Page | 1 FORCE MAJEURE DALAM KONTRAK JUAL BELI INTERNASIONAL
Usak
Dosen Program Studi Ilmu Hukum Universitas Halmahera [email protected]
Abstrak
Transaksi jual beli internasional tertuang dan tertutup dalam kontrak internasional. Dari sekian banyak klausul yang terdapat dalam kontrak jual beli internasional, terdapat satu klausul yang selalu ada, yaitu klausul mengenai force majeure. Force majeure merupakan istilah overmacht atau keadaan memaksa. Force majeure dapat diartikan sebagai klausul yang memberikan dasar pemaaf pada salah satu pihak dalam suatu kontrak jual beli internasional, untuk menanggung sesuatu hal yang tidak dapat diperkirakan sebelumnya, yang mengakibatkan pihak tersebut tidak dapat menunaikan kewajibannya berdasarkan kontrak yang telah diperjanjikan. Hal yang tidak dapat diperkirakan tersebut tentulah juga menciptakan situasi di mana tidak dapat diambil langkah apa pun untuk mengeliminir atau menghindarinya. Adanya peristiwa yang dikategorikan sebagai force majeure membawa konsekuensi bagi para pihak dalam suatu kontrak jual beli internasional, di mana pihak yang tidak dapat memenuhi prestasi tidak dapat dinyatakan sebagai wanprestasi. Isu hukum yang terjadi adalah seringkali terjadi kasus sengketa yang memakai alibi force majeure sebagai kendala pengiriman barang pada kerja sama kontrak jual beli internasional seperti dalam kasus Macromex Srl. v. Globex International Inc. Sesuai dengan isu hukum tersebut, maka tujuan penelitian ini untuk mengkaji force majeure dalam kontrak jual beli internasional. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian hukum normatif melalui pendekatan konseptual dan pendekatan kasus (Macromex Srl. V. Globex International Inc.
Key Words: force majeure, kontrak jual beli internasional, kasus Macromex Srl. v.
Page | 2 PENDAHULUAN
Hampir tidak ada satu perusahaan pun di dunia ini yang dapat hidup sendiri tanpa ada hubungan dengan pihak lain, baik secara langsung maupun tidak langsung. Hubungan demikian timbul karena adanya kebutuhan yang disebabkan antara lain oleh pembagian kekayaan alam dan perkembangan industri yang tidak merata antara negara di dunia, misalnya, perdagangan yang bertujuan untuk mempertukarkan hasil bumi dan hasil industri merupakan salah satu hubungan terpenting antar negara-negara di dunia (Kusumaatmadja dan Agoes, 2003: 12). Adanya era globalisasi dan perdagangan bebas dalam dunia bisnis telah memperluas ruang gerak arus transaksi barang dan jasa melewati batas wilayah negara.
Berkembangnya jual-beli internasional saat ini memberikan segi positif dan dampak negatif yang luas di segala aspek kehidupan masyarakat dunia. Perkembangan tersebut antara lain terdapat dalam pembuatan kontrak internasional. Transaksi jual beli internasional tertuang dan tertutup dalam kontrak internasional. Hal itu sesuai dengan perkembangan (hukum)
kontrak internasional sedikit banyak bergantung kepada perkembangan transaksi perdagangan internasional berikut hukum yang mengaturnya. Jika ingin melakukan jual-beli internasional, maka kontrak merupakan suatu bagian penting dalam transaksi internasional karena berkaitan dengan aturan hukum yang berlaku di masing-masing negara.
David Reitzel (dalam Adolf, 2007: 2) berpendapat bahwa kontrak adalah salah satu kekuatan hukum yang paling penting di dalam transaksi ekonomi di masyarakat. Kontrak internasional adalah suatu kontrak yang di dalamnya ada atau terdapat unsur asing (foreign element) (Adolf, 2007: 1). Perjanjian internasional yang digolongkan sebagai treaty contracts mengandung ketentuan-ketentuan yang mengatur hubungan-hubungan atau persoalan-persoalan khusus antara pihak yang mengadakannya saja, sehingga hanya berlaku khusus bagi para peserta perjanjian (Starke, 2008: 41).
Dalam melakukan suatu bisnis internasional, pelaku usaha diwajibkan untuk selalu membaca dengan hati-hati mengenai seluruh klausul yang
Page | 3 terdapat dalam kontrak. Fatal
akibatnya jika pelaku usaha hanya membaca sekilas dan tidak mengerti isi kontrak, bahkan tidak sedikit pelaku usaha yang meminta bantuan jasa dari seorang ahli hukum untuk membantu
menafsirkan isi kontrak maupun untuk dalam tahapan negosiasi kontrak. Dari sekian banyak klausul yang terdapat dalam kontrak jual beli internasional, terdapat satu klausul yang selalu ada, yaitu klausul mengenai force majeure.
Klausul force majeure ini muncul karena adanya kebutuhan pengaturan untuk hal-hal yang mungkin terjadi di masa mendatang yang dapat berpotensi untuk menimbulkan konflik antara para pihak dalam kontrak. Subekti (1990: 56) berpendapat bahwa force majeure atau keadaan memaksa adalah keadaan di luar kekuasaan debitur yang tidak dapat diketahui pada waktu kontrak itu dibuat, ia tidak dapat dikatakan salah atau alpha sehingga orang yang tidak
salah tidak boleh dijatuhi sanksi. Hal yang tidak dapat diperkirakan tersebut tentulah juga menciptakan situasi di mana tidak dapat diambil langkah apa pun untuk mengeliminir atau menghindarinya. Jadi seharusnya kriteria tersebut terpenuhi untuk diterimanya dalil force majeure karena terjadinya suatu musibah. Dalam ruang lingkup yang lebih spesifik, terdapat istilah “Acts of God”, yang merupakan cakupan dari force majeure itu sendiri.
Kasus sengketa yang memakai alibi force majeure sebagai kendala pengiriman barang sering terjadi pada kerja sama kontrak jual beli internasional atas dua perusahaan yang memiliki batas negara masing-masing. Isu hukum yang ada adalah bagaimana jikalau salah satu pihak yang terikat dalam kontrak sepatutnya mengetahui atau menyadari bahwa atas kontrak yang ditandatanganinya akan tak
terhindarkan dan tak dapat dieliminir terjadi suatu halangan tertentu di masa mendatang berakibat tidak terlaksananya kewajiban sebagaimana digariskan dalam kontrak? Hal tersebut juga pernah terjadi pada kasus Macromex Srl. v. Globex International Inc yang diajukan kepada arbitrase. Dalam kontrak antara Macromex Srl. v. Globex International Inc tersebut, Globex harus mengirimkan 112
Page | 4 kontainer ayam ke Rumania. Namun
pada tanggal 2 Juni 2006 terjadi kegagalan dalam mengirim 62 kontainer ayam ke Rumania. Globex
International Inc mengajukan argumennya bahwa kegagalan pengiriman tersebut terjadi karena adanya force majeure.
Keadaan memaksa (force
majeure) merupakan suatu ketentuan
yang tidak begitu banyak ditemukan dalam peraturan perundang-undangan di Indonesia. Dikarenakan KUH Perdata tidak mengenal istilah force
majeure dan juga tidak menjelaskan
lebih lanjut apa yang disebut sebagai keadaan memaksa, hal tidak terduga dan perbuatan yang terlarang tersebut. Jika ditemukan atau diatur, seringkali hanya menjadi bagian kecil dari keseluruhan peraturan tersebut, misalnya ditempatkan pada bagian ayat atau sub-ayat dari suatu pasal. Pertanyaannya adalah bagaimana force
majeure dalam kontrak jual beli
internasional? Sesuai dengan isu hukum tersebut, maka tujuan penelitian ini untuk mengkaji force majeure dalam kontrak jual beli internasional. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian hukum normatif melalui pendekatan konseptual dan pendekatan kasus (Macromex Srl. v. Globex International Inc).
