• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERATURAN DAN STANDAR BIDANG AIR LIMBAH

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PERATURAN DAN STANDAR BIDANG AIR LIMBAH"

Copied!
54
0
0

Teks penuh

(1)

PERATURAN DAN STANDAR BIDANG

AIR LIMBAH

Dadang Suryana

K E M E N T E R I A N P E K E R J A A N U M U M

DIREKTORAT PENGEMBANGAN PLP

(2)

SISTEMATIKA

EKSPOSE

Definisi Air Limbah

Peraturan Terkait Bidang Air Limbah

Peraturan Menteri PU Sedang Disiapkan

Undang-Undang Bidang Drainase Yang Sedang Disiapkan

(3)

Peraturan adalah tatanan (petunjuk, kaidah, ketentuan) yg

dibuat untuk mengatur (kamus besar bahasa

Indonesia)

Standar adalah spesifikasi teknis atau sesuatu yg dibakukan

termasuk tata cara dan metode yg disusun berdasarkan

konsensus semua pihak yg terkait dgn memperhatikan

syarat

syarat keselamatan, keamanan, kesehatan,

(4)

Bersifat sukarela (voluntary): dapat diikuti dan dapat pula

tidak diikuti ;

Bersifat wajib (compulsory, mandatory) : standar yg

berkaitan dgn kepentingan keselamatan, keamanan,

kesehatan masyarakat atau pelestarian fungsi lingkungan

hidup atau pertimbangan ekonomis dalam rangka

efisiensi nasional;

Sukarela : dapat menjadi wajib bila instansi teknis

(5)

Air Limbah adalah semua air buangan yg berasal dari

kamar mandi, dapur, cuci dan kakus serta air limbah

industri rumah tangga yg tidak mengandung bahan

beracun dan berbahaya (B3) dari permukiman

(Rapermen PU ttg air limbah terpusat)

Air limbah adalah sisa dari suatu hasil usaha dan atau

(6)

Air limbah adalah air buangan yang berasal dari rumah

tangga termasuk tinja manusia dari lingkungan

permukiman (PP 16/2005)

Air limbah adalah air buangan yang berasal dari rumah

tangga termasuk tinja manusia dari lingkungan

(7)

Air Limbah Domestik adalah air limbah dari kegiatan

kerumahtanggaan (mandi, cuci,

kakus) yg berasal dari

berbagai sumber

Air Limbah Domestik dapat dibagi menjadi dua yaitu : air

limbah toilet (black water) terdiri dari tinja, air kencing

serta air bilasan. Air limbah non toilet (grey water)

(8)

JENIS DAN ASAL AIR LIMBAH

PERMUKIMAN

AREA KOMERSIAL

(hotel, resto,

shopping center

dll)

(9)

PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN

YANG MENGATUR / TERKAIT DENGAN

(10)

UUD 45

Pasal 28H

UU 32/2009

Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan

Hidup

Pasal 20: ketentuan lebih lanjut mengenai baku mutu lingkungan hidup PP Pasal 60: larangan dumping limbah tanpa ijin

UU 36/2009

Kesehatan

Pasal 163:

(3) Lingkungan sehat bebas dari ganguan kesehatan limbah cair, padat, gas, sampah dll

(4) Ketentuan mengenai standar baku mutu kesehatan lingkungan sehat dan proses pengolahan limbah PP

UU 26/2007

Penataan Ruang

Pasal 17: Rencana struktur ruang meliputi rencana sistem pusat permukiman dan rencana sistem jaringan prasarana (mencakup sistem persampahan, sanitasi)

UU 01/2011

Perumahan dan Kawasan Permukiman

Pasal28: rencana kelengkapan PS dan Utilitas Umum perumahan (termasuk sanitasi) merupakan bagian perencanaan PS perumahan

Pasal 31: ketentuan mengenai perencanaan prasarana PP

UU 7/2004

Sumber Daya Air

PP 42/2008

Pengelolaan Sumber Daya Air

Pasal 54: pengaturan PS sanitasipemisahan jaringan drainase dengan jaringan pengumpul air limbah (pengemb. SPAM harus terpadu dengan pengemb.P&S sanitasi)

PP 16/2005

Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum

Pasal 22 : Proses pengolahan air limbah dan sampah wajib dilakukan sesuai dengan standar teknis (pengaturan P&S sanitasi)

Rapermen Penyelenggaraan Sistem Pengelolaan Air Limbah Permukiman Terpusat

Rapermen Penyelenggaraan Sistem Pengelolaan Air Limbah Permukiman Setempat

Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintah

Provinsi dan Pemerintah Kab./Kota (urusan ke PU-an dan LH merupakan urusan

(11)

UNDANG-UNDANG NOMOR 1/2011

TENTANG PERUMAHAN DAN KAWASAN PERMUKIMAN

(12)

UNDANG-UNDANG NOMOR 7/2004 TENTANG

SUMBER DAYA AIR

Pengaturan Prasarana dan Sarana Sanitasi (Air Limbah dan

Persampahan) dalam upaya perlindungan dan pelestarian

Sumber air (Pasal 21 (2d)

(13)

UNDANG-UNDANG NOMOR 26/2007 TENTANG

PENATAAN RUANG

Rencana Struktur Ruang meliputi Rencana Sistem Pusat Permukiman

dan Rencana Sistem Jaringan Prasarana (Sistem Persampahan dan

Sanitasi) (Pasal 17 (2)

(14)

UNDANG-UNDANG NOMOR 32/2009 TENTANG

PERLINDUNGAN DAN PENGELOLAAN

LINGKUNGAN HIDUP

Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup meliputi : Perencanaan,

Pemanfaatan, Pengendalian, Pemeliharaan, Pengawasan, dan Penegakan

Hukum (Pasal 4)

Penentuan Terjadinya Pencemaran Lingkungan Hidup di Ukur Melalui

Baku Mutu Lingkungan Hidup meliputi : baku mutu air , air limbah, air

laut, ambien, emisi, gangguan lain sesuai dengan perkembangan ilmu

pengetahuan dan teknologi) (Pasal 20 (2)

(15)

UNDANG-UNDANG NOMOR 36/2009

TENTANG KESEHATAN

Setiap orang berhak mendapatkan lingkungan yg sehat bagi pencapaian

derajat kesehatan (pasal 6);

Upaya kesehatan lingkungan ditujukan utk mewujudkan kualitas

lingkungan yg sehat, baik fisik, kimia, biologi, maupun sosial yg

memungkinkan setiap orang mencapai derajat kesehatan yg

setinggi-tingginya (pasal 162);

(16)

UNDANG-UNDANG NOMOR 2/2012

TENTANG PENGADAAN TANAH BAGI PEMBANGUNAN

UNTUK KEPENTINGAN UMUM

Tanah untuk kepentingan umum digunakan untuk

pembangunan waduk, bendungan, bendung, irigasi, saluran

air minum, saluran pembuangan air dan sanitasi, dan

bangunan pengairan lainnya (pasal 4 ayat 1c)

Pemerintah dan/atau Pemerintah Daerah menjamin

tersedianya tanah untuk kepentingan umum (pasal 4 ayat 1)

Pemerintah dan/atau Pemerintah Daerah menjamin

(17)

PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 82/2001

TENTANG PENGELOLAAN KUALITAS AIR DAN

PENGENDALIAN PENCEMARAN AIR

(18)

PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 42/2008

TENTANG PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR

Perlindungan dan Pelestarian Sumber Air dilakukan melalui Pengaturan Prasarana dan Sarana

Sanitasi (Pasal 50 (1d)

Pengaturan Prasarana dan Sarana Sanitasi dilakukan melalui (Pasal 54 (1) :

- Penetapan Pedoman PS Sanitasi

- Pemisahan antara jaringan drainase dan jaringan pengumpul

air limbah pada kawasan perkotaan

- Pembuangan air limbah melalui jaringan pengumpul air

limbah pada kawasan perkotaan ke dalam sistem IPAL

terpusat

- Pembangunan sistem IPAL terpusat pada setiap lingkungan

dan/atau

(19)

PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 42/2008

TENTANG PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR

(LANJUTAN)

(20)

PERMEN PU NOMOR 16/PRT/M/2008 TENTANG

KEBIJAKAN DAN STRATEGI NASIONAL PENGEMBANGAN

SISTEM PENGELOLAAN AIR LIMBAH PERMUKIMAN

Kebijakan dan Strategi Nasional Pengembangan Sistem Pengelolaan Air Limbah Permukiman

dirumuskan sebagai berikut :

Kebijakan (1), Peningkatan akses prasarana dan sarana air limbah baik sistem

on site

maupun

off site

di perkotaan dan perdesaan untuk perbaikan kesehatan masyarakat;

Kebijakan (2), Peningkatkan peran masyarakat dan dunia usaha/swasta dalam

penyelenggaraan pengembangan sistem pengelolaan air limbah permukiman;

Kebijakan (3), Pengembangan perangkat peraturan perundangan penyelenggaraan

pengelolaan air limbah permukiman ;

Kebijakan (4), Penguatan kelembagaan dan peningkatan kapasitas personil pengelolaan

air limbah permukiman;

(21)

PERMEN NEGARA LH NOMOR 05/2011 TENTANG

JENIS USAHA ATAU KEGIATAN YANG WAJIB

DILENGKAPI DENGAN ANALISIS MENGENAI

DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP

Jenis rencana usaha dan/atau kegiatan yang wajib memiliki

Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup adalah

(22)

Air Limbah Domestik

Pembangunan

Instalasi

Pengolahan

Lumpur

Tinja

(IPLT)

termasuk

fasilitas

penunjangnya dengan :

- Luas > 2 Ha, atau

- Kapasitas total > 11 m3

Setara dengan layanan untuk 100.000 orang

Dampak potensial berupa bau, gangguan kesehatan, lumpur sisa yang tidak diolah

dengan baik dan gangguan visual

Pembangunan Instalasi Pengolahan Air Limbah Domestik (IPAL) termasuk

fasilitas penunjangnya dengan :

- Luas > 3 ha, atau

- Beban Organik > 2,4 ton/hari

Setara dengan layanan untuk 100.000 orang

PERMEN NEGARA LH NOMOR 05/2011 TENTANG

JENIS USAHA ATAU KEGIATAN YANG WAJIB DILENGKAPI

DENGAN ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP

(23)

PERMEN NEGARA LH NOMOR 05/2011 TENTANG

JENIS USAHA ATAU KEGIATAN YANG WAJIB DILENGKAPI DENGAN

ANALISIS MENGENAI

DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP (LANJUTAN)

Air Limbah Domestik

Pembangunan sistem perpipaan air limbah :

- Luas layanan > 500 Ha

- Debit air limbah

>

16.000 m3/ hari

Setara dengan layanan untuk 100.000 orang

Setara dengan 20.000 unit sambungan air limbah

(24)

PP NO. 16 TAHUN 2005

TENTANG PENGEMBANGAN SPAM

Proses pengolahan air limbah dan sampah wajib dilakukan

sesuai

dengan

standar

teknis

yang

ditetapkan

dengan

Peraturan

Menteri

dengan

memperhatikan

saran

dan

pertimbangan dari menteri terkait dalam hal ini Kementerian

Pekerjaan Umum (Pasal 22)

Keterpaduan Sanitasi dan Air Minum (Pasal 2)

(25)

PP NO. 16 TAHUN 2005

TENTANG PENGEMBANGAN SPAM (lanjutan)

Perlindungan Air Baku (pasal 14)

a. Perlindungan

air

baku

dilakukan

melalui

keterpaduan

pengaturan pengembangan SPAM dan Prasarana dan Sarana

Sanitasi.

b. Prasarana dan Sarana Sanitasi meliputi PS Air Limbah dan PS

Persampahan.

c.

Pengembangan Prasarana dan Sarana Sanitasi didasarkan

pada pertimbangan :

Keberpihakan pada masyarakat miskin dan daerah rawan

air.

Peningkatan derajat kesehatan masyarakat.

Pemenuhan standar pelayanan.

(26)

PP NO. 16 TAHUN 2005

TENTANG PENGEMBANGAN SPAM (lanjutan)

Prasarana dan Sarana Air Limbah (Pasal 15-18).

PS Air Limbah dilakukan melalui sistem pembuangan air

limbah setempat dan/atau terpusat.

Pelayanan minimal air limbah (Pasal 16)

(27)

PP NO. 16 TAHUN 2005

TENTANG PENGEMBANGAN SPAM (lanjutan)

Hasil pengolahan (Pasal 17).

hasil pengolahan air limbah terpusat berupa cairan dan

padatan.

Lokasi IPAL (Pasal 18)

pemilihan

lokasi

instalasi

pengolah

air

limbah

memperhatikan :

- aspek teknis

- aspek lingkungan

(28)

Sub-sub

Bidang

Pemerintah

Pemerintah

Daerah Provinsi

Pemerintah Daerah

Kabupaten/Kota

Pengaturan 1. Penetapan kebijakan dan

strategi nasional

pengembangan PS air limbah.

1. Penetapan peraturan daerah kebijakan

pengembangan PS air limbah di wilayah

provinsi mengacu pada kebijakan nasional.

1. Penetapan peraturan

daerah kebijakan

pengembangan PS air limbah di wilayah kabupaten/kota mengacu pada kebijakan nasional dan provinsi.

2. Pembentukan lembaga penyelenggara pelayanan PS air limbah lintas provinsi.

2. Pembentukan lembaga tingkat provinsi

sebagai penyelenggara PS air limbah di

wilayah provinsi.

2. Pembentukan lembaga tingkat kabupaten/kota sebagai penyelenggara PS air limbah di

wilayah

kabupaten/kota.

LAMPIRAN DARI PERATURAN PEMERINTAH

(29)

Sub-sub

Bidang

Pemerintah

Pemerintah

Daerah Provinsi

Pemerintah Daerah

Kabupaten/Kota

3. Penetapan norma, standar,

prosedur, dan kriteria pelayanan PS air limbah secara nasional termasuk SPM.

3. Penetapan peraturan daerah NSPK

berdasarkan SPM yang ditetapkan oleh

pemerintah.

3. Penetapan peraturan daerah berdasarkan NSPK. yang ditetapkan oleh pemerintah dan provinsi.

4. Memberikan izin

penyelenggaraan PS air limbah yang bersifat lintas provinsi.

4. Memberikan izin

penyelenggaraan PS air limbah lintas

kabupaten/kota.

4. Memberikan izin

penyelenggaraan PS air limbah di wilayah

kabupaten/kota. 5. Penetapan standar

kompetensi teknis SDM untuk kelompok ahli dan terampil bidang air limbah.

(30)

Sub-sub Bidang

Pemerintah

Pemerintah Daerah

Provinsi

Pemerintah Daerah

Kabupaten/Kota

Pembinaan 1. Fasilitasi penyelesaian permasalahan antar provinsi yang bersifat khusus, strategis baik yang bersifat nasional maupun internasional.

1. Fasilitasi penyelesaian masalah yang bersifat lintas kabupaten/kota.

1. Penyelesaian masalah pelayanan di lingkungan kabupaten/kota.

2. Fasilitasi peran serta dunia usaha tingkat nasional dalam penyelenggaraan pengembangan PS air limbah.

2. Fasilitasi peran serta dunia usaha dan masyarakat dalam penyelenggaraan pengembangan PS air limbah kabupaten/kota.

2. Pelaksanaan kerjasama dengan dunia usaha dan masyarakat dalam

penyelenggaraan pengembangan PS air limbah kabupaten/kota.

3. Fasilitasi

penyelenggaraan (bantek)

pengembangan PS air limbah.

3. Fasilitasi

penyelenggaraan

(bantek) pengembangan PS air limbah lintas kabupaten/kota.

3. Penyelenggaraan (bantek) pada

kecamatan, pemerintah desa, serta kelompok masyarakat di

wilayahnya dalam

(31)

Sub-sub

Bidang

Pemerintah

Pemerintah

Daerah Provinsi

Pemerintah

Daerah

Kabupaten/Kota

Pembangunan 1. Fasilitasi pengembangan PS

air limbah skala kota untuk kota-kota metropolitan dan kota besar dalam rangka kepentingan strategis nasional.

1. Fasilitasi

pengembangan PS air limbah lintas kabupaten/kota di wilayah provinsi.

1. Penyelenggaraan

pembangunan PS air limbah untuk daerah

kabupaten/kota dalam rangka memenuhi SPM. 2. Penyusunan rencana induk

pengembangan PS air limbah lintas provinsi.

2. Penyusunan rencana induk pengembangan PS air limbah lintas kabupaten/kota.

2. Penyusunan rencana induk

pengembangan PS air limbah

kabupaten/kota. 3. Penanganan bencana alam

tingkat nasional.

3. Penanganan bencana

alam tingkat provinsi.

3. Penanganan

bencana alam tingkat lokal

(32)

Sub-sub

Bidang

Pemerintah

Pemerintah

Daerah Provinsi

Pemerintah

Daerah

Kabupaten/Kota

Pengawasan 1. Pengendalian dan

pengawasan atas penyelenggaraan pengembangan PS air limbah.

1. Melakukan

pengawasan terhadap penyelenggaraan PS air limbah di

wilayahnya.

1. Monitoring

penyelenggaraan PS air limbah di

kabupaten/kota.

2. Evaluasi atas kinerja pengelolaan PS air limbah secara nasional.

2. Evaluasi atas kinerja pengelolaan PS air limbah di wilayah provinsi lintas kabupaten/kota.

2. Evaluasi terhadap penyelenggaraan pengembangan air limbah di

kabupaten/kota. 3. Pengawasan dan

pengendalian atas pelaksanaan NSPK.

3. Pengawasan dan pengendalian atas pelaksanaan NSPK.

(33)
(34)

DRAFT RAPERMEN TENTANG PENYELENGGARAAN

PENGEMBANGAN SISTEM PEMBUANGAN AIR LIMBAH

SETEMPAT

Ruang lingkup Peraturan Menteri ini meliputi :

- Umum

- Prasarana dan Sarana Air Limbah Permukiman

- Perencanaan (lampiran modul cubluk kembar, tangki Septik,

MCK Umum, IPLT, Biofilter, Rotating Biological Contactor

(RBC), Upflow Anaerobic Filter (UAF),

- Pelaksanaan Konstruksi

- Pengelolaan

- Pemeliharaan dan rehabilitasi

- Pemantauan dan evaluasi dan

- Pembinaan dan pengawasan

(35)

DRAFT RAPERMEN TENTANG PENYELENGGARAAN

PENGEMBANGAN SISTEM PEMBUANGAN AIR

LIMBAH TERPUSAT

Ruang lingkup Peraturan Menteri ini meliputi :

- Kebijakan dan strategi

- Perencanaan pengembangan sistem pengelolaan air

limbah terpusat yang terdiri atas rencana induk, studi

kelayakan dan perencanaan teknis (lampiran)

- Pelaksanaan Konstruksi (lampiran)

- Pengelolaan yang terdiri atas umum, pengoperasian,

pemanfaatan, administrasi dan kelembagaan (lampiran)

- Pemeliharaan dan rehabilitasi (lampiran)

- Pemantauan dan evaluasi dan (lampiran)

(36)
(37)

PERATURAN

PERATURAN YANG BERSIFAT

REGIONAL ATAU PERDA

Peraturan Daerah : tentang baku mutu effluen, retribusi, teknis, dan institusi

pengelola air limbah.

Peraturan Gubernur

(38)

PERDA PENGELOLAAN AIR LIMBAH MINIMAL MEMILIKI

KRITERIA :

Memuat kewajiban mengolah air limbah utk kesehatan lingkungan dan

masyarakat;

Memuat pengolahan air limbah;

Memuat larangan membuang air limbah ke lingkungan/badan air;

Memuat P&S air limbah;

Memuat perizinan;

Memuat tugas dan tanggungjawabpemkab./kota dan atau lembaga

pengelola air limbah;

Memuat peran serta masyarakat;

Memuat sangsi atas pelanggaran;

Memuat penghargaan atas kepatuhan;

Memuat pembiayaan;

Memuat kompensasi dan retribusi;

(39)
(40)

DAFTAR PEDOMAN, TATACARA BIDANG AIR LIMBAH YANG SUDAH ADA

SK MENTERI

NO.

JUDUL

KETERANGAN

1.

Permen PU Tentang Kebijakan dan Strategi Nasional

Pengelolaan Air Limbah Permukiman

16/PRT/M/2008

SNI

1.

Tata Cara Pengambilan Contoh Limbah Tanpa Pemadatan dari

Truk

19-6409-2000

2.

Tata Cara Perencanaan Lingkungan Perumahan

03-1733-2004

3.

Petunjuk Teknis Tata Cara Perencanaan Tangki Septik dengan Sistem

Resapan

03-2398-2002

4.

Tata Cara Perencanaan Bangunan Umum MCK

03-2399-2002

5.

TataCara Penimbunan Tanah Bidang Resapan pada Pengolahan

Air Limbah Rumah Tangga

19-6410-2000

6.

Spesifikasi dan Tata Cara Pemasangan Perangkap Bau

03-6379-2000

7.

Spesifikasi Pipa Beton untuk Saluran Air Limbah, Saluran Air

Hujan dan Gorong-Gorong

03-6368-2000

8.

Tata Cara Evaluasi Lapangan untuk Sistem Peresapan

(41)

DAFTAR PEDOMAN, TATACARA BIDANG AIR LIMBAH YANG SUDAH ADA

SK DIRJEN

NO.

JUDUL

KETERANGAN

STANDAR TEKNIS LAINNYA

1.

Tata Cara Perencanaan IPLT Sistem Kolam

CT/AL/Re-TC/001/98

2.

Tata Cara Pembangunan IPLT Sistem Kolam

CT/AL/Re-TC/002/98

3.

Tata Cara Pengoperasian IPLT Sistem Kolam

CT/AL/Op-TC/003/98

4.

Tata Cara Pengolahan Air Limbah dengan Oxidation Ditch

CT/AL/Re-TC/004/98

5.

Tata Cara Pembuatan Sarana Pembuangan Air Limbah (SPAL)

CT/AL-D/Re-TC/005/98

6.

Tata Cara Survey Perencanaan dan Pembangunan Sarana

Sanitasi Umum

CT/AL-D/Re-TC/006/98

7.

Tata Cara Pembuatan Bangunan Atas Jamban Jamak

CT/AL-D/Ba-Tc/007/98

8.

Spesifikasi Cubluk Kembar

(42)

DAFTAR PEDOMAN, TATACARA BIDANG AIR LIMBAH YANG SUDAH ADA

SK DIRJEN

NO.

JUDUL

KETERANGAN

STANDAR TEKNIS LAINNYA

9.

Tata Cara Pembuatan Bangunan Jamban Keluarga dan Sekolah

CT/AL-D/Ba-Tc/009/98

10.

Tata Cara Pembuatan Cubluk Perdesaan

(43)
(44)

JENIS DAN ASAL AIR LIMBAH

PERMUKIMAN

AREA KOMERSIAL

(hotel, resto,

shopping center

dll)

(45)

SISTEM SANITASI

SISTEM SETEMPAT

( On site)

SISTEM TERPUSAT

(Off

site/ sewerage system)

(46)

TANGKI SEPTIK

CUBLUK

46

IPLT

(47)

SANITASI TERPUSAT/SEWERAGE

SISTEM

JARINGAN PERPIPAAN

INSTALASI PENGOLAHAN AIR LIMBAH

(48)

AIR LIMBAH

DARI KAKUS,

MANDI, CUCI,

DAPUR DLL

48

IPAL

SANITASI TERPUSAT/SEWERAGE SYSTEM

(49)

KELEBIHAN DAN KEKURANGAN

Sistem Setempat

Sistem Terpusat

Teknologi lebih sederhana

Mengolah black dan grey water

O & P lebih mudah

Resiko mencemari air tanah dan

permukaan lebih rendah

Biaya pembuatan relatif

lebih murah

Cocok untuk daerah kepadatan

tinggi

49

(50)

KELEBIHAN DAN KEKURANGAN

Sistem Setempat

Sistem Terpusat

Belum tentu dapat diterapkan

di semua area, terutama

pada :

Kepadatan penduduk tinggi

Muka air tanah tinggi

Daya serap tanah rendah

Sulit dikontrol kualitas

tangki septik yang dibangun

oleh individu (tidak sesuai

standar)

Teknologi cukup rumit

Butuh tenaga terampil untuk

operasi dan pemeliharaan

Sulit memperoleh lahan

(jaringan pipa, IPAL)

Perlu perencanaan yang

cermat

Biaya pembangunan tinggi

50

(51)
(52)
(53)
(54)

Referensi

Dokumen terkait

(1) Pemerintah atas inisiatif sendiri atau permintaan Pemerintah, Pemerintah provinsi da kabupaten/Kota menyampaikan usulan kepada Dewan Sumber Daya Air Nasional melalui Menteri

(1) Wewenang yang timbul dari hak penguasaan negara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (2) Undang-undang Nomor 11 Tahun 1974 atas air dan/atau sumber air yang berada

(1) Wewenang pengelolaan atas air dan atau sumber air yang berada pada wilayah sungai sebagaimana tercantum dalam Lampira II Peraturan Menteri ini, berada pada Menteri,

(2) Menteri atau gubernur yang diberikan delegasi oleh Menteri untuk memberikan izin pembuangan air limbah sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Negara

(2) Menteri atau gubernur yang diberikan delegasi oleh Menteri untuk memberikan izin pembuangan air limbah sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup

Sumber air kolam renang adalah air bersih yang memenuhi persyaratan sesuai Surat Keputusan Menteri Kesehatan ini Ditetapkan di : Jakarta Pada tanggal : 13 September 1990 Menteri

Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia Nomor PP.21/MENLHK/SETJEN/KUM.1/7/2018 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 5 Tahun 2014 tentang Baku Mutu Air

Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI tentang tata cara perizinan pembuangan air