UPAYA PENINGKATAN KETERAMPILAN GURU DALAM PENERAPAN
PEMBELAJARAN AKTIF, KREATIF, EFEKTIF, DAN
MENYENANGKAN (PAKEM) MELALUI KEGIATAN PELATIHAN DAN
BIMBINGAN (LATBIM) DI SMPN 2 CIKEUSIK KABUPATEN PANDEGLANG(Penelitian Tindakan Sekolah)
Disusun Oleh:
AINA MULYANA, S.Pd NIP: 19710222 2000031003
PEMERINTAH KABUPATEN PANDEGLANG
DINAS PENDIDIKAN
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah
memberikan berkah dan rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan
laporan hasil Penelitian Tindakan Sekolah yang diberi judul “Upaya Peningkatan
Keterampilan Guru Dalam Penerapan Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, Dan
Menyenangkan (PAKEM) Melalui Kegiatan Pelatihan Dan Bimbingan (LATBIM) Di
SMPN 2 Cikeusik Kabupaten Pandeglang”
Tujuan penyusunan laporan Penelitian Tindakan Sekolah (PTS) ini adalah
untuk memberikan informasi beberapa temuan yang telah diperoleh sehingga
dapat dijadikan bahan kajian rekan-rekan kepala sekolah dalam mengambil
kebijakan terutama terkait dengan implementasi penerapan pendekatan PAKEM
dalam kegaitan belajar mengajar ”.
Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada berbagai
pihak yang telah turut aktif dalam pelaksanaan PTS dan dalam penyusunan
laporan ini. Semoga kebaikannya dapat diterima sebagai amal kebaikan di sisi
Allah SWT.
Penulis menyadari bahan PTS ini masih memiliki bebagai kekurangan.
Namun demikian, penulis mengharapkan semoga laporan PTK ini memiliki
manfaat yang sebesar-besarnya.
Pandeglang,
Nopember 2010
Peneliti,
DAFTAR ISI
Hal
KATA PENGANTAR ...
ii
DAFTAR ISI ...
iii
DAFTAR GAMBAR, TABEL DAN LAMPIRAN………
v
ABSTRAK ...
vii
BAB I
PENDAHULUAN ...
1
A. Latar Belakang Masalah ...
1
B. Identifikasi Masalah ...
2
C. Pembatasan Masalah ...
3
D. Rumusan Masalah ...
3
E. Tujuan Penelitian ...
3
F. Manfaat Penelitian ...
3
G. Definisi Istilah...
4
BAB II
KAJIAN PUSTAKA ...
5
A. Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan (PAKEM) ...
5
1. Pengertian Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif dan
Menyenangkan (PAKEM) ………..
5
2. Bagaimana Pelaksanaan PAKEM? ...
6
3. Hal-Hal yang perlu diperhatikan dalam melaksanakan
PAKEM
7
B.
Pelatihan dan Bimbingan PAKEM...
10
C.
Hipotesis Tindakan ………..
13
BAB III
METODE PENELITIAN ...
14
A. Lokasi Penelitian
...
14
B. Waktu Penelitian dan Lamanya Penelitian ...
14
C. Subyek Penelitian ...
14
D. Variabel penelitian ……...
15
E. Teknik Pengumpulan Data...
15
F. Teknik Pembahasan ...
16
F. Rancangan Tindakan ...……….
17
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 18
A. Kondisi Sekolah ... 18
B. Siklus 1 ...
19
1. Perencanaan ...
19
2. Pelaksanaan Tindakan ...
20
3. Pengamatan. ...
20
4. Refleksi ...
22
C. Siklus 2 ...
23
1. Perencanaan ...
23
2. Pelaksanaan Tindakan ...
24
4. Refleksi ...
25
D. Siklus 3 ... 30
1. Perencanaan ...
30
2. Pelaksanaan Tindakan ...
31
3. Pengamatan. ...
32
4. Refleksi ...
32
E. Pembahasan ………..
36
BAB V
KESIMPULAN ... 41
A. Simpulan ...
41
B. Saran ...
42
DAFTAR PUSTAKA ... 43
DAFTAR GAMBAR, GRAFIK, TABEL DAN LAMPIRAN
DAFTAR GAMBAR
Hal
1
Gb 1 :
Hubungan antar variabel X dan Y...
15
DAFTAR GRAFIK
Hal
1
Pencapaian Skor Nilai Keterampilan Guru dalam PembuatanRencana Pembelajaran ……….
39
2
Pencapaian Skor Nilai Keterampilan Guru dalam Pelaksanaan(Praktek) Pembelajaran ……….
39
3
Pencapaian Skor Rata-rata Aktivitasi Siswa dalam KBM40
DAFTAR TABEL
Hal
1
Keadaan siswa SMPN 2 Cikeusik pada tahun 2010/2011 ...18
2
Data Hasil Pengamatan Aktivitas Guru Dalam Mengikuti PelatihanPengembangan PAKEM di SMPN 2 Cikeusik ...
21
3
Perbandingan Hasil Pre Tes dan Post Tes Kegiatan PelatihanPengembangan PAKEM SMPN 2 Cikeusik
22
4
Materi, Metode, dan Media yang Digunakan Guru Pada Pertemuan1 siklus 2 ...
24
5
Rekapitulasi Hasil Penilaian RPP Pertemuan Ke -1 (Siklus 2)26
6
Lembaran Observasi Pelaksanaan Pembelajaran Pertemuan Ke -1(Siklus 2) ...
27
7
Materi, Metode, dan Media yang Digunakan Guru Pada Pertemuan2 siklus 3 ...
31
8
Rekapitulasi Hasil Penilaian RPP Pertemuan Ke -2 (Siklus 3)33
9
Lembaran Observasi Pelaksanaan Pembelajaran Pertemuan Ke -2(Siklus 3) ...
34
DAFTAR LAMPIRAN
Hal
1 Jadwal Kegiatan Penelitian Tindakan Sekolah SMPN 2 Cikeusik Kab.
Pandeglang tahun Pelajaran 2010/2011 ………
46
2 Soal Pretes Pelatihan Pembelajaran Aktif, Kreatif, Inovatif, Efektif Dan
Menyenangakan (PAKEM) ………
47
3 Soal Post Tes Pelatihan Pembelajaran Aktif, Kreatif, Inovatif, Efektif Dan Menyenangakan (PAKEM) ………
49
4 Kunci Jawaban Pretes Dan Post Tes ……….. 51
5 Daftar Nilai Pretes Dan Post Tes Pelaksanaan Kegiatan Workshop
PAKEM ………..
52
6 Lembaran Observasi Pelaksanaan Kegiatan Workshop PAKEM 53
7 Lembaran Observasi Pelaksanaan Pembelajaran ……… 54
8 Lembaran Pengamatan/Penilaian Persiapan Pembelajaran (RPP) 56
9 Hasil Rekapitulasi Nilai Pengamatan/Penilaian Persiapan
Pembelajaran (RPP) ……….
57
10 Rekapitulasi Hasil Observasi Praktek Atau Pelaksanaan
Pembelajaran ……….
11 Pedoman Wawancara Pada Saat Refleksi ... 60
12 Format Observasi Aktivitas Siswa Dalam KBM ... 62
14 Rekapitulasi Hasil Observasi Aktivitas Siswa Dalam KBM Kelas IXA
Mapel PKn ………..
63
15 Rekapitulasi Hasil Observasi Aktivitas Siswa Dalam KBM Kelas IXA
Mapel PAI ……….
64
16 Rekapitulasi Hasil Observasi Aktivitas Siswa Dalam KBM Kelas IXA
Mapel Seni Budaya ………
65
ABSTRAK
AINA MULYANA, S.PD ---SMPN 2 Cikeusik
“Upaya Peningkatan Keterampilan Guru Dalam Penerapan Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, Dan Menyenangkan (PAKEM) Melalui Kegiatan Pelatihan Dan Bimbingan (LATBIM) Di SMPN 2 Cikeusik Kabupaten Pandeglang”
Penelitian tindakan sekolah ini dilatarbelakangi oleh rendahnya Hasil pengamatan yang menunjukkan bahwa hanya sebagian kecil guru SMPN 2 Cikeusik yang telah menerapkan pendekatan pembelajaran aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan (yang selanjutnya disebut PAKEM) dalam pelaksanaan KBM. Mereka yang telah menerapkan PAKEM adalah guru-guru yang di bawah binaan UNICEF, yakni guru-guru mata pelajaraan Bahasa Indonesia, IPA, Matematika, B.Inggris, dan IPS. Guru-guru lain belum menerapkan pendekatan PAKEM dengan alasan mereka belum mendapatkan pelatihan penerapan PAKEM. Bahkan, sebagian guru yang masuk dalam kelompok binaan UNICEF pun belum sepenuhnya menggunakan PAKEM.
Rumusan permasalahan penelitian ini adalah: “Bagaimana efektivitas
kegiatan pelatihan dan bimbingan (LATBIM) yang dilakukan Kepala Sekolah terhadap peningkatan keterampilan guru dalam penerapan pembelajaran
aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan (PAKEM) di SMPN 2 Cikeusik
Kabupaten Pandeglang”.
Adapun tujuan khusus dari kegiatan penelitian tindakan sekolah ini adalah untuk mengetahui efevtivitas upaya peningkatan keterampilan guru dalam penerapan PAKEM melalui LATBIM di SMPN 2 Cikeusik kabupaten Pandeglang. Sedangan secara umum, tujuan kegiatan penelitian tindakan sekolah ini adalah untuk peningkatan kualitas proses dan hasil belajar di SMPN 2 Cikeusik.
