• Tidak ada hasil yang ditemukan

Mengawal dan Mengamankan Rencana Kota

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Mengawal dan Mengamankan Rencana Kota"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

Suprayoga Hadi,Pemikiran Perencanaan di Indonesia Berdasar Catatan Tahun 2004 Suhadi Hadiwinoto,Mengawal dan Mengamankan Rencana Kota 77

4

Mengawal dan Mengamankan

Rencana Kota

Suhadi Hadiwinoto

Anggota Dewan Pakar Badan Pelestarian Pusaka Indonesia Email: [email protected]

Abstrak

Para perencana banyak yang merasa puas jika menghasilkan rencana yang baik berdasarkan data dan pertimbangan yang matang. Banyak yang beranggapan bahwa rencana yang disiapkan oleh kelompok-kerjanya akan dengan mulus menjadi kenyataan yang bermanfaat bagi masyarakat. Tidak banyak yang menyadari bahwa rencana yang baik dan lurus bisa saja kemudian menjadi berbelok dan meleset jauh, bahwa suatu program bisa menguap dan raib tak kunjung datang. Para perencana sering begitu asyik dengan perencanaannya dan kurang memperhatikan upaya membangun mekanisme untuk mengawal tindak lanjutnya. Memang tidak semua kewenangan ada pada perencana, tetapi setidaknya perlu diupayakan bahwa pada setiap rencana penataan ruang selalu terkandung di dalamnya gambaran bagaimana rencana itu akan dikoordinasikan, dilaksanakan, serta diawasi dan dikendalikan. Saat ini peningkatan kualitas perencanaan sering disoroti tetapi penguatan koordinasi dan pengendalian kurang dibangun dengan sungguh-sungguh. Di samping itu perlu pula dikembangkan pemikiran perencanaan yang komprehensif, tidak terbatas pada aspek fisik saja tetapi dengan sungguh-sungguh menerjemahkan strategi ekonomi dan sosial budaya ke dalam penataan ruang.

Kata kunci: perencanaan-rencana, mekanisme pengawalan, koordinasi,

pengendalian, strategi ekonomi dan sosial budaya.

4.1 LINTASAN PENGAMATAN

Tulisan ini bukan suatu kajian ilmiah melalui penelitian yang terencana dengan segala proses dan prosedur yang harus dilewati, melainkan lebih merupakan hasil pengamatan dan pengalaman yang tercatat dalam benak penulis. Untuk kemudahan menggali ingatan, pengalaman, dan pengamatan tersebut diurutkan sesuai dengan lintasan kerja penulis.

(2)

Ali Sadikin melakukan banyak perbaikan internal dan eksternal. Pada tahun 1969 Pemda DKI meluncurkan program perbaikan kampung, suatu konsep revolusioner yang kemudian diterapkan di banyak kota lain, bahkan kemudian juga dikembangkan di beberapa Negara Asia. Waktu itu 70 % permukiman di Jakarta dalam kondisi sangat buruk dan tidak mungkin selesai ditangani dengan proses konvensional. Pemda DKI memutuskan untuk membangun dan memperbaiki prasarana dan sarana mengikuti kondisi setempat pada kampung yang sebetulnya dahulu berkembang tanpa perencanaan yang baik. Ini merupakan langkah darurat yang berani, sambil mencoba berangsur-angsur mendekatkannya pada pola perkembangan makro yang seharusnya. Pada tahun 1971 Bagian Perkembangan Kota DPU ditingkatkan statusnya menjadi Dinas Tata Kota. Pada tahun 1974 fungsi pengawasan dipisahkan dari fungsi perencanaan dan dibentuklah Dinas Pengawasan Pembangunan Kota terpisah dari Dinas Tata Kota. Beberapa lembaga lain juga ditegaskan fungsi dan kedudukannya. Pola transportasi, sentra-sentra, kawasan industri, utilitas dan fasilitas umum dicoba dibenahi. Demikian juga kantor-kantor Pemda berangsur mendapat tempat yang lebih layak. Salah satu hal yang patut dicatat adalah selalu diupayakan peningkatan berimbang antara makro-mikro, besar kecil, formal-informal, fisik-nonfisik, dan sebagainya.

Kedua, masih di Pemda DKI (1985), penulis mendapat tugas untuk mengelola Bidang Fisik dan Prasarana, di Bappeda. Waktu itu merupakan periode yang sangat dinamis dan menarik karena berbagai inovasi dapat dikembangkan. Diupayakan koordinasi yang lebih baik antara berbagai sektor prasarana melalui IUIDP (Integrated Urban Infrastructure Development Project). Demikian juga dalam perbaikan kampung diupayakan integrasi antara penataan fisik, pengembangan komunitas, dan pengembangan ekonomi lokal melalui kegiatan usaha kecil informal. Pada awalnya konsep Tribina itu ditentang, karena pada masa sebelumnya upaya integrasi ketiga sektor itu memang masih belum lazim dikembangkan secara terpadu.

Ketiga, di World Bank Jakarta (1990-2003), tempat penulis mengelola Metropolitan Environmental Improvement Program, lalu masuk di Environment and Social Impact Unit, kemudian di Urban Development Sector melanjutkan bidang kegiatan di Pemda DKI dulu. Di sini berkembang kesempatan untuk berdialog dengan banyak ahli dari berbagai negara, membahas masalah aktual di Indonesia. Kami juga berkesempatan mendampingi kota-kota di Indonesia menggarap pembangunan kotanya. Banyak lessons learned yang dapat diserap dari pendampingan itu yang akan sangat berguna jika kita dapat memanfaatkannya dengan baik.

