• Tidak ada hasil yang ditemukan

MAKALAH PERSONAL CALON ANGGOTA DEWAN PEN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "MAKALAH PERSONAL CALON ANGGOTA DEWAN PEN"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

MAKALAH PERSONAL CALON ANGGOTA DEWAN PENDIDIKAN PROVINSI JAWA TIMUR

PERIODE 2016-2021

Oleh: ICHSAN MAULANA ST.MM

JUDUL MAKALAH :

MANUSIA, PENDIDIKAN DAN PROFESIONALISME PENDIDIK

Judul makalah ini saya sajikan sesuai dengan bidang tugas dan keilmuan yang saya tekuni selama ini, baik sebagai pengusaha maupun sebagai pendidik.

It all start with people”. Manusia merupakan titik sentral bagi seluruh aktivitas dan dinamika dunia. Dan ketika kita berbicara tentang sejarah, peradaban, dan tentang pendidikan, maka yang menjadi fokus atau topik pembicaraan kita adalah tentang manusia itu sendiri. Dibalik pendidikan yang dilakukan, sedang ditata, diatur, dan ditingkatkan adalah kualitas dan harkat serta martabat manusia.

Manusia diciptakan dan telah diberikan anugerah luar biasa oleh Sang Maha Pencipta, berupa kalbu (heart), pikiran (mind), dan jiwa (soul). Manusia pada dasarnya adalah pemimpin “in nature” yang dapat mencapai derajat tertinggi dengan harkat dan martabatnya, pendidikan, kompetensi / profesionalisme dan karakter / personality dengan menyelaraskan heart, mind, and soul dan kecerdasan intelektual (IQ), kecerdasan emosional (EQ), dan kecerdasan spiritual (SQ).

(2)

martabat manusia, menjadi cita-cita setiap upaya pendidikan yang direncanakan oleh setiap bangsa dan negara.

Sejarah mencatat, bahwa pendidikan di Indonesia dimulai pada masa kerajaan Sriwijaya 678 Masehi, dimana seorang pendeta Budha bernama I Tsing mengatakan bahwa Palembang pada di masa tersebut merupakan pusat agama Budha dimana pemikir dari berbagai negara berkumpul disana. Hanya saja, pendidikan saat itu belum diatur dan hanya fokus pada ajaran agama Budha.

Dalam upaya meningkatkan mutu dan partisipasi pendidikan terus berlanjut hingga kini. Mempelajari sejarah perkembangan pendidikan mestinya membuat kita dapat memahami apa saja yang telah dicapai lewat pendidikan dan mengevaluasi perbaikan yang dibutuhkan untuk menciptakan mutu dan partisipasi pendidikan yang lebih baik.

Sejarah juga mencatat, pendidikan Indonesia pada zaman pendudukan Belanda, diawali datangnya bangsa Portugis pada abad 16 ke Indonesia dengan tujuan perdagangan dan menyebarkan agama katolik. Untuk itu para pendatang Portugis tersebut mendirikan sekolah yang bertujuan memberikan pendidikan baca, tulis dan hitung sekaligus untuk mempermudah penyebaran agama katolik, hingga akhirnya masuknya masa pendudukan Belanda yang membuat kegiatan belajar mengajar di sekolah milik pendatang Portugis menjadi terhenti.

(3)

hingga tahun 1627 M telah terdapat 16 sekolah yang didirikan oleh Belanda dengan jumlah siswa sekitar 1300.

Memasuki sistem tanam paksa oleh Belanda pada abad ke 19, dimana Belanda membutuhkan banyak tenaga ahli, keadaan ini membuat Belanda mendirikan 20 sekolah untuk penduduk Indonesia di setiap ibukota karesidenan, dimana pelajarnya hanya boleh berasal dari kalangan bangsawan, hingga berakhirnya era sistem tanam paksa dan memasuki masa politik etis, beberapa sekolah Belanda mulai menerima pelajar dari berbagai kalangan yang kemudian berkembang menjadi Sekolah Rakjat.

Pada akhir era abad ke 19 dan awal abad ke 20, Belanda memperkenalkan sistem pendidikan formal bagi masyarakat Indonesia dengan struktur sebagai berikut:

 ELS (Europeesche Lagere School) – Sekolah dasar bagi orang eropa.  HIS (Hollandsch-Inlandsche School) – Sekolah dasar bagi pribumi.  MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) – Sekolah menengah.  AMS (Algeme(e)ne Middelbare School) – Sekolah atas.

 HBS (Hogere Burger School) – Pra-Universitas.

Memasuki abad ke 20, Belanda memperdalam pendidikan di Indonesia dengan mendirikan sejumlah perguruan tinggi bagi penduduk Indonesia di pulau Jawa. Beberapa perguruan tinggi tersebut adalah:

 School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA) – Sekolah kedokteran di

Batavia.

