1
HUBUNGAN ANTARA SHIFT KERJA DAN KEPUASAN KERJA DENGAN STRES KERJA PADA PERAWAT DAN BIDAN DI RUMAH SAKIT ISLAM SITTI MARYAM MANADO Hajir Jojang*, Paul A.T Kawatu*, Nancy S.H Malonda*
*Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sam Ratulangi
ABSTRAK
Stres kerja adalah perasaan tertekan yang dialami seorang pekerja yang disebabkan oleh pekerjaannya. Banyak faktor yang dapat membuat pekerja merasa stres dalam pekerjaan termasuk shift kerja dan kepuasan kerja, dimana para pekerja mengalami situasi kerja yang berbeda antara shift kerja pagi, siang dan malam. Perawat dan bidan merupakan pekerjaan yang dinamis, yang beresiko sangat tinggi terhadap stres. Stres Kerja pada perawat dan bidan dikaitkan dengan kepuasan kerja menurun, meningkatnya keluhan psikologis dan meningkatnya absensi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara shift kerja dan kepuasan kerja dengan stres kerja pada perawat dan bidan di Rumah Sakit Islam Sitti Maryam Manado. Penelitian ini menggunakan metode survei analitik dengan rancangan penelitian cross sectional study dan sampel pada penelitian ini adalah seluruh populasi (total sampling) yang berjumlah 41 responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada 43,9% perawat dan bidan mengalami stres kerja. Terdapat 58,5% perawat dan bidan yang bekerja dengan shift kerja tidak teratur. Sementara 36,6% perawat dan bidan kurang puas dengan pekerjaannya. Hasil analisis statistik dengan menggunakan uji Chi-Square menunjukan nilai p = 0.027 untuk hubungan antara shift kerja dengan stres kerja dan nilai p = 0,000 untuk hubungan antara kepuasan kerja dengan stres kerja. Ini berarti terdapat hubungan antara shift kerja dan kepuasan kerja dengan stres kerja pada perawat dan bidan di Rumah Sakit Islam Sitti Maryam Manado.
Kata Kunci: Kepuasan Kerja, Shift Kerja, Stres Kerja
ABSTRACT
Occupational stress is a depressed feeling experienced by a worker caused by his work. Many factors can make workers feel stressed for their job, including shift work and job satisfaction, where workers have a different working situations between shift work in the morning, afternoon and at night. Nurses and tocologists is a dynamic job, which have a very high risk for feel stressed. Occupational stress on nurses and tocologists were associated with decreased job satisfaction, increased complaints of psychological and increased absenteeism. The purpose of this study was to determine the relationship between shift work and job satisfaction with occupational stress towards nurses and tocologists in the Sitti Maryam Islamic Hospital, Manado. This study used an analytical survey with cross sectional study and the sample of this study is a whole unit of population (total sampling) as many as 41 respondents. The results showed that there are 43.9% of nurses and tocologists experiencing occupational stress. There are 58.5% of nurses and tocologists working with irregular shift work. While 36.6% of nurses and tocologists are feeling less satisfied with their jobs. Statistical analysis using Chi-Square test showed p value 0.027 for the relationship between shift work with ccupational stress and p values 0.000 for the relationship between job satisfaction with occupational stress. This means that there is a relationship between shift work and job satisfaction with occupational stress on nurses and tocologists at the Sitti Maryam Islamic Hospital, Manado.
2
PENDAHULUANKeselamatan dan kesehatan kerja adalah suatu
pemikiran dan upaya untuk menjamin
keutuhan dan kesempurnaan baik jasmani
maupun rohani. Dengan keselamatan dan
kesehatan kerja maka para pekera diharapkan
dapat melakukan pekerjaan dengan aman dan
nyaman. Unsur yang ada dalam keselamatan
dan kesehatan kerja tidak terpaku pada faktor
fisik, tetapi juga mental, emosional dan
psikologi (Sucipto, 2014).
