ANALISIS STRUKTUR PERSAINGAN INDUSTRI
JASA PENDIDIKAN TINGGI KOMPUTER
UNTUK MENENTUKAN MODEL STRATEGI BERSAING
Harjanto Prabowo
1; Bahtiar Saleh Abbas
2; Margaret
3ABSTRACT
The purposes of this research is to know how high is the competition level in a computer high education service industry. Based on analysis, it can be concluded that the competition level in a computer high education service industry in Java Island is increasing in the future. But, the bargaining power in a computer high education service industry is getting weaker to the customer. Based on the competition level, the right strategy to perform is differentiate strategy focus.
Keywords: competition, education, competition strategy model
ABSTRAK
Penelitian bertujuan untuk mengetahui seberapa tinggi tingkat persaingan dalam industri jasa pendidikan tinggi komputer. Berdasarkan analisis yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa kondisi persaingan industri jasa perguruan tinggi komputer di Pulau Jawa di masa yang akan datang akan semakin meningkat. Namun, kekuatan menawar perguruan tinggi komputer akan semakin lemah terhadap konsumennya. Berdasarkan kondisi persaingan tersebut, strategi yang paling tepat untuk dilaksanakan adalah strategi fokus strategi diferensiasi.
Kata kunci: persaingan, pendidikan, model strategi bersaing
1&2
Staf Pengajar Jurusan Teknik Industri, Fakultas Teknik, UBiNus, Jakarta
3
PENDAHULUAN
Jasa adalah setiap tindakan atau kegiatan yang dapat ditawarkan oleh satu pihak kepada pihak lain, pada dasarnya tidak berwujud dan tidak meningkatkan kepemilikan apa pun. Produksi jasa mungkin atau tidak, tidak berkaitan dengan produk fisik. Jasa memiliki empat karakteristik utama yang sangat mempengaruhi rancangan program pemasaran, yaitu tidak berwujud, tidak dapat dipisahkan, variabilitas, dan tidak tahan lama. Karakteristik penting dalam jasa pada lembaga pendidikan tinggi, antara lain sebagai berikut.
1. Perguruan tinggi termasuk ke dalam kelompok jasa murni (pure services) dan pemberian jasa yang dilakukan didukung alat kerja atau sarana pendukung semata, seperti, ruangan kelas, kursi, meja, dan buku.
2. Jasa yang diberikan membutuhkan kehadiran pengguna jasa (mahasiswa). Jadi, disini pelanggan yang mendatangi lembaga pendidikan tersebut untuk mendapatkan jasa yang diinginkan (meskipun dalam perkembangannya ada juga yang menawarkan program distance learning, universitas terbuka, kuliah jarak jauh, dan lain-lain). 3. Penerima jasa adalah orang. Jadi, merupakan pemberian jasa yang berbasis orang
sehingga berdasarkan hubungan dengan pengguna jasa (pelanggan/mahasiswa) adalah high contact system, yaitu hubungan pemberian jasa dengan pelanggan tinggi. Pelanggan dan penyedia jasa terus berinteraksi selama proses pemberian jasa berlangsung. Untuk menerima jasa, pelanggan harus menjadi bagian dari sistem jasa tersebut.
4. Hubungan dengan pelanggan adalah berdasarkan member relationship dan pelanggan telah menjadi anggota lembaga pendidikan tersebut, sistem pemberian jasanya secara terus-menerus dan teratur sesuai kurikulum yang telah ditetapkan.
Menurut Hunger dan Wheelen (2001:245), strategi bersaing adalah strategi bisnis yang berfokus pada peningkatan posisi bersaing produk dan jasa perusahaan dalam industri atau segmen pasar tertentu yang dilayani perusahaan dan mengatasi masalah bagaimana perusahaan dan unitnya dapat bersaing dalam bisnis dan industri. Menurut Rangkuti (2003:5), keunggulan bersaing merupakan kegiatan spesifik yang dikembangkan oleh perusahaan agar lebih unggul dibandingkan dengan pesaingnya.
Menurut Cravens (1996:31) dalam buku Pemasaran Strategis, mengutip pendapat Day dan Wensley yang mengemukakan bahwa keunggulan bersaing seharusnya dipandang sebagai suatu proses dinamis daripada hasil akhir. Prosesnya terdiri atas sumber keunggulan, keunggulan posisi, dan prestasi hasil akhir suatu investasi laba untuk mempertahankan keunggulan.
1. Sumber Keunggulan
Analisis keunggulan bersaing menunjukkan perbedaan dan keunikannya di antara para pesaing. Sumber keunggulan bersaing itu sebagai berikut.
a. Keterampilan. b. Sumber daya.
c. Pengendalian yang superior.
