DIREKTUR TRANSPORTASI, BAPPENAS
JAKARTA, 17 SEPTEMBER 2014
a. Rasio elektrifikasi mencapai 100%
(81,4% pada tahun 2014) b. Akses air minum layak
mencapai 100%
(68.5% pada tahun 2014) c. Sanitasi layak mencapai 100%
(60.5% pada tahun 2014) d. Akses perumahan layak
mencapai 100%
Kerangka Pikir Kebijakan Pembangunan
Bidang Infrastruktur RPJMN 2015-2019
SASARAN RPJMN 2015-2019 ISU STRATEGIS PENINGKATAN KETERSEDIAAN INFRASTRUKTUR PELAYANAN DASAR PENINGKATAN KETAHANAN AIR, PANGAN DAN ENERGI PENGUATAN KONEKTIVITASNASIONAL
Slide - 2
Gambaran Umum
saat ini
1. Kondisi jalan khusunya jalan daerah kurang memadai
2. Pembangunan Kereta api masih terbatas.
3. Kurang berimbangnya komposisi moda dalam bidang transportasi 4. Kinerja yang kurang kompetitif dari sektor Pelabuhan
5. Jaringan Transportasi Udara yang melebihi kapasitas
6. Rendahnya Rasio Elektriikasi – Krisis Energi
7. Kurangnya infrastruktur sumber daya air – Krisis Pangan dan Managemen Bencana
8. Kapasitas cadangan air masih terbatas– Krisis Air
KERANGKA PELAKSANAAN
Kerangka Pendanaan: APBN dan Non-APBN
Kerangka Regulasi
Kerangka Kelembagaan
KEBIJAKAN & STRATEGI
• Peningkatan bauran energi (diversifikasi
energi), konservasi energi dan iklim investasi
infrastruktur energi dan ketenagalistrikan • Peningkatan peran pemerintah daerah dalam
penyediaan rumah baru layak huni dan meningkatkan kualitas hunian MBR • Penyelenggaraan sinergi air minum dan
sanitasi di tingkat nasional, kabupaten/kota, dan masyarakat
• Optimalisasi neraca air domestik
• Peningkatan layanan jaringan irigasi/rawa • Peningkatan cakupan pemenuhan dan kualitas
layanan air baku
• Pengendalian daya rusak air • Peningkatan kapasitas kelembagaan,
ketatalaksanaan, dan keterpaduan dalam pengelolaan sumber daya air
• Pembangunan Transportasi Multimoda dan transportasi yang mendukung Sislognas. • Membangun transportasi yang berorientasi
lokal dan kewilayahan.
• Membangun transportasi yang terintegrasi dengan investasi untuk mendukung Koridor Ekonomi, Kawasan Industri Khusus, Industri, dan pusat-pusat pertumbuhan.
• Mendorong pembangunan fixed/wireline
broadband infrastruktur broadband di
daerah perbatasan negara.
