• Tidak ada hasil yang ditemukan

Cakul Gerontologi Dan Sindroma Geriatri

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Cakul Gerontologi Dan Sindroma Geriatri"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

GERONTOLOGI DAN SINDROMA GERIATRI Dr. The Maria Widagdo, Sp.RM

Cakuler: bonchy

Selamat datang di cakul dokter Tini wini biti, yang memberi banyak materi kali ini. Selamat membaca!

DEFINISI

 Geron: lanjut usia  Logos: ilmu

 Gerontology adalah ilmu yang mempelajari perubahan yang terjadi dari usia dewasa muda ke lanjut usia dengan pendekatan biologis, psikologis, dan social

LATAR BELAKANG

Mengapa perlu belajar Gerontologi?

 Presentase populasi lansia terus meningkat sementara presentase populasi balita terus menurun

Pertumbuhan Penduduk Lansia di Indonesia - Sejak 1970:

o Presentase penduduk usia 0-14 tahun terus menurun

o Presentase penduduk usia produktif (15-59) akan terus meningkat sampai tahun 2020 kemudian mulai menurun

TEORI PENUAAN

- Teori penuaan berusaha menjelaskan bagaimana perubahan spesifik bisa terjadi sebagai bagian dari proses penuaan

- Masih sulit membedakan mana yang sebab dan mana yang akibat

- Lebih dari 400 teori, banyak yang masih belum diketahui tentang penuaan - Terus bertambahnya jumlah lansia dan panjangnya usia orang yang hidup

sampai usia lanjut memberi peluang untuk mempelajari proses penuaan  dari usia 80 sampai 125 tahun

- Teori Wear and Tear  digambarkan seperti baju yang kelau dipakai (wear) terus menerus, lama-lama akan menjadi sobek (tear). Begitu pula halnya dengan penuaan, yang lama-lama akan terjadi penurunan dari saat muda

(2)

- Programmed ageing: Hayflick limit of 50 doubling of cells in tissue culture for fibroblast. Jadi kemampuan fibroblast yang rata-rata beregenerasi maksimal 50 kali seumur hidup

- Apoptosis

- Immunological theories: damage of the immune system. Terjadi kerusakan pada system imun, sesuai bertambahnya usia yang makin tua

- Kerusakan oksidatif - Kerusakan DNA DEFINISI GERIATRI

 Geron: lanjut usia  Eatri: kesehatan

 Geriatric adalah cabang ilmu kedokteran yang mempelajari kesehatan dan penyakit pada lansia, perawatan komprehensif pada lansia dan kesejahteraan dari pengasuh (caregiver) informal

PENDEKATAN MEDIS PASIEN GERIATRI

- Multiple problem  banyaknya masalah kesehatan yang terjadi (multiple, tak hanya satu)

- Iceberg phenomenon  penyakit/keluhan yang nampak pada geriatric hanya sebagian kecil, namun hal-hal pendukung dan penyakit lainnya jauh lebih banyak yang belum diketahui maupun sengaja tidak dikeluhkan - Anamnesis lengkap: keluhan utama, penyakit lain, obat yang diminum,

kemandirian dalam aktivitas hidup sehari-hari, kondisi sensoris (pengelihatan dan pendengaran), status kognitif dan mental. Anamnesis berperan penting!

- Pemeriksaan fisik lengkap: vital sign (orthostatic hypertension), keseimbangan, indera, dll

- Pemeriksaan pendukung

- Lansia: Iceberg phenomenon; Dewasa: Law of parsimony (dari banyak gejala dan tanda menjadi sindrom dan menjadi satu penyakit)

PERUBAHAN GEJALA PENYAKIT PADA PASIEN LANSIA Presentasi penyakit atipikal:

1. Tidak jelas (vague)

(3)

o Bingung (confusion)

o Tidak merawat diri (self neglect) o Jatuh (falls)  sering

o Inkontinensia  ex: ngompol o Apatis

o Anorexia o Dyspnea

o Lelah, lemah, tidak bertenaga (fatigue) 2. Berubah (altered)

