52
Studi Kualitas Air dan Potensi Pemanfaatan Danau Bekas Tambang JVoid
PT Kaltim Prima Coal, Kalimantan Timur
Study of Water Quality and The Potential Beneficial of Pit Lake JVoid at
PT Kaltim Prima Coal, East Kalimantan
Edy Jamal Tuheteru1,3*, Ginting Jalu Kusuma1, Kris Pranoto2, Yosef Palingi2, Rudy Sayoga Gautama1
1Program Studi Rekayasa Pertambangan, Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan,
Insitut Teknologi Bandung, Jl. Ganesa No.10, Bandung 40132, Indonesia
2Departemen Lingkungan, PT. Kaltim Prima Coal, Sangatta, Kalimantan Timur 75561, Indonesia 3Program Studi Teknik Pertambangan, Fakultas Teknologi Kebumian dan Energi, Universitas Trisakti,
Jalan Kyai Tapa No.1, Tomang, Grogol Petamburan, Jakarta 11440, Indonesia
*E-mail untuk korespondensi (corresponding author): [email protected]
ABSTRAK - Kegiatan penambangan batubara dengan multi pit, akan meninggalkan beberapa lubang bekas
tambang sesuai dengan perencanaan yang telah dilakukan. PT. Kaltim Prima Coal yang merupakan salah satu perusahaan pertambangan batubara yang ada di Indonesia, telah memiliki beberapa danau bekas tambang. Penelitian ini dilakukan untuk memperoleh gambaran kualitas air berdasarkan stratifikasi kedalaman dan potensi pemanfataan danau bekas tambang. Lokasi penelitian dilakukan di JVoid yang merupakan bekas penambangan pit Jupiter. Pengukuran kualitas air menggunakan alat multiparameter HORIBA dengan kedalaman maksimum 30 meter. Berdasarkan hasil pengukuran diperoleh kualitas air di pit lake J Void menunjukkan bahwa nilai pH berkisar antara 6,8 hingga 7,5, ORP berkisar antara 190 – 230 mV, Conductivity berkisar 2,40 – 2,45 mS/cm, Turbiditas berkisar 1 hingga 5 NTU, DO berkisar antara 6 – 13 mg/L, TDS berkisar antara 1,5 mg/L dan salinitas berkisar antara 1,2 hingga 1,3 ppt. Berdasarkan gambaran kualitas air yang telah terbentuk, diperoleh kualitas air untuk nilai pH telah memenuhi baku mutu lingkungan. Potensi pemanfaatan JVoid dapat digunakan untuk sumber air, pariwisata, budidaya perairan, penimbunan material overburden dan tempat hidupnya margasatwa.
Kata Kunci: Danau bekas tambang, kualitas air, potensi pemanfaatan
ABSTRACT - The Coal mining activities with multi pits will leave several mines void following the mine plan. PT.
Kaltim Prima Coal, one of Indonesia's coal mining companies, has several pit lakes. This research aims to obtain an overview of water quality based on depth stratification and the potential beneficial of pit lakes. The research location at JVoid, which is a former Jupiter mining pit. Measurement of water quality using the HORIBA multiparameter tool with a maximum depth of 30 meters. Results Based on the measurements, the water quality in the J Void pit lake showed that the pH values ranged from 6.8 to 7.5, ORP ranged from 190 – 230 mV, Conductivity ranged from 2.40 – 2.45 mS/cm, Turbidity ranged from 1 to 5 NTU, DO ranged from 6 – 13 mg/L, TDS ranged from 1, 5 mg/L and salinity range from 1,2 to 1,3 ppt. Based on the description of water quality, the water quality obtained for pH quality has met environmental quality standards. The potential beneficiation of JVoid can use for water resources, tourism, aquaculture, waste material storage, and wildlife habitation.
Keywords: Pit Lake, Potential beneficial, Water Quality.
PENDAHULUAN
Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki cadangan batubara yang cukup besar. Berdasarkan data dari Kementerian Energi Sumberdaya Mineral, pada tahun 2019 tercatat sumberdaya batubara sebesar 149,01 miliar Ton dengan cadangan batubara mencapai 37,7 miliar ton (Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara, 2019). Laju produksi batubara nasional mencapai 557 juta ton pada tahun 2018 (DEN, 2019). Operasi penambangan batubara di Indonesia didominasi dengan
53 metode penambangan terbuka yang lebih banyak berada di wilayah Kalimantan dan Sumatera. Dalam metode tambang terbuka, untuk mendapatkan batubara maka kegiatan penggalian dan penimbunan dilakukan dalam skala yang besar yang akhirnya akan membentuk danau bekas tambang, karena tidak dilakukan penimbunan kembali. Selain itu, banyaknya perusahaan tambang yang akan berakhir aktivitasnya kegiatan penambangan, makan akan berpotensi meninggalkan danau bekas tambang cukup banyak, terutama di wilayah Provinsi Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur.
Lubang bekas penambangan dapat dijadikan sebagai danau bekas tambang atau disebut dengan istilah pit lake (Castendyk, 2011). Danau bekas tambang terbentuk akibat pit bekas penambangan diisi dengan air yang berasal dari air tanah, air permukaan maupun air hujan (Blanchette & Lund, 2016). Potensi pemanfaatan kolam bekas tambang sebagai sumber air, tempat wisata/rekreasi, tempat kehidupan satwa liar dan sebagai tempat timbunan (McCullough et al., 2020). Sebagai sumber air, sejalan dengan program Kementerian Desa, PDT, dan Transmigrasi (Kemendes) yang pada tahun 2017 mulai mencanangkan pembangunan 30.000 embung di berbagai daerah. Embung bermanfaat sebagai penampung air dan menjadi sumber air bagi daerah sekitar. Lebih lanjut, embung dapat dimanfaatkan sebagai daerah wisata, sarana olahraga, irigasi yang berdampak pada pengingkatan ekonomi daerah setempat (Kemendes, 2018 dalam (Wilopo et al., 2020)).
Air asam tambang (AAT) adalah salah satu isu lingkungan utama yang sering dijumpai di pertambangan baik batubara maupun mineral. AAT merupakan air pada kegiatan penambangan atau penggalian yang bersifat asam atau memiliki keasaman yang tinggi (Gautama, 2014). AAT terbentuk karena adanya material besi sulfida batuan penutup baik di timbunan maupun pit penambangan aktif yang teroksidasi oleh oksigen saat tersingkap dan terlindi oleh air (Kefeni et al., 2017). Kondisi air yang asam mengakibatkan pula terlarutnya logam-logam tertentu sehingga konsentrasinya berpotensi di atas baku mutu yang telah ditetapkan. Kualitas air pada akhir penambangan sudah harus diprediksi, agar dapat dilakukan strategi pengelolaan dan pengolahan. Aspek yang menjadi perhatian dalam prediksi potensi terbentuknya air asam tambang adalah Kondisi Hidrologi dan Geokimia batuan (Kusuma et al., 2020).
Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk melakukan karakteriasi terhadap kualitas air danau bekas tambang dan potensi pemanfaatannya. Dengan adanya karakteriasi ini, dapat menjadi masukan bagi pemangku kepentingan untuk terus melakukan upaya monitoring dan pengelolaan kualitas air. Dengan demikian kualitas air yang ada pada danau bekas tambang dan yang keluar ke perairan umum telah sesuai dengan baku mutu lingkungan yang diisyaratkan oleh pemerintah.
METODOLOGI Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di PT. Kaltim Prima Coal, yang terletak di daerah Sangatta, Kutai Timur, Kalimantan Timur. KPC mengelola area konsesi pertambangan dengan luas mencapai 90.938 hektar, lebih kurang 30% dari luas area tersebut telah dibuka dan ditambang. KPC mampu mencapai kapasitas produksi batubara mencapai lebih dari 60,5 juta ton per tahun. Di PT. KPC terdapat dua wilayah penambangan utama yakni wilayah penambangan Bengalon dan wilayah penambangan Sangatta. Penelitian ini dilakukan di wilayah penambangan Sangatta, yang difokuskan pada danau bekas penambangan yang telah terbentuk yakni JVoid bekas penambangan pit Jupiter.
Pengukuran Kualitas Air
Pit J Void memiliki kedalaman maksiumum 152 meter, hal ini dtunjukan dengan pengukuran batimetri di lapangan seperti yang terlihat pada gambar 5.2. Pengukuran kualitas air dilakukan pada enam titik
54
yang tersebar di Pit J Void, yakni Titik A, B, D, E, H dan I, kedalaman dari setiap titik bervariasi seperti terlihat pada gambar 5.3. Pengukuran kualitas air dilakukan pada bulan Maret 2018.
Peralatan yang digunakan pada kegiatan pengambilan sampel dan pengukuran kualitas air di lapangan diantaranya adalah perahu sebagai alat transportasi di perairan danau bekas tambang, multiparameter pH dengan maksimum kedalaman 30 meter yang menggunakan merek HORIBA dan dapat dilakukan pengukuran dengan jarak kedalaman tertentu, Eco Sounder Portable digunakan untuk mengukur kedalam titik yang telah dipasang di permukaan danau dan GPS yang digunakan untuk menentukan koordinat titik pengukuran. Kualitas air yang diperoleh dari hasil pengukuran menggunakan multiparameter HORIBA adalah Temperatur, pH, ORP, Conductivity, Turbiditas, DO dan TDS.
Gambar 1. Batimetri JVoid.
55
HASIL DAN PEMBAHASAN Parameter Kualitas Air
Pengukuran kualitas air di J Void untuk memperoleh sifat kimia dari kualitas air yang ada di J void, diantaranya adalah pH, ORP, Conductivity, Turbiditas, DO, TDS dan Salinity. Berikut adalah uraian dari hasil yang telah diperoleh dari pengukuran kualitas air tersebut.
• pH
pH menunjukan tingkat keasaman dan juga tingkat kebasahan yang dikandung oleh air. Hasil pengukuran menunjukkan bahwa nilai pH pada JVoid berkisar antara 6,8 hingga 7,5, nilai pH juga menunjukan perubahan mulai dari permukaan sampai pada kedalaman sekitar 10 meter dengan perubahan sekitar 0,5 (Gambar 3). Berdasarkan sebaran nilai pH menunjukkan bahwa nilai pH pada titik A terendah dibandingkan dengan titik yang lainnya. Sebaran nilai pH yang tinggi terdapat pada lokasi titik I. Secara keseluruhan Nilai pH pada JVoid ini menunjukkan bahwa kualitas air berdasarkan nilai pH telah memenuhi kriteria baku mutu lingkungan. Persyaratan nilai pH yang memenuhi baku mutu lingkungan adalah 6 – 9 (Menteri Lingkungan Hidup, 2003).
Gambar 3. Nilai Temperatur dan pH • Oxidation-Reduction Potential (ORP)
Nilai ORP digunakan untuk mengetahui jumlah organisme di dalam air. Nilai ORP menjadi salah satu parameter pada standar baku mutu kesehatan lingkungan untuk kolam renang. Berdasarkan hasil pengukuran seperti yang terlihat pada Gambar 4x menunjukkan bahwa nilai ORP berada pada kisaran 193 hingga 230 mV. Nilai ORP terendah terdapat pada titik A, D dan H dan tertinggi terdapat pada titik B, I dan E. Nilai ORP pada JVoid menunjukkan bahwa air ini bisa dijadikan sebagai tempat renang, karena berada dibawah nilai standar minimum yang disyaratkan yakni 720 mV (Kementerian Kesehatan, 2017).
• Conductivity
Nilai conductivity pada air sangat dipengaruhi oleh temperature, semakin besar nilai temperature maka nilai conductivity juga akan meningkat (Karakas et al., 2003). Pada Gambar 4y menunjukkan bahwa hasil pengukuran di JVoid, diperoleh nilai conductivity berkisar antara 2,42 hingga 2,45 mS/cm. Nilai conductivity tidak tidak dimasukan dalam standar air minum baik yang dikeluarkan oleh pemerintah Indonesia maupun oleh WHO.
4,0 5,0 6,0 7,0 8,0 9,0 10,0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 pH A B D E H I Min Max
56
Gambar 4. Hasil Pengukuran: x. ORP dan y. Conductivity • Turbidity
Hasil pengukuran diperoleh nilai turbidity berkisar antara 1 NTU hingga 5 NTU. Nilai Turbidity mengalami fluktuasi atau perubahan yang tidak stabil. Nilai Turbidity rendah ada pada titik B, H dan A, sementara yang tertinggi adalah titik I dan E. Tingginya nilai turbidity pada titik I ini terjadi akibat adanya pemompaan dari pit terdekat dengan kandungan lumpur yang tinggi, untuk titik E terjadi akibat masih ada proses penimbunan sehingga menimbulkan kekeruhan di sekitar titik tersebut. Secara keseluruhan terjadi kekeruhan yang tinggi pada zona setelah 15 meter (Gambar 5x). Semakin kedalam menunjukan adanya peningkatan nilai Turbidity yang terjadi diakibatkan oleh berkurang cahaya dan adanya peningkatan sedimantasi. Berdasarkan standar baku mutu untuk air minum yang mensyaratkan nilai kekeruhan dengan batas maksimum 5 NTU (Kementerian Kesehatan, 2010). Dengan demikian nilai turbidity mendekati dan bahkan sebagian besar berada di bawah nilai baku mutu yang disyaratkan.
• Dissolved Oxygen (DO)
Nilai DO merupakan salah satu parameter penting dalam air, yang menunjukan konsentrasi oksigen yang terkandung di dalam air. DO dengan nilai yang tinggi menunjukkan kualitas yang semakin bagus. Semakin bagus nilai DO yang dimiliki maka biota air akan dapat hidup dengan baik di air tersebut. Berdasarkan hasil pengukuran nilai DO pada danau bekas tambang JVoid menunjukkan adanya kecenderungan yang sama dengan nilai turbidty, yakni mengalami perubahan pada berbagai kedalaman, namun secara umum nilai DO tinggi pada kedalaman di atas 5 meter dan kemudian dan selanjutnya menunjukkan penurunan. Nilai DO berkisar antara 6,5 hingga 11,5 mg/L (Gambar 5y).
Gambar 5. Hasil Pengukuran: x. Turbidity dan y. DO • Total Dissolved Solid (TDS)
TDS menunjukan jumlah padatan logam yang terlarut pada air, semakin rendah nilai TDS maka kualitas akan baik. Standar nilai TDS yang bisa dijadikan sebagai air minum berdasarkan yang dikeluarkan oleh WHO dan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia tidak lebih besar dari 500 mg/L (Kementerian Kesehatan, 2010). Hasil pengukuran nilai TDS pada JVoid menunjukkan nilai TDS disemua titik pengukuran berada pada nilai yang sama yakni sekitar 1,56 g/L atau 1600 mg/L (Gambar 6x). Nilai TDS
150 175 200 225 250 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 O R P (m V) A B D E H I 0 1 2 3 4 5 6 7 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 Tu rb id it y (N TU ) A B D E H I x 2,00 2,25 2,50 2,75 3,00 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 Co n d u ct iv it y (m S/ cm ) A B D E H I 4 6 8 10 12 14 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 D O ( m g/ L) A B D E H I y x y
57 tersebut berada di atas ambang batas yang disyaratkan, sehingga jika akan digunakan sebagi sumber air minum, perlu dilakukan pengolahan terlebih dahulu. Tingginya nilai TDS pada JVoid diakibatkan oleh adanya aktifitas penimbunan dan juga pemompaan air yang dari pit sekitarnya.
• Salinitas
Salinitias menunjukkan tingkat kandungan garam di dalam air. semakin tinggi nilai salinitas akan berpengaruh terhadap biota yang hidup pada wilayah perairan (Kroll et al., 2002). Berdasarkan hasil pengukuran di JVoid, nilai salinitas yang diperoleh berkisar antara 1,2 hingga 1,3 ppt (Gambar 6y). Berdasarkan nilai salinitas yang diperoleh menunjukkan hasil yang rendah.
Gambar 6. Hasil Pengukuran: x. TDS dan y. Salinitas
Potensi Pemanfaatan
Pemanfaatan danau bekas tambang terus didorong untuk memperoleh manfaat yang berkelanjutan. Manfaat yang dapat diperoleh memberikan kontribusi ekonomi, sosial, peningkatan kesejahteraan maupun estetika lingkungan (Hinwood et al., 2012). Pemanfaatan danau bekas tambang disesuaikan dengan desain dan rencana pascatambang yang telah disusun dan disepakati oleh berbagai pihak. Danau bekas tambang yang ditinggalkan telah memenuhi kondisi lingkungan yang aman, baik dan stabil (Soni et al., 2014). Danau bekas tambang JVoid dapat dimanfaatkan sebagai sumberdaya baru, dengan memperhatikan beberapa aspek yakni kualitas air, kegiatan reklamasi dalam bentuk revegetasi serta geometri & geokimia batuan.
Aspek kualitas air berpengaruh terhadap potensi pemanfaatan danau sebagai sumber air, pariwisata aktif dan budidaya perairan. Sebagai sumber air, baik untuk kebutuhan rumah tangga maupun sebagai air minum. Danau bekas tambang JVoid berada dekat dengan kota Sangatta, sehingga potensi pemanfaatan air sebagai kebutuhan rumah tangga bisa dapat dilakukan. Pemanfaatan sebagai air minum dapat juga dilakukan, namun perlu dilakukan pengolahan terlebih dahulu, agar dapat memenuhi standar baku mutu air minum. Air yang ada juga bisa digunakan untuk kebutuhan internal PT. KPC yakni untuk kebutuhan di perkantoran dan wilayah operasi lainnya seperti penyiraman jalan dan crushing plant. Tempat pariwisata aktif yakni dengan melakukan olahraga air dan sarana permainan lainnya yang langsung dilakukan di dalam danau. Potensi sebagai budidaya perairan dengan melakukan budidaya ikan dan biota perairan lainnya. Saat ini di danau bekas tambang yang telah dijadikan sebagai tempat wisata dan juga sebagai budidaya perairan adalah Telaga Batu Arang (TBA) (Tuheteru et al., 2018).
Berdasarkan aspek reklamasi dengan revegetasi, maka potensi pemanfaatan yang dapat dilakukan adalah untuk tempat hidup margasatwa, budidaya hewan dan pariwisata pasif. Lahan revegetasi dapat menjadi tempat yang baik untuk perkembangbiakan margasatwa. Salah satu yang menjadi hewan endemic di wilayah Kalimantan adalah orang utan, sehingga lokasi reklamasi dapat menjadi tempat hidupnya orang utan. Potensi lainnya yang dapat dilakukan dan ada potensi pendapatan secara
1 1,2 1,4 1,6 1,8 2 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 TD S ( g/ L) A B D E H I x 1 1,2 1,4 1,6 1,8 2 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 Sa lin it y (p p t) A B D E H I y
58
ekonomi adalah budidaya hewan ternak, seperti penangkaran rusa, kerbau, sapi maupun ayam. Pariwisata pasif yang dapat dilakukan adalah dengan membangun sarana prasarana wisata yang di tepian danau, seperti jalur sepeda/jalan/lari dan fasilitas penunjang lainnya.
Dilihat dari aspek geometri dan geokimia batuan, maka potensi pemanfaatan JVoid dapat digunakan sebagai lokasi penimbunan material overburden dari pit sekitar. Geometri danau bekas tambang terkait dengan ukuran maksimum yang dapat ditinggalkan sebagai danau bekas tambang sesuai dengan aturan yang berlaku. Ukuran danau bekas tambang yang luas, dapat dikecilkan dengan menimbun batuan overburden dari pit aktif sekitarnya (Villain et al., 2013). Aspek lainnya adalah distribusi geokimia batuan, jika batuan yang ada pada dinding pit didominasi oleh batuan yang berpotensi membentuk air asam tambang (Potential Acid Drainage/PAF), maka potensi terbentuknya air asam akan lebih besar. Salah satu cara untuk meminimalkan potensi terjadinya air asam tambang dengan cara menimbun material tidak berpotensi membentuk air asam tambang (Non Acid Forming/NAF) pada dinding pit yang banyak batuan PAF (Gautama & Rahma, 2016) (Schultze et al., 2010).
KESIMPULAN
Hasil pengukuran Kualitas air danau bekas tambang JVoid menunjukkan bahwa nilai pH telah memenuhi standar baku mutu air pada penambangan batubara. Potensi pemanfaatan air danau bekas tambang JVoid dapat dijadikan sebagai tempat wisata, habitat bagi margasatwa, sebagai sumber air dan juga sebagai tempat penimbunan batuan overburden dari pit sekitarnya. Pengelolaan dan pemantauan terus dilakukan dalam rangka untuk memastikan bahwa kualitas air yang ada di danau bekas tambang dan yang akan keluar telah memiliki kualitas yang sesuai dengan aturan atau kebijakan yang berlaku dan juga memastikan bahwa danau bekas tambang JVoid aman bagi masyarakat sekitar.
Daftar Pustaka
Blanchette, M. L., & Lund, M. A. (2016). Pit lakes are a global legacy of mining: An integrated approach to achieving sustainable ecosystems and value for communities. Current Opinion in Environmental Sustainability, 23, 28–34. https://doi.org/10.1016/j.cosust.2016.11.012
Castendyk, D. N. (2011). Lessons Learned from Pit Lake Planning and Development. In Mine Pit Lake: Closure and Management (pp. 15–28). Australian Centre for Geomechanics.
DEN. (2019). Outlook Energi Indonesia. Sekretariat Jenderal, Dewan Energi Nasional.
Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara. (2019). Overview Kegiatan Pengelolaan Pertambangan Mineral dan Batubara 2019 (p. 60). Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral.
Gautama, R. S. (2014). Pembentukan, Pengendalian dan Pengelolaan Air Asam Tambang. Penerbit ITB.
Gautama, R. S., & Rahma, F. (2016). Perencanaan Lubang Bekas Tambang berdasarkan Prediksi Pembentukan Air Asam Tambang. Prosiding Seminar Air Asam Tambang di Indonesia 2012 & 2014.
Hinwood, A. L., Heyworth, J., Tanner, H., & McCullough, C. (2012). Recreational Use of Acidic Pit Lakes—Human Health Considerations for Post Closure Planning. Journal of Water Resource and Protection, 04(12), 1061–1070. https://doi.org/10.4236/jwarp.2012.412122
Karakas, G., Brookland, I., & Boehrer, B. (2003). Physical characteristics of Acidic Mining Lake 111. Aquatic Sciences - Research Across Boundaries, 65(3), 297–307. https://doi.org/10.1007/s00027-003-0651-z Kefeni, K. K., Msagati, T. A. M., & Mamba, B. B. (2017). Acid mine drainage: Prevention, treatment options, and
resource recovery: A review. Journal of Cleaner Production, 151, 475–493. https://doi.org/10.1016/j.jclepro.2017.03.082
Kementerian Kesehatan. (2010). Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 492/Menkes/PER/IV/2010 tentang Persyaratan Kualitas Air Minum. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
59
Kementerian Kesehatan. (2017). Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 32 Tahun 2017 tentang Standar Baku Mutu Kesehatan Lingkungan dan Persyaratan Kesehatan Air untuk Keperluan Higiene Sanitasi, Kolam Renang, Solus Per Aqua, dan Pemandian Umum. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Kroll, A., Amézaga, J. M., Younger, P. L., & Wolkersdorfer, C. (2002). Regulation of Mine Waters in the European Union: The Contribution of Scientific Research to Policy Development. Mine Water and the Environment, 21(4), 193–200. https://doi.org/10.1007/s102300200043
Kusuma, G. J., Pranoto, K., Tuheteru, E. J., Manege, I., & Gautama, R. S. (2020). PREDIKSI PEMBENTUKAN DAN KUALITAS AIR PIT LAKE: BERDASARKAN KONDISI HIDROLGI DAN GEOKIMIA BATUAN. Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI, 1(1), 761–770. https://doi.org/10.36986/ptptp.v1i1.118
McCullough, C., Schultze, M., & Vandenberg, J. (2020). Realizing Beneficial End Uses from Abandoned Pit Lakes. Minerals, 10(2), 133. https://doi.org/10.3390/min10020133
Menteri Lingkungan Hidup. (2003). Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 113 Tahun 2003 tentang Baku Mutu Air Limbah bagi Usaha dan atau Kegiatan Pertambangan Batubara. Kementerian Lingkungan Hidup.
Schultze, M., Pokrandt, K.-H., & Hille, W. (2010). Pit lakes of the Central German lignite mining district: Creation, morphometry and water quality aspects. Limnologica, 40(2), 148–155. https://doi.org/10.1016/j.limno.2009.11.006
Soni, A. K., Mishra, B., & Singh, S. (2014). PIT LAKES AS AN END USE OF MINING: A REVIEW. Journal of Mining, 5(2), 14.
Tuheteru, E. J., Gautma, R. S., Kusuma, G. J., & Pranoto, K. (2018). Pit Lake sebagai Alternatif Pascatambang (Hasil Review Pustaka). TPT XXVII dan KONGRES X PERHAPI 2018, 19–34.
Villain, L., Alakangas, L., & Öhlander, B. (2013). The effects of backfilling and sealing the waste rock on water quality at the Kimheden open-pit mine, northern Sweden. Journal of Geochemical Exploration, 134, 99– 110. https://doi.org/10.1016/j.gexplo.2013.08.003
Wilopo, W., Setiawan, H., & Eka Putra, D. P. (2020). Evaluation of Artificial Reservoir Management in Sleman Regency, Yogyakarta Special Region. Jurnal Presipitasi : Media Komunikasi dan Pengembangan Teknik Lingkungan, 17(3), 205–214. https://doi.org/10.14710/presipitasi.v17i3.205-214