• Tidak ada hasil yang ditemukan

Paparan Rancangan Peraturan Presiden Rep

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Paparan Rancangan Peraturan Presiden Rep"

Copied!
31
0
0

Teks penuh

(1)

Tim Swakelola Tahun Anggaran 2016

(2)

OUTLINE RAPERPRES

1. PENDAHULUAN

2. KONSEP PENGEMBANGAN

3. MUATAN RAPERPRES

(3)

PENDAHULUAN

1. LATAR BELAKANG

Sesuai dengan amanat

Undang-undang Nomor 26 Tahun 2007

tentang Penataan Ruang

,

Pemerintah memiliki wewenang

untuk

melaksanakan penataan ruang kawasan strategis nasional (KSN),

meliputi

penetapan, perencanaan, pemanfaatan, dan

pengendalian pemanfaatan KSN

.

Kawasan Strategis Nasional (KSN) adalah wilayah yang penataan

ruangnya diprioritaskan karena mempunyai pengaruh sangat penting

secara nasional terhadap

kedaulatan negara, pertahanan dan

keamanan negara, ekonomi, sosial, budaya, dan/atau

lingkungan

, termasuk wilayah yang telah ditetapkan sebagai

warisan

dunia

.

Ancaman (penanganan dampak)

pembangunan infrastruktur

terhadap: 1). kelangsungan

keanekaragaman hayati

dan

penurunan

kualitas lingkungan

, antara lain bahwa

hutan Notofagus

banyak

mengalami kerusakan. 2).

pendangkalan sungai

,

berkurangnya

(4)

PENDAHULUAN

2. TUJUAN PERTEMUAN

(5)

PENDAHULUAN

3. SASARAN PERTEMUAN

1. Berkontribusinya pemangku

kepentingan Kawasan Taman Nasional

Lorentz (urun pikir) dalam proses

pemantapan hari ini;

2. Terkoleksinya masukan, saran,

(6)

6

• Puncak Carstentzs (4884 mdpl) dan Trikora (4750 mdpl) sebagai destinasi wisata gunung dunia. Cartentz sebagai salah satu

summit of the world/7th summit.

Peta Wilayah Kontrak Kerja (KK) Tambang Freeport

1

1

1

• Potensi wisata alam dan sosial budaya/kearifan lokal seperti Festival Lembah Baliem, Eksotisme Budaya Lokal skala nasional, ASEAN dan dunia. Di Wamena (Pintu Gerbang Wisata) dan Asmat (Kerajinan kayu (craft) yang luar biasa)

3

• Cadangan Tambang Emas dan Tembaga di Mimika berlimpah, mampu mendongkrak ekonomi nasional

2

2

3

3

• Keanekaragaman ekosistem sebanyak 45 ekosistem dalam kawasan inti (Taman Nasional Lorentz) terlengkap di Indonesia dan Asia Tenggara. Rumah bagi 1200 spesies tumbuhan berbunga

4

4

• Habitat penting bagi 42 jenis mamalia termasuk spesies baru adalah Kangguru Pohon. 45 spesies burung termasuk Burung Endemik yakni Namdur Archbold (terancam Punah). 90 spesies amphibi dan reptile berada di kawasan KK Freeport. 1000 spesies air tawar

5

5

5

5

• Potensi tambang emas dan ineral lainnya pada wilayah penyangga (selain Freeport) seperti di Illaga

5

5

• Keragaman budaya masyarakat yang hidup didalam kawasan meliputi 9 suku; (i) Suku Asmat di sebelah selatan batas timur TNL; (ii) Suku Nduga kearah utara; (iii) Suku Somahai; (iv) Suku Dani; (v) Suku Dani Barat/Lani; (vi) Suku Moni/Dem; (vii) Suku Amugme/Damal; (Viii) Suku Sempan; (ix) Suku Komoro dengan 13 sub suku.