PEMBAHASAN
A. Hukum Jual Beli Internasional
Hubungan jual beli internasional selalu menimbulkan konsekuensi yang kompleks dan beragam. Akibat perbedaan kebudayaan, kemampuan ekonomis, teknologi mengakibatkan perbedaan sistem hukum. Negara-negara memiliki pemerintahan yang berdaulat yang tidak tunduk kepada kekuasaan lain di dunia ini. Sebagai akibatnya negara-negara tersebut tidak menerima sistem hukum yang berasal dari negara lain, dan sebaliknya yuridiksi sistem hukumnya hanya terbatas pada wilayah dalam batas negaranya (Suhardi, 2004: 13).
Menurut Resolusi Sidang Umum PBB 2102 (XX) yang dimaksud dengan hukum jual beli internasional adalah seperangkat aturan yang mengatur hubungan perdagangan dari hukum yang merupakan hukum privat yang mencakup negara-negara yang berbeda (United Nations, 1966). Ruang lingkup dari hukum jual beli
Page | 5 internasional adalah; (a) Penjualan
Barang Internasional (International
Sales of Goods), (b) Instrumen yang
dapat dinegosiasikan (Negotiable
Instruments) dan Kredit Berdokumen
Bank (banker’s commercial credit), (c) Hukum yang berhubungan dengan aktifitas bisnis sehubungan dengan perdagangan internasional, (d) Asuransi, (e) Transportasi, baik melalui laut, udara, jalan raya maupun kereta dan perairan dalam, (f)
Industrial Property dan Hak Cipta
(Copyright), dan (g) Arbitrase Perdagangan (Commercial Arbitration) (United Nations, 1966).
Menurut Michelle Sanson (dalam Adolf, 2007: 8) hukum jual beli internasional “can be defined as the
regulation of the conduct of parties involved in the exchange of goods, services and technology between nations”. Sanson (dalam Adolf, 2007:
8) membagi hukum jual beli internasional ini ke dalam dua bagian utama, yaitu public international trade
law dan private international trade law. Public international trade law
adalah hukum yang mengatur perilaku dagang antar Negara (Adolf, 2007: 8). Sementara itu, hukum perdagangan internasional privat yakni hukum yang mengatur perilaku dagang secara orang
perorang (private traders) di negara-negara yang berbeda Adolf, 2007: 8).
Dalam memberikan definisi hukum jual beli internasional, Hercules Booysen (Adolf, 2007: 9-10) memberikan unsur-unsur dari definisi hukum jual beli internasional, kemudian unsur-unsur inilah yang menjadi batasan dalam mendefinisikan hukum jual beli internasional, yakni: a) Hukum jual beli internasional
dapat dipandang sebagai suatu cabang khusus dari hukum internasional (international trade
law may also be regarded as a specialized branch of international law).
b) Hukum jual beli internasional adalah aturan-aturan hukum internasional yang berlaku terhadap perdagangan barang, jasa dan perlindungan hak atas kekayaan intelektuanl (HKI). (international trade law can be
described as those rule of international law which are applicable to trade in goods, service and the protection of intellectual property).
c) Hukum jual beli internasional terdiri dari aturan-aturan hukum nasional yang memiliki atau berpengaruh langsung terhadap
Page | 6 perdagangan internasional secara
umum. Karena sifat aturan-aturan hukum nasional tersebut, maka aturan-aturan tersebut merupakan bagian dari hukum perdagangan internasional. Contohnya seperti perundang-undangan yang ekstrateritorial (the extraterritorial
legislation).
B. Kontrak
1. Pengertian Kontrak
Istilah kontrak dalam terminologi sehari-hari nampaknya sangat populer, istilah-istilah seperti kontrak sewa menyewa, kontrak jual beli, kontrak kerja, hampir tidak perlu klarifikasi bagi kaum awan dan seringkali bertolak dari pandangan bahwa yang dimaksud dengan kontrak sebuah dokumen tertulis (Dirdjosisworo, 2003: 65). Kontrak adalah kata bahasa Belanda yang berasal dari kata Latin “Contractus” dari bahasa Latin dijabarkan “Contract” Perancis, “Contract” Inggris dan “Kontrakt” Jerman (Soedjono Dirdjosisworo, 2003: 65). Menurut Satrio, (1992: 33) kontrak yang berasal dari bahasa Inggris “contract”, adalah: “Agreement
between two or more persons which
treates an obligation to do or not to do a particular thing. Its essentials are competent parties, subject matters, a legal consideration, mutuality of agreement, and mutuality of obligation .... the writing which contains the agreement of parties, with the terms and conditions, and which serves as a proof the obligations.” Suatu kontrak
dari definisi tersebut “memiliki unsur-unsur, yaitu “pihak-pihak yang kompeten, pokok yang disetujui, pertimbangan hukum, perjanjian timbal balik, serta hak dan kewajiban timbal balik.” (Satrio, 1992: 33).
Ketentuan mengenai kontrak pada umumnya, diatur dalam Buku III Kitab Undang-Undang Hukum Perdata tentang Perikatan, pada Bab II mengenai perikatan-perikatan yang dilahirkan dari kontrak atau perjanjian. Digunakan kata “atau” di antara “kontrak” dengan “perjanjian” menurut Buku III KUHPerdata, adalah sama penyebutannya secara berturut-turut seperti di atas memang sengaja untuk menunjukkan dan menganggap kedua istilah tersebut adalah sama. Sedangkan pengertian perjanjian sesuai dengan Pasal 1313 KUHPerdata adalah: “Suatu perjanjian adalah suatu perbuatan dengan mana satu orang atau
Page | 7 lebih mengikakan dirinya terhadap satu
orang lain atau lebih.”
Definisi berdasarkan Pasal 1313 KUHPerdata tersebut sebenarnya tidak lengkap, karena hanya mengatur kontrak sepihak dan juga sangat luas karena istilah perbuatan yang dipakai mencakup juga perbuatan melawan hukum. Pendapat yang sama juga dinyatakan oleh para sarjana hukum perdata, pada umumnya menganggap definisi kontrak menurut Pasal 1313 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata itu tidak lengkap dan terlalu luas pengertiannya.
Menurut Setiawan (1994: 4) definisi kontrak adalah suatu perbuatan hukum dimana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya atau saling mengikatkan dirinya terhadap satu orang atau lebih. Menurut R.Subekti (2002: 5) bahwa yang dimaksud dengan kontrak adalah suatu peristiwa dimana seseorang berjanji kepada orang lain atau dimana dua orang itu saling berjanji untuk melaksanakan sesuatu hal. Dari peritiwa ini timbul suatu hubungan perikatan.
Prodjodikoro (2000: 5) mengartikan kontrak sebagai suatu hubungan hukum mengenai harta benda antar kedua belah pihak, dalam mana suatu pihak berjanji atau
dianggap berjanji unuk melakukan sesuatu hal, sedangkan pihak lain berhak menuntut pelaksanaan janji itu. Sedangkan Muhammad (1990: 4) merumuskan kembali definisi Pasal 1313 KUHPerdata sebagai berikut, bahwa yang dimaksud dengan kontrak adalah suatu persetujuan dengan mana dua orang atau lebih saling mengikatkan diri untuk melaksanakan sesuatu hal dalam lapangan harta kekayaan. Dari pengertian tersebut, dapat ditafsirkan bahwa dengan adanya kontrak, maka melahirkan kewajiban atau prestasi dari satu orang atau lebih kepada satu orang lain atau lebih yang berhak atas prestasi tersebut.