Sumber Keunggulan - Keterampilan superior - Sumber daya superior - Pengendalian superior
Keunggulan Posisi - Nilai konsumen superior - Biaya yg relatif rendah
Prestasi Hasil Akhir - Kepuasan - Kesetiaan - Pangsa pasar - Kemampuan
menghasilkan laba
Investasi laba untuk mempertahankan
keunggulan
Gambar 1 Proses Keunggulan Bersaing Sumber: Cravens, 1996
2. Keunggulan Posisi
Keunggulan posisi merupakan hasil produksi dengan biaya rendah (cost leadership) atau diferensiasi yang memberikan keunggulan nilai bagi konsumen. Biaya yang lebih rendah memungkinkan perusahaan memberikan nilai yang superior dengan pemberian harga yang lebih rendah daripada pesaing untuk produk yang sama. Perbedaan penampilan produk yang sesuai dengan preferensi pembeli menghasilkan manfaat unik yang dapat menutupi harga tinggi. Faktor penting dalam mencari keunggulan adalah bagaimana mengambil keputusan dan bersaing.
3. Prestasi Hasil Akhir
Pada saat keterampilan organisasi, sumber daya, dan pengendalian digunakan untuk memperoleh nilai dan atau efisiensi biaya, keunggulan posisi telah menuju pada prestasi hasil akhir (kepuasan konsumen, kesetiaan terhadap merek, pangsa pasar, dan kemampuan mendapatkan laba).
4. Investasi Laba
Keunggulan bersaing merupakan sarana yang selalu berubah. Oleh karena itu, harus mempergunakan sebagian labanya untuk mempertahankan keunggulan tersebut.
Jadi, keunggulan bersaing pada dasarnya tumbuh dari nilai atau manfaat yang dapat diciptakan perusahaan bagi para pembelinya yang lebih dari biaya yang harus dikeluarkan perusahaan untuk menciptakannya. Keunggulan bersaing bersumber dari banyak ragam kegiatan yang dilakukan perusahaan dalam mendesain, membuat, memasarkan, mendistribusikan, dan mendukung produknya. Dalam buku Manajemen
Strategis, David (2002:129) menguraikan tentang model lima kekuatan Michael E. Porter,
sebagai berikut. Rivalitas dalam industri Substitusi Pendatang Baru Pembeli/ Konsumen Supplier
Gambar 2 Five Force Analysis Sumber: David, 2002
Menurut Robinson (1997), strategi generik sebagai strategi keunggulan bersaing (competitive advantage) dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok, berdasarkan skema yang dikembangkan oleh Michael E. Porter, sebagai berikut.
1. Mencapai kepemimpinan biaya menyeluruh (overall cost leadership) dalam industri. 2. Menciptakan dan memasarkan produk unik (khas) bagi berbagai kelompok pelanggan
melalui diferensiasi (differentiation).
3. Melayani kebutuhan khusus satu atau beberapa kelompok konsumen atau pembeli industrial, dengan fokus biaya dan fokus diferensiasi.
KEUNGGULAN STRATEGIS TI N G K A T S TR A TE G IS
Biaya Rendah Diferensiasi Sasaran luas
1. Keunggulan biaya 2. Diferensiasi
Cakupan
Persaingan
3A. Fokus biaya 3B. Fokus Diferensiasi Sasaran sempit
Gambar 3 Tiga Strategi Generik Sumber: Porter, 1994
Jadi, strategi bersaing Porter merupakan hierarki business level strategy yang memfokuskan bagaimana perusahaan bersaing dalam industrinya dan bila perusahaan ingin menjadi produsen biaya rendah maka perusahaan dapat menggunakan kepemimpinan biaya menyeluruh (overall cost leadership). Bila perusahaan ingin menjadi unik dan berbeda dari pesaing, dapat menggunakan diferensiasi (differentiation). Jika perusahaan ingin menggarap segmen pasar tertentu saja, perusahaan dapat menggunakan fokus (focus).
Undang-undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyebutkan bahwa perguruan tinggi dapat berbentuk Akademi, Politeknik, Sekolah Tinggi, Institut, atau Universitas. Pendidikan tinggi itu dapat diselenggarakan oleh Pemerintah, dalam hal ini Perguruan Tinggi Negeri-PTN, departemen atau lembaga pemerintah yang lain (Perguruan Tinggi Kedinasan-PTK), atau oleh masyarakat (Perguruan Tinggi Swasta-PTS).
Awal tahun 1990, Perguruan Tinggi (PT) Komputer menemukan masa keemasan, jumlah peminat sangat tinggi sehingga jumlah PT Komputer berkembang sangat pesat. Pada pertengahan tahun 2002, jumlah PT Komputer (PTN dan PTS) mencapai 150-an dengan jumlah mahasiswa mencapai 200.000. Diperkirakan pada 5 tahun ke depan, jumlah PT Komputer akan mencapai 350 dan menampung hampir 450.000 mahasiswa.
