MAKALAH PENDIDIKAN
MEMBANGUN GURU MERAIH PRESTASI DAN PROFESIONALISME DENGAN
KEJUJURAN
Peneliti : Drs. ANLATIF NIP: 196709031993031007
PEMERINTAH KABUPATEN KARAWANG DINAS PENDIDIKAN PEMUDA DAN OLAHRAGA
Kata Pengantar
Segala puji bagi Allah swt Tuhan Semesta Alam yang telah memberikan berbagai nikmat, ilmu, hikmah, rizki, kesehatan dan lainnya kepada kita sekalian.
Penulis mengucapkan terimakasih kepada berbagai pihak yang telah berusaha membantu penulis dalam melakukan penelitian, khususnya Ria Mariani ( istri ), Iqbal Garibaldi Latief, Haidar Jabbarsyah latief dan putri kecilku Raisa Hisani Malika Latief yang telah banyak terganggu waktu bercengkaramanya . Juga kepada teman-teman guru di SMA Negeri 2 Cikampek yang memberi dukungan moril hingga terselesaikannya penyusunan makalah ini.
Makalah yang dilakukan sisusun ini dalam rangka memenuhi persyaratan sebagai calon peserta guru berprestasi tingkat kabupaten Karawang tahun 2016.
Makalah ini belum sempurna dalam banyak sisinya, karena itu, kritik dan saran dari pembaca sangat diharapkan untuk penyempurnaan makalah ini, sekaligus mematangkan penulis untuk terus melakukan perluasan wawasan edukatif, sehingga, bisa menyajikan pola berfikir yang inspiratif bagi semua pihak pembaca , khususnya bagi sesame rekan guru di Kabupaten Karawang.
Cikampek, 18 April, 2016 Penulis
Drs. Anlatif
MEMBANGUN GURU MERAIH PRESTASI DAN PROFESIONALISME
DENGAN KEJUJURAN
BAB I
PENDAHULUAN
a. Latar belakang
Manusia memiliki insting pedagogis, insting untuk mendidik keanak-anaknya atau ke generasi yang lebih muda dengan tujuan menyempurnakan watak, karakter, kepribadian serta keterampilannya sehingga bisa hidup dan cakap dalam bermasyarakat.
Dalam peradaban modern, insting pedagogis dilembagakan menjadi sekolah. Sekolah memerankan fungsi pendidikan dan pengajaran terhadap generasi muda. Dalam konteks ini, Ki Hajar Dewantara mendifiniskan pendidikan sebagai berlakunya pengaruh orang terhadap orang lain dengan maksud memberi kemajuan dalam hal apapun. Pendidikan menurut MJ Langeveld (1955) adalah usaha menolong anak untuk melaksanakan tugas –tugas hidupnya, agar dia bisa mandiri, akil balig dan bertanggungjawab secara susila. Pendidikan bertujuan mempersiapkan hidup.
Abad modern menimbulkan perubahan besar dalam peradaban manusia berupa persaingan tidak saja antar individu atau antar masyarakat tetapi juga antar Negara. Sehingga, menurut Francis Fukuyama, setiap Negara berupaya agar memiliki daya saing tinggi dalam banyak bidang, bukan saja untuk menghindari menjadi Negara gagal, tetapi juga untuk mewujudkan cita-cita politik bernegara yaitu kemakmuran dan kesejahteraan bersama dalam sebuah nation. Karena itu dibangun berbagai institusi pendidikan dalam jumlah yang berkecukupan.
Di Indonesia, sebagai Negara berkembang, menetapkan tujuan pendidikan nasional dengan tegas menyatakan mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berahlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggungjawab kemasyarakatn dan berkebangsaan.
tujuan pendidikan nasional harus dibentuk visi sekolah, misi sekolah , strategi managemen yang akan diterapkan serta penyiapan infrastruktur dan superstruktur serta kultur yang dibutuhkan. Karena, dimensi dari tujuan pendidikan nasional diatas diharapkan dapat menghasilkan sumber daya manusia berkualitas nasional, regional bahkan global. Berkualitas dalam konteks sekarang berarti bisa kompetitif dan bisa memenangkan persaingan global. Sehingga disain dunia pendidikan diarahkan untuk dapat menciptakan sumber daya manusia kualitas tinggi. ( Prof.Dr. H. Syaiful Sagala, M.Pd , hal4 ) .
Disisi lain, pendidikan juga harus menghasilkan manusia yang memiliki kepribadian. Kepribadian Indonesia yang dimanifestasikan kedalam bentuk kerangka berfikir dan berbuat sesuai nilai dan norma Indonesia yang sehat dan rasional. Menurut Dr. Kartini Kartono, tanpa pendidikan, anak tidak akan dapat mencapai martabat kemanusiaan, tidak bisa menjadi pribadi utuh; juga tidak bisa menjadi insane sosial dan abdi Tuhan Yang Maha Esa yang saleh ( Kartini, 1977)
Pendidikan yang bermutu harapan semua pihak, baik pemerintah, pengguna, orang tua siswa, para guru dan semua siswa. Mereka sepakat dan menginginkan lembaga-lembaga pendidikan di Indonesia dapat menghasilkan kualitas peserta didik yang unggul sesuai tujuan pendidikan nasional.
Dari paparan diatas, factor guru menjadi sangat strategis dalam pembangunan mutu pendidikan di Indonesia. Gurulah yang menjadi sutradara pembelajaran, ia menjadi fasilitator, evaluator bahkan kerap dijadikan nara sumber utama oleh siswa. Karena guru menjadi penentu,yang menjadi pertanyaan dalam makalah ini, bagaimana membangun guru untuk meraih prestasi dan profesionalismenya ?
BAB II
PEMBAHASAN
tergantung pada banyak unsure pendidikan. Menurut P.H. Coombs terdapat 12 komponen pendidikan utama dalam sistem pendidikan, yaitu :
1. Tujuan dan prioritas
Ke 12 unsur pendidikan tersebut harus memainkan peran maksimal untuk membangun mutu tinggi yang diharapkan. Bila ada terdapat komponen yang tidak ada atau tidak maksimal maka dengan sendirinya atau secara logika mutu atau kualitas pendidikan yang dihasilkan juga akan turun.
Secara definitive, Mutu (Kartini, 1977) didefinisakan sebagai derajat, ukuran baik buruk dan tinggi rendahnya sesuatu. Segala sesuatu yang bermutu dalam pendidikan adalah awet, berguna, fungsional bagi manusia. Sesuatu yang tidak bermutu akan mudah lapuk dan tidak berguna bagi manusia.
Masyarakat berharap mutu pendidikan tinggi yang ditandai para lulusan bisa memecahkan masalahnya sendiri dan bisa memecahkan masalah-masalah didalam masyarakatnya sendiri . Ketika standar yang diharapkan belum sesuai harapan , maka guru kerap menjadi pihak yang disalahkan, guru dianggap tidak professional, guru dianggap tidak menjalankan fungsinya dengan baik.
Walau ada 12 komponen yang menentukan mutu pendidikan dan guru hanya satu komponen dari 12 komponen yang ada. Bahkan leadership kepala sekolah juga ikut menentukan mutu pendidikan yang dihasilkan. Tetapi , karena masyarakat hanya mengenal guru maka gurulah yang dianggap kurang memainkan perannya.
Hal tersebut didasarkan bahwa Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah yang memegang peran utama dalam rangka implementasi fungsi dan upaya mencapai tujuan nasional tersebut. Untuk menjalankan tugas utama guru harus memiliki kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi professional.
Dalam konteks berfikir diatas, Guru memainkan peran strategis dalam proses belajar
mengajar. Guru berfungsi memberikan tangga-tangga kognitif kepada siswa. Guru
berperan sebagai moderator dan fasilitator.( Agus, hal 38 ).
Menurut Paul Suparno, tugas guru adalah :
1. Menyediakan pengalaman belajar
2. Merencanakan kegiatan siswa
3. Memonitor dan mengevaluasi pemikiran dan sikap siswa
4. Memahami cara berfikir siswa
5. Berwawasan luas dan mendalam
Keberhasilan siswa menurut teori konstruktivisme ditentukan oleh keterampilan guru dalam merancang proses pembalajaran , melaksanakan proses pembelajaran dan capaian target pembelajaran yang diinginkannya.
Pemerintah menginginkan semua guru memiliki prestasi tinggi dan berstandar professional, karena Guru SMA yang berprestasi merupakan Guru SMA yang dapat menjadi model atau contoh bagi Guru SMA lainnya. Guru berprestasi diharapkan berdampak positif bagi perkembangan pendidikan dan peningkatan mutu dan proses hasil pembelajaran.
Guru sebagai manusia memiliki banyak keterbatasan, tetapi sebagai manusia ia juga menyimpan potensi yang luar biasa. Membangun kualitas guru berarti membangun sisi kompetensinya, membangun sisi intelektualnya, membangun sisi kompetensi sosialnya, spiritualnya, leadershipnya, enterpreunershipnya dan pengalamannya.
Berikut ini kompetensi yang diharapkan dimiliki guru : 1.Kompetensi pedagogic
1. Tercermin dari tingkat pemahaman terhadap peserta didik , yang terdiri dari
(1) memahami peserta didik dengan memanfaatkan prinsip-prinsip perkembangan kognitif;
(2) memahami peserta didik dengan memanfaatkan prinsip-prinsip kepribadian (3) mengidentifikasi bekal-ajar awal peserta didik.
2. Kemampuan yang terdiri dari perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, terdiri dari (1) memahami landasan kependidikan
(2) menerapkan teori belajar dan pembelajaran
(3) menentukan strategi pembelajaran berdasarkan karakteristik peserta didik, kompetensi yang ingin dicapai, dan materi ajar
(4) menyusun rancangan pembelajaran berdasarkan strategi yang dipilih. 3. Kemampuan merancang dan melaksanakan evaluasi hasil belajar terdiri :
(1) merancang dan melaksanakan evaluasi (assessment) proses dan hasil belajar secara berkesinambungan dengan berbagai metode
(2) menganalisis hasil evaluasi proses dan hasil belajar untuk menentukan tingkat ketuntasan belajar (mastery learning)
(3) memanfaatkan hasil penilaian pembelajaran untuk perbaikan kualitas program pembelajaran secara umum.
4. Pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya. (1) memfasilitasi peserta didik untuk pengembangan berbagai potensi akademik (2) memfasilitasi peserta didik untuk mengembangkan berbagai potensi
nonakademik.
2) Kompetensi kepribadian tercermin dari kemampuan personal, berupa kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik dan masyarakat, dan berakhlak mulia.
4) Kompetensi profesional tercermin dari tingkat penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam, yang mencakup penguasaan materi kurikulum mata pelajaran di sekolah dan substansi keilmuan yang menaungi materinya, serta penguasaan terhadap struktur dan metodologi keilmuannya.
Membangun profesionalisme guru berarti membangun kapasitas dan kompetensinya
dalam mengerjakan berbagai tugas yang harus diemban sebagai seorang guru, baik guru
sebagai pengajar atau pendidik,
Guru yang menghasilkan karya kreatif atau inovatif antara lain melalui:1) Pembaruan (inovasi) dalam pembelajaran atau bimbingan; 2) Penemuan teknologi tepat guna dalam bidang pendidikan;
3) Penulisan buku fiksi/nonfiksi di bidang pendidikan atau sastra Indonesia dan sastra daerah;
4) Penciptaan karya seni; atau
5) Karya atau prestasi di bidang olahraga.
