• Tidak ada hasil yang ditemukan

Oleh: RESTU DIRESIKA KISWORO A

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Oleh: RESTU DIRESIKA KISWORO A"

Copied!
125
0
0

Teks penuh

(1)

(Kasus Mahasiswa Tingkat Persiapan Bersama Institut Pertanian Bogor Tahun Ajaran 2007/2008)

Oleh:

RESTU DIRESIKA KISWORO A 14204030

PROGRAM STUDI KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT FAKULTAS PERTANIAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008

(2)

RINGKASAN

RESTU DIRESIKA KISWORO. PERSEPSI IDENTITAS GENDER DAN KONSEP DIRI TENTANG PERANAN GENDER DI KALANGAN MAHASISWA. Kasus Mahasiswa Tingkat Persiapan Bersama Institut Pertanian Bogor Tahun Ajaran 2007/2008 (Di bawah bimbingan SITI SUGIAH MUGNIESYAH).

Ketidaksetaraan antara perempuan dan laki-laki dalam berbagai dimensi kehidupan, termasuk pendidikan, diduga berhubungan dengan berbagai faktor, diantaranya ideologi gender yang terinternalisasi pada hampir semua masyarakat. Mahasiswa sebagai generasi muda nantinya akan mengisi posisi-posisi strategis dalam kelembagaan masyarakat Indonesia di masa depan, sehingga persepsi dan konsep diri mahasiswa mengenai peranan gender dalam keluarga, masyarakat, dan bernegara serta faktor-faktor yang mempengaruhinya akan menentukan keberhasilan pembangunan dalam mewujudkan KKG dalam beragam dimensi kehidupan.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mempelajari mengenai : (1) persepsi identitas gender -maskulin, feminin, dan androgini- yang terinternalisasi pada mahasiswa TPB IPB, serta untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhinya, (2) Peranan gender -produktif, reproduktif, dan pengelolaan masyarakat dan politik- yang menjadi bagian dari konsep diri mahasiswa TPB IPB, (3) Agen sosialisasi gender di kalangan mahasiswa yang berperan mempengaruhi pembentukan identitas gender dan konsep diri peranan gender mahasiswa TPB IPB, dan (4) Stereotipe gender di kalangan mahasiswa TPB IPB serta harapan atas peranan gender mereka, khususnya ketika mereka akan memilih pasangan hidup dalam membentuk keluarga inti.

(3)

Penelitian ini dilakukan di lingkungan Kampus Institut Pertanian Bogor (IPB), Dramaga. Pemilihan lokasi penelitian berdasarkan pertimbangan bahwa IPB merupakan Perguruan Tinggi Negeri yang mampu menjangkau mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia, yang selanjutnya akan menghasilkan karakteristik mahasiswa yang beragam, dan IPB merupakan miniatur masyarakat yang multikultur, karena terdiri dari mahasiswa dengan karakteristik budaya yang berbeda-beda, sehingga diasumsikan terdapat interaksi antar etnik yang mempengaruhi persepsi identitas gender dan konsep diri peranan gender individu.

Penelitian ini mengacu pada beragam konsep, teori-teori, dan metodologi berkenaan dengan komunikasi gender, khususnya tentang persepsi, konsep diri, identitas, dan peranan gender serta faktor-faktor yang mempengaruhinya. Di tingkat lapangan, penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Data yang diambil mencakup data primer dan data sekunder. Data sekunder diperoleh meliputi semua data/dokumen yang mendukung analisis pada penelitian ini, khususnya data yang diperoleh dari instansi Institut Pertanian Bogor, khususnya divisi Tingkat Persiapan Bersama. Pengumpulan data dilakukan pada periode April hingga Juni 2008.

Secara umum, mahasiswa laki-laki memiliki identitas gender yang maskulin dan mahasiswa perempuan memiliki identitas gender feminin. Peranan gender dalam keluarga mahasiswa, masih menunjukkan pembagian kerja yang tegas antara anggota keluarga laki-laki dan perempuan. Peranan reproduktif dominan dikerjakan oleh perempuan -ibu dan anak perempuan, sedangkan peranan produtif dan organisasi dominan dikerjakan oleh laki-laki -ayah dan anak laki-laki-. Persepsi identitas gender dan konsep diri gender diukur oleh

(4)

faktor-faktor, yakni karakteristik individu, keluarga, lembaga pendidikan, organisasi, dan media massa. Dari lima peubah sebagai agen sosialisasi nilai gender tersebut, yang terbukti memiliki hubungan positif dengan identitas gender mahasiswa, hanya jenis kelamin dan media massa, selanjutnya diikuti dengan peubah keluarga, teman sebaya, pengalaman organisasi.

Mahasiswa TPB IPB etnik Batak, baik laki-laki maupun perempuan cenderung lebih maskulin dibandingkan dengan ketiga etnik lainnya, sedangkan mahasiswa etnik Minangkabau dan Jawa justru lebih memiliki konsep diri netral. Stereotipe mahasiswa juga menganggap etnik Batak lebih banyak memiliki sifat-sifat maskulin, dan etnik Jawa lebih banyak memiliki sifat-sifat-sifat-sifat netral. Terhadap harapan-harapannya mengenai pasangan hidup, mahasiswa TPB IPB etnik Jawa cenderung menginginkan memiliki pasangan hidup yang berasal dari suku yang sama, tidak demikian dengan mahasiswa etnik Batak dan Minangkabau yang cenderung lebih netral dalam menentukan pasangan hidup. Dilihat dari tingkat pendidikan, mahasiswa laki-laki lebih menginginkan pasangannya kelak memiliki tingkat pendidikan yang setara dengannya, sedangkan mahasiswa perempuan lebih menginginkan pasangan hidup mereka memiliki tingkat pendidikan yang lebih tinggi, karena terdapat persepsi bahwa laki-laki harus mengayomi keluarga dan harus lebih pintar dari perempuan.

(5)

PERSEPSI IDENTITAS GENDER DAN KONSEP DIRI

TENTANG PERANAN GENDER DI KALANGAN

MAHASISWA

(Kasus Mahasiswa Tingkat Persiapan Bersama Institut Pertanian Bogor Tahun Ajaran 2007/2008)

Oleh

RESTU DIRESIKA KISWORO A 14204030

Skripsi

Sebagai Bagian Persyaratan untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pertanian

pada

Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor

PROGRAM STUDI KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT FAKULTAS PERTANIAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008

(6)

PROGRAM STUDI KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT FAKULTAS PERTANIAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

Dengan ini menyatakan bahwa Skripsi yang disusun: Nama : Restu Diresika Kisworo

No. Pokok : A14204030

Judul : Persepsi Identitas Gender dan Konsep Diri Tentang Peranan Gender di Kalangan Mahasiswa (Kasus Mahasiswa Tingkat Persiapan Bersama Institut Pertanian Bogor Tahun Ajaran 2007/2008)

dapat diterima sebagai syarat kelulusan untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian pada Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.

Menyetujui, Dosen Pembimbing

Ir. Siti Sugiah Mugniesyah, MS. NIP. 130 779 504

Mengetahui, Dekan Fakultas Pertanian

Prof. Dr. Ir. Didy Sopandie, M.Agr NIP. 131 124 019

(7)

PERNYATAAN

DENGAN INI SAYA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI YANG BERJUDUL “PERSEPSI IDENTITAS GENDER DAN KONSEP DIRI TENTANG PERANAN GENDER DI KALANGAN MAHASISWA (KASUS MAHASISWA TINGKAT PERSIAPAN BERSAMA INSTITUT PERTANIAN BOGOR TAHUN AJARAN 2007/2008)” BELUM PERNAH DIAJUKAN PADA PERGURUAN TINGGI ATAU LEMBAGA LAIN MANAPUN UNTUK TUJUAN MEMPEROLEH GELAR AKADEMIK TERTENTU. SAYA JUGA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI INI BENAR-BENAR HASIL KARYA SAYA SENDIRI DAN TIDAK MENGANDUNG BAHAN-BAHAN YANG PERNAH DITULIS ATAU DITERBITKAN OLEH PIHAK LAIN KECUALI SEBAGAI BAHAN RUJUKAN YANG DINYATAKAN DALAM NASKAH.

Bogor, September 2008

Restu Diresika Kisworo A14204030

(8)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Bogor tanggal 23 Juni 1986 dari Ayah bernama Thoyib Kisworo dan Ibu Titiek Mulyatieningsih. Penulis merupakan anak bungsu dari 3 bersaudara dengan 2 kakak bernama Betty Arumtyasari Kisworo dan Sukma Samudro Kisworo.

Penulis menyelesaikan pendidikan di Sekolah Dasar BINA INSANI Bogor pada tahun 1998. Pada tahun yang sama penulis melanjutkan pendidikan di SLTP Negeri 4 Bogor dan lulus pada tahun 2001. Selanjutnya, tahun 2001 penulis melanjutkan sekolah di SMU Negeri 5 Bogor dan lulus pada tahun 2004. Pada tahun 2004, penulis diterima di Institut Pertanian Bogor (IPB) melalui Jalur Undangan Seleksi Masuk Institut Pertanian Bogor (USMI) pada Program Studi Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Departemen Ilmu-ilmu Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian.

Selama menempuh kegiatan akademik, penulis menjadi Asisten Mata Kuliah Komunikasi Bisnis pada semester enam tahun ajaran 2006/2007. Penulis juga aktif menjadi anggota organisasi internal dan eksternal kampus. Pada organisasi internal; Himpunan Profesi MISETA periode 2006-2007 sebagai anggota divisi Public Relation, dan aktif pada berbagai kepanitian acara, diantaranya PR in Showbiz and Mass Media (PRIZMA) pada tahun 2006 sebagai Sekretaris dan Charity and Responsibility of Environment (CARE) pada tahun 2007 sebagai Koordinator Acara, serta aktif pada organisasi eksternal; Satuan Pelajar dan Mahasiswa (SAPMA) periode 2007-sekarang, sebagai Bendahara Umum.

(9)

UCAPAN TERIMA KASIH

Segala Puji dan Syukur hanya dipanjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah memberikan kekuatan, kesabaran, dan pengetahuan kepada penulis dalam menyelesaikan penulisan Skripsi yang berjudul “Persepsi Identitas Gender dan Konsep Diri Tentang Peranan Gender Di Kalangan Mahasiswa (Kasus Mahasiswa Tingkat Persiapan Bersama Institut Pertanian Bogor Tahun Ajaran 2007/2008).”