Dari beberapa rumusan pengertian seperti tersebut di atas, dapat disimpulkan dalam kontrak terdapat unsur terdiri dari :
a. Adanya pihak-pihak
Sedikitnya dua orang, pihak ini disebut subyek kontrak dapat terdiri dari manusia maupun badan hukum dan mempunyai wewenang melakukan perbuatan hukum seperti yang ditetapkan undang-undang.
b. Adanya persetujuan antara pihak-pihak
Page | 8 Persetujuan antara pihak-pihak
tersebut sifatnya tetap bukan merupakan suatu perundingan. c. Adanya tujuan yang dicapai Mengenai tujuan para pihak
hendaknya tidak bertentangan dengan ketertiban umum, kesusilaan dan tidak dilarang oleh undang-undang.
d. Adanya prestasi yang dilaksanakan
Prestasi merupakan kewajiban yang harus dipenuhi oleh para pihak sesuai dengan syarat-syarat kontrak, misalnya pembeli berkewajiban membeli harga barang dan penjual berkewajiban menyerahkan barang.
e. Adanya bentuk tertentu, lisan maupun tertulis
Perlunya bentuk tertulis ini,
karena undang-undang
menyebutkan bahwa dengan bentuk tertentu suatu kontrak mempunyai kekuatan mengikat dan bukti yang kuat.
f. Adanya syarat-syarat tertentu sebagai isi perjanjian
Dari syarat-syarat tertentu sebagai isi kontrak maka dapat diketahui hak dan kewajiban para pihak. 2. Asas-Asas Dalam Hukum Kontrak
Asas hukum merupakan dasar dari suatu aturan hukum dan kumpulan aturan hukum, bahkan menjadi dasar dari keseluruhan peraturan perundang-undangan. Asas hukum kontrak merupakan pikiran dasar yang bersifat umum yang merupakan latar belakang dari peraturan hukum konkrit serta berguna sebagai pedoman atau petunjuk dalam penyelenggaraan dan pelaksanaan suatu perjanjian. Dalam hukum kontrak yang diatur oleh Buku III KUHPerdata dapat dijumpai asas-asas penting, antara lain:
a. Asas kebebasan berkontrak (contracteer vrijheid)
Menurut asas ini orang bebas membuat, menentukan isi kontrak, berlakunya dan syarat-syarat kontrak dengan bentuk tertentu atau tidak, bebas memilih undang-undang mana yang akan dipakainya untuk kontrak. Menurut Pasal 1337 KUHPerdata kebebasan tersebut tidak mutlak, melainkan ada batasannya, antara lain :
1) Tidak dilarang undang-undang, 2) Tidak bertentangan dengan
Page | 9 3) Tidak bertentangan dengan
ketertiban umum.
b. Asas konsensualisme (persesuaian kehendak)
Berdasarkan asas konsensualisme, kontrak lahir pada saat tercapainya kata sepakat antara para pihak mengenai hal-hal yang pokok. Asas ini terdapat dalam Pasal 1320 KUHPerdata yang menyatakan bahwa salah satu syarat untuk sahnya perjanjian adalah adanya kesepakatan para pihak mengikatkan dirinya (Mertokusumo, 1988: 97).
c. Asas kekuatan mengikat (Asas
Pacta Sunt Servanda)
Asas ini merupakan asas yang berhubungan dengan mengikatnya suatu kontrak. Kontrak yang dibuat secara sah mempunyai kekuatan mengikat dan berlaku sebagai undang-undang bagi para pihak yang membuatnya.
d. Asas itikad baik
Merupakan asas yang berkenaan dengan pelaksanaan kontrak, yang didasarkan bahwa kontrak harus dilaksanakan dengan itikad baik dan kontrak tidak hanya mengikat untuk hal-hal yang dengan tegas dinyatakan di dalamnya, tetapi juga untuk segala sesuatu yang
menurut sifat perjanjian diharuskan oleh kepatutan, kebiasaan dan undang-undang. e. Asas berlakunya suatu kontrak Bahwa suatu kontrak hanya
berlaku bagi para pihak yang membuatnya, jadi tidak ada pengaruhnya bagi pihak ketiga dan pihak ketiga pun tidak bisa mendapatkan keuntungan karena adanya kontrak tersebut, kecuali telah diatur dalam undang-undang maupun kontrak tersebut, misalnya perjanjian garansi dan perjanjian untuk pihak ketiga. 3. Syarat sahnya perjanjian
Menurut Pasal 1320 KUHPerdata, untuk sahnya kontrak harus memenuhi 4 (empat) syarat, antara lain :
1. Sepakat mereka yang mengikatkan dirinya,
2. Kecakapan untuk membuat suatu perikatan;
3. Suatu hal tertentu; 4. Suatu sebab yang halal.
Syarat pertama dan syarat kedua merupakan syarat subyektif karena subyek dari kontrak. Sedangkan syarat ketiga dan keempat disebut dengan syarat obyektif karena mengenai obyek dari kontrak. Apabila dalam suatu perjanjian tidak terpenuhi
Page | 10 syarat subyektifnya, maka perjanjian
tersebut dapat dibatalkan (vernietig
baar), yang berarti pembatalannya
harus dimohonkan, tetapi jika tidak ada pembatalan dari salah satu pihak, maka perjanjian tersebut harus tetap berlaku seperti halnya kontrak yang tidak mempunyai cacat kehendak. Sedangkan apabila suatu kontrak tidak terpenuhi syarat obyektifnya, maka kontrak tersebut batal demi hukum (nietig), sehingga kontrak tersebut dianggap tidak pernah ada atau tidak pernah terjadi atau tidak pernah dilakukan (Prinst, 2002: 15).
4. Wanprestasi
Apabila terdapat salah satu pihak yang tidak melakukan apa yang telah diperjanjikan, dalam hal ini ingkar janji maupun cidera janji maka hal tersebut dapat dikatakan sebagai wanpestasi. Menurut Subekti (1986: 51), wanprestasi dapat berupa tidak memenuhi kewajiban sama sekali, atau terlambat memenuhi kewajiban, atau memenuhi kewajibannya, tetapi tidak seperti apa yang telah diperjanjikan serta melakukan sesuatu yang menurut sesuatu yang menurut perjanjian tidak boleh dilakukan. Menurut Patrik (1994: 11-12) bentuk-bentuk dari wanprestasi antara lain:
a. debitur tidak memenuhi prestasi sama sekali,
b. debitur terlambat dalam memenuhi prestasi,
c. debitur berprestasi tidak sebagaimana mestinya.
Dari bentuk-bentuk wanprestasi tersebut di atas dapat menimbulkan keraguan, pada waktu debitur tidak memenuhi prestasi, apakah termasuk tidak memenuhi prestasi sama sekali atau terlambat memenuhi prestasi. Apabila debitur tidak dapat memenuhi prestasi maka ia termasuk bentuk yang pertama, tetapi apabila debitur masih mampu memenuhi prestasi maka dianggap sebagai terlambat memenuhi prestasi. Bentuk ketiga, yaitu debitur memenuhi prestasi tidak sebagaimana mestinya atau keliru dalam memenuhi prestasi, apabila prestasi masih dapat diharapkan untuk diperbaiki maka ia dianggap terlambat, namun apabila tidak dapat diperbaiki lagi maka sudah dianggap sama sekali tidak memenuhi prestasi. Sedangkan akibat terjadinya wanprestasi, maka debitur harus (Patrik, 1994: 13):
1. Mengganti kerugian.
2. Benda yang dijadikan obyek kontrak sejak tidak dipenuhinya kewajiban menjadi tangung jawab dari debitur.
Page | 11 3. Jika perikatan itu timbul dari
kontrak maka kreditur dapat
meminta pembatalan
(pemutusan) kontrak. 5. Berakhirnya Kontrak
Suatu kontrak dikatakan berakhir apabila segala sesuatu yang menjadi isi perjanjian telah dilaksanakan. Semua kesepakatan diantara para pihak menjadi berakhir setelah apa yang menjadi tujuan diadakannya kontrak telah tercapai oleh para pihak. Menurut Suharnoko (2004: 30) suatu perjanjian dapat berakhir karena alasan-alasan sebagai berikut:
a. Ditentukan oleh para pihak dalam perjanjian;
b. undang-undang menentukan batas berlakunya suatu perjanjian
c. para pihak dan/atau undang-undang dapat menentukan bahwa dengan terjadinya suatu peristiwa tertentu maka perjanjian akan berakhir; d. adanya pernyataan untuk
menghentikan perjanjian; e. adanya suatu putusan hakim
yang berkekuatan hukum tetap; f. tujuan perjanjian telah tercapai; g. adanya persetujuan para pihak.
