PEMEROLEHAN FONOLOGIS PADA ANAK USIA SATU TAHUN
Ahmad Abbas (16070835049)
Program Pascasarjana Universitas Negeri Surabaya, Email : [email protected]
Bambang Yulianto
Program Pascasarjana Universitas Negeri Surabaya, Email : [email protected]
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemerolehan bahasa pada anak usia 1 (satu) tahun, yang meliputi (1) proses pemerolehan bahasa pada anak dan (2) kemampuan bahasa anak yang beralamat di Pondok Pesantren Al-Fatich Tambak Oso Wilangun No. 98 Benowo Surabaya. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif. Data penelitian ini adalah data tuturan bahasa Indonesia yang diproduksi oleh anak-anak usia 1 (satu) tahun. Data dikumpulkan dengan menggunakan alat perekam. Analisis data dilakukan dengan menggunakan model interaktif. Model ini terdiri atas: (1) reduksi data, (2) penyajian data, dan (3) penarikan kesimpulan. Hasil analisis data menunjukkan bahwa kemampuan bahasa pada anak usia satu tahun belumlah jelas dan tepat dalam hal pengucapannya. Hal ini disebabkan beberapa faktor, seperti usia dan pelafalan yang belum sempurna. Akan tetapi, pada anak usia satu tahun kata-kata yang disampaikannya masih terdapat kesalahan bunyi ketika diajak berkomunikasi oleh lawan bicara. Sedangkan dalam percakapan ia sudah bisa menggunakan kata-kata yang menghubungkan sebab akibat, seperti kata “mungkin” ataupun “seharusnya”.
Kata kunci: pemerolehan, bahasa Indonesia, kemampuan, anak usia 1 (satu) tahun
Abstract
This research aims to know the Indonesian Affixation for one (1) year old children. It is involved (1) Process of Indonesia affixation for children and (2) Language ability for children in Islamic Boarding House of Alfatich Tanbak Oso Wilangun numb 98 benowo Surabaya. This research uses descriptive research. The data research is the Indonesian utterance produced by children of one year old and 5 years old. The data is collected by using recording media. Then data analysis is using interacted model suggested by Miles and Huberman. The model are included (1) data reduction (2) data serving (3) Data conclusion. The result shows that language ability for children of one year old is not clear enough in uttering the utterance. It is caused by some factors such as the age and imperfect utterance. While for 5 years old children has had language ability well. The sentences are understandable for others. In conversation, the children has used connection word such as cause-effect sentence (complex sentence) such as “mungkin” and “seharusnya”.
Keywords: affixation, Indonesian, ability, one year old children
PENDAHULUAN
Bahasa merupakan alat komunikasi yang digunakan oleh manusia untuk menyampaikan pesan kepada manusia lainnya. Bahasa memerlukan keterampilan khusus yang sangat kompleks, berkembang dalam diri anak secara spontan, dan tanpa usaha sadar ataupun instruksi formal. Kemampuan berkomunikasi anak tidak terjadi begitu saja. Hal itu disebabkan anak
terlahir tidak begitu saja dapat berbahasa. Ada perkembangan yang harus dilewati melalui tahapan-tahapan tertentu. Seorang anak akan melalui perkembangan linguistik dari tidak dapat berbahasa sampai dapat berbahasa meski dengan pemahaman yang kurang sempurna. Subyakto dan Nababan (1988: 93) menyatakan bahwa proses yang demikian itu disebut pemerolehan bahasa
adalah proses yang berlangsung di dalam otak anak-anak ketika dia memperoleh bahasa pertamanya atau bahasa ibunya. Pemerolehan bahasa biasanya dibedakan dengan pembelajaran bahasa. Pembelajaran bahasa berkaitan dengan proses yang terjadi pada waktu seorang anak mempelajari bahasa kedua setelah dia memperoleh bahasa pertamanya. Jadi, pemerolehan bahasa berkenaan dengan bahasa pertama, sedangkan pembelajaran bahasa berkenaan dengan bahasa kedua. Namun, banyak juga yang menggunakan istilah pemerolehan bahasa untuk bahasa kedua. Para pakar setuju bahwa ada dua langkah dalam usaha untuk menguasai bahasa. Pertama, penguasaan bahasa yang dilakukan secara tidak sadar dan bersifat informal. Kedua, penguasaan bahasa yang dilakukan secara sadar dan bersifat formal. Penguasaan bahasa dengan cara pertama disebut pemerolehan, sedangkan cara yang kedua disesbut dengan pembelajaran.
Dalam kaitannya dengan pengaruh faktor sosial terhadap pemerolehan bahasa, Klein (dalam Yulianto, 2009) menjelaskan bahwa pemerolehan bahasa pertama merupakan salah satu perkembangan menyeluruh anak menjadi anggota sosial masyarakat. Bahasa memudahkan anak mengekspresikan perasaan, gagasan, dan kemauannya dengan cara yang dapat diterima masyarakat. Anak belajar dan mengetahui berbagai hal tentang kehidupan sosial melalui bahasa. Bahasa merupakan sarana untuk memperoleh nilai-nilai budaya, moral, agama, dan nilai-nilai lainnya di mayarakat
Adapun proses perkembangan bahasa pada anak meliputi: (a) fonologi, anak menggunakan bunyi-bunyi yang telah dipelajarinya dengan bunyi-bunyi yang belum dipelajari, misalnya menggantikan bunyi /l/ yang sudah dipelajari dengan bunyi /r/ yang belum dipelajari. Pada akhir periode berceloteh, anak sudah mampu mengendalikan intonasi, modulasi nada, dan kontur bahasa yang dipelajarinya, (b) morfologi, pada usia 3 (tiga) tahun anak sudah membentuk beberapa morfem yang menunjukkan fungsi gramatikal nomina dan verba yang digunakan. Kesalahan gramatikal sering terjadi pada tahap ini karena anak masih berusaha mengatakan apa yang ingin dia sampaikan. Anak terus memperbaiki
bahasanya sampai usia sepuluh tahun, (c) sintaksis, anak-anak mengembangkan tingkat gramatikal kalimat yang dihasilkan melalui beberapa tahap, yaitu melalui peniruan, melalui penggolongan morfem, dan melalui penyusunan dengan cara menempatkan kata-kata secara bersama-sama untuk membentuk kalimat, (d) semantik, anak menggunakan kata-kata tertentu berdasarkan kesamaan gerak, ukuran, dan bentuk. Misalnya,anak sudah mengetahui makna kata jam. Awalnya anak hanya mengacu pada jam tangan orang tuanya, namun kemudian dia memakai kata tersebut untuk semua jenis jam.
Menurut Nababan, dkk (1988:65), seorang anak yang normal pertumbuhan pikirannya belajar bahasa pertama (bahasa ibu) dalam tahun-tahun pertama dalam kehidupannya, dan proses ini terjadi hingga kira-kira umur 5 tahun. Seorang bayi hanya akan merespon ujaran-ujaran yang sering didengarnya dari lingkungan sekitar terlebih adalah ujaran seorang ibu yang sering didengar oleh anak. Pada pemerolehan bahasa kita mengenal beberapa tahapan pemerolehan bahasa, pemerolehan bahasa pertama (PB1), didapatkan seorang bayi secara langsung dari ibunya atau lingkungan yang dekat dengan bayi tersebut.
