoleh dari dengan data alokasi dana bagi hasil PSDH/DR dikeluarkan departemen kauangan berdasarkan . Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan (PMK), tentang Penetapan Alokasi Dana Bagi Hasil PSDH/DR dari tahun 2008 2012 secara kumulatif DBH dari PSDH sebesar Rp. 559,09 Miliyar.

Secara kumulatif ngan, DBH lebih besar dari data Dinas Kehutanan.

, PMK menteri keuangan lebih kecil dari Data rekonsiliasi yang dimiliki Dinas Kehutanan.

Rp 10,292,812,028.00 Rp 29,017,903,342.00 Rp 187,308,049,350.00 Rp 151,965,865,838.00 Rp 72,191,830,962.00 Rp 450,776,461,520.00

1,728,628,049.00 45,987,596,334.00

(10)

Secara akumulatif DBH (

Riau melalui Peraturan Menteri Keuangan (PMK) tahun 2008 besar dibandingkan dengan

Riau yang diusulkan dalam rekonsiliasi. Sementara itu, secara ukumulatif pula DBH (DR) justur alokasi DBH dari pemerintah pusat ke Riau selisih lebih rendah dibandingkan data dari Dinas.

Memang Secara

menunjukkan selisih yang cukup tinggi. Namun

selisih antara laporan Dinas kehutanan dengan PMK Kementrian Keuangan terlihat cukup bersar. Akibat selisih tersebut mengakibatkan potensi kerugian Negara akibat tidak ada kejelasan, tentu dari LHP

PSDH dan SPP-DR. seperti tahun 2010 Keputusan Menteri Keu sebagaimana tertuang dalam PMK

NO242/PMK.07/2010) hanya mengalokasikan DBH 26,4 Miliyar dari data yang diusulkan Dinas Kehutanan.

Tebel. Selisih Alokasi Anggaran antara Data LHP,SPP (PSDH/DR) dari Dinas Kehutanan Dengan PMK Kementrian Kehutanan tahun 2008

Tahun

2008 Rp 43,266,679,085.00 2009 Rp 53,872,568,775.00 2010 Rp (26,444,234,737.00) 2011 Rp (24,685,174,213.00) 2012 Rp (9,331,303,803.00)

Antara pemerintah daerah dengan pemerintah pusat,

fakta kesimpang siuran data sebagai dasar dalam menentukan penerimaan Negara. Hal itu berpotensi terjadi kerugian Negara, padahal pusat memperoleh data dari pemerintah daerah dalam hal

sesuai amanat P.18/Menhut

Selain berpotensi terjadi kerugian Negara,

jumlahnya, inkonsistensi data dari pemerintah daerah dan putusan PMK kementrian keuangan berakibat pula

maupun Kabupaten Kota. Seperti

penerimaan PSDH yang masuk menjadi APBD Riau tahun 2012 sebagaimana PMK pertama tahun anggaran 2012 DBH PSDH untuk provinsi sebesar Rp.

12,03 Miliyar. Perkiraan DBH (PSDH) Provinsi Riau tersebut masih dipakai di dalam penyusunan APBD Riau tahun

sama yaitu Rp. 12,03 Miliyar.

kehutanan telah diterbitkan kembali dengan penetapan alokasi sebesar Rp.

27,8 miliyar. Hal ini jelas berdampak pada penyusunan program, karena menggunakan perkiraan pesimis

Page

Secara akumulatif DBH (PSDH) yang dialokasikan pusat ke Provinsi Riau melalui Peraturan Menteri Keuangan (PMK) tahun 2008-2012, lebih besar dibandingkan dengan Data yang dimilki oleh dinas kehutanan provinsi Riau yang diusulkan dalam rekonsiliasi. Sementara itu, secara ukumulatif justur alokasi DBH dari pemerintah pusat ke Riau selisih lebih rendah dibandingkan data dari Dinas.

Secara kumulatif DBH (PSDH/DR) 2008-2012 tidak menunjukkan selisih yang cukup tinggi. Namun, secara rinci per tah

nas kehutanan dengan PMK Kementrian Keuangan terlihat cukup bersar. Akibat selisih tersebut mengakibatkan potensi kerugian Negara akibat tidak ada kejelasan, tentu dari LHP – LHC, dan SPP

seperti tahun 2010 Keputusan Menteri Keu sebagaimana tertuang dalam PMK Kementrian keuangan

) hanya mengalokasikan DBH (PSDH) selisih lebih sedikit 26,4 Miliyar dari data yang diusulkan Dinas Kehutanan. Lihat tabel dibawah ini.