Jumlah PT Komputer yang besar dan mahasiswa yang banyak bukanlah jaminan mutu pendidikan komputer di Indonesia, banyak faktor lain yang menentukannya dan disadari bahwa mutu pendidikan komputer di PT Komputer merupakan salah satu dari sekian faktor yang harus diperhatikan dalam menghadapi persaingan di masa depan. Beberapa pertanyaan mendasar yang akan dihadapi industri jasa pendidikan tinggi komputer adalah sebagai berikut.
1. Dalam level perguruan tinggi komputer (sebagai sebuah firm).
a. Berapa besar tingkat daya serap pasar (employability) terhadap lulusan perguruan tinggi komputer dalam lima tahun mendatang.
b. Berapa lama waktu tunggu seorang lulusan perguruan tinggi komputer untuk mendapatkan pekerjaan yang sesuai atau usaha mandiri yang sesuai.
c. Faktor yang mempengaruhi tingkat employability perguruan tinggi komputer sehingga jika diketahui faktor tersebut maka dapat dilakukan usaha untuk meningkatkannya.
2. Dalam level industri.
a. Bagaimana ukuran tingkat keunggulan bersaing untuk industri jasa pendidikan komputer?
b. Faktor yang mempengaruhi tingkat keunggulan bersaing tersebut.
c. Upaya, baik dari pengelola perguruan tinggi komputer maupun pemerintah, dalam meningkatkan keunggulan bersaing sehingga mampu bersaing dengan pendidikan tinggi lainnya maupun pendidikan tinggi komputer dari negara lain.
Dalam menjawab pertanyaan mendasar tersebut, diperlukan analisis struktur industri jasa pendidikan tinggi komputer sehingga model uji untuk keunggulan bersaing dapat dirumuskan untuk level industri maupun level perguruan tinggi. Penelitian bertujuan untuk melakukan hal berikut.
1. Melakukan analisis struktur industri jasa pedidikan tinggi komputer di Indonesia.
2. Mengetahui kondisi 5 (lima) komponen keunggulan bersaing dari Michael Porter terhadap struktur industri pendidikan tinggi komputer untuk 5 tahun mendatang.
3. Memberikan rekomendasi untuk rancangan model uji Compettive Advantage pendidikan komputer pada level industri dan level perguruan tinggi.
Hasil penelitian akan memberikan manfaat sebagai berikut.
1. Sebagai model dalam penyusunan strategi bersaing bagi perguruan tinggi komputer, dengan menambahkan informasi kekuatan internal yang dimilikinya.
2. Rekomendasi model uji competitive advantage akan digunakan untuk penelitian selanjutnya atau pengembangan ilmu.
Objek penelitian adalah Perguruan Tinggi Komputer di pulau Jawa dengan tujuan ingin mendapatkan deskripsi tentang struktur industri jasa pedidikan tinggi komputer di Pulau Jawa dan mengetahui kondisi 5 (lima) komponen keunggulan bersaing dari Michael Porter terhadap struktur industri pendidikan tinggi komputer untuk 5 tahun mendatang. Jenis penelitian yang digunakan adalah dengan metode penelitian descriptive
survey. Unit analisis yang diambil adalah organisasi perguruan tinggi komputer di pulau
Tabel 1 Operasionalisasi Variabel
Variabel Konsep Variabel Indikator
Perseteruan diantara Pengukuran tingkat - Pertumbuhan jumlah PT perusahaan yang Persaingan antar PT Komputer terhadap jumlah
bersaing Komputer Peminat
- Ragam produk program
yang ditawarkan
Potensi pengembangan Informasi tentang substitusi - Tingkat substitusi dalam produk pengganti Pendidikan komputer yang peta product-market
dapat dilakukan peserta didik - Daftar program
Masuknya pesaing baru Informasi tentang peluang - Jumlah PT Komputer baru masuknya PT Komputer - Tingkat "barrier to entry"
baru dalam persaingan
Kekuatan menawar Informasi tentang mahasiswa - Tingkat keberhasilan studi, dari konsumen baru, prestasi akademik, kegagalan studi
peraturan akademik - Tingkat kompetisi dalam
seleksi mahasiswa baru
Kekuatan menawar Informasi tentang kualitas - Jumlah dosen dan dari pemasok tenaga pengajar dan Komposisinya
dihubungkan dengan tingkat - Prestasi akademik dosen
ketergantungan PT Komputer
terhadap dosen
Jenis dan sumber data yang digunakan terdiri atas data primer dan data sekunder, seperti dalam Tabel 2.
