LANDASAN TEORI
Pada bab ini akan dijelaskan teori-teori yang mendukung metode penelitian pada penulisan skripsi ini. Teori yang akan dijelaskan akan mencakup metode dari subjek teknik industri dan sistem informasi yang digunakan dalam pengolahan data.
3.1. Teknik Industri 3.1.1. Peramalan
Peramalan atau forecasting adalah ilmu memprediksi
peristiwa-peristiwa masa depan. Peramalan merupakan perhitungan yang objektif dan dengan menggunakan data-data masa lalu untuk menentukan sesuatu di masa yang akan datang (Sumayang, 2003, p24). Peramalan adalah sebuah teknik yang menggunakan data historis untuk memperkirakan proyek yang akan datang (Chapman, 2006, p17). Terdapat beberapa karakteristik yang fundamental dalam peramalan, yaitu:
1. Peramalan hampir selalu salah.
Fokus pada peramalan bukanlah selalu mengenai benar atau salah, akan tetapi tentang “seberapa salah kita memperkirakannya” dan “apa yang akan kita lakukan apabila terdapat eror pada peramalan.” Biasanya penggunaan safety stock dalam suatu perusahaan mempunyai kaitan
2. Peramalan menjadi lebih akurat untuk famili suatu item.
Lebih mudah untuk meramalkan sebuah grup produk daripada suatu produk individu, misalnya lebih akurat memperkirakan penjualan mobil sedan daripada memperkirakan penjualan masing-masing tipe mobil sedan..
3. Peramalan menjadi lebih akurat untuk jangka waktu yang lebih pendek. Biasanya, eror yang akan dihasilkan ketika meramalkan untuk waktu yang pendek lebih kecil daripada meramalkan untuk waktu yang panjang.
4. Setiap peramalan harus ada perkiraan eror.
Peramalan yang baik haruslan mempunyai perkiraan peramalan dan perkiraan nilai eror yang akan terjadi.
5. Peramalan bukanlah pengganti dari perhitungan permintaan.
Apabila terdapat data permintaan untuk periode tertentu, jangan membuat peramalan berdasarkan periode yang sama dengan data permintaan tersebut. Selalu gunakan data yang riil apabila tersedia.
Menurut Render (2001, p46), terdapat tiga kategori yang bermanfaat untuk manajer operasi, yaitu:
a. Peramalan jangka pendek.
Waktu peramalan dilakukan dari satu hingga tiga bulan. Untuk merencanakan pembelian, jadwal kerja, jumlah tenaga kerja, penugasan dan tingkat produksi.
b. Peramalan jangka menengah.
Waktu peramalan dilakukan dari tiga bulan hingga tiga tahun. Sangat bermanfaat untuk perencanaan penjualan, perencanaan dan produksi, penganggaran kas, dan analisa rencana operasi.
c. Peramalan jangka panjang.
Waktu peramalan dilakukan untuk tiga tahun lebih. Biasanya untuk merencanakan produk baru, pengeluaran modal, lokasi fasilitas, ekspansi bisnis, penelitian dan pengembangan.
Terdapat empat tahap utama dalam siklus hidup suatu produk, yaitu tahap pertama yaitu perkenalan, tahap kedua yaitu pertumbuhan, tahap ketiga yaitu dewasa, dan tahap keempat yaitu penurunan. Peramalan berguna dalam memproyeksikan tingkat penetapan karyawan yang berbeda, tingkat persediaan, dan kapasitas produksi ketika produksi bergerak dari tahap pertama kepada tahap terakhir.
Pendekatan peramalan dapat dilakukan dengan cara kualitatif yaitu dengan memanfaatkan faktor-faktor intiusi, pengalaman pribadi, dan sistem nilai pengambilan keputusan dan untuk peramalan jangka panjang. Sedangkan cara yang berikutnya yaitu dengan cara kuantitatif yang menggunakan data historis untuk peramalan jangka pendek (secara time series) dan peramalan jangka sedang (time series atau casual).
Adapun dasar-dasar pertimbangan dalam rangka pemilihan metode peramalan yang akan digunakan sebagai berikut (Sumayang, 2003, p27): 1. Pengguna atau pelaku dan kecanggihan metode.
2. Waktu peramalan dan sumber daya yang tersedia.
3. Tergantung pada tujuan penggunaan dan karakteristik keputusan manajemen.
Dalam peramalan kuantitatif dapat dibagi menjadi peramalan seri waktu dan model kausal. Dalam metode seri waktu memiliki empat komponen yang digambarkan pada Gambar 3.1, antara lain:
1. Trend adalah gerakan ke atas atau ke bawah secara berangsur-angsur
dari data sepanjang waktu.
