• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS PERBANDINGAN dimensi ADMINISTRASI NEGAR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "ANALISIS PERBANDINGAN dimensi ADMINISTRASI NEGAR"

Copied!
33
0
0

Teks penuh

(1)

UNIVERSITAS INDONESIA

ANALISIS PERBANDINGAN ADMINISTRASI NEGARA:

STUDI PERAN PT PLN PERSERO DAN

VIETNAM

ELECTRICITY

(EVN) DALAM KETENAGALISTRIKAN

PAPER

Mata Kuliah Perbandingan Administrasi Negara

Disusun Oleh:

Imas Qurhothul Ainiyah 1306383155

Kelas Administrasi Negara A

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

PROGRAM STUDI ILMU ADMINISTRASI NEGARA

(2)

DAFTAR ISI

Halaman Judul ... i

Daftar Isi... ii

Daftar Gambar, Grafik, Tabel ... iii

Kata Pengantar ... iv

Abstrak ... v

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 3

1.3 Tujuan Penulisan ... 3

1.4 Sistematika Penulisan ... 4

BAB 2 KERANGKA TEORI 2.1 Public Service ... 5

2.2 Civil Society ... 6

2.3 Dimensi Hubungan Antara Administrasi Negara dengan Civil Society ... 7

BAB 3 METODE KAJIAN DAN GAMBARAN UMUM 3.1 Metode Kajian ... 8

3.2 Gambaran Umum ... 9

BAB 4 PEMBAHASAN 4.1 Penyediaan Tenaga Listrik di Indonesia ... 11

4.2 Penyediaan Tenaga Listrik di Vietnam ... 15

4.3 Analisis peran PT PLN Persero dan Vietnam Electricity dalam ketenagalistrikan ... 20

BAB 5 PENUTUP 5.1 Kesimpulan ... 23

5.2 Saran ... 23

(3)

DAFTAR GAMBAR, GRAFIK, TABEL

DAFTAR GAMBAR

Gambar 4.1 Rasio Persebaran Elektrifikasi Indonesia Tahun 2015 ... 12

Gambar 4.2 Kapasitas Pembangkit Listrik di Indonesia ... 14

Gambar 4.3 Pembangunan Pembangkit Listrik di Indonesia ... 14

Gambar 4.4 Distribusi Tenaga Listrik... 15

DAFTAR GRAFIK Grafik 4.1 Kapasitas Pembangkit Listrik di Vietnam ... 17

Grafik 4.2 Bahan Baku Pembangkit Listrik di Vietnam ... 18

DAFTAR TABEL Tabel 4.1 Klasifikasi Customer Listrik di Vietnam ... 19

(4)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas petunjuk, rahmat dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Analisis Perbandingan Administrasi Negara: Studi Peran PT PLN Persero dan Vietnam Electricity dalam Ketenagalistrikan”. Penulisan makalah ini dilakukan dalam rangka memenuhi salah satu syarat mata kuliah Perbandingan Administrasi Negara. Dengan ini penulis menyadari bahwa makalah ini tidak akan tersusun dengan baik tanpa adanya bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak selama perkuliahan Perbandingan Administrasi Negara ini. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Zuliansyah Putra Zulkarnain S. Sos, M. Si. selaku dosen mata kuliah Perbandingan Administrasi Negara;

2. Dra. Rainingsih Hardjo M. A. selaku dosen mata kuliah Perbandingan Administrasi Negara;

3. Imas Cempaka Mulia, S. I. A. selaku asisten dosen mata kuliah Perbandingan Administrasi Negara;

4. Orang tua dan keluarga tercinta yang telah membantu baik moral maupun materiil;

5. Teman-teman yang telah membantu memberikan dukungan dalam penyelesaian makalah ini.

Akhir kata, berharap Tuhan Yang Maha Esa berkenan membalas segala kebaikan semua pihak yang telah membantu. Mohon maaf apabila terdapat kesalahan dalam penulisan makalah ini. Semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi pengembangan ilmu terutama Disiplin Ilmu Administrasi Negara.

Depok, Juni 2016

(5)

ABSTRAK

Listrik merupakan salah satu kebutuhan publik terutama untuk menunjang berbagai aktivitas kerja. Upaya pemenuhan energi listrik di setiap Negara dilaksanakan oleh lembaga resmi pemerintah, seperti PT PLN Persero di Indonesia dan Vietnam Electricity (EVN) di Vietnam. Akan tetapi, keberadaan lembaga Negara tersebut belum mampu memenuhi kebutuhan masyarakat akan akses tenaga listrik. Permasalahan tersebut menjadi daya tarik penulis untuk mengkaji peran PT PLN Persero dan Vietnam Electricity (EVN) dalam Ketenagalistrikan. Pendekatan yang digunakan dalam penulisan makalah ini yaitu pendekatan kualitatif dan metode kualitatif deskriptif. Teknik pengumpulan data yang digunakan ialah teknik pengumpulan data kualitatif dengan jenis data sekunder. Hasil dari penulisan makalah ini yaitu bahwa PT PLN Persero dan

Vietnam Electricity (EVN) berperan dalam kegiatan pembangunan infrastruktur dan pembangkit listrik serta proses distribusi listrik yang merupakan salah satu upaya pelayanan publik atau public service.

(6)

BAB 1 PENDAHULUAN

Bab pendahuluan berisi penjelasan mengenai latar belakang masalah, permasalahan, tujuan dari penulisan makalah serta sistematika penulisan makalah.

1.1Latar Belakang

Energi listrik merupakan salah satu kebutuhan yang penting dan merupakan bagian dari hajat hidup orang banyak, terutama untuk menunjang berbagai aktivitas kerja (ESDM, 2015)1. Pada dasarnya, listrik merupakan daya atau kekuatan yang ditimbulkan oleh adanya pergesekan kimia yang menghasilkan panas, cahaya sehingga menghasilkan arus atau energi. Daya yang ditimbulkan dari proses kimia tersebut dapat dimanfaatkan untuk menggerakkan sebuah mesin yang digunakan dalam berbagai aktivitas. Pada peraturan Menteri Energi Dan Sumber Daya Mineral No 45 Tahun 2005 tentang instalasi ketenagalistrikan2 disebutkan bahwa, proses penyediaan tenaga listrik pada umumnya didukung oleh beberapa subsistem yaitu pembangkitan, transmisi, distribusi dan atau penjualan tenaga listrik. Setiap subsistem tersebut memiliki fungsi yang berlainan namun saling terkait satu sama lain.

Tenaga listrik dihasilkan dari pengolahan berbagai bahan baku seperti panas buni, batu bara, gas, air, angin dan energy nuklir (ESDM, 2008)3. Energi listrik dalam kehidupan sehari-hari dimanfaatkan untuk menunjang pekerjaan baik pekerjaan rumah tangga maupun pekerjaan kantor. Manfaat energi listrik bagi rumah tangga yaitu sebagai sumber energi berbagai alat-alat elektronik seperti kompor listrik, setrika, mesin cuci, lampu, TV dan computer. Sedangkan bagi pekerjaan kantor, energy listrik digunakan untuk melaksanakn berbagai kegiatan yang memanfaatkan alat-alat elektronik seperti komputer, lampu, mesin fotocopy, alat-alat konstruksi dan design grafis. Pemanfaatan energi listrik perlu dikendalikan oleh pemerintah atau lembaga Negara. Hal ini disebabkan karena

1 Kementerian Energi Dan Sumber Daya Mineral (ESDM). 2015. Rencana Umum

Ketenagalistrikan Nasional 2015 2034. Jakarta.

2 Peraturan Menteri Energi Dan Sumber Daya Mineral (ESDM) No 45 Tahun 2005 Tentang

Instalasi Ketenagalistrikan.

3 Kementerian Energi Dan Sumber Daya Mineral (ESDM). 2008. Perbandingan Keekonomian

(7)

tenaga listrik dihasilkan dan dikelola menggunakan dana milik Negara. Dengan demikian, ketersediaan pasokan energi listrik perlu dikelola agar tidak mengalami krisis atau kekurangan energi.

World Bank bersama Australian AID meluncurkan laporan yang berjudul

One Goal, Two Paths: Achieving Universal Access to Modern Energy in East

Asia and Pacific (Satu Tujuan, Dua Jalan: Mencapai Akses Universal untuk Energi Modern di Asia Timur dan Pasifik) yang memuat tentang program-program ambisius untuk mengatasi masalah kekurangan energi di kawasan Asia Timur-Pasifik pada tahun 2030 (World Bank, 2011)4. Menurut John Roome – Direktur Bank Dunia untuk Pembangunan Berkelanjutan Kawasan Asia Timur dan Pasifik, masih ada sekitar 170 juta orang di kawasan Asia Timur-Pasifik yang belum memiliki saluran listrik sehingga mengalami keterbatasan akses terhadap energi modern (World Bank, 2011). Di samping itu, masih ada satu miliar orang di kawasan Asia Timur-Pasifik yang masih menggunakan bahan bakar padat untuk memasak. Penggunaan bahan bakar padat memiliki potensi polusi udara yang tinggi dan berakibat pada risiko masalah kesehatan. Adapun Negara yang masih bermasalah terhadap akses listrik dan energi modern antara lain Myanmar, Bangladesh, India, Indonesia, Fillipina, dan Vietnam.

Di Indonesia masih terdapat 31% dari total penduduk atau sekitar 80 juta orang yang masih kurang akses untuk listrik (World Bank, 2011). Separuh dari masyarakat yang masih kurang akses listrik tersebut berada diluar pulau Jawa dan Bali, dan memerlukan pentargetan yang lebih baik untuk mengakselerasi tingkat elektrifikasi. Di sisi lain, Negara Vietnam yang memiliki wilayah geografis hampir sama dengan Indonesia juga mengalami kesulitan akses listrik. Menurut Dahlan Iskan, kondisi kelistrikan di wilayah Vietnam sama dengan penyediaan listrik diluar pulau Jawa dan Bali (Rezy, 2013)5.

(8)

melalui dua jalur secara simultan (World Bank, 2011). Pertama, mencapai akses universal untuk listrik dengan cara akselerasi, baik melalui program-program jaringan listrik maupun program diluar jaringan, mengurangi biaya melalui kebijakan kelistrikan dan melakukan inovasi teknis, membuat infrastruktur listrik yang dapat diandalkan, dan menyediakan pelayanan yang lebih efisien untuk rumah tangga. Kedua, meningkatkan akses untuk bahan bakar memasak yang lebih ramah lingkungan seperti gas natural, gas cair, dan biogas serta kompor-kompor masak yang lebih canggih, terutama di daerah perdesaan miskin. Peningkatan akses energi modern ini juga dapat membantu meningkatkan kesehatan dan mengurangi kadar polusi udara. Kedua jalur tersebut dianggap sangat terjangkau karena hanya memerlukan biaya sebesar US $ 78 miliar untuk dua dekade mendatang bagi kawasan Asia Timur dan Pasifik untuk mencapai akses universal untuk listrik. Biaya tersebut dianggap kecil dibandingkan dengan jumlah pendapatan domestic bruto (PDB) regional kawasan Asia Timur-Pasifik. Target dari kedua program tersebut difokuskan untuk mencapai Millennium Development Goals (MDGs).

1.2Rumusan Masalah

Keterbatasan akses terhadap listrik mendorong pemerintah di kawasan Asia Timur dan Pasifik, khususnya pemerintah Indonesia dan Vietnam untuk menerapkan strategi yang lebih komprehensif terkait ketenagalistrikan (World Bank, 2011). Hal ini disebabkan karena listrik merupakan salah satu kebutuhan yang penting untuk menunjang berbagai aktivitas. Tujuan utama penerapan strategi tersebut yaitu untuk mengurangi jumlah masyarakat yang mengalami keterbatasan terhadap akses tenaga listrik di kedua Negara tersebut. Berbagai masalah terkait kelistrikan tersebut membuat penulis tertarik untuk mengangkat rumusan masalah, bagaimana peran PT PLN Persero dan Vietnam Electricity

(EVN) dalam ketenagalistrikan?

1.3Tujuan Penulisan

(9)

1.4Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan berisi gambaran umum dari setiap bab makalah ini, yaitu sebagai berikut:

1.4.1 Bab 1 Pendahuluan

Bab 1 berisi latar belakang masalah penulisan makalah, pokok permasalahan yang menjadi fokus penulisan makalah, tujuan penulisan makalah dan sistematika penulisan yang berisi penjelasan tentang rincian penjelasan setiap bab dan sub bab yang ada dalam makalah ini.

1.4.2 Bab 2 Kerangka Teori

Bab 2 berisi pemaparan teori yang digunakan sebagai dasar analisis pembahasan makalah terkait dengan masalah yang diangkat.

1.4.3 Bab 3 Metode Kajian dan Gambaran Umum

Bab 3 berisi pemaparan mengenai metode kajian yang digunakan dalam penulisan makalah serta gambaran umum Negara yang diperbandingkan.

1.4.4 Bab 4 Pembahasan

Bab 4 berisi hasil pembahasan terkait masalah yang diangkat. Pada bab pembahasan juga dipaparkan mengenai hasil dari tujuan penulisan makalah ini.

1.4.5 Bab 5 Penutup

(10)

BAB 2

KERANGKA TEORI

Bab kerangka teori berisi penjelasan mengenai teori public service, civil society dan dimensi hubungan antara administrasi publik dengan civil society. Kerangka teori berfungsi sebagai dasar dalam membuat analisis dalam penulisan makalah ini.

2.1 Public Service

Pelayanan publik atau public service merupakan suatu layanan yang sebagian besar menggunakan anggaran pemerintah untuk memenuhi kebutuhan masyarakat suatu Negara (World Bank, 2004)6. Anggaran pemerintah yang dikeluarkan untuk layanan publik tidak dimaksudkan untuk memperoleh peningkatan hasil. Pelayanan publik merupakan salah satu bentuk desentralisasi tanggung jawab pemerintah untuk memberikan layanan pada bidang pendidikan, kesehatan, tenaga listrik, transportasi, layanan dokumen administratif dan perizinan. Sedangkan menurut Denhardt dan Denhardt (dalam UNDP, 2015)7 layanan publik merupakan aktivitas dari pemerintah atau lembaga Negara untuk membantu civil society mengartikulasikan dan memenuhi kepentingannya. Prinsip penyelenggaraan layanan publik menurut Denhardt dan Denhardt ialah terbuka, mudah diakses, akuntabel, responsif, dan beroperasi untuk melayani kepentingan umum. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa pelayanan publik merupakan suatu usaha yang dilakukan oleh lembaga berwenang untuk memberikan fasilitas-fasilitas yang dapat diakses oleh civil society baik fasilitas berbayar maupun fasilitas gratis.

Layanan publik secara tradisional disusun dengan cara yang menempatkan

civil society dalam peran pasif atau hanya sebagai penerima layanan standar. Maksudnya ialah bahwa sebenarnya civil society memiliki alternatif proyek atau solusi untuk mengatasi masalah di daerah mereka. Akan tetapi, civil society tidak diberdayakan dalam proses birokrasi untuk merumuskan kebijakan atau strategi

6

World Bank, 2004. World Development Report 2004: Making Services Work for Poor People. Washington D.C.: World Bank.

7 United Nation Development Programme (UNDP). 2015. From Old Public Administration to the

(11)

alternatif. Seiring dengan perkembangan zaman, pemerintah-pemerintah di suatu Negara melakukan desain ulang bagian-bagian dari sistem pelayanan publik sehingga memungkinkan civil society dapat memainkan peran yang lebih aktif sebagai komunitas pengguna untuk pelayanan publik (Open Government Guide,

n. d.)8. Hal ini berarti bahwa terjadi peningkatan kepercayaan pemerintah terhadap

civil society.

2.2 Civil Society

Menurut Diamond (dalam Wirutomo, 2012: 274)9 yang dimaksud dengan

civil society yaitu sebagai “… the realm of organized social life that is open,

voluntary, self generating, at least partially self generating, autonomous from the

state, and bond by a legal order or set of shared rules”. Hal itu berarti bahwa civil

society merupakan sebuah fenomena penengah yang berkedudukan di antara ruang pribadi dan Negara. Civil society mewujud dalam beragam organisasi, baik yang bersifat formal maupun informal, seperti ekonomi, budaya, informasi dan pendidikan. Di samping itu, civil society juga dapat terbentuk karena adanya kesamaan kepentingan dan tujuan seperti pada kelompok kepentingan, lembaga-lembaga pembangunan, organisasi-organisasi berorientasi isu dan kelompok-kelompok yang berfokus pada isu kewargaan. Jadi, civil society merupakan masyarakat di suatu Negara yang telah memiliki kesadaran untuk berkumpul, berserikat dan bekerja sama dengan tujuan menyalurkan ide-ide otonomi kepada lembaga Negara atau pemerintah untuk merumuskan solusi yang relevan dengan permasalahan yang ada.

Sujatmiko (dalam Wirutomo, 2012: 275), menyebutkan bahwa prinsip civil society dikategorikan menjadi dua aspek, yaitu horizontal dan vertical. Secara horizontal, civil society berkaitan dengan budaya yang berkembang dalam masyarakat. Budaya tersebut memuat gagasan mengenai civility (keberadaban) seperti, toleransi, pluralisme, solidaritas dan kerja sama. Sedangkan secara vertical, civil society mengarah pada proses politik yang terjadi di suatu Negara

8 Open Government Guide (OGD). n. d. Public Services. http://www.opengovguide.com

/topics/public-services/. Diakses pada Kamis, 2 Juni 2016.

9 Wirutomo, Paulus dkk. 2012. Sistem Sosial Indonesia. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia

(12)

dimana aspirasi atau ide-ide otonomi masyarakat berkembang. Hal ini berarti bahwa dalam proses penyelenggaraan Negara, keikutsertaan masyarakat harus ditingkatkan agar gagasan yang dirumuskan sesuai dengan kebutuhan yang ada. menjadi salah satu aktor yang penting untuk dipetimbangkan. Oleh karena itu, ide-ide otonomi yang berkembang di masyarakat dapat dipertimbangkan sebagai pokok pemikiran ketika penyelenggara Negara melaksanakan proses pelayanan publik.

Salah satu proses penyelenggaraan Negara yang melibatkan civil society

dapat dianalisis berdasarkan ilmu kajian perbandingan administrasi Negara, yaitu dimensi hubungan antara administrasi publik dengan civil society.

2.3 Dimensi Hubungan Antara Administrasi Publik dengan Civil Society

Menurut Pierre (2002: 205)10, dimensi hubungan antara administrasi publik dengan civil society meliputi upaya formal dan berdasarkan pada peraturan hukum legal yang dilakukan oleh lembaga Negara untuk memberikan pelayan baik berupa barang dan jasa bagi masyarakat. Administrator publik dalam hal ini memiliki dua pilihan kemungkinan yang tidak saling terkait. Pilihan pertama yang ditawarkan ialah pemerintah dapat mendesain ulang suatu kebijakan yang menyangkut pelayanan atau administrasi publik. Proses mendesain ulang kebijakn bertujuan untuk membuat suatu proyek atau program menjadi lebih accesible atau mudah diterima oleh civil society. Pembuatan ulang suatu kebijakan memungkinkan adanya perbaikan strategi atau penggunaan strategi baru dalam proses implementasi kebijakan. Hal itu juga membungkinkan adanya penerapan langkah-langkah baru yang lebih efisien dalam proses birokrasi, misalnya menyediakan sarana umpan balik bagi pelanggan atas pelayanan yang diberikan oleh lembaga perizinan dan menyediakan layanan dalam jaringan. Poin utama dari kebijakan ini ialah kepuasan masyarakat. Kepuasan masyarakat penting untuk diperhatikan karena masyarakat merupakan keypart atau kunci utama dari proses pelayanan publik. Pilihan kedua yang dikemukakan oleh Pierre (2002) ialah untuk merevisi kerangka hukum. Proses revisi kerangka hukum berfungsi untuk

10

(13)
(14)

BAB 3

METODE KAJIAN DAN GAMBARAN UMUM

Bab metode kajian dan gambaran umum berisi pemaparan mengenai pendekatan dan metode penulisan makalah, teknik pengumpulan data serta jenis data yang digunakan. Selain itu, pada bab ini juga dipaparkan mengenai profil negara yang diperbandingkan yaitu Negara Indonesia dan Negara Vietnam.

3.1 Metode Kajian

Penulisan makalah ini menggunakan pendekatan kualitatif dan metode kualitatif deskriptif. Pendekatan kualitatif menurut Creswell (2003)11 adalah pendekatan untuk membangun pernyataan pengetahuan berdasarkan perspektif konstruktif (seperti makna-makna yang bersumber pada pengetahuan, pengalaman atau nilai social dalam masyarakat) dan perspektif partisipatori (seperti orientasi terhadap isu politik, kolaborasi atau perubahan). Selanjutnya, Neuman (2007: 16)12 menyatakan bahwa metode deskriptif digunakan untuk menggambarkan detail spesifik mengenai situasi, pengaturan sosial atas sebuah hubungan. Metode deskriptif memuat teknik-teknik yang digunakan untuk mengkategorisasi, menginterpretasi, menyelidiki, menafsirkan dan mengidentifikasi keterbatasan fisik sumber dokumen yang umumnya dokumen tertulis baik dalam domain publik ataupun swasta. Jadi, penulisan dengan metode deskriptif merupakan upaya untuk menginterpretasikan kembali data-data baik dari domain public maupun dari buku-buku, artikel atau jurnal yang berkaitan dengan suatu topik tertentu yang berkembang di lingkungan masyarakat.

Pada kajian ini, penulis menggunakan jenis data sekunder yang berasal dari buku, artikel, jurnal dan berita sebagai sumber rujukan penulisan. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik pengumpulan data kualitatif. Artinya, pengumpulan data dilakukan dengan studi dokumen melalui domain publik yang dibuat oleh pemerintah yang memuat informasi mengenai

11

Creswell, John W. 2009. Research Design: Qualitative, Quantitative And Mixed Approaches. Thousand Oaks, California: SAGE Publications Inc.

12

(15)

ketenagalistrikan, masalah terkait ketenagalistrikan dan upaya yang dilakukan oleh PT PLN Persero dan Vietnam Electricity dalam ketenagalistrikan. Penggunaan metode kualitatif deskriptif dalam penulisan makalah ini berfungsi untuk menggambarkan peran PT PLN Persero dan Vietnam Electricity dalam ketenagalistrikan.

3.2 Gambaran Umum

Gambaran umum memuat pemaparan mengenai profil Negara yang akan diperbandingkan yaitu profil Negara Indonesia dan profil Negara Vietnam.

3.2.1 Profil Negara Indonesia

Indonesia merupakan salah satu Negara di kawasan Asia Tenggara yang memiliki jumlah penduduk sekitar 255.461.700 jiwa. Negara Indonesia berbentuk kepulauan meliputi wilayah daratan dan lautan dengan luas wilayah sebesar 1.904569. km2 (Kementerian Sekretariat Negara Republik Indonesia, 2010)13. Ibu kota Negara Indonesia berkedudukan di Jakarta. Bahasa resmi yang digunakan ialah bahasa Indonesia. Sementara itu, untuk mata uang yang digunakan ialah Rupiah (Rp) atau (IDR).

Indonesia merupakan Negara kesatuan yang berdasarkan pada hukum perundang-undangan yaitu Undang-Undang Dasar Tahun 1945 (Kementerian Sekretariat Negara Republik Indonesia, 2010)14. Bentuk pemerintahan Negara Indonesia ialah republik dengan sistem pemerintahan presidensiil. Sistem pemerintahan presidensiil di Indonesia ditandai dengan kekuasaan kepala Negara dan kepala pemerintahan yang berada di tangan seorang Presiden. Sistem pemerintahan presidensiil memiliki karakteristik dimana kekuasaan eksekutif dan legislatif terpisah. Di Indonesia, kekuasaan eksekutif dan legislatif dipilih melalui pemilihan umum yang dilaksanakan setiap 5 tahun sekali yang melibatkan seluruh

13Kementerian Sekretariat Negara Republik Indonesia. 2010.

Geografi Indonesia. http://www.indonesia.go.id/in/sekilas-indonesia/geografi-indonesia. Diakses pada Sabtu, 4 Juni 2016.

14Kementerian Sekretariat Negara Republik Indonesia. 2010. Bentuk Negara.

(16)

masyarakat yang telah tercatat sebagai daftar pemilih tetap (DPT) dan daftar pemilih sementara (DPS). Adapun sektor perekonomian di Indonesia bertumpu pada bidang pertambangan, perikanan dan peternakan, pertanian, industri dan jasa.

3.2.2 Profil Negara Vietnam

Vietnam merupakan Negara partai tunggal yang berkedudukan di Asia Tenggara. Jumlah penduduk Vietnam pada tahun 2014 sebanyak 90.730.000 jiwa dengan kepadatan 268 jiwa per km2 (Dao, n. d.)15. Luas wilayah Vietnam sebesar 332.698 km2 yang terdiri dari wilayah daratan dan perairan. Ibukota Vietnam terletak kota Hanoi. Bahasa resmi yang digunakan ialah bahasa Vietnam. Untuk mata uang yang digunakan ialah Dong.

Bentuk pemerintahan Vietnam ialah Republik Sosialis dengan partai tunggal yaitu Partai Komunis (Dao, n. d.)16. Sistem pemerintahan yang dianut ialah presidensiil dengan kepala Negara presiden dan kepala pemerintahan perdana menteri. Proses pergantian pemimpin diputuskan pada kongres partai yang digelar setiap lima tahun sekali (Harian Nasional, 2016)17. Calon Presiden dipilih oleh kongres yang kemudian diserahkan ke parlemen (Majelis Nasional). Setelah itu, Majelis Nasional melakukan voting untuk menetapkan Presiden yang baru. Sementara itu, untuk sektor ekonomi Vietnam bertumbu pada bidang pertanian, peternakan dan perikanan, perindustrian, pertambangan serta perdagangan.

15Dao, Vi Quang. n. d. Viet Nam Government Portal: Overview On Vietnam Geography.

http://vietnam

.gov.vn/portal/page/portal/English/TheSocialistRepublicOfVietnam/AboutVietnam/AboutViet namDetail?categoryId=10000103&articleId=10000505. Diakses pada Sabtu, 4 Juni 2016.

16Dao, Vi Quang. n. d. Viet Nam Government Portal: Political System. http://vietnam.gov.

vn/portal/page/portal/English/TheSocialistRepublicOfVietnam/AboutVietnam/AboutVietnam Detail?categoryId=10000103&articleId=10001578. Diakses pada Sabtu, 4 Juni 2016.

17Harian Nasional. 3 April 2016. Quang, Polisi Pertama Menjadi Presiden Vietnam.

(17)

BAB 4 PEMBAHASAN

4.1 Penyediaan Tenaga Listrik di Indonesia

Di Indonesia, pengelolaan penyediaan tenaga listrik bertujuan untuk menjamin ketersediaan tenaga listrik dalam aspek jumlah, kualitas dan harga (ESDM, 2015)18. Target dalam pengelolaan listrik diarahkan untuk meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat secara adil dan merata serta mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan. Landasan hukum perencanaan bidang energi dan ketenagalistrikan didasarkan pada Undang-Undang No 30 Tahun 2007 tentang energi, Undang-Undang No 30 Tahun 2009 tentang ketenagalistrikan, Peraturan Pemerintah No 14 Tahun 2012 yang kemudian diganti dengan Peraturan Pemerintah No 23 tahun 2014 tentang kegiatan usaha penyediaan tenaga listrik serta Peraturan Pemerintah No 79 Tahun 2014 tentang kebijakan energi nasional. Pengelolaan penyediaan tenaga listrik di Indonesia dapat dilihat berdasarkan dua sudut pandang yaitu:

a. Penguasaan

Pada aspek penguasaan, kepemilikan listrik di Indonesia berada di bawah wewenang pemerintah dan pemerintah daerah. Kewenangan pemerintah dan pemerintah daerah terkait kelistrikan yaitu menetapkan kebijakan, pengaturan, pengawasan dan melaksanakan usaha penyediaan tenaga listrik. Selain itu, pemerintah berperan dalam menyediakan dana untuk kelompok masyarakat tidak mampu pembangunan sarana penyediaan tenaga listrik di daerah yang belum berkembang, pembangunan tenaga listrik di daerah terpencil dan perbatasan serta pembangunan listrik perdesaan sehingga seluruh lapisan masyarakat mendapat akses listrik.

b. Pengusahaan

Aspek pengusahaan menitikberatkan pada partisipasi aktor di luar pemerintah dan pemerintah daerah yaitu Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), badan usaha swasta, koperasi dan swadaya masyarakat.

18 Kementerian Energi Dan Sumber Daya Mineral (ESDM). 2015. Rencana Umum

(18)

Rasio elektrifikasi Indonesia pada tahun 2015 mencapai 88, 30% (Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan, 2016)19. Berikut disajikan rasio persebaran elektrifikasi di Indonesia pada tahun 2015 dalam gambar 1.1.

Gambar 4.1 Rasio Persebaran Elektrifikasi Indonesia Tahun 2015 Sumber: Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan, 2016.

Pada gambar tersebut terlihat bahwa terjadi peningkatan persebaran elektrifikasi dari tahun 2010 hingga tahun 2015. Data tersebut memperlihatkan bahwa masih ada daerah di luar Pulau Jawa, Sumatra dan Bali yang memperoleh tingkat elektrifikasi kurang dari 50%. Hal ini berarti bahwa masih terdapat daerah yang mengalami keterbatasan akses listrik. Pada rasio tersebut juga terlihat bahwa kapasitas elektrifikasi di Papua kurang dari 50%. Artinya, sebagian wilayah di papua belum memperoleh akses yang cukup akan tenaga listrik.

Infrastruktur listrik di Indonesia dikelola oleh Badan Usaha Milik Negara yaitu PT. PLN Persero. Berdasarkan Undang-Undang No 30 Tahun 2009 tentang ketenagalistrikan dan berdasarkan anggaran dasar perusahaan (ADP), rangkaian

19 Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan. 4 Februari 2016. Kebijakan Pemerintah dalam

(19)

kegiatan PT PLN Persero mencakup tiga hal pokok (PT PLN Persero, 2011)20.

Pertama, PT PLN Persero bertugas menjalankan usaha penyediaan tenaga listrik yang mencakup pembangunan pembangkit, penyediaan sarana parasarana listrik dan distribusi tenaga listrik. Kedua, melaksankan tugas penunjang penyediaan listrik yang meliputi konsultasi ketenagalistrikan, pemeriksaan dan pemeliharaan infrastruktur listrik, serta menyelenggarakan sertifikasi baik fisik maupun non fisik (PT PLN Persero, 2016)21. Sertifikasi fisik mencakup pengecekan alat dan infrastruktur listrik. Sedangkan sertifikasi non fisik berupa kegiatan uji kompetensi tenaga teknik listrik. Ketiga, mengelola dan memanfaatkan sumber daya alam dan sumber energi lainnya sebagai bahan baku tenaga listrik. Perusahaan Negara ini juga bertugas membangun kerja sama dengan pihak lain atau badan penyelenggara bidang ketenagalistrikan di bidang pembangunan, operasional, telekomunikasi dan informasi. Target utama pengelolaan listrik nasional yaitu sebagai pendorong kegiatan ekonomi guna meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat.

Pembangunan sarana dan prasarana ketenagalistrikan dilaksankan berdasarkan master plan dari pemerintah yang dituangkan dalam Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional 2015 – 2034 (Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan, 2016)22. Hingga saat ini, di Indonesia telah terpasang pembangkit dengan kapasitas 54.488 MW. Sedangkan untuk tarif dasar listrik yang ditetapkan oleh PT PLN Persero saat ini ialah US $ 12 sen per KWh (Chrisbiyanto, 2016)23. Berikut disajikan proporsi pembangunan pembangkit listrik dan bahan baku energi listrik di Indonesia.

20 PT PLN Persero. 2011. Bisnis PLN. http://www.pln.co.id/?p=117. Diakses pada 3 Juni 2016. 21

PT PLN Persero. 2016. Company Profile PT PLN Persero: Electricity For A Better Life. Jakarta.

22 Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan. 4 Februari 2016. Kebijakan Pemerintah dalam

Pembangunan Infrastruktur Penyediaan Tenaga Listrik. Jakarta: Kementerian Energi Dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

23

(20)

Gambar 4.2 Kapasitas Pembangkit Listrik di Indonesia

Sumber: Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan, 2016.

Gambar 4.3 Pembangunan Pembangkit Listrik di Indonesia

Sumber: Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan, 2016.

Penyediaan tenaga listrik bagi negara dengan ekonomi yang berkembang pesat dan seluas Indonesia bukanlah perkara mudah. Oleh karena itu, penyediaan pasokan tenaga listrik tidak dapat ditanggung sendiri oleh PT PLN karena keterbatasan kemampuan (Makarao, 2010)24. Seperti yang terlihat pada gambar 4.2 di atas pembangkit listrik di Indonesia dikelola oleh beberapa pihak yaitu PT PLN, IPP, PPU dan IO Non BBM. Proporsi kapasitas pembangkit listrik PT PLN sebesar 38.204 MW, IPP berkapasitas 11.519 MW, PPU berkapasitas 2.349 MW dan kapasitas IO non BBM sebesar 2.416 MW. Produksi tenaga listrik yang dihasilakan sebesar 283 TWh. Sedangkan gambar 4.3 memperlihatkan jenis bahan baku sebagai sumber energy pembangkit listrik di Indonesia. Bahan baku yang digunakan dalam produksi tersebut antara lain energi baru terbarukan (EBT) sebanyak 11%, gas sebanyak 25%, minyak bumi dengan jumlah 14%, dan bahan baku yang berasal dari batu bara sebanyak 50%.

Distribusi tenaga listrik oleh PT PLN ditujukan kepada beberapa golongan, seperti yang terlihat dalam gambar berikut ini.

24 Makarao, Suhasril. 2010. Hukum Larangan Praktik Monopoli Dan Persaingan Usaha Tidak

(21)

Gambar 4.4 Distribusi Tenaga Listrik Sumber: Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan, 2016

Pada gambar 4.4 di atas, terlihat bahwa konsumsi tenaga listrik total sejumlah 228 TWh. Distribusi tenaga listrik ditujukan kepada publik, industri, kelompok bisnis dan residential. Publik memperoleh kapasitas sebesar 6%, kapasitas untuk industri sebesar 40%, kapasitas untuk kelompok bisnis sebesar 16% serta 38% didistribusikan untuk residential.

Perjalanan penyelenggaraan tenaga listrik di Indonesia masih menemui berbagai permasalahan. Hambatan ini datang dari pemerintah dan civil society

(Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan, 2016)25. Permasalahan pada tataran pengambil kebijakan yang perlu memperoleh perhatian antara lain dalah hal penyedian lahan, manajemen proyek, proses perizinan, negosiasi harga dan koordinasi lintas sektor. Sedangkan masalah yang muncul dari kalangan civil society antara lain terkait penggunaan lahan untuk dibangun pembangkit atau peralatan listrik, harga jual listrik serta infrastruktur listrik yang belum sampai ke daerah terpencil dan pedalaman.

4.2 Penyediaan Tenaga Listrik di Vietnam

Vietnam merupakan salah satu Negara di Asia Tenggara yang memiliki wilayah geografis hampir sama dengan Indonesia yaitu terdiri dari wilayah perairan dan daratan. Persamaan dalam kondisi geografis tersebut berakibat pada

25 Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan. 4 Februari 2016. Kebijakan Pemerintah dalam

(22)

munculnya masalah yang sama, salah satunya dalam penyediaan tenaga listrik. Permintaan akan listrik di Vietnam menghadapi pertumbuhan dramatis dalam dengan proyeksi kenaikan dari 16 % per tahun 2006-2010 dan diperkirakan akan naik 11% per tahun 2011-2015 (Carbon Finance Assist - World Bank, 2010)26. Kapasitas tenaga listrik yang mampu disediakan oleh pemerintah Vietnam belum mampu memenuhi kebutuhan masyarakat akan akses tenaga listrik (Departemen Keuangan, n. d.)27. Penyebab dari rendahnya kapasitas listrik di Vietnam ialah terjadinya pertumbuhan yang pesat di sektor industri, migrasi penduduk ke kota-kota besar, dan peningkatan standar hidup yang menyebabkan permintaan pesat terhadap akses listrik. Selain itu, keterbatasan tenaga listrik juga disebabkan oleh pengelolaan pembangkit yang hanya mengandalkan hydropower dan impor listrik dari Negara lain.

Sektor ketenagalistrikan di Vietnam sebagian besar dikelola oleh Vietnam Electricity (EVN). Vietnam Electricity merupakan sebuah perusahaan ekonomi milik negara yang memainkan peran kunci dalam memastikan pasokan listrik untuk perekonomian nasional (reeep.org, 2010)28. Perusahaan ini menyediakan layanan terkait energy diantaranya generasi, transmisi, distribusi dan perdagangan energi listrik, kontrol dan operasi dari pembangkit listrik, transmisi, sistem distribusi dan beban pengiriman dalam sistem listrik nasional. Perusahaan ini mulai beroperasi pada Juni 2006 melalui 56 anak perusahaan dengan 80.000 staf. Di samping itu, Vietnam Electricity juga bertugas untuk melakukan ekspor dan impor energi listrik, manajemen dan investasi dalam proyek daya serta menyelenggarakan manajemen, operasi, perbaikan, pemeliharaan, perbaikan, rehabilitasi dan upgrade listrik. Adapun kebijakan yang saat ini sedang dilaksankan ialah berusaha untuk mengurangi ketergantungan pasokan dari luar negeri terutama dari China dengan terus membangun pembangkit-pembangkit baru dan terus meningkatkan produksi listriknya antara lain dengan mengundang

26 Carbon Finance Assist - World Bank. 2010. Vietnam Green House Gas Mitigation: Energy

Resources And Electricity Generation. Washington DC.

27

Departemen Keuangan. n. d. Kajian Kebijakan Insentif Fiskal Untuk Mendorong Pertumbuhan Investasi di Sektor Ketenagalistrikan. http://fiskal.depkeu.go.id/webbkf/kajian%5Ckebijakan %20insentif%20Fiskal.pdf. Diunduh pada Kamis, 2 Juni 2016

28 Admin. 2013. Vietnam (2012). https://www.reeep.org/vietnam-2012. Diunduh pada Sabtu, 4

(23)

investor asing selebar-lebarnya dalam pembangunan pembangkit listrik (Departemen Keuangan, n. d.)29.

Rasio elektrifitas di Vietnam pada tahun 2015 lebih tinggi dibandingkan rasio elektrifitas Indonesia yaitu mencapai 98% (Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan, 2016). Meskipun rasio elektrifitas tersebut lebih tinggi, namun kapasitas tenaga listrik yang dihasilkan lebih kecil daripada Indonesia yaitu sebesar 26.926 MW (Technical And Operational Departemen Of Vietnam Electricity (EVN), 2013)30. Jumlah tersebut merupakan akumulasi dari beberapa pembangkit listrik yang ada di Vietnam. Untuk harga penjualan listrik di Vietnam dipatok dengan tarif US $ 6 sen per KWh (Chrisbiyanto, 2016)31. Berikut disajikan data proposi pembangkit listrik di Vietnam dalam Grafik 4.1.

Grafik 4.1 Kapasitas Pembangkit Listrik di Vietnam

Sumber: Technical and Operational Departemen Of Vietnam Electricity (EVN), 2013.

Berdasarkan grafik di atas, dapat diketahui bahwa penyediaan tenaga listrik di Vietnam dilaksanakan oleh beberapa lembaga dan memiliki kapasitas pembangkit yang berbeda (Technical And Operational Departemen Of Vietnam Electricity (EVN), 2013). Vietnam Electricity (EVN) sebagai perusahaan ekonomi Negara memiliki kapasitas terbesar dalam pengelolaan pembangkit listrik yaitu

29 Departemen Keuangan. n. d. Kajian Kebijakan Insentif Fiskal Untuk Mendorong Pertumbuhan

Investasi di Sektor Ketenagalistrikan. Jakarta.

30

Technical and Operational Departemen Of Vietnam Electricity (EVN). 14 November 2013. EVN Smart Grid Plan. Frankfurt.

31 Chrisbiyanto, Anton. 3 Juni 2016. Tarif Listrik Lemahkan Daya Saing Industri Tekstil.

http://ekbis.sindonews.com/read/1113906/34/tarif-listrik-lemahkan-daya-saing-industri-tekstil-1464967410. Diakses pada Minggu, 5 Juni 2016.

(24)

sebesar 55% atau 14.809,3 MW. Aktor lain yang juga berperan dalam pengelolaan pembangkit listrik di Vietnam adalah Local Developers yang memiliki kapasitas sebesar 4%, EVN JSC sebesar 14%, TKV sebesar 5%, Foreign Developers dengan kapasitas 8% dan PVN dengan kapasitas 10%. Selain itu, kapasitas pembangkit listrik juga diperoleh pemerintah Vietnam dengan melakukan impor sebesar 4%.

