Penggunaan laboratorium utk sarana pembelajaran di
perguruan tinggi diperkenalkan pd pertengahan abad 19
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa praktikum di
laboratorium lebih efektif utk memperoleh kemampuan
pengamatan dan keterampilan
Laboratorium ialah tempat utk melatih mahasiswa dalam hal
keterampilan melakukan praktek, demonstrasi, percobaan, penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan.
1. Memberikan KELENGKAPAN bagi pelajaran teori yg telah
diterima shg antara teori dan praktek bukan merupakan dua hal yang terpisah, melainkan suatu kesatuan
2. Memberikan KETERAMPILAN kerja ilmiah bagi mahasiswa 3. Memberikan dan memupuk KEBERANIAN utk melakukan
keterampilan pada phantoom
4. Menambah KETERAMPILAN DALAM MENGGUNAKAN ALAT 5. Memupuk RASA INGIN TAHU mahasiswa
Untuk menunjang pembelajaran, beberapa hal penting yg
harus dimiliki oleh suatu laboratorium yg terorganisir dg baik adalah :
1. Efisien dan efektif ; 2. Sehat dan aman ;
3. Memenuhi kebutuhan psikologis mahasiswa yg
berpraktek ;
4. Dapat dikontrol dosen pengelola setiap saat ; 5. Menjamin keselamatan alat dan mahasiswa ;
A.
Demonstrasi
B.
Simulasi
C.
Roleplay
D.
Bedside Teaching
Peragaan (demonstrasi) adalah suatu metode yg populer
dan mendasar dalam memperagakan keterampilan.
Peragaan, bisa didefinisikan sebagai penjelasan-penjelasan
yang nyata (secara visual/dapat dilihat) mengenai fakta -fakta, ide - ide atau proses - proses yang penting.
Dalam pengertian yang lebih luas :
Umumnya metoda peragaan terdiri dari
langkah-langkah mendasar sebagai berikut :
a.
Persiapan (Preparation)
b.Penyajian (Presentation)
c.Penerapan (Application)
Simulasi dpt mendorong berbagai hal dlm belajar
seperti kompetisi, kerja sama, empati, sistem sosial,
konsep keterampilan, efesiensi, pemberian
penalti/hukuman, kesempatan peran, dan
kemampuan utk berpikir kritis.
Teknik simulasi ini menggunakan simulator.
Simulator merupakan alat pelatihan yg menyerupai
aslinya akan tetapi kerumitan peristiwanya dpt
dikontrol.
Misalnya, simulasi mobil yaitu pengemudi dpt
Belajar menjadi lebih mudah dibandingkan dg aslinya, shg
mereka mempunyai kesempatan utk menguasai keterampilan tersebut sedikit demi sedikit secara bertahap.
Dalam penggunaan teknik simulasi ini, pengajar
mempunyai tiga peran, yaitu :
1. Menjelaskan 2. Memotivasi 3. Melatih
1. Orientasi
Pengajar menyampaikan topik, konsep yang terkait dg simulasi, dan menjelaskan mengenai simulasi itu sendiri.
2. Pelaksanaan simulasi
Mahasiswa melaksanakan simulasi dan pengajar dpt memberi
feedback, mengevaluasi, menjelaskan hal-hal yg masih membingungkan.
3. Debriefing
Pengajar dapat membantu mahasiswa memfokuskan pada
simulasi, persepsi, dan reaksi mahasiswa, menganalisis proses, membandingkan simulasi dengan dunia kenyataan, mengkaitkan simulasi dengan materi pelajaran, dan merancang kembali
Role-play merupakan teknik mengajar yg mempunyai
kecenderungan utk sering dihindari pengajar,
Teknik role-play cenderung mempunyai konotasi yg jelek di
mata pengajar dan bila digunakan ada kecenderungan
ditertawakan mahasiswa karena usaha acting menggelikan.
Role-play dapat digunakan utk berbagai tujuan. Pada
mulanya role-play dikembangkan sebagai teknik psikoterapi, diagnosis masalah, dan evaluasi pelatihan.
Karakteristik role-play adalah keterlibatan peserta dan
pengamat dlm menghadapi masalah dan keinginan utk memahami dan memecahkan masalah.
Proses role-play memberi kesempatan kpd mahasiswa
melatih contoh perilaku manusia secara nyata, yg dapat digunakan untuk :
a. Menggali perasaan;
b. Memahami sikap, nilai dan persepsi;
c. Mengembangkan keterampilan memecahkan masalah
dan sikap;
d. Mempelajari topic bahasan dengan cara yang
Keyakinan bahwa masalah pembelajaran bukan hanya
mengalihkan fakta atau pengetahuan, akan tetapi juga
membantu mahasiswa utk menterjemah pengetahuan tersebut shg bermakna.
Role-play membantu mahasiswa agar terampil mendiagnosis
dan bertindak sesuai dg tuntutan situasinya.
Salah satu caranya adalah memberi kesempatan kepada
mahasiswa utk mengalami sendiri dan berperan dalam situasi sebenarnya, role-play memberi kesempatan seperti ini.
Konsep kunci dalam role-play adalah spontanitas. Respon harus diberikan pada situasi baru dan situasi
sebelumnya.
Jadi spontanitas merupakan kemampuan untuk merespon
kepada berbagai jenis situasi tanpa terpaku oleh pola perilaku tertentu.
Role-play dapat bervariasi tergantung pada objek pengajar.
role-play dpt digunakan utk pengajaran mode dan
teknik.
Misalnya, role-play secara luas digunakan utk
mengajarkan teknik interview. Pengajaran tersebut menekankan pada ilustrasi, latihan, dan kritik.
role-play dpt digunakan utk mengembangkan
keterampilan diagnostik dan keterampilan mengambil tindakan.
Walaupun masalah khusus dibuat sebagai perantara, tujuannya akhirnya adalah mengembangkan
sensitivitas diagnostik dan dapat bertindak secara fleksibel dlm berbagai kondisi.
role-play dpt digunakan utk pengembangan wawasan
personal atau pengaruh diri.
Melalui partisipasi dlm tindakan, mahasiswa dpt
mengamati pengaruh perilakunya pd orang lain atau perilaku orang lain terhadap dirinya.
Role-play merupakan teknik pengajaran yg sangat fleksibel
dan dpt digunakan untuk berbagai tujuan dlm berbagai kondisi.
Berbagai modifikasinya dapat dibuat sehingga
memungkinkan pengajaran menjelajah berbagai masalah atau situasi.
Pengajar mempunyai peranan yg penting dalam role-play.
o Cara pengajar mengadaptasi metode dg tujuan, o Cara pengajar menyusun babak role-play,
o Cara memperkenalkan role-play pada mahasiswa dan
hal-hal yg ia perintahkan pada mahasiswa untuk melihat tugas dapat menentukan keberhasilan role-play.
o Keterampilan memimpin diskusi merupakan hal yg
Keuntungan teknik role-play ini tergantung pada kualitas
pemeranan dan pada analisisnya.
Keuntungan tergantung pada persepsi mahasiswa dan
kesamaannya dengan situasi yang sebenarnya.
Role-play tidak akan berhasil jika pengajar langsung
Shaftel dikutip dari Joice dan Weill (1980, h.246)
menganjurkan bahwa sebaiknya role-play mengikuti 9 langkah, yaitu : 1. Pemanasan kelompok, 2. Pilih pemain, 3. Siapkan stage, 4. Siapkan pengamat, 5. Perankan,
6. Diskusi dan evaluasi, 7. Perankan kembali,
8. Diskusi dan evaluasi kembali,
Bedside Teaching sebagai suatu metode yg paling efektif dlm
melatih keterampilan klinis mahasiswa.
Bedside teaching adalah suatu metode pembelajaran klinis yg
melibatkan pasien, mahasiswa dan pembimbing klinis yg dilakukan dlm konteks klinis.
Metode ini bertujuan untuk memberikan pengalaman klinis
pada konteks nyata (real setting) dan mahasiswa dpt belajar dari pengalaman tersebut dan dari umpan balik dari
Paling efektif
Melatih keterampilan klinis mahasiswa, seperti
berkomunikasi dengan pasien (history taking), melakukan pemeriksaan fisik, observasi dan menerapkan etika klinis, profesionalisme dan mengembangkan kemampuan nalar klinis (clinical reasoning).
Bedside teaching terdiri atas tiga tahap :
a. Tahap persiapan,
b. Tahap pengalaman (patient encounter) dan c. Tahap refleksi.
1. Tahap persiapan :
Mhs dan pembimbing mendiskusikan tujuan
belajar yg ingin dicapai.
Pembimbing memastikan bahwa mahasiswa
paham atas apa yg akan dihadapi pd saat interaksi dg pasien dan bagaimana
mengoptimalkan kesempatan itu utk mencapai tujuan belajar.
2. Tahap pengalaman : Pasien hadir bersama mhs dan pembimbing. Pasien mendapat penjelasan tentang aktivitas pembelajaran dan memberikan persetujuan. Tahap pengalaman dpt berupa demonstrasi atau
observasi
Demonstrasi : Pembimbing klinik mendemonstrasikan
suatu interaksi dg pasien (anamnesis, pemeriksaan
fisik, manajemen pasien dan aspek komunikasi lainnya)
Observasi : Pembimbing mengamati kinerja mahasiswa
dan memberikan umpan balik. Observasi
direkomendasikan pd saat fase belajar yg lebih lanjut. Pembimbing klinik berperan sebagai fasilitator.
Diskusi antara pembimbing dan mhs pd tahap pengalaman
:
o Harus mempertimbangkan kepentingan dan
kenyamanan pasien.
o Umpan balik diberikan pada saat dibutuhkan, misalnya
pembimbing melakukan koreksi cara palpasi.
o Pasien juga dapat diminta untuk memberikan umpan
3. Tahap refleksi :
Mhs dan pembimbing mendiskusikan pencapaian tujuan
belajar.
Mhs mendapatkan umpan balik, mendiskusikan hal-hal
yg belum dipahami, memperkuat pengetahuan klinis
dan clinical reasoning, serta merumuskan tujuan belajar untuk bedside teaching atau aktivitas pembelajaran lain selanjutnya.
Utk menjaga kenyamanan pasien sebaiknya tahap ini
Model anatomi dipakai utk memperagakan prosedur klinik
tanpa membahayakan pasien (pendekatan humanistic).
Penggunaan model anatomi meningkatkan pengembangan
keterampilan dg memberikan kesempatan kepada mhs utk mempraktekkan keterampilan berulangkali sampai mahir.
Keuntungan penggunaan model anatomi :
1. Klien tidak dirugikan atau dibuat tidak enak bila terjadi
kesalahan
2. Peragaan atau praktek dapat dihentikan setiap waktu
utk penjelasan atau koreksi lebih lanjut oleh pengajar
3. Beberapa mahasiswa dapat melakukan praktek secara
simultan, mengurangi waktu praktek
4. Pekerjaan yg sulit dapat dipraktekkan beberapa kali
pada model
5. Praktek tidak terbatas pada waktu
6. Mempraktekkan urutan langkah keterampilan dapat
Model anatomic dan situasi simulasi dibuat semirip
mungkun dengan pengalaman nyata.
Apabila terdapat perbedaan yang nyata antara bekerja
pada model dan klien, perbedaan ini harus ditunjukkan kepada mahasiswa.
Buatlah rancangan Laboratorium Kebidanan yang lengkap dan
sesuai dengan standar, meliputi ; o Proposal
o Pedoman laboratorium o Tata tertib
o Manajemen laboratorium (pengelolaan, pendanaan, pemeliharaan dan
penyimpanan, pengadministrasian alat dan bahan, keamanan dan keselamatan kerja)
o SOP
o Visi dan Misi
o Lay out/Tata ruang
o Peralatan dan perlengkapan
o Jenis : KDM, Hamil, Bersalin, Nifas, BBL, Bayi dan Balita (Tumbuh