PENGARUH PEMAKAIAN
JILBAB DAN DALAMAN
DENGAN ATAU TANPA HELM TERHADAP KETAJAMAN
PENDENGARAN DAN LOKALISASI SUARA
JURNAL MEDIA MEDIKA MUDA
Diajukan untuk memenuhi sebagian persyaratan guna mencapai derajat sarjana strata-1 kedokteran umum
MAUREEN TANIA WIDYASAPUTRA 22010110120088
PROGRAM PENDIDIKAN SARJANA KEDOKTERAN FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO 2014
PENGARUH PEMAKAIAN JILBAB DAN DALAMAN DENGAN ATAU TANPA HELM TERHADAP KETAJAMAN PENDENGARAN DAN
LOKALISASI SUARA
Disusun oleh
MAUREEN TANIA WIDYASAPUTRA 22010110120088
Telah disetujui Semarang, 12 Juni 2014
Dosen Pembimbing 1 Dosen Pembimbing 2
(dr. Hardian) (dr. Darmawati Ayu Indraswari)
NIP. 196304141990011001 NIP. 198608012010122004
Ketua Penguji Dosen Penguji
(dr. Fanti Saktini, M.Si.Med) (dr. Tanjung Ayu Sumekar, M.Si.Med)
PENGARUH PEMAKAIAN JILBAB DAN DALAMAN DENGAN ATAU TANPA HELM TERHADAP KETAJAMAN PENDENGARAN DAN
LOKALISASI SUARA
Maureen Tania Widyasaputra*, Darmawati Ayu Indraswari**, Hardian** *Mahasiswa Program Sarjana Fakultas Kedokteran Undip **Bagian Fisiologi Fakultas Kedokteran Undip
ABSTRAK
Latar belakang: Pemakaian helm dan jilbab dapat menghalangi sinyal auditorik sehingga menurunkan ketajaman pendengaran dan kemampuan melokalisasi sumber bunyi saat berkendara.
Tujuan: Menilai fungsi pendengaran pada pengendara bermotor yang mengenakan helm disertai jilbab.
Metode: Jenis penelitian adalah eksperimental one group pre and post test design. Dilaksanan di laboratorium fisiologi FK Undip Semarang. Sampel penelitian adalah mahasiswi Fakultas FK Undip angkatan 2010 (n=21). Ketajaman pendengaran diukur dengan tes bisik dan tes garputala, serta lokalisasi sumber bunyi dengan menggunakan sumber bunyi dari speaker. Uji hipotesis menggunakan uji Mc Nemar dan uji Wilcoxon.
Hasil: Ketajaman pendengaran saat tanpa menggunakan jilbab serta jilbab dengan dalaman seluruhnya adalah normal. Sedangkan pada pemakaian jilbab dengan dalaman dan helm didapatkan data tidak normal sebanyak 7 orang pada tes bisik dan 21 orang pada tes garpu tala. Persentase kesalahan lokalisasi bunyi saat tidak menggunakan jilbab adalah 17,4±13,40, jilbab dengan dalaman 43,4±18,80, dan jilbab dengan dalaman dan helm 57,1±22,21. Perbedaan bermakna dijumpai pada persentase kesalahan antara tanpa menggunakan jilbab dibandingkan jilbab dan dalaman (p<0,001), dengan jilbab serta dalaman dan helm (p<0,001). Perbedaan persentase kesalahan antara jilbab serta dalaman dengan jilbab serta dalaman dan helm adalah bermakna (p=0,001).