Sementara itu, Strazny (2005) memaparkan bahwa pemerolehan bahasa adalah kajian ilmu yang mempelajari perkembangan bahasa seseorang. Umumnya berkenaan dengan cara manusia mendapatkan bahasa ibu mereka, bahasa kedua atau bahasa yang lainnya. Istilah khususnya proses pemerolehan bahasa ini lebih kepada seberapa lama fitur-fitur bahasa itu diperolehnya. Lebih lanjut Strazny (2005), first language aquisition is the child‟s learning of his or her fisrt ornative language. Traditionally, andespececially in monolingual societies, fisrt and native language were used synonymously (Pemerolehan bahasa pertama adalah proses seorang anak baik laki-laki atau perempuan belajar bahasa ibu mereka. Secara tradisional proses itu terjadi pada masyarakat monolingual (menganut satu bahasa), bahasa pertama dan bahasa ibu biasanya digunakan secara bersamaan seperti Jawa-Indonesia).
pengocehan (babbling); (b) tahap satu kata (holofrastis); (c) tahap dua kata; (d) tahap menyerupai telegram (telegraphic speech), (e) vokalisasi bunyi, (f) tahap satu kata atau holofrastis, (g) tahap dua kata, satu frase, dan (h) ujaran telegrafis.
Selain tahap pemerolehan bahasa yang disebutkan pada paragraf di atas, para ahli bahasa seperti Aitchison juga mengemukakan beberapa tahap pemerolehan bahasa anak, yaitu tahap 1: mendengkur, tahap 2: meraban, tahap 3: pola intonasi, tahap 4: tuturan satu kata, tahap 5: tuturan dua kata, tahap 6: infleksi kata, tahap 7: bentuk tanya dan bentuk ingkar, tahap 8: konstruksi yang jarang atau kompleks, tahap 9: tuturan yang matang.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pemerolehan bahasa adalah proses manusia mendapatkan kemampuan untuk menangkap, menghasilkan, dan menggunakan kata untuk pemahaman dan komunikasi. Berdasarkan hal tersebut, maka peneliti ingin mengetahui tentang pemerolehan bahasa pada anak usia 1 (satu), yang meliputi proses pemerolehan bahasa pada anak dan kemampuan bahasa anak. Sehingga peneliti tertarik membuat
penelitian yang berjudul “Pemerolehan
Fonologis Bahasa Indonesia pada Anak Usia Satu Tahun”.
METODE
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Istilah pendekatan kualitatif pada mulanya bersumber pada pengamatan kualitatif. Pendekatan kualitatif memiliki ciri-ciri berlatar alamiah, bersifat deskriptif, lebih mengutamakan proses dari pada hasil, dan analisis data bersifat induktif. Berlatar alamiah, maksudnya ialah data penelitian bersumber dari peristiwa-peristiwa komunikasi dan situasi alamiah yang berlangsung pada subjek penelitian. Tidak ada upaya dari peneliti untuk mengendalikan subjek, baik di dalam maupun di luar lingkungan. Oleh karena itu, strategi pengumpulan data diusahakan tidak mencolok dan tidak diketahui subjek penelitian.
Metode deskriptif dipilih oleh peneliti karena, metode ini dapat memberikan gambaran data ataupun objek secara natural,
objektif, faktual (apa adanya), dan secermat mungkin mengenai individu, keadaan, bahasa, gejala, atau kelompok. Metode deskriptif ini digunakan untuk menggambarkan hasil dari pengumpulan data yang telah dilakukanoleh peneliti, baik melalui wawancara (orangtua dan anak) dan observasi secara langsung tentang kemampuan bahasa anak.
Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling utama dalam penelitian, karena tujuan utama dari penelitian adalah mendapatkan data. Dalam penelitian ini pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik simak libat cakap, dan teknik catat. Sedangkan penganalisisan data dalam penelitian ini menggunakan model analisis interaktif yang mana aktivitas dalam penganalisisan data kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus menerus sampai tuntas, sehingga datanya sudah jenuh.
Sumber data dalam penelitian adalah subjek tempat data didapatkan. Dengan demikian, sumber data penelitian ini dilakukan di kediaman peneliti sendiri, yakni di Jl. Tambak Oso Wilangun No. 98 Benowo Surabaya. Sampel yang diambil ada dua, yakni anak berusia satu tahun yang merupakan anak peneliti sendiri dan anak usia lima tahun yang merupakan keponakan dari peneliti. Adapun identitas sampel penelitian, sebagai berikut:
Nama : Muhammad As‟ad Syaif El Bar Tempat, Tanggal Lahir : Gresik 08 Januari 2017
Usia : 1 tahun
Bahasa Pertama (B1) : Bahasa Indonesia Bahasa Sehari-hari : Bahasa Indonesia Pendidikan : Belum sekolah
HASIL DAN PEMBAHASAN
(peneliti) yang bernama Ahmad Abbas. Akan tetapi, kedua orang tua tersebut mengenalkan sekaligus mengajarkan bahasa kepada anak-anaknya, yaitu dengan bahasa Indonesia. Ibu Siti Maimunah yang mana merupakan istri dari peneliti sendiri menuturkan bahwa sejak lahir, Syaif seperti halnya anak-anak yang lain masih sekadar menangis sebagai bentuk reaksi terhadap suatu hal.
Kemudian, seiring pertambahan usia dan perkembangan kognitifnya, pada usia 10 bulan Syaif mulai mengucapkan satu kata dan mengoceh, seperti baba, mama, disamping kata-kata lainnya yang diajarkan baik oleh orang tua maupun orang-orang yang berada disekelilingnya yang selalu membiasakan untuk mengajak Syaif berbicara. Hal tersebut dilakukan dengan maksud agar anak mengalami perkembangan dalam berbahasa dan berbicara sehingga anak dengan cepat dapat meniru, merespon, dan memahami apa yang dikatakan baik oleh orang tua maupun orang-orang yang berada disekelilingnya. Dari informasi yang diperoleh, peneliti melakukan pengamatan terhadap Syaif dengan cara pengamatan secara langsung, misalnya mengajaknya bermain, mengasuhnya, mengamatinya ketika sedang bersama ibu atau dengan orang-orang yang berada di sekelilingnya, dan jutga dengan cara melakukan wawancara dengan ibunya mengenai hal-hal yang berkaitan dengan topik yang dimaksud. Selama pengamatan yang peneliti lakukan, peneliti merujuk kepada dua teori pemerolehan bahasa, antara lain teori kognitivisme dan behaviorisme. Teori pertama, yaitu teori kognitivisme. Sebagaimana yang dijelaskan oleh para ahli, bahwa bahasa bukanlah suatu ciri alamiah yang terpisah melainkan satu di antara beberapa kemampuan yang berasal dari kematangan kognitif. Bahasa distrukturi oleh nalar. Perkembangan bahasa harus berlandaskan pada perubahan yang lebih mendasar dan lebih umum di dalam kognisi. Urutan-urutan perkembangan kognitif menentukan urutan perkembangan bahasa (Chaer, 2003:223). Hal itu terbukti dengan semakin bertambahnya usia, kematangan kognitif juga berpengaruh terhadap perkembangan dan pertambahan kata.
Teori kedua, yaitu teori behaviorisme. Menurut Skinner (Mar‟at,
2005), menjelaskan bahwa perilaku kebahasaan sama dengan perilaku yang lain, dikontrol oleh konsekuensinya. Singkatnya, apabila ada reinforcement yang cocok, perilaku akan berubah dan inilah yang disebut belajar. Pandangan empiris ini mengatakan “language is a function of reinforcement”. Orang tua mengajarkan anaknya untuk berbicara dengan cara memberikan reinforcement (penguatan) terhadap perilaku verbal.
Hal itu pulalah yang terjadi pada Syaif. Ketika ibu Siti Maimunah mengajaknya berkomunikasi, Ibu Siti Maimunah mengenalkan dan mengajarkan Syaif mengucapkan beberapa kata. Walaupun kata-kata yang diucapkan oleh Syaif belumlah jelas dan tepat dalam menirukan apa yang diajarkan olehnya. Hal ini dapat dimaklumi mengingat beberapa faktor, seperti usia dan pengucapan yang belum tepat. Akan tetapi, dari kegiatan tersebut Ibu Siti Maimunah memberikan penguatan berupa pujian ketika anak (Syaif) dapat mengucapkan seperti apa yang diajarkan oleh ibunya. Sebaliknya Ibu Siti Maimunah akan mengulang kata yang dimaksud ketika anak (Syaif) keliru atau salah dalam mengucapkan.
Pemerolehan Fonologis Tuturan Holofrastis (Satu Kata)
Berdasarkan pendapat di atas, Syaif yang telah berusia satu tahun melakukan hal yang senada. Sebagai contoh, Syaif mengucapkan “go” untuk menunjukkan konsep yang luas / lengkap baik untuk menunjuk bola, menendang bola, maupun melihat tayangan permainan sepak bola di televisi. Jadi, dapat disimpulkan kata “go” ditujukan untuk menunjuk objek berupa bola. Kata “go” itu diperolehnya ketika dia, paman, dan ayahnya (peneliti) sedang menyaksikan permainan sepak bola di televisi. Melihat seorang pemain berhasil membobol gawang lawan, secara spontan paman dan ayahnya (peneliti) berteriak goal sehingga Syaif menirukan hal yang sama. Sampai saat ini, Syaif akan mengucapkan kata “go” ketika ia melihat bola, menendang bola, atau dapat berarti Ambilkan bola itu!.
Sebagaimana yang telah disampaikan diatas bahwa di samping wawancara, bentuk penelitian lain yang dilakukan peneliti adalah dengan pengamatan langsung terhadap anak yang sedang diteliti. Pengamatan dilakukan cukup lama dan dapat dikatakan kegiatan yang dilakukan tidak banyak mengalami kendala mengingat anak yang diamati adalah anak peneliti sendiri sehingga hal itu memudahkan peneliti dalam melakukan pengamatan. Adapun kegiatan pengamatan yang dilakukan, yaitu dengan mendata kata-kata yang diucapkan. Berikut ini contoh kata-kata yang diucapkan oleh Syaif.
1. Baba : memanggil ayah / lelaki dewasa (lain)
2. Mama : memanggil ibu / wanita dewasa (lain)
3. Mam : ingin minum / makan
4. Go : menendang bola / melihat bola / melihat tayangan permainan sepak bola di televisi
5. Owo / Owo Waji : mendengar suara azdan / menirukan adzan / melihat tayangan adzan di televisi
6. Bobo : ingin tidur
7. Kuku : melihat / menirukan suara ayam / burung
Berdasarkan data di atas, dapat diketahui bahwa (1) kata “baba” merupakan kata yang pertama kali ia ucapkan. Kata itu pula yang ia gunakan ketika Syaif memanggil orang dewasa yang berjenis kelamin laki-laki, baik itu untuk memanggil
ayahnya, kakeknya maupun orang yang tidak dikenalnya ketika tampak sedang lewat di depan rumah. (2) Kata “mama” digunakan ketika Syaif memanggil orang dewasa yang berjenis kelamin perempuan, baik itu untuk memanggil ibunya, neneknya, dan wanita dewasa lainnya. (3) Kata “mam,” yang dapat diartikan “aku minta makan atau aku minta minum”. Hal itu diucapkan ketika Syaif merasa lapar atau haus. (4) Kata “go” cukup memiliki lebih dari satu makna. Kata “go” tersebut sering ia ucapkan baik ketika melihat bola, menendang bola, dan meminta tolong untuk diambilkan bola yang berada di kolong meja atau menggelinding ke tempat yang tidak dapat ia jangkau. Kata “go” dapat berarti menunjukkan pada “bola, atau ambilkan bola itu!”.