Sementara itu, pengelolaan ketenagalistrikan di Vietnam menggunakan berbagai bahan baku. Hal ini dapat terlihat dari grafik 4.2 mengenai jenis bahan baku yang digunakan untuk pembangkit listrik.

Grafik 4.2 Bahan Baku Pembangkit Listrik di Vietnam

Sumber: Technical and Operational Departemen Of Vietnam Electricity (EVN), 2013.

Berdasarkan grafik diatas, dapat dinyatakan bahwa tenaga listrik di Vietnam dihasilkan dari berbagai macam bahan baku (Technical And Operational Departemen Of Vietnam Electricity (EVN), 2013). Bahan baku utama untuk pembangkit listrik berupa hydropower dengan kapasitas sebesar 48%. Kemudian disusul dengan Coal Fired Operated by Gas dengan kapasitas 2%, Coal Fired sebesar 18%, Diesel sebesar 2%, Combined/Open Cycle Gas turbine berkapasitas 26%, dan renewable resources 1%. Sedangkan untuk pembangkit yang menggunakan bahan baku yang berasal dari impor hanya sebesar 3%.

(25)

Operational Departemen Of Vietnam Electricity (EVN), 2013). Adapun klasifikasi jenis customer atau pelanggan listrik di Vietnam dapat dilihat pada Tabel 4.1.

Tabel 4.1 Klasifikasi Customer Listrik di Vietnam

Type 2012 %

Agriculture 53,296 0.27%

Industry and Construction 518,610 2.62%

Commercial Tourist 391,493 1.98%

Resident 18,563,566 93.85%

Other 253,919 1.28%

Sumber: Technical and Operational Departemen Of Vietnam Electricity (EVN), 2013.

Tabel 4.1 berisi pemaparan mengenai klasifikasi pelanggan listrik yang ada di Vietnam. Dapat dikatakan bahwa sebagian besar pasokan listrik di Vietnam ditujukan bagi resident. Hal ini dibuktikan dengan kapasitas tenga listrik bagi resident yang mencapai 93.85%. Selain untuk keperluan resident, pasokan listrik didistribusikan pada bidang pertanisn sebesar 0.27%, bidang industri dan konstruksi sebesar 2.62% serta bidang komersial dan pariwisata sebesar 1.98%.

Vietnam Electricity (EVN) juga mengalokasikan tenaga listrik sebesar 1.28% untuk keperluan lain diluar dari tipe customer yang telah ditetapkan.

Meskipun rasio elektrifitas di Vietnam telah mencapai 98%, namun dalam pengelolan penyediaan tenaga listrik masih ditemui beberapa hambatan. Hambatan itu terlihat dari sistem kontrol proyek yang masih dilaksankan secara tradisional (Technical And Operational Departemen Of Vietnam Electricity (EVN), 2013). Akibatnya, kontrol terhadap upaya pembangunan pembangkit listrik dan distribusi belum dapat dilaksankan secara optimal. Hambatan lain yang muncul ialah tingginya emisi gas buang hasil penggunaan batu bara untuk menghasilkan energi listrik (Carbon Finance Assist– World Bank. 2010)32. Emisi gas buang tersebut mengakibatkan polusi udara dan apabila dibiarkan secara terus menerus dapat menimbulkan permasalahan pada aspek kesehatan. Di sisi lain, muncul tantangan mengenai upaya restrukturisasi organisasi, perbaikan peraturan

32

(26)

dan prosedur bisnis yang perlu mendapat perhatian serius serta terbatasnya tenaga ahli dalam bidang ketenagalistrikan.

4.3 Analisis Perbandingan Peran PT PLN Persero dan Vietnam Electricity (EVN) dalam Penyediaan Tenaga Listrik

Tenaga listrik merupakan salah satu sektor yang memperoleh perhatian serius dari pemerintah setiap Negara. Hal ini dibuktikan dengan mengambil suatu langkah cerdas seperti mendirikan lembaga resmi yang berfungsi untuk mengelola pasokan energi listrik. Pada makalah ini, contoh lembaga Negara yang digunakan sebagai dasar analisis ialah PT PLN Persero dan Vietnam Electricity (EVN) yang berfungsi sebagai lembaga resmi penyedia tenaga listrik nasional.

Berdasarkan dimensi hubungan antara administrasi publik dan civil society, peran PT PLN Persero dan Vietnam Electricity (EVN) dalam menyediakan tenaga listrik bagi civil society termasuk ke dalam pilihan alternatif yang pertama yaitu melakukan desain ulang strategi ketenagalistrikan. Desain ulang strategi ketenagalistrikan oleh PT PLN Persero dituangkan dalam Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RKUN) 2015 – 2034 (Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan, 2016). Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RKUN) 2015 – 2034 memuat tentang visi dan target yang akan dicapai oleh PT PLN Persero dalam mengelola energi listrik di Indonesia. Pada lembaran draft Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RKUN) 2015 – 2034 juga dipaparkan mengenai rincian kebijakan terkait listrik nasional dan arah pengembangan penyediaan tenaga listrik (ESDM, 2015)33. Sedangkan, untuk strategi yang pengelolaan listrik di Vietnam bersifat jang menengah yaitu berlaku antara tahun 2014 hingga tahun 2017 (Technical and Operational Departemen Of Vietnam Electricity (EVN), 2013). Strategi yang dibuat diarahkan untuk memperbaiki infrastruktur ketenagalistrikan, perbaikan peratura dan prosedur pelayanan listrik, meningkatkan kapasitas pasokan distribusi listrik dan melakukan inovasi untuk menemukan bahan baku yang bersifat renewable untuk pembangkit tenaga listrik. Untuk lebih jelasnya, berikut disajikan tabel perbedaan terkait pengelolaan energi listrik yang dilaksanakan oleh PT PLN Persero dan Vietnam Electricity (EVN).

33 Kementerian Energi Dan Sumber Daya Mineral (ESDM). 2015. Rencana Umum

(27)

Tabel 4.2 Perbandingan Pengelolaan Energi Listrik oleh PT PLN Persero dan

Vietnam Electricity (EVN)

Faktor Pembeda PT PLN Persero Vietnam Electricity (EVN)

Tugas dan Peran Membangun pembangkit listrik, menyediakan Tingkat Elektrifitas 88,30% 98%

Tarif Listrik US $ 12 sen US $ 6 sen Organisasi Pengelola PT PLN Persero

(28)

Tipe Customer Listrik Publik

Berdasarkan tabel di atas, dapat disimpulkan bahwa peran antara PT PLN Persero dan Vietnam Electricity (EVN) pada sektor ketenagalistrikan hampir sama yaitu melaksanakan kegiatan pembangunan infrastruktur dan pembangkit listrik serta melaksanakan distribusi listrik. Aktivitas distribusi listrik merupakan salah satu upaya pelayanan publik atau public service yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat terutama kebutuhan akan akses listrik. Dengan demikian, tanggung jawab peran yang dimiliki oleh PT PLN Persero dan Vietnam Electricity

(29)

