TENTANG
PEDOMAN PENYUSUNAN FORMASI
JABATAN FUNGSIONAL PENYIDIK BADAN NARKOTIKA NASIONAL
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
KEPALA BADAN NARKOTIKA NASIONAL REPUBLIK INDONESIA,
Menimbang : a. bahwa untuk melaksanakan Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2018 tentang Jabatan Fungsional Penyidik BNN maka perlu diatur mengenai kebutuhan jumlah Pegawai Negeri Sipil Badan Narkotika Nasional yang akan mengisi Jabatan Fungsional Penyidik Badan Narkotika Nasional;
b. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, dipandang perlu menetapkan Peraturan Kepala Badan Narkotika Nasional tentang Pedoman Penyusunan Formasi Jabatan Fungsional Penyidik Badan Narkotika Nasional;
Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 143, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5062);
2. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 6, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5494);
3. Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1977 tentang Peraturan Gaji Aparatur Sipil Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1977 Nomor 11, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3098) sebagaimana telah diubah terakhir dengan Peraturan Pemerintah Nomor 34 Tahun 2014 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 31);
4. Peraturan Pemerintah Nomor 53 Tahun 2010 tentang Disiplin Aparatur Sipil Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 74, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5135); 5. Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2011 tentang
Penilaian Prestasi Kerja Aparatur Sipil Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 121, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5258);
6. Peraturan Pemerintah Nomor 11 Tahun 2017 tentang Manajemen Pegawai Negeri Sipil (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2017 Nomor 63,Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6037); 7. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 23
Tahun 2010 tentang Badan Narkotika Nasional (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 246); 8. Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan
Reformasi Birokrasi Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2018 tentang Jabatan Fungsional Penyidik Badan Narkotika Nasional (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2018 Nomor 35);
9. Peraturan Kepala Badan Narkotika Nasional Nomor 16 Tahun 2014 tentang Organisasi dan Tata Kerja Badan Narkotika Nasional (Berita Negara republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 2085);
10. Peraturan Kepala Badan Narkotika Nasional Nomor 23 Tahun 2017 tentang Perubahan Kelima atas Peraturan Kepala Badan Narkotika Nasional Nomor 3 Tahun 2015 tentang Organisasi dan Tata Kerja Badan Narkotika Nasional Provinsi dan Badan Narkotika Nasional Kabupaten/Kota (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2017 Nomor 1941);
MEMUTUSKAN:
Menetapkan : PERATURAN KEPALA BADAN NARKOTIKA NASIONAL TENTANG PEDOMAN PENYUSUNAN FORMASI JABATAN FUNGSIONAL PENYIDIK BADAN NARKOTIKA NASIONAL.
Pasal 1
Pedoman Penyusunan Formasi Jabatan Fungsional Penyidik Badan Narkotika Nasional ini merupakan pedoman bagi Pejabat Pembina Kepegawaian dalam menyusun formasi Jabatan Fungsional Penyidik Badan Narkotika Nasional di lingkungan Badan Narkotika Nasional.
Pasal 2
Sistematika Pedoman Penyusunan Formasi Jabatan Fungsional Penyidik Badan Narkotika Nasional sebagaimana dimaksud dalam Lampiran Peraturan Kepala Badan ini, disusun sebagai berikut:
a. pendahuluan;
b. tata cara dan perhitungan formasi jabatan Penyidik BNN;
c. tata cara penetapan dan pengusulan Formasi Jabatan Penyidik Badan Narkotika Nasional; dan
Pasal 3
Ketentuan mengenai Pedoman Penyusunan Formasi Jabatan Fungsional Penyidik Badan Narkotika Nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 tercantum dalam Lampiran yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Kepala Badan ini.
Pasal 4
Peraturan Kepala Badan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.
Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 10 Agustus 2018
KEPALA BADAN NARKOTIKA NASIONAL REPUBLIK INDONESIA,
TTD
HERU WINARKO
Paraf :
1. Kasubbag Tata Laksana : ...
2. Kasubbag Perencanaan dan Pengadaan Pegawai : ... 3. Kabag Organisasi & Tata Laksana : ...
4. Kabag Perencanaan dan Administrasi Pegawai : ...
5. Kepala Biro Kepegawaian : ...
6. Direktur Hukum : ...
7. Deputi Hukker : ...
8. Kabag TU Biro Umum : ...
9. Karo Umum : ...
LAMPIRAN
PERATURAN KEPALA BADAN NARKOTIKA NASIONAL REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 4 TAHUN 2018
TENTANG PEDOMAN PENYUSUNAN FORMASI JABATAN FUNGSIONAL PENYIDIK BADAN NARKOTIKA NASIONAL
PEDOMAN PENYUSUNAN FORMASI
JABATAN FUNGSIONAL PENYIDIK BADAN NARKOTIKA NASIONAL
BAB I PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
1. Berdasarkan ketentuan Pasal 56 ayat (1) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara dinyatakan bahwa setiap instansi pemerintah wajib menyusun kebutuhan jumlah dan jenis jabatan Pegawai Negeri Sipil berdasarkan analisis jabatan dan analisis beban kerja.
2. Berdasarkan ketentuan Pasal 68 ayat (2) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara dinyatakan bahwa pengangkatan Pegawai Negeri Sipil (PNS) dalam jabatan tertentu ditentukan berdasarkan perbandingan objektif antara kompetensi, kualifikasi, dan persyaratan yang dimiliki oleh pegawai.
3. Bahwa berdasarkan Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2018 tentang Jabatan Fungsional Penyidik Badan Narkotika Nasional maka dibutuhkan jumlah formasi bagi Jabatan Fungsional Penyidik Badan Narkotika Nasional.
4. Bahwa untuk memenuhi kebutuhan organisasi maka perlu diatur mengenai kebutuhan formasi Jabatan Fungsional Penyidik Badan Narkotika Nasional, perlu ditetapkan Peraturan Kepala Badan Narkotika Nasional tentang Pedoman Penyusunan Formasi Jabatan Fungsional Penyidik Badan Narkotika Nasional.
B. TUJUAN
Pedoman penyusunan formasi Jabatan Fungsional Penyidik Badan Narkotika Nasional ini bertujuan untuk memberikan pedoman bagi Pejabat Pembina Kepegawaian dalam:
1. melakukan perhitungan, penetapan, dan pengusulan formasi Jabatan Fungsional Penyidik Badan Narkotika Nasional di lingkungan Badan Narkotika Nasional;
2. mendapatkan jumlah dan susunan Jabatan Fungsional Penyidik Badan Narkotika Nasional sesuai dengan beban kerja yang dapat dilaksanakan dalam jangka waktu tertentu secara profesional, serta memungkinkan pencapaian jumlah angka kredit yang ditentukan untuk kenaikan pangkat.
C. PENGERTIAN
Dalam Peraturan Kepala Badan ini yang dimaksud dengan:
1. Formasi Jabatan Fungsional Penyidik Badan Narkotika Nasional adalah jumlah dan susunan pangkat Aparatur Sipil Negara yang diperlukan oleh Pembina Teknis agar mampu melaksanakan tugas penyelidikan dan penyidikan untuk jangka waktu tertentu yang ditetapkan oleh pejabat yang berwenang.
2. Jam kerja efektif adalah jam kerja yang secara objektif digunakan untuk menyelesaikan tugas pokok Penyidik BNN dalam melaksanakan kegiatan/tugas Penyidik Badan Narkotika Nasional yang dinilai angka kreditnya.