(5) Selain itu, menjadi kebiasaannya, baik ketika terdengar azdan berkumandang di masjid maupun ketika melihat tayangan adzan di televisi, Syaif akan menghentikan aktivitasnya kemudian mendengarkan adzan itu lalu menirukan lafadz pertamanya saja, contohnya: Allahu akbar menjadi “owo / owo aji” (6) Sedangkan kata “bobo” ia ucapkan ketika Syaif ingin tidur, melihat bantal, ataupun menirukan ibunya manakala menyuruh ia supaya lekas tidur. (7) Selain itu, Syaif juga menirukan suara-suara yang sering ia dengar di lingkungan rumah, seperti suara ayam ketika berkokok, kemudian ia menirunya dengan mengucapkan “kuku.” Kata tersebut tidak hanya ia tujukan untuk menirukan suara ayam, akan tetapi juga ia tujukan untuk menirukan suara burung.
Di usianya satu tahun, tepatnya pada 08 Januari 2018 lalu, Syaif semakin menunjukkan pertumbuhan dan perkembangan yang cukup pesat baik dari segi psikomotor maupun motoriknya tidak terkecuali kebahahasaannya. Dia tergolong anak yang sehat, ceria, dan aktif. Pada usia 11 bulan ia sudah dapat berjalan. Hobinya yang suka menendang bola membuatnya selalu bergerak. Pada fase ini, dia pun gemar untuk mengoceh.
Pemerolehan Fonologis Penggantian Bunyi
ini juga disampaikan oleh Mar‟at (2005: 66), secara garis besar ciri umum perkembangan bahasa pada periode ini sebagai berikut: (a) pada akhir periode ini secara garis besar anak telah menguasai bahasa ibunya, artinya hukum-hukum tata bahasa yang pokok dari orang dewasa telah dikuasai, (b) perkembangan fonologi boleh dikatakan telah berakhir. Mungkin masih ada kesukaran pengucapan konsonan yang majemuk dan sedikit kompleks, (c) perbendaharaan kata berkembang, baik kuantitatif maupun kualitatif. Beberapa pengertian abstrak seperti pengertian waktu, ruang dan kuantum mulai muncul, (d) kata benda dan kata kerja mulai lebih terdiferensiasi dalam pemakaiannya, ditandai dengan dipergunakannya kata depan, kata ganti, dan kata kerja bantu, (e) fungsi bahasa untuk komunikasi betul-betul mulai berfungsi, anak sudah dapat mengadakan konversasi dengan cara yang dapat dimengerti oleh orang dewasa, (g) persepsi anak dan pengalamannya tentang dunia luar mulai ingin dibaginya dengan orang lain, dengan cara memberi tahu, dan lain-lain (Mysak, 1961), dan (h) mulai terjadi perkembangan di bidang morfologi, ditandai dengan munculnya kata jamak, perubahan akhiran kata benda, perubahan kata kerja.
Berdasarkan hasil wawancara terhadap orang tua sampel, dapat diketahui beberapa informasi bahwa Syaif (anak usia satu tahun) memiliki kemampuan berbahasa yang baik. Kalimat-kalimat yang disampaikannya sudah bisa dimengerti oleh orang lain. Dalam percakapan pun ia sudah bisa menggunakan kata-kata yang menghubungkan sebab akibat, seperti kata
“mungkin” ataupun “seharusnya”.
Contohnya: “Ma, kok mendung ya? Mungkin nanti mau hujan.” Dalam proses pemerolehan bahasanya, Syaif mulai mengeluarkan bunyi-bunyi dalam bentuk teriakan, rengekan, atau dengkuran secara jelas mulai dari umur 6 bulan. Selanjutnya kata pertama yang ia keluarkan adalah kata
“mama” (memanggil ibunya). Pada usia 2
(dua) tahun, anak ini sudah dapat merespon kata-kata yang disampaikan oleh orang tuanya ataupun orang lain dengan cukup baik.
Syaif sendiri tinggal di lingkungan yang mayoritas penduduknya berbahasa
Jawa, akan tetapi orang-orang yang berada disekitarnya, baik itu kedua orang tua, nenek, kakek, bulik, dan lingkungan sekitarnya mengarahkan Syaif untuk berbahasa Indonesia. Orang tua Syaif tidak mengalami kesulitan yang berarti ketika mengenalkan dan mengajarkan bahasa Indonesia kepada Syaif. Namun, Syaif masih mengalami kesulitan untuk mengucapkan huruf konsonan „S‟ dengan benar dan tepat. Hal ini terjadi karena kelainan pada alat ucapnya. Contohnya saat ia mengucapkan kata “sakit” maka terdengar oleh peneliti seperti mengucapkan kata “cakit”. Adapun fakta lain yang peneliti peroleh berdasarkan hasil observasi, dapat diketahui bahwa tidak terdapat keanehan yang terlihat ketika Syaif diajak berbicara saat bermain, baik oleh peneliti maupun oleh orang lain. Syaif dapat menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan dapat dipahami oleh orang lain sebagai lawan tuturnya.
Dari penelitian di atas dapat diketahui bahwa kemampuan berbahasa anak tidak diperoleh secara tiba-tiba atau sekaligus, akan tetapi diperoleh melalui proses tahapan. Faktor keluarga sangat mempengaruhi dalam proses pemerolehan bahasa seorang anak. Oleh karena itu, sebagai orang tua, terutama ibu yang dominan dekat dengan buah hatinya, harus lebih memperhatikan bahasa yang digunakan agar anak dapat menirukan kosa kata atau bahasa dengan baik.
SIMPULAN
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemerolehan bahasa pada anak usia satu tahun terlihat ketika anak diajak oleh orang-orang yang berada disekitarnya untuk berkomunikasi. Anak akan dapat menirukan kata-kata yang diajarkan dan dikenalkan, meskipun kata-kata yang diucapkan sang anak belumlah jelas dan tepat. Hal ini dapat disebabkan beberapa faktor, seperti usia dan pelafalan yang belumlah sempurna. Akan tetapi, dari kegiatan tersebut anak akan diberikan penguatan berupa pujian manakala ia dapat mengucapkan seperti apa yang telah diajarkan. Sebaliknya, orang-orang yang berada disekitar anak, terutama orang tua akan mengulang kata yang dimaksud sekiranya anak tersebut keliru atau salah dalam pengucapan.
terdapat kesalahan bunyi ketika diajak berkomunikasi oleh lawan bicara. Sedangkan dalam percakapan ia sudah bisa menggunakan kata-kata yang menghubungkan sebab akibat, seperti kata “mungkin” ataupun “seharusnya”.
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi. 2010. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta.
Chaer, Abdul. 2003. Psikolinguistik Kajian Teoretik. Jakarta: Rineka Cipta.
Djajasudarma, T. Fatimah. 1993. Metode Linguistik. Bandung: Eresco.
Ellis, R. 1985. Understanding Second Language Acquisition. Oxford: Oxford University Press.
Ibrahim, M. 2005. Asessmen Berkelanjutan. Surabaya: Unesa University Press.
Mar‟at, Samsunuwiyati. 2005.
Psikolinguistik Suatu Pengantar. Bandung: Refika Aditama.
Mintowati, M. 2008. Tuturan Penyandang Autis (Kajian Tindak Tutur, Prinsip Kooperatif, dan Strategis) Universitas Negeri Surabaya.
Moleong, Lexy J. 2005. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Rosda Karya.
Strazny, Philipp (ed.). 2005. Encyclopedia of Linguistics. New York: Fitzroy Dearborn.
Subyakto-Nababan & Utari. 1988. Psikolinguistik Suatu Pengantar. Jakarta: Depdikbud.
Tarigan, Henry Guntur. 2009. Psikolinguistik. Bandung: Angkasa.
Yulianto, Bambang. 2009. Perkembangan Fonologis Bahasa Anak. Surabaya. Unesa University Press.
Yulianto, Bambang. 2001. Perkembangan Fonologis Tuturan Bahasa Indonesia Anak. Suatu Tinjauan Berdasarkan Fonologi Generatif. Malang: PPs Universitas Negeri Malang