Selisih Alokasi Anggaran antara Data LHP,SPP (PSDH/DR) dari Dinas Kehutanan Dengan PMK Kementrian Kehutanan tahun 2008-2012

PSDH (80% DR (40%)

Rp 43,266,679,085.00 Rp 8,564,183,979.00 Rp 53,872,568,775.00 Rp (16,969,692,992.00) Rp (26,444,234,737.00) Rp (38,275,824,652.00) Rp (24,685,174,213.00) Rp (32,974,415,985.00) Rp (9,331,303,803.00) Rp (9,688,054,477.00) Antara pemerintah daerah dengan pemerintah pusat, jelas merupak

data sebagai dasar dalam menentukan penerimaan . Hal itu berpotensi terjadi kerugian Negara, padahal pusat memperoleh data dari pemerintah daerah dalam hal ini Dinas Kehutanan

P.18/Menhut-II/2007.

tensi terjadi kerugian Negara, yang tidak sedikit jumlahnya, inkonsistensi data dari pemerintah daerah dan putusan PMK kementrian keuangan berakibat pula penyusunan anggaran (APBD) provinsi maupun Kabupaten Kota. Seperti pada APBD Riau tahun 2012

penerimaan PSDH yang masuk menjadi APBD Riau tahun 2012 sebagaimana PMK pertama tahun anggaran 2012 DBH PSDH untuk provinsi sebesar Rp.

Perkiraan DBH (PSDH) Provinsi Riau tersebut masih dipakai di dalam penyusunan APBD Riau tahun 2013, dengan perkiraan alokasi

sama yaitu Rp. 12,03 Miliyar. Sementara PMK ke dua tentang DBH sektor kehutanan telah diterbitkan kembali dengan penetapan alokasi sebesar Rp.

jelas berdampak pada penyusunan program, karena perkiraan pesimis.

Page 10 of 13 ) yang dialokasikan pusat ke Provinsi

2012, lebih oleh dinas kehutanan provinsi Riau yang diusulkan dalam rekonsiliasi. Sementara itu, secara ukumulatif justur alokasi DBH dari pemerintah pusat ke Riau selisih lebih 2012 tidak , secara rinci per tahunnya, nas kehutanan dengan PMK Kementrian Keuangan terlihat cukup bersar. Akibat selisih tersebut mengakibatkan potensi LHC, dan SPP – seperti tahun 2010 Keputusan Menteri Keuangan

Kementrian keuangan (PMK (PSDH) selisih lebih sedikit Rp.

Lihat tabel dibawah ini.

Selisih Alokasi Anggaran antara Data LHP,SPP (PSDH/DR) dari Dinas 2012

Rp 8,564,183,979.00 Rp (16,969,692,992.00)

Rp (38,275,824,652.00) Rp (32,974,415,985.00) Rp (9,688,054,477.00)

merupakan data sebagai dasar dalam menentukan penerimaan . Hal itu berpotensi terjadi kerugian Negara, padahal pusat Dinas Kehutanan yang tidak sedikit jumlahnya, inkonsistensi data dari pemerintah daerah dan putusan PMK

penyusunan anggaran (APBD) provinsi 12 – 2013, penerimaan PSDH yang masuk menjadi APBD Riau tahun 2012 sebagaimana PMK pertama tahun anggaran 2012 DBH PSDH untuk provinsi sebesar Rp.

Perkiraan DBH (PSDH) Provinsi Riau tersebut masih dipakai di 2013, dengan perkiraan alokasi masih Sementara PMK ke dua tentang DBH sektor kehutanan telah diterbitkan kembali dengan penetapan alokasi sebesar Rp.

jelas berdampak pada penyusunan program, karena

(11)

Peluang Korupsi PNBP Sektor Kehutanan

Sektor kehutanan merupakan sektor industry dengan yang sangat tinggi di Indonesia.

Pemeriksa Keuangan (BPK), tahun 2011 bahwa

pembalakan liar sebesar Rp. 83 Miliyar perhari atau Rp. 30,3 Triliu pertahun atau sebesar 70

datang dari kayu ilegal, sedangan penerimaan Negara yang dipungut dari nilai tegakan kayu baik dalam bentuk PSDH/DR

hanya 20-30%4.

