1456
TANTANGAN DI ERA INDUSTRI 4.0 DALAM
IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PELAYANAN PUBLIK DI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN KOTA
MOJOKERTO
Tanti Dian Lestari1, Rate Sari Fajar2, Desiana Reni D.3 Universitas Islam Majapahit
[email protected], [email protected], [email protected]
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk megetahui serta menganalisis kesiapan pemeritah dalam menghadapi tantangan di era revolusi industri 4.0 pada implementasi kebijakan pelayana publik di dinas perindustrian dan perdagangan (Disperindag) kota Mojokerto dengann memperhatikan indikator keberhasilan dalam implemetasi kebijakan. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Teknik pegumpuan data dilakukan dengan observasi, wawancara serta dokumen dengan menggunakan Teknik analisis deskriptif kualitatif. Penelitian ini dilaksanakan di dinas perindustrian dan perdagangan Kota Mojokerto. Teori yang diguakan pada penelitian ini adalah Teori Merilee S.Grindle tentang implementasi kebijakan. Hasil penelitian menunjukan bahwa dalam pelayanan publik, Disperindag mengupayakan untuk memobilisasi para IKM kota Mojokerto dengan meluncurkan terobosan baru yang memanfaatkan teknologi untuk memasarkan produk-produk industri kecil menengah yang berupa aplikasi Mojomarket dalam arti pasar Mojokerto. Di sisi lain, dalam implementasi suatu kebijakan Disperindag melakukan adanya pembinaan dan pengembangan sarana dan prasarana pendukung untuk meningkatkan perekonomian dan mendorong daya saing industri. Selain itu, tantangan Di era 4.0 yang di alami Disperindag salah satunya terdapat pada SDM di karenakan saat menjalankan aplikasi digitalisasi kurang maksimal.
Selain itu juga, terkait adanya sistem mutasi yang sering di lakukan oleh pemerintah kota Mojokerto menjadi suatu problem tersendiri bagi instansi yang terkait sehingga berakibat pada kekosogan jabatan.
Kata kunci : Industri 4.0, Implementasi Kebijakan, Pelayanan Publik
ABSTRACT
This study aims to determine and analyze the readiness of the government in facing challenges in the era of the industrial revolution 4.0 in the implementation of public service policies in the Mojokerto city industry and trade service by taking into account indicators of success in policy implementation. The research method used in this research is descriptive qualitative. Data collection technique is done by observation, interviews and documents using qualitative descriptive analysis techniques. This research was carried out in Mojokerto City's industry and trade department. The theory used in this study is Merilee S. Grindle's Theory of policy implementation.
The results showed that in public services, Disperindag strives to mobilize Mojokerto city SMIs by launching new breakthroughs that utilize technology to market small and medium industrial products in the form of Mojomarket applications in the sense of the Mojokerto market. On the other hand, in the implementation of a policy the Ministry of Industry and Trade conducts guidance and development of supporting facilities and infrastructure to improve the economy and encourage industrial competitiveness. In addition, one of the challenges faced by Disperindag in the era of 4.0 was on HR because when running digitization applications it was less than optimal. In addition, related to the existence of a mutation system that is often carried out by the Mojokerto city government is a problem for the relevant agencies so that it results in the vacillation of office.
Keywords: Industry 4.0, Policy Implementation, Public Services
PENDAHULUAN
1457 Era reformasi memberikan harapan besar bagi terjadinya perubahan menuju penyelenggaraan yang lebih demokratis, transparan, dan memiliki akuntabilitas tinggi serta akan terwujudnya good governance dengan adanya kebebasan berpendapat (Undang-undang dasar, 1945,60). Reformasi birokrasi merupakan perubahan signifikan (mind-set dan culture-set) elemen-elemen birokrasi, yaitu kelembagaan, sumber daya manusia aparatur, ketatalaksanaan, akuntabilitas, pengawasan, dan pelayanan publik. Reformasi birokrasi merupakan kehendak rakyat yang tertuang dalam TAP MPR-RI Nomor VI/2001 yang mengamanatkan kepada presiden agar membangun kultur birokrasi Indonesia yang transparan, akuntabel, bersih dan bertanggung jawab, serta dapat menjadi pelayanan masyarakat, abdi Negara, dan contoh teladan masyarakat. Pelaksanaan reformasi birokrasi mengacu pada UU 17/2007 tentang RPJPN Tahun 2005-2025, Perpres 5/2010 tentang RPJMN Tahun 2010-2014, permenpan 15/2008 tentang pedoman reformasi birokrasi (Komarudin,2014:01).