 Nederland-Indische Artsen School (NIAS) – Sekolah kedokteran di Surabaya.  Rechts Hoge School – Sekolah hukum di Batavia.

 De Technische Hoges School (THS) – Sekolah teknik di Bandung.

(4)

Berbeda dengan sistem pendidikan Belanda yang dibatasi bagi kalangan tertentu, pendidikan yang diterapkan Jepang tersedia bagi semua kalangan.

Jepang melarang sekolah mengadakan pendidikan dalam bahasa Belanda. Mereka menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa utama diikuti bahasa Jepang sebagai bahasa kedua. Selain itu, Jepang juga banyak menanamkan ideologi mental kebangsaan dengan memberlakukan tradisi seperti menyanyikan lagu kebangsaan Jepang, senam bersama menggunakan lagu Jepang (taiso), mengibarkan bendera, dan penghormatan terhadap kaisar.

Sejarah Pendidikan Indonesia 1945 – 1965, setelah Indonesia merdeka, Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (BP-KNIP) mengusulkan pembaruan pendidikan Indonesia. Ki Hajar Dewantara, yang saat itu menjabat Menteri Pendidikan Pengajaran dan Kebudayaan Indonesia, membentuk Panitia Penyelidik Pengajaran untuk menyediakan struktur, bahan pengajaran, dan rencana belajar di Indonesia. Kurikulum ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran bernegara dan bermasyarakat, meningkatkan pendidikan jasmani, dan pendidikan watak. Dari upaya tersebut, disusunlah kurikulum SR 1947 yang terdiri dari 15 mata pelajaran.

Memasuki era demokrasi liberal pada 1950, pelaksanaan pendidikan Indonesia diatur dalam UU no. 4 Tahun 1950 dan diperbarui menjadi UU no. 12 tahun 1954. Pendidikan dan pengajaran bertujuan membentuk manusia susila yang cakap dan warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab terhadap kesejahteraan masyarakat dan tanah air. Seiring dengan Dekrit Presiden pada 5 Juli 1959, Indonesia kembali menggunakan UUD 1945 sebagai dasar negara. Meskipun demikian, perubahan ini tidak banyak mengubah sistem pendidikan yang telah berlangsung di Indonesia.

(5)

Belanda. Jenjang pendidikan di Indonesia di zaman tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut :

1. Taman Kanak-kanak (TK). TK dibagi menjadi dua bagian yaitu bagian A (anak 4 tahun) dan bagian B (anak 5 tahun). TK ditujukan untuk membantu perkembangan anak, serta interaksi anak dengan alam dan lingkungan masyarakat sekitar.

2. Sekolah Dasar (SD). SD berfungsi sebagai lembaga pendidikan yang mengajarkan dasar pengetahuan yang dibutuhkan untuk anak. SD memiliki peran penting sebagai dasar pembangunan kehidupan bangsa sehingga diharapkan menjadi lembaga pendidikan yang lengkap, fungsional, dan ilmiah.

3. Sekolah Menengah Pertama (SMP). SMP merupakan lembaga pendidikan setelah SD dimana siswa diharapkan dapat memperdalam keilmuan dasar dan memanfaatkannya sebagai keterampilan untuk hidup. Setiap pelajar akan mengambil satu mata pelajaran keahlian spesifik yang sesuai dengan minat dan bakatnya.

4. Sekolah Menengah Atas (SMA). SMA merupakan lembaga yang mengajarkan keahlian atau keterampilan spesifik. Oleh karena itu, SMA sering disebut juga sekolah kejuruan. Masa pendidikan berlangsung 4 tahun dimana lulusan SMA akan mendapat gelar sarjana muda.

5. Perguruan Tinggi. Perguruan tinggi di Indonesia terdiri dari Universitas, Institut, Sekolah Tinggi, dan Akademi. Universitas minimum terdiri dari 4 fakultas yang meliputi bidang keagamaan, ilmu budaya, ilmu sosial, ilmu eksakta, dan teknik. Institut bertujuan melaksanakan pendidikan dan melakukan penelitian. Sekolah tinggi difokuskan pada pendidikan untuk satu cabang ilmu pengetahuan. Sedangkan akademi menyediakan pendidikan untuk keahlian khusus.

(6)

Pendidikan Indonesia Era 1965 – 1995, memasuki tahun 1965, pendidikan di Indonesia memiliki misi untuk mengajarkan dan menerapkan nilai-nilai Pancasila. Untuk melaksanakan misi tersebut, departemen pendidikan dan kebudayaan menyusun kurikulum yang mencakup prinsip dasar Pancasila.