2. Musim adalah pola data yang berulang setelah periode harian, mingguan, bulanan, atau kuartalan.
3. Siklus adalah pola dalam data yang terjadi setiap beberapa tahun. Biasanya dikaitkan dengan siklus bisnis dan merupakan hal yang sangat penting dalam analisis dan perencanaan bisnis jangka pendek.
4. Variasi acak adalah ”tanda” dalam data yang disebabkan oleh peluang dan situasi yang tidak biasa; variabel acak mengikuti pola yang tidak dapat dilihat. Sering dihapus dengan menghilangkan periode waktu yang jelas-jelas menyimpang.
Gambar 3.1 Pola Data Permintaan
Untuk pola data Trend, dapat menggunakan metode peramalan regresi
linear ataupun double exponential smoothing satu parameter Brown
(Baroto, 2002, p32). Setelah itu, akan dibandingkan antara kedua metode, yang mana yang lebih baik untuk digunakan. Metode ini dibandingkan dengan melihat kepada Tracking Signal dan Mean Absolute Deviation. Hal
ini dikarenakan metode peramalan harus dapat dipercaya sehingga semakin kecil nilai eror, maka semakin mulus pula peramalannya. Metode yang akan digunakan dalam meramalkan permintaan untuk pola data Trend
adalah:
1. Metode Penghalusan Exponential (Double Exponential Smooting)
Metode pemulusan eksponensial tunggal (single exponential smoothing) dengan menambahkan parameter α dalam modelnya untuk
mengurangi faktor kerandoman. Biasanya yang sering digunakan adalah Double Exponential Smoothing satu parameter supaya
Dasar pemikirannya serupa dengan rata – rata bergerak linier yang secara matematis dapat ditunjukan dengan rumus :
(
)
m b a F S S b S S a S S S S X S t t m t t t t t t t t t t t t t + = − − = − = − + = − + = + − − ) ( 1 2 ) 1 ( . 1 . '' ' '' ' '' ) 1 ( ' '' ) 1 ( ' α α α α α αDimana: Xt= Data penerimaan pada periode t
a = Faktor atau konstanta pemulusan Ft+m= Perkiraan untuk periode t
Berbeda dengan metode rata-rata bergerak yang hanya menggunakan N data periode terakhir dalam melakukan perkiraan, metode pemulusan eksponensial tunggal mengikutsertakan semua periode. Setiap data pengamatan mempunyai kontribusi dalam penentuan nilai perkiraan periode sesudahnya. Namun dalam perhitungannya cukup diwakili oleh data pengamatan dan hasil perkiraan terakhir, karena nilai perkiraan periode sebelumnya sudah mengandung nilai-nilai pengamatan sebelumnya.
2. Metode Asosiatif (Linier Regresision)
Model asosiatif bergantung kepada pengenalan variabel yang dapat dikaitkan dan dapat digunakan untuk meramalkan nilai variabel yang
menjadi perhatian kita. Metode utama yang dikenal dan digunakan secara luas dalam metode ini adalah regresi.
Berikut ini rumus – rumus regresi linear sederhana :
( )
t b y a t t n y t ty n b b a yt t − = − − = + =∑
∑
∑ ∑ ∑
2 2Dimana: y = nilai peramalan a = konstanta y b = nilai kemiringan n = jumlah data
t =indeks penunjuk waktu (dimulai dari 0 dan terus berlanjut untuk periode yang diramalkan).
Satu cara untuk mengevaluasi keefektifan peramalan yaitu dengan menggunakan isyarat arah. Isyarat arah (tracking signal) adalah
pengukuran tentang sejauh mana ramalan memprediksi nilai aktual dengan baik. Bila ramalan diperbaharui tiap minggu, bulan, atau kuartal, data permintaan yang baru tersedia dibandingkan dengan nilai peramalan. Isyarat arah dihitung sebagai jumlah kesalahan ramalan berjalan (running sum of the forecast error atau RSFE) dibagi dengan deviasi absolute mean (MAD). Contoh tabel tracking signal adalah:
Tabel 3.1 Contoh Tracking Signal
Periode (n) ForeCast Permintaan Error (E= A-F) RSFE Absolut Error Kumulatif MAD Tracking Signal
(1) (2) (3) (4) = (3) – (2) (5) = Kumulatif (6) = Absolut Absolut (8) = (7)/( 1) (9) = (5) / (8)
Dari (4) Dari (4) Error
(7) =kumulatif Dari (6) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 3.1.2. Safety stock
Safety stock merupakan jumlah dari persediaan barang jadi, yang juga
disebut sebagai “buffer stock”, yang digunakan untuk memenuhi
permintaan pelanggan ketika terjadi hal yang tiba-tiba.
