• Tidak ada hasil yang ditemukan

200912 Buku Jalan Panjang Menuju Ratifikasi ICC di Indonesia

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "200912 Buku Jalan Panjang Menuju Ratifikasi ICC di Indonesia"

Copied!
294
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

menuju

(3)
(4)
(5)

Setelah reformasi, Indonesia sebenarnya telah sudah menunjukkan sikap dan komitmennya untuk masuk dalam rejim keadilan internasional dan memutus rantai impunitas. Partisipasi aktif delegasi Indonesia dalam Konferensi Diplomatik PBB di Roma, Italia yang akhirnya mengesahkan Statuta Roma tentang ICC pada tangal 17 Juli 1998 dan Pidato Dubes RI untuk PBB Marty Natalegawa (sekarang Menlu RI) pada sidang Dewan Keamanan PBB bulan Desember 2007 di New York yang menyatakan bahwa impunitas tidak bisa ditolerir, adalah sikap tegas yang selayaknya ditindaklanjuti dengan tindakan nyata, dalam hal ini dengan meratifikasi ICC.

Namun, tetap saja, usaha untuk mewujudkan ratifikasi universal ICC belum menemukan jalan lempang di Indonesia. Walaupun dicanangkan untuk diratifikasi pada tahun 2008, sebagaimana disebutkan dalam Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia (RANHAM) 2004 – 2009), namun sampai akhir tahun 2009, ICC belum juga diratifikasi atau diaksesi oleh Indonesia. Tidak ada alasan yang sangat jelas mengapa target ratifikasi 2008 tidak tercapai. Namun Koalisi mendapatkan informasi bahwa lembaga pemerintah di sektor pertahanan dan keamanan menyatakan bahwa Indonesia belum siap melakukannya. Beberapa isu seperti kedaulatan nasional dan asas non-retroaktifitas dikatakan masih mengandung kontroversi. Padahal, isu-isu tersebut sebenarnya sangat dijunjung tinggi oleh ICC.

(6)

pada asumsi-asumsi, tetapi pemahaman yang ilmiah tentang Statuta Roma.

Selanjutnya, Koalisi berharap agar pemerintah dan parlemen hasil pemilu 2009 menjadikan rencana ratifikasi ICC ini sebagai prioritas, karena ia mencerminkan ekspresi sikap pemerintah SBY di bidang hukum dan hak asasi manusia dalam peradaban dunia baru.

Jakarta, Desember 2009

Mugiyanto Convenor

(7)
(8)
(9)
(10)
(11)
(12)
(13)
(14)

Enny Soeprapto PhD

(15)

Perhatian komunitas international pada masalah kejahatan international dan, berkaitan dengan ini, berkembangnya hukum pidana international, meningkat setelah Perang Dunia Kedua. Perkembangan ini dapat dilihat, antara lain, dari pembentukan Tribunal Militer International Nuerenberg (45) dan, padanannya untuk Asia Timur, Tribunal Militer International Tokyo (1946), yang keduanya bersifat ad hoc, dan tercantumnya ketentuan dalam Konvensi tentang Pencegahan dan Penghukuman Kejahatan Genosida, 1948 yang menetapkan bahwa mereka yang dituduh melakukan kejahatan dan perbuatan lain yang berkatian dengan kejahatan ini, akan diadili oleh pengadilan negara tempat terjadinya kejahatan ini atau oleh sebuah “tribunal pidana international” yang mungkin mempunyai yuridikasi terhadap Negara-negara Pihak yang telah menerima yuridikasinya (Pasal VI).

(16)

diberikan oleh MUPBB tersebut. Baru pada 1989, dengan berakhirnya Perang Dingin, MUPBB meminta KHI, sewaktu membahas Rancangan Pengaturan Tindak Pidana terhadap Perdamaian dan Keamanan umat Manusia, (juga) “membahas masalah pembentukan sebuah mahkamah pidana international atau mekanisme dan pemeriksaan pengadilan kejahatan international yang lain dengan yurisdiksi terhadap orang-orang yang dituduh telahh melakukan kejahatan yang mungkin diliput oleh pengaturan tersebut, termasuk orang-orang yang terlibat dalam perdagangan gelap narkotika yang melintasi perbatasan nasional”. Pada 1993 KHI menyusun sebuah rancangan statuta Mahkamah Pidana International, yang setelah dibahas oleh MUPBB dan memperoleh masukan dari Negara-negara Anggota PBB, diajukan kepada Konferensi Diplomatik Wakil-wakil Berkuasa Penuh PBB tentang Pembentukan Mahkamah Pidana Internasional yang diselenggarakan di Roma pada 16 Juni-17 Juni 1998 yang kemudian diterima pada 17 Juli 1998 dengan suara 120 suara setuju, tujuh menentang, dan 21 abstain. Statuta Mahkamah Pidana International tersebut, yang kemudian terkenal dengan sebutan populernya “Statuta Roma” (karena diterima dalam suatu konferensi international yang diadakan di Roma), mulai berlaku pada 1 Juli 2002, setelah dipenuhinya persyaratan bagi mulai berlakunya instrument tersebut menurut Pasal 126 ayat 1, yakni sesudah disimpankannya piagam ratifikasi, penerimaan, persetujuan, atau aksesi yang ke-60 pada Sekretaris Jenderal PBB.

(17)

akan disahkan pada 2008. Namun, sampai berakhirnya kala hidup RANHAM 2004-2009 tersebut pada 10 Mei 2009, instrumen tersebut, jangankan disahkan, diproses pengesahannya pun belum. Bahkan, sebaliknya, tampak kecenderungan di sementara di kalangan Pemerintah sekarang untuk justru tidak mengesahkan Statuta Roma. Sudah tentu sikap demikian mencederai citra Pemerintah sendiri, karena mengingkari komitmennya sendiri, sebagai mana dinyatakannya dalam RANHAM 2004-2009 yang ditetapkan dengan Keputusan Presiden (Keppres) (Keppres 40/2006).

Sejak 1999, di kalangan pembuat undang-undang dan banyak kalangan lainnya di Indonesia, terjadi kekisruhan konseptual mengenai jenis kejahatan yang termasuk dalam yurisdiksi Mahkamah Pidana International (MPI), setidak-tidaknya yang berkenaan dengan kejahatan genosida dan kejahatan terhadap kemanusiaan, sebagai “pelanggaran HAM” dengan kualifikasi “berat”, padahal kejahatan-kejahatan tersebut adalah kejahatan internasional (international crimes), bukan “pelanggaran HAM yang berat” . Kekeliruan yang berlanjut ini, pada gilirannya, akan mengakibatkan ketidakpastian hukum jika tidak secepatnya dikoreksi.

Sebagaimana ditetapkan atau dicerminkan dalam instrument konstitutif pengadilan-pengadilan pidana international yang dibentuk secara ad hoc

(18)

Genosida dinyatakan sebagai “kejahatan menurut hukum internasional” oleh Konvensi Genosida 1948 (Paragraf preambuler pertama dan Pasal I); (c) Yurisdiksi Tribunal Pidana Internasional untuk Bekas Yugoslavia, yang berkewenangan menuntut orang-orang yang bertanggung jawab atas pelanggaran hokum humaniter internatsional yang dilakukan di wilayah bekas Yugoslavia sejak 1991 (Pasal 1, Statuta), meliputi genosida (yang dikategorikan sebagai “penerjangan gawat Konvensi-konvensi Jenewa 1949) (Pasal 4 Statuta) dan kejahatan terhadap kemanusiaan apabila terjadi dalam konflik bersenjata (Pasal 5 Statuta); dan (d) Tribunal Pidana Internasional untuk Rwanda, yang berkewenangan menuntut orang-orang yang bertanggung jawab atas ‘pelanggaran serius hukum humaniter internasional” (yangterjadi di wilayah Rwanda dan warga negara Rwanda yang bertanggung jawab atas pelanggaran demikian yang terjadi di wilayah negara-negara tetangga, antara 1 January 1994-31 Desember 1994) beryudiksi yang meliputi Genosida (Pasal 2) dan juga kejahatan terhadap kemanusiaan (Pasal 3).

Tidak satupun dari empat instrument internasional yang menyangkut genosida dan kejahatan terhadap kemanusiaan yang dibuat, masing-masing, pada 1945, 1948, 1993, dan 1994 tersebut di atas yang mengaitkan kejahatan genosida dan/atau kejahatan terhadap kemanusiaan dengan HAM.

(19)

5), mengategorikan keempat kejahatan tersebut sebagai “kejahatan internasional” (paragraph preambuler keenam), dan mengklasifikannya sebagai “kejahatan paling serius yang menjadi urusan internasional” (Pasal 1). Statuta MPI, sama halnya dengan instrumen-instrumen internasional yang dibuat sebagaimana disebut dalam paragraph sebelumnya, sama sekali tidak menyebut keempat kejahatan itu sebagai “pelanggaran HAM” ataupun “pelanggaran Ham” yang dikualifikasikan sebagai “serius”, “berat”, atau “gawat”. Statuta Roma adalah instrument hukum pidana internasional (bukan instrument HAM internasional), MPI adalah sebuah pengadilan pidana internasional (bukan pengadilanHAM internasional), sedangkan kejahatan-kejahatan yang termasuk yurisdiksi MPI (kejahatan genosida, kejahatan terhadap kemanusiaan, kejahatan perang, dan kejahatan agresi) adalah, pertama, “kejahatan”, kedua, kejahatan itu adalah “kejahatan internasional”, ketiga, kejahatan internasional tersebut merupakan “kejahatan yang paling serius”, dan , keempat, kejahatan yang paling serius itu merupakan “urusan internasional” dan bahkan merupakan ‘urusan komunitas internasional secara keseluruhan”.