Dengan segala ketulusan hati penulis menyampaikan rasa hormat dan terima kasih kepada beberapa pihak yang telah membantu menyelesaikan skripsi ini, terutama kepada:

1. Ir. Siti Sugiah Mugniesyah, MS., selaku dosen pembimbing utama yang telah memberikan arahan serta bimbingan kepada penulis dari awal pembuatan Studi Pustaka hingga penyelesaian skripsi ini.

2. Ir. Rr. Melani Abdulkadir Sunito, M.Sc., selaku penguji utama yang telah memberikan masukan dalam perbaikan skripsi ini dan selaku Pembimbing Akademik yang banyak memberikan bimbingan dan nasihat selama penulis menyelesaikan perkuliahan.

3. Ir. Dwi Sadono, M.Si., selaku penguji dari Departemen KPM yang telah banyak mengkoreksi kesalahan dalam penulisan skripsi ini.

4. Keluargaku Tercinta, Papa, Mama, Kak Betty, Kak Wisnu, Nara dan Kak Sukma yang telah memberikan do’a, semangat dan dukungan tanpa mengenal lelah.

5. Teman-teman seperjuangan KPM 41, khususnya Erna Safitri Purwaningtyas atas kebersamaan dalam suka dan duka dari penyusunan Studi Pustaka hingga Skripsi ini selesai. Teman-teman penyemangatku, Icha, Shelvie, Firly, Mella, Yulie, Ceqko, Nessa, Disty, Momon, Yundhe, Mira atas motivasi dan kerjasamanya, serta Maharandy Fadlan Monoarfa dan keluarga, atas dukungan, motivasi, aspirasi, dan semangat yang telah diberikan kepada penulis selama proses penyelesaian Skripsi ini.

6. Teh Rina Suhartini. Terima kasih atas bantuan, motivasi dan semangat dalam proses pengeditan hingga penyelesaian Skripsi ini.

(10)

7. Fauzi, Cici, Gilang, Ika, Egi, dan Idham, selaku Asisten Mata Kuliah Sosiologi Umum atas kesediaan waktunya membantu penulis dalam pelaksanaan survei, serta Mahasiswa Tingkat Persiapan Bersama (TPB) IPB Angkatan 43, khususnya kelompok A09, A12, A18, A15, A19, dan A27 atas kesediaannya sebagai responden penulis.

8. Civitas Akademis Jurusan Ilmu-ilmu Sosial Ekonomi IPB yang telah memberikan pengajaran yang terbaik, juga kepada seluruh staf penunjang di lingkungan KPM-FEMA, khususnya Mbak Maria dan Mbak Nisa yang telah membantu segala admistrasi selama perkuliahan, serta kepada semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu.

Bogor, September 2008

(11)

DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR ISI ...viii

DAFTAR TABEL ...x

DAFTAR GAMBAR ...xii

BAB I PENDAHULUAN ...1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Perumusan Masalah ... 6

1.3 Tujuan Penelitian ...9

1.4 Kegunaan Penelitian ...10

BAB II. PENDEKATAN TEORITIS ...11

2.1 Tinjauan Pustaka 2.1.1 Pengertian Gender dan Tri Peranan (Tripple Roles) ...11

2.1.2 Pengertian dan Pembentukan Persepsi Identitas Gender ... 12

2.1.3 Teori-teori Pembentukan Identitas Gender ... 14

2.1.4 Pengertian dan Pembentukan Konsep Diri Peranan Gender ...15

2.1.5 Konsep Psikologi Androgini ...16

2.1.6 Pelaku Sosialisasi Gender (Significant Others) ...18

2.1.7 Pengertian dan Teori-teori Sistem Kekerabatan ...22

2.2 Kerangka Pemikiran ...25

2.3 Hipotesis Penelitian... 30

2.4 Definisi Operasional ...30

BAB III. METODOLOGI PENELITIAN ...37

3.1 Metode Penelitian ...37

3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian ... 37

3.3 Penentuan Populasi dan Sampel ... 38

3.4 Teknik Pengumpulan Data... 39

3.5 Teknik Analisis Data ... 40

BAB IV. PROFIL GENDER INSTITUT PERTANIAN BOGOR...41

4.1 Profil Kampus Institut Pertanian Bogor ...41

4.1.1 Sejarah Singkat IPB ...41

4.1.2 Profil Gender IPB ...43

(12)

BAB V. PROFIL GENDER MAHASISWA TPB TAHUN AJARAN

2008/2009 ...52

5.1 Karakteristik Individu ...52

5.1.1 Jenis Kelamin ...52

5.1.2 Suku Bangsa ... 52

5.1.3 Preferensi Teman Sebaya ...53

5.2 Karakteristik Keluarga ...54

5.2.1 Tingkat Pendidikan Orang Tua ...54

5.2.2 Status Bekerja Orang Tua... 55

5.2.3 Sistem Kekerabatan ... 56

5.2.4 Struktur Keluarga ...57

5.3 Karakteristik Lembaga Pendidikan ...60

5.3.1 Tokoh Dominan Guru di Sekolah ... 61

5.3.2 Guru Favorit di Sekolah dan Gaya Kepemimpinan- nya ...62

5.4 Karakteristik Organisasi ...63

5.5 Pemuatan Nilai Gender Dalam Media Massa ...64

5.6 Ikhtisar ...65

BAB VI. PERSEPSI IDENTITAS GENDER DAN AGEN SOSIALISASI YANG MEMPENGARUHINYA ...66

6.1 Identitas Gender Mahasiswa ...66

6.2 Agen Sosialisasi Yang Mempengaruhi Identitas Gender Mahasiswa ...68

6.2.1Hubungan Karakteristik Individu Dengan Identitas Gender Mahasiswa ...69

6.2.2Hubungan Karakteristik Keluarga Dengan Identitas Gender Mahasiswa ...70

6.2.3Hubungan Lembaga Pendidikan Dengan Identitas Gender Mahasiswa ...73

6.2.4Hubungan Karakteristik Organisasi Mahasiswa Dengan Identitas Gender Mahasiswa ...74

6.2.5Hubungan Media Massa Dengan Identitas Gender Mahasiswa ...75

6.3 Iktisar ...77

BAB VII. KONSEP DIRI GENDER DAN STEREOTIPE MAHASISWA ...78

7.1 Konsep Diri Empat Etnik Dominan ...78

7.2 Stereotipe Mahasiswa ...80

7.3 Hubungan Stereotipe dan Konsep Diri Mahasiswa ...83

7.4 Konsep Diri Peranan Gender ...84

7.4.1 Peranan Produktif ...84

7.4.2 Peranan Reproduktif ...85

7.4.3 Peranan Pengelolaan Masyarakat dan Politik ...87

7.5 Persepsi Harapan-harapan Mahasiswa Terhadap Pasangan Hidup ...88

7.6 Persepsi Domain Program Studi Mayor-Minor di IPB ...92

(13)

BAB VIII. PENUTUP ...96 8.1 Kesimpulan ...96 8.2 Saran ...98

LAMPIRAN

(14)

DAFTAR TABEL

Nomor Halaman

Tabel 1. Sebaran Mahasiswa Menurut Kelas Sosiologi Umum dan Asal Etnik (TPB 2007/2008) ... 39 Tabel 2. Sebaran Dosen Institut Pertanian Bogor (IPB) Menurut Fakultas

dan Jenis Kelamin, Tahun 2007 ... 45 Tabel 3. Perkembangan Mahasiswa Baru TPB IPB Menurut Tahun

Masuk dan Jenis Kelamin (dalam persen) ... 48 Tabel 4. Perkembangan Jumlah Mahasiswa TPB IPB Menurut Pulau

Asal dan Tahun Masuk (dalam persen) ... 48 Tabel 5. Sebaran Mahasiswa TPB IPB Menurut Jalur Penerimaan,

Program Studi Mayor “Eksakta” dan Jenis Kelamin, Tahun 2007/2008 ... 50 Tabel 6. Sebaran Mahasiswa TPB IPB Menurut Jalur Penerimaan,

Program Studi Mayor “Ilmu Sosial” dan Jenis Kelamin, Tahun 2007/2008 ... 51 Tabel 7. Sebaran Mahasiswa TPB IPB Menurut Jenis Kelamin ... 52 Tabel 8. Sebaran Mahasiswa TPB IPB Menurut Etnik (dalam persen) ... 52 Tabel 9. Sebaran Mahasiswa TPB IPB Menurut Lokasi Asal dan Etnik

(dalam persen) ... 53 Tabel 10. Sebaran Mahasiswa TPB IPB Menurut Preferensi Teman

Sebaya (dalam persen) ………. 54 Tabel 11. Sebaran Mahasiswa TPB IPB Menurut Tingkat Pendidikan

Orang Tua (dalam persen) ……… 55 Tabel 12. Sebaran Mahasiswa TPB IPB Menurut Status Bekerja Orang

Tua (dalam persen) ... 56 Tabel 13. Sebaran Mahasiswa TPB IPB Menurut Sistem Kekerabatan

(dalam persen) ... 56 Tabel 14. Sebaran Mahasiswa TPB IPB Menurut Pola Struktur Keluarga

(dalam persen) ... 57 Tabel 15. Sebaran Mahasiswa TPB IPB Menurut Bentuk Perkawinan

Orang Tua (dalam persen) ……….... 58 Tabel 16. Status Perkawinan Orang Tua Mahasiswa TPB IPB Pada Saat

Mahasiswa Kecil dan Pada Saat Ini (dalam persen) ……… 59 Tabel 17. Keberadaan Saudara Kandung Mahasiswa TPB IPB Menurut

Jenis Kelamin (dalam persen) ……….. 60 Tabel 18. Sebaran Mahasiswa TPB IPB Menurut Tokoh Guru Dominan di

Sekolah (dalam persen) ……… 61 Tabel 19. Guru Favorit Mahasiswa TPB IPB Menurut Gaya

Kepemimpinan dan Jenis Kelamin Guru (dalam persen) ……… 62 Tabel 20. Sebaran Mahasiswa TPB IPB Menurut Pengalaman Organisasi

(dalam persen) ... 63 Tabel 21. Sebaran Mahasiswa TPB IPB Menurut Kategori Acara Favorit

Dalam Media Massa (dalam persen) ... 64 Tabel 22. Sebaran Mahasiswa TPB IPB Menurut Identitas Gender (dalam

(15)

Tabel 23. Sebaran Mahasiswa Menurut Preferensi Jenis Kelamin Teman Sebaya Dan Identitas Gender di Kalangan Mahasiswa TPB IPB 70 Tabel 24. Sebaran Mahasiswa Menurut Sistem Kekerabatan Dan Identitas