• Mempercepat implementasi e-government dengan mengutamakan prinsip keamanan, interoperabilitas dan cost effective. • Mengembangkan Transportasi Massal
Perkotaan
e. Kondisi mantap jalan mencapai 100%
(94 % pada tahun 2014) f. Biaya logistik menurun
menjadi 20% terhadap PDB (27% pada tahun 2014) g. Pangsa Pasar Angkutan
Umum menjadi 32% (23% pada tahun 2014) h. Fixed broadband populasi
30% (kota) dan 6% (desa) dan mobile broadband 100% populasi
i
i. Areal irigasi yang dilayani waduk menjadi 20% (11% pada tahun 2014)i. j. Kapasitasi air baku menjadi
109,5 m3/detik PENGEMBANGAN SISTEM
TRANSPORTASI MASSAL PERKOTAAN
PENINGKATAN EFEKTIVITAS, SERTA EFISIENSI PEMBIAYAAN
DALAM PENYEDIAAN INFRASTRUKTUR
Arahan RPJPN
(untuk RPJMN III
Pemenuhan Infrastruktur dasar: • Rasio Elektrifikasi 100% • Akses Air kepada sumberair bersih 100 %
• Permukiman kumuh 0% Dimulainya pemanfaatan tenaga nuklir dan pembangkit listrik
PENDAHULUAN
• Mencapai pendapatan per kapita setara dengan negara middle income pada tahun 2025
• Tingkat pengangguran di bawah 5%
• Jumlah rakyat miskin di bawah 5% penduduk
• Meningkatkan Human Development Index (HDI) serta Gender Development Index (GDI) negara
2010 PDB: USD 700 Miliar Pendapatan/kapita USD 3,000 2025 PDB: USD 4.0 – 4.5 Triilliun Pendapatan/kapita USD 14,250 – 15,500 2045 PDB: USD 15.0 – 17.5 Trilliun Pendapatan/Kapita USD 44,500 – 49,000
Sasaran
RPJPN
PDB Per Kapita – Negara
Pembanding
Sumber: IMF Data, 2012; in US Dollars
Malaysia USD 16,794
Thailand USD 9.503
Philippines USD 4,410
Vietnam USD 3,788
China USD 9.300
Untuk mencapai status
negara Middle Income
Indonesia pada 2025
memerlukan
pendapatan per kapita
sebesar USD 14,000
• Beberapa arahan dalam bidang infrastruktur yang perlu diperhatikan
adalah:
• Pemenuhan kebutuhan layanan dasar:
• Pasokan tenaga listrik yang handal dan efisien pencapaian rasio elektrifikasi rumah tangga dan elektrifikasi perdesaan sebesar 100%.
• Terpenuhinya penyediaan air minum dan sanitasi untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat 100% akses kepada sumber-sumber air bersih
• Pemenuhan kebutuhan hunian yang dilengkapi dengan prasarana dan sarana pendukung, didukung oleh sistem pembiayaan perumahan jangka panjang dan berkelanjutan, efisien, dan akuntabel kota tanpa permukiman kumuh.
• Dimulainya pemanfaatan tenaga nuklir untuk pembangkit listrik.
• Pemenuhan kebutuhan dasar ini harus dilakukan seiring dengan upaya
untuk meningkatkan daya saing ekonomi nasional melalui pembangunan
infrastruktur
Slide - 4
Arah RPJMN III dalam RPJPN
Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia
$2.000,00 $4.000,00 $6.000,00 $8.000,00 $10.000,00 $12.000,00 $14.000,00 $16.000,00 10% 11% 12%Proyeksi Pertumbuhan PDB per Kapita
Sumber: BPS Data, 2012, Proyeksi Bappenas
2012: USD 3,563
Indonesia memerlukan pertumbuhan nominal 12% untuk mencapai pendapatan per kapita 14,000 pada tahun 2025
-15,00% -10,00% -5,00% 0,00% 5,00% 10,00% (15,00) (10,00) (5,00) 5,00 10,00
Pertumbuhan Ekonomi Indonesia dibandingkan investasi dalam Infrastruktur (1997 – 2013)
Growth
Total Infrastructure Investment Share of GDP, %
Investasi dalam infrastruktur mempunyai dampak langsung terhadap pertumbuhan ekonomi negara.
Peningkatan investasi dapat meningkatkan pertumbuhan PDB ke tingkat 12% yang diperlukan untuk
mencapai status Middle Income Country.