(20)

sebagaimana ditetapkan dalam instrument-instrumen HAM internasional, seperti asas legalitas, ketidakberlakusurutan, dan nondiskriminatif (Pasal 22-Pasal 33), dan, ketiga, ketentuan-ketentuan yang secara tidak langsung melindungi HAM tertentu, seperti hak untuk hidup (Pasal 6(a), Pasal 7.1 (a), dan Pasal 8.2 (a(ii), (b) (vi), (xI), dan (xxii), serta e (i)), hak seseorang untuk tidaki dirampas kemerdekaannya secara sewenang-wenang (Pasal 7.1(e)), hak untuk tidak disiksa (Pasal 7.1(f) dan Pasal 8.2 (a) (ii) serta (c) (ii)), hak untuk memeluk agama atau kepercayaan (Pasal 8.2(a) (ii) dan (c) (ii), serta hak untuk beribadat menurut agama atau kepercayaan masing-masing (Pasal 8.2(b) (ix)), untuk menyebut beberapa di antaranya.

Kekisruhan konseptual yang menyebabkan kekisruhan hukum di Indonesia berawal pada 1999 dengan pemasukan istilah “pelanggaran hak asasi manusia yang berat” dalam Undang-Undang Nomer 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia (UU 39/1999) (Pasal 104 ayat (1) beserta penjelasannya). Kekisruhan berlanjut dengan diundangkannya Undang Undang Nomer 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia (UU 26/2000). UU 26/2000 menetapkan pengertian istilah “pelanggaran HAM yang berat” tidak dengan mendefinisikannya melainkan dengan menyebutkan kejahatan apa saja yang terliput oleh istilah ini, in casu kejahatan genosida dan kejahatan terhadap kemanusiaan (Pasal 1 angka 2dan Pasal 7), dengan penjelasan Pasal 7 yang menyatakan bahwa “ Kejahatan genosida dan kejahatan terhadap kemanusiaan’ dalam ketentuan ini sesuai dengan ‘Rome Statute of the International Criminal Court’

(Pasal 6 dan Pasal 7)”.

(21)

istilah umum “pelanggaran HAM yang berat” menjadi istilah yuridis dan mengategorikan kejahatan genosida dan kejahatan terhadap kemanusiaan sebagai pelanggaran HAM dengan kualifikasi berat, padahal, sebagaimana ditegaskan oleh Statuta Roma, kedua kejahatan tersebut, beserta kejahatan perang dan kejahatan agresi, adalah kejahatan internasional dengan dua kualifikasi, yakni, pertama, paling serius dan, kedua, menjadi urusan komunitas internasional secara keseluruhan.

(22)

bersangkutan, di mana pun perbuatan itu di lakukan, di tempat yang berada di bawah yurisdiksi Indonesia ataupun di luarnya, kedua, orang bukan warga negara Indonesia yang melakukan perbuatan demikian di tempat yang berada di bawah yurisdiksi Indonesia, dan, ketiga, apabila korban perbuatan demikian, di mana pun terdapatnya, adalah warga negara Indonesia atau milik negara atau warga negara Indonesia; (f) mempunyai hokum acara sendiri yang lengkap; dan (g) dapat diberlakukan secara surut atas dasar kasus demi kasus dengan mekanisme yang menjalin kelancaran pelaksanaannya.

Dengan dipunyainya undang-undang pidana yang mengatur penuntutan dan pemeriksaan di siding pengadilan atas kejahatan yang termasuk yurisdiksi MPI dengan ketentuan-ketentuan yang tidak menyimpang dari ketentuan-ketentuan yang relevan dari Statuta Roma, maka kekhawatiran ‘intervensi’ MPI ke dalam urusan internal Indonesia dan/atau kecurigaan atan terjadinya ‘pelanggaran kedaulatan” Indonesia oleh MPI menjadi tidak berdasar, sepanjang Indonesia memang benar-benar mau dan mampu melaksanakan undang-undang yang bersangkutan.

Ditandai pula terdapatnya kesalahmengertian di sementara kalangan di Indonesia bahwa Statuta Roma dapat diberlakusurutkan, sebagaimana halnya instrument konstitutif pengadilan pidana

(23)

yang telah menjadi pihak pada Statuta Roma pada 1 Juli 2002. Untuk negara-negara lain yang menjadi pihak setelah 1 Juli 2002, sesuai dengan ketentuan Pasal 126 ayat 2, Statuta Roma baru akan mulai berlaku bagi negara yang bersangan “pada hari pertama dari bulan setelah enam puluh hari sesudah penyimpanan piagam ratifikasi, penerimaan, persetujuan, atau aksesi oleh negara yang bersangkutan”, jadi bukan berhitung mulai 1 Juli 2002.

(24)

Penggesahan dan, kemudian, menjadi pihaknya Indonesia pada Statuta Roma melalui prosedur aksesi, akan merupakan sumbangan bangsa Indonesia sebagai bagian komunitas internasional dalam upaya bersama untuk mengakhiri impunitas pelaku dan mencegah terjadinya kejahatan paling serius yang menjadi urusan komunitas internasional secara keseluruhan sebagai salah satu tujuan Statuta Roma (paragraph preambuler kelima). Pengakhiran impunitas pelaku dan pencegahan terjadinya kejahatan internasional demikian akan menciptakan situasi yang menunjang upaya penciptaan dan pelaksanaan ketertiban dunia sebagaimana diamanatkanoelh Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik IndonesiaTahun 1945 (UUD 1945) (alinea keempat). Dengan demikian, pengesahan dan menjadi pihaknya Indonesia pada Statuta Roma tidaklah lain merupakan salah satu langkah yang diambil oleh bangsa Indonesia yang tidak saja merupakan sumbangan pada kerja sama internasional untuk menanggulangi kejahatan paling serius yang menjadi urusan komunitas internasional secara keseluruhan melainkan juga, tidak lain, sebagai salah satu bentuk pelaksanaan amanat Pembukaan UUD 1945.

(25)
(26)

Upaya Menghentikan Impunitas

di Indonesia

Zaenal Abidin

Kata “impunitas” berarti ketidakmungkinan -de jure atau de facto- untuk membawa pelaku pelanggaran hak asasi manusia untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya baik dalam proses peradilan kriminal, sipil, administratif atau disipliner karena mereka tidak dapat dijadikan objek pemeriksaan yang dapat memungkinkan terciptanya penuntutan, penahanan, pengadilan dan, apabila dianggap bersalah, penghukuman dengan hukuman yang sesuai, dan untuk melakukan reparasi kepada korban-korban mereka.1

Impunitas merupakan problem di banyak negara dan oleh karenanya telah sejak lama dunia internasional memperjuangkan untuk menghentikan praktek-praktek

(27)

impunitas. Sejarah pelanggaran hak asasi manusia diberbagai negara menunjukkan bahwa seringkali tanpa akuntabilitas yakni menghukum para pelakunya dan memberikan hak-hak pemulihan kepada korban. Berbagai mekanisme internasional telah dibangun untuk memastikan penghentian impunitas dengan berbagai bentuk pengadilan untuk meminta pertanggungjawaban para pelakunya.

Setelah serangkaian usaha panjang pengadilan terhadap kejahatan kemanusiaan, pada tahun 1998, dunia internasional sepakat membangun suatu Mahkamah Pidana Internasional (International Criminal Court - ICC)

yang didirikan berdasarkan Statuta Roma 1998. Paragraf kelima dari konsiderans Statuta Roma jelas menyatakan

“Determined to put an end to impunity for the perpetrators of these crimes and thus to contribute to the prevention of such crimes”. Pernyaataan ini menandakan bahwa Mahkamah Pidana Internasional salah satu tujuannya adalah untuk menghentikan impunitas para pelaku dan mendorong pencegahan terjadi kejahatah kejahatan semacam kejahatan genosida (the crime of genocide), kejahatan terhadap kemanusiaan (crimes against humanity), kejahatan perang (war crimes), dan kejahatan agresi (the crime of aggression).2

(28)

manusia yang berat yaitu kejahatan genosida (the crime of genocide) dan kejahatan terhadap kemanusiaan (crimes against humanity) melalui Pengadilan HAM berdasarkan UU No. 26 tahun 2000 tentang Pengadilan HAM.3 Dua kejahatan yang menjadi yurisdiksi pengadilan HAM ini merujuk pada Statuta Roma.4

Tahun 2004, muncul UU Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi sebagai suatu mekanisme lain untuk meminta pertanggungjawaban pelanggaran HAM masa lalu melalui pengungkapan kebenaran dan rekonsiliasi. Karena UU ini mempunyai banyak kelemahan dan akhirnya dibatalkan oleh Mahkamah Konstitusi. Sejak itu, rencana pembentukan Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi belum terlaksana sampai terbentuknya UU Baru.

Pengadilan HAM yang diharapkan menjadi mekanisme akuntabilitas melalui jalur pengadilan juga akhirnya gagal memenuhi mandatnya. Sejumlah persolan menghadang berjalannya pengadilan HAM, mulai dari kelemahan UU, kapasitas penegak hukum dan dukungan pemerintah terhadap pengadilan HAM. Praktis, sampai tahun 2009 sejumlah kasus yang telah disidangkan gagal menghukum pelaku dan memberikan pemulihan kepada korban. Sementara kasus-kasus yang telah diselidiki oleh Komnas HAM belum berhasil dilanjutkan ke proses persidangan.

3 Sebelum keluarnya UU No. 26 tahun 2000 Pemerintah Indonesia di bawah Habibie menerbitkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang (Perppu) No. 1 Tahun 1999. Perpu ini diumumkan presiden pada tanggal 8 Oktober 1999, tiga hari menjelang pidato pertanggungjawaban di MPR. Namun kehadiran Perpu ini ditolak oleh DPR dalam sidang paripurna di bulan Maret 2000, karena dianggap tidak memiliki alasan kuat berkaitan dengan kegentingan yang memaksa.