BAB II
TATA CARA DAN PERHITUNGAN FORMASI JABATAN PENYIDIK BNN
A. TATA CARA FORMASI JABATAN FUNGSIONAL PENYIDIK BNN
1. Formasi Jabatan Fungsional Penyidik Badan Narkotika Nasional disusun berdasarkan analisis kebutuhan dan penyediaan pegawai sesuai dengan jabatan yang tersedia, dengan memperhatikan norma, standar, dan prosedur yang ditetapkan oleh Pemerintah. 2. Analis Kebutuhan dan penyediaan Formasi Jabatan Fungsional
Penyidik Badan Narkotika Nasional dilakukan berdasarkan pada: a. jenis pekerjaan, yaitu berbagai unsur dan sub unsur kegiatan
yang harus dilakukan Penyidik Badan Narkotika Nasional untuk melaksanakan penyelidikan dan penyidikan;
b. Sifat pekerjaan, yaitu pekerjaan yang berpengaruh dalam penetapan formasi Jabatan Fungsional Penyidik Badan Narkotika Nasional, yaitu sifat pekerjaan yang ditinjau dari sudut waktu untuk melaksanakan pekerjaan itu;
c. Analisis beban kerja dan perkiraan kapasitas seorang Penyidik Badan Narkotika Nasional dalam jangka waktu tertentu, yaitu frekuensi rata-rata masing-masing jenis pekerjaan penyelidikan dan penyidikan dalam jangka waktu tertentu;
d. Prinsip pelaksanaan pekerjaan, yaitu apakah suatu kegiatan penyelidikan dan penyidikan harus dilaksanakan sepenuhnya oleh satuan organisasi bidang penyelidikan dan penyidikan atau memerlukan dukungan pihak lain di luar satuan organisasi (misalnya, akibat kebutuhan tenaga spesialisasi atau pengetahuan/keahlian khusus);
e. Setiap Pejabat Fungsional Penyidik Badan Narkotika Nasional, selain menguasai Bahasa Indonesia sebagai bahasa sumber, setidak-tidaknya menguasai satu bahasa asing atau satu bahasa daerah sebagai bahasa sasaran;
f. Struktur organisasi unit penyelidikan dan penyidikan maupun unit lain pengguna Penyidik Badan Narkotika Nasional, untuk dilihat jumlah Pegawai Aparatur Sipil Negara yang menempati jabatan struktural, jabatan fungsional tertentu, serta jabatan fungsional umum yang ada;
g. Faktor-faktor lain yang harus diperhitungkan, terutama kemampuan keuangan negara.
3. Formasi Jabatan Fungsional Penyidik Badan Narkotika Nasional di lingkungan Badan Narkotika Nasional hanya akan ada, apabila: a. Tersedianya suatu unit penyelidikan dan penyidikan yang
mewadahi Pejabat Fungsional Penyidik Badan Narkotika Nasional atau tersedianya unit lain yang menggunakan Penyidik Badan Narkotika Nasional dalam melaksanakan tugas penyelidikan dan penyidikan, melalui penyesuaian struktur, tugas pokok, dan fungsi instansi yang bersangkutan;
b. Terdapat ASN di unit penyelidikan dan penyidikan maupun di unit lain pengguna penyidik Badan Narkotika Nasional, yang memilih Jabatan Fungsional Penyidik Badan Narkotika Nasional sebagai jalur kariernya;
c. Terdapat pejabat fungsional lain selain Penyidik Badan Narkotika Nasional di unit penyelidikan dan penyidikan atau di unit lain pengguna Penyidik Badan Narkotika Nasional yang pindah jabatan ke dalam jabatan Penyidik Badan Narkotika Nasional;
d. Terdapat pejabat struktural di unit penyelidikan dan penyidikan atau di unit lain pengguna Penyidik Badan Narkotika Nasional yang pindah jabatan ke dalam jabatan fungsional Penyidik Badan Narkotika Nasional. Apabila tidak ada tambahan beban kerja di unit tersebut, maka perpindahan ini harus disertai dengan penghapusan jabatan struktural di unit bersangkutan (restrukturalisasi).
e. Ada tambahan beban kerja yang mengakibatkan bertambahnya formasi Aparatur Sipil Negara yang bekerja di bidang penyelidikan dan penyidikan di unit penyelidikan dan penyidikan atau di unit lain pengguna Penyidik Badan Narkotika Nasional, serta ada yang memilih Jabatan Fungsional Penyidik Badan Narkotika Nasional sebagai jalur karirnya. Formasi Jabatan Fungsional Penyidik BNN ini bisa berasal dari Aparatur Sipil Negara di luar unit penyelidikan dan penyidikan yang ingin pindah ke dalam jabatan fungsional Penyidik Badan Narkotika Nasional, atau pegawai baru.
B. PERHITUNGAN FORMASI JABATAN FUNGSIONAL PENYIDIK BNN 1. Tahap I (tahun 2017)
a. Formasi Jabatan Fungsional penyidik Badan Narkotika Nasional di setiap unit penyelidikan dan penyidikan untuk tahun 2017 tidak berakibat bertambahnya jumlah Aparatur Sipil Negara yang telah dan masih melaksanakan tugas di bidang penyelidikan dan penyidikan;
b. Apabila jumlah Aparatur Sipil Negara yang telah dan masih melaksanakan tugas di bidang penyelidikan dan penyidikan adalah T, dan di dalamnya terdiri dari sejumlah Jabatan Struktural (JS), Jabatan Fungsional Tertentu selain Penyidik BNN (JFT), dan pejabat Fungsional Umum (JFU), maka:
T = JS + JFT + JFU
c. Dengan adanya formasi Jabatan Fungsional Penyidik Badan Narkotika Nasional sejumlah JFP, maka jumlah Aparatur Sipil Negara yang telah dan masih melaksanakan tugas penyelidikan dan penyidikan harus tetap sama dengan T, namun dengan konfigurasi yang berubah menjadi:
T = JFP + JS + JFT + (JFU-JFP), apabila seluruh JFP berasal dari Jabatan Fungsional Umum;
T = JFP + JS + (JFT - JFP) + JFU, apabila seluruh JFP berasal dari Jabatan Fungsional Tertentu selain Penyidik BNN;
T = JFP + (JS - JFP) + JFT + JFU, apabila seluruh JFP berasal dari Jabatan Struktural;
T = JFP + (JS + JFT + JFU - JFP), apabila JFP berasal dari ketiga unsur jabatan.
2. Tahap II (setelah tahun 2017)
a. Formasi Jabatan Fungsional Penyidik Badan Narkotika Nasional di setiap Bagian Pemberantasan setelah tahun 2017, dimungkinkan menambah jumlah Aparatur Sipil Negara yang telah dan masih melaksanakan tugas penyelidikan dan penyidikan di satuan kerja tersebut, dengan syarat adanya tambahan beban kerja;
b. Formasi Jabatan Fungsional Penyidik Badan Narkotika Nasional dikarenakan adanya tambahan beban kerja tersebut, dihitung berdasarkan formulasi sebagai berikut:
Formasi JFP = Jumlah formasi yang tersedia untuk pelaksanaan kegiatan penyelidikan dan penyidikan pada suatu unit Penyelidikan dan penyidikan maupun unit lain pengguna Penyidik BNN.
Σ Plan = Jumlah kegiatan penyelidikan dan penyidikan per jenjang jabatan fungsional Penyidik BNN.
µ Volume = Rata-rata jumlah output hasil pekerjaan penyelidikan dan penyidikan setiap jenis kegiatan penyelidikan dan penyidikan. µ Time = Rata-rata waktu untuk menyelesaikan 1
(satu) output.
Σ Person Load = Jumlah jam kerja efektif Penyidik BNN dalam setahun (1.250 jam).
Formasi JFP = Jumlah formasi yang tersedia untuk pelaksanaan kegiatan penyelidikan dan penyidikan pada suatu unit penyelidikan dan penyidikan maupun unit lain pengguna Penyidik BNN.
Σ Plan = Jumlah kegiatan penyelidikan dan penyidikan per jenjang jabatan fungsional Penyidik BNN.
µ Volume = Rata-rata jumlah output hasil pekerjaan penyelidikan dan penyidikan setiap jenis kegiatan penyelidikan dan penyidikan. µ Time = Rata-rata waktu untuk menyelesaikan 1
(satu) output.
Σ Person Load = Jumlah jam kerja efektif Penyidik BNN dalam setahun (1.250 jam).
Contoh :
Kegiatan fungsional penyelidikan dan penyidikan Bagian Pemberantasan pada salah satu BNN Provinsi dalam setahun adalah sebagai berikut:
1. Kegiatan penyelidikan dan penyidikan untuk penyidik Pertama BNN berjumlah 26 kegiatan, masing-masing kegiatan tersebut rata-rata menghasilkan 25 output, dan rata-rata setiap output tersebut membutuhkan penyelesaian waktu sebanyak 25 jam, maka formasi Jabatan Fungsional Penyidik BNN untuk jenjang Penyidik Pertama BNN tersebut adalah:
Formasi JFP = (26 X 25 X 25) :1.250 = 13
Jadi jumlah formasi jabatan fungsional penyidik BNN untuk jenjang Penyidik Pertama BNN adalah 13 orang. 2. Kegiatan penyelidikan dan penyidikan untuk Penyidik
Muda BNN berjumlah 26 kegiatan, masing-masing kegiatan tersebut rata-rata menghasilkan sebanyak 25 output, dan rata-rata setiap output membutuhkan penyelesaian waktu sebanyak 26 jam, maka formasi Jabatan Fungsional Penyidik BNN untuk jenjang Penyidik Muda BNN tersebut adalah:
Formasi JFP = (26 X 25 X 26) : 1.250 = 13,52 dibulatkan menjadi 14
Jadi jumlah formasi Jabatan Fungsional Penyidik BNN untuk jenjang Penyidik BNN Muda adalah 14 orang.
3. Kegiatan penyelidikan dan penyidikan untuk penyidik Madya BNN berjumlah 26 kegiatan, masing-masing kegiatan tersebut rata-rata menghasilkan sebanyak 20 output, rata-rata setiap output membutuhkan penyelesaian waktu sebanyak 28 jam, maka formasi Jabatan Fungsional Penyidik BNN untuk jenjang Penyidik Madya BNN tersebut adalah:
Formasi JFP = (26 X 20 X 28) : 1.250 = 11,65 dibulatkan menjadi 12
Jadi jumlah formasi Jabatan Fungsional Penyidik BNN untuk jenjang Penyidik Madya BNN adalah 12 orang.
BAB III
PENETAPAN DAN PENGUSULAN FORMASI JABATAN FUNGSIONAL PENYIDIK BADAN NARKOTIKA NASIONAL
A. TATA CARA PENETAPAN FORMASI JABATAN FUNGSIONAL PENYIDIK BADAN NARKOTIKA NASIONAL
Formasi Jabatan Fungsional Penyidik Badan Narkotika Nasional untuk Badan Narkotika Nasional setiap tahunnya ditetapkan oleh Menteri yang bertanggung jawab di bidang pendayagunaan aparatur negara dan reformasi birokrasi berdasarkan usul dari Pejabat Pembina Kepegawaian Badan Narkotika Nasional setelah mendapat pertimbangan teknis Kepala Badan Kepegawaian Negara (BKN).
B. TATA CARA PENGUSULAN FORMASI JABATAN FUNGSIONAL PENYIDIK BADAN NARKOTIKA NASIONAL
Prosedur Pengusulan Formasi Jabatan Fungsional Penyidik Badan Narkotika Nasional, sebagai berikut:
1. Usulan formasi jabatan Penyidik Badan Narkotika Nasional disusun berdasarkan pada kemampuan anggaran dan peta jabatan, baik jabatan struktural maupun jabatan fungsional pada unit Penyidik Badan Narkotika Nasional yang bersangkutan;
2. Sebelum mengajukan usulan formasi Jabatan Fungsional Penyidik Badan Narkotika Nasional kepada Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, masing-masing Pejabat Pembina Kepegawaian Pusat melakukan koordinasi dan konsultasi dengan Badan Narkotika Nasional sebagai Instansi Pembina jabatan fungsional Penyidik Badan Narkotika Nasional;
3. Berdasarkan hasil koordinasi dan konsultasi tersebut, selanjutnya usulan formasi jabatan tersebut diajukan kepada Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, dan ditembuskan kepada Kepala Badan Kepegawaian Negara, sesuai dengan ketentuan yang berlaku; dan
4. Ketetapan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi disampaikan kepada Badan Narkotika Nasional.
BAB IV PENUTUP
Penyusunan formasi Jabatan Fungsional Penyidik Badan Narkotika Nasional setelah periode penyesuaian/inpassing dilakukan dengan mengacu pada Pedoman Penyusunan Formasi Jabatan Fungsional Penyidik Badan Narkotika Nasional.
KEPALA BADAN NARKOTIKA NASIONAL REPUBLIK INDONESIA,
TTD
HERU WINARKO
Paraf :
1. Kasubbag Tata Laksana : ...
2. Kasubbag Perencanaan dan Pengadaan Pegawai : ... 3. Kabag Organisasi & Tata Laksana : ...
4. Kabag Perencanaan dan Administrasi Pegawai : ...
5. Kepala Biro Kepegawaian : ...
6. Direktur Hukum : ...
7. Deputi Hukker : ...
8. Kabag TU Biro Umum : ...
9. Karo Umum : ...