• Tidak ada hasil yang ditemukan

Menggelar Konsultasi Publik untuk Isu ICC

Sebagai elemen penting dalam upaya mendorong ratifikasi ICC, konsultasi publik adalah sebuah proses yang sangat penting. Konsultasi publik merupakan sebuah wadah untuk menghimpun pandangan dan masukan dari berbagai elemen masyarakat mengenai isu ICC. Untuk mengoptimalkan prose’s konsultasi publik ini, Koalisi Masyarakat Sipil untuk Mahkamah Pidana Internasional menyusun serangkaian proses konsultasi publik dalam format focused group discussion (FGD) di enam daerah yaitu Jakarta, Surabaya, Makassar, Medan, Aceh dan Papua.

Masing-masing FGD mendiskusikan dan memuat masukan strategis dari 15 orang stakeholder utama dan ahli-ahli ditingkat daerah. Partisipan yang terlibat termasuk pejabat pemerintah, akademisi, pengacara dan pemuka masyarakat dalam bidang yang relevan.

Secara lebih spesifik, rangkaian FGD ini memiliki tujuan untuk: (1) mendapatkan pemahaman mengenai tujuan ratifikasi Statuta Roma dalam konteks hukum, politik dan ekonomi serta mendiskusikan strategi kampenye dan penyebaran informasi mengenai pentingnya ratifikasi Statuta Roma kepada publik, (2) berbagi pengetahuan dan sumber daya antara pemerintah, parlemen, akademisi dan masyarakat sipil untuk mengatur dan mempercepat proses ratifikasi dan (3) pembagian peran dan kerja diantara stakeholder dan peserta dalam rangka mempercepat proses ratifikasi Statuta Roma. Rangkaian proses dan hasil dari konsultasi publik atau FGD dapat dipaparkan sebagai berikut:

Sebagai pembuka proses konsultasi publik tentang ICC digelar FGD di Jakarta selama dua hari pada tanggal 24-25 Juni 2008 di Hotel Harris, Jakarta. Proses ini dihadiri lebih dari 20 orang yang berasal dari institusi pemerintah dan masyarakat sipil. Pada sesi hari pertama difokuskan pada topik urgensi Indonesia meratifikasi Statuta Roma, konsekuensi-konsekuensi ratifikasi, dan isu-isu penting seperti non-surrender agreement, kedaulatan negara, dan pelanggaran HAM masa lalu dengan narasumber Bhatara Ibnu Reza (Tim Ahli - Imparsial) dan Evelyn Balais Serrano (Coalition for The International Criminal Court - CICC).

Pada hari kedua, proses dilanjutkan dengan menfokuskan pada perkembangan terakhir dalam proses persiapan ratifikasi, kendala yang dihadapi dan upaya mencari kesepakatan jalan keluar, kebutuhan penyusunan peraturan pelaksanaan yang terpadu

dengan narasumber Nursyahbani Katjasungkana (DPR RI) dan Prof Hakristuti Hakrisnowo, SH, MA, Ph.D (Dirjen HAM-Depkumham RI)

Dari proses selama dua hari ini, terpaparkan kendala-kendala yang dapat menjadi ganjalan upaya ratifikasi ICC bagi Indonesia. Kendala-kendala tersebut adalah:

• Ratiikasi ICC tidak masuk dalam PROLEGNAS

2005-2009

• Hubungan antara ICC dan sistem hukum nasional,

khususnya dalam implementasi peraturan dibutuhkan untuk meratifikasi Statuta Roma

• Ratiikasi Statuta Roma tergantung pada kebijakan

dan sikap politik pemerintah

• Ada keengganan dari beberapa aktor politik di

Indonesia

Menghadapi kendala-kendala ini disusun beberapa rekomendasi penting yang meliputi:

• Media memiliki peran penting untuk mendorong

proses ratifikasi Statuta Roma, dan adalah hal yang penting untuk melibatkan media dalam kerja-kerja koalisi

• Pentingya menyebarkan materi ICC kepada

publik.

• Materi ICC akan sangat menarik dalam kuliah

di universitas. Forum Dekan direkomendasikan sebagai salah satu kelompok sasaran untuk diajak

bekerjasama dalam konteks menggelar kuliah di tingkat universitas.