Budaya birokrasi tidak dapat dilepaskan dari hubungan relasional birokrasi dengan demokrasi, karena dalam sudut pandang administrasi Negara, isu dikotomi antara demokrasi dan birokrasi selalu muncul terjadi meski dalam kenyataannya demokratisasi tidak bisa berkembang tanpa dukungan birokrasi yang rasional.
Bergulirnya reformasi di Indonesia telah membawa perubahan penting dalam proses demokrasi dan birokrasi di Indonesia, berbagai perkembangan dapat dicatat adalah diterapkannya pemberian otonomi yang lebih luas kepada pemerintah daerah, namun sayangnya perubahan tersebut diatas Nampak tidak terpola dan tersiapkan dengan baik, yang terjadi adalah perubahan yang seringkali tidak terkendali sehingga menciderai nafas demokrasi itu sendiri. Dalam sejarah birokrasi Indonesia, pertumbuhan birokrasi tidak lepas dari dinamika politik dan masyarakat sehingga kultur birokrasi selalu sarat dengan warna politik di zamannya. Pada zaman kemerdekaan (Kumorotomo& Pramusinto,2009, 336:339).
Secara umum, revolusi industri ke-4 ditandai dengan full automation, proses digitalisasi, dan penggunaan alat elektronik dengan sistem informatika. Menurut Sommer, perubahan akibat inovasi tersebut akan berdampak pada industri manufaktur, sektor pelayanan dan jasa, serta kebijakan pemerintah (Roblek,Mesko&Krepes,2016). Dan menurut Jones (1996) mengemukakan bahwa
1458 tahapan-tahapan dalam perumusan kebijakan publik terdapat Perception/definition mendefinisikan masalah adalah tahap awal dari proses kebijakan publik., Aggregation; tahap mengumpulkan orang-orang yang mempunyai pikiran sama dengan pembuat kebijakan atau mempengaruhi orang-orang agar berpikiran sama terhadap suatu masalah. Dan Organization, Representatio, Agenda setting, Formulation serta Legitimation; proses pengesahan dari alternatif yang terpilih.
Keseluruhan proses perumusan kebijakan sampai dengan penetapan kebijakan selalu melibatkan partisipasi masyarakat (Zaenal Muhibudin, 2015, 121).
Dalam UU 25/2009 tentang pelayanan publik menegaskan bahwa pelayanan publik adalah kegiatan atau rangkaian kegiatan dalam rangka pemenuhan kebutuhan pelayanan sesuai dengan peraturan perundang-undangan bagi setiap warga Negara dan penduduk atas barang, jasa, dan/atau pelayanan administratif yang disediakan oleh penyelenggara pelayanan publik. Program peningkatan kualitas pelayanan publik (secara makro) bertujuan meningkatakan kualitas pelayanan publik sesuai kebutuhan dan harapan masyarakat. Target yang ingin dicapai adalah meningkatnya kualitas pelayanan publik kepada masyarakat (transparan, cepat, tepat, sederhana, aman terjangkau, dan memiliki kepastian), meningkatnya jumlah unit pelayanan yang memperoleh standardisasi pelayanan internasional, dan meningkatnya indeks kepuasan masyarakat terhadap penyelenggaraan pelayanan publik (Komarudin, 2019, 01).
Pelayanan publik merupakan sebuah kegiatan yang dilakukan untuk melaksanakan sebuah penyelenggara pemenuhan sebuah kebutuhan dan penerimaan yang didapat oleh masyarakat. Pelaksanaan pelayanan publik dilaksanakan oleh sebuah instansi pemerintah yang dijalankan oleh pejabat/pegawai instansi pemerintah. Instansi pemerintah merupakan sebuah organisasi yang tugasnya untuk membantu pemerintah dalam menjalankan tugasnya yang diantarannya terdapat sebuah aspek-aspek yang harus dipenuhi dalam menjalankannya. Instansi pemerintah merupakan badan usaha milik negara maupun badan usaha milik daerah. Pelayanan publik dapat dikatakan untuk memberikan pelayanan kepada penerima pelayanan publik. Dan penerima pelayanan publik bisa dikatakan sebagai masyarakat karena masyarakat sangat membutuhkan sebuah informasi maupun pelayanan mengenai bentuk
1459 kewarganegaraan bangsa Indonesia, karena hal tersebut merupakan sebuah kebutuhan masyarakat.