Sumber Daya Hutan di Riau, k

sektor kehutanan tersebut berasal dari berbagai modus perusahaan maupun pemerintah

pembiaran. Hasil audit BPK RI tahun 2009 menunjukkan PSDH / DR yang tidak terpungut sehingga mengakibatkan kerugian negara mencapai Miliyaran Rupiah. Selain fakta

dari tidak ektrasi ilegal yang dilakukan perusahaan sektor kehutanan (PSDH/DR)

dari hal penarikan, pengalokasi Pertama, dalam hal yaitu manipulasi LHP

(P.18/Menhut-II/2007) tentang tata cara pengenaan PSDH/DR, Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) dijadikan sebagai dasar pengenaa

DR. LHP diserahkan kepad kehutanan kabupaten/kota

atas LHP tersebut oleh petugas pemungut

Crussing (LHC) maka petugas pemungut melakukan

disesuaikan dengan LHC/LHP. Dengan demikian mekanisme berpeluang besar hilang

manipulasi LHP/LHC yang dilaporkan oleh perusahaan kepada Dinas kehutanan Kabupaten/kota.

dibayarkan oleh wajib bayar tidak sesuai dengan kondisi senyatanya menyebabkan kerugian negara akibat

wajib bayar. Oleh karena itu maka diperlukan pengawas ek pejabat pemungut (Dinas Kehutanan + perusahaan) yang pengujian dan pengukuran /

LHP/LHC yang dilaporkan perusahaan Kedua, dalam hal pengalokasian merupakan penerimaan negara

penghasil yaitu IUPH, PSDH dan DR.

ditentukan berdasarkan hasil rekonsiliasi triwulan

4RArticle 33 Indonesia (transparansi penerimaan negara sektor kehutanan.

kehutanan merupakan sektor industry dengan revenue loss yang sangat tinggi di Indonesia. Hal itu diperkuat dengan temuan

Pemeriksa Keuangan (BPK), tahun 2011 bahwa kerugian Negara akibat pembalakan liar sebesar Rp. 83 Miliyar perhari atau Rp. 30,3 Triliu

ebesar 70-80% produksi kayu bulat di Indonesia diestimasi , sedangan penerimaan Negara yang dipungut dari baik dalam bentuk PSDH/DR mapun pungutan lainnya Sumber Daya Hutan di Riau, kerugian uang Negara yang berasal dari sektor kehutanan tersebut berasal dari berbagai modus yang dilakukan oleh perusahaan maupun pemerintah yang tidak optimal dan sengaja melakukan . Hasil audit BPK RI tahun 2009 menunjukkan PSDH / DR yang tidak terpungut sehingga mengakibatkan kerugian negara mencapai

Selain fakta-fakta korupsi PBNP sektor kehutanan

ektrasi ilegal yang dilakukan perusahaan, peluang korupsi PNBP (PSDH/DR) sebagaimana diuraikan diatas dapat dilihat penarikan, pengalokasian dan penggunaan (DR).

alam hal penarikan, peluang yang sangat rentan terjadi anipulasi LHP/LHC. Dalam Peraturan Menteri Kehutanan II/2007) tentang tata cara pengenaan PSDH/DR, Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) dijadikan sebagai dasar pengenaan PSDH maupun LHP diserahkan kepada petugas pemungut yang dibentuk oleh dinas kehutanan kabupaten/kota kemudian dilakukan pengukuran dan pengujian atas LHP tersebut oleh petugas pemungut. Jika menggunakan Laporan Hasil Crussing (LHC) maka petugas pemungut melakukan checking croschek

disesuaikan dengan LHC/LHP. Dengan demikian mekanisme

luang besar hilangnya penerimaan negara dari (PSDH/DR) akibat manipulasi LHP/LHC yang dilaporkan oleh perusahaan kepada Dinas kehutanan Kabupaten/kota. Hal itu mengakibat SPP PSDH/D

dibayarkan oleh wajib bayar tidak sesuai dengan kondisi senyatanya menyebabkan kerugian negara akibat tidak dibayarkan sepenuhnya oleh

Oleh karena itu maka diperlukan pengawas eksternal diluar pejabat pemungut (Dinas Kehutanan + perusahaan) yang dilibatkan

pengujian dan pengukuran / checking croschek untuk menyesuaikan data dilaporkan perusahaan sampai dikeluarkan SPP PSDH/DR.

alam hal pengalokasian, bahwa PNBP sektor kehutanan merupakan penerimaan negara yang dibagihasilkan kepada daerah penghasil yaitu IUPH, PSDH dan DR. Alokasi Dana Bagi Hasil (DBH) tersebut berdasarkan hasil rekonsiliasi triwulan-semesteran dan tahunan

RArticle 33 Indonesia (transparansi penerimaan negara sektor kehutanan.

revenue loss Hal itu diperkuat dengan temuan Badan kerugian Negara akibat pembalakan liar sebesar Rp. 83 Miliyar perhari atau Rp. 30,3 Triliun

ndonesia diestimasi , sedangan penerimaan Negara yang dipungut dari mapun pungutan lainnya yang berasal dari yang dilakukan oleh yang tidak optimal dan sengaja melakukan . Hasil audit BPK RI tahun 2009 menunjukkan PSDH / DR yang tidak terpungut sehingga mengakibatkan kerugian negara mencapai fakta korupsi PBNP sektor kehutanan akibat korupsi PNBP dapat dilihat peluang yang sangat rentan terjadi Dalam Peraturan Menteri Kehutanan II/2007) tentang tata cara pengenaan PSDH/DR, Laporan PSDH maupun yang dibentuk oleh dinas kemudian dilakukan pengukuran dan pengujian Jika menggunakan Laporan Hasil checking croschek untuk disesuaikan dengan LHC/LHP. Dengan demikian mekanisme tersebut

penerimaan negara dari (PSDH/DR) akibat manipulasi LHP/LHC yang dilaporkan oleh perusahaan kepada Dinas Hal itu mengakibat SPP PSDH/DR yang dibayarkan oleh wajib bayar tidak sesuai dengan kondisi senyatanya yang tidak dibayarkan sepenuhnya oleh ternal diluar dilibatkan dalam untuk menyesuaikan data sampai dikeluarkan SPP PSDH/DR.

a PNBP sektor kehutanan yang dibagihasilkan kepada daerah lokasi Dana Bagi Hasil (DBH) tersebut semesteran dan tahunan

(12)

antara dinas kehutanan daeran

Keuangan dan kementrian terkait lainnya

LHP wajib bayar. dalam rekonsiliasi tersebut

sesuai peraturan menteri keuangan (PMK) berpeluang terjadinya negosiasi antara dinas kehutanan dan kementrian keuangan

ketidak sesuaian antara data yang diusulkan Dinas Kehutanan kepada Departemen Keuangan atas LHP

Riau. tahun 2008-2012 terdapat selisih

Provinsi Riau dengan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) terkait penetapan alokasi DBH Sektor kehutanan.

Tahun 2008 perbedaan

PMK Departemen Keuangan pada PSDH sebesar Rp. 43,2

8,5 Miliyar. Tahun 2009 selisih PSDH sebesar Rp. 53,8 Miliyar sedangkan DR berkurang sebesar Rp. 16,9 miliyar. Tahun 2010 DBH PSDH/DR yang dialokasikan sesuai PMK/

Dinas Kehutanan, masing

Rp. 38,2 Miliyar (DR). begitu juga tahun 2011 PSDH/DR berkurang masing RP. 24,6 miliyar dan 32,9 miliyar.

yang dialokasikan kementrian keuangan juga berkurang dari data rekonsiliasi masing sebesar Rp. 9,3 miliyar (PSDH) dan Rp. 9,6 miliyar (DR).

Rekomendasi

1. Mendorong pemerintah melalui Departemen Kehutanan, yang bekerja sama dengan pemerintah

nasional (BPN) untuk terus meningkatk

maupun Bukan pajak yang berasal dari pengelolaan SDA kehutanan. Yaitu dengan menertibkan

Hal itu didasarkan pada banyaknya perusahan perkebunan yang melakukan alih fungsi hutan menjadi kelapa sawit tidak jelas izin HGU nya sehingga mengakibatkan tidak maksimalnya penerimaan hutan.

2. Mendorong transparansi penerimaan Negara sector kehutanan dari hulu sampai hilir. Di Sektor hulum yaitu mekanisme penerimaan Negara dimulai dari proses pemberian izin, membuka ruang transparasni laporan hasil produksi (LHP) kehutanan yang dilakukan Dinas Kehutanan

penghasil baik yang menghasilkan PSDH maupun DR. Selanjutnya di sector hilir, mendorong transparansi antara pemerintah pusat dan daerah dalam pembagian dana bagi hasil sector kehutanan, sehingga tidak menimbulkan inkonsistensi data antara pemerinta

melakukan cruising dari LHP dan penetapan pembagian oleh pemeirntah pusat dengan melibatkan pihak independen.

