• Tidak ada hasil yang ditemukan

Setelah mendengar dan memperhatikan secara seksama :

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Setelah mendengar dan memperhatikan secara seksama :"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

HASIL PERTEMUAN BERKALA

KEGIATAN JARINGAN DOKUMENTASI DAN INFORMASI HUKUM WILAYAH INDONESIA BAGIAN BARAT

DI SEMARANG PROVINSI JAWA TENGAH Semarang, 3 s.d. 5 Juli 2012

Pertemuan Berkala Jaringan Dokumentasi dan Informasi Hukum Wilayah Indonesia Bagian Barat ini merupakan petemuan yang ke XXI, diselenggarakan oleh Badan Pembinaan Hukum Nasional Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia bekerjasama dengan Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Tengah dan Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Jawa Tengah. Diselenggarakan atas dasar ketentuan Peraturan Presiden Nomor 33 Tahun 2012 jo Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia RI Nomor: PHN-129-HN.02.01 Tahun 2012, dengan mengambil tema “Dengan Peraturan Presiden Nomor 33 Tahun 2012 tentang Jaringan Dokumentasi dan Informasi Hukum Nasional kita tingkatkan peran JDIHN untuk mewujudkan ketatapemerintahan yang baik, bersih, dan bebas dari korupsi”.

Pertemuan diikuti sekitar 400 (empat ratus) orang peserta, perwakilan dari Biro Hukum: Kementerian, Lembaga Pemerintah Non Kementerian, dan Pemerintah Provinsi; perwakilan dari Bagian Hukum dan/atau perundang-undangan Pemerintah Kabupaten/Kota; Sekretariat DPRD, Fakultas Hukum Perguruan Tinggi Negeri/swasta wilayah Indonesia Bagian Barat dan beberapa pejabat struktural/fungsional dari Badan Pembinaan Hukum Nasional. Semuanya merupakan perwakilan dari Anggota Jaringan Dokumentasi dan Informasi Hukum Nasional yang bertanggung jawab menyediakan akses informasi hukum di instansi masing-masing. Semua peserta dengan sungguh-sungguh dan penuh perhatian telah mengikuti sidang-sidang pleno dan kelompok yang diselenggarakan mulai tanggal 3 s.d. 5 Juli 2012 di Patra Convention Hotel Candi Baru Semarang.

Setelah mendengar dan memperhatikan secara seksama :

1. Laporan Ketua Penyelenggara Pertemuan Berkala Anggota Jaringan Dokumentasi dan Informasi Hukum Nasional Ke XXI

2. Sambutan Gubernur Provinsi Jawa Tengah

(2)

4. Pokok-pokok pikiran dalam kertas kerja/makalah yang disampaikan dalam Sidang Pleno Pertemuan Berkala tahunan ini dengan masing-masing judul:

4.1. Kebijakan Badan Pembinaan Hukum Nasional dalam Pembinaan dan Pengembangan JDI-Hukum Nasional.

Oleh : DR. Wicipto Setiadi, S.H., M.H. (Ka. BPHN)

4.2. Implikasi berlakunya Peraturan Presiden Nomor 33 Tahun 2012 tentang Jaringan Dokumentasi dan Informasi terhadap kedudukan dan peran pemerintah Provinsi dalam pengembangan JDIHN.

Oleh : Muzanih, SH (Ka. Bagian Dokumentasi Hukum Kementerian Dalam Negeri.

4.3. Perencanaan Program Pengembangan JDIHN Pasca Peraturan Presiden Nonor 33 Tahun 2012 tentang Jaringan Dokumentasi dan Informasi Hukum Nasional

Oleh : DR. Diani Sadiawati, S.H., L.L.M. (Direktur Hukum dan HAM Badan Perencanaan Pembangunan Nasional

4.4. Pengelolaan Jaringan Dokumentasi dan Informasi Hukum Nasional di Perpustakaan Hukum Universitas Tujuh Belas Agustus Semarang-. Oleh : Wijaya, S.H., M.H (Rektor UNTAG Semarang)

4.5 Reorientasi Pengembangan JDIHN Pasca Peraturan Presiden Nomor 33 Tahun 2012 tentang Jaringan Dokumentasi dan Informasi Hukum Nasional.

Oleh : Suradji, S.H., M.Hum (Ka. Pusdokjarinkumnas-BPHN)

4.6 Peran Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM sebagai Pusat Pelayanan Hukum Terpadu (Law Center)

Oleh : DR. Agus Anwar, S.H, M.H. (Kadiv Yankum Kanwil KEMENHUKHAM Jawa Tengah)

4.7 Pemanfaatan JDIH berbasis Teknologi Informasi di Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi

Oleh : Sunarno, S.H., M.H. (Ka. Biro Hukum Kemenakertrans)