Dan ini mengenai permasalahan kesiapan di era 4.0 dalam Implementasi kebijakan pelayanan publik. Bahwasanya hal tersebut membutuhkan proses dalam menjalankannya, serta di era reformasi ini juga banyak sekali perubahan terutama kemajuan pada suatu teknologi yang membuat suatu perubahan pada setiap aspek maupun bidang. Hal tersebut merupakan sebuah tantangan pada sebuah individu maupun kelompok dalam menjalankannya. Dan kemajuan terhadap teknologi juga membutuhkan sebuah adaptasi serta kemampuan Sumber Daya Manusia yang menjalankannya. Perkembangan sebuah teknologi semakin berkembang dengan pesatnya untuk itu harus adanya keseimbangan, dikarenakan Hal tersebut dapat dimanfaatkan dalam membantu masyarakat untuk menyebarkan informasi, memproduksi dan mengolah data. Untuk itu, harus di imbangi dengan adanya sebuah pelatihan dan pengetahuan. Berdasarkan uraian diatas, penulis akan melakukan penelitian mengenai “tantangan diera 4.0 dalam implementasi kebijakan pelayanan publik di dinas perindustriaan dan perdagangan (Disperindag) kota mojokerto.”
TINJAUAN PUSTAKA
Menurut Teori Merilee S. Grindle yang menyatakan bahwa keberhasilan implementasi dipengaruhi oleh dua variabel besar, yakni isi kebijakan dan lingkungan implementasi. Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Mojokerto melaksanakan kebijakan untuk menghadapi permasalahan pada pelayanan publik di era industri 4.0. Dimana pelayanan publik saat ini menjadi suatu instrumen penting untuk mewujudkan pemerintahan yang baik. Untuk mengatahui sejauh mana pemerintah dalam menghadapi tantangan di era industri 4.0 dalam implementasi kebijakan pelayanan publik di dinas Perindustrian dan Perdagangan ini perlu dilakukan penelitian secara mendalam.
Kebijakan Pelayanan Publik
1460 Berdasarkan bagan yang sudah dibuat oleh peneliti bahwasannya dalam menghadapi tangtangan di era 4.0 Dinas perindustrian dan perdagangan kota Mojokerto perlu melakukan adanya suatu pembaharuan dalam mengambil suatu kebijakan khususnya dalam pelayanan publik. Kualitas suatu kebijakan dikatakan baik apabila pada pengimplemasian tersebut berdampak baik terhadap tingkat kepuasan masyarakat dalam suatu pelayanan. Dalam pengimplementasian suatu kebijakan pelayanan publik harus memperhatikan dua hal sebagai berikut: pertama isi kebijakan yang akan membawa perubahan menjadi lebih baik serta konteks dari implementasi kebjakan tersebut. Dalam pengimplementasian suatu kebijakan, terdapat indikator-indikator yang dapat menentukan apakah kualitas kebijakan
Implementasi Kebijakan Pelayanan Publik
Konteks Implementasi Isi Kebijakan
a. kepentingan yang terpengaruhi oleh kebijakan.
b. Jenis manfaat yang akan dihasilkan.
c. Derajat perubahan yang diinginkan.
d. Kedudukan pembuat kebiajakan.
e. (siapa) pelaksana program.
f. Sumber daya yang dihasilkan.
a. Kekuasaan, kepentingan dan strategi actor yang terlibat.
b. Karakteristik lembaga dan penguasa.
c. Kepatuhan dan daya tanggap.
Tantangan di Era Industri 4.0 Hambatan Implementasi Kebijakan
Pelayanan Publik
1461 tersebut dapat membawa peningkatan dalam pelayanan atau tidak. Indikator- indikator tersebut antara lain: a). kepentingan yang terpenuhi oleh kebijaka, b) jenis manfaat yang akan dihasilkan, c) derajat perubahan yang diinginkan, d) siapa, pelaksana suatu program, f) sumber daya yang dihasilkan. Serta terdapat pula konteks dari pengimplementasian suatu kebijakan antara lain: kekuasaan kepentingan dan strategi aktor yang terlibat, dan karakter Lembaga dan penguasa, serta kepatuhan dan daya tanggap.
