• Tidak ada hasil yang ditemukan

APLIKASI PELAYANAN KONSELING ONLINE DALA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "APLIKASI PELAYANAN KONSELING ONLINE DALA"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

APLIKASI PELAYANAN KONSELING ONLINE

DALAM MENGHADAPI PERSAINGAN

MASYARAKAT EKONOMI ASEAN DI SEKOLAH

Oleh:

M.Ferdiansyah, M.Pd.,Kons

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS PGRI PALEMBANG

(2)

APLIKASI PELAYANAN KONSELING ONLINE DALAM MENGHADAPI PERSAINGAN MASYARAKAT EKONOMI ASEAN DI SEKOLAH

Oleh:

M.Ferdiansyah, M.Pd.,Kons

[email protected]

Dosen Program Studi Bimbingan dan Konseling Univ PGRI Palembang

ABSTRAK

Kurang lebih satu dekade yang lalu (pada KTT di Kuala Lumpur pada Desember 1997), para pemimpin Asean sepakat membentuk sebuah pasar tunggal di kawasan Asia Tenggara. Pembentukan pasar tunggal yang di istilahkan dengan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Pembentukan MEA ini bertujuan agar daya saing Asean meningkat serta bisa menyaingi Cina, India dan Jepang. Hal ini tentu saja sangat berdampak pada semua system yang ada di Indonesia, tidak terkcuali pendididikan yang ikut serta menerima dampak dari memberlakuan MEA. Konseling sebagai salah satu bagian dari pendidikan tentu saja turut andil besar dalam kebijakan tersebut. Perkembangan pengetahuan dan teknologi yang semakin canggih pada MEA, tidak serta merta juga membawa dampak positif di dalam masyarakat luas. Sehingga kita sering menjumpai semakin banyaknya masalah social yang berkembang di masyarakat modern. Oleh karena itulah konselor sebagai seorang pendidik dirasakan perlu mengembangkan kreatifitas dalam memberikan pelayanan untuk mencegah dan mengatasi permasalahan yang akan muncul di dalam MEA. Salah satunya upaya yang dapat ditempuh menggunakan pelayanan konseling online. Berbagai format pelayanan konseling (salah satunya konseling online) bertujuan untuk mengembangkan segenap potensi yang dimiliki oleh anak bangsa agar tidak tertinggal oleh persaingan yang muncul dalam MEA. Merujuk pada penjelasan tersebut maka, konselor sebagai petugas pelayanan konseling dirasa penting untuk mengembangkan berbagai strategi pelayanan dalam mengahadapi MEA.

(3)

A. Pendahuluan

Pada KTT di Kuala Lumpur pada Desember 1997, para pemimpin Asean sepakat membentuk sebuah pasar tunggal di kawasan Asia Tenggara. Pembentukan pasar tunggal yang di istilahkan dengan masyarakat ekonomi asean (MEA). Sejalan dengan perkembangan zaman, perkembangan teknologi informasi mendapatkan tempat yang penting dalam berbagai sisi kehidupan. Tidak terkecuali dunia pendidikan (termasuk konseling), menghadapi berbagai persaingan yang diakibatkan oleh keberadaan pasar tunggal. Persaingan-persaingan yang diakibatkan oleh pasar tunggal (Masyarakat Ekonomi Asean lebih lanjut disebut MEA) itu harus dihadapi dengan sebaik-baiknya mulai dari tatanan konstitusional, kebijakan, manajerial, dan operasional dalam berbagai aspek dan dimensi. Geissler (dalam Surya 2009) menyatakan bahwa di milenium tiga ini kita dituntut untuk melakukan “learning offensive” atau pembelajaran yang bersifat ofensif dan proaktif. Selanjutnya dikatakan bahwa untuk mampu mewujudkan opensif pembelajaran diperlukan empat kompetensi yaitu: (1)

plurality competence yaitu kecakapan untuk mengidentifikasi aspek produktif dari adanya keragaman, dan toleransi dan menggunakannya secara efektif, (2)

socio-communicative competence yaitu kecakapan untuk berinisiatif,

mengembangkan, mendukung dan mengelola menyimpulkan secara tepat proses-proses sosial, (3) transition competence, yaitu kecakapan untuk beradaptasi dengan proses transisi dalam kehidupan, (4) equilibrium competence yaitu kecakapan dalam menjaga keseimbangan dalam kondisi ketidak-pastian.