C. Force Majeure
1. Pengertian Force Majeure
Force majeure merupakan istilah overmacht atau keadaan memaksa. Subekti (1990: 56) berpendapat bahwa force majeure atau keadaan memaksa adalah keadaan di luar kekuasaan debitur yang tidak dapat diketahui pada waktu kontrak itu dibuat, ia tidak dapat dikatakan salah atau alpha sehingga orang yang tidak salah tidak boleh dijatuhi sanksi. Vollmar (dalam Sofwan, 1980: 20) menyatakan bahwa force majeure atau
overmacht adalah keadaan di mana
debitur sama sekali tidak mungkin memenuhi perutangan (absolute
overmacht) atau masih memungkinkan
memenuhi perutangan, tetapi memerlukan pengorbanan besar yang tidak seimbang atau kekuatan jiwa di luar kemampuan manusia atau dan menimbulkan kerugian yang sangat besar (relative overmacht).
Patrik (1994: 18) mengartikan
force majeure atau overmacht atau
keadaan memaksa adalah debitur tidak melaksanakan prestasi karena tidak ada kesalahan maka akan berhadapan dengan keadaan memaksa yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kepadanya. Sedangkan pengertian yang diberikan oleh Yurisprudensi
Page | 12 Mahkamah Agung RI tidak jauh
berbeda memberikan pengertian tentang force majeure berdasarkan pendapat para ahli. Keadaan memaksa dilihat sebagai keadaan yang diakibatkan malapetaka yang secara patut tidak dapat dicegah oleh pihak yang berprestasi (Putusan Mahkamah Agung RI No. 409 K/Sip/1983). Force
majeure telah menutup
kemungkinan-kemungkinan atau alternatif lain bagi pihak yang terkena force majeure untuk memenuhi kontrak (Putusan Mahkamah Agung RI No. 24 K/Sip/1958).
Rezim hukum force majeure dapat juga dilihat di dalam Nieuwe
Burgerlijk Wetboek (Kitab
Undang-Undang Hukum Perdata yang Diperbaharui-NBW) Belanda tahun 1992 (Hesselink, 2006). Walau tidak menyebutkan dengan tegas pengertian dan istilah force majeure, namun NBW berpendirian bahwa setiap kelalaian pemenuhan kewajiban kontraktual dari debitur akan ditanggung olehnya, kecuali hal tersebut bukan kesalahannya. Dengan demikian, sesuatu yang berada di luar kesalahan debitur bukan berada di bawah tanggung jawabnya.
2. Penyebab Terjadinya Force Majeure
Berdasarkan ruang lingkup
force majeure dalam peraturan perundang-undangan dan kontrak-kontrak internasional, secara garis besar penyebab terjadinya force majeure dapat dikelompokkan menjadi
lima (Soemadipradja, 2010: 87-89): a) Force majeure karena faktor alam Yaitu force majeure yang
disebabkan oleh keadaan alam yang tidak dapat diduga dan dihindari oleh setiap orang karena bersifat alamiah tanpa unsur kesengajaan. Yang termasuk di dalam force majeure ini adalah banjir, tanah longsor, gempa bumi, badai, guntur, gunung meletus, topan, cuaca buruk, petir, gelombang pasang, takdir Tuhan, keadaan-keadaan cuaca lain yang merugikan, bencana alam di luar kemampuan manusia, dan bencana alam yang dibenarkan oleh penguasa atau pejabat dari instansi terkait di daerah setempat. b) Force majeure karena kondisi
sosial dan keadaan darurat
Yaitu force majeure yang ditimbulkan oleh situasi atau kondisi yang tidak wajar, keadaan khusus yang bersifat segera dan berlangsung dengan singkat tanpa dapat diprediksi sebelumnya.
Page | 13 Termasuk di dalam force majeure
tersebut adalah peperangan, pemberontakan, operasi militer, sabotase, blokade, pemogokan dan perselisihan buruh, kebakaran, epidemik, terorisme, peledakan, ledakan kebakaran, kerusuhan, keributan, pengrusakan massa (amukan massa), bencana nuklir, radio aktif, huru-hara, wabah, kerusuhan buruh secara umum, perbuatan musuh masyarakat, keadaan-keadaan lain di luar kekuasaan manusia yang langsung mempengaruhi jalannya pekerjaan, serta keadaan darurat lain yang ditetapkan oleh pemerintah.
c) Force majeure karena keadaan ekonomi (moneter)
Yaitu force majeure yang disebabkan oleh adanya situasi ekonomi yang berubah, ada kebijakan ekonomi tertentu, atau segala sesuatu yang berhubungan dengan sektor ekonomi. Termasuk di dalam force majeure ini adalah terjadi perubahan kondisi perekonomian atau peraturan perundang-undangan sedemikian rupa sehingga mengakibatkan tidak dapat dipenuhinya prestasi; timbulnya gejolak moneter yang
menyebabkan kenaikan biaya bank; embargo; perubahan di bidang politik, pasar modal, ekonomi, dan moneter; perubahan di bidang terkait dengan usaha Perusahaan Terdaftar; terjadinya kegagalan sistem orientasi perbankan yang bersifat nasional. d) Force majeure karena kebijakan
atau peraturan yang ditetapkan oleh pemerintah
Yaitu force majeure yang disebabkan oleh suatu keadaan di mana terjadi perubahan kebijakan pemerintah atau hapus atau dikeluarkannya kebijakan baru, yang berdampak pada kegiatan yang sedang berlangsung. Termasuk di dalam force majeure ini adalah perdagangan efek di bursa efek yang dihentikan sementara oleh instansi yang berwenang; terjadinya perubahan-perubahan izin percetakan dan penerbitan dari instansi; perintah atau petunjuk (adverse order atau
direction) pemerintahan ”de jure”
atau ”de facto” atau perangkatnya atau subdivisinya yang merugikan; peraturan perundang-undangan yang diterbitkan oleh Pemerintah menghambat kegiatan
Page | 14 usaha pertambangan yang sedang
dilaksanakan.
e) Force majeure keadaan teknis yang tidak terduga
Yaitu force majeure yang disebabkan oleh peristiwa rusaknya atau berkurangnya fungsi peralatan teknis atau operasional yang berperan penting bagi kelangsungan proses produksi suatu perusahaan, dan hal tersebut tidak dapat diduga akan terjadi sebelumnya. Termasuk di dalam force majeure tersebut, yaitu terjadinya kegagalan sistem orientasi perbankan yang bersifat nasional; keadaan yang secara teknis tidak mungkin dielakkan oleh Pengemudi, seperti gerakan orang dan/atau hewan secara tiba-tiba; kerusakan pada mesin-mesin yang berpengaruh besar terhadap kegiatan pengusahaan.
3. Jenis-Jenis Force Majeure
Dalam perkembangannya, force
majeure atau overmacht dalam kontrak
jual beli internasional dapat dibedakan menjadi beberapa jenis berdasarkan kriteria-kriteria yang berbeda sebagai berikut (Soemadipradja, 2010: 8-10):
a. Berdasarkan penyebab
1) Overmacht karena keadaan alam, yaitu keadaan memaksa yang disebabkan oleh suatu peristiwa alam yang tidak dapat diduga dan dihindari oleh setiap orang karena bersifat alamiah tanpa unsur kesengajaan, misalnya banjir, longsor, gempa bumi, badai, gunung meletus, dan sebagainya.
2) Overmacht karena keadaan darurat, yaitu keadaan memaksa yang ditimbulkan oleh situasi atau kondisi yang tidak wajar, keadaan khusus yang bersifat segera dan berlangsung dengan singkat, tanpa dapat diprediksi sebelumnya, misalnya peperangan, blokade, pemogokan, epidemi, terorisme, ledakan, kerusuhan massa, termasuk di dalamnya adanya kerusakan suatu alat yang menyebabkan tidak terpenuhinya suatu perikatan. 3) Overmacht karena musnahnya
atau hilangnya barang objek perjanjian.