The Global Competitiveness Index World Economic Forum 2013-2014
Sumber: World Economic Forum 2013-2014
“
Selama beberapa tahun
belakangan ini GCI WEF
melabelkan infrastrukur
sebagai salah satu faktor
yang menentukan bisnis dan
investasi dalam rangka
peningkatan daya saing global
Indonesia
“
Tahun 2013
Indonesi a
Malaysia Thailand Vietnam Philippines
Infrastrukt ur 82 25 61 110 98 Jalan 78 23 42 102 87 Kereta Api 44 18 72 58 89 Pelabuhan 89 24 56 98 116 Angkutan Udara 68 20 34 92 113 Listrik 89 37 58 95 93 Telepon Selular 62 27 49 21 81 Telepon Tetap 82 79 96 88 109
Daya Saing Infrastruktur
-1
Daya Saing Infrastruktur
-2
Kinerja yang buruk dari sektor Pelabuhan
• Kendala utama dari sektor pelabuhan adalah rendahnya waktu bongkar-muat selama 8 hari di pelabuhan Tanjung Priok. Waktu bongkar-muat ini lebih lama dibandingkan dengan pelabuhan di Thailand yaitu selama 5 hari dan di Singapura selama 1.2 hari.
Kondisi jalan yang buruk mengakibatkan berkurangnya kecepatan
• Kualitas jalan yang rendah, terutama di daerah
• Kondisi jalan menjadi berbahaya ditambah dengan tingkat kemacetan yang tinggi
• Menyebabkan jarak tempuh di
Indonesia menjadi 2.6 jam untuk jarak 100 km.
Waktu Tempuh (jam/100km)
Jaringan Transportasi Udara yang melebihi kapasitas
• Semenjak diberlakukannya deregulasi pada tahun 2004, perkembangan transportasi udara meningkat menjadi double digit setiap tahunnya, sementara perkembangan bandara yang lambat tidak dapat mengejar laju permintaan.
Lambatnya pembaharuan dan
pembangunan pada sektor kereta api
• Pertumbuhan di sektor kereta api hanya 7.7% dari total 4,800 km adalah jalur ganda, dimana kereta penumpang dan barang menggunakan jalur yang sama
• Efisiensi waktu pada jaringan sektor tersebut sangat rendah.
Kurang berimbangnya komposisi moda dalam bidang transportasi
• Tingginya pengguna kendaraan pribadi menjadi sumber kemacetan di kota-kota besar.
• Menurut survey, Jakarta didominasi dengan kendaraan pribadi sebanyak 62.2%, yang berarti sekitar 10 juta komuter melakukan perjalanan setiap harinya. 35 45 55 65 75 85 95 1998 2000 2002 2004 2006 2008 2010 2012 2014 P A S S E N G E R S ( M il li on P as se n ge rs P er A n n u m ) Year
Top 10 Airports of Passengers in the World
1st:ATLANTAGA 2nd:BEIJING 3rd:LONDON 4th:CHICAGOIL 5th:TOKYO,JP 6th:LOSANGELESCA 7th:PARIS 8th:DALLAS/FORTWORTHTX 9th:JAKARTA 10th:DUBAI Jakarta 7,700 % 13,400 % 18,00 % 28,400 % 38,800 % 41,100 % Indonesia Thailand Malaysia India China Japan
Rasio Double Tracking Jalur KA (%)
Pangsa Moda (%) 2,3 14 25 62,2 46 11 12,9 20 63 22,6 19 0 0% 50% 100% Jakarta Taipei Hong Kong
Rail Private Transport Non-Rail Public Transport Others
1,1 2 3 3 4 4 5 8 0 5 10 Singapore Hong Kong France Australia, NZ UK, Los Angeles (USA) Malaysia (Port Klang) Thailand Tanjung Priok
Waktu Tunggu / Dwelling Time (hari)
25,1 20,4 18,1 16,3 11,4 10,1 9,9 0 10 20 30 Indonesia Thailand China Korea Jepang Eropa USA Biaya Logistik (persen terhadap PDB)
ARAH KEBIJAKAN DAN
SASARAN
KEBIJAKAN DAN STRATEGI PEMBANGUNAN
Penguatan Konektivitas Nasional untuk Mencapai Keseimbangan
Pembangunan
STRATEGI
TRANSPORTASI
1
2
4
3
1
2
4
3
STRATEGI
TELEKOMUNIKASI DAN INFORMASI
Pengembangan Sistem Transportasi Yang Saling Terintegrasi Antar Moda dengan Pembangunan Terminal Terpadu Untuk Pelayanan Perpindahan Penumpang dan Barang Secara Cepat dan Nyaman.