Penyakit Presentasi atipik

Penyakit infeksi - Tidak ada demam

- Sepsis tanpa leukositosis dan demam - Jatuh nafsu makan dan intake cairan

berkurang, kebingungan, perubahan status fungsional

Silent myocardial infarction - Tidak ada nyeri dada

- Gejala tidak jelas kelelahan, nausea, dan penurunan status fungsional

- Presentasi klasik: keluhan sesak nafas lebih sering dijumpai daripada nyeri dada

o Perlu dilakukan anamnesis lebih lengkap o Keluhan tidak spesifik biasanya

3. Tidak dikeluhkan (non-presentation/under reporting)  paling sering terjadi, sehingga seperti iceberg phenomenon ini. Lansia cenderung malu untuk mengeluhkan keluhan. Bisa disebut penyakit “tersembunyi” pada lansia

o Depresi

o Inkontinesia  biasanya paling sering ngompol, terus jadi malu cerita ke dokter

o Kekakuan musculoskeletal o Jatuh

o Osteoporosis

(4)

o Demensia o Masalah gigi o Gizi buruk

o Disfungsi seksual

o Osteoarthritis  merupakan keluhan yang paling tinggi mengalahkan hipertensi

SINDROMA GERIATRI

 Sindroma geriatric dipakai untuk menggambarkan ciri-ciri unik kondisi kesehatan yang biasan dijumpai pada lansia tetapi tidak sesuai dengan kategori penyakit tertentu

4 sindroma Geriatri yang umum: o Instability: jatuh

o Incontinence: ngompol

o Intellectual impairment: gangguang kognitif (delirium, dementia, dan depresi)

o Immobility: immobilitas dan luka tekan (ulcus decubitus) 4 faktor resiko yang dijumpai pada semua sindroma geriatric adalah:

o Usia lanjut

o Gangguan kognitif dasar o Gangguan fungsional dasar o Gangguan mobilitas

JATUH *gubrak*

 Jatuh merupakan salah satu penyebab utama kematian pada lansia (ngeri ya )

 Menunjukkan ketidakmampuan tubuh dalam menjaga keseimbangannya  begitu lemah

 Data di Amerika Serikat:

o 70% kematian yang berhubungan dengan jatuh terjadi pada lansia o 1 dari 7 kasus jatuh pada lansia menyebabkan fraktur  imobilitas

(5)

o Lansia usia > 75 tahun yang mengalami patah panggul akibat jatuh: 50% meninggal dalam 1 tahun setelah jatuh

o 1/3 lansia berusia ≥65 tahun yang tinggal di rumah, jatuh tiap tahun

o 2/3 lansia yang tinggal di rumah jompo, jatuh tiap tahun

o Resiko jatuh meningkat 50% pada lansia berusia 80 tahun ke atas Faktor Resiko Jatuh:

- Gangguan kognitif  kemampuan otak untuk melakukan sesuatu berkurang - Obat

- Gangguan mobilitas, cara berjalan, keseimbangan

- Riwayat jatuh

- Penyakit akut atau kronik - Masalah lingkungan  ex:

keset yang menyebabkan jatuh

- Deficit sensoris hipotensi postural  tidak mendengar dan lihat sehingga bisa jatuh - Depresi pemakaian alat bantu

gerak (kacamata, alat bantu dengar, walker)

- Kerentanan

(fraility/deconditioning) - Ketakutan akan jatuh

- Asesmen pasien jatuh: a. Anamnesis

o Aktivitas ketika jatuh

o Gejala sebelum jatuh: kepala terasa ringan, palpitasi, dyspnea, nyeri dada, vertigo, bingung, inkontinensia, pingsan

o Lokasi jatuh

o Saksi yang melihat peristiwa jatuh

o Riwayat jatuh sebelumnya (sama atau beda) o Riwayat penyakit sebelumnya

o Obat-obatan yang diminum b. Pemeriksaan fisik

(6)

o Sistem kardiovaskular: tekanan darah, nadi (berbaring dan berdiri), aritmia, murmur, bruits

o Tungkai: artritis, edema, masalah podiatri, sepatu yang tidak pas, kekauan otot, dan Range of Motion (ROM)

