_________________________________________________________________________________________
1 Mahasiswa Akuntansi, Program S1, Jurusan Akuntansi, Universitas Bung Hatta Padang 2 Dosen Tetap, Jurusan Akuntansi, Universitas Bung Hatta Padang
3 Dosen Tetap, Jurusan Akuntansi, Universitas Bung Hatta Padang
ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI
UNDERPRICING DALAM INITIAL PUBLIC OFFERING (IPO)
PADA PERUSAHAAN YANG TERDAFTAR
DI BURSA EFEK INDONESIA (BEI)
PERIODE 2009-2013
Tania Octavianty1, Herawati2, Ethika3
Jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi, Universitas Bung Hatta Email : [email protected]
Abstract
This study aimed to analyze the factors that may affect underpricing, which is the size, underwriters, offer, total assets, and insiders. The samples in this study using purposive sampling method that produces a sample of 67 companies that conduct an initial public offering (IPO) 2009-2013. The results showed that partially variable size and underwriters significant effect on the level of underpricing, while offer, total assets and insiders does not significantly influence the level of underpricing. The results showed that simultaneously size, underwriters, offer, total assets and Insiders of simultaneously can be used to analyze the level underpricing in the IPO.
Keywords: Underpricing, Size, Underwriters, Offer, Total Asets, Insiders
Pendahuluan
Dengan semakin berkembangnya perekonomian maka perusahaan akan semakin membutuhkan dana untuk membiayai segala kebutuhan perusahaan. Ada dua cara pembiayaan tersebut yaitu perolehan melalui hutang dan peningkatan modal. Pembiayaan melalui hutang bisa diperoleh dengan cara melakukan pinjaman dengan pihak ketiga, misalnya pinjaman dari bank, atau penerbitan notes payable atau bond payable (obligasi). Dengan cara pembiayaan ini perusahaan dapat berinvestasi dengan keterbatasan ekuitas, namun sering kali hutang membebani perusahaan, dikarnakan nilai
debt to equty ratio (DER) yang terlalu besar, lalu yang menjadi pertimbangan selanjutnya adalah mambayar bunga dan angsuran pinjaman yang harus dibayar oleh perusahaan. Peningkatan modal tersebut dapat dilakukan dengan cara penerbitan saham baru untuk dijual kemasyarakat, dalam melakukan penjualannya harga ditentukan oleh emiten dan underwriter. Investor yang ingin membeli, sudah mengetahui harga yang ditawarkan, dan mereka bisa memesan melalui perusahaan sekuritas atau broker. (Sulistiawan dan Arni, 2004)
Jika harga saham pada saat IPO pada awal pembukaan lebih rendah
2 dibandingkan dengan harga penutupan
pada hari pertama di pasar sekunder, maka akan terjadi fenomena underpricing, yang dimana harga rendah pada saat penawaran dipasar perdana. Perusahaan yang melakukan IPO sering mengalami fenomena underpricing. Sebaliknya, apabila harga saat pembukaan IPO lebih tinggi dibandingkan dengan harga saham pada saat penutupan pada hari pertama di pasar sekunder, maka fenomena ini disebut overpricing. (Kristiantari, 2012).
Pada tahun 2013 ada 31 perusahaan yang melakukan IPO, dari perusahaan yang IPO tersebut ada yang mengalami underpricing, ada Sekitar 27 perusahaan yang mengalami underpricing pada saat IPO atau sekitar 77,4% dari penawaran yang dilakukan pada saat IPO. Sedangkan 7 perusahaan atau sekitar 22,6% perusahaan tidak mengalami underpricing, dikarenakan harga pembukaan pada saat IPO lebih tinggi dari pada harga penutupan di pasar sekunder. (www.idx.co.id)
Menurut Hasan dan Waisman (2010) ukuran penawaran dapat menggambarkan jumlah dari penawaran pada saat IPO. Perusahaan yang melakukan penawaran dengan ukuran yang besar akan lebih mempermudah underwriter dalam memperkenalkan perusahaan ke publik, karena ukuran
penawaran yang tinggi akan menurunkan tingkat underpricing. Pada penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Hasan dan Waisman (2010), Junaeni dan Agustian (2013), menunjukan hasil bahwa ukuran penawaran berpengaruh signifikan terhadap underpricing IPO.
