• Tidak ada hasil yang ditemukan

METABAHASA Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "METABAHASA Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

Jurnal “METABAHASA”, Volume 2 Nomor 2, Juni 2019 Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Yasika Majalengka

METABAHASA

Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

METABAHASA: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Journal homepage: http://journal.stkipyasika.ac.id/index.php/metabahasa

Journal Email: [email protected] PISSN: 2656-5315 EISSN: 2656-5579

HUBUNGAN ANTARA GAYA KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH

DAN BUDAYA ORGANISASI DENGAN MOTIVASI KERJA GURU

ARIP AMIN

Institut Agama Islam Bunga Bangsa Cirebon

Email: [email protected]

ABSTRACT

This research aims studying and analizing 1) The correlation of the School Principals Leadership Style with Teacher’s Work Motivation of Senior High School at Cirebon City, 2) The correlation of Organization culture with Teacher’s Work Motivation of Senior High School at Cirebon City, 3) The correlation of the School Principals Leadership Style and Organization Culture together with Teacher’s Work Motivation of Senior High School at Cirebon City. The research used survey method with statistic approach. The research population target, were all teachers of Senior High School at Cirebon City consist of 468 persons of teacher. Because limited of finance and time, researcher taken it by used random sampling from teachers by raffled, and the result obtained were teaching of Senior High School 1, 8, and 5 which represented up, medium and under class and taken the target population consist of 158 persons of teachers. Data was collected by School Principals Leadership Style questionnaire (coefficient α > 0.05), organization culture questionnaire (coefficient α > 0.05), and Teachers Work Motivation questionnaire (coefficient α> 0.05). Data was analyzed by descriptive statistics and the hypothesis was tested by same regression technic. The results are: First, there is a direct significan correlation of School Principals Leadership Style with teachers Work Motivation. The strenght of both

showed by coefficient correlation (ry1= 0.638). The correlation of School Principals

Leadership Style showed by the same of regretion Ŷ = 24.931+0.71 8X1. The

Second, there is a significan correlation of Organization Culture with teachers Work

Motivation. The strenght of both showed by coefficient correlation (ry2 = 0.658). The

influence of Organization Culture with Teachers Work Motivation showed by the line

Article Received: 23 Mei 2019, Review process: 26 Mei 2019, Accepted: 05 Juni 2019, Article published: 30 Juni 2019

(2)

Jurnal “METABAHASA”, Volume 2 Nomor 2, Juni 2019 Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Yasika Majalengka

of regression Ŷ = 31.308+0.683X2. The Third, there is a significan correlation of the

School Principals Leadership Style with Organization Culture together with Teachers

Work Motivation. The correlation Ry.12 show by coefficient correlation = 0.638. And

Organization Culture 0.658. From the result of same regression obtained

Ŷ=16.040+0.395X1+0.431X2. Mode of line analysis matching with data, that 40.7% in

varians of teachers Work Motivation explained by School Principals Leadership Style and 43.3% Teachers Work Motivation explained by variable of Organization Culture. The result of research, imply that School Principals Leadership Style can increase teachers Work Motivation directly or indirectly through was gave by organization school culture or through develop profesional and comprehention culture organization at school..

Keywords: Principals Leadership Style, Organization Culture, Teachers Work

Motivation.

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis 1) Hubungan antara Gaya Kepemimpinan dengan motivasi kerja guru di Sekolah Menengah Atas Negeri di Kota Cirebon, 2) Hubungan antara Budaya Organisasi dengan Motivasi Kerja Guru di Sekolah Menengah Atas Negeri Kota Cirebon, 3) Hubungan Gaya Kepemimpinan dan Budaya Organisasi secara bersama-sama dengan Motivasi Kerja Guru di Sekolah Menengah Atas Negeri Kota Cirebon, Jawa Barat. Penelitian ini menggunakan metode survey dengan pendekatan statistik. Target populasi dalam penelitian ini adalah seluruh guru pada Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri yang ada di Kota Cirebon yang berjumlah 486 orang guru. Namun dikarenakan dengan segala keterbatasan baik waktu maupun finansial, maka peneliti menentukan target populasi terjangkau yang dilakukan melalui metode Random sampling dengan cara diundi, hasilnya diperoleh guru yang mengajar di SMA Negeri 1, 8 dan 5 yang mewakili SMA Negeri kelas atas, tengah dan bawah sehingga diperoleh target populasi terjangkau sebanyak 158 orang guru. Data dikumpulkan dengan kuesioner Gaya Kepemimpinan (koefisiensi α > 0,05), kuesioner Budaya Organisasi (Koefisiensi α > 0,05), dan kuesioner Motivasi Kerja Guru (koefisiensi α > 0,05). Data dianalisis dengan statistik deskriptif dan korelasi sedangkan pengujian hipotesis menggunakan teknik korelasi dan regresi. Hasil penelitian menunjukkan: Pertama, terdapat hubungan yang signifikan antara Gaya Kepemimpinan dengan Motivasi Kerja Guru. Kekuatan hubungan antara keduanya ditunjukkan dengan koefisien korelasi (ry1) sebesar 0,638. Hubungan Gaya

kepemimpinan dengan Motivasi Kerja Guru ditunjukkan oleh persamaan regresi Ŷ = 24,931+0,718X1 adalah signifikan. Kedua, terdapat hubungan yang signifikan antara

Budaya Organisasi dengan Motivasi kerja guru. Kekuatan hubungan keduanya ditunjukkan dengan koefisien korelasi (ry2) sebesar 0,658. Pengaruh Budaya

Organisasi dengan Motivasi Kerja Guru ditunjukkan melalui garis regresi Ŷ = 31,308+0,683X2. Ketiga, terdapat hubungan signifikan antara Gaya Kepemimpinan

dan Budaya Organisasi secara bersama-sama dengan Motivasi Kerja Guru. Kadar pengaruh Ry.12 ditunjukkan dengan koefisien korelasi = 0,638 dan Budaya

Organisasi sebesar 0,658, Dan hasil analisis persamaan regresi diperoleh Ŷ =16,040+0,395X1+0,431X2. Model analisis jalur memiliki kecocokan dengan data di

(3)

Jurnal “METABAHASA”, Volume 2 Nomor 2, Juni 2019 Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Yasika Majalengka

sebesar 40,7% Motivasi kerja guru dapat dijelaskan melalui variabel Budaya Organisasi sebesar 43,3%. Hasil penelitian mengandung implikasi bahwa Gaya kepemimpinan kepala sekolah dapat mendorong motivasi kerja guru secara langsung, maupun secara tidak langsung melalui budaya organisasi yang dibangun secara komprebensif dan profesional di sekolah.

Kata Kunci:Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah, Budaya Organisasi, Motivasi Kerja Guru

PENDAHULUAN

Lembaga Pendidikan seperti Sekolah Menengah Atas merupakan organisasi yang didalamnya mengandung unsur guru, unsur siswa, unsur staf administrasi, dan unsur kepemimpinan sekolah, serta unsur masyarakat yang disebut dengan istilah komite sekolah. masing masing unsur ini memiliki tugas dan fungsinya masing masing serta tanggungjawab yang diembannya. Rendahnya peran guru dalam pendidikan, tampak pada proses pengajaran dan pembentukan moral serta nilai ethik peserta didik yang cenderung melemah. padahal guru bertugas untuk mendinamisir pendidikan, dan pengajaran di dalam kelas, sehingga karakter bangsa dapat tercermin pada output pendidikan. Pada kasus tertentu, guru dianggap sebagai sebagai administrator kelas, dan dibantu oleh tenaga kependidikan yang bertugas dalam pengadministrasian lembaga pendidikan.

Pusat seluruh aktivitas guru, dan tenaga administrasi sekolah ini, digerakkan oleh pemimpin lembaga pendidikan yang disebut dengan Kepala Sekolah. Kepala sekolah selain berfungsi memanage seluruh jalannya aktivitas guru, juga ia manajer penting dalam mendinamisir seluruh kegiatan pembelajaran di dalam maupun di luar kelas. Dilihat dari sisi tanggungjawabnya, kepala sekolah jelas lebih tinggi dan kompleks masalahnya apabila dibandingkan dengan tenaga kependidikan lainnya, di tingkat sekolah. Oleh karena itu, baik buruknya sebuah lembaga pendidikan, sebagian besarnya akan ditentukan oleh sejauhmana kepala sekolah dalam satu satuan, dan satu jenjang pendidikan mampu menggerakan seluruh komponen kependidikan yang tersedia dengan modal kepemimpinan yang dimilikinya. Semakin dia mampu mendinamisir guru, maka semakin besar pula peluang dirinya untuk tampil menjadi pemimpin yang dapat mengelola dan mempertanggungjawabkan lembaga pendidikan yang dipimpinnya secara profesional.

(4)

Jurnal “METABAHASA”, Volume 2 Nomor 2, Juni 2019 Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Yasika Majalengka

Dalam pandangan Islam, kepemimpinan merupakan fitrah bagi setiap manusia yang di amanahi oleh Allah SAW., untuk menjadi khalifah fil ardi (wakil Allah) di muka bumi, yang bertugas merealisasikan misi sucinya sebagai pembawa rahmat bagi alam semesta.

”Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih

dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman:

"Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui." (Q.S.al-Baqarah:

30)

Selain sebagai khalifah, manusia juga memiliki peran sebagai Abdullah (hamba Allah) yang senantiasa patuh dan terpanggil untuk mengabdikan segenap dedikasinya di jalan Allah. Sabda Rasulullah “Setiap kamu adalah pemimpim dan

tiap-tiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawabannya”. Manusia yang diberi

amanah dapat memelihara amanah tersebut dan Allah telah melengkapi manusia dengan kemampuan konsepsional atau potensi fitrah, serta kehendak bebas untuk menggunakan dan memaksimalkan potensi yang dimilikinya.

”Dan dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, Kemudian mengemukakannya kepada para malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!" (Q.S.al-Baqarah:31).

(5)

Jurnal “METABAHASA”, Volume 2 Nomor 2, Juni 2019 Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Yasika Majalengka

Dengan demikian, maka menjadi seorang pemimpin haruslah amanah dalam menjalankan tugas dengan sebaik-baiknya untuk mensejahterakan ummat dengan sebaik-baiknya, karena dengan kepemimpinan kita akan dimintai pertanggung jawabannya oleh Allah SWT. Pendidikan merupakan wahana yang paling strategis karena diharapkan dapat mempersiapkan generasi muda yang sadar Iptek, kreatif, dan memiliki solidaritas sebagai gambaran manusia moderen pada masa yang akan datang. Begitu strategisnya peran pendidikan dalam rangka meningkatkan kualitas sumber daya manusia, namun fakta menunjukkan bahwa masih banyak permasalahan yang berkaitan dengan penyelenggaraan pendidikan di Indonesia yang pada intinya bertumpu pada produktivitas pendidikan yang masih rendah, dan salah satu faktor yang diduga ikut mempengaruhi hal tersebut diantaranya gaya kepemimpinan kepala sekolah.

Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan peneliti pada saat penelitian awal dibeberapa Sekolah Menengah Atas Negeri di kota Cirebon, diperoleh informasi dan gambaran masalah yang diduga ikut mempengaruhi rendahnya motivasi kerja guru antara lain: Kepala sekolahkurang memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk memberikan saran dan pendapat kepada pimpinannya. Kepala sekolah kurang melakukan komunikasi dengan para guru, dan staf. Hal ini ditandai dengan tidak efektifnya / tidak adanya pertemuan yang bersifat rutin antara staf dan pimpinannya, misalnya rapat staf, arisan atau yang lainnya yang diduga dapat meningkatkan motivasi kerja guru.

Hal lain yang diperoleh peneliti dibeberapa Sekolah Menengah Atas Negeri di Kota Cirebon, kurangnya kepedulian kepala sekolah terhadap permasalahan-permasalahan yang dihadapi staf dibawahnya, dan kompensasi yang diperoleh guru masih rendah bila dibandingkan dengan tingkat pengabdian dan pengorbanan yang diberikan maupun masa kerja yang dimiliki masing-masing staf atau pegawainya. Hal ini tampak jelas ketika dibeberapa sekolah masih terdapat guru yang belum mendapatkan sertifikasi guru. Ketidak harmonisan hubungan antar sesama staf, dan kurangnya rasa persamaan gurur, masih cenderung membentuk kelompok sendiri-sendiri terutama dibeberapa sekolah yang berada pada kategori sedang, serta dukungan terhadap peningkatan sumberdaya guru/ staf kurang. Hal ini tampak pada rendahnya dukungan/ bantuan pendidikan dan pelatihan dalam rangka peningkatan sumberdaya guru yang ada untuk menjadi lebih profesional. Padahal sekolah

(6)

Jurnal “METABAHASA”, Volume 2 Nomor 2, Juni 2019 Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Yasika Majalengka

sebagai lembaga tempat penyelenggaraan pendidikan, merupakan sistem yang memiliki berbagai perangkat dan unsur yang saling berkaitan dan memerlukan pemberdayaan. Secara internal sekolah memiliki perangkat guru, murid, kurikulum, sarana, dan prasarana. Secara eksternal sekolah memiliki hubungan dengan instansi lain baik secara vertikal maupun horizontal.

Di dalam konteks pendidikan, sekolah memiliki stakeholders (murid, guru, masyarakat, pemerintah, dan dunia usaha). Oleh karena itulah sekolah memerlukan pengelolaan atau manajemen yang efektif, akurat agar dapat memberikan hasil optimal sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan semua pihak yang berkepentingan stakeholders.

Kepemimpinan kepala sekolah merupakan salah satu faktor yang dapat mendorong keberhasilan sekolah untuk mewujudkan visi, misi, tujuan, dan sasaran sekolah melalui program-program yang dilaksanakan secara terencana dan bertahap. Oleh sebab itu, kualitas kepemimpinan kepala sekolah sebagai kunci keberhasilan sekolah. Kepala sekolahyang berhasil apabila mereka memahami keberadaan sekolah sebagai organisasi yang komplek dan unik, serta mampu melaksanakan peranan kepala sekolah sebagai seseorang yang diberi tanggungjawab untuk memimpin sekolah sehingga mampu mewujudkan budaya organisasi secara positif sehingga motivasi kerja guru untuk membangun kultur pendidikan yang berkualitas dapat dilaksanakan secara bersama-sama dengan unsur

stakeholders yang ada.

Kepala sekolah sebagai pemimpin pendidikan di sekolah harus menjadi katalisator, dinamisator, dan fasilitator kelompok stakeholder sekolah dalam menggerakkan segenap potensi tenaga pendidikan, dan atau kependidikan khususnya guru dalam rangka mencapai tujuan dengan cara membantu guru-guru secara kooperatif untuk meningkatkankan produktifitas kinerjanya, karena para guru menginginkan kepala sekolah yang bukan saja secara teoretis memiliki syarat-syarat kepemimpinan pada umumnya, tetapi yang terpenting adalah penerapannya melalui kepemimpinan yang benar-benar dirasakan dan berpengaruh terhadap motivasi kerja guru. Padahal keberhasilan pendidikan tidak hanya semata-mata ditentukan oleh kepemimpinan kepala sekolah, tetapi juga ditentukan oleh faktor guru. Oleh karena itu, upaya meningkatan motivasi kerja guru untuk profesionalisme guru harus terus dilakukan oleh kepala sekolah melalui pengembangan tenaga pendidikan, maka yang

(7)

Jurnal “METABAHASA”, Volume 2 Nomor 2, Juni 2019 Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Yasika Majalengka

menjadi kunci adalah mendorong motivasi kerja guru secara professional dan proforsional.

Berdasarkan hal tersebut di atas, disadari bahwa kepala sekolah melalui proses kepemimpinannya, dan guru sebagai seorang pendidik dan pengajar, akan sangat menentukan terciptanya budaya sekolah yang efektif sehingga membangkitkan motivasi kerja guru. Fenomena yang terjadi di Sekolah Menengah Atas Negeri kota Cirebon, motivasi kerja guru masih terlihat rendah, sehingga berdampak pada rendahnya kinerja guru (rendahnya pengabdian, rendahnya tanggung jawab, disiplin, kemampuan kerja, kreativitas, penguasaan kompetensi pedagogis, kompetensi sosial, kompetensi kepribadian serta rendahnya kompetensi dan sikap profesional).

Motivasi kerja dapat dijadikan kekuatan untuk mendorong seorang guru agar melakukan pekerjaannya dengan penuh semangat dan profesional. Seorang guru akan memiliki motivasi kerja yang tinggi, apabila kebutuhannya terpenuhi baik kebutuhan lahir maupun kebutuhan bathin. Dengan motivasi kerja guru yang tinggi, diharapkan para guru terdorong untuk bekerja semaksimal mungkin dalam melaksanakan tugasnya. Kenyataannya, para guru di Sekolah Menengah Atas Negeri di Kota Cirebon tidak selalu bekerja dengan motivasi yang tinggi.

Interaksi antara sesama kolega guru dilingkungan SMA Negeri kota Cirebon cenderung kurang baik. Hal ini tampak pada guru yang bekerja dengan motivasi yang rendah. Rendahnya motivasi kerja para guru di Kota Cirebon, terlihat dari kurangnya upaya mereka untuk mempersiapkan rencana pembelajaran, kurangnya kegigihan mereka untuk mendorong keberhasilan belajar siswa, kurangnya upaya mereka untuk meningkatkan kompetensi diri, seringnya mereka absen mengajar karena berbagai alasan yang terkadang kurang masuk akal. Peneliti melihat cukup banyak gejala-gejala ini pada beberapa Sekolah Menengah Atas Negeri di Kota Cirebon. Sudah tentu persoalan ini harus diatasi dengan menelusuri faktor-faktor yang mempengaruhi rendahnya motivasi kerja guru.

Agar guru memiliki motivasi yang kuat, mereka harus bekerja dalam lingkungan sekolah atau budaya organisasi yang kondusif. Budaya organisasi merupakan unsur dinamis yang ada pada tempat dimana ia bekerja. Budaya organisasi bagi guru merupakan segala sesuatu yang ada didalam organisasi sekolah, baik fisik maupun sosial. Budaya organisasi yang baik akan memberikan dorongan (motivasi) kepada

(8)

Jurnal “METABAHASA”, Volume 2 Nomor 2, Juni 2019 Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Yasika Majalengka

setiap individu yang ada, dan dalam struktur organisasi tersebut harus dapat bekerja dengan nyaman dan maksimal. Sebaliknya budaya organisasi yang kurang mendukung akan mempengaruhi motivasi kerja.

Dalam pengamatan peneliti, terhadap beberapa sekolah di SMA Negeri kota Cirebon, faktor budaya organisasi ini memang kurang kondusif secara struktural, dan sosial. Hubungan antar personal dikalangan warga sekolah, tampak kurang kondusif hal ini ditandai dengan kurangnya keselarasan, kerjasama, dan adanya kesenjangan sosial yang cukup lebar antara pengurus/ pejabat sekolah dengan para guru. Sudah barang tentu kondisi ini akan berpengaruh terhadap rendahnya motivasi kerja guru, sehingga mereka kurang terdorong bekerja secara maksimal.

Selain budaya organisasi, peran kepemimpinan kepala sekolah juga penting bagi peningkatan motivasi kerja guru. Dalam menjalankan roda kepemimpinannya, kepala sekolah perlu menggunakan strategi disamping taktik atau strategi kepemimpinan yang tepat. Strategi kepemimpinan ini, berisikan gaya dan seni untuk memperoleh dan memanfaatkan dukungan dalam melaksanakan kebijakan untuk mencapai maksud yang diinginkan, serta berisi patokan yang perlu dipegang untuk mengerjakan upaya-upaya guna mengejar pencapaian tujuan. Selain itu, kepala sekolah harus memahami setiap individu bawahannya, serta menyesuaikan dengan situasi, sifat dan kondisi yang ada agar gaya yang akan digunakan tidak mengakibatkan hal-hal yang negatif, tetapi harus dapat mendorong dan membangkitkan para guru agar bekerja lebih sungguh-sungguh sehingga tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan sebelumnya dapat tercapai.

Pengamatan peneliti, terhadap beberapa sekolah SMA Negeri yang ada di Kota Cirebon, faktor gaya kepemimpinan kepala sekolah ini perlu memperoleh perhatian yang serius. Diantara sekolah tersebut, ada terdapat kepala sekolah yang memimpin dengan gaya yang cenderung otoriter. Kebanyakan kepala sekolah ditunjuk dan diangkat oleh birokrat, sehingga mereka sering menerapkan kebijakan yang lebih pro pada kepentingan birokrat yang ada di daerah kota Cirebon ketimbang pada kepentingan para guru. Memang ada kepala sekolah dengan gaya kepemimpinan yang sesuai dengan harapan guru, akan tetapi mereka juga tidak dapat berbuat banyak karena dibawah kendali birokrat. Para guru hanya dapat pasrah menerima keadaan, yang berakibat pada rendahnya motivasi kerja guru.