Perawat dan bidan merupakan salah
satu profesi di rumah sakit yang memiliki
peranan penting dalam penyelenggaraan
pelayanan kesehatan. Perawat merupakan
pekerjaan yang dinamis, dimana perlu
memiliki kondisi tubuh yang prima untuk
melakukan segala mobilitasnya. Kodisi tubuh
yang kurang baik akan berakibat seorang
perawat mudah patah semangat bilamana pada
saat bekerja ia mengalami kelelahan fisik dan
kelelahan emosional (Haryanto, 2014)
Menurut Safaria (2009) dalam Gobel
(2014) Stres biasanya muncul pada
situasi-situasi yang kompleks, menuntut sesuatu di
luar kemampuan individu, dan munculnya
situasi yang tidak jelas. Dalam konteks
pekerjaan biasanya stres dapat timbul dari
beban tugas yang tinggi, kerumitan tugas,
tidak tersedianya fasilitas untuk mengerjakan
tugas, kebijakan perusahaan, atasan yang
otoriter, kondisi fisik lingkungan yang panas,
bising dan berbau. Stres bisa muncul dari
hubungan yang tidak harmonis antara atasan
dan bawahan, adanya konflik antara rekan
kerja, kekaburan peran dan tanggung jawab
dalam pekerjaan, adanya persaingan yang
tidak sehat antar sesama rekan kerja.
Losyk (2005) seperti dikutip oleh
Marchelia (2014) dari Northwestern National
Life Insurance melakukan penelitian tentang
dampak stres ditempat kerja, kesimpulannya
yaitu satu juta absensi ditempat kerja karena
masalah stres, 27% mengatakan bahwa faktor
pekerjaan menimbulkan stres paling tinggi
dalam hidup para pekerja, 46% menganggap
stres kerja sebagai tingkat stres yang sangat
tinggi, satu pertiga pekerja berniat untuk
langsung mengundurkan diri karena stres
dalam pekerjaan dan 70% pekerja bahwa stres
kerja telah merusak kesehatan fisik dan
mental.
Penelitian yang dilakukan oleh
Matthew (2013) dalam Haryanto (2014) yang
meneliti tentang pengaruh stres kerja terhadap
kepuasan kerja para perawat di Central Kerala
menemukan bahwa 96% dari 100 sampel
perawat yang telah dipilih menyatakan bahwa
perawat mengalami stres dalam pekerjaan.
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Fadhilah
(2010) mengatakan stres kerja berpengaruh
negatif terhadap kepuasan kerja karyawan.
Penelitian yang dilakukan
Prismayanti, dkk (2010) tentang hubungan
antara shift kerja dengan stres kerja pada
perawat rawat inap di Unit Rawat Inap RSUD
Dr. Soegiri Lamongan dengan arah korelasi
yang positif artinya semakin tidak teratur shift
kerja maka semakin berat pula stres kerja pada
perawat rawat inap.
Rumah Sakit Islam Sitti Maryam di
tinjau dari lokasi yang dekat dengan padat
3
peningkatan jumlah pasien. Pelayanankesehatan yang dilakukan tidak lepas dari
pemenuhan kebutuhan tenaga kesehatan yang
mencukupi dalam 1 kali dinas/shift.
Pengaturan shift kerja yang
diberlakukan di Rumah Sakit Islam Sitti
Maryam Manado adalah dengan shift kerja
rotasi dengan pola 1-1-1, yaitu kerja di pagi
hari 1 kali dilanjutkan kerja di siang hari 1
kali dan malam hari 1 kali, dan diikuti off 1
hari. Jumlah Tenaga kesehatan yang belum
memadai dapat mengakibatkan timbul stres
kerja. Ketidakpuasan dalam bekerja menjadi
faktor timbulnya stres karena harus bekerja
melebihi aturan jam kerja karena perawat
maupun bidan yang harus menggantikan
rekan kerja yang lain dalam melakukan
dinas/shift karena izin. Berdasarkan
penjelasan diatas, maka peneliti tertarik untuk
melakukan penelitian dengan judul “Hubungan antara shift kerja dan kepuasan kerja dengan stres kerja pada perawat dan
bidan di Rumah Sakit Islam Sitti Maryam Manado”.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini merupakan penelitian survei
analitik dengan menggunakan rancangan
penelitian cross sectional study. Adapun
tempat dan waktu penelitian adalah di Rumah
Sakit Islam Sitti Maryam Manado pada bulan
Juni – Juli 2015. Populasi dalam penelitian ini
adalah seluruh perawat dan bidan yang
bekerja di Rumah Sakit Islam Sitti Maryam
Manado yaitu berjumlah 43 orang terdiri dari
36 Perawat dan 7 Bidan. Sampel yang
digunakan dalam penelitian ini adalah total
sampling yang memenuhi kriteria inklusi dan
eksklusi yaitu 41 orang. Instrumen yang
digunakan dalam penelitian ini adalah
Kuesioner, alat tulis menulis dan komputer
untuk mengetik dan mengolah data. Data
dalam penelitian ini yaitu data primer dan data
sekunder. Data primer adalah data yang
didapatkan dari kuesioner mengenai shift
kerja, kepuasan kerja dan stres kerja. Data
sekunder adalah data yang diperoleh dari
Rumah Sakit Islam Sitti Maryam berupa
jumlah perawat dan bidan yang bekerja di
Rumah Sakit Islam Sitti Maryam dan
pembagian shift kerja para perawat dan bidan.
Analisis univariat digunakan untuk
mendeskripsikan karakteristik responden
sekaligus variabel penelitian yaitu shift kerja
dan kepuasan kerja sebagai variabel bebas dan
stres kerja sebagai variabel terikat. Analisis
bivariat dilakukan untuk menganalisis
hubungan antara shift kerja dengan stres kerja
pada perawat dan bidan, dan hubungan antara
kepuasan kerja dengan stres kerja pada
perawat dan bidan di Rumah Sakit Islam Sitti
Maryam Manado, dengan menggunakan
Chi-Square test dengan α = 0,05
HASIL DAN PEMBAHASAN
Deskripsi Variabel Penelitian
Distribusi responden berdasarkan stres kerja,
kepuasan kerja dan shift kerja dapat dilihat
4
Tabel 1. Distribusi Responden BerdasarkanStres Kerja
Stres Kerja n %
Stres 18 43,9
Tidak Stres 23 56,1
Total 41 100
Stres kerja pada penelitian ini dibagi dua
kategori yaitu stres dan tidak stres.
Berdasarkan tabel di atas menunjukkan
distribusi responden dengan kategori
streberjumlah 18 orang (43,9%).
Tabel 2. Distribusi Responden Berdasarkan
Kepuasan Kerja
Kepuasan Kerja n %
Kurang Puas 15 36,6
Puas 26 63,4
Total 41 100
Berdasarkan tabel 2, maka dapat dilihat
bahwa distribusi responden berdasarkan
kepuasan kerja dengan kategori kurang puas
yaitu sebanyak 15 responden (36,6%).
Tabel 3. Distribusi Responden Berdasarkan
ShiftI Kerja
Shift Kerja n %
Tidak Teratur 24 58,5
Teratur 17 41,5
Total 41 100
Tabel diatas menunjukkan bahwa responden
yang bekerja dengan shift kerja tidak teratur
adalah sebanyak 24 orang (58,5%).
Hasil Analisis Statistik
Hasil analisis stastistik digunakan untuk
mencari hubungan antara shift kerja dengan
stres kerja dan hubungan antara kepuasan
kerja dengan stres kerja.
Tabel.4 Hubungan Antara Shift Kerja dengan Stres Kerja
Shift Kerja
Stres Kerja
p- value Stres Tidak Stres Total
n % n % n %
Tidak teratur 14 58,3 10 41,7 24 100
0,027
Teratur 4 23,5 13 76,5 17 100
Jumlah 18 43,9 23 56,1 41 100
Berdasarkan tabel 4, dapat dilihat bahwa
kelompok responden yang bekerja dengan
shift kerja tidak teratur dan mengalami stres
adalah sebanyak 14 orang (58,3%).
Sedangkan pada kelompok responden yang
bekerja dengan shift kerja teratur dan
mengalami stres adalah sebanyak 4 orang
(23,5%). Perhitungan dengan menggunakan
uji statistik Chi Square diperoleh nilai p =
0,027 atau p < 0,05. Hasil ini menunjukkan
bahwa terdapat hubungan antara shift kerja
dengan stres kerja pada perawat dan bidan di
Rumah Sakit Islam Sitti Maryam Manado.
Hal ini sesuai dengan penelitian yang
dilakukan oleh Prismayanti,dkk (2010)
berdasarkan hasil pengujian dengan uji Rank
Spearman’s Corelations menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan
(bermakna) antara shift kerja dengan stres
5
Inap RSUD Dr. Soegiri Lamongan denganarah korelasi yang positif artinya semakin
tidak teratur shift kerja maka semakin berat
pula stres kerja pada perawat rawat inap. Hasil
penelitian ini juga didukung oleh penelitian
yang dilakukan oleh Firmana dan Hariyono
(2013) yang meneliti hubungan shift kerja
dengan stres kerja pada karyawan bagian
operation PT. Newmont Nusa Tengga di
Kabupaten Sumbawa Barat. Hasil analisis uji
bivariat menunjukkan ada hubungan yang
bermakna antara shift kerja dan stres kerja.
Penelitian lain yang dilakukan oleh
Marchelia (2014) tentang stres kerja ditinjau
dari shift kerja pada karyawan dengan
melakukan perbandingan tingkat stres kerja
ditinjau dari shift kerja disimpulkan bahwa
ada perbedaan stres kerja yang ditinjau dari
shift kerja siang dengan shift kerja malam,
shift kerja malam dengan shift kerja pagi
tetapi tidak ada perbedaan yang signifikan
antara shift kerja siang dan shift kerja pagi.
Begitu juga dengan penelitian yang dilakukan
Revalicha dan Sami’an (2012) menyimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan stres kerja
ditinjau dari shift kerja pada perawat di RSUD
Dr. Soetomo Surabaya.
Secara umum yang dimaksud dengan
shift kerja adalah semua pengaturan jam kerja,
sebagai pengganti atau tambahan kerja siang
hari sebagaimana yang biasa dilakukan.
biasanya dibagi atas kerja pagi, sore dan
malam. (Prismayanti dkk, 2010). Menurut Suma’mur (1991) dalam Prismayanti dkk (2010), pada shift pagi memberikan waktu
luang baik untuk kehidupan keluarga dan
tidak terbatas kehidupan sosialnya. Sedangkan
pada shift siang kehidupan sosial pekerja
terbatas dan terbuang juga sedikit lelah. Pada
shift malam pekerja mengalami kelelahan,
kehidupan sosial pekerja terbatas, gangguan
tidur, banyak waktu luang terbuang sehingga
menimbulkan gangguan fisiologis pada
pekerja seperti gangguan gastrointestinal,
gangguan pola tidur dan gangguan kesehatan
lain.
Tabel.5 Hubungan Antara Kepuasan Kerja dengan Stres Kerja
Kepuasan Kerja
Stres Kerja
p- value Stres Tidak Stres Total
n % n % n %
Kurang Puas 13 86,7 2 13,3 15 100
0,000
Puas 5 19,2 21 80,8 26 100
Jumlah 18 43,9 23 56,1 41 100
Berdasarkan tabel 5 dapat dilihat bahwa
kelompok responden dengan kategori kurang
puas dan mengalami stres adalah sebanyak 13
orang (86,7%) dan kelompok responden
dengan kategori puas dan mengalami stres
adalah 5 orang (19,2%). Berdasarkan analisa
data dengan menggunakan uji statistic Chi-
Square dengan nilai p = 0.000 < α = 0.05
menunjukkan bahwa ada hubungan antara
kepuasan kerja dengan stres kerja pada
perawat dan bidan di Rumah Sakit Islam Sitti
6
Hasil penelitian ini didukung olehpenelitian yang dilakukan Suhanto (2009)
dalam Fadhilah (2010) tentang pengaruh stres
kerja dan iklim organisasi terhadap turnover
intention dengan kepuasan kerja dengan
kesimpulan bahwa stres kerja mempunyai
pengaruh yang negatif terhadap kepuasan
kerja yaitu semakin tinggi stres kerja semakin
rendah tingkat kepuasan kerja karyawan.