Oleh karena itu untuk mengetahui sejauh mana pemerintah dalam menghadapi tantangan era revolusi industri 4.0 dalam implementasi kebijakan pelayanan publik di dinas perindustrian dan perdagangan ini perlu dilakukan penelitian secara mendalam. Dan dari evaluasi kebijakan melalui indikator tersebut dapat diketahui bagaimana implementasi kebijakan dalam pelayanan publik dan bagaimana pula kesiapan pemerintah dalam mengahadapi tantangan di era industri 4.0 di dinas perindustrian dan perdagangan kota Mojokerto.
METODE PENELITIAN
Metode Penelitian ini menggunakan metode Kualitatif Deskriptif yaitu suatu penelitian yang bertujuan untuk memperoleh gambaran untuk mendeskripsikan serta menganalisis suatu fenomena yanga ada, dengan upaya mendeskripsikan, mencatat, analisis dan menginterpretasikan kondisi-kondisi yang terjadi. Penelitian deskriptif bertujuan untuk memperoleh informasi-informasi mengenai keadaan saat ini dan berkaitan dengan variabel-variabel yang ada (Mardalis, 2006, 26).
Menurut Creswell, Penelitian Kualitatif Merupakan sebuah metodologi yang jelas serta mengeksplorasi masalah social dan manusia atau dapat dikatakan suatu proses atau pemahaman mengenai fenomena yang terjadi di dalam masyarakat atau bisa dikatakan mengesplorasi masalah social yang terjadi dan metode yang digunakan biasannya menggunakan sebuah deskriptif atau analisa.
Sedangkan Menurut Bongdan dan Taylor penelitian kualitatif merupakan penelitian yang berorientasi pada hasil wawancara maupun studi lapangan dengan subjek sebuah penyidikan yang dilakukan kepada sebuah organisasi maupun individu.
1462 Menurut Moleong yang menyatakan bahwa sumber data utama dalam penelitian yaitu sumber data primer dan sekunder. Data primer adalah data yang diambil dari sumber data secara langsung oleh peneliti yaitu melalui wawancara serta observasi. Sedangkan data sekunder yaitu data yang diperoleh dari bahan kepustakaan yang relevan dengan permasalahan yang diteliti (Moleong&Lexy, 2014).
HASIL DAN PEMBAHASAN
Awal mula adanya revolusi industry dimulai dari industry 1.0, 2.0, 3.0 dan 4.0. dimana revolusi industri 1.0 pada saat itu ditandai dengan sebuah proses produksi yang dapat mebantu manusia dalam mempermudah suatu pekerjaan kemudian revolusi industri 2.0 dengan adannya sebuah standar mutu dalam memproduksi misalnya terdapat alat tenaga listrik, dan revolusi industri 3.0 yang ditandai dengan sebuah proses produksi yang berbasis teknologi misalnya adanyanya alat computer yang saat ini masih beradaptasi kepada massyarakat, sedangkan revolusi industry 4.0 ditandai dengan sebuah aplikasi yang berbasis teknologi atau digitalisasi yang dapat mempengaruhi SDM serta pola piker dan interaksi manusia.
Kemajuan teknologi memungkinkan terjadinya otomatisasi hampir di semua bidang. Teknologi dan pendekatan baru yang mengabungkan dunia fisik, digital, dan biologi secara fundamental akan mengubah pola hidup dan interaksi manusia (Muhammad yahya, 2018, 1:2). Dan di indonesia dalam revolusi industri 4.0 masih sebuah proses dalam implementasiannya maupun menjalankannya, dikarenakan hal tersebut sangat berpengaruh pada SDM serta sarana prasarana yang mendukung, untuk itu membutuhkan sebuah adaptasi, Dan juga dengan adanya sebuah digitalisasi dapat membantu dalam informasi maupun dapat mempermudah serta mempercepat suatu pekerjaan.
Berdasarkan KEP. MENPAN No 63/2003 mengenai prinsip-prinsip dalam penyelenggara pelayanan meliputi sebuah kesederhanaan, prosedur dalam menjalankan pelayanan publik haruslah memudahkan masyarakat untuk memahami dan melaksanakanny, dan sebuah kejelasan dapat meliputi persyaratan teknis dalam melaksanakan pelayanan, para aparat penyelenggara pelayanan publik
1463 wajib bertanggung jawab dalam memberikan pelayanan hingga menyelesaikan persoalan, serta aparat penyelenggara harus menjelaskan mengenai tata cara pembayaran beserta rincian biayanya. Serta adanya sebuah kepastian waktu, dalam pelayanan publik misalnya para aparat pelaksana pelayanan publik harus dapat menyelesaikan persoalannya dalam kurun waktu yang telah ditetapkan, dan juga terdapat sebuah akuraai hasil dari penyelesaian terhadap persoalan tersebut harus diterima dengan benar, tepat, dan sah serta adanya sebuah keamanan pelayanan publik harus memberikan kenyamanan dan keamanan kepada masyarakat, tanggung jawab aparat penyelenggara yang ditunjuk sebagai seorang pemimpin harus memiliki tanggung jawab dalam menyelesaikan setiap persoalan pada pelaksanaan pelayanan public, dan juga terdapat sebuah kelengkapan pada Sarpras, dalam menjalankan pelayanan publik dibutuhkan sarpras yang memadai, seperti peralatan kerja, perlengkapan kerja serta perlengkapan pendukung lainnya.
Kemudahan akses dalam pelayanan publik kemudahan informasi dan akses sangat diprioritaskan dikarenakan untuk memudahkan masyarakat dalam memanfaatkan teknologi telematika, kedisiplinan, kesopanan dan keramahan dalam memberi pelayanan publik harus memiliki etika dalam bersikap sopan dan santun, ramah kepada masyarakat serta ikhlas dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat dengan baik, serta kenyamanan dalam menjalankan pelayanan publik biasanya harus sesuai dengan yang ditetapkan. Misalnya adanya fasilitas yang terpenuhi sopan santun dalam beraktifitas serta mudah mengakses informasi.
Selain itu juga, terdapat adanya standar pelayanan publik yang menjadi tolak ukur keberhasilan dalam penyelenggaraan suatu pelayanan yang wajib ditaati oleh semua elemen baik pemberi atau penerima pelayanan yang meliputi prosedur pelayanan yang wajib ditaati baik pemmberi maupun penerima pelayanan, waktu penyelesaian ditetapkan sejak pengajuan permohonan sampai dengan penyelesaian, serta biaya pelayanan, rincian tarif yang ditetapkan dalam proses pemberian pelayanan dan adanya produk pelayanan yang hasilnya akan diterima sesuai dengan pengajuan permohonan. Dan sarana prasarana merupakan persediaan untuk pelayanan yang harus dipenuhi oleh suatu penyelenggara pelayanan publik. Dan kopetensi dari petugas pelayanan harus memiliki pengetahuan, keahlian, keterampilan, sikap dan perilaku yang telah ditetapkan.
1464 Juga terdapat adanya suatu pengawasan yang telah ditetapkan sesuai dengan Kep.Menpan No.63/2004, dimana pengawasan tersebut dilakukan dengan cara sebagai berikut yaitu pengawasan melekat, pengawasan yang dilakukan secara langsung oleh atasan terhadap bawahannya, pengawasan fungsional pengawasan yang dilakukan oleh aparat pengawas sesuai dengan funsinya masing-masing dan sesuai dengan yang telah ditetapkan undang-undang serta adanya pengawasan masyarakat, pengawasan yang dilakukan oleh masyarakat tentang baik buruknya suatu pelayanan yang berupa suatu laporan/pengolaan.
(Komarudin, 2014, 87). Pimpinan suatu penyelenggara pelayanan publik wajib menggadakan tujuan diadakannya evaluasi agar dapat mengontrol kinerja dari para penyelenggara pelayanan public tersebut. Supaya dapat bekerja dengan baik sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan. Kegiatan evaluasi ini dilakukan secara berturut turut yang hasilnya akan dilaporkan kepada pimpinan tertinggi dalam suatu penyelenggara pelayanan publik tersebut. Penyelenggara pelayanan publik yang dinilai memiliki kinerja baik akan diberikan suatu penghargaan supaya dapat memberikan motivasi bagi pegawai yang lain agar lebih meningkatkan pelayanannya dengan baik. Sedangkan para penyelenggara pelayanan publik yang ddinilai memiliki kinerja buruk dalam arti belum sesuai dengan yang diharapkan masyarakat maka perlu dilakukan suatu peningkatan dalam kompetensi untuk itu, dalam melakukan evaluasi kinerja pegawai pelayanan publik haruslah menggunakan suatu indicator yang jelas dan struktur yang sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan. (Komarudin, 2014, 88).