Membangun karir guru berarti harus ada jenjang jelas dalam karir guru dengan iklim kompetisi yang sehat tidak diracuni oleh vested interest dari individu atau sekelompok individu yang segala ide dan tindakannya merusak iklim kompetitif para guru dalam meraih jenjang karir terbaiknya. Karir guru perlu dibangun baik untuk perbaikan organisasi, penyempurnaan organisasi, menggerakan organisasi maupun untuk peningkatan motivasi dan kesejahteraan guru. Sistem karir yang jelas, transparan, akuntabel dapat mendorong guru untuk melakukan yang terbaik yang bisa dia berikan dalam kerjanya. Ia melihat target dan mengukur kinerjanya berdasarkan target. Target yang berbentuk posisi – posisi yang secara hirarkis terus meningkat, prestisius dan meningkatkan penghasilannya secara signifikan tanpa melanggar undang- undang dan berbagai peraturan lainnya.
Sistem karir yang tak jelas, membuat motivasi guru rendah, karena tak melihat target karir yang jelas serta penghasilan yang signifikan dan khawatir melanggar aturan atau undang-undang. Sehingga, guru hanya melihat tidak ada tantangan berprestasi yang signifikan .
Membangun kesejahteraan guru berarti memberikan gaji dan penghasilan tambahan yang cukup bahkan lebih untuk guru dan keluarganya. Baik melalui politik penggajian yang menghargai profesionalisme guru maupun penetapan standar penghasilan yang jelas dan diatas UMR, karena guru, bukan karyawan yang bekerja mengolah barang atau hanya mengerjakan tugas administrative, tetapi guru sebagai pembentuk manusia berakhlak, berkepribadian, memiliki keterampilan, memiliki tanggung dan nasionalisme Indonesia, sehingga secara peran, sangat strategis dan menentukan kualitas dan nasib bangsa.
Dalam konteks diatas, membangun system pendidikan yang professional, membangun infrastruktur, superstruktur dan kultur kinerja yang professional secara jujur untuk kemajuan bangsa dan khususnya untuk kemajuan dunia pendidikan harus dilakukan oleh pemerintah secara sungguh-sungguh, melalui berbagai pelatihan yang terorganisasi, dengan subjek pembelajaran yang jelas, didukung oleh pengajar tenaga ahli dan berpengalaman serta dana yang cukup.
oleh pemerintah, khususnya Departemen Pendidikan Nasional, melalui Dinas pendidikan setempat atau dengan mendatangkan para ahli melakukan pelatihan disekolah.
Pembangunan guru agar menjadi professional dan berprestasi harus didukung oleh pembangunan system manajemen pendidikan yang didasarkan tata kelola pemerintahan yang baik dan bersih didukung oleh iklim leadership yang baik yang dikembangkan tidak saja ditingkat nasional, daerah tetapi juga dilingkup sekolah oleh kepala sekolah.
Bagaimanapun pendidikan yang berkualitas dengan hasil mutu yang tinggi sangat diharapkan bukan saja oleh para guru, tetapi juga oleh siswa, para orangtua, masyarakat dan Negara Indonesia yang sedang berusaha menjadi yang kompetitif dalam persaingan global.
Tujuan pendidikan nasional dengan tegas menyatakan mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berahlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggungjawab kemasyarakatn dan berkebangsaan.
Masyarakat berharap mutu pendidikan tinggi yang ditandai para lulusan bisa memecahkan masalahnya sendiri dan bisa memecahkan masalah-masalah didalam masyarakatnya sendiri . Ketika standar yang diharapkan belum sesuai harapan , maka guru kerap menjadi pihak yang disalahkan, guru dianggap tidak professional, guru dianggap tidak menjalankan fungsinya dengan baik.
Guru sebagai manusia memiliki banyak keterbatasan, tetapi sebagai manusia ia juga menyimpan potensi yang luar biasa. Membangun kualitas guru berarti membangun sisi intelektualnya, membangun sisi kompetensi sosialnya, membangun sisi spiritualnya, membangun sisi leadershipnya, membangun kemampuan enterpreunershipnya dan mengembangkan pengalamannya dalam tugas-tugas profesionalismenya.
Karena itu, prestasi tinggi dunia pendidikan atau mutu pendidikan, dapat diraih oleh dunia pendidikan bila guru dikembangkan kompetensinya dan dikelola dengan standar profesionalisme tinggi dan dilandasi system organisasi yang baik, modern, dan sikap jujur dalam pelaksanaannya.
PENUTUP
Penulis mengucapkan terimakasih kepada berbagai pihak yang telah berusaha membantu penulis dalam melakukan penulisan makalah ini, khususnya Ria Mariani ( istri ), Iqbal Garibaldi Latief, Haidar Jabbarsyah latief dan putri kecilku Raisa Hisani Malika Latief yang telah banyak terganggu waktu bercengkaramanya . Juga kepada teman-teman guru di SMA Negeri 2 Cikampek yang memberi dukungan moril hingga terselesaikannya penyusunan makalah ini.
Makalah yang dilakukan sisusun ini dalam rangka memenuhi persyaratan sebagai calon peserta guru berprestasi tingkat kabupaten Karawang tahun 2016.
Makalah ini belum sempurna dalam banyak sisinya, karena itu, kritik dan saran dari pembaca sangat diharapkan untuk penyempurnaan makalah ini, sekaligus mematangkan penulis untuk terus melakukan perluasan wawasan edukatif, sehingga, bisa menyajikan pola berfikir yang inspiratif bagi semua pihak pembaca , khususnya bagi sesame rekan guru di Kabupaten Karawang.
Terima kasih atas perhatiannya.
Cikampek, 18 April, 2016 Penulis
Drs. Anlatif
NIP:196709031993031007
Segala puji bagi Allah swt Tuhan Semesta Alam yang telah memberikan berbagai nikmat, ilmu, hikmah, rizki, kesehatan dan lainnya kepada kita sekalian.
Penulis mengucapkan terimakasih kepada berbagai pihak yang telah berusaha membantu penulis dalam melakukan penelitian, khususnya Ria Mariani ( istri ), Iqbal Garibaldi Latief, Haidar Jabbarsyah latief dan putri kecilku Raisa Hisani Malika Latief yang telah banyak terganggu waktu bercengkaramanya . Juga kepada teman-teman guru di SMA Negeri 2 Cikampek yang memberi dukungan moril hingga terselesaikannya penyusunan makalah ini.
Makalah yang dilakukan sisusun ini dalam rangka memenuhi persyaratan sebagai calon peserta guru berprestasi tingkat kabupaten Karawang tahun 2016.
Makalah ini belum sempurna dalam banyak sisinya, karena itu, kritik dan saran dari pembaca sangat diharapkan untuk penyempurnaan makalah ini, sekaligus mematangkan penulis untuk terus melakukan perluasan wawasan edukatif, sehingga, bisa menyajikan pola berfikir yang inspiratif bagi semua pihak pembaca , khususnya bagi sesame rekan guru di Kabupaten Karawang.
Cikampek, 18 April, 2016 Penulis
Drs. Anlatif
NIP:196709031993031007
Bahan Pustaka
1. Dr. Kartini Kartono. Tinjauan politik mengenai system Pendidikan Nasional, Jakarta: Pradnya Paramita, 1977, cet 1
2. Dra. Eveline Siregar. Teori Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Ghalia Indah, 2010, cet pertama 3. Hisyam Zaini dkk. Strategi Pembelajaran Aktif. Yogyakarta : CTSD, 2007, cet 6
4. Prof. Dr. H.M. Burhan Bungin, S.Sos. M. Si. Sosiologi komunikasi. Jakarta : Kencana, 2008. Hal 57
5. Elaine B Johnson, PH.D. Contextual Teaching @ Learning. Bandung: Mizan Learning Center, 2007. Cet IV
6. Drs. H. Dadang Iskandar, M.Pd. Modul Pendidikan dan Latihan Pengembangan Profesi Guru. Bandung: FKIP UNPAS Bandung, 2009.