4) Overmacht karena kebijakan atau peraturan pemerintah, yaitu keadaan memaksa yang
Page | 15 disebabkan oleh suatu keadaan
di mana terjadi perubahan kebijakan pemerintah atau hapus atau dikeluarkannya kebijakan yang baru, yang berdampak pada kegiatan yang sedang berlangsung, misalnya terbitnya suatu peraturan Pemerintah (pusat maupun daerah) yang menyebabkan
suatu objek
perjanjian/perikatan menjadi tidak mungkin untuk dilaksanakan.
b. Berdasarkan sifat
1) Overmacht tetap, yaitu keadaan memaksa yang mengakibatkan suatu perjanjian tidak mungkin dilaksanakan atau tidak dapat dipenuhi sama sekali.
2) Overmacht sementara, adalah keadaan memaksa yang mengakibatkan pelaksanaan suatu perjanjian ditunda daripada waktu yang ditentukan semula dalam perjanjian. Dalam keadaan yang demikian, perikatan tidak berhenti (tidak batal), tetapi hanya pemenuhan prestasinya yang tertunda. c. Berdasarkan objek
1) Overmacht lengkap, artinya mengenai seluruh prestasi itu
tidak dapat dipenuhi oleh debitur.
2) Overmacht sebagian, artinya hanya sebagian dari prestasi itu yang tidak dapat dipenuhi oleh debitur.
d. Berdasarkan subjek
1) Overmacht objektif adalah keadaan memaksa yang menyebabkan pemenuhan prestasi tidak mungkin dilakukan oleh siapa pun, hal ini didasarkan pada teori ketidakmungkinan
(imposibilitas).
2) Overmacht subjektif adalah keadaan memaksa yang terjadi apabila pemenuhan prestasi menimbulkan kesulitan pelaksanaan bagi debitur tertentu. Dalam hal ini, debitur masih mungkin memenuhi prestasi, tetapi dengan pengorbanan yang besar yang tidak seimbang, atau menimbulkan bahaya kerugian yang besar sekali bagi debitur. Hal ini di dalam sistem Anglo American disebut hardship yang menimbulkan hak untuk renegosiasi.
Page | 16 1) Overmacht umum, dapat
berupa iklim, kehilangan, dan pencurian.
2) Overmacht khusus, dapat berupa berlakunya suatu peraturan (Undang-Undang atau Peraturan Pemerintah). Dalam hal ini, tidak berarti prestasi tidak dapat dilakukan, tetapi prestasi tidak boleh dilakukan.
f. Kriteria lain dalam ilmu hukum kontrak
1) Ketidakmungkinan (impossibility).
Ketidakmungkinan pelaksanaan kontrak adalah suatu keadaan di mana seseorang tidak mungkin lagi melaksanakan kontraknya karena keadaan di luar tanggung jawabnya. Misalnya, kontrak untuk menjual sebuah rumah, tetapi rumah tersebut hangus terbakar api sebelum diserahkan kepada pihak pembeli.
2) Ketidakpraktisan
(impracticability). Maksudnya adalah terjadinya peristiwa juga tanpa kesalahan dari para pihak, peristiwa tersebut sedemikian rupa, di mana dengan peristiwa tersebut para
pihak sebenarnya secara teoretis masih mungkin melakukan prestasinya, tetapi secara praktis terjadi sedemikian rupa sehingga kalaupun dilaksanakan prestasi dalam kontrak tersebut, akan memerlukan pengorbanan yang besar dari segi biaya, waktu atau pengorbanan lainnya. Dengan demikian, berbeda dengan ketidakmungkinan melaksanakan kontrak, di mana kontrak sama sekali tidak mungkin dilanjutkan, pada ketidakpastian pelaksanaan kontrak ini, kontrak masih mungkin dilaksanakan, tetapi sudah menjadi tidak praktis jika terus dipaksakan.
3) Frustrasi (frustration). Yang dimaksud dengan frustrasi di sini adalah frustrasi terhadap maksud dari kontrak, yakni dalam hal ini terjadi peristiwa
yang tidak
dipertanggungjawabkan kepada salah satu pihak, kejadian mana mengakibatkan tidak mungkin lagi dicapainya tujuan dibuatnya kontrak tersebut, sungguhpun sebenarnya para pihak masih mungkin
Page | 17 melaksanakan kontrak tersebut.
Karena, tujuan dari kontrak tersebut tidak mungkin tercapai lagi sehingga dengan demikian kontrak tersebut dalam keadaan frustrasi.
4. Akibat Hukum Force Majeure Adanya peristiwa yang dikategorikan sebagai force majeure membawa konsekuensi bagi para pihak dalam suatu kontrak jual beli internasional, di mana pihak yang tidak dapat memenuhi prestasi tidak dinyatakan sebagai wanprestasi. Dengan demikian, dalam hal terjadinya
force majeure, debitur tidak wajib
membayar ganti rugi dan dalam kontrak timbal balik, kreditur tidak dapat menuntut pembatalan karena perikatannya dianggap gugur/terhapus. Setiawan (1994: 27-28) merumuskan bahwa suatu force majeure
menghentikan bekerjanya perikatan dan menimbulkan beberapa akibat, yaitu:
a. kreditur tidak lagi dapat meminta pemenuhan prestasi; b. debitur tidak lagi dapat
dinyatakan lalai, dan karenanya tidak wajib membayar ganti rugi;
c. risiko tidak beralih kepada debitur;
d. pada persetujuan timbal balik, kreditur tidak dapat menuntut pembatalan.
Muhammad (1982: 28) membedakan force majeure yang bersifat objektif dan subjektif. Keadaan memaksa yang bersifat objektif dan bersifat tetap secara otomatis mengakhiri perikatan dalam arti perikatan itu batal (the agreement
would be void from the outset). Salim
(2001: 184-185) mengemukakan tiga akibat dari force majeure yaitu:
a. debitur tidak perlu membayar ganti rugi (Pasal 1244 KUH Perdata);
b. beban risiko tidak berubah, terutama pada keadaan memaksa sementara;
c. kreditur tidak berhak atas pemenuhan prestasi, tetapi sekaligus demi hukum bebas dari kewajibannya untuk menyerahkan kontraprestasi, kecuali untuk yang disebut dalam Pasal 1460 KUH Perdata.
Badrulzaman (2001: 26-29) mengemukakan force majeure
mengakibatkan perikatan tersebut tidak lagi bekerja (werking) walaupun perikatannya sendiri tetap ada, dalam hal ini maka:
Page | 18 a. kreditur tidak dapat menuntut
agar perikatan itu dipenuhi; b. debitur tidak dapat dikatakan
berada dalam keadaan lalai dan karena itu tidak dapat menuntut;
c. kreditur tidak dapat meminta pemutusan perjanjian;
d. pada perjanjian timbal balik maka gugur kewajiban untuk melakukan kontraprestasi. Harahap (1986: 82) berpendapat berdasarkan Pasal 1244 dan 1245 KUH Perdata, force majeure telah ditetapkan sebagai alasan hukum yang membebaskan debitur dari kewajiban melaksanakan pemenuhan (nakoming) dan ganti rugi (schadevergoeding) sekalipun debitur telah melakukan perbuatan yang melanggar hukum/onrechtmatig. Ada dua hal yang menjadi akibat force
majeure, yang dinyatakan oleh Harahap, (1986: 82-98) sebagai berikut:
a. Membebaskan debitur dari membayar ganti rugi (schadevergoeding). Dalam hal ini, hak kreditur untuk menuntut gugur untuk selama-lamanya. Jadi, pembebasan ganti rugi sebagai akibat
keadaan memaksa adalah pembebasan mutlak;
b. Membebaskan debitur dari kewajiban melakukan
pemenuhan prestasi
(nakoming). Pembebasan pemenuhan (nakoming) bersifat relatif. Pembebasan itu pada umumnya hanya bersifat menunda, selama keadaan
overmacht masih
menghalangi/merintangi
debitur melakukan pemenuhan prestasi. Bila keadaan memaksa hilang, kreditur kembali dapat menuntut pemenuhan prestasi. Pemenuhan prestasi tidak gugur selama-lamanya, hanya tertunda, sementara keadaan memaksa masih ada.