Begitu juga dengan penelitian yang dilakukan
oleh Fadhilah (2010) tentang analisis
pengaruh stres kerja terhadap kepuasan
dengan dukungan sosial di PT. Coca Cola
Amatil Indonesia menyimpulkan bahwa stres
kerja berpengaruh negatif terhadap kepuasan
kerja karyawan. Hal ini menunjukkan bahwa
semakin tinggi stres kerja yang dirasakan oleh
karyawan, maka kepuasan kerja karyawan
akan menurun. Sebaliknya, penelitian yang
dilakukan oleh Anitawidanti (2010)
menyimpulkan bahwa masing-masing
variable stres kerja memiliki hubungan positif
dengan variable kepuasan kerja, yang berarti
bahwa jika stres kerja meningkat maka
kepuasan kerja juga meningkat. Stres kerja
karyawan PT Transindo Surya Sarana lebih
mengarah pada eustress yaitu stres positif
yang diperlukan untuk menghasilkan prestasi
yang tinggi. Karyawan yang memiliki prestasi
kerja yang baik, biasanya kepuasan terhadap
pekerjaan akan baik pula. Terlebih PT
Transindo Surya Sarana akan memberikan
bermacam insentif pada setiap karyawan yang
rajin dan berprestasi.
Penelitian lain oleh Thayib,dkk
(2013) menujukkan bahwa stres kerja
berpengaruh tidak signifikan terhadap
kepuasan kerja, artinya stres kerja
berpengaruh sangat kecil (tidak memadai)
terhadap kepuasan kerja social worker pada
organisasi di Surabaya dikarenakan social
worker tidak merasakan adanya tuntutan tugas
berupa pengawasan ketat terhadap pekerjaan.
Demikian juga dengan penelitian yang
dilakukan Dhania (2010) mendapatkan hasil
bahwa stres kerja tidak secara signifikan
mempengaruhi kepuasan kerja. Banyak hal
yang dapat mempengaruhi kepuasan kerja
selain stres kerja, contohnya gaji yang
diterima dan iklim organisasi.
KESIMPULAN
1. Ada 58,5% perawat dan bidan di Rumah
Sakit Islam Sitti Maryam Manado yang
bekerja dengan shift kerja tidak teratur
dan 41,5% perawat dan bidan bekerja
dengan shift teratur.
2. Ada 63,4% perawat dan bidan di Rumah
Sakit Islam Sitti Maryam Manado yang
puas dengan pekerjaannya dan 36,6%
perawat dan bidan kurang puas dengan
pekerjaannya.
3. Ada 43,9% perawat dan bidan di Rumah
Sakit Islam Sitti Maryam Manado
mengalami stres kerja dan 56,1% perawat
dan bidan tidak mengalami stres kerja.
4. Ada hubungan antara shift kerja dengan
stres kerja pada perawat dan bidan di
Rumah Sakit Islam Sitti Maryam Manado
dengan p value = 0,027.
5. Ada hubungan anatara kepuasan kerja
dengan stres kerja pada perawat dan
bidan di Rumah Sakit Islam Sitti Maryam
7
SARAN1. Perawat dan Bidan harus memperhatikan
jadwal shift kerja yang diberlakukan di
Rumah Sakit dan tidak melakukan
shift/dinas kerja melebihi yang telah
ditetapkan agar tidak membatasi
kehidupan sosial dan mempunyai waktu
untuk istirahat.
2. Melakukan kegiatan bersama para
perawat dan bidan untuk membina
hubungan serta memanajemeni stres
seperti olahraga bersama dan diskusi
antar perawat dan bidan.
3. Pihak Rumah Sakit melalui kepala
perawat dan bidan perlu mengatur shift
kerja para perawat dan bidan agar tidak
mengalami stres kerja diikuti dengan
manajemen stres yang baik.
4. Kurangnya penelitian di Rumah Sakit
Islam Sitti Maryam Manado maka perlu
dilakukan penelitian selanjutnya dengan
meneliti variabel-variabel lain yang
berhubungan dengan stres kerja selain
faktor shift kerja dan kepuasan kerja.
DAFTAR PUSTAKA
Anitawidanti H. 2010. Analisis Hubungan Antara Stres Kerja dengan Kepuasan Kerja Karyawan Berdasarkan Gender. Skripsi. Semarang: Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro. (online). (http://eprints.undip.ac.id/22995/1/SKR IPSI_STRES_KERJA_VS_KEPUASA N_KERJA.pdf, diakses pada tanggal 15 Juli 2015).
Dhania D. R. 2010. Pengaruh Stres Kerja, Beban Kerja Terhadap Kepuasan Kerja, Kudus: Universitas Muria
stress kerja terhadap kepuasan kerja
dengan dukungan social sebagai
variable moderating”. Skripsi. Fakultas Ekonomi Universitas
Diponegoro Semarang 2010. (online)
(http://eprints.undip.ac.id/23053/I/An
alisis_pengaruh_stress_kerja_terhadap
_kepuasan_kerja_dengan_dukungan_s
osial_sebagai_variabel_mo.pdf
diakses pada tanggal 15 Juli 2015).
Firmana A. S dan Hariyono W. 2014. Hubungan Shift Kerja dengan Stres Kerja Pada Karyawan Bagian Operation PT. Newmont Nusa Tenggara Di Kabupaten Sumbawa Barat. Yogyakarta: Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Ahmad Dahlan. Jurnal KESMAS. (online). ISSN: 1978-0575
(http://journal.uad.ac.id/index.php/Kes Mas/article/viewFile/1086/803, diakses pada tanggal 15 Juli 2015).
Gobel R. S. 2014. Faktor-faktor yang
berhubungan dengan stress kerja
pada perawat di Rumah Sakit Umum
Daerah Datoe BinangkangKabupaten
Bolaang Mongondow. Skripsi tidak
diterbitkan. Manado: Fakultas
Kesehatan Masyarakat, Universitas
Sam Ratulangi Manado.
8
Losyk, B (2005). Kendalikan Stres Anda.Jakarta: Pustaka Utama
Marchelia V. 2014.Stres Kerja Ditinjau Dari
Shift Kerja pada Karyawan. Malang:
Fakultas Psikologi, Universitas
Muhammadiyah Malang. Jurnal
Ilmiah Psikologi Terapan. (online).
Vol.02,No.01, Januari 2014: ISSN:
2301-8267
(http://ejournal.umm.ac.id/index.php/j
ipt/article/view/1775, diakses pada
tanggal 07 Juli 2015).
Matthew N. A. (2013). Effect of Stress on job
satisfaction among nurses in central
kerala. IOSR Journal of Business and
Management. (online). Vol. 7, Issue 2
Januari – Februai 2013: ISSN:
2278-487X
(http://iosrjournals.org/iosr-
jbm/papers/Vol7-issue2/F0724751.pdf, diakses pada
tanggal 15 Juli 2015)
Prismayanti F. I, Alifin dan Suratmi. 2010.
Hubungan Shift Kerja Dengan Stres
Kerja Pada Perawat. Lamongan:
STIKES Muhammadiyah Lamongan.
(online). Vol.03, No.VII, Desember
2010
(http://stikesmuhla.ac.id/v2/wp-content/uploads/jurnalsurya/noVII/1.p
df, diakses pada tanggal 07 Juli 2015).
Revalicha N. S. dan Sami’an 2014. Perbedaan Stres Kerja Ditinjau dari
Shift Kerja pada Perawat di RSUD
Dr. Soetomo Surabaya. Surabaya:
Fakultas Psikologi, Universitas
Airlangga Surabaya. Jurnal Psikologi
Industri dan Organisasi. (online). Vol.
1,No.3, Desember 2012
(http://journal.unair.ac.id/filerPDF/11
0810270_nadia%20selvia.pdf, diakses
pada tanggal 07 Juli 2015).
Safaria, T. S. N. 2009. “Manajemen Emosi : Sebuah Panduan Cerdas Bagaimana Mengelola Emosi Positif Dalam
Hidup Anda”. Jakarta : Bumi Aksara.
Sucipto C. D. 2014. Keselamatan dan
Kesehatan Kerja. Edisi Pertama.
Yogyakarta: Gosyen Publishing.
Suhanto, Edi. 2009. Pengaruh Stress Kerja dan Iklim Organisasi Terhadap Turnover Intention dengan Kepuasan Kerja sebagai Variabel Intervening. (Studi pada Bank Internasional Indonesia). Tesis Magister Manajemen Program Pasca Sarjana Universitas Diponegoro, Semarang.
Suma’mur, P.K.(1991). Higene Perusahaan dan Kesehatan Kerja. Jakarta : CV. Haji Masagung.