Tabel 2 Jenis dan Sumber Data
Jenis data Sumber data
Profile peguruan tinggi komputer Profile perguruan tinggi didalam dokumen masing-masing perguruan tinggi
Profile manajer perguruan tinggu Buku katalog masing-masing perguruan tinggi Penggunaan teknologi informasi Pengelola perguruan tinggi
Profile lulusan dan penyerapan di pasar tenaga kerja
Perguruan tinggi masing-masing Kondisi perkuliahan, praktikum, dan ujian Perguruan tinggi masing-masing
Informasi mengenai kurikulum Buku katalog masing-masing perguruan tinggi Informasi penerimaan mahasiswa baru Perguruan tinggi masing-masing
Tabel 2 Jenis dan Sumber Data (lanjutan)
Informasi layanan akademik dan non akademik Perguruan tinggi masing-masing Renstra PT komputer Perguruan tinggi masing-masing Informasi mengenai biaya pendidikan dari PT
Komputer dan biaya pendidikan dari mahasiswa selama studi
Perguruan tinggi masing-masing, dan melakukan survey awal kepada sampel mahasiswa untuk mendapatkan komponen biaya studi
Policy pemerintah Undang-undang, SK, Surat Edaran yang pernah dikeluarkan pemerintah
Dalam penelitian ini digunakan kombinasi teknik pengumpulan data yang terdiri dari sebagai berikut.
1. Penyebaran kuesioner kepada pimpinan perguruan tinggi komputer.
2. Wawancara dengan pimpinan perguruan tinggi komputer yang dipilih secara random dari populasi yang ada.
Observasi dilakukan terhadap sumber data sesuai dengan unit observasi/analisis yang telah disebutkan dan juga didapatkan data sekunder dari berbagai sumber, seperti Biro Pusat Statistik (BPS), Departemen Pendidikan Nasional (DepDikNas), Perguruan Tinggi Komputer yang bersangkutan, informasi dari internet, dan sumber lainnya. Tahap analisis dimulai dari pengenalan faktor yang mempengaruhi tingkat keunggulan bersaing kemudian mengukur tingkat keunggulan bersaing untuk industri jasa pendidikan komputer menggunakan “Five Force Analysis’’ dari Michael E. Porter.
PEMBAHASAN
Perguruan tinggi komputer saat ini memiliki banyak pilihan program studi, antara lain sebagai berikut.
1. Ilmu KomputerTeknik Informatika 2. Sistem Informasi/Manajemen Informatika 3. Sistem Komputer/Teknik Komputer 4. Komputerisasi Akuntansi
Di beberapa perguruan tinggi komputer yang ada di Pulau Jawa, program studi komputer tersebut disertai dengan program peminatan yang berbeda-beda. Program peminatan yang berbeda-beda tersebut merupakan salah satu bentuk keunggulan yang dapat ditunjukkan oleh masing-masing perguruan tinggi sehingga mampu menarik perhatian para calon mahasiswa.
Analisis Persaingan Model Michael Porter
1. Rivalitas/Perseteruan di Antara Perguruan Tinggi Komputer yang Bersaing
Berdasarkan data syang telah dikumpulkan, jumlah Perguruan Tinggi Komputer di Pulau Jawa sampai tahun 2002 mencapai 134 perguruan tinggi dengan daya tampung 319.876 mahasiswa yang tersebar di lima wilayah Pulau Jawa, yaitu 42 Perguruan Tinggi Komputer di DKI Jakarta, 31 di Jawa Barat, 18 di Jawa Tengah, 26 di Jawa Timur, dan 17 Perguruan Tinggi Komputer di DI Yogyakarta. Dengan semakin banyaknya Perguruan Tinggi Komputer yang ada di Pulau Jawa maka tingkat persaingan yang terjadi di antara Perguruan Tinggi tersebut akan semakin ketat.
Tingkat persaingan antar PT Komputer yang ada di Pulau Jawa dapat diukur dari pertumbuhan jumlah PT Komputer terhadap jumlah peminatnya, dengan indikator perbandingan jumlah pendaftar dengan jumlah kapasitas yang tersedia (daya tampung). Selain itu, tingkat persaingan antar PT Komputer tersebut juga dapat diukur dari ragam produk program yang ditawarkan, yaitu dengan melihat banyaknya program studi yang ditawarkan disertai peminatan yang bervariasi di masing-masing PT Komputer. Data yang dapat dikumpulkan selama penelitian sebagai berikut.
Tabel 3 Rasio Mahasiswa Mendaftar dengan Daya Tampung
Parameter Keterangan Kondisi Program S1 Total
1 2 3 4 Rasio mahasiswa mendaftar dengan daya tampung pendaftar / target 100% : 21 30% 90-100% : 15 22% 80-90% : 24 35% <80% : 9 13% 69
Kondisi Program D3 Total
1 2 3 4 100% : 14 20% 90-100% : 17 25% 80-90% : 28 41% <80% : 10 14% 69 Sumber: Seminar Nasional Fakultas Ilmu Komputer dan Rapat Nasional APTIKOM, 2003
Gambar 4 Grafik Rasio Mahasiswa Pendaftar dengan Daya Tampung
Dari data tersebut terlihat bahwa persentase terbanyak untuk rasio jumlah pendaftar terhadap jumlah kapasitas yang tersedia (target) sebesar 35% pada jenjang S1 dan 41% pada jenjang D3. Hal itu menggambarkan bahwa total target atau kapasitas yang tersedia di PT Komputer secara keseluruhan masih lebih besar dibandingkan dengan jumlah mahasiswa yang mendaftar. Hal itu akan mengakibatkan tingkat persaingan yang tinggi diantara PT Komputer yang ada di Pulau Jawa, dengan tingkat persaingan yang terjadi saat ini adalah sebesar 80%-90%. Dengan jumlah mahasiswa pendaftar yang masih lebih kecil dibandingkan daya tampung yang tersedia, juga menyebabkan setiap PT Komputer harus semakin gencar dalam mempromosikan perguruan tinggi mereka.
2. Potensi Ancaman Pengembangan Produk Pengganti (Substitusi)
Substitusi yang dimaksud adalah program studi selain program studi komputer yang dapat dijadikan sebagai program pengganti bagi para calon mahasiswa, bila mereka merasa tidak terlalu berminat ataupun tidak berhasil diterima di program studi komputer.
Tabel 4 Jumlah Mahasiswa di Pulau Jawa
Mahasiswa Tahun 2002
PT Komputer :
- Program studi komputer 319.876 - Program studi non komputer 96.968
PT Non Komputer 1.595.571
2.012.415 Sumber: Biro Pusat Statistik
Tabel 4 menunjukkan total mahasiswa komputer dan total mahasiswa secara keseluruhan yang terdaftar di Pulau Jawa pada tahun 2002. Total mahasiswa program studi komputer adalah 319.876 mahasiswa dan total mahasiswa keseluruhan di Pulau Jawa adalah 2.012.415 mahasiswa. Jumlah mahasiswa komputer yang hanya mencapai 15,9% dari total seluruh mahasiswa di Pulau Jawa menggambarkan bahwa tingkat substitusi cukup tinggi. Hal itu ditandai dengan banyaknya jumlah mahasiswa yang memilih program studi nonkomputer, seperti Manajemen, Akuntansi, Hukum, Desain Grafis, dan lain sebagainya.
3. Potensi Ancaman Masuknya Pesaing Baru
Seiring dengan perkembangan teknologi, khususnya di bidang komputerisasi dan banyaknya kebutuhan akan tenaga kerja yang memiliki keahlian dalam bidang komputer, mendorong berdirinya PT Komputer baru. Alasan lainnya yang juga mendorong berdirinya PT Komputer baru adalah banyaknya minat dari calon konsumen, yaitu para calon mahasiswa yang memilih program studi komputer. Pertumbuhan jumlah PT Komputer baru terlihat pada Tabel 5 berikut ini.
Tabel 5 Pertumbuhan PT Komputer di Pulau Jawa
Tahun DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah Jawa Timur Yogyakarta Total
1990 2 2 2 2 - 8 8 1991 1 2 - - - 3 11 1992 2 3 3 - - 8 19 1993 5 3 4 2 2 16 35 1994 - 1 3 - 2 6 41 1995 4 3 - 3 - 10 51 1996 3 1 1 - - 5 56 1997 - 3 - 1 1 5 61 1998 2 1 1 1 - 5 66 1999 1 1 - 1 - 3 69 Sumber: www.dikti.org
Gambar 5 Pertumbuhan Perguruan Tinggi komputer di Pulau Jawa
Berdasarkan Gambar 5, terlihat bahwa pertumbuhan PT Komputer baru yang semakin meningkat. Hal itu ditunjukkan dengan jumlah PT Komputer yang semakin meningkat selama tahun 1990 sampai tahun 1999.
4. Kekuatan Menawar dari Konsumen
Tingkat kekuatan menawar konsumen dapat diukur berdasarkan seleksi dalam penerimaan mahasiswa baru, yaitu menggunakan indikator perbandingan total mahasiswa yang mendaftar ulang dengan total mahasiswa yang diterima. Berikut ini merupakan data yang telah dikumpulkan.
Tabel 6 Rasio Mahasiswa yang Daftar Ulang dengan yang Diterima Sumber: Seminar Nasional Fakultas Ilmu Komputer dan Rapat Nasional APTIKOM, 2003
Parameter Keterangan Kondisi Program S1 Total
1 2 3 4 Rasio mahasiswa diterima dengan yang mendaftar calon mhs. Daftar ulang / lulus test masuk 90-100% : 20 29% 80-90% : 26 38% 70-80% : 14 20% 70% : 9 13% 69
Kondisi Program D3 Total
1 2 3 4 90-100% : 20 29% 80-90% : 24 35% 70-80% : 17 25% 70% : 8 12% 69 0 10 20 30 40 50 60 70 80 1990 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 Tahun Ju ml a h Tingkat Pertumbuhan
2003
Gambar 6 Grafik Rasio Mahasiswa yang Daftar Ulang dengan yang Diterima
Berdasarkan tabel tersebut, rasio yang paling besar adalah 80-90%. Rasio tersebut menyatakan bahwa tingkat kekuatan menawar konsumen saat ini masih cukup kuat. Akan tetapi, jika rasio mencapai 100% maka kekuatan konsumen akan lemah yang ditandai dengan total jumlah mahasiswa yang diterima sebanding dengan total jumlah mahasiswa yang mendaftar ulang. Sebagai calon mahasiswa, seseorang dapat memilih lebih dari satu perguruan tinggi. Dalam hal ini, kekuatan konsumen akan lebih kuat jika calon mahasiswa tersebut telah diterima di lebih dari satu perguruan tinggi karena mahasiswa tersebut mempunyai kebebasan untuk mendaftar ulang di perguruan tinggi pilihannya.
Untuk itu, bila seorang calon mahasiswa telah menentukan pilihannya maka tindakan selanjutnya yang akan dilakukan oleh calon mahasiswa tersebut adalah mendaftar ulang pada perguruan tinggi yang bersangkutan. Simpulan yang didapat adalah jika rasio pada tabel tersebut semakin kecil maka kekuatan konsumen akan semakin kuat. Dalam artian calon mahasiswa tersebut lebih memilih perguruan tinggi lain sebagai tempat kuliahnya. Dengan cukup kuatnya daya tawar konsumen, menunjukkan bahwa kekuatan menawar perguruan tinggi lemah. Selain itu, tingkat kekuatan menawar konsumen juga dapat diukur dari pertumbuhan kenaikan biaya pendidikan setiap tahunnya yang berdasarkan data tersebut maka dapat dilihat besarnya rata-rata persentase kenaikan biaya kuliah mencapai 33%.
5. Kekuatan Menawar Pemasok
Dalam industri jasa perguruan tinggi komputer, dosen merupakan pemasok utama yang mempunyai peranan penting dalam proses belajar mengajar di sebuah perguruan tinggi. Berikut ini adalah data yang berhasil dikumpulkan mengenai rasio jumlah mahasiswa terdaftar dan dosen tetap.
Tabel 7 Rasio Mahasiswa Terdaftar dengan Dosen Tetap
Parameter Keterangan Kondisi Program S1 Total
1 2 3 4 Rasio jumlah mahasiswa terdaftar dan dosen tetap mahasiswa terdaftar / Dosen tetap 1-15 : 21 30% 16-30 : 14 20% 31-45 : 18 26% > 45 : 16 23% 69
Kondisi Program D3 Total
1 2 3 4
1-15 : 21 30% 16-30 : 25 36% 31-45 : 12 17% > 45 :
11 16% 69 Sumber: Seminar Nasional Fakultas Ilmu Komputer dan Rapat Nasional APTIKOM, 2003
Gambar 7 Grafik Rasio Mahasiswa Terdaftar dengan Dosen Tetap
Dengan melihat data yang ditampilkan pada Tabel 7, dapat dilihat bahwa persentase terbesar untuk rasio jumlah mahasiswa terdaftar terhadap jumlah dosen tetap yang mengajar sebesar 30% pada jenjang S1 dan 36% pada jenjang D3. Jumlah dosen tetap yang cenderung sedikit, menandakan bahwa kekuatan menawar dari pemasok yang
•
Jenjang S1, Questioner disebar ke 69 responden•
Jenjang D3, Questioner disebar ke 69 respondenkuat. Dengan kata lain, kekuatan menawar perguruan tinggi terhadap tingkat kebutuhan tenaga pengajar masih lemah. Selain itu, pendidikan seorang dosen juga mempengaruhi kekuatan menawar dari pemasok. Kualitas seorang dosen biasanya dapat dilihat dari prestasi akademik yang telah dicapainya, baik S1, S2, maupun S3. Semakin tinggi gelar seorang dosen, dapat dikatakan bahwa kualitas dosen tersebut akan semakin tinggi. Dengan demikian, hal itu akan meningkatkan kekuatan menawar dari pemasok.
Peta Kondisi Persaingan
Berdasarkan analisis yang telah dilakukan dengan model “Five Force Analysis” dari Michael E. Porter, dapat disimpulkan bahwa kondisi persaingan diantara PT Komputer saat ini semakin tinggi. Kondisi persaingan yang semakin tinggi pada industri jasa perguruan tinggi komputer di Pulau Jawa dapat dilihat melalui tabel berikut.
Tabel 8 Peta Persaingan
Kekuatan Tingkat
Persaingan di antara perusahaan yang bersaing Tinggi Ancaman potensi pengembangan produk pengganti Cukup Tinggi
Ancaman masuknya pesaing baru Tinggi
Daya tawar dari konsumen Tinggi
Daya tawar dari pemasok Lemah
Perkiraan Kondisi untuk 5 Tahun ke Depan
Tabel 9 Peta Persaingan 5 Tahun ke Depan
Kekuatan Tingkat
Persaingan di antara perusahaan yang bersaing Tinggi Ancaman potensi pengembangan produk pengganti Tinggi
Ancaman masuknya pesaing baru Tinggi
Daya tawar dari konsumen Lemah
Daya tawar dari pemasok Cukup Tinggi
Peramalan kondisi persaingan industri PT Komputer di atas dilakukan secara kualitatif dengan melihat perubahan yang terjadi dari tahun ke tahun, baik dari jumlah mahasiswa secara keseluruhan yang semakin meningkat, jumlah tenaga pengajar tetap
yang semakin banyak, maupun pertumbuhan jumlah perguruan tinggi yang semakin pesat di berbagai propinsi di Indonesia.
Usulan Strategi Keunggulan Bersaing
PT Komputer harus memilih strategi yang tepat untuk menghadapi persaingan semakin meningkat di antara PT Komputer yang ada. Berdasarkan kondisi persaingan tersebut, strategi yang paling tepat untuk dilaksanakan adalah strategi fokus diferensiasi. Pada situasi persaingan di masa mendatang, PT Komputer yang ada di Pulau Jawa harus berfokus pada target pasar yang berada di Pulau Jawa karena diperkirakan di masa mendatang PT Komputer di luar Pulau Jawa akan semakin meningkat. Selain melakukan strategi fokus, PT Komputer juga harus melakukan strategi diferensiasi. Strategi diferensiasi dapat digunakan karena tingkat kebutuhan konsumen akan produk yang lebih bervariasi semakin tinggi sehingga PT Komputer dapat mencapai keunggulan kompetitif. PT Komputer harus mampu melakukan diferensiasi pada produk yang ditawarkannya. Untuk melakukan diferensiasi tersebut, terdapat beberapa atribut diferensiasi yang harus diperhatikan, yaitu diferensiasi produk, diferensiasi pelayanan, diferensiasi personal, diferensiasi saluran, dan diferensiasi citra.
Diferensiasi produk yang dapat dilakukan oleh PT Komputer adalah dengan menciptakan program peminatan baru yang merupakan pengembangan program studi yang sudah ada. Diferensiasi pelayanan dapat dilakukan dengan cara meningkatkan kualitas layanan terhadap mahasiswa, misalnya dengan menciptakan sistem pembelajaran secara on-line atau dengan memberikan fasilitas yang dapat mendukung proses perkuliahan. Diferensiasi personel dilakukan dengan cara mempekerjakan orang-orang yang lebih baik dari pesaing mereka, khususnya tenaga pengajar. Diferensiasi saluran dapat dilakukan dengan cara menjalin kerja sama dengan perusahaan agar para lulusan PT Komputer dapat disalurkan untuk bekerja di perusahaan tersebut. Diferensiasi citra yang dapat dilakukan adalah dengan menciptakan citra yang berbeda dari pesaingnya. PT Komputer harus mampu menghasilkan lulusan yang terbaik sehingga membentuk citra yang baik di masyarakat.
Usulan Model Uji Keunggulan Bersaing
Berdasarkan struktur industri, frame work “competitive advantage” dan tantangan PT Komputer, dikembangkan model “competitive advantage” untuk industri jasa pendidikan tinggi komputer di Indonesia serta untuk tingkat lembaga (perguruan tinggi). Model itu merupakan model uji yang perlu diteliti lebih lanjut.
1. Model “Competitive Advantage” Perguruan Tinggi Komputer
Berdasarkan frame-work “competitive advantage”, ditekankan pada faktor “Value
Created Relative to Competitor”, yaitu kemampuan memberikan benefit dan efisiensi
Paradigma atau model keterkaitan masing-masing faktor dengan tingkat
employability, seperti gambar di bawah ini.
Employability Teaching/Learning
Process Curriculum & Teaching Materials
Ratio & distributing entrance Quality of academic atmosphere Quality of academic management & services
Gambar 8 Model Employability Perguruan Tinggi Komputer
2. Model “Competitive Advantage” Industri Jasa Pendidikan Komputer
Paradigma atau model keterkaitan masing-masing faktor dengan tingkat
employability, seperti gambar di bawah ini.
Competitive advantage level Employability
Strategi produk
Ratio & distributing entrance
Cost structure
On time delivery
Gambar 9 Model Competititive Advantage PT Komputer
PENUTUP
Kondisi persaingan diantara PT Komputer saat ini semakin tinggi. Perseteruan diantara perguruan tinggi yang bersaing semakin meningkat disebabkan oleh semakin banyaknya perguruan tinggi baru yang didirikan akhir-akhir ini dan pada tahun mendatang. Hal tersebut juga menyebabkan potensi pengembangan produk pengganti
semakin tinggi karena perguruan tinggi tersebut akan menjadi pesaing yang memiliki keunggulan yang berbeda-beda, seperti program peminatan yang semakin beragam. Namun, kekuatan menawar perguruan tinggi komputer akan semakin lemah terhadap konsumennya. Hal itu karena semakin banyaknya PT Komputer yang berdiri dengan menawarkan ragam PS yang berbeda sehingga konsumen memiliki banyak pilihan. Kekuatan menawar PT Komputer terhadap tenaga pengajar tetap akan semakin kuat karena semakin banyaknya pemasok yang berasal dari para lulusan PT Komputer pada tahun sebelumnya.
Berdasarkan kondisi persaingan tersebut, strategi yang paling tepat untuk dilaksanakan adalah strategi fokus diferensiasi. Pada situasi persaingan di masa mendatang, PT Komputer di Pulau Jawa harus berfokus pada target pasar yang berada di Pulau Jawa karena diperkirakan di masa mendatang PT Komputer di luar Pulau Jawa akan semakin meningkat. Semakin meningkatnya jumlah PT Komputer di luar Pulau Jawa akan menyebabkan semakin berkurangnya target pasar PT Komputer yang ada di Pulau Jawa. Selain melakukan strategi fokus, PT Komputer juga harus melakukan strategi diferensiasi agar mampu bertahan pada kondisi persaingan yang semakin tinggi di masa mendatang. Strategi diferensiasi dapat digunakan karena tingkat kebutuhan konsumen akan produk yang lebih bervariasi semakin tinggi sehingga PT Komputer dapat mencapai keunggulan kompetitif. PT Komputer harus mampu melakukan diferensiasi pada produk yang ditawarkannya. Untuk melakukan diferensiasi tersebut, terdapat beberapa atribut diferensiasi yang harus diperhatikan, yaitu diferensiasi produk, diferensiasi pelayanan, diferensiasi personal, diferensiasi saluran, dan diferensiasi citra.
Berdasarkan struktur industri, frame work “competitive advantage” dan tantangan PT Komputer yang telah dijelaskan, maka akan dikembangkan model “competitive
advantage” untuk industri jasa pendidikan tinggi komputer di Indonesia serta untuk
tingkat lembaga (perguruan tinggi). Model itu merupakan model uji yang perlu diteliti lebih lanjut.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. Brosur Biaya Pendidikan Universitas Bina Nusantara. 2003/2004. Jakarta. _______. Brosur Biaya Pendidikan Universitas Bina Nusantara. 2004/2005. Jakarta. _______. Brosur Biaya Pendidikan Universitas Tarumanagara. 2003/2004. Jakarta. _______. Brosur Biaya Pendidikan Universitas Tarumanagara. 2004/2005. Jakarta. Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi. 2000. Pedoman Pendirian Perguruan
Biro Pusat Statistik. 2000. Statistik Indonesia: Statistical Year Book of Indonesia 2000. Jakarta.
_______. 2001. Statistik Indonesia: Statistical Year Book of Indonesia 2001. Jakarta. _______. 2002. Statistik Indonesia: Statistical Year Book of Indonesia 2002. Jakarta.
Cravens, David W. 1996. Pemasaran Strategis. Edisi Keempat. Jilid 1. Jakarta: Erlangga. David, Fred R. 2002. Manajemen Strategis: Konsep. Jakarta: Prenhallindo.
Hunger, D. and Thomas L. Wheelen. 2001. Manajemen Strategis. Yogyakarta: Andi. Kotler, Philip. 2002. Manajemen Pemasaran. Edisi Milenium 1. Jakarta: Prenhallindo. _______. 2002. Manajemen Pemasaran. Edisi Milenium 2. Jakarta: Prenhallindo.
Porter, Michael E. 1992. Strategi Bersaing: Teknik Menganalisis Industri dan
Pesaing. Jakarta: Erlangga.
_______. 1994. Keunggulan Bersaing: Menciptakan dan Mempertahankan Kinerja
Unggul. Jakarta: Binarupa Aksara.
Prabowo, Harjanto. 2003. “Seminar Nasional Fakultas Ilmu Komputer dan Rapat Nasional.” APTIKOM. Jakarta.
Purnama, Lingga. 2002. Strategic Marketing Plan: Panduan Lengkap dan Praktis
Penyusunan Rencana Pemasaran yang Strategis dan Efektif. Jakarta: PT
Gramedia Pustaka Utama.
Rangkuti, Freddy. 2003. Analisis SWOT: Teknik Membedah Kasus Bisnis – Reorientasi
Konsep Perencanaan Strategis untuk Menghadapi Abad 21. Jakarta: PT
Gramedia Pustaka Utama.
Robinson, Pearce. 1997. Manajemen Strategik: Formulasi, Implementasi, dan
Pengendalian. Jilid 1. Jakarta: Binarupa Aksara.
Umar, Husein. 2001. Strategic Management In Action. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.