Penelitian ini menunjukkan bahwa dalam implementasi kebijakan pelayanan publik terdapat 3 aspek yaitu kebijakan, Implementasi,serta pelayanan publik. bahwa 3 aspek tersebut dapat berimplementasi dengan baik maka tantangan di era 4.0 dapat dijalankan dengan baik. Untuk itu, kami melakukan observasi yang akan kami analisis sebagai berikut:
1. Kebijakan
Menurut carl friedrich yang menyatakan bahwa kebijakan merupakan suatu arah tindakan yang diusulkan oleh sekelompok orang dalam lingkungan tertentu
1465 yang dapat memberikan kesempatan atau hambatan terhadap kebijakan yang telah diusulkan untuk menggunakan atau mengatasi dalam rangka mencapai tujuan tertentu. Oleh karena itu, diperlukan suatu kajian yaitu studi implementasi kebijakan yang bertujuan untuk menilai keberhasilan sebuah kebijakan. Salah satunya pada Oleh karena itu diperlukan suatu kajian tentang studi implementasi kebijakan yang bertujuan untuk menilai keberhasilan sebuah kebijakan. Salah satunya jika dilihat dari aspek sumber daya di dinas terkait. Penerapan implementasi selain harus dijalankan dengan jelas, cermat dan konisten, juga diperlukan suatu sumber daya agar pengimplementasian dapat berjalan dengan efektif dan efisien. Sehingga sumber daya dapat mempengaruhi keefektifan suatu pengimplementasian kebijakan, dimana sumber daya yang dimaksud meliputi,staf, informasi, wewenang serta fasilitas pendukung lainnya.
2. Implementasi
Tujuan dan sasaran strategi Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) untuk meningkatkan industri dalam memperkuat jaringan cluster antara industri kecil, menengah dan besar serta pelaku usaha lainnya. Untuk meningkatkan perekonomian dan meningkatkan kemampuan penguasaan teknologi industri dan perluasan penerapan standard produk yang mendorong daya saing industri. Serta pembinaan dan pengembangan sarana dan prasarana pendukung usaha industri dan perdagangan. Sasarannya meningkatnya jumlah IKM yang melakukan kerjasama dengan industri swasta. Dan meningkatnya kualitas dan kapasitas produksi yang dihasilkan IKM. Serta meningkatnya komoditas barang dan jasa yang tersedia dan omset penjualan produk IKM. Karakteristik kelembagaan di Dinas Perindustrian dan perdagangan. Implementai dalam menjalankan aplikasi digitalisasi di dinas Disperindag yaitu dengan adanya MOJOMARKET.
3. Pelayanan Publik
Prinsip-prinsip Pelayanan publik terdapat kesederhanaan, tanggung jawab, kelengkapan sarana dan prasarana, serta adanya kemudahan akses mencari informasi serta kedisiplinan, kesopanan dan keramahan dan kenyamanan dalam melayani masyarakat serta tepat waktu. Berdasarkan prinsip pelayanan publik di dinas perindustrian dan perdagangan (Disperindag) bahwasannya dinas tersebut
1466 sudah menerepkan adanya prinsip kesederhanaan. Dimana dalam prosedur pelayanan publik salah satunya yang dirasakan oleh masyarakat yakni prosedur yang tidak berbelit-belit dan mudah dilaksanakan. kemudian terkait prinsip tanggunjawab yang dilakukan oleh pejabat yang ditunjuk dalam menyelesaikan persoalan pada pelayanan publik tersebut sudah diterapkan dengan baik.
Selanjutnya kelengkapan sarana prasarana pada dinas perindustrian dan perdagangan sudah terpenuhi dengan baik. Hal tersebut terkait dengan adanya penyediaan peralatan kerja seperti komputer, printer serta perlengkapan yang mendukung seperti adanya sambungan internet/wifi.