Rumus untuk menghitung safety stock (Greene, 1997, p309) adalah: Safety stock = Safety Factor * Standar Deviasi
Standar deviasi merupakan hasil perhitungan yang menggunakan data permintaan selama periode yang bersangkutan.
Rumus untuk menghitung standar deviasi (S) adalah: S =
2 (x-x)
n
∑
Dengan x = jumlah permintaan dalam periode yang bersangkutan, x = rata-rata permintaan selama periode yang bersangkutan, n = jumlah periode data permintaan.
3.1.3. Penjadwalan Produksi
Penjadwalan adalah mengatur pendayagunaan kapasitas dan sumber daya yang tersedia melalui suatu aktivitas atas tugas (Sumayang, 2003, p183). Penjadwalan mempunyai tujuan untuk mencapai beberapa hal seperti:
• Efisiensi yang tinggi.
• Persediaan atau inventori sedikit.
• Kepuasan pelanggan.
Penjadwalan dapat dibedakan berdasarkan jenis proses produksi, yaitu:
• Penjadwalan proses yang terus-menerus atau line process scheduling.
¾ Penjadwalan proses lini digunakan pada jalur proses perakitan atau
assembly line dan pada proses pengolahan. Penjadwalan tergantung
pada rancang bangun proses tersebut terutama untuk satu jenis produk. Tetapi apabila bermacam-macam jenis produk maka perlu diadakan perubahan pada proses dan jadwal produksi.
¾ Perubahan ini mungkin saja sederhana tetapi dapat juga rumit sehingga memerlukan perubahan mendasar pada peralatan dan pada pusat kerja.
¾ Kemampuan mengikuti perubahan proses yang cepat akan memberikan suatu keunggulan fleksibilitas untuk assembly line.
¾ Apabila jenis produk banyak maka terjadi perubahan proses produksi, untuk itu perlu menghitung besar persediaan yang paling ekonomis.
• Penjadwalan proses yang terputus-putus atau intermittent process scheduling.
¾ Akan ditemukan istilah-istilah seperti shop atau tempat kerja, job,
dan work center.
¾ Job berarti pelanggan, pasien, bahan baku, produk dalam prosesn,
atau apapun yang mengalir melalui jadwal proses.
¾ Work center adalah pusat kerja yang berarti ruangan kantor,
fasilitas, atau keahlian khusus.
¾ Berbeda dengan penjadwalan di proses line maka penjadwalan di
proses ini masing-masing job mengalir melalui pergerakan yang
tidak teratur dan penuh dengan jadwal mulai dan berhenti.
¾ Aliran yang tidak teratur disebabkan karena pusat kerja dikelompokkan berdasarkan jenis mesin dan keterampilan pekerja yang sama, sehingga job atau pelanggan akan mengalir dari satu
pusat kerja ke pusat kerja yang lain sesuai dengan jadwal dan tahapan kerja yang telah ditentukan.
¾ Karena aliran dan jalur pekerjaan tidak beraturan maka penjadwalan kadang-kadang menjadi rumit dan penuh dengan menunggu giliran masuk atau antrian ke pusat-pusat kerja.
¾ Antrian job akan terjadi pada setiap work center yang menunggu
giliran proses sebagai tahapan untuk dapat meneruskan ke proses berikutnya.
¾ Penjadwalan proses intermittent mempunyai hubungan sangat erat
dengan beberapa hal berikut ini:
Analisis pemasukan dan pengeluaran atau input-output analysis.
Pemuatan atau loading.
Tahapan atau sequencing.
Pengiriman atau dispatching.
• Penjadwalan proses proyek yang menggunakan Gantt Chart.
Aktifitas Master Production Schedule (MPS) pada dasarnya berkaitan dengan bagaimana menyusun dan memperbaharui jadwal produksi induk (Master Production Schedule/MPS), memproses transaksi MPS,
memelihara catatan-catatan MPS, mengevaluasi efektifitas dari MPS, dan memberikan laporan evaluasi dalam periode waktu yang teratur untuk keperluan umpan-balik tinjauan ulang.
Fungsi MPS adalah :
1. Menjadwalkan jumlah end item yang akan diproduksi.
2. Memberikan input bagi MRP.
3. Sebagai dasar dari pembuatan perencanaan sumber daya.
Tujuan MPS adalah :
1. Memenuhi target tingkat pelayanan terhadap konsumen. 2. Efisiensi penggunaan sumber daya produksi.
3. Mencapai target tingkat produksi tertentu.
Lingkungan manufaktur sangat menetukan proses penjadwalan MPS, lingkungan yang umum dipertimbangkan ketika akan mendesain MPS (Chapman, 2006, p78) adalah:
• Make To Stock
Biasanya akan dikirim secara langsung dari gudang produk akhir dan harus ada stok sebelum pesanan pelanggan tiba. Produk akhir harus dibuat dan diselesaikan terlebih dahulu sebelum menerima pesanan dari pelanggan.
• Make To Order
Biasanya dikerjakan setelah menerima pesanan dari pelanggan. Seringkali komponen-komponen memiliki waktu tunggu yang panjang (long lead time) direncanakan atau dibuat lebih awal guna mengurangi
waktu tunggu penyerahan kepada pelanggan.
• Assembly To Order
Pada dasarnya seperti Make To Order, dimana semua komponen yang
digunakan dalam assembly atau proses akhir direncanakan atau dibuat
lebih awal, kemudian disimpan dalam stock guna mengantisipasi
Menurut Gaspersz (1998, p141-144) pada dasarnya jadwal produksi induk (Master Production Schedulling = MPS) merupakan suatu
pernyataan tentang produk akhir (termasuk parts pengganti dan suku
cadang) dari suatu perusahaan industri manufaktur yang merencanakan memproduksi output berkaitan dengan kuantitas dan periode waktu.
Tabel 3.2 Contoh Tabel MPS Item No.
Lead Time On Hand
Periode Past Due 1 2 3 4 5
Forecast Actual Order
Project Available Balance Available to Promise Master Schedule
Kapasitas Produksi Terpasang
Description Safety Stock
Demand Time Fences Planning Time Fences
Penjelasan mengenai komponen-komponen yang terdapat dalam tabel 3.2 MPS adalah sebagai berikut :
a) Item No menyatakan kode produk yang akan diproduksi.
b) Lead time menyatakan waktu yang dibutuhkan untuk me-release atau
memanufaktur suatu produk.
c) On hand menyatakan jumlah produk yang ada di gudang sebagai sisa
periode sebelumnya.
d) Description menyatakan deskripsi produk secara umum.
e) Safety stock merupakan stok pengaman yang harus ada di tangan
f) Demand Time Fences (DTF) adalah periode mendatang dari MPS di
mana dalam periode ini perubahan terhadap MPS tidak diijinkan atau tidak diterima karena akan menimbulkan kerugian biaya yang besar akibat ketidaksesuaian atau kekacauan jadwal.
g) Planning Time Fences (PTF) merupakan batas waktu penyesuaian
pesanan di mana permintaan masih boleh berubah. Perubahan masih akan dilayani sepanjang material dan kapasitas masih tersedia.
h) Forecast merupakan rencana penjualan atau peramalan penjualan untuk item yang dijadwalkan itu.
i) Actual Order (AO) merupakan pesanan-pesanan yang diterima dan
bersifat pasti.
j) Projected Available Balance (PAB) merupakan perkiraan jumlah sisa
produk pada akhir periode. PAB dihitung dengan menggunakan rumus: PAB t < DTF = PABt-1 + MSt – AO
PAB DTF < t < PTF = PABt-1 + MSt – AO atau Ft (pilih yang besar) k) Available to Promise memberikan informasi tentang berapa banyak
item atau produk tertentu yang dijadwalkan pada periode waktu itu
tersedia untuk pesanan pelanggan, sehingga berdasarkan informasi ini bagian pemasaran dapat membuat janji yang tepat bagi pelanggan. ATPt = ATPt-1 + MSt – AOt
l)Master Schedule merupakan jadwal produksi atau manufakturing yang
3.2. Sistem Informasi
Sistem informasi merupakan pengaturan orang, data, proses, dan teknologi informasi yang berinteraksi untuk mengumpulkan, memproses, menyimpan, dan menyediakan informasi yang dibutuhkan untuk mendukung organisasi. (Whitten dan Bentley, 2004, p12).
Pemain yang terlibat dalam suatu sistem adalah:
o System analyst: merupakan fasilitator atau pelatih yang menjembatani jurang
komunikasi yang biasanya berkembang di antara sistem non-teknis (owner dan user) dengan sistem teknis (designer dan builder).
o System owner: biasanya mempunyai jabatan manajemen dan lebih tertarik pada
inti sistem, berapa biaya yang dikeluarkan dan apakah keuntungan yang dapat diberikan pada perusahaan.
o System user: lebih memperhatikan bagaimana fungsi sistem berpengaruh pada
pekerjaan mereka. Apakah memberikan kemudahan, mudah digunakan, dan mudah dimengerti.
o System designer: spesialis dari sistem informasi. Tertarik pada teknologi
informasi yang dipilih dan rancangan sistem yang menggunakan teknologi. Bertindak sebagai penerjemah kebutuhan bisnis dari keinginan user dengan
merancang database, input, output, layar, jaringan, dan software.
o System builder: spesialis teknik yang membangun sistem informasi dan
komponennya berdasarkan pada spesifikasi rancangan yang dibuat oleh system designer.
Terdapat beberapa keuntungan dengan menggunakan sistem informasi (Whitten dan Bentley, 2004, p14), yaitu:
o Meningkatkan keuntungan bisnis. o Mengurangi biaya yang dikeluarkan. o Menaikkan nilai saham di pasar.
o Memperbaiki hubungan dengan konsumen. o Menghemar biaya pada sistem.
o Meningkatkan efisiensi.
o Memperbaiki pengambilan keputusan. o Tingkat kesalahan menjadi semakin kecil.
o Memiliki pemahaman dan pengertian yang sesuai dengan peraturan. o Memperbaiki keamanan.
o Meningkatkan kapasitas.
Analisis sistem merupakan teknik pemecahan masalah yang menguraikan sistem menjadi komponen-komponen untuk dipelajari apakah sistem tersebut bekerja dan berinteraksi untuk mencapai tujuan yang diinginkan (Whitten dan Bentley, 2004, p186).
Perancangan sistem adalah rancangan yang dapat mewakili komponen-komponen dari sistem dan menyatukannya kembali menjadi sistem yang utuh dan diharapkan menjadi sistem yang lebih baik dari yang sebelumnya. Aktifitas di dalamnya dapat berupa penambahan, pengurangan, atau perubahan komponen pada sistem awal.
Menggunakan metode Object Oriented Analysis & Design (OOAD) yang
bertujuan agar semua data tersedia untuk semua fungsi (Mathiassen, 2000, p4). Beberapa keuntungan yang didapatkan dari OOAD adalah:
• Merupakan konsep yang umum yang dapat digunakan untuk memodel hampir semua fenomena dan dapat dinyatakan dalam bahasa umum (natural language).
– Noun menjadi object atau class
– Verb menjadi behaviour
– Adjective menjadi attributes
• Memberikan informasi yang jelas tentang context dari system (Gambar 3.2).
• Mengurangi biaya maintenance.
– Memudahkan untuk mencari hal yang akan diubah.
– Membuat perubahan menjadi lokal, tidak bepengaruh pada modul yang lainnya.
Gambar 3.2 Konteks Sistem
user
System
Application Domain Problem
Seperti yang diperlihatkan pada Gambar 3.3, konteks sistem dapat dilihat dari dua pandangan perspektif: sistem memodelkan sesuatu (problem domain) dan
sistem dioperasikan oleh user (application domain) (Mathiassen, 2000, p6). Problem domain merupakan bagian dari sebuah konteks yang diatur, diawasi, atau
dikendalikan oleh sebuah sistem. Sedangkan application domain adalah suatu
organisasi yang mengatur, mengawasi, atau mengendalikan problem domain. Problem domain mendeskripsikan tujuan sistem, dan juga bagian dari realitas
mengenai sistem yang akan mendukung pengaturan, pengawasan, dan pengendalian. Sedangkan application domain merupakan suatu bagian dari
organisasi user.
Gambar 3.3 Siklus Pengembangan dengan OOAD
Component Design Architectural Design Application Domain Analysis Problem Domain Analysis Specifications of components Model Requirements for use Specifications of architecture
OOA&D mencakupi empat perspektif melalui empat aktifitas utama, seperti pada Gambar 3.3 (Mathiassen, 2000, p14). Hubungan keempat aktifitas yang penting dan bertahap dapat berubah dari satu proyek ke proyek lainnya. Sebagai notasi, akan digunakan Unified Modeling Language (UML). Terdapat dua
keuntungan dengan menggunakan UML, yaitu UML dapat membangun suatu divisi di antara proses dan notasi dan UML memberikan akses kepada pasar yang lebih luas dalam pengembangannya. Langkah awal yaitu dengan memilih sistem.
Gambar 3.4 Aktifitas dalam Memilih Sistem
Pada Gambar 3.4, pemilihan sistem didasarkan pada tiga aktifitas (Mathiassen, 2000, p25). Aktifitas pertama berfokus pada tantangan: untuk mendapatkan kilasan mengenai situasi dan cara orang dalam menginterpretasikan tantangan tersebut. Yang kedua, membuat dan mengevaluasi ide untuk perancangan sistem. Yang ketiga, definisi sistem diformulasikan dan dipilih.
Situation
Ideas
Systems
System Definition
Situasi didefinisikan melalui rich picture. Rich picture sebuah penggambaran
informal yang mewakili pengertian ilustrator dari situasi tertentu. Ide mendeskripsikan bagian dari solusi yang dapat diringkas menjadi satu atau beberapa definisi. Dan tujuan mendefinisikan sistem adalah untuk memilih sistem yang akan dkembangkan.
Sistem definisi secara FACTOR adalah:
• Functionality: Fungsi sistem yang mendukung tugas application-domain. • Application domain: Bagian dari suatu organisasi yang berhubungan dengan
administrasi, monitor, atau mengendalikan problem domain.
• Conditions: Dengan kondisi yang bagaimana sistem akan dikembangkan dan
digunakan.
• Technology: Semua teknologi yang digunakan untuk mengembangkan dan
menjalankan sistem.
• Objects: object yang utama didalam problem domain.
• Responsibility: tanggung jawab sistem (kegunaan) secara keseluruhan dalam
hubungannya dengan konteks sistem.
3.2.1. Analisa Problem Domain
Terdapat 3 kegiatan yang terjadi dalam analisa problem domain
seperti yang diperlihatkan pada Gambar 3.5 (Mathiassen. 2000. p46): • Mencari elemen dari Problem Domain yaitu objects, classes, dan
• Buat model berdasarkan hubungan strutural antara class dan objects
yang dipilih .
• Interaksi antar object dan class serta behaviour dari object dan class.
Gambar 3.5 Aktifitas dalam Analisa Problem Domain
• System definition adalah suatu uraian ringkas dari suatu sistem
terkomputerisasi yang dinyatakan dalam bahasa alami.
• Class adalah objek atau event yang merupakan bagian dari sistem. • Structure adalah hubungan antara class dan objek.
• Behaviour adalah properti yang bersifat dinamis yang dimiliki oleh
objek. System Definition Classes Behaviour Structure Model Iterate
Tujuan dalam pemilihan sistem adalah untuk menentukan (menyepakati) karakteristik sistem secara menyeluruh.. Prinsip dalam memilih system adalah:
• Memahami situasi.
• Menumbuhkan gagasan baru.
• Menggambarkan alternative sistem.
Class seperti pada Gambar 3.6 (Mathiassen, 2000, p55):
• Prinsip: Klasifikasikan object didalam problem domain.
– Object: suatu entitas yang mempunyai identitas, state dan behavior.
– Class: adalah deskripsi dari kumpulan object yang mempunyai
struktur, behavior pattern dan attribute yang sama.
• Prinsip : Object diberi karakter sesuai dengan eventnya.
– Event: insiden yang terjadi seketika yang melibatkan satu atau lebih object.
Gambar 3.6 Aktifitas dalam Memilih Class dan Event
Find candidates for classes
Find candidates for events
Evaluate and select systematically
Cara menentukan class adalah: • Cari calon.
– Jangan membuang terlalu cepat, lebih baik dievaluasi dengan teliti. • Model baru atau perbaiki situasi tidak hanya seperti apa adanya
• Bagaimana menemukan candidate untuk class.
– Kata benda didalam keterangan atau pembicaraan. – Daftar dari tipical object.
– Cari persamaan dengan sistem komputer. – Literatur teknis didalam problem domain.
• Beri nama class secara hati hati.
– Sederhana, mudah dibaca, tepat, tidak membingungkan, seperti yang digunakan di problem domain.
Cara menentukan event adalah:
• Cari event didalam problem domain, bukan didalam sistem komputer • Jika event tidak instantaneous harus dipecah menjadi event yang lebih
kecil
• Dimana menemukan candidate events :
– Kt kerja didalam penjelasan atau wawancara
– Daftar event yang umum atau tipikal type dari event – Sistem komputer yang sejenis
Cara menentukan structure adalah sebagai berikut:
• Dimulai dengan class dan event yang ada pada event table.
• Tentukan struktur object dan struktur class.
• Hubungkan antar class.
• Hasilnya adalah class diagram.
Hubungan yang terjadi antara class dalam structure adalah:
• Asosiasi: hubungan yang dinyatakan dengan angka dan melambangkan kaitan antara satu class dengan class yang lain (Gambar 3.7).
Gambar 3.7 Hubungan Asosiasi
• Agregasi: hubungan yang menyatakan suatu class merupakan suatu
bagian dari class yang lain (Gambar 3.8).
Car 0..* Person 1..* Ownership Owned By Used By Name is optional, but recommended Anywhere from zero to many Anywhere from one to many
Gambar 3.8 Hubungan Agregasi
• Generalisasi: hubungan yang menyatakan bahwa beberapa class berada
dalam satu grup dengan atribut utama yang sama (Gambar 3.9).
Gambar 3.9 Hubungan Generalisasi
Behaviour pada sistem adalah: apa yang dilakukan oleh class tersebut
dan digambarkan melalui statechart diagram. Event yang terjadi dalam statechart ini memiliki tiga tipe, yaitu: sequence: event yang berurutan,
4..* 1..* 1 1 1 1 1 1
Body Motor Wheel
Cam Shaft Cylinder
Car
1 2..*
Assembly side Component side (min and max) One and only one Body is Owned by Car Anywhere from four to many A car has Passenger Car Private Car Taxi Account Loan Checking Bank book Service Person Employee Customer
Group under one generalisation Multiple inheritance Class without objects Taxi “is a”
passenger car or Taxis are a subset of passenger cars
selection: event yang hanya dilakukan berdasarkan pilihan, dan iteration: event yang dilakukan nol hingga berulang-ulang (Gambar 3.10).
Gambar 3.10 Struktur pada Statechart Diagram
3.2.2. Analisa Application Domain
Aktifitas utama pada analisa application domain digambarkan pada
gambar di bawah ini:
Gambar 3.11 Aktifitas dalam Analisa Application Domain System Definition and model Usage Interfaces Functions Requirements Iterate
Yang dilakukan dalam tahap usage adalah (Gambar 3.12):
Gambar 3.12 Aktifitas dalam Tahap Usage
• Actor: abstraksi dari user atau sistem lain yang berinteraksi dengan
target sistem.
– Actors adalah orang yang mengerjakan pekerjaan.
• Use case: pola interaksi antara sistem dan aktor didalam application
domain.
– Ikuti proses bagaimana pekerjaan akan dilakukan
Cara menentukan Actor dan Use Case adalah sebagai berikut:
• Berdasarkan pekerjaan dan pembagian pekerja. • Identifikasikan actors.
• Jelaskan use cases.
Yang dilakukan dalam tahap Function adalah (Gambar 3.13):
Evaluate
systematically
Find actors and use cases
System definition
Use cases and actors
Explore patterns
Gambar 3.13 Aktifitas dalam Tahap Function
• Temukan function dalam use case.
• Tentukan tipe function.
• Tentukan spesifikasi function.
Terdapat 4 tipe function (Mathiassen. 2000, p140),yaitu:
• Update; diaktivasi karena adanya konsekuens event pada PD (Problem
Domain) yang menghasilkan terjadinya perubahan dalam status model.
Update
*
I F M AD PD*
Gambar 3.14 Fungsi: Update
Specify
complex
functions
Find
functions
Evaluate
critically
System
Definition
Function list
Use Cases
• Read; diaktivasi karena aktor membutuhkan suatu informasi dan
sebagai hasilnya, komputer menampilkan bagian yang diperlukan kepada aktor.
Read
*
I F M AD PDGambar 3.15 Fungsi: Read
• Compute; diaktivasi karena aktor membutuhkan suatu informasi secara
matematis dan sebagai hasilnya, sistem akan menghitung dan menampilkan hasilnya pada aktor.
Compute *
I F M
AD
PD
Gambar 3.16 Fungsi: Compute
• Signal; diaktivasikarena terjadinya perubahan pada status dalam model
yang terkait dan sebagai hasilnya, sistem akan menampilkan sinyal balik kepada aktor.
Signal
*
I F M
AD
PD
Spesifikasi dari function adalah:
• Simple: function yang mudah dilakukan, misalnya membuat data baru.
• Medium: function yang memerlukan keterjelasan data, misalnya
membuat janji.
• Complex: function yang membutuhkan data yang lengkap dan detail,
misalnya memberikan daftar janji yang mungkin dilakukan. • Very complex: function yang mempunyai beberapa function di
dalamnya, misalnya membuat jadwal.
Interface adalah fasilitas yang membuat model sistem dan function dapat
berinteraksi dengan actors, yang dilakukan dalam tahap Interface adalah
(Gambar 3.18):
Gambar 3.18 Aktifitas dalam Tahap Interface Function list Class diagram Explore patterns Describe interface elements Determine interface elements Description of interfaces Use cases Evaluate interfaceelements
• User interface harus dapat mewakili hubungan model dan function
dengan user secara jelsa dan mudah dimengerti.
• Interface yang baik dilandaskan akan kebutuhan user dan bagaimana
sistem akan digunakan.
• Analisis harus dilakukan berdasarkan deskripsi yang jelas tentang user
dengan elemen-elemen yang terkait.
3.2.3. Desain Arsitektur
Terdapat dua bagian yang terjadi dalam desain ariditektur, yaitu:
• Component architecture: struktur sistem yang terdiri dari komponen yang saling terinterkoneksi.
• Process architecture: struktur eksekusi sistem yang terdiri dari proses yang saling bergantungan (interdependent).
Aktifitas yang dilakukan pada desain arsitektur akan diperlihatkan pada Gambar 3.19.
Beberapa kualitas desain yang baik adalah:
• Sistem memodel bagian dari problem domain yang sudah disetujui bersama dengan user
• Fungsi dari sistem correspond pada requirement dari application domain
• Interface merupakan implementasi dari interaksi yang telah di terangkan.
• Platform teknis digunakan secara efektif
• Sistem dapat diadaptasi terhadap requirement baru dan kebutuhan.
a. Kriteria
Aktifitas yang terdapat pada penentuan criteria adalah:
Gambar 3.20 Aktifitas dalam Menentukan Kriteria
Tujuan dari criteria adalah untuk mengatur prioritas perancangan
1. Usable adalah kemampuan sistem untuk beradapatasi dengan situasi
organisasi, tugas dan hal – hal teknis.
2. Secure adalah kemampuan untuk melakukan pencegahan terhadap
akses yang tidak berwenang.
3. Efficient adalah penggunaan secara ekonomis terhadap fasilitas technical platform.
4. Correct adalah sesuai dengan kebutuhan.,
5. Reliable adalah ketepatan dalam melakukan suatu fungsi.
6. Maintainable adalah kemampuan untuk perbaikan sistem yang
rusak.
7. Testable adalah penempatan biaya untuk memastikan sistem
bekerja sesuai dengan yang diinginkan.
8. Flexible adalah kemampuan untuk modifikasi sistem yang berjalan.
9. Comprehensible adalah usaha yang diperlukan untuk memperoleh
pengertian akan suatu sistem.
10.Reusable adalah potensi untuk menggunakan sistem pada bagian
sistem lain yang saling berhubungan.
11.Portable adalah kemampuan sistem untuk dapat dipindahkan ke technical platform yang lain.
12.Interoperable adalah kemampuan untuk merangkai sistem ke
Tabel 3.3 Prioritas Kriteria
Kriteria Very Important Important Less Important Irrelevant Easily Fulfilled Usable
Secure Efficient ...
b. Component
Menurut Mathiassen et al. (2000, p189), tujuan dari components adalah
untuk menciptakan sistem yang comprehensible dan flexible. Component architecture adalah sebuah struktur sistem dari components
yang saling berhubungan. Aktifitas yang terjadi ditunjukkan pada Gambar 3.21.
• Komponen adalah server dan beberapa dari client.
• Server memberikan kumpulan dari operation (atau services) pada client.
• Client menggunakan server secara independent.
• Arsitektur yang baik untuk mendistribusikan system secara
geografis.
• Bentuk distribusi dari bagian sistem harus diputuskan antara client
dan server.
•
Pada Tabel 3.4 akan diperlihatkan macam-macam distribusi untuk
Client/Server.
Tabel 3.4 Lima Macam Distribusi Client/Server
Client Server Arsitektur
U U + F + M Distributed Presentation U F + M Local Presentation U + F F + M Distributed Functionality U + F M Centralised Data U + F + M M Distributed Data c. Process
Menurut Mathiassen et al. (2000, p209), tujuan process adalah untuk
mendefinisikan struktur program secara fisik. Aktifitas yang dilakukan diperlihatkan pada Gambar 3.22.
Gambar 3.22 Aktifitas dalam Desain Arsitektur-Process
• Komponen yang berbeda perlu ditempatkan pada prosesor yang berbeda.
• Pertama, pisahkan objek yang aktif dari komponen program yang pasif. • Kedua, tenutkan prosesor yang tersedia.
• Distribusikan komponen program dan objek aktif kepada prosesor tersebut.
3.2.4. Komponen Model
Komponen model adalah bagian dari sistem yang mengimplementasikan model dari problem domain. Analisis : model
dijelaskan dengan menggunakan class diagram dan statechart diagram,
model juga digunakan sebagai dasar untuk mendesain komponen model yang berorientasi object.
Class diagram and component specifications Deployment diagram Distribute program Identify shared Select coordination mechanisms Explore distribution patterns Explore coordination patterns
Tujuan dari komponen model adalah untuk memberikan data yang sekarang dan data historis ke user dan sistem yang lainnya. Informasi yang
di simpan berhubungan dengan sistem yang ada didalam problem domain.
Hasil dari aktifitas komponen model adalah class diagram dari aktivitas analisis yang direvisi. Yang akan direvisi adalah model class yang
mempunyai hubungan many-to-many sehingga akan menambah class baru
di antaranya.
Database merupakan kumpulan dari class-class yang tersedia dalam class diagram. Sehingga class yang ada didalamnya akan dihubungkan