• Di setiap propinsi, Forum RANHAM

direkomendasikan sebagai kelompok sasaran untuk diajak bekerjasama untuk mendorong proses ratifikasi Statuta Roma

• Pentingnya untuk bekerjasama dengan kelompok

atau institusi yang menangani isu-isu perempuan Pada acara ini juga, secara resmi diluncurkan keberadaan Koalisi Masyarakat Sipil Indonesia untuk Mahkamah Pidana Internasional sebagai langkah konkrit dari masyarakat sipil untuk mendorong ratifikasi ICC di Indonesia. Selain oleh Koalisi ini, dorongan agar Indonesia meratifikasi ICC juga dilakukan oleh Koalisi Internasional untuk ICC (CICC), sebuah koalisi internasional yang beranggotakan 2.500 organisasi. CICC meluncurkan program Kampanye Ratifikasi Universal bulan Juni 2008 dengan target Indonesia. Sebagai bagian dari kampanye tersebut, CICC telah mengirimkan surat ke Presiden SBY, Menkumham dan Menlu tanggal 11 Juni 2008.

Surabaya

P r o s e s konsultasi publik dilanjutkan dengan FGD di Surabaya yang dilakukan pada 29 - 30 Juli 2008 dengan peserta

33 orang yang berasal dari lembaga pemerintah, akademisi dan masyarakat sipil seperti: Komisi A DPRD Jatim, SBMI-Jatim, KPPD – Surabaya, ALHA-RAKA Syarikat-Jember, LPKP 65-Surabaya, MBH-Surabaya, BEM UWK-Surabaya, BEM FISIP Unair- Surabaya, IKOHI-Malang, Forsam – Unair, LBH-Surabaya, Repdem – Jatim, Tim Advokasi TNI/ Polri, Lakpesdam NU – Sumenep, AGRA – Jatim, Walhi – Jatim, CRCS, AJI Surabaya, Staff Pengajar HI FISIP Unair, Korban Alas Tlogo – Pasuruan.

Fokus utama proses

FGD adalah mengenai

bagaimana mekanisme ICC dapat diimplementasikan dalam kasus-kasus pelanggaran HAM yang terjadi di wilayah lokal. Meskipun pelanggaran HAM masa lalu tidak termasuk dalam jurisdiksi ICC, meratifikasi Statuta Roma merupakan sesuatu yang sangat penting sebagai affirmative action untuk mencegah pelanggaran HAM terjadi lagi dimasa yang akan datang. Adapaun untuk mengawal proses diskusi dihadirkan narasumber Agung Yudhawiranata (Tim ahli – ELSAM), Riawan Adi (Ahli Hukum Pidana) dan R. Herlambang Perdana (Dosen Hukum dan HAM, Universitas Airlangga).

Dalam proses ini dihasilkan kesepakatan umum bahwa pemerintah harus segera menyelesaikan kasus pelanggaran HAM yang terjadi di masa lalu. Artinya selain segera meratifikasi Statuta Roma, pemerintah juga harus berkonsentrasi untuk menyelesaikan kasus-kasus pelanggaran HAM masa lalu, terutama kasus-kasus yang terjadi di Jawa Timur. Organisasi lokal juga memiliki

komitmen untuk mendesak pemerintah daerah untuk mendeklarasikan bahwa mereka mendukung pemerintah pusat di Jakarta untuk meratifikasi Statuta Roma.

Hal senada juga terjadi dalam proses konsultasi publik yang dilakukan di Makassar pada tanggal 4 dan 5 Agustus 2008, di Aceh pada tanggal 11 dan 12 Agustus 2008 dan di Medan pada tanggal 14 dan 15 Agustus 2008.

Papua

Proses konsultasi publik yang dilakukan oleh koalisi di Papua dilaksanakan pada 29-30 Agustus 2008 dalam bentuk diskusi publik dan workshop. Banyaknya kasus-kasus pelanggaran HAM yang terjadi di Papua juga karena alasan sebaran representasi geografis menjadikan Papua salah satu daerah yang wajib masuk dalam daftar daerah yang perlu dikunjungi dalam proses mendorong ratifikasi. Sebagaimana pula konsultasi yang dilakukan di daerah

lain, di Papua peserta berasal dari perwakilan organisasi masyarakat sipil, pemerintahan daerah, akademisi dan keluarga korban pelanggaran HAM yang berjumlah kurang lebih enam puluhan.

Selain perwakilan dari sekretariat koalisi masyarakat sipil untuk ratifikasi Statuta Roma, hadir pula sebagai pembicara dalam diskusi publik tersebut Bruder Budi Hermawan dari Serikat Keadilan Perdamaian dan Harry Martubong dari Kontras Papua. Kegagalan menghadirkan Dirjen HAM Dephukham dan Ketua Komnas HAM dalam diskusi ini menyebabkan banyak peserta diskusi kecewa karena tidak bisa mendapatkan kepastian resmi sejauh apa proses ratifikasi di pemerintah sudah berjalan dan bagaimana komitmen sesungguhnya dari pemerintah baik terkait kasus-kasus pelanggaran HAM masa lalu maupun paska ratifikasi.

Banyaknya kasus pelanggaran HAM di masa lalu yang belum terungkap menyeret arah diskusi kepada manfaat ratifikasi ICC terhadap kasus-kasus pelanggaran HAM di masa lalu tersebut. Fakta bahwa ICC hanya memiliki yurisdiksi paska ratifikasi, jelas menimbulkan kekecewaan dari sebagian besar peserta utamanya dari keluarga korban yang semula sangat berharap akan mendapat manfaat langsung terhadap ratifikasi ICC. Dalam diskusi bahkan sempat muncul pernyataan bahwa ratifikasi sama sekali tidak perlu dilakukan jika memang tidak ada korelasi langsung dengan penyelesaian kasus-kasus HAM yang selama ini terjadi di Papua.

Karena banyaknya perbedaan opini selama diskusi, dan sulitnya mengontrol berkembangnya isu selama diskusi berlangsung, sekretariat mengambil pendekatan yang berbeda dengan tidak menyimpulkan hasil diskusi

tapi memetakan kekhawatiran dan harapan peserta dari ratifikasi Statuta Roma. Kekhawatiran dan harapan tersebutlah yang kemudian dikemas menjadi pernyataan bersama peserta diskusi untuk mendorong ratifikasi. Harapan dan kekhawatiran yang berhasil direkam selama proses berlangsung tersebut adalah sebagai berikut:

Harapan Kekhawatiran Pemerintah Indonesia 1. segera meratifikasi Statuta Roma Keuntungan Indonesia 2.

apabila ratifikasi Statuta Roma tercapai

Jaringan masyarakat 3.

sipil di setiap propinsi di Indonesia segera bekerja Peraturan yang lebih 4.

baik untuk kompensasi, restitusi dan rehabilitasi untuk korban

pelanggaran HAM dan keluarga korban pelanggaran HAM Perlindungan yang lebih 5.

baik agar pelanggaran HAM tidak terjadi lagi dimasa yang akan datang

Konsistensi pemerintah dalam 1.

proses ratifikasi

Pemerintah sering mengulur-2.

ulur waktu dalam proses ratifikasi

ICC memiliki prinsip tidak 3.

berlaku surut sehubungan dengan pelanggaran HAM masa lalu

Masalah dalam implementasi 4.

ICC dalam prosedur hukum nasional

Harapan yang muncul dan paling banyak diungkapkan adalah bahwa ratifikasi Statuta Roma agar segera dilakukan. Dari ratifikasi inilah nantinya keuntungan-keuntungan lainnya bisa didapatkan yang dapat mendorong perbaikan proses peradilan di Indonesia yang kemudian berujung pada berkurangnya kasus-kasus pelanggaran HAM di masa yang akan datang. Perbaikan yang dimaksud termasuk pula perbaikan terhadap sistem kompensasi,

restitusi dan rehabilitasi yang masih sangat tidak berpihak pada korban.

Dalam proses mendorong ratifikasi tersebut, peserta juga berharap agar jaringan kerjasama masyarakat sipil antardaerah dapat segera terwujud untuk memperkuat dorongan pada pemerintah agar segera melakukan ratifikasi.