(3)

Suprayoga Hadi,Pemikiran Perencanaan di Indonesia Berdasar Catatan Tahun 2004 Suhadi Hadiwinoto,Mengawal dan Mengamankan Rencana Kota 79

perbuat dan kita capai. Tampaknya ketiga kekuatan itu sekarang masih berjalan sendiri-sendiri menurut gaya masing-masing.

Lintasan perjalanan pekerjaan dan karir itulah yang memberikan pengalaman yang dicatat di dalam kepala dan hati penulis. Tulisan ini merupakan sebagian kecil saja yang penulis anggap penting dan relevan untuk disampaikan dalam rangkaian tulisan tentang perencanaan dalam arti yang luas.

4.2 PENGENDALIAN PERKEMBANGAN KOTA

Satu hal yang paling menonjol dalam pengamatan selama lintasan pengalaman di atas adalah bahwa berbagai produk perencanaan yang sudah disepakati, ditetapkan, dan dijadikan Perda tampaknya banyak yang tidak terwujud sebagaimana mestinya. Para perencana sudah membuang waktu dan tenaga untuk menyiapkannya dengan berhati-hati tetapi dalam pelaksanaannya banyak terjadi penyimpangan. Ada lokasi yang seharusnya menjadi jalur hijau ternyata berkembang menjadi kawasan perumahan. Ada yang direncanakan sebagai kawasan hunian kemudian berkembang menjadi kawasan komersial. Ada jalur-jalur yang sudah lama direncanakan untuk trase jalan utama tetapi dalam beberapa tahun sudah dipenuhi dengan bangunan besar dan kecil.

Ada rencana untuk membangun pusat transportasi, fasilitas olahraga, pusat perdagangan, sentra primer, sentra sekunder, dan lain lain, tetapi rencana itu tak kunjung dilaksanakan. Ada kebijakan untuk menangani permukiman kumuh tetapi jumlah dan luas permukiman kumuh terus bertambah. Ada kebijakan untuk mengembangkan sistem angkutan umum tetapi jumlah kendaraan pribadi berkembang jauh lebih pesat lagi dan pembangunan prasarana yang menunjang kendaraan pribadi jauh lebih pesat. Banyak kebijakan dan rencana yang bagus dan sangat dibutuhkan oleh masyarakat, tetapi yang terjadi di lapangan jauh berbeda. Mengapa hal itu dapat terjadi?

Perlu diakui bahwa kita sering tidak konsisten mematuhi kesepakatan dan peraturan yang telah ditetapkan bersama. Perubahan dan penyesuaian sering dianggap sebagai sesuatu yang wajar dan normal. Biasanya perubahan diusulkan dengan alasan untuk menyesuaikan dengan perkembangan terkini. Jika yang berubah adalah detail kecil pada tingkat mikro dan perubahannya adalah untuk kepentingan masyarakat luas, barangkali itu tidak menjadi soal. Tetapi jika yang diubah-ubah adalah suatu bagian strategis pada RTRW tentunya kita harus sangat berhati-hati. Beberapa pihak mengubah ketentuan dan rencana yang telah ditetapkan. Kadang-kadang ini dilakukan justru oleh mereka yang seharusnya mengawal pelaksanaan rencana kota.

Memang di dunia ini tidak ada sesuatu yang mutlak abadi. Kehidupan selalu berkembang dan kota juga terus berkembang. Bahwa kota memerlukan dinamika dan perubahan, itu pasti, tetapi tidak berarti bahwa semua unsur lalu boleh diubah seenaknya untuk kepentingan suatu pihak tanpa memperhatikan kepentingan masyarakat luas dan keberlanjutan perkembangan kota dalam jangka panjang.

(4)

objektif. Kedua, ia harus diproses sesuai dengan ketentuan dan digarap secara transparan. Ketiga, harus dilaporkan kepada atasan dan secara berkala dilaporkan kepada Dewan. Perubahan atas ketetapan Peraturan Daerah harus mendapat persetujuan Dewan.

Sejalan dengan pengetatan proses penyesuaian rencana perlu diperkuat mekanisme pengawasan dan pengendalian di lapangan. Sebetulnya berbagai pelanggaran bukannya tidak diketahui dan tidak diberi peringatan awal, tetapi banyak yang prosesnya tidak dilanjutkan atau dituntaskan. Pengawasan internal perlu diperkuat agar proses pengamatan, temuan pelanggaran, peringatan, dan penindakan berlangsung dengan baik. Peran serta masyarakat untuk peduli dengan lingkungannya dan turut mengawasi jika ada pelanggaran perlu digalakkan. Sayangnya sebagian masyarakat sudah mulai apatis karena beberapa laporan yang disampaikan kepada instansi yang berwenang tidak mendapat tanggapan sebagaimana mestinya. Pemantauan pemrosesan keluhan, pengaduan, masukan, dan usul-usul masyarakat masih memerlukan penguatan.

Kita lihat bahwa sistem pengawasan di berbagai sektor dan di berbagai tingkat saat ini masih lemah. Bidang ini tampaknya belum menjadi prioritas perbaikan, padahal berbagai upaya peningkatan kualitas perencanaan tidak akan membawa manfaat jika pengawasan dan pengendalian tetap lemah seperti sekarang.

4.3 PELAKSANAAN PROGRAM PEMBANGUNAN

Jika dicermati berapa banyak dari rencana kota yang telah dapat diwujudkan akan jelas terlihat bahwa banyak prasarana dan sarana yang telah direncanakan ternyata belum dapat dilaksanakan. Banyak kawasan yang seharusnya sudah dikembangkan ternyata belum terwujud, dan banyak yang seharusnya ditunda pengembangannya ternyata sudah jauh berkembang sebelum waktunya. Pada akhir tahun 1960-an dalam Rencana Induk Jakarta 1965-1985 telah tercantum rencana mass rapid transit

(MRT). Pada waktu itu Singapura belum menetapkan rencana pembangunan MRT dalam rencana kotanya, tetapi beberapa tahun kemudian Singapura sudah menetapkan dan melaksanakan jalur MRT, sementara di Jakarta sampai saat ini rencanya masih terkatung-katung dan belum jelas kapan akan dilaksanakan.