Implementasi dari misi tersebut diawali dengan perubahan kurikulum di setiap jenjang pendidikan. Melalui kurikulum SD 1968, pendidikan dasar diharapkan dapat menyampaikan materi untuk mempertinggi mental budi pekerti, memperkuat keyakinan agama, serta mempertinggi kecerdasan dan keterampilan. Sementara itu, kurikulum SMP ditambah dengan pembentukan kelompok pembinaan jiwa pancasila, kelompok pembinaan pengetahuan dasar, dan kelompok pembinaan kecakapan khusus. Kurikulum SMA juga disempurnakan dengan tujuan membentuk manusia pancasila sejati, mempersiapkan untuk masuk ke perguruan tinggi, serta mengajarkan keahlian sesuai minat dan bakat.

Peningkatan pendapatan negara dari penjualan minyak membuat pemerintah mampu mengalokasikan anggaran yang lebih besar untuk kebutuhan pendidikan. Pemerintah kemudian mendirikan SD Inpres (Instruksi Presiden), merekrut lebih banyak guru, mencetak buku pelajaran, dan mendirikan pusat pelatihan keterampilan.

Pada tahun 1989, melalui UU No. 2/1989, jenjang pendidikan di Indonesia diperbarui menjadi tiga jenis yaitu:

 Jenjang pendidikan dasar (SD dan SLTP).  Jenjang pendidikan menengah (SMU dan SMK).  Jenjang pendidikan tinggi.

(7)

Indonesia menurun signifikan. Pemerintah terus berusaha agar pendidikan dapat menyebar dan dirasakan oleh hampir seluruh penduduk Indonesia.

Pendidikan Indonesia Era 1995 – 2005 memasuki tahun 1995, pendidikan Indonesia menekankan pada pengembangan SDM yang mampu menjawab tantangan masa depan. Terdapat empat prioritas utama pelaksanaan pendidikan yaitu:

1. Penuntasan pelaksanaan wajib belajar 9 tahun.

2. Peningkatan mutu semua jenis, jenjang, dan jalur pendidikan. 3. Menghubungkan kebutuhan antara pendidikan dan industri. 4. Peningkatan kemampuan penguasaan iptek.

Pemerintah juga berusaha meningkatkan mutu pendidikan melalui peningkatan jumlah dan mutu pengajar, peningkatan mutu proses belajar mengajar, dan peningkatan kualitas lulusan. Pemerintah juga berusaha menciptakan sekolah unggul dan mengembangkan kurikulum yang menekankan perbaikan metode mengajar dan perbaikan guru.

Pada tahun 1998, suasana politik di Indonesia mengalami gejolak yang menyebabkan lahirnya era reformasi. Sistem pemerintahan berubah dari model sentralisasi menjadi desentralisasi. Penerapan otonomi daerah membuat penyelenggaraan pendidikan berubah menjadi otonomi pendidikan, terutama di jenjang pendidikan tinggi. Pada masa peralihan kekuasaan, pendidikan di Indonesia masih menerapkan kurikulum yang berlaku pada zaman orde baru. Kurikulum ini masih digunakan pada masa pemerintahan presiden Abdurrachman Wahid dengan beberapa perbaikan.

(8)

pendidikan, struktur dan muatan kurikulum tingkat satuan pendidikan, kalender pendidikan, serta silabus.

Sejarah Pendidikan Indonesia 2005 – hingga kini (2015). Pemerintahan presiden SBY berupaya meningkatkan kualitas dan kuantitas pendidikan di Indonesia. Upaya tersebut diawali penerbitan Instruksi Presiden No. 5 pada 09 Juni 2006 yang bertujuan mempercepat penyelesaian wajib belajar 9 tahun. Upaya ini membuat pemerintah melibatkan program pendidikan penyetaraan seperti paket A, B, dan C agar dapat mengadopsi kurikulum sesuai dengan standar yang berlaku.

Masuknya era pemerintahan presiden Joko Widodo (Jokowi) belum menunjukkan indikasi munculnya upaya radikal dalam memajukan pendidikan di Indonesia. Secara fundamental, kebijakan pendidikan masih sejalan namun dengan beberapa perbaikan dan penyesuaian. Perubahan banyak terjadi pada tataran teknis dan masyarakat masih menanti upaya pemerintah dalam mengatasi masalah dan kekurangan dalam sistem pendidikan di Indonesia. (sumber: Sejarah Pendidikan di Indonesia dan Perkembangannya Antar Generasi, Gilang 2015).

Belajar dari sejarah pendidikan di tanah air tercinta ini dari disetiap masa-masa sebelumnya, dan melihat hasil pendidikan seperti sekarang ini, saya selaku calon anggota Dewan Pendidikan JATIM periode 2016-2021, sesuai dengan bidang tugas dan keilmuan yang saya tekuni selama ini akan memfokuskan pada pendidikan karakter dan pendidikan kewirausahaan (entreprenuership education).

