• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pelaku Sosialisasi Gender (Significant Others)

Dalam dokumen Oleh: RESTU DIRESIKA KISWORO A (Halaman 34-38)

BAB II. PENDEKATAN TEORITIS

2.1 Tinjauan Pustaka

2.1.6 Pelaku Sosialisasi Gender (Significant Others)

Sebagaimana dikemukakan di depan, terdapat sejumlah aktor atau agen sosialisasi yang mendukung konstruksi sosial budaya gender dalam masyarakat. Di bawah ini dikemukakan secara rinci masing-masing agen sosialisasi tersebut : 1. Keluarga / Rumahtangga

Keluarga dianggap sebagai arena relasi gender yang utama dan dalam keluarga pula sejak masa kanak-kanak, individu disosialisasikan kepada berbagai konsep yang menunjuk pada betapa kuat dan berkuasanya laki-laki dibanding perempuan. Keluarga merupakan agen sosialisasi utama yang mempengaruhi identitas gender individu. Anak-anak belajar peran gender yang diperoleh dari beragam perilaku dan melalui pengamatan serta pemodelan lainnya. Secara tipikal, anak perempuan didorong untuk memperkuat kerjasama, tolong-menolong, pengasuhan dan perilaku-perilaku lain yang konsisten dengan makna sosial kefemininan. Pada anak laki-laki, cenderung didorong untuk berperilaku secara kompetitif, mandiri, dan asertif. Orang tua mengkomunikasikan gender melalui permainan yang diberikan kepada anak-anak. Pada saat menginjak umur enam tahun, sosialisasi ketenagakerjaan dimulai. Anak perempuan membantu ibunya dalam peran reproduktif, sedangkan anak laki-laki pada peranan produktif dan kemasyarakatan. Cara lain dalam mengkomunikasikan gender adalah melalui pemodelan orangtua, tetapi cara ini sangat bergantung dengan struktur keluarga

yang ada, apakah keberadaan orang tua lengkap, single parent perempuan atau laki-laki atau individu berada di lingkungan lain seperti panti asuhan (Mugniesyah, 2005).

2. Sekolah

Sekolah memainkan peran yang memperkuat apa yang sudah diperoleh dari lingkungan keluarga. Di sekolah terjadi sosialisasi yang bias gender yang memandang bahwa mata ajaran ilmu-ilmu dasar hanya pantas untuk laki-laki (mata ajaran maskulin) sebaliknya ilmu-ilmu sosial termasuk bahasa dianggap pantas untuk perempuan (mata ajaran feminin). Buku-buku pelajaran sekolah dasar memuat pembagian peran yang memuat stereotipe pria dan wanita.

Sekolah mempunyai kontribusi besar dalam proses pengenderan individu-individu, mulai dari kelompok bermain (playgroup) atau Taman Kanak-kanak sampai Perguruan Tinggi. Komunikasi dalam kelembagaan pendidikan mereproduksi pandangan-pandangan budaya mengenai perempuan sebagai subordinat, pasif, berbeda, dan kurang berprestasi, sedangkan laki-laki dominan, bebas, dan berprestasi. Proses komunikasi yang terjadi di sekolah menyebabkan menguatnya stereotipe gender dalam pendidikan merupakan suatu proses yang tidak disadari oleh kebanyakan pendidik.

Terdapat kurikulum tersembunyi yang memperkuat atau mengekalkan konsepsi seksisme -tentang perempuan dan laki-laki- mencakup organisasi kelembagaan, materi bahan ajar dan gaya mengajar yang merefleksikan stereotipe gender dan berpengaruh dalam melestarikan ketidakadilan gender (Wood dalam Mugniesyah, 2005). Wood mengemukakan bahwa sistem pendidikan (kurikulum tersembunyi) telah menjadikan siswa perempuan kurang mampu menemukan

potensi dirinya daripada laki-laki. Guru/dosen cenderung melanjutkan sosialisasi stereotipe gender dalam kurikulum sekolah/perguruan tinggi.