Kesimpulan: Pemakaian Jilbab dan Helm menyebabkan penurunan ketajaman pendengaran dan meningkatkan persentase kesalahan sumber lokalisasi bunyi. Kata kunci: jilbab, helm, ketajaman pendengaran, lokalisasi bunyi
THE EFFECT OF JILBAB AND UNDERSCARF CAP WEARING WITH OR WITHOUT HELMET TO HEARING ACUITY AND SOUND
LOCALIZATION ABILITY
Maureen Tania Widyasaputra*, Darmawati Ayu Indraswari**, Hardian** *Undergraduate student of Faculty of Medicine Diponegoro University **Department of Physiology Faculty of Medicine Diponegoro University
ABSTRACT
Background: Helmet and hijab usage could block auditory signal transmission leading to attenuated hearing acuity and ability to localize the source of sound. Aim:To evaluate hearing acuity on and sound source localization ability during wearing helmet and hijab.
Method:An experimental study with one group pre-test and post-test design was conducted on Laboratory of Physiology Faculty of Medicine Diponegoro University (FMDU) from March to April 2014. Research subjects were female students of FMDU academic year 2010 (n=21). Hearing acuities were examined by whisper test and tuning fork test. Sound localization ability was examined by determination of sound source direction during without wearing any head cover, hijab only, and wearing hijab and helmet.The difference of hearing acuity during without wearing any head cover, wearing hijab only, and helmet and hijab were analyzed using Mc Nemar test. The difference of percentage of sound localization error during without wearing any head cover, wearing hijab only, and helmet and hijab were analyzed using Wilcoxon test.
Results: All subjects’ hearing acuity during without wearing any head cover and wearing hijab only were normal. However during wearing helmet and hijab 7 subjects (33.3%) were abnormal in whisper test and 21 subjects (100%) were abnormal in tuning fork test. The percentage on sound localization error during without wearing any head cover was17.4±13.40%, and during wearing hijab only was 43.4±18.80%, and wearing hijab and helmet was 57.1±22.21%. The difference of sound localization error percentage between without wearing any head cover and hijab only was significant (p<0,001), between without wearing
any head cover and wearing hijab and helmet was significant (p<0,001), between wearing hijab only and hijab and helmet was also significant (p=0,001).
Conclusion: Wearing hijab only or hijab and helmet lead to attenuated hearing acuity and sound localization ability.
PENDAHULUAN
Sepeda motor saat ini telah menjadi alat transportasi utama di Indonesia. Menurut Badan pusat statistik, pada tahun 2011 jumlah sepeda motor di Indonesia adalah 68.839.341 dari 85.601.351 jumlah seluruh kendaraan bermotor.1 Seluruh pengendara sepeda motor diwajibkan oleh pemerintah untuk mengenakan helm berstandar nasional Indonesia. Kewajiban mengenakan helm standar nasional indonesia bagi pengendara sepeda motor diatur dalam pasal 57 ayat (1) dan ayat (2) UU no. 22 / 2009 adapun helm dengan standar nasional diketahui dari adanya tanda SNI pada helm. Helm SNI memiliki dua ciri perbedaan dari helm lainnya yaitu dari bahan material serta konstruksinya. Salah satu contohnya yaitu dari segi konstruksi, tinggi helm minimal 114 mm diukur dari puncak helm ke bidang utama yaitu bidang horisontal yang melalui lubang telinga dan bagian bawah dari dudukan bola mata. Helm juga harus dilengkapi dengan pelindung telinga yang menutupi seluruh telinga luar. Serta helm tidak boleh mempengaruhi fungsi panca indra dari pengguna yang dapat menyebabkan suatu bahaya.2
Berdasarkan data statistik pada kecelakaan lalu lintas, pemakaian helm memiliki efek sebesar 29% dalam mencegah kematian pada kecelakaan sehingga pada pengendara yang menggunakan helm memiliki kesempatan hidup 29% lebih besar daripada pengendara tanpa menggunakan helm. Tetapi di sisi lain helm justru menjadi salah satu resiko terjadinya kecelakaan. Hal tersebut dikarenakan menurunnya kemampuan mendengar dan melihat lingkungan sekitar saat berkendara. Berdasarkan efek yang telah dijelaskan diatas maka muncul suatu argumentasi yang menentang pemakaian helm. Hasil penelitian sebelumnya oleh Abel et al pada penggunaan helm militer menjumpai bahwa penggunaan helm militer yang menutup telinga menurunkan ketajaman pendengaran dan kemampuan lokalisasi bunyi.3 Pemakai helm akan memblokade sinyal auditorik sehingga menurunkan fungsi pendengaran saat berkendara, contohnya ketika ada bunyi klakson, sirine polisi, dan ambulan. Jadi meskipun helm mampu mengurangi angka kematian pengendara, di sisi lain helm justru dapat meningkatkan angka kejadian kecelakaan. Menurut para pengendara kendaraan bermotor, fungsi pendengaran mereka terhadap hal-hal yang terjadi di lalu lintas
cenderung menurun terutama ketika mereka mengenakan helm. Menurut penelitian Scharin et al, dilaporkan bahwa pengaruh helm yang menutupi telinga terhadap lokalisasi suara dibandingkan orang tidak menggunakan helm, maka dihasilkan orang yang tidak menggunakan penutup telinga sama sekali, akurasi pendengarannya lebih tinggi dibandingkan orang yang menggunakan helm.