Hasil pelaksanaan penelitian tindakan sekolah yang berlangsung dalam 3 siklus penelitian dapat disimpulkan:
1. Pelatihan dalam bentuk workshop dan bimbingan penerapan pendekatan PAKEM telah menambah pemahaman (wawasan) dan keterampilan guru SMPN 2 Cikeusik tentang pentingnya penerapan pendekatan PAKEM dalam pembelajaran di kelas.
2. Hasil analisis menunjukkan bahwa kegiatan pelatihan dalam bentuk workshop lebih banyak memberikan tambahan pengetahuan bagi guru tentang materi workshop itu sendiri dalam hal ini tentang pendekatan PAKEM, sedangkan peningkatan keterampilan guru dalam penerapan PAKEM di kelas lebih banyak diperoleh melalui kegiatan bimbingan dalam praktek langsung.
3. Berdasarkan hasil refleksi, kegiatan PTS tentang “Upaya peningkatan
keterampilan guru dalam penerapan pembelajaran aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan (PAKEM) melalui kegiatan pelatihan dan bimbingan (LATBIM) di SMPN 2 Cikeusik kabupaten Pandeglang” dianggap selesai
PAKEM. Ini berarti Pelatihan dan Bimbingan (LATBIM) yang dilakukan Kepala Sekolah memiliki efektivitas yang cukup tinggi untuk peningkatan keterampilan guru dalam penerapan PAKEM di SMPN 2 Cikeusik Kabupaten Pandeglang. Dengan demikian Pelatihan dan Bimbingan (LATBIM) yang dilakukan Kepala Sekolah memiliki efektivitas yang cukup tinggi untuk peningkatan keterampilan guru dalam penerapan PAKEM di SMPN 2 Cikeusik Kabupaten Pandeglang. Oleh karena itu, hipotesis tindakan dalam PTS ini yang menyatakan “Apabila kegiatan Pelatihan Dan Bimbingan
(LATBIM) penerapan Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, Dan Menyenangkan (PAKEM) dapat dilaksanakan dengan baik maka peningkatan keterampilan guru dalam penerapan PAKEM di SMPN 2 Cikeusik Kabupaten Pandeglang akan meningkat” dapat diterima.
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Adanya kebijakan peningkatan jaminan kualitas lulusan pendidikan dasar
membawa konsekuensi di bidang pendidikan, antara lain perubahan dari model
pembelajaran yang tradisional (model atau metode pembelajaran yang lebih
berpusat guru) ke pengembangan model atau metode yang lebih berpusat pada
siswa. Hal demikian menuntut kemampuan guru dalam merancang model
pembelajaran yang lebih berpusat pada siswa, sesuai dengan karakteristik
bidang kajian dan karakteristik siswa agar mencapai hasil yang maksimal. Oleh
kerana itu peran guru dalam konteks pembelajaran menuntut perubahan, antara
lain: (a) peranan guru sebagai penyebar informasi semakin kecil, tetapi lebih
banyak berfungsi sebagai pembimbing, penasehat, dan pendorong, (b) peserta
didik adalah individu-individu yang kompleks, yang berarti bahwa mereka
mempunyai perbedaan cara belajar sesuatu yang berbeda pula, (c) proses
belajar mengajar lebih ditekankan pada belajar daripada mengajar.
Ada dua hal yang perlu diperhatikan dalam mengimplementasikan
pergeseran peran guru dalam pembelajaran, yaitu :
a. Cara pandang guru terhadap siswa perlu diubah. Siswa bukan lagi
sebagai obyek pengajaran, tetapi siswa sebagai pelaku aktif dalam
proses pembelajaran. Dalam diri siswa terdapai berbagai potensi yang
siap dikembangkan. Oleh katena itu dalam konteks pembelajaran guru
diharapkan mampu memberikan dorongan kepada siswa untuk
mengembangkan diri sesuai dengan potensi yang dimilikinya.
b. Guru diharapkan mampu mengajarkan bagaimana siswa bisa
berhubungan dengan masalah yang dihadapi dan mengatasi persoalan
yang muncul di masyarakat. Antara lain dengan cara memberikan
tantangan yang berupa kasus-kasus yang sering terjadi di masyarakat
yang terkait bidang studi. Melalui kegiatan tersebut diharapkan siswa
dapat mengembangkan potensi yang dimilikinya, yang pada akhirnya
dapat digunakan sebagai bekal kemandirian dalam menghadapi berbagai
tantangan di masyarakat. Bahkan lebih jauh lagi diharapkan bisa ikut
Berdasarkan pengamatan yang penulis lakukan, hanya sebagian kecil
guru SMPN 2 Cikeusik yang telah menerapkan pendekatan pembelajaran aktif,
kreatif, efektif, dan menyenangkan (yang selanjutnya disebut PAKEM) dalam
pelaksanaan KBM. Mereka yang telah menerapkan PAKEM adalah guru-guru
yang di bawah binaan UNICEF, yakni guru mata pelajaran Bahasa Indonesia,
IPA, Matematika, B.Inggris, dan IPS. Guru-guru lain belum menerapkan
pendekatan PAKEM dengan alasan mereka belum mendapatkan pelatihan
penerapan PAKEM. Bahkan, sebagian guru yang masuk dalam kelompok binaan
UNICEF pun belum sepenuhnya menggunakan PAKEM.
Melihat kondisi tersebut nampaknya perlu usaha untuk memberikan
pemahaman dan keterampilan kepada guru SMPN 2 Cikeusik tentang penerapan
PAKEM. Untuk mewujudkan kompetensi dan peran guru dalam penerapan
PAKEM perlu adanya upaya yang dilakukan baik oleh dinas pendidikan,
pengawas sekolah, maupun kepala sekolah. Salah satu upaya yang dapat
dilakukan kepala sekolah dalam rangka peningkatan keterampilan guru dalam
penerapan PAKEM adalah melalui Pelatihan dan Bimbingan (yang selanjutnya
disebut LATBIM).
Berdasarkan uraian di atas, penulis mencoba mengadakan penelitian
tindakan sekolah untuk mengetahui efektivitas kegiatan LATBIM yang dilakukan
kepala sekolah terhadap peningkatan keterampilan guru dalam penerapan
PAKEM.
B. Identifikasi Masalah
Terdapat beberapa faktor yang menjadi penyebab masih rendahnya
keterampilan guru SMPN 2 Cikeusik, khususnya guru-guru yang tidak termasuk
dalam mapel binaan UNICEF dalam menerapkan PAKEM, antara lain:
a) Kurangnya atau tidak adanya kegiatan pelatihan dan bimbingan tentang
PAKEM;
b) Keterbatasan sarana dan prasana pembelajaran untuk mengembangkan
PAKEM;
c) Masih kurangnya tenaga kependidikan yang sesuai dengan latar
belakang pendidikan, sehingga sulit untuk mengembangkan PAKEM;
d) Motivasi guru dan tenaga kependidikan lainnya masih rendah;
C. Pembatasan Masalah
Berdasarkan hasil identifikasi masalah dan dengan mempertimbangkan
waktu, tenaga dan biaya yang tersedia, penelitian tindakan sekolah ini hanya
membatasi pada masalah kurangnya atau tidak adanya kegiatan pelatihan dan
bimbingan tentang PAKEM menjadi salah satu penyebab kurangnya atau lemahnya keterampilan guru dalam PAKEM.
D. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, permasalahan dalam
penelitian di rumuskan sebagai berikut:
Bagaimana efektivitas kegiatan pelatihan dan bimbingan (LATBIM) yang dilakukan Kepala Sekolah terhadap peningkatan keterampilan guru dalam penerapan pembelajaran aktif, kreatif, efektif, dan
menyenangkan (PAKEM) di SMPN 2 Cikeusik Kabupaten
Pandeglang?
E. Tujuan Penelitian
Tujuan khusus dari kegiatan penelitian tindakan sekolah ini adalah untuk
mengetahui efevtivitas upaya peningkatan keterampilan guru dalam penerapan
PAKEM melalui LATBIM di SMPN 2 Cikeusik kabupaten Pandeglang.
Sedangan tujuan umum dari kegiatan penelitian tindakan sekolah ini
adalah untuk peningkatan kualitas proses dan hasil belajar di SMPN 2 Cikeusik.
F. Manfaat Penelitian
Penelitian tindakan sekolah ini diharapkan akan memberikan manfaat
untuk perbaikan dan peningkatan proses hasil belajar terutama bagi perorangan
atau institusi di bawah ini.
1. Bagi Siswa : Dengan penerapan pendekatan PAKEM, siswa akan tergugah
semangat belajarnya sehingga menambah akan keberanian untuk bertanya,
menjawab, melakukan sesuatu tindakan yang berpola terstruktur,
menemukan dan mengembangkan ide-ide baru, sehingga aktivitas dan
antusias belajar siswa lebih meningkat.
2. Bagi Guru : Kemampuan menerapkan PAKEM akan memberi kemudahan
dalam melaksanakan tugas mengajarnya, karena yang lebih aktif adalah
3. Bagi Sekolah : Hasil dari proses belajar mengajar yang efektif dan
menyenangkan diharapkan dapat meningkatkan mutu pendidikan di sekolah.
G. Definisi Istilah
Beberapa istilah yang dipergunakan dalam penelitian tindakan sekolah
ini, antara lain:
1.
PAKEM adalah singkatan dari pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, danMenyenangkan. Aktif dimaksudkan bahwa dalam proses pembelajaran guru
harus menciptakan suasana sedemikian rupa sehingga siswa aktif bertanya,
mempertanyakan, dan mengemukakan gagasan; Kreatif dimaksudkan agar
guru menciptakan kegiatan belajar yang beragam sehingga memenuhi
berbagai tingkat kemampuan siswa; Efektif bermakna bahwa proses
pembelajaran menghasilkan apa yang harus dikuasai siswa, sedangkan
Menyenangkan adalah suasana belajar-mengajar yang menyenangkan
sehingga siswa memusatkan perhatiannya secara penuh pada belajar
sehingga waktu curah perhatiannya (“time on task”) tinggi.
2.
Pelatihan dan Bimbingan (LATBIM) pengembangan PAKEM adalahgabungan kegiatan pelatihan dan sekaligus bimbingan tentang penerapan
BAB II KAJIAN PUSTAKA
D. Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan (PAKEM)
1. Pengertian Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan (PAKEM)
Pembelajaran merupakan salah satu unsur penentu baik tidaknya
lulusan yang dihasilkan oleh suatu sistem pendidikan. Ia ibarat jantung dari
proses pembelajaran. Pembelajaran yang baik cenderung menghasilkan
lulusan dengan hasil belajar yang baik pula. Demikian pula sebaliknya.
Hasil belajar pendidikan di Indonesia masih dipandang kurang baik.
Sebagian besar siswa belum mampu menggapai potensi ideal/optimal yang
dimilikinya. Oleh karena itu, perlu ada perubahan proses pembelajaran dari
kebiasaan yang sudah berlangsung selama ini. Pembelajaran yang saat ini
dikembangkan dan banyak dikenalkan ke seluruh pelosok tanah air adalah
Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan atau disingkat
dengan PAKEM. Disebut demikian karena pembelajaran ini dirancang agar
mengaktifkan anak, mengembangkan kreativitas sehingga efektif namun
tetap menyenangkan.
Apa itu PAKEM? PAKEM adalah singkatan dari Pembelajaran Aktif,
Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan. Aktif dimaksudkan bahwa dalam proses
pembelajaran guru harus menciptakan suasana sedemikian rupa sehingga
siswa aktif bertanya, mempertanyakan, dan mengemukakan gagasan.
Belajar memang merupakan suatu proses aktif dari si pembelajar dalam
membangun pengetahuannya, bukan proses pasif yang hanya menerima
kucuran ceramah guru tentang pengetahuan. Jika pembelajaran tidak
memberikan kesempatan kepada siswa untuk berperan aktif, maka
pembelajaran tersebut bertentangan dengan hakikat belajar. Peran aktif dari
siswa sangat penting dalam rangka pembentukan generasi yang kreatif, yang
mampu menghasilkan sesuatu untuk kepentingan dirinya dan orang lain.
Kreatif juga dimaksudkan agar guru menciptakan kegiatan belajar
yang beragam sehingga memenuhi berbagai tingkat kemampuan siswa.
Menyenangkan adalah suasana belajar-mengajar yang menyenangkan
sehingga siswa memusatkan perhatiannya secara penuh pada belajar
penelitian, tingginya waktu curah perhatian terbukti meningkatkan hasil
belajar. Keadaan aktif dan menyenangkan tidaklah cukup jika proses
pembelajaran tidak efektif, yaitu tidak menghasilkan apa yang harus dikuasai
siswa setelah proses pembelajaran berlangsung, sebab pembelajaran
memiliki sejumlah tujuan pembelajaran yang harus dicapai. Jika
pembelajaran hanya aktif dan menyenangkan tetapi tidak efektif, maka
pembelajaran tersebut tak ubahnya seperti bermain biasa.
Secara garis besar, PAKEM dapat digambarkan sebagai berikut:
• Siswa terlibat dalam berbagai kegiatan yang mengembangkan
pemahaman dan kemampuan mereka dengan penekanan pada belajar
melalui berbuat.
• Guru menggunakan berbagai alat bantu dan berbagai cara dalam
membangkitkan semangat, termasuk menggunakan lingkungan sebagai
sumber belajar untuk menjadikan pembelajaran menarik, menyenangkan,
dan cocok bagi siswa.
• Guru mengatur kelas dengan memajang buku-buku dan bahan belajar
yang lebih menarik dan menyediakan ‘pojok baca’
• Guru menerapkan cara mengajar yang lebih kooperatif dan interaktif,
termasuk cara belajar kelompok.
• Guru mendorong siswa untuk menemukan caranya sendiri dalam
pemecahan suatu masalah, untuk mengungkapkan gagasannya, dan
melibatkam siswa dalam menciptakan lingkungan sekolahnya.
2. Bagaimana Pelaksanaan PAKEM?
Gambaran PAKEM diperlihatkan dengan berbagai kegiatan yang
terjadi selama KBM. Pada saat yang sama, gambaran tersebut menunjukkan
kemampuan yang perlu dikuasai guru untuk menciptakan keadaan tersebut.
Berikut adalah tabel beberapa contoh kegiatan KBM dan kemampuan guru
yang besesuaian.
KEMAMPUAN GURU KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR
Guru merencang dan mengelola KBM yang mendorong siswa untuk berperan aktif dalam pembelajaran
Guru melaksanakan KBM dengan kegiatan yang beragam, misalnya:
Percobaan Diskusi kelompok Memecahkan masalah Mencari informasi
KEMAMPUAN GURU KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR
Guru menggunakan alat bantu dan sumber belajar yang beragam
Sesuai mata pelajaran guru
menggunakan misalnya:
Alat yang tersedia/dibuat sendiri Gambar
Studi Kasus Nara Sumber Lingkungan
Guru memberikan kesempatan
kepada siswa untuk
mengembangkan keterampilan
Siswa:
Melakukan percobaan,
pengamatan atau wawancara Mengumpulkan data atau jawaban
dan mengolahnya sendiri Menarik kesimpulan
Memecahkan masalah atau
mencari rumus sendiri
Menulis laporan/hasil karya lain dengan kata-kata sendiri
Guru memberi kesempatan kepada
siswa untuk mengemukakan
gagasan secara lisan atau tulisan
Melalui: Diskusi
Lebih banyak pertanyaan terbuka Hasil karya yang merupakan
pemikiran anak sendiri
Guru menyesuaikan bahan dan
kegiatan belajar dengan
kemampuan siswa
Siswa dikelompok sesuai dengan kemampuan (untuk tugas/kegiatan tertentu)
Bahan belajar disesuaikan dengan kemampuan kelompok tersebut Tugas perbaikan atau pengayaan
diberikan Guru mengkaitkan KBM dengan
pengalaman siswa sehari-hari
Siswa menceritakan atau
memanfaatkan pengalaman
sendiri
Siswa menerapkan hal yang
dipelajari dalam kegiatan sehari-hari
Menilai KBM dan kemajuan siswa secara terus menerus
Guru memantau kerja siswa Guru memberikan umpan balik
3. Hal-Hal yang perlu diperhatikan dalam melaksanakan PAKEM
Apa yang harus diperhatikan dalam melaksanakan PAKEM?
1. Memahami sifat yang dimiliki anak
Pada dasarnya anak memiliki sifat: rasa ingin tahu dan berimajinasi. Anak
desa, anak kota, anak orang kaya, anak orang miskin, anak Indonesia,
atau anak bukan Indonesia – selama mereka normal terlahir memiliki
merupakan salah satu lahan yang harus kita olah sehingga subur bagi
berkembangnya kedua sifat anugerah Tuhan tersebut. Suasana
pembelajaran yang ditunjukkan dengan guru memuji anak karena hasil
karyanya, guru mengajukan pertanyaan yang menantang, dan guru yang
mendorong anak untuk melakukan percobaan, misalnya, merupakan
pembelajaran yang subur seperti yang dimaksud.
2. Mengenal anak secara perorangan
Para siswa berasal dari lingkungan keluarga yang bervariasi dan memiliki
kemampuan yang berbeda. Dalam PAKEM (Pembelajaran Aktif, Kreatif,
Efektif dan Menyenangkan) perbedaan individual perlu diperhatikan dan
harus tercermin dalam kegiatan pembelajaran. Semua anak dalam kelas
tidak selalu mengerjakan kegiatan yang sama, melainkan berbeda sesuai
dengan kecepatan belajarnya. Anak-anak yang memiliki kemampuan
lebih dapat dimanfaatkan untuk membantu temannya yang lemah (tutor
sebaya). Dengan mengenal kemampuan anak, kita dapat membantunya
bila mendapat kesulitan sehingga anak tersebut belajar secara optimal.
3. Memanfaatkan perilaku anak dalam pengorganisasian belajar
Sebagai makhluk sosial, anak sejak kecil secara alami bermain
berpasangan atau berkelompok dalam bermain. Perilaku ini dapat
dimanfaatkan dalam pengorganisasian belajar. Dalam melakukan tugas
atau membahas sesuatu, anak dapat bekerja berpasangan atau dalam
kelompok. Berdasarkan pengalaman, anak akan menyelesaikan tugas
dengan baik bila mereka duduk berkelompok. Duduk seperti ini
memudahkan mereka untuk berinteraksi dan bertukar pikiran. Namun
demikian, anak perlu juga menyelesaikan tugas secara perorangan agar
bakat individunya berkembang.
4. Mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan kemampuan
memecahkan masalah
Pada dasarnya hidup ini adalah memecahkan masalah. Hal tersebut
memerlukan kemampuan berpikir kritis dan kreatif. Kritis untuk
menganalisis masalah; dan kreatif untuk melahirkan alternatif pemecahan
masalah. Kedua jenis berpikir tersebut, kritis dan kreatif, berasal dari rasa
ingin tahu dan imajinasi yang keduanya ada pada diri anak sejak lahir.
Oleh karena itu, tugas guru adalah mengembangkannya, antara lain
pertanyaan yang terbuka. Pertanyaan yang dimulai dengan kata-kata
“Apa yang terjadi jika …” lebih baik daripada yang dimulai dengan
kata-kata “Apa, berapa, kapan”, yang umumnya tertutup (jawaban betul hanya
satu).
5. Mengembangkan ruang kelas sebagai lingkungan belajar yang menarik
Ruang kelas yang menarik merupakan hal yang sangat disarankan dalam
PAKEM. Hasil pekerjaan siswa sebaiknya dipajangkan untuk memenuhi
ruang kelas seperti itu. Selain itu, hasil pekerjaan yang dipajangkan
diharapkan memotivasi siswa untuk bekerja lebih baik dan menimbulkan
inspirasi bagi siswa lain. Yang dipajangkan dapat berupa hasil kerja
perorangan, berpasangan, atau kelompok. Pajangan dapat berupa
gambar, peta, diagram, model, benda asli, puisi, karangan, dan
sebagainya. Ruang kelas yang penuh dengan pajangan hasil pekerjaan
siswa, dan ditata dengan baik, dapat membantu guru dalam KBM karena
dapat dijadikan rujukan ketika membahas suatu masalah.
6. Memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar
Lingkungan (fisik, sosial, atau budaya) me-rupakan sumber yang sangat
kaya untuk bahan belajar anak. Lingkungan dapat ber-peran sebagai
media belajar, tetapi juga sebagai objek kajian (sumber belajar).
Penggunaan lingkungan sebagai sumber belajar sering membuat anak
merasa senang dalam belajar. Belajar dengan menggunakan lingkungan
tidak selalu harus keluar kelas. Bahan dari lingkungan dapat dibawa ke
ruang kelas untuk menghemat biaya dan waktu. Pemanfaatan lingkungan
dapat mengembangkan sejumlah keterampilan seperti mengamati
(dengan seluruh indera), mencatat, merumuskan pertanyaan,
berhipotesis, mengklasifikasikan, membuat tulisan, dan membuat
gambar/diagram.
7. Memberikan umpan balik yang baik untuk meningkatkan kegiatan belajar
Mutu hasil belajar akan meningkat bila terjadi interaksi dalam belajar.
Pemberian umpan balik dari guru kepada siswa merupakan salah satu
bentuk interaksi antara guru dan siswa. Umpan balik hendaknya lebih
mengungkap kekuatan daripada kelemahan siswa. Selain itu, cara
memberikan umpan balik pun harus secara santun. Hal ini dimaksudkan
agar siswa lebih percaya diri dalam menghadapi tugas-tugas belajar
memberikan komentar dan catatan. Catatan guru berkaitan dengan
pekerjaan siswa lebih bermakna bagi pengembangan diri siswa daripada
hanya sekedar angka.
8. Membedakan antara aktif fisik dan aktif mental
Banyak guru yang sudah merasa puas bila menyaksikan para siswa
kelihatan sibuk bekerja dan bergerak. Apalagi jika bangku dan meja diatur
berkelompok serta siswa duduk saling ber-hadapan. Keadaan tersebut
bukanlah ciri yang sebenarnya dari PAKEM. Aktif mental lebih diinginkan
daripada aktif fisik. Sering bertanya, mempertanyakan gagasan orang
lain, dan mengungkapkan gagasan merupakan tanda-tanda aktif mental.
Syarat berkembangnya aktif mental adalah tumbuhnya perasaan tidak
takut: takut ditertawakan, takut disepelekan, atau takut dimarahi jika
salah. Oleh karena itu, guru hendaknya menghilangkan penyebab rasa
takut tersebut, baik yang datang dari guru itu sendiri maupun dari
temannya. Berkembangnya rasa takut sangat bertentangan dengan
‘PAKEM.’
E. Pelatihan dan Bimbingan PAKEM
1. Pengertian dan Tujuan Pelatihan dan Bimbingan (LATBIM)
LATBIM pengembangan PAKEM adalah gabungan kegiatan pelatihan
dan sekaligus bimbingan tentang penerapan pembelajaran Aktif, Kreatif,
Inovatif, Efektif, dan Menyenangkan (PAKEM).
Kegiatan yang akan diselenggarakan di SMPN 2 Cikeusik Kabupaten
Pandeglang bertujuan:.
a) Meningkatkan pemahaman Guru SMPN 2 Cikeusik dalam
mengembangkan PAKEM.
b) Meningkatkan keterampilan Guru SMPN 2 Cikeusik dalam
mengembangkan PAKEM.
2. Sasaran Pelatihan dan Bimbingan (LATBIM)
Sasaran kegiatan LATBIM ini adalah seluruh Guru di SMPN 2 Cikeusik
Kabupaten Pandeglang, yakni sebanyak 17 orang guru. Rincian untuk 17
a. Mata Pelajaran Pendidikan Agama 1 orang
b. Mata Pelajaran TIK 1 orang
c. Mata Pelajaran Penjaskes 1 orang
d. Mata Pelajaran Seni Budaya 1 orang
e. Mata Pelajaran PKn 1 orang
f. Mata Pelajaran IPA 2 orang
g. Mata Pelajaran IPS 2 orang
h. Mata Pelajaran Bahasa Indonesia 2 orang
i. Mata Pelajaran Bahasa Inggris 2 orang
j. Mata Pelajaran Matematika 2 orang
k. Mata Peelajaran Bahasa Daerah 1 orang
l. Mata Pelajaran Mulok Keterampilan 1 Orang
3. Pelaksana Pelatihan dan Bimbingan (LATBIM)
Pelaksana kegiatan LATBIM pengembangan pembelajaran aktif, kreatif,
efektif dan menyenangkan ini adalah Kepala SMPN 2 Cikeusik dibantu
oleh Panitia yang terdiri dari unsur guru dan staf tata usaha.
4. Biaya Kegiatan Pelatihan dan Bimbingan (LATBIM)
Biaya kegiatan LATBIM pengembangan pembelajaran aktif, kreatif, efektif
dan menyenangkan (PAKEM) ini adalah dana BOS untuk program
pengambangan profesi guru dan sumber dana lain yang tersedia.
5. Waktu dan Tempat Kegiatan Pelatihan dan Bimbingan (LATBIM) LATBIM pengembangan PAKEM bagi Guru SMPN 2 Cikeusik ini
dilaksanakan di SMPN 2 Cikeusik mulai tanggal 2 Oktober 2010 – 30
Oktober 2010..
6. Struktur Program Pelatihan dan Bimbingan (LATBIM)
Untuk mencapai tujuan sebagaimana disebutkan di depan, kegiatan
LATBIM pengembangan PAKEM ini dilaksanakan dengan struktur
No. Materi/Kegiatan Alokasi Waktu LATBIM DALAM BENTUK WORKSHOP
1. Pembukaan 1 hari
2. Pre Test
3. Teori Pengembangan Pendekatan Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan (PAKEM).
4. Praktek Menyusun RPP yang menerapkan metode dan/atau model yang mengedepankan pendekatan PAKEM.
5 Post Test
LATBIM DALAM BENTUK PRAKTEK LANGSUNG DI KELAS (I)
6 Pembimbingan pembuat perangkat pembelajaran yang
mengdepankan pendekatan PAKEM
7. Real Teaching atau KBM menggunakan RPP yang menerapkan metode dan/atau model yang
mengedepankan pendekatan PAKEM.
1 Minggu
8. Refleksi dan pembimbingan untuk merevisi perangkat pembelajaran yang akan digunakan pada siklus berikutnya
LATBIM DALAM BENTUK PRAKTEK LANGSUNG DI KELAS (II)
9. Real Teaching atau KBM menggunakan RPP yang menerapkan metode dan/atau model yang
mengedepankan pendekatan PAKEM (hasil revisi tahap sebelumnya).
1 Minggu
7. Skenario Kegiatan Bimbingan Teknis a) Pembukaan
Pembukaan diikuti oleh semua peserta dalam satu ruang sidang
besar. Dalam pembukaan disampaikan penjelasan teknis (tujuan/hasil
yang diharapkan, peserta, mekanisme, jadwal) pelaksanaan Latihan
dan Bimbingan. Setelah kegiatan pembukaan selesai dilanjutkan
dengan kegiatan pre tes.
b) Kegiatan inti
Kegiatan inti LATBIM pengembangan PAKEM ini dilaksanakan dalam
bentuk sidang pleno dan praktek di kelas (Real Teaching).
a) Sidang pleno berupa presentasi materi-meteri umum oleh nara
sumber yang diikuti oleh tanya-jawab dan diskusi
masalah-masalah yang terkait langsung dengan pokok materi yang
Pengembangan Pendekatan PAKEM. Selanjutnya tahap ke dua
diisi dengan Praktek Menyusun Silabus dan RPP yang
menerapkan pendekatan PAKEM. Selesai kegiatan ini dilanjutkan
dengan post tes. Hal ini disebabkan karena kegiatan berikutnya
akan dilaksanakan dalam bentuk praktek langsung dikelas.
b) Real Teching berupa kegiatan mempraktekkan Silabus dan RPP
yang menerapkan pendekatan PAKEM. Silabus dan RPP ini harus
sudah dibuat pada sidang pleno. Setelah kegiatan real teaching
dilaksanakan diadakan refleksi untuk mengetahui beberbagai
kekurangan yang selanjutnya dijadikan dasar untuk kegiatan real
teaching berikutnya.
8. Bahan-bahan Kegiatan Latihan dan Bimbingan
Bahan-bahan bimbingan teknis adalah materi-materi presentasi:
1. SI dan SKL
2. Pengembangan Profesionalisme Guru yang Berkelanjutan
3. Model-model Pembelajaran Aktif
F. Deskripsi Kondisi Sekolah
SMP Negeri 2 Cikeusik berdiri pada tanggal 29 Januari 1998 melalui
SK Mendikbud No 13a/0/1/1998. Letak geografis SMPN 2 Cikeusik lebih
kurang 4 KM dari kecamatan Ciekusik dan 80 KM sebelah selatan ibu kota
Kabupaten Pandeglang. Sekolah ini beralamat di JL. Raya Umbulan Km. 03
Kecamatan Cikeusik, Pandeglang
Sebagai daerah yang letaknya cukup jauh dengan ibu kota
kabupaten ditunjang oleh keadaan infrastruktur (jalan) yang kondisi masih
rusak menjadi salah satu penyebab kondisi masyarakat di sekitar SMPN 2
Cikeusik secara keseluruhan masih jauh dari harapan (sejahtera). Hal ini
terlihat dari data tingkat kesejahteraan orang tua siswa SMPN 2 Cikeusik
sekitar 80% berada pada tahap prasejahtera.
Sejalan dengan tingkat kesejahteraan penduduk yang masih rendah,
tingkat kesadaran penduduk sekitar sekolah terhadap pentingnya pendidikan
juga masih kurang dan terlihat dari: a) masih terdapatnya anak usia sekolah
(masyarakat) sekitar sekolah terhadap program sekolah, baik dukungan moril
maupun materiil.
Kondisi sosial masyarakat di sekitar sekolah sangatlah heterogen
karena merupakan campuran dari penduduk asli dan transmigran (asal
Cirebon dan Indramayu). Namun, dilihat dari mata pencaharian umumnya
bersifat homogen karena mereka sebagian besar bekerja sebagai buruh tani
dan petani.
Keadaan siswa SMPN 2 Cikeusik pada tahun 2010/2011 dapat
dilihat pada tabel berikut:
Tabel 1
Keadaan siswa SMPN 2 Cikeusik pada tahun 2010/2011
KLS/
TINGK. ROMBEL
JML.MURID
L P JML.
VII 4 67 43 110
VIII 3 58 71 129
IX 3 43 45 88
JML. 10 168 159 327
Adapun tingkat pendidikan orang tua siswa 50% SD, 30% SMP, 8%
SMA, 2% S1, dan 10% di bawah SD.
Tenaga Pendidik di SMP Negeri 2 Cikeusik berjumlah 18 orang
dengan rincian : Sarjana 16 orang (89%) dan belum sarjana 2 orang (11%).
Sedangkan tenaga kependidikan berjumlah 4 orang dengan rincian : 3 orang
(75%) lulusan SMA/SMK, dan 1 (25%) orang lulusan SMP.
Potensi yang dimiliki oleh para siswa SMP Negeri 2 Cikeusik yang
dapat dikembang, diantaranya olah raga (atletik, bola voly dan sepak bola),
seni membaca Al Qur’an, Seni Qasidah, Vokal Grup dan pengembangan di
bidang akademik. Namun, hal tersebut kurang dapat berkembang secara
maksimal. Hal ini disebabkan kurangnya sarana penunjang dan dana yang
dibutuhkan dalam rangka meningkatkan potensi tersebut.
Saat ini SMP Negeri 2 Cikeusik termasuk salah satu dari sekian
SMP di Kabupaten Pandeglang yang mendapat binaan langsung dari
Program Mainstreamig Good Practices in Basic Education (MGP-BE)
kejasama Dinas Pendidikan Dengan UNICEF dari Bantuan Uni Eropa. Salah
satu program MGP-BE ini adalah adalah meningkatkan
kapasitas/kemampuan guru dalam pelaksanaan Pembelajaran Aktif, Kreatif,
baru menyentuh mata pelajaran Bahasa Indonesia, B. Inggris, Matematika,
IPA dan IPS. Sedangkan mapel lainnya belum mendapat pembinaan khusus.
G. Pertanyaan Penelitian
Pertanyaan penelitian merupakan sejumlah pertanyaan yang akan
dijadikan dasar atau pedoman dalam melaksanakaan penelitian.
Sesuai dengan judul penelitian: ”Upaya Peningkatan Keterampilan
Guru Dalam Penerapan Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, Dan Menyenangkan (Pakem) Melalui Kegiatan Pelatihan Dan Bimbingan (LATBIM) di SMPN 2 Cikeusik Kabupaten Pandeglang” yang menjadi
pertanyaan penelitian dalam PTS adalah:
1. Apakah kegiatan Pelatihan Dan Bimbingan (LATBIM) dapat
meningkatkan pemahaman Guru SMPN 2 Cikeusik tentang pendekatan
PAKEM;
2. Apakah kegiatan Pelatihan Dan Bimbingan (LATBIM) dapat
meningkatkan keterampilan Guru SMPN 2 Cikeusik dalam
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Lokasi Penelitian
Penelitian Tindakan Sekolah (PTS) ini dilakukan di SMPN 2 Cikeusik,
Kabupaten Pandeglang.
B. Waktu dan Lamanya Penelitian
Penelitian ini dilakukan selama satu bulan terhitung sejak tanggal 2
Oktober sampai dengan 30 Oktober 2010. Dengan agenda sebagai berikut:
A. Persiapan Penelitian
1. Rapat Membangun Komitmen 2 Oktober 2010
2. Identifikasi Masalah 2 Oktober 2010
2. Diskusi Penentuan Permasalahan 2 Oktober 2010
3. Pembuatan Proposal Kegiatan 2 Oktober 2010
B. Pelaksanaan Penelitian
1. Penentuan Rencana Tindakan 4 – 23 Oktober 2010
2. Pelaksanaan Rencana Tindakan 4 – 23 Oktober 2010
3. Observasi 4 – 23 Oktober 2010
4. Refleksi 4 – 23 Oktober 2010
C. Pengolahan Data 25-26 Oktober 2010
D Penyusunan Laporan
1. Penyusunan Draf Penelitian 27 Oktober 2010
2. Penyempurnaan Draf 28 Oktober 2010
3. Finishing 29-30 Oktober 2010
C. Subjek Penelitian
Populasi penelitian dalam PTS ini adalah seluruh guru di SMPN 2 Cikeusik
yakni sebanyak 17 orang. Karena keterbatasan waktu dan biaya, maka yang
yang dijadikan subyek dalam penelitian ini hanya 3 orang, yakni 1 orang Guru
mapel PKn, 1 orang Guru Mapel Pendidikan Agama Islam (PAI) dan 1 orang
Guru mapel Seni Budaya. Ketiga mata pelajaran (mapel) tersebut merupakan
D. Variabel Penelitian
Penelitian ini berjudul “Upaya Peningkatan Keterampilan Guru Dalam
Penerapan Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, Dan Menyenangkan (PAKEM) Melalui Kegiatan Pelatihan Dan Bimbingan (LATBIM) Di SMPN 2 Cikeusik Kabupaten Pandeglang”. Sesuai dengan judul di atas, maka yang menjadi
variabel penelitian ini adalah:
1. Variabel bebas (X) atau variabel yang mempengaruhi dalam peneliian ini
adalah adalah “Kegiatan Pelatihan Dan Bimbingan (LATBIM)”
2. Variabel terikat (Y) atau variabel yang dipengaruhi dalam penelitian ini adalah
“Peningkatan Keterampilan Guru Dalam Penerapan Pembelajaran Aktif,
Kreatif, Efektif, Dan Menyenangkan (PAKEM”.
Hubungan antara kedua variabel tersebut dapat digambarkan sebagai
berikut:
Gb 1. Hubungan antar variabel X dan Y
E. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini diperoleh melalui observasi
dan catatan data lapangan, wawancara, hasil tes dan catatan hasil
refleksi/diskusi yang dilakukan oleh peneliti dan mitra peneliti. Penentuan teknik
tersebut didasarkan ketersediaan sarana dan prasana dan kemampuan yang
dimiliki peneliti dan mitra peneliti.
Uraian lebih lanjut mengenai teknik-teknik pengumpulan data tersebut
adalah sebagai berikut:
a) Penilaian Pre Tes dan Post Tes
Yang dimaksud penilaian pre tes dan post tes dalam PTS ini adalah penilaian
yang dilakukan kepada peserta Pelatihan dan Bimbingan dengan
menggunakan serangkaian pertanyaan tertulis yang memerlukan jawaban
tertulis. Adapun bentuk tes yang digunakan adalah adalah pilihan ganda, Kegiatan Pelatihan
Dan Bimbingan (LATBIM
Peningkatan Keterampilan Guru Dalam Penerapan
(PAKEM
yakni pertanyaan yang meminta responden untuk memilih kalimat atau
deskripsi yang paling dekat dengan pendapat, perasaan, penilaian atau
posisi mereka.
b) Observasi dan catatan data lapangan
Observasi dalam kegiatan PTS ini merupakan kegiatan pengamatan
terhadap aktivitas yang dilakukan guru dan siswa selama melaksanakan
kegiatan belajar mengajar di kelas. .
Hasil pengamatan dari mitra peneliti selanjutnya dijadikan catatan data
lapangan. Hal ini sesuai dengan pendapat Prof Dr. Rochiati Wiriaatmaja
(2005:125) yang menyatakan: “Sumber informasi yang sangat penting dalam
penelitian ini (PTS) adalah catatan lapangan (field notes) yang dibuat oleh
peneliti/mitra peneliti yang melakukan pengamatan atau observasi”.
c) Catatan hasil refleksi
Adapun yang dimaksud catatan hasil refleksi adalah catatan yang yang
diperoleh dari hasil refleksi yang dilakukan dengan melalui kegiatan diskusi
antara peneliti dan mitra peneliti. Hasil refleksi ini selain dijadikan bahan
dalam penyusunan rencana tindakan selanjutnuya juga dapat digunakan
sebagai sarana untuk mengetahui telah tercapai tidaknya tujuan kegiatan
penelitian ini.
Sesuai dengan teknik pengumpulan data yang disebutkan di atas,
Instrumen penelitian yang digunakan dalam PTS ini adalah soal pre tes, soal
post tes, pedoman observasi (contoh dapat dilihat dalam lampiran).
F. Teknik Pembahasan
Analisis atau pembahasan data dalam PTS ini dilakukan sejak awal,
artinya analisis data dilakukan tahap demi tahap atau siklus demi siklus. Hal ini
sesuai dengan pendapat Miles dan Huberman dalam Rochiati Wiriaatmaja
(2005:139) bahwa “…. the ideal model for data collection and analysis is one that
interweaves them form the beginning”. Ini berarti model ideal dari pengumpulan
data dan analisis adalah yang secara bergantian berlangsung sejak awal.
Kegiatan analisis data akan dilakukan mengacu pada pendapat Rochiati
Wiriaatmaja, (2005:135-151) dengan melakukan catatan refleksi, yakni pemikiran
yang timbul pada saat mengamati dan merupakan hasil proses membandingkan,
mengkaitkan atau menghubungkan data yang ditampilkan dengan data
G. Rancangan Tindakan
Dalam PTS ini, rancangan tindakan yang akan dilakukan adalah pelatihan
dalam bentuk workshop yang diikuti seluruh guru dan kegiatan bimbingan dalam
praktek langsung di kelas (khusus dilaksanakan untuk 3 orang guru yang menjadi
subyek penelitian). Secara rinci tindakan yang akan dilaksanakan adalah sebagai
berikut
1.
Mengadakan workshop pengembangan PAKEM yang diikuti seluruh guruSMPN 2 Cikeusik. Kegiatan ini bertujuan: a) Meningkatkan pemahaman Guru
SMPN 2 Cikeusik dalam mengembangkan PAKEM; b) Meningkatkan
keterampilan Guru SMPN 2 Cikeusik dalam mengembangkan PAKEM;
2.
Membimbing guru untuk membuat persiapan mengajar (RPP) berbasispendekatan PAKEM. Dalam PTS ini difokuskan terhadap 3 orang guru yang
menajdi subyek penelitian.
3.
Mengamati kegiatan guru dalam melaksanakan kegiatan pembelajaranberbasis pendekatan PAKEM (dalam PTS ini difokuskan terhadap 3 orang
guru yang menajdi subyek penelitian)
4.
Mengadakan refleksi (diskusi antara peneliti/kepsek dengan guru yangdiamati) tentang kelebihan dan kekurangan kegiatan pembelajaran berbasis
pendekatan PAKEM yang telah dilaksanakan dan mencoba membuat formula
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Kondisi Sekolah
1. Identitas Sekolah
1. Nama Sekolah : SMP NEGERI 2 CIKEUSIK
2. Status ( N/S ) : NEGERI
3. Nomor NSS/NDS. : 201 280 103 987
4. Alamat Sekolah
:
JL. Raya Umbulan Km. 03 Kecamatan Cikeusik, Pandeglang
5. Kecamatan : CIKEUSIK
Telp./Fax. : -
6. Jenjang Akreditasi : B
7. SK. Pendirian : 13a/0/1/1998 Tanggal: 29/01/1998
2. Keadaan Siswa Tahun 2010/2011
KLS/
TINGK. ROMBEL
JML.MURID
L P JML.
VII 4 67 43 110
VIII 3 58 71 129
IX 3 43 45 88
JML. 10 168 159 327
3. Keadaan Guru
JUMLAH GURU
JUMLAH
PNS DPK GTT TKK GBS
9 8 1 1 18
4.
KeadaanTU
JUMLAH TU
JUMLAH
TU PNS NON PNS
1 4 5
B. Kegiatan Siklus 1
1. Perencanaan
Tujuan yang ingin dicapai dalam PTS ini adalah a) Meningkatkan
pemahaman Guru SMPN 2 Cikeusik dalam mengembangkan PAKEM; b)
Meningkatkan keterampilan Guru SMPN 2 Cikeusik dalam mengembangkan
Adapun kegiatan yang dilakukan dalam tahap perencanaan ini adalah
sebagai berikut:
a)
Mengadakan rapat dewan guru untuk membangun komitmen sekaligusmembicarakan rencana kegiatan pelatihan dan bimbingan. Dalam rapat
ini disepakati bahwa kegiatan pelatihan dan bimbingan (LATBIM)
tentang PAKEM dilaksanakan dalam dua bentuk kegiatan yakni
kegiatan workshop dan kegiatan praktek langsung di kelas di bawah
bimbingan kepala sekolah (Rapat ini dilaksanakan pada hari Sabtu
tanggal 2 Oktober 2010)
b)
Mempersiapkan materi pelatihan, antara lain:1. Powerpoint tentang Pembelajaran Aktif, Keratif, Efektif dan
Menyenangkan (PAKEM)
2. Soal pre tes dan pos tes (terlampir)
3. Lembaran pengamatan aktivitas peserta workshop (terlampir)
4. Standar isi dan Standar Komptensi Lulus
5. Silabus dan RPP yang sudah ada
2. Pelaksanaan Tindakan
Kegiatan yang dilaksanakan dalam tahap ini adalah melaksanakan
kegiatan pelatihan (workshop). Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Senin
tanggal 4 Oktober 2010. Pelaksanaan kegiatan ini diawali dengan pretes;
dilanjutkan pemaparan materi dan diskusi; dan diakhir dengan post tes.
Dalam kegiatan ini, kepala sekolah sebagai peneliti bertindak sebagai nara
sumber dan dibantu oleh guru yang telah mendapat pelatihan yang sama
serta sudah menggunakannya dalam kegiatan pembelajaran di kelas.
Guru-guru lain termasuk di dalamnya Guru-guru yang dipilih menjadi subyek penelitian
bertindak sebagai peserta workshop yang diwajibkan mengikuti serta
mengerjakan tugas-tugas pelatihan.
Kegiatan pelatihan dalam bentuk workshop ini juga dilaksanakan dalam
dua bentuk kegiatan, yakni 1) pemaparan materi oleh nara sumber (kepala
sekolah dan guru yang telah menguasai PAKEM); 2) tugas kelompok untuk
menyusun RPP yang mengedepankan pendekatan PAKEM. Kegiatan
pemaparan materi dilaksanakan selama 2 jam; sedangkan tugas kelompok
3. Pengamatan.
Kegiatan pengamatan/observasi yang dilakukan pada tahap ini adalah
sebagai berikut :
a)
Mengobservasi tingkat keseriusan guru dalam mengikutipelatihan/workshop
b)
Mengobservasi tingkat keaktifan guru dalam mengikutipelatihan/workshop
c)
Memonitoring (mensupervisi) kegiatan guru dalam mengerjakantugas-tugas pelatihan (workshop).
Kegiatan ini dilakukan dengan bantuan instrumen penelitian yang
berupa lembaran pengamatan. Adapun data yang dapat diperoleh dari hasil
pengamatan berdasarkan instrumen tersebut adalah adalah sebagai berikut:
Tabel 2
Data Hasil Pengamatan Aktivitas Guru Dalam Mengikuti Pelatihan Pengembangan PAKEM
Di SMPN 2 Cikeusik
No. Nama Guru
Keseruisan mengikuti workshop
dan mengerjakan tugas
Kesedian bekerja
sama
Keak -tifan
Jumlah Nilai
1.
Drs. MOH. RIDWAN SY5
4
5
14
2
RADEN SURACHMAN, S.Pd5
4
5
14
3
DASTA SUTRISNA5
3
4
12
4
MUKTI ALI, S.Pd5
4
5
14
5
ASEP TATANG, S.Pd5
4
4
13
6
DANURI, S.Pd5
4
5
14
7
JANU SUBEKTI, S.PD5
4
5
14
8
RETNI SUMINAR,SE5
4
4
13
9
IRMA YULIANTIE,S.Pd5
3
4
12
10
NURYANI,S.Pd5
3
4
12
11
ARSAM SUPRATMAN,S.Pd5
3
4
12
12
MUHAMAD KHOTIB,S.Pd5
4
4
13
13
SURYAMAN5
3
4
12
14
YAYAT SUMYATI5
3
4
12
15
ADE SUHARYANA5
3
4
12
16
DEDE SUKRONI5
3
4
12
17
U. ABDUROHMAN S.Pd5
4
4
13
Keterangan
Kriteria penilaian sebagai berikut: 1 = sangat tidak baik
2 = tidak baik 3 = kurang baik 4 = baik
Pedoman Penafsiran
Jumlah skor 0 – 3 = Sangat tidak baik Jumlah skor 4 – 6 = Tidak baik
Jumlah skor 7 – 9 = Kurang baik Jumlah skor 11 – 12 = Baik
Jumlah skor 13 – 15 = Sangat baik
Berdasarkan pedoman penafsiran yang telah dikemukakan di atas,,
dapat disimpulkan bahwa sebanyak 9 orang guru atau sekitar 53% telah
mengikuti workshop dengan aktivitas yang sangat baik. Hal tersebut dilihat
dari aspek keseriusan mengikuti workshop dan mengerjakan tugas-tugas
yang diberikan, kesediaan bekerjasama dan keaktifan. Dan sebanyak 8
orang guru atau sekitar 47% telah mengikuti workshop dengan aktivitas yang
baik. Dengan demikian tidak ada atau 0% guru yang mengikuti workshop ini
yang dapat dikatagorikan memiliki aktivitas yang kurang baik atau tidak baik.