(29)

Kondisi ini memunculkan kembali persoalan impunitas di Indonesia, kalau tidak bisa dikatakan bahwa impunitas di Indonesia masih terus berlangsung. Merujuk pada pengertian impunitas oleh Louis Joinet, Indonesia telah gagal dalam melakukan penghukuman yang sesuai dan untuk melakukan reparasi kepada korban-korban. Ratifikasi Statuta Roma seharusnya bisa memberikan peluang bagi Indonesia untuk memperbaiki sistem peradilan pidana dan memajukan pengadilan HAM sebagaimana yang diharapkan.

ICC dan Komitmen Indonesia

Mahkamah Pidana Internasional (International Criminal Court - ICC) yang didirikan berdasarkan Statuta Roma 1998 mengatur kewenangan untuk mengadili kejahatan paling serius yang mendapatkan perhatian internasional. Kejahatan yang dimaksud terdiri dari empat jenis, yaitu kejahatan genosida (the crime of genocide),

kejahatan terhadap kemanusiaan (crimes against humanity), kejahatan perang (war crimes), dan kejahatan agresi (the crime of aggression).5

Dalam 3 konsiderannya, Statuta Roma tegas menyatakan bahwa penghukuman terhadap kejahatan-kejahatan yang sangat serius harus dilakukan dan diupayakan untuk mengakhiri impunitas dan untuk mencegah terjadinya kejahatan-kejahatan serius tersebut. konsideran-konsideran tersebut ditujukan untuk menegaskan tujuan-tujuan dari Statuta Roma yang hendak dicapai.

Paragraf 4 Statuta Roma menegaskan sebuah tujuan dari politik pemidanaan yaitu “the most serious crimes” …

(30)

must not go unpunished” dan tugas dari peradilan yang efektif harus dijamin dilaksanakan dengan melakukan tindakan-tindakan pada level nasional dan memperbesar kerja sama internasional untuk mengadili “the most serious crimes” tersebut.6 Paragraf 5 melanjutkan tujuan dari paragraf 4 yaitu “to put an end of impunity for the perpetrators of these crimes”, yang mengisyaratkan bahwa sebuah penegakan hukum secara efektif yang pada saat yang sama mendorong pada pencegahan kejahatan-kejaahatan tersebut dengan membangun kesadaran dan menunjukkan pelaku potensial dari “the most serious crimes” tidak akan lebih lama menikmati impunitas dengan adanya mekanisme penegakan hukum yang efektif.7 Paragraf 6 mengingatkan kepada negara-negara tentang kewajibannya “…state to exercise its criminal jurisdiction over those responsible for international crimes”,8 sebagaimana dinyatakan dalam pasal 5 Statuta Roma.9

Penegasan tentang tujuan dibentuknya ICC tersebut disetujui oleh Indonesia dengan menyatakan dukungannya atas pengesahan Statuta Roma dan pembentukan Mahkamah Pidana Internasional.10 Tahun 1999, Indonesia

6 Lihat paragfat 4 Statuta Roma, “Afirming that the most serious crimes of concern

to the international community as a whole must not go unpunished and that their effective prosecution must be ensured by taking measures at the national level and by enhancing international cooperation”.

7 Lihat paragfat 5 Statuta Roma, “Determined to put an end to impunity for the

perpetrators of these crimes and thus to contribute to the prevention of such crimes”.

8 Lihat paragfat 5 Statuta Roma, “Recalling that it is the duty of every State to

exercise its criminal jurisdiction over those responsible for international crimes”.

9 Otto Triffterer, “Commentary on the Rome Statute of the International Criminal Court, Observers’ Notes, Article by Article, Nomos Verlagsgessellschaft, 1999, hal. 9-12.

(31)

menyampaikan pernyataan positif kepada Komite Ke-6 Majelis Umum PBB dalam pandangannya mengenai Statuta Roma. Indonesia menyatakan bahwa “partisipasi universal harus menjadi ujung tombak ICC ” dan bahwa “Pengadilan menjadi bentuk hasil kerjasama seluruh bangsa tanpa memandang perbedaan politik, ekonomi, sosial dan budaya.” Dalam pernyataan yang sama, Indonesia menyatakan bahwa Statuta Roma menambah arti penting pada nilai-nilai yang terkandung dalam Piagam PBB yang meliputi persepakatan, imparsialitas, non-diskriminasi, kedaulatan negara dan kesatuan wilayah. Dalam hal ini, Indonesia menegaskan bahwa Mahkamah berusaha untuk melengkapi dan bukan menggantikan mekanisme hukum nasional.11

Kemandekan Dua Mekanisme

Sejak tahun 2000 Indonesia memiliki mekanisme untuk memeriksa dan mengadili kejahatan yang juga menjadi yurisdiksi ICC yaitu Kejahatan Genosida dan Kejahatan Terhadap Kemanusiaan dengan adanya UU No. 26 tahun 2000 Tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia (UU No. 26/2000).12 UU ini memberikan mekanisme pertanggungjawaban melalui peradilan baik untuk pelanggaran HAM yang berat masa lalu dan masa depan.

Pada tahun 2000 juga muncul Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat No. V Tahun 2000 tentang

mengirimkan delegasi untuk mengikuti Konferansi Diplomatik di Roma pada bulan Juli 1998, ketika Statuta Roma itu disahkan.

11 Lihat Kertas Kerja, Indonesia Menuju Ratiikasi Statuta Roma, Koalisi Masyarakat Sipil Untuk Mahkamah Pidana Internasional, 2008.

(32)

Pemantapan Persatuan dan Kesatuan Nasional. Ketetapan ini merekomendasikan untuk membentuk Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi Nasional sebagai lembaga ekstra-yudisial yang bertugas untuk menegakkan kebenaran dengan mengungkapkan penyalahgunaan kekuasaan dan pelanggaran hak asasi manusia pada masa lampau dan melaksanakan rekonsiliasi. Maksud dan tujuan dari Ketetapan MPR ini adalah untuk mengidentifikasi permasalahan, menciptakan kondisi untuk rekonsiliasi dan menetapkan arah kebijakan untuk memantapkan persatuan nasional. Kesadaran dan komitmen untuk memantapkan persatuan ini diwujudkan dengan langkah nyata untuk membentuk KKR Nasional dan merumuskan etika berbangsa dan visi Indonesia masa depan.13 Setelah dua tahun, yakni pada tahun 2004, terbentuk mekanisme lain untuk akuntabilitas pelanggaran HAM masa lalu yaitu melalui Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR) dengan adanya UU No. 27 tahun 2004 (UU KKR). Praktis untuk penyelesaian pelanggaran masa lalu Indonesia mempunyai dua mekanisme yaitu melalui pengadilan dan melalui KKR.14

13 Peranan dan fungsi KKR sebagaimana dimandatkan oleh TAP MPR V/2000 dijelaskan dalam Pendahuluan, bagian B, ‘Maksud dan Tujuan,’ yang secara keseluruhan menyatakan bahwa: “Ketetapan mengenai pemantapan persatuan dan kesatuan nasional mempunyai maksud dan tujuan untuk secara umum

mengidentiikasi permasalahan yang ada, menentukan kondisi yang harus

diciptakan dalam rangka menuju kepada rekonsiliasi nasional dan menetapkan arah kebijakan sebagai panduan untuk melaksanakan pemantapan persatuan dan kesatuan nasional”, “Kesadaran dan komitmen yang sungguh-sungguh untuk memantapkan persatuan dan kesatuan nasional harus diwujudkan dalam langkah-langkah yang nyata, berupa pembentukan Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi Nasional, serta merumuskan etika berbangsa dan visi Indonesia masa depan.”

14 Sebagai catatan Pada tahun 2001, UU No. 21 tahun 2001 tentang Otonomi Khusus Bagi Provinsi Papua menegaskan perlunya pembentukan Komisi Kebenaran dan

Rekonsiliasi.4 KKR Papua mempunyai tugas melakukan klariikasi sejarah Papua

(33)

Sejak itu, tercatat sejumlah kasus telah diselidiki oleh Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), namun hanya 2 pengadilan HAM ad hoc dan 1 Pengadilan HAM yang berhasil dibentuk. Hasil dari putusan-putusan pengadilan tersebut ternyata membebaskan semua terdakwa. Banyak kalangan menyatakan bahwa pengadilan ini telah gagal, bahkan selama proses pengadilan berjalan, kritik telah muncul berkaitan dengan kinerja pengadilan yang berada dibawah standar pengadilan internasional,15 dan adanya dugaan bahwa pengadilan ini memang sejak awal sengaja diupayakan untuk mengalami kegagalan.16 Sejalan dengan itu, pengadilan HAM juga gagal dalam memenuhi hak-hak korban yang meliputi hak atas kompensasi, restitusi dan rehabilitasi.17

15 Progress Report ELSAM IV, “Pengadilan HAM dibawah Standar: Preliminary Conclusive Report”, 4 Juli 2002.

16 David Cohen, Intended to Fail , The Trial Before the Ad Hoc Human Rights Court in Jakarta, ICTJ, July, 2004.

(34)

Kasus-Kasus Pelanggaran HAM yang Berat

No Kasus Putusan/Proses Keterangan

1. Timor-Timur - Mengakui adanya pelanggaran HAM

- Tidak ada pelaku yang bersalah

- Tidak ada kompensasi kepada korban

- Putusan pertama, banding dan kasasi saling bertolak belakang

- Pandangan hakim sangat berbeda dalam mengimplementasikan UU No. 26/2000 2. Tanjung Priok - Tidak mengakui

a d a n y a pelanggaran HAM

- Tidak ada pelaku yang bersalah

- Tidak ada kompensasi kepada korban

- Putusan pertama, banding dan kasasi saling bertolak belakang

- Pada tingkat pertama ada yang dinyatakan bersalah dan ada kompensasi untuk korban, yang dianulir di tingkat banding dan kasasi.

- Pandangan hakim sangat berbeda dalam mengimplementasikan UU No. 26/2000 3. Abepura - Tidak mengakui

a d a n y a pelanggaran HAM

- Tidak ada pelaku yang bersalah

- Tidak ada kompensasi kepada korban

- Pada tingkat pertama pengadilan gagal menghukum pelaku dan kompensasi untuk korban

- Kelanjutan tingkat banding dan kasasi tidak jelas.

(35)

bahwa kelemahanan proses peradilan HAM terjadi dalam tahap mulai dari penyelidikan sampai dengan pemeriksaan di pengadilan. Persoalan ketidakcukupan regulasi disebut-sebut menjadi salah satu faktor yang mendorong kegagalan pengadilan. Faktor lainnya yang juga diduga sebagai faktor yang memperlemah pengadilan HAM adalah kapasitas para penegak hukumnya baik mulai tingkat penyelidikan, penyidikan, penuntutan dan tidak terkecuali para hakim yang mengadili kasus-kasus pelanggaran HAM yang berat ini.18

Sejalan dengan kegagalan di level pengadilan, pada tahun 2006, Mahkamah Konstitusi (MK) membatalkan UU KKR karena dianggap bertentangan dengan konstitusi dan lebih khusus bertentangan dengan hukum ham dan hukum humaniter internasional. Mahkamah kemudian memandatkan untuk membentuk UU KKR yang baru yang lebih sesuai dengan hukum HAM internasional dan Konstitusi.19 Keputusan ini menggagalkan upaya untuk membuka serangkaian pelanggaran HAM masa lalu melalui mekanisme pencarian kebenaran.20 Padahal, pada tahun 2006 juga terbentuk UU No. 11 tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh yang memandatkan pembentukan KKR Aceh dan pengadilan HAM di Aceh. Pembentukan KKR Aceh dimaksudkan untuk menyelesaian pelanggaran

18 Lebih jauh tentang berbagai aspek kegagalan ini dapat dilihat dalam tulisan “Pengadilan Yang Melupakan Korban”, Laporan Pemantauan, Kelompok Kerja Pemantau, Pengadilan Hak Asasi Manusia , ELSAM – KONTRAS – PBHI, 24 Agustus 2006

19 Lihat putusan terhadap perkara 006/PUU-IV/2006,. Putusan ini muncul sebagai akibat dari adanya judicial review yang dilakukan sejumlah organisasi (LSM) dan korban atas sejumlah pasal dalam UUKKR dan bukan untuk membatalkan keseluruhan UU KKR. Analisis selengkapnya lihat dalam tulisan “Ketika Prinsip Kepastian Hukum Menghakimi Konstitusionlias Penyelesaian Pelanggaran HAM Masa Lalu : Pandangan kritis atas putusan MK dan implikasinya bagi penyelesaian pelanggaran HAM di masa lalu”, ELSAM, 19 Desember 2006.

(36)

HAM masa lalu di Aceh yang merupakan bagian dari KKR Indonesia.21

Pembatalan UU KKR dan kegagalan pengadilan HAM semakin memperbesar problem impunitas di Indonesia. Terdapat pandangan bahwa pembuatan upaya pembentukan Pengadilan HAM dan KKR tampaknya lebih banyak digunakan oleh pemerintah untuk kebutuhan politik diplomatisnya, ketimbang untuk menyelesaikan problem di masa lalu, membela para korban apalagi untuk mencari keadilan dan kebenaran. Terkesan prakteknya akan melegalisir praktek impunitas, dimana para pelaku kejahatan HAM tidak akan pernah di hukum, tapi justru mendapatkan pengampunan. Pola-pola impunitas itu adalah; pertama, pelaku sama sekali tidak disentuh oleh proses hukum. Kedua, pelaku dibebaskan oleh hakim dalam proses pengadilan, baik di tingkat pertama, banding maupun kasasi. Ketiga, kasus dipeti-eskan atau dibiarkan mengambang dengan alasan-alasan teknis yuridis-prosedural.22

21 Lihat pasal 229 UU No. 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh.

(37)

Hasil Tiga Pengadilan HAM

No Kasus Perkembangan Kasus

Kompen-sasi

1. Pelanga-ran HAM di Timor-Timur

Terdakwa Tingkat I Banding Kasasi Tidak ada satupun putusan tentang Kompen-sasi, Res-titusi dan rehabili-tasi Kepada Korban 1. Adam Damiri 3 Tahun Bebas

-2.Tono Suratman Bebas Bebas 3. M. Noermuis 5 Tahun Bebas bebas 4. Endar Prianto Bebas Bebas 5. Asep Kuswani Bebas Bebas 6. Soejarwo 5 Tahun Bebas Bebas 7. Yayat Sudrajat Bebas Bebas Bebas 8.Liliek Koe-shadiyanto Bebas Bebas 9.Achmad Syamsudin Bebas Bebas

10. Sugito Bebas Bebas

11. Timbul Si-laen

Bebas Bebas

12. Adios Salova Bebas Bebas 13. Hulman

Gultom

3 Tahun Bebas Bebas

14. Gatot Suby-aktoro

Bebas - Bebas

15. Abilio Jose Osorio Soares

3 Tahun 3 Tahun 3 Tahun

(PK Bebas) 16. Leonito

Mar-tens

Bebas - Bebas

17. Herman Sedyono

Bebas - Bebas

18. Eurico Gu-terres

(38)

2. Pelang-garan HAM di Tanjung Priok 1.Rudolf Adolf Butar-butar

10 tahun Bebas Pada Tk. Pertama terdapat kompensa-si, tingkat Banding dengan bebasnya terdakwa tidak ada putusan yang jelas tentang Kompensa-si tersebut. 2. Pranowo Bebas Bebas Tidak ada

kompensasi 3. Sriyanto Bebas Bebas Tidak ada

kompensasi 4. Sutrisno

Mas-cung

3 Tahun Bebas Bebas Pada Tk. Pertama terdapat kompensa-si, tingkat Banding dengan bebasnya terdakwa tidak ada putusan yang jelas tentang Kompensa-si tersebut. 5. Asrori 2 Tahun Bebas Bebas

6. Siswoyo 2 Tahun Bebas Bebas 7. Abdul Halim 2 Tahun Bebas Bebas 8. Zulfata 2 Tahun Bebas Bebas 9. Sumitro 2 Tahun Bebas Bebas 10. Sofyan Hadi 2 Tahun Bebas Bebas 11. Prayogi 2 Tahun Bebas Bebas 12. Winarko 2 Tahun Bebas Bebas 13. Idrus 2 Tahun Bebas Bebas 14. Muhson 2 Tahun Bebas Bebas

3. Pelangga-ran HAM di Papua (Abepu-ra). Jhoni Wainal Usman

Bebas Tidak ada

(39)

Pola impunitas pertama dan kedua sudah terbukti dan pola yang ketika inilah yang terjadi pada kasus tragedi Mei 1998 dan kasus Trisakti-Semanggi I dan II, dan lainnya. Sampai dengan tahun 2008, nasib hasil penyelidikan Komnas HAM juga tidak jelas kelanjutanya. Sejumlah problem masih mengganjal soal pembentukan pengadilan HAM karena Kejaksaan Agung tidak mau melakukan penyidikan dari hasil laporan Komnas HAM. Setidaknya terdapat 5 hasil penyelidikan Komnas HAM kasus yang saat ini mandeg di Kejaksaan. Pokok persoalan dari tahun ke tahun masih sama, yaitu ketidakmauan Kejaksaan Agung untuk melakukan penyidikan dengan berbagai alasan misalnya untuk pelanggaran HAM yang terjadi sebelum tahun 2000 belum ada rekomendasi dari DPR dan untuk pelanggaran HAM yang terjadi setelah tahun 2000 masih ada berbagai hal yang harus dilengkapi oleh Komnas HAM.

Kasus-kasus Yang Mandeg

No Kasus Posisi Keterangan

1. Trisakti, Semanggi I dan Semanggi II

Di Kejaksaan Agung Tidak ada rekomendasi DPR

2. Wasior dan Wamena Di kejaksaan Agung Kejaksaan Agung meminta Komnas HAM melengkapi penyelidikan 3. Penghilangan Paksa

1997-1998

Di kejaksaan Agung Belum ada rekomendasi DPR. Baru pada akhir September 2009 muncul rekomendasi pembentukan Pengadilan HAM ad hoc.

4. Talangsari Di kejaksaan Agung Belum ada rekomendasi DPR

(40)

Agung untuk melakukan penyisikan. MK dalam putusannya berpendapat bahwa untuk menentukan perlu tidaknya pembentukan Pengadilan HAM ad hoc atas suatu kasus tertentu menurut locus dan tempus delicti

memang memerlukan keterlibatan institusi politik yang mencerminkan representasi rakyat yaitu DPR. Akan tetapi, DPR dalam merekomendasikan pembentukan Pengadilan HAM ad hoc harus memperhatikan hasil penyelidikan dan penyidikan dari institusi yang memang berwenang untuk itu. Oleh karena itu, DPR tidak akan serta merta menduga sendiri tanpa memperoleh hasil penyelidikan dan penyidikan terlebih dahulu dari institusi yang berwenang, yaitu Komnas HAM sebagai penyelidik dan Kejaksaan Agung sebagai penyidik sesuai ketentuan Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2000.23 Keputusan ini harusnya menjadi jalan pembuka baru bagi tersendatnya proses pembentukan pengadilan HAM ad hoc.

Perkembangan kasus-kasus pelanggaran HAM masa lalu sedikit ada perkembangan ketika pada akhir tahun Panitia Khusus (Pansus) Orang Hilang yang dibentuk oleh DPR untuk menyelesaikan kasus orang hilang pada tahun 1997-1998. Pasus ini dianggap bersifat politis karena berencana memanggil sejumlah petinggi militer pada masa lalu yang terkait dengan kasus ini diantaranya Wiranto dan Prabowo yang dianggap akan menjegal mereka dalam pemilu tahun 2009. Pansus ini sebetulnya sudah dibentuk sejak Februari 2008.24 Tidak jelas arah pansus ini karena dalam perkembangannya, pansus sepertinya tidak hanya melaksanakan tugasnya untuk membantu DPR memberikan rekomendasi tentang pembentukan pengadilan HAM ad

23 Putusan MK No 18/PUU-V/2007 tanggal 21/2/2008.

(41)

hoc namun juga melakukan penyelidikan ulang terkait kasus ini. Sampai dengan awal tahun 2009 hasil pansus belum terlihat.25 Akhirnya, pada 28 September 2009, DPR merekomendasikan kepada Presiden untuk membentuk Pengadilan HAM ad Hoc untuk kasus Penghilangan Paksa 1997-1998.26 Namun, hasil rekomendasi ini perlu terus dipantau agar jelas implementasinya.

Mandegnya dua mekanisme tersebut menjadikan proses akuntabilitas pelanggaran HAM yang berat di Indonesia kian tidak jelas. Tidak ada perkembangan khusus terkait dengan pelanggaran HAM masa lalu dan akuntabilitas untuk sejumlah pelanggaran HAM yang terjadi paska Tahun 2000. Semua proses yang berjalan mandeg ditengah jalan. Padahal. berdasarkan pada Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia (RANHAM), peningkatan upaya penyelesaian pelanggaran HAM yang berat adalah salah satu rencana yang dicanangkan pada periode 2004-2009. Selain itu adalah peningkatan pengembangan standar operasional pembuktian (SOP) untuk pelanggaran HAM yang berat dan Pembentukan Komisi Kebenaran dan Rekonsilasi sebagai sarana penyelesaian pelanggaran HAM yang berat.27

Hingga kini, upaya-upaya perbaikan pengadilan HAM juga belum terlaksana, demikian juga pembentukan UU KKR baru yang masih jauh dari kenyataan. Sampai titik ini pula, impunitas masih terus berlangsung, sementara para korban menunggu keadilan tanpa ada kepastian.

25 Lihat Laporan Hukum dan HAM, “2008 : Perjuangan Melawan Lupa”, Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), Januari 2009.

26 Terdapat 4 rekomendasi dari DPR yaitu yaitu pembentukan Pengadilan HAM ad hoc untuk menangani kasus orang hilang, memberikan kompensasi kepada

keluarga korban, pencarian 13 orang hilang yang belum ditemukan dan ratiikasi

Konvensi HAM PBB tentang penghilangan orang secara paksa.

(42)

Ratifikasi Statuta Roma sebagai Pendorong

Penghen-tian Praktek Impunitas di Indonesia

Kemandekan mekanisme pertanggungjawaban pelanggaran HAM yang berat di Indonesia saat ini menunjukkan adanya impunitas terhadap para pelaku pelanggaran hak asasi manusia. Sampai dengan tahun 2009, meski terdapat berbagai pengadilan, tidak ada satu pelaku pelanggaran HAM yang berat dijatuhi pidana dan adanya pemenuhan hak-hak kepada para korban. Problem impunitas ini sudah sejak lama diidentifikasi oleh berbagai kalangan. Pada tahun 2000 persoalan impunitas ini mengemuka karena berbagai pelanggaran HAM yang tengah terjadi di Aceh dan Papua, tidak mendapatkan prioritas bahwa cenderung untuk diabaikan dan negara cenderung melakukan pembiaran terus menerus.28

Kegagalan pengadilan ini sebetulnya tidak menurunkan semangat untuk memperbaiki sistem peradilan dan akuntabilitas terhadap pelanggaran hak asasi manusia di Indonesia. Pada tahun 2004 Presiden Megawati Sukarnoputeri mengesahkan Rencana Aksi Nasional tentang Hak-Hak Asasi Manusia (RANHAM) 2004 -2009. Rancangan tersebut menyatakan bahwa Indonesia bermaksud meratifikasi Statuta Roma pada tahun 2008. Demikian pula dengan Parlemen Indonesia yang pada Agustus 2006, perwakilan parlemen Indonesia berpartisipasi dalam konferensi regional dengan seluruh parlemen Asia tentang Mahkamah Pidana Internasional dan berjanji akan bekerja untuk mengupayakan ratifikasi/aksesi pada tahun 2008 atau lebih cepat. Tahun 2007 telah didirikan

(43)

pula Parliamentarian for Global Action (PGA) Indonesia Chapters, dimana sekretariat internasional PGA selama ini sangat aktif mendukung universalitas Mahkamah Pidana Internasional.29

Niat baik pemerintah untuk meratifikasi itu ternyata tidak sejalan dengan kemajuan dan perbaikan penegakan HAM, termasuk perbaikan akuntabilitas melalui pengadilan HAM. Selama tahun 2007, berbagai masalah HAM yang terjadi ternyata tidak diselesaikan oleh aparatus negara. Fakta ini bertentangan dengan komitmen dan janji Pemerintah Indonesia terhadap Dewan HAM dan komunitas Internasional. Kasus-kasus tersebut antara lain, penculikan aktivis 97-98, Tragedi Mei, Trisakti Semanggi I dan II dan Timor Leste.30

Selain kemandekan berbagai kasus pelanggaran HAM yang berat, penyelesaian kasus Munir juga menunjukkan masih kuatnya impunitas di Indonesia. Bebasnya Muchdi PR dalam dugaan pembunuhan terhadap pejuang HAM Munir adalah menambah daftar panjang kasus-kasus impunitas yang selalu dipertanyakan dunia Internasional kepada Pemerintahan Indonesia. Sampai saat ini problem impunitas (kekebalan) hukum masih menjadi penghalang penegakkan HAM di Indonesia.31

Melihat berbagai kegagalan dalam proses pengadilan dan khususnya pengadilan HAM, maka bisa dikatakan

29 Lihat Kertas Kerja, Indonesia Menuju Ratiikasi Statuta Roma, Koalisi Masyarakat Sipil Untuk Mahkamah Pidana Internasional, 2008.

30 Lihat Press Release, Mempertegas Komitmen Internasional Untok kondisi HAM di Indonesia, Imparsial, 15 Maret 2007. http://www.imparsial.org/pers_release/ index.php?year=2007&month=3&action=READ&lang=id-8859&id=pers_ release45f915a9669ef

(44)

mekanisme yang dibuat justru menjadi tempat berlindungan yang aman bagi para pelaku. Contoh 3 pengadilan HAM yang digelar menunjukkan penanganan kasus pelanggaran HAM yang berat yang terjadi di Indonesia yang berakhir dengan kegagalan Pengadilan untuk menemukan dan menghukum para pelakunya. Sementara kemandekan kasus-kasus lainnya menunjukkan kompleksitas prosedural yang dihadapi dan kemauan pemerintah secara serius untuk menyelesaikannya.

Pada sisi lain, pembentukan Mahkamah Pidana Internasional bertujuan untuk menghentikan dan mencegah praktik impunitas terhadap pelaku kejahatan internasional yang serius yang diatur oleh Statuta Roma serta membuat perubahan signifikan atas perilaku aktor negara-bangsa. Terdapat dua faktor penting keberadaan Mahkamah Pidana Internasional sebagai pencegah terjadinya kejahatan serius internasional sebagaimana diatur dalam Statuta Roma.

Pertama, para penguasa tidak dapat lagi melakukan praktik dengan alasan apapun termasuk melakukan impunitas dengan maksud melindungi menggunakan mekanisme hukum nasional baik dengan jalan menggelar pengadilan yang bertujuan melindungi pelaku yang ataupun pengampunan

(amnesty). Kedua, para pelaku selain tidak dapat berlindung melalui mekanisme perundangan nasional negaranya juga tidak dapat berlindung pada negara lain sekalipun negara itu bukan menjadi pihak dari statuta. Dalam praktiknya, negara-negara yang telah menjadi pihak telah melakukan transformasi terhadap Statuta Roma tentang Mahkamah Pidana Internasional sehingga ketentuan-ketentuan statuta menjadi bagian dari hukum nasional secara penuh.

(45)

meratifikasi atau mengaksesi Statuta Roma menjadi pilihan yang penting. Hal ini mengingat peranan ICC dan juga kewajiban dan hak negara pihak yang meratifikasi. Dengan meratifikasi atau aksesi berbagai perubahan positif diharapkan terjadi misalnya mempercpat proses reformasi hukum di Indonesia, efektifitas hukum nasional, dan peningkatan upaya perlindungan HAM.

Dengan meratifikasi Statuta Roma, Indonesia punya kewajiban untuk memperbaiki mekanisme pengadilan HAM sesuai dengan standar-standar ICC. Artinya, berbagai kelemahan pengadilan HAM yang menghambat penghukuman yang efektif dan hambatan untuk memberikan keadilan kepada korban harus segera diperbaiki dengan melakukan langkah-langkah perbaikan baik dari sisi regulasi maupun berbagai sisi yang lainnya. perbaikan-perbaikan ini akan menjadikan perbaikan sistem pengadilan HAM untuk mampu menjerat secara efektif pelaku pelanggaran HAM yang berat dan memberikan keadilan kepada para korban.

Penutup

ICC merupakan mekanisme akuntabilitas terhadap kejahatan-kejahatan yang paling serius yang menjadi concern masyarakat seluruh dunia. Mekanisme ini salah satu tujuannya adalah menghentikan praktek impunitas dan pencegah terjadinya kejahatan-kejahatan tersebut terjadi dan ICC memberikan kesempatan pertama (kepada hukum nasional suatu negara untuk melakukan proses penuntutan dan penghukuman terhadap pelaku kejahatan yang paling serius tersebut.

(46)
(47)
(48)

Kejahatan terhadap

Kemanusiaan: Terobosan

Jurisprudensi Internasional dan

ICC

Galuh Wandita

Selama tanggal 30 s/d 13 September 1999 Ana ditangan TNI, Polisi, dan milisi Darah Merah dan diperlakukan

sesuai dengan kehendak mereka. Pada tanggal 11 September Ana minta kepada mereka untuk diantar kerumah untuk menengok kedua anaknya. Setelah sampai di rumah dan dihadapan saya Ana ditarik dan ditelanjangi dan diperkosa secara bergiliran di halaman rumah. Yang

lain berjaga-jaga dan saya juga diancam akan dibunuh. Saya tahu persis ditubuh Ana ada bekas luka bakar mulai dari kemaluan sampai di payudara, juga bekas siraman air panas. Dan mereka masih sempat keluarkan uang dari saku

celana Ana sebanyak Rp 200.000. Tanggal 12 September Ana dibonceng oleh seorang anggota Kodim berkeliling

(49)

harinya] seorang komandan Darah Merah [memanggil Ana untuk ikut dalam mobilnya.] … mulai pagi itu saya menunggu hingga sore tidak ada yang muncul. Tiba-tiba ada seorang tentara yang memberitahukan, “Mama jangan

menunggu terus karena [Ana] sudah dibunuh.” 1 Kejahatan terhadap kemanusiaan mempunyai akar dalam sejarah manusia yang cukup jauh kebelakang, tetapi biasanya dianggap bahwa secara formal ‘kejahatan terhadap kemanusiaan’ digunakan untuk pertama kalinya dalam pengadilan militer Nuremberg dan Tokyo sesudah Perang Dunia Kedua. Pada waktu itu sudah ada beberapa kesepakatan internasional untuk kejahatan perang, misalnya Konvensi den Haag (1907), Konvensi Jenewa (1949) yang mengatur peraturan perang antar negara.2 Tetapi belum ada

kejahatan perang yang dilakukan terhadap warga-negara sendiri. Dalam konteks rejim Nazi di Jerman pemusnahan warga-negara Jerman yang beragama Yahudi, musuh-musuh politik, dan orang-orang pinggiran seperti kaum homoseksual –ada diluar jurisdiksi kejahatan perang. Sehingga pada saat itu, perlu ada sebuah konstruksi kejahatan internasional yang baru yang mencakup kejahatan terhadap warga-negaranya sendiri.

Pengadilan militer ini diselenggarakan oleh para pemenang Perang Dunia Kedua dan sering dikritik sebagai ‘keadilan pemenang’ atau victor’s justice. Tetapi pengamat dan praktisi pengadilan internasional memandang bahwa Pengadilan Nuremberg dan Tokyo menaruh fondasi yang

1 Kesaksian Ines Lemos pada Audiensia Publik Perempuan dan Konlik, yang

diadakan CAVR, di Dili, April 2003. Ia menceritakan penculikan, perkosaan dan pembunuhan anaknya, Ana Lemos, seorang guru dan aktivis prokemerdekaan di Ermera.

(50)

kuat untuk proses peradilan internasional, karena:

• Menjamin hak-hak terdakwa

• Hak untuk mendapat pembelaan hukum

• Hak untuk mendapatkan surat dakwaan dalam

bahasa yang dapat dimengerti oleh terdakwa

• Putusan yang berdasarkan hukum

• Proses peradilan mencegah eksekusi seketika

Dibawah Pasal 6 Piagam Mahkamah Militer Internasional, kejahatan terhadap kemanusiaan didefinisikan sebagai “…pembunuhan, pembasmian (extermination), perbudakan, deportasi dan tindakan tidak manusiawi yang dilakukan terhadap masyarakat sipil, sebelum atau sesudah perang; atau persecution berdasarkan politik, ras, agama yang dilakukan berkaitan dengan kejahatan yang berada dibawah jurisdiksi mahkamah tidak tergantung apakah kejahatan tersebut meruppakan pelanggaran dalam undang-undang domestik dimana kejahatan itu terjadi.”3

Definisi ini berkontribusi pada 2 prinsip modern kejahatan terhadap kemanusiaan –bahwa kejahatan tersebut dapat terjadi dalam maupun diluar konteks perang, dan bahwa kejahatan ini mempunyai jurisdiksi universal –tidak terbatas pada undang-undang domestik.

Walaupun kekerasan seksual terjadi dalam Perang Dunia II terjadi secara meluas dan sistematik, kedua mahkamah militer ini tidak mengadili kekerasan seksual secara optimal. Perkosaan tidak disebut dalam piagam yang menjadi landasan hukum kedua pengadilan, walupun

(51)

dalam salah-satu peraturan yang dibuat Sekutu, Allied Local Council Law no 10, perkosaan disebut dalam daftar kejahatahan terhadap kemanusiaan. Namun perkosaan tidak disebutkan baik dalam dakwaan-dakwaan maupun putusan pengadilan Nuremberg. Dalam pengadilan Tokyo perkosaan disebutkan dalam bukti-bukti yang dipaparkan didepan pengadilan dan menjadi bagian dari putusan pertanggung-jawaban komando terhadap Jendral Toyoda dan Matsui, serta beberapa orang lainnya.4

Ada dua perangkat hukum lainnya yang muncul paska-Perang Dunia Kedua, yaitu Konvensi Genosida (1948) dan Konvensi-konvensi Jenewa (1949).5 Namun walaupun

ada ‘persenjataan hukum’ ini Perang Dingin membuat dunia internasional tidak berdaya, khususnya mekanisme PBB lumpuh dihadapan berbagai pelanggaran HAM berat— pembantaian di Indonesia, Timor-Leste, Kamboja beberapa contoh dari Asia.

Sebagai respon dari ‘pembantaian etnis’ di Balkan, Dewan Keamanan PBB yang sudah terbebaskan dari belenggu Perang Dingin menggunakan kekuasaannya untuk menentukan sebuah ancaman terhadap perdamaian internasional dan tindakan untuk memulihkan perdamaian. Sebuah terobosan radikal dilakukan oleh Dewan Keamanan yang membuat keputusan untuk mendirikan sebuah Pengadilan Adhoc untuk Yugolsavia (ICTY) pada tahun 1993. Lebih dari satu tahun kemudian, pengadilan yang serupa didirikan untuk genosida di Rwanda (ICTR).

4 Asian Legal Resource Center, Speciic Context of Sexual Torture. http://www.

alrc.net/mainile.php/torture/151 (retrieved February 20, 2003.)

5 Perkosaan dan kekerasan seksual tidak disebut secara khusus dalam Konvensi Genosida, walaupun dapat diinterpretasi sebagai salah satu unsur kejahatan

genosida, yaitu ‘menyebabkan kerusakan isik dan mental yang serius pada

(52)

Dalam waktu singkat, dibentuk dua pengadilan untuk mengadili kejahatan internasional yang maju dengan pesat, sesudah lebih dari empat dasawarsa adanya impunitas de-facto bagi pelaku kejahatan internasional. Ada beberapa pencapaian ICTY dan ICTR, termasuk jurisdiksi universal untuk perang saudara, penangkapan terdakwa secara lintas-negara, dan penuntutan yang berhasil untuk perkosaan dan kekerasan seksual sebagai kejahatan internasional. Kedua pengadilan internasional ini menjadi batu-landasan untuk dikembangkannya Statuta Roma untuk didirikannya mahkamah pidana internasional (ICC), dan turut mendesak pengadilan-pengadilan domestik dibeberapa negara untuk melaksanakan jurisdiksi universal atas kejahatan internasional.

Putusan-putusan ICTY dan ICTR tentang kekerasan

seksual sebagai kejahatan internasional:

6

Perkosaan sebagai pe-nyiksaan

Dalam kasus Celibici (1998), pengadilan ICTY memutus-kan bahwa perkosaan terhadap perempuan dalam kamp penjara Celebici adalah tindakan penyiksaan. Hazim Delic, seorang wakil pimpinan camp, bersalah atas pelanggaran berat Konvensi Jenewa (penyiksaan) dan kejahatan perang (penyiksaan) karena perkosaan-perkosaan yang dilakukan-nya. Zdravko Mucic diputuskan mempunyai pertanggung-jawaban komando atas kejahatan-kejahatan yang terjadi dalam kamp tersebut, termasuk penyerangan seksual. Putusan bersejarah ini menyatakan bahwa perkosaan me-nyebabkan penderitaan berat secara fisik dan psikologis yang dapat dikategorikan sebagai penyiksaan. Dalam pu-tusannya, hakim menulis bahwa kekerasan seksual, “me-nyerang inti dari martabat manusia dan integritas fisik.” Putusan ini juga menekankan bahwa terjadi dua bentuk pelanggaran –perempuan diperkosa karena ia perempuan, dan perempuan diperkosa karena etnisitasnya—sehingga diskriminasi jender menjadi unsur dari kejahatan penyik-saan.

(53)

Perkosaan sebagai keja-hatan terhadap kemanusiaan

Dalam putusan Akayesu (1998), ICTR menemukan ter-dakwa bersalah atas kejahatan terhadap kemanusiaan kar-ena ia menyaksikan dan mendorong terjadinya perkosaan perempuan Tutsi sebagai pimpinan komunitasnya. Pengadi-lan menyatakan bahwa perkosaan terjadi secara sistematis dan meluas.

Dalam kasus Tadic, ICTY mendengar kesaksian tentang perkosaan dan kekerasan seksual yang terjadi di kamp pe-nahanan Omarska dan Trnoploce. Tadic bersalah melaku-kan kejahatan terhadap kemanusiaan atas pemukulan yang ia lakukan terhadap perempuan Muslim di kamp tersebut. Perbudakan

seksual sebagai kejahatan terh-adap kemanu-siaan

Dalam kasus Foca (1996), ICTY membuat keputusan bersejarah tentang perkosaan dan perbudakan seksual sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan. Dalam kasus ini, sembilan orang disekap dalam sebuah apartemen oleh paramiliter elit Serbia, mengalami perkosaan beruntun, dan dipaksa bekerja didalam dan diluar rumah. Empat orang perempuan akhirnya ‘dijual’ pada tentara lain, walaupun dalam putusan pengadilan ini, penjualan bukan pra-syarat pembuktian perbudakan seksual.

Perkosaan se-bagai genosida

Dalam kasus Akayesu (1998), terdakwa dinyatakan ber-salah atas kejahatan genosida. Bukti-bukti yang didengar oleh pengadilan ICTR termasuk karena ia menyaksikan dan mendorong terjadinya perkosaan dan mutilasi seksual terhadap perempuan Tutsi sebagai bagian dari kampanye genosida, pada saat ia menjadi pimpinan komunitasnya Perkosaan

sebagai pe-langgaran hu-kum kebiasaan perang

Dalam kasus Furundzija (1998), pengadilan ICTY memu-tuskan bahwa Anto Furundzija, seorang pimpinan militer Croat Bosnia, bersalah dalam membantu (aiding and abet-ting) perkosaan seorang perempuan Muslim Bosnia. Ia din-yatakan memberi “dukungan, bantuan, dukungan moral” dalam perkosaan seorang perempuan oleh bawahannya yang sedang diinterogasi oleh Furundzija.

Pertanggung-jawaban ko-mando untuk perkosaan

(54)

Perkosaan sebagai keja-hatan perang dalam perang internal

Akayesu juga dituntut melakukan kejahatan perang perko-saan dalam perang saudara ini. Namun tuntutan ini ditarik kembali karena tidak ditemukan cukup bukti bahwa ia menjadi anggota militer, atau mempunyai tugas-tugas mi-liter.

Kehamilan yang dipak-sakan sebagai genosida

Dalam putusan Akayesu, disebut bahwa apabila ada perko-saan yang terjadi dengan maksud ‘mencemarkan’ garis keturunan etnis ini dapat menjadi unsur dari kejahatan genosida.

Putusan-putusan pengadilan ICTY dan ICTR memutuskan mata-rantai impunitas untuk kejahatan berbasis jender yang sudah sekian lama bertahan. Walaupun terobosan ini terjadi karena adanya sebuah ruang khusus ditingkatan internasional tidak menutup kemungkinan bahwa terobosan-terobosan ini bisa, lambat laun, juga mempengaruhi bagaimana pengadilan domestik dapat menghadirkan keadilan untuk korban-korban kejahatan berbasis jender di tingkat nasional.

Terobosan Statuta Roma untuk Kejahatan berbasis

Jender

7

Berdasarkan jurisprudensi diatas, Statuta Roma membangun terobosan untuk mengintegrasikan kejahatan seksual dalam kerja-kerja pokok ICC. Terobossan ini dapat dilihat dalam 3 ruang: substansi, prosedur, dan struktur.

Substansi Kejahatan Berbasis Jender dalam Statuta Roma

• Statuta Roma secara eksplisit telah menyatakan

7 Ulasan dibawah ini disadur dari “GENDER IN PRACTICE: Guidelines &

Methods to address Jender Based Crime in Armed Conlict” oleh Women’s

(55)

bahwa tindakan-tindakan sbb: pemerkosaan, perbudakan seksual, prostitusi paksa, kehamilan paksa, sterilisasi paksa, dan bentuk-bentuk kekerasan seksual lainnya sebagai kejahatan perang, baik di dalam konflik bersenjata internasional maupun non-internasional dan juga sebagai

kejahatan kemanusiaan. ( Lihat Pasal 8(2)(b)(xxii), 8(2)(e)(vi) dan 7(1)(g).)

• Statuta Roma mengadopsi deinisi genosida melalui

Konvensi Genosida, dimana dinyatakan, antara lain, bahwa tindakan mencegah kehamilan bisa menjadi salah-satu tindakan genosida. (Lihat Pasal 6.)

• Statuta Roma juga menyatakan secara spesiik

bahwa aplikasi dan interpretasi dari hukum harus dijalankan tanpa perbedaan yang mendiskriminasi, termasuk dari perspektif jender. (Lihat Pasal 21(3).)

Perlindungan saksi dan partisipasi korban, yang

bersa-habat dengan perempuan

(56)

harus mempertimbangkan perlindungan saksi dan korban ini didalam tahap penyelidikan dan persidangan. (Lihat Pasal 68.)

Unit Saksi Korban: Statuta Roma juga membentuk sebuah Unit Saksi dan Korban (Victim and Witness Unit – VWU) di dalam tubuh panitera ICC. VWU bertugas menyediakan perlindungan, keamanan, konseling dan bentuk bantuan lainnya bagi korban dan saksi yang muncul sebelum Persidangan, dan orang – orang lainnya yang berisiko. (Lihat Pasal 43.)

Partisipasi: Statuta Roma mengakui hak korban secara eksplisit untuk berpartisipasi di dalam proses peradilan, baik secara langsung maupun melalui representasi hukum mereka, dengan diberikannya kesempatan untuk menyampaikan pandangan dan kekhawatiran mereka dalam proses persidangan. (Lihat Pasal 68(3).)

Reparasi:

Statuta Roma memberi kekuatan

kepada Mahkamah untuk membuat

prinsip-prinsip kerja, dan dalam situasi khusus,

memberikan reparasi kepada korban, termasuk

dengan cara memberikan restitusi, kompensasi

dan rehabilitasi. (Lihat Pasal 75.)

Keterlibatan Perempuan dalam ICC

Personil perempuan di dalam tubuh Mahkamah:

(57)

Umum dan Panitera. (Lihat Pasal 36 (8)(a)(iii); Pasal 44(2).)

Pakar Trauma: Panitera diwajibkan mempunyai staf yang memiliki keahlian dalam bidang trauma, termasuk trauma yang berkaitan dengan kekerasan seksual. (Pasal 43(6).)

Keahlian tentang Kekerasan terhadap Perempuan:

Statuta Roma mensyaratkan adanya keahlian dalam persoalan kekerasan terhadap perempuan dan anak-anak dalam memilih hakim, penuntut dan staf lainnya, untuk memastikan adanya penyelidikan dan penuntutan kejahatan jender. (Lihat Pasal 42 (9), 44(2) dan 36(8).)

Dana Abadi bagi Korban: Statuta Roma mensyaratkan didirikannya Penyandang Dana Abadi untuk kepentingan korban dari kejahatan yang tersebut di dalam jurisdiksi Mahkamah, dan untuk keluarga mereka. (Pasal 79)

(58)

sebagai Kejahatan terhadap Kemanusiaan,” sbb:

Pelaku menginvasi tubuh seseorang dengan tindakan yang mengakibatkan penetrasi, sedikit apapun, dari bagian manapun dari tubuh korban atau pelaku dengan organ seksualnya, atau lubang anus atau kelamin korban dengan benda apapun atau dengan bagian tubuh manapun.

1. Invasi dilakukan dengan paksa, atau dengan ancaman paksa atau pemaksaan, seperti yang mengakibatkan rasa takut akan kekerasan, di bawah paksaan, penahanan, penekanan psikologis atau penyalah-gunaan kekuasaan, terhadap orang tersebut atau orang lain, atau dengan mengambil kesempatan dari lingkungan yang koersif, atau invasi dilakukan atas seseorang yang tidak mampu untuk memberikan persetujuan yang sesungguhnya.

2. Tindakan ini dilakukan sebagai bagian dari penyerangan sistematik atau luas terhadap masyarakat sipil.

3. Pelaku mengetahui bahwa tindakannya adalah bagian dari atau berniat bahwa tindakannya adalah bagian dari penyerangan luas atau sistematik terhadap masyarakat sipil.8

Sampai dengan sekarang ICC masih dalam proses investigasi dan persiapan dakwaan. Penuntut Umum Moreno-Ocampo telah menyiapkan beberapa dakwaan penting untuk kasus-kasus di Afrika, namun sangat disayangkan dengan perangkat hukum yang begini lengkap, masih belum

(59)

ada dakwaan yang mengikut-sertakan kejahatan kekerasan seksual.9 Di lain pihak, standar yang telah dikembangkan di

ICC sepatutnya menjadi contoh bagaimana mengupayakan keadilan jender dalam proses pengadilan di tingkat nasional.

Penutup

Jurisprudensi kekerasan seksual dalam pengadilan ICTY dan ICTR, maupun dalam Statuta Roma, tidak muncul dengan sendirinya. Kekerasan seksual juga terjadi dalam skala yang luas dan sistematis pada Perang Dunia Kedua, namun sampai sekarang masih terselubung kabut impunitas. Dalam pengadilan ICTY, ICTR, ada penekanan dan dorongan dari kelompok perempuan dan hak asasi manusia untuk mengangkat kekerasan seksual yang terjadi ke meja pengadilan. Sebelumnya, kelompok perempuan telah aktif mengangkat persoalan kekerasan seksual dalam konflik pada forum internasional seperti Konferensi Dunia Hak Asasi di Wina (1993) dan Konferensi Perempuan di Beijing (1995). Menurut Rhonda Capelon, surat dakwaan untuk kasus Akayesu pada awalnya tidak menyebut perkosaan. Ada pandangan dari pihak kejaksaan di ICTR bahwa perkosaan bukan kejahatan yang serius dan para perempuan yang hanya diperkosa cukup beruntung tidak dibunuh, walaupun sudah cukup banyak laporan NGO yang mengungkapkan kejahatan ini dalam konteks genosida di Rwanda. Satu-satunya hakim perempuan di ICTR, Hakim Navanethem Pillay, yang malahan mengungkapkan kekerasan seksual yang terjadi pada saat Hakim tersebut bertanya kepada saksi yang dihadirkan jaksa untuk memberi

(60)

kesaksian tentang kejahatan yang lain. Saksi J menceritakan bahwa anaknya yang berumur 6 tahun diperkosa oleh milisi Interahamwe sebelum membunuh suaminya. Saksi lain juga menceritakan bahwa ia diperkosa dan ia menyaksikan perkosaan perempuan-perempuan lainnya pada sat itu. Menurut Capelon, pihak jaksa tetap enggan memperbaiki dakwaan tetapi akhirnya, sesudah banyak surat dilayangkan kepada Chief Prosecutor Louise Arbour (mantan Komisaris Tinggi HAM PBB) oleh kelompok perempuan dan sebuah

amicus brief dimasukkan ke pengadilan, akhirnyan jaksa merubah dakwaannya.10

Demikian pula sebuah proses pengadilan untuk kekerasan seksual sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan tidak akan muncul dengan sendirinya di Indonesia. Harus ada upaya yang konsisten dan jangka-panjang untuk menjawab impunitas untuk kejahatan terhadap kemanusiaan secara umumnya, dan impunitas untuk kekerasan seksual sebagai bagian dari kejahatan terhadap kemanusiaan.

Beberapa upaya misalnya:

• Perhatian dan tekanan yang konsisten terhadap

proses pengadilan HAM berat yang telah atau akan berjalan di Indonesia. Termasuk melakukan dokumentasi dan advokasi untuk proses pengadilan pelanggaran HAM berat untuk kasus-kasus pelanggaran berbasis jender di Aceh, Papua, berkaitan dengan peristiwa 1965, dan juga yang terjadi di Timor-Timur pada tahun 1999 dan sebelumnya.

(61)

• Perhatian dan tekanan terhadap

mekanisme-mekanisme non-judisial yang adalah bagian dari proses melawan impunitas, seperti memastikan adanya kepekaan jender dalam draft RUU Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi di Indonesia.

• Pendekatan hukum tidak cukup, tanpa penguatan

korban dan komunitasnya, perubahan budaya yang mengorbankan korban, khususnya korban perempuan. Termasuk disini perhatian pada upaya treansformasi budaya dalam institusi-institusi penegak hukum.

• Proses pembelajaran dalam rangka ratiikasi ICC,

khususnya perubahan apa yang masih harus diperjuangkan untuk memastikan perangkat hukum domestik di Indonesia bisa mengadili kejahatan seksual sebagai pelanggaran HAM berat.

(62)

Harmonisasi Hukum Nasional

Reny Rawasita Pasaribu

Pengesahan perjanjian internasional dikenal melalui beberapa cara. UU No. 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional dalam Pasal 1 mengatur bahwa Pengesahan perjanjian internasional dapat dilakukan dalam bentuk ratifikasi (ratification), aksesi (accession), penerimaan (acceptance) dan penyetujuan (approval). Meski demikian yang paling umum digunakan dan juga seringkali membingungkan diantara keduanya adalah penggunaan istilah ratifikasi dan aksesi.

Ratifikasi yaitu apabila Negara yang akan mengesahkan suatu perjanjian internasional turut menandatangani naskah perjanjian internasional. Sedangkan aksesi (accession) yaitu apabila Negara yang akan mengesahkan suatu perjanjian internasional tidak turut menandatangi naskah perjanjian.

(63)

tindakan internasional dari suatu negara dengan mana dinyatakan kesepakatan untuk mengikatkan diri pada perjanjian.1 Sedangkan menurut Black’s Law Dictionary

ratifikasi adalah:

Confirmation and acceptance of a previous act, thereby making the act valid from the moment it was done.2

Dalam hukum ketatanegaraan, ratifikasi selalu diartikan sebagai tindakan persetujuan oleh suatu organ Negara terhadap perbuatan pemerintah untuk membuat perjanjian atau konfirmasi organ tersebut terhadap penandatangan suatu perjanjian oleh pemerintahnya.3

Dari sisi hukum perjanjian maka Ratifikasi pada esensinya adalah konfirmasi. Konfirmasi ini dibutuhkan karena pada era permulaan berkembangnya perjanjian internasional masalah komunikasi serta jarak geografis antar Negara merupakan faktor yang mengharuskan adanya ruang bagi setiap Negara untuk mengkonfirmasi setiap perjanjian yang telah ditandatangani oleh pejabatnya4.

Meski istilah yang tepat adalah aksesi dalam konteks

1 Budiono Kusumohamidjojo, Suatu Studi terhadap Aspek Operasional Konvensi

Wina Tahun 1969 tentang Hukum Perjanjian Internasional, Bandung: Binacipta, 1986, hlm.6. Pasal 2 Konvensi Wina Tahun 1969 tentang Perjanjian Internasional:

“ ‘ratiication’, ‘acceptance’, ‘approval’ and ‘accession’ mean in each case the international act so named whereby a state establishes on the international plane its consent to be bound by a treaty”.

2 Black’s Law Dictionary. 7th Edition (c) 1999.

3 Damos Dumoli Agusman, Apa Arti Pengesahan? Ratiikasi perjanjian Internasional.

http://www.scribd.com/doc/16710619/Apa-Arti-PengesahanRatifikasi-Perjanjian-Internasional, diakses tanggal 27 September 2009.

(64)

Statuta Roma karena Indonesia tidak ikut menandatangani Statuta Roma namun karena lebih dikenalnya istilah ratifikasi di kalangan masyarakat dan juga pengambil kebijakan maka demi kepentingan advokasi, koalisi menggunakan istilah ratifikasi ketimbang aksesi.

Karena materi Statuta Roma masuk kedalam beberapa kategori dalam Pasal 10 UU No. 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional maka pengesahan Statuta Roma harus dilakukan dengan bentuk Undang-Undang.5

Undang-Undang sebagai Bentuk Pengesahan

Meski UU Perjanjian Internasional mengatur bahwa pengesahan perjanjian internasional dapat dilakukan baik dengan undang-undang atau keputusan presiden (Pasal 9 ayat 2) namun karena materi muatan Statuta Roma setidaknya berkaitan dengan: i) masalah politik, perdamaian, pertahanan, dan keamanan negara. ii) kedaulatan atau hak berdaulat negara; ii) hak asasi manusia serta iv) pembentukan kaidah hukum baru maka pengesahan Statuta Roma harus dilakukan dengan undang-undang.

Terkait bentuk pengesahan ini maka setidaknya ada tiga peraturan yang menjadi dasar hukum pengesahan Statuta Roma dengan Undang-undang yaitu: UU No. 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional, UU No. 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan

(65)

undangan, dan Peraturan Pemerintah Nomor 68 Tahun 2005 tentang Tata Cara Mempersiapkan Rancangan Undang_ Undang, Rancangan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang, Rancangan Peraturan Pemerintah dan Rancangan Peraturan Presiden.

Meski sudah ada ketiga peraturan tersebut namun masih ada banyak ketidakjelasan dalam proses ratifikasi di Indonesia. UU 10 tahun 2004 hanya mengatur soal teknis pembuatan UU saja, misal bentuk baku UU pengesahan dan cara penulisannya. Perpres 68 tahun 2005 hanya sebatas mengatur pelaksanaan persiapan RUU di tingkat pemerintah sedangkan UU Perjanjian Internasional masih sangat umum mengatur prinsip-prinsip dasar perjanjian internasional. Beberapa pertanyaan mendasar yang sama sekali tidak ditemukan dalam peraturan tersebut yang sampai saat ini masih menjadi perdebatan dikalangan akademisi adalah:

a. Sejauh apa kewenangan inisiatif DPR sebagai pemegang kewenangan pembentukan undang-undang dalam proses ratifikasi?

b. Bagaimana harmonisasi hukum seharusnya dilakukan sebagai tindak lanjut dari ratifikasi?

(66)

Terkait kewenangan inisiatif DPR, dalam prakteknya ketidakjelasan kewenangan ini menimbulkan ketidakpastian dalam proses legislasi. Masyarakat yang ingin mendorong ratifikasi sebuah perjanjian internasional pasti akan kesulitan dalam melakukan advokasi karena tidak jelasnya pihak-pihak yang harus didekati karena ketidakjelasan pemegang kewenangan sebagaimana yang sempat dialami oleh Koalisi Masyarakat Sipil untuk Ratifikasi Statuta Roma. Disisi lain, ketidakjelasan ini memberikan peluang bagi pemerintah untuk berkelit dan menyalahkan DPR yang lambat bekerja ketika proses ratifikasi tidak juga dilakukan. Padahal, dalam banyak kasus ratifikasi keterlambatan proses berada pada pihak pemerintah yang lambat menyerahkan RUU ratifikasi kepada DPR.

Lambatnya pemerintah bekerja dalam proses ratifikasi dapat terlihat dari daftar UU ratifikasi yang dihasilkan DPR dimana sebagian besar UU ratifikasi tersebut adalah untuk perjanjian yang sudah jauh hari ditandatangani oleh pemerintah. Misalnya saja UU Pengesahan Perjanjian Ekstradisi antara Republik Indonesia dan Republik Korea

(Treaty on Extradition Between the Republic of Indonesia and The Republic of Korea) yang sudah ditandatangani sejak tahun 2000 oleh pemerintah namun baru diserahkan kepada Pimpinan DPR untuk diratifikasi pada 2005.

(67)

perjanjian tersebut terhadap hukum nasional. Idealnya ketika pemerintah sudah memutuskan menandatangani suatu perjanjian internasional maka sebelumnya sudah dilakukan kajian implikasi tersebut sehingga proses ketika ratifikasi diajukan kepada DPR, per

Referensi

Dokumen terkait