Gender di Kalangan Mahasiswa TPB IPB ... 71 Tabel 25. Sebaran Mahasiswa Menurut Pola Struktur Keluarga Dan

Identitas Gender di Kalangan Mahasiswa TPB IPB ... 72 Tabel 26. Sebaran Mahasiswa Menurut Jenis Kelamin Guru Favorit Dan

Identitas Gender di Kalangan Mahasiswa TPB IPB ……… 73 Tabel 27. Sebaran Mahasiswa Menurut Jenis Kelamin Guru Favorit Dan

Identitas Gender di Kalangan Mahasiswa TPB IPB ……… 74 Tabel 28. Sebaran Mahasiswa Menurut Pemuatan Nilai Gender Pada

Media Massa Dan Identitas Gender di Kalangan Mahasiswa TPB IPB ………... 76 Tabel 29. Konsep Diri Maskulin Pada Empat Etnik Dominan di Kalangan

Mahasiswa TPB IPB Menurut Kategori Sifat Bem ... 78 Tabel 30. Konsep Diri Feminin Pada Empat Etnik Dominan di Kalangan

Mahasiswa TPB IPB Menurut Kategori Sifat Bem ... 79 Tabel 31. Konsep Diri Netral Pada Empat Etnik Dominan di Kalangan

Mahasiswa TPB IPB Menurut Kategori Sifat Bem ... 80 Tabel 32. Stereotipe Sifat Maskulin Pada Empat Etnik Dominan di

Kalangan Mahasiswa TPB IPB Menurut Kategori Sifat Bem (dalam persen) ... 81 Tabel 33. Stereotipe Sifat Feminin Pada Empat Etnik Dominan di

Kalangan Mahasiswa TPB IPB Menurut Kategori Sifat Bem (dalam persen) ... 82 Tabel 34. Stereotipe Sifat Netral Pada Empat Etnik Dominan di Kalangan

Mahasiswa TPB IPB Menurut Kategori Sifat Bem (dalam persen) ... 83 Tabel 35. Aktivitas Produktif Yang Dilakukan Anggota Keluarga

Laki-laki dan Perempuan di Kalangan Mahasiswa TPB IPB (dalam persen) ……….. 85 Tabel 36. Aktivitas Reproduktif Yang Dilakukan Anggota Keluarga

Laki-laki dan Perempuan di Kalangan Mahasiswa TPB IPB (dalam

persen) ……….. 86 Tabel 37. Aktivitas Kursus dan Organisasi Yang Dilakukan Anggota

Keluarga Laki-laki dan Perempuan di Kalangan Mahasiswa

TPB IPB (dalam persen) ……….. 88 Tabel 38. Harapan Mahasiswa TPB IPB Terhadap Latar Belakang Suku

Pasangan Menurut Asal Etnik (dalam persen) ... 89 Tabel 39. Harapan Mahasiswa TPB IPB Terhadap Latar Belakang

Pendidikan Menurut Asal Etnik (dalam persen) ... 90 Tabel 40. Harapan Mahasiswa TPB IPB Terhadap Pelaku Aktivitas

Dalam Keluarga Menurut Triple Role Moser (dalam persen) ... 91 Tabel 41. Sebaran Mahasiswa TPB IPB Menurut Persepsi Domain

Program Studi Mayor “Eksakta” IPB (dalam persen) ... 93 Tabel 42. Sebaran Mahasiswa TPB IPB Menurut Persepsi Domain

(16)

DAFTAR GAMBAR

Nomor Halaman

Gambar 1. Diagram Hubungan Antara Variabel Bebas Dengan Variabel Tak Bebas Dalam Penelitian ... 29

(17)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) tahun 2004-2009, pemerintah mengakui masih rendahnya kualitas sumberdaya manusia (SDM) Indonesia. Hal ini ditunjukkan oleh masih rendahnya hasil pembangunan SDM di Indonesia yang tercermin dalam Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia. Data Indonesia Human Development Report BPS-BAPENAS-UNDP 2004 melaporkan bahwa nilai IPM Indonesia pada tahun 2002 sebesar 69.21, dan menempatkan Indonesia pada menempati urutan 111 dari 177 negara di dunia. Selanjutnya, pemerintah juga mengakui masih rendahnya kualitas hidup perempuan Indonesia yang ditunjukkan oleh lebih rendahnya Indeks Pembangunan Gender (IPG) Indonesia dibandingkan IPMnya serta rendahnya angka Indeks Pemberdayaan Gender atau IDG (Gender Empowerment Measurement atau GEM). Data IPG Indonesia pada tahun 2002 sebesar 59.2, sementara IDGnya sebesar 54.6.2 Angka IDG Indonesia ini menempatkan Indonesia pada urutan ke-33 dari 71 negara yang diukur IDGnya. Lebih tingginya angka IPM dibandingkan dengan angka IPG menunjukkan bahwa keberhasilan pembangunan sumberdaya manusia secara keseluruhan belum sepenuhnya diikuti

1 Angka IPM merupakan komposit dari Angka Harapan Hidup (66,2 tahun), Angka Melek Huruf (AMH)

penduduk Indonesia usia 15 tahun ke atas (87,9%), Angka Partisipasi Kasar (65 %), dan Pendapatan Domestik Bruto per kapita sebesar $US3.230 (RPJMN 2004-2009: Bagian 1.1:8)

2 Kecuali dalam hal Angka Harapan Hidup, pada variabel lainnya AMH dan APK pendidikan perempuan

lebih rendah dibanding laki-laki. Dalam hal IDG, perempuan yang duduk di parlemen hanya 8,8 persen, persentase perempuan dalam posisi manajerial dan angkatan kerja berturut-turut sebesar 39,2 dan 37,5 persen (Mugniesyah, 1995)

(18)

dengan keberhasilan pembangunan gender. Dengan perkataan lain masih terdapat kesenjangan gender pada hasil-hasl pembangunan SDM Indonesia.

Ketidaksetaraan antara perempuan dan laki-laki dalam beragam dimensi kehidupan, termasuk pendidikan, menurut Mugniesyah dkk (2004) diduga berhubungan dengan berbagai faktor, diantaranya adalah ideologi gender yang terinternalisasi pada hampir semua masyarakat. Ideologi atau sistem nilai gender sebagai bagian dari kebudayaan menjadikan individu-individu anggota masyarakat menafsirkan perbedaan biologis antara perempuan dan laki-laki menjadi seperangkat acuan sosial tentang kepantasan dalam berperilaku, yang kemudian berpengaruh kepada hak-hak, distribusi sumberdaya dan kekuasaan, baik dalam lingkup rumahtangga, masyarakat dan negara.

Dari hasil studinya di Jawa Barat, Mugniesyah dkk (2004) mengemukakan masih adanya kesenjangan gender pada civitas akademik, khususnya pada kelembagaan pendidikan Perguruan Tinggi Negeri (PTN), terlihat bahwa masih rendahnya akses dan kontrol perempuan terhadap pendidikan dan dalam memperoleh manfaat untuk menduduki posisi strategis yang memfasilitasi perempuan dalam mengambil keputusan dan meningkatkan pendapatan karena adanya dominasi laki-laki sebagai penentu kebijakan dalam struktur kelembagaan di berbagai kelembagaan baik di lingkungan pemerintahan maupun non-pemerintah, termasuk sekolah dan masyarakat. Perempuan cenderung dominan dilibatkan dalam kegiatan yang berhubungan dengan peranan domestik dan administratif. Hal tersebut terjadi karena masih relatif banyaknya para penentu kebijakan dan pengambil keputusan pembangunan, terutama di bidang pendidikan, yang kurang sensitif gender dan atau memandang Kesetaraan dan

(19)

Keadilan Gender (KKG) tidak harus dilaksanakan melalui tindakan-tindakan afirmatif yang dapat mengakselarasi perempuan untuk akses, kontrol, berpartisipasi, dan memperoleh manfaat dari pembangunan bidang pendidikan.

Kondisi tersebut di atas, menunjukkan masih belum efektifnya Instruksi presiden RI No.9 Tahun 2000 tentang Pengarusutamaan Gender (PUG) dalam Pembangunan Nasional.3 Dalam RPJMN 2004-2009, pemerintah mengakui adanya kondisi yang bersifat kultural (masih kuatnya nilai-nilai budaya patriarkal) dan struktural (dimapankan oleh tatanan sosial politik yang ada) yang menyebabkan adanya kesenjangan gender dalam hasil-hasil pembangunan SDM Indonesia. Dengan perkataan lain, kondisi tersebut mencerminkan relatif masih banyaknya perilaku anggota masyarakat yang diskriminatif terhadap perempuan, padahal pemerintah Indonesia telah mestratifikasi Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination against Women (CEDAW) dengan menetapkan Undang-undang No. 7 Tahun 1984 tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Perempuan.

Sehubungan dengan itu, dalam RPJMN, khususnya pada Bab 12 tentang Peningkatan Kualitas Kehidupan Perempuan dan Perlindungan Anak, pemerintah menyatakan bahwa arah kebijakan pembangunan itu harus didukung tindakan pemihakan yang jelas dan nyata guna mengurangi kesenjangan gender di berbagai bidang pembangunan, antara lain dengan memperkuat kelembagaan, koordinasi dan jaringan PUG dalam pembangunan serta peningkatan partisipasi masyarakat dalam pelaksanaannya. Adapun salah satu kegiatan pokok dalam rangka

3 Inpres No. 9 Tahun 2000 menginstruksikan menteri, kepala lembaga pemerintah non-departemen untuk

melaksanakan pembangunan yang responsif gender, baik pembangunan nasional, daerah maupun sektoral, guna mewujudkan kesetaraan dan keadilan gender (KKG) dalam kehidupan berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

(20)

memberdayakan SDM perempuan Indonesia tersebut adalah melalui pelaksanaan Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE) peningkatan kualitas hidup dan perlindungan perempuan di tingkat nasional dan daerah.

Menurut para ahli sosiologi dan komunikasi gender, terinternalisasinya sistem nilai gender yang diskriminatif terhadap perempuan terbentuk melalui proses sosialisasi oleh beragam kelembagaan masyarakat. Keluarga dianggap sebagai lembaga yang berperan sangat penting dalam proses sosialisasi sistem nilai dan peranan gender, baik dalam keluarga maupun masyarakat. Kelembagaan lainnya yang juga berperan penting adalah kelembagaan pendidikan, media massa dan organisasi. Proses sosialisasi oleh beragam aktor kelembagaan tersebut membentuk persepsi dan identitas gender pada setiap individu, laki-laki dan perempuan.