o Sistem neurologic: status mental, cara berjalan dan keseimbangan, membungkuk, membelok, naik turun tangga, berdiri dengan mata tertutup, i.e.the timed “up and go” (pasien bangkit ke kursi dengan sandaran lengan, berjalan 3 meter, dan kembali ke kursi)

o Romberg test: berdiri 1 menit kaki menutup dan mata tertutup o Luka karena jatuh

o Pemakaian alat bantu (kacamata, alat bantu dengar, walker) - Intervensi untuk pasien jatuh

a. Faktor Intrinsik:

o Periksa obat-obat yang diminum (benzodiazepine dan obat anti hipertensi bisa menyebabkan hipotensi postural)

o Periksa status kognitif

o Periksa kondisi ‘mood” (depresi)  dapat menyebabkan gerak lambat

o Periksa alat bantu (kacamata, alat bantu dengar, walker)  kacamata apakah sudah waktunya ganti, dll; walkernya bikin tergelincir gak, dlsb

o Tingkatkan kekuatan otot

o Periksa cara berjalan dan keseimbangan  fisioterapi

o Pemakaian alat bantu untuk mobilitas (tongkat, walker, railing) o Evaluasi inkontinensia  biasanya malam hari lansia kebelet pipis,

namun saat otw toilet udah ngompol duluan, dan bisa-bisa kepleset urinnya sendiri

o Nilai pengertian pasien tentan gresiko jatuh dan cara mencegah o Nilai pengertian pasien dari pengasuh tentang resiko jatuh dan cara

mencegah b. Faktor Ekstrinsik:

o Periksa lingkungan (penerangan, keset, lantai yang tidak rata, kabel listrik)

(7)

o Periksa sepatu atau sandal pasien (stabil dan pas ukurannya) o Pakai alarm kalau keluar kamar

o Railing untuk kamar mandi dan toilet (bentuknya seperti pegangan gitu biar lansia bisa bangun berdiri setelah jongkok)

o Toilet duduk dinaikkan, biar ga kesusahan lansianya ndodok o Singkirkan barang-barang yang bisa menyebabkan tersandung - INKONTINENSIA URIN

 Definisi: hilangnya kendali pada kandung kemih  kebocoran urin dan akhirnya ngompol

 15-30% lansia menderita inkontinensia urin - Beberapa tipe dari inkontinensia urin:

1. Inkontinensia Stress: karena tekanan yang mendesak, seperti batuk, bersin, tertawa, olahraga, dan mengangkat beban berat

2. Inkontinensia Urgensi: umumnya karena infeksi saluran kemih (ISK) dan penyakit neurologis  tiba-tiba ingin berkemih dan terus-terusan mendesak  sehingga berkemih secara tidak sadar

3. Inkontinensia Overflow: sumbatan pada uretra, sehingga tidak mampu mengosongkan kandung kemih, maka lama-lama akan bocor dan jadilah ompol

4. Inkontinensia Campuran: campuran dari dua atau lebih tipe inkontinensia urin

5. Inkontinensia Fungsional: akibat gangguan fisik atau mental, sehingga tidak bisa berkemih ke toilet

(8)

-- Inkontinensia Urin Akut Reversibel - D: Delirium

- R: Restriksi mobilitas, retensi urin

- I: Infeksi, inflamasi, impaksi (ex:obstipasi) - P: Poliuria, Pharmacy

- Faktor Resiko: - Immobilitas

- Gangguan kognitif - Obat-obatan

- Aktivitas fisik high-impact - Kendala lingkungan

- Diabetes - Stroke

- Deplesi estrogen

- Kelemahan otot panggul

- Asesmen pasien Inkontinensia a. Anamnesis

- Aspek - Keterangan

- Dokter bertanya - 50% pasien tidak menyampaikan keluhan ini dokter harus bertanya

- Gejala Spesifik - Diagnosis tergantung dari gejala, usia, jenis kelamin dan patologi yang melatar belakangi gejala

- - Overactive bladder: ingin kencing ketika melihat air mengalir dari kran, cuci tangan, hawa dingin, dll

(9)

- - Stress incontinence: mengompol ketika batuk, tertawa, membungkuk, dll

- Gejala Spesifik - Frekuensi, nocturia, aliran urin yang lambat, hesitancy, interrupted voiding, straining, dan terminal dribbling biasanya dijumpai pada overactive bladder dan bladder outlet obstruction

- Karakteristik Inkontinensia Urin

- Onset, frequency, volume, waktu, dan precipitan (misalnya obat, caffeine, alcohol, aktifitas fisik, batuk)

- Faktor-faktor terkait

- Kondisi kesehatan dan obat-obatan yang berhubungan dengan inkontinensia urin

- Kualitas hidup - Tanyakan dampak dari inkontinensia urin terhadap hidup pasien dan pengasuh, misalnya kegiatan sehari-hari, sosial, emosional, hubungan interpersonal (sexual), konsep diri dan persepsi kesehatan secara umum, aspek apa yang paling terasa mengganggu

- * Tanya! Terutama perempuan, jika pada laki-laki keseringan karena prostat bermasalah

b. Pemeriksaan Fisik

- Aspek - Keterangan

- Umum - Orthostatic vital signs, kesadaran, kognisi, status fungsional

- Abdomen - Palpasi vesica urinaria; massa rectal dan impaction

- Punggung - Lekukan atau seberkas rambut bisa merupakan tanda incomplete spina bifida - Musculoskeletal - Mobilitas dan ketangkasan gerakan

- Neurologis - Sensasi perineal; tonus sphincter anal; anal “wink” dan bulbocavernosus reflex

- Genitourinaria - Pria: periksa prostat, phimosis, paraphimosis, dan balanitis

- - Wanita: periksa mukosa vagina untuk atrophy dan pelvic support

-c. Testing

- Aspek - Keterangan

- Umum - Orthostatic vital signs, kesadaran, kognisi, status fungsional

- Abdomen - Palpasi vesica urinaria; massa rectal dan impaction

- Punggung - Lekukan atau seberkas rambut bisa merupakan tanda incomplete spina bifida - Musculoskeletal - Mobilitas dan ketangkasan gerakan

(10)

“wink” dan bulbocavernosus reflex

- Genitourinaria - Pria: periksa prostat, phimosis, paraphimosis, dan balanitis

- - Wanita: periksa mukosa vagina untuk atrophy dan pelvic support

- * Periksa residu di vesica urinaria menggunakan alat tertentu untuk mengetahui volume urin yang tertinggal di v.urinaria. keluarkan dengan kateter, lalu ukur, jika banyak urin yang ada di dalam tandanya ada obstruksi

- Penatalaksanaan Inkontinensia Urin 1. Non-farmakologis

o Diet: kopi, alcohol

o Latihan: penguatan otot dasar panggul, bladder training, kateterisasi intermiten

2. Farmakologis:

o Inkontinensia urgensi: antikolinergik (Oxybutrin, Propanteine, Dicvlomine, Flavoxate, Imipramine)

o Inkontinensia stress: alfa adrenergic agonis (pseudoepedhrine untuk meningkatkan retensi urethra)

o Sfingter relax: kolinergik agonis (Bethanechol atau alfakolinergik antagosis seperti prazosin untuk stimulasi kontraksi)

3. Operatif:

o Inkontinensia overflow: perlu pembedahan untuk menghilangkan retensi urin, misalnya karena tumor, batu, diverticulum, hyperplasia prostat, dan prolapse pelvic (pada wanita)

o Inkontinensia stress dan urgensi: bila terapi non-farmako dan farmakologis tidak berhasil

o Lakukan bila parah dan mengganggu. Biasanya lansia takut operasi, sehingga maksimalkan dulu terapi lain

- DEMENSIA

 Gangguan kognitif global  yakni gangguan pada banyak aspek  Ireversibel

 Bukan disebabkan oleh gangguan indera (terutama pengelihatan dan pendengaran)

(11)

- Penyebab demensia: - Alzheimer’s disease - Lewy body

- Frontotemporal - Parkinson’s disease

- Other extrapyramidal syndromes - Huntington’s

- Vascular (stroke, small vessel ischaemia)

- Cushing’s , Addison’s, Thyroid, Parathyroid, Diabetes - Vit. B12, thiamine, nicotine deficiency

- Normal pressure hydrocephalus, head injury, space occupying lesion, multiple sclerosis

- Syphilis, HIV, encephalitis, Creutzfeld Jacob Disease

- * Paling banyak yakni karna Alzheimer dan Vaskular - Penyebab yang reversible:

- Obat-obatan - Depresi - Penyebab metabolic - Gangguan Thyroid - Defisiensi vitamin B12 - Hiperkalsemia - Gangguan liver - Subdural hematoma - Neoplasma - Diagnosis:

- Adanya deficit kognitif multiple - Gangguan fungsi bekerja dan social

- Penurunan fungsi dibandingkan sebelumnya - Gangguan memori

- Peling sedikit satu dari gejala berikut:

o Afasia  tidak bisa ngomong, namun diberi instruksi gerakan bisa o Apraxia  tidak bisa melakukan sesuatu

(12)

o Agnosia  cara ngomongnya normal, namun dia tidak tahu yang mana dan apa (tidak kenal benda)

o Gangguan fungsi eksekutif - Gejala Diagnostik:

a. Gangguan memori:

o Gangguan memori merupakan gejala utama

o Gangguan kemampuan untuk mempelajari hal baru o Lupa hal yang sudah dipelajari sebelumnya

o Kehilangan benda-benda, lupa sedang memasak, tersesat di daerah yang sudah amat dikenal,. Tidak mau minum obat teratur

o Lupa keluarga sendiri, alamat rumah, nama sendiri, pekerjaan sebelumnya

b. Gangguan berbahasa: aphasia

o Bahasa jadi sederhana, tidak kompleks o Kesulitan menyebut nama orang atau benda o Repetisi/pengulangan

o Kesulitan mengerti bahasa oral dan tulis

o Akhirnya tidak bisa bicara lagi karena tidak bisa mengingat bahasa/kata

c. Apraxia: kesulitan melakukan tugas motoric walaupun taka da gangguan syaraf, otot, dan sendi

o Kesulitan mengerti perintah

o Tak dapat meningterpretasi kekuatan o Tak dapat menginterpretasi sensasi o Misalnya: lupa cara mandi, gosok gigi d. Agnosia:

o Kesulitan mengenal orang atau benda

o Kesulitan mengenali benda biasa, anggota, keluarga, bahkan dirinya sendiri di foto atau di cermin

(13)

o Kemampuan berpikir abstrak

o Kemampuan memutuskan, memberi alas an, insight

o Menggunakan, menginisiasi, menentukan urutan kegiatan, dan memeonitor kegiatan yang kompleks

o Membuat keputusan yang salah o Tak dapat mengatur keuangan

o Melakukan tindakan yang bisa membahayakan kehilangan ‘insight’ f. Tingkah laku o Delusi, terutama pranoia. Halusinasi (terutama visual iritabilitas, agresif (verbal jalan) o Resistive, sulit diberitahu o Agitasi. Berjalan-jalan terus tersesat o Menarik diri

o Tidak merawat diri,

rumah maupun

makanan o Apatis

o Gangguan tidur

o Gangguan mood: anxiety dan depression o Banyak menuntut,

mencari perhatian dan repetitive

o Asesmen:

- Anamnesis (alloanamnesis)  paling penting - Pemeriksaan fisik

- Tes neuropsikometrik: MMSE

- Tes laboratorium: FBP, U&E, B12, fosfate, BSL, syphilis serology, ESR, urinalisis, calcium +/- lumbar puncture, EEG

- Imaging: CT, MRI, SPECT, PET

o Tes Skrinig kognitif: MMSE

- MMSE yang sudah

distandarisasi (Molloy et al 1991)

- Floor and ceiling effects

- Budaya barat, pengaruh pendidikan dan bahasa

- Tak ada tes fungsi eksekutif - Orientasi

- Registrasi, recall - Atensi

(14)

- Bahasa - Kontruksi visual - Tes skrining (MMSE):

- Komponen:

o Orientasi waktu: tanggal, bulan, tahun, musim o Orientasi tempat

o Registrasi: mengulangi irama nama 3 benda yang disebut o Menyebut nama benda yang ditunjuk

o Membaca o Melakukan perintah - Scoring: o Ringan (22-27) o Sedang (10-21) o Berat (<9)

- * scoring harus hati-hati, karena hanya merupakan test screening! - GERIATIRI DEPRESSION SCALE (GDS)

 Versi original 30 pertanyaan cut off score 11-14, versi pendek 15 pertanyaan, cut off scorenya 5-10

 Pertanyaan:

o Secara umum, apakah anda merasa puas dengan hidup anda? o Apakah anda mangurangi berbagai kegiatan dan hobi anda? o Apakah anda merasa hidup anda hampa?

o Apakahh anda sering merasa bosan? o Apakah anda hampir selalu bersemangat - ALZHEIMER DISESASE

 60% dementia

 Degenerasi neuron: beta amyloid plaques, dan neurofobtially tangles  Onset awal dihubungkan dengan mutasi gen

(15)

 Gejala pokok adalah hilangnya memori, plus domain lain dan bersifat progresif

- Penatalaksanaan Pasien Demensia: - Obati penyebab yang reversible

- Edukasi keluarga

- Terapi farmakologi resiko vaskuler - Non-farmakologik:

o Keamanan lingkungan

o Pengendalian mood dan tingkat laku - DELIRIUM

 Definisi: sindroma metal organic akut dengan gejala utama penurunan kesadaran (clouding of consciousness) diserta gangguan asistensi, persepsi, orientasi, proses piker, daya ingat (memori), perilaku psikomotor (agitasi), dan siklus tidur

 Sifat: tiba-tiba, emergency, terjadinya mendadak - Faktor resiko:

- Usia tua - Dementia

- Penyakit kardiovaskular - Kanker

- Pernah mengalami delirium - Ketergantungan pada alcohol

- Diabetes

- Penurunan panca indera

(misal: gangguan

pengelihatan, pendengaran) - Malnutrisi

(16)

- Etiologi a. Intrakranial

o Epilepsy dan keadaan paska kejang o Trauma otak (terutama geegr otak) o Infeksi: meningitis, Ensefalitis o Neoplasma

o Gangguan vaskuler b. Ekstrakanial

o Infeksi sistemik o Gangguan elektrolit

o Obat-obatan: antikolinergik, antikonvulsan, dll o Racun: karbonmonoksida, logam berat, dll o Disfungsi endokrin (hipofungsi atau hiperfusi o Post operatif

o Trauma kepala atau seluruh tubuh - Asesmen pasien Delirium:

- Gambaran klinis:

o Gangguan kesadaran (clouding of consciousness)

o Gangguan persepsi (ilusi, halusinasi terutama halusinasi pengelihatan)

o Gangguan orientasi, mula-mula disorientasi waktu

o Gangguan proses pikir dan pembicaraan (gangguan konsentrasi, prevervasi, flight of ideas, inkoherensi, delusi)

o Gangguan memori

o Gangguan afek gangguan psikomotor o Disfungsi otonomik, sulit kontrol BAK o Gangguan siklus tidur bangun

(17)

- Penegakan diagnosis dan menemukan etiologi - Farmakologik:

o Farmakologik mengatasi

o Mengurangi kecemasan atau agitasi dengan antipsikotik seperti hiperidolm benzodiasepin - Parame ter - Depresi - Deliriu m - Dementia - Onset - Beberapa minggu - Cepat dan pendek, mendad ak, beberap a jam /hari - Beberapa bulan sampai beberapa tahun

- Durasi - 3-6 bulan, bisa kronis - Beberap a hari -3 minggu - 5 - 15 tahun - Gejala awal - Afek datar, Hypochondrias is, fokus pada gejala, - Apatis, tak ada upaya untuk melakukan tugas - Disorien tasi, kesadar an berkabu t , mood fluktuati f, pikiran kacaru, tak mengert i tugas

- Gejala tak jelas, - intellek hilang, menyangkal atau menyembunyika n gejala, perhatian mudah teralih, berupaya melaksanakan tugas - Memori baru - Normal atau baik memori awal maupun lama tidak terganggu - Memori baru tergang gu, tapi yang lama utuh - Terganggu, cara berpikir harus konkrit - Intelek - Melambat atau menolak untuk merespons - Tergang gu - Terganggu, keputusan tidak tepat, menyangkal ada masalah

(18)

an gu, banyak menjaw ab ‘tidak tahu’, sulit membe dakan fakta dari halusina si keputusan tidak tepat, menyangkal ada masalah - Pola diurnal - Lebih buruk di pagi hari, tidur terganggu - Mengan tuk siang hari, halusina si malam hari, insomni a, mimpi buruk - Lebih buruk di malam hari, “Sundowning,” , - pola tidur terbalik - Afek perhati an - Menarik diri, terbatas, apatis, putus asa, tertekan - Labil, bervaria si, - takut/pa nic, euphori a, tergang gu - Mudah teralh, dangkal, labil, kecemasan yang tidak pas, depresi, curiga - Orienta si - Utuh - Disorien tasi, tapi biasany a tidak terhada p orang, ada periode ‘jelas’ - Disorientasi - Tingkat kesada ran - Utuh - Tergang gu - Utuh

(19)

psikoti k

halusinasi

-- LUKA TEKAN/ULCUS DECUBITUS

 Definisi: kerusakan jaringan yang terlokalisir karena kompresi jaringan yang lunak di atas tulang yang menonjol (bony prominence) dalam jangka waktu lama

 Faktor resiko utama adalah immobilitas. Misalnya duduk yang terlalu lama  Cara mencegah immobilitas:

o Mendorong mobilitas fungsional o Edukasi keluarga atau perawat o Rehabilitasi dini

o Pemakaian alat bantu yang sesuai o Fisioterapi bila perlu

 Kompresi jaringan menyebabkan gangguan suplai darah pada daerah yang tertekan

 Kompresi lama menyebabkan insufisiensi aliran darah, anoksia atau iskemi jaringan dan akhirnya mengakibatkan kematian sel

- Faktor resiko:

- Ekstrinsik: tekanan, gesekan, goresan, kelembaban, urin, dan feses

- Intrinsic: ketebalan kulit, lemak subkutan, kekuatan tensil kolagen, dan elastisitas kulit menurun karena usia, nutrisi dan idrasi, immobilitas, gangguan sensasi dan penurunan kesadaran

(20)

-- Ket:

o Stage 1: sebatas epidermis o Stage 2: sampai subkutan o Stage 3: sampai ke otot

o Stage 4: sampai ke tulang. Pada stage ini dapat menjadi osteomyelitis dan biasanya jarang sembuh

- Pencegahan:

- Pemeriksaan kulit tiap hari

- Mandi dengan sabun lembut, hindari air hangat dan gesekan berlebih - Obati inkontinensia

- Pakai pelembab kulit

- Jangan pijat bagian ‘bony prominence’ - Pasang bantal di bagian ‘bony prominence’ - Sering ganti posisi tubuh

- Untuk pengguna kursi roda, angkat bokong tiap 15 menit - Penatalaksanaan:

- Asesmen pasien secara holistic, yaitu kondisi fisik, nyeri, kesehatan psikososial, luka tekan dan komplikasinya

(21)

- Bersihkan luka

- Pakai cairan yang tidak membunuh sel, jangan pakai hydrogen peroxide, Dahen’s solution, atau betadine!

- Irigasi luka

Referensi

Dokumen terkait

“Pengaruh Penggunaan Model Collaborative Learning Tipe Debat dan Group Grid terhadap Kemampuan Berpikir Analisis Siswa (Studi Kuasi Eksperimen di Kelas X SMA

Bahwa tidak ada pengaruh variabel ukuran perusahaan, umur perusahaan, komisaris independen, leverage, dan konsentrasi kepemilikan terhadap pengungkapan

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan persaudaraan yang terjadi pada anak.. kembar berjenis kelamin

tidak merasa adanya suatu ajaran yang dipaksakan kepada anggota paduan suara Alyans yang lain. Walaupun berbeda keyakinan, anggota Alyans tetap menjalankan ajaran

Penentuan nilai ambang yang ditetapkan pada suatu nilai tertentu (fixed threshold) sangat berisiko untuk diterapkan pada citra tangan karena dapat menghasilkan citra tangan

[r]

[r]

[r]