Astri Aziz Ayuningtyas, 2014
No.Daftar/FPEB/546/UN.40.7.D1/LT/2014
INTENSI KEWIRAUSAHAAN
(Studi Deskriptif pada Siswa SMK Negeri Kota Bandung)
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Sebagian dari Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
Program Studi Pendidikan Ekonomi
Oleh :
ASTRI AZIZ AYUNINGTYAS
0906471
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN EKONOMI
FAKULTAS PENDIDIKAN EKONOMI DAN BISNIS
Astri Aziz Ayuningtyas, 2014
INTENSI KEWIRAUSAHAAN
LEMBAR HAK CIPTA
INTENSI KEWIRAUSAHAAN
(Studi Deskriptif pada Siswa SMK Negeri Kota Bandung)
Oleh
Astri Aziz Ayuningtyas
Sebuah skripsi yang diajukan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Pendidikan pada Fakultas Pendidikan Ekonomi dan Bisnis
© Astri Aziz Ayuningtyas 2014 Universitas Pendidikan Indonesia
Oktober 2014
Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.
Astri Aziz Ayuningtyas, 2014
LEMBAR PENGESAHAN
INTENSI KEWIRAUSAHAAN
(Studi Deskriptif pada Siswa SMK Negeri Kota Bandung)
Bandung, Oktober 2014
Skripsi ini disetujui oleh :
Pembimbing
Dr. Hj. Sumartini, MP NIP. 19590830 198601 2 001
Mengetahui,
Ketua Program Studi Pendidikan Ekonomi Fakultas Pendidikan Ekonomi dan Bisnis
UPI Bandung
Dr. Ikaputera Waspada, M.M
Astri Aziz Ayuningtyas, 2014
ABSTRAK
INTENSI KEWIRAUSAHAAN
(Studi Deskriptif pada Siswa SMK Negeri Kota Bandung) di bawah bimbingan Dr. Hj. Sumartini, MP
Oleh
Astri Aziz Ayuningtyas 0906471
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui deskripsi intensi kewirausahaan siswa SMK Negeri di Kota Bandung yang ditinjau dari aspek karakteristik kepribadian yang meliputi need for achviement, locus of control dan self-efficacy, aspek karakteristik demografis yang meliputi gender, pendidikan dan pengalaman praktek kerja dan aspek karakteristik lingkungan yang meliputi akses kepada modal, informasi dan jaringan sosial.
Jenis penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan menggunakan survei. Pengolahan data menggunakan statistika deskriptif dan teknik analisis crosstab. Objek dalam penelitian ini adalah intensi kewirausahaan siswa dan subjek dalam penelitian ini adalah siswa SMK Negeri di Kota Bandung. Teknik pengumpulan data menggunakan instrumen angket dengan jumlah sampel 350 orang siswa yang diambil secara proportionate random sampling.
Hasil penelitian membuktikan bahwa intensi kewirausahaan siswa SMK Negeri di Kota Bandung tergolong cukup baik karena semua indikator-indikator yang digunakan dalam penelitian ini yaitu aspek karakteristik kepribadian yang meliputi need for achviement, locus of control dan self-efficacy, aspek karakteristik demografis yang meliputi gender, pendidikan dan pengalaman praktek kerja dan aspek karakteristik lingkungan yang meliputi akses kepada modal, informasi dan jaringan sosial menunjukan hasil yang baik. Artinya siswa SMK Negeri di Kota Bandung sudah banyak yang memiliki niat berwirausaha.
ABSTRACT
THE ENTREPRENEURIAL INTENTION
(The Descriptive Study toward Students at SMK Negeri Bandung) Under the guidance of Dr. Hj. Sumartini, MP
By
Astri Aziz Ayuningtyas 0906471
This research has a purpose to find out the descriptive intention of student's entrepreneurial at SMK Negeri Bandung that is reviewed from the personality characteristic aspect that include need for achviement, locus of control and self-efficacy, demographic characteristic aspect that include gender, education and work practice experience and environment characteristic aspect that include access to capital, information and social network.
The kind of this research is the descriptive study with using survey. The data processing used a descriptive statistic and techniques used crosstab. The Object in this research is students entrepreneurial intention and the subject of this research is students in SMK Negeri Bandung. The data collection uses a questionnaire as an instrument of 350 samples of students which are determined by proportionate random sampling.
The result of this research proved the intention of students entrepreneurial at SMK Negeri Bandung was good because all the indicators used in this research namely personality characteristic aspect that include need for achviement, locus of control and self- efficacy, demographic characteristic aspect that include gender, education and work practice experience and environment characteristic aspect that include access to capital, information and social network showed good results. It mean that students at SMK Negeri Bandung already a lot that own entrepreneurial intention.
Astri Aziz Ayuningtyas, 2014
INTENSI KEWIRAUSAHAAN
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... Error! Bookmark not defined.
UCAPAN TERIMA KASIH ... Error! Bookmark not defined.
ABSTRAK ... Error! Bookmark not defined.
DAFTAR ISI ... vi
DAFTAR TABEL... Error! Bookmark not defined.
DAFTAR GAMBAR ... ix
BAB I PENDAHULUAN ... Error! Bookmark not defined.
1.1. Latar Belakang ... Error! Bookmark not defined.
1.2. Rumusan Masalah ... Error! Bookmark not defined.
1.3. Tujuan Penelitian ... Error! Bookmark not defined.
1.4. Manfaat Penelitian ... Error! Bookmark not defined.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN .... Error! Bookmark not defined.
2.1. Tinjauan Pustaka ... Error! Bookmark not defined.
2.1.1. Konsep Intensi ... Error! Bookmark not defined.
2.1.1.1. Pengertian Intensi ... Error! Bookmark not defined.
2.1.2. Konsep Kewirausahaan ... Error! Bookmark not defined.
2.1.2.1. Pengertian Kewirausahaan ... Error! Bookmark not defined.
2.1.2.2. Ciri-ciri Kewirausahaan ... Error! Bookmark not defined.
2.1.2.3. Model Proses Kewirausahaan ... Error! Bookmark not defined.
2.1.3. Konsep Intensi Kewirausahaan ... Error! Bookmark not defined.
2.1.3.1. Pengertian Intensi Kewirausahaan ... Error! Bookmark not defined.
2.1.3.2. Indikator Intensi Kewirausahaan ... Error! Bookmark not defined.
2.1.3.3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Intensi Kewirausahaan ... Error! Bookmark not defined.
2.1.3.4. Intensi Kewirausahaan Berdasarkan Karakteristik Kepribadian ... Error! Bookmark not defined.
Astri Aziz Ayuningtyas, 2014
2.1.3.6. Intensi Kewirausahaan Berdasarkan Karakteristik Lingkungan ... Error! Bookmark not defined.
2.2. Penelitian Terdahulu ... Error! Bookmark not defined.
2.3. Kerangka Pemikiran ... Error! Bookmark not defined.
BAB III METODE PENELITIAN ... Error! Bookmark not defined.
3.1. Objek Penelitian ... Error! Bookmark not defined.
3.2. Metode Penelitian ... Error! Bookmark not defined.
3.3. Definisi Operasional Variabel ... Error! Bookmark not defined.
3.4. Teknik Pengumpulan Data... Error! Bookmark not defined.
3.4.1. Data Primer ... Error! Bookmark not defined.
3.4.2. Data Sekunder ... Error! Bookmark not defined.
3.5. Populasi dan Sampel ... Error! Bookmark not defined.
3.5.1. Populasi ... Error! Bookmark not defined.
3.5.2. Sampel... Error! Bookmark not defined.
3.6. Pengujian Instrumen Penelitian ... Error! Bookmark not defined.
3.6.1. Uji Validitas ... Error! Bookmark not defined.
3.6.2. Uji Reliabilitas ... Error! Bookmark not defined.
3.7. Teknik Analisis Data ... Error! Bookmark not defined.
3.7.1. Cross Tab ... Error! Bookmark not defined.
BAB IV PEMBAHASAN ... Error! Bookmark not defined.
4.1. Gambaran Umum Objek Penelitian ... Error! Bookmark not defined.
4.2. Gambaran Umum Responden ... Error! Bookmark not defined.
4.2.1. Karakeristik Responden Berdasarkan Asal Sekolah .... Error! Bookmark not defined.
4.2.2. Karakeristik Responden Berdasarkan Usia .... Error! Bookmark not defined.
4.2.3. Karakeristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin .. Error! Bookmark not defined.
4.2.4. Karakeristik Responden Berdasarkan Bidang Studi Keahlian ... Error! Bookmark not defined.
Astri Aziz Ayuningtyas, 2014
INTENSI KEWIRAUSAHAAN
4.2.6. Karakteristik Responden Berdasarkan pekerjaan Ibu .. Error! Bookmark not defined.
4.3. Gambaran Umum Variabel Penelitian ... Error! Bookmark not defined.
4.3.1. Deskripsi Intensi Kewirausahaan ... Error! Bookmark not defined.
4.3.2. Deskripsi Karakteristik Kepribadian ... Error! Bookmark not defined.
4.3.3. Deskripsi Karakteristik Demografis ... Error! Bookmark not defined.
4.3.4. Deskripsi Karakteristik Lingkungan ... Error! Bookmark not defined.
4.4. Teknik Analisis Data ... Error! Bookmark not defined.
4.4.1. Analisis Crosstab Intensi Kewirausahaan ... Error! Bookmark not defined.
4.4.2. Analisis Crosstab Karakteristik Kepribadian . Error! Bookmark not defined.
4.4.3. Analisis Crosstab Karakteristik Demografis .. Error! Bookmark not defined.
4.4.4. Analisis Crosstab Karakteristik Lingkungan . Error! Bookmark not defined.
4.5. Pembahasan Hasil Penelitian ... Error! Bookmark not defined.
4.5.1. Intensi Kewirausahaan Dilihat dari Karakteristik Kepribadian ... Error! Bookmark not defined.
4.5.2. Intensi Kewirausahaan Dilihat dari Karakteristik Demografis ... Error! Bookmark not defined.
4.5.3. Intensi Kewirausahaan Dilihat dari Karakteristik Lingkungan ... Error! Bookmark not defined.
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... Error! Bookmark not defined.
