Pengaruh Intellectual Capital terhadap Kinerja Perusahaan dengan Strategi sebagai Pemoderasi
FLOURIEN NURUL CHUSNAH LIES ZULFIATI
DIANA SUPRIATI
Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia – Jakarta
Abstract
Intellectual Capital (IC) becomes a promising instrument for knowledge-intensive organisation. Because the characteristics of intangible assets, which are often knowledge based and fundamentally different to tangible assets. This paper develops a resouce-based-knowledge based-theory of the firm. Its thesis that the organizational mode through which individual cooperate affects the knowledge they apply to business activity. IC is widely recognize as a tool that is critical to running a successful business in a highly competitive environment.We used popular IC model, Value Added Intellectual Coefficient (VAICTM) developed by Pulic (1998). This study examines the effect of IC and its components on firm performance. This paper also examines a model which shows relationship between IC and firm perfomance and account for the moderating effect of strategy. The results show positive and significant association between IC and IC’s components on firm performance. When strategy is used as moderating variable, we found mix and inconsistent results relate to moderating role of strategy. Althought the result of this study is still a preliminary result the study is a pioneering in Indonesia which measure the association between IC and firm performance taking into account the moderating role of strategy using panel data.
1. Pendahuluan
Literatur bisnis dewasa ini melakukan penekanan pada penciptaan nilai sebagai tujuan
utama perusahaan (Haksever et al. 2004). Baier (1969 dalam Haksever et al. 2004)
mendefinisikan nilai sebagai kapasitas barang, jasa atau aktivitas untuk memenuhi
kebutuhan atau memberi manfaat kepada seseorang atau sebuah entitas bisnis.
Beberapa peneliti menyatakan bahwa sebuah organisasi harus menciptakan nilai bagi
pemiliknya namun peneliti lain menyatakan bahwa nilai tidak hanya diciptakan bagi
shareholders tetapi juga bagi seluruh stakeholders. Konsep stakeholder dikemukakan oleh Freeman (1984), merupakan sebuah konsep yang diterima secara universal, meski
masih mengandung beberapa masalah. Freeman (1984) mengemukakan definisi
stakeholder sebagai sebuah kelompok atau seseorang yang mempengaruhi atau dipengaruhi oleh pencapaian tujuan perusahaan. Teori stakeholder mengasumsikan tiga faktor yang terkait dengan stakeholder yang meski pun berbeda namun mutually supportive (Donaldson dan Preston, 1995).
Konsensus yang muncul terkait dengan stakeholder view adalah bahwa laba akuntansi hanya sebuah ukuran return bagi shareholder dan bahwa value added merupakan ukuran yang lebih akurat yang diciptakan oleh stakeholder dan didistribusikan kepada
stakeholder yang lain (Meek dan Gray, 1998; Belkaoui, 2003, Bowman dan Toms, 2010). Pada dasarnya, nilai tambah adalah peningkatan kesejahteraan yang diciptakan
dari penggunaan produktif dari sumber daya perusahaan sebelum sumber daya tersebut
dialokasikan diantara shareholders, bondholders¸pekerja dan pemerintah (Belkaoui, 2003). Untuk mengevaluasi kinerja yang dicapai, stakeholder view menggunakan nilai tambah sebagai ukuran total kesejahteraan yang diperoleh.
Resource-based view (RBV) memandang sumber daya perusahaan sebagai pemicu utama dari competitiveness dan kinerja perusahaan. Sumber daya ini mencakup baik aset berwujud mau pun aset tidak berwujud yang telah diinternalisasi oleh perusahaan
dan digunakan secara efektif dan efisien untuk mengimplentasikan strategi kompetitif
dan menguntungkan (Hit et al. 2001, Hart, 1995). Dari sudut pandang RBV, perbedaan
kinerja antar perusahaan dapat diatribusikan kepada adanya variansi dalam sumber
daya dan kemampuan perusahaan (Hitt et al. 2001). Perusahaan memiliki sumber daya
yang diperlukan untuk melakukan operasinya, sumber daya tersebut juga penting bagi
penciptaan keuntungan kompetitif dan kinerja keuangan yang kuat. Sumber daya yang
jenis sumber daya yang strategis yang umumnya berupa aset tidak berwujud, bernilai,
unik dan sulit untuk diduplikasi atau digantikan akan memberikan keuntungan
kompetitif bagi perusahaan (Belkaoui, 2003; Barney, 1991, Conner dan Prahalad
(1996). Keuntungan kompetitif ini yang pada gilirannya memberikan return yang positif. Karakteristik fundamental dari aset tidak berwujud sebagai aset yang strategis
adalah kelangkaan, tidak dapat diduplikasi, tidak dapat digantikan dan tidak dapat
diobservasi. Secara khusus aplikasi dari kriteria ini mengarah pada intellectual capital
(IC) (Belkaoui, 2003; Kamatth, 2008).
Munculnya new economy yang utamanya dipicu oleh informasi dan pengetahuan dapat dikaitkan dengan peningkatan pembahasan intellectual capital (IC) baik dalam dunia bisnis mau pun dalam topik penelitian. Pengetahuan dianggap sebagai elemen penting
dalam kompetensi konsep. Agar pengetahuan dapat berkontribusi pada penciptaan
nilai, pengetahuan harus diaplikasikan oleh seseorang yang memiliki kemampuan
(Johannessen et al. 2005). IC merupakan komponen penting dalam dalam menentukan
nilai tambah yang dihasilkan perusahaan dan kinerja perusahaan. RBV memandang
bahwa perusahaan merupakan kumpulan dari aset dan kapabilitas baik yang berwujud
mau pun yang tidak berwujud, pandangan ini memberikan intuisi yang berbeda tentang
kinerja perusahaan jika dibandingkan dengan pandangan tradisional. Dalam pandangan
tradisional, perusahaan memperoleh sumber dayanya dari investor, karyawan dan
suppliers untuk menghasilkan barang dan jasa bagi pelanggannya, sehingga perusahaan dianggap sebagai financial returns kepada pemilik yang berasal dari konsumsi aset berwujud. Pandangan yang berbeda dari RBV mendefinisikan kinerja perusahaan
sebagai fungsi dari penggunaan aset perusahaan baik yang berwujud dan aset yang
tidak berwujud secara efektif dan efisien. Oleh karena itu, nilai tambah atau value added dipandang sebagai alat yang lebih tepat untuk mengkonseptualisasikan kinerja perusahaan daripada hanya menggunakan ukuran financial return (Firer dan Williams, 2003). Terkait dengan munculnya ekonomi baru yang dipicu oleh informasi dan
pengetahuan, aset tidak berwujud yang karakteristiknya sangat knowledge based
menjadi unsur yang penting dalam penciptaan nilai tambah. IC yang merupakan aset
tidak berwujud yang strategis dengan penggunaan yang efektif dan efisien akan
mampu meningkatkan kinerja perusahaan (Goh, 2005; Carmeli dan Tishler, 2004;
Striukova et al. 2008). IC adalah salah satu sumber daya penting untuk kesuksesan
tetapi tidak tercermin di dalam laporan keuangan, maka pengukuran dan pengungkapan
IC sebuah perusahaan adalah suatu hal yang penting untuk dilakukan. Kemudian perlu
dilakukan pengujian apakah IC tersebut memiliki pengaruh terhadap kinerja
perusahaan karena kinerja perusahaan merupakan ukuran keberhasilan manajemen
perusahaan dalam mengelola sumber daya yang dimiliki oleh perusahaan tersebut.
