• Tidak ada hasil yang ditemukan

MARAKNYA BUDAYA MENCONTEK KALANGAN MAHAS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "MARAKNYA BUDAYA MENCONTEK KALANGAN MAHAS"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

KARYA TULIS

MARAKNYA BUDAYA MENCONTEK KALANGAN MAHASISWA

Tugas Bahasa Indonesia

Disusun Oleh : Eva Heni Astuti

( 24030115120043)

Kelas A

JURUSAN KIMIA

FAKULTAS SAINS DAN MATEMATIKA UNIVERSITAS DIPONEGORO

(2)

ABSTRAK

Karya tulis ini berjudul “MARAKNYA BUDAYA MENCONTEK KALANGAN MAHASISWA”, sengaja penulis pilih karena maraknya kebiasaan mahasiswa yang suka menyontek, baik saat mengerjakan PR, Tugas, Ulangan Harian, Ulangan Umum Semester, maupun Ujian.

Metode yang digunakan adalah metode observasi / pengamatan dan metode angket. Tujuan ditulisnya karya tulis ini adalah membuat para mahasiswa sadar bahwa menyontek sama saja dengan membohongi diri sendiri. Selain itu, menunjukkan bagaimana melatih diri untuk berlaku jujur.

Dalam pembahasan masalah dapat disimpulkan kebiasaan menyontek dapat merugikan diri sendiri dan orang lain. Menyontek menjadikan kita malas, tidak jujur, dan merupakan satu tindakan awal dari budaya korupsi.

(3)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Sistem pendidikan di Indonesia yang terbilang masih labil ini terus berupaya mencari jati diri dan mencari pola tentang sistem penilaian dan standarisasi mutu pendidikan. Berbagai upaya dilakukan oleh pemerintah melalui Kemendiknas dalam rangka mendidik anak bangsa dari ketertinggalan dan ditinggalkan. Dengan alasan standar kelulusan semakin tinggi sehingga perbuatan contek-mencontek di halalkan. Mencontek sering kali diartikan sebagai bentuk solidaritas. Tapi solidaritas ini sering disalahartikan yaitu bagaimana kita membantu teman, baik dalam hal positif maupun negatif. Jika solidaritas diartikan sebagai solidaritas yang positif maka akan berdampak poositif juga, yaitu semakin eratnya rasa persatuan. Tapi jika solidaritas disalah artikan dengan memberikan contekan kepada teman tentu saja ini akan menyimpang arti dari solidaritas yang sebenarnya. Biasanya mereka beranggapan jika tidak memberikan contekan maka akan di anggap pelit dan tidak mempunyai teman. Hal ini yang membuat kita serba salah sehingga kita tetap mencontek meskipun kita tahu bahwa apa yang kita lakukan adalah hal yang salah.

(4)

senang jalan pintas dan malas berusaha keras. Bisa dipastikan, saat mahasiswa sudah dewasa dan hidup sendiri, tabiat-tabiat hasil perilaku mencontek mulai diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, seperti mencuri, korupsi, manajemen buruk, pemalas tapi ingin jabatan dan pedapatan tinggi.

B. Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah dalam makalah ini adalah sebagai berikut:

1. Apa faktor yang menyebabkan para mahasiswa melakukan contek-menyotek?

2. Apakah dampak dari perbuatan menyontek?

3. Bagaimana cara mengatasi kebiasaan menyontek dikalangan mahasiswa?

C. Tujuan

1. Mengetahui faktor yang menyebabkan mahasiswa mencontek. 2. Mengetahui akibat yang di timbulkan dari perbuatan mencontek.

3. Mencari sulosi yang tepat untuk mencegah dan membrantas budaya mencontek di Indonesia.

D. Manfaat

1. Dapat memberi masukan agar para mahasiswa yang sering mencontek agar tidak mencontek lagi.

2. Dapat mengetahui alasan mahasiswa mencotek dan dampak yang ditimbulkannya 3. Dapat mengetahui bahwa mencontek itu perbuatan yang menyimpang pancasila. 4. Dapat membantu mahasiswa jera akan mengulangi kebiasaan mencontek.

BAB II

(5)

Mencontek memiliki arti yang beraneka macam, akan tetapi biasanya dihubungkan dengan kehidupan sekolah khususnya bila ada ulangan dan ujian. Biasanya usaha mencontek dimulai pada waktu ulangan dan ujian akan berakhir, tapi tidak jarang usaha tersebut telah dimulai sejak ujian dimulai. Walaupun kata mencontek telah dikenal sejak lama namun dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata tersebut tidak dapat ditemukan secara langsung. Kata mencontek baru ditemukan pada kata jiplak menjiplak yaitu mencontoh atau meniru tulisan pekerjaan orang lain. Dalam kamus modern bahasa Indonesia istilah mencontek memiliki pengertian yang hampir sama yaitu meniru hasil pekerjaan orang lain. Menurut Kamus Bahasa Indonesia karangan W.J.S. Purwadarminta adalah

mencontoh, meniru, atau mengutip tulisan, pekerjaan orang lain sebagaimana aslinya. intinya bahwa mencontek adalah suatu perbuatan atau cara-cara yang tidak jujur, curang, dan menghalalkan segala cara untuk mencapai nilai yang terbaik dalam ulangan atau ujian pada setiap mata pelajaran.

B. Faktor-Faktor Penyebab Menyontek

Menurut Nugroho (2008), yang menjadi penyebab munculnya tindakan menyontek bisa dipengaruhi beberapa hal. Baik yang sifatnya berasal dari dalam internal yakni diri sendiri, maupun dari luar (eksternal) misalnya dari guru, orang tua maupun sistem pendidikan itu sendiri.

1. Faktor dari dalam diri sendiri

a. Kurangnya rasa percaya diri pelajar dalam mengerjakan soal. Biasanya disebabkan ketidaksiapan belajar baik persoalan malas dan kurangnya waktu belajar.

b. Orientasi pelajar pada nilai bukan pada ilmu.

c. Sudah menjadi kebiasaan dan merupakan bagian dari insting untuk bertahan. d. Merupakan bentuk pelarian atau protes untuk mendapatkan keadilan. Hal ini

disebabkan pelajaran yang disampaikan kurang dipahami atau tidak mengerti dan sehingga merasa tidak puas oleh penjelasan dari guru atau dosen.

(6)

f. Terpengaruh oleh budaya instan yang mempengaruhi sehingga pelajar selalu mencari jalan keluar yang mudah dan cepat ketika menghadapi suatu persoalan termasuk tes atau ujian.

g. Tidak ingin dianggap sok suci dan lemahnya tingkat keimanan. 2. Faktor dari Guru

a. Guru tidak mempersiapkan proses belajar mengajar dengan baik sehingga yang terjadi tidak ada variasi dalam mengajar dan pada akhirnya murid menjadi malas belajar.

b. Guru terlalu banyak melakukan kerja sampingan sehingga tidak ada kesempatan untuk membuat soal-soal yang variatif. Akibatnya soal yang diberikan antara satu kelas dengan kelas yang lain sama atau bahkan dari tahun ke tahun tidak mengalami variasi soal.

c. Soal yang diberikan selalu berorientasi pada hafal mati dari text book.

d. Tidak ada integritas dan keteladan dalam diri guru berkenaan dengan mudahnya soal diberikan kepada pelajar dengan imbalan sejumlah uang.

e. Kurangnya sistem pengawasan dari guru. 3. Faktor dari Orang Tua

a. Adanya hukuman yang berat jika anaknya tidak berprestasi.

b. Ketidaktahuan orang tua dalam mengerti pribadi dan keunikan masing-masing dari anaknya, sehingga yang terjadi pemaksaan kehendak.

4. Faktor dari Sistem Pendidikan

a. Meskipun pemerintah terus memperbaharui sistem kurikulum yang ada, akan tetapi sistem pengajarannya tetap tidak berubah. Misalnya tetap terjadi one way yakni dari guru untuk mahasiswa.

b. Muatan materi kurikulum yang ada seringkali masih tumpang tindih dari satu jenjang ke jenjang lainnya yang akhirnya menyebabkan pelajar/mahasiswa menganggap rendah dan mudah setiap materi. Sehingga yang terjadi bukan semakin bisa melainkan pembodohan karena kebosanan.

(7)

a. Tekanan yang terlalu besar yang diberikan kepada hasil studi berupa angka dan nilai yang diperoleh mahasiswa dalam test formatif atau sumatif.

b. Pendidikan moral baik di rumah maupun di sekolah kurang diterapkan dalam kehidupan mahasiswa.

c. Sikap malas yang terukir dalam diri mahasiswa sehingga ketinggalan dalam menguasai mata pelajaran dan kurang bertanggung jawab.

d. Anak remaja lebih sering menyontek dari pada anak SD, karena masa remaja bagi mereka penting sekali memiliki banyak teman dan populer di kalangan teman-teman sekelasnya.

e. Kurang mengerti arti dari pendidikan.

f. Adanya kesempatan atau pengawasan tidak ketat.

g. Takut gagal karena yang bersangkutan merasa belum siap menghadapi ujian dan dia tidak ingin mengulang.

h. Tidak percaya diri sehingga tidak yakin pada jawabanya sendiri.

D. Dampak dari PerbuatanMencontek

Dampak yang timbul dari praktik menyontek yang secara terus menerus dilakukan akan mengakibatkan ketidakjujuran. Jika tidak, niscaya akan muncul malapetaka. Peserta didik akan menanam kebiasaan berbuat tidak jujur, yang pada saatnya nanti akan menjadi kandidat koruptor. (Poedjinoegroho, 2006).

Kebiasaan mencontek juga akan mengakibatkan seseorang tidak mau berusaha sendiri dan selalu mengandalkan orang lain. Sehingga seseorang tersebut tidak mau mempergunakan otaknya sendiri dan tentu saja akan muncul generasi-generasi yang bodoh dan tidak jujur.

(8)

Dampak buruk lainya adalah membodohi diri sendiri. Ketika kita mencontek, berarti kita memanipulasi nilai kita. Karena sebenarnya itu bukanlah jawaban kita, melainkan jawaban orang lain. Belum tentu jawaban teman itu benar. Dan ketika kita memberikan jawaban kepada teman kita, maka kita memberikan peluang kepada teman kita untuk mendapatkan nilai yang lebih besar. mungkin adalah penyontek-penyontek berat ketika mereka masih berada di bangku sekolah. Mereka yang terbiasa menyontek di sekolah, memiliki potensi untuk menjadi koruptor, penipu, dan penjahat krah putih dalam masyarakat nanti

E.Usaha untuk memberantas budaya mencontek

Untuk memulai sesuatu memang berawal dari diri sendiri. Seperti halnya memberantas contek-menyontek berawal dari diri kita yaitu para mahasiswa untuk lebih giat belajar dan meningkatkan percaya diri. Namun disamping itu perlu adanya pihak yang mendukung sehingga contek-menyontek tersebut tidak terjadi yaitu guru. Berbagi cara telah guru lakukan untuk mencegah contek-menyontek yakni dengan memberi teguran hingga sanksi yang berat untuk para mahasiswa yang menyontek. Hal itu masih saja belum berhasil. Nampaknya mahasiswa yang menyontek lebih jeli dibandingkan dengan gurunya yang mengawasi saat ujian berlangsung. Namun ada satu cara yang efektif untuk mencegah tindakan mencotek ialah dengan cara memberikan tes lisan.

BAB III PEMBAHASAN A.Faktor-faktor Mencontek

(9)

tidak ketat,faktor dari orang tua karena adanya hukuman dari orang tua jika anaknya tidak bisa berpretasi sehingga melakukan nyontek dan kurangnya pendidikan agama yang diberikan ke anak dan yang terakhir faktor dari sistem pendidikan karena pemerintah hanya mempriotiskan ujian tertulis saja.

B. Faktor yang Menyebabkan Siswa Mencontek Ketika Ujian Tertulis

Pengertian dari mencontek adalah suatu perbuatan atau cara-cara yang tidak jujur, curang, dan menghalalkan segala cara untuk mencapai nilai yang terbaik dalam ulangan atau ujian.dalam ujian tertulis,kebanyakan pelajar melakukan mencontek dan kebanyakan anak remaja lebih sering menyontek dari pada anak SD, karena masa remaja bagi mereka penting sekali memiliki banyak teman dan anak SD belum begitu berani melakukan mencontek. Itu semua di karenakan tidak percaya diri sehingga tidak yakin pada jawabanya sendiri dan pertanyaan soal yang terlalu membuku.