5.1. Kesimpulan ... Error! Bookmark not defined.
5.2. Saran ... Error! Bookmark not defined.
DAFTAR PUSTAKA ... Error! Bookmark not defined.
Astri Aziz Ayuningtyas, 2014
DAFTAR TABEL
Tabel 1.1 Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Menurut Pendidikan Tertinggi yang
Ditamatkan Tahun 2010–2013 (dalam jiwa) ··· 2
Tabel 1.2 Provinsi dengan Tingkat Pengangguran Tertinggi di Indonesia Tahun 2013 ··· 3
Tabel 1.3 Penduduk Angkatan Kerja dan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Menurut Pendidikan Tingkat Provinsi Jawa Barat ··· 3
Tabel 2.1 Proses Kewirausahaan ··· 17
Tabel 2.2 Perbedaan Karakteristik Locus of control internal dan Locus of control External ··· 25
Tabel 2.3 Penelitian Terdahulu ··· 31
Tabel 2.4 Persamaan dan Perbedaan dengan Penelitian Terdahulu ··· 33
Tabel 3.1 Operasional Variabel ··· 36
Tabel 3.2 Daftar Sekolah dan Jumlah Siswa Kelas XII SMKN di Kota Bandung Tahun Ajaran 2014/2015 ··· 42
Tabel 3.3 Jumlah Populasi SMK Negeri Berdasarkan Spektrum Keahlian di Kota Bandung ··· 42
Tabel 3.4 Karakteristik Pemilihan Populasi ··· 43
Tabel 3.5 Sampel Penelitian ··· 43
Tabel 3.6 Sampel Penelitian Tiap Sekolah ··· 45
Astri Aziz Ayuningtyas, 2014
INTENSI KEWIRAUSAHAAN
Tabel 3.8 Skor Jawaban Berdasarkan Skala Likert ··· 47
Tabel 3.9 Interpretasi Koefisien Korelasi Nilai r ··· 48
Tabel 3.10 Uji Validitas ··· 49
Tabel 3.11 Uji Reliabilitas ··· 51
Tabel 4.1 Jumlah Sekolah dan Jenis Sekolah Negeri dan Swasta Di Kota Bandung Tahun 2014 ··· 52
Tabel 4.2 Profil SMK Negeri di Kota Bandung ··· 53
Tabel 4.3 Karakteristik Responden Berdasarkan Sekolah ··· 54
Tabel 4.4 Karakteristik Responden Berdasarkan Bidang Studi Keahlian··· 56
Tabel 4.5 Klasifikasi Bobot Standar ··· 61
Tabel 4.6 Pernyataan Intensi Kewirausahaan Siswa SMK Negeri Kota Bandung ··· 61
Tabel 4.7 Variabel Intensi Kewirausahaan ··· 63
Tabel 4.8 Klasifikasi Penilaian Need For Achviement Siswa SMK Negeri Kota Bandung ··· 64
Tabel 4.9 Klasifikasi Penilaian Locus of Control Internal Siswa SMK Negeri Kota Bandung ··· 65
Tabel 4.10 Klasifikasi Penilaian Locus of Control External Siswa SMK Negeri Kota Bandung ··· 66
Tabel 4.11 Klasifikasi Penilaian Self-Efficacy Siswa SMK Negeri Kota Bandung··· 67
Tabel 4.12 Variabel Karakteristik Kepribadian ··· 69
Tabel 4.13 Klasifikasi Penilaian Latar belakang pendidikan Siswa SMK Negeri Kota Bandung ··· 70
Tabel 4.14 Klasifikasi Penilaian Pengalaman Bekerja Siswa SMK Negeri Kota Bandung ··· 71
Tabel 4.15 Variabel Karakteristik Demografis ··· 72
Tabel 4.16 Klasifikasi Penilaian Akses Kepada Modal Siswa SMK Negeri Kota Bandung ··· 73
Tabel 4.17 Klasifikasi Penilaian Akses Informasi Siswa SMK Negeri Kota Bandung ·· 74
Tabel 4.18 Klasifikasi Penilaian Jaringan Sosial Siswa SMK Negeri Kota Bandung ···· 75
Tabel 4.19 Variabel Karakteristik Lingkungan ··· 77
Astri Aziz Ayuningtyas, 2014
Tabel 4.21 Intensi Kewirausahaan dilihat dari Pekerjaan Ayah dan Ibu ··· 80
Tabel 4.22 Need for Achviement dilihat dari Jenis Kelamin, Usia dan Bidang Studi
Keahlian ··· 82
Tabel 4.23 Need for Achviement dilihat dari Pekerjaan Ayah dan Ibu ··· 83
Tabel 4.24 Locus of Control Internal dilihat dari Jenis Kelamin, Usia dan Bidang
Studi Keahlian ··· 84
Tabel 4.25 Locus of Control Internal dilihat dari Pekerjaan Ayah dan Ibu ··· 84
Tabel 4.26 Locus of Control External dilihat dari Jenis Kelamin, Usia dan Bidang
Studi Keahlian ··· 85
Tabel 4.27 Locus of Control External dilihat dari Pekerjaan Ayah dan Ibu ··· 86
Tabel 4.28 Self Efficacy dilihat dari Jenis Kelamin, Usia dan Bidang Studi Keahlian ···· 87
Tabel 4.29 Self Efficacy dilihat dari Pekerjaan Ayah dan Ibu ··· 88
Tabel 4.30 Pendidikan dilihat dari Jenis Kelamin, Usia dan Bidang Studi Keahlian ···· 89
Tabel 4.31 Pendidikan dilihat dari Pekerjaan Ayah dan Ibu ··· 90
Tabel 4.32 Pengalaman Praktek Kerja dilihat dari Jenis Kelamin, Usia dan Bidang
Studi Keahlian ··· 91
Tabel 4.33 Pengalaman Praktek Kerja dilihat dari Pekerjaan Ayah dan Ibu ··· 91
Tabel 4.34 Akses Kepada Modal dilihat dari Jenis Kelamin, Usia dan Bidang
Studi Keahlian ··· 92
Tabel 4.35 Akses Kepada Modal dilihat dari Pekerjaan Ayah dan Ibu ··· 93
Tabel 4.36 Akses Informasi dilihat dari Jenis Kelamin, Usia dan Bidang Studi
Keahlian ··· 94
Tabel 4.37 Akses Informasi dilihat dari Pekerjaan Ayah dan Ibu ··· 95
Tabel 4.38 Jaringan Sosial dilihat dari Jenis Kelamin, Usia dan Bidang Studi Keahlian · 96
Astri Aziz Ayuningtyas, 2014
INTENSI KEWIRAUSAHAAN
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Model Proses Kewirausahaan ··· 16
Gambar 2.2 Paradigma Berpikir ··· 34
Gambar 4.1 Karakteristik Responden Berdasarkan Sekolah ··· 54
Gambar 4.2 Karakeristik Responden Berdasarkan Usia ··· 55
Gambar 4.3 Karakeristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin ··· 56
Gambar 4.4 Karakteristik Responden Berdasarkan Bidang Studi Keahlian ··· 58
Gambar 4.5 Karakeristik Responden Berdasarkan Pekerjaan Ayah ··· 59
Gambar 4.6 Karakeristik Responden Berdasarkan Pekerjaan Ibu ··· 59
Gambar 4.7 Garis Kontinum Variabel Intensi Kewirausahaan Pada Siswa SMK Negeri Kota Bandung ··· 64
Gambar 4.8 Garis Kontinum Variabel Karakteristik Kepribadian Pada Siswa SMK Negeri Kota Bandung ··· 69
Gambar 4.9 Garis Kontinum Variabel K arakteristik Demografis Pada Siswa SMK Negeri Kota Bandung ··· 73
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki jumlah penduduk sangat tinggi. Pada tahun 2013 jumlah penduduk Indonesia diperkirakan mencapai 250 juta jiwa dengan laju pertumbuhan penduduk 1,49 persen per tahun. Bahkan menurut Kepala BKKBN, Fasli Jalal menyatakan bahwa Indonesia merupakan penyumbang jumlah penduduk terbesar keempat di dunia setelah China, India, dan Amerika Serikat (http://www.republika.co.id, 2013). Tetapi sayangnya jumlah penduduk yang tinggi itu tidak diimbangi dengan jumlah lapangan pekerjaan yang tersedia. Persaingan yang begitu ketat dalam seleksi pekerjaan dan banyaknya orang yang bersaing dalam mencari pekerjaan membuat jumlah pengangguran semakin banyak. Belum lagi perusahaan-perusahaan yang mulai mengurangi jumlah pekerjanya menambah daftar panjang jumlah penggangguran saat ini, dan tidak menutup kemungkinan jumlahnya akan semakin meningkat setiap tahunnya.