Penelitian ini mengadopsi model untuk mengukur IC yaitu dengan menggunakan Value Added Intellectual Coefficient (VAICTM) yang dikembangkan Pulic (2000). Fokus utama dari model ini adalah efisiensi penggunaan sumber daya yang menciptakan nilai
bagi perusahaan. Prinsip dasar dari VAICTM adalah untuk menentukan nilai tambah (Value Added) dari sebuah perusahaan. Sumber daya yang dimiliki perusahaan akan membentuk landasan bagi strategi perusahaan (Barney, 1991), oleh karena itu, sumber
daya perusahaan dan strategi berinteraksi untuk menghasilkan return yang positif (Hitt et al. 2001, Jermias, 2008). Perusahaan menggunakan sumber daya berupa aset tidak
berwujud dan aset berwujudnya untuk mengembangkan dan mengimplementasikan
strategi.
Penelitian ini memiliki tiga tujuan, pertama, menguji pengaruh IC terhadap kinerja
perusahaan. Kedua, menguji pengaruh komponen-komponen IC terhadap kinerja
perusahaan dan ketiga, menguji peran pemoderasi dari strategi dalam hubungan antara
IC dengan kinerja perusahaan. Kontribusi penelitian ini, pertama, penelitian ini
menguji kembali konsep intellectual capital dan pengaruh IC dan komponen IC terhadap kinerja dalam konteks data perusahaan di Indonesia. Kedua, penelitian ini
merupakan penelitian awal di Indonesia yang menduga adanya peran pemoderasi dari
strategi dalam hubungan antara IC dengan kinerja perusahaan. Ketiga, penelitian ini
memberi kontribusi dalam hal pengembangan model pengujian untuk membuktikan
secara empiris pengaruh IC dan komponen IC terhadap kinerja serta pengembangan
model terkait dengan peran pemoderasi dari strategi.
2. Landasan Teori dan Pengembangan Hipotesis 2.1 Stakeholder Theory dan Value Creation
Stakeholder theory diawali dengan asumsi bahwa value diperlukan dan secara eksplisit merupakan bagian dalam melakukan bisnis. Freeman et al. (2004) menyatakan bahwa
teori ini mengharuskan manajer untuk mengartikulasikan shared sense dari nilai yang mereka ciptakan dan juga mengharuskan manajer untuk memahami apa yang ingin
apa yang ingin diciptakan agar sesuai dengan stakeholder mereka. Teori stakeholder
mengasumsikan tiga faktor yang terkait dengan stakeholder yang meski pun berbeda namun mutually supportive (Donaldson dan Preston, 1995). Tiga faktor tersebut menjelaskan stakeholder secara deskriptif, instrumental dan normatif. Secara deskriptif teori stakeholder menggambarkan perusahaan sebagai konstelasi kepentingan kooperatif dan kompetitif. Faktor instrumental menjelaskan stakeholder sebagai sebuah komponen yang membentuk rerangka untuk menguji hubungan, jika ada, antara praktik
pengelolaan stakeholder dengan pencapaian berbagai tujuan kinerja perusahaan. Dari sisi ini, teori stakeholder memberi arahan bagi manajer untuk memprediksi hubungan sebab akibar dan merekomendasikan perilaku yang dapat meningkatkan hubungan
antara perusahaan dengan stakeholdernya. Dari sisi normatif, teori ini mengembangkan landasan moral bagi operasi dan manajemen perusahaan.
Konsensus yang muncul terkait dengan stakeholder view adalah bahwa laba akuntansi hanya sebuah ukuran return bagi shareholder dan bahwa value added merupakan ukuran yang lebih akurat yang diciptakan oleh stakeholder dan didistribusikan kepada
stakeholder yang lain (Meek dan Gray, 1998; Belkaoui, 2003). Pada dasarnya, nilai tambah adalah peningkatan kesejahteraan yang diciptakan dari penggunaan produktif
dari sumber daya perusahaan sebelum sumber daya tersebut dialokasikan diantara
shareholders, bondholders¸pekerja dan pemerintah (Belkaoui, 2003). Untuk mengevaluasi kinerja yang dicapai, stakeholder view menggunakan nilai tambah sebagai ukuran total kesejahteraan yang diperoleh. Berdasarkan teori ini, value added
dianggap memiliki akurasi lebih tinggi sebagai ukuran kinerja sebuah perusahaan
dibandingkan dengan laba akuntansi. Dalam kaitannya dengan IC, Guthrie (1996)
menjelaskannya dari perspektif teori stakeholder dan teori legitimasi. Teori
stakeholder memberikan hak kepada seluruh stakeholder untuk memperoleh informasi terkait dengan kegiatan organisasi dan pengaruhnya terhadap kepentingan mereka.
Teori ini menciptakan tanggung jawab organisasi untuk secara sukarela
mengungkapkan informasi mengenai kinerja intellectual¸social dan environment
(Guhtrie, 2006).
Hal yang sama juga dijelaskan dalam teori legitimasi yang menciptakan kontrak sosial
antara perusahaan dengan komunitas di sekitarnya. Dari perspektif teori legitimasi
perusahaan harus secara sukarela melaporkan seluruh aktivitas yang dirasa perlu bagi
2.2 Resource Based View
Peneliti dalam bidang manajemen strategik telah lama memahami bahwa keuntungan
kompetitif tergantung pada kesesuaian antara kemampuan unik internal dan perubahan
lingkungan. Resource based view (RBV) mengartikulasikan hubungan antara sumber daya perusahaan, kapabilitas dan keuntungan kompetitif.
Konsep keuntungan kompetitif telah dibahas secara ekstensif dalam literatur
manajemen. Hart (1995) menjelaskan berbagai artikel dan riset yang terkait dengan
resource based view era 1980an dan 1990an. Penelitian seminal tersebut menggambarkan hubungan antara sumber daya, kapabilitas dan keuntungan kompetitif.
RBV menjelaskan bahwa keuntungan kompetitif hanya dapat bertahan jika
kemampuan untuk menciptakan keuntungan tersebut didukung oleh sumber daya yang
tidak mudah diduplikasi oleh kompetitor. Hitt et al. (2001), Coff (1999), Herreman
dan Isaac (2004) menyatakan bahwa dari sudut pandang RBV, perbedaan kinerja antar
perusahaan dapat diatribusikan kepada adanya variansi dalam sumber daya dan
kemampuan perusahaan. Perusahaan memiliki sumber daya yang diperlukan untuk
melakukan operasinya, sumber daya tersebut juga penting bagi penciptaan keuntungan
kompetitif dan kinerja keuangan yang kuat. Sumber daya yang berupa aset berwujud
seperti property, plant, equipment, dan teknologi fisik merupakan aset yang biasa dan dapat diperoleh atau dijual di pasar terbuka. Sementara jenis sumber daya yang
strategis yang umumnya berupa aset tidak berwujud, bernilai, unik dan sulit untuk
diduplikasi atau digantikan akan memberikan keuntungan kompetitif bagi perusahaan
(Belkaoui, 2003; Barney, 1991). Keuntungan kompetitif ini yang pada gilirannya
memberikan return yang positif. Karakteristik fundamental dari aset tidak berwujud sebagai aset yang strategis adalah kelangkaan, tidak dapat diduplikasi, tidak dapat
digantikan dan tidak dapat diobservasi. Secara khusus aplikasi dari kriteria ini
mengarah pada intellectual capital (IC) (Belkaoui, 2003; Kamatth, 2008).
2.3 Intellectual Capital, Value Creation dan Kinerja Perusahaan
Tumbuhnya ekonomi berbasis pengetahuan menekankan pada pentingnya pengetahuan
sebagai sumber kompetitif dan pertumbuhan perusahaan. Topik intellectual capital
juga mulai berkembang di pertengahan 1990an dan menghasilkan banyak literatur yang
lintas disiplin ilmu termasuk dalam akuntansi yang menggunakan istilah intangible
keuntungan kompetitif perusahaan. Berbagai penelitian telah membuktikan hubungan
antara IC dengan kinerja perusahaan (Borneman, 1999; Makki et al., 2008; Bornemann
dan Leitner, 2002; Goh, 2005; Firer dan Williams, 2003; Carmeli dan Tisher, 2004;
Chang, 2010; Clark et al. 2010).