Dari hasil observasi yang kami lakukan bahwa kebijakan dan lingkungan merupakan hal yang berpengaruh dalam menjalankan 4.0 dan di dinas perindustrian dan perdagangan, kebijakan di (Disperindag) salah satunnya untuk memajukan perekonomian yang ada di kota mojokerto salah satunya dengan adanya pembinaan industri dan perdagangan, menyusun perencanaan kegiatan serta alat ukur kinerja pelayanan bagi dinas perindustrian dan perdagangan kota mojokerto. Salah satu tujuan yang ada di dinas perindustrian dan perdagangan antara lain; meningkatkan pelayanan prima kepada publik, dan mengembangkan pemikiran, sikap dan tindakan yang orientasi pada masa depan.
Dalam pelayanan publik di disperindag dengan mengupayakan memobilisasi para industri kecil menengah di kota Mojokerto. Dinas perindustrian dan perdagangan kota Mojokerto telah meluncurkan terobosan baru yang memanfaatkan teknologi untuk memasarkan produk-produk industri kecil menengah kota mojokerto yaitu dengan dibuatnya aplikasi Mojomarket yang memiliki arti pasar Mojokerto. Di dalam aplikasi ini pula pelaku ekonomi masyarakat kota Mojokerto diberikan ruang seluas-luasnya untuk memasarkan produknya. Pelayanan publik dalam Disperindag terdapat kesederhanaan dalam pelayanan, tidak berbelit-belit, mudah dipahami dan mudah dilaksanakan.
“Dan menurut Pak Ismail selaku Kepala Bidang Perencanaan dan Keuangan bahwa strategi yang telah dibuat ialah apabila para industri kecil menengah di kota mojokerto antusias untuk bergabung dalam program MOJOMARKET untuk itu mereka diberikan sebuah pelatihan tentang meningkatkan kualitas dalam pengemasan, pemasaran, pelayanan dan sebagainnya. Dan menurut beliau bahwa sering dijumpai bahwa kebanyakan masyarakat telah memanfaatkan teknologi untuk bertransaksi barang maupun jasa karena disamping lebih memudahkan dan tidak berbelit-belit bagi konsumen, dan hal
1467 tersebut merupakan sebuah langka Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Mojokerto untuk memajukan perekonomian Kota Mojokerto.”
Untuk itu, tantangan dalam era 4.0 yang dialami di dinas Disperindag dalam manegemen organisasi yaitu adanya sistem mutasi yang sering dilakukan oleh pemerintah kota Mojokerto menjadi suatu problem tersendiri bagi instasi yang terkait, bahwa system mutasi ini mengakibatkan alur pekerjaan di instansi terganggu. Akibatnya aparatur yang terkena mutasi secara tidak langsung akan meninggalkan jabatan dan berakibat pada kekosongan jabatan.
“Menurut Bapak Ismail selaku Bidang Perencanaan dan Keuangan mengatakan bahwa apabila terjadi kekosongan jabatan di dinas terkait pihak dinas belum mempunyai kewenangan untuk menyelenggarakan perekrutan pegawai baru tetapi dinas bisa merekomendasikan kepada Lembaga di pemerintah kota Mojokerto khususnya di Lembaga bidang kepegawaian daerah untuk mengadakan perekrutan pengisisan jabatan di dinas yang terkait”
Dan dapat disimpulkan bahwa tantangan di era 4.0 dalam implementasi kebijakan pelayanan publik, masih beradaptasi khususnya dalam bidang SDM dikarenakan masih terkendala dalam pengoperasiannya untuk itu membutuhkan sebuah pelatihan untuk menjalankan aplikasi digitalisasi. Selain itu juga terkendala pada Menegemen Organisasinya dikarenakan adanya suatu problem dalam system mutase yang akan berakibat pada suatu pekerjaan dan aparatur, jika hal tersebut terjadi maka dalam menjalankan aplikasi MOJOMARKET terkendala sehingga dalam pelayanan masih belum maksimal.
KESIMPULAN
Di era revolusi industri 4.0 ditandai dengan adanya sebuah alat digitalisasi seperti adanya aplikasi dan sebuah situs serta web tujuannya untuk mempermudah sebuah informasi, dan hal tersebut didukung dengan alat-alat teknologi yang canggih. Adanya revolusi industri 4.0 ditandai dengan kemajuan zaman, dan di indonesia dalam revolusi industri 4.0 masih sebuah proses dalam implementasiannya maupun menjalankannya, karena dalam hal tersebut sangat berpengaruh pada SDM serta sarana prasarana yang mendukung, tetapi juga dengan adanya sebuah digitalisasi dapat membantu dalam informasi maupun dapat mempermudah serta mempercepat suatu pekerjaan.