Underwriter sebagai penjamin emisi memiliki fungsi yang sangat membantu perusahaan dalam melakukan penawaran saham perdananya di bursa efek. Menurut Tambunan (2013) Proses penawaran saham tersebut sangat membutuhkan underwriter untuk menentukan harga penawaran saham pada saat IPO. Pihak calon emiten tentu berharap sahamnya dapat dijual dengan harga setinggi mungkin, sedangkan underwriter berkeinginan saham dapat terserap oleh investor publik. Tetapi dengan adanya asimetri informasi antara calon emiten dan underwriter, dikarnakan informasi lebih yang didapat underwriter mengenai bursa efek, akan menyebabkan underpricing. Jadi underwriter hanya berani mematok harga rendah dibandingkan nilai wajarnya guna untuk mengurangi pembelian saham yang tidak laku terjual. Alasannya, apabila seluruh saham tidak laku terjual, underwriter akan membeli saham tersebut karena adanya penjaminan full commitment yang
3 mewajibkan underwriter membeli sisa
saham yang tidak laku terjual. Untuk itu, pihak underwriter akan berusaha menekan harga semurah mungkin, meskipun tidak selamanya demikian, karena semakin tinggi dana yang berhasil didapat, semakin tinggi pula underwriting fee. Tambunan (2013) pada penelitian sebelumnya yang pernah dilakukan oleh Kristiantari (2013), Junaeni dan Agustian (2013), Johnson (2010), Triani dan Nikmah (2006), menunjukan bahwa reputasi underwriter memiliki pengaruh yang signifikan terhadap underpricing IPO. Sedangkan penelitian dari Irawati (2009), Yolana dan Martani (2005) menunjukan bahwa reputasi underwriter tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap underpricing IPO.
Menurut Wulandari dan Haryanto (2011), apabila semakin besar persentase saham yang ditawarkan kepada masyarakat maka tingkat ketidakpastiannya akan semakin kecil, dan pada akhirnya akan menurunkan tingkat underpricing juga. Triani dan Nikmah (2006) dalam penelitiannya mengemukakan bahwa persentase saham yang yang ditawarkan memiliki pengaruh yang negatif signifikan terhadap initial return. Dikarnakan semakin tinggi persentase saham yang ditawarkan, akan menyebabkan semakin
rendahnya kemungkinan akan terjadi underpricing. Penelitian yang dilakukan oleh Wulandari dan Haryanto (2011), Hasan dan Waisman (2010) menunjukan hasil bahwa persentase saham yang ditawarkan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap underpricing IPO. Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Triani dan Nikmah (2006) menunjukan hasil sebaliknya yaitu persentase saham yang ditawarkan tidak berpengaruh signifikan terhadap underpricing IPO.
Perusahaan pada saat go public juga dapat dilihat dari total aset yang dimiliki perusahaan sebelum melakukan IPO, perusahaan dengan total aset yang besar tentu saja akan lebih menyakinkan investor untuk menanamkan modalnya pada perusahaan tersebut. Menurut Hasan dan Waisman (2010) perusahaan yang memiliki total aset sedikit sebelum melakukan IPO akan berpengaruh terhadap kinerja perusahaan dimasa yang akan datang. Karena memiliki tingkat resiko yang besar juga bagi investor yang akan menanamkan modalnya. Tambunan (2013) menyatakan bahwa, bagi investor yang akan membeli saham kiranya perlu mencermati perubahan komposisi permodalan dan pemegang saham sebuah perusahaan sebelum dan sesudah melakukan IPO. Penelitian yang dilakukan
4 Kristiantari (2013), Triani dan Nikmah
(2006), Yolana dan Martani (2005), Irawati (2009) menunjukan hasil bahwa total aset berpengaruh signifikan terhadap underpricing. Sedangkan penelitian yang pernah dilakukan oleh Sulistio (2005) dan penelitian Wulandari dan Haryanto (2011) menunjukan hasil penelitian bahwa total aset tidak berpengaruh signifikan terhadap underpricing.
Persentase kepemilikan saham yang dimiliki oleh keluarga atau manager juga dapat mempengaruhi tingkat underpricing, karena dengan semakin banyaknya saham yang dilepas ke masyarakat, tentu akan membuat perbedaan proporsi kepemilikan saham pada suatu perusahaan. Menurut Junaeni dan Agustian (2013) persentase kepemilikan saham para pemilik lama menjadi sinyal yang berharga yang dapat mencerminkan nilai perusahaan. Penurunan dalam proporsi kepemilikan saham dari pemilik lama yang ditunjukan oleh penawaran saham baru kepada investor luar adalah sinyal negatif. Sebaliknya, semakin tinggi persentase saham yang ditahan oleh pemilik lama, merupakan sinyal positif bagi pasar. Hasil penelitian sebelumnya yang pernah dilakukan oleh Hasan dan Waisman (2010), Sulistio (2005) menunjukan hasil bahwa persentase kepemilikan saham
berpengaruh signifikan terhadap underpricing IPO.
Penelitian mengenai underpricing pada saat IPO telah banyak dilakukan oleh peneliti sebelumnya, baik diluar negeri maupun didalam negeri. Dikarnakan masih banyak hasil penelitian yang belum konsisten, peneliti ingin melakukan penelitian yang pernah dilakukan oleh para peneliti sebelumnya. Oleh karena itu, peneliti termotivasi untuk melakukan penelitian yang berdasarkan latar belakang diatas, maka peneliti melakukan penelitian dengan judul “ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI UNDERPRICING DALAM INITIAL PUBLIC OFFERING (IPO) PADA PERUSAHAAN YANG TERDAFTAR PADA BURSA EFEK INDONESIA (BEI) PERIODE 2009-2013”.
Teori dan Pengembangan Hipotesis
Underpricing
Menurut Kristiantari (2012) underpricing adalah harga penawaran dipasar perdana lebih rendah dibandingkan dengan harga penutupan di pasar sekunder yang diperdagangkan di Bursa Efek. Sedangkan overpricing merupakan kondisi dimana harga penawaran perdana lebih tinggi daripada harga penutupan di pasar sekunder. Menurut Puspita (2011)
5 fenomena underpricing tidak
menguntungkan bagi perusahaan yang melakukan go public, karena dana yang diperoleh perusahaan atau emiten tidak maksimal, tetapi di lain pihak menguntungkan para investor.
Fenomena underpricing dapat terjadi karena adanya asymetric information theory yang telah dikemukakan oleh Rock (1986), Baron (1986), Beatty dan Ritter (1986), lalu signaling theory yang dikemukakan oleh Michaely dan Shaw (1994), Su dan Fleisher (1997). Kedua teori tersebut dapat menjelaskan terjadinya fenomena underpricing pada saat penawaran perdana. Underpricing pada umumnya terjadi pada saham yang nilai sahamnya lebih rendah pada saat penawaran awal di pasar perdana.
Ukuran Penawaran
Menurut Hasan dan Waisman (2010) Ukuran penawaran adalah jumlah penawaran awal pada saat IPO. Jumlah penawaran tersebut tidak mengukur dari besarnya perusahaan. Ukuran penawaran sama dengan harga penawaran dikalikan dengan total saham yang terjual. Pada saat melakukan penawaran saham akan terdapat aliran kas masuk dari proceeds. Proceeds menunjukan besarnya aliran penawaran
pada saat IPO. (Junaeni dan Agustian, 2013)
Ukuran penawaran dapat digunakan sebagai proceeds. Proceeds menunjukan aliran kas masuk yang besar pada perusahaan saat IPO. Semakin besar proceeds akan menyebabkan Semakin tinggi ukuran penawaran yang dilakukan dan akan menurunkan tingkat underpricing pada saat IPO, atau dapat disebut juga memiliki pengaruh yang negatif terhadap underpricing. Seperti penelitian Hasan dan Waisman (2010), Junaeni dan Agustian (2013) yang telah membuktikan bahwa ukuran penawaran berpengaruh signifikan terhadap underpricing. Berdasarkan hal ini diajukan hipotesis sebagai berikut.
H1 : Ukuran Penawaran berpengaruh signifikan terhadap underpricing Penjamin Emisi (Underwriter)
Underwriter atau penjamin emisi adalah orang yang menangani emisi perdana suatu perusahaan agar penawaran perdana tersebut berjalan dengan sukses, dikarnakan calon emiten tidak dapat menjual sendiri sahamnya kepada masyarakat secara langsung. (Samsul, 2006).
Underwriter yang memiliki reputasi yang tinggi akan lebih mempunyai kepercayaan diri terhadap kesuksesan IPO.
6 Dengan demikian underwriter yang
memiliki reputasi tinggi lebih berani memberikan harga yang tinggi sebagai konsekuensi dari kualitas penjaminannya, sehingga tingkat underpricing pun rendah. Kristiantari (2012) Dengan semakin tingginya reputasi underwriter maka akan semakin rendah kemungkinan terjadinya underpricing atau dapat disebut berpengaruh negatif terhadap underpricing.
Hasan dan Waisman (2010), Kristiantari (2013), Junaeni dan Agustian (2013), Sulistio (2005), Johnson (2010), Triani dan Nikmah (2006), telah membuktikan bahwa reputasi underwriter memiliki pengaruh yang signifikan terhadap underpricing, sedangkan penelitian Irawati (2009), Yolana dan Martani (2005), menunjukan hasil bahwa reputasi underwriter tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap underpricing IPO. Berdasarkan hal ini diajukan hipotesis sebagai berikut.
H2 : Underwriter berpengaruh signifi-kan terhadap Underpricing Persentase Penawaran Saham
Persentase penawaran adalah saham yang ditawarkan kepada publik dibagi dengan jumlah saham yang beredar dikalikan seratus persen. Saham yang
ditawarkan adalah harga rata-rata batas paling rendah dan tinggi dari penawaran saat IPO. (Hasan dan Waisman, 2010).
Persentase penawaran saham mencerminkan seberapa banyak masyarakat yang tertarik pada perusahaan tersebut. Dengan persentase penawaran yang besar maka tingkat ketidakpastiannya akan semakin kecil, dan akhirnya akan menurunkan tingkat underpricing. Wulandari dan Haryanto (2011) Jika semakin tinggi tingkat persentase penawaran saham yang terjadi maka akan semakin rendah tingkat underpricing pada saat IPO. Hasan dan Waisman (2010), Wulandari dan Haryanto (2011), penelitiannya telah membuktikan bahwa persentase penawaran saham berpengaruh signifikan terhadap underpricing, sedangkan penelitian Triani dan Nikmah (2006), menunjukan hasil bahwa persentase penawaran saham tidak berpengaruh signifikan terhadap underpricing. Berdasarkan hal ini diajukan hipotesis sebagai berikut.
H3 : Persentase Penawaran Saham berpengaruh signifikan terhadap
Underpricing
Total Aset
Aset adalah total semua aset lancar ditambah dengan total aset tidak lancar
7 yang dimiliki perusahaan. Aset sama juga
dengan sumber-sumber daya yang mengandung nilai ekonomis yang dimiliki (atau dikuasai oleh) perusahaan dan digunakan untuk menghasilkan arus kas dimasa datang. (Tambunan, 2013). Total aset dapat diukur dengan melihat jumlah aset yang dimiliki perusahaan sebelum melakukan IPO. (Hasan dan Waisman, 2010).
Perusahaan yang memiliki total aset yang besar akan membuat investor lebih percaya dalam menanamkan modalnya pada perusahaan tersebut. Aset yang dimiliki perusahaan mencerminkan besar atau kecilnya perusahaan tersebut Semakin besar perusahaan tersebut maka akan semakin rendahnya tingkat underpricing. Penelitian yang dilakukan Kristiantari (2013), Triani dan Nikmah (2006), Yolana dan Martani (2005), Irawati (2009) menunjukan hasil bahwa total aset berpengaruh signifikan terhadap underpricing. Sedangkan penelitian yang pernah dilakukan oleh Sulistio (2005) dan penelitian Wulandari dan Haryanto (2011) menunjukan hasil penelitian bahwa total aset tidak berpengaruh signifikan terhadap underpricing. Berdasarkan hal ini diajukan hipotesis sebagai berikut.
H4 : Total Aset berpengaruh signifikan terhadap Underpricing
Persentase Kepemilikan Saham
Menurut Hasan dan Waisman (2010) Persentase kepemilikan saham adalah tingkat kepemilikan yang dipertahankan oleh pemegang saham lama. Jika pemegang saham lama tetap mempertahankan saham yang dimilikinya, berarti perusahaan memberikan sinyal yang positif terhadap pasar. (Junaeni dan Agustian, 2013)
Persentase kepemilikan saham yang dimiliki pemegang saham lama tentunya akan sangat mempengaruhi penilaian publik atas perusahaan tersebut. Bagi perusahaan yang memiliki kualitas baik, tentu saja pemilik saham lama perusahaan tersebut akan mempertahankan proporsi saham yang dimilikinya. Jika semakin tinggi persentase kepemilikan saham oleh pemilik lama, maka akan semakin rendah tingkat underpricing yang terjadi pada saat IPO. Hasan dan Waisman (2010), Sulistio (2005) membuktikan bahwa persentase kepemilikan saham memiliki pengaruh signifikan terhadap underpricing. Berdasarkan hal ini diajukan hipotesis sebagai berikut.
H5 : Persentase Kepemilikan Saham berpengaruh signifikan terhadap
8
Metodologi
Penelitian ini mengambil populasi perusahaan-perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan mengambil sampel perusahaan yang go public periode 2009-2013, dengan kriteria sampel saham perusahaan yang mengalami underpricing, yaitu perusahan yang harga penawaran saham pada saat IPO lebih rendah dibandingkan dengan harga saat penutupan dipasar sekunder pada hari pertama. Teknik pengambilan sampel adalah purposive sampling. Setelah data dikelompokkan maka diperoleh 67 perusahaan yang sesuai dengan kriteria. Jenis data yang digunakan adalah data sekunder.
Underpricing adalah harga penawaran dipasar perdana lebih rendah dibandingkan dengan harga penutupan pada hari pertama dipasar sekunder. (Kristiantari, 2012). Underpricing pada saat IPO dapat diukur dengan harga penutupan dihari pertama dikurangi dengan harga penawaran perdana lalu dibagi dengan harga penawaran perdana. Menurut Hasan dan Waisman (2010) Ukuran penawaran adalah jumlah penawaran awal pada saat IPO. Jumlah penawaran tersebut tidak mengukur dari besarnya perusahaan. Variabel ukuran penawaran dapat diproksikan
menggunakan harga penawaran dikalikan dengan jumlah saham yang terjual. Underwriter atau penjamin emisi adalah orang yang menangani emisi perdana suatu perusahaan agar penawaran perdana tersebut berjalan dengan sukses, dikarnakan calon emiten tidak dapat menjual sendiri sahamnya kepada masyarakat secara langsung. (Samsul, 2006). Pengukuran variabel penjamin emisi (underwriter) menggunakan variabel dummy. Penentuan penjamin emisi yang memiliki reputasi yang tinggi digunakan skala 1, dan 0 untuk penjamin emisi yang tidak memiliki reputasi yang tinggi. Persentase penawaran adalah saham yang ditawarkan kepada publik lalu dibagi dengan jumlah saham yang beredar dikalikan seratus persen. Saham yang ditawarkan adalah harga rata-rata batas paling rendah dan tinggi dari penawaran saat IPO. (Hasan dan Waisman, 2010). Aset adalah total semua aset lancar ditambah dengan aset tidak lancar yang dimiliki perusahaan. Aset sama juga dengan sumber-sumber daya yang mengandung nilai ekonomis yang dimiliki (atau dikuasai oleh) perusahaan dan digunakan untuk menghasilkan arus kas dimasa datang. (Tambunan, 2013). Total aset diproksikan dengan menggunakan logaritma natural dari total aktiva
9 perusahaan pada periode terakhir sebelum
perusahaan melakukan IPO. Menurut Hasan dan Waisman (2010) Persentase kepemilikan saham adalah tingkat kepemilikan yang dipertahankan oleh pemegang saham lama. Jika pemegang saham lama tetap mempertahankan saham yang dimilikinya, berarti perusahaan memberikan sinyal yang positif terhadap pasar. Variabel ini diukur dengan melihat berapa proporsi saham yang dimiliki pemegang saham lama setelah IPO.
Model regresi yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : UP = a + b1SIZE + b2UWR + b3OFFER +
b4ASSET + b5INSIDER + e
Keterangan :
a : Konstanta
b1-b5 : Koefisien Regresi
UP : Underpricing SIZE : Ukuran Penawaran UWR : Underwriter
OFFER : Persentase Penawaran ASSET : Total Aset
INSIDER : Persentase Kepemilikan e : Error
Metode analisis yang digunakan adalah regresi linier berganda. Sebelum dilakukannya analisis regresi linier berganda terlebih dahulu dilakukan uji asumsi klasik yang terdiri atas uji normalitas, uji multikolinieritas, uji heteroskedastisitas dan uji autokorelasi.
Hasil dan Pembahasan
Dalam penelitian ini metode analisis data yang digunakan adalah statistik deskriptif, uji outlier, uji asumsi klasik (uji normalitas, uji multikolinieritas, uji heteroskedastisitas, dan uji autokorelasi), uji R2, uji F, dan uji t. Dalam pengujian hipotesis penulis menggunakan analisis regresi linier berganda.
Setelah melakukan uji asumsi klasik yang terdiri dari uji normalitas, uji multikolinieritas, uji heteroskedastisitas, dan uji autokorelasi. Dapat disimpulkan tidak terdapat masalah asumsi klasik dalam penelitian ini.
Hasil Uji kelayakan model (uji F) menunjukkan nilai F adalah sebesar 23,002 dengan probabilitas 0,000, karena nilai probabilitas lebih kecil dibandingkan nilai alpha 0,05, maka model regresi dapat digunakan untuk menganalisa tingkat underpricing saham pada saat IPO. Berdasarkan pengolahan data yang dilakukan untuk koefisisen determinasi (R2), nilai adjusted R2 adalah sebesar 0,625 atau 62,5%. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa variabel independen yang diteliti mampu menjelaskan atau mempengaruhi variabel dependen sebesar 62,5%. Hasil pengujian hipotesis dapat dilahat dari tabael 1 dibawah ini :
10 Tabel 1
Hasil Pengujian Hipotesis
Variabel Independen
Koef.
Regresi Nilai t Prob Α Ukuran penawaran 0,778 9,456 0,000 0,05 Underwriter -0,182 -2,164 0,034 0,05 Persentase Penawaran Saham -0,124 -1,529 0,132 0,05 Total Aset 0,023 0,259 0,797 0,05 Persentase Kepemilikan Saham -0,126 -1,620 0,110 0,05
Sumber: Hasil Pengolahan Data dengan SPSS16.0
Pada tabel 1 dapat dilihat bahwa ada dua variabel independen yang digunakan kedalam model regresi memiliki pengaruh signifikan, hal ini dapat dilihat dari probabilitas signifikansi ukuran penawaran atau X1 sebesar 0,000 dan underwriter atau X2 sebesar 0,034. Kedua variabel independen tersebut memiliki nilai dibawah 0,05. Sedangkan ketiga variabel independen lainnya yang digunakan juga dalam model regresi tidak memiliki pengaruh signifikan, hal ini dapat dilihat dari probabilitas signifikansi persentase penawaran saham atau X3 sebesar 0,132, total aset atau X4 sebesar 0,797 dan persentase kepemilikan saham atau X5 sebesar 0,110. Ketiga variabel independen tersebut nilainya diatas 0,05. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa hanya ukuran penawaran dan underwriter yang dapat
mempengaruhi tingkat underpricing saham pada saat IPO secara individual.
Berdasarkan pada hasil analisis data yang telah dilakukan, dapat dilihat bahwa variabel ukuran penawaran memiliki nilai koefisien regresi positif dengan nilai 0,778 dan nilai probabilitas dari variabel ukuran penawaran adalah 0,000 (lebih kecil dari 0,05). Variabel underwriter berpengaruh signifikan terhadap tingkat underpricing, hal ini dapat dilihat dari nilai probabilitasnya adalah sebesar 0,034 dengan memiliki koefisien regresi bertanda negatif dengan nilai -0,182. Hasil yang diperoleh tersebut menunjukan bahwa nilai probabilitas sebesar 0,034 < alpha 0,05. Sedangkan variabel persentase penawaran saham tidak berpengaruh signifikan terhadap underpricing. hal ini dapat dilihat dari nilai probabilitasnya sebesar 0,132 yang lebih besar dari 0,05, dengan nilai koefisien regresi yang bertanda negatif sebesar -1,529. Variabel total aset memiliki angka probabilitas sebesar 0,797 yang berarti lebih besar dari nilai alpha 0,05 dengan koefisien regresi yang bertanda positif sebesar 0,259. Variabel persentase kepemilikan saham memiliki nilai signifikan lebih besar dari nilai alpha 0,05 yaitu sebesar 0,110 dengan koefisien regresi bertanda negatif yaitu sebesar
-11 1,620, yang artinya bahwa persentase
penawaran saham, total aset dan persentase kepemilikan saham tidak memiliki pengaruh terhadap tingkat underpricing saham pada saat IPO.
Kesimpulan
Berdasarkan pada analisis dan pembahasan hasil pengujian hipotesis yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan hasil penelitian yang merupakan pemecahan masalah yang diajukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Ditemukan bahwa ukuran penawaran
berpengaruh signifikan terhadap tingkat underpricing, dikarenakan ukuran penawaran pada saat IPO dapat menentukan tinggi atau rendahnya tingkat underpricing suatu perusahaan. 2. Ditemukan bahwa underwriter
berpengaruh signifikan terhadap tingkat underpricing, dikarnakan dengan semakin tingginya reputasi underwriter dapat menyebabkan rendahnya kemungkinan terjadinya underpricing pada suatu perusahaan. 3. Ditemukan bahwa persentase
penawaran saham tidak berpengaruh signifikan terhadap tingkat underpricing, hal ini dikarnakan banyaknya masyarakat yang tertarik pada perusahaan tersebut belum dapat
mencerminkan pengaruhnya terhadap tingkat underpricing.
4. Ditemukan bahwa total aset tidak berpengaruh signifikan terhadap tingkat underpricing, hal ini dikarnakan total aset yang besar belum dapat mempengaruhi tingkat underpricing suatu perusahaan saat penawaran perdana.
5. Ditemukan bahwa persentase kepemilikan saham tidak berpengaruh signifikan terhadap tingkat underpricing, hal ini dikarnakan semakin besarnya persentase kepemilikan saham yang dipertahankan oleh pemilik lama belum dapat mempengaruhi tingkat underpricing saham pada saat IPO.
Saran
Sesuai dengan keterbatasan penelitian peneliti mengajukan saran yang dapat memberikan manfaat positif bagi : 1. Peneliti dimasa mendatang disarankan
untuk memperpanjang periode observasi data yang digunakan, dengan menggunakan waktu observasi data lebih dari 5 tahun untuk mengatasi kekurangan jumlah sampel dalam penelitian.
2. Diharapkan untuk peneliti selanjutnya untuk dapat menambah variabel lain
12 yang mungkin lebih berpengaruh
terhadap underpricing. seperti profitabilitas, financial laverage, umur perusahaan, dan jenis industri.
Daftar Pustaka
Baron, D.P. 1982. A Model of The Demand for Investment Bank Advising and Distribution Services for New Issues. Journal of Finance. Vol. 45.
Beatty, R. P. and J. R. Ritter. 1986. Investment Banking, Reputation and The Underpricing of Initial Offerings. Journal of Financial Economics. Vol. 15. P 213-232. Ghozali, Imam. 2013. Aplikasi Analisis
Multivariate dengan Program SPSS. Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro.
Gumanti, Tatang Ari dan Nafisah Alkaf. 2011. Underpricing dalam Penawaran Perdana dan Penawaran Saham Susulan. Jurnal Akuntansi dan Keuangan Indonesia. Vol. 8. No. 1.
Hasan, Iftekhar and Maya Waisman. 2010. Going Public: An Empirical Investigation of U.S Bound Israeli IPOs. New York University Salomon Center and Wiley Periodicals, inc. Irawati, Sarma Uli. 2009. Analisis
Pengaruh Informasi Akuntansi dan Non Akuntansi Terhadap Initial Return pada Perusahaan yang Melakukan Initial Public Offering di Bursa Efek Indonesia. Jurnal Universitas Gunadarma.
Johnson. 2010. Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Underpricing
Harga Saham IPO Perusahaan yang Terdaftar di BEI. Jurnal.
Junaeni, Irawati dan Rendi Agustian. 2013. Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Tingkat Underpricing Saham pada Perusahaan yang Melakukan Initial Public Offering di BEI. Jurnal Ilmiah WIDYA. Vol. 1, No. 1.
Kristiantari, I Dewa Ayu. 2012. Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Underpricing Saham pada Penawaran Saham Perdana di Bursa Efek Indonesia. Tesis. Universitas Udayana.
Kristiantari, I Dewa Ayu. 2013. Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Underpricing Saham pada Penawaran Saham Perdana di Bursa Efek Indonesia. Jurnal Ilmiah Akuntansi dan Humanika. Vol. 2, No. 2.
Michaely, Roni and Wayne H. Shaw. 1994. The Pricing of Initial Public Offerings: Test of Advese Selection and Signaling Theories. The Review of Financial Studies Summer. Vol. 7. No. 2. P 279-319.
Reilly, Frank. K and Keith. C. Brown. 2012. Invesment Analisis and Portfolio Management. USA: South Western Lenguage Learning.
Rock, K. 1986. Why New Issues are Underpriced. Journal of Financial Economics. Vol. 15. P 187-212. Samsul, Mohamad. 2006. Pasar Modal
dan Manajemen Portofolio. Surabaya: Erlangga.
Sekaran, Uma. 2011. Research Methods for Business, A Skill Building Approach. John Wiley and Sons, inc
13 Siregar, Sofyan. 2013. Metoda Penelitian
Kuantitatif. Jakarta: Penerbit Kencana
Su, Dongwei and Belton M. Fleisher. 1997. An Empirical Investigation of Underpricing in Chinese IPOs.
http://www.ssrn.com.
Sulistiawan, Dedhy dan Felizia Arni R. 2004. Fenomena Penawaran Perdana Saham di Indonesia. Unitas. Vol.12, No. 1
Sulistio, Helen. 2005. Pengaruh Informasi Akuntansi dan Non Akuntansi Terhadap Initial Return. Seminar Nasional Akuntansi VIII. Solo. Tambunan, Andi Porman. 2013. Analisis
Saham Pasar Perdana (IPO). Jakarta: PT Elex Media Komputindo. Triani, Apriliani dan Nikmah. 2006. Reputasi Penjamin Emisi, Reputasi Auditor, Persentase Penjamin Emisi, Ukuran Perusahaan dan Fenomena Underpricing. Seminar Nasional Akuntansi IX. Padang.
Undang – undang Republik Indonesia No.8 Tahun 1995 Tentang Pasar Modal.
Wulandari, Afifah dan Mulyo Haryanto. 2011. Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Underpricing pada Penawaran Umum Perdana (IPO). Jurnal.
Yolana, Chastina dan Dwi Martani. 2005. Variabel-Variabel yang Mempengaruhi Fenomena Underpricing pada Penawaran Saham Perdana di BEJ tahun 1994-2001. Seminar Nasional Akuntansi VIII. Solo.
www.ebursa.co.id www.idx.co.id