Disisi lain ada banyak kekhawatiran yang muncul dari peserta terkait proses ratifikasi yang paling menonjol adalah bahwa proses ratifikasi sendiri tidak dilakukan dengan serius oleh pemerintah. Dalam proses tersebut pemerintah terlihat mengulur-ngulur waktu untuk melakukan ratifikasi dan tidak konsisten terhadap kebijakan pemerintah sendiri yang sudah mencanangkan proses ratifikasi di Tahun 2008 tapi belum juga dilakukan bahkan belum ada persiapan sama sekali.

Kekhawatiran lainnya adalah terkait relasi ratifikasi dengan kasus-kasus HAM berat masa lalu yang tidak memiliki kaitan langsung. Seolah-olah kasus-kasus HAM yang selama ini belum terselesaikan tersebut sudah terlupakan dan tidak lagi penting. Selain itu dikhawatirkan implementasi UU ratifikasi tidak ada sebagaimana praktek yang banyak muncul dari ratifikasi konvensi-konvensi internasional lainnya. Karenanya, salah satu poin penting yang dimunculkan dalam pernyataan bersama adalah terus diusutnya kasus-kasus pelanggaran HAM masa lalu.

Kampanye publik

Selain melakukan proses konsultasi publik, aktivitas kampanye diyakini akan memberikan kontribusi besar dalam menggalang dukungan masyarakat untuk mendorong proses ratifikasi ICC di Indonesia. Berbagai seminar dan diskusi publik dilakukan dalam kerangka tersebut. Dan untuk semakin meluaskan kampanye, dilakukan berbagai talk-show radio jaringan nasional

dengan harapan dapat menjangkau publik yang lebih luas. Gambaran proses kampanye publik disajikan sebagai bahan refleksi atas upaya yang dilakukan untuk menggalang dukungan publik.

Untuk mendukung kerja kampanye ratifikasi, Koalisi juga memproduksi kampanye material,

diantaranya adalah penerbitan buku saku ICC yang berisi informasi dasar mengenai apa dan bagaimana mekanisme ICC. Buku saku ini dibuat dalam format pertanyaan dan jawaban dengan cara penulisan yang populer. Buku saku berisi informasi dasar mengenai ICC disebarakan kepada publik dan institusi pemerintah. Selain itu, Koalisi juga memproduksi pin, tas dan block-note yang dibagiakan pada seluruh kegiatan yang diselenggarakan oleh Koalisi.

Seminar Nasional

Seminar nasional sebelumnya direncanakan akan digelar di Jakarta. Dengan beberapa pertimbangan diantaranya untuk mengumpulkan lebih banyak lagi dukungan untuk ratifikasi Statuta Roma dari lebih banyak stakeholder diluar Jakarta, koalisi memutuskan untuk menggelar seminar nasional di Yogyakarta.

Bekerjasama dengan Pusat Studi Hak Asasi Manusia Universitas Islam Indonesia Yogyakarta (PusHAM UII), seminar dilaksanakan pada 6 April di Plaza Hotel Jogyakarta dengan topik “Tantangan Reformasi Hukum dan Perlindungan HAM di Indonesia pasca Pemilu 2009”. Pembicara dalam seminar nasional ini adalah Ifdhal Kasim dari Komnas HAM, Amiruddin Al Rahab dari ELSAM, Bhatara Ibnu Reza salah satu tim ahli dari koalisi dan Abdul Haris Semendawai dari Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK). T Kurang lebih 100 orang partisipan dari beberapa aparat pemerintah, penegak hukum, NGO, akademisi, mahasiswa yang turut berpartisipasi dalam seminar nasional ini.

Pada bagian akhir seminar, partisipan bersepakat bahwa siapapun yang terpilih pada Pemilu 2009 seharusnya lebih memperhatikan penegakan HAM dalam rangka meningkatkan demokrasi sejati di Indonesia. Salah satu kerja untuk membuat hal tersebut tercapai adalah dengan

meratifikasi perjanjian internasional atau mekanisme internasional, dimana salah satunya adalah Statuta Roma ICC.