3. Grup sebaya (Peer group)

Pada tingkat masyarakat, kelompok sebaya turut berperan melembagakan perilaku gender. Hasil observasi menunjukkan bahwa stereotipe gender yang dihubungkan dengan komunikasi persahabatan antara laki-laki dan perempuan relatif konsisten. Perempuan dipandang relatif lebih terbuka dan dianggap menggunakan gaya komunikator yang cenderung fasilitatif dan ekspresif, sebaliknya laki-laki kurang terbuka dan dianggap menggunakan gaya komunikator yang mengontrol dan instrumental.

Teman sebaya merupakan salah satu faktor yang penting dalam pembentukan perilaku individu sesuai dengan jenis kelamin. Ketika anak perempuan dan anak laki-laki mulai bermain dan membentuk persahabatan dengan teman sebaya dari jenis kelamin yang sama, dimulailah pembelajaran tentang jenis kelamin dan tingkah laku tertentu yang berlaku dan diharapkan oleh kelompoknya. Menurut Rawlins (1992), dalam persahabatan antara perempuan dan laki-laki, terdapat harapan-harapan budaya tentang maskulin dan feminin yang sangat menonjol. Kebanyakan perempuan dan laki-laki berlanjut memelihara peranan-peranan gender tradisional mereka terutama berhubungan dengan gaya komunikasi antara keduanya, perempuan relatif lebih terbuka dan dianggap menggunakan gaya komunikator yang cenderung fasilitatif dan ekspresif, sedangkan laki-laki kurang terbuka dan dianggap menggunakan gaya komunikator yang cenderung mengontrol dan instrumental (Mugniesyah, 2005).

4. Organisasi

Jumlah pemimpin dan politisi perempuan lebih rendah dibanding pria. Keterwakilan perempuan dalam lembaga-lembaga baik legislatif, yudikatif maupun eksekutif sangat rendah. Menurut Wood (2001) dalam Mugniesyah (2005), karena laki-laki mendominasi kehidupan kelembagaan maka bentuk-bentuk maskulin dalam berkomunikasi merupakan standar atau baku dalam kebanyakan lingkungan kerja. Tempat kerja mempunyai pengaruh tergantung dari pandangan manajer di tempat individu bekerja. Pekerjaan dapat membuat individu lebih aktif, fleksibel, terbuka dan demokratis, jika manajer mempunyai pandang yang modern. Jika perempuan memiliki status yang lebih rendah daripada laki-laki dalam pekerjaan, hal ini lebih disebabkan karena kurangnya kesempatan, akibat pandangan manajer yang tradisional.

5. Media massa

Media massa, baik radio, surat kabar, dan televisi gencar mempromosikan acara dan iklan yang memperkuat idiologi gender. Sebagai contoh, iklan reproduktif selalu mengambil model perempuan dan sebaliknya peran produktif dilakukan oleh laki-laki. Selain itu, iklan sering menggambarkan bahwa wanita selalu menjadi objek seksual laki-laki.

Stewart dkk (1996) dan Wood (2001) dalam Mugniesyah (2005) sependapat bahwa media massa mengkomunikasikan imej/citra gender, yang banyak diantaranya justru mengekalkan persepsi stereotipe dan terbatas pada citra perempuan yang tidak realistik. Secara umum, media merepresentasikan stereotipe laki-laki dan perempuan yang membatasi persepsi individu. Media memperkuat stereotipe maskulinitas laki-laki dengan menampilkan laki-laki

sebagai sosok yang kuat, aktif, petualang, agresif secara seksual, dan kurang terlibat dalam hubungan atau urusan kemanusiaan. Sebaliknya, perempuan digambarkan sebagai objek seksual yang selalu tampil muda, ramping, jelita, cantik, pasif, tergantung/tidak mandiri, dan sering kali tidak kompeten dan bodoh.

Dalam dokumen Oleh: RESTU DIRESIKA KISWORO A (Halaman 34-38)

Dokumen terkait