(5)

Suprayoga Hadi,Pemikiran Perencanaan di Indonesia Berdasar Catatan Tahun 2004 Suhadi Hadiwinoto,Mengawal dan Mengamankan Rencana Kota 81

Suatu Rencana Induk, Rencana Struktur, RUTR, dan RTRW yang menargetkan ruang dengan seluruh prasarana dan sarananya, seharusnya menjadi pemicu (trigger) bagi rencana pembangunan dan pembiayaan tahunan. Kedua sisi ini sering tidak terhubung dengan jelas, entah karena lupa atau karena tidak ingin terlalu pusing. Dengan tidak terhubungnya kedua sisi ini rencana kota lebih sering berfungsi sebagai daftar harapan atau daftar impian yang tidak jelas kapan akan dapat diwujudkan, padahal rencana kota itu seharusnya menjadi daftar komitmen yang disepakati untuk dicapai. Untuk prasarana makro mungkin pada awalnya belum dapat dengan tegas disebutkan tahunnya, tetapi setidaknya perlu digambarkan pada tahap mana prasarana itu diharapkan terwujud. Tanpa gambaran besar ini pihak swasta akan ragu menanamkan modalnya dan masyarakat juga tidak dapat mengharapkan perbaikan nasibnya.

Rencana jangka panjang, jangka menengah, dan rencana tahunan perlu diperjelas kaitannya dan diteliti kesinambungan programnya. Secara normatif hal ini sudah ditegaskan, tetapi dalam pelaksanaannya tidaklah semudah itu. Perlu diperkuat pula sinergi lintas sektor pada tahap yang bersangkutan. Keterkaitan, kesinambungan dan sinergi ini sulit dikembangkan jika pembahasan anggaran lebih terpusat pada tawar menawar jumlah anggaran yang diperebutkan oleh masing-masing sektor. Tidak banyak waktu tersedia untuk bahasan peningkatan sinergi dan capaian jangka menengah serta jangka panjang. Masalah krusial jangka pendek selalu menyita waktu pembahasan, dan ini mencerminkan tingkat pemikiran yang ‘short-sighted.’

Diperlukan gerakan yang mendorong birokrat dan masyarakat untuk lebih meluangkan waktu bagi pemikiran jangka menengah dan jangka panjang.

Sementara itu rencana tahunan tidak boleh terfokus hanya pada proyek-proyek yang populer dan ‘sexy’, perlu juga menggarap proyek yang mendesak (urgent) yang tidak begitu populer tetapi sangat dibutuhkan untuk kehidupan kota. Komunikasi perencanaan perlu dibuka lebih luas bersama masyarakat sehingga terbangun pemahaman dan dukungan luas. Saat ini proses itu berlangsung sunyi-sepi sendiri karena perbincangan luas dianggap membuang waktu dan merepotkan saja. Demikian pula komunikasi dan kerjasama regional dengan Pemda di sekitarnya perlu lebih dikembangkan karena banyak masalah yang tidak akan dapat diselesaikan dalam batas administrasi daerah masing-masing.

Upaya pengembangan kerjasama besar seperti Jabodetabek lebih sering merupakan formalitas dan belum secara efektif mempengaruhi arah perkembangan yang diingini. Kerjasama besar sering diwarnai kekhawatiran daerah yang kecil bahwa kebijakan pembangunannya akan didominasi oleh daerah induk yang jauh lebih besar. Ini terjadi jika pendekatan kewenangan dan kekuasaan lebih menonjol dibandingkan upaya membangun saling pengertian tentang masalah dan manfaat bersama. Daerah induk yang lebih besar perlu lebih rajin bertandang dan menyulam konsensus tentang potensi spesifik yang nyata dan tidak terlalu mengandalkan

(6)

4.4 PERAN SERTA MASYARAKAT

Arus reformasi pada tahun 1998 membawa perubahan besar pada tatanan kehidupan dan pembangunan di Indonesia termasuk sistem perencanaannya. Sejalan dengan arus demokratisasi dan desentraliasi maka pada penataan ruang kota juga terjadi beberapa perubahan. Penetapan rencana yang semula bernuansa top-down dengan kecepatan penuh melaksanakan kebijakan dan keputusan pemerintah, kemudian beralih kepada proses yang lebih terbuka, demokratis, dan partisipatif, namun perubahan ini tidak sepenuhnya berjalan lancar, karena birokrasi pemerintah masih terbiasa dengan proses yang serba cepat dan mudah, dan belum akrab dengan proses partisipatif yang lebih panjang dan rumit.

Para perencana juga belum sepenuhnya dapat menyesuaikan pada perkembangan baru, masih terikat pada berbagai prosedur dan ketentuan lama yang bergaya top-down dan sentralistik. Perlu diadakan penelitian, saat ini sudah berapa persen proses perencanaan yang sudah lebih transparan dan partisipatif, berapa persen yang substansinya sudah mengikuti paradigma baru yang lebih merakyat dengan prinsip keadilan dan pemerataan yang lebih kuat. Masih banyak kebijakan, peraturan, dan panduan lama yang harus diubah dan disesuaikan dengan pola baru. Tampaknya proses ini akan berlangsung lama karena orang cenderung tetap bertahan pada cara lama yang sudah sangat ‘familiar’, yang terbiasa digarapnya dengan mudah. Orang tidak suka jika ‘comfort zone’-nya diganggu.

Diperlukan dorongan formal kedinasan dan tekanan sosial kemasyarakatan untuk mempercepat proses ini agar tidak berkepanjangan terlalu lama. Dalam hal ini sangat diperlukan peran pimpinan yang selalu membimbing dan mendorong jajarannya. Pertanyaannya adalah apakah pimpinan yang dinamis seperti itu cukup banyak tersedia? Pola pembinaan aparatur selama 40 tahun Orde Baru telah membentuk jajaran kaku yang sulit berkembang dalam dinamika baru. Belum jelas apakah reformasi birokrasi sudah akan mencantumkan berbagai perubahan ini dalam agendanya. Tampaknya masuknya api semangat baru masih belum sempat mengobarkan dengan signifikan berbagai perubahan yang diperlukan.

Sementara itu masyarakat yang sudah melek reformasi dan demokratisasi mempunyai banyak harapan baru tentang transparansi dan partisipasi masyarakat. Jika harapan-harapan itu tidak dapat ditanggapi oleh para perencana dan jajaran birokrasi, akan tumbuh friksi-friksi yang berujung pada konflik sosial-politik. Belakangan ini, di masyarakat banyak, berkembang pertanyaan, sanggahan, dan protes atas penetapan RTRW dan beberapa rencana operasional. Situasi ini sebagian besar disebabkan oleh kurang berkembangnya komunikasi antara pemerintah daerah dan masyarakat, dan sebagian lagi oleh kualitas perencanaan yang masih belum dapat menyerap aspirasi masyarakat.

(7)

Suprayoga Hadi,Pemikiran Perencanaan di Indonesia Berdasar Catatan Tahun 2004 Suhadi Hadiwinoto,Mengawal dan Mengamankan Rencana Kota 83

begitu luas dan kompleks seharusnya disediakan waktu pembahasan yang cukup dalam beberapa tahap secara langsung atau melalui perwakilan profesi. Diperlukan bahasan yang mendalam pada tiap sektor, dan selanjutnya dicoba memadukan permasalahan lintas sektor.

Di samping para perencana dan birokrat perlu memahami proses dan kaidah baru perencanaan setelah reformasi, para mahasiswa sajak dini juga perlu memahami proses perencanaan yang baik dan benar. Perlu dipahami bahwa pada akhirnya yang akan merasakan manfaat, dampak, dan masalah yang diakibatkan oleh rencana tata ruang adalah masyarakat, karena itu mereka patut didengar aspirasinya. Proses penyerapan pendapat dan konsultasi untuk mendorong pada perbaikan kualitas hidup mereka dan warga kota pada umumnya perlu dilatih dalam kerja nyata di lapangan agar mereka dapat menghayati bagaimana kenyataan kehidupan dan proses penataan ruang yang sesungguhnya.

Sering dilupakan bahwa masyarakat kita terdiri dari beberapa lapisan, dan masyarakat terbanyak ada di lapisan bawah. Lapisan ini sering terabaikan, aspirasinya tidak didengar, ruang kehidupannya terpinggirkan, keberadaannya dianggap sebagai beban dalam penataan ruang. Jika masyarakat biasa dan para ahli saja kurang dapat berpartisipasi dalam penataan kota apalagi masyarakat bawah yang dianggap tidak tahu apa-apa dan tidak punya apa-apa. Perlu dilakukan upaya khusus untuk ‘mendengar’ kelompok ini karena biasanya mereka merupakan ‘the silent majority.’ Perlu digarap pengembangan komunitas atau ‘community development’ dimana warga komunitas diajak untuk berorganisasi dan berlatih menyampaikan pendapat dan aspirasinya dengan baik dan efektif.

4.5 RUANG KEHIDUPAN

Dalam penataan ruang, perencana tidak hanya membentuk pola fisik ruang dengan bangunan, prasarana dan sarananya; yang dibangun adalah ruang kehidupan tempat masyarakat dari berbagai lapisan, dengan beragam profesi, beragam kebutuhan dan pola hidupnya menjalankan kehidupannya sehari-hari yang diharapkan dapat berlangsung dengan lancar dan harmonis dalam masyarakat yang adil dan beradab. Diatur bukan hanya alokasi jumlah, luas, dan penempatan dari berbagai unsur kota melainkan secara langsung atau tidak langsung menata kualitas kehidupan kota. Ruang-ruang kota, dalam proses dan perwujudannya, harus memungkinkan masyarakat mengembangkan kehidupan yang dinamis, harmonis, dan bermartabat. Kualitas ini sering luput dari perencanaan karena perencana lebih berfokus pada aspek penataan fisiknya saja.

(8)

kepekaan, kreativitas, dan inovasi. Anggaran ber-miliar atau ber-triliun rupiah tidak banyak berarti jika tidak disertai kepekaan, kreativitas, dan inovasi.

Upaya ini tidak dapat disebarkan hanya dengan tulisan dan pidato. Perlu disajikan contoh-contoh nyata yang dapat dilihat dan dinikmati. Pemda bersama dengan masyarakat kreatif perlu menyempatkan diri membangun contoh-contoh itu di berbagai lokasi dengan didukung komunikasi yang intensif. Pastinya, perubahan ini tidak akan terjadi dengan sendirinya secara kebetulan. Jika kita ingin mengubah sesuatu, kita memang harus bekerja keras merintis pola baru itu. Tidak cukup kita hanya mengharap dan berkhotbah. Kita perlu menghimpun teman-teman yang sepaham untuk menggerakkan perubahan itu. Jika Pemda cukup responsif tentunya akan sangat membantu, jika tidak kita perlu mencari saluran-saluran lain.

Masukan seperti tersebut di atas sering dilihat sebagai masukan teoritis dan utopis, terlalu sulit untuk dilaksanakan, padahal masukan itu sebetulnya merupakan hasil pengamatan panjang dari praktek di berbagai kota dan berbagai negara dengan memperhatikan realita di negara kita sendiri. Skema-skema itu sebetulnya lebih mudah dilaksanakan daripada skema biasa yang tampaknya mudah tetapi sebenarnya jauh dari kenyataan. Di sini yang diperlukan adalah kepekaan menangkap situasi dan ketajaman memilih prioritas dimana menempatkan investasi pembangunan. Hal yang paling mudah adalah melanjutkan ‘business as usual,’

yang lebih menantang adalah garapan inovasi baru yang mengandalkan kepekaan dan kreativitas.

Potensi yang paling menonjol adalah garapan pada ruang umum (public space) berupa jalur jalan dan ruang terbuka hijau. Menggarap keseluruhan potensi itu mungkin terlalu berat, tetapi merintis perbaikan pada beberapa lokasi prioritas akan membangkitkan semangat untuk mengembangkannya lebih lanjut dengan menyertakan dukungan masyarakat dan dunia usaha. Potensi ini tidak hanya terdapat di kawasan elit dan jalur utama, tetapi juga di perkampungan dan lokasi tak terduga di permukiman kumuh. Gerakan ini tidak mutlak membutuhkan anggaran berlipatganda, tetapi lebih memerlukan realokasi anggaran dan kajian prioritas penanganan.

Pertanyaan lain yang sudah lama belum terjawab dengan baik adalah bagaimana menerjemahkan kegiatan formal dan informal dalam penataan ruang. Kegiatan informal tidak selalu harus mengganggu keindahan kota dan keserasian fungsi-fungsi lainnya. Dalam jumlah yang terkendali dengan pengaturan yang baik keberadaan sektor informal itu dapat membantu memenuhi kebutuhan masyarakat akan pelayanan tertentu, dapat menghidupkan suasana yang ‘mati,’ dan memberi peluang kesempatan kerja pada masyarakat lapisan bawah. Di sini yang diperlukan adalah pengaturan dan pengendalian yang baik disertai beberapa bimbingan etika dan estetika.

(9)

Suprayoga Hadi,Pemikiran Perencanaan di Indonesia Berdasar Catatan Tahun 2004 Suhadi Hadiwinoto,Mengawal dan Mengamankan Rencana Kota 85

mengendalikan jumlah dan lokasinya. Tampaknya masih belum terbangun mekanisme yang ampuh yang dapat menjamin bahwa pengawas tidak terlibat dalam transaksi alokasi ruang yang semakin mahal. Barangkali faktor transparansi dan penyertaan kontrol sosial dapat mengatasinya.

Ruang kehidupan masyarakat berpenghasilan menengah keatas biasanya dapat memenuhi kebutuhannya dan memelihara kualitas ruang kehidupannya. Bahkan di beberapa kawasan berpenghasilan tinggi mereka dapat meningkatkan standar kualitas ruang mencapai standar internasional. Hal yang diperlukan di sini adalah bimbingan agar perkembangan lingkungan itu tetap dapat harmonis dan terintegrasi dengan kawasan lainnya. Jika lingkungan itu menjadi sangat eksklusif dan terpisah dari kelompok masyarakat lainnya aka terjadi friksi dan konflik sosial yang sulit diatasi. Di sini dibutuhkan kepekaan perencana dan penguasa dalam memperhatikan faktor-faktor sosial politik.

Bagian lain yang sangat memerlukan perhatian adalah permukiman masyarakat berpenghasilan rendah yang merupakan bagian terbesar dari masyarakat perkotaan. Banyak di antara mereka yang tidak dapat menjangkau rumah yang layak yang memenuhi berbagai standar dan peraturan bangunan perkotaan, dan tidak sesuai dengan rencana kota yang sah. Banyak di antara mereka yang tidak mampu membeli atau menyewa lahan-lahan yang sah sesuai dengan zoning dan pemilikan tanah. Banyak di antara mereka yang terpaksa menghuni rumah kumuh di bantaran sungai, di tepi rel kereta api, di kawasan banjir, atau di samping tempat pembuangan sampah. Apakah mereka harus dikriminalisasi karena tidak mampu memenuhi peraturan yang berlaku?

Suatu kota memang harus mempunyai peraturan yang ditaati oleh seluruh warga kotanya, tetapi masalah seperti ini harus dapat diselesaikan dengan bijak melalui penanganan yang rasional dan realistik. Kota tidak boleh meng-alien-nasikan warga miskin. Kota untuk semua dan prinsip ini harus konsekuen ditegakkan. Masyarakat miskin tidak boleh dianggap sebagai beban. Mereka adalah juga tenaga produktif yang memungkinkan kegiatan pembangunan dan pemeliharaan kota berlangsung dengan lancar. Dalam Negara Kesatuan berdasar Pencasila arus migrasi masuk ke dalam kota tidak boleh dilarang. Arus ini dapat dikurangi dengan pemerataan pembangunan di berbagai daerah, tetapi melarang kelompok warga tertentu masuk ke kota adalah bertentangan dengan peri kemanusiaan dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

(10)

diselesaikan. Harus digarap langkah-langkah positif untuk menyelesaikan masalah itu dengan terukur.

Beberapa upaya perbaikan permukiman kumuh atau slum area telah diupayakan melalui program perbaikan kampung, tetapi tampaknya pemerintah masih menghindar dari penanganan permukiman squatter yang menempati lahan tanpa hak di tepian sungai dan sebagainya. Penanganan masalah squatter tidak berarti harus melegalisasi seluruh pelanggaran, tetapi lebih merupakan upaya bersama bagaimana masalah itu dapat diselesaikan secara adil dan rasional. Penanganan program ini jelas tidak sederhana dan tidak semudah mengatakannya, tetapi mau tidak mau program ini harus digarap jika kita tidak ingin membiarkannya berlarut-larut dan suatu ketika menjadi bom waktu yang memicu konflik sosial. Penanganan masalah squatter tidak bisa diselesaikan dengan model penertiban dan penggusuran saja tetapi perlu digarap bersamaan dengan solusi yang realistik dan terjangkau.

Sementara itu program perbaikan kampung yang dimulai 42 tahun yang lalu perlu dikembangkan garapannya tidak terbatas pada perbaikan prasarana dan sarana umum tetapi perlu memperhatikan penanganan yang lebih holistik. Penerapan konsep Tribina atau Tridaya yang dimulai 25 tahun yang lalu membawa angin segar, tetapi itupun harus ditingkatkan dengan pemikiran-pemikiran baru, jangan selalu statis dengan business as usual. Beberapa negara tetangga telah mengembangkan community development sebagai mekanisme penyelesaian sengketa tanah antara pemilik dan penghuni. Ada juga penerapan pola-pola ‘membangun tanpa menggusur.’ konsep-konsep itu sudah sering dibahas di Indonesia, tetapi tidak kunjung dicoba pelaksanaannya.

Setelah melalu krisis moneter yang mencekam pada tahun 1969 dan perubahan politik yang membingungkan, banyak pelaku dan perencana pembangunan yang masih dalam situasi psikologi terpuruk, terpaku pada situasi tidak berdaya, dan kehilangan semangat kerja. Banyak yang bersikap lebih baik aman tidak terjerat aturan baru, daripada kreatif tetapi harus sulit menghadapi dakwaan penyimpangan. Saat ini yang diperlukan adalah api semangat baru untuk keluar dari kebekuan. Tugas pimpinan adalah menyalakan api itu, memberi semangat, membimbing, dan memfasilitasi proses pembaharuan. Tidak hanya diperlukan peraturan baru yang lebih menertibkan proses yang amburadul, tetapi diperlukan juga aturan yang merangsang kreativitas dan kemajuan, tentu saja dengan memperhatikan mekanisme pengamanan yang diperlukan.

4.6 KEHIDUPAN SOSIAL BUDAYA

(11)

Suprayoga Hadi,Pemikiran Perencanaan di Indonesia Berdasar Catatan Tahun 2004 Suhadi Hadiwinoto,Mengawal dan Mengamankan Rencana Kota 87

masyarakat juga melangsungkan kegiatan ekonomi dan sosial budaya. Jika berbagai prasarana dan sarana fisik adalah raganya, maka nilai-nilai sosial budaya adalah jiwanya, dan ekonomi adalah energi yang dikelola dan dimanfaatkan dalam menjalankan kehidupan.

Hal-hal yang berkenaan dengan kegiatan ekonomi seperti pusat perdagangan dan perkantoran, kawasan industri, dan sektor informal juga mendapat banyak perhatian karena dirasakan langsung terkait dengan kemakmuran, kesempatan kerja, dan penanggulangan kemiskinan. Meskipun demikian masih banyak terjemahan kebijakan ekonomi kota yang belum sepenuhnya tergarap dalam penataan ruang kota. Salah satu isu yang belum tergarap dengan jelas adalah bagaimana menyandingkan sektor informal dengan sektor formal dalam ruang kota, bagaimana mengatur dan megendalikannya dengan tepat, di satu sisi membuka kesempatan pada sektor informal untuk eksis dan berkembang, di sisi lain menjaga agar dapat tetap tertata dalam jumlah dan posisi yang harmonis dalam ruang kota. Konsep-konsep pertumbuhan dan pemerataan yang baik juga belum terwujud sepenuhnya dalam kota.

Bagaimana ruang kota melayani dengan baik kebutuhan interaksi sosial dan kehidupan budaya belum banyak diperbincangkan. Kebutuhan ini tidak dapat dijawab hanya dengan menyediakan sekian hektar lahan pada lokasi tertentu untuk fasilitas sosial. Angka jumlah dan luas itu harus diterjemahkan dengan baik dan benar agar dapat melayani dan mengantar masyarakat meningkatkan kualitas hidupnya. Setelah selesai dibangun berbagai sarana itu harus dikelola dan digunakan sebaik-baiknya agar dapat membawa manfaat nyata bagi masyarakat. Tujuan dan strategi pembangunan bidang sosial budaya secara utuh sering belum terserap sepenuhnya dalam penataan ruang kota. Yang sudah tertampung adalah ukuran jumlah dan luas, tetapi ruh pengembangan sosial budaya itu belum menjiwainya. Dalam tahap perencanaan aspek sosial budaya kurang mendapat perhatian, dalam tahap pelaksanaan kurang mendapat anggaran, dan dalam tahap pemanfaatan kurang didukung manajemen yang efektif.

Masyarakat mendambakan kota yang aman dan tenteram, yang memungkinkan warga mengembangkan kehidupan yang harmonis dan sejahtera. Disamping aman dari gangguan alam, bencana, kecelakaan, dan gangguan fisik lainnya, juga aman dari kegiatan yang mungkin mengganggu satu sama lain. Masyarakat mendambakan interaksi sosial yang rukun dan dinamis dilandasi keadilan dan kesetaraan. Masyarakat mengharapkan kehidupan budaya yang dapat terus mengangkat harkat kemanusiaan, yang terus meningkatkan kualitas hidupnya. Harapan tersebut harus dapat dilayani oleh ruang kota. Urusan kehidupan kota bukan hanya merupakan persoalan dakwah, pendidikan, dan peraturan perundangan. Ini juga dipengaruhi oleh penataan ruang karena adanya pengaruh timbal balik antara ruang dan kehidupan manusia. Apakah harapan-harapan itu sudah menjiwai dan diterjemahkan dengan baik dalam penataan ruang kota?

(12)

yang diserbu dan disita oleh kegiatan komersial. Ruang visual juga banyak didominasi oleh berbagai iklan raksasa yang berteriak di segala penjuru. Memang kegiatan perdagangan dan iklan media ruang luar merupakan sumber pendapatan yang sangat besar bagi Pemda, tetapi seharusnya dikembangkan pengendalian yang lebih efektif. Berbagai ketentuan yang ada seharusnya juga dapat mencegah penggerogotan ruang terbuka oleh bangunan yang didirikan dengan atau tanpa izin membangun. Pelanggaran batas koefisien dasar bangunan dan koefisien lantai bangunan jelas menambah beban yang harus dipikul oleh ruang kota. Kita sudah terlalu permissive membiarkan pencurian dan gangguan terhadap ruang kehidupan sosial budaya yang seharusnya menyumbang bagi peningkatan kualitas hidup masyarakat.

Sementara itu ruang publik yang sudah ada banyak yang masih steril dari suasana kehidupan yang positif. Banyak ruang publik yang masih ‘kering’ sekedar sebagai ruang kosong atau tempat berlalu lalang. Ruang publik dapat diisi dengan berbagai karya seni, dapat digunakan untuk menyajikan patung dan lukisan, dapat diisi oleh seseorang memperagakan pantomim, atau memainkan suling yang dapat menghidupkan suasana. Jumlah dan penampilannya harus dijaga agar tidak berubah menjadi ‘pasar’ yang hiruk pikuk. Sering terjadi di banyak kota kita bahwa awal yang baik itu kemudian disusul dengan perkembangan tak terkendali yang didominasi tujuan komersial. Pada negara lain keberadaan seseorang yang duduk memainkan cello atau gitar klasik tanpa meminta-minta, keberadaan karya seni di ruang terbuka sangat membantu terbangunnya suasana kehidupan yang akrab dan bergairah.

Pada lapangan kelurahan atau kecamatan pada waktu tertentu dapat diselenggarakan kesenian rakyat yang memberi ruang pada kelompok masyarakat berkesenian dan berkomunikasi. Pendopo kelurahan atau kecamatan dapat juga lebih ramah memberi kesempatan pada warganya untuk berkesenian. Ia dapat mendekatkan masyarakat pada pamongnya, menjembatani kesenjangan yang semakin jauh. Sanggar seni di RT/RW dan pendidikan kesenian untuk anak-anak perlu digalakkan agar lebih berkembang keseimbangan antara kehidupan fisik dan penguatan nilai-nilai.

Di samping kegiatan skala mikro seperti tersebut di atas, suatu kota perlu mempunyai gedung kesenian, pusat kebudayaan, museum, galeri, dan sebagainya. Pada beberapa kota, fasilitas itu tersedia tetapi isian kegiatannya belum optimal. Ini sangat tergantung kemampuan manajemen untuk mengelola acara, membangun suasana, dan berkomunikasi dengan publik. Jelas bahwa alokasi ruang kota masih harus diikuti dengan pembangunan sarana yang tepat dan kemampuan mengelola yang prima untuk membuatnya efektif berguna bagi masyarakatnya. Berbagai upaya pengembangan kegiatan seni budaya perlu dilihat bukan hanya sebagai pengembangan hiburan atau entertainment tetapi sebagai upaya mengolah dan mempertajam kepekaan pada sistem nilai, mengajak masyarakat mengolah ‘rasa’ di samping memikirkan sandang pangan dan kebutuhan fisik lainnya.

(13)

Suprayoga Hadi,Pemikiran Perencanaan di Indonesia Berdasar Catatan Tahun 2004 Suhadi Hadiwinoto,Mengawal dan Mengamankan Rencana Kota 89

estetika dan logika yang mantap. Kota yang terbangun akan mengandung ‘ruh’ dan semangat hidup yang bergelora. Kita akan dapat mengenali dan merasakan kota-kota mana yang mempunyai gelora kehidupan budaya dan kota-kota mana yang sekedar tumbuh seadanya saja. Kota yang berbudaya akan tampil cemerlang dengan kehidupan yang dinamis, harmonis dan semangat tinggi, sementara kota-kota lain tinggal biasa-biasa saja tanpa gairah kehidupan. Kehidupan budaya bukan hanya milik orang kaya saja. Kita banyak melihat masyarakat sederhana yang akrab dengan pemahaman dan kehidupan budaya, sementara ada juga masyarakat berpenghasilan tinggi yang tidak peka memahami kehidupan budaya.

4.7 KEBERLANJUTAN FISIK, EKONOMI, DAN SOSIAL BUDAYA

Kita tentunya mengharapkan bahwa kota-kota kita tidak mati di tengah perjalanannya, tidak susut, merosot, dan punah kehilangan roh-nya. Kita mengharapkan perkembangan kota yang berkelanjutan. Perkembangan kota tidak selalu harus diartikan identik dengan perluasan kota dan pertambahan jumlah penduduk. Perkembangan kota yang berkelanjutan lebih dimaksud sebagai peningkatan kualitas kehidupan masyarakatnya, baik secara fisik, ekonomi, maupun sosial-budaya. Kota harus dapat menjawab berbagai tantangan baru tanpa melupakan sejarah dan identitasnya. Tentu saja kota dapat berkembang dan berubah sejalan dengan perkembangan kehidupan masyarakatnya, tetapi ia perlu menjaga karakter dasarnya yang terwujud dalam berbagai unsur dan kehidupannya. Kota juga perlu menjaga agar mesin ekonominya tetap berjalan lancar.