Menyadari masih dominannya bias gender di kalangan birokrat, teknokrat termasuk anggota lembaga legislatif -yang sebagian besar merupakan generasi terdahulu (generasi tua)- mendorong Badan Perencanaan Pembangunan Nasioal (Bappenas) RI dan Kantor Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan (Kantor Meneg PP) untuk mengakselerasi pelaksanaan PUG di beragam sektor atau departemen melalui program Capasity Building di beragam sektor atau departemen tersebut. Sebagaimana diakui oleh para pakar gender dan pembangunan, hasil Capasity Building di kalangan penentu kebijakan tersebut belum memberikan hasil yang memuaskan. Ini menunjukkan betapa sulitnya generasi tua merubah sistem nilai gender mereka. Permasalahannya adalah bahwa negara ini sebaiknya tidak membuang sumberdaya (dana dan waktu) untuk hanya berfokus pada generasi tua. Sejalan dengan perjalanan waktu, generasi muda

(21)

Indonesia akan menggantikan tanggung jawab mereka demi keberlanjutan pembangunan yang mampu mewujudkan Kesetaraan dan Keadilan Gender (KKG) sebagaimana diamanatkan Inpres No. 9 Tahun 2000.

Dengan demikian, pelaksanaan Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE) peningkatan kualitas hidup dan perlindungan perempuan menuntut partisipasi generasi muda sebagai komponen penting dalam tatanan masyarakat Indonesia. Permasalahannya adalah bahwa belum banyak hasil penelitian yang mengemukakan perihal persepsi dan identitas gender di kalangan generasi muda. Penelitian Rahasthera (2003) menemukan masih adanya bias gender pada mahasiswa-mahasiswi terhadap sifat atau karakteristik perempuan dan laki-laki. Hal ini terlihat bahwa masih tingginya persentase mahasiswa (62,2%) yang memiliki persepsi ketat, yakni masih membedakan secara tegas sifat maskulin yang lebih baik dimiliki laki-laki dan sifat feminin yang lebih baik dimiliki perempuan. Selanjutnya Rahastera melaporkan bahwa mahasiswa masih memiliki persepsi Program Studi yang dipilihnya memiliki karakter gender tertentu, baik feminin maupun maskulin. Namun demikian, temuan tersebut tidak disertai dengan penjelasan berkenaan dengan faktor-faktor yang menyebabkan bias gender di kalangan mahasiswa IPB tersebut. Selain itu, fokus penelitiannya terbatas pada pemilihan bidang studi di lingkungan Fakultas Pertanian, belum sepenuhnya mencakup peranan gender sebagaimana dikemukakan para ahli, khususnya Moser (1993). Moser mengemukakan bahwa peranan gender mencakup peranan domestik, produktif dan pengelolaan masyarakat, yang disebutnya sebagai tripple role.

(22)

Sehubungan dengan itu, diperlukan suatu studi lebih lanjut tentang persepsi dan konsep diri berkenaan identitas dan peranan gender di kalangan mahasiswa -generasi muda berpendidikan tinggi- dan faktor-faktor yang mempengaruhinya secara lebih holistik. Penelitian ini penting, karena mahasiwa akan mengisi posisi-posisi strategis dalam kelembagaan masyarakat Indonesia masa depan. Persepsi identitas gender dan konsep diri mereka tentang peranan gender dalam keluarga, masyarakat dan bernegara serta faktor-faktor yang mempengaruhinya akan menentukan keberhasilan pembangunan dalam mewujudkan KKG dalam beragam dimensi kehidupan. Pengetahuan atas faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi identitas gender dan konsep diri gender mahasiswa diperlukan untuk menetapkan perlu tidaknya Capasity Building PUG bagi mereka, serta mempersiapkan mereka sebagai bagian dari focal point PUG diberbagai sektor pembangunan, khususnya pendidikan.

1.2 Perumusan Masalah

Merujuk pendapat beberapa ahli (Verberder,1981; Applbaum dkk,1973; Louisser dan Poulos,1997 dalam Mugniesyah, 2000), persepsi adalah proses pemberian makna yang dilakukan individu terhadap stimulus (termasuk informasi), baik mengenai perilaku diri sendiri dan orang lain, yang diperoleh individu melalui inderanya. Dalam konteks penelitian ini, persepsi tersebut berkenaan identitas gender dan konsep peranan gender. Identitas gender adalah sejumlah aspek penampilan dan perilaku personal yang secara budaya diatributkan menjadi maskulin dan feminin. Identitas gender adalah sejumlah aspek penampilan dan perilaku personal yang secara budaya diatributkan menjadi

(23)

maskulin dan feminin (Children’s Health Encyclopedia, 2008). Dalam konteks tersebut, Sandra Bem memperkenalkan apa yang dikenal sebagai konsep psikologi androgini, yang membedakan identitas gender individu ke dalam empat kategori, diantaranya: maskulin, feminin, dan androgini. Sehubungan dengan itu, persepsi identitas gender apakah yang dimiliki mahasiswa Tingkat Persiapan Bersama (selanjutnya disebut mahasiswa TPB) IPB?

Dalam penelitian ini konsep diri mahasiswa TPB yang dipandang penting untuk diketahui adalah konsep diri berkenaan peranan gender mereka. Karenanya pengertian gender dan peranan gender menjadi acuan penting dalam penelitian ini. Gender diartikan sebagai perbedaan-perbedaan (sifat, peranan, status) dan relasi sosial antara laki-laki dan perempuan yang merupakan hasil konstruksi sosial budaya, bisa dipelajari, bervariasi secara luas diantara masyarakat dan budaya, serta berubah sejalan dengan perkembangan waktu (ILO, 2000; Wood, 2001 dalam Mugniesyah, 2005). Peranan gender adalah perilaku yang diajarkan pada setiap masyarakat, komunitas dan kelompok sosial tertentu yang menjadikan aktivitas-aktivitas, tugas-tugas dan tanggung jawab tertentu dipersepsikan sebagai peranan perempuan dan laki-laki. Peranan gender tersebut dilakukan perempuan dan laki-laki sesuai status, lingkungan, budaya dan struktur masyarakatnya. Sebagaimana dikemukakan Moser (1993) dalam Mugniesyah (2005), terdapat tiga kategori peranan gender (tripple roles): produktif (productive role), reproduktif (reproductive role), dan pengelolaan masyarakat (community managing) dan politik (politic). Berdasarkan beberapa pengertian tersebut, peranan gender manakah yang menjadi bagian dari konsep diri mahasiswa TPB IPB?

(24)

Berlo (1960) menyatakan bahwa pembentukan konsep diri pada individu berlangsung melalui proses komunikasi. Mead dalam Johnson (1981) juga mengemukakan bahwa konsep diri terdiri dari kesadaran individu mengenai keterlibatannya yang khusus dalam seperangkat hubungan sosial yang sedang berlangsung dalam suatu komunitas yang terorganisasi. Menurut Mead terdapat beberapa pelaku penting (significant others) sebagai agen sosialisasi yang berperan dalam pembentukan identitas gender dan konsep diri tersebut. Para ahli sependapat tentang adanya sejumlah aktor yang berperan sebagai agen sosialisasi yang mempengaruhi konstruksi nilai gender seorang individu, diantaranya adalah keluarga, teman sebaya (peer group), lembaga pendidikan, dan media massa (Pearson, 1985; Mugniesyah, 1995; Ivy dan Backlund, 1994 dalam Mugniesyah, 2005). Secara umum juga disepakati bahwa peranan keluarga sebagai agen penyosialisasi identitas dan peranan gender sangat utama, namun kontribusinya sebagai agen sosialisasi juga dipengaruhi oleh sistem kekerabatan di mana keluarga tersebut menjadi anggotanya. Sehubungan dengan itu siapa sajakah yang menjadi agen sosialisasi gender di kalangan mahasiswa TPB IPB? Apakah semua pihak yang disepakati para ahli tersebut -keluarga, teman sebaya, lembaga pendidikan, organisasi, media massa, dan sistem kekerabatan- berperan?

Meskipun proses pembentukan identitas gender dan konsep diri tentang peranan gender pada individu diperoleh melalui komunikasi interpersonal, namun Louisser dan Poulos (1997) dalam Mugniesyah (2000) beranggapan bahwa pembentukan kedua hal tersebut -identitas gender dan konsep gender- bisa dipengaruhi oleh bias yang dimiliki individu, khususnya stereotipe dan harapan. Hal itu didukung pendapat Richmond dan Robertson (1977) dalam Pearson (1985)

(25)

yang menyatakan bahwa stereotipe yang berlaku dalam masyarakat tentang bagaimana seharusnya individu berperilaku dapat mempengaruhi efektivitas komunikasi interpersonal antara laki-laki dan perempuan. Di pihak lain, individu mencoba untuk menerima, menyeleksi, mengorganisasikan, dan menginterpretasi informasi -termasuk informasi sistim nilai gender- sesuai dengan pengalaman dan prediksi (harapan) mereka ke masa mendatang. Sehubungan dengan itu, apakah pengalaman mereka dalam melaksanakan peranan gender sebelumnya menjadi mahasiswa TPB IPB serta harapan-harapan mereka mempengaruhi identitas gender dan konsep diri peranan gender mereka?

1.3 Tujuan Penelitian

Mengacu pada perumusan masalah di atas, penelitian ini bertujuan untuk: 1) Mengidentifikasi persepsi identitas gender -maskulin, feminin, dan androgini-

yang terinternalisasi pada mahasiswa TPB IPB, serta untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhinya.

2) Mengetahui peranan gender -produktif, reproduktif, dan pengelolaan masyarakat dan politik- yang menjadi bagian dari konsep diri mahasiswa TPB IPB.

3) Mengidentifikasi agen sosialisasi gender di kalangan mahasiswa yang berperan mempengaruhi pembentukan identitas gender dan konsep diri peranan gender mahasiswa TPB IPB.

4) Mengetahui stereotipe gender di kalangan mahasiswa TPB IPB serta harapan atas peranan gender mereka, khususnya ketika mereka akan memilih pasangan hidup dalam membentuk keluarga inti.

(26)

1.4 Kegunaan Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan berguna bagi berbagai pihak yang meminati kajian komunikasi gender, khususnya:

1) Bagi peneliti sendiri, pengalaman penelitian ini merupakan bagian dari proses pembelajaran dalam menyintesis beragam konsep, teori dan metodologi berkenaan komunikasi gender, khususnya tentang persepsi, konsep diri, identitas dan peranan gender serta faktor-faktor yang mempengaruhinya.

2) Bagi kalangan akademisi, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi informasi dasar bagi bahan kajian lebih lanjut mengenai fenomena gender dalam kelembagaan pendidikan tinggi.

3) Bagi Institut Pertanian Bogor khususnya dan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional pada umumya, penelitian ini diharapkan menjadi informasi dasar bagi upaya-upaya pengarusutamaan gender di lingkungan pendidikan tinggi.

(27)

BAB II

PENDEKATAN TEORITIS

2.1. Tinjauan Pustaka

2.1.1 Pengertian Gender dan Tri Peranan (Tripple Roles)

Sebagaimana dikemukakan Mugniesyah (2005), konsep gender -dibaca jender- dalam Kamus Oxford diartikan sebagai fakta menjadi laki-laki dan perempuan serta isu-isu yang berhubungan dengan perbedaan relasi dan peranan gender. Menurut Wood (2001), Mary Wollstonecraft diakui sebagai orang pertama (1792) yang menyatakan gender sebagai suatu karakteristik sosial.

Berbeda dari konsep seks atau jenis kelamin, gender diperoleh individu melalui proses interaksi dalam dunia sosial. Banyak ahli mengemukakan bahwa gender itu dikonstruksikan, karena gender bukanlah suatu fakta alamiah, akan tetapi mengambil bentuk kongkrit yang secara historis mengubah hubungan sosial. Selanjutnya dinyatakan bahwa sebagai sebuah istilah atau konsep, gender berasal dari Barat, namun sebagai suatu fakta sosial, gender merupakan fenomena yang ditemukan pada hampir semua masyarakat di dunia (Mugniesyah, 2005). Selain definisi yang telah dikemukakan di depan, pemerintah Indonesia melalui Kantor Meneg PP (2001) mengartikan gender sebagai pandangan masyarakat tentang perbedaan peranan, fungsi dan tanggung jawab antara perempuan dan laki-laki yang merupakan hasil konstruksi sosial budaya dan dapat berubah sesuai dengan perkembangan zaman.

Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya, Moser (1993) dalam Mugniesyah (2005) mengemukakan adanya tiga kategori peranan gender (triple

(28)

roles) yang mencakup peranan produktif, reproduktif dan pengelolaan masyarakat. Adapun pengertian masing-masing sebagai berikut:

1. Peranan produktif, yakni peranan yang dikerjakan perempuan dan laki-laki untuk memperoleh bayaran/upah secara tunai atau sejenisnya (natura). 2. Peranan reproduktif, yakni peranan yang berhubungan dengan tanggung

jawab pengasuhan anak dan tugas-tugas domestik yang dibutuhkan untuk menjamin pemeliharaan dan reproduksi tenaga kerja yang menyangkut kelangsungan tenaga.

3. Peranan Pengelolaan Masyarakat dan Politik, dibedakan ke dalam dua kategori :

a. Peranan Pengelolaan Masyarakat (Kegiatan Sosial), yang mencakup semua aktivitas yang dilakukan dalam tingkat komunitas sebagai kepanjangan peranan reproduktif, bersifat volunter dan tanpa upah.

b.Peranan Pengelolaan Politik (Kegiatan Politik), yakni peranan yang dilakukan pada tingkat pengorganisasian komunitas pada tingkat formal secara politik, biasanya dibayar (langsung ataupun tidak langsung), dan meningkatkan kekuasaan atau status.

2.1.2 Pengertian dan Pembentukan Persepsi Identitas Gender

Menurut Verderber (1981) dalam Mugniesyah (2000), persepsi adalah proses memberikan makna terhadap informasi yang diperoleh indera kita, atau dapat dikatakan sebagai apa yang dikerjakan otak dengan informasi yang diperolehnya. Adapun menurut Applbaum dkk (1973) dan Louisser dan Poulos (1997), persepsi mengacu pada interpretasi seseorang terhadap kenyataan

(29)

(Mugniesyah, 2000). Ahli komunikasi lain (DeVito, 1997) mendefinisikan persepsi sebagai proses dengan mana kita menjadi sadar akan banyaknya stimulus yang mempengaruhi indra kita. Selanjutnya, sebagaimana dikemukakan Mugniesyah, para ahli memandang persepsi adalah proses yang dialami atau digunakan setiap individu untuk mencoba mengetahui dan memahami orang lain.

Sandra Bem (1974) dalam Mugniesyah (2005) mengidentifikasikan identitas gender, diantaranya mencakup identitas maskulin, feminin, dan androgini. Identitas gender adalah sejumlah aspek penampilan dan perilaku personal yang secara budaya diatributkan menjadi maskulin dan feminin (Children’s Health Encyclopedia, 2008). Persepsi atas gender individu dipengaruhi oleh sosialisasi identitas jenis kelamin yang dimiliki individu sejak kecil dan peran yang dimainkan orang tua sesuai dengan kebudayaannya, sehingga dapat dikatakan bahwa persepsi identitas gender bisa dipengaruhi oleh jenis kelamin dan sistem kekerabatan dimana keluarga dari setiap individu menjadi anggotanya (Wood, 2001 dalam Mugniesyah, 2005).

Louisser dan Poulos (1997) dalam Mugniesyah (2000) mengemukakan lima tipe/jenis bias yang mempengaruhi persepsi, dua diantaranya adalah stereotipe dan harapan. Stereotipe diartikan sebagai suatu proses penyederhanaan dan generalisasi perilaku individu-individu dari anggota kelompok tertentu (etnis, agama, suku bangsa, bangsa, jenis kelamin, gender, pekerjaan, dan lain sebagainya). Stereotipe digunakan pada saat kita sedang menilai seseorang, juga digunakan oleh individu dalam berkomunikasi dengan maksud untuk humor, perlakuan diskriminatif bahkan pelecehan, yang seluruhnya akan menghasilkan pengaruh negatif terhadap hubungan antar manusia (komunikasi interpersonal).

(30)

Adapun harapan dipandang sebagai kunci untuk mengerti penilaian negatif individu terhadap orang lain dan emosi negatif yang menyertainya (Cohen, 1981). Dalam hal ini, setiap individu mencoba untuk menerima, menyeleksi, mengorganisasikan, dan menginterpretasi informasi sesuai dengan harapannya.

2.1.3 Teori-teori Pembentukan Identitas Gender

Terdapat sejumlah teori yang menjelaskan pembentukan identitas gender pada setiap individu, diantaranya adalah teori pembelajaran sosial dan teori perkembangan kognitif. Menurut teori pembelajaran sosial, anak-anak belajar perilaku yang dihubungkan dengan orangtuanya melalui observasi dan komunikasi. Anak-anak -laki-laki dan perempuan- belajar perilaku hubungan gender (gender-related behavior) dari kontak sosial, terutama dengan orangtua mereka dan teman sebayanya. Dengan perkataan lain, peranan yang dikembangkan oleh anak laki-laki atau anak perempuan diperolehnya melalui proses belajar dari lingkungannya.

Setiap individu, sejak masa anak-anak, meniru dan mengambil peran dari orang-orang yang ada di sekitarnya, mulai dari keluarga inti, keluarga besar (keluarga luas, sistem kekerabatan), hingga kemudian dalam lingkungan masyarakat dimana dia menjadi dewasa. Selanjutnya Wood (2001) dalam Mugniesyah (2005) menyatakan bahwa menurut teori belajar sosial individu-individu belajar menjadi maskulin dan feminim melalui komunikasi dan observasi. Melalui proses komunikasi, orang lain mengajarkan kepada setiap individu perilaku gender yang pantas baginya. Teori perkembangan kognitif memfokuskan pada bagaimana individu-individu belajar dari interaksi dengan

(31)

orang lain untuk mendefinisikan diri mereka sendiri termasuk gender mereka. Namun demikian, berbeda dari teori pembelajaran sosial, teori ini beranggapan bahwa anak-anak memainkan peranan aktif dalam mengembangkan identitas mereka sendiri. Setiap individu juga menggunakan orang lain untuk mendefinisikan identitas gender dan konsep diri gender mereka sendiri karena mereka dimotivasi oleh keinginan internal untuk menjadi kompeten -sesuai identitas dan konsep dirinya- sesuai budayanya.

2.1.4 Pengertian dan Pembentukan Konsep Diri Peranan Gender

Konsep diri merupakan kebutuhan individu untuk mendefinisikan dirinya sendiri, khususnya dalam hubungannya dengan orang lain dimana mereka terlibat didalamnya (Johnson, 1986). Individu tidak dilahirkan dengan suatu konsep diri, karena konsep diri diperoleh individu secara bertahap dalam interaksinya dengan orang lain. Menurut Johnson (1986), pada dasarnya, konsep diri merupakan jawaban individu atas pertanyaan “Siapa Aku?”.

Mead (1977) dalam Pearson (1985) dan Johnson (1986) menyatakan bahwa konsep diri merupakan kesadaran individu mengenai keterlibatannya yang khusus dalam seperangkat hubungan sosial yang sedang berlangsung atau dalam suatu komunitas yang terorganisasi. Berdasarkan teori empati yang dikemukakan Berlo (1960), seseorang membentuk konsep diri oleh dirinya sendiri, berdasarkan observasi dan interpretasi perilaku dengan berkomunikasi dengan orang lain.

Terkait dengan konsep diri peranan gender, Mead dalam Johnson (1986) membedakan tiga fase dalam suatu proses dimana individu belajar mengambil perspektif orang lain dan melihat dirinya sebagai objek yang meliputi:

(32)

1. Tahap bermain, yaitu tahap dimana anak-anak “memainkan” peran sosial dari orang lain.

2. Tahap pertandingan (games), yaitu tahap dimana anak-anak mampu menjalankan peran dari beberapa orang lain secara serentak dan mengorganisasinya dalam suatu keseluruhan yang lebih besar. Pada tahap ini, konsep diri individu terdiri dari kesadaran subjektif individu terhadap peranan khusus dalam kegiatan bersama itu, termasuk persepsi-persepsi mengenai harapan dan respon dari orang lain.

3. Tahap dimana anak-anak mengambil peran dari apa yang disebut generalized other, anak-anak mampu mengontrol dirinya sendiri menurut peran-peran umum yang bersifat impersonal. Generalized other terdiri dari harapan-harapan dan standar-standar umum yang dipertentangkan dengan harapan-harapan individu secara khusus, menurut harapan-harapan umum ini individu merencanakan dan melaksanakan berbagai tindakan.