Ironisnya bukan hanya orang-orang dari kalangan yang tidak berpendidikan saja yang sulit mencari pekerjaan bahkan hal ini juga dialami oleh orang-orang dari kalangan berpendidikan. Padahal pendidikan selama ini oleh masyarakat kita dipercaya sebagai modal utama untuk meraih kehidupan yang lebih baik, salah satunya dalam hal mendapat pekerjaan. Namun nyatanya pendidikan tinggi belum menjamin seseorang bisa langsung mendapat pekerjaan sesuai harapannya.
Tabel 1.1
Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Menurut Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan Tahun 2010–2013 (dalam jiwa)
No. Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan
2010 2011 2012 2013
1. Tidak/belum pernah sekolah
157 586 190 370 82 411 77 450
2. Belum/tidak tamat SD 600 221 686 895 503 379 477 156 3. SD 1 402 858 1 120 090 1 449 508 1 339 072 4. SLTP 1 661 449 1 890 755 1 701 294 1 681 945 5. SLTA Umum 2 149 123 2 042 629 1 832 109 1 925 563 6. SLTA Kejuruan 1 195 192 1 032 317 1 041 265 1 259 444 7. Diploma I,II,III/Akademi 443 222 244 687 196 780 187 059 8. Universitas 710 128 492 343 438 210 441 048
Jumlah 8 319 779 7 700 086 7 244 956 7 388 737
Sumber: bps.go.id
Dari data pada Tabel 1.1 dapat diketahui bahwa tingkat pengangguran terbuka setiap tahunnya berfluktuatif. Tetapi data terakhir yaitu tahun 2012-2013 menunjukkan tingkat pengangguran terbuka (TPT) di beberapa jenjang pendidikan mengalami penurunan yaitu lulusan Sekolah Dasar (SD) turun sebesar 110.436 orang, Sekolah Menengah Pertama(SMP) turun sebesar 19.349 orang, dan Diploma turun sebesar 9.721 orang. Namun hal sebaliknya justru terjadi peningkatan di tingkatan sekolah menengah yaitu Sekolah Menengah Atas (SMA) sebesar 93.454 orang dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) sebesar 218.179 orang serta Universitas sebesar 2.838 orang. Jika dilihat dari data tersebut, lulusan Pendidikan Menengah ke atas, baik Sekolah Menengah Atas (SMA) maupun Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) masih mendominasi jumlah pengangguran di Indonesia.
Tabel 1.2
Provinsi dengan Tingkat Pengangguran Tertinggi di Indonesia Tahun 2013
Nomor Provinsi Pengangguran Orang
Tingkat Pengangguran (%)
1 Banten 552.900 10,10
2 DKI Jakarta 513.170 9,94
3 Jawa Barat 1.815.27 8,90
4 Kalimantan Timur 167.610 8,87
5 Aceh 177.830 8,38
6 Sulawesi Utara 78.330 7,19
7 Maluku 48.070 6,73
8 Kepulauan Riau 60.670 6,39
9 Sumatera Barat 151.260 6,33 10 Sumatera Utara 387.870 6,01
Sumber: www.bisnis.com
Dari data tersebut, Badan Pusat Statistik menempatkan Provinsi Jawa Barat sebagai provinsi dengan tingkat pengangguran terbuka (TPT) tertinggi ketiga, setelah Banten dan DKI Jakarta, yakni 8,90%. Peringkat ini tidak mengalami perbaikan sejak setahun lalu meski angkanya turun dari 9,78% (www.bisnis.com, 2013). Lebih spesifik lagi jumlah pengangguran di Jawa Barat dapat dilihat berdasarkan tingkat pendidikan yang ditamatkan sebagai berikut :
Tabel 1.3
Penduduk Angkatan Kerja dan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Menurut Pendidikan Tingkat Provinsi Jawa Barat
Pendidikan Bekerja Pengangguran Total TPT
(Jiwa) (%) (Jiwa) (%) (Jiwa) (%) (%)
<= SD 9.077.280 49,30 621.175 33,21 9.698.455 47,81 6,40
SMP 3.326.151 18,06 515.788 27,57 3.841.939 18,94 13,43
SMA Umum 2.707.934 14,71 365.394 19,53 3.073.328 15,15 11,89
SMA Kejuruan 1.743.561 9,47 277.221 14,82 2.020.782 9,96 13,72
Diploma I/II/III 478.221 2,60 31,117 1,66 509.338 2,51 6,11
Universitas 1.080.837 5,87 59.954 3,20 1.140.791 5,62 5,26
Total 18.413.984 100 1.870.649 100 20.284.633 100 9,22
Jika dilihat dari persentase tingkat pengangguran terbuka (TPT) tahun 2013, SMK menjadi penyumbang terbesar pengangguran di Jawa Barat mencapai 13,72%. Hal ini tentu saja sangat memprihatinkan melihat karakter khusus yang dimiliki SMK dalam menghasilkan lulusan yang siap kerja. Dimana kurikulum dan program pendidikan di SMK memang telah dirancang untuk membekali siswanya dengan keterampilan dan keahlian khusus sesuai bidang yang diambil oleh siswa tersebut.
Seperti yang tertuang dalam Rencana Strategis Kementerian Pendidikan Nasional 2010–2014 (Depdiknas, 2010:104) yang menetapkan bahwa lulusan SMK lebih diprioritaskan untuk pemenuhan kebutuhan dunia kerja serta dunia usaha dan industri. Pada kenyataannya rencana strategis Depdiknas ini belum sepenuhnya terlaksana dengan baik. Terbukti dari tingginya jumlah pengangguran yang dihasilkan oleh lulusan SMK dibandingkan dengan lulusan dari jenjang pendidikan lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa kurikulum pendidikan yang diterapkan di sekolah belum mampu menghasilkan kompetensi lulusan yang sesuai dengan permintaan industri. Oleh karena itu perlu adanya alternatif lain agar para lulusan tidak bergantung pada pekerjaan dari orang lain melainkan bisa menciptakan lapangan pekerjaan sendiri yaitu melalui jalan kewirausahaan.
Kewirausahaan sendiri dapat diartikan sebagai kemampuan dalam menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda melalui pemikiran kreatif dan tindakan inovatif. Pengertian ini mengandung arti bahwa seorang wirausaha adalah orang yang memiliki kemampuan berpikir kreatif dan bertindak inovatif untuk menciptakan sesuatu yang baru atau mampu menciptakan sesuatu yang berbeda dengan yang sudah ada sebelumnya.
Peran kewirausahaan ini sangat penting bagi kehidupan sosial-ekonomi suatu negara. Seperti yang dikemukakan oleh Baumol, et al. (Sarwoko, 2011:126)
terlepas dari peran masyarakat. Yusof, Permula, dan Pangil (Frinces, 2011: 2) mengungkapkan bahwa ada empat alasan mengapa para wirausaha penting di dalam masyarakat, yaitu:
1. Untuk mendayakan faktor-faktor produksi seperti tanah, modal, teknologi, informasi dan berbagai sumber daya manusia (SDM) di dalam memproduksi tugas-tugas yang efektif.
2. Mengidentifikasi berbagai peluang di dalam lingkungan dengan meningkatkan aktivitas yang akan memberikan manfaat kepada setiap orang
3. Untuk memilih pendekatan yang terbaik dalam mendayagunakan semua faktor produksi agar supaya meminimalisir pemborosan di dalam berbagai kegiatan kewirausahaan
4. Untuk kemanfaatan generasi mendatang
Namun realita memperlihatkan bahwa tak sedikit masyarakat yang masih belum sepenuhnya menyadari akan pentingnya peran kewirausahaan. Padahal menurut Singh (2008) (Rahayu, et al., 2011:329) bahwa di abad ke-21 ini para pengusaha/wirausahawan berperan sentral menjadi agen perubahan dan kemajuan suatu masyarakat. Kewirausahaan dipandang sebagai instrumen dalam menggerakkan masyarakat dan ekonomi untuk lebih maju dimasa depan.
Oleh karena itu perlu menumbuhkan budaya kewirausahaan pada masyarakat agar kewirausahaan menjadi bagian dari etos kerja masyarakat, sehingga dapat melahirkan wirausahawan-wirausahawan baru yang handal, tangguh dan mandiri yang mampu bersaing di era globalisasi seperti saat ini. Salah satu cara yang bisa ditempuh yaitu dengan menanamkan nilai-nilai kewirausahaan sejak dini melalui pendidikan kewirausahaan.
dikemukakan oleh Holt (Rahmawati, 2000) yang mengatakan bahwa paket pendidikan kewirausahaan akan membentuk siswa untuk mengejar karir kewirausahaan (Wijaya, 2007:120). Sejalan dengan pendapat tersebut, Alma (2009:7) menyatakan bahwa keberanian membentuk kewirausahaan didorong oleh guru sekolah, sekolah yang memberikan mata pelajaran kewirausahaan yang praktis dan menarik dapat membangkitkan minat siswa untuk berwirausaha.
Oleh karena itu sekolah menjadi sarana yang tepat untuk mendidik anak-anak menjadi seorang wirausahawan. Hal ini dikarenakan sebagian besar waktu anak-anak dihabiskan disekolah. Selain itu, menurut Sunhadji (Fatimah, 2013:5) ada beberapa alasan sekolah formal dapat menumbuhkan bakat wirausaha, yaitu:
Pertama, sekolah adalah lembaga pendidikan yang sangat dipercaya masyarakat untuk masa depan yang lebih baik. Kedua, jaringan sudah ada di seluruh pelosok negeri. Ketiga, melalui sekolah juga bisa menjangkau dan mempengaruhi keluarga anak didik.
Upaya pengembangan pendidikan kewirausahaan juga telah diprogramkan pada salah satu lembaga pendidikan nasional yaitu Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Terlebih sejak tahun 1994 pemerintah melalui Departemen Pendidikan Nasional mulai menerapkan standarisasi kurikulum pada seluruh SMK, yaitu kewajiban mengajarkan mata pelajaran kewirausahaan pada siswanya (Depdiknas, 2011). Lebih lanjut dijelaskan dalam GBPP (Depdiknas, 2004: 6) tujuan utama SMK antara lain:
1. Menyiapkan siswa untuk memasuki lapangan kerja dan mengembangkan sikap profesionalisme.
2. Menyiapkan siswa agar mampu memilih karir, berkompetensi dan mampu mengembangkan diri.
3. Menyiapkan tenaga kerja tingkat menengah untuk mengisi kebutuhan dunia usaha dan Industri baik pada saat ini maupun pada saat yang akan datang.
4. Menyiapkan tamatan agar menjadi warga Negara produktif, adaptif dan kreatif.
kewirausahaan pada sekolah kejuruan dan ditanamkan sikap-sikap dan perilaku untuk membuka bisnis agar menjadi wirausahawan yang berbakat sehingga mampu mensejahterakan kehidupan sendiri dan orang lain.
Terkait dengan tujuan tersebut maka pihak sekolah memiliki tanggung jawab yang besar dalam mendidik dan memberikan kemampuan wirausaha kepada siswa. Untuk itu pihak sekolah perlu menerapkan pola pembelajaran kewirausahaan yang kongkrit, bukan hanya sekedar teori-teori belaka melainkan harus ada penerapan dari teori-teori tersebut. Sehingga nantinya ilmu tersebut bisa membekali siswa dengan kemampuan life skills yang berguna bagi siswa agar dapat hidup mandiri dan survive di lingkungannya. Seperti yang dikemukakan Budiningsih (Fatimah, 2013:7) empat prinsip penting dalam menjalankan pembelajaran kewirausahaan sebagai life skills (kecakapan hidup) yang tidak boleh ditinggalkan, yaitu :
Learning to know (belajar untuk mengetahui kewirausahaan), learning to do (belajar untuk melakukan kegiatan wirausaha), learning to be (belajar untuk mempraktekkan kegiatan wirausaha), dan learning to live together (belajar untuk bersama dengan yang lain dalam interaksi sosial dalam berwirausaha).
Namun dari hasil penelitian Hartini (2002) menyatakan bahwa sampai saat ini di antara siswa lulusan SMK tidak banyak yang berorientasi dan berniat untuk bekerja sendiri atau berwirausaha dengan bekal ilmu pengetahuan yang telah diperoleh (Wijaya, 2007:117). Lebih lanjut Wijaya (2007: 118) menjelaskan ada beberapa hal mengapa siswa SMK yang tidak tertarik berwirausaha setelah lulus adalah karena tidak mau mengambil resiko, takut gagal, tidak memiliki modal dan lebih menyukai bekerja pada orang lain. Hal ini tentu saja bertentangan dengan tujuan dari SMK itu sendiri untuk menciptakan lulusan yang memiliki keterampilan dan keahlian sebagai bekal berwirausaha nanti.
Berdasarkan uraian di atas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian terkait intensi kewirausahaan dengan judul penelitian “Intensi Kewirausahaan (Studi Deskriptif pada Siswa SMK Negeri Kota Bandung)”.
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan di atas, maka rumusan masalah penelitian ini adalah:
1. Bagaimana gambaran umum intensi kewirausahaan siswa SMK Negeri Kota Bandung ?
2. Bagaimana gambaran intensi kewirausahaan siswa SMK Negeri Kota Bandung ditinjau dari aspek karakteristik kepribadian yang meliputi need for achviement, locus of control dan self-efficacy?
3. Bagaimana gambaran intensi kewirausahaan siswa SMK Negeri Kota Bandung ditinjau dari aspek karakteristik demografis yang meliputi gender, pendidikan dan pengalaman praktek kerja?
1.3. Tujuan Penelitian
Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui gambaran umum intensi kewirausahaan siswa SMK Negeri Kota Bandung ?
2. Untuk mengetahui gambaran intensi kewirausahaan siswa SMK Negeri Kota Bandung ditinjau dari aspek karakteristik kepribadian yang meliputi need for achviement, locus of control dan self-efficacy?
3. Untuk mengetahui gambaran intensi kewirausahaan siswa SMK Negeri Kota Bandung ditinjau dari aspek karakteristik demografis yang meliputi gender, pendidikan dan pengalaman praktek kerja?
4. Untuk mengetahui gambaran intensi kewirausahaan siswa SMK Negeri Kota Bandung ditinjau dari aspek karakteristik lingkungan yang meliputi akses kepada modal, informasi dan jaringan sosial ?
1.4. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Secara teoritis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran untuk memperkaya khasanah dalam ilmu ekonomi khususnya di dalam kewirausahaan.
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1. Objek Penelitian
Menurut Arikunto (2010:118), objek penelitian adalah variabel penelitian, yaitu sesuatu yang merupakan inti dari problematika penelitian. Sedangkan menurut Sugiyono (2012:38) pengertian objek penelitian yaitu “Suatu atribut atau sifat atau nilai dari orang, objek, atau kegiatan yang mempunyai variasi tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya”. Objek dalam penelitian ini adalah intensi kewirausahaan siswa SMK Negeri di Kota Bandung.
3.2. Metode Penelitian
Pengertian metode penelitian menurut Sugiyono (2012:6) adalah sebagai berikut:
“Metode penelitian adalah cara ilmiah utuk mendapatkan data yang valid dengan tujuan dapat ditemukan, dibuktikan, dikembangkan suatu pengetahuan tertentu sehingga pada gilirannya dapat digunakan untuk memahami, memecahkan dan mengantisipasi masalah”.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Menurut Nazir (2005:54) yang dimaksud dengan metode penelitian deskriptif serta tujuannya adalah :
“Suatu metode dalam meneliti status sekelompok manusia, suatu obyek, suatu sistem kondisi, suatu sistem pemikiran, ataupun suatu kelas peristiwa pada masa sekarang”. Tujuan dari penelitian deskriptif ini adalah untuk membuat deskripsi, gambaran atau lukisan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat, serta hubungan antar fenomena yang diselidiki”.
3.3. Definisi Operasional Variabel
dalam penelitian ini, maka akan dijelaskan pengertian definisi operasional variabel tersebut pada tabel 3.1 berikut :
Tabel 3.1 Operasional Variabel
satu pihak ke pihak lain; b) pertukaran barang dan jasa dari dua belah pihak; dan c) muatan normatif atau ekspektasi yang dimiliki oleh seseorang terhadap orang lain
usahanya pada dunia luar,
suka berteman /bergaul dan apakah seseorang ikut dalam organisasi atau tidak
organisasi
3.4. Teknik Pengumpulan Data
Sugiyono (2012: 308) menjelaskan bahwa “Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling utama dalam penelitian, karena tujuan utama penelitian adalah mendapatkan data”. Teknik pengumpulan data yang digunakan pada penelitian ini adalah dengan dua cara, yaitu pengumpulan data primer dan data sekunder.
3.4.1. Data Primer
Data primer adalah informasi yang diperoleh dari sumber-sumber primer, yakni informasi dari tangan pertama atau responden. Pengumpulan data primer dilakukan dengan cara:
a. Kuesioner
Kuesioner atau angket merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pertanyaan tertulis kepada responden untuk dijawabnya. (Sugiyono, 2012:199).
b. Wawancara
c. Observasi lapangan
Observasi adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan melalui suatu pangamatan, dengan disertai pencatatan terhadap keadaan atau perilaku objek sasaran (Fatoni, 2006:104).