Pada tatanan global (termasuk MEA di dalamnya) Robert B Tucker (dalam Surya 2009) mengidentifikasi adanya sepuluh tantangan di abad 21 yaitu: (1) kecepatan (speed), (2) kenyamanan (convinience), (3) gelombang generasi (age wave), (4) pilihan (choice), (5) ragam gaya hidup (life style), (6) kompetisi harga (discounting), (7) pertambahan nilai (value added), (8) pelayananan pelanggan (costumer service), (9) teknologi sebagai andalan (techno age), (10) jaminan mutu (quality control). Menurut Robert B Tucker kesepuluh tantangan itu menuntut inovasi dikembangkannya paradigma baru dalam pendidikan

(4)

berkembang berbagai inovasi yang diciptakan oleh konselor sebagai petugas pelayanan konseling dalam bentuk teori, praksis ataupun pendekatan, pola-pola pelaksanaan, penelitian dan pengembangan, personil pelaksana. Berdasarkan penjelasan tersebut, bahwa seorang pelaksana pelayanan konseling perlu berinovasi dalam memberikan pelayanan konseling yang efektif dan efisien dalam melayani perubahan yang diakibatkan oleh MEA.

a. Permasalahan Penelitian

Permasalahan yang dikaji dalam makalah ini adalah bagaimana cara konselor memberikan pelayanan konseling yang efektif dan efisien dalam MEA

b. Tujuan Penelitian

Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk mengkaji hambatan dan tantangan yang dialami konselor dalam memberikan pelayanan konseling dalam MEA

B. Metodologi

Metodologi penelitian ini menggunakan penelitian berbasis studi literature pustaka yang dilakukan dengan mengkaji dan menggali berbagai teori dan praksis melalui literature mulai dari buku, jurnal ilmiah, internet, pengalaman peneliti dan berbagai data serta fakta di dalam masyarakat.

C. Hasil dan Pembahasan

(5)

muka tetapi juga dilakukan dengan menggunakan media-media tersebut. Konselor dapat memberikan layanan tanpa harus berhadapan langsung dengan klien. Demikian pula klien dapat memperoleh informasi dalam lingkup yang luas dari berbagai sumber melalui cyber space atau ruang maya dengan menggunakan komputer atau internet. Hal yang paling mutakhir adalah berkembangnya apa yang disebut “cyber counseling” atau konseling online, yaitu proses konseling yang dilakukan dengan menggunakan internet. Dalam bidang bimbingan karir, telah berkembang publikasi bimbingan dan informasi karir dengan menggunakan cyber publishing yaitu publikasi melalui internet dan teknologi informasi lainnya yang bukan dalam bentuk media cetak. Perkembangan ini sudah tentu menuntut kesiapan dan adaptasi para konselor dalam penguasaan teknologi dalam melaksanakan konseling. Hal yang sama diperlukan pula oleh para konselor dalam menggunakan teknologi untuk bimbingan karir.

(6)

Lebih jauh Surya (2009) menjelaskan kehidupan modern dengan kehebatan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kemajuan ekonomi yang dialami oleh bangsa-bangsa maju ternyata telah menimbulkan berbagai suasana kehidupan yang tidak memberikan kebahagiaan batiniah dan berkembangnya rasa kehampaan. Mereka menyadari bahwa kemajuan itu telah memisahkan nilai-nilai spiritual sebagai sumber kebahagiaan hidup dan dirasakan oleh mereka sebagai satu kekurangan. Dewasa ini berkembang kecenderungan untuk menata kehidupan yang berlandaskan nilai-nilai spiritual. Mereka makin menyadari bahwa suasana keluarga yang harmonis di atas landasan nilai-nilai religi yang kuat pada dasarnya merupakan situasi yang kondusif bagi terciptanya kehidupan. Suasana seperti itu akan menumbuhkan kualitas manusia agamis yang memiliki ketahanan dan keberdayaan yang mantap. Charlene E. Westgate (dalam Surya 2009) menyebutkan kondisi seperti itu sebagai “spiritual wellness” yang diartikan sebagai suatu keadaan yang tercermin dalam keterbukaan terhadap dimensi spiritual yang memungkinkan keterpaduan spiritualitas dirinya dengan dimensi kehidupan lainnya, sehingga mengoptimalkan potensi untuk pertumbuhan, perwujudan diri serta memiliki identitas diri yang kuat.

Bersamaan dengan perkembangan global yang mendorong makin besarnya ketergantungan antar berbagai disiplin dan pihak, maka konseling mengalami kecenderungan untuk bergeser dari situasi isolasi atau soliter ke arah keterkaitan dengan berbagai aspek. Konseling holistik merupakan pendekatan holistik yang melibatkan berbagai aspek dan dimensi dalam prosesnya. Dengan demikian maka konseling tidak hanya menyentuh aspek permukaan saja akan tetapi lebih menyeluruh dan utuh sehingga penyelesaian suatu masalah dapat dilakukan secara lebih komprehensif sehingga dapat diselesaikan secara tuntas dan mendasar. Pola konseling holistik mempunyai makna bahwa layanan yang diberikan merupakan suatu keutuhan dalam berbagai dimensi yang terkait. Dalam kaitan dengan lingkungan pendidikan, konseling dilaksanakan secara terpadu mulai dari lingkungan keluarga, sekolah, dan di masyarakat luas. Strategi yang diterapkan merupakan keutuhan yang terpadu antara strategi kurikuler, interaksi, pengembangan pribadi, dan dukungan sistem.

(7)

yang berpangkal pada teori kuantum, dalam fisika (Porter 2012). Dalam ivovasi ini, bimbingan dan konseling dilaksanakan secara holistik dalam suasana menyenangkan dengan lebih berfokus pada aspek-aspek pribadi yang paling mendalam yaitu pikiran dan perasaan.

Kenyataan tantangan dalam MEA, secara langsung atau pun tidak langsung, akan berpengaruh terhadap corak layanan bimbingan dan konseling di sekolah. Dalam kaitan ini, konseling sekolah telah mengalami kemajuan dan pergeseran dari pola-pola tradisional yang berfokus pada pemberian layanan menjadi pola-pola yang berfokus pada satu sistem yang proaktif dan programatik. Semuanya merujuk pada standar yang telah ditetapkan oleh organisasi (the National Standard oh the American School Counselor Association, 1997) dan ketentuan perundang-undangan yang ditetapkan pemerintah (Transforming School Counseling Initiative, Education Trust, 1997). Dalam menghadapi tantangan yang dihadapi siswa sekolah pada MEA konseling sekolah telah dipengaruhi oleh paradigma dan praktek yang mengarah pada profesi dan pembaharuan dalam penekanan memberikan bantuan dan dukungan kepada siswa dalam pencapaian prestasi akademik, advokasi keadilan sosial, dan akuntabilitas konselor.

Dalam penyelenggaraan konseling para futurist telah merumuskan empat konsep masa depan yang dapat dijadikan rujukan yaitu: (a) probable future atau masa depan yang mungkin terjadi, (b) possible future, atau masa depan yang kemungkinan dapat terjadi, (c) plausible future, atau masa depan yang dapat terjadi, dan (d) preferable future, atau masa depan yang diharapkan terjadi (Inbody, 1984, dalam Surya, 2009). Dikemukakan bahwa dalam dua dekade terakhir ini mengidentifikasi ada enam hal dasar yang cukup kritis terkait dengan masa depan konseling sekolah, yaitu:

1. Apa yang dilakukan oleh profesi konseling sekolah dewasa ini akan berpengaruh terhadap kualitas bidang konseling sekolah dan lingkungan pendidikan di mana koselor sekolah dan siswa berada.

2. Metode ilmiah dalam penelitian konseling sekolah dapat digunakan untuk mengantisipasi masa depan konselor sekolah yang belum diketahui,

(8)

4. Konselor sekolah harus memiliki landasan moral dalam tanggung jawabnya bagi siswa generasi masa depan dan juga konselor sekolah generasi selanjutnya.

5. Teknologi akan terus memberikan pengaruh dan dukungan bagi konseling sekolah, akan tetapi konselor sekolah bertanggung jawab untuk memadukan teknologi itu bagi kepentingan masa depan yang mungkin tidak diperlukan di masa dua puluh tahun yang lalu.

6. Diperlukan adanya suatu studi ekstensif untuk menunjang gagasan-gagasan bagi profesi konseling sekolah dan siswa.

Dari keenam hal di atas dirasakan masih relevan untuk dijadikan rujukan pada pelayanan konseling pada masa kini dalam menghadapi tantangan MEA. Bila kita mengacu pada poin enam, disana sangat ditekankan bagaimana konselor harus mampu memberdayakan teknologi dalam penyelenggaraan konseling. Oleh karena itu konselor sekolah di abad modern ini berada dalam posisi yang memiliki kekuatan dan strategis untuk menunjukkan secara efektif bagaimana melengkapi prestasi akademik dan perkembangan afektif sebagai formula yang tepat untuk membantu siswa. Konselor sekolah berperan sebagai kunci tim kepemimpinan pendidikan dan membangun tantangam untuk berbagi tanggung jawab dalam mempersiapkan siswa agar mencapai standar akademik sambil membantu meraka menjadi anggota masyarakat yang produktif dan bermakna. Dengan demikian, maka konselor di masa depan harus mampu membangun satu cara baru sebagai pemimpin, kolaborator, advokator, dan agen perubahan yang sistemik dalam tatanan dinamika pendidikan, globalisasi masyarakat dan ekonomi, dan keragaman kebutuhan siswa. Konselor sekolah generasi yang akan datang harus memiliki sikap, pengetahuan, dan ketrampilan untuk bekerjasama dengan guru-guru, administrator, keluarga, jaringan sumber masyarakat, dan lain-lainnya untuk meningkatkan keadilan pendidikan dan keberhasilan semua siswa. Yang paling penting adalah program konseling sekolah harus terkait dan berpadanan dengan perubahan tatanan pendidikan dan tujuan perbaikan sekolah.

(9)

kolaborasi yang harmonis antara konselor dengan guru dan staf sekolah lainnya. kompetisi selanjutnya adalah yang terkait dengan akuntabilitas konselor sekolah. Di masa lalu dan juga mungkin hari ini, konselor sekolah lebih banyak terfokus pada pencapaian akademik. Namun para konselor sekolah harus menyadari bahwa pencapaian akademik harus di imbangi dengan aspek non-akademik lainnya yang dilaksanakan melalui layanan konseling. Dengan demikian konselor sekolah menunjukkan akuntabilitasnya melalui layanan konseling agar proses pembelajaran dapat berlangsung secara utuh sehingga menghasilkan kualitas kepribadian yang utuh pula.

Sebagaimana diketahui, di era MEA yang ditandai dengan pesatnya ilmu pengetahuan dan teknologi, telah menimbulkan perubahan dalam berbagai aspek tatanan kehidupan baik yang bersifat positif maupun negatif. Kondisi itu secara langsung ataupun tidak langsung akan berpengaruh terhadap peran konselor. Di masa depan konselor akan bertambah tanggung jawabnya sebagai mediator kultur atau budaya. Konselor akan mempunyai tanggung jawab yang disebut sebagai mediator kultural yaitu sebuah peran dan tanggung jawab untuk membantu siswa dalam menghadapi berbagai perubahan iptek dan kultural. Dalam kaitan dengan peran sebagai mediator kultural, dengan segala implikasinya termasuk dalam pendidikan dan layanan konseling khususnya penerapan layanan konseling online dalam MEA. Selanjutnya dikatakan bahwa keberhasilan negosiasi perbedaan cultural dan kepentingan dimasa yang akan datang terkait dengan membangun jembatan dari masa kini yang berfokus pada kesadaran, pengetahuan, dan ketrampilan yang diperlukan untuk mencapai kompetensi kultural kepada aplikasi kompetensi kultural melalui mediasi kultural, yang membawa kepada kesuksesan akademik, pribadi, sosial, dan karir individu yang berasal dari lingkungan kultur yang beragam.

(10)

sesuai dengan kebutuhan masing-masing, (2) merancang dengan pelayanan masyarakat untuk membawa mereka sebanyak mungkin ke sekolah, (3) bekerja dalam kemitraan dalam mengembangkan dan aplikasi layanan pencegahan dan intervensi yang dapat disediakan baik di dalam maupun di luar tatanan pendidikan.

Dalam beberapa hal banyak dijumpai oleh peneliti berbagai kesamaan dalam hal keragaman budaya, etnis, agama, geografis, demografis. Kecenderungan yang berkembang di berbagai belahan dunia juga akan dijumpai di Indonesia. Oleh karena itu, tidak terlalu menyimpang seandainya dalam menerapkan upaya mewujudkan konselor yang ideal masa kini kita belajar dari pengalaman orang lain. Hal itu berarti bahwa apa yang dikemukakan di atas dapat secara selektif diterapkan di dunia pendidikan Indonesia sesuai dengan karakteristik Indonesia. Dalam system pendidikan Indonesia terkandung makna, fungsi, dan tujuan pendidikan nasional sebagaimana tersurat dan tersirat dalam Undang-undang nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, maka jelas bahwa esensi pendidikan nasional adalah “membangun watak bangsa” atau “national character building”.

Terkait dengan hal itu, bimbingan dan konseling memiliki peran dan posisi yang amat strategis dalam upaya membangun watak atau karakter bangsa. Semua upaya itu harus diawali dengan inovasi membangun kualitas layanan bimbingan dan konseling yang utuh. Watak atau karakter pada hakekatnya merupakan ciri kepribadian yang berkaitan dengan nilai moralitas normatif yang berlaku. Kualitas watak seseorang akan tercermin pada penampilan kepribadiannya ditinjau dari sudut nilai moral normatif. Seseorang dikatakan memiliki kualitas watak yang baik apabila menampilkan perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai moral yang berlaku. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa “watak yang utuh” merupakan keseluruhan penampilan kepribadian dalam keutuhan perilaku berdasarkan nilai-nilai moralitas. Di Indonesia nilai moral normatif yang menjadi landasan watak adalah moral Pancasila.

(11)

dan mencerminkan kepribadian yang baik dari sudut timbangan nilai moralitas. Dalam menghadapi berbagai persoalan atau tantangan watak dalam tingkatan ini akan mampu berinteraksi dengan dirinya sendiri dengan pertimbangan-pertimbangan emosional yang mantap serta memperhatikan berbagai alternatif dan resiko yang mungkin timbul. Tindakan yang diambil didasarkan atas timbangan resiko minimal dan keuntungan maksimal. Dengan memperhatikan uraian di atas, pada dasarnya makna watak yang utuh akan tercermin melalui keluhuran budi pekerti yang bersumber dari keutuhan moral pribadi, sosial, dan spiritual. Bagi bangsa Indonesia, pada hakekatnya nilai-nilai moral Pancasila merupakan rujukan fundamental bagi pembentukan watak bangsa yang utuh. Tujuan Pendidikan Nasional sesungguhnya telah menggariskan arahannya untuk mencapai watak bangsa yang utuh sejalan dengan konsep sebagaimana disebutkan di atas, yaitu yang tersurat dan tersirat dalam Undang-undang Sisdiknas.

Dalam konteks ”national character building”, layanan konseling harus mampu membangun watak yang dilandasi dengan nilai-nilai kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, kecerdasan moral, dan kecerdasan spiritual. Semua kualitas watak itu harus menjadi haluan dari keseluruhan layanan konseling online.

D. Simpulan

(12)

penelitian ini dapat disimpulkan bahwa kemampuan konselor dalam penguasaan teknologi penunjang proses konseling online sangat diharapkan dikuasai dengan baik oleh konselor.

E. Daftar Pustaka

Ferdiansyah. Muh. 2013. Peran Wali Kelas dalam Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling untuk Mencegah Permasalahan Siswa Pada Masyarakat Multikultural dan Modern di Sekolah. Prosiding Seminar Internsaional Konseling. Bali : Undiksha

Glading, Samuel T. 2012. Konseling Profesi yang Menyeluruh. Terjemahan oleh Winarno dan Lilian Yuhono. Jakarta: PT. Indeks

Porter D. Bobby. 2010.Quantum Thinker. Jakarta: Rineka Cipta

Prayitno, 2010. Wawasan Profesional Konseling. Padang: UNP Press

Surya. Moh 2009. Inovasi Bimbingan dan Konseling Menjawab Tantangan

Global. Bandung: Kota Kembang

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas untuk meningkatkan aktivitas belajar peserta didik kelas V Sekolah Dasar Negeri 17 Rabak dalam pembelajaran ilmu pengetahuan

Ulead Video Studio ini sangat cocok digunakan untuk kalangan pemula yang ingin belajar editing video, selain itu program ini memiliki tampilan yang menarik dan menu-menu

Dari uraian-uraian tersebut, bisa dikatakan bahwa meskipun tidak terdapat kesepakatan di antara para ahli/peneliti, kata makian dapat dilihat dari tanda-tanda sebagai

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui daya hambat ekstrak teh hitam terhadap bakteri Aeromonas hydrophila dan untuk mengetahui nilai MIC ( Minimum Inhibitor

Tujuan pemantauan kontaminasi udara agar dapat diambil tindakan untuk keselamatan radiasi, bilamana tingkat radioaktivitas α atau β dapat membahayakan personil dan/atau

Standar Operasional Prosedur penggunaan media sosial sebagaimana terlampir pada surat keputusan ini merupakan acuan kinerja yang digunakan oleh Senat Mahasiswa,

Metode observasi digunakan untuk mengumpulkan data tentang apa dan bagaimana yang terjadi di dalam kelas atau pada mahasiswa (fenomena yang muncul) dalam proses

Metode pengajaran TPR (Total Physical Response) atau dalam bahasa Indonesia sering disebut “metode Respons Fisik Total” adalah metode pembelajaran yang lebih fokus pada