Melalui tahapan-tahapan tersebut, anak-anak belajar mengenai melihat dirinya sendiri sesuai dengan nilai-nilai dan harapan-harapan dari masyarakat.

2.1.5 Konsep Psikologi Androgini

Sandra Bem (1974) mempopulerkan suatu konsep psychology androginy yang beranggapan bahwa seseorang dapat mengombinasikan atau “melumatkan“ kedua identitas psikologis yang maskulin dan feminin. Menurut Bem,

sebagaimana dikutip Mugniesyah (2005), terminologi androgini berasal dari bahasa Yunani, yaitu andros yang berarti laki-laki dan gyne berarti perempuan. Istilah androgini digunakan untuk merepresentasikan seseorang yang mempunyai sifat-sifat asertif, mandiri serta juga memiliki sifat hangat dan lemah-lembut.

(33)

Selanjutnya Bem menyatakan bahwa maskulinitas dan femininitas tidak

menggambarkan suatu konstruk yang bipolar, akan tetapi membangun konstruk yang memungkinkan seseorang bisa menunjukkan/menampilkan karakteristik yang secara stereotipe bersifat maskulin maupun feminin.

Terdapat 3 asumsi yang mendasari Teori Androgini Bem, yaitu :

(1) Androgini memungkinkan seseorang untuk berperilaku lebih fleksibel

(2) Fleksibilitas tersebut memungkinkan seseorang dapat beradaptasi lebih baik dalam beragam situasi sosial, dan

(3) Keduanya, baik laki-laki maupun perempuan dapat mencapai fleksibilitas situasional tersebut.

Selanjutnya Bem mengidentifikasi adanya empat orientasi psikologis individu, tiga diantaranya yang dominan berada pada psikologis seseorang :

(a) Androgynous, berarti seseorang berasosiasi tinggi dengan kedua karakteristik stereotipe, maskulin dan feminin, seperti seseorang yang mempunyai kepemimpinan tinggi tapi dia juga sensitif terhadap kebutuhan orang lain. (b) Masculine, seseorang berasosiasi tinggi dengan karakteristik stereotipe

maskulin dan berasosiasi rendah dengan karakteristik stereoripe feminin; seperti orang yang mempunyai kepribadian tinggi dan tidak memiliki sifat iba atau kasihan pada orang lain.

(c) Feminine, berarti seseorang berasosiasi tinggi dengan karakteristik stereotipe feminin dan berasosiasi rendah dengan karakteristik stereoripe maskulin; seperti seseorang yang sangat penolong tapi tidak mandiri.

Bem juga mengemukakan bahwa konsep androgini menawarkan suatu orientasi hidup yang lebih sehat dibandingkan dengan orientasi gender yang

(34)

terpolarisasi secara tradisional, karena individu yang androgini mempunyai karakteristik yang lebih luas, dan karenanya dapat beradaptasi lebih efektif terhadap lebih banyak situasi.

2.1.6 Pelaku Sosialisasi Gender (Significant Others)

Sebagaimana dikemukakan di depan, terdapat sejumlah aktor atau agen sosialisasi yang mendukung konstruksi sosial budaya gender dalam masyarakat. Di bawah ini dikemukakan secara rinci masing-masing agen sosialisasi tersebut : 1. Keluarga / Rumahtangga

Keluarga dianggap sebagai arena relasi gender yang utama dan dalam keluarga pula sejak masa kanak-kanak, individu disosialisasikan kepada berbagai konsep yang menunjuk pada betapa kuat dan berkuasanya laki-laki dibanding perempuan. Keluarga merupakan agen sosialisasi utama yang mempengaruhi identitas gender individu. Anak-anak belajar peran gender yang diperoleh dari beragam perilaku dan melalui pengamatan serta pemodelan lainnya. Secara tipikal, anak perempuan didorong untuk memperkuat kerjasama, tolong-menolong, pengasuhan dan perilaku-perilaku lain yang konsisten dengan makna sosial kefemininan. Pada anak laki-laki, cenderung didorong untuk berperilaku secara kompetitif, mandiri, dan asertif. Orang tua mengkomunikasikan gender melalui permainan yang diberikan kepada anak-anak. Pada saat menginjak umur enam tahun, sosialisasi ketenagakerjaan dimulai. Anak perempuan membantu ibunya dalam peran reproduktif, sedangkan anak laki-laki pada peranan produktif dan kemasyarakatan. Cara lain dalam mengkomunikasikan gender adalah melalui pemodelan orangtua, tetapi cara ini sangat bergantung dengan struktur keluarga

(35)

yang ada, apakah keberadaan orang tua lengkap, single parent perempuan atau laki-laki atau individu berada di lingkungan lain seperti panti asuhan (Mugniesyah, 2005).

2. Sekolah

Sekolah memainkan peran yang memperkuat apa yang sudah diperoleh dari lingkungan keluarga. Di sekolah terjadi sosialisasi yang bias gender yang memandang bahwa mata ajaran ilmu-ilmu dasar hanya pantas untuk laki-laki (mata ajaran maskulin) sebaliknya ilmu-ilmu sosial termasuk bahasa dianggap pantas untuk perempuan (mata ajaran feminin). Buku-buku pelajaran sekolah dasar memuat pembagian peran yang memuat stereotipe pria dan wanita.

Sekolah mempunyai kontribusi besar dalam proses pengenderan individu-individu, mulai dari kelompok bermain (playgroup) atau Taman Kanak-kanak sampai Perguruan Tinggi. Komunikasi dalam kelembagaan pendidikan mereproduksi pandangan-pandangan budaya mengenai perempuan sebagai subordinat, pasif, berbeda, dan kurang berprestasi, sedangkan laki-laki dominan, bebas, dan berprestasi. Proses komunikasi yang terjadi di sekolah menyebabkan menguatnya stereotipe gender dalam pendidikan merupakan suatu proses yang tidak disadari oleh kebanyakan pendidik.

Terdapat kurikulum tersembunyi yang memperkuat atau mengekalkan konsepsi seksisme -tentang perempuan dan laki-laki- mencakup organisasi kelembagaan, materi bahan ajar dan gaya mengajar yang merefleksikan stereotipe gender dan berpengaruh dalam melestarikan ketidakadilan gender (Wood dalam Mugniesyah, 2005). Wood mengemukakan bahwa sistem pendidikan (kurikulum tersembunyi) telah menjadikan siswa perempuan kurang mampu menemukan

(36)

potensi dirinya daripada laki-laki. Guru/dosen cenderung melanjutkan sosialisasi stereotipe gender dalam kurikulum sekolah/perguruan tinggi.

3. Grup sebaya (Peer group)

Pada tingkat masyarakat, kelompok sebaya turut berperan melembagakan perilaku gender. Hasil observasi menunjukkan bahwa stereotipe gender yang dihubungkan dengan komunikasi persahabatan antara laki-laki dan perempuan relatif konsisten. Perempuan dipandang relatif lebih terbuka dan dianggap menggunakan gaya komunikator yang cenderung fasilitatif dan ekspresif, sebaliknya laki-laki kurang terbuka dan dianggap menggunakan gaya komunikator yang mengontrol dan instrumental.

Teman sebaya merupakan salah satu faktor yang penting dalam pembentukan perilaku individu sesuai dengan jenis kelamin. Ketika anak perempuan dan anak laki-laki mulai bermain dan membentuk persahabatan dengan teman sebaya dari jenis kelamin yang sama, dimulailah pembelajaran tentang jenis kelamin dan tingkah laku tertentu yang berlaku dan diharapkan oleh kelompoknya. Menurut Rawlins (1992), dalam persahabatan antara perempuan dan laki-laki, terdapat harapan-harapan budaya tentang maskulin dan feminin yang sangat menonjol. Kebanyakan perempuan dan laki-laki berlanjut memelihara peranan-peranan gender tradisional mereka terutama berhubungan dengan gaya komunikasi antara keduanya, perempuan relatif lebih terbuka dan dianggap menggunakan gaya komunikator yang cenderung fasilitatif dan ekspresif, sedangkan laki-laki kurang terbuka dan dianggap menggunakan gaya komunikator yang cenderung mengontrol dan instrumental (Mugniesyah, 2005).

(37)

4. Organisasi

Jumlah pemimpin dan politisi perempuan lebih rendah dibanding pria. Keterwakilan perempuan dalam lembaga-lembaga baik legislatif, yudikatif maupun eksekutif sangat rendah. Menurut Wood (2001) dalam Mugniesyah (2005), karena laki-laki mendominasi kehidupan kelembagaan maka bentuk-bentuk maskulin dalam berkomunikasi merupakan standar atau baku dalam kebanyakan lingkungan kerja. Tempat kerja mempunyai pengaruh tergantung dari pandangan manajer di tempat individu bekerja. Pekerjaan dapat membuat individu lebih aktif, fleksibel, terbuka dan demokratis, jika manajer mempunyai pandang yang modern. Jika perempuan memiliki status yang lebih rendah daripada laki-laki dalam pekerjaan, hal ini lebih disebabkan karena kurangnya kesempatan, akibat pandangan manajer yang tradisional.

5. Media massa

Media massa, baik radio, surat kabar, dan televisi gencar mempromosikan acara dan iklan yang memperkuat idiologi gender. Sebagai contoh, iklan reproduktif selalu mengambil model perempuan dan sebaliknya peran produktif dilakukan oleh laki-laki. Selain itu, iklan sering menggambarkan bahwa wanita selalu menjadi objek seksual laki-laki.

Stewart dkk (1996) dan Wood (2001) dalam Mugniesyah (2005) sependapat bahwa media massa mengkomunikasikan imej/citra gender, yang banyak diantaranya justru mengekalkan persepsi stereotipe dan terbatas pada citra perempuan yang tidak realistik. Secara umum, media merepresentasikan stereotipe laki-laki dan perempuan yang membatasi persepsi individu. Media memperkuat stereotipe maskulinitas laki-laki dengan menampilkan laki-laki

(38)

sebagai sosok yang kuat, aktif, petualang, agresif secara seksual, dan kurang terlibat dalam hubungan atau urusan kemanusiaan. Sebaliknya, perempuan digambarkan sebagai objek seksual yang selalu tampil muda, ramping, jelita, cantik, pasif, tergantung/tidak mandiri, dan sering kali tidak kompeten dan bodoh.

2.1.7 Pengertian dan Teori-teori Sistem Kekerabatan

Kekerabatan mengacu pada hubungan diantara orang tua dan anak, baik anak perempuan maupun laki-laki, dan pada jaringan-jaringan hubungan yang terbentuk dari hubungan orang tua dan anak tersebut (Keesing, 1975 dalam Tampubolon, 1985). Menurut Djojodigoeno4 (1959) sistem kekerabatan dapat ditelaah dari segi batas lingkungan pergaulan yang dilacak secara parental (hubungan baik melalui bapak atau ibu), dan adat menetap dari individu-individu anggota kerabat setelah perkawinan (bilokal, patrilokal, matrilokal, dan sebagainya) yang berkaitan dengan usaha untuk memelihara kelangsungan hak dan kewajiban tertentu pada suatu golongan kerabat terbatas (adat penggantian kedudukan/status dalam golongan itu, adat waris, dan lain sebagainya).

Sependapat dengan Djojodigoeno, Koentjaraningrat (1981) menyatakan bahwa sistem kekerabatan terbentuk berdasar perkawinan dan garis keturunan. Selanjutnya, Koentjaraningrat membedakan sistem kekerabatan menurut garis keturunan ke dalam empat tipe, yaitu: patrilineal, matrilineal, bilineal, dan bilateral. Sistem kekerabatan patrilineal menghitung hubungan kekerabatan melalui laki-laki saja, oleh karena itu mengakibatkan kaum kerabat ayah masuk di dalam batas hubungan kekerabatannya, sedangkan kaum kerabat ibu berada di

(39)

luar batas tersebut. Sebaliknya, sistem matrilineal menghitung hubungan kekerabatan melalui perempuan saja, sehingga kaum kerabat ibu masuk di dalam batas hubungan kekerabatannya, sedangkan kaum kerabat ayah berada di luar batas tersebut. Sistem kekerabatan bilineal menghitung hubungan kekerabatan melalui laki-laki saja untuk sejumlah hak dan kewajiban tertentu, dan melalui perempuan saja untuk sejumlah hak dan kewajiban yang lain. Sebaliknya, sistem kekerabatan bilateral menghitung hubungan-hubungan kekerabatan melalui laki-laki maupun perempuan.

Levy (1949)5 menyatakan bahwa hal yang perlu diperhatikan ketika menelaah sistem kekerabatan, diantaranya adalah :

1. Diferensiasi peranan, yaitu cara mendudukan anggota-anggota kerabat pada berbagai posisi dalam sistem kekerabatan menurut fungsinya masing-masing atas pertimbangan perbedaan umur, jenis kelamin, generasi, posisi ekonomi, dan pembagian kekuasaan.

2. Alokasi atau penempatan fungsi solidaritas, yaitu perbedaan tingkat solidaritas yang didudukan dalam berbagai hubungan antara anggota-anggota kerabat menurut makna dan kuatnya hubungan tersebut dan daya tarik timbal-balik serta sampai berapa dalam orang terlibat didalamnya. 3. Alokasi kekuasaan/kewibawaan dengan memberi kekuasaan dan tanggung

jawab kepada tokoh-tokoh tertentu untuk mengontrol tindakan anggota-anggotanya.

Menurut Jenkins (1997) dalam Harmita (2006), etnisitas memiliki karakteristik yang mencakup: (1) diferensiasi kultural, (2) berkaitan dengan

(40)

budaya -berbagai pemaknaan- yang berakar dari dan merupakan hasil interaksi sosial, (3) merupakan budaya dengan komponen atau situasi yang diproduksi dan direproduksi, (4) Etnisitas mencakup tindakan kolektif dalam interaksi sosial dan individu. Berikut pemaparan contoh kelompok etnis dengan tipe sistem kekerabatannya.

Masyarakat Batak tergolong sistem kekerabatan patrilineal, dimana prinsip keturunannya disebut marga (Toba) atau merga (Karo). Dalam hal perjodohan, berlaku exogami, dimana perjodohan menjadi suatu unsur dalam perhubungan satu marga dan marga lainnya. Ketunggalan silsilah dan marga atau merga yang patrilineal berarti ketunggalan laki-laki terhadap perempuan, dimana istri akan berpindah ke dalam marga suami dan anak-anak menjadi anggota marga bapak, dan laki-laki berkuasa dan mendominasi (Djojodigoeno, 1959).

Masyarakat Minangkabau merupakan contoh sistem kekerabatan matrilineal di Indonesia. Dalam masyarakat ini perempuan berfungsi sebagai penerus keturunan, baik dalam paruik (satu perut) maupun suku, karena anak akan mewarisi suku ibunya. Perempuan menjadi inti keluarga, dan dianggap sebagai Limpapeh Rumah nan Gadang (tiang keluarga dan sebagai pendidik anak-anak) yang merupakan lambang penerus keturunan (Rasjid Manggis, 1971 dalam Tampubolon 1985). Dalam sistem hak waris, harta keluarga berbentuk tanah/sawah dan rumah tetap berada dalam lingkungan garis keturunan ibu secara turun menurun; sementara suami (urang sumado) tidak mempunyai otoritas di rumah gadang isterinya, tetapi ia berkuasa di rumah gadang milik saudara perempuannya. Dalam masyarakat ini, perkawinan yang dianggap ideal adalah perkawinan antara seorang laki-laki dengan anak perempuan mamaknya atau

(41)

antara seorang anak laki-laki dengan anak perempuan dari saudara perempuan ayah (Tampubolon, 1985).

Masyarakat Jawa dan Sunda tergolong sistem kekerabatan bilateral. Djojodigoeno (1959) menjelaskan bahwa pada masyarakat bilateral, status suami dan istri sama dan masing-masing dapat bertindak. Kekuasaan atas anak dan harta diurus dan dikelola bersama-sama sesuai dengan kesepakatan. Dalam sistem pewarisannya, anak-anak -laki-laki dan perempuan- menerima waris dari ayah dan ibu serta dari kerabat bapak dan kerabat ibu, bahkan suami-istri saling waris-mewaris. Pada masyarakat Jawa dan Sunda juga terdapat solidaritas yang kuat dan luas pada kerabat inti. Dalam kebudayaan Jawa, sebagai kelanjutan dari perkawinan terbentuk beberapa macam kelompok-kelompok kekerabatan, seperti keluarga batih dan keluarga luas, sanak-sadulur, dan alurwaris. Tidak berbeda jauh dengan masyarakat Jawa, masyarakat Sunda juga mempunyai beberapa istilah dalam jaringan hubungan kekerabatan, yaitu kulawarga (keluarga), warga, dulur (saudara), baraya (saudara), saderek (saudara), kulawedet, bondoroyot, golongan (Ekadjati, 1995).

2.2. Kerangka Pemikiran

Penelitian berjudul Persepsi Identitas dan Konsep Diri Tentang Peranan Gender di kalangan Mahasiswa TPB IPB ini mengacu pada hasil sintesis beragam konsep dan teori yang telah dikemukakan di depan. Dengan mengacu pada pengertian, teori persepsi dan teori pembentukan identitas gender, serta konsep Sandra Bem, persepsi identitas gender mahasiswa TPB diukur dengan variabel Kategori Psikologi Androgini (Y1). Selain itu, dalam konteks pendidikan tinggi,

(42)

dimana ada gender dalam konteks bidang-bidang ilmu, persepsi identitas gender tersebut juga diukur melalui variabel Persepsi Mahasiswa TPB IPB tentang domain program-program studi di lingkungan IPB (Y2).

Dalam penelitian ini, identitas gender itu melekat pada diri individu mahasiswa TPB dianggap akan digunakan oleh individu mahasiswa tersebut dalam berkomunikasi interpersonal untuk mengembangkan konsep dirinya, khususnya berkenaan peranan gender mereka. Selanjutnya, konsep diri peranan gender mahasiswa TPB IPB tersebut akan diukur dengan peranan dan relasi gender yang dikembangkan mahasiswa dalam konteks tri peranan (triple roles) yang dikemukakan Moser (1993). Terdapat lima variabel yang diukur, yaitu variabel-variabel Konsep Diri Dalam Peranan Reproduktif (Y3), Konsep Diri Dalam Peranan Produktif (Y4), Konsep Diri Dalam Peranan Berorganisasi (Y5), Pola Relasi Kekuasaan Dalam Kegiatan Reproduktif (Y7), Pola Relasi Kekuasaan Dalam Kegiatan Produktif dan Pola Relasi Kekuasaan dalam Kegiatan Berorganisasi (Y8). Dalam penelitian ini, semua variabel yang mengukur persepsi identitas gender dan konsep diri peranan gender tersebut merupakan variabel-variabel tidak bebas (dependent variables).

Mengacu pada teori perkembangan kognitif dari Wood (2001) dalam Mugniesyah (2005), setiap individu mahasiswa TPB dipandang aktif mengembangkan persepsi identitas gendernya sejalan dengan perkembangan kognitif mereka sejak kanak-kanak hingga menjadi dewasa dan menjadi mahasiswa. Oleh karena itu, dalam penelitian ini, karakteristik individu mahasiswa TPB IPB diduga mempengaruhi variabel-varibel tidak bebas di atas. Lebih lanjut, mengingat persepsi atas identitas gender individu dipengaruhi oleh

(43)

sosialisasi berkenan identitas jenis kelamin dan peran yang dimainkan orang tua sesuai dengan kebudayaannya, maka karakteristik individu yang diduga mempengaruhi identitas dan konsep peranan gender adalah variabel-variabel Orientasi Jenis Kelamin (X1) dan Suku Bangsa (X2) dari mahasiswa TPB IPB.

Selanjutnya, mengacu pada pendapat Louisser dan Poulos (1997) dalam Mugniesyah (2000), variabel-variabel persepsi identitas gender juga dipengaruhi oleh stereotipe, pengalaman, harapan individu atas identitas gender mereka. Oleh karena itu, variabel-variabel tidak bebas tersebut di atas diduga dipengaruhi oleh variabel-variabel bebas yang terdiri atas: Stereotipe Gender (X3), Keragaman Lingkungan Pergaulan Menurut Etnik (X4), dan Preferensi Teman Menurut Jenis Kelamin (X5). Adapun persepsi identitas gender terhadap domain program studi, diduga dipengaruhi oleh variabel Motivasi Mahasiswa dalam memilih program studi Mayor-Minor di IPB (X6).

Sebagaimana dikemukakan sebelumnya gender merupakan hasil konstrusi sosial budaya, yang diperoleh individu melalui proses sosialisasi. Mengacu pada pendapat para ahli, dalam penelitian ini keluarga dan sistem kekerabatan merupakan agen sosialisasi atau significant others yang dipandang dominan mempengaruhi persepsi dan konsep diri peranan gender mahasiswa TPP IPB, Sehubungan dengan itu, dalam penelitian ini variabel-variabel pada keluarga dan sistem kekerabatan yang diduga berpengaruh adalah Tingkat Pendidikan Orangtua (X7), Tipe Sistem Kekerabatan (X8), Status Bekerja Orangtua (X9), Status Perkawinan (X10), Pola Sub-Struktur dalam Keluarga (X11), Tokoh Dominan Dalam Keluarga (X12) dan Pola Pembagian Kerja (X13), serta Spesifikasi Jenis Permainan (X14).

(44)

Selain orang tua, lembaga pendidikan mempunyai kontribusi dalam pembentukan identitas dan konsep diri gender. Secara umum Lembaga pendidikan mereproduksi dan mengekalkan pandangan-pandangan budaya mengenai perempuan sebagai subordinat, pasif, berbeda, dan kurang berprestasi, sedangkan laki-laki dominan, bebas, dan berprestasi; serta cenderung mengekalkan ketimpangan gender, khususnya dalam menduduki posisi pemimpin dalam organisasi. Sehubungan dengan itu, dalam penelitian ini variabel-variabel pada lembaga pendidikan yang diduga berpengaruh adalah: Tokoh Dominan di Sekolah TK-SMU (X15), Gaya kepemimpinan Guru Laki-Laki (X16), dan Gaya Kepemimpinan Guru Perempuan (X17).

Dengan mempertimbangkan bahwa setiap individu mahasiswa TPB IPB juga menjadi anggota dari beragam kelompok/organisasi sosial. Sehubungan dengan itu, variabel-variabel bebas dari karakteristik organisasi yang diduga berpengaruh terhadap persepsi identitas gender dan konsep diri peranan gender adalah Tokoh Dominan dalam Organisasi (X18), Gaya Kepemimpinan Tokoh Laki-laki dalam Organisasi (X19), dan Gaya Kepemimpinan Tokoh Perempuan dalam Organisasi (X20). Lebih lanjut, dengan mempertimbangkan bahwa media massa juga berperan sebagai agen sosialisasi gender, dalam penelitian ini variabel Penilaian Muatan Nilai Gender dalam Media Massa (X21) juga diduga berpengaruh terhadap persepsi identitas gender dan konsep diri gender.

Berdasar pada penjelasan tersebut di atas, hubungan antar variabel-variabel bebas dengan tidak bebas dalam penelitian ini dituangkan ke dalam suatu diagram sebagaimana dapat dilihat pada Gambar 1.

(45)

Karakteristik Lembaga Pendidikan

X15. Tokoh Dominan di Sekolah TK-SMU

X16. Gaya Kepemimpinan Guru Laki-laki

X17. Gaya Kepemimpinan Guru Perempuan

Persepsi Identitas Gender

Y1. Kategori Psikologi Androgini

Y2. Persepsi Mahasiswa TPB IPB Tentang Domain Program Studi Mayor-Minor IPB

Konsep Diri Tentang Peranan Gender

Y3. Peranan Dalam Kegiatan Reproduktif Y4. Peranan Dan Kegiatan Produktif Y5. Peranan Dan Kegiatan Berorganisasi Y6. Pola Relasi Kekuasaan Dalam Kegiatan Reproduktif

Y7. Pola Relasi Kekuasaan Dalam Kegiatan Produktif

Y8. Pola Relasi Kekuasaan Dalam Kegiatan Berorganisasi

Karakteristik Organisasi

X18. Tokoh Dominan Dalam Organisasi

X19. Gaya Kepemimpinan Tokoh Laki-laki Dalam Organisasi X20. Gaya Kepemimpinan Tokoh

Perempuan Dalam Organisasi

Peranan Media Massa

X21. Penilaian Muatan Gender Dalam Media Massa

Gambar 1. Diagram Hubungan Antara Variabel Bebas dengan Variabel Tidak Bebas dalam Penelitian

Karakteristik Keluarga

X7. Tingkat Pendidikan Orang Tua X8. Tipe Sistem Kekerabatan X9. Status Bekerja Orang Tua X10. Status Perkawinan

X11. Pola Sub-struktur Dalam Keluarga X12. Tokoh Dominan Dalam Keluarga X13. Pola Pembagian Kerja

X14. Spesifikasi Jenis Permainan

Karakteristik Individu

X1. Jenis Kelamin X2. Suku Bangsa X3. Stereotipe Gender

X4. Keragaman Lingkungan Pergaulan Menurut Etnik

X5. Preferensi Teman Menurut Jenis Kelamin

(46)

2.3 Hipotesa Penelitian

1) Karakteristik individu berhubungan positif dengan persepsi identitas gender dan konsep diri peranan gender mahasiswa TPB IPB.

2) Karakteristik Keluarga berhubungan positif dengan pembentukan persepsi identitas gender dan konsep diri peranan gender mahasiswa TPB IPB.

3) Karakteristik lembaga pendidikan berhubungan positif dengan persepsi identitas gender dan konsep diri peranan gender mahasiswa TPB IPB.

4) Karakteristik organisasi berhubungan positif dengan persepsi identitas gender dan konsep diri peranan dan relasi gender mahasiswa TPB IPB.

5) Media massa berhubungan positif dengan persepsi identitas gender dan konsep diri peranan gender mahasiswa TPB IPB.

2.9 Definisi Operasional

Definisi operasional variabel-variabel pada penelitian ini sebagai berikut : 1) Kategori psikologi androgini (Y1) adalah preferensi sifat-sifat psikologi

gender di kalangan mahasiswa, yang dibedakan ke dalam tiga kategori: maskulin, feminin, dan androgini berdasar hasil pengukuran skor Bem dengan menggunakan rumus tes androgini menurut Bem, dimana :

sifat maskulin-sifat feminin= skor Bem

Berdasarkan hasil skor Bem yang diperoleh mahasiswa, identitas gender mahasiswa dibedakan ke dalam (1) feminin, jika nilai skor Bem ≤-20, (2) androgini, jika skornya antara -9 sampai dengan +9, dan (3) maskulin jika mencapai skor Bem ≥ +20.

(47)

2) Persepsi Mahasiswa TPB IPB tentang domain program studi di IPB (Y2) adalah preferensi mahasiswa TPB IPB dalam menentukan kepantasan mahasiswa untuk memasuki program studi di lingkungan menurut jenis kelaminnya; dibedakan ke dalam tiga kategori dengan memodifikasi konsep Bem : (1) maskulin, jika mahasiswa cenderung menilai program studi tertentu sebagai lebih pantas bagi laki-laki dari pada perempuan, (2) feminin, jika mahasiswa cenderung menilai program studi tertentu sebagai lebih pantas bagi perempuan dari pada laki-laki, dan (3) androgini, jika mahasiswa cenderung menilai program studi tertentu sebagai pantas bagi perempuan dan laki-laki.

3) Peranan dalam kegiatan reproduktif (Y3) adalah aktivitas yang dikerjakan individu laki-laki dan perempuan dalam domain domestik (kegiatan rumahtangga), dengan pemberian skor satu untuk setiap aktivitas; dibedakan ke dalam tiga kategori : (a) rendah, untuk total skor 1- 8; (b) sedang jika skor 9-17, (c) tinggi, untuk total skor 18-25.

4) Peranan dalam kegiatan produktif (Y4) adalah aktivitas yang dikerjakan mahasiswa (laki-laki dan perempuan) dalam kegiatan-kegitan di sektor publik yang menghasilkan pendapatan (upah/bayaran) , dengan pemberian skor satu untuk setiap aktivitas; dibedakan ke dalam tiga kategori : (a) rendah, untuk total skor 1- 5; (b) sedang jika skor 6-10, (c) tinggi, untuk total skor 11-15. 5) Peranan dalam kegiatan berorganisasi (Y5) adalah aktivitas yang dikerjakan

mahasiswa (laki-laki dan perempuan) dalam kegiatan-kegitan organisasi dan kelembagan masyarakat, dengan pemberian skor satu untuk setiap aktivitas;

(48)

dibedakan ke dalam tiga kategori : (a) rendah, untuk total skor 1-15, (b) sedang jika skor 16-30, (c) tinggi, untuk total skor 31-45.

6) Pola relasi kekuasaan dalam kegiatan reproduktif (Y6) adalah kewenangan yang dimiliki anggota keluarga mahasiswa TPB IPB, laki-laki dan perempuan dalam pengambilan keputusan yang menentukan partisipasi individu mahasiswa dalam melakukan kegiatan domestik; dibedakan ke dalam tiga kategori: (a) rendah jika hanya melibatkan tokoh laki-laki atau perempuan saja, (b) sedang, jika melibatkan tokoh laki-laki dan perempuan, namun ada dominasi dari salah satunya, dan (c) tinggi, jika melibatkan laki-laki dan perempuan secara setara.

7) Pola relasi kekuasaan dalam kegiatan produktif (Y7) adalah pengambilan keputusan dominan antara perempuan dan laki-laki dalam keluarga untuk menentukan/mengikuti kegiatan yang menghasilkan upah/bayaran; dibedakan ke dalam tiga kategori: (a) rendah jika hanya melibatkan tokoh laki-laki atau perempuan saja, (b) sedang, jika melibatkan tokoh laki-laki dan perempuan, namun ada dominasi dari salah satunya, dan (c) tinggi, jika melibatkan laki-laki dan perempuan secara setara.

8) Pola relasi dalam kegiatan berorganisasi (Y8) adalah pengambilan keputusan dominan antara perempuan dan laki-laki dalam keluarga untuk menentukan/mengikuti/menjadi bagian dari kelembagaan masyarakat; dibedakan ke dalam tiga kategori: (a) rendah jika hanya melibatkan tokoh laki-laki atau perempuan saja, (b) sedang, jika melibatkan tokoh laki-laki dan perempuan, namun ada dominasi dari salah satunya, dan (c) tinggi, jika melibatkan laki-laki dan perempuan secara setara

Gambar

Tabel 23.  Sebaran Mahasiswa Menurut Preferensi Jenis Kelamin Teman  Sebaya Dan Identitas Gender di Kalangan Mahasiswa TPB IPB   70  Tabel 24
Gambar 1. Diagram Hubungan Antara Variabel Bebas dengan Variabel Tidak Bebas dalam Penelitian
Tabel 1. Sebaran Mahasiswa Menurut Kelas Sosiologi Umum dan Asal Etnik  (TPB 2007/2008)
Tabel 2. Sebaran Dosen Institut Pertanian Bogor (IPB) Menurut Fakultas dan  Jenis Kelamin, Tahun 2007
+7

Referensi

Dokumen terkait