3.4.2. Data Sekunder
Data Sekunder adalah informasi yang diperoleh tidak secara langsung dari responden. Pengumpulan data sekunder dilakukan dengan cara:
a. Studi Kepustakaan
Studi kepustakaan menurut Subana dan Sudrajat (2005:77), yaitu “salah satu kegiatan penelitian yang mencakup memilih teori, mengidentifikasi literatur atau kepustakaan dan menganalisis dokumen, serta menerapkan hasil analisis sebagai landasan teori bagi penyelesaian masalah dalam penelitian yang dilakukan”.
b. Studi Dokumentasi
Dokumentasi merupakan suatu pengumpulan data yang diperoleh dari catatan-catatan atau sumber tertulis dari objek penelitian yang dapat dipercaya kebenarannya. Menurut Arikunto (2010:201), “Metode dokumentasi yaitu mencari data mengenai hal-hal atau variabel berupa catatan, transkip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, agenda dan sebagainya”.
3.5. Populasi dan Sampel 3.5.1. Populasi
Menurut Arikunto (2010:173), “Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian”. Pendapat lain menurut Sugiyono (2012:62), “Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas: obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya”.
Bandung yang terdiri dari 15 sekolah. Populasi subjek yaitu siswa kelas XII SMK Negeri di Kota Bandung yang berjumlah 6.832 orang. Berikut daftar sekolah dan jumlah siswa yang menjadi populasi:
Tabel 3.2
Daftar Sekolah dan Jumlah Siswa
Kelas XII SMKN di Kota Bandung Tahun Ajaran 2014/2015
Nama Sekolah Jumlah Siswa
SMKN 1 Bandung 520
SMKN 2 Bandung 536
SMKN 3 Bandung 733
SMKN 4 Bandung 402
SMKN 5 Bandung 520
SMKN 6 Bandung 774
SMKN 7 Bandung 561
SMKN 8 Bandung 455
SMKN 9 Bandung 410
SMKN 10 Bandung 267
SMKN 11 Bandung 635
SMKN 12 Bandung 427
SMKN 13 Bandung 277
SMKN 14 Bandung 378
SMKN 15 Bandung 402
Total 7.297
Sumber: Dokumen Dinas Pendidikan Kota Bandung
Secara lebih spesifik populasi SMK Negeri di Kota Bandung dapat dikelompokkan berdasarkan spektrum keahlian sebagai berikut:
Tabel 3.3
Jumlah Populasi SMK Negeri Berdasarkan Spektrum Keahlian di Kota Bandung
No. Bidang Keahlian Nama Sekolah
1. Teknologi dan Rekayasa SMKN 2, 4, 5, 6, 7, 8, 12, 13, 14 2. Teknologi Informasi dan Komunikasi SMKN 2, 3, 4, 5, 11, 13, 14 3. Kesehatan dan Pekerjaan Sosial SMKN 7, 15
4. Seni, Kerajinan, dan Pariwisata SMKN 1, 3, 9, 10, 14 5. Bisnis dan Manajemen SMKN 1, 3, 11,16 Sumber: Dokumen Dinas Pendidikan Kota Bandung
3.5.2. Sampel
Menurut Arikunto (2010:177), “Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti”. Selanjutnya menurut Sugiyono (2012:62) “Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki populasi tersebut”.
Kemudian untuk pengambilan sampel penelitian menggunakan teknik proportionate random sampling. Sampel di ambil secara proporsional dari jumlah populasi yang ada. Berikut cara pengambilan sampel dalam penelitian ini yaitu:
Tabel 3.4
Karakteristik Pemilihan Populasi
SMKN Per Wilayah Bidang Studi Keahlian
Wilayah Barat SMKN 15, 11, 12 Wilayah Utara
SMKN 1, 2, 5 Wilayah Selatan
SMKN 6, 7, 9, 10, 13, 14 Wilayah Timur
SMKN 3, 4, 8
Manajemen dan Bisnis SMKN 1, 3, 11
Teknologi dan Rekayasa
SMKN 2, 4, 5, 6, 7, 8, 12, 13, 14 Teknik Informasi&Komunikasi
SMKN 2, 3, 4, 5, 11, 13, 14 Seni, Kerajinan dan Pariwisata
SMKN 1, 3, 9, 10, 13, 14 Kesehatan & Pekerjaan Sosial
SMKN 7, 15 Sumber: Dokumen Dinas Pendidikan Kota Bandung
Berdasarkan pertimbangan karakteristik di atas, sekolah yang menjadi sampel penelitian adalah sebagai berikut:
Tabel 3.5 Sampel Penelitian
Sekolah Jumlah Siswa
SMKN 1 Bandung 520 SMKN 6 Bandung 774 SMKN 7 Bandung 561 SMKN 8 Bandung 455 SMKN 10 Bandung 267 SMKN 11 Bandung 635 SMKN 14 Bandung 378 SMKN 15 Bandung 402
Jumlah 3992
Menurut Isaac dan Michael (Riduwan, 2012:50-51) rumus dalam menentukan sampel sebagai berikut:
𝑛 =𝑑2 𝑁 −2𝑁𝑃 − 𝑃+ 2𝑃 − 𝑃
Dimana : n = jumlah sampel yang dikehendaki N = jumlah anggota populasi
P = proporsi populasi (0,5) d = tingkat akurasi (0,05)
X2 = tabel chi-square sesuai tingkat kepercayaan = 3,841 Dengan perhitungan sampel sebagai berikut :
𝑛 =𝑑2 𝑁 −2𝑁𝑃 − 𝑃+ 2𝑃 − 𝑃
= , 2 , − + ,, − ,, − ,
= , + ,, ,
= , ,
= , =
Tabel 3.6
Sampel Penelitian Tiap Sekolah
Nama Sekolah Jumlah Siswa Sampel Siswa per sekolah
SMKN 1 Bandung 520 𝑆 = = 46
SMKN 6 Bandung 774 𝑆 = = 68
SMKN 7 Bandung 561 𝑆 = = 49
SMKN 8 Bandung 455 𝑆 = = 40
SMKN 10 Bandung 267 𝑆 = = 23
SMKN 11 Bandung 635 𝑆 = = 56
SMKN 14 Bandung 378 𝑆 = = 33
SMKN 15 Bandung 402 𝑆 = = 35
Jumlah 350
Sumber: data diolah
Penentuan sampel secara lebih spesifik berdasarkan kompetensi keahlian dapat dilihat pada Tabel 3.6 sebagai berikut:
Tabel 3.7
Sampel Penelitian Berdasarkan Kompetensi Keahlian
Nama Sekolah Kompetensi Keahlian Jumlah Siswa
Sampel Siswa per Kompetensi Keahlian
SMKN 1 Bandung
1. Adm. Perkantoran 140 𝑆 = . =
2. Akuntansi 171 𝑆 = . =
3. Pemasaran 141 𝑆 = . =
4. Usaha Perjalanan Wisata 68 𝑆 = . =
SMKN 6 Bandung
1. Tek. Gambar Bangunan 108 𝑆 = . =
2. Tek. Konstruksi Kayu 33 𝑆 = . =
3. Tek. Audio Video 136 𝑆 = . =
4. Tek. Inst. Tenaga Listrik 140 𝑆 = . =
6. Tek. Kendaraan Ringan 215 𝑆 = . =
SMKN 7 Bandung
1. Farmasi 141 𝑆 = . =
2. Analisis Kimia 176 𝑆 = . =
3. Kimia Industri 174 𝑆 = . =
4. Teknik Tekstil 70 𝑆 = . =
SMKN 8 Bandung
1.Tek. Kendaraan Ringan 213 𝑆 = . =
2. Tek. Perbaikan Bodi Otomotif 29 𝑆 = . =
3.Tek. Sepeda Motor 213 𝑆 = . =
SMKN 10 Bandung
1. Seni Musik 45 𝑆 = . =
2. Seni Tari 55 𝑆 = . =
3. Seni Karawitan 99 𝑆 = . =
4. Seni Teater 30 𝑆 = . =
5. Broadcasting 38 𝑆 = . =
SMKN 11 Bandung
1. Akuntansi 153 𝑆 = . =
2. Adm. Perkantoran 150 𝑆 = . =
3. Pemasaran 112 𝑆 = . =
4. Rekayasa Perangkat Lunak 112 𝑆 = . =
5. Multimedia 74 𝑆 = . =
6. Tek. Komputer Jaringan 34 𝑆 = . =
SMKN 14 Bandung
1.TPBO 63 𝑆 = . =
2.Multimedia 103 𝑆 = . =
3.DPK Tekstil 64 𝑆 = . =
4.DPK Kulit 23 𝑆 = . =
5.DPK Keramik 14 𝑆 = . =
6.DPK Logam 32 𝑆 = . =
7.DPK Kayu 11 𝑆 = . =
SMKN 15 Bandung
1.Pekerjaan Sosial 133 𝑆 = . =
2.Akomodasi Perhotelan 269 𝑆 = . =
Jumlah Sampel 350 orang
Sumber: data diolah
3.6. Pengujian Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah angket atau kuesioner. Skala yang digunakan adalah skala likert. Dengan skala likert, maka variabel yang akan diukur dijabarkan menjadi indikator variabel. Kemudian indikator tersebut dijadikan sebagai titik tolak untuk menyusun item-item instrumen yang dapat berupa pernyataan atau pertanyaan (Sugiyono 2012: 93).
Jawaban setiap item instumen yang menggunakan skala likert mempunyai gradasi dari sangat positif sampai sangat negatif. Untuk keperluan analisis ketentuan skala yang digunakannya sebagai berikut:
Tabel 3.8
Skor Jawaban Berdasarkan Skala Likert
Alternatif Jawaban Skor
SS = Sangat Setuju 5
S = Setuju 4
KS = Kurang Setuju 3
TS = Tidak Setuju 2
STS = Sangat Tidak Setuju 1
Agar hasil penelitian tidak bias dan diragukan kebenarannya maka alat ukur tersebut harus valid dan reliabel. Untuk itulah terhadap angket yang diberikan kepada responden dilakukan 2 (dua) macam tes, yaitu tes validitas dan tes reliabilitas.
3.6.1. Uji Validitas
Pearson, yang dikenal dengan rumus korelasi product moment sebagai berikut :
(Suharsimi Arikunto, 2010 : 213)
Keterangan:
rxy = koefisien validitas yang dicari
X = skor yang diperoleh dari subjek tiap item Y = skor total item instrumen
∑ = jumlah skor dalam distribusi X ∑ = jumlah skor dalam distribusi Y
∑ = jumlah kuadrat pada masing - masing skor X ∑ = jumlah kuadrat pada masing-masing skor Y
N = Jumlah responden
Dengan menggunakan taraf signifikan
= 0,05 koefisien korelasi yang diperoleh dari hasil perhitungan dibandingkan dengan nilai dari tabel korelasi nilai r dengan derajat kebebasan (n-2), dimana n menyatakan jumlah banyaknya responden dimana :r hitung > r 0,05 = valid r hitung r 0,05 = tidak valid.
Berdasarkan hasil uji validitas dengan rumus product moment coefficient, diperoleh hasil uji validitas instrumen penelitian, sebagaimana tampak pada tabel 3.10 berikut :
3.6.2. Uji Reliabilitas
Menurut Arikunto (2010:221) reliabilitas menunjuk pada suatu pengertian bahwa sesuatu instrumen cukup dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpul data karena instrumen tersebut sudah baik. Instrumen yang baik tidak akan bersifat tendensius mengarahkan responden untuk memilih jawaban-jawaban tertentu. Instrumen yang sudah dapat dipercaya, yang reliabel akan menghasilkan data yang dapat dipercaya juga. Apabila datanya memang benar sesuai dengan kenyataannya, maka berapa kalipun diambil, tetap akan sama.
Untuk menghitung uji reliabilitas, penelitian ini menggunakan rumus alpha dari Cronbach sebagaimana berikut: reliabel, sebaliknya jika r hitung lebih kecil dari r tabel maka instrument tidak reliabel. Hasil uji reliabilitas pada masing-masing indikator variabel ditunjukkan dalam Tabel 3.11 sebagai berikut :
Tabel 3.11 Uji Reliabilitas
Indikator Variabel r hitung r tabel Kriteria
Intensi Kewirausahaan 0,67 0,09 Reliabel Karakteristik Kepribadian 0,77 0,09 Reliabel Karakteristik Demografis 0,71 0,09 Reliabel Karakteristik Lingkungan 0.85 0,09 Reliabel
3.7. Teknik Analisis Data
Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif sehingga teknik analisis data yang digunakan adalah pengolahan data statistika deskriptif, menurut Siregar (2011) statistika deskriptif adalah statistika yang berkenaan dengan bagaimana cara mendeskripsikan, menggambarkan, menjabarkan, atau menguraikan data sehingga mudah dipahami.
3.7.1. Cross Tab
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan penulis dapat mengambil kesimpulan tentang intensi kewirausahaan siswa SMK Negeri di Kota Bandung adalah sebagai berikut :
1. Gambaran umum intensi kewirausahaan siswa SMK Negeri di Kota Bandung berada pada kategori tinggi artinya siswa SMK Negeri di Kota Bandung sudah banyak yang memiliki niat berwirausaha.
2. Gambaran intensi kewirausahan siswa SMK Negeri di Kota Bandung berdasarkan karakteristik kepribadian yang meliputi need for achviement berada pada kategori tinggi, artinya siswa SMK Negeri Kota di Bandung memiliki motivasi berprestasi yang tinggi, locus of control internal berada pada kategori tinggi, artinya siswa SMK Negeri di Kota Bandung memiliki persepsi tentang kesuksesan dan kegagalan yang terjadi pada dirinya berasal dari faktor pribadi sedangkan locus of control external termasuk ke dalam kategori sedang, artinya masih ada siswa yang memiliki persepsi bahwa kesuksesan dan kegagalan yang terjadi pada dirinya disebabkan hal lain diluar dirinya, serta self-efficacy berada pada kategori tinggi, artinya siswa SMK Negeri Kota Bandung memiliki kepercayaan yang tinggi terhadap kemampuannya untuk berwirausaha.
4. Gambaran intensi kewirausahan siswa SMK Negeri di Kota Bandung berdasarkan karakteristik lingkungan yang meliputi akses terhadap modal berada pada kategori sedang, artinya masih banyak siswa SMK Negeri di Kota Bandung yang memiliki keterbatasan terhadap modal, akses informasi berada pada kategori tinggi, artinya siswa SMK Negeri di Kota Bandung memiliki akses yang tinggi terhadap informasi dan jaringan sosial berada pada kategori tinggi, artinya siswa SMK Negeri di Kota Bandung memiliki jaringan sosial yang luas.
5.2. Saran
Berdasarkan hasil penelitian yang telah diuraikan maka ada beberapa saran yang bisa dilakukan, yaitu sebagai berikut :
1. Untuk menumbuhkan intensi kewirausahaan dapat dilakukan dengan cara memberikan pengalaman langsung berwirausaha. Dalam hal ini, pihak sekolah selain memberikan materi tentang kewirausahaan juga hendaknya mengaplikasikan materi tersebut dalam bentuk nyata dimana siswa secara kelompok diminta untuk mencoba berjualan dilingkungan sekolah dan dijadikan aspek penilaian untuk mata pelajaran kewirausahaan. Sehingga dari pengalaman langsung tersebut diharapkan dapat menumbuhkan minat untuk berwirausaha. Sehingga jika dilakukan secara terus menerus dapat membentuk intensi kewirausahaan.
2. Dari hasil penelitian tersebut juga diketahui bahwa masih banyak siswa yang tidak tahu cara mendapatkan modal usaha. Dalam hal ini, pihak sekolah diharapkan bisa memberikan informasi mengenai hal tersebut terutama informasi tentang modal usaha yang berasal dari bantuan pemerintah seperti dari DIKTI atau cara mendapatkan modal yang berasal dari kompetisi businnes plan.
informasi mengenai hal tersebut. Bahkan diharapkan pihak sekolah bisa menyelenggarakan pelatihan dan seminar kewirausahaan kepada siswanya. 4. Untuk penelitian selanjutnya bisa mengganti variabelnya dengan variabel
DAFTAR PUSTAKA
A. BUKU
Alma, Buchari, 2009. Kewirausahaan, Bandung, Alfabeta.
Arifin, Zainal. 2011. Penelitian Pendidikan Metode dan Paradigma Baru. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Arikunto, Suharsimi. 2010. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta
Astamoen, Moko P. 2008. Entrepreneurship dalam Perspektif Kondisi Bangsa Indonesia. Bandung: Alfabeta.
Fatoni, Abdurrahman. 2006. Metodologi Penelitian dan Teknik Penyusunan Skripsi. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Frinces, Z. Heflin. 2011. Be An Entrepreneur (Jadilah Seorang Wirausaha) Kajian Strategis Pengembangan Kewirausahaan. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Handoko, T. Hani. 2003. Manajemen Edisi 2. Yogyakarta: BPFE.
Hisrich, Robert.D, Michael P.Peters dan Dean A. Shepherd. 2008. Entrepreneurship/Kewirausahaan Edisi 7. Jakarta : Salemba Empat.
Muhammad, Fery. 2009, Yang Muda Saatnya Jadi Pengusaha. Jakarta: Ananda Publishing.
Nazir, Mohammad. 2005. Metode Penelitian. Bogor: Ghalia Indonesia. Puspitasari, Devi. 2006. Kewirausahaan SMK Tingkat Kelas X. Jakarta: Arya
Duta.
Riduwan & Engkos Achmad Kuncoro. 2012. Cara Menggunakan dan Memaknai Path Analysis (Analisis Jalur). Bandung: Alfabeta.
Singarimbun, Masri. 2005. Metode Penelititan Survei. Jakarta: LP3ES.
Siregar, Sofyan. 2011. Statistika Deskriptif Untuk Penelitian. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Subana, M & Sudrajat. 2005. Dasar-Dasar Penelitian Ilmiah. Bandung: Pustaka Setia.
Sugiyono. 2012. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta.
Suryana. 2006. Kewirausahaan. Jakarta: Salemba Empat.
Winarno. 2011. Pengembangan Sikap Entrepreneurship dan Intrapreneurship. Jakarta: PT Indeks.
B. JURNAL, PAPER DAN TESIS
Achadiyah, Bety Nur dan Diana Tien Irafami. 2013. Perbandingan Intensi Kewirausahaan Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang: Jurusan Akuntansi, Manajemen dan Ekonomi Pembangunan. Jurnal Nominal, Vol. II No. II.
Achadiyah, Bety Nur dan Nujmatul Laily. 2013. Pengaruh Locus Of Control Terhadap Hasil Belajar Mahasiswa Akuntansi. Jurnal Pendidikan Akuntansi Indonesia, Vol. XI ( 2), 11-18.
Andika, Manda & Iskandarsyah Madjid. 2012. Analisis Pengaruh Sikap, Norma Subyektif Dan Efikasi Diri Terhadap Intensi Berwirausaha Pada Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Syiah Kuala (Studi Pada Mahasiswa Fakutas Ekonomi Universitas Syiah Kuala). Eco-Entrepreneurship Seminar & Call for Paper “Improving Performance by Improving Environment.
Astuti, Rifelly Dewi & Fanny Martdianty. 2012. Student’s Entrepreneurial Intentions by Using Theory Of Planned Behavior The Case in Indonesia. The South East Asian Journal Of Management , Vol. 6 (2).
Astuti, Sri. 2013. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kemandirian untuk Berwirausaha Pada Siswa SMK. Jurnal Pendidikan Vokasi, Vol. 3 (3).
Chairy. 2011. Pengaruh Karakteristik Entrepreneurial, Jenis Etnis, Jenis Kelamin Dan Profesi Orang Tua Terhadap Intensi Berwirausaha Mahasiswa. Prosiding Dalam Rangkaian Seminar Internasional Dan Call For Papers “Towards Excellent Small Business”.
Darmanto, Susetyo. 2013. Pengaruh Perceived Desirability, Perceived Feasibility, Propensity To Act Terhadap Intensi Berwirausaha. Jurnal Ilmiah Dinamika Ekonomi Dan Bisnis Vol. 1 (2), ISSN 2337-6082.
Engko, Cecilia. 2008. Pengaruh Kepuasan Kerja Terhadap Kinerja Individual dengan Self Esteem dan Self Efficacy Sebagai Variabel Intervening. Jurnal Bisnis dan Akuntansi Vol. 10 (1), 1-12.
Fatimah, Siti. 2013. Menumbuhkan Jiwa Wirausaha Muda Dalam Pembelajaran Ekonomi. Jurnal Pendidikan dan Kajian Sejarah.
Indarti, Nurul dan Rokhima Rostiani. 2008. Intensi Kewirausahaan Mahasiswa: Studi Perbandingan Antara Indonesia, Jepang dan Norwegia. Jurnal Ekonomika dan Bisnis Indonesia, Vol. 23, No. 4.
Muhar, Ani Murwani. 2013. Faktor Penentu Minat Berwirausaha di Kalangan Mahasiswa Perguruan Tinggi Negeri (Studi Perbandingan Mahasiswa USU, UNIMED, dan IAIN). Jurnal Keuangan dan Bisnis, Vol. 5 (1).
Munir, Saima & Mehsoon Sajid. 2010. Examining Locus of Control (LOC) as a Determinant of Organizational Commitment among University Professors in Pakistan. Journal of Business Studies Quarterly Vol. 1 (3), 78-93, ISSN 2152- 1034.
Nababan, T. Sihol. 2003. Identifikasi Sifat-Sifat Kewirausahaan Pada Usaha Kecil (Suatu Pengamatan Pada Usaha-Usaha Kecil di Kelurahan Sidodadi, Kecamatan Medan Timur). VISI 11(3), 14-30, ISSN 0853-0203.
Pujiastuti, Eny Endah. 2013. Pengaruh Kepribadian dan Lingkungan Terhadap Intensi Berwirausaha Pada Usia Dewasa Awal. Jurnal Inovasi dan Kewirausahaan Vol 2 (1), 1-8.
Purnomo, Ratno dan Sri Lestari. 2010. Pengaruh Kepribadian, Self-Efficacy, dan Locus Of Control Terhadap Persepsi Kinerja Usaha Skala Kecil dan Menengah. Jurnal Bisnis dan Ekonomi (JBE) Vol 17, (2), 144-160, ISSN: 1412-3126.
Rachmah, Dwi Nur. 2013. Hubungan Self Efficacy, Coping Stress dan Prestasi Akademik. Jurnal Ecopsy, Vol. 1 (1).
Rahayu, Mintarti, Lily Hendrasti Novadjaja dan Nur Khusniyah Indrawati. 2011. Intensi Berwirausaha Pada Mahasiswa Baru. Jurnal Aplikasi Manejemen Vol 9 (2), ISSN: 1693-5241.
Rukka, Rusli Mohammad. 2011. Buku Ajar Kewirausahaan-1. Lembaga Kajian Dan Pengembangan Pendidikan: Universitas Hasanuddin. Sarwoko, Endi. 2011. Kajian Empiris Entrepreneur Intention Mahasiswa. Jurnal
Ekonomi Bisnis, 16, (2), 126 – 135.
Silvia. 2013. Pengaruh Entrepreneurial Traits Dan Entrepreneurial Skills Terhadap Intensi Kewirausahaan (Studi Empiris Dampak Pendidikan Kewirausahaan pada Mahasiswa Universitas Kristen Petra, Surabaya). AGORA Vol. 1 (1). Srimulyani, Veronika Agustini. 2013. Analisis Pengaruh Kecerdasan Adversitas,
Suharti, Lieli dan Hani Sirine. (2011). “Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap niat kewirausahaan (Entrepreneurial Intention) (Studi terhadap Mahasiswa
Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga)”. Jurnal Manajemen dan Kewirausahaan 13, (2), 124-134.
Tunjungsari, Hetty Karunia & Hani. 2013. Pengaruh Faktor Psikologis Dan Kontekstual Terhadap Intensi Berwirausaha Pada Mahasiswa. Proceeding Seminar Nasional dan Call For Papers Sancall. ISBN: 978-979-636-147-2.
Vemmy, Caecilia. 2012. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi ntensi Berwirausaha Siswa SMK. Jurnal Pendidikan Vokasi, Vol 2 (1).
Wijaya, Tony. 2007. Hubungan Adversity Intelligence dengan Intensi Berwirausaha (Studi Empiris pada Siswa SMKN 7 Yogyakarta. Jurnal Ekonomi Manajemen Fakultas Ekonomi – Universitas Kristen Petra.
Wijaya, Tony. 2008. Kajian Model Empiris Perilaku Berwirausaha UKM DIY dan Jawa Tengah. Jurnal Manajemen dan Kewirausahaan,Vol. 10 (2), 93-104. Wiriani, Wayan. 2011. Efek Moderasi Locus Of Control pada Hubungan Pelatihan
dan Kinerja Pada Bank Perkreditan Rakyat di Kabupaten Badung. Tesis. Denpasar : Universitas Udayana.
C. INTERNET
Desfriani, Vanisa. (2012). Gender. [online]. Tersedia: http://sosbud.kompasiana.com, [ 3 September 2014].
Maskur, Fatkhul. (2013). Inilah 10 Provinsi dengan Tingkat Pengangguran Tertinggi. [online]. Tersedia: http://www.bisnis.com, [ 12 Mei 2014].
Putra, Yudha Manggala P. (2013). BKKBN: Jumlah Penduduk Indonesia Sangat Tinggi. [online]. Tersedia: http://www.republika.co.id, [12 Mei 2014]
Sembiring, Kesatria. (2013). Definisi Locus of Control (Pusat Pengendalian. [online]. Tersedia : http://id.shvoong.com, [ 3 September 2014].
D. SUMBER LAIN
Depdiknas. (2004). Kurikulum Sekolah Menengah Kejuruan Edisi 2004. Jakarta. Depdiknas. (2010). Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia.
Nomor 2 tahun 2010 tentang Rencana Strategis Kementerian Pendidikan Nasional tahun 2010-2014.Tersedia: http://www.kemdikbud.go.id.
Survei Angkatan Kerja Nasional (SAKERNAS) BPS Indonesia. (2013). Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Indonesia Tahun 2010, 2011, 2012 dan 2013. Tersedia: http://www.bps.go.id.
Astri Aziz Ayuningtyas, 2014 LAMPIRAN A
KISI – KISI INSTRUMEN PENELITIAN INTENSI KEWIRAUSAHAAN
(Studi Deskriptif pada Siswa SMK Negeri Kota Bandung)
Variabel/Sub Variabel Indikator Pernyataan No.
Angket
Intensi Kewirausahaan
1. Memilih jalur usaha dari pada bekerja pada orang lain,
1 Saya memilih membuka usaha sendiri 2 Saya tidak ingin bekerja pada orang lain
1 2 2 Memilih karir sebagai
wirausaha,
1. Saya memilih karir wirausaha sebagai tujuan hidup saya
3
3 Membuat perencanaan untuk memulai usaha,
1. Saya sudah membuat perencanaan tentang usaha yang akan saya jalankan
2. Saya berencana merealisasikan usaha saya setelah lulus sekolah
4
5
4 Meningkatkan status sosial (harga diri) sebagai wirausaha
1. Saya merasa dengan menjadi wirausaha status sosial saya di masyarakat akan meningkat
6
5 Mendapatkan pendapatan yang lebih baik.
1. Saya berharap dengan berwirausaha akan mendapatkan pendapatan yang lebih baik
7
Karakteristik Kepribadian
Need for achievement
1. Memiliki tanggung jawab pribadi 1. Saya akan menyelesaikan pekerjaan saya dengan penuh tanggung jawab
2. Ketika memulai suatu pekerjaan, saya akan mengerjakannya sampai tuntas/selesai
3. Saya tidak akan melimpahkan pekerjaan saya pada orang lain menantang karena akan memicu semangat saya untuk mengerjakannya.
3. Mengetahui konsekuensi 1. Saya mengetahui konsekuensi dari setiap keputusan yang saya ambil adalah hasil kerja keras saya sendiri
2. Kegagalan yang saya alami akibat dari perbuatan saya sendiri
16
17
2. Struktur keyakinan eksternal 1. Saya merasa apa yang terjadi dalam hidup saya sebagian besar ditentukan oleh orang lain yang
Astri Aziz Ayuningtyas, 2014
INTENSI KEWIRAUSAHAAN
usaha
2. Saya memiliki keyakinan bahwa saya mampu mencapai kesuksesan
3. Saya adalah orang yang dapat dipercaya oleh orang lain
21
22
2. Memiliki jiwa kepemimpinan 1. Saya mampu mengambil keputusan secara bijak 2. Saya memiliki keterampilan kepemimpinan yang
dibutuhkan untuk menjadi seorang wirausahawan.
23 24
3. Kematangan mental 1. Saya mampu mengendalikan perasaan pribadi 2. Saya memiliki kematangan mental untuk memulai
menjadi seorang wirausahawan.
25 26
Karakteristik Demografis
Gender 1. Kategori Gender 1. Laki-laki
2. Perempuan -
Pendidikan 1. Mendapat pengetahuan dan pendidikan Kewirausahaan
1. Sejak kecil saya sudah mendapat pengetahuan mengenai kewirausahaan dari orang tua saya 2. Pendidikan kewirausahaan yang saya dapatkan
disekolah cukup mempengaruhi diri saya untuk menjadi seorang wirausaha
27
28
Pengalaman Praktek kerja
1. Pengalaman praktek kerja 1. Saya pernah praktek kerja di instansi/perusahaan 29 2. Pengalaman usaha sendiri 1. Saya pernah mencoba mengelola bisnis
kecil-kecilan seperti menjual barang kepada teman, bisnis online, dll
30
3. Pengalaman menjalankan usaha keluarga
1. Saya pernah mencoba menjalankan bisnis keluarga 31
Karakteristik lingkungan
Akses kepada modal
1. Memiliki modal sendiri 1. Saya sudah memiliki modal untuk memulai usaha, dari tabungan ataupun dari pemberian orang tua/keluarga
2. Saya memiki kemampuan mengatur modal dengan baik
32
33
2. Relasi yang baik dengan pemilik modal
1. Saya memiliki kenalan dengan beberapa pemilik modal usaha seperti dari bantuan pemerintah, pinjaman bank dan lembaga keuangan
36
Informasi
1. Akses informasi 1. Saya mendapat kemudahan untuk mengakses
setiap informasi yang saya butuhkan
2. Saya sering mengakses informasi dari berbagai media
37
38
2. Informasi bisnis 1. Saya sering mencari informasi mengenai usaha yang akan saya jalani
39
3. Pelatihan dan seminar kewirausahaan
1. Saya sering mendapatkan informasi mengenai pelatihan atau seminar kewirausahaan dimanfaatkan jika saya memutuskan menjadi seorang wirausaha
Astri Aziz Ayuningtyas, 2014
2. Suka berteman atau bergaul 1. Saya suka berteman dengan siapa saja
2. Saya senang bertemu dengan orang-orang baru dan menjalin pertemanan
43 44
3. Menjadi anggota perkumpulan atau organisasi
1. Saya menjadi anggota perkumpulan atau organisasi di sekolah
2. Saya menjadi anggota organisasi di luar lingkungan sekolah
45
46
LAMPIRAN B
ANGKET PENELITIAN
Bandung, September 2014 Perihal : Permohonan Pengisian Angket
Kepada Yth Saudara/Saudari Di Bandung Dengan Hormat,
Dengan segala kerendahan hati penulis sampaikan angket ini kehadapan Saudara/Saudari dan teriring ucapan mohon maaf karena kehadiran angket ini yang sudah tentu mengganggu aktivitas dan waktu luang Saudara/Saudari.
Penulis bermaksud mengadakan penelitian mengenai: “Intensi Kewirausahaan di SMK Negeri Kota Bandung (Studi Deskriptif Pada Siswa SMK Negeri Kota Bandung” dalam rangka penyelesaian tugas akhir pada Program Pendidikan Ekonomi Fakultas Pendidikan Ekonomi dan Bisnis Universitas Pendidikan Indonesia.
Bersamaan dengan ini penulis mohon kesediaan semua pihak yang terkait untuk mengisi angket yang terlampir di halaman berikutnya secara objektif dalam arti apa adanya, sehingga akan membantu penulis dalam mengumpulkan data yang ada di lapangan sesuai dengan yang diperlukan.
Astri Aziz Ayuningtyas, 2014
INTENSI KEWIRAUSAHAAN
Hormat Saya,
Astri Aziz
A
A. PETUNJUK PENGISIAN ANGKET
1. Bacalah seluruh kalimat pada setiap pertanyaan sebelum Saudara/Saudari mengisinya.
2. Pertimbangkan baik-baik setiap pernyataan dan tentukan jawaban sesuai dengan keadaan sebenarnya.
3. Jawablah semua pertanyaan ini dengan cara: a. Mengisi jawaban pada tempat yang disediakan
b. Membubuhkan tanda checklist (√) pada alternatif jawaban yang tersedia
4. Pilih salah satu yang paling sesuai dari lima alternatif jawaban yang tersedia, yaitu terdiri dari:
SS = Sangat Setuju S = Setuju
KS = Kurang Setuju TS = Tidak Setuju
STS = Sangat Tidak Setuju
B. DATA RESPONDEN
No. Responden : ... (kosongkan)
Sekolah : ... Jurusan : ... Umur Responden : ...
Jenis Kelamin : L / P *)
Pekerjaan Ayah : PNS/Swasta/Wirausaha/Tidak Bekerja *) Pekerjaan Ibu : PNS/Swasta/Wirausaha/Tidak Bekerja
* Coret yang tidak perlu
No Pernyataan Alternatif Jawaban
SS S KS TS STS
1 Saya lebih memilih membuka usaha sendiri 2 Saya tidak ingin bekerja pada orang lain
3 Saya memilih karir wirausaha sebagai tujuan hidup saya
4 Saya sudah membuat perencanaan tentang usaha yang akan saya jalankan
5 Saya berencana merealisasikan usaha saya setelah lulus sekolah
Astri Aziz Ayuningtyas, 2014
7 Saya berharap dengan berwirausaha akan mendapatkan pendapatan yang lebih baik
8 Saya akan menyelesaikan pekerjaan saya dengan penuh tanggung jawab
9 Ketika memulai suatu pekerjaan, saya akan mengerjakannya sampai tuntas/selesai
No Pernyataan Alternatif Jawaban
SS S KS TS STS
Saya akan memilih tugas yang cukup sulit dan menantang karena akan memicu semangat saya untuk mengerjakannya
13 Saya suka mengambil peluang yang ada dalam kegiatan kewirausahaan.
14 Saya mengetahui konsekuensi dari setiap keputusan yang saya ambil
15 Saya siap menerima jika suatu saat saya mengalami kegagalan
16 Saya yakin setiap kesuksesan yang saya raih adalah hasil kerja keras saya sendiri
17 Kegagalan yang saya alami akibat dari kecerobohan saya sendiri
18 Saya merasa apa yang terjadi dalam hidup saya sebagian besar ditentukan oleh orang lain yang memiliki kekuasaan
19 Saya merasa kegagalan yang saya alami akibat ketidakmampuan saya menghadapi pesaing
20 Saya memiliki kepercayaan diri untuk memulai usaha
21 Saya memiliki keyakinan bahwa saya mampu mencapai kesuksesan
22 Saya adalah orang yang dapat dipercaya oleh orang lain 23 Saya mampu mengambil keputusan secara bijak
24 Saya memiliki keterampilan kepemimpinan yang dibutuhkan untuk menjadi seorang wirausahawan.
25 Saya mampu mengendalikan perasaan pribadi
26 Saya memiliki kematangan mental untuk memulai menjadi seorang wirausahawan.
27 Sejak kecil saya sudah mendapat pengetahuan mengenai kewirausahaan dari orang tua saya
28
Pendidikan kewirausahaan yang saya dapatkan disekolah cukup mempengaruhi diri saya untuk menjadi seorang wirausaha
29 Saya pernah praktek kerja di instansi/perusahaan