(9)

Jurnal “METABAHASA”, Volume 2 Nomor 2, Juni 2019 Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Yasika Majalengka METODOLOGI

Dalam penelitian ini akan digunakan metode penelitian survey dengan pendekatan korelasi, yaitu suatu cara mengumpulkan informasi dari populasi dengan tujuan untuk menjelaskan dan menerangkan fenomena yang terjadi dengan cara meneliti hubungan antar variabel. Dalam penelitian ini variabel endogen adalah motivasi kerja guru (Y). Sedangkan variabel eksogen gaya kepemimpinan kepala sekolah (X1) dan budaya organisasi sekolah (X2). Hubungan variabel eksogen

dengan variabel endogen. Adapun populasi dalam penelitian ini adalah seluruh Guru Sekolah Menengah Atas Negeri di Kota Cirebon yang terdiri dari 9 SMA Negeri, dan setiap Sekolah Menengah Atas Negeri memiliki jumlah guru seperti tergambar pada tabel berikut ini:

Tabel

Populasi Penelitian Guru SMA Negeri di Kota Cirebon Nama Sekolah Jumlah Guru PNS

SMA N 1 62 SMA N 2 70 SMA N 3 48 SMA N 4 54 SMA N 5 47 SMA N 6 52 SMA N 7 61 SMA N 8 49 SMA N 9 43 Jumlah Total 486

Sumber: Dinas Pendidikan Kota Cirebon (Januari 2011)

Peneliti menyadari akan segala keterbatasan yang dimiliki peneliti baik dari sisi waktu dan finansial. Untuk itu peneliti melakukan Random Sampling dengan cara diundi untuk mengambil tiga sekolah dari sembilan SMA Negeri yang ada di Kota Cirebon. Berdasarkan hasil pengundian, maka diperoleh SMA Negeri 1, dengan 62 orang Guru, SMA Negeri 8 dengan 49 orang guru, dan SMA Negeri 5 dengan 47 orang guru. Dengan demikian, maka populasi terjangkau dari tiga sekolah tersebut dengan total guru sebanyak 158 orang guru PNS.

Dengan demikian, maka sampel diambil menggunakan model tabel Isaac dan Michael dengan tingkat kesalahan 5%, dari tabel tersebut maka diperoleh jumlah sampel 105 orang guru. Selanjutnya dari setiap sekolah ditetapkan jumlah sampel

(10)

Jurnal “METABAHASA”, Volume 2 Nomor 2, Juni 2019 Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Yasika Majalengka

secara proporsional Random sampling dengan rata-rata dari target populasi di ambil sampel 66%, sehingga diperoleh kerangka sampling sebagai berikut:

Tabel

Sampel Guru SMA Negeri di Kota Cirebon

No Nama Sekolah Populasi

Target Jumlah Sampel 2 SMA Negeri 1 62 40 4 SMA Negeri 5 47 32 6 SMA Negeri 8 49 33 Jumlah Total 158 105

Table berdasarkan table Isaac dan Michael, Pada tarap kesalahan 5% HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Uji Normalitas Galat Taksiran Y atas X1

Uji normalitas galat taksiran regresi Y atas X1 : Y-Ŷ, dari persamaan regresi

Ŷ = 24,941+0,718 X1 adapun ketentuan pengujian adalah :

a. Jika Lo< Lt maka sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal

b. Jika Lo> Lt maka sampel berasal dari populasi yang berdistribusi tidak

normal.

Selanjutnya nilai Lt diperoleh dari tabel Liliefors dengan ketentuan

n Lt 0,886

untuk mempermudah perhitungan, maka pelaksanaan uji normalitas galat taksiran dengan persamaan regresi Ŷ = 24,941+0,718 X1, dilakukan dengan

bantuan program Exel.

Tabel Galat Taksiran Y atas X1

Peramaan Regresi Jml Galat Std. Deviasi Lh Lt Ket. Ŷ = 24,941+0,718 X1 0,839 14,435 0,02 96 0,086 5 Normal

Dari perhitungan yang tertera pada tabel di atas diperoleh Lhitung = 0,0296

Sedangkan nilai 0,0865 105 886 , 0 :Lt  

Karena Lhitung = 0,0296< Ltabel = 0,0865

(11)

Jurnal “METABAHASA”, Volume 2 Nomor 2, Juni 2019 Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Yasika Majalengka 2. Uji Normalitas Galat Taksiran Y atas X2

Uji normalitas galat taksiran regresi Y atas X2 : Y-Ŷ, dari persamaan regresi

dengan persamaan regresi Ŷ= 31,308+0,683X2

Tabel Galat Taksiran Y atas X2

Peramaan Regresi Jml Galat Std. Deviasi Lh Lt Ket. Ŷ= 31,308+0,683X2 3,882 14,118 0,05 63 0,08 65 Normal

Dari perhitungan yang tertera pada tabel di atas diperoleh Lhitung = 0,0563

Sedangkan nilai 0,0865 105 886 , 0 :Lt  

Karena Lhitung = 0,0563 < Ltabel = 0,0865

Maka disimpulkan bahwa varians data X2 atas Y adalah normal.

3. Uji Hipotesis Linieritas Regresi

a. Uji Hipotesis (regresi dan korelasi sederhana X1 dengan Y)

Dari hasil perhitungan regresi sederhana dan korelasi sederhana untuk variabel motivasi kerja guru (Y) atas gaya kepemimpinan kepala sekolah (X1)

diperoleh persamaan regresi Ŷ = 24,931+0,718 X1. Uji signifikansi dan

linearitas persamaan regresi dapat dilihat pada tabel berikut ini:

Tabel Pengujian Signifikansi dan Linearitas Regresi X1 dengan Y

Sumber Varians db JK RJK FHitung FTabel 0.05 0.01 Total 105 1007684 - - - - Regresi (a) 1 971139,1 - - - - Regresi (b) 1 14875,95 14875,95 70,710** 3,94 6,90 Sisa 103 21668.96 210,3783 Tuna Cocok 47 -1722,73 -36.6537 -0,099ns 1,59 1,94 Galat 63 23391,69 371,2966 Keterangan :

** = Regresi sangat signifikan karena F

hitung = 70,710 > Ftabel α = 0,01 = 6,90 ns = Regresi linear karena F

hitung = -0,099 < Ftabel α = 0,05 = 1,59

dk = Derajat kebebasan JK = Jumlah kuadrat

(12)

Jurnal “METABAHASA”, Volume 2 Nomor 2, Juni 2019 Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Yasika Majalengka

Perhitungan regresi Y dengan X1 pada tabel di atas menunjukan bahwa

persamaan regresi Ŷ= 19,252+0,833 X1 sangat signifikan, karena Fhitung = 70,710 >

Ftabel = 6,90 dan linear karena Fhitung = -0,099 < Ftabel α = 0,05 = 1,59. Dengan

demikian, maka persamaan regresi Ŷ= 24,931+0,718X1 dapat dipertanggung

jawabkan untuk menarik kesimpulan mengenai hubungan positif antara gaya kepemimpinan kepala sekolah dengan motivasi kerja guru adalah langsung dan signifikan. Dari persamaan tersebut dapat diartikan bahwa peningkatan satu skor gaya kepemimpinan kepala sekolah akan menyebabkan peningkatan sebesar 0,718 skor motivasi kerja guru pada konstanta 24,931. Artinya semakin baik gaya kepemimpinan kepala sekolah, maka motivasi kerja guru akan semakin baik pula. Dari hasil pengujian hipotesis menyatakan terdapat hubungan positif antara gaya kepemimpinan kepala sekolah dengan motivasi kerja guru Sekolah Menengah Atas Negeri di Kota Cirebon. Artinya bahwa gaya kepemimpinan kepala sekolah berperan besar dalam meningkatkan motivasi kerja guru Sekolah Menengah Atas Negeri di Kota Cirebon.

Grafik hubungan positif antara gaya kepemimpinan kepala sekolah dengan motivasi kerja guru melalui persamaan regresi : Ŷ=24,931+0,718X1dapat

digambarkan sebagai berikut :

Gambar 4.5. Grafik Persamaan Regresi Ŷ = 24,931+0,718X1

Ŷ= 24,931+0,718X1

X1

(13)

Jurnal “METABAHASA”, Volume 2 Nomor 2, Juni 2019 Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Yasika Majalengka

Kekuatan hubungan positif gaya kepemimpinan kepala sekolah (X1) dengan

motivasi kerja guru ditunjukkan oleh koefisien korelasi product moment ry1= 0,638

Uji signifikan koefisien dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel

Uji Signifikansi Koefisien Korelasi Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah (X1)

Dengan Motivasi Kerja Guru (Ŷ)

Variabel n r y1 1.1.1.1 r 2 y1 1.1.1.2 d k 1.1.1.3 t hitung t tabel = 0,05 t tabel = 0,01 X1 dengan Y 105 0,638 0,407 103 8,647** 1,645 2,360 Keterangan :

** = Koefisien korelasi sangat signifikan (t hitung = 21,048 > t tabel =2,360)

Y = Motivasi Kerja Guru

X1 = Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah

n = Jumlah sampel ry1 = Koefisien korelasi

ry21 = Koefisien determinasi

dk = Derajat kebebasan

Berdasarkan uji signifikansi koefisien korelasi tersebut dapat disimpulkan bahwa koefisien korelasi antara gaya kepemimpinan kepala sekolah (X1) dengan

motivasi kerja guru (Ŷ) diperoleh ry1 = 0,638 adalah sangat signifikan. Sehingga

dengan demikian terdapat hubungan positif antara gaya kepemimpinan kepala sekolah (X1) dengan motivasi kerja guru (Ŷ) atau dengan kata lain semakin baik

gaya kepemimpinan kepala sekolah (X1), maka semakin baik pula motivasi kerja

guru Sekolah Menengah Atas Negeri di Kota Cirebon, sehingga hipotesis tersebut dapat diterima karena teruji kebenarannya.

Koefisien determinasi adalah kuadrat dari koefisien korelasi gaya kepemimpinan kepala sekolah (X1) dengan motivasi kerja guru (Ŷ) yaitu sebesar

0,407 atau 40,7% artinya kenaikan dan penurunan motivasi kerja guru ditentukan oleh kecakapan gaya kepemimpinan kepala sekolah.

b. Uji Hipotesis (regresi dan korelasi linear sederhana X2 dengan Y)

Dari hasil perhitungan analisis regresi sederhana untuk variabel motivasi kerja guru (Ŷ) dengan budaya organisasi (X2) diperoleh persamaan regresi Ŷ =

31,308+0,683X2 Uji signifikansi dan linearitas persamaan regresi tersebut dapat

(14)

Jurnal “METABAHASA”, Volume 2 Nomor 2, Juni 2019 Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Yasika Majalengka

Tabel Pengujian Signifikansi dan Linearitas Regresi Ŷ = 31,308+0,683X2

Sumber Varians db JK RJK FHitung

FTabel 0.05 0.01 Total 105 1007684 - - - - Regresi (a) 1 971139,1 - - - - Regresi (b) 1 15815,43 15815,43 78,583 ** 3,94 6,90 Sisa 103 20729,49 201,2571 Tuna Cocok 51 6521,769 127,8778 0,468 n s 1,59 1,94 Galat 52 14207,72 273,2253 Keterangan :

** = Regresi sangat signifikan karena F

hitung = 78,583 Ftabel α = 0,01 = 6,90 ns = Regresi linear karena F

hitung = 0,468 < Ftabel α = 0,05 = 1,59

dk = Derajat kebebasan JK = Jumlah kuadrat

RJK= Rata-rata jumlah kuadrat.

Perhitungan regresi antara Y dengan X2 pada tabel di atas menunjukkan

bahwa persamaan regresi Ŷ = 31,308+0,683X2 sangat signifikan karena Fhitung =

78,583 > Ftabel α = 0,01 = 6,90 dan sangat linear karena Fhitung = 0,468 < Ftabel α = 0,05 =

1,59. Dengan demikian persamaan regresi Ŷ=31,308+0,683X2 dapat dipertanggung

jawabkan. Untuk menarik kesimpulan mengenai hubungan positif antara budaya organisasi (X2) dengan motivasi kerja guru (Ŷ) adalah langsung dan signifikan. Dari

persamaan tersebut dapat diartikan bahwa peningkatan satu skor budaya organisasi menyebabkan peningkatan sebesar 0,683 skor Motivasi kerja guru pada konstanta 31,308.

Artinya semakin baik budaya organisasi Sekolah Menengah Atas Negeri di Kota Cirebon, maka motivasi kerja guru pun akan meningkat. Dari hasil hipotesis menyatakan bahwa terdapat hubungan positif antara budaya organisasi dengan motivasi kerja guru. Hal ini berarti bahwa budaya organisasi berperan besar dalam meningkatkan motivasi kerja guru di Sekolah Menengah Atas Negeri di Kota Cirebon.

(15)

Jurnal “METABAHASA”, Volume 2 Nomor 2, Juni 2019 Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Yasika Majalengka

Grafik hubungan positif antara budaya organisasi dengan motivasi kerja guru melalui persamaan regresiŶ = 31,308+0,683X2, dapat digambarkan dalam

bentuk model grafik berikut :

Gambar Grafik Persamaan Regresi Ŷ= 31,308+0,683X2

Kekuatan hubungan positif budaya kerja guru dengan Motivasi kerja guru ditunjukkan oleh koefisien korelasi product moment ry2 = 0,658. Uji signifikan

koefisien dapat dilihat pada tabel berikut ini:

Tabel Uji Signifikansi Koefisien Korelasi antara Budaya Organisasi (X2)Dengan

Motivasi Kerja Guru (Ŷ)

Variabel n ry2 1.1.1.4 r 2 y2 1.1.1.5 d k 1.1.1.6 t hitung t tabel = 0,05 t tabel = 0,01 X2 dengan Ŷ 105 0,658 0,433 103 8,647** 1,645 2,360 Keterangan :

** = Koefisien korelasi sangat signifikan (t hitung= 8,647 > t tabel = 2,360)

Y = Motivasi kerja guru X2 = Budaya organisasi n = Jumlah sampel ry2 = Koefisien korelasi ry22 = Koefisien determinasi dk = Derajat kebebasan. Ŷ= 31,308+0,683X2 X2 Y

(16)

Jurnal “METABAHASA”, Volume 2 Nomor 2, Juni 2019 Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Yasika Majalengka

Berdasarkan uji signifikansi koefisien korelasi tersebut dapat disimpulkan bahwa koefisien korelasi antara budaya organisasi (X2) dengan motivasi kerja guru

(Ŷ) sebesar 0,658 adalah signifikan. Sehingga dengan demikian terdapat hubungan positif dan signifikan antara budaya organisasi (X2) dengan motivasi kerja guru (Ŷ),

dengan kata lain semakin baik budaya organisasi (X2) semakin baik pula motivasi

kerja guru, maka hipotesis dapat diterima karena teruji kebenarannya. Koefisien determinasi adalah kuadrat dari koefisien korelasi budaya organisasi (X2) dengan

motivasi kerja guru (Ŷ) yaitu sebesar 0,433 atau 43,3% artinya kenaikkan dan penurunan motivasi kerja guru ditentukan oleh baik tidaknya budaya organisasi.

c. Uji Hipotesis regresi dan korelasi linear ganda X1,X2 dengan Ŷ

Dari hasil perhitungan analisis regresi ganda antara gaya kepemimpinan kepala sekolah (X1) dan budaya organisasi (X2) secara bersama-sama dengan

variabel motivasi kerja guru (Ŷ), dengan persamaan regresi 𝑌̂=a1b1X1+b2X2. Uji

signifikansi dan linearitas persamaan regresi ganda dapat dilihat dibawah ini. ∑ 𝐱𝟏𝐲 = 𝐛𝟏∑ 𝐱𝟏𝟐+ 𝐛 𝟐∑ 𝐱𝟏𝐱𝟐 ∑ 𝐱𝟐𝐲 = 𝐛𝟏∑ 𝐱𝟏𝐱𝟐+ 𝐛𝟐∑ 𝐱𝟐𝟐} diperoleh { 𝑏1 = 0,395 𝑏2 = 0,431 1) = Y̅ − b1X̅1− b2X̅2 = 96,171 − 0,395(99,210) + 0,431 (94,914) = 16,040

Jadi persamaan regresi ganda : Y

̂ = 16,040 + 0,395 X1+ 0,431 X2.

Tabel Pengujian Signifikansi dan Linearitas Regresi Ŷ = 16,040 + 0,395X1+

0,431X2

Sumber Varians db JK RJK FHitung

FTabel 0.05 0.01 Total 105 1007684 - - - - Regresi (a) 1 88,08518 - - - - Regresi (b) 2 18165,89 9082,945 50,409** 3,09 4,83 Sisa 102 18379,02 180,1865 Keterangan :

** = Regresi sangat signifikan karena F

hitung=50,409 > Ftabel α = 0,01 = 4,83

dk = Derajat kebebasan JK = Jumlah kuadrat

(17)

Jurnal “METABAHASA”, Volume 2 Nomor 2, Juni 2019 Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Yasika Majalengka

Perhitungan regresi X1 dan X2 secara besama-sama dengan Ŷ pada tabel

4.18 menunjukkan bahwa persamaan regresi sangatsignifikan karena Fhitung =

50,409 > Ftabel α = 0,01 = 4,83. Dengan demikian, maka persamaan regresi Ŷ =

16,040 + 0,395 X1+ 0,431 X2 dapat dipertanggungjawabkan untuk menarik kesimpulan bahwa terdapat hubungan positif dan signifikan antara gaya kepemimpinan kepala sekolah (X1) dan budaya organisasi (X2) secara

bersama-sama dengan motivasi kerja guru (Ŷ) di Sekolah Menengah Atas Negeri di Kota Cirebon. Dari persamaan tersebut di atas, maka dapat diartikan bahwa peningkatan satu skor gaya kepemimpinan kepala sekolah dan budaya organisasi menyebabkan meningkatnya motivasi kerja guru sebesar 0,395 dan 0,431 pada konstanta 16,040.

Kekuatan hubungan positif gaya kepemimpinan kepala sekolah dengan budaya organisasi ditunjukkan oleh koefisien korelasi Ry.12 = 0,638. Uji signifikan

koefisien dapat dilihat pada tabel berikut ini :

Tabel Uji Signifikansi Koefisien Korelasi Ganda

Variabel n Ry.12 1.1.1.7 R 2 y.12 1.1.1.8 d k 1.1.1.9 F hitung F tabel = 0,05 Ftabel = 0,01 X1,X2 dengan Y 105 0,705 0,497 137 50,409** 3,09 4,83 Keterangan :

** = Koefisien korelasi ganda sangat signifikan (F hitung= 220,529 > F tabel =

4,765)

X1 = Gaya kepemimpinan kepala sekolah

X2 = Budaya organisasi

n = Jumlah sampel

Ry.12 = Koefisien korelasi ganda

Ry.212= Koefisien determinasi

dk = Derajat kebebasan.

Berdasarkan uji signifikansi koefisien korelasi tersebut di atas, maka dapat disimpulkan bahwa koefisien korelasi gaya kepemimpinan kepala sekolah (X1) dan

budaya organisasi (X2) secara bersama-sama dengan motivasi kerja guru (Ŷ)

sebesar 0,705 adalah signifikan. Sehingga dengan demikian terdapat hubungan positif (signifikan) gaya kepemimpinan kepala sekolah (X1) dan budaya organisasi

(18)

Jurnal “METABAHASA”, Volume 2 Nomor 2, Juni 2019 Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Yasika Majalengka

kepemimpinan kepala sekolah dan budaya organisasi, maka akan semakin baik pula motivasi kerja guru (Ŷ) di Sekolah Menengah Atas Negeri di Kota Cirebon, sehingga hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini dapat diterima karena teruji kebenarannya.

Koefisien determinasi adalah kuadrat dari koefisien korelasi gaya kepemimpinan kepala sekolah (X1) dan budaya organisasi (X2) secara

bersama-sama dengan motivasi kerja guru (Ŷ) yaitu sebesar 0,497 dari koefisien korelasi 0,705 atau dengan kata lain 49,7% gaya kepemimpinan kepala sekolah dan budaya organisasi secara bersama-sama mempengaruhi baik tidaknya motivasi kerja guru Sekolah Menengah Atas Negeri di Kota Cirebon, sedangkan sisanya 50,3 % dipengaruhi variabel lain. Untuk memberikan gambaran yang lebih jelas terhadap hasil pengujian ketiga hipotesis yang diajukan, dibawah ini divisualisasikan rangkuman hasil pengujian hipotesis penelitian sebagai berikut:

Gambar Rangkuman Pengujian Hipotesis Penelitian. SIMPULAN

Dari hasil analisis dan deskripsi data penelitian pada bab IV, maka dengan ini peneliti dapat mengambil simpulan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara gaya kepemimpinan kepala sekolah (Xl) dengan motivasi kerja guru (Ŷ) di Sekolah

Menengah Atas Negeri Kota Cirebon, hal ini dilihat berdasarkan pengujian statistik korelasi dimana didapatkan nilai signifikansi (Sig.) untuk uji pearson adalah 0,000. Jika dibandingkan, maka nilainya akan lebih kecil dari 0,05. Ini berarti hipotesis Ha diterima, dan Ho ditolak. Selain nilai korelasi, hasil pengolahan data didapatkan juga nilai koefesien korelasi rhitung = 0,638 yang berarti memiliki hubungan yang kuat.

(3) (0,705) (2) (0,658) (1) (0,638) X2 (Budaya Organisasi) ρ (40,7%) ρ (49,7%) X1 (Gaya Kepemimpinan) Ŷ

(Motivasi Kerja Guru)

(19)

Jurnal “METABAHASA”, Volume 2 Nomor 2, Juni 2019 Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Yasika Majalengka

Dengan demikian, semakin baik Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah, maka akan semakin baik pula Motivasi Kerja Guru di Sekolah Menengah Atas Negeri Kota Cirebon.

Terdapat hubungan yang signifikan antara Budaya Organisasi (X2) dengan

Motivasi Kerja Guru (Ŷ) di Sekolah Menengah Atas Negeri Kota Cirebon, hal ini dilihat berdasarkan pengujian statistik korelasi dimana didapatkan nilai signifikansi (Sig.) untuk uji pearson adalah 0,000. Jika dibandingkan, maka nilainya akan lebih kecil dari 0,05. Ini beranti hipotesis Ha diterima, dan Ho ditolak. Selain nilai korelasi, hasil pengolahan data didapatkan juga nilai koefesien korelasi rhitung = 0,658 yang

berarti memiliki hubungan yang kuat. Dengan demikian, maka penulis dapat menyimpulkan bahwa semakin baik Budaya Organisasi di Sekolah Menengah Atas Negeri Kota Cirebon, maka akan semakin baik pula Motivasi Kerja Gurunya.

Terdapat hubungan yang signifikan antara Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah dan budaya Organisasi secara bersama-sama dengan Motivasi Kerja Guru di Sekolah Menengah Atas Negeri Kota Cirebon, hal ini dapat dilihat berdasarkan pengujian statistik korelasi dimana didapatkan nilai signifikansi (Sig.) untuk uji

pearson adalah 0,000. Jika dibandingkan, maka nilainya akan lebih kecil dari 0,05,

ini berarti hipotesis Ha diterima dan, Ho ditolak. Selain nilai korelasi, dari pengolahan data didapatkan juga nilai koefesien korelasi rhitung, Gaya Kepemimpinan = 0,638 dan

rhitung Budaya Organisasi = 0,658, yang berarti memiliki hubungan yang kuat.

Dengan demikian, penulis dapat menyimpulkan bahwa secara bersama-sama bahwa semakin baik Gaya Kepemimpinan dan Budaya Organisasi, maka akan mampu meningkatkan Motivasi Kerja Guru di Sekolah Menengah Atas Negeri Kota Cirebon.

DAFTAR PUSTAKA

Akdon dan Riduwan. 2006. Rumus dan Data dalam Analisis Statistika. Bandung: Alfabeta.

Arikunto, Suharsimi. 2003. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: PT Rineka Cipta.

_____2002. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.

Aqib, Zainal. 2002. Profesionalisme Guru dalam Pembelajaran. Surabaya: Insan Cendekia.

ASEAN Development Educational Project. 1986. The ASEAN Model for Training

Design and Evaluation, Vocational & Industrial Trainning Board. Singapore.

(20)

Jurnal “METABAHASA”, Volume 2 Nomor 2, Juni 2019 Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Yasika Majalengka

Castetter, William, A. 1996. The Personnel Function in Educational

Administration. New York: MacMillan Publishing Co.

Craig, Robert, L. 1981. Training Development Handbook A Guide to Human

Resouce Development. New York: Second Edition. McGraw-Hill. Book

Campany.

Cushway, Barry. 2002. Human Resource Management, terjemahan Rahadjeng Jakarta: PT. Elex Media Komputindo.

Danim, Sudarman. 2002. Inovasi Pendidikan. Bandung: Pustaka Setia.

Depdiknas. 2003. Petunjuk Pelaksanaan Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta: CV Eka Jaya.

_____2003. Undang-undang tentang Sistem Pendidikan Nasional no 20 tahun. Jakarta: CV Tamita Utama.

_____2004. Pengembangan Lembaga dan Profesionalisme Guru. Bandung: PPPG IPA.

Dharma, Surya. 2002. Paradigma Baru: Manajemen Sumber daya Manusia. Yogyakarta: Amara Books.

Dharma, Agus. 2003. Perencanaan Pelatihan Pusdiklat Pegawai. Jakarta: Depdikbud.

Engkoswara. 1987. Dasar-dasar Administrasi Pendidikan. Jakarta: Depdikbud. _____2002. Lembaga Pendidikan sebagai Pusat Pembudayaan. Bandung:

Yayasan Amal Keluarga.

Fattah, Nanang. 2003. Konsep Manajemen Berbasis Sekolah MBS dan Dewan

Sekolah. Bandung: Pustaka Bani Quraisy.

Fakry, Emmy dan Rosmiati, Tati. 2003. “Kepemimpinan Pendidikan“, dalam Tim Dosen Administrasi Pendidikan 2003. Pengantar Pengelolaan Pendidikan. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia.

Gaffar Fakry, M. 1987. “Perencanaan Pendidikan: Teori dan Metodologi. Jakarta: PPLPTK Depdikbud.

Gibson, Ivancevich dan Donnelly. 2005 Organisasi dan Manajemen: Prilaku Struktur. Jakarta: Terjemahan edisi keempat. Erlangga.

Hamalik, Oemar. 2003. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara. Handoko, H.T. 2003. Manajemen 2ed. Yogyakarta: BPFE.

Hasibuan. M.S.P. 2002. Manajemen Sumber-daya Manusia. Jakarta: Bumi Aksara.

Hoy, K. Wayne dan Miskel, G. Cecil. 2001. Educational Administration. New York: Mc Graw Hill.

Kartono, Kartini. 2003. Pimpinan dan Kepemimpinan. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Makmun, Abin Syamsuddin. 2001. “Pengembangan dan Kinerja Tenaga

Kependidikan Pedoman dan Intisari Perkuliahan. Bandung: PPS IKIP

Bandung.

Miller, L.M. 1987. Manajemen Era Baru: Beberapa Pandangan Mengenai Budaya

Perusahaan Modern. Jakarta: Terjemahan, Erlangga.

Mulyasa. E. 2003. Menjadi Kepala Sekolah Profesional dalam Konteks

Menyukseskan MBS dan KBK. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Nawawi. Handari. 2003. Administrasi Pendidikan. Jakarta: CV. Haji Masagung. Nasir, Moh. 2003. Metode Penelitian. Jakarta: Ghalia Indonesia.

Notoatmodjo, Soekidjo. 2002. Pengembangan Sumber-daya Manusia. Jakarta: Renike Cipta.

(21)

Jurnal “METABAHASA”, Volume 2 Nomor 2, Juni 2019 Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Yasika Majalengka

Nurdin, Syafruddin. 2005. Guru Profesional dan Implementasi Kurikulum. Ciputat: Quantum Teaching.

Paul Hersey dan Ken Blanchard. 1995. Manajemen Perilaku Organisasi:

Pendayagunaan Sumber-daya Manusia. Jakarta: Erlangga, Penerjemah

Agus Dharma. Edisi ke-4.

Pudjosumedi As. 2010. Organisasi dan Kepemimpinan, Jakarta: Uhamka Press Rahman, dkk. 2005. Peran Strategis Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Mutu

Pendidikan. Bandung: Al-qaprint Jatinangor.

Robbins, P, Stephen. 2002. Perilaku Organisasi jilid 2. Jakarta: Prenhallindo. _____2001. Perilaku Organisasi jilid 1. Jakarta: Prenhallindo.

Riduwan. 2007. Pengantar Statistika untuk Penelitian: Pendidikan Sosial, Ekonomi, Komunikasi dan Bisinis. Bandung: CV Alfabeta.

_____2006. Dasar-dasar Statistika. Alfabeta. Bandung.

Riduwan dan Kuncoro E.A. 2006. Cara Menggunakan dan Memaknai Analisis

Jalur / Path Analysis. Alfabeta. Bandung.

_____2005. Skala Pengukuran Variabel-variabel Penelitian. Bandung: CV Alfabeta.

Sallis & Edward. 1994. Total Quality Minagement in Education. London: Kogan Page Limited

Sanusi, Achmad. 1991. Studi Pengembangan Model: Pendidikan Profesional

Tenaga Kependidikan. Bandung: IKIP Bandung.

Schuler, S, Randall. 1987. Personnel and Human Resource Management Third

Edition. New Yok: West Publishing Company.

Schuler, S, Randall. dan Jackson, E, Susan. 1999. Management Sumber daya

Manusia: Menghadapi Abad ke-21 Jilid 1. Jakarta : Erlangga.

Senge, Piter, M. 1996. Disiplin Kelima. Seni dan Praktik dari Organisasi

Pembelajar. Jakarta: Binarupa.

Siagian, P, Sondang. 2003. Managemen Sumber daya Manusia. Jakarta: Bumi Aksara.

Singarimbun, Masri dan Effendi. 2003. “Metode Penelitian Survai” Jakarta: LP3ES.

Soetjipto dan Kosasi, Raflis. 2000. Profesi Keguruan. Jakarta: Renika Cipta.

Soetopo, Hendiyat dan Soemanto,Wasty. 1988. Kepemimpinan dan Supervisi

Pendidikan. Jakarta: Bina Aksara.

Sugiyono. 2005. Metode Penelitian Administrasi. Bandung: CV Alfabeta. _____2004. Statistika untuk Penelitan. Bandung: CV Alfabeta.

_____2008. Metode Penelitian Pendidikan; pendekatan Kuantitatif, kualitatif, dan R&D. Bandung. CV Alfabeta

Sudjana. 2004. Metode Statistika. Bandung: Tarsito.

Sukardi. 2003. Metodologi Penelitian Pendidikan Kompetensi dan Praktiknya. Jakarta: Bumi Aksara.

Supriadi, Dedi. 1999. Mengangkat Citra dan Martabat Guru. Yogyakarta. Adicita Karya Nusa.

Supriadi, Dedi dan Jalal, Fasli Editor. 2001. Reformasi Pendidikan dalam Konteks

Otonomi Daerah. Yogyakarta: Adicita Karya Nusa.

Suryobroto, B. 2002. Proses Belajar Mengajar di Sekolah. Jakarta: Renika Cipta. Sutermeister, Robert A. 1976. People and Productivity, New York: McGraw-Hill

(22)

Jurnal “METABAHASA”, Volume 2 Nomor 2, Juni 2019 Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Yasika Majalengka

Sutisna, Oteng. 1989. Administrasi Pendidikan: Dasar Teoretis untuk Praktik

Profesional. Bandung: IKIP Bandung.

Thoha, Miftah. 1998. Perilaku Organisasi. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Tilaar, H, A, R. 2002. Pendidikan untuk Indonesia Baru. Jakarta: Gramedia Widia Sarana Indonesia.

Timpe, A, Dale. 2000. Seri Manajemen Sumber daya Manusia Kepemimpinan. Jakarta: PT. Gramedia Asri Media.

Umaedi. 2000. Manajemen Peningkatan Mutu Pendidikan Berbasis Sekolah. Jakarta: Dirjen Dikdasmen.

Wahjosumidjo. 2002. Kepemimpinan Kepala Sekolah. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Werther, W.B. & I.K. Pavies. 1982. Human Resources & Personnel Management

5th ed. McGraw-Hill International Ed.

Winardi. 2005. Motivasi dan Pemotivasian Dalam Manajemen. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Gambar

Table berdasarkan table Isaac dan Michael, Pada tarap kesalahan 5%
Tabel Pengujian Signifikansi dan Linearitas Regresi X 1  dengan Y
Tabel Pengujian Signifikansi dan Linearitas Regresi Ŷ = 31,308+0,683X 2
Tabel Uji Signifikansi Koefisien Korelasi antara Budaya Organisasi (X 2 )Dengan  Motivasi Kerja Guru (Ŷ)
+4

Referensi

Dokumen terkait

[r]

Pengertian akad dalam arti khusus yang dikemukakan ulama fiqh yaitu: Perikatan yang ditetapkan dengan ijab qabul berdasarkan ketentuan syara’ yang berdampak pada

Penelitian ini merupakan penelitian ( library research ) atau kajian pustaka yang mengumpulkan data dari literatur dan sumber- sumber lain yang mendukung dan mempunyai

Ilmu merupakan bagian dari ilmu pengetahuan, tidak bebas dari nilai kebenaran, kegunaan dan manfaatnya sesuai dengan visi dan orientasinya, cepat atau lambat ilmu akan

Perempuan Gampong Blang Krueng ikut terlibat dalam perencanaan pengelolaan BUMG, salah satunya dapat kita lihat dari unit usaha yang dikembangkan seperti unit usaha

Tabel tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar jamaah haji di Kabupaten Jepara merasakan sangat puas terhadap pelayanan KBH, terutama dalam pelayanan bimbingan manasik di tanah

The concept has inspired our experiment to find out the optimum level of dietary energy and protein for new improved breeds of native chicken (KUB, SenSi, and

Fasilitas yang digunakan merawat pasien yang harus di rawat lebih dari 24 jam (pasien menginap di rumah sakit).Pengklasifikasian ruangan pada instalasi rawat inap