4.8 Pengelolaan Jaringan Dokumenasi dan Informasi Hukum Nasional di Provinsi Jawa Tengah sebegai Anggota JDIH Daerah.

Oleh: Drs. Hadi Prabowo, M.M

4.9 Pengelolaan Jaringan Dokumentasi dan Informasi Hukum Nasional di Kabupaten Purworejo sebagai Anggota JDIH Daerah.

(3)

5. Tanggapan Umum Peserta Dalam Sidang-sidang Pleno.

Pertemuan Berkala Jaringan Dokumentasi dan Informasi Hukum Nasional Ke XXI yang mengambil tema “peningkatkan peran JDIHN untuk mewujudkan ketatapemerintahan yang baik, bersih, dan bebas dari korupsi”. Menarik kesimpulan sebagai berikut:

I. UMUM

1. Era globalisasi yang dipicu oleh pekembangan teknologi informasi dan komunikasi, telah mendorong banyak negara mengakui keterbukaan informasi publik sebagai salah satu syarat untuk mewujudkan ketatapemerintahan yang baik (good governance), transparan, akuntabel, bersih, dan bebas dari korupsi; Mengakui keterbukaan Informasi publik sebagai instrumen penting mengoptimalkan pengawasan publik terhadap penyelenggara negara dan badan publik lainnya. Negara Republik Indonesia termasuk salah satu di antaranya yang dinyatakan dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik (UU KIP). Dalam konsep Keterbukaan informasi publik, semua warga negara berhak untuk mengetahui apa yang telah dan akan dilakukan oleh pemerintahnya dalam upaya mencapai tujuan negara dan pemerintah berkewajiban memberikan dan menyediakan informasi tentang apa yang telah dan akan dilakukan untuk mencapai tujuan negara tersebut.

Secara konstitusional, keterbukaan informasi publik adalah aktualisasi dari hak asasi publik “memperoleh informasi” (Pasal 28F UUD 1945) untuk mengetahui apa yang telah dan akan dilakukan oleh pemerintah. Untuk menjamin pemenuhan hak memperoleh informasi tersebut, melalui UU KIP, semua badan publik diwajibkan menyediakan dan memberikan informasi publik yang ada dalam kewenangannya kepada warga masyarakat.

2. Pada awalnya (Era Orde Baru) tujuan dari pembentukan Jaringan Dokumentasi dan Informasi Hukum difokuskan untuk mendukung pembangunan hukum nasional, dalam Era Reformasi tujuannya dikembangkan untuk mendukung pencegahan dan pemberantasan korupsi. Hal ini terlihat jelas dalam Agenda Rencana Aksi Pencegahan dan Pemberantasan Korupsi tahun 2011, yang dituangkan dalam Instruksi Presiden Nomor Nomor 9 Tahun 2011. Salah satu Rencana Aksinya adalah

(4)

Revitalisasi Sistem Jaringan Dokumentasi dan Informasi Hukum Nasional (Keppres Nomor 91 tahun 1999). Peraturan Presiden Nomor 33 Tahun 2012 tentang Jaringan Dokumentasi dan Informasi Hukum Nasional (JDI-Hukum Nasional) adalah hasil agenda rencana aksi tersebut. Dengan demikian, peranan dari Hukum Nasional semakin strategis dan penting. JDI-Hukum Nasional yang efektip dapat meningkatkan kuantitas/ kualitas hasil pembangunan hukum nasional dan meningkatkan layanan informasi hukum yang berkualitas bagi masyarakat sebagai perwujudan dari ketatapemerintahan yang baik, transparan, akuntabel, bersih dan bebas dari korupsi.

3. Untuk mewujudkan ketatapemerintahan yang baik, transparan, akuntabel, bersih dan bebas dari korupsi, tersedianya akes informasi hukum merupakan syarat utama. Karena, tanpa akses informasi hukum, keterbukan informasi (transparansi), akuntablitas dan pemenuhan hak publik atas informasi hanyalah mimpi atau angan-angan. Sementara ketertutupan informasi merupakan lahan yang subur untuk pertumbuhan korupsi. Selain itu, tanpa akses informasi hukum, pembangunan hukum juga tidak mungkin diselenggarakan dengan baik.

4. Secara konstitusional, menyediakan akses informasi hukum adalah tugas dan tanggung jawab dari pemerintah (dalam UU KIP disebut Badan Publik), yang secara operasional dilakukan oleh unit kerja Perpustakaan/Dokumentasi Hukum Anggota JDI-Hukum Nasional. Sejak tahun 1974 telah diketahui bahwa unit kerja perpustakaan/dokumentasi hukum di instansi pemerintah dan instansi lainnya masih lemah, belum mampu menyediakan akses informasi. Kemudian pada tahun 1999 pemerintah mengeluarkan kebijakan nasional pengelolaan dokumen dan informasi hukum yang dituangkan dalam Keppres No. 91 Tahun 1999 tentang JDI-Hukum Nasional. Setelah 12 (dua belas) tahun digunakan sebagai landasan kerja ternyata akses informasi hukum belum juga tersedia dengan baik. Revitalisasi JDI-Hukum Nasional yang dituangkan dalam Perpres No. 33 Tahun 2012 diharapkan dapat mendorong mempercepat tersedianya akses informasi hukum. Karena Perpres tersebut telah mempertegas apa yang harus dilakukan oleh Pusat dan Anggota JDI-Hukum Nasional agar mampu menyediakan akses informasi hukum yang terpadu dan terintegrasi di instansi masing-masing.