Suatu kota dapat hidup berkelanjutan jika ia dapat memelihara keberlanjutan fisik, ekonomi, dan sosial budayanya. Tidak cukup ia hanya memperhatikan penataan fisiknya saja. Ia harus secara simultan mengusahakan keberlanjutan ekonomi dan sosial budaya kotanya. Tidak cukup ia hanya mengurus alokasi dan penempatan ruang, sanitasi, transportasi, dan berbagai prasarana fisik. Ia harus berupaya agar perkembangan ekonomi kotanya sehat dan berkelanjutan, dan ini harus secara tepat diterjemahkan dalam penataan ruangnya serta koordinasi pencapaiannya. Ia harus berupaya agar kehidupan sosial budaya berkembang harmonis dan dinamis, dan ini harus didukung oleh ruang kota yang direncanakan disertai upaya pelaksanaan dan pengelolaan yang efektif.

Setiap tahun kita lihat ada upaya untuk mencari dan menilai kota mana yang terbaik. Seyogyanya penilaian atas pembangunan dan pengelolaan kota yang terbaik selalu didasari keberhasilan mengembangkan ketiga bidang itu secara harmonis yaitu: fisik, ekonomi, dan sosial budaya. Bupati dan Walikota perlu selalu mengupayakan kemajuan dan keseimbangan ketiga bidang itu agar kota dan kabupaten dapat berkembang berkelanjutan dengan baik. Penilaian yang ada sekarang sering lebih berfokus pada aspek perkembangan fisik dan kurang cermat mengukur keberhasilan di bidang ekonomi kota dan kehidupan sosial budayanya.

(14)

dalam perencanaan fisik ada disebut aspek ekonomi dan sosial budaya yang harus diperhatikan, tetapi proses itu belum sampai membangun strategi dan program bersama bagaimana mewujudkan keberlanjutan fisik, ekonomi, dan sosial budaya secara efektif dengan dukungan masing-masing bidang. Kotak dan sekat-sekat birokrasi masih terlalu tebal untuk memungkinkan kerjasama dan kerja bersama yang nyata.

Kedua, bahwa perencanaan, pelaksanaan, dan pengendalian adalah merupakan bagian manajemen yang utuh dan tidak boleh terputus. Para perencana seyogyanya tidak hanya cukup puas dengan produk perencanaan yang baik saja, tetapi perlu juga direncanakan dan diperjuangkan, atau setidaknya memberi catatan, bagaimana mengembangkan sistem pelaksanaan dan pengendalian untuk mengawal rencana agar rencana itu dapat terlaksana dan tidak menyimpang atau raib ditengah jalan. Para perencana yang bekerja di berbagai lembaga dan berbagai bidang perlu bekerja keras dan berjuang agar rencana yang telah disepakati dan ditetapkan secara sah dapat benar-benar terwujud. Perdebatan panjang mengenai proses dan materi perencanaan tidak akan banyak berguna jika berbagai proses lanjutannya tidak diamankan.

Ketiga, bahwa pembangunan itu bukan domainnya para ahli perencanaan dan para pakar saja, melainkan merupakan kepentingan seluruh rakyat. Para ahli tidak dapat beranggapan bahwa pemikirannya sudah pasti mewakili aspirasi seluruh rakyat. Diperlukan lebih banyak komunikasi, baik secara langsung maupun melalui organisasi dan lembaga perwakilan. Pada masa Orde Baru keinginan untuk membangun dengan cepat sering mengabaikan proses komunikasi dan konsultasi dengan masyarakat. Akibatnya masyarakat menjadi terasing dari proses pembangunan, dan kadang-kadang tumbuh keberatan dan pertentangan yang terpendam, yang sewaktu-waktu meletus sebagai konflik. Setelah reformasi dituntut partisipasi masyarakat yang lebih luas, tetapi banyak pejabat dan perencana yang tidak merasa nyaman dengan proses yang relatif lebih rumit ini karena mereka sudah begitu terbiasa dengan proses yang mudah dan cepat. Reformasi perencanaan perlu dikembangkan lebih nyata dan efektif.

Referensi

Dokumen terkait

Meminta Pemerintah secara berjenjang, di tingkat Pusat melalui Kementerian Kesehatan dan Komite Penanggulangan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi, di tingkat daerah

Loyalitas kerja karyawan merupakan aspek yang sangat penting yang harus diperhatikan oleh seorang pemimpin dalam suatu lembaga organisasi, sebab dengan

Untuk membangun suatu bisnis, lokasi juga mengambil peran penting dalam kelangsungan bisnis tersebut.Karena faktor lokasi merupakan faktor yang.. 36 penting yang

Tingkat pengetahuan ibu hamil berdasarkan definisi kebudayaan, terutama pada pertanyaan tentang kehamilan merupakan proses alamiah sebagai kodratnya sebagai perempuan,

dilakukannya suatu studi kelayakan investasi alat angkut Perum BULOG melalui optimasi rute dan jumlah kendaraan dalam penyaluran raskin divre DKI Jakarta dengan menggunakan

Analisis studi gerakan dan waktu dengan Menggunakan Toyota Production System dilakukan di assembly shop, pada line Trimming 1, proses persiapan booster, karena

Saran yang dapat diberikan terkait dengan sistem sanksi dalam hukum Islam adalah: Negara Indonesia seharusnya tidak membatasi keberlakuan hukum Islam di Indonesia