BAB 5 PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Untuk menjawab pertanyaan penulisan yang diangkat dalam paper ini, maka berdasarkan penjelasan pada sub-bab pembahasan, dapat simpulkan bahwa PT PLN Persero dan Vietnam Electricity (EVN) memiliki peran yang signifikan dalam pengelolaan penyediaan listrik nasional. PT PLN Persero sebagai salah satu BUMN di Indonesia bertugas dalam membangun pembangkit dan infrastruktur listrik, melakukan distribusi tenaga listrik serta menyelenggarakan konsultasi dan sertifikasi terkait energi listrik. Selain itu, PT PLN Persero mengelola pemanfaatkan sumber daya alam (SDA) dan sumber energi lainnya sebagai bahan baku tenaga listrik. Aktivitas menjalin kerja sama dengan lembaga atau badan ketenagalistrikan juga menjadi bagian dari tugas PT PLN Persero. Di sisi lain,

Vietnam Electricity (EVN) memiliki peran dalam hal pelaksanaan generasi dan transmisi energi listrik serta melaksanakan kontrol pemeliharaan pembangkit listrik dan sistem distribusi listrik nasional Vietnam. Tugas lain yang menjadi tanggung jawab dari Vietnam Electricity (EVN) antara lain melakukan ekspor atau impor energi listrik serta memperbaiki manajemen dan investasi proyek. Vietnam Electricity (EVN) sebagai perusahaan ekonomi milik Negara juga bertugas menyelenggarakan pemeliharaan, perbaikan, rehabilitasi dan upgrade terkait ketenagalistrikan.

5.2 Saran

(30)
(31)

DAFTAR PUSTAKA

Admin. 2013. Vietnam (2012). https://www.reeep.org/vietnam-2012. Diunduh pada Sabtu, 4 Juni 2016.

Carbon Finance Assist – World Bank. 2010. Vietnam Green House Gas Mitigation: Energy Resources And Electricity Generation. Washington DC.

Creswell, John W. 2009. Research Design: Qualitative, Quantitative And Mixed Approaches. Thousand Oaks, California: SAGE Publications Inc.

Chrisbiyanto, Anton. 3 Juni 2016. Tarif Listrik Lemahkan Daya Saing Industri Tekstil.

http://ekbis.sindonews.com/read/1113906/34/tarif-listrik-lemahkan-daya-saing-industri-tekstil-1464967410. Diakses pada Minggu,

5 Juni 2016.

Dao, Vi Quang. n. d. Viet Nam Government Portal: Overview On Vietnam Geography.

http://vietnam.gov.vn/portal/page/portal/English/TheSocialistRepublicOf

Vietnam/AboutVietnam/AboutVietnamDetail?categoryId=10000103&art

icleId=10000505. Diakses pada Sabtu, 4 Juni 2016.

Dao, Vi Quang. n. d. Viet Nam Government Portal: Political System.

http://vietnam.gov.vn/portal/page/portal/English/TheSocialistRepublicOf

Vietnam/AboutVietnam/AboutVietnamDetail?categoryId=10000103&art

icleId=10001578. Diakses pada Sabtu, 4 Juni 2016.

Departemen Keuangan. n. d. Kajian Kebijakan Insentif Fiskal Untuk Mendorong Pertumbuhan Investasi di Sektor Ketenagalistrikan. Jakarta.

http://fiskal.depkeu.go.id/webbkf/kajian%5Ckebijakan%20insentif%20Fi

skal.pdf. Diunduh pada Kamis, 2 Juni 2016.

Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan. 4 Februari 2016. Kebijakan Pemerintah dalam Pembangunan Infrastruktur Penyediaan Tenaga Listrik. Jakarta: Kementerian Energi Dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Harian Nasional. 3 April 2016. Quang, Polisi Pertama Menjadi Presiden Vietnam.

(32)

Kementerian Energi Dan Sumber Daya Mineral (ESDM). 2008. Perbandingan Keekonomian Pembangkit Listrik.

http://esdm.go.id/berita/39-listrik/3615-perbandingan-keekonomian-pembangkit-listrik.html.

Diakses pada Kamis, 2 Juni 2016.

Kementerian Energi Dan Sumber Daya Mineral (ESDM). 2015. Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional 2015 2034. Jakarta.

Kementerian Sekretariat Negara Republik Indonesia. 2010. Bentuk Negara.

http://www.indonesia.go.id/in/sekilas-indonesia/lambang-dan-bentuk-negara/bentuk-negara. Diakses pada Sabtu, 4 Juni 2016.

Kementerian Sekretariat Negara Republik Indonesia. 2010. Geografi Indonesia.

http://www.indonesia.go.id/in/sekilas-indonesia/geografi-indonesia.

Diakses pada Sabtu, 4 Juni 2016.

Makarao, Suhasril. 2010. Hukum Larangan Praktik Monopoli Dan Persaingan Usaha Tidak Sehat. Bogor. Ghalia Indonesia.

Neuman, W. L.. 2007. Basic of Social Research Qualitative and Quantitative

Approach’ (2nd Ed). Pearson Education Inc.

Open Government Guide (OGD). n. d. Public Services. http://www.opengov

guide.com/topics/public-services/. Diakses pada Kamis, 2 Juni 2016.

Peraturan Menteri Energi Dan Sumber Daya Mineral No 45 Tahun 2005 Tentang Instalasi Ketenagalistrikan.

Pierre, Jon. 2002. Bureaucracy In The Modern State: An Introduction To Comparative Public Administration. Cheltenham, United Kingdom: Edward Elgar Publishing Limited.

PT PLN Persero. 2011. Bisnis PLN. http://www.pln.co.id/?p=117. Diakses pada 3 Juni 2016.

PT PLN Persero. 2016. Company Profile PT PLN Persero: Electricity For A Better Life. Jakarta.

Rezy, Fakhri. 28 Juni 2013. RI Krisis Listrik, PTBA Malah “Terangi” Vietnam.

http://m.okezone.com/read/2013/06/28/19/829037/ri-krisis-listrik-ptba-malah-terangi-vietnam. Diakses pada Minggu, 5 Juni 2016.

(33)

The United Nation Development Programme (UNDP). 2015. From Old Public Administration to the New Public Service: Implications for Public Sector

Reform in Developing Countries. Singapore: UNDP Global Centre for Public Service Excellence

Wirutomo, Paulus dkk. 2012. Sistem Sosial Indonesia. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia (UI-Press).

World Bank, 2004. World Development Report 2004: Making Services Work for Poor People. Washington D.C.: World Bank.

World Bank. 18 Oktober 2011. Akses Universal Untuk Energi Modern Di Asia Timur Dan Pasifik Dalam Jangkauan. http://www.worldbank.org

Gambar

Gambar 4.1 Rasio Persebaran Elektrifikasi Indonesia Tahun 2015
Gambar 4.2 Kapasitas Pembangkit Listrik di Indonesia
Gambar 4.4 Distribusi Tenaga Listrik
Grafik 4.1 Kapasitas Pembangkit Listrik di Vietnam
+3

Referensi

Dokumen terkait