Definisi dari IC menurut Ricceri dalam Striukova et al. (2008) mengacu dari
flow concept, yaitu bahwa IC merupakan sumber daya intelektual atau knowledge base
dari sebuah organisasi. IC mencakup sumber daya yang ada pada satu waktu dan
sumber daya yang lebih likuid yang digunakan untuk berinteraksi dengan sumber daya
lain baik intelektual mau pun sumber daya physical. Bontis (2000) memandang IC sebagai pengetahuan pribadi dan pengetahuan organisasional yang bersama-sama
memberi kontribusi dalam sustainable competitive advantage. Pulic (2000) mendefinisikan IC sebagai seluruh kemampuan pekerja yang menciptakan tambahan
nilai. Menurut Stewart (1991, 1997) dalam Min Lu (2010) juga merupakan segala
sesuatu yang dapat digunakan oleh perusahaan untuk meningkatkan competitive advantage (knowledge, information, intellectual property rights, experience), IC merupakan aset tidak berwujud yang menghasilkan nilai bagi perusahaan.
Aset tidak berwujud secara rata-rata diestimasi membangun nilai perusahaan
sebesar 60-75 persen (Berg, 2000). Pengelolaan IC akan meningkatkan nilai
perusahaan, Min Lu et al. (2010) menguji proses produksi yang melibatkan kapabilitas
IC dan efisiensi IC, hasilnya menunjukkan bahwa efisiensi IC lebih baik daripada
kapabilitas IC. Penelitian mengenai pengukuran IC belum dapat menyimpulkan
bagaimana metode terbaik untuk mengukur intellectual capital (Petty dan Guthrie, 2000). Secara umum terdapat dua pendekatan untuk mengukur intellectual capital. Cara pertama fokus pada cost different dan pendekatan lain menggunakan pendekatan yang berorientasi nilai. Banyak penelitian terkait dengan IC biasanya menggunakan
pengukuran IC dengan pendekatan yang berorientasi nilai. Beberapa pengukuran IC
yang menggunakan pendekatan yang berorientasi nilai antara lain Value Added Intellectual Coefficient (VAICTM) yang dikembangkan oleh Pulic (1998, 2000). Pengukuran IC yang lain seperti dikemukakan oleh Berg (2000) menggunakan
Dalam pandangan RBV, perusahaan akan memperoleh keuntungan kompetitif dan
kinerja keuangan yang superior melalui perolehan, kepemilikan dan penggunaan aset
strategis (Wernerfelt, 1984). Sumber daya yang dimiliki oleh perusahaan dapat berupa
aset berwujud dan aset tidak berwujud. Sumber daya yang berupa aset berwujud seperti
property, plant, equipment, dan teknologi fisik merupakan aset yang biasa dan dapat diperoleh atau dijual di pasar terbuka. Sementara jenis sumber daya yang strategis yang
umumnya berupa aset tidak berwujud, bernilai, unik dan sulit untuk diduplikasi atau
digantikan akan memberikan keuntungan kompetitif bagi perusahaan (Belkaoui, 2003;
Barney, 1991). Keuntungan kompetitif ini yang pada gilirannya memberikan return
yang positif. Karakteristik fundamental dari aset tidak berwujud sebagai aset yang
strategis adalah kelangkaan, tidak dapat diduplikasi, tidak dapat digantikan dan tidak
dapat diobservasi. Secara khusus aplikasi dari kriteria ini mengarah pada intellectual capital (IC) (Belkaoui, 2003; Kamatth, 2008). Seethamraju (2000) mengungkapkan adanya hubungan potensial antara IC dan kinerja perusahaan. Dalam knowledge base economies IC menciptakan nilai yang dapat digunakan perusahaan untuk meningkatkan kinerja perusahaan (Davenport dan Prusak, 1998; Teese, 2000). IC
sebagai prediktor yang kuat bagi kinerja perusahaan dibuktikan dalam penelitian Drew
(1999) dan Reed (2000). Berbagai penelitian juga telah membuktikan hubungan antara
IC dengan kinerja perusahaan (Borneman, 1999; Makki et al., 2008; Bornemann dan
Leitner, 2002; Goh, 2005; Firer dan Williams, 2003; Carmeli dan Tisher, 2004; Chang,
2010; Clark et al. 2010).
Profitabilitas dan penilaian pasar dianggap memiliki aspek yang luas dari perusahaan
yang mencakup aset berwujud dan aset tidak berwujud Firer dan Williams (2003).
Oleh karena itu dalam penelitian ini kinerja perusahaan yang digunakan adalah ROA,
EPS dan Market Performance. ROA merupakan ukuran kinerja perusahaan dalam mengelola aset yang dimilikinya. ROA dapat dijadikan ukuran oleh para kreditur dan
pemilik perusahaan untuk menilai keberhasilan manajemen dalam mengelola aset
yang dimilikinya. EPS digunakan untuk mengukur kinerja perusahaan dalam
memberikan value added kepada pemegang saham. Sedangkan Market Performance
mencerminkan kinerja perusahaan dari sudut pandang stakeholder perusahaan (Chang, 2010).
Selain IC sebagai variabel bebas, model penelitian ini juga menggunakan dua variabel
kinerja perusahaan. Menurut Belkaoiu (2003), leverage perusahaan yang diukur dengan total hutang dibagi total aset digunakan untuk mengontrol pengaruh hutang
dalam menghasilkan laba perusahaan, sedangkan size digunakan untuk mengontrol pengaruh ukuran perusahaan dalam menciptakan wealth melalui skala ekonomi,
monopoly power dan bargaining power. Hipotesis pertama yang dikembangkan dalam penelitian ini dibangun dengan mengacu pada orientasi penciptaan nilai bagi
stakeholder yang dilandasi dari resource base view. Sumber daya dan kapabilitas perusahaan akan memberikan keuntungan kompetitif bagi perusahaan dan memicu
peningkatan kinerja perusahaan. Hipotesis pertama dinyatakan sebagai berikut:
H1a: Intellectual Capital (IC) berhubungan positif dengan kinerja perusahaan
2.4 Komponen Intellectual Capital dan Kinerja Perusahaan
Aspek yang berbeda dari komponen IC memiliki pengaruh yang lebih besar
dibandingkan aspek yang lain (Firer dan Williams, 2003; Clarke et al. 2010; Chang,
2010). Chang (2010) menguji pengaruh komponen IC terhadap kinerja perusahaan
ditemukan bahwa perusahaan dengan kontribusi IC yang berbeda menciptakan kinerja
yang berbeda pula. Komponen IC terdiri dari human capital (HC), capital employeed
(CE) dan structural capital (SC) (Firer dan Williams, 2003; Clarke et al. 2010; Chang, 2010; Makki et al. 2008).
Menurut metode VAICTM, semakin efektif perusahaan mengelola sumber daya intelektual yaitu HC, CE, dan SC, semakin efisien aktivitas penciptaan nilai perusahaan.
Efisiensi adalah nilai tambah yang dihasilkan perusahaan dengan sumber daya yang
dimiliki perusahaan sekarang. Sebaliknya nilai perusahaan akan berkurang bila
perusahaan gagal mengelola intellectual assets secara efektif (Pulic, 2000; Goh, 2005).
Capital Employeed (CE)
CE mencakup komponen yang tidak terdapat dalam human capital (HC) dan structural capital (SC). Pulic (1998) menyatakan bahwa IC harus dikombinasikan dengan
Human Capital (HC)
Sumber daya manusia merupakan aset yang penting bagi perusahaan, atribut yang
melekat pada sumber daya manusia (education, experience, skills) mempengaruhi firm outcomes (Pfeffer, 1994; Finkelsten, 1996). Human Capital (HC) merupakan unsur yang penting karena merupakan sumber dari inovasi dari perbaikan strategi, baik dari
proses laboratorium, aktivitas kantor, pembaharuan proses, atau peningkatan
kemampuan pribadi (Bontis, 1998). Human Capital dalam VAICTM(Value Added Human Capital -VAHU). VAHU mencerminkan nilai tambah perusahaan yang dihasilkan dari setiap unit investasi dalam sumber daya manusia. Menurut model
VAICTM yang dikembangkan oleh Pulic (2000), nilai VAHU dihitung dari value added
dibagi dengan biaya personalia. Biaya personalia merupakan entitas penciptaan nilai
bagi perusahaan. Perusahaan dengan nilai VAHU yang tinggi berarti telah berhasil
mengelola sumber daya manusia yang dimilikinya untuk meningkatkan kinerja
perusahaan.
Structural Capital (SC)
SC merupakan infrastruktur pendukung dan sistem informasi yang
menciptakan pemahaman pribadi menjadi pemahaman kelompok. SC dalam organisasi
merupakan product process (efisiensi waktu transaksi, keinovatifan, akses ke informasi). SC juga berhubungan dengan mekanisme dan struktur organisasi yang
mendukung sumber daya manusia (HC). SC dalam model VAICTM disebut Structural Capital Value Added (STVA). STVA menunjukkan kemampuan setiap satu unit sumber daya struktural perusahaan dalam menciptakan value added perusahaan. Hipotesis penelitian yang dikembangkan menduga adanya hubungan yang positif
antara komponen IC dengan kinerja, dinyatakan sebagai berikut:
H1b: Capital Employeed (CE) berhubungan positif dengan kinerja perusahaan H1c: Human Capital (HC) berhubungan positif dengan kinerja perusahaan H1d: Structural Capital (SC) berhubungan positif dengan kinerja perusahaan
2.5 Intellectual Capital dan Kinerja Perusahaan dengan Strategi sebagai Pemoderasi
Strategi mencakup seluruh organisasi, mengidentifikasi arah yang harus dijalani
seluruh departemen dan fungsi yang ada untuk bergerak dalam rangka mencapai tujuan
itu terdapat interaksi antara sumber daya yang dimiliki perusahaan dengan penciptaan
nilai. Penggunaan sumberdaya perusahaan akan meningkatkan kinerja perusahaan
dipengaruhi oleh adanya interaksi antara strategi dengan penggunaan sumber daya
tersebut. Sumber daya yang dimiliki perusahaan akan membentuk landasan bagi strategi
perusahaan (Barney, 1991), oleh karena itu, sumber daya perusahaan dan strategi
berinteraksi untuk menghasilkan return yang positif (Hitt et al. 2001, Jermias, 2008). Perusahaan menggunakan sumber daya berupa aset tidak berwujud dan aset
berwujudnya untuk mengembangkan dan mengimplementasikan strategi. Sistem
pengukuran kinerja digunakan untuk mendukung implementasi strategi yag kemudian
mempengaruhi kinerja seperti dibuktikan oleh Fleming et al. (2009). Dalam
implementasi strategi, orientasi strategi yang berbeda secara langsung dan tidak
langsung berinteraksi dengan sumber daya yang dimiliki perusahaan. Pemahaman akan
pengetahuan sebagai strategi berkembang dalam ekonomi yang berorientasi knowledge Joia (2000). Wang dan Ahmed (2009) menguji peran moderasi dari strategi dalam
hubungan antara adopsi ecommerce dengan faktor-faktor internal dan eksternal yang ada di perusahaan keluarga (external pressure, organizational readiness, perceived benefits). Hasilnya mengindikasikan adanya peran orientasi strategi sebagai moderasi dalam proses adopsi ecommerce. Jermias (2008) secara empiris menguji pengaruh strategi bisnis dalam hubungan antara leverage dengan kinerja perusahaan. Hasil penelitiannya menyimpulkan perlunya mempertimbangkan faktor-faktor seperti strategi
bisnis dalam pengujian hubungan antara leverage dengan kinerja perusahaan. Penelitian Ismail (2006) menguji efek moderasi dari implementasi strategi dalam kasus di dunia
pendidikan manajemen bisnis. Kraatz dan Zajac (2001) menguji bagaimana pengaruh
sumber daya yang dimiliki oleh perusahaan mempengaruhi perubahan strategi dalam
lingkungan yang turbulens.
Secara umum terdapat dua kategori strategi bisnis. Porter (1985) dalam Gani
dan Jermias (2006) mengembangkan rerangka bagaimana perusahaan memilih strategi
untuk bersaing secara efektif. Menurut Porter (1985) dalam Gani dan Jermias (2006)
perusahaan harus memilih antara bersaing sebagai lowest-cost producer dalam industri (cost leadership strategy) atau bersaing dengan memberikan produk yang unik dalam hal kualitas, karakteristik fisik atau product-related services (product differentiation
strategy). Perusahaan perlu mengeloa strateginya dalam rangka memperoleh kesesuaian
antara sumber daya internal dan sumber daya eksternal yang dimilikinya. Pemilihan
dilakukan dengan tepat dengan memperhatikan sumber daya yang dimiliki oleh
perusahaan akan mampu meningkatkan kinerja perusahaan. Perusahaan menggunakan
sumber daya baik berupa aset berwujud dan aset tidak berwujud dalam pengembangan
dan implementasi strategi, artinya terdapat interaksi antara sumber daya perusahaan dan
strategi yang akan menghasilkan positive return. Hipotesis penelitian yang terkait dengan peran moderasi dari strategi dalam hubungan antara IC dan kinerja perusahaan
adalah sebagai berikut:
H2: Hubungan antara IC dan kinerja perusahaan dipengaruhi oleh strategi perusahaan
3. Metoda Penelitian 3.1 Data dan Sampel
Data penelitian terdiri dari 80 perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek
Indonesia. Data diperoleh dengan menggunakan metode purposive sampling, yaitu kelompok industri manufaktur, laporan keuangan lengkap dengan periode pelaporan
yang berakhir 31 Desember. Periode data yang digunakan adalah 3 tahun, 2008 – 2010.
Data yang digunakan berupa data sekunder yang diperoleh dari laporan keuangan.
3.2 Pengukuran Variabel
Variabel yang digunakan dalam penelitian ini meliputi intellectual capital, kinerja perusahaan dan orientasi strategi kompetitif yang dipilih perusahaan. Pengukuran
variabel penelitian dijelaskan pada bagian berikut.
Intellectual Capital (IC)
1. Perhitungan Value Added (VA)
Value Added merupakan selisih antara output dan input, dengan formula VA = OUT – IN. Output (OUT) adalah total penjualan atau pendapatan perusahaan.
Input (IN) adalah total beban dan biaya-biaya (selain beban karyawan). Penelitian ini menggunakan formulasi Chang (2010) untuk menentukan VA:
VA = gross margin – selling, general and administrative expense + labor expense = Operating Income + Labor expense
2. Perhitungan Value Added Capital Employed (VACA)
Value Added Capital Employed adalah rasio dari VA terhadap Physical Capital Employed (CE). Physical Capital Employed adalah seluruh asset perusahaan baik yang berupa financial assets maupun non financial assets. CE dihitung dari nilai buku bersih aktiva perusahan. Rasio ini menunjukkan kontribusi yang
dibuat oleh setiap unit dari CE terhadap value added perusahaan, dengan formula VACA = VA/CE
3. Perhitungan Value Added Human Capital (VAHU)
Value Added Human Capital (VAHU) adalah rasio VA terhadap Human Capital
(HC).
4. Perhitungan Structural Capital Value Added (STVA)
Structural Capital Value Added (STVA) adalah rasio Structural Capital (SC) terhadap VA. Structural Capital (SC) adalah selisih antara value added (VA) dengan human capital (HC). Rasio ini mengukur jumlah SC yang dibutuhkan untuk menghasilkan satu rupiah dari VA dan merupakan indikasi bagaimana
keberhasilan SC dalam penciptaan nilai. STVA dihitung dengan formula STVA
= SC/VA.
5. Perhitungan Value Added Intellectual Coefficient (VAIC™).
VAIC™ dihitung dengan formula VAIC™ = VACA + VAHU + STVA.
VAIC™ mengindikasikan kemampuan intelektual perusahaan.
Kinerja Perusahaan
Berbagai pengukuran digunakan dalam literatur untuk mengukur kinerja perusahaan.
Ukuran kinerja berbasis pasar cenderung lebih obyektif dibandingkan dengan ukuran
berbasis akuntansi yang cenderung dipengaruhi oleh banyak vaktor yang uncontrollable
komponen IC terhadap kinerja dan menguji pengaruh strategi kompetitif dalam
hubungan antara IC dan kinerja, penelitian ini menggunakan ukuran kinerja ROA,
ROE, EPS dan Market Performance. Return on total assets (ROA) merupakan ukuran kinerja perusahaan dalam memperoleh keuntungan dengan menggunakan seluruh aset
yang dimilikinya. ROA merefleksikan keuntungan bisnis dan efisiensi perusahaan
dalam pemanfaatan total assets (Chen et al., 2005). ROA dihitung dengan membagi laba sebelum pajak dengan total aset. Return on equity (ROE) diukur dari income before extraordinary items dibagi dengan total equity. Earning per share (EPS) adalah pengukuran kinerja laba perusahaan yang umum digunakan oleh analis dalam
mengevaluasi kinerja perusahaan dalam pasar keuangan. EPS menggambarkan
kemampuan perusahaan memberikan keuntungan kepada pemegang saham. EPS adalah
ukuran profitabilitas perusahaan yang merupakan hasil gabungan dari kegiatan operasi,
investasi dan pembiayaan perusahaan (Tan et al., 2007). EPS digunakan untuk mengukur kinerja perusahaan dalam memberikan value added kepada pemegang saham. Formula untuk menghitung EPS adalah laba yang dibagikan kepada pemegang
saham dibagi dengan jumlah saham beredar. Market performance diukur dengan menggunakan pengukuran yang digunakan Chang (2010) yang dihitung dari jumlah
market value of equity dan book value of debt dibagi dengan book value of assets. Strategi Kompetitif
Pengukuran strategi dalam penelitian ini mengadopsi dari Gani dan Jermias (2006),
Singh dan Agarwal (2002). Strategi kompetitif ditentukan berdasarkan analisis dari
variabel intensitas biaya penelitian dan pengembangan (R&D Intensity – ratio of research and development expenses to total sales revenue), efisiensi penggunaan aset (asset utilization efficiency – ratio of total sales revenue to total assets) dan kapabilitas harga premium (premium price capability – ratio gross margin to total sales revenue). Dalam konteks data Indonesia, ketersediaan data yang terkait dengan intensitas biaya
penelitian dan pengembangan sangat sedikit, sehingga penelitian ini tidak menggunakan
pengukuran intensitas biaya penelitian dan pengembangan dalam mengukur strategi
kompetitif. Gani dan Jermias (2006) menyatakan bahwa asset utilization efficiency
mengindikasikan pentingnya efisiensi operasional bagi sebuah perusahaan. Perusahaan
yang berorientasi pada efisiensi biaya cenderung beroperasi dalam lingkungan yang
stabil, memproduksi produk yang standar dan menerapkan prosedur operasi standar.
mengindikasikan kemampuan perusahaan untuk membebankan pelanggannya dengan
harga premium. Perusahaan yang berorientasi pada strategi inovasi cenderung
menawarkan produk yang unik, dan mereka mampu membebankan harga ini kepada
pelanggannya. Perusahaan yang cenderung berorientasi pada strategi inovasi diprediksi
akan memiliki nilai premium price capability yang tinggi (Gani dan Jermias, 2006).
3.3 Model Pengujian Hipotesis
Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh IC dan komponen IC terhadap kinerja,
dan menguji peran moderasi dari strategi dalam hubungan antara IC dengan kinerja.
Untuk menguji pengaruh IC dan komponen IC terhadap kinerja, digunakan model
penelitian yang digunakan pula dalam penelitian yang menguji pengaruh IC dan
komponen IC terhadap kinerja (Chan et al. 2010; Clarke, 2010).
𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾𝑃𝑃𝐾𝐾𝐾𝐾𝑃𝑃𝑃𝑃𝐾𝐾ℎ𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾𝑖𝑖 = 𝛼𝛼+𝛽𝛽1𝐼𝐼𝐼𝐼𝐾𝐾𝑖𝑖 +𝛽𝛽2𝐿𝐿𝐾𝐾𝐿𝐿+𝛽𝛽3𝑆𝑆𝐾𝐾𝑆𝑆𝐾𝐾𝐾𝐾𝑖𝑖 +𝜀𝜀𝐾𝐾𝑖𝑖……. (1)
Keterangan:
ROAit = Return on Assets perusahaan i pada tahun ke t
ROEit = Earning per Share perusahaan i pada tahun ke t
EPSit = Price to Book Value perusahaan i pada tahun ke t
MPerfit = Market Performance perusahaan i pada tahun ke t
ICit = Intellectual Capital (VAICTM) perusahaan i pada tahun ke t
SIZEit = Size perusahaan i pada tahun ke t
LEVit = Leverage perusahaan i pada tahun ke t
ε = error term perusahaan i pada tahun ke t
Hipotesis yang menguji pengaruh komponen IC terhadap kinerja perusahaan diukur
dengan menggunakan model pengujian berikut:
𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾𝑃𝑃𝐾𝐾𝐾𝐾𝑃𝑃𝑃𝑃𝐾𝐾ℎ𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾𝑖𝑖 =𝛼𝛼+𝛽𝛽1𝑉𝑉𝑉𝑉𝐼𝐼𝑉𝑉𝐾𝐾𝑖𝑖 +𝛽𝛽2𝑉𝑉𝑉𝑉𝑉𝑉𝑉𝑉𝐾𝐾𝑖𝑖 +𝛽𝛽2𝑆𝑆𝑆𝑆𝑉𝑉𝑉𝑉𝐾𝐾𝑖𝑖 +𝛽𝛽3𝐿𝐿𝐾𝐾𝐿𝐿+
𝛽𝛽4𝑆𝑆𝐾𝐾𝑆𝑆𝐾𝐾𝐾𝐾𝑖𝑖 +𝜀𝜀𝐾𝐾𝑖𝑖…(2)
Keterangan:
ROAit = Return on Assets perusahaan i pada tahun ke t
ROEit = Earning per Share perusahaan i pada tahun ke t
EPSit = Price to Book Value perusahaan i pada tahun ke t
MPerfit = Market Performance perusahaan i pada tahun ke t
VACAit = Value Added CapitalAssets perusahaan i pada tahun ke t
VAHUit = Value Added Human Capital perusahaan i pada tahun ke t
STVAit = Structural Capital Value Added perusahaan i pada tahun ke t
SIZEit = Size perusahaan perusahaan i pada tahun ke t
LEVit = Leverage perusahaan perusahaan i pada tahun ke t
Model pengujian untuk menguji hipotesis kedua yang menguji peran moderasi dari
strategi dalam hubungan antara IC dan kinerja perusahaan, sebagai berikut:
𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾𝑃𝑃𝐾𝐾𝐾𝐾𝑃𝑃𝑃𝑃𝐾𝐾ℎ𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾𝐾𝑖𝑖 = 𝛼𝛼+𝛽𝛽1𝐼𝐼𝐼𝐼𝐾𝐾𝑖𝑖 +𝛽𝛽2𝐼𝐼𝐶𝐶𝑃𝑃𝑖𝑖𝐶𝐶𝐶𝐶𝐶𝐶𝐾𝐾𝑖𝑖 +𝛽𝛽3𝐼𝐼𝐾𝐾𝐾𝐾𝐶𝐶𝐿𝐿𝐾𝐾𝑖𝑖 +𝛽𝛽4𝐼𝐼𝐼𝐼 ∗
Pengukuran statistika deskriptif pada penelitian ini dimaksudkan untuk mempermudah
pengamatan melalui perhitungan nilai rata-rata, nilai minimum, nilai maksimum dan
deviasi standar. Data yang diolah sebanyak 80 perusahaan manufaktur yang terdaftar di
BEI periode 2008-2010. Statistik deskriptif dari variabel yang digunakan dalam
penelitian ini disajikan dalam tabel 1.
Mean Median Maximum Minimum
Standard Deviation Kinerja Perusahaan:
ROA 0.082734 0.064170 2.280383 -0.329502 0.187321
ROE 0.072740 0.068393 0.966852 -0.844012 0.186582
Mperf 1.178362 0.754729 11.86173 0.000329 1.305657
EPS 232.2846 43.50000 3912.000 -2234 651.4902
Intellectual Capital:
VAICTM 5.320039 4.169582 254.4445 -722.9446 55.90585
Komponen Intellectual Capital:
VACA -0.266043 0.117393 25.27857 -136.6301 9.203720
VAHU 4.338056 3.195981 253.3934 -723.5695 55.81253
STVA 0.693590 0.755415 4.520460 -5.44553 0.620417
Competitive Strategy:
CostEff 1.232830 1.102756 7.032926 0.001200 0.784043
Innov 0.181730 0.175799 0.990296 -2.368217 0.272067
Variabel Kontrol:
Leverage 1.618330 0.624496 13.78740 0.000572 2.310632
Size (LN Total Assets) 14.06971 13.84974 18.53199 11.03469 1.550566
Observasi 240 240 240 240 240
Tabel 1 menyajikan statistik deskriptif variabel yang digunakan dalam penelitian untuk
80 perusahaan selama 3 tahun. Tabel 1 menjelaskan jumlah sampel, nilai mean, median,
maksimum, minimum dan deviasi standar. Nilai minimum menjelaskan nilai terendah
suatu variabel. Nilai rata-rata menggambarkan nilai kisaran data yang diperoleh dari
penjumlahan seluruh data dan membaginya dengan jumlah data. Median menunjukkan
nilai tengah, nilai maksimum menjelaskan nilai tertinggi suatu variabel. Deviasi standar
merupakan simpangan dari nilai rata-rata yang diakar kuadratkan untuk suatu variabel.
Berdasarkan tabel 1 terlihat bahwa nilai minimum dari ukuran kinerja ROA adalah
-0,329 dan nilai maksimum 2,283 dengan nilai rata-rata dan median masing-masing
0,087 dan 0,064. Deviasi standar ROA 0,1873. Untuk ukuran kinerja ROE, nilai
minimum adalah -0,844 dan nilai maksimum 0,966 dengan nilai rata-rata dan median
masing-masing 0,072 dan 0,068. Deviasi standar ROE 0,186. MPerf merupakan ukuran kinerja berikutnya statistik deskriptif untuk Mperf menunjukkan nilai minimum adalah -0,0003 dan nilai maksimum 11,861 dengan nilai rata-rata dan median masing-masing
1,178 dan 0,754. Deviasi standar Mperf 1,305. Variabel IC yang diukur dari VAICTM nilai minimum adalah -722.944 dan nilai maksimum 254.44 dengan nilai rata-rata dan
median masing-masing 5,32 dan 4,16. Deviasi standar IC 55,905. Untuk komponen IC
yang terdiri dari VACA, VAHU dan STVA secara ringkas menggambarkan sebaran
data yang beragam. Variansi data yang terbesar terlihat pada komponen VAHU,
sementara untuk komponen VACA dan STVA sebaran data relatif homogen. Variabel
ukuran perusahaan yang diukur dari log natural total aset, dan variabel leverage
merupakan variabel kontrol yang digunakan dalam model penelitian.
4.2 Pengujian Hipotesis Penelitian
Hipotesis pertama dalam penelitian ini ingin menguji pengaruh IC dan komponen IC
terhadap kinerja perusahaan. Pengujian dilakukan dengan menggunakan model dalam
persamaan (1). Prediksi arah untuk pengaruh IC dan komponen IC adalah positif.
Terdapat pengaruh positif IC dan komponen IC terhadap kinerja perusahaan. Variabel
kontrol yang digunakan dalam penelitian ini adalah leverage dan ukuran perusahaan
(Belkaoui, 2003). Leverage digunakan untuk mengontrol pengaruh hutang dalam
Tabel 2. Pengujian Hipotesis 1a: Pengaruh IC (VAICTM) terhadap Kinerja Perusahaan
Dari hasil pengujian model 1, IC terbukti berpengaruh positif terhadap kinerja
perusahaan. Seluruh pengukuran kinerja yang digunakan dalam penelitian ini
menunjukkan arah positif dan signifikan pada level of significance 5%. Hasil pengujian model 2 yang menguji pengaruh komponen IC terhadap kinerja perusahaan
menunjukkan hasil yang sesuai prediksi dan juga signifikan. Hasil pengujian disajikan
pada tabel 3 berikut. Hasil pengujian menunjukkan bahwa komponen IC berpengaruh
positif signifikan terhadap kinerja perusahaan untuk pengukuran kinerja dengan ROA,
ROE, EPS dan MPErf. Namun pada pengukuran pengaruh komponen IC-STVA
terhadap kinerja perusahaan (ROE), hasil menunjukkan bahwa komponen IC-STVA
tersebut tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerja perusahaan. Terdapat arah yang
tidak mendukung hipotesis untuk pengaruh komponen IC-STVA terhadap kinerja
Model 2
VACA Positif 0.001845 0.00000 Signifikan VAHU Positif 0.001055 0.00000 Signifikan STVA Positif 0.005941 0.00390 Signifikan LEV Negatif -0.007272 0.00000 Signifikan SIZE Positif 0.000623 0.45130 Tidak Sig VACA Positif 0.001457 0.00000 Signifikan VAHU Positif 0.000293 0.00000 Signifikan STVA Positif -0.003193 0.12100 Tidak Sig LEV Negatif -0.021835 0.00000 Signifikan SIZE Positif 0.016435 0.00000 Signifikan VACA Positif 4.596761 0.00000 Signifikan VAHU Positif 0.345762 0.00000 Signifikan STVA Positif -52.44433 0.00000 Signifikan LEV Negatif -42.5692 0.00000 Signifikan SIZE Positif 116.9366 0.00000 Signifikan VACA Positif 0.00377 0.00010 Signifikan VAHU Positif 0.001389 0.00000 Signifikan STVA Positif 0.197328 0.00000 Signifikan LEV Negatif -0.089268 0.00000 Signifikan SIZE Positif 0.181188 0.00000 Signifikan ROA
Tabel 3. Pengujian Hipotesis 1b – Hipotesis 1d: Pengaruh Komponen IC (VACA, VAHU dan STVA) terhadap Kinerja Perusahaan
Hipotesis ketiga dalam penelitian ini menguji peran moderasi dari variabel strategi
dalam hubungan IC dengan kinerja perusahaan. Hasil pengujian disajikan pada tabel 4.
Prediksi pengaruh IC terhadap kinerja perusahaan dengan strategi sebagai pemoderasi
tidak menunjukkan arah, karena sesuai dengan karakteristik dari variabel moderasi yang
dapat memperkuat atau memperlemah hubungan antara IC dan kinerja perusahaan.
Hasil pengujian menunjukkan hasil yang beragam untuk setiap ukuran kinerja
Tabel 4. Pengujian Hipotesis 2: Peran Moderasi Strategi Hubungan antara IC dan Kinerja Perusahaan
Untuk pengaruh IC terhadap kinerja perusahaan (ROA) dengan strategi sebagai
pemoderasi hasilnya menunjukkan positif dan signifikan untuk IC*CostEff, sementara
untuk IC*Inov menunjukkan hasil negatif dan signifikan. Hal ini mungkin
menunjukkan bahwa perusahaan di Indonesia cenderung beroperasi di lingkungan yang
stabil dan menerapkan prosedur operasi standar sehingga perusahaan yang
menggunakan strategi inovasi justru akan memberi dampak negatif pada kinerjanya.
Hasil yang sama ditunjukkan untuk ukuran kinerja perusahaan dengan Mperf.
dengan strategi sebagai pemoderasi, koefisien IC*CostEff dan koefisien IC*Inov
arahnya negatif dan signifikan, dan untuk hasil pengujian pengaruh IC terhadap kinerja
perusahaan (EPS) dengan strategi sebagai pemoderasi, koefisien IC*CostEff arahnya
negatif dan signifikan, koefisien IC*Inov, arahnya positif dan signifikan.
4.3 Pengujian Tambahan Peran Strategi Sebagai Pemoderasi
Pengujian tambahan dilakukan untuk pengaruh IC terhadap kinerja perusahaan dengan
strategi sebagai pemoderasi. Pengujian dilakukan dengan mengacu pada penelitian
Song (2007) yang membandingkan adjusted r square dari model yang memasukan peran moderasi dari strategi dalam hubungan IC dengan kinerja perusahaan dengan
model tanpa mempertimbangkan peran moderasi strategi. Hasilnya disajikan pada tabel
5.
IC (VAICTM) -0.001671* 0.000182 0.000321
CostEff 0.490152* 0.011362 0.01293
Inov 0.707485* 0.03785 0.038472
IC (VAICTM)*CostEff - - 0.000118
IC (VAICTM)*Inov - - 0.000171
Lev -0.095928* 0.003765 0.003744
Size 0.231894* 0.005587 0.005569
Adjusted R Square 0.181718 0.192184
F Value 853.7145 54.11122
Residual sum of square 26664.64 26212.49 -0.003376*
Model dengan Moderasi (Model 3)=
Unstandardized
Coefficients Standard Error
Standard Error
Intercept -0.362724 0.010658 0.01059
IC (VAICTM) -0.000738* 2.34E10-5 4.11E-05
CostEff 0.048470* 0.001458 0.001656
Inov 0.350800* 1004858 0.004928
IC (VAICTM)*CostEff - - 1.51E-05
IC (VAICTM)*Inov - - 2.19E-05
Lev -0.017334* 0.000483 0.00048
Size 0.024445* 0.000717 0.000713
Adjusted R Square 0.339908 0.351045
F Value 1978.267 1484.64
Residual sum of square 439.2588 431.8028 -0.000836
Model dengan Moderasi (Model 3)=
-0.375114 (Variabel dependen: Kinerja Perusahaan - ROE)
Hasil pengujian pada tabel 5 dan tabel 6 untuk menguji pengaruh IC terhadap kinerja
perusahaan dengan strategi sebagai pemoderasi dengan membandingkan model tanpa
moderasi strategi dan model dengan moderasi strategi dengan variabel dependen kinerja
perusahaan menunjukkan peningkatan kemampuan penjelas (adjusted r square) pada model dengan moderasi baik untuk kinerja perusahaan yang diukur dengan Mperf mau
pun ROE. Pengujian juga dilakukan untuk ukuran kinerja yang lainnya, dan
menunjukkan hasil yang sama, namun tidak ditabulasikan.
5. Simpulan, Implikasi dan Keterbatasan Penelitian
Penelitian ini memiliki tiga tujuan, pertama, menguji pengaruh IC terhadap kinerja
perusahaan. Kedua, menguji pengaruh komponen-komponen IC terhadap kinerja
perusahaan dan ketiga, menguji peran pemoderasi dari strategi dalam hubungan antara
IC dengan kinerja perusahaan. Kontribusi penelitian ini, pertama, penelitian ini menguji
kembali konsep intellectual capital dan pengaruh IC dan komponen IC terhadap kinerja dalam konteks data perusahaan di Indonesia. Kedua, penelitian ini merupakan
penelitian awal di Indonesia yang menduga adanya peran pemoderasi dari strategi
dalam hubungan antara IC dengan kinerja perusahaan. Ketiga, penelitian ini memberi
kontribusi dalam hal pengembangan model pengujian untuk membuktikan secara
empiris pengaruh IC dan komponen IC terhadap kinerja serta pengembangan model
terkait dengan peran pemoderasi dari strategi. Hasil pengujian dengan menggunakan
komponen IC terhadap kinerja perusahaan menunjukkan arah yag positif dan signifikan,
hal ini konsisten dengan penelitian-penelitian terdahulu (Chang, 2010; Goh, 2005;
Bontis, 1998; Bollen, 2005; Clark et al. 2010). Model pengujian yang
mempertimbangkan peran moderasi dari strategi dalam hubungan antara IC dengan
kinerja menunjukkan hasil yang tidak konsisten. Untuk pengaruh IC terhadap kinerja
perusahaan (ROA) dengan strategi sebagai pemoderasi hasilnya menunjukkan positif
dan signifikan untuk IC*CostEff, sementara untuk IC*Inov menunjukkan hasil negatif
dan signifikan. Hal ini mungkin menunjukkan bahwa perusahaan di Indonesia
cenderung beroperasi di lingkungan yang stabil dan menerapkan prosedur operasi
standar sehingga perusahaan yang menggunakan strategi inovasi justru akan memberi
dampak negatif pada kinerjanya. Hasil yang sama ditunjukkan untuk ukuran kinerja
perusahaan dengan Mperf. Sementara untuk hasil pengujian pengaruh IC terhadap
kinerja perusahaan (ROE) dengan strategi sebagai pemoderasi, koefisien IC*CostEff
dan koefisien IC*Inov arahnya negatif dan signifikan, dan untuk hasil pengujian
pengaruh IC terhadap kinerja perusahaan (EPS) dengan strategi sebagai pemoderasi,
koefisien IC*CostEff arahnya negatif dan signifikan, koefisien IC*Inov, arahnya positif
dan signifikan. Bukti empiris tambahan terkait dengan peran moderasi dari strategi
ditunjukkan dengan dengan membandingkan adjusted R-Square sebelum dan setelah pengaruh moderasi dimasukkan dalam model. Kemampuan penjelas model meningkat
setelah dimasukkannya pengaruh moderasi ke dalam model. Beberapa penelitian yang
terkait dengan peran strategi sebagai pemoderasi menunjukkan hasil yang beragam
(Edelman, 2005; Song et al. 2007).
Penelitian ini memiliki keterbatasan dan implikasi bagi penelitian selanjutnya.
Pertama, sampel penelitian hanya dibatasi pada perusahaan manufaktur saja, penelitian
selanjutnya dapat mempertimbangkan kelompok industri lain. Kedua, model penelitian
yang digunakan masih memiliki keterbatasan ekonometrika, dalam penelitian ini belum
mempertimbangkan fixed effect sehingga sangat mungkin mempengaruhi hasil. Ketiga, terkait dengan peran strategi sebagai pemoderasi masih dapat diuji kembali dengan
Daftar Referensi
Alcaniz, Leire., Fernando Gomez-Bezares, Robin Roslender. 2011. Theoretical Perspective on Intellectual Capital: A Backward Look and a Proposal for Going Forward. Accounting Forum, Vol 35, pp 104 – 117
Bowman, C., S. Toms., 2010. Accounting for Competitive Advantage: The Resource-Based View of The Firm and the Labour Theory of Value. Critical Perspective on Accounting, Vol 21, pp 183 – 194
Barney, JB. 1991. Firms Resources and Sustained Competitive Advantage. Journal of Management, Vol. 17, pp 99 – 120
Bornemann, M. 1999. Potential of Value System According to the VAIC Method.
International Journal Technology Management, Vol. 18, pp 463 – 475
Bornemann, Manfred., Karl-Heinz Leitner. 2002. Measuring and Reporting Intellectual Capital: The Case of A Research Technology Organisation. Singapore Management Review, pp 7 – 19.
Bontis, Nick. 1998. Intellectual Capital: An Exploratory Study that Develops Measures and Models, Vol 32, pp 63 – 76
Bollen, L. Vergauwen, P. And Schnieders, S. 2005. Linking Intellectual Capital and Intellectual Property to Company Performance. Management Decision. Vol.43 N0. 9. pp. 1161-1185
Carmeli, Abraham., Ashler Tishler. 2004. The Relationships Between Intangible Organizational Elements and Organizational Performance. Strategic Management Journal. Vol 25, pp 1257 – 1278
Coff, Russel W., 1999. When Competitive Advantage Doesn’t Lead to Performance: The Resource Based View and Stakeholder Bargaining Power. Organization Science, Vol. 10., No. 2, pp 119 – 135
Clarke, Martin. Dyna Seng., Rosalin H. Whiting. 2010. Intellectual Capital and Firm Performance in Australia. Working Paper Series, No. 12. Department of Accountancy and Business Law, University Of Otago
Chang, William S. 2010. The Different Proportion of IC Components and Firms’ Market Performance: Evidence from Taiwan. The International Journal of Business and Finance Research, Vol. 4 No. 4, pp 121 – 134
Conner, Kathleen R., C.K. Prahalad. 1996. A Resource Based Theory of the Firm: Knowledge versus Opportunism. Organization Science, Vol. 7 No. 5, pp 477 – 500
Donaldson, Thomas., Lee E. Preston. 1995. The Stakeholder Theory of The Corporation: Concepts, Evidence, and Implications. Academy of Management Review, Vol. 20 No. 1, pp 65 – 91
Edelman, Linda F., Candida G. Brush., Tatiana Manolova. 2005. CO-alignment in the Resource-Performance Relationship: Strategy as Mediator. Journal of Business Venturing, Vol. 20, pp 359 – 383
Fleming, M. Damon., Chee W Chow., Gongmeng Chen. 2009. Strategy,
Performance-Measurement Systems and Performance: A Study of Chinese Firms. The
International Journal of Accounting, Vol 44, pp 256 – 278
Freeman, Edward R., Andrew C. Wicks., Bidhan Parmar. 2004. Stakeholder Theory and The Corporate Objective Revisited. Organization Science. Vol. 15, No. 3, pp 364 – 369
Gani, Lindawati., Johny Jermias. 2006. Investigating the Effect of Board Independence on Performance Across Different Strategies. The International Journal of Accounting, Vol 41, pp 295 – 314
Goh, Pek Chen. 2005. Intellectual Capital Performance of Commercial Banks in Malaysia. Journal of Intellectual Capital. Vol. 6 No. 3. pp. 385-396.
Haksever, Cengiz., Radha Chaganti, Ronald G. Cook. 2004. A Model of Value Creation: Strategic View. Journal of Business Ethics, 49, pp 291 – 305
Herremans, Irene M., Robert G. Isaac. 2004. The Intellectual Capital Realization Process (ICRP): An Application of The Resource Based View of The Firm.
Journal of Managerial Issues. Vol. XVI, No. 2, pp 217 – 231
Herman van den Berg. 2000. Models of Intellectual Capital Valuation: A Comparative Evaluation.
Hitt, Michael A, Leonard Bierman, Katsuhiko Shimizu, Rahul Kochhar. 2001. Direct And Moderating Effects of Human Capital on Strategy and Performance in Professional Service Firms: A Resource-Based Perspective. Academy of Management Journal , Vol 44 No. 1, pp 12-36
Ismail, Noraini., Hazman Shah Abdullah., Norhana Salamuddin., 2006. ISO 9000 Acceptance and The Moderating Effect of the Implementation Strategy: The Case Of The Faculty of Business Management, Universiti Teknologi Mara, Shah Alam., Asian Academy of Management Journal. Vol. 11 No. 1, pp 67 – 82
Jermias, Jhonny. 2008. The Relative Influence of Competitive Intensity and Business Strategy on the Relationship Between Financial Leverage and Performance. The British Accounting Review, Vol 40, pp 71 – 86
Johannessen, John-Arild., Bjorn Olsen, Johan Olaisen. 2005. Intellectual Capital as a Holistic Management Philosophy: a Theoretical Perspective. International Journal of Information Management. Vol 25, pp 151 – 171
Joia, Luiz Antonio. 2000. Measuring Intangible Corporate Assets Linking Business Strategy with Intellectual Capital. Journal of Intellectual Capital, Vol. 1, pp 68 – 84
Kamath, G. Bharanthi. 2007. The Intellectual Capital Performance of Indian Banking Sector. Journal of Intellectual Capital. Vol. 8 No. 1. pp. 96-123.
_______. 2008. Intellectual Capital and Corporate Performance in Indian Pharmaceutical Industry. Journal of Intellectual Capital. Vol. 9 No. 4. pp. 684-704. Kraatz, Matthew., Edward J. Zajac. 2001. How Organizational Resources Affect
Strategic Change and Performance in Turbulent Environments: Theory and Evidence.
Makki, Muhammad Abdul Majid, Suleman Aziz Lodhi. 2008. Impact of Intellectual Capital Efficiency on Profitability. The Lahore Journal of Economics. Vol. 13, pp 81 – 98
Makki, M.A., Majid., Suleman Aziz Lodhi, Rashid Rahman. 2008. Intellectual Capital Performance of Pakistani Listed Corporate Sector. Vol. 3 No. 10, pp 45 – 51 Meek, G.K., Gray, S.J. 1998. The Value Added Statement: An Innovation for the US
Companies. Accounting Horizons, Vol 12 No. 2, pp 73 – 81
Petty, Richard., James Guthrie. 2000. Intellectual Capital Literature Review Measurement, Reporting and Management. Journal of Intellectual Capital, Vol 1 No. 2, pp 156 – 176
Pulic, A. 1998. Measuring the Performance of Intellectual Potential in Knowledge Economy. Paper presented at the 2nd McMaster Word Congress on Measuring and Managing Intellectual Capital by the Austrian Team for Intellectual Potential. Pulic, A. 2000. VAIC TM an Accounting Tool for IC Management. Available:
Riahi-Belkaoiu, A. 2003. Intellectual Capital and Firm Performance of US Multinational Firms: A Study of The Resource-based and Stakeholder Views. Journal of Intellectual Capital. Vol. 4 No. 2. pp. 215-226
Striukova, Ludmila., Jeffrey Unerman, James Guthrie. 2008. Corporate Reporting of Intellectual Capital: Evidence form UK Companies. Vol 40, pp 297 – 313
Wang, Yong., Pervaiz K. Ahmed. 2009. The Moderating Effect of The Business Strategic Orientation on eCOmmerce Adoption: Evidence from UK Family Runs SMEs. Journal of Strategic Information Systems. Vol 18, pp 16 – 30.
Wernerfelt, B. 1984. The Resource-Based View of The Firm. Strategic Management Journal. Vol 5, pp171 – 180
Ween-Min Lu, Wei-Kang Wang, Wei-Ting Tung, Fengyi Lin. 2010. Capability and Efficiency of Intellectual Capital: The Case of Fabless Companies in Taiwan.
Expert Systems with Applicants, Vol 37, pp 546 – 555