3. Mendorong masyarakat sipil untuk terus mengawasi serta memeonitoring pengelolaan SDA sector kehutanan sampai menjadi penerimaan Ne dengan terus melakukan uji akses data primer yang berkaitan dengan LPH PSDH –DR di lembaga

Page

antara dinas kehutanan daeran – Kementrian Kehutanan dan Kementria Keuangan dan kementrian terkait lainnya guna mengevaluasi antara SPP dan dalam rekonsiliasi tersebut sampai pengalokasian DBH sesuai peraturan menteri keuangan (PMK) berpeluang terjadinya negosiasi antara dinas kehutanan dan kementrian keuangan. Hal itu terlihat dengan ketidak sesuaian antara data yang diusulkan Dinas Kehutanan kepada Departemen Keuangan atas LHP-SPP PSDH/DR yang berasal dari Provinsi 2012 terdapat selisih antara usulan dinas kehutanan Provinsi Riau dengan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) terkait penetapan alokasi DBH Sektor kehutanan.

Tahun 2008 perbedaan nilai pungutan antara dinas kehutanan dengan PMK Departemen Keuangan pada PSDH sebesar Rp. 43,2 Miliyar dan DR Rp.

selisih PSDH sebesar Rp. 53,8 Miliyar sedangkan DR berkurang sebesar Rp. 16,9 miliyar. Tahun 2010 DBH PSDH/DR yang dialokasikan sesuai PMK/2010 lebih sedikit dari nilai DBH yang berasal dari Dinas Kehutanan, masing –masing berkurang Rp. 26,4 Miliyar (PSDH) dan Rp. 38,2 Miliyar (DR). begitu juga tahun 2011 PSDH/DR berkurang masing RP. 24,6 miliyar dan 32,9 miliyar. Tahun 2012 DBH PSDH/DR Provi

yang dialokasikan kementrian keuangan juga berkurang dari data rekonsiliasi masing sebesar Rp. 9,3 miliyar (PSDH) dan Rp. 9,6 miliyar (DR).

Mendorong pemerintah melalui Departemen Kehutanan, yang bekerja sama dengan pemerintah daerah (Dinas Kehutanan) dan badan pertanahan nasional (BPN) untuk terus meningkatkan pemerimaan Negara Pajak maupun Bukan pajak yang berasal dari pengelolaan SDA kehutanan. Yaitu dengan menertibkan izin-izin dalam alih fungsi hutan menjadi perkebunan.

Hal itu didasarkan pada banyaknya perusahan perkebunan yang melakukan alih fungsi hutan menjadi kelapa sawit tidak jelas izin HGU nya sehingga mengakibatkan tidak maksimalnya penerimaan hutan.

g transparansi penerimaan Negara sector kehutanan dari hulu sampai hilir. Di Sektor hulum yaitu mekanisme penerimaan Negara dimulai dari proses pemberian izin, membuka ruang transparasni laporan hasil produksi (LHP) kehutanan yang dilakukan Dinas Kehutanan

penghasil baik yang menghasilkan PSDH maupun DR. Selanjutnya di mendorong transparansi antara pemerintah pusat dan daerah dalam pembagian dana bagi hasil sector kehutanan, sehingga tidak menimbulkan inkonsistensi data antara pemerintah daerah yang melakukan cruising dari LHP dan penetapan pembagian oleh pemeirntah pusat dengan melibatkan pihak independen.

masyarakat sipil untuk terus mengawasi serta memeonitoring pengelolaan SDA sector kehutanan sampai menjadi penerimaan Ne dengan terus melakukan uji akses data primer yang berkaitan dengan LPH

DR di lembaga – lembaga pengelola seperti pemerintah

Page 12 of 13 Kementrian Kehutanan dan Kementria

guna mengevaluasi antara SPP dan engalokasian DBH sesuai peraturan menteri keuangan (PMK) berpeluang terjadinya negosiasi . Hal itu terlihat dengan ketidak sesuaian antara data yang diusulkan Dinas Kehutanan kepada SPP PSDH/DR yang berasal dari Provinsi antara usulan dinas kehutanan Provinsi Riau dengan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) terkait penetapan dinas kehutanan dengan Miliyar dan DR Rp.

selisih PSDH sebesar Rp. 53,8 Miliyar sedangkan DR berkurang sebesar Rp. 16,9 miliyar. Tahun 2010 DBH PSDH/DR yang lebih sedikit dari nilai DBH yang berasal dari masing berkurang Rp. 26,4 Miliyar (PSDH) dan Rp. 38,2 Miliyar (DR). begitu juga tahun 2011 PSDH/DR berkurang masing Tahun 2012 DBH PSDH/DR Provinsi Riau yang dialokasikan kementrian keuangan juga berkurang dari data rekonsiliasi masing sebesar Rp. 9,3 miliyar (PSDH) dan Rp. 9,6 miliyar (DR).

Mendorong pemerintah melalui Departemen Kehutanan, yang bekerja daerah (Dinas Kehutanan) dan badan pertanahan pemerimaan Negara Pajak maupun Bukan pajak yang berasal dari pengelolaan SDA kehutanan. Yaitu izin dalam alih fungsi hutan menjadi perkebunan.

Hal itu didasarkan pada banyaknya perusahan perkebunan yang melakukan alih fungsi hutan menjadi kelapa sawit tidak jelas izin HGU nya sehingga mengakibatkan tidak maksimalnya penerimaan hutan.

g transparansi penerimaan Negara sector kehutanan dari hulu sampai hilir. Di Sektor hulum yaitu mekanisme penerimaan Negara dimulai dari proses pemberian izin, membuka ruang transparasni laporan hasil produksi (LHP) kehutanan yang dilakukan Dinas Kehutanan daerah penghasil baik yang menghasilkan PSDH maupun DR. Selanjutnya di mendorong transparansi antara pemerintah pusat dan daerah dalam pembagian dana bagi hasil sector kehutanan, sehingga tidak h daerah yang melakukan cruising dari LHP dan penetapan pembagian oleh pemeirntah masyarakat sipil untuk terus mengawasi serta memeonitoring pengelolaan SDA sector kehutanan sampai menjadi penerimaan Negara dengan terus melakukan uji akses data primer yang berkaitan dengan LPH-

lembaga pengelola seperti pemerintah

(13)

(Departemn Kehutanan, dinas kehutanan) dan perusahaan pelaku ekploitasi kehutanan di Riau. Serta mendorong

daerah untuk bekerjasama dengan masyarakat sipil untuk bersama melakukan audit.

(Departemn Kehutanan, dinas kehutanan) dan perusahaan – perusahaan pelaku ekploitasi kehutanan di Riau. Serta mendorong pihak pemeirntah daerah untuk bekerjasama dengan masyarakat sipil untuk bersama perusahaan pihak pemeirntah daerah untuk bekerjasama dengan masyarakat sipil untuk bersama

Gambar

Gambar 2. Persentase PNBP Sektor Kehutanan dengan Total PNBP  Pusat
Gambar  diatas  menunjukkan  perbandingan  anta  PBNP  yang  berasal  dari  sektor  kehutanan  dengan  PNBP  yang  berasal  dari  Kementrian  Komunikasi  dan  Informasi  (Keminfo)

Referensi

Dokumen terkait

Secara garis besar metode observasi dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu dengan partisipan dan non partisipan. Maksud dari observasi dengan partisipan yaitu

Pada penelitian ini penulis cenderung menggunakan analisis data dengan menggunakan metode deskriptif analisis, yaitu metode untuk mendeskripsikan atau memberi

Dari hasil analisis ini terlihat bahwa peubah-peubah yang memberikan pengaruh total terhadap konsumsi beras (CBR) adalah jumlah penduduk (POP) dengan koefisien baku mutlak 0,59;

Hasil menunjukkan bahwa Sub DAS Kaliputih mengalami perubahan penggunaan lahan yang cukup signifikan dari hutan menjadi pemukiman dan lahan budidaya, adanya bidang gelincir di

Rumusan Masalah adalah Adakah pengaruh motivasi dan disiplin terhadap kinerja karyawan pada Bank Rakyat Indonesia unit Muara Enim jenis penelitian ini menggunakan jenis..

Tujuan dari penelitian ini secara umum sebagai sarana penyampaian informasi kepada pengguna mengenai kegiatan yang ada dalam Kampus II UIN Alauddin Makassar serta

Permasalahan yang akan dibahas berdasarkan latar belakang penelitian terkait dengan Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) adalah mengenai bagaimana