(5)

5. Program aplikasi teknologi informasi dan komunikasi yang berkembang dengan pesat seperti komputasi dan internet, memberikan berbagai kemudahan bagi pengelolaan informasi hukum. Teknologi komputasi telah mampu mempercepat semua proses bisnis pengelolaan informasi dalam bentuk digital yang bisa disalurkan melalui saluran komunikasi. Internet sebagai saluran informasi telah mampu mempersingkat waktu dan memendekkan jarak. Kemudahan tersebut mau tidak mau harus dimanfaatkan dalam pengelolaan informasi hukum. Pengelolaan informasi konvensional yang dilakukan secara hastawi (menggunakan tangan semata) tidak memadai lagi untuk memenuhi kebutuhan informasi dari masyarakat. Cara pengolahan informasi konvensional harus dipercepat dengan bantuan teknologi informasi dan komunikasi. Namun pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi ini seharusnya dilakukan secara profesional berdasarkan kaedah-kaedah pengelolaan informasi yang telah diakui dunia ilmu pengetahuan, yaitu didasarkan pada kaedah-kaedah ilmu perpustakaan dan informasi yang sudah mapan.

6. JDI-Hukum Nasional adalah wadah kerjasama pendayagunaan informasi hukum antar perpustakaan/dokumentasi hukum dalam rangka meningkatkan kualitas layanan informasi hukum. Melalui kerjasama berjaringan semua informasi yang ada dan tersebar diseluruh wilayah nusantara diharapkan dapat didayagunakan bersama oleh semua Anggota JDI-Hukum Nasional. Lazimnya jaringan perpusakaan/dokumentasi dibentuk berdasarkan kesepakatan antar pimpinan perpustakaan/dokumentasi. Dibentuk setelah semua perpustakaan/dokumentasi sudah menyedikan akses informasi ditempat masing-masing. Kerja sama ditujukan hanya untuk meningkatkan kualitas layanan informasi. Kerjasama berjaringan ini dibentuk di atas kesadaran bahwa tidak mungkin satu perpustakaan atau pusat dokumentasi mampu mengumpulkan semua dokumen yang tersebar di berbagai tempat. Di samping itu, apabila semua perpustakaan berusaha mengumpulkan semua dokumen maka akan terjadi duplikasi pekerjaan yang sangat tinggi, mengakibatkan terjadinya pemborosan tenaga, waktu dan uang.

Lain halnya dengan JDI-Hukum Nasional, yang dibentuk berdasarkan kebijakan pemerintah. Dibentuk pada saat perpustakaan /dokumentasi hukum Anggota Jaringan belum mampu menyediakan akses informasi.

(6)

Dalam hal ini, sudah barang tentu kompleksitas permasalahan masih sangat luas, masih mencakup perhatian dari para pimpinan, pemahaman konsep dasar pengelolaan informasi, penyusunan tugas pokok dan fungsi dokumentasi, penyediaan sumber daya dokumentasi dan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi dalam pengelolaan informasi hukum. 7. Pertemuan berkala tahunan ini diselenggarakan sebagai salah satu upaya

mempercepat tersedianya akses informasi hukum nasional yang efektip meningkatkan kuantitas dan kualitas pembangunan hukum nasional dan meningkatkan layanan informasi hukum yang berkualitas bagi masyarakat sebagai perwujudan dari ketatapemerintahan yang baik, transparan, akuntabel, bersih dan bebas dari korupsi.

Pasca Peraturan Presiden Nomor 33 tahun 2012 tentang JDI-Hukum Nasional, kompleksitas permasalahan yang ada perlu diatasi melalui komitmen bersama, koordinasi yang sinergis dan persepsi yang sama untuk mengembangkan unit kerja Perpusakaan/Dokumentasi hukum agar segera mampu menyediakan akses informasi hukum, baik secara konvensional maupun digital (elektronik). Rumusan kebijakan pengembangan dan pelayanan sistem Jaringan Dokumentasi dan Informasi Hukum Nasional ke depan perlu dipertajam, difokuskan untuk mengatasi permasalahan yang ada. II. KHUSUS

Berkenaan dengan upaya mempercepat tersedianya akses informasi hukum pasca Peraturan Presiden Nomor 33 Tahun 2012 untuk mendukung peningkatkan pembangunan hukum nasional dan layanan informasi hukum yang berkualitas bagi masyarakat sebagai perwujudan dari ketatapemerintahan yang baik, transparan, akuntabel, bersih dan bebas dari korupsi. Dalam makalah dan tanggapan peserta yang diajukan dalam sidang pleno dikatakan:

1. Peran Jaringan Dokumentasi dan Informasi Hukum Nasional, seyogianya ditingkatkan untuk mendukung upaya pemerintah dalam memerangi tindak pidana korupsi yang secara nyata merugikan kepentingan rakyat, bangsa dan negara. Diaktualisaikan dengan cara menyediakan akses informasi hukum yang efektip melalui pengelolaan dokumen dan informasi hukum yang terpadu, terintegrasi, lengkap dan akurat.

2. Indonesia adalah negara hukum di mana hukum berlaku kepada semua warga negara tanpa terkecuali. Karenanya, penyebaran hukum kepada

(7)

masyarakat adalah kewajiban dari penyelenggara negara. Dalam hal ini JDI-Hukum Nasional adalah salah satu pilar penunjang pembangunan hukum dan layanan informasi hukum kepada publik. Dalam era keterbukaan informasi saat ini masyarakat berhak mengakses informasi, untuk itu semua dokumen dan informasi hukum seyogianya dapat diakses dengan mudah, cepat dan murah. Untuk mempercepat penyediaan akses informasi tersebut perkembangan teknologi informasi dan komunikasi perlu dimanfaatkan. 3. Pembinaan kerjasama JDI-Hukum telah berlangsung selama 30 (tiga puluh)

tahun lebih namun ternyata perkembangan berjalan dengan lamban. Hal ini terjadi karena: Kurang aktipnya koordinasi antar instansi terkait, sehingga potensi yang ada kurang dimanfaatkan sebagai kekuatan yang sinergis; Kurangnya sumber daya manusia di unit dokumentasi hukum Anggota JDI-Hukum; Kurangnya sosialisasi; Kurangnya perhatian dari berbagai kalangan terhadap kegiatan dokumentasi hukum; dan Kurangnya sarana prasarana. Secara umum dapat dikatakan bahwa perpustakaan/dokumentasi hukum belum ditempatkan dalam kedudukan yang sewajarnya.

4. Berdasarkan pengamatan selama 32 tahun bekerja sebagai pengelola JDI-Hukum Nasional, ungkapan berbagai kalangan yang mengatakan bahwa informasi hukum itu penting dalam praktek belum diaktualisasikan, sehingga orang yang ditempatkan di perpustakaan/dokumentasi merasa dirinya telah dipinggirkan, dibuang atau tidak diperlukan lagi; perpustakaan/dokumentasi dianggap sebagai tempat yang tidak menjanjikan; dan penyediaan anggaran untuk dokumentasi hukum masih rendah.

5. Dalam era globalisasi dan keterbukaan informasi, kualitas JDI-Hukum Nasional harus ditingkatkan dengan merubah polapikir dan budaya kerja. Menambah dan meningkatkan kemampuan dan ketrampilan para pengelola melalui penguasaan analisis informasi dan TIK agar mampu memanfaatkan perkembangan TIK dalam pengelolaan informasi berbasis database ofline (Local Area Network, CD) dan database online (Website) secara profesional dan dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah.

6. Dari berbagai makalah yang diajukan dan perkembangan dalam diskusi dapat diketahui bahwa perpustakaan/dokumentasi hukum selama ini belum ditempat dalam kedudukan yang sewajarnya jika dibandingkan dengan pentingnya akses informasi hukum dalam mewujudkan supremasi hukum.

(8)

Perhatian dari berbagai pihak yang bertanggung jawab menyediakan informasi hukum masih kurang.

Selain itu, dapat diketahui bahwa pemahaman tentang konsep dasar pengelolaan dokumen dan informasi hukum masih sangat lemah. Hal ini mengakibatkan pengelolaan dokumen dan informasi hukum hanya dilihat secara partial, tidak menyeluruh dalam suatu sistem pengelolaan dokumen dan informasi hukum. JDI-Hukum Nasional adalah wadah kerjasama antar unit perpustakaan/dokumentasi hukum Anggota JDI-Hukum Nasional. Artinya, kekuatan dari JDI-Hukum Nasional terletak pada kemampuan unit dokumentasi hukum mengorganisasikan informasi dalam suatu sistem temu kembali informasi (retrieval information) yang dapat diakses dengan mudah, cepat dan akurat.

Biro Hukum dan Bagian hukum ditetapkan sebagai Anggota JDI-Hukum Nasional dengan maksud agar Biro Hukum dan Bagian hukum membentuk unit kerja Perpustakaan atau Dokumentasi Hukum kemudian membina dan mengembangkannya agar mampu menyediakan akses informasi hukum yang efektip untuk melayani instansi induk dan melayani publik.

III. REKOMENDASI

Dalam upaya mempercepat tersedianya akses informasi hukum yang efektip melalui JDI-Hukum Nasional untuk meningkatkan kuantitas/kualitas hasil pembangunan hukum nasional dan meningkatkan kualitas layanan informasi hukum bagi masyarakat sebagai perwujudan dari ketatapemerintahan yang baik, transparan, akuntabel, bersih dan bebas dari korupsi, Pertemuan Berkala ini merekomendasikan:

1. Peraturan Presiden Nomor 33 Tahun 2012 tentang Jaringan Dokumentasi dan Informasi Hukum Nasional mendapat perhatian serius dari semua pihak yang terkait dan melaksanakannya dengan baik;

2. Pimpinan dan staf unit kerja perpustakaan/dokumentasi hukum terus meningkatkan pengetahuannya mengenai konsep dasar pengelolaan dokumen dan informasi; Meningkatkan pemahaman mengenai tugas pokok dan fungsi dokumentasi hukum dengan mengikuti pendidikan dan latihan, mengikuti sosialisasi dan forum diskusi;

(9)

3. Pusat dan Anggota JDI-Hukum Nasional membentuk dan meningkatkan kemampuan organisasi unit dokumentasi dengan melakukan: peningkatan eselon; menyusun struktur organisasi berdasarkan pembagian fungsi dokumentasi. Membagi habis pekerjaan dalam job deskription dan menyediakan SOP (standar operasional prosedur) untuk setiap kegiatan; 4. Pusat dan Anggota JDI-Hukum Nasional melengkapi kompetensi sumber

daya manusia dokumentasi hukum dengan penguasaan teknologi informasi dan komunikasi. Melakukan rekruitmen pegawai sesuai dengan kompetensi yang dibutuhkan. Meningkatkan kemampuan intelektual dan ketrampilan pegawai yang sudah ada melalui pendidikan/pelatihan bimbingan teknis dan magang. Meningkatkan wawasan pegawai dengan mengikutsertakan dalam forum-forum diskusi, seminar dan sejenisnya.

5. Pusat dan Anggota JDI-Hukum Nasional meningkatkan kemampuan koleksi melalui pengumpulan dan pengadaan dokumen hukum secara sistematis terutama produk dari instansi induk yang selengkap-lengkapnya; mengupayakan agar pengadaan koleksi dapat dilakukan setiap saat.

6. Pusat dan Anggota JDI-Hukum Nasional menggunakan pedoman teknis yang dikeluarkan oleh Pusat JDI-Hukum Nasional. Melengkapi pedoman tersebut, sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya pemanfaatan teknologi informasi; merevisi atau menyesuaikan pedoman teknis yang sudah ada dengan perkembangan yang ada sekaligus mempermudah penggunaannya dalam praktek;

7. Pusat dan Anggota JDI-Hukum Nasional meningkatkan ketersediaan sarana dan parasarana untuk mendukung penyelengaraan fungsi-fungsi dokumentasi dalam rangka menyediakan akses informasi dalam suatu sistem temu kembali di perpustakaan. Khususnya pengadaan komputer untuk melakukan otomasi berbasis database lokal dan berbasis website;

8. Pusat dan Anggota JDI-Hukum Nasional terus meningkatkan alokasi dana agar mampu mendukung penyediaan akses informasi berbasis data base lokal maupun berbasis website dan pemeliharaannya.

9. Pusat dan Anggota JDI-Hukum Nasional memanfaatkan teknologi informasi, untuk mempercepat akselerasi pengelolaan informasi dan memperluas jangkauan penyebaran informasi hukum. Dengan membangun database

(10)

pengelolaan informasi hukum terintegrasi yang dihubungkan dengan file data, abstrak, fulteks dan yang lainnya, baik berbasis Local Area Network (LAN) dan/atau berbasis website.

10. Pusat JDI-Hukum Nasional menyusun Rencana Strategis implementasi dengan menyiapkan rencana aksi strategi implementasi Peraturan Presiden Nomor 33 Tahun 2012 tentang JDI-Hukum Nasional.

Demikianlah hasil akhir yang dapat disampaikan dalam Pertemuan Berkala Tahunan ke XXI ini dalam upaya mempercepat penyediaan akses informasi hukum yang efektip bagi semua lapisan masyarakat untuk berbagai kepentingan. Akhirnya menjadi tugas kita bersamalah mewujudkan JDIHN yang baik secara berkelanjutan. Sekaligus meningkatkan peran JDI-Hukum Nasional sebagai wahana mempersatukan, menyadarkan, dan mencerdaskan kehidupan bangsa serta mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Semarang, 3 Juli 2012 Tim Perumus

Ketua, Sekretaris,

Theodrik Simorangkir, S.H., M.H. Ninuk Arifah, S.H.

Anggota:

1. Drs. Abdullah, S.H. ………

2. Omon, S.H., M.H. ………

3. Wakidi, S.H. ………

(11)

HASIL PERTEMUAN BERKALA

KEGIATAN JARINGAN DOKUMENTASI DAN INFORMASI HUKUM WILAYAH INDONESIA BAGIAN TIMUR

DI MANADO PROVINSI SULAWESI UTARA Manado, 18 s.d. 20 September 2012

Pertemuan Berkala Anggota Jaringan Dokumentasi dan Informasi Hukum Wilayah Timur diselenggarakan oleh Badan Pembinaan Hukum Nasional Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia bekerjasama dengan Pemerintah Daerah Provinsi Sulawesi Utara dan Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Sulawesi Utara. Diselenggarakan atas dasar ketentuan Peraturan Presiden Nomor 33 Tahun 2012 jo Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor PHN-187-HN.02.01 Tahun 2012, dengan mengambil tema: “Dengan Peraturan Presiden Nomor 33 Tahun 2012 Tentang Jaringan Dokumentasi dan Informasi Hukum Nasional Kita Tingkatkan Peran JDIHN Untuk Mewujudkan Ketatapemerintahan Yang Baik, Bersih, dan Bebas Dari Korupsi”.

Pertemuan diikuti oleh peserta perwakilan dari Biro Hukum , Lembaga Negara, Kementerian, Lembaga Pemerintah Non Kementerian, dan Pemerintah Provinsi; perwakilan dari Bagian Hukum dan/atau perundang-undangan Pemerintah Kabupaten/Kota; Sekretariat DPRD, Fakultas Hukum Perguruan Tinggi Negeri wilayah Indonesia Timur dan beberapa pejabat struktural/fungsional dari Badan Pembinaan Hukum Nasional. Seluruhnya merupakan perwakilan dari Anggota Jaringan Dokumentasi dan Informasi Hukum Nasional yang bertanggung jawab menyediakan akses informasi hukum di instansi masing-masing. Seluruh peserta dengan sungguh-sungguh dan penuh perhatian telah mengikuti sidang-sidang pleno dan kelompok yang diselenggarakan mulai tanggal 18 s.d. 20 September 2012 di Swiss-Bel Hotel Maleosan Manado.

Setelah mendengar dan memperhatikan secara seksama:

1. Laporan Ketua Penyelenggara Pertemuan Berkala Anggota Jaringan Dokumentasi dan Informasi Hukum Nasional .

2. Sambutan Gubernur Provinsi Sulawesi Utara.

3. Sambutan Kepala Badan Pembinaan Hukum Nasional.

4. Pokok-pokok pikiran dalam kertas kerja/makalah yang disampaikan dalam Sidang Pleno Pertemuan Berkala tahunan ini dengan masing-masing judul:

a. Kebijakan Badan Pembinaan Hukum Nasional Dalam Pembinaan dan Pengembangan Jaringan Dokumentasi dan Informasi Hukum Nasional

(12)

Oleh: DR. Wicipto Setiadi, S.H., M.H. (Kepala Badan Pembinaan Hukum Nasional).

b. Pengelolaan Jaringan Dokumentasi dan Informasi Hukum Nasional di Provinsi Sulawesi Utara Sebagai Anggota JDIH Daerah

Oleh: Ir. S.R. Mokodongan (Sekretaris Daerah Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara) disampaikan oleh Drs. M.M. Onibala, M.M. (Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Pemerintah Propinsi Sulawesi Utara).

c. Keterbukaan Informasi Pada Mahkamah Agung Melalui JDIH yang Didukung Sistem Teknologi Informasi

Oleh: Dr. Ridwan Mansyur, S.H., M.H. (Kepala Biro Hukum dan Humas Mahkamah Agung RI).

d. Perencanaan Program Pengembangan JDIHN Pasca Peraturan Presiden Nomor 33 Tahun 2012 Tentang Jaringan Dokumentasi dan Informasi Hukum Nasional

Oleh: Mardiharto Tjokrowasito, S.H., LL.M. (Kasubdit Pencegahan Korupsi dan Penegakan Hukum BAPPENAS).

e. Reorientasi Pengembangan JDIHN Pasca Peraturan Presiden Nomor 33 Tahun 2012 Tentang Jaringan Dokumentasi dan Informasi Hukum Nasional

Oleh: Suradji, S.H., M.Hum. (Kepala Pusat Dokumentasi dan Jarinagan Informasi Hukum Nasional Badan Pembinaan Hukum Nasional).

f. Peran Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Sebagai Pusat Pelayanan Hukum Terpadu (Law Center)

Oleh: Drs. Rosman Siregar, S.H.,M.H. (Kadiv. Yankum dan HAM Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Sulawesi Utara).

g. Implikasi Berlakunya Undang-undang Nomor 12 Tahun 2011 Tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan Terhadap Pengelolaan Jaringan Dokumentasi dan Informasi Hukum Dimasing-masing Instansi Pemerintah

Oleh: Muzanih, S.H.,M.H. (Kepala Bagian Dokumentasi Hukum Biro Hukum Kementerian Dalam Negeri).

h. Pengelolaan Jaringan Dokumentasi dan Informasi Hukum Nasional di Kota Banjarmasin Sebagai Anggota JDIH Daerah

(13)

Oleh: Drs. H. Zulfadli Gazali, M.Si. (Setda Kota Banjarmasin) disampaikan oleh H. Fathurrahim, S.H., M.H. (Staf Ahli Walikota Banjarmasin).

KESIMPULAN:

Pertemuan Berkala Anggota Jaringan Dokumentasi dan Informasi Hukum Nasional yang mengambil tema: “Dengan Peraturan Presiden Nomor 33 Tahun 2012 Tentang Jaringan Dokumentasi dan Informasi Hukum Nasional Kita Tingkatkan Peran JDIHN Untuk Mewujudkan Ketatapemerintahan Yang Baik, Bersih, dan Bebas Dari Korupsi”, menarik kesimpulan sebagai berikut:

1. Peran Jaringan Dokumentasi dan Informasi Hukum Nasional sangat besar dalam mendukung upaya pemerintah dalam memerangi tindak pidana korupsi yang secara nyata merugikan kepentingan rakyat, bangsa dan negara. Diaktualisasikan dengan cara menyediakan akses informasi hukum yang efektif melalui pengelolaan dokumen dan informasi hukum yang terpadu, terintegrasi, lengkap dan akurat.

2. Indonesia adalah negara hukum di mana hukum berlaku kepada semua warga negara tanpa terkecuali. Karenanya, penyebaran informasi hukum kepada masyarakat adalah kewajiban dari penyelenggara negara. Dalam hal ini JDIHN merupakan salah satu pilar penunjang pembangunan hukum dan sarana layanan informasi hukum kepada publik yang dapat diakses dengan mudah, cepat dan murah.

3. Pembinaan kerjasama JDIHN telah berlangsung selama 30 (tiga puluh) tahun lebih namun ternyata belum memperoleh hasil sebagaimana yang diharapkan. Hal ini terjadi karena: Kurang aktifnya koordinasi antar instansi terkait, sehingga potensi yang ada kurang dimanfaatkan sebagai kekuatan yang sinergis; Kurangnya sumber daya manusia di unit dokumentasi hukum Anggota JDIHN; Kurangnya sosialisasi; Kurangnya perhatian dari berbagai kalangan terhadap kegiatan dokumentasi hukum; dan Kurangnya sarana prasarana serta dana. Secara umum dapat dikatakan bahwa kegiatan dokumentasi dan informasi hukum belum ditempatkan dalam kedudukan yang sewajarnya.

4. Peraturan Presiden Nomor 33 Tahun 2012 Tentang Jaringan Dokumentasi dan Informasi Hukum Nasional, memberikan kepastian dan kemanfaatan JDIHN dan meletakan landasan yang kuat dalam penyelenggaraan ketatapemerintahan yang baik, transparan, efektif, efisien dan bertanggung jawab;

5. Pemakaian bersama suatu sumber daya koleksi dokumentasi hukum merupakan langkah perubahan dari sebelumnya berupa pemusatan informasi menuju sharing data yang terstandarisasi dalam pelayanan informasi hukum.

6. Pemberian pelayanan informasi hukum secara lengkap, akurat, mudah dan cepat merupakan prinsip dasar kualitas informasi hukum yang menjadi tuntutan yang harus dipenuhi baik oleh Pusat maupun Anggota JDIHN terkait dengan tuntutan Reformasi Birokrasi untuk memberikan pelayanan prima kepada masyarakat.

(14)

7. Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia sebagai instansi vertikal dibidang hukum bersama-sama dengan Pemerintah Daerah Provinsi membina dan mengembangkan JDIHN diwilayahnya, sebagai pusat layanan hukum (Law Center) di daerah yang mempunyai kewajiban untuk memberikan layanan dokumentasi dan informasi hukum.

8. Peran Anggota JDIHN sebagai organisasi berbasis pelayanan publik dibidang dokumentasi dan informasi hukum sesuai dengan capaian reformasi birokrasi, akan memperlancar kinerja aparatur pemerintah dalam melakukan kebijakan penyelenggaraan pemerintahan baik di pusat maupun di daerah dan pelayanan prima kepada masyarakat.

9. Perhatian pimpinan instansi terhadap penyelenggaraan JDIHN masih rendah dan dukungan sarana, prasarana dan dana belum memadai serta kurang aktifnya koordinasi antar instansi pengelola JDIHN dalam memanfaatkan potensi yang ada untuk menjadi kekuatan yang sinergis.

REKOMENDASI:

Dalam upaya mempercepat tersedianya akses informasi hukum yang efektif melalui JDIHN untuk meningkatkan kuantitas/kualitas hasil pembangunan hukum nasional dan meningkatkan kualitas layanan informasi hukum bagi masyarakat sebagai perwujudan dari ketatapemerintahan yang baik, transparan, akuntabel, bersih dan bebas dari korupsi, Pertemuan Berkala ini merekomendasikan:

1. Peraturan Presiden Nomor 33 Tahun 2012 Tentang Jaringan Dokumentasi dan Informasi Hukum Nasional diharapkan mendapat perhatian serius dari semua pihak yang terkait dengan menyusun rencana aksi strategi pelaksanaannya.

2. Pimpinan dan staf unit kerja JDIHN terus meningkatkan pengetahuannya mengenai konsep dasar JDIHN. Meningkatkan pemahaman mengenai tugas pokok dan fungsi JDIHN dengan mengikuti pendidikan dan latihan, sosialisasi dan forum diskusi.

3. Pusat dan Anggota JDIHN membentuk dan meningkatkan kemampuan organisasi unit kerja JDIHN dengan melakukan: menyusun struktur organisasi berdasarkan pembagian fungsi dokumentasi, membagi habis pekerjaan dalam job deskription dan menyediakan SOP (standar operasional prosedur) untuk setiap kegiatan. 4. Pusat dan Anggota JDIHN melengkapi kompetensi sumber daya manusia dengan

penguasaan teknologi informasi dan komunikasi. Melakukan rekruitmen pegawai sesuai dengan kompetensi yang dibutuhkan. Meningkatkan kemampuan intelektual dan ketrampilan pegawai yang sudah ada melalui pendidikan/pelatihan bimbingan teknis dan magang. Meningkatkan wawasan pegawai dengan mengikutsertakan dalam forum-forum diskusi, seminar dan sejenisnya.

5. Pusat dan Anggota JDIHN meningkatkan kemampuan koleksi melalui pengumpulan dan pengadaan dokumen hukum secara sistematis terutama produk

(15)

dari instansi induk yang selengkap-lengkapnya; mengupayakan agar pengadaan koleksi dapat dilakukan setiap saat.

6. Pusat dan Anggota JDIHN menggunakan pedoman teknis yang dikeluarkan oleh Pusat JDIHN. Dalam hal ini BPHN melengkapi pedoman tersebut, sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya pemanfaatan teknologi informasi dan dituangkan dalam Peratutan Menteri Hukum dan HAM RI sesuai Pasal 8 ayat 3 Peraturan Presiden Nomor 33 Tahun 2012.

7. Pusat dan Anggota JDIHN meningkatkan ketersediaan sarana dan prasarana serta alokasi dana untuk mendukung penyelenggaraan fungsi-fungsi dokumentasi dalam rangka menyediakan akses informasi hukum.

8. Perlu adanya penghargaan bagi setiap Anggota JDIHN yang telah melaksanakan kegiatan pengelolaan JDIH dengan baik dengan kriteria penilaian antara lain : a. Sudah memanfaatkan Teknologi Informasi dan Komunikasi dengan

membangun website sebagai sarana penyebarluasan peraturan perundang-undangan maupun bahan dokumen hukum lainnya dengan memasukkan data secara lengkap dan up to date ke dalam Website;

b. Sudah melaksanakan pembinaan ke 6 Aspek kepada Anggota JDIH di wilayahnya;

c. Secara berkala mengirim laporan kepada Pusat Jaringan Nasional;

d. Hasil penilaian ditetapkan dengan Keputusan Menteri Hukum dan HAM RI.

9. Pusat JDIHN agar segera mengadakan kembali Bimbingan Teknis bagi seluruh Anggota JDIHN;

10. Dalam era globalisasi dan keterbukaan informasi, kualitas JDIHN harus ditingkatkan dengan merubah pola pikir dan budaya kerja.

Demikian hasil akhir yang dapat disampaikan dalam Pertemuan Berkala. Akhirnya menjadi tugas kita bersama untuk mewujudkan JDIHN yang baik secara berkelanjutan sekaligus meningkatkan peran JDIHN sebagai wahana mempersatukan, menyadarkan, dan mencerdaskan kehidupan bangsa serta mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Manado, 20 September 2012 TIM PERUMUS

(16)

Ketua, Sekretaris,

Tana Mantirri, S.H., M.H. Indyah Respati, S.H.

Anggota:

1. Omon, S.H., M.H ... 2. Mugiyati, S.H., M.H. ... 3. Pularjono, S.Sos., M.Si. ...

Referensi

Dokumen terkait

Beberapa diataranya cukup baik untuk dipelajari misalnya, mineralisasi timah, logam langka dan logam dasar pada batuan granit di Sososrtolong dan Way Pubian, mineralisasi emas

Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan adanya efek antiplatelet pada madu dan propolis serta mengetahui perbandingan efektivitas antara aspirin dengan madu dan

Berdasarkan uraian diatas maka dalam penelitian ini akan mengembangkan alat bantu terapi untuk proses rehabilitasi bagi pasien pasca stroke, yang untuk terapi kaki

Jelaskan yang dimaksud dengan perkembangbiakan

Berilah tanda silang (x) pada huruf a, b,atau

[r]

Berdasarkan perhitungan menggunakan rumus tersebut, maka akan diperoleh urutan presentase nilai masing-masing atribut. Daftar kuisioner yang saling keterkaitan. Berikut deskripsi

Dari pengertian diatas dapat diambil kesimpulan bahwa piutang usaha adalah tagihan perusahaan kepada pihak lain yaitu badan usaha atau seseorang yang timbul akibat adanya