Pembangunan Prasarana Transportasi Terutama Angkutan Laut Untuk Mendukung dan Berorientasi Kepada Fasilitasi Kebutuhan Distribusi Logistik Nasional.
Pembangunan Prasarana Transportasi di Daerah Terluar Terdalam dan Perbatasan Dengan Pembangunan Bandara dan Pelabuhan Serta Mengoptimal Subsidi Angkutan Perintis Untuk Daerah Tersebut.
Pembangunan dan Peningkatan Prasarana Transportasi Yang Mendukung Pengembangan Industri dan Pariwisata Nasional Sesuai dengan RIPIN dan KSPN.
Penataan ulang alokasi frekuensi dan mengeksplorasi pembangunan satelit
nasional untuk pertahanan keamanan, penginderaan jauh, pemulihan
bencana dsb. Transformasi USO .
Melalui melakukan moratorium pembangunan pusat data pemerintah dan mewajibkan penggunaan alamat surel go.id untuk komunikasi aparatur pemerintah.
• >100% • 70 %,
• Pengembangan dan Pembangunan Bandara Baru dalam Coverage area (Jangkauan Pelayanan) untuk mengatasi kepadatan arus penumpang.
• Sistem Intra dan Suprastruktur Bandara termasuk IT dan Control System Bandara.
Outcome KPI
Kondisi Sekarang Target Sesuai Middle Income Country*
Input KPI Indikator Transportasi Ferry • Kapasitas Bandara Kota Besar • Waktu Pelayanan
• Penambahan armada dalam negeri untuk mengangkut barang dalam negeri untuk ekspor dan impor
• Peremajaan kapal –kapal tua dengan scrapping/ pembangunan kapal baru di galangan kapal indonesia. • Pembangunan 2 pelabuhan Hub internasional pada sisi
barat (ALKI 1) dan sisi Timur (Alki 3) : Pel Kuala Tanjung dan Pelabuhan Bitung.
• Peningkatan sistem informasi kepelabuhanan • Penambahan jumlah 76 rute perintis
Transportasi Udara • Terkoneksinya lintas penyeberangan di Kep. Nusantara • Terpenuhinya frekuensi pelayanan lintas penyeberangan utama 100 % • 65% • 35% • 95% • 85%
• Pengembangan pelabuhan yang mengubungkan Sabuk Utara, Tengah dan Selatan dan lintas antara sabuk sabuk tersebut
• Peningkatan kualitas dan penambahan jumlah armada kapal penyeberangan
• Penyediaan subsidi operasi penyeberangan perintis yang terintegrasi dengan moda lainnya
Transportasi Laut • Jumlah Armada Nasional (pengangkut) • Berkurangnya kapal berumur >25 thn • Pelabuhan Trans Shipment Internasional • Dwelling Time Pealbuhan Utama • 10% • 70 %, • - • 6-7 hari • 95 % • 95%, • 20% • 50% • 2 Pel • 3-4 hari Logistik • Menurunnya biaya logistik (terhadap PDB) • Menurunnya waktu pelayanan sebesar 9%
• Terkoneksinya multi moda transportasi. • Bekurangnya biaya logistik sebesar 5%
• Waktu Pelayanan prima berbasis IT (Information Technology)
• 20% • 9%
Sasaran
-1
• 27%
Jalan • Kondisi mantap
Jalan Nasional (%) Jalan Propinsi (%) Jalan Kabupaten /Kota • Waktu rata-rata (no./100 km) • 94% • 54% • 45% • 100% • 75% • 60%
• Pembenahan jalan nasional (4%) serta jalan daerah (21%)
• Pelebaran (47%) jalan nasional
• Meningkatkan jumlah jalan nasional (5,200 km,) dan jalan daerah (214,000 km)
• 2.6 jam • 1,5 jam
Sasaran
-2
Outcome KPI
Kondisi Sekarang Target sesuai Middle Income Country*
Input KPI
Indikator
Perkeretaapian • Jumlah pangsa
pasar barang (%) • 2 % < 75 % > 25% • 6 % • > 80 % • < 25%
Penambahan fasilitas perkeretaapian • Jalur kereta api (1.660 km) • Jalur kereta perkotaan (760 km) • Gerbong lokomotif (1,720 units) • Gerbong kereta (12,220 units) • Gerbong barang (9,625 units) • Gerbong kereta kota (2,631 units)
Negara Pembanding: Thailand (sema indikator)
Telekomunikasi dan Informatika
• Fixed Broadband • Mobile Broadband • Tingkat TIK literacy • Sistem e-government
• Fixed broadband rumah tangga perkotaan 71% (20Mbps) dan 30% populasi , perdesaan 49% (10 Gbps) dan 6% populasi
• Mobile broadband perkotaan 100% (1Mbps), perdesaan 52% (1 Mbps) • Tingkat e-literacy mencapai 75%
• Index e-government mencapai 3,4 (skala 4.0)
*)tidak semua pembanding tersedia
• Ketepatan keberangkatan /kedatangan KA • Menurunnya rasio kecelakaan KA 11
Dukungan Sektor Industri dalam
Pembangunan Infrastruktur
12Industri
Infrastruktur
Rekayasa
Konstruksi
Beton Pra
Cetak
Beton
Prategang
Sarana
Transportasi
Pesawat
Kereta Api
Kapal
Material
Baja
Semen
Aspal
Jasa
Konstruktsi
Untuk menjawab tantangan pembangunan
infrastruktur yang berdaya saing tinggi dan
untuk mengurangi
bottleneck
yang terjadi
saat ini, diperlukan percepatan pembangunan
dengan dukungan dari sektor industri
terutama industri sarana transportasi,
industri material, industri, komponen
konstruksi, industri jasa konstruksi.
Dukungan Industri dalam negeri diharapkan
dapat mendukung dalam pelaksanaan
proyek-proyek yang menjadi proyek
strategis. Daya saing Industri dalam
negeri perlu ditingkatkan agar dapat
mengimbangi perusahaan asing yang akan
masuk pada saat pasar tunggal ASEAN 2015
berlaku.
KEBUTUHAN PENDANAAN
Penjelasan Pelaksanaan Jumlah Investasi (trilliun rupiah) Pendanaan
Skenario Penuh
(100%)
Skenario Parsial
(75%)
Skenario Dasar
(50%)
Mencapai standar internasional pada tahun 20206,541
Mencapai 75% standarInternasional pada tahun 2020 dan 100% standar pada tahun 2025
4,781
• Pagu hutang yang kini (22.5%) • Penerapan pendanaan off-balance sheet • KPS 20% Dimungkinkan melalui penerapan strategi implementasi yang terkoordinasi dan komitmen yang kuat
3,561
Melalui penerapan strategi implementasi yang tepat
Mencapai 50% standar
Internasional pada tahun 2020 dan 100% standar pada tahun 2030
Mungkin melalui
• Rasio hutang yang ditetapkan (16.9%) • Penerapan pendanaan
off-balance sheet • KPS 15%
Skenario Pendanaan
Dalam Triliun Rupiah• Pagu hutang dinaikkan hingga 31% (saat ini 22.5%)
• Penerapan pendanaan off-balance sheet
• KPS di atas 20%
Pelaksanaannya memerlukan komitmen ekstra dan
kepemimpinan yang kuat dan didukung reformasi (birokrasi) yang menyeluruh
Keperluan Investasi Infrastruktur RPJMN 2015-2019 (trilliun rupiah)
Sektor Skenario Penuh
(100%) Skenario Parsial (75%) Skenario Dasar (50%) Jalan Raya 1,274 851 637 Perkeretaapian 278 222 140 Transportasi Perkotaan 155 115 75 Transportasi Laut 563 424 282
Ferry dan ASDP 91 80 60
Transportasi Udara 182 165 100
Ketenagalistrikan 1,080 762 714
Energi dan Gas 535 420 268
Sumber Daya Air 1,091 845 645
Cipta Karya (Air Bersih dan Limbah) 666 450 330
Cipta Karya (Perumahan Rakyat) 384 247 180
Teknologi Komunikasi dan Informatika 242 200 130
Jumlah Keperluan Investasi 6,541 4,781 3,561
Keperluan Investasi Infrastruktur
RPJMN 2015-2019
APBN + APBD
Selisih
Pendanaan
(Financing Gap)
BUMN – 6%
KPS – 20%
Off Balance
Sheet – 2%
sekitar Rp. 350T
sekitar Rp. 1,090T
sekitar Rp. 2,741T
1. Angka menunjukkan nilai investasi murni (CAPEX) dan rehabilitasi besar, belum
termasuk biaya operasi dan pemeliharaan rutin
2. Angka masih bersifat sementara
Skema
Pembiayaan
Alternatif
Sumber Pembiayaan Infrastruktur
RPJMN 2015-2019
Sasaran
Investasi
Infrastruktur
(Infrastuktur
Strategis Rp.
5,452 Trilliun)
Kesenjangan
Pendanaan -
50%
sekitar Rp. 93T
}
APBN + APBD
– 22%
sekitar Rp. 1,178T
PENUTUP
PENUTUP
1. Krisis Infrastruktur
Indonesia saat ini akan memasuki pembangunan jangka menengah ketiga (2015-2019)
sehingga diperlukan percepatan pembangunan infrastruktur untuk memenuhi target
pembangunan jangka panjang tahun 2025 diantaranya mencapai kualitas middle income
country.
2.
Indikasi Kebutuhan Pendanaan dan Peluang Sektor Industri
Untuk mengatasi krisis infrastruktur dibutuhkan dana yang mencapai 5.452 T yang
bersumber dari APBN, APBD, BUMN, KPS, dan Creative Financing.
3. Dukungan Industri
•
Percepatan pembangunan infrastruktur tersebut membutuhkan dukungan lintas
sektor termasuk sektor industri seperti Industri manufaktur sarana, industri material
(semen, aspal, baja) industri jasa konstruksi, dan industri komponen kontruksi
(termasuk industri beton pracetak dan prategang).
•
Besarnya potensi proyek –proyek infrastruktur tersebut perlu dimanfaatkan oleh
sektor industri dalam negeri melalui peningkatan daya saing (baik aspek finansial,
teknis, maupun kapasitas SDM). Bahkan sektor industri dalam negeri berpeluang
untuk berkiprah di pasar ASEAN dan pasar global. Sebaliknya, jika industri dalam
negeri belum siap maka perusahaan asing yang justru memanfaatkan peluang
TERIMA KASIH
LAMPIRAN I
PROYEK STRATEGIS
• Dalam rangka menunjang Wilayah Pusat Pertumbuhan Industri (WPPI) di Pulau Sumatera, saat ini infrastruktur jalan sudah terhubungkan, sementara pembangunan Jalur KA yang mendukung WPPI Lhoksemawe dan Dumai akan dibangun pada RPJMN 2015-2019. Untuk menunjang distribusi pertanian bagian selatan Sumatera, akan dibangun Jalur Kereta Api Rejosari – Bakauheni dan Simpang – Tanjung Apiapi.
Seluruh Wilayah Pusat Pertumbuhan Industri (WPPI) di Pulau Jawa, sudah terhubungkan dengan Jalur Ganda KA Lintas Utara Jawa dan Jalan Pantura. Sementara itu, untuk wilayah pertanian yang mendominasi bagian selatan Jawa akan didukung dengan pembangunan jalan lintas selatan dan jalur ganda KA pada RPJMN 2015-2019.
Untuk mendukung sistem logistik di Wilayah Pusat Pertumbuhan Industri (WPPI) di Pulau Kalimantan, akan dibangun Pelabuhan Maloy untuk bagian timur dan Pelabuhan Pantai Kijing (sedang dibahas dengan Kementerian Perhubungan dan PT Pelindo II). Sementera itu, untuk mendukung konektivitas WPPI bagian selatan akan dibangun Jalur KA Tanjung – Martapura- Banjarmasin.
Dalam rangka mendukung WPPI bagian Utara Sulawesi, sedang dibangun Pengembangan Pelabuhan Bitung dan Jalan Tol Manado- Bitung sedangkan unuk mendukung WPPI dan kawasan pertanian bagian Selatan Sulawesi akan dibangun Jalur KA Makassar – Parepare. Untuk menunjang WPPI di Sulawesi Tenggara akan dibangun jalan akses perbatasan Sulsel-Sultra. Sementara itu, mempertimbangkan industri aspal Buton yang kini sedang berkembang, diusulkan kawasan WPPI baru di Buton yang sudah ditunjang dengan infrastruktur yang baik
Untuk mendukung pariwisata di Pulau Bali, akan dibangun Bandara Bali Utara sedangkan untuk wilayah nusa tenggara akan dikembangkan beberapa pelabuhan yang menunjang wilayah kepulauan terdalam dan perbatasan.
Dalam rangka pengembangan Wilayah Pusat Pertumbuhan Industri (WPPI) wilayah Maluku Utara akan diselesaikan Jalan Lintas Halmahera sedangkan untuk menunjang Maluku sebagai wilayah kepulauan akan dikembangkan akses laut berupa pengembangan pelabuhan dan pengadaan kapal perintis.
Dalam rangka menunjang pertumbuhan di Wilayah Papua pada RPJMN 2015-2019, akan diselesaikan pembangunan Jalan Trans Papua. Disamping itu, untuk menunjang pemerataan pembangunan di wilayah pegunungan tengah. Disamping itu, untuk menunjang distribusi logistik di Papua akan dikembangkan Pelabuhan Timika.
LAMPIRAN II
PROGRAM AKSI UNGGULAN
PROGRAM AKSI:
PENGEMBANGAN TRANSPORTASI MULTIMODA
Target :
1. Pembangunan Jalan akses (tol) dan
Jalur Kereta Api akses Pelabuhan
Tanjung Priok, Tanjung Emas dan
Tanjung Perak.
2. Pembangunan jalan akses (tol) dan
Kereta Api Bandara di Kualanamu,
Soekarno Hatta.
PROGRAM AKSI:
PROGRAM AKSI:
SISTEM LOGISTIK NASIONAL
30
Membangun Pelabuhan Hub
Internasional
Kuala Tanjung untuk Kawasan Barat
Indonesia dan untuk Kawasan Timur
Indonesia di Bitung.
Pengembangan Perkeretaapian Nasional:
1. Menyelesaikan Kereta Api Selatan Pulau
Jawa
2. Membangun Jalur KA Pulau Sumatera
(Aceh, Riau, dan Lampung)
3. Membangun KA Kalimantan dan Sulawesi.
Pengembangan short sea
shipping untuk mengurangi beban
angkutan jalan di sisi utara Pulau
Jawa
Pembangunan Jalur Kereta Api
•
Sumatera
1.308 km
•
Jawa
2.224 km
•
Sulawesi
213 km
•
Kalimantan 93 km
Total Kebutuhan pendanaan 177 Triliun
Pembangunan Pelabuhan Berskala Internasional
• Pelabuhan Kuala Tanjung (selesai 2017)
• Pelabuhan Bitung (selesai
2017)
• Pelabuhan Maloy (selesai
2018)
• Pelabuhan Pontianak Baru (selesai