TEORI DAN PRAKTIK PENERAPAN
MODEL PEMBELAJARAN FLIPPED CLASSROOM
TUGAS AKHIR
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
Program Studi Pendidikan Ekonomi Bidang Keahlian Khusus Pendidikan Ekonomi
Oleh:
DENIS WILLY PRADITA NIM: 131324025
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN EKONOMI BIDANG KEAHLIAN KHUSUS PENDIDIKAN EKONOMI
JURUSAN PENIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA
iv
HALAMAN PERSEMBAHAN
Dengan penuh rasa syukur tugas akhir ini saya persembahkan untuk:
1. Tuhan Yesus Kristus yang selalu mendampingi, memberkati dan menuntun setiap langkahku
2. Ibu Sri dan Bapak Murwanto selaku orang tua, saya ucapkan banyak terima kasih atas segala doa dan segala bentuk cinta dan kasih sayang yang tidak bisa diukur oleh apapun dan selalu ada dalam keadaan senang maupun susah 3. Sahabat-sahabatku yang selalu memberi dukungan dan motivasi kepada saya 4. Terimakasih pula untuk almamaterku tercinta Univertitas Sanata Dharma
v MOTTO
“Dan siapa saja yang kamu minta dalam doa dengan penuh kepercayaan, kamu akan menerimanya”
(Matius 21:22)
“Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah Kristus Yesus bagi kamu”
xiii DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii
HALAMAN PENGESAHAN ... iii
HALAMAN PERSEMBAHAN ... iv
MOTTO ... v
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... vi
PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ... vii
ABSTRAK ... viii
ABSTRACT... ix
KATA PENGANTAR ... x
DAFTAR ISI ... xiii
DAFTAR TABEL ... xv
DAFTAR GAMBAR ... xvi
BAB I PENDAHULUAN ... 1 A. Latar Belakang ... 1 B. Batasan Masalah... 3 C. Rumusan Masalah ... 3 D. Tujuan Penulisan ... 4 E. Manfaat Penulisan ... 4
BAB II Latar Belakang Munculnya Model Pembelajaran Flipped Classroom ... 5
xiv
A. Permasalahan Siswa dalam Belajar ... 5
B. Latar Belakang Munculnya Pembelajaran Flipped Classroom ... 7
C. Empat Pillar dalam Pembelajaran Model Flipped Classroom... 14
BAB III Model Pembelajaran Flipped Classroom ... 17
A. Model Pembelajaran Flipped Classroom ... 17
B. Pendekatan dalam Pembelajaran Flipped Classroom ... 18
C. Strategi dalam Pembelajaran Flipped Classroom ... 23
D. Penerapan Strategi Pembelajaran dalam Flipped Classroom; Out Class dan In Class ... 32
E. Metode Pembelajaran dalam Flipped Classroom ... 34
F. Teknik Pembelajaran dalam Flipped Classroom ... 35
G. Taktik Pembelajaran dalam Flipped Classroom ... 36
BAB IV Penerapan Model Pembelajaran Flipped Classroom ... 38
A. Implementasi Model Pembelajaran Flipped Classroom ... 38
B. Penilaian dalam Model Pembelajaran Flipped Classroom ... 47
C. Keuanggulan, Kelemahan, dan Hambatan dalam Model Pembelajaran Flipped Classroom ... 54
BAB V KESIMPULAN, SARAN, DAN KETERBATASAN ... 58
A. Kesimpulan ... 58
B. Saran ... 58
C. Keterbatasan ... 59
xv
DAFTAR TABEL
Tabel 3.1 Perbandingan Penggunaan Waktu pada Kelas Tradisional
dan Flipped Classroom ... 29 Tabel 3.2 Strategi Pembelajaran dalam Flipped Classroom ... 32
xvi
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Perbandingan Pembelajaran di Kelas dengan Model Tradisional
dan Model Flipped Classroom ... 14
Gambar 3.1 Konsep Model Pembelajaran Flipped Classroom ... 18
Gambar 3.2 Taksonomi Bloom dalam Pembelajaran ... 24
Gambar 3.3 Taksonomi Bloom dalam Flipped Classroom... 26
Gambar 3.4 Konsep Pembelajaran Blanded Learning ... 27
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Revolusi digital memiliki pengaruh penting di bidang pendidikan seperti di banyak bidang lainnya. Pengaruh ini juga menyebabkan perubahan radikal di bidang pendidikan, seperti dalam hal pendekatan pengajaran dan pembelajaran. Para peserta didik di zaman ini memiliki karakteristik yang sangat berbeda jika dibandingkan dengan masa lalu, oleh karena itu cukup sulit untuk menarik minat dan keingintahuan siswa hari ini untuk kegiatan pembelajaran melalui pendekatan pengajaran tradisional. Selain itu, tidak mudah untuk mengatasi beberapa masalah terkait mengajar dan belajar dengan pendekatan yang sudah ketinggalan.
Tetapi, diluar masalah kurangnya minat dan keingintahuan siswa soal belajar terdapat masalah lain yang mengganggu dalam pembelajaran bagi guru dan siswa itu sendiri. Permasalahan itu adalah permasalahan absensi siswa di kelas. Terkadang dalam sebuah kelas seorang siswa tidak hanya mengerjakan pekerjaan sekolahnya saja. Tetapi ada pula yang bekerja dan mengikuti kegiatan ekstrakurikuler yang terkadang ketika mereka terpilih untuk mengikuti sebuah perlombaan di luar sekolah memaksa mereka untuk tidak dapat hadir. Dengan ketidakhadiran mereka di kelas mengakibatkan ketertinggalan materi yang seharusnya jika mereka mengikutinya mereka akan sama dalam hal pengetahuan dengan siswa lainnya. Selain permasalahan adanya siswa yang berkegiatan di luar sehingga tidak dapat hadir di kelas. Terdapat masalah-masalah lainnya lagi,
seperti adanya siswa yang dalam pemahaman materi masih lambat (Slow Learner), siswa yang bosan terhadap model pembelajaran dengan ceramah dan siswa yang malas mencatat atau mendengarkan penjelasan dari guru mereka. Dan untuk menanggulangi ini maka para pendidik saat ini menunjukkan minat yang sangat besar pada model pembelajaran inovatif yang menjawab kebutuhan zaman ini.
Salah satu model pembelajaran yang inovatif tersebut adalah model flipped classroom. Flipped classroom merupakan suatu strategi pembelajaran yang tergolong baru. Strategi pembelajaran ini semakin berkembang dengan kemajuan teknologi, seperti akses internet serta software yang pendukung lainnya. Pada pembelajaran tradisional pendidik menyampaikan materi, lalu untuk menambah pemahaman materi tersebut maka siswa akan mengerjakan tugas di sekolah dan diberikan pekerjaan rumah. Pada flip classroom, peserta didik berpartisipasi dalam mempersiapkan pembelajaran melalui tontonan video, memahami powerpoint dan mengakses sumber belajar yang disediakan oleh pendidik baik melalui e-learning atau cara lainnya.
Setelah memiliki persiapan yang lengkap di rumah, maka di kelas peserta didik akan mampu untuk menyelesaikan masalah (problem solving), menganalisis serta memberikan solusi terhadap permasalahan yang dihadapi. Terdapat dua komponen dalam flipped classroom yaitu “memindahkan pendidikan ke luar kelas” biasanya pembelajaran dihantarkan melalui media elektronik dan memindahkan praktek berupa tugas dan pekerjaan rumah ke dalam kelas.
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, maka penulis akan membuat sebuah karya tulis berbentuk makalah dengan mengambil judul ”Teori dan Praktik Pembelajaran Model Flipped Classroom”
B. Batasan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka perlu adanya batasan masalah supaya tujuan dari penulisan dapat fokus dan terarah. Adapun batasan masalah sebagai berikut.
1. Permasalahan siswa di kelas
2. Teori model pembelajaran flipped classroom 3. Praktik flipped classroom dalam pembelajaran
C. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka rumusan masalah yang diambil adalah sebagai berikut.
1. Apa saja kendala yang dihadapi peserta didik dalam belajar di kelas? 2. Apa itu model pembelajaran flipped classroom?
3. Bagaimana penerapan model pembelajaran flipped classroom di kelas ? 4. Bagaimana langkah-langkah praktik model pembelajaran flipped
D. Tujuan Penulisan
Berdasarkan latar belakang masalah dan rumusan masalah di atas, maka penelitian ini bertujuan untuk:
1. Mengetahui permasalahan yang dihadapi siswa di kelas. 2. Menjelaskan model pembelajaran flipped classroom.
3. Mengetahui metode-metode yang digunakan dalam pembelajaran flipped classroom.
4. Mendeskripsikan langkah-langkah praktik model pembelajaran flipped classroom.
E. Manfaat Penulisan
Tulisan ini diharapkan memberi manfaat bagi beberapa pihak yaitu: 1. Bagi Penulis
a. Menambah wawasan mengenai pembelajaran dengan model flipped classroom.
b. Bekal untuk menerapkan pembelajaran dengan model flipped classroom.
2. Bagi Pihak Lain
a. Memperoleh informasi mengenai pengertian, arti penting dan implementasi pembelajaran dengan model flipped classroom.
5
BAB II
LATAR BELAKANG MUNCULNYA MODEL
PEMBELAJARAN FLIPPED CLASSROOM
A. Permasalahan Siswa dalam Belajar
Kesulitan belajar adalah suatu keadaan yang menyebabkan siswa tidak dapat belajar sebagaimana mestinya (Dalyono, 1997: 229). Kesulitan belajar yaitu kesukaran siswa dalam menerima atau menyerap pelajaran di sekolah. Ada beberapa kasus kesulitan dalam belajar, sebagaimana yang telah dikemukakan oleh Abin Syamsudin M, yaitu : (1) kasus kesulitan dengan latar belakang kurangnya motivasi dan minat belajar; (2) kasus kesulitan yang berlatar belakang sikap negatif terhadap guru, pelajaran, dan situasi belajar; (3) kasus kesulitan dengan latar belakang kebiasaan belajar yang salah; (4) kasus kesulitan dengan latar belakang ketidakserasian antara kondisi obyektif keragaman pribadinya dengan kondisi obyektif instrumental impuls dan lingkungannya.
Adanya kesulitan belajar akan menimbulkan suatu keadaan dimana siswa tidak dapat belajar sebagaimana mestinya sehingga memiliki prestasi belajar yang rendah. Siswa yang mengalami masalah dengan belajarnya biasanya ditandai adanya gejala: (1) prestasi yang rendah atau di bawah rata-rata yang dicapai oleh kelompok kelas; (2) hasil yang dicapai tidak seimbang dengan usaha yang dilakukan; (3) lambat dalam melakukan tugas belajar (Entang, 1983: 13). Kesulitan belajar bahkan
dapat menyebabkan suatu keadaan yang sulit dan mungkin menimbulkan suatu keputusasaan sehingga memaksakan seorang siswa untuk berhenti di tengah jalan. Adanya kesulitan belajar pada seorang siswa dapat dideteksi dengan kesalahan-kesalahan siswa dalam mengerjakan tugas maupun soal-soal tes. Kesalahan adalah penyimpangan terhadap jawaban yang benar pada suatu butir soal. Ini berarti kesulitan siswa akan dapat dideteksi melalui jawaban-jawaban siswa yang salah dalam mengerjakan suatu soal. Siswa yang berhasil dalam belajar akan mengalami perubahan dalam aspek kognitifnya. Perubahan tersebut dapat dilihat melalui prestasi yang diperoleh di sekolah atau melalui nilainya. Dalam kenyataannya masih sering dijumpai adanya siswa yang nilainya rendah. Rendahnya nilai atau prestasi siswa ini adanya kesulitan dalam belajarnya. Menurut Entang (1983: 12) bahwa siswa yang secara potensial diharapkan akan mendapat nilai yang tinggi, akan tetapi prestasinya biasa-biasa saja atau mungkin lebih rendah dan teman lainnya yang potensinya lebih kurang darinya, dapat dipandang sebagai indikasi bahwa siswa mengalami masalah dalam aktivitasnya.
Kesulitan belajar dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang menghalangi atau memperlambat seorang siswa dalam mempelajari, memahami serta menguasai sesuatu. Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kesulitan belajar adalah segala sesuatu yang membuat tidak lancar (lambat) atau menghalangi seseorang dalam mempelajari, memahami serta menguasai sesuatu untuk dapat mencapai tujuan. Adanya
kesulitan belajar dapat ditandai dengan prestasi yang rendah atau di bawah rata-rata yang dicapai oleh kelompok kelas, hasil yang dicapai tidak seimbang dengan usaha yang dilakukan dan lambat dalam melakukan tugas belajar. Siswa yang mengalami kesulitan belajar akan sukar dalam menyerap materi-materi pelajaran yang disampaikan oleh guru sehingga ia akan malas dalam belajar, serta tidak dapat menguasai materi, menghindari pelajaran, serta mengabaikan tugas-tugas yang diberikan guru.
B. Latar Belakang Munculnya Pembelajaran Flipped Classroom
Metode pembelajaran dengan menggunakan model flipped classroom atau kelas terbalik bermula pada tahun 1980, seorang sarjana bernama Allison King berargumen melalui sebuah artikel berjudul “From Sage on the Stage to guide on the side” di dalam artikel tersebut ia mengungkapkan bahwa waktu dalam pembelajaran di kelas harus digunakan secara efektif untuk melakukan aktivitas-aktivitas yang bermanfaat, seperti tanya jawab dan diskusi. Tujuannya tidak lain adalah agar siswa mempunyai kesempatan untuk belajar lewat komunikasi antar siswa lain dikelas. Dengan kata lain Allison ingin berfokus pada pembelajaran aktif.
Walaupun tidak ada istilah flipped classroom di dalam argumennya, namun konsep pembelajaran aktif ini menjadi dasar terbentuknya flipped classroom suatu hari nanti. Kemudian, seorang
professor dari Harvard University, Eric Mazur mulai mengembangkan konsep flipped classroom dari pemikiran Allison King sebelumnya menjadi istilah yang lebih dikenal dengan “peer instruction”. (Pembelajaran menggunakan peer instruction sendiri adalah sebuah pembelajaran dengan pengelolaan kelas yang merubah pembelajaran yang tadinya hanya satu arah menjadi pembelajaran aktif). Pada mulanya Mr. Eric memfokuskan konsep ini di kelas perkuliahannya.
Di sini ia berfokus pada pembelajaran yang aktif ketimbang sistem perkuliahan tradisional. Dengan bahasa lain ia mencoba memberikan pembelajaran dengan pendekatan pemberian materi di luar kelas dan diskusi dilakukan di dalam kelas. Sehingga ia bisa menjadi seorang “Dosen Pembimbing” daripada hanya menjadi seorang “Dosen Penceramaah” saat berada di dalam kelas.
Pada tahun 2000, J. Wesley Baker seorang dosen dari Cedarville University mulai memakai istilah pembelajaran flip dalam “11th international conference on college teaching and learning in florida” di dalam konferensi tersebut Baker mengatakan bahwa flip classroom adalah sebuah pembelajaran yang dilakukan di kelas dengan bantuan alat manajemen pembelajaran berbasis web dan internet. Bentuknya bisa berupa video tutorial maupun ruang diskusi online. Pada tahun yang sama Maureen J. Lage, Platt dan Treglia (2000) menyoroti adanya kesenjangan pada gaya belajar anak di kelas yang dimuat dalam jurnal pendidikan ekonomi. Di sana mereka mengatakan bahwa dalam pembelajaran di kelas
sering sekali kita melihat bahwa setiap anak memiliki gaya belajar yang bervariasi. Tidak semua siswa dapat menerima dengan hanya 1 metode mengajar di kelas saja. Dibutuhkan pengembangan teknologi, sumber daya multimedia, dan akses yang mudah dalam proses pembelajaran di kelas. Agar tercipta antusiasme dalam diri setiap siswa.
Dari pemikiran itu mereka berharap agar adanya sebuah metode belajar yang “menarik” bagi siswa yang memiliki gaya belajar bervariasi. Lalu pada tahun 2007 Jonathan Bergman dan Aaron Sams yang berprofesi sebagai guru di sebuah sekolah di Colorado mengembangkan pemikiran dari beberapa ahli di atas terkait pembelajaran flipped classroom menjadi sebuah buku berjudul : “Flip Your Classroom: Reach Every Student in Every Class Every Day”. Dalam buku karya Jonathan Bergman dan Aaron Sams tersebut mereka memberikan sebuah gambaran awal mula terciptanya flip classroom buatan mereka.
Dalam bukunya mereka menyodorkan gambaran dari permasalahan nyata yang mereka hadapi di sekolah tempat mereka mengajar. Di sana mereka melihat bahwa murid-murid mereka di sekolah tersebut juga memiliki banyak masalah dalam hal belajar. Contohnya: salah seorang murid mereka bernama Enrique, dia sangat sulit dalam memahami setiap hal yang diajarkan di dalam kelas matematikanya dikarenakan gurunya dalam menjelaskan materi sangat cepat. Ia tidak bisa merangkum secepat yang dijelaskan oleh gurunya. Catatan yang ia buat pun tidak dapat ia pahami karena dalam beberapa penjelasan ada yang terlewat dan tidak ikut
di catat. Siswa kedua bernama Janice. Janice merupakan siswa yang aktif dalam kegiatan olah raga di sekolahnya. Ia sering meninggalkan sekolah untuk mengikuti kejuaraan olah raga tersebut. Di lain hal ia berusaha untuk mengikuti kelas sainsnya agar tidak tertinggal dengan teman lainnya. Tetapi, disaat ia harus belajar dan bertemu dengan guru sainsnya ia terkadang harus pergi untuk bertanding di pertandingan olah raga. Hal ini membuat ia terkadang melewatkan kelas sains dan tidak memahami apapun yang dijelaskan gurunya.
Melihat problem ini, kedua guru tersebut mencari terobosan untuk menyelesaikan permasalahan para siswanya. Terobosan yang tercipta ternyata tidak disengaja. Suatu hari Mr.Aaron sedang membaca majalah teknologi dan membolak-balik halaman per halaman majalah tersebut. Lalu, ia menunjukkan pada Jonathan sebuah artikel tentang beberapa perangkat lunak yang dapat merekam tayangan slide powerpoint, termasuk suara dan anotasi. Lalu, ada juga yang dapat mengkonversi serta merekam ke dalam file ataupun video dan dapat dengan mudah didistribusikan secara online.
Pada saat itu youtube baru saja booming dan dunia video online masih dalam masa pertumbuhan. Tetapi, ketika mereka sedang membahas potensi perangkat lunak tersebut, mereka juga menyadari bahwa cara-cara tersebut mungkin merupakan sebuah cara untuk mempertahankan siswa mereka yang ketinggalan kelas dan ketinggalan dalam pembelajaran untuk tetap bisa belajar dan menyusul ketertinggalannya. Jadi, pada musim semi
tahun 2007, Aaron dan Jonathan mulai merekam pelajaran yang sedang berlangsung di kelas mereka. Lalu, mereka menggunakan tangkapan layar perangkat lunak untuk mereka rekam. Lalu, mereka mencoba memposting hasil dari rekaman pengajaran mereka secara online sehingga siswa mereka bisa mengaksesnya, kata mereka: Siswa kami yang absen dan tak dapat hadir saat pembelajaran menyukai “kelas yang direkam” tersebut.
Siswa yang tadinya melewatkan pembelajaran sebelumnya dapat mempelajari apa yang telah mereka lewatkan. Beberapa siswa yang ada di kelas, tetapi kurang mampu dalam memahami pembelajaran dan yang hanya mendengar pembelajaran di kelas tadi juga mulai “merewatch” video yang telah dibuat. Kemudian dari kejadian tersebut mereka mengambil sebuah pertanyaan: bagaimana jika sekarang kita tinggal menggunakan seluruh hari-hari di kelas untuk membantu siswa dengan konsep yang mereka belum mengerti?. Sisanya, kita tinggal memberikan mereka pekerjaan rumah dengan menonton video pembelajaran. Dari situlah awal flip classroom tercipta.
Pembelajaran dengan model flipped classroom pada akhirnya menjadi sebuah jalan keluar yang dapat mereka gunakan. Kenapa flipped classroom? Flipped classroom mengambil sebuah sudut pandang pembelajaran dengan menggabungkan beberapa model pembelajaran, diantaranya face-to-face learning, blended learning, mobile and internet learning, student centered learning dan project base learning. Dalam flipped classroom para guru sadar bahwa tidak semua siswa dapat hadir di
hari dimana pelajaran itu dimulai. Sama seperti yang telah dijelaskan di atas. Selain itu, tidak semua siswa senang dan memahami seluruh mata pelajaran yang diberikan di kelas. Banyak siswa yang pandai hanya dalam beberapa bidang mata pelajaran. Tujuan dari pengadaan flipped classroom adalah membantu para siswa dalam memahami pelajaran di kelas tertentu dan pada saat kelas itu akan dimulai. Tetapi, di saat yang bersamaan terkadang siswa tidak dapat hadir di kelas pada saat jam pembelajaran tersebut karena ada hal lain yang harus mereka ikuti atau karena mereka sedang berhalangan.
Cara yang menurut para guru pencipta metode ini adalah dengan menonton video pembelajaran yang sudah dibuat oleh guru mereka, persis sama seperti yang guru itu berikan di kelas pada siswa lainnya. Jadi, pada saat jam istirahat atau pulang sekolah mereka yang tidak dapat hadir di kelas pada saat kelas itu dimulai dapat belajar sendiri di rumah dan pada saat masuk ke dalam kelas yang sama mereka tidak tertinggal dengan teman-teman lainnya. Selain untuk membantu siswa dalam mempelajari materi ajar dengan mudah, flipped classroom juga menyiapkan siswa untuk lebih aktif. Ketika mereka masuk ke dalam kelas, mereka diharapkan sudah memahami apa yang sekiranya akan dibahas di kelas nanti. Di dalam bukunya yang diterbitkan pada tahun 2012 tersebut Aaron dan Jonathan menuliskan tentang detail singkat dari flipped classroom itu sendiri.
Detail singkat, dari pengertian flipped classroom hasil pemikiran dari Jonathan Bergman dan Aaron Sams adalah “a method of instruction and form of blended learning. This model gets its name from the way it “flips” the traditional classroom model. Using this method, student watch videos or listen the lectures at home. When they come to classroom meetings, instructor facilitate, group work and other activity that would typically be considered “homework”.(J.Bergman & A.Sams, 2012) yang artinya adalah flipped classroom merupakan sebuah metode pembelajaran dan bentuk dari “blended learning”. Model ini mengambil nama dari kata
“flip” yang artinya membalik. Membalik kondisi kelas
konvensional/tradisional kelas. Dengan menggunakan metode ini para siswa menonton video atau mendengarkan pembelajaran yang seharusnya dilakukan di sekolah menjadi dilakukan di rumah. Ketika mereka datang dalam kegiatan pertemuan di kelas, guru hanya menjadi fasilitator. Sehubungan dengan flipped classroom sendiri, Jon dan Aaron menjelaskan bagaimana flipped classroom memungkinkan para siswa mereka untuk lebih banyak berinteraksi sesering mungkin dengan mereka, Bagaimana mereka berkembang lebih baik dan lebih banyak hubungan pribadi dalam membantu mereka di dalam kelas.
Gambar 2.1
Perbandingan Pembelajaran di Kelas dengan Model Tradisional dan Model Flipped cCassroom
Sumber: FLIT, The University Of Tokyo
C. Empat Pillar Dalam Pembelajaran Model Flipped Classroom
Flipped classroom sendiri pada dasarnya bukan hanya memiliki arti “terbalik”. Dalam sebuah artikel yang diterbitkan pada tahun 2014 yang berjudul “The Definition Of Flip Learning” dijelaskan bahwa flip sendiri terdiri dari 4 huruf yang dimana, huruf itu sendiri berdiri membentuk sebuah pilar. Berikut pengertian “flip” sebagai sebuah pilar dalam metode pembelajaran terbalik.
1. Pilar 1: F (Flexible Environment) (Lingkungan Belajar yang Fleksibel) Flexible Environment berarti menunjukan penyediaan waktu dan fleksibilitas tempat. Pada pembelajaran terbalik ini fleksibel di sini memungkinkan guru menciptakan berbagai mode pembelajaran yang sering dilakukan oleh pendidik lainnya secara fisik, seperti: satu, mengatur ruang belajar para siswa sekaligus untuk mengakomodasi pelajaran yang diajarkan. Dua, untuk mendukung kerja kelompok atau belajar mandiri. Para guru di sini ingin menciptakan ruang di mana
siswa memilih kapan dan di mana mereka akan belajar. Selanjutnya, pendidik yang melakukan “flip” pada kelas mereka memiliki harapan akan jadwal siswa belajar dan dapat menilai mereka saat pembelajaran berlangsung.
2. Pilar 2: L (Learning Culture) (Budaya Belajar)
Learning Culture di sini berarti dalam pendekatan kelas secara tradisional kegiatan belajar berpusat pada guru dan pada pendekatan kelas flipped classroom terdapat transisi dari yang belajar berupusat hanya pada guru menjadi berpusat pada siswa. Dengan adanya perubahan budaya belajar ini siswa diharapkan dapat merubah budaya dan cara belajar mereka. Guru sebagai pendidik juga berharap akan adanya perubahan dalam diri siswa menjadi lebih aktif. Aktif di sini bisa berarti siswa mau bergerak untuk belajar setiap saat sebelum memasuki kelas.
3. Pilar 3: I (Intentional Content) (Konten yang Disengaja)
Pendidik pada kelas terbalik diharapkan mampu memberikan perkembangan kognitif pada siswa. Pada kelas terbalik ini pendidik juga harus belajar terus menerus dan berpikir tentang bagaimana mereka harus menggunakan kelas “flip” dalam membantu siswa mengembangkan pemahaman konseptual peserta didik. Pendidik juga diharapkan memaksimalkan waktu di kelas yang ada untuk belajar dalam menciptakan pembelajaran yang aktif, berpusat pada siswa dan disesuaikan dengan tingkatan pendidikan mereka.
4. Pilar 4: P (Profesional Educator) (Pendidik Profesional)
Guru sebagai pendidik bukan hanya menggunakan pendekatan tradisional dalam setiap pengajarannya di kelas. Tetapi, juga wajib memberikan umpan balik dan mengevaluasi pekerjaan mereka. Selain dari, umpan balik dan evaluasi, mereka juga diwajibkan untuk melihat perkembangan para peserta didik. Baik dari cara mereka berpikir menanggapi setiap permasalahan yang ada dan juga mengkritisi hal-hal yang dianggap perlu untuk dikritisi. (Flipped Learning Network, 2014).
Dari penjelasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa kata “flip” dalam model pembelajaran flip classroom mengambil inti bahwa di dalam kelas, pendidik diharuskan secara professional dapat menciptakan sefleksibel mungkin pembelajaran dengan mengarahkan kognitif siswa untuk lebih berkembang, menciptakan pembelajaran yang aktif dan mengembangkan pola pikir mereka dengan menyesuaikan tingkatan pendidikan mereka..
17
BAB III
MODEL PEMBELAJARAN FLIP CLASSROOM
A. Model Pembelajaran Flipped Classroom
Pembelajaran pada zaman sekarang ini berfokus pada generasi dimana siswa lebih cenderung menyukai konsep pembelajaran non-ceramah dan menggunakan perangkat-perangkat teknologi. Aspek penggunaan teknologi menjadi hal mendasar yang perlu diperhatikan oleh guru sebagai pendidik di zaman sekarang. Model pembelajaran yang dapat mendukung proses belajar dengan mengaplikasikan alat-alat teknologi tadi adalah flipped learning. Flip learning menurut Wesley Baker (2000) dalam bukunya berjudul the classroom flip: “using web course management tools to become guide by the side”. Pembelajaran yang mengkombinasikan antara pembelajaran di luar kelas dengan menggunakan aplikasi berbasis management web course untuk tujuan memaksimalkan kegiatan pembelajaran.
Pengaplikasian flip learning di dalam kelas menurut Bergmann and Sams (2012) merupakan sebuah metode pembelajaran dan bentuk dari “blended learning” gabungan antara pembelajaran traditional dengan pembelajaran modern luar kelas menggunakan video. Model ini seperti yang sudah dijelaskan pada bab sebelumnya mengambil nama dari kata “flip” yang artinya membalik. Membalik disini artinya membalik kondisi kelas yang semula hanya pembelajaran dengan guru sebagai pusat menjadi murid sebagai pusat pembelajaran. Dengan menggunakan metode ini para siswa dapat mengatur jam belajarnya sendiri
dengan menonton video atau mendengarkan pembelajaran dari konten yang sudah dibuat oleh pendidik atau guru itu sendiri di rumah. Dengan kata lain hasil belajar siswa nantinya dapat diketahui dari bagaimana cara siswa tersebut belajar.
Gambar 3.1
Konsep Model Pembelajaran Flip Classroom
Flipped Learning: Student Centric Pedagogy
Pada gambar 3.1 konsep flipped classroom sebagai model terdapat 4 aspek inti yang dibahas dan sebagai sebuah model, pembelajaran flipped classroom akan terlihat “sebagai sebuah model” pedagogis student center, jika terdapat pendekatan, strategi, metode, teknik dan taktik yang utuh.
B. Pendekatan dalam Pembelajaran Flipped Classroom
Pendekatan pembelajaran merupakan titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum, di dalamnya mewadahi, menginspirasi, menguatkan dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan
teoritis tertentu (Andayani, 2015: 72). Secara umum dapat disimpulkan bahwa pendekatan belajar merupakan titik tolak atau sudut pandang “kita” terhadap sebuah proses pembelajaran. Pendekatan yang dipakai dalam sebuah pembelajaran pada umunya terdapat dua jenis yakni: pendekatan student center dan pendekatan teacher center. Pendekatan teacher center merupakan sebuah pendekatan dimana guru menjadi pusat ilmu pengetahuan dan siswa sebagai penerima pengetahuan tersebut. Penggunaan teacher centered membuahkan kebiasaan yang sulit dirubah, siswa hanya menampung banyak informasi tanpa ada aktifitas aktif (Hasibuan, 2016). Didalam teacher center sendiri yang dikedepankan adalah interaksi antara guru dan murid secara langsung dan siswa hanya perlu membangun konsep dasar yang telah dibangun oleh gurunya.
Setelah selesai pembelajaran guru memberikan tugas hanya sebagai pemantapan materi. Sedangkan, pendekatan student center bahwasannya merupakan sebuah tempat dimana siswa belajar dalam kelompok maupun secara individu untuk mengeksplorasi masalah, menjadi pihak yang aktif dalam proses pembelajaran berlangsung dan tidak hanya sebagai penerima pengetahuan yang pasif. Di dalam model pembelajaran flipped classroom pendekatan yang ingin ditonjolkan adalah pembelajaran yang berpusat pada siswa (student center). Di dalam pendekatan ini sudut pandang siswa dalam pembelajaran sangat berpengaruh penting. Pada umumnya sudut pandang siswa di dalam sebuah pembelajaran sangat bergantung pada proses, gaya belajar, cara tangkap dan masalah yang dihadapi siswa tersebut. Pada kelas tradisional proses belajar pada umumnya dipandang siswa sangat membosankan karena guru hanya banyak
menerangkan dan siswa hanya tinggal menerima, mencatat dan mengetahui tanpa bisa berkembang mandiri.
Kegiatan yang membosankan tersebut harus diubah agar siswa mampu berkembang dan berkemampuan secara mandiri. Di dalam flipped classroom yang mengadopsi perkembangan teknologi, siswa diajak untuk aktif dan bertanggung jawab terhadap pembelajaran. Ada 3 poin penting dalam flipped classroom yang harus dilakukan siswa yaitu: (1) siswa harus berpartisipasi aktif di dalam kelas; (2) bertanggung jawab terhadap pembelajaran yang berasal dari video yang sudah diberikan oleh guru sebagai fasilitator pembelajaran dan; (3) siswa harus siap mengkolaborasikan pengetahuan yang ia dapat bersama teman-temannya dalam sebuah diskusi.
Pembelajaran terbalik atau flipped classroom sendiri pada hakikatnya ingin mengedepankan siswa sebagai pusat dari kegiatan belajar mengajar itu sendiri. Dalam buku “Flip Your Classroom: Reach Every Student in Every Class Every Day” dijelaskan bahwa : “Flip classroom is also known as a student centered approach to learning where the student are more active than the instructor in classroom activity. In this case, the instructor acts as facilitator to motivate, guide, and give feed back on student performance. (Sams and Bergman, 2012). Dengan sistem membalik kelas maka manfaat yang bisa diambil adalah siswa tak perlu menghabiskan waktu untuk mendengarkan ceramah di dalam kelas tetapi akan lebih banyak waktu siswa dalam mengeksplore pengetahuan di luar kelas dan memecahkan masalah secara individu maupun kolaboratif. Intinya pada
pendekatan student center ini siswa lebih ingin dilibatkan pada proses belajarnya dan bertanggung jawab pada hasil yang ingin dicapai.
Selain siswa, guru juga ikut andil dalam model pembelajaran flipped classroom ini. Ada 3 peran guru pada model pembelajaran ini yakni: (1) menyediakan lingkungan pembelajaran yang aktif; (2) menjadi fasilitator pembelajaran; (3) merencanakan kegiatan tindak lanjut. Selanjutnya, maksud dari guru menyediakan lingkungan pembelajaran yang aktif adalah memberikan siswa sebuah kesempatan belajar secara mandiri. Pembelajaran aktif menurut (Bonwell dan Elson, 2008: 64) artinya tidak berfokus pada pengutaraan informasi lewat guru tapi lebih pada aktivitas pembelajaran yang mengedepankan kemampuan berpikir kritis, analistis pada sebuah konsep dan masalah yang ada. Selain itu, siswa dituntut aktif dalam mengerjakan tugas dalam materi pelajaran. Berfokus secara mandiri pada pendalaman sebuah nilai dan sikap yang berkaitan dengan materi pelajaran. Diharapkan setelah mampu berpikir kirits dan analitik siswa mampu melakukan refleksi agar bisa melakukan transformasi diri. Lalu, guru di dalam model pembelajaran flip bertugas sebagai fasilitator pembelajaran, memfasilitasi dan menyediakan apa yang dibutuhkan siswa.
Dalam buku “Flip Your Classroom; Reach Every Student In Every Class Every Day”. Yang menjadi rujukan penulisan ini, Bergman dan Sams selaku guru pada mata pelajaran kimia di sebuah sekolah di Colorado membuat diri mereka menjadi fasilitator yaitu dengan membantu siswa dalam menyediakan sumber belajar yaitu kolaborasi antara ceramah di kelas yang sudah direkam ditambah video lain yang yang dapat membantu penjelasan atas ceramah tadi. Selain video
pembelajaran yang diberikan pada siswa, guru juga memberikan beberapa bahan bacaan terkait materi yang akan dipelajari lewat e-book, artikel maupun jurnal ilmiah. Pemberian bahan-bahan pembelajaran tadi dilakukan sebelum kelas berakhir. Dengan bahan-bahan materi yang ada siswa dapat membaca, menonton video pembelajaran dan membuat catatan penting atau pertanyaan penting lalu, dapat ditanyakan di kelas pada hari esok di dalam kelas.
Selain pemberian bahan materi guru juga mengajarkan tentang “pause” dan “rewind” maksudnya pembelajaran dengan model flip ini guru menunjukan bahwa siswa yang biasanya hanya mendengarkan ceramah dan teori dari guru pada kelas tradisional biasanya akan terjadi sebuah masalah dimana siswa lambat dalam menigintisari atau kurang memahami materi bisa mempause/memberhentikan video penjelasan dan memundurkan kembali penjelasan yang sudah terlampir lewat video. Lalu, maksud guru membuat rencana tindak lanjut adalah setelah siswa menonton, mencatat dan membuat pertanyaan, lalu diajukan dan dijadikan bahan presentasi atau diskusi di kelas. Baik guru mapun siswa pada akhir sesi dapat membuat evaluasi dari hasil pembelajaran hari itu. Setelah evaluasi, guru juga dapat memberikan tes atau soal-soal latihan guna memantapkan pemahaman siswa sekaligus melihat perkembangan siswa. Guru dapat melihat perkembangan siswa dengan melihat jawaban hasil tes atau latihan soal siswa. Dengan melihat perkembangan itu nantinya guru dapat menyimpulkan apakah siswa memang sudah bertanggung jawab atas belajar mandirinya di rumah. Selain tes dan latihan soal guru juga dapat melakukan kegiatan tindak lanjut lain yaitu dengan memberikan penugasan
baik individu maupun kelompok. Jadi pembelajaran akan terus terjadi tidak hanya di dalam kelas tetapi juga di luar kelas di kehidupan siswa.
C. Strategi dalam Pembelajaran Flipped Classroom
Kata strategi dalam strategi pembelajaran berasal dari bahasa latian strategia, yang diartikan sebagai seni penggunaan rencana guna mencapai tujuan. Di dalam strategi dibutuhkan perencanaan yang matang dan sistematis untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Dalam konteks pembelajaran strategi pembelajaran menurut Gerlach dan Ely (1980) merupakan cara-cara yang dipilih untuk menyampaikan materi pelajaran dalam lingkungan pembelajaran tertentu meliputi sikap, lingkup, dan urutan kegiatan yang dapat memberikan pengalaman belajar pada siswa. Tujuan utama siswa belajar adalah memahami apa yang dipelajarinya dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari siswa tersebut. Dikarenakan perlu adanya tujuan dalam sebuah pembelajaran maka perlu adanya kaitan antara strategi yang digunakan guru dengan tujuan yang dicapai. Untuk itu, diperlukan langkah-langkah kegiatan pembelajaran yang efektif dan efisien agar siswa betul-betul mencapai tujuan tersebut. Pada kelas tradisional siswa biasanya diajak untuk memperhatikan dan mendengarkan penjelasan guru pada awal pembelajaran. Dengan mendengarkan dan memperhatikan siswa diajak untuk menggali kembali ingatan dan memori yang berkaitan dengan materi pembelajaran, pengalaman belajar yang pernah dilakukan dijadikan bantuan untuk siswa dapat mengerti pembelajaran yang sedang dilaksanakan pada saat itu dengan pengalaman sebagai faktor pendukungnya. Selain itu, siswa diajak
membaca dan membuat rangkuman seputar materi pembelajaran. Proses membaca dan membuat rangkuman ini dimaksudkan mengajak siswa untuk memahami proses pembelajaran di tahap kedua setelah penggalian memori sebelumnya. Dalam kaitannya dengan Taksonomi Bloom di bawah ini, siswa berada pada tahap remembering dan understanding isi pembelajaran dari materi pembelajaran.
Gambar 3.2
Taksonomi Bloom dalam Pembelajaran
Taksonomi Bloom
Pada tahap remembering dan understanding tingkat pemahaman siswa berada di paling bawah. Pada tahap ini proses berpikir siswa mulai dibangun dari tahap yang paling rendah. Pada tahap remembering dan understanding ini siswa benar-benar berada di kondisi dimana siswa benar-benar memulai pembelajaran di dalam kelas dengan hal-hal sederhana seperti mengingat. Dengan kondisi tersebut anggapan yang ada pada kehidupan nyata adalah siswa seakan-akan datang ke sekolah tidak dalam kondisi siap untuk belajar. Setelah tahapan remembering dan understanding siswa diajak untuk mengaplikasikan apa yang sudah dipelajarinya.
Caranya adalah dengan menjalankan/ executing dan implementing/ mengimplementasi, menjalankan di sini berarti siswa menerapkan sebuah cara yang telah dikenal untuk tugas/ masalah yang telah biasa dijumpai. Misalnya: (dalam pelajaran matematika, siswa memisahkan satu kelompok angka dari kumpulan angka lainnya dimana kedua kelompok angka tersebut beranggotakan lebih dari satu angka) sedangkan mengimplementasi maksudnya adalah menggunakan cara-cara tertentu untuk penyelesaian masalah yang belum dikenal sebelumnya.
Setelah tahapan mengaplikasikan tahapan selanjutnya adalah menganalisis. Menganalisis disini berarti siswa diajak untuk mencari hubungan-hubungan antara satu pengetahuan dengan pengetahuan lain yang sudah atau pernah dipelajari sebelumnya. Proses yang ingin dicapai pada tahap ini adalah siswa dapat membedakan bagian yang memiliki hubungan dengan yang tidak memiliki hubungan. Selain itu siswa diajak untuk menemukan makna yang tersirat, menentukan pokok permasalahan dan nilai-nilai tersembunyi. Setelah tahapan-tahapan pada tingkat pemikiran yang sederhana selanjutnya siswa diajak untuk melanjutkan pada tahap berpikir yang lebih tinggi yaitu evaluasi dan mengkreasi. Pada tahap evaluasi siswa diajak untuk membuat penilaian atau keputusan berdasarkan kriteria atau standar yang sudah diciptakan sebelumnya. Lalu pada tahap mengkreasikan, siswa diajak untuk merencanakan, merumuskan dan memproduksi sebuah hasil karya. Pada kelas tradisional penerapan taksonomi bloom di atas untuk tahapan remembering, understanding, applying, analysis, evaluating, dan creating dilakukan di dalam pembelajaran siswa di kelas.
Walaupun terkadang ada beberapa kasus dimana siswa dapat menerapkannya di luar kelas.
Sedangkan pada model pembelajaran flipped classroom tahapan yang ada pada taksonomi bloom di kelas tradisional tadi dibalik. Gambar 3.3 Taksonomi bloom dalam flipped classroom. Dapat dilihat bahwa terdapat perbedaan penggunaan taksonomi bloom di kelas tradisional (Gambar 3.2) dan pada flip classroom (Gambar 3.3)
Gambar 3.3
Taksonomi Bloom dalam Flipped Classroom
Pada gambar di atas bisa kita lihat bahwa tahap remembering dan understanding yang pada umumnya dilakukan di kelas tradisional pada saat kelas dimulai. Diganti menjadi dilakukan oleh siswa sebelum pembelajaran. Sedangkan tahap analyzing dan applying tetap dilakukan di dalam kelas sebagai bukti bahwa siswa benar-benar telah mempelajari bahan-bahan dan sumber-sumber pembelajaran yang telah disiapkan dan diberikan oleh guru. Sedangkan untuk evaluating dan creating bisa dilakukan di dalam kelas maupun saat selesai kelas
dengan pengecualian tertentu. Contohnya pada creating pada kelas kimia maupun fisika dimana kegiatan creating dapat dilakukan di laboratorium. Dengan adanya tahap remembering dan understanding pada flipped classroom anggapan buruk bahwa banyak siswa yang datang ke kelas banyak yang tidak siap untuk belajar karena tidak membaca atau belajar dapat dihilangkan. Dengan kegiatan menonton video, membaca artikel dan mencatat setiap ilmu yang ada pada sumber yang sudah diberikan pada peserta didik setidaknya disana siswa sudah memiliki pengetahuan sebelum pembelajaran dimulai.
Selain mengadopsi sistem taksonomi bloom yang dibalik pada proses awal, flipped classroom juga mengadopsi strategi pembelajaran blended learning. Dalam pembelajaran flipped classroom yang menggunakan strategi pembelajaran blended learning. Blended learning merupakan istilah yang terdiri dari dua kata yaitu blended dan learning. Kata blended berarti campuran, Sedangkan learning memiliki makna umum yakni belajar, dengan demikian blended learning sepintas mengandung makna pola pembelajaran yang mengandung unsur pencampuran, atau penggabungan antara satu pola dengan pola yang lainnya.
Gambar 3.4
Yang dicampurkan dalam pembelajaran blended learning adalah berbagai jenis strategi pembelajaran. Didalam flip classroom sendiri blended learning yang dimaksud adalah campuran dari beberapa strategi, seperti: (1) face to face learning; (2) m-learning; (3) project base learning; (4) problem base learning; (5) peer learning; (6) individualized learning, dan (7) group learning.
1. Face to Face Learning: Pembelajaran dengan tatap muka atau face to face learning menurut Peraturan Menteri Pendidikan Nasional tahun 2006 nomoer 22 merupakan kegiatan pembelajaran yang berupa proses interaksi antara peserta didik, materi pembelajaran, guru dan lingkungan tempat peserta didik menempuh pendidikan. Tetapi, perlu digaris bawahi bahwa pembelajaran dengan face to face di kelas terbalik ini tidak seratus persen sama dengan face to face di kelas tradisional. Perbedaan mendasarnya adalah pada kelas terbalik waktu yang biasanya dihabiskan siswa untuk menangkap materi dari guru mereka selama 60-70 menit diganti dengan mengerjakan tugas mandiri, presentasi dan diskusi bahkan tes serta membuat proyek di kelas. Tatap muka dengan model lama diganti dengan membaca artikel terkait materi pembelajaran dan menonton ceramah yang di videokan di rumah. Selain itu pada kegiatan awal di kelas diganti ke tanya jawab seputar hal-hal yang belum dipahami siswa dari materi yang sudah ditonton siswa lewat video dirumah masing-masing. Waktu yang dipakai tanya jawab ini berkisar 5-20 menit pada saat kelas baru dimulai. Dari sini para guru dapat melihat apakah para siswa sudah benar-benar menonton video pembelajaran yang ditentukan atau tidak. Berikut perbandingan
penggunaan face to face learning untuk kelas tradisional maupun flipped classroom.
Tabel 3.1
Perbandingan Penggunaan Waktu pada Kelas Tradisional dan Flip Classroom Kelas
Tradisional Waktu Flip Classroom Waktu Apersepsi dan mereview pekerjaan rumah ( F.T.F ) 25 menit Apersepsi dan tanya jawab video pembelajaran ( F.T.F ) 15 – 20 menit Mempelajari pengetahuan baru ( F.T.F ) 30 – 45 menit Presentasi dan diskusi, kerja mandiri, serta tes. 75 menit Penugasan dan praktek di lab/ luar kelas 35 menit
Sumber : “Flip Your Classroom: Reach Every Student in Every Class Every Day” dengan perubahan
2. M-Learning: Mobile learning adalah sebuah paradigma baru dalam dunia pembelajaran. Pembelajaran ini hadir untuk merespon perkembangan dunia teknologi informasi dan komunikasi yang sangat pesat belakangan ini. Mobile learning sendiri pada dasarnya merupakan sebuah bentuk dari fasilitas dan layanan yang memberikan informasi elektronik secara umum kepada pembelajar dan kontent edukasional yang membantu proses pencapaian pengetahuan tanpa mempermasalahkan lokasi dan waktu. (Komputer dan teknologi informasi; 87) Sistem dari m-learning sendiri befokus pada handheld/mobile yang bisa dilakukan kapanpun dan dimanapun.
3. Project Base Learning: menurut Buck Institute for Education dalam Khamdi W. (2007) project base learning adalah strategi pembelajaran yang melibatkan siswa dalam kegiatan pemecahan masalah dan memberikan siswa peluang untuk bekerja secara otonom mengkonstruksi belajar mereka sendiri, dan puncaknya adalah siswa dapat menghasilkan produk karya siswa yang realistik. Pembelajaran flip classroom dengan berbasis pada PBL berarti siswa berada pada pusat pembelajaran inovatif yang sesuai dengan kehidupan dunia nyata.
4. Problem Base Learning: menurut Trianto (2009: 93) pembelajaran berbasis masalah adalah pembelajaran dimana siswa dilatih untuk mengembangkan kemampuan menyelesaikan masalah yang berorientasi pada masalah otentik dari kehidupan actual siswa, dari masalah yang dihadapi siswa tersebut diharapakan siswa dapat belajar menggunakan kemampuan berpikir tingkat tinggi. Kondisi yang perlu dijaga agar pembelajaran ini dapat berjalan baik adalah menjaga kondisi siswa tetap kondusif, siswa diajarkan memiliki sikap terbuka dan guru diharapkan dapat menciptakan lingkungan belajar yang nyaman serta menyenangkan bagi siswa.
5. Peer Lesson Learning: menurut Zaini dkk (2008: 62) menyatakan “strategi pembelajaran aktif” tipe peer lesson berarti belajar dari teman. Strategi ini digunakan untuk menggairahkan kemauan siswa untuk mengajarkan materi pada temannya. Lebih spesifik penggunaan peer lesson learning dalam flipped classroom bermakna bahwa di dalam sebuah kelas pasti terdapat siswa yang dalam belajar dia bisa dibilang kelompok siswa fast learner dan
ada juga yang masuk dalam kelompok slow learner. Dengan peer lesson study diharapkan siswa yang memiliki kemampuan fast learner dapat mengajarkan temannnya yang mengalami kesulitan daya tangkap pembelajaran (slow learner).
6. Individualized Learning: menurut Wina Sanjaya (2008: 128) strategi pembelajaran individual dilakukan siswa secara mandiri. Kecepatan, kelambatan, dan keberhasilan siswa dalam pembelajaran sangat ditentukan oleh kemampuan individu yang bersangkutan. Didalam flip classroom setiap individu yang berada di kelas belajar secara mandiri dan aktif secara individu di rumah dengan menonton konten video yang dibuat oleh gurunya. Setiap siswa dikelas diajak untuk berpikir secara mandiri menganalisis konten pengetahuan dan membuat pertanyaan yang nantinya bisa ditanyakan di kelas, dan membuat rangkuman yang dapat membantu proses belajar. Siswa disini benar-benar dilatih untuk bertanggung jawab atas pembelajarannya dan diajak mengembangkan pengalaman belajarnya sendiri sehingga nantinya diri siswa tersebut dapat menjadi pribadi yang lebih baik.
7. Group Learning: Menurut Wina Sanjaya (2011; 242) strategi pembelajaran kelompok merupakan pembelajaran menggunakan sistem pengelompokan. Biasanya menggunakan tim kecil yang terdiri atas 4 sampai 6 orang yang mempunyai latar kemampuan akademik yang berbeda, jenis kelamin, dan ras serta suku yang berbeda (heterogen). Dalam flip classroom guru membagi siswa dalam beberapa kelompok belajar disana mereka dapat
mengerjakan sebuah proyek maupun studi kasus secara berkelompok. Namun proses penyerapan pengetahuan tetap menjadi tanggung jawab masing-masing individu.
D. Penerapan Strategi Pembelajaran dalam Flip Classroom; Out Class dan In Class
Seperti telah dijelaskan di awal tadi bahwa konsep pembelajaran dengan flip classroom ini ternyata merupakan bagian daripada pembelajaran blended learning. Sebagai bagian dari blended learning yang memanfaatkan kolaborasi antara banyak strategi pembelajaran. Berikut pembagian strategi pembelajaran yang dapat dimasukan sebagai out class dan in class pada pembelajaran flipped classroom.
Tabel 3.2
Strategi pembelajaran dalam Flipped Classroom
Out Class In Class
Focus on M-Learning Face to face Learning Focus on Individualized Learning: Project Base Learning Problem Base Learning Group learning Peer Learning
Strategi pembelajaran flipped classroom sebagai sebuah out class memiliki makna bahwa siswa dari banyak strategi pembelajaran yang ada siswa dapat melakukan dua strategi pembelajaran di luar kelas yaitu Focus on M-learning dan Focus on Individualized learning sebagai pokok pekerjaan yang dapat dilakukan siswa, misalnya: menonton video pembelajaran ataupun mengerjakan rangkuman secara individu. Pada kegiatan out class ini siswa benar-benar dipastikan untuk menonton dan mengakses video pembelajaran serta membuat rangkuman tanpa adanya kendala pekerjaan rumah dari guru terkait. Sedangkan, flip classroom pada kegiatan in class siswa benar-benar difokuskan untuk terlibat aktif didalam kelas, contohnya: pada awal masuk kelas, siswa dibagi atas beberapa kelompok (Group Learning). Lalu, dibuat sebuah diskusi yang berkaitan dengan video pembelajaran yang sudah ditonton di rumah. Dari diskusi itu siswa diberikan beberapa pertanyaan. Hasil dari diskusi tersebut digunakan untuk mengidentifikasi siswa yang paham terhadap materi yang sudah ditonton di rumah dan mana siswa yang belum memahami materi untuk siswa yang memiliki daya tangkap cepat dan tak perlu mengajukan pertanyaan terkait video pembelajaran yang sudah ditonton di rumah maka ia dapat melakukan kegiatan lain ataupun membuat grup diskusi baru. Kegiatan lainnya yang bisa dilakukan adalah mengerjakan studi kasus (problem base) maupun mengerjakan sebuah proyek yang berkaitan dengan materi pembelajaran (project base). Ada juga beberapa siswa dari mereka yang memiliki kemampuan fast-learner untuk membantu siswa yang mengalami slow-learner atau kekurangan daya tangkap pembelajaran. Kegiatan yang dapat
dilakukan adalah peer lesson learning atau bekerja sama dengan teman sebaya yang memiliki kemampuan belajar lebih cepat.
E. Metode Pembelajaran dalam Flipped Classroom
Metode pembelajaran dalam (Wina Senjaya (2008) adalah “a way in
achieving something” maksudnya cara yang digunakan untuk
mengimplementasikan rencana serta strategi pembelajaran dan sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran. Dan metode yang dipakai di dalam flip classroom jika merujuk pada strategi pembelajaran yang ada maka metode yang dipakai, diantaranya: (1) metode pembelajaran proyek; (2) metode pembelajaran studi mandiri; (3) metode pembelajaran studi kasus; (4) metode pembelajaran latihan dengan teman, dan (5) metode diskusi.
Setiap metode yang dimaksud mewakili setiap strategi pembelajaran yang dipakai. Contohnya: strategi pembelajaran dengan group learning yang dipadukan dengan tatap muka, metode pembelajaran yang dapat dipakai adalah studi kasus, metode proyek dan diskusi. Untuk strategi pembelajaran dengan peer lesson bisa digunakan metode latihan dengan teman. Metode latihan dengan teman ini maksudnya adalah pembelajaran dapat dilakukan dengan teman sebaya. Saling menguatkan, memotivasi dan belajar bersama. Jika ada siswa yang mengalami kesulitan belajar (slow learner) maka ia dapat belajar dengan temannya (fast-learner) diharapkan dengan saling bekerja sama dalam pemahaman konsep, baik siswa fast learner maupun slow learner mendapatkan pengalaman belajar.
F. Teknik Pembelajaran dalam Flipped Classroom
Setelah menjabarkan tentang strategi dan metode maka langkah selanjutnya adalah menjabarkan soal teknik pembelajaran. Teknik pembelajaran menurut Wina Senjaya (2008) teknik pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang dilakukan seseorang dalam mengimplementasikan metode pembelajaran yang spesifik. Didalam flipped classroom teknik pembelajaran yang digunakan pendidik yaitu flipped mastery classroom. Jonathan Bergman dan Aaron Sams, (2012;52) mengatakan “flip mastery classroom takes the “principles of mastery” learning and merries them with modern technology to make a sustanaible, reproducible, manageable environment for learning. Kunci utama dalam mastery learning adalah (1). Student work either in small groups, or individually at an appropriate pace, (2). The teacher formatively assesses students and gauges students understanding, (3) Student demonstrate mastery of objective on summative assessment, for students who do not mastery a given objective, remediation is provided. The basic idea of mastery learning is for students to learn a series of objective at their own pace.
Secara garis besar, flipped classroom menggabungkan antara prisnsip-prinsip mastery learning dengan teknologi modern untuk menciptakan suasana belajar yang berkelanjutan, menghasilkan sebuah produk, dan lingkungan belajar yang teratur. Untuk menerapkan model pembelajaran flipped classroom mastery, dibutuhkan beberapa karakter guru seperti; (1) guru harus bisa menjadi pembuat konten yang handal; (2) guru harus bisa mengakui ketidakmapuan dalam menjawab pertanyaan siswa yang dirasa terlalu sulit dan harus berkeinginan
mencari jawaban atas pertanyaan tersebut bersama siswa; (3) guru harus bisa menyesuaikan tempo belajar siswa; (4) guru harus bisa memberikan kontrol tempo belajar pada siswa.
G. Taktik Pembelajaran dalam Flipped Classroom
Setelah tadi membahas teknik dan metode pembelajaran hal terakhir yang sangat mempengaruhi dalam proses pembelajaran adalah taktik. Taktik pembelajaran menurut Wina Senjaya (2008) dalam hakikat model dan strategi pembelajaran merupakan gaya seseorang dalam melaksanakan metode atau teknik pembelajaran tertentu yang sifatnya individual, contohnya: terdapat dua orang guru sama-sama menggunakan metode ceramah tetapi, akan sangat berbeda dalam taktik yang digunakan. Dalam penyajiannya, yang satu mungkin banyak diselingi dengan humor karena dia mungkin mempunyai “sense of humor” yang tinggi, sementara yang satunya lagi kurang memiliki “sense of humor”, tetapi lebih banyak menggunakan alat bantu elektronik karena dia sangat menguasai bidang itu dalam gaya mengajar akan tampak keunikan atau kekhasan dari masing-masing guru, sesuai dengan kemampuan, pengalaman dan tipe kepribadian guru yang bersangkutan.
Didalam flipped classroom sendiri, Jonathan Bergman dan Aaron Sams memang tidak tampak memiliki sense of humor. Tetapi, mereka berusaha menggunakan bantuan teknologi yang ada untuk membuat pembelajaran terasa menyenangkan bagi peserta didiknya. Selain itu, mereka juga memiliki kemampuan dalam memberikan instant feedback pada setiap siswa yang
mengajukan pertanyaan. Hal inilah yang menjadi kekhasan yang dimiliki oleh kedua guru tersebut.
38 BAB IV
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN FLIPPED CLASSROOM
A. Implementasi Model Pembelajaran Flipped Classroom
Setelah membahas tentang model pembelajaran flipped classroom, pendekatan didalamnya, sampai pada taktik pembelajaran yang ada pada flip classroom. Sekarang saatnya untuk melihat bagaimana implementasi flipped classroom di kehidupan nyata sebuah pembelajaran. Dalam mengimplementasikan model pembelajaran flip classroom perlu dipahami bahwa terdapat dua tahap yaitu tahap out class dan in class.
a. Out Class
Implementasi pembelajaran flip classroom sebagai sebuah out class berarti guru yang berperan pada tahap ini. Ada 3 peran (role) yang dilakukan oleh guru: (1) provide active learning environment; (2) facilitator of learning; (3) plan follow up activities.
Pada peran guru sebagai provide active learning berarti guru bisa dibilang sebagai provider atau penyedia. Penyedia disini yaitu penyedia lingkungan belajar yang aktif. Lingkungan belajar yang aktif dapat diciptakan dengan membuat sebuah rencana pembelajaran atau disebut RPP. Didalam RPP, guru dapat menggunakan metode pembelajaran yang membuat siswa berperan aktif dan menjadi pusatnya. Contoh metode yang digunakan adalah metode studi kasus, metode studi mandiri, metode problem base, dan metode project base. Peran guru selanjutnya yaitu
sebagai facilitator of learning. Maksud dari guru sebagai fasilitator adalah guru memberikan fasilitar-fasilitas kepada siswa seperti bahan ajar, baik yang bisa ditonton maupun dibaca, modul pembelajaran atau LKS, dan buku-buku referensi atau jurnal ilmiah. Terakhir, guru sebagai plan follow up activities, artinya guru membuat sebuah rencana tindak lanjut yang nantinya akan diberikan pada siswa atas pembelajaran di kelas.
Selanjutnya, untuk menerapkan flip classroom pada tahap out class. Guru dapat melakukan 3 langkah besar yaitu (1) planning; (2) recording; dan (3) publishing. Berikut penjelasan 3 langkah besar guru dalam out class flip classroom.
1. Planning
Pada tahap ini guru membuat rencana pembelajaran yang akan dilaksanankan di kelas. Dalam hal ini guru melakukan tugas sebagai plan follow up of learning. Salah satu yang harus dibuat ketika guru menjadi seorang plan follow up atau desaigner atau perencana pembelajaran adalah:
(1) Pemilihan Materi Pembelajaran.
Sebelum memulai sebuah kelas, pendidik wajib mencari dan menyesuaikan materi pembelajaran yang akan diberikan pada peserta didik dengan memperhatikan kurikulum yang berlaku saat itu. Lalu, pendidik juga diminta menyesuaikan materi ajar yang akan diberikan dengan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. Terdapat beberapa kriteria dalam pemilihan sebuah materi ajar, diantaranya:
a. Relevansi: relevansi bermakna bahwa materi yang akan disampaikan relevan dengan standar kompetensi dasar sebagai pengejawantahan kurikulum. Pada kompetensi dasar tersirat konsep yang harus diajarkan dan karakteristik konsepnya. Artinya, siswa diberikan fakta-fakta yang sesuai dengan konsep materi yang ada.
b. Keajegan: keajegan disini bermakna adanya hubungan teratur antara bahan ajar dengan kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa.
c. Kecukupan: kecukupan disini bermakna bahwa materi ajar yang diberikan hendaknya cukup memadai dalam membantu siswa menguasai kompetensi dasar yang diajarkan. Materi yang disarankan tidak boleh terlalu banyak maupun terlalu sedikit. (2) Membuat Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran
Pada tahap ini, guru wajib membuat sebuah pedoman pengajaran yang mempertimbangkan metode, strategi, teknik dan taktik pembelajaran apa yang akan digunakan. Didalam membuat sebuah RPP guru juga wajib mempertimbangkan susunan komponen-komponennya, seperti: identitas mata pelajaran, standar kompetensi, kompetensi dasar, indicator pencapaian kompetensi, tujuan pembelajaran, materi ajar, alokasi waktu, metode pembelajaran, kegiatan pembelajaran (pendahuluan, inti, dan penutup), penilaian belajar dan sumber belajar.
(3) Menentukan Sarana Publishing
Pada tahap ini, guru wajib mengikuti perkembangan teknologi dan trend media pembelajaran yang sedang atau banyak dipakai, masalah pembelajaran yang dihadapi anak didik, dan guru wajib menentukan pilihan media apa yang cocok dipakai. Agar guru dapat menciptakan suasana belajar yang menarik bagi siswa. Misalnya: dalam flipped classroom masalah yang dihadapi adalah siswa banyak ktinggalan materi karena beberapa masalah yang terjadi. salah satunya ada anak yang sering mengikuti kegiatan di luar sekolah dan membuat ia tidak dapat belajar di sekolah serta sering tertinggal dan tidak paham akan materi yang diberikan gurunya. Maka solusi yang baik membuat media yang bisa membantu masalah siswa tersebut. Pada tahap ini guru biasanya akan memasukan media pembelajaran yang akan dipakai dalam mengajar. Contoh sarana publishing yang dimaksud adalah LMS (Learning Management System) Beberapa LMS atau Learning Management System yang dapat dipakai guru/pendidik, diantaranya : OLAT, SISMART, Moodle dan ATutor.
2. Recording
Pada tahap ini guru bertugas menjadi facilitator of learning, sebagai seorang fasilitator guru berusaha memberikan serta membuat sebuah fasilitas belajar yang bisa digunakan siswa. Salah satunya adalah pembuatan konten pembelajaran. Konten pembelajaran di sini bisa berupa media pembelajaran berbasis video, seperti video kasus
maupun video ceramah yang disertai dengan tambahan-tambahan konten (gambar, grafik, dan tabel) yang dapat digunakan untuk memperkaya pengetahuan siswa didik. Langkah-langkah dalam tahapan recording ini yaitu :
1) Mencari referensi materi yang akan digunakan dalam mengajar, dan membuat konten dari sumber tersebut. Misalnya: sumber buku- buku pelajaran, video-video edukasi maupun kasus-kasus yang relevan. Setelah guru mendapatkan materi dari bahan-bahan refrensi yang sesuai.
2) Guru membuat konten materi pelajaran dari sumber-sumber tadi dan dilakukan penyederhanaan. Salah satu bentuk penyederhanaan materi yaitu semacam video berisi bahan ajar yang didalamnya mengandung teori-teori inti dari pelajaran terkait yang direkam sendiri oleh guru tersebut dan ditambahkan dengan video-video pembantunya. Contohnya: video tentang pelajaran ekonomi yang didalamnya mengenalkan siswa pada konsep ilmu ekonomi. Pengetahuan dan konsep tentang materi ekonomi yang berbentuk teori bisa disampaikan guru lewat video rekaman saat guru menjelaskan dengan menggunakan papan tulis tentang apa itu ilmu ekonomi disertai video pembantu yang dapat “menghighlight” inti materi dengan jelas. Alat yang dapat dipakai guru disini bisa berupa video camera, software recording, papan
tulis, microphone maupun komputer/laptop. Hal-hal yang perlu diperhatikan guru pada bagian ini adalah:
1. Membuat video dengan durasi yang tidak terlalu panjang tapi jelas, lugas dan mudah dipahami peserta didik.
2. Membuat video pembelajaran yang menarik. Misalnya dengan menambahkan animated voice, animated video maupun humor-humor singkat.
3. Focus utama pada inti materi pembelajaran,
4. Memberikan penekanan tertentu pada inti materi yang disampaikan didalam konten.
5. Menjaga hak paten pada konten yang sudah diciptakan.
3) Proses Editing Konten
Pada proses ini yang harus dilakukan guru adalah melakukan pengeditan pada konten yang telah dibuat. Tujuan dari mengedit konten untuk meminimalisir/mengurangi kesalahan yang sudah terjadi saat perekaman. Salah satu aplikasi yang dapat membantu pendidik dalam mengedit konten adalah Camtasia Studio. Camtasia Studio adalah software yang dapat digunakan untuk men-screen capturing, e-learning author, content creator, video editing, dan membagikan video yang dibuat melalui satu aplikasi. Selain itu dengan proses editing ini guru dapat melakukan setting
gambar, penambahan video kasus sebagai tugas kelompok, dan menghighlight materi yang dirasa penting.
Gambar 4.1
User Interface Camtasia Studio
Sumber: https://id.pinterest.com/pin/55521007882921567/
3. Publishing.
Tahap pusblishing ini adalah puncak dari kegiatan out class yang sudah direncanakan guru sebelumnya. Pada tahap ini guru harus dengan bijak mampu memilih sekiranya akan menyebarkan konten kepada peserta didik dengan menggunakan sarana apa, mengingat tidak semua peserta didik memiliki akses pada media online. Jika konten akan disebarkan lewat jejaring internet, maka guru wajib menggunakan program LMS atau Learning Management System yang
mudah dan dapat diakses semua siswa. Program LMS sendiri merupakan program belajar yang dikelola dari Sekolah dimana tempat guru mengajar. Salah satu contoh LMS yang pernah dipakai adalah SISMART. Untuk contoh LMS lain yang biasa dipakai penulis saat menulis karya ilmiah ini adalah web belajar USD yang digunakan di Univeristas Sanatha Dharma Yogyakarta. Selain menggunakan LMS, guru-guru juga dapat mensharekan konten yang sudah dibuat berupa video pembelajaran, video ceramah maupun video kasus lewat laman berbagi video Youtube. Dengan layanan youtube yang bisa diakses banyak orang termasuk para siswa didik, membuat konten dapat disebarluaskan dengan mudah. Selain melalui media daring atau yang berbasis internet, guru juga wajib mempertimbangkan adanya siswa yang tidak memiliki sarana belajar online. Caranya adalah dengan menggunakan sarana hardware berbagi seperti: flashdisk dan DVD. Dengan menggunakan sarana offline siswa yang tidak memiliki sarana belajar daring atau system internet dapat mengakses informasi pelajaran yang sudah disebarkan guru lewat flashdisk atau DVD.
b. In Class
Implementasi pembelajaran flipped classroom sebagai sebuah in class berarti siswa yang lebih banyak aktif dalam belajar. Pada tahap ini siswa diberi tugas untuk bertanggung jawab atas dirinya sendiri dalam