(9)

(value)” manusia dan kemanusiaan. Oleh karena itu penting sekali berinvestasi dalam sumber daya manusia (invesment in human capital) melalui pendidikan karakter dan pendidikan kewirausahaan (entreprenuership education).

Urgensi terhadap pendidikan karakter dan pendidikan kewirausahaan (entreprenuership education) adalah kebutuhan mendesak dalam rangka memenangkan persaingan global, lihatlah keberhasilan negara-negara Asia Timur seperti Jepang, Taiwan, dan Korea Selatan adalah keberhasilan strategi pendidikan negara-negara tersebut dengan memberikan prioritas pada pengembangan aspek human capital, dimana ketiadaan sumber daya alam (nature resourses) mendorong mereka melakukan investasi pada sumber daya manusia (human resources) melalui pendidikan dan pelatihan kewirausahaan (entreprenuership education) (Tjiptoherijanto & Nagib, 2008).

Dalam makalah ini saya akan menyajikan 2 (dua) hal penting yang harus ditata ulang dan dibenahi dalam sistem pendidikan di Indonesia saat ini, jika kita ingin generasi penerus bangsa ini bisa bersaing secara global dan dihormati serta disegani oleh bangsa lain. Yang pertama adalah pendidikan karakter, dan yang kedua adalah pendidikan kewirausahaan (entreprenuership education).

(10)

Karakter mulia berarti individu memiliki pengetahuan tentang potensi dirinya, yang ditandai dengan nilai-nilai seperti reflektif, percaya diri, rasional, logis, kritis, analitis, kreatif dan inovatif, mandiri, hidup sehat, bertanggung jawab, cinta ilmu, sabar,

berhati-hati, rela berkorban, pemberani, dapat dipercaya, jujur, menepati janji, adil,

rendah hati, malu berbuat salah, pemaaf, berhati lembut, setia, bekerja keras, tekun,

ulet/gigih, teliti, berinisiatif, berpikir positif, disiplin, antisipatif, inisiatif, visioner,

bersahaja, bersemangat, dinamis, hemat/efisien, menghargai waktu,

pengabdian/dedikatif, pengendalian diri, produktif, ramah, cinta keindahan (estetis),

sportif, tabah, terbuka, tertib. Individu juga memiliki kesadaran untuk berbuat yang terbaik atau unggul, dan individu juga mampu bertindak sesuai potensi dan kesadarannya tersebut. Karakteristik adalah realisasi perkembangan positif sebagai individu (intelektual, emosional, sosial, etika, dan perilaku).

Individu yang berkarakter baik atau unggul adalah seseorang yang berusaha melakukan hal-hal yang terbaik terhadap Tuhan YME, dirinya, sesama, lingkungan, bangsa dan negara serta dunia internasional pada umumnya dengan mengoptimalkan potensi (pengetahuan) dirinya dan disertai dengan kesadaran, emosi dan motivasinya (perasaannya).

Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut. Pendidikan karakter dapat dimaknai sebagai “the deliberate use of all dimensions of school life to foster optimal character

development”. Dalam pendidikan karakter di sekolah, semua komponen (pemangku

(11)

Menurut David Elkind & Freddy Sweet Ph.D. (2004), pendidikan karakter dimaknai sebagai berikut: “character education is the deliberate effort to help people understand, care about, and act upon core ethical values. When we think about the kind

of character we want for our children, it is clear that we want them to be able to judge

what is right, care deeply about what is right, and then do what they believe to be right, even in the face of pressure from without and temptation from within”.

Lebih lanjut dijelaskan bahwa pendidikan karakter adalah segala sesuatu yang dilakukan guru, yang mampu mempengaruhi karakter peserta didik. Guru membantu membentuk watak peserta didik. Hal ini mencakup keteladanan bagaimana perilaku guru, cara guru berbicara atau menyampaikan materi, bagaimana guru bertoleransi, dan berbagai hal terkait lainnya.

Menurut T. Ramli (2003), pendidikan karakter memiliki esensi dan makna yang sama dengan pendidikan moral dan pendidikan akhlak. Tujuannya adalah membentuk pribadi anak, supaya menjadi manusia yang baik, warga masyarakat, dan warga negara yang baik. Adapun kriteria manusia yang baik, warga masyarakat yang baik, dan warga negara yang baik bagi suatu masyarakat atau bangsa, secara umum adalah nilai-nilai sosial tertentu, yang banyak dipengaruhi oleh budaya masyarakat dan bangsanya. Oleh karena itu, hakikat dari pendidikan karakter dalam konteks pendidikan di Indonesia adalah pedidikan nilai, yakni pendidikan nilai-nilai luhur yang bersumber dari budaya bangsa Indonesia sendiri, dalam rangka membina kepribadian generasi muda.

(12)

baik dan rendah hati, toleransi, cinta damai, dan cinta persatuan. Pendapat lain mengatakan bahwa karakter dasar manusia terdiri dari: dapat dipercaya, rasa hormat dan perhatian, peduli, jujur, tanggung jawab; kewarganegaraan, ketulusan, berani, tekun, disiplin, visioner, adil, dan punya integritas. Penyelenggaraan pendidikan karakter di sekolah harus berpijak kepada nilai-nilai karakter dasar, yang selanjutnya dikembangkan menjadi nilai-nilai yang lebih banyak atau lebih tinggi (yang bersifat tidak absolut atau bersifat relatif) sesuai dengan kebutuhan, kondisi, dan lingkungan sekolah itu sendiri.

Dewasa ini banyak pihak menuntut peningkatan intensitas dan kualitas pelaksanaan pendidikan karakter pada lembaga pendidikan formal. Tuntutan tersebut didasarkan pada fenomena sosial yang berkembang, yakni meningkatnya kenakalan remaja dalam masyarakat, seperti perkelahian massal dan berbagai kasus dekadensi moral lainnya. Bahkan di kota-kota besar tertentu, gejala tersebut telah sampai pada taraf yang sangat meresahkan. Oleh karena itu, lembaga pendidikan formal sebagai wadah resmi pembinaan generasi muda diharapkan dapat meningkatkan peranannya dalam pembentukan kepribadian peserta didik melalui peningkatan intensitas dan kualitas pendidikan karakter.

Para pakar pendidikan pada umumnya sependapat tentang pentingnya upaya peningkatan pendidikan karakter pada jalur pendidikan formal. Namun demikian, ada perbedaan-perbedaan pendapat di antara mereka tentang pendekatan dan modus pendidikannya. Berhubungan dengan pendekatan, sebagian pakar menyarankan penggunaan pendekatan-pendekatan pendidikan moral yang dikembangkan di negara-negara barat, seperti: pendekatan perkembangan moral kognitif, pendekatan analisis nilai, dan pendekatan klarifikasi nilai. Sebagian yang lain menyarankan penggunaan pendekatan tradisional, yakni melalui penanaman nilai-nilai sosial tertentu dalam diri peserta didik.

(13)

dalam konteks interaksi sosial kultural (dalam keluarga, sekolah, dan masyarakat) dan berlangsung sepanjang hayat. Konfigurasi karakter dalam konteks totalitas proses psikologis dan sosial-kultural tersebut dapat dikelompokkan dalam: Olah Hati (Spiritual and emotional development) , Olah Pikir (intellectual development), Olah Raga dan Kinestetik (Physical and kinestetic development), dan Olah Rasa dan Karsa (Affective and Creativity development) yang secara diagramatik dapat digambarkan sebagai berikut :

Para pakar telah mengemukakan berbagai teori tentang pendidikan moral. Menurut Hersh, et. al. (1980), di antara berbagai teori yang berkembang, ada enam teori yang banyak digunakan; yaitu: pendekatan pengembangan rasional, pendekatan pertimbangan, pendekatan klarifikasi nilai, pendekatan pengembangan moral kognitif, dan pendekatan perilaku sosial. Berbeda dengan klasifikasi tersebut, Elias (1989) mengklasifikasikan berbagai teori yang berkembang menjadi tiga, yakni: pendekatan kognitif, pendekatan afektif, dan pendekatan perilaku. Klasifikasi didasarkan pada tiga unsur moralitas, yang biasa menjadi tumpuan kajian psikologi, yakni: perilaku, kognisi, dan afeksi.

(14)

Berdasarkan penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa pendidikan karakter adalah merupakan nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya dan adat istiadat.

Sebelum kita membahas topik ini lebih jauh lagi saya akan memberikan data dan fakta berdasarkan sumber Litbang Kompas berikut:

 158 kepala daerah tersangkut korupsi sepanjang 2004-2011  42 anggota DPR terseret korupsi pada kurun waktu 2008-2011

 30 anggota DPR periode 1999-2004 terlibat kasus suap pemilihan DGS BI

 Kasus korupsi terjadi diberbagai lembaga seperti KPU,KY, KPPU, Ditjen Pajak,

BI, dan BKPM.

Berdasarkan data fakta diatas, apa yang ada dipikiran kita ? itu adalah beberapa kasus yang membuat hati di dada kita “terhentak” membaca kelakuan para pejabat negara tercinta ini. Pendidikan karakter, sekarang ini mutlak diperlukan bukan hanya di lingkungan sekolah saja, tapi dirumah dan di lingkungan sosial. Bahkan sekarang ini peserta pendidikan karakter bukan lagi anak usia dini hingga remaja, tetapi juga usia dewasa. Dimana orang-orang yang pendidikan intelektualnya tinggi banyak terlibat kasus korupsi.

(15)

Bagi Indonesia sekarang ini, pendidikan karakter juga berarti melakukan usaha

sungguh-sungguh, sitematik dan berkelanjutan untuk membangkitkan dan menguatkan

kesadaran serta keyakinan semua orang Indonesia bahwa tidak akan ada masa depan yang

lebih baik tanpa membangun dan menguatkan karakter rakyat Indonesia.

Dengan kata lain, tidak ada masa depan yang lebih baik yang bisa diwujudkan tanpa kejujuran, tanpa meningkatkan disiplin diri, tanpa kegigihan, tanpa semangat belajar yang tinggi, tanpa mengembangkan rasa tanggung jawab, tanpa memupuk persatuan di tengah-tengah kebinekaan, tanpa semangat berkontribusi bagi kemajuan bersama, serta tanpa rasa percaya diri dan optimisme. Inilah tantangan kita bangsa Indonesia, sanggupkah kita ?

Dikutip dari artikel yang dirilis media Inggris, The Daily Mail pada Kamis (28/1/2016), posisi Indonesia, di daftar negara terkorup dan terbersih bernama Corruption Perceptions Index itu, menunjukkan peningkatan. Untuk tahun 2015, dimana Indonesia berada di era Jokowi, Indonesia juga menunjukkan peningkatan posisi dan poin dari tahun sebelumnya. Tahun ini, dimana pertama kalinya Indonesia berada dalam kendali Jokowi, Indonesia mendapat poin 34, dan berada pada posisi 88.

(16)

Dalam peringkat yang juga dikeluarkan Transparency International, pada tahun 2014, Indonesia masih berada di posisi 107, dengan poin 32.

sehingga, bila dilihat dalam tabel di atas, angka yang ada di sebelah nama negara, adalah poin dari tahun ke tahun. Bisa dilihat, 36 adalah poin Indonesia untuk tahun 2015, 34 untuk tahun 2014, 32 untuk tahun 2013, dan seterusnya.

Untuk tahun 2015, posisi dan poin Indonesia memang belum jadi yang terbaik di antara negara Asia Tenggara. Tapi, di posisi ini, Indonesia masih lebih baik dari Filipina, Vietnam, dan Myanmar. Bahkan, posisi ini bisa menunjukkan peningkatan, karena tahun ini Indonesia sudah bisa menyalip Filipina.

(17)

Mengapa Denmark menjadi salah satu negara paling makmur di dunia? Padahal negaranya tidak memiliki sumber kekayaan alam yang melimpah, padahal kondisi musim di negara itu sangat ekstrim karena dekat dengan kutub utara. Padahal di negeri ini matahari dan siang hari hanya sebentar saja, terutama di musim dingin.

Saya mencoba mencari referensi dan mengarah pada media sosial untuk membuka sejarah negara Denmark. Melalui google meskipun saya agak risih juga menggunakan google karena google tidak mau diperiksa oleh Dirjen Pajak berkaitan pajak iklan yang tidak pernah dibayarkan sebagaimana seharusnya.

Dari info Wikipedia yang kebetulan saya baca ternyata Denmark adalah negara paling nyaman untuk tempat tinggal manusia di dunia, negara dengan pendapatan penduduk paling tinggi di dunia, juga menjadi negara paling makmur di dunia paling bersih di dunia hingga mendapat gelar “Negeri Dongeng”.

(18)

Sebagai seorang pemilik bisnis dan pendidik (dosen), saya langsung berpikir bahwa mungkin yang menjadi penyebab Denmark dan New Zealand menjadi negara termakmur adalah karena pendidikan mereka yang sangat baik. Namun ternyata dugaan saya keliru. Orang-orang Denmark justru percaya bahwa penyebab dari negaranya menjadi negara termakmur, ternyaman dan teraman adalah karena masyarakatnya jujur.

Orang Denmark percaya bahwa semua kebaikan yang ada di negaranya berawal dari kejujuran, pada saat seorang jujur maka semua fasilitas umum untuk rakyat akan terbangun dengan baik oleh pemerintah, sebagaimana mestinya sesuai standar mutu yang telah ditetapkan di segala bidang mulai dari kesehatan, pendidikan, kesejahteraan dan lain-lain.

Masyarakat Denmark percaya bahwa kejujuran bisa melahirkan segalanya. Mereka percaya bahwa setiap manusia itu pintar, dengan kejujuran maka setiap kepintaran manusia akan menjadi manfaat bagi sesama dan seluruh negeri. Mereka yakin jika setiap aparat pemerintah jujur, mulai dari pejabat, menteri, polisi dan seterusnya dan rakyatnya jujur maka sebuah negara bisa menjadi makmur tanpa perlu menjadi yang paling pintar di bidang pendidikan.

Ternyata memang benar, Denmark masuk dalam salah satu negara dengan tingkat korupsi nyaris nol, seperti juga di Finlandia dan New Zealand. Karena kejujuran itulah akhirnya pendidikan di negara ini pun menjadi lebih baik dan sangat maju. Jadi tidak salah jika kita katakan bahwa ketidak jujuran (mental korup), akan melahirkan bencana berantai dalam sebuah negara.

(19)

belum bisa berhitung saat masuk SD atau bahkan setelah sekolah SD, tapi kami sangat peduli jika sorang anak tidak jujur dan beretika buruk.

Dan setelah membaca artikel ini sepertinya saya diingatkan kembali oleh Tuhan Yang Maha Esa untuk tetap mempertahankan apa yang sudah kami yakini. Bahwa karakter, perilaku dan kejujuran adalah landasan untuk membangun Indonesia yang kuat dan makmur, bukan sekedar angka-angka akademik yang tertera di buku-buku raport sekolah. Belajarlah juga dari pengalaman negara lain. Semoga kita bisa mengawali dari lingkup terkecil, keluarga dan sekolah kita.

Sampailah saya pada akhir pembahasan tentang pendidikan karakter, dengan mengutip yang apa dikatakan oleh Theodore Roosevelt yakni : “To educate a person in mind and not in morals is to educate a menace to society.” Artinya, mendidik seseorang dalam aspek kecerdasan otak dan bukan pada aspek moral adalah ancaman mara-bahaya kepada masyarakat.

Pendidikan Kewirausahaan (entreprenurship education) adalah usaha terencana dan aplikatif untuk meningkatkan pengetahuan, intensi/niat dan kompetensi peserta didik untuk mengembangkan potensi dirinya dengan di wujudkan dalam prilaku kreatif, inovatif dan berani mengelola resiko. Pendidikan kewirausahaan merupakan kajian internasional terkini dan terus di teliti dan di kembangkan secara dinamis di seluruh belahan dunia.

(20)

Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi (Dikti) Indonesia sangat sadar akan pentingnya pendidikan kewirausahaan bagi kemajuan sumber daya manusia Indonesia untuk menjawab tantangan masa depan. Oleh karena itu Dikti mempunyai program-program unggulan untuk melaksanakan pendidikan kewirausahaan dalam program-program mahasiswa wirausaha (PMW), Co-operative, Program Kreativitas Mahasiswa Kewirausahaan (PKM-K) dan masih banyak lagi. Hal ini semua di lakukan untuk meningkatkan pengetahuan, niat dan aktivitas kewirausahaan di kalangan mahasiswa.

Beberapa pendapat ahli ketika ditanyakan, Kenapa ada pendidikan kewirausahaan padahal banyak seorang wirausaha sukses tidak berpendidikan formal tinggi ?, Ir. Dede Martino Dosen Universitas Jambi menjawab, banyak wirausaha sukses yang tidak kuliah itu karena mereka orang yang giat dan mencari sendiri bagaimana menjadi wirausaha melalui pengalaman. Namun hal ini memerlukan waktu yang lama. Oleh karena itu dalam pendidikan kewirausahaan kita akselerasi pengalaman dan pola pikir. Dalam pendidikan kewirausahaan yang ingin kita didik adalah menularkan pola pikir dan perilaku seorang wirausaha pada peserta didik hingga dia berperilaku dan berwirausaha.

Kenapa masih sedikit pengusaha yang hasil pendidikan kewirausahaan yang sukses dan menjadi pengusaha besar ?, Prof. Disman PD I FPEB UPI, mengatakan, pendidikan kewirausahaan adalah untuk menjawab perubahan 5 tahun, 10 tahun mendatang. Pendidikan kewirausahaan adalah membentuk peserta didik mandiri melalui pola pikir serta pemberian kompetensi dan skill. Jadi dalam pendidikan kewirausahaan akan mengembangkan peserta didik berperilaku entrepreneur dan menjawab tantangan masa depan. (Sumber: Ade Suyitno. 2013).

(21)

bahwa untuk menjadi seorang wirausaha sukses tidak harus melalui pendidikan kewirausahaan, karena kewirausahaan itu sendiri adalah passion atau talenta yang dimiliki oleh setiap orang yang jika digali lebih dalam dan diasah ibaratnya seperti sebuah pisau maka ia akan tajam. Kekuatan-kekuatan yang ada pada talenta tersebut dapat dilihat sebagai penggabungan antara kalbu (heart), pikiran (mind), dan jiwa (soul) dengan berbagai macam kombinasi, tentu saja tidak ada formula baku tentang hal ini.

Kalbu (heart), pikiran (mind), dan jiwa (soul) yang berkombinasi pada tingkat keseimbangan yang ideal melahirkan bentuk-bentuk kekuatan (power) yang menggerakkan manusia mencapai harkat dan martabat yang lebih tinggi.

Adapun kecerdasan intelektual (IQ), kecerdasan emosional (EQ), dan kecerdasan spiritual (SQ) yang diperkenalkan oleh para ahli psikologi dan neurologi seperti kecerdasan intelektual (IQ) oleh Alfred Binet ahli psikologi Perancis pada awal abad ke 20, kecerdasan emosional (EQ) oleh Daniel Goleman (1995) seorang neurolog dan psikolog dalam bukunya “Emotional Intellgence” menyatakan bahwa kontribusi IQ bagi keberhasilan seseorang hanya sekitar 20% dan sisanya 80% ditentukan oleh serumpun faktor-faktor yang disebut kecerdasan emosional (EQ).

Selanjutnya Danah Zohar dan Ian Marshal (2000) dalam bukunya “Spiritual Intelligence : the Ultimate Intelligence” mengklaim bahwa kecerdasan spiritual (SQ) atau Spiritul Quotient adalah inti dari segala kecerdasan dan dapat melihat makna dari setiap suatu peristiwa.

(22)

memilih berkarir sebagai karyawan di pemerintahan maupun sebagai profesional di perusahaan swasta baik lokal maupun asing. (sumber : Kementrian Koperasi dan UKM 2015).

Tentunya jumlah 94% lulusan Sarjana S1 dan S2 yang menjadi karyawan belum lagi ditambah lulusan SMA/SMK makin menambah daftar beban pemerintah dalam menyediakan lapangan kerja dan tingginya persaingan dalam memperebutkan lapangan kerja yang ada.

Oleh karenanya saya selaku calon anggota Dewan Pendidikan JATIM periode 2016-2021 akan mendorong kepada semua penyelengara pendidikan di JATIM agar menata ulang kembali tata kelola sistem pengajaran pendidikan kewirausahaan (entreprenuership) dimulai dari pendidikan sedini mungkin, sejak anak berada di usia PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) agar mereka anak-anak ini sudah mengenal dan terbentuk karakternya.

Semua ini bisa kita atasi bersama dengan melibatkan semua pihak, mulai dari peranan orang tua / wali murid dan guru sebagai ujung tombak pencetak generasi penerus bangsa ini. Dalam upaya tersebut tentunya akan ada pelatihan-pelatihan khusus kepada guru-guru yang memang memiliki jiwa (passion/talenta) dalam membangun wirausaha dan para guru pun akan mendapatkan pendalaman materi dalam bentuk seminar, in house training, workshop yang berkaitan dengan dunia kewirausahaan dari para praktisi bisnis, konsultan bisnis, dan pelatih bisnis (business coach) yang berpengalaman.

Demikian makalah personal saya sebagai calon anggota Dewan Pendidikan Provinsi JATIM periode 2016-2021. Semoga Allah Subhanahuwata’ala mengijinkan saya untuk memegang amanah tersebut.

Referensi

Dokumen terkait

slip sebagai akibat permukaan jalan yang tergenang air. Pada pekerjaan galian harus mencakup penggalian, penanganan, pembuangan atau penumpukan tanah yang diperlukan

Namun terdapat perbedaan terhadap 4 orang (50%) lainnya yang memiliki tingkat keluhan tinggi namun pekerja tersebut berada pada tingkat risiko yang sedang, dalam

menunjukkan bahwa bahwa produksi susu segar dalam negeri (SSDN) masih jauh dari jumlah yang dapat memenuhi konsumsi susu di pasar domestik sendiri, pada Tahun 2007 SSDN hanya

Peserta NPM Nama Mahasiswa Jenis Kelamin Status Kerja No.. FAK/PROGDI

Selanjutnya akan ditampilkan pesan berhasil tambah data gejala pada penyakit baru dan untuk meyakinkan admin bahwa data telah berhasil ditambahkan, maka akan

oleh karena itu, solusi alternatif yang dapat digunakan sebagai solusi adalah menerapkan pembelajaran tersebut dengan model Group Investigation (GI) dengan tu- juan untuk

program bantuan yang ada dengan kriteria yang berbeda-beda tersebut, tentunya staf pemerintah daerah akan kesulitan dalam melakukan proses seleksi. Berdasarkan

Dari hasil pengujian untuk pengaruh kualitas sumber daya manusia, pemanfaatan teknologi informasi, sistem pengendalian intern, pengawasan keuangan daerah dan komitmen