4. Refleksi
Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini adalah menganalisis hasil yang
diperoleh dari pelaksanaan pre tes dan post tes serta data hasil observasi.
Berdasarkan hasil pre tes dan post test terlihat adanya peningkatan tingkat
pemahaman guru SMPN 2 Cikeusik dalam hal penerapan PAKEM. Hal ini
dapat dilihat dari tabel 2 berikut ini
Tabel 3
Perbandingan Hasil Pre Tes dan Post Tes Kegiatan Pelatihan Pengembangan PAKEM
SMPN 2 Cikeusik
No. Nama Guru PRE TES POST TES Selisih
1. Drs. MOH. RIDWAN SY 8 10 +2
2 RADEN SURACHMAN, S.Pd 6 10 +4
3 DASTA SUTRISNA 6 7 +1
4 MUKTI ALI, S.Pd 8 10 +2
5 ASEP TATANG, S.Pd 5 10 +5
6 DANURI, S.Pd 6 10 +4
7 JANU SUBEKTI, S.PD 6 10 +4
8 RETNI SUMINAR,SE 6 10 +4
9 IRMA YULIANTIE,S.Pd 8 9 +1
10 NURYANI,S.Pd 7 9 +2
11 ARSAM SUPRATMAN,S.Pd 6 9 +3
12 MUHAMAD KHOTIB,S.Pd 6 8 +2
13 SURYAMAN 7 10 +3
14 YAYAT SUMYATI 5 8 +3
15 ADE SUHARYANA 5 8 +3
16 DEDE SUKRONI 5 8 +3
17 U. ABDUROHMAN S.Pd 5 8 +3
JUMLAH NILAI 105 154 49
Berdasarkan data tersebut nilai rata-rata pretes adalah 6,18 atau sekitar
62% sedangkan rata-rata hasil post tes meningkat menjadi 9,06 atau 91%.
Hal ini menunjukkan ada peningkatan pemahaman guru SMPN 2 Cikeusik
dalam kaitannya dengan PAKEM, yakni sekitar 29%. Data ini ditunjang
dengan hasil pengamatan (observasi) yang memperlihatkan bahwa seluruh
guru SMPN 2 Cikeusik telah mengikuti workshop PAKEM dengan aktivitas
yang baik, bahkan sebagian sangat baik.
Kenyataan di atas menunjukkan kegiatan PTS yang bertujuan untuk
meningkatkan pemahaman Guru SMPN 2 Cikeusik dalam mengembangkan
PAKEM telah tercapai dengan baik. Namun, ketercapaian PTS untuk dapat
meningkatkan keterampilan Guru SMPN 2 Cikeusik dalam mengembangkan
PAKEM itu sendiri belum dapat dinyatakan berhasil karena guru-guru
tersebut (terutama yang menjadi subyek penelitian) belum mempraktekkan
pemahaman mereka tentang PAKEM secara langsung di kelas. Atas dasar
itulah maka dibutuhkan siklus berikutnya berupa bimbingan langsung praktek
penerapan PAKEM di kelas.
C. Kegiatan Siklus 2
Sebagaimana diungkapkan di atas bahwa tujuan yang ingin dicapai
dalam PTS ini adalah a) Meningkatkan pemahaman Guru SMPN 2 Cikeusik
dalam mengembangkan PAKEM; b) Meningkatkan keterampilan Guru SMPN
2 Cikeusik dalam mengembangkan PAKEM.
Berdasarkan hasil refleksi pada siklus 1 terungkap bahwa Guru SMPN 2
Cikeusik telah memahami apa yang dimaksud dengan PAKEM. Namun
keterampilan mereka dalam menerapkan PAKEM belum diketahui dengan
pasti. Oleh karena itu, tujuan yang ingin dicapai pada siklus ini akan
memfokuskan pada peningkatan keterampilan Guru SMPN 2 Cikeusik dalam
mengembangkan PAKEM.
1. Perencanaan
Seusai dengan fokus tujuan di atas, kegiatan perencanaan yang
1) Memberikan tugas kepada guru untuk membuat persiapan mengajar
atau Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang akan digunakan
pada siklus 2 ini.
2) Mempersiapkan lembar observasi untuk melihat bagaimana kondisi
belajar mengajar.
3) Mempersiapkan daftar pertanyaan yang akan digunakan dalam diskusi
antara kepala sekolah sebagai peneliti dan guru sebagai mitra peneliti..
2. Pelaksanaan Tindakan.
Kegiatan pelaksanaan tindakan yang akan dilaksanakan pada siklus 2
adalah:
a) mengadakan diskusi dan memberi pendampingan bagi guru untuk
membuat persiapan mengajar atau Rencana Pelaksanaan
Pembelajaran (RPP) yang akan digunakan pada siklus 2 ini
b) memonitoring atau mensuverpisi kegiatan pelaksanaan skenario
pembelajaran yang telah disusun dan direncanakan sebelumnya.
Kegiatan kepala sekolah sebagai peneliti adalah mengamati jalannya
proses pembelajaran dengan menggunakan instrumen observasi,
sementara kegiatan guru sebagai mitra peneliti adalah melaksanakan
kegiatan pembelajaran sesuai dengan rencana yang telah disusun
sebelumnya.
Adapun materi, metode dan media pembelajaran yang telah
dipersiapkan oleh guru-guru yang menjadi subyek penelitian untuk digunakan
pada pertemuan 1 (siklus 2) ini adalah sebagai berikut:
Tabel 4
MATERI, METODE, DAN MEDIA YANG DIGUNAKAN GURU
PADA PERTEMUAN 1 SIKLUS 2
No Mapel Kelas/ Semester
Materi Metode
Pembelajaran
Media
Pembelajaran
1 PKn VIII Smtr 1 Menampilkan sikap
positif terhadap
Pancasila dalam
kehidupan bermasyarakat
Diskusi mengisi lembaran kerja
• Lembaran
Kerja
• Buku
Paket
2 PAI VII Smtr 1 Menunjukkan
tanda-tanda adanya Allah Swt.
Ceramah
bervariasi •
No Mapel Kelas/ Semester
Materi Metode
Pembelajaran
Media
Pembelajaran
3 Seni
Budaya
IX Smtr 1 Unsur-unsur seni
rupa Mancanegara
Diskusi mengisi lembaran kerja
• Lembaran
Kerja
• Buku
Paket
3. Pengamatan
Pada tahap ini, kepala sekolah sebagai peneliti melakukan pemantauan
kegiatan proses belajar mengajar yang ditampilkan oleh guru-guru yang telah
ditetapkan sebagai subyek penelitian. Monitoring ini dibantu dengan
instrumen penelitian berupa lembar observasi yang telah disiapkan. Aktivitas
yang diamati bukan hanya aktivitas guru, tetapi juga aktivitas siswa.
1). Mengobservasi tampilan Guru yaitu mengamati :
(a) Pengembangan materi pengajaran yang dilakukan guru.
(b) Strategi belajar mengajar yang dikembangkan guru.
(c) Metode pembelajaran yang dipilih dan ditampilkan guru dalam
pembelajaran di kelas.
(d) Media pengajaran yang dipilih dan ditampilkan guru dalam
pembelajaran di kelas.
(e) Sumber belajar yang dipilih dan dipergunakan guru dalam kegiatan
pembelajaran.
2). Mengobservasi aktivitas siswa yaitu mengamati :
(a) Keseriusan siswa mengikuti kegaitan belajar mengajar
(b) Keaktifan dalam menjawab pertanyaan guru dan/ataumengajukan
pertanyaan.
(c) Keterlibatan atau keaktifan siswa dalam diskusi atau kerja kelompok
(KEJARKOP).
Adapun alat atau instrumen yang digunakan sebagai data pendukung
adalah instrumen berupa pedoman observasi aktivitas guru dan siswa
(terlampir).
4. Refleksi
Ada dua hal yang menjadi fokus refleksi pada siklus ini, yakni 1) Apakah
RPP yang dibuat sudah mengedepankan pendekatan PAKEM terutama
pelaksanaan pembelajarannya juga sudah mengedapankan pendekatan
PAKEM.
Berdasarkan data dari hasil penilaian RPP (lihat format penilaian RPP
pada lampiran) diperoleh data bahwa dari 3 RPP yang dibuat oleh guru yang
menjadi subyek penelitian ternyata baru 1 RPP yang dibuat oleh guru mata
pelajaran (mapel) Seni Budaya yang dapat dikatagorikan cukup baik dilihat
dari unsur kejelasan tujuan, pemilihan dan pengorganisiran materi, kejelasan
skenario, penggunaan metode dan alat evaluasi yang digunakan. Namun,
dalam RPP mapel Seni Budaya ini juga masih terdapat aspek yang dianggap
kurang yakni dalam hal pemilihan media yang dianggap masih kurang
variatif.
Dua RPP lainnya yang dibuat oleh guru mapel PKn dan PAI masih
dikatagorikan kurang. Hal tersebut dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 5
REKAPITULASI HASIL PENILAIAN RPP PERTEMUAN KE -1 (SIKLUS 2)
1. Kejelasan perumusan tujuan pembelajaran (tidak menimbul kan penafsiran ganda dan mengandung perilaku hasil belajar)
4 4 4
2. Pemilihan materi ajar (sesuai dengan tujuan dan karakteristik peserta didik)
4 3 4
3. Pengorganisasian materi ajar (keruntutan,
sistematika materi dan kesesuaian dengan alokasi waktu)
4 3 4
4. Pemilihan sumber/media pembalajaran (sesuai dengan tujuan, materi, dan karakteristik peserta didik)
2 2 2
5. Media pembelajaran yang digunakan
mengedepankan Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan
2 2 2
6. Kejelasan skenario pembelajaran (langkah-langkah kegiatan pembelajaran : awal, inti, dan penutup)
2 2 3
7. Kerincian skenario pembelajaran (setiap langkah tercermin strategi/metode dan alokasi waktu pada setiap tahap)
2 2 3
8. Metode, Skenario/Langkah-langkah pembelajaran yang digunakan mengedepankan Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan
2 2 3
9. Kesesuaian teknik dengan tujuan pembelajaran 3 3 3
10. Kelengkapan instrumen (soal, kunci, pedoman penskoran)
Keterangan =
Kriteria penilaian sebagai berikut: 1 = sangat tidak baik
2 = tidak baik 3 = kurang baik 4 = baik
5 = sangat baik
Pedoman Penafsiran Skor
Jumlah skor 0 – 10 = Sangat tidak baik Jumlah skor 11 – 20 = Tidak baik Jumlah skor 21 – 30= Kurang baik Jumlah skor 31 – 40 = Baik
Jumlah skor 41 – 50 = Sangat baik
Berdasarkan pendoman penskoran di atas, dapat dinyatakan bahwa
RPP yang telah dibuat oleh guru mapel PKn dan PAI dapat dikatagorikan
masih kurang baik, sedangkan RPP yang dibuat guru mapel Seni Budaya
dapat dikatagorikan baik. Beberapa permasalahan yang muncul berdasarkan
hasil refleksi (diskusi antara peneliti dan mitra peneliti) yang selanjutnya
menjadi bahan perbaikan untuk siklus berikutnya adalah:
- Penyusunan langkah-langkah pembelajaran belum disusun secara
sistematis serta belum mengedepankan pendekatan PAKEM. Oleh
karena itu pada siklus yang berikutnya langkah-langkah pembelajaran
akan disusun secara sistematis dan mengedepankan pendekatan
PAKEM.
- Media pembelajaran yang digunakan hanya media yang ada dikelas,
seperti papan tulis. Pada siklus berikutnya akan dibuat media
pembelajaran yang lebih variatif.
Sedangkan dilihat dari parktek atau pelaksanaan pembelajarannya,
juga terlihat bahwa kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh guru mapel
Seni Budaya agak lebih baik dibandingkan dua guru lainnya. Hal ini tampak
dari data hasil observasi seperti tampak pada tabel berikut ini.
Tabel 6
LEMBARAN OBSERVASI PELAKSANAAN PEMBELAJARAN PERTEMUAN KE -1 (SIKLUS 2)
NO INDIKATOR/ASPEK YANG DIAMATI NAMA GURU
NO INDIKATOR/ASPEK YANG DIAMATI PKn NAMA GURU PAI Seni Budaya
! "
" ! " # # #
# $ % & '
( & $ " $ $ %
! "
) $ % $
$ *+ ! "
, ! " $
-. " / & $ 0
# # #
1 ! " 0 # # #
2 #
3 ! " & ! 4
! " & ! % &
! - 4
! " $ - &
$ 0
5 4 + ! " * $ ! "
$ 0 4 4 $ 4
# % &
( ! $ 4 $
6 ! " & 0 $ % ! +
) ! % 4 $ ! "
, " ! % $
-1 ! % 0 $ $ ! "
- $ 7 "
2
"
!
"
-3
%
$
-. "
/
8
%
! %
$
0
"
9 !
$
!
#
#
#
&
$
& &
#
#
#
: :
4
!
$
!
#
#
$
" $
!
% 9
9
!
!
$ *
&
#
;
+ ;
,3
)1
,,
Keterangan =
Kriteria penilaian sebagai berikut: 1 = sangat tidak baik
2 = tidak baik 3 = kurang baik 4 = baik
Pedoman Penafsiran Skor
Jumlah skor 0 – 24 = Sangat tidak baik Jumlah skor 25 – 48 = Tidak baik Jumlah skor 49 – 72 = Kurang baik Jumlah skor 73 – 96 = Baik
Jumlah skor 97 – 120 = Sangat baik
Berdasarkan tabel di atas dan dengan berpedoman pada penafsiran
skor tersebut, terlihat bahwa pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan oleh
oleh guru mapel PKn dan PAI masih dikatagorikan kurang baik. Sedangkan
untuk guru mapel Seni Budaya dapat dikatagorikan baik, walau terdapat
beberapa unsur penilaian yang masih kurang baik.
Dilihat dari data hasil observasi aktivitas siswa yang diamati
berdasarkan aspek; 1) keseriusan dalam mengikuti pelajaran; 2) mengajukan
atau menjawab pertanyaan; dan 3) keterlibatan dalam kerja kelompok atau
diskusi, yang masing-masing aspek diberi nilai maksimun 4 dengan
ketentuan sebagai berikut
1 = kurang/tidak baik (tidak pernah) 2 = cukup/hanya 1 x
3 = baik / 2x
4 = sangat baik/Lebih dari 2x
Adapun pedoman peskoran yang digunakan untuk mengetahui baik tidaknya
aktivitas siswa menggunakan ketentuan sebagai berikut:
Skor 1 - 3 = tidak/kurang baik Skor 4 - 6 = cukup
Skor 7 - 9 = baik
Skor 10-12 = sangat baik
Ketentuan tersebut diperoleh dari perkalian antara nilai maksimun dengan
jumlah aspek yang diteliti, dalam hal ini jumlah aspek aktivitas siswa yang
diteliti adalah 3. Dengan demikian skor maksimumnya adalah 3 x 4 = 12.
Berdasarkan ketentuan tersebut diperoleh data aktivitas siswa dalam
mata pelajaran PKn (lihat lampiran 13) pada pertemuan 1 (siklus 2) ini masih
belum baik hal ini karena skor rata-rata yang diperoleh baru mencapai 6,23
(cukup) dengan rincian: a) tingkat keseriusan dalam mengikuti pelajaran
mendapatkan mendapat nilai rata-rata 2,82 (cukup, dan mendekati baik); b)
mengajukan atau menjawab pertanyaan mendapatkan nilai rata-rata 1,44
(mendekati cukup); dan c) keterlibatan dalam kerja kelompok atau diskusi
Sedangkan untuk mapel PAI (lihat lampiran 14), aktivitas siswa dalam
KBM pada pertemuan 1 (siklus 2 ) ini juga masih kurang baik hal ini karena
skor rata-rata yang diperoleh baru mencapai 6,31 (cukup) dengan rincian: a)
tingkat keseriusan dalam mengikuti pelajaran mendapatkan mendapat nilai
rata-rata 2,72 (cukup, mendekati baik); b) mengajukan atau menjawab
pertanyaan mendapatkan nilai rata-rata 1,52 (mendekati cukup) dan c)
keterlibatan dalam kerja kelompok atau diskusi mencapai nilai rata-rata 2,07
(cukup).
Dalam mapel Seni Budaya (lihat lampiran 15) aktivitas siswa dalam
kegiatan belajar agak lebih tinggi yakni mencapai skor rata-rata 6,45 (cukup,
mendekati baik) namun masih harus ditingkatkan.
Hail refleksi berupa kegiatan diskusi antara peneliti dan mitra peneliti
diketahui bahwa adanya nilai yang dapat ditafsirkan masih kurang baik pada
umumnya disebabkan karena metode dan media pembelajaran yang
digunakan masih belum variatif. Tidak variatifnya metode dan media
pembelajaran inilah yang selanjutnya berakibat pada tingkat partisipasi siswa
dalam pembelajaran masih rendah. Oleh karena itu, pada siklus berikutnya
akan ditampilkan metode dan media pembelajaran yang lebih variatif serta
dapat merangsang atau memotivasi siswa untuk terlibat secara aktif.
D. Kegiatan Siklus 3
Hasil refleksi pada siklus 2 menunjukkan bahwa keterampilan Guru
SMPN 2 Cikeusik dalam mengembangkan PAKEM masih kurang
memuaskan karena guru yang menjadi subyek penelitian belum
menggunakan metode dan media yang variatif serta yang dapat memotivasi
siswa untuk terlibat secara aktif.
Berdasarkan hasil refleksi tersebut fokus tujuan yang ingin dicapai
pada siklus 3 adalah mengetahui keterampilan guru dalam penggunaan
metode dan media yang variatif dan yang dapat memotivasi siswa untuk
terlibat aktif.
1. Perencanaan
Seusai dengan fokus tujuan di atas, kegiatan perencanaan yang