• USAID: Kawasan mangrove (mangi-mangi) terbesar kedua di dunia setelah Sundabans Bangladesh/India

7

7

Indikasi lokasi

PENDAHULUAN

(7)

7

Ancaman pengembangan kawasan perkebunan kelapa sawit di Kabupaten Mimika seluas 77,660 Ha, diharapkan tidak berada pada kawasan inti TNL Rencana pengembangan juga akan dilakukan di Kab. Nduga (IUCN 2014)

Dampak perubahan iklim dunia, yang mempengaruhi puncak es Cartenzs Pyramid/Puncak Jaya, Trikora/Lorentz melelh/cair pada gletsier TNL dan diprediksikan hilang pada 10-15 tahun mendatang

Peta Wilayah Kerja PT. FMI Ancaman dan tekanan

berkembangnya permukiman kampung adat Papua Ancaman dari UNESCO akan dicabutnya TNL dari daftar warisan dunia, apabila tingkat kerusakan lingkungan semakin parah

Ancaman dari pemekaran wilayah berupa pembentukan kabupaten baru yang berdampak pada kebutuhan pembangunan sarana dan prasarana baru pada TNL

Ancaman kegiatan konsesi eksplorasi pertambangan minyak PT Conoco seluas 150.000 ha

1

0

1

0

Indikasi lokasi

PENDAHULUAN

5.

ISU STRATEGIS

Pembangunan Jl. Strategis Nasional Ruas Wamena-Habema-Kenyam;

• Melintasi kawasan inti TNL

• Mempengaruhi kawasan dan dapat membuka akses luas pengembangan permukiman ke dalam kawasan inti berupa permukiman simetris dengan jalan (unplanned suburban dev).

• Membuka peluang pembalakan hutan liar

• Endapan sungai, pengenalan terhadap ikan asing

(Barramundi) dan hutan pohon Nothofagus yang hanya dapat tumbuh pada keadaan yang sangat sejuk.

• Beberapa kerusakan (IUCN Mission Report, 2014) lainnya adalah kerusakan pada areal rawa gambut dan glasial moraine.

• Ancaman kontaminasi lingkungan pantai (lahan basah) pada sisi selatan Kawasan TNL berupa tailing dari aktifitas tambang PT. Freeport Indonesia (IUCN Consultation, 2014)

• Laporan WALHI, 2006 menyatakan bahwa 68% spesies air di sisi selatan mengalami ancaman akibat dari tailing. Seperti species ikan, jellyfish, udang dan polichaetes Aktifitas penggerak ekonomi (PDRB) 10 Kab di Kawasan TNL berupa Pertambangan dan Pertanian merupakan sektor penggerak utama. Nyaris terancam punahnya Satwa Puyuh salju yang hidup di ketinggian 3000-4200 dpl dan populasinya menurun. Sulit ditemuinya Kangguru pohon dan burung cendrawasih, padahal dahulu sangat mudah ditemui pada jalur Habema - Wamena

1

2

3

(8)

PENDAHULUAN

6. MUATAN DELINIASI

Mempertimbangkan

:

A.

Kebijakan Penataan Ruang, meliputi:

1.

UU No. 26/2007 tentang Penataan Ruang;

2.

PP No. 26/2008 tentang RTRWN;

3.

PP No. 57/2014 tentang RTR Pulau Papua;

4.

Permen PU No. 15/PRT/2012 tentang Pedoman Penyusunan RTR KSN, bahwa deliniasi wilayah perencanaan

RTR KSN Taman Nasional mencakup kawasan inti dan kawasan penyangga; dan

5.

Perdasi No. 23/2013 tentang RTRW Propinsi Papua.

B.

Kebijakan Kehutanan, meliputi:

1.

UU No. 5/1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya;

2.

SK Menhut No: 154/Kpts-II/1997 tentang perubahan fungsi dan penunjukan Cagar Alam Lorentz seluas

±

1.907.500 hektar, Hutan Lindung Gunung Trikora seluas

±

373.125 hektar, dan perairan sekitarnya seluas

±

224.975 hektar yang terletak di Propinsi Daerah Tingkat 1 Irian Jaya sebagai taman nasional seluas

±

2.505.600

hektar dengan nama Taman Nasional Lorentz;

3.

SK Dirjen Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam No: 02/w//2013 tanggal 27 Mei 2013 tentang Zonasi

Kawasan Taman Nasional Lorentz (Z Inti, Z Rimba, Z Pemanfaatan, Z Khusus, Z Tradisional) dengan total luas

2,354,644,066 hektar.

C.

Kebijakan Lingkungan Hidup, meliputi:

1.

UU No. 32/2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup;

2.

UU No. 11/1974 tentang Pengairan;

3.

UU No. 37/2014 tentang Konservasi Tanah dan Air;

4.

UU No. 71/2014 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Gambut;

5.

Keppres 32/1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung.

D.

Kebijakan Pertanian

, meliputi:

1.

UU No. 41/2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan

E.

Kebijakan Pariwisata

, meliputi

(9)

PENDAHULUAN

7. MUATAN DELINIASI

Pendekatan berbasis Ekoregion;

Pendekatan berbasis DAS; dan

(10)

KONSEP PENGEMBANGAN

Prinsip dan Pengembangan

1.

Perlindungan ekosistem dan keanekaragaman hayati terutama

endemis asli Taman Nasional Lorentz;

2.

Pengendalian perkembangan kegiatan budi daya dalam dan sekitar

taman nasional yang memberi tekanan kepada ekosistem dan

keanekaragaman hayati;

3.

Pengendalian dampak pengembangan infrastruktur kawasan taman

nasional lorentz;

4.

Pengembangan ekowisata melalui percepatan revitalisasi dan

peningkatan kota

kota gerbang wisata melalui kerjasama antar K/L

sebagaimana juga yang menjadi amanat dari PP No. 50 Tahun 2012

tentang Pembangunan Kepariwisataan Nasional;

5.

Pengembangan obyek ekowisata didalam dan sekitar taman nasional;

dan

(11)

MUATAN RAPERPRES

1. Batang Tubuh

Bab I Ketentuan Umum

Bab II Peran dan Fungsi

Bab III Tujuan, Kebijakan dan Strategis

Bab IV Rencana Struktur Ruang

Bab V Rencana Pola Ruang

Bab VI Arahan Pemanfaatan Ruang

Bab VII Arahan Pengendalian

Bab VIII Pengelolaan Kawasan

Bab IX Peran Serta Masyarakat

Bab X Ketentuan Peralihan

(12)

MUATAN RAPERPRES

2. Cakupan Wilayah KSN

1. Kawasan Inti:

Kawasan Taman Nasional Lorentz mencakup 69 distrik di 10 Kabupaten,

meliputi:

1) Kabupaten Mimika;

2) Kabupaten Paniai;

3) Kabupaten Intan Jaya;

4) Kabupaten Puncak;

5) Kabupaten Puncak Jaya;

6) Kabupaten Lanny Jaya;

7) Kabupaten Jayawijaya;

8) Kabupaten Yahukimo;

9) Kabupaten Nduga; dan

10) Kabupaten Asmat;

2. Kawasan Penyangga/Sekitar:

Kawasan sekitar taman nasional Lorentz mencakup 65 distrik di 10

(13)

Asmat

Mimika

Nduga

MUATAN RAPERPRES

3. Peta Cakupan Wilayah KSN

Tolikara

Mamberamo

Raya

Intan

Jaya

Puncak

Jaya

Yahukimo

Lanny Jaya

Jayawi

jaya

Puncak

(14)

MUATAN RAPERPRES

4. Tujuan Penataan Ruang

Penataan ruang Kawasan Taman Nasional

Lorentz bertujuan untuk mewujudkan

pelestarian kawasan taman nasional lorentz

sebagai salah satu

pusat konservasi

keanekaragaman hayati,

pengembangan

ekowisata

(Ekoturisme, Geowisata, Budaya,

Religi, Sejarah dan Ilmu Pengetahuan) dan

pengendalian kawasan budi daya serta

(15)

MUATAN RAPERPRES

5. Pohon Tujakstra

Penataan ruang Kawasan Taman Nasional Lorentz bertujuan untuk mewujudkan pelestarian

kawasan taman nasional lorentz sebagai salah satu pusat konservasi keanekaragaman hayati dan

pengembangan ekowisata (Ekoturisme, Geowisata, Budaya, Religi, Sejarah dan Ilmu Pengetahuan)

dan pengendalian kawasan budi daya serta kesejahteraan masyarakat

pelestarian kawasan taman nasional lorentz

sebagai pusat konservasi hayati nasional

pengembangan kawasan taman nasional lorentz berbasis

ekowisata skala dunia (Ekoturisme, Geowisata, Budaya,

Religi, Sejarah dan Ilmu Pengetahuan), kampung

masyarakat adat yang ramah lingkungan serta adaptif

terhadap bencana

TUJ

Strategi 1

Strategi 2

Strategi 3

Strategi 4

Strategi 5

Strategi 6

Strategi 1

Strategi 2

Strategi 3

Strategi 4

Strategi 5

Strategi 6

1

(16)

MUATAN RAPERPRES

6. Pohon Tujakstra

Penataan ruang

Kawasan Taman

Nasional

Lorentz

bertujuan untuk

mewujudkan

pelestarian

kawasan taman

nasional lorentz

sebagai salah

satu pusat

konservasi

Budaya, Religi,

Sejarah dan

Ilmu

Pengetahuan)

dan

pengendalian

kawasan budi

daya serta

kesejahteraan

TUJUAN

KEBIJAKAN

STRATEGI

meningkatkan keamanan dan keutuhan taman nasional Lorentz

sebagai salah satu pusat konservasi keanekaragaman hayati;

meningkatkan kualitas dan nilai konservasi keanekaragaman

hayati taman nasional lorentz;

merehabilitasi dan memantapkan ekosistem taman nasional

lorentz yang terdegradasi akibat kegiatan non konservasi;

mengembangkan Kawasan Taman Nasional Lorentz sebagai,

pusat ilmu pengetahuan, pusat penelitian, pusat pendidikan dan

pusat pelatihan serta laboratorium keanekaragaman hayati;

mengendalikan pemanfaatan sumber daya alam hayati dengan

memperhatikan kelestarian ekosistem, kelangsungan potensi,

daya dukung dan keanekaragaman jenis flora dan fauna;

(17)

MUATAN RAPERPRES

7. Pohon Tujakstra

Penataan ruang

Kawasan Taman

Nasional

Lorentz

bertujuan untuk

mewujudkan

pelestarian

kawasan taman

nasional lorentz

sebagai salah

satu pusat

konservasi

Budaya, Religi,

Sejarah dan

Ilmu

Pengetahuan)

dan

pengendalian

kawasan budi

daya serta

kesejahteraan

masyarakat

pengembangan

kawasan taman

nasional lorentz

berbasis ekowisata

skala dunia

(Ekoturisme,

Geowisata, Budaya,

Religi, Sejarah dan

Ilmu Pengetahuan),

kampung

masyarakat adat

yang ramah

lingkungan serta

adaptif terhadap

bencana

TUJUAN

KEBIJAKAN

STRATEGI

meningkatkan dan mempertahankan obyek wisata

keanekaragaman hayati, bentang alam, jalur pendakian, bahari,

situs sejarah/tempat ibadah, adat tradisi, museum, festival budaya

berbasis potensi kearifan lokal;

mengembangkan pusat kebudayaan pegunungan tengah pada

pusat kegiatan wilayah dan pusat kebudayaan pesisir pada pusat

kegiatan nasional;

mengembangkan dan meningkatkan komoditas unggulan

bernilai tinggi dari flora dan fauna endemik;

meningkatkan kualitas dan kuantitas pelayanan jaringan

prasarana dan sarana;

(18)

MUATAN RAPERPRES

8. Rencana Struktur Ruang

1. rencana sistem pusat permukiman

rencana sistem pelayanan

1. Pusat pelayanan primer;

2. Pusat pelayanan sekunder; dan

3. Pusat pelayanan tersier.

2. rencana sistem jaringan prasarana

1. sistem jaringan transportasi;

2. sistem jaringan energi;

3. sistem jaringan telekomunikasi;

(19)
(20)

MUATAN RAPERPRES

10.Rencana Pola Ruang

1. KAWASAN LINDUNG

1. Zona Lindung 1 (Zona L1);

2. Zona Lindung 2 (Zona L2);

3. Zona Lindung 3 (Zona L3);

4. Zona Lindung 4 (Zona L4);

5. Zona Lindung 5 (Zona L5);

dan

6. Zona Lindung 6 (Zona L6).

2.

KAWASAN BUDI DAYA

1. Zona Budi Daya (B); dan

1. Zona budi daya 1 (Zona B1);

2. Zona budi daya 2 (Zona B2);

3. Zona budi daya 3 (Zona B3);

4. Zona budi daya 4 (Zona B4);

5. Zona budi daya 5 (Zona B5);

dan

6. Zona budi daya 6 (Zona B6).

2. Zona Budi Daya (A).

1. Zona Perairan 1 (Zona A1);

dan

(21)
(22)

MUATAN RAPERPRES

12.Arahan Pemanfaatan Ruang

1.

Arahan Pemanfaatan Ruang

1.

Indikasi program utama meliputi

1.

program utama perwujudan struktur ruang; dan

2.

program utama perwujudan pola ruang.

2.

Indikasi sumber pendanaan meliputi:

1.

Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN),

2.

Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD),

3.

dan/atau sumber lain yang sah

3.

Indikasi instansi pelaksana meliputi:

1.

Pemerintah,

2.

pemerintah provinsi, dan/atau

3.

pemerintah kabupaten.

(23)

MUATAN RAPERPRES

(24)

MUATAN RAPERPRES

(25)

MUATAN RAPERPRES

15.Arahan Pengendalian Ruang

1.

Arahan pengendalian pemanfaatan ruang meliputi:

1.

arahan peraturan zonasi;

2.

arahan perizinan;

3.

arahan pemberian insentif dan disinsentif; dan

4.

arahan pengenaan sanksi.

2.

Arahan peraturan zonasi meliputi:

1.

arahan peraturan zonasi untuk struktur ruang; dan

2.

arahan peraturan zonasi untuk pola ruang.

3.

Muatan arahan peraturan zonasi terdiri atas:

1.

jenis kegiatan yang diperbolehkan, diperbolehkan bersyarat, dan

kegiatan yang tidak diperbolehkan;

2.

intensitas pemanfaatan ruang;

3.

prasarana dan sarana minimum; dan/atau

(26)

MUATAN RAPERPRES

16.Arahan Pengelolaan Kawasan

1.

Dalam rangka mewujudkan rencana tata ruang Kawasan Taman

Nasional Lorentz dilakukan pengelolaan Kawasan Taman Nasional

Lorentz.

2.

Pengelolaan Kawasan Taman Nasional Lorentz dilaksanakan oleh

Menteri (menteri/pimpinan lembaga terkait), Gubernur, dan Bupati

di Kawasan Taman Nasional Lorentz sesuai dengan kewenangan

berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undang.

3.

Pengelolaan Taman Nasional Lorentz adalah Menteri

(menteri/pimpinan lembaga terkait) dapat dilaksanakan oleh

Gubernur melalui dekonsentrasi dan/atau tugas pembantuan.

4.

Untuk pengelolaan Kawasan Taman Nasional Lorentz dapat

dibentuk suatu lembaga pengelola sesuai ketentuan peraturan

perundang-undangan.

(27)

MUATAN RAPERPRES

17.Peran Serta Masyarakat

Peran Masyarakat dalam penataan ruang Kawasan

Taman Nasional Lorentz dilaksanakan dilakukan

pada tahap:

1. perencanaan tata ruang;

2. pemanfaatan ruang; dan

(28)

MUATAN RAPERPRES

18.Ketentuan Peralihan dan Penutup

1. Dengan berlakunya Peraturan Presiden ini, maka

peraturan daerah tentang rencana tata ruang wilayah

provinsi, peraturan daerah tentang rencana tata ruang

wilayah kabupaten, beserta rencana rincinya yang

bertentangan dengan Peraturan Presiden ini harus

disesuaikan pada saat peninjauan kembali.

2. Sepanjang rencana tata ruang wilayah provinsi, rencana

tata ruang wilayah kabupaten, beserta rencana rincinya

belum disesuaikan dengan Peraturan Presiden ini,

(29)

PENUTUP

Harapan dan tindaklanjut pembahasan

Harapan

:

Mendapat masukan, tanggapan, koreksi dan

konfirmasi dari pemangku kepentingan terkait;

Tindaklanjut

:

Sempurnanya Peta & Raperpres RI tentang

Rencana Tata Ruang Kawasan Strategis Nasional

Taman Nasional Lorentz;

(30)

Masukan, Saran dan Tanggapan

disampaikan ke:

Email:

[email protected]

Contact Person:

(31)

Referensi

Dokumen terkait

Quraish Shihab dalam menafsirkan ayat 128 surat an-Nisa’ menyatakan : “Dan jika seorang wanita khawatir menduga dengan adanya tanda-tanda akan nusyuz keangkuhan

3. Peneliti memberikan tes karakteristik kemampuan berpikir lntuitif kepada siswa gaya tipe juding. Peneliti memberi kesempatan kepada subjek untuk menyelesaikan lembar

Agar pembangunan fisik kota dapat lebih terarah sesuai dengan penataan ruang, kepada masyarakat sebelum membangun atau mendirikan bangunan dapat meminta penjelasan- penjelasan

Konstanta dari hasil regresi dalam penelitian ini adalah 2,135, artinya jika tidak terdapat variabel umur, jumlah tanggungan keluarga, luas lahan, pendidikan,

[r]

Besarnya nilai koefiensi menunjukkan bahwa apabila variabel kualitas layanan meningkat sebesar 1 satuan, maka pengunaan e-banking akan meningkat sebesar 0.231 satuan

Penilaian seperti itu didasarkan pada be-berapa alasan; pertama, pendidikan lebih banyak tertuju pada lapisan atas, priyayi; kedua, sistem pendidikan yang

Walaupun banyak turunan dalam bagian ini yang mempergunakan transformasi umum, yaitu proses yang didasarkan atas lebih dari sebuah kalimat (dasar), kami tidak memasukannya ke