1468 Dari hasil observasi yang dilakukan di dinas perindustrian dan perdagangan kota Mojokerto mengenai tantangan di era 4.0, dalam implementasi kebijakan pelayanan publik bahwa kebijakan dan lingkungan merupakan hal yang berpengaruh dalam menjalankan 4.0. di dinas perindustrian dan perdagangan sudah adanya digitalisasi yaitu adanya MOJOMARKET sebuah aplikasi dengan tujuan menumbuhkan jiwa kreatifitas masyarakat kota Mojokerto serta menciptakan lebih banyak lagi industri-industri kecil yang berada di kota Mojokerto. Dan dibuatnya aplikasi berbasis online yang dinamakan mojomarket yang bertujuan untuk memanfaatkan teknologi saat ini yang sudah canggih serta maraknya masyarakat yang melakukan jual beli barang maupun jasa berbasis online. Dan tujuan adanya aplikasi mojomarket ini adalah memasarkan produk-produk maupun jasa dari industri kecil menengah masyarakat kota Mojokerto lebih luas dan diharapkan dapat mendongkrak pendapatan para pelaku industri kecil menengah masyarakat kota Mojokerto. Dan salah satu dari kebijakan di dinas perindustrian dan perdangangan yaitu memajukan perekonomian yang ada di kota Mojokerto.
Tantangan dalam era revolusi industri 4.0 yang dialami di dinas perindustrian dan perdagangan kota Mojokerto bahwa dalam implementasi kebijakan pelayanan publik, masih terkendala dalam bidang SDM dikarenakan Sumber Daya Manusia masih terbatas dan membutuhkan sebuah pelatihan untuk kesiapan dalam menjalankan aplikasi digitalisasi, selain itu juga tantangan juga terdapat pada Managemen Organisasinnya dikarenakan masih adanya suatu problem dalam bekerja sehingga dalam menjalankan aplikasi MOJOMARKET terkendala sehingga dalam pelayanan masih belum maksimal.
Menurut kami bahwa tantangan di dinas perindustrian dan perdagangan terdapat terkendala pada bidang Sumber Daya Manusinnya dikarenakan kesiapan dan dalam pengimplementasiannya mengenai sebuah teknologi belum maksimal dan masih membutuhkan sebuah pelatihan. Sedangkan dalam managemen organisasi juga masih adanya sebuah permasalahan untuk itu membutuhkan sebuah pemimpin yang baik dalam membuat kebijakan serta membutuhkan pelatihan dalam kesiapan mengahadapi revolusi industri 4.0.
1469 DAFTAR PUSTAKA
Buku :
Sekertariat Jenderal MPR RI. (2018) Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan ketetapan Majelis permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia. Jakarta
Komarudin. (2014). Reformasi Birokrasi dan Pelayanan Publik. Penerbit:
Genesindo.
Wahyudi, Kumorotomo., Agus Pramusinto. (2009). Governance reform di Indonesia, Yogyakarta : Gaya Media.
Roblek, Mesko, Krapes. (2016). A Complex View of Industry 4.0. Slovenia: Sage Publication.
Mukarom, Zaenal ., Laksana Muhibudin Wijaya. (2015) . Manajemen Pelayanan Publik. CV: Pustaka Setia.
Mardalis. (2006). Metode penelitian suatu pendekatan proposal. Jakarta: PT Bumi Aksara.
Ahmadi, Rulam. (2016). Metodologi Penelitian Kualitatif. Yogyakarta: AR-Ruzz Media.
Moleong, Lexy J. (2014). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Sdakarya.
Journal :
Ristyandi, Riski.(2020). Bureaucratic Disruption and Threats of Unemployment in the Industrial Revolution 4.0 Era. Journal of Local Government Issues, 3(1), 86-97, DOI: https://doi.org/10.22219/logos.v3i1.10923.
Yahya, Muhammad. (2018). Era Industri 4.0 Tantangan dan peluang perkembangan Pendidikan kejuruan Indonesia. Univertas Negeri Makassar.
Trinanti, Merista. (2013). Studi Mengenai Implementasi Kebijakan Program Layanan Referensi di Perpustakaan Universitas Surabaya. Universitas Airlangga.