Selain penggunaan helm pada wanita yang menggunakan jilbab sering pula ditemukan keluhan dalam fungsi pendengaran. Jilbab adalah busana muslim terusan panjang menutupi seluruh badan kecuali tangan, kaki, dan wajah yang biasa dikenakan oleh para wanita muslim dan juga menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti kerudung lebar yg dipakai wanita muslim untuk menutupi kepala dan leher sampai dada.4 Penggunaan jenis pakaian ini terkait dengan tuntutan syariat Islam untuk menggunakan pakaian yang menutup aurat. Menurut Al-Albany MN kriteria jilbab yang benar harus menutup seluruh badan, kecuali wajah dan dua telapak tangan. Jilbab dapat hanya berupa satu lapis kerudung ataupun menggunakan lapisan dalam yang lebih tebal yang dikenal sebagai “dalaman”. Jilbab juga harus menutupi telinga bagian luar dan pada saat pemakaian jilbab sehingga ada kemungkinan menurunkan fungsi pendengaran dari pemakai yang dapat membahayakan keselamatan dalam berkendara.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perubahan fungsi pendengaran pada wanita pengendara bermotor yang mengenakan helm disertai jilbab dan dalaman.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan rancangan one group pre and post test design. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Fisiologi Universitas Diponegoro Semarang pada periode 1 Februari 2014 sampai dengan 5 Mei 2014.
Sampel penelitian adalah mahasiswi Fakultas kedokteran Universitas Diponegoro Semarang angkatan 2010 yang berdasarkan tes bisik dan garputala tidak ada gangguan pendengaran. Subjek dengan riwayat gangguan pendengaran
dan saat penelitian ada keluhan gangguan pada telinga tidak dapat diikut sertakan dalam penelitian.
Berdasarkan perhitungan dengan rumus besar sampel untuk proporsi tunggal pre dan post desain dijumpai besar sampel yang diperlukan pada penelitian ini adalah 21 orang mahasiswi Fakultal Kedokteran Undip. Variabel terikat penelitian adalah ketajaman pendengaran dan kemampuan lokalisasi sumber bunyi. Ketajaman pendengaran diukur dengan tes bisik dan garputala Rinne yang telah dimodifikasi. Tes bisik dilakukan pada jarak 30 cm dari subjek penelitian menggunakan kata-kata yang telah dikenal oleh subjek penelitian misalnya “cantik”, “mama”, dan sebagainya. Subjek diminta untuk mengulang kata yang telah disebutkan. Tes dilakukan pada masing-masing telinga secara bergantian dan menutup telinga yang tidak diperiksa. Hasil tes bisik dikatakan normal dan tidak normal, normal apabila subjek penelitian dapat menyebutkan ulang seluruh kata yang dibisikan dengan benar.
Tes garputala Rinne yang telah dimodifikasi dilakukan dengan menggetarkan garputala dan diletakan pada depan liang telinga yang diperiksa dan subjek penelitian diminta untuk memberikan isyarat apabila mendengar bunyi yang berasal dari garputala. Hasil tes garputala dikategorikan menjadi normal dan tidak normal, normal apabila subjek penelitian dapat mendengarkan bunyi yang berasal dari garputalaa yang telah digetarkan.
Pemeriksaan lokalisasi sumber suara menggunakan speaker (Advance, Indonesia) yang berjumlah 8 buah dan ditempatkan membentuk lingkaran 360o mengelilingi subjek dengan jarak 6 meter, jarak antara masing-masing speaker adalah 45o. Kerasnya bunyi yang dikeluarkan oleh speaker diukur dengan menggunakan Android noise level meter. Kerasnya bunyi diatur sesuai dengan kerasnya suara percakapan sehari-hari yaitu 60 dB. Bunyi yang digunakan adalah kata-kata sehari-hari seperti “cantik”, “harimau”, dan sebagainya. Subjek penelitian dengan mata tertutup yang diminta menentukan darimana asal sumber suara tersebut. Selanjutnya dihitung jumlah kesalahan dalam menentukan sumber suara dari keseluruhan 8 kata yang dibunyikan. Kemampuan lokalisasi dinyatakan
dalam persentase yang dihitung dengan cara: jumlah arah yang salah dibagi dengan total jumlah bunyi dikalikan 100%.
Analisis data menggunakan uji Mc Nemar untuk membandingkan distribusi gangguan pendengaran saat tanpa menggunakan jilbab dan dalaman, menggunakan jilbab dan dalaman tanpa helm, serta saat menggunakan jilbab dan dalaman serta helm. Uji Wilcoxon digunakan untuk membandingkan persentase kesalahan lokalisasi sumber bunyi antara saat tanpa menggunakan jilbab dan dalaman, menggunakan jilbab dan dalaman tanpa helm, serta saat menggunakan jilbab dan dalaman serta helm.
HASIL PENELITIAN
Penelitian ini melibatkan 21 orang mahasiswi Fakultas Kedokteran UNDIP angkatan 2010 yang memenuhi kriteria penelitian. Karakteristik subyek penelitian di tampilkan pada tabel 1.
Tabel 1. Karakteristik subyek penelitian (n=21)
Karakteristik n (%) Rerata±SB
(Min-Maks)
Umur - 21,2 ± 0,54(20-22)
Kebiasaan memakai jilbab
Ya 16 (76,2%) -
Tidak 5 (23,8%) -
Kebiasaan menggunakan headset
Ya 17 (81,0%) -
Kadang 4 (19,0%) -
Tidak 0 (0,0%) -
Riwayat Keluhan Pendengaran
Ya 0(0,0%) -
Tidak 21(100%) -
Kebiasaan memakai helm
Ya 19(90,5%) -
Tabel 1. Karakteristik subyek penelitian (n=21)
Karakteristik n (%) Rerata±SB
(Min-Maks)
Tidak 1(04,8%) -
Riwayat gangguan pendengaran saat memakai helm
Ya 6(28,6%) -
Tidak 15(71,4%) -
Riwayat gangguan pendengaran saat menggunakan jilbab
Ya 0(0,0%) -
Tidak 21(100%) -
SB=Simpang Baku
Pada tabel 1 tampak rerata umur subyek penelitian adalah 21,2 ± 0,54 tahun dengan umur termuda adalah 20 tahun dan tertua adalah 22 tahun. Pada tabel 1 juga tampak sebagian besar subyek penelitian (57,1%) memiliki kebiasaan memakai jilbab. Selanjutnya juga diketahui sebagian besar subyek penelitian (81,0%) juga memiliki kebiasaan menggunaan headset. Keseluruhan subjek penelitian (100%) diketahui tidak memiliki riwayat keluhan pendengaran. Pada tabel 1 juga tampak sebagian besar subjek penelitian (90,5%) memiliki kebiasaan memakai helm dalam keseharian. Sebagian besar subjek penelitian (71,4%) tidak memiliki riwayat gangguan pendengaran saat menggunakan helm. Serta seluruh subjek penelitian (100%) tidak memliki riwayat gangguan pendengaran saat memakai jilbab.
Pemeriksaan ketajaman pendengaran
Hasil pemeriksaan ketajaman pendengaran dengan test bisik dan test garputala yang telah dimodifikasi saat tanpa menggunakan jilbab dan dalaman ninja, menggunakan jilbab dengan dalaman ninja, serta saat menggunakan jilbab dengan dalaman ninja disertai helm ditampilkan pada tabel 2.
Pada tabel 2 tampak hasil pemeriksaan tes bisik dan tes garputala pada saat tanpa menggunakan jilbab dan dalaman ninja serta saat menggunakan jilbab dengan dalaman ninja menunjukan bahwa ketajaman pendengaran dari seluruh subyek dalam keadaan normal.
Tabel 2. Pemeriksaan ketajaman pendengaran
Test ketajaman pendengaran n (%)
Normal Tidak normal Test bisik
Tanpa jilbab dan dalaman ninja 21 (100%) 0 (0,0%)
Jilbab dengan dalaman ninja 21 (100%) 0 (0,0%)
Jilbab dengan dalaman ninja dan helm 14 (66,7%) 7 (33,3%)
Test garputala
Tanpa jilbab dan dalaman ninja 21 (100%) 0 (0,0%)
Jilbab dengan dalaman ninja 21 (100%) 0 (0,0%)
Jilbab dengan dalaman ninja dan helm 0 (0,0%) 21 (100%)
Hasil tersebut diatas menunjukan bahwa penggunaan jilbab dengan dalaman ninja tidak terjadi penurunan ketajaman pendengaran pada subyek penelitian. Akan tetapi pada pemakaian jilbab dengan dalaman ninja dan helm menunjukan adanya penurunan ketajaman pendengaran yaitu sebanyak (33,3%) dari keseluruhan subjek penelitian pada saat dilakukan tes bisik. Serta seluruh subjek penelitian (100%) mengalami penurunan ketajaman pendengaran saat dilakukan tes garputala.
Pemeriksaan lokalisasi sumber bunyi
Hasil pemeriksaan lokalisasi sumber bunyi saat tanpa menggunakan jilbab dan dalaman ninja, menggunakan jilbab dengan dalaman ninja, serta saat menggunakan jilbab dengan dalaman ninja dan helm ditampilkan pada tabel 3.
Tabel 3. Pemeriksaan lokalisasi sumber suara
Status penggunaan jilbab dan dalaman ninja Rerata±SB (Min-Maks)
Tanpa jilbab dan dalaman ninja 17,4±13,40; 13,0 (0-38)
Jilbab dengan dalaman ninja 43,4±18,80; 50,0 (13-75)
Jilbab dengan dalaman ninja dan helm 57,1±22,21; 62,5 (13-88)
Karakteristik pemeriksaan lokalisasi sumber bunyi
Berdasarkan pemeriksaan lokalisasi sumber bunyi diketahui 17,4 subjek penelitian tanpa menggunakan jilbab dan dalaman ninja, 43,4 subjek penelitian yang menggunakan jilbab dengan dalaman ninja, dan 57,1 subjek peneilitian yang menggunakan jilbab dengan dalaman ninja dan helm. Gambar 1 menampilkan perbandingan besarnya kesalahan lokalisasi sumber suara terhadap penggunaan jilbab dan dalaman disertai helm.
Gambar 1. Perbandingan besarnya kesalahan lokalisasi sumber bunyi terhadap penggunaan jilbab
P<0,001
P=0,001 P<0,001
Pada gambar 1 tampak persentase kesalahan lokalisasi bunyi saat menggunakan jilbab dan dalaman lebih tinggi secara bermakna dibanding saat tanpa menggunakan jilbab (p<0,001). Pada gambar 1 juga tampak persentase kesalahan lokalisasi bunyi saat menggunakan jilbab dan dalaman ninja serta helm lebih tinggi secara bermakna dibanding saat tanpa menggunakan jilbab (p<0,001). Selanjutnya juga tampak persentase kesalahan lokalisasi bunyi saat menggunakan jilbab dan dalaman serta helm lebih tinggi secara bermakna dibanding saat hanya menggunakan jilbab dan dalaman (p=0,001).
PEMBAHASAN
Hasil dari penelitian ini adalah pemakaian jilbab dan dalaman yang digunakan dalam penelitian belum berpengaruh terhadap ketajaman pendengaran. Dari seluruh subjek penelitian yang berjumlah 21 orang tidak ditemukan penurunan ketajaman pendengaran saat dilakukan tes bisik dan garputala 256 Hz. Hal tersebut diakibatkan tidak tertutupnya seluruh telinga luar. Akan tetapi saat subjek penelitian menggunakan jilbab serta dalaman dan helm didapatkan penurunan ketajaman yang cukup signifikan.
Hal tersebut juga diikuti dengan menurunnya kemampuan lokalisasi sumber suara. Pada penelitian mengenai lokalisasi sumber suara dengan menggunakan sumber suara dari pengeras suara dengan gelombang suara sebesar 60 db didapatkan kesalahan terbesar adalah saat subjek penelitian menggunakan jilbab serta dalaman dan helm dibandingkan saat hanya mengenakan jilbab dan dalaman saja serta saat tidak mengenakan jilbab dan dalaman. Hal tersebut kemungkinan diakibatkan karena pemakaian jilbab serta dalaman dan helm menutupi seluruh bagian telinga luar dan berpengaruh pada ketajaman pendengaran yang tentu saja berpengaruh pada lokalisasi sumber suara.
Proses masuknya suara merupakan mekanisme yang kompleks. Gelombang suara dikumpulkan oleh telinga luar dan disalurkan ke lubang telinga, dan menuju gendang telinga. Gendang Telinga bergetar untuk merespons gelombang suara yang menghantamnya . Getaran ini mengakibatkan tiga
tulang (ossicle) di telinga tengah bergerak. Secara mekanis getaran dari gendang telinga ini akan disalurkan, menuju cairan yang berada di rumah siput ( koklea). Getaran yang sampai di koklea ini akan menghasilkan gelombang, sehingga rambut sel yang ada di koklea akan bergerak. Gerakan ini mengubah energi mekanik tersebut menjadi energi elektrik ke saraf pendengaran (auditory nerve) dan menuju ke pusat pendengaran di otak. Pusat ini akan menerjemahkan energi tersebut menjadi suara yang dapat dikenal oleh otak. Pada proses ini jilbab dan helm memblok seluruh gelombang bunyi yang hendak masuk pada telinga luar. Sehingga besar gelombang bunyi yang masuk ke telinga luar tidak sesuai dengan besar awal yang sumber suara keluarkan. Bila gelombang bunyi membentur suatu rintangan atau dinding yang pada kasus ini berupa helm, maka kemungkinan yang terjadi adalah gelombang tersebut dipantulkan. Fenomena ini tergantung pada hubungan antara panjang gelombang bunyi, ukuran rintang beberapa jenis dinding dan sudut datang. Dan hal tersebut berdampak pada penurunan ketajaman pendengaran. Diakibatkan penurunan ketajaman pendengaran, maka kemapuan lokalisasi sumber suara juga menurun. 5-8
Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Abel, SM et al 3 mengenai kemampuan lokalisasi sumber suara pada tentara Amerika Serikat yang menggunakan helm menutupi seluruh telinga. Dan didapatkan kesimpulan bahwa pemakaian helm yang menutupi seluruh telinga pada tentara berpengaruh pada kemampuan lokalisasi sumber bunyi.
Berdasarkan hal tersebut diatas pemakaian helm SNI yang menutupi seluruh telinga mampu melindungi pengendara bermotor dari benturan tetapi memiliki kekurangan yaitu menurunkan ketajaman pendengaran dan lokalisasi sumber bunyi. Penurunan ketajaman pendengaran dan lokalisasi sumber suara ini cukup berbahaya bagi pengendara bermotor karena menurunnya kemampuan untuk lebih waspada pada keadaan sekitar semisal bunyi klakson dari kendaraan lain dan bunyi peringatan pada perlintasan kereta api.
Kelemahan pada penelitian ini adalah lokasi penelitian tidak menggunakan ruangan kedap suara yang kemungkinan berpengaruh pada hasil penelitian, serta
hanya melakukan penelitian pada kedua telinga sekaligus dan tidak mengukur kondisi telinga satu persatu.
SIMPULAN
Penggunaan jilbab dan dalaman serta helm menyebabkan gangguan pada ketajaman pendengaran dan lokalisasi sumber suara.
SARAN
Sesuai dengan hasil penelitian ini, disarankan untuk memilih bahan jilbab dan dalaman yang tidak terlalu tebal sehingga tidak akan menyebabkan terjadinya gangguan ketajaman pendengaran dan lokalisasi sumber bunyi. Selain itu juga dianjurkan dalam penggunaan helm tidak menutup seluruh bagian telinga. Serta Perlu dilakukan penelitian lanjutan dengan menggunakan helm, jilbab maupun jenis lain serta menilai pengaruh penutupan satu telinga dibandingkan dua telinga terhadap lokalisasi sumber bunyi. Dan akan lebih baik jika pemeriksaan dilakukan pada ruangan kedap suara agar hasil lebih akurat.
UCAPAN TERIMA KASIH
Penulis mengucapkan terima kasih pada dr. Tanjung Ayu Sumekar, M.Si.Med, dr. Fanti Saktini M.Si.Med yang telah memberikan masukan dalam penulisan artikel, seluruh staf Bagian Fisiologi Fakultas Kedokteran Undip, dan seluruh teman-teman angkatan 2010 yang telah bersedia menjadi subjek penelitian.
DAFTAR PUSTAKA
1. Anonim. Perkembangan Jumlah Kendaraan Bermotor Menurut Jenis tahun 1987-2012. Sumber: http://www.bps.go.id/tab_sub/view.php?tabel= 1& id_subyek=17 ¬ab=12. Diakses tanggal : 11 November 2013.
2. Anonim. Standar Nasional Indonesia. Sumber:
http://hubdat.dephub.go.id/sni-bid-hubdat/90-standar-nasional-indonesia-sni-1811-2007/download . Diakses tanggal 11 November 2014.
3. Abel SM, Boyne S, Roesler-Mulroney H. Sound localization with an army helmet worn in combination with an in-ear advanced communications system. Noise Health 2009;11:199-205.
4. Anonim. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Sumber:
http://bahasa.kemdiknas.go.id/kbbi/index.php. Diakses tanggal 2 Februari 2014.
5. Guyton AC, Hall JE. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 11. Penterjemah: Irawati RD, Indriyani F. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC, 2006.
6. Mahdi, S.R. Prosedur penetuan persentase ketulian akibat bising industri. Disampaikan pada PIT Perhati, Bukit Tinggi, 28-30 Oktober,1993.
7. Oedono RMT. Penatalaksanaan penyakit akibat lingkungan kerja dibidang THT. Disampaikan pada PIT Perhati, Batu-Malang, 27-29 Oktober, 1996. 8. Costanzo L. Essential Fisiologi Kedokteran, Edisi ke-5. Penterjemah: