Kata kunci: pembaharuan, hukum kewarisan

13 

Teks penuh

(1)

Oleh: Sri Lum’atus Sa’adah ∗ Abstrak

Secara normatif, hukum kewarisan Islam hanya bisa dilakukan sesuai dengan ketentuan baku yang ada dalam al-Qur'an dan as-Sunnah. Namun pada kenyataannya, perkembangan sosial dan kebiasaan yang terjadi dalam masyarakat telah melaksanakan pembagian warisan di luar ketentuan baku. Hal inilah yang melahirkan gagasan pembaharuan dalam pembagian warisan. Sederetan hukum Islam hasil ijtihad para ulama yang tersebar dalam kitab-kitab fiqh beberapa abad yang lalu dalam beberapa hal dirasa sudah tidak dapat menjawab permasalahan umat Islam di era globalisasi ini. Oleh karena itu, pembaharuan dalam hukum Islam mutlak harus dilakukan.

Kata kunci: pembaharuan, hukum kewarisan A. Pendahuluan

Pada akhir abad ke-20 yang lalu, pembicaraan tentang pembaharuan banyak dibicarakan oleh para ahli hukum Islam, bahkan juga dilakukan oleh para ahli hukum non Islam. Hal ini disebabkan umat Islam di dunia ini di satu pihak memerlukan hukum Islam sebagai hukum agama, tetapi di sisi lain pakar hukum Islam melihat bahwa hukum Islam yang tersebut dalam kitab-kitab fiqh yang diformukasi oleh para mujtahid beberapa abad yang lalu dalam beberapa hal tidak lagi dapat dilaksanakan.

Menyadari hal tersebut, para pakar hukum Islam telah berusaha membuat kajian hukum Islam yang lebih komprehensif agar hukum Islam tetap eksis dan dapat dipergunakan untuk menyeleseikan segala masalah umat di era globalisasi ini.

Menutut Thahir Mahmoud, proses pembaharuan ini berawal dari teks-teks al-Qur'an, penafsiran ulama klasik dan risalah-risalah ahli hukum Islam abad pertengahan. Selanjutnya terjadi proses kodifikasi (tadwin) dan legislasi (tasyri’/tawdi’). Pada tataran metodologis, pembaharuan hukum Islam ini bersandarkan pada doktrin musawat al madzahib (persamaan madzab hukum Islam), istihsan (juristic equty), mashalih al-mursalah (public interest), istidlal (juristic reasoning), tadwin (codification), tawdi (legislation).1

Menurut sebagian pakar hukum Islam, pembaharuan hukum Islam

Dosen Tetap Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Jember

1Thahir Mahmoud, Personal Law in Islamic Countries, (New Delhi India: Times Press, 1970), p. 13.

(2)

di Indonesia agak lamban perkembangannya dibandingkan dengan negara-negara Islam di Timur Tengah dan Afrika Utara. Keterlambatan ini disebabkan oleh beberapa faktor antara lain, yaitu:

a. Masih kuat anggapan bahwa taqlid (mengikuti pendapat ulama

terdahulu) masih cukup untuk menjawab persoalan-persoalan kontemporer, di samping itu, banyak ulama merasa aman mengikuti pendapat ulama terdahulu dari pada mengikuti pendapat orang banyak, tetapi was-was untuk salah;

b. Hukum Islam di Indonesia dalam konteks sosial politik masa kini selalu

mengundang pelomik berada pada titik tengah, yaitu antara paradigma agama dan negara;

c. Persepsi sebagian masyarakat yang mengindentikkan fiqh sebagai hasil

kerja intelektual agama yang kebenarannya relatif dengan syari’at yang

merupakan produk Allah yang bersifat absolut.2

Munculnya gagasan-gagasan pembaharuan dalam bentuk

“Indonesiasi”, ”reaktualisasi”, ”pribumisasi”” dan “kontekstualisasi” hukum Islam yang banyak dikemukakan oleh banyak tokoh hukum Islam Indonesia seperti Abdurrahman Wahid, Hazairin, Hasbi Ash Shidieqi, A. Hasan, Munawir Sadjzali, Nurcholis Madjid, dan masih banyak lagi tidak banyak mendapat respon dari masyarakat muslim secara umum. Ide-ide mereka sekan terkubur oleh fanatisme masyarakat terhadap kitab-kitab kuning. Baru sejak dikenalkannya urgensi pluralisme pemikiran hukum melalui Kompilasi Hukum Islam yang disahkan melalui Inpres No. 1 tahun 1991, gagasan yang segar itu seakan bangkit kembali.

Menurut Nourrouzzaman, Hasbi Ash Shidieqi adalah orang pertama yang mengelurkan gagasan agar fiqh yang diterapkan di Indonesia harus berkepribadian Indonesia dan untuk mewujudkan hal itu perlu dibuat Kompilasi Hukum Islam (KHI) di Indonesia. Ia mendirikan lembaga fiqh Islam Indonesia(LEFISI) yang berkedudukan di Yogyakarta. Lembaga ini telah banyak memberikan kontribusi dalam kajian perubahan hukum Islam yang bercorak Indonesia. Hasil fiqh ini merupakan salah satu kajian bagi mahasiswa IAIN Yogyakarta pada kurun waktu 60-an. Menutut Hasbi, dalam rangka pembaharuan hukum Islam di Indonesia perlu adanya metode talfiq dan secara selektif memilih pendapat mana yang cocok dengan kondisi negara Indonesia. Di samping itu, perlu juga digalakkan metode komparasi yaitu membandingkan seluruh pendapat

hukum yang telah ada di Indonesia.3

2 Abdul Manan, Reformasi Hukum Islam di Indonesia, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2006), p. 5.

3 Nourrouzaman Ash-Shidieqy, Fiqh Indonesia, Penggagas dan Gagasannya, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1997), p. 241.

(3)

Gagasan Hasbi tersebut mendapat sambutan positif dari berbagai pihak terutama para pembaharu hukum Islam di Indonesia, baik secara perorangan maupun secara organisasi. Hasil ijtihad para mujtahid baik yang bersifat perorangan maupun organisasi telah melahirkan beberapa peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia, misalnya UU No.5 tahun 1960 tentang Pokok Agraria, jo PP No. 28 tahun 1977 tentang Perwakafan Tanah Milik,UU No. 1 tahun 1975 jo PP. No. 9 tahun 1975 , UU No. 7 tahun 1992 tentang Bank Syariah, UU No. 7 tahun 1989 jo UU No. 3 tahun 2006 tentang Peradilan Agama UU No. 41 tahun 2004 jo PP No. 42 tahun 2006 tentang Pelaksanaan Wakaf, Kompilasi Hukum Islam dan masih banyak peraturan yang lainnya yang menjadi hukum terapan di Pengadilan Agama. Karena banyaknya hasil para mujtahid yang di berlakukan di Indonesia dalam bentuk perundang-undangan, tulisan ini dibatasi pada pemikiran mujtahid di bidang kewarisan.

B. Konsep Pembaharuhan Hukum Islam di Indonesia

Dalam literatur hukum Islam, kata “pembaharuan” silih berganti dipergunakan dengan kata reformasi, modernisasi, reaktualisasi, dekonstruksi, rekonnstruksi, tarjih, islah dan tajdid. Di antara kata tersebut yang paling banyak dipergunakan adalah kata reformasi, islah, dan tajdid. Reformasi berasal dari bahasa Inggris”reformation” yang berarti membentuk

atau menyusun kembali.4 Reformasi artinya dengan memperbarui, asal

kata “baru” dengan arti memperbaiki supaya menjadi baru atau mengganti dengan yang baru, menggantikan atau menjadikan baru, atau proses perbuatan, cara memperbarui, proses pengembangan adat istiadat atau

cara hidup yang baru.5 Tajdid mengandung arti membangun kembali,

menghidupkan kembali, menyusun kembali atau memperbaikinya agar dipergunakan sebagaimana yang diharapkan, sedangkan kata islah diartikan dengan perbaikan atau memperbaiki..

Bustami Muhammad Saad mengemukakan bahwa kata tajdid lebih tepat digunakan untuk membahas tentang pembaharuan hukum, sebab kata tajdid mempunyai arti pembaharuan, sedangkan kata”islah” meskipun sering digunakan secara berdampingan, tetapi lebih berat pengertiannya kepada pemurnian. Sebagai contoh Ibnu Taimiyah lebih tepat disebut muslih (islah), sebab ia tokoh yang berusaha keras memurnikan ajaran Islam, sedangkan Muhammad Abduh lebih tepat sebagai mujadid sebab ia

4 Hasan Shadily dan John M. Echol, Kamus Inggris Indonesia, (Jakarta: PT. Gramedia, 1992), p. 473.

(4)

tokoh dalam pembaharuan dalam agama Islam.6

Adapun makna “hukum Islam di Indonesia” dapat diambil dari beberapa istilah yang dikenal dalam perkembangan hukum Islam seperti asyri’, al-fiqh dan al-qanun.

Menurut analisa ahli hukum Islam Jimli Ash Shidieqi, ketua Mahkamah Konstitusi RI, perbedaan kata tersebut dapat dilihat dari sisi hierarki makna. Istilah syari’at, fiqih, qanun tersebut mempunyai hierarki makna dalam hukum Islam. Pada hierarki pertama pengertian kita tentang norma atau kaidah hukum Islam itu bersifat konkret dan kontan yang terkait dengan proses turunnya wahyu dari Allah s.w.t. melalui Rasulullah s.a.w. Pada waktu itu, setiap wahyu yang turun mengandung norma hukum, baik yang berisi kaidah larangan (haram), kewajiban (wajib), ajuran positif (sunnah), anjuran negatif (makruh), ataupun kebolehan (mubah), dapat langsung disebut sebagai norma hukum yang di kemudian hari ketika umat Islam membutuhkan identitas pembeda, disebut hukum Islam.7

Pada hierarki makna kedua, pengertian hukum Islam dapat dikaitkan dengan masa sepeninggal Rasulullah s.a.w, ketika dibutuhkan usaha pengumpulan dan penulisan wahyu ke dalam satu naskah yang dalam perkembangan selanjutnya disebut qanun. Hal ini seiring sebagaimana pendapat Ali Yafie yang mengatakan bahwa hukum Islamdi Indonesia kini berada pada periode taqnin, pengqanunan peraturan-peraturan tertulis atau perundang-undangan. Hal ini berbeda dengan masa-masa yang lalu, di mana hukum Islam itu disebarkan hanya secara lisan dari guru ke murid atau dari pimpinan suatu masyarakat sederhana kepada umat di bawah

pimpinannya.8

Secara historis, peradilan agama merupakan ujung tombak implementasi hukum Islam di Indonesia. Peradilan agama ada sejak masuknya agama Islam ke Indonesia. Bentuk peradilan Islam pada waktu itu adalah tahkima, yakni menunjuk seseorang yang mempunyai kemampuan dalam bidang agama sebagai hakim untuk menyelesaikan permasalahan jika di antara mereka sedang berselisih. Kemudian setelah terbentuk komunitas Islam berubah menjadi ahli halli wal ‘aqdi, yakni pengangkatan atas seseorang untuk menjadi hakim yang dilaksanakan atas musyawarah majelis orang-orang terkemuka dalam masyarakat. Setelah kerajaan Islam berkembang, pengangkatan hakim berdasarkan tauliyah, yakni pemberian kuasa dari sultan kepada seseorang untuk melaksanakan

6 Gustami Muhammad Saad, Mafhum Tajdid al-Din al-Dakwa, (Kuwait, tp., t.t.), p. 26.

7 Jimli Ash Shidieqi, Materi Kuliah Hukum Islam di Indonesia, (Ttp.:, tp., 2002), p. 27. 8 Ali Yafie, Menggagas Fiqh Sosial, (Bandung: Mizan, 1994), p. 40.

(5)

tugas sebagai hakim. Ketika VOC datang ke Indonesia, kebijakan yang telah dilaksanakan oleh para Sultan tetap dipertahankan di daerah-daerah yang menjadi jajahannya.

Dalam menghadapi perkembangan hukum Islam di Indonesia pada mulanya Belanda tidak memandang bahwa hukum Islam adalah suatu ancaman yang harus ditakuti. Atas usul Van den Berg yang terkenal dengan tori receptie in compllexu, maka dibentuklah peradilan agama di Indonesia dengan berdasarkan Stbl.1882 No. 152 yang diberlakukan di Jawa dan Madura. Kondisi ini tidak berlaku lama. Atas usul Snouk Hurgronje dengan teorinya yang terkenal dengan teori receptie, perkembangan hukum Islam di Indonesia menjadi terhambat karena pemerintah kolonial Belanda membatasi berlakunya kewenangan peradilan agama dengan mengeluarkan Stbl. 1937 No. 116 dan 610.

Setelah proklamasi kemerdekaan RI, lembaga peradilan yang semula berada di bawah departemen kehakiman, setelah terbentuknya Departemen Agama, 3 Januari 1946. Peradilan agama dipindahkan di bawah naungan Departemen Agama. Selanjunya Menteri Agama melalui biro Peradilan agama mengeluarkan surat edaran Nomor B/I/753 tanggal 18 Februari 1958 yang ditujukan kepada Pengadilan Agama seluruh Indonesia agar para hakim dalam memeriksa, mengadili dan memutuskan suatu perkara supaya berpedoman kepada 13 kitab fiqh.

Dalam tataran aplikasi, penggunaan 13 kitab fiqh sebagai rujukan di dalam memeriksa, mengadili dan memutuskan perkara telah terjadi perselisihan paham antara hakim peradilan agama satu dengan hakim peradilan agama lainnya terhadap substansi dari kitab-kitab fiqh tersebut. Tidak jarang para hakim memutuskan sutu perkara berdasarkan substansi fiqh di luar 13 kitab tersebut. Sehingga tidak ada kepastian hukum terhadap perkara yang diputus oleh pengadilan agama, sebab dalam kasus yang sama putusannya dapat berbeda antara satu hakim dengan yang lainnya.

Menyadari keadaan tersebut, para pakar hukum Islam berusaha membuat kajian hukum Islam yang lebih komprehensif agar hukum Islam tetap eksis dan dapat dipergunakan untuk menyelesaikan segala masalah umat dalam era globalisasi ini. Langkah awal yang dilaksanakan para pembaharu hukum Islam di Indonesia adalah mendobrak paham ijtihad yang telah tertutup, dan membuka kembali kajia-kajian tentang hukum Islam dengan metode komprehensif yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Hasil ijtihad para ulama, baik yang dilaksanakan secara perorangan maupun yang dilaksanakan oleh organisasi Islam telah melahirkan beberapa peraturan yang menjadi perundang-undangan yang berlaku di

(6)

Indonesia. Meskipun dalam peraturan perundang-undangan tersebut sudah memuat nilai-nilai ajaran agama Islam sebagai ijtihad kolektif ulama Indonessia, tetapi nilai-nilai itu belum sepenuhnya terakomodasi dalam legalisasi nasional, ditambah lagi lajunya perkembangan teknologi dan informasi di era globalisasi, maka peraturan perungan tersebut perlu untuk disempurnakan sesuai dengan kondisi zaman. Oleh karena permasalahan hukum yang timbul belum ada pengaturan dalam fiqh dan belum juga terdapat dalam perundang-undangan negara, maka terhadap kasus-kasus yang diajukan ke Pengadilan Agama, terpaksa hakim Pengadilan Agama harus melaksanakan ijtihad. Hal ini seseai dengan pasal 14 UU No. 14 tahun 970 tentang pokok-pokok kehakiman yang telah diubah dengan UU No. 4 tahun 2005 dan juga Kompilasi Hukum Islam pasal 229 yang menyatakan bahwa hakim tidak boleh menolak untuk memutus dan mengadili suatu perkara yang diajukan kepadanya dengan dalih hukumnya tidak atau kurang jelas, melainkan wajib memeriksa dan mengadilinya.

Putusan Pengadilan Agama sudah banyak memberikan kontribusi terhadap perkembangan pembaruan hukum Islam di Indonesia, terutama putusan yang didasarkan kepada ijtihad hakim. Contoh ijtihad hakim dalam rangka pembaruan hukum Islam di Indonesia adalah putusan Pengadilan agama Jakarta Selatan Nomor 1751/P/1989 tanggal 20 April 1989 tentang Perkawinan melalui telepon yang akibat adanya kemajuan ilmu dan teknologi. Demikian juga keputusan Mahkamah Agung RI Nomor 51 K/AG/1999 tanggal 29 September 1999 yang memperbaiki

terhadap putusan Pengadilan Agama Yogyakarta Nomor

83/Pdt/1997/PA.Yk, tanggal 4 Desmber 1997 tentang penetapan ahli

waris yang bukan Islam berdasarkan wasiat wajibah.9

C. Gagasan Pembaharuan Hukum Kewarisan Islam Di Indonesia Secara normatif, pembagian warisan hanya bisa dilakukan sesuai dengan ketentuan baku yang secara konkret sudah tertera dalam al-Qur'an dan as-Sunnah. Para ulama sepakat bahwa ketentuan yang ada dalam nash tersebut termasuk ayat-ayat yang menunjukkan dalalah qath’i. Namun demikian, perkembangan sosial dan budaya yang terjadi dan tumbuh dalam kesadaran hukum masyarakat melahirkan gagasan pembaharuan dalam pembagian warisan.

Secara substantif, gagasan-gagasan dalam penbaharuan tersebut memang tidak mengurangi keutuhan reformulasi fiqh yang digagas para ulama. Karena pembaharuan tersebut lebih berada pada tataran aplikasi hukum (tatbiq al-ahkam). Upaya mengangkat kenyataan hukum yang

(7)

kemudian diformulasikan dalam legislasi hukum sebagai peraturan perundang-undangan dapat mengundang kontroversi atau silang pendapat. Hal ini sah-sah saja keberadaannya, karena memang salah satu karakteristik fiqh adalah terdapatnya khilafiyah atau perbedaan pendapat di antara para ulama, apakah itu sebagai hasil istinbath individual atau merupakan kesepakatan ulama regional, yang secara teknis disebut ijtihad jama’i (ijtihad kolektif), seperti Kompilasi Hukum Islam di Indonesia.

Di antara gagasan pembaharuan hukum Islam di Indonesia dalam bidang hukum kewarisan adalah:

1. Pembagian warisan dengan cara damai

Para ulama sepakat bahwa ketentuan yang ada ayat-yat kewarisan merupakan ayat yang menunjukkan dilalah qath’i. Namun dalam kenyataannya masyarakat sering melakukan pembagian warisan dengan cara damai (kesepakatan). Boleh jadi karena di dalam kenyataannya ahli waris yang menerima bagian besar, secara ekonomi telah berkecukupan, sementara ahli waris yang menerima bagian sedikit, masih dalam suasana kekurangan secara ekonomi.

KHI mengakomodasi sistem pembagian warisan dengan cara damai dalam pasal 183 yang menyatakan: “para ahli waris dapat bersepakat melakukan perdamaian dalam pembagian harta warisan setelah masing-masing menyadari bagiannya”.

Prinsip perdamaian (as-shulhu) sebagaimana diatur dalam KHI tersebut sebenarnya sudah mendapatkan pembenaran, asalkan tidak bermaksuk untuk menghela atau mngesampingkan ajaran Islam. Dalam sebuah ungkapan, terdapat gambaran tentang tingginya nilai perdamaian yang menyandingkan betapa derajat perdamaian itu memiliki kandungan nilai yang sangat tinggi, sehingga penempatan prioritasnya dapat didahulukan dari norma dan peraturan lainnya yang sudah ada. (as-shulhu sayyid al-ahkam). Dalam surat al-Nisa' ayat 127 ditegaskan bahwa berdamai itu lebih baik. Mengajak damai berarti mengajak pada suatu kebaikan.

Karena prinsipnya cara perdamaian adalah cara yang dibenarkan, agar suasana persaudaraan dapat terjalin dengan baik. Sepanjang perdamaian tersebut tidak dimaksudkan untuk mengharamkan yang halal dan menghalalkan yang haram. Sebagaimana sabda Rasulullah s.a.w: yang artinya: ‘Perdamaian itu diperbolehkan diantara kaum muslimin, kecuali perdamaian untuk menghalalkan yang haram atau mengharamkan yang halal."

Kompilasi dengan klausul di atas menghendaki agar pembagian warisan dengan cara damai ini para ahli waris mengerti hak-hak dan bagian yang diterima, sebagaimana yang diatur dalam Qur'an ayat 11 dan 12 al-Nisa' tentang furudhul muqaddarah. Setelah itu masing-masing pihak berdamai. Apabila ada di antara ahli waris yang ada, secara ekonomi

(8)

kekurangan dan mendapat bagian sedikit, kemudian ahli waris yang menerima bagian lebih banyak dengan ikhlas memberikan kepada yang lain adalah tindakan yang sangat positif. Untuk itulah diperlukan kesadaran yang tinggi bagi ahli waris karena secara naluriah manusia memang mencintai harta.

2. Pembagian warisan ketika pewaris masih hidup

Secara normatif, pembagian warisan hanya bisa dilakukan ketika pewaris sudah meninggal dunia. Kematian muwaris merupakan salah satu persyaratan yang disepakati oleh para ulama agar warisan dapat dibagi. Akan tetapi dalam kenyataan yang berkembang dalam masyarakat, pihak orang tua (calon muwaris) menginginkan agar sepeninggalnya, anak-anaknya dan ahli waris lainnya tetap hidup dalam persaudaraan secara rukun. Untuk memenihi keinginannya ini ditempuhlah cara hibah waris, yaitu membagi harta kekayaan ketika pewaris masih hidup.

Kompilasi Hukum Islam mengakomodasi kebiasaan ini dalam pasal-pasal sebagai berikut: Pasal 187:

a. Bilamana pewaris meninggalkan harta peninggalan, maka oleh pewaris

semasa hidupnya atau oleh para ahli waris dapat ditunjuk beberapa orang sebagai pelaksana pembagian warisan dengan tugas mencatat dalam suatu daftar, berupa benda bergerak maupun tidak bergerak yang kemudian disahkan oleh para ahli waris yyang bersangkutan, bila perlu dinilai harganya dengan uang.

b. Menghitung jumlah pengeluaran untuk kepentingan pewaris sesuai

pasal 175 yaitu tentang perawatan si pewaris, melaksanakan wasiat serta membayar seluruh hutang-hutang si pewaris.

Yang perlu diperhatikan di dalam pembagian warisan ketika masih hidup adalah keadilan. Betapapun juga ketentuan warisan di dalam al-Qur'an tetap perlu dijadikan acuan. Karena dengan demikian, baik bagi pewaris yang akan menghadap kepada sang Kholiq juga tidak terbebani karena persoalan kebendaan, dan ahli warisnya juga dapat menerima kenyataan dari bagian yang seharusnya diterima dengan penuh keikhlasan. 3. Pembagian dengan Sistem Kolektif

KHI melihat sistem pembagian dengan sistem ini lebih kepada pertimbangan pragmatisnya. Dalam pasal 189 dinyatakan:

1. Bila harta warisan yang akan dibagi berupa lahan pertanian luasnya

kurang dari dua hektar supaya dipertahankan sebagaimana semula, dan dimanfaatkan untuk kepentingan bersama para ahli waris yang bersangkutan;

2. Bila ketentuan pada ayat (1) pasal ini tidak memungkinkan karena di

antara ahli waris yang bersangkutan ada yang memerlukan uang, maka lahan tersebut dapat dimiliki oleh seseorang atau lebih ahli waris yang

(9)

berhak sesuai dengan bagiannya masing-masing dengan cara yang memiliki lahan menggantikan atau memberikan kompensasi sebesar atau senilai bagian ahli waris yang membutuhkannya”.

Secara substansial, rumusan hukum yang terkandung dalam pasal 189 ayat (1) dan (2) merupakan garis hukum baru yang tidak dikenal dalam kitab-kitab fiqh. Hal ini karena berdasarkan pemahaman surat al-Nisa' ayat 7 para ulama faraidhiyyun, menentukan bahwa hukum kewarisan, baik dari segi peralihan maupun segi jumlahnya, mengandung azas ijbari. Amir Syarifuddin mengungkapkan, azas ijbari itu mengandung arti bahwa perpindahan hak milik dari seseorang (muwaris) kepada orang lain (ahli waris) berlaku dengan sendirinya menurut aturan-aturan Allah, tanpa

tergantung pada kehendak muwaris atau ahli waris.10

Dalam penilaian Hazairin sebagaimana dikutip Manan, sistem pembagian warisan kolektif dapat saja dilakukan, sepanjang tidak

menimbulkan kerugian pada sebagian ahli waris yang lain.11

4. Pembagian Warisan Sistem Gono-gini

Konsep pembagian harta warisan gono-gini juga diangkat dari adat kebiasaan yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat. Harta gono-gini sering disebut sebagai harta bersama, yaitu harta yang diperoleh suami istri selama dalam masa perkawinan mereka. Apakah istri secara formal bekerja

dalam profesi tertentu di luar rumah atau sebagai ibu rumah tangga.12

Harta gono-gini juga berlaku bagi pewaris yang beristri lebih dari seorang. Sebagaimana dijelaskan dalam KHI pasal 190:”Bagi pewaris yang beristri lebih dari seorang, maka masing-masing istri berhak mendapat bagian atas gono.-gini dari rumah tangga dengan suaminya, sedangkan keseluruhan bagian pewaris adalah menjadi hak para ahli warisnya”.

Praktiknya, sebelum harta warisan dibagikan kepada ahli waris yang ada, harta tersebut dibagi dua terlebih dahulu. Separoh diwariskan, sedangkan separoh lainnya diberikan kepada pasangan hidup yang lebih lama. Seperti diatur dalam pasal 96 KHI ayat (1): “Apabila terjadi cerai mati, maka separoh harta bersama menjadi hak pasangan yang hidup lebih lama”.

Tradisi adanya harta bersama ini dimaksudkan untuk memberikan perlindungan kebendaan kepada pasangan yang hidup lebih lama. Karena mereka telah mengarungi bahtera kehidupan rumah tangga dari nol hingga akhirnya berhasil. Maka sangat wajar sekali jika pasangan hidupnya mendapatkan separoh dari harta yang dikumpulkan sebelum dibagikan kepada ahli waris yang lain.

10 Amir Syarifuddin, Pembaharuan Pemikiran Dalam Hukum Islam, (Padang: Angkasa Raya, 1993), p. 18.

11 Abdul Manan, Reformasi, p. 204.

(10)

5. Kewarisan Anak Angkat dan Orang Tua Angkat

Menurut ketentuan dalam ilmu faraidl, salah satu sebab untuk mendapatkan bagian warisan adalah adanya hubungan kekerabatan/nasab. Dalam Kompilasi Hukum Islam disebutkan bahwa anak angkat atau orang tua angkat mendapatkan harta warisan dengan jalan wasiat wajibah. Dalam KHI pasal 209 dinyatakan:

a. Harta peninggalan anak angkat dibagi berdasarkan pasal 176 sampai

dengan pasal 193 tersebut di atas, sedangkan terhadap orang tua angkat yang tidak menerima wasiat diberi wasiat wajibah, sebanyak-banyaknya 1/3 dari harta warisan anak angkatnya.

b. Terhadap anak angkat yang menerima wasiat diberi wasiat wajibah

sebanyak-banyaknya 1/3 dari harta warisan orang tua angkatnya. Yang dimaksud wasiat wajibah dalam KHI tersebut adalah suatu tindakan pembebanan oleh hakim atau lembaga yang mempunyai hak agar harta sesorang yang telah meninggal dunia, tetapi tidak melakukan wasiat secara sukarela, agar diambil hak atau benda peninggalannya untuk diberikan kepada orang tertentu dalam keadaan tertentu pula.

Dalam Kitab Undang-undang Mesir Nomor 71 tahun 1946, sebagaimana dikutip Fatchur Rachman, menetapkan wajibnya pelaksanaan wasiat wajibah tanpa tergantung persetujuan ahli waris, kendati pun si mati tidak meninggalkan wasiat. Bahkan pelaksanaannnya harus didahulukan sebelum wasiat-wasiat yang lain ditunaikan. Sudah barang tentu dilaksanakan setelah kebutuhan perawatan jenazah dipenuhi dan

pelunasan hutang hutang si mati sudah dibayarkan.13

Adanya ketentuan dan pengaturan warisan bagi orang tua angkat dan anak angkat berdasarkan konstruksi hukum wasiat wajibah, menurut Abdullah Kelib, akan menjadikan hukum waris Islam selaras dengan nilai-nilai yang hidup dengan rasa keadilan dan sesuai dengan kesadaran hukum masyarakat.

Pandangan ahli hukum tersebut dapat dipahami karena rumusan pasal 209 tersebut dianggap pola baru yang dapat mendistribusikan harta kekayaan kepada orang yang bukan ahli waris secara ma’ruf. Sementara kehadiran yang bersangkutan tidak dapat dipisahkan dari integritas keluarga sehingga tidak manusiawi apabila orang tersebut tidak menerima harta kekayaan karena statusnya yang bukan ahli waris. Dengan demikian, rumusan pasal 209 dianggap memenuhi nilai-nilai kemaslahatan keluarga. 6. Penggantian Kedudukan

Konsep penggantian kedudukan merupakan hasil ijtihad ulama terhadap ketentuan warisan dalam al-Qur'an dan as-Sunnah. Penggantian

(11)

kedudukan ini pada dasarnya berbeda dengan pendapat jumhur Ulama. Penggantian kedudukan ini dalam hukum perdata disebut plaatsvervulling. Menurut jumhur, jika ada anak yang meninggal lebih dulu dari si pewaris, maka ia tidak berhak mendapatkan warisan walaupun dia meninggalkan anak. Anak dari anak yang meninggal terlebih dahulu berkedudukan sebagai cucu si pewaris secara otamatis tidak mendapatkan warisan karena terhalang anak pewaris yang lain ataupun terhalang oleh paman-pamannya.

Kompilasi hukum Islam (KHI) memperkenalkan sistem kewarisan dengan penggantian kedudukan. Pasal 185 KHI menyatakan:

a. Ahli waris yang meninggal lebih dahulu daripada pewaris, maka

kedudukannya dapat digantikan oleh anaknya, kecuali yang tersebut dalam pasal 173.

b. Bagian bagi ahli waris pengganti tidak boleh melebihi dari bagian ahli

waris yang sederajat dengan yang diganti.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa bagian yang diterima oleh ahli waris pengganti, bukanlah karena status mereka sebagai ahli waris yang memiliki hubungan langsung dengan si pewaris, akan tetapi didasarkan pada harta yang diterima yang sedianya merupakan bagian yang diterima oleh ahli waris yang meninggal terlebih dahulu.

Di Indonesia, rumusan sejenis ahli waris pengganti itu lebih diperkenalkan oleh Hazairin melalui konsep mawali, yang menempatkan anaknya anak dan anaknya saudara sebagai pengganti dari kedua ahli waris langsung (anak dan saudara) tersebut. Dengan demikian, pola yang dianut dalam KHI mencerminkan gabungan antara peraturan perundang-undangan yang dianut dan berlaku di negeri muslim (tentang konsep wasiat wajibah) dengan konsep mawali yang diperkenalkan Hazairin, di samping dengan lembaga plaatsvervulling yang dikenal dalam BW.

D. Penutup

Pembaharuan hukum Islam sudah terjadi di Indonesia yang disebabkan adanya perubahan kondisi, situasi, tempat dan waktu. Adapun faktor-faktor yang menyebabkan adanya pembaharuan adalah: Pertama, nilai-nilai fiqh sudah tidak memadai lagi di dalam menyeleseikan berbagai masalah hukum yang timbul saat ini akibat adanya kemajuan IPTEK dan adanya era globalisasi.

Kedua, pengaruh reformasi dalam berbagai bidang hukum, termasuk hukum Islam diharapkan dapat memberikan sumbangan yang besar dalam pembangunan hukum nasional. Ketiga, adanya pengaruh pemikiran yang dilaksanakan oleh pusat kajian hukum Islamyang dilakukan oleh negara Islam dewasa ini.

(12)

Adanya faktor-faktor terjadinya pembaharuan tersebut di atas mengakibatkan munculnya berbagai macam perubahan dalam tatanan sosial umat Islam, baik yang menyangkut ideologi, politik, sosial dan budaya. Faktor-faktor tersebut melahirkan sejumlah tantangan baru yang harus dijawab sebagai bagian dari upaya pembaharuan hukum Islam. Untuk mengantisipasi masalah ini, maka ijtihad tidak boleh ditutup dan terus menerus dilaksanakan untuk mencari solusi terhadap berbagai masalah hukum baru yang sangat diperlukan oleh umat Islam.

(13)

Daftar Pustaka

Ash-Shidieqy, Jimly, Materi Kuliah Hukum Islam di Indonesia, Ttp.:, tp., 2002. Ash-Shidieqy, Nourrouzaman, Fiqh Indonesia, Penggagas dan Gagasannya,

Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1997. Depag RI, Kompilasi Hukum Islam, 1991.

Depdikbud, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 1990. Mahmoud, Tahir, Personal Law in Islamic Countries, New Delhi India: Times

Press, 1997.

Manan, Abdul, Reformasi Hukum Islam Di Indonesia, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2006.

Rahman, Fatchur, Ilmu Waris, Bandung: Al-Ma’arif, 1981. Rofiq, Ahmad, Fiqh Mawaris, Jakarta: Rajawali Press, 2002.

Saad, Gustami Muhammad, Mafhum Tajdid al-Din al-Dakwa, Kuwait, tp., t.t.

Shadily, Hasan dan John M. Echol, Kamus Inggris Indonesia, Jakarta: PT. Gramedia, 1992.

Syarifuddin, Amir, Pembaharuan Pemikiran Dalam Hukum Islam, Padang: Angkasa Raya, 1993.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :