BAB 4
ANALISIS DAN PEMBAHASAN
4.1. Data Parameter Masukan
Tabel 4.1. Data parameter tanah yang digunakan pada analisis ini adalah γb,
γsaturated, φ ,dan c. Tabel 4.1 Hasil Tanah.
Parameter Satuan Hasil
w % 19,38 b kN/m3 17,81 sat kN/m3 19,15 Gs - 2,66 o 37,47 c kN/m2 0 hsat m 0,473 e - 0,744 Gravel % 13,42 Sand % 50,48 Silt % 9,46 Clay % 26,64 (Sumber : Widyo, 2015)
4.2. Analisis Stabilitas Lereng Metode Statik.
4.2.1. Lereng dengan sudut(
α)30oAnalisis stabilitas lereng metode statik ini terdiri dari beban sendiri dan beban hujan, pada perhitunganya menggunakan program Geo-Studio dengan fitur
Slope/W untuk memudahkan dalam menganalisa safety factor/faktor keamanan
lereng. Geometri lereng di modelkan dengan sudut kemiringan α = 30o, kemudian
volume basah), φ (sudut geser dalam), c(kohesi)dan terakhir dilakukan solve
analyses.Outputseperti yang ditunjukan pada gambar 4.1 dengan menggunakan
tipe slip surface grid and radius. Ketebalan tanah jenuh akibat hujan 2 harian diasumsikan konstan (0,473 m) baik untuk kondisi permukaan tanah datar maupun miring sedangkan tanah asli (20 m).
Gambar 4.1. Analisis Geo-Slopepada lereng 300setelah hujanmenggunakan slip
surface option grid and radius.
4.2.2. Lereng dengan sudut(α) 45
oAnalisis stabilitas lereng metode statik ini terdiri dari beban sendiri dan beban hujan, dalam perhitunganya menggunakan program Geo-Studio dengan fitur
Slope/W untuk memudahkan dalam menganalisa safety factor/faktor keamanan
lereng. Geometri lereng di modelkan dengan sudut kemiringan α = 45o, kemudian
volume basah), φ (sudut geser dalam), c(kohesi)dan terakhir dilakukan solve
analyses. Output seperti yang ditunjukan pada gambar 4.2 dengan menggunakan
tipe slip surface grid and radius. Ketebalan tanah jenuh akibat hujan 2 harian diasumsikan konstan (0,473 m) baik untuk kondisi permukaan tanah datar maupun miring sedangkan tanah asli (20 m).
Gambar 4.2. Analisis Geo-Slopepada lereng 450setelah hujan.
4.2.3. Lereng dengan sudut(α)60
oAnalisis stabilitas lereng metode statik ini menggunakan program Geo-Studio dengan fitur Slope/W untuk memudahkan dalam menganalisa safety factor/faktor
keamanan lereng. Geometri lereng di modelkan dengan sudut kemiringan α = 60o,
kemudian memasukan properti tanah yang meliputi: γsaturated(berat isi tanah jenuh),
γb(berat volume basah), φ (sudut geser dalam), c(kohesi)dan terakhir dilakukan
solve analyses. Output seperti yang ditunjukan pada gambar 4.3 dengan
menggunakan tipe slip surface grid and radius. Ketebalan tanah jenuh akibat hujan 2 harian diasumsikan konstan (0,473 m) baik untuk kondisi permukaan tanah datar maupun miring sedangkan tanah asli (20 m).
Gambar 4.3. Analisis Geo-Slopepada lereng 600setelah hujan.
Analisis stabilitas lerengmetode statik dengan menggunakan programSlope/Wini
didapatkan hasiluntuk lereng α 30o
sebesar 1,33, sedangkan α 45o sebesar 0,78 dan
α 60o
sebesar 0,47. Analisis stabilitas lereng metode statik dengan penambahan
beban hujan ini didapatkan kondisi lereng kritis pada α 45o
dan α 60o karena lereng tersebut termasuk dalam golongan lereng yang curam. Rekapitulasi nilaianalisis stabilitas lereng metode statik terhadap nilai safety factor (SF) yang disajikan padaTabel 4.2
Tabel 4.2. Rekapitulasi nilai saefety factor lereng akibat pengaruh statik.
Sudut Lereng Safety Factor
30o 1,33
45o 0,78
60o 0,47
4.3. Analisis Stabilitas Lereng Metode Pseudo Statik
Nilai percepatan gempa dasar didapatkan dari peta zona gempa Indonesia (SNI2012) yang dipakai sebagai acuan dalam merencanakan bangunan gedung dan non gedung. Analisis ini diambil data sekunder tanah yang digolongkan dengan kelas situs SC (pasir berlempung). Mencari nilai koefisien gempa dengan menggunakan metode pseudo statik ditunjukan pada gambar 4.4 peta zona gempa Indonesia 2012 dan gambar 4.5 menunjukan tipkal lereng di DAS Tirtomoyo.
Gambar 4.4.Peta zona gempa Indonesia 2012.
Gambar 4.5.Tipikallereng di DAS Tirtomoyo (60o).
20 5,77 21,23 15 60° 10 10 42 commit to user
Gambar 4.4 peta zona gempa Indonesia untuk daerah Kabupaten Wonogiri didapatkan percepatan gempa permukaan terkoreksi (ad) sebesar 0,8 g – 0,9 g dan diambil nilai sebesar 0,9 g, setelah itu dicari koefisien pseudo statik (kh) dengan menggunakan Persamaan 2.12. kh = 𝑎𝑑 𝑔 kh = 0,9 9,81 kh = 0,092
Penelitian ini didapatkan nilai koefisien gempa dengan metode pseudo statiknilai
sebesar kh = 0,092,setelah itu di input ke seismic loaddan seperti yang disajikan
pada gambar 4.6.
Gambar 4.6. Input coefficient Seimic Load.
4.3.1. Lereng dengan sudut (α)30
oAnalisis stabilitas lereng metode pseudo statik dengan parameter masukanya
properti tanah yang meliputi:γsaturated(berat isi tanah jenuh), γb(berat volume
basah), φ(sudut geser dalam), c (kohesi)dan terakhir memasukan koefisien pseudo statik horisontal pada keyln seismic load, setelah itu solve analysismaka didapatkan output seperti yang ditunjukan pada Gambar 4.7 dengan menggunakan tipe slip surface grid and radius. Metode ini percepatan gempa vertikal diabaikan, karena pada umumnya percepatan gempa vertikal lebih kecil dari percepatan gempa horisontal, sehingga percepatan gempa vertikal tidak begitu menentukan dalam perhitungan gaya lateral yang bekerja pada lereng. Analisis ini ketebalan tanah jenuh akibat hujan 2 harian diasumsikan konstan (0,473 m) baik untuk kondisi permukaan tanah datar maupun miring sedangkan tanah asli (20m).
Gambar 4.7. Analisis Geo-Slopepada lereng 30osetelah hujan dan beban gempa.
4.3.2. Lereng dengan sudut (α)45
oAnalisis stabilitas lereng metode pseudo statik dengan parameter masukanya
properti tanah yang meliputi: γsaturated (berat isi tanah jenuh), γb(berat volume
basah), φ (sudut geser dalam), c (kohesi)dan terakhir memasukan koefisien pseudo statik horisontal pada keyln seismic load, setelah itu solve analysismaka didapatkan output seperti yang ditunjukan pada Gambar 4.8 dengan menggunakan tipe slip surface grid and radius. Metode ini percepatan gempa vertikal diabaikan, karena pada umumnya percepatan gempa vertikal lebih kecil dari percepatan gempa horisontal, sehingga percepatan gempa vertikal tidak begitu menentukan dalam perhitungan gaya lateral yang bekerja pada lereng. Analisis ini ketebalan tanah jenuh akibat hujan 2 harian diasumsikan konstan (0,473 m) baik untuk kondisi permukaan tanah datar maupun miring sedangkan tanah asli (20 m).
Gambar 4.8. Analisis Geo-Slopepada lereng 45o setelah hujan dan beban gempa.
4.3.3. Lereng dengan sudut (α)60
oAnalisis stabilitas lereng metode pseudo statik dengan parameter masukanya
properti tanah yang meliputi: γsaturated (berat isi tanah jenuh), γb(berat volume
basah), φ (sudut geser dalam), c (kohesi) dan terakhir memasukan koefisien pseudo statik horisontal pada keyln seismic load, setelah itu solve analysismaka didapatkan output seperti yang ditunjukan pada Gambar 4.9 dengan menggunakan tipe slip surface grid and radius. Metode ini percepatan gempa vertikal diabaikan, karena pada umumnya percepatan gempa vertikal lebih kecil dari percepatan gempa horisontal, sehingga percepatan gempa vertikal tidak begitu menentukan dalam perhitungan gaya lateral yang bekerja pada lereng. Analisis ini ketebalan tanah jenuh akibat hujan 2 harian diasumsikan konstan (0,473 m) baik untuk kondisi permukaan tanah datar maupun miring sedangkan tanah asli (20 m).
Gambar 4.9. Analisis Geo-Slopepada lereng 60o setelah hujan dan beban gempa. Analisis stabilitas lereng metode pseudo statik dengan menggunakan program
Slope/W ini didapatkan hasil untuk lereng α 30o sebesar 1,09, sedangkan α 45o
sebesar 0,64 dan α 60o
sebesar 0,38. Analisis stabilitas lereng metode pseudo statik dengan penambahan beban hujan ini didapatkan kondisi lereng kritis semua, karena ada penambahan beban gempa pada lereng tersebut sehingga meningkatkan faktor kelongsoran. Rekapitulasi nilai analisis stabilitas lereng metode pseudo statik terhadap nilai safety factor (SF) yang disajikan pada tabel 4.3.
Tabel 4.3. Rekapitulasi nilai saefety factor lereng akibatbeban gempa dengan menggunakan metode pseudo statik.
Sudut Lereng Safety Factor
30o 1,09
45o 0,64
60o 0,38
4.4. Analisis Stabilitas Lereng Metode Dinamik
Nilai parameter masukan metode dinamik antara lain: modulus geser maksimum
(Gmaks), poisson ratio (v), dan damping ratio (ξ), dan didapat nilai:
Mencari nilai massa tanah (𝜌) dengan menggunakan Persamaan (2.14.)
𝜌 = 1,952 kN/m3
Mencari nilai modulus geser (G) dengan menggunakan Persamaan (2.15.)
G = 1923.077 kN/m2
Mencari nilai gelombang geser (VS) dengan menggunakan Persamaan (2.16.)
Vs = 31.388m/det
Mencari nilai tegangan geser ()dengan menggunakan Persamaan (2.17.)
= 9,058 kN/m2
Mencari nilai regangan geser (ᵞ) dengan menggunkan Persamaan (2.18.)
ᵞ = 4,7161 x 10-3
Mencari nilai damping ratio (ξ) dengan menggunakan Persamaan (2.19.)
ξ = 0,22 kN/m2
Mencari nilai modulus geser maksimum (Gmaks) dengan menggunakan Persamaan
(2.20.)
Gmaks = 1923,123 kN/m2
4.4.1. Lereng dengan sudut (α)30
oAnalisis stabilitas lereng metode dinamik parameter masukanya meliputi:
modulus geser (Gmaks), poisson ratio (v), dan damping ratio (ξ), setelah itu solve
analysis.Pada fitur Quake/wdibutuhkan earthquake record untuk menjalarkan
gempa, karena didaerah wonogiri tidak ada earthquake record sehingga diambil data dari fitur Quake/W yang ditunjukan pada Gambar 4.10 dan diplacement seperti yang ditunjukan pada Gambar 4.11dan selanjutnya sub analysis pada fitur
pada Gambar 4.12. Penelitian ini ketebalan tanah jenuh akibat hujan 2 harian diasumsikan konstan (0,473 m) baik untuk kondisi permukaan tanah datar maupun miring sedangkan tanah asli (20 m).
Gambar 4.10. earthquake record.
Analisis stabilitas lereng metode dinamik dengan program Quake/W ini digunakan untuk mencari stabilitas lereng kibat beban gempa. ProgramSlope/Wtidak mengakomodasi akibat beban gempa maka dari itu penelitian ini memakai fitur
Quake/W sebagai parent analyses dan Slope/W sebagai sun analyses. Dampak
pengaru beban gempa disajikan pada Gambar 4.11.
Gambar 4.11. Displacementpada lereng 30o setelah hujan dan beban gempa. Hasil safety factor pada analisis stabilitas lereng metode dinamik ini pada sudut α
30o didapatkan nilai sebesar 1,27 seperti yang disajikan Gambar 4.12.
Gambar 4.12. Analisis Geo-Slopepada lereng 30o setelah hujan dan beban gempa.
4.4.2. Lereng dengan sudut (α)45
oAnalisis stabilitas lereng metode dinamik parameter masukanya meliputi:
modulus geser maksimum (Gmaks), poisson ratio (v), dan damping ratio (ξ), setelah
itu solve analysespada fitur Quake/wmaka didapatkan diplacement seperti yang ditunjukan pada Gambar 4.13 dan selanjutnya sub analysis pada fitur
Slope/Wdengan menggunakan tipe slip surface grid and radius yang ditunjukan
pada Gambar 4.14. Penelitian ini ketebalan tanah jenuh akibat hujan 2 harian diasumsikan konstan (0,473 m) baik untuk kondisi permukaan tanah datar maupun miring sedangkan tanah asli (20 m). commit to user
Gambar 4.13. Displacementpada lereng 45o setelah hujan dan beban gempa. Hasil safety factor pada analisis stabilitas lereng metode dinamik ini pada sudut α
30o didapatkan nilai sebesar 0,70 seperti yang disajikan Gambar 4.14.
Gambar 4.14. Analisis Geo-Slopepada lereng 45o setelah hujan dan beban gempa.
4.4.3. Lereng dengan sudut (α)60
oAnalisis stabilitas lereng metode dinamik parameter masukanya meliputi: modulus geser (Gmaks), poisson ratio (v), dan damping ratio (ξ), setelah itu solve commit to user
analysispada fitur Quake/wmaka didapatkan diplacement seperti yang ditunjukan
pada Gambar 4.15 dan selanjutnya sub analysis pada fitur Slope/Wdengan menggunakan tipe slip surface grid and radius yang ditunjukan pada Gambar 4.16. Penelitian ini ketebalan tanah jenuh akibat hujan 2 harian diasumsikan konstan (0,473 m) baik untuk kondisi permukaan tanah datar maupun miring sedangkan tanah asli (20 m).
Gambar 4.15. Displacementpada lereng 60o setelah hujan dan beban gempa.
Hasil safety factor pada analisis stabilitas lereng metode dinamik ini pada sudut α
45o didapatkan nilai sebesar 0,40 seperti yang disajikan Gambar 4.16.
Gambar 4.16. Analisis Geo-Slope pada lereng 60o setelah hujan dan beban gempa. Analisis stabilitas lereng metode dinamik dengan menggunakan program
Quake/W sebagai parent analysis dan Slope/W sebagai sub analysis ini didapatkan
hasil untuk lereng α 30o
sebesar 1,27, sedangkan α 45o sebesar 0,70 dan α 60o
sebesar 0,40. Analisis stabilitas lereng metode dinamik dengan penambahan beban hujan ini didapatkan kondisi lereng kritis semua, karena ada penambahan beban gempa pada lereng tersebut sehingga meningkatkan faktor kelongsoran. Rekapitulasi nilai analisis stabilitas lereng metode dinamik terhadap nilai safety
factor (SF) yang disajikan pada Tabel 4.4.
Tabel 4.4. Rekapitulasi nilai saefety factor lereng akibatbeban gempa dengan menggunakan metode dinamik.
Sudut Lereng Safety Factor
30o 1,27
45o 0,70
60o 0,40
Analisis stabilitas lereng dengan metode statik, pseudo statik dan dinamik dapat disimpulkan bahwa nilai faktor keamanan lereng pada metode pseudo statik berada paling kritis diantara metode statik maupun dinamik, karena metode ini arah gaya gempanya dianggap ke arah luar lereng yang meningkatan faktor kelongsoran. Rekapitulasi nilaisafety factor lereng akibat statik, pseudo statik dan dinamik disajikan pada tabel 4.5.
Tabel 4.5. Rekapitulasi nilai safety factor lereng akibat statik, pseudo statik dan dinamik.
Sudut Lereng
Beban sendiri + beban hujan
Beban sendiri + beban hujan + beban gempa
SF Statik SF Pseudostatik SF Dinamik
30o 1,33 1,09 1,27
45o 0,77 0,64 0,70
60o 0,47 0,38 0,40
4.5. Pengaruh SF terhadap nilai parameter masukan
4.5.1. Pengaruh nilai kohesi (c) terhadap nilai SF
Grafik pengaruh hubungan antara nilai kohesi (c) terhadap nilai safety factor (SF) untuk metode statik, pseudo statik dan dinamik ditunjukan pada Gambar 4.17.
Gambar 4.17.Pengaruh perubahannilai c (kohesi) terhadap nilai SF.
Pengaruh nilai kohesi (c) terhadap nilai SF sangat berpengaruh terhadap longsoran karena semakin tinggi nilai kohesi (c) pada material lereng akan menimbulkan longsoran dalam, sehingga nilai SF akan semakin aman. Ketiga analisis yaitu: metode statik, pseudo statik dan dinamik didapatkan nilai SF pada analisis pseudo statik berada di paling kritis karena arah gaya gempa dianggap ke arah luar lereng yang dapat meningkatkan gaya longsor.
Arah gaya gempa sebenarnya bekerja bersifat transient (arah gaya bergantian ke luar dan masuk lereng sesuai riwayat percepatan gempa). Metode dinamik dipengaruhi oleh material tanah itu sendiri, semakin nilai kohesi (c) tinggi akan meningkatkan nilai safety factor/faktor keamanan, sehingga jenis tanah berperan penting pada stabilitas lereng terhadap beban gempa. Metode pseudo statik dipengaruhi oleh letak daerah pada peta zonasi gempa 2012 jadi metode pseudo statik tidak terpengaruh oleh jenis tanah . pengaruh nilai c (kohesi) terhadap nilai
SFdisajikan pada Tabel 4.6. 0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 0 5 10 15 20 25 30 35 40 45
DINAMIK STATIK PSEUDOSTATIK
An gk a Ke am an an SF kohesi(c) commit to user
Tabel 4.6. Perbandingan pengaruh nilai c (kohesi) terhadap nilai SF
c (kN/m2)
Beban sendiri + beban hujan
Beban sendiri + beban hujan +
beban gempa Keterangan
SF Statik SF Pseudo statik SF Dinamik
0 1,33 1,09 1,27 existing
10 2,19 1,67 1,83 simulasi
20 2,75 2,08 2,26 simulasi
30 3,23 2,44 2,62 simulasi
40 3,67 2,79 2,91 simulasi
4.5.2. Pengaruh nilai ϕ
O(sudut geser dalam) terhadap nilai SF
Grafik pengaruh hubungan antara nilai sudut geser dalam (ϕO
) terhadap nilai safety
factor (SF) untuk metode statik, pseudo statik dan dinamik ditunjukan pada
Gambar 4.18.
Gambar 4.18. Pengaruh Perubahan nilaiϕO (sudut geser dalam) terhadap nilai SF.
Grafik pengaruh hubungan antara nilai ϕO
terhadap nilai safety factor (SF) untuk
statik sangat berpengaruh terhadap longsoran karena semakin kecil nilai ϕO
pada material lereng akan menimbulkan longsoran dangkal, sehingga nilai SF akan semakin tidak aman. Pengaruhnya untuk pseudo statik sama seperti statik semakin
kecil nilai ϕOsemakin rendah nilai SFbegitu juga dengan dinamik. Pengaruh nilai
ϕO pada ketiga analisis ini akan mempengaruhi longsoran lereng dimana nilai
0 0.5 1 1.5 2 0 5 10 15 20 25 30 35 40 45
DINAMIK STATIK PSEUDOSTATIK
sudut geser dalam(ϕO
) An gk a Ke am an an SF commit to user
ϕOkecil akan menimmbulkan nilai SF yang semakin kritis karena kemampuan
tanah untuk menahan tekanan semakin kecil, sehingga longsor menjadi tidak
aman, seperti ditunjukan pada perbandingan pengaruh nilai ϕO (sudut geser
dalam) terhadap nilai SF pada Tabel 4.7.
Tabel 4.7. Perbandingan pengaruh nilai ϕO (sudut geser dalam) terhadap nilai SF
ϕO
Beban sendiri + beban hujan
Beban sendiri + beban hujan +
beban gempa Keterangan
SF Statik SF Pseudo statik SF Dinamik
10 0,31 0,23 0,29 existing
20 0,63 0,47 0,60 existing
30 1,00 0,75 0,96 existing
37,47 1,33 1,00 1,27 simulasi
40 1,46 1,09 1,39 existing
4.5.3. Pengaruh nilai modulus geser maksimum (G
maks) terhadap
nilai SF
Grafik pengaruh hubungan antara nilai sudut modulus geser maksimum (Gmaks)
terhadap nilai safety factor (SF) untuk metode statik, pseudo statik dan dinamik ditunjukan pada Gambar 4.19.
Gambar 4.19. Pengaruh Perubahan nilai Gmaks (modulus geser maksimum)
terhadap nilai SF. 0 0.5 1 1.5 0 1000 2000 3000 4000 5000
DINAMIK STATIK PSEUDOSTATIK
modulus geser maksimum (Gmaks)
A n g ka K ea m an an S F commit to user
Grafik pengaruh hubungan antara nilai Gmaks (modulus geser) terhadap nilai safety factor (SF) untuk statik dan pseudo statik tidak berpengaruh, karena analisis ini
tidak membutuhkan parameter masukan untuk menjalarkan getaran akibat beban gempa, sehingga nilai SF tidak terpengaruh. Nilai modulus geser maksimum dipengaruhi oleh jenis tanah setempat, dan didapatkan pendekatan nilai modulus elasitas tanah (E), poisson ratio (v) dan berat jenis tanah (selanjutnya ketiga parameter tersebut didapatkan nilai 𝜌(massa tanah) dan Vs (kecepatan gelombang geser). Sehingga jika nilai massa tanah semakin besar dan kecepatan gelombang
gesernya semakin besar maka nilai Gmaks juga akan semakin besar. Sedangkan
untuk dinamik nilai Gmaks mempengaruhi bentuk longsoran semakin tinggi nilai
Gmaks stabilitas lereng akan semakin tidak aman, seperti ditunjukan pada
perbandingan pengaruh nilai Gmaks(modulus geser maksimum) terhadap nilai
SFdisajikan pada Tabel 4.8.
Tabel 4.8. Perbandingan pengaruh nilai Gmaks(modulus geser maksimum) terhadap
nilai SF
Gmaks
(kN/m2)
Beban sendiri + beban hujan
Beban sendiri + beban hujan +
beban gempa Keterangan
SF Statik SF Pseudo statik SF Dinamik
1923,123 1,33 1,00 1,27 existing
2000 1,33 1,00 1,26 simulasi
3000 1,33 1,00 1,25 simulasi
4000 1,33 1,00 1,24 simulasi
4.5.4. Pengaruh nilai ξ (damping ratio) terhadap nilai SF
Grafik pengaruh hubungan antara nilai ξ(damping ratio) terhadap nilai safety
factor (SF) untuk metode statik dan pseudo statik tidak berpengaruh karena
analisis ini tidak membutuhkan parameter masukan untuk meredam energi getaran akibat beban gempa, sehingga nilai SF tidak terpengaruh. Nilai damping ratio dipengaruhi oleh parameter masukanya yaitu: modulus elasitas tanah (E), poisson
ratio (v), berat jenis tanah (dankedalamantinjauan tanah (z). Beberapa parameter tersebut didapatkan nilai modulus geser dan tegangan geser yang selanjutnya untuk mencari nilai regangan gesernya. Grafik pengaruh hubungan commit to user
antara nilai sudut modulus geser maksimum (Gmaks) terhadap nilai safety factor
(SF) untuk metode statik, pseudo statik dan dinamik ditunjukan pada Gambar 4.20.
Gambar 4.20. Pengaruh Perubahan nilai ξ (damping ratio) terhadap nilai SF. Analisa stabilitas lereng metode dinamik nilai ξ (damping ratio) mempengaruhi bentuk longsoran semakin tinggi nilai ξ longsoran akan semakin dalam, sehingga lereng semakin aman, seperti ditunjukan pada Gambar 4.20 dan Perbandingan pengaruh nilai ξ (damping ratio) terhadap SFdisajikan pada Tabel 4.9.
Tabel 4.9. Perbandingan pengaruh nilai ξ (damping ratio) terhadap SF
ξ
Beban sendiri + beban hujan
Beban sendiri + beban hujan +
beban gempa Keterangan
SF Statik SF Pseudo statik SF Dinamik
0,1 1,33 1,00 1,21 simulasi 0,15 1,33 1,00 1,25 simulasi 0,2 1,33 1,00 1,26 simulasi 0,22 1,33 1,00 1,27 existing 0,3 1,33 1,00 1,27 simulasi 0 0.5 1 1.5 0 0.05 0.1 0.15 0.2 0.25 0.3 0.35
DINAMIK STATIK PSEUDOSTATIK
ξ (damping ratio) An gk a Ke am an an SF commit to user