C.Bentuk Penyimpangan Budaya Mencontek

(10)

yang lain yang mengerjakan dengan jujur, Itu sebabnya mencontek masuk kedalam penyimpangan dari UUD pasal 29 Ayat 1 dan pancasila sila 1 dan ke-5.

D.Dampak mencontek

Dampak yang timbul dari praktik menyontek yang secara terus menerus dilakukan akan mengakibatkan mahasiswa malas untuk berfikir,tidak pecaya terhadap kemampuan dirinya sediri sehingga memperoleh prestasi yang palsu dan memperoleh kepribadian yang buruk, Kebiasaan mencontek juga akan mengakibatkan seseorang tidak mau berusaha sendiri dan selalu mengandalkan orang lain. Sehingga seseorang tersebut tidak mau mempergunakan otaknya sendiri dan tentu saja akan muncul generasi-generasi yang bodoh dan tidak jujur.

Dampak buruk lainya adalah ketika mencontek, berarti memanipulasi, Jika hal tersebut terus dilakukan ketika di bangku perkuliahan bukan tidak mungkin akan dilakukan lagi di masa dewasa dengan berkelakuan dengan tidak jujur dan senang memanipulasi sehigga akan timbulnya koruptor-koruptor. Mereka yang terbiasa menyontek, memiliki potensi untuk menjadi koruptor, penipu, dan penjahat krah putih dalam masyarakat nanti. Itu sebabnya menyontek merupakan gerbang untuk menjadi seorang koruptor.

E.Cara Mencegah dan Memberantas Budaya Mencontek

(11)

BAB IV PENUTUP A. Simpulan

(12)

menyontek saat ujian tertulis yaitu karena kurangnya pengawasan dari guru dan soal yang sangat membuku.

Mencontek merupakan bentuk penyimpangan dari UUD pasal 29 Ayat 1 dan pancasila pada sila yang ke-1 dan ke-2.

Dampak yang ditumbulkan dari mencontek yaitu belajar menjadi malas ,tidak mau berfikir,tidak pecaya terhadap kemampuan dirinya sediri ,gampang putus asa,memiliki sifat yang tidak jujur dan masih banyak lagi.bahkan dapat menimbulkan bibit-bibit korupsi dari perbuatan tersebut.

Cara untuk mencegah dan membrantas budaya mencontek yaitu harus di mulai dari kita sediri dengan sadar bahwa perbuatan tersebut banyak menimbulkan hal negatifnya dan bantuan dari pihak lain seperti guru,teman ,sahabat dan orang lain.

B. Saran

Sebaiknya bagi para mahasiswa yang terbiasa mencontek dikurangi bahkan kalau bisa di hilangakan karena banyak hal negatifnya dan bagi mahasiswa yang belum pernah mencontek jangan sekali-kali mencobanya karena mencontek ini bagaikan obat narkoba sekali mencoba maka akan merasa ketagihan ingin terus melakukan hal tersebut.

Untuk para guru atau dosen sebaiknya memberikan sanksi yang tegas kepada mahasiswa yang mencontek karena mencontek ini akan menimbulkan tergantungan kepada orang lain dan sebaiknya dalam melakukan ulangan atau tes secara lisan saja.

(13)

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah Alhadza. Masalah Perilaku Menyontek (cheating) Di Dunia

Pendidikan. http://depdiknas.go.id/jurnal/38 . Diakses pada tanggal 25

Desember 2015

Santoso, T. 1991. Menyontek Bukan Seni. Dalam Kartini Kartono

(ed.). Bimbingan Bagi Anak Remaja yang Bermasalah. Jakarta: Rajawali Press.

http://ademardhatillah.blogspot.com/2012/10/makalah-perilaku-menyimpang.html

http://onosari.com/t8019-tips-menghilankan-kebiasan-mencontek

Referensi

Dokumen terkait