D. Force Majeure dalam Hukum Kontrak Jual Beli Internasional
Terdapat pengaturan Internasional mengenai force majeure dalam perjanjian/kontrak Internasional, diantaranya adalah UNIDROIT atau kadang disingkat menjadi UPICCs (Principles of International Commercial Contracts) dan CISG
(United Nations Convention on Contracts for the International Sale of Goods). Ada 12 prinsip hukum kontrak
Page | 19 internasional yang dipakai dalam
Unidroit Principles of International Commercial Contracts (2004) yaitu :
a) Prinsip Kebebasan Berkontrak (bebas menentukan isi dan bentuk kontrak, mengikat sebagai Undang-undang, aturan memaksa sebagai pengecualian, sifat international dan tujuan prinsip-prinsip UNIDROIT harus diperhatikan dalam penafsiran kontrak );
b) Prinsip itikad baik (good faith) dan transaksi wajar/jujur (fair
dealing) (prinsip dasar yang
melandasi seluruh proses kontrak yaitu mulai dari proses negosiasi, pembuatan,
pelaksanaan sampai
berakhirnya kontrak (purna kontrak), ditekankan dalam praktik perdagangan international dan bersifat memaksa);
c) Prinsip diakuinya kebiasaan transaksi bisnis di negara setempat;
d) Prinsip Kesepakatan melalui Penawaran (Offer) dan Penerimaan (Acceptance) atau Melalui Perilaku (Conduct); e) Prinsip Larangan Bernegosiasi
dengan Itikad Buruk;
f) Prinsip Kewajiban Menjaga Kerahasiaan atas Informasi yang diperoleh pada saat Negosiasi;
g) Prinsip Perlindungan Pihak Lemah dari Syarat-syarat Baku; h) Prinsip Syarat Sahnya Kontrak; i) Prinsip dapat dibatalkannya
kontrak bila mengandung perbedaan besar (gross
disparity);
j) Prinsip contra proferentem
dalam penafsiran kontrak baku; k) Prinsip menghormati Kontrak
ketika terjadi Kesulitan (hardship);
l) Prinsip pembebasan tanggung jawab dalam keadaan memaksa (force majeure).
Prinsip mengenai force majeure termaktub dalam Pasal 7.1.7 Unidroit
Principles of International
Commercial Contracts (2004) yang
mengatur sebagai berikut:
“Article 7.1.7 - (Force majeure)
(1) Non-performance by a party is excused if that party proves that the nonperformance was due to an impediment beyond its control and that it could not reasonably be expected to have taken the impediment into account at the time of the conclusion of the contract or to have avoided or overcome it or its consequences.
(Tidak dipenuhinya prestasi oleh suatu pihak dimaafkan jika pihak
Page | 20 tersebut dapat membuktikan
bahwa tidak dapat dipenuhi prestasi disebabkan hambatan yang di luar kendali dan bahwa hal itu tidak diharapkan untuk terjadi sebagai hambatan pada saat penandatanganan kontrak atau untuk menghindari atau
mengatasinya atau
konsekuensinya)
(2) When the impediment is only temporary, the excuse shall have effect for such period as is reasonable having regard to the effect of the impediment on the performance of the contract.
(Ketika halangan ini hanya sementara, alasan akan berlaku untuk periode seperti ini wajar dengan memperhatikan efek hambatan pada kinerja kontrak)
(3) The party who fails to perform must give notice to the other party of the impediment and its effect on its ability to perform. If the notice is not received by the other party within a reasonable time after the party who fails to perform knew or ought to have known of the impediment, it is liable for damages resulting from such non-receipt. (Pihak yang
gagal melakukan kewajiban
harus memberikan
pemberitahuan kepada pihak lain dari hambatan dan efeknya pada
kemampuannya untuk
melakukan. Jika pemberitahuan tidak diterima oleh pihak lain dalam waktu yang wajar setelah pihak yang gagal untuk melakukan tahu atau seharusnya tahu adanya hambatan, maka ia bertanggung jawab atas kerugian yang diakibatkan berdasarkan non-penerimaan)
(4) Nothing in this article prevents a party from exercising a right to terminate the contract or to
withhold performance or request interest on money due.” (Tidak ada ketentuan dalam pasal ini yang
mencegah suatu pihak dari
menggunakan haknya untuk
mengakhiri kontrak atau untuk
menahan pelaksanaan isi
perjanjian atau menuntut bunga berupa uang yang menjadi haknya)
Pada penjelasan mengenai Pasal 7.1.7 Unidroit Principles of
International Commercial Contracts
(2004) tentang force majeure ini tertulis bahwa prinsip ini penting mengingat peristiwa yang terjadi di kemudian hari yang berada di luar kontrol (kendali) para pihak dapat setiap saat terjadi. Prinsip force
majeure sebenarnya lebih banyak
menggunakan prinsip yang dikenal dalam hukum continental. Di Negara-negara common law dikenal pula dengan doktrin Frustation dan doktrin
impossibility of performance. Namun
perancang UNIDROIT menetapkan menggunakan istilah force majeure, karena kontrak internasional umumnya sudah lazim menggunakan istilah ini (Adolf, 2007: 91).
Pengaturan force majeure
dimuat juga dalam Pasal 79 dan 80
United Nations Convention on Contracts for the International Sale of Goods (1980):
Page | 21
(1) A party is not liable for a failure to perform any of his obligations if he proves that the failure was due to an impediment beyond his control and that he could not reasonably be expected to have taken the impediment into account at the time of the conclusion of the contract or to have avoided or overcome it or its consequences. (Suatu Pihak
tidak bertanggung jawab atas kegagalan untuk melakukan salah satu kewajiban jika ia membuktikan bahwa kegagalan itu disebabkan halangan di luar kendali dan bahwa ia tidak bisa diperkirakan mungkin telah mengalami hambatan ke lokasi pada saat penyelesaian dari kontrak atau menghindari atau mengatasi atau konsekuensinya)
(2) If the party's failure is due to the failure by a third person whom he has engaged to perform the whole or a part of the contract, that party is exempt from liability only if (Jika kegagalan suatu
pihak adalah karena kegagalan oleh orang ketiga yang telah terlibat untuk melakukan seluruh atau bagian dari kontrak, maka pihak tersebut akan dibebaskan dari kewajiban hanya jika): (a) he is exempt under the preceding
paragraph; and (ia dibebaskan
berdasarkan ayat di atas; dan)
(b) the person whom he has so engaged would be so exempt if the provisions of that paragraph were applied to him. (orang yang
telah terlibat akan dibebaskan sesuai ketentuan-ketentuan ayat yang diterapkan kepadanya)
(c) The exemption provided by this article has effect for the period during which the impediment exists. (Pembebasan diatur oleh
Pasal ini memiliki efek untuk periode di mana hambatan ada)
(3) The party who fails to perform must give notice to the other party of the impediment and its effect on his ability to perform. If the notice is not received by the other party within a reasonable time after the party who fails to perform knew or ought to have known of the impediment, he is liable for damages resulting from such non-receipt. (Pihak yang
gagal untuk melakukan harus memberikan pemberitahuan kepada pihak lain dari hambatan
dan efeknya pada
kemampuannya untuk
melakukan. Jika pemberitahuan tidak diterima oleh pihak lain dalam waktu yang wajar setelah pihak yang gagal untuk melakukan tahu atau seharusnya tahu dari halangan, ia bertanggung jawab atas kerusakan yang diakibatkan berdasarkan non-penerimaan)
(4) Nothing in this article prevents either party from exercising any right other than to claim damages under this Convention.
(Tidak ada dalam Pasal ini mencegah salah satu pihak dari menggunakan haknya untuk menuntut ganti rugi berdasarkan Konvensi ini).
Article 80
A party may not rely on a failure of the other party to perform, to the extent that such failure was caused by the first party's act or omission. (Suatu pihak tidak dapat bergantung pada kegagalan pihak lain untuk melakukan, sejauh bahwa kegagalan tersebut disebabkan oleh tindakan pihak pertama atau kelalaian)
Page | 22 E. Studi Kasus Force Majeure:
Macromex Srl. v. Globex International Inc
Globex International Inc merupakan perusahaan Amerika yang menjual produk-produk makanan ke seluruh dunia. Globex International Inc telah dikontrak untuk menjual produknya pada Macromex Srl., sebuah perusahaan di Rumania, dalam kontrak tersebut, Globex harus mengirimkan 112 kontainer ayam ke Rumania. Kontrak tersebut diatur dalam ketentuan United Nations Convention on Contracts for the International Sale of Goods. Dalam
kontrak tersebut Globex International Inc menyebutkan bahwa pengiriman terakhir dilakukan pada 29 Mei 2006. Namun pada tanggal 2 Juni 2006 terjadi kegagalan dalam mengirim 62 kontainer ayam ke Rumania.
Pada tanggal 2 Juni 2006, pemerintah Rumania mendeklarasikan tanpa memberitahu terlebih dulu kepada Globex International Inc bahwa sampai pada tanggal 7 Juni 2006, tidak ada ayam yang dapat diimpor ke Rumania kecuali apabila ada pengesahan pada tanggal terakhir yang telah ditentukan. Antara tanggal pengumuman tersebut dibuat sampai
pada tanggal 7 Juni 2006 Globex International Inc bergegas untuk mengirimkan 20 kontainer dari sisa 62 kontainer yang telah dikontrak untuk dijual. Pada tanggal 7 Juni 2006 sisa 42 kontainer ayam tidak dapat dikirim ke Rumania dikarenakan suatu peraturan pemerintah. Macromex Srl kemudian membawa perkara ini ke proses arbitrase dengan dasar bahwa Globex International Inc telah melakukan suatu pelanggaran kontrak, dan meminta ganti rugi sebesar $608,323,00.
Atas pengajuan arbitrase Macromex Srl terhadap Globex International Inc tersebut, Globex International Inc mengajukan argumennya bahwa kegagalan pengiriman tersebut terjadi karena adanya force majeure. Globex International Inc beragumen bahwa penundaan pengiriman tersebut tidak sesuai dengan standar umum. Larangan tersebut tidak dapat diadaptasi oleh pihak Globex International Inc karena tidak ada peringatan terlebih dahulu, larangan tersebut benar-benar memblocking Globex International Inc dalam pengiriman sisa ayam ke Macromex Srl.
Arbitrase memutuskan bahwa penundaaan pengiriman tersebut bukan
Page | 23 merupakan suatu pelanggaran yang
fundamental karena larangan untuk mengimpor ayam ke Rumania tidak efektif membuat pengiriman tidak terlaksana. Sesuai dengan keberadaan Pasal 79 United Nations Convention
on Contracts for the International Sale of Goods dimana meminta dimasukkan
dalam keadaaan force majeure sesuai dengan pasal tersebut yang dipakai sebagai dasar interpretasi oleh arbitrator. Kemudian arbitrase mencatat bahwa selain Amerika sebagai supplier Macromex Srl. yang menyetujui secara lebih tidak terkait secara langsung oleh larangan impor. Yang seharusnya Globex International Inc dapat mengambil keuntungan dari meningkatnya nilai jual ayam di pasar sesuai dengan keadaan. Rusaknya harga pasar di Rumania dikarenakan tidak terkirimnya ayam senilai $606,323,00 yang menyebabkan kerugian pihak Macromex Srl.
Dalam putusannya, Arbitrator membebankan semua biaya untuk proses arbitrse dan biaya pengacara kepada Globex International Inc sehingga total putusan sebesar $876,310,58. Arbitrase merupakan hakim yang ditunjuk menjadi pengadilan sebagai pihak ketiga dalam perjanjian atau kontrak jual beli
Internasional antara Globex International Inc dengan Macromex Srl yang secara principal karena berbeda Negara, maka berbeda aturan hukumnya. Dalam masalah Globex International Inc dengan Macromex Srl, arbitrase menerima klaim atau tuntutan dari Macromex Srl sekaligus menerima argumen/alibi pembelaan diri dari Globex International Inc secara terperinci berdasar pada seluruh pasal yang sudah disepakati menjadi perjanjian dagang Internasional antara kedua belah pihak. Mengingat posisi sebagai peradilan pihak ketiga yang independent, maka para arbitrator selalu mengacu dalam setiap pasal perjanjian dan/atau United Nations
Convention on Contracts for the International Sale of Goods sebagai
alat pertimbangan untuk mengambil keputusan. Tidak lupa para arbitrator juga memegang erat seluruh prinsip UNIDROIT secara lengkap yang menjadi prinsip dasar penentuan
United Nations Convention on Contracts for the International Sale of Goods.
Beberapa pelanggaran yang paling mendasar yang telah digunakan sebagai acuan keputusan kasus force
majeure Macromex Srl. v. Globex
Page | 24 antara lain (American Arbitration
Association, 2007) :
a) Selama masa munculnya larangan tanggal 2 Juni 2006 Pemerintah Rumania memberikan sosialisasi sampai pada tanggal 7 Juni 2006 sehingga pada prinsipnya ada jeda waktu 5 hari yang bisa dan/atau dapat digunakan oleh Globex International Inc untuk melakukan pemberitahuan, pembahasan dan konsolidasi dengan pihak Macromex Srl untuk mencari cara atau mensiasati larangan impor ayam Rumania (interprestasi dari Pasal 49 CISG dan rumusan umum Pasal 2 UNIDROIT). b) Penolakan para arbitrator terhadap
argumentasi pembelaan dari Globex International Inc terkait dengan force majeure sebagai penyebab tidak terlaksananya kewajiban Globex International Inc selaku penjual karena larangan pemerintah Rumania tentang impor ayam tersebut bukanlah sebuah masalah yang fundamental atau sangat mendasar tidak ada jalan keluar, karena bila dikehendaki seharusnya Globex International Inc akan melakukan koordinasi dan konsolidasi secepatnya dalam jeda waktu yang
masih aman. Hal tersebut bukan merupakan pelanggaran fundamental, karena tidak memenuhi syarat-syarat yang ditentukan dalam Pasal 25 UNCITRAL. Para arbitrator memutuskan dengan seksama menilik kerugian langsung dialami di pihak Macromex Srl dan tidak tampaknya itikad secara professional pihak Globex International Inc mencari jalan keluar menyelesaikan kontraknya yang pada akhirnya arbitrator memutuskan memenangkan pihak Macromex Srl selaku pembeli dengan membebankan biaya kerugian dan arbitrase secara total kepada Globex International Inc sebesar $876,310,58.
Dari studi kasus Macromex Srl. v. Globex International Inc mengenai
force majeure dapat dilihat bahwa
suatu peristiwa atau kondisi tertentu bisa jadi tidak dapat dikategorikan sebagai force majeure, jika hal tersebut sudah diduga sebelumnya atau karena kelalaian dan atau kesalahan salah satu atau para pihak dalam perjanjian peristiwa tertentu itu terjadi. Force
majeure atau overmacht adalah suatu
kejadian yang tidak terduga, tidak disengaja, dan tidak dapat
Page | 25 dipertanggungjawabkan kepada debitur
serta memaksa, dalam arti debitur terpaksa tidak menepati janjinya. Debitur wajib membuktikan bahwa terjadinya wanprestasi karena keadaan memaksa. Untuk dapat dikatakan sebagai force majeure, perlu dipenuhi unsur-unsur antara lain:
a. terjadinya keadaan kejadian di luar kemauan, kemampuan atau kendali para pihak;
b. menimbulkan kerugian bagi para pihak atau salah satu pihak;
c. terjadinya peristiwa tersebut menyebabkan tertunda, terhambat, terhalang, atau tidak dilaksanakannya prestasi para pihak;
d. para pihak telah melakukan upaya sedemikian rupa untuk menghindari peristiwa tersebut; e. kejadian tersebut sangat mempengaruhi pelaksanaan perjanjian.
Melihat adanya pengaturan mengenai force majeure dalam hukum kontrak jual beli internasional dimana ada beberapa jenis kontrak yang diwajibkan untuk mencantumkan force
majeure sebagai klausula dalam perjanjian tersebut, maka perlu juga dipertimbangkan apakah perlu untuk
mencantumkan klausula force majeure pada perjanjian yang tidak diatur oleh peraturan perundang-undangan untuk mencantumkan klausula force majeure tersebut. Dalam konteks hukum kontrak jual beli internasional, force
majeure dapat diartikan sebagai klausula yang memberikan dasar pemaaf pada salah satu pihak dalam suatu perjanjian, untuk menanggung sesuatu hal yang tidak dapat diperkirakan sebelumnya, yang mengakibatkan pihak tersebut tidak dapat menunaikan kewajibannya berdasarkan kontrak yang telah diperjanjikan. Selain sebagai dasar pemaaf, klausula force majeure juga dapat merupakan dasar pembenar.
PENUTUP
Transaksi jual beli internasional tertuang dan tertutup dalam kontrak internasional. Hal itu sesuai dengan perkembangan (hukum) kontrak internasional sedikit banyak bergantung kepada perkembangan transaksi perdagangan internasional berikut hukum yang mengaturnya. Adanya peristiwa yang dikategorikan sebagai force majeure membawa konsekuensi bagi para pihak dalam suatu kontrak jual beli internasional, di mana pihak yang tidak dapat
Page | 26 memenuhi prestasi tidak dinyatakan
sebagai wanprestasi. Dengan demikian, dalam hal terjadinya force majeure, debitur tidak wajib membayar ganti rugi dan dalam kontrak timbal balik, kreditur tidak dapat menuntut pembatalan karena perikatannya dianggap gugur/terhapus.
Berdasarkan kasus Macromex Srl. v. Globex International Inc dapat disimpulkan bahwa dalil force majeure tidak berlaku semata-mata untuk segala situasi yang menghambat atau menghalangi suatu pihak untuk melaksanakan kewajibannya. Force
majeure haruslah disebabkan karena
keadaan yang terjadi tersebut merupakan hal yang tidak dapat diduga atau di luar kebiasaan yang biasanya terjadi dalam situasi normal dimana suatu pihak telah melakukan upaya sedemikian rupa untuk menghindari peristiwa tersebut namun kejadian tersebut di luar kemauan, kemampuan atau kendali suatu pihak. Dalam hukum kontrak jual beli internasional untuk dapat dikatakan sebagai force
majeure, perlu dipenuhi unsur-unsur
antara lain: a. terjadinya keadaan kejadian di luar kemauan, kemampuan atau kendali para pihak; b.
menimbulkan kerugian bagi para pihak atau salah satu pihak; c. terjadinya peristiwa tersebut menyebabkan tertunda, terhambat, terhalang, atau tidak dilaksanakannya prestasi para pihak; d. para pihak telah melakukan upaya sedemikian rupa untuk menghindari peristiwa tersebut; e. kejadian tersebut sangat mempengaruhi pelaksanaan perjanjian.
Dalam hal penyelesaian perselisihan kontrak jual beli internasional yang terindikasi force
majeure pilihan di pengadilan Arbitrase yang merupakan pilihan rasional para pihak di dalam kondisi adil dan seimbang. Proses penyelesaian perselisihan kontrak jual beli internasional tentu dihadapkan pada kemungkinan adanya perlawanan oleh pihak debitur yang melakukan wanprestasi, namun perlawanan tersebut harus didasarkan, antara lain pada adanya force majeure yang menyebabkan kewajiban-kewajiban dalam perjanjian tidak dilaksanakan. Artinya, pihak debitur harus membuktikan telah terjadinya keadaan memaksa. Sebaliknya, pihak yang menuntut harus membuktikan tidak terjadinya keadaan memaksa.
Page | 27 DAFTAR PUSTAKA
Abdul Kadir Muhammad, Hukum Perikatan, PT Citra Aditya Bakti, Bandung, 1990. Darwin Prinst, Strategi Menyusun dan Menangani Gugatan Perdata, PT.Citra Aditya
Bakti, Bandung, 2002.
Gunarto Suhardi, Beberapa Elemen Penting dalam Hukum Perdagangan
Internasional, Universitas Atma Jaya, Yogyakarta, 2004.
Huala Adolf, Dasar-dasar Hukum Kontrak Internasional, Rafika Aditama, Bandung, 2007.
J. Satrio, Hukum Perjanjian, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, 1992.
J.G. Starke, Pengantar Hukum Internasional 1, Sinar Grafika, Jakarta, 2008.
M. Yahya Harahap, Segi-segi Hukum Perjanjian, Penerbit Alumni, Bandung, 1986. Mariam Darus Badrulzaman, dkk, Kompilasi Hukum Perikatan, PT Citra Aditya
Bakti, Bandung, 2001.
Martin Hesselink, The Harmonisation of European Contract Law, Hart Publishing, United Kingdom, 2006.
Mochtar Kusumaatmadja dan Etty Agoes, Pengantar Hukum Internasional, Penerbit Alumni, Bandung, 2003.
Purwahid Patrik, Hukum Perikatan yang Lahir dari Perjanjian, Badan Penerbit Universitas Diponegoro, Semarang, 1994.
R.Setiawan, Pokok-Pokok Hukum Perikatan, Penerbit Alumni, Bandung, 1979. R., Subekti, Aneka Perjanjian, Penerbit Alumni, Bandung, 1986.
________, Hukum Kontrak, PT Intermasa, Jakarta, 1990.
________, Pokok-Pokok Hukum Perdata, PT.Intermasa, Jakarta, 2002.
Rahmat S.S. Soemadipradja, Penjelasan Hukum tentang Keadaan Memaksa, Nasional Legal Reform Program, Jakarta, 2010.
Salim H.S., Pengantar Hukum Perdata Tertulis (BW), Penerbit Sinar Grafika, Jakarta, 2001.
Soedjono Dirdjosisworo, Kontrak Bisnis Menurut Sistem Civil Law, Common Law,
Page | 28 Sri Soedewi Masjchoen Sofwan, Hukum Perdata, Hukum Perutangan, Bagian A,
Seksi Hukum Perdata Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, 1980.
Sudikno Mertokusumo, Mengenal Hukum (Suatu Pengantar), Liberty, Yogyakarta , 1988.
Suharnoko, Hukum Perjanjian, Teori dan Analisa Kasus, Penerbit Kencana, Jakarta, 2004.
Wirdjono Prodjodikoro, Azas-Azas Hukum Perjanjian, CV. Mandar Maju, Bandung, 2000.
United Nations (UN), Progressive Development of the Law of International Trade:
Report of the Secretary-General of the United Nations, 1966,
http://www.jus.uio.no/lm/un.sg.report.itl.development.1966/doc.html, diakses pada tanggal 21 Mei 2015.
United Nations Convention on Contracts for the International Sale of Goods 1980. Unidroit Principles of International Commercial Contracts 2004.
American Arbitration Association International Centre for Dispute Resolution: Macromex Srl. v. Globex International Inc. Case No. 50181T 0036406.
Kitab Undang-Undang Hukum Perdata
Putusan Mahkamah Agung RI No. 24 K/Sip/1958 Putusan Mahkamah Agung RI No. 409 K/Sip/1983