• Tidak ada hasil yang ditemukan

Budidaya Padi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Budidaya Padi"

Copied!
38
0
0

Teks penuh

(1)

Tanam Padi Metode S.R.I. (System of Rice Intensification)

S.R.I. adalah teknik budidaya padi yang mampu meningkatkan produktivitas padi dengan cara mengubah pengelolaan tanaman, tanah, air, dan unsur hara. Metode S.R.I. ini terbukti telah berhasil meningkatkan produktivitas padi sebesar 50 % bahkan di beberapa tempat mencapai lebih dari 100 %.Teknik S.R.I. ini telah berkembang di 36 negara antara lain Indonesia, Kamboja, Laos, Thailand, Vietnam, Bangladesh, Cina, Nepal, Srilanka, Gambia, Madagaskar dan lainnya.Dalam budidaya padi metode S.R.I. ini ada beberapa prinsip yang menjadi ketentuan, yaitu :

a. Tanam bibit muda berusia kurang dari 12 hari setelah sebar (hss) ketika bibit masih berdaun 2 helai.

b. Tanam bibit satu lubang satu batang dengan jarak tanam biasa 25 Cm x 25 Cm, 30 Cm x 30 Cm atau legowo 2.

c. Pindah tanam harus hati-hati karena batang masih lemah dan akar tidak putus dan ditanam tidak dalam.

d. Pemberian air maksimal 2 Cm dengan cara intermitten (berselang).

e. Penyiangan sejak awal pada umur 10 hari dan diulang sampai 3 kali dengan interval 10 harian.

f. Upayakan menggunakan pupuk organik.Kelebihan S.R.I.

dibandingkan dengan tanam padi secara biasa petani (konvensional) adalah : a. Tanaman hemat air.

b. Hemat biaya benih.

c. Hemat waktu karena panen lebih awal. d. Produksi bisa meningkat.

Budidaya Padi Metode S.R.I. a. Pengolahan Tanah

• Tanah dibajak sedalam 25 – 30 Cm.

(2)

• Gemburkan dengan garu sampai terbentuk struktur lumpur yang sempurna, lalu diratakan sehingga saat diberikan air ketinggiannya di petakan sawah merata. • Sangat dianjurkan pada waktu pembajakan diberikan pupuk organik (pupuk

kandang,pupuk kompos,pupuk hijau).

b. Pemilahan Benih Bernas dengan Larutan GaramUntuk mendapatkan benih yang bermutu baik (bernas) maka perlu dilakukan pemilihan, walaupun benih tersebut dihasilkan sendiri, atau benih berlabel yaitu dengan menggunakan larutan garam dengan langkah-langkah sebagai berikut:

• Masukan air kedalam ember, kemudian masukan garam lalu diaduk sampai larut, jumlah garam dianggap cukup bila telur itik bisa mengapung.

• Masukan benih padi kedalam ember, kemudian pisahkan benih yang mengambang dengan yang tenggelam. Selanjutnya benih yang tenggelam/benih yang bermutu dicuci dengan air biasa sampai bersih.

c. Perendaman dan Pemeraman BenihSetelah uji benih selesai proses berikutnya adalah: • Benih yang bermutu (tenggelam) direndam dalam air bersih selama 24-48 jam.

• Setelah direndam, dianginkan (ditiriskan) selama 24-48 jam sampai berkecambahan.

PersemaianPersemaian untuk budidaya S.R.I dapat dilakukan dengan mempergunakan baki plastik atau kotak yang terbuat dari bambu/besek. Hal ini dimaksudkan untuk mempermudah pemindahan, pencabutan, dan penanaman.

Proses persemaian adalah sebagai berikut:

• Benih yang dipergunakan tergantung pada kebiasaan/ kesukaan petani (bermutu baik/bernas).

• Penyiapan tempat persemaian dilapisi dengan daun pisang yang sudah dilemaskan, kemudian diberikan tanah yang subur bercampur kompos (perbandingan 1:1), tinggi tanah pembibitan sekitar 4cm.

• Benih yang ditaburkan ke dalam tempat persemaian, kemudian ditutup tanah tipis.

e. Penanaman

• Pola penanaman bibit metoda S.R.I adalah bujur sangkar 30 x 30 cm, 35 x 35 cm atau lebih jarang lagi misalkan sampai 50 x 50 cm pada tanah subur.

(3)

• Bibit ditanam pada umur 5-15 hari (daun dua) setelah semai, dengan jumlah bibit per lubang satu, dan dangkal 1-1,5 cm, serta posisi perakaran seperti huruf L.f.

PemupukanTakaran pupuk an-organik (kimia) disesuaikan dengan anjuran. Hasil Demplot digunakan pupuk kimia sebagai berikut:

• Pemupukan I pada umur 7-15 HST dengan dosis Urea 125kg/Ha, SP-36 100kg/ha. • Pemupukan II pada umur 20-30 HST dengan dosis Urea 125kg/ha

• Pemupukan III pada umur 40-45 HST dengan dosis ZA 100kg/ha.

jika tanaman belum bagus.Metode S.R.I sangat menganjurkan pemakaian pupuk organik (pupuk kandang, kompos atau pupuk hijau/daun-daunan), penggunaan pupuk organik selain memperbaiki struktur tanah juga bisa mengikat air/menghemat air.

g. Penyiangan Penyiangan dilakukan dengan mempergunakan alat penyiang jenis landak atau rotary weeder, atau dengan alat jenis apapun dengan tujuan untuk membasmi gulma dan sekaligus penggemburan tanah.

Penyiangan dilakukan sebanyak 3 kali atau lebih, sesuai kondisi sawah. Semakin sering dilakukan penyiangan akan dapat meningkatkan produksi.

h. Pemberian air secara terputus/berselangDengan cara terputus-putus (intermitten) dengan ketinggian air di petakan sawah maksimum 2 cm, paling baik macak-macak (0,5 cm). Pada periode tertentu petak sawah harus dikeringkan sampai tanahnya pecah-pecah rambut.

Panen

Panen dilakukan setelah tanaman sudah tua dengan ditandai menguningnya semua bulir secara merata atau masaknya gabah. Bulir padi telah benar-benar bernas berisi. Bila dihitung dari pesemaian, maka umur panen lebih singkat dibandingkan dengan cara konvensional.

(4)

Apa hubungan SRI dengan budidaya padi organik?

Beberapa praktek di berbagai negara menemukan bahwa metode SRI berhasil menekan serendah mungkin input produksi. Hal ini sejalan dengan upaya para aktivis pertanian organik untuk mengolah tanah secara berkelanjutan. Hasilnya, ditemukan hubungan konservasi air pada sistem budidaya padi SRI dengan upaya konservasi tanah yang dianut pada budidaya padi organik. Saat ini, banyak para petani organik yang menerapkan budidaya padi dengan metode SRI.

Pola pertanian padi SRI organik merupakan perpaduan antara metode budidaya padi SRI yang pertamakali dikembangkan di Madagaskar, dengan metode budidaya padi organik dalam praktek pertanian organik. Metode ini akan meningkatkan fungsi tanah sebagai media tumbuh dan sumber nutrisi tanaman. Dengan sistem SRI organik daur ekologis akan berlangsung dengan baik karena memanfaatkan mikroorganisme tanah secara natural. Pada gilirannya keseimbangan ekosistem dan kelestarian lingkungan akan sellalu terjaga. Di sisi lain, produk yang dihasilkan dari metode ini lebih sehat bagi konsumen karena terbebas dari paparan zat kimia berbahaya.

Melalui sistem ini kesuburan tanah dikembalikan sehingga daur-daur ekologis dapat kembali berlangsung dengan baik dengan memanfaatkan mikroorganisme tanah sebagai penyedia produk metabolit untuk nutrisi tanaman. Melalui metode ini diharapkan kelestarian lingkungan dapat tetap terjaga dengan baik, demikian juga dengan produk akhir yang dihasilkan, yang notabene lebih sehat bagi konsumen karena terbebas dari paparan zat kimia berbahaya.

Pemilihan metode budidaya padi organik secara SRI bisa menghasilkan produk akhir berupa beras organik yang memiliki kualitas tinggi sebagai beras sehat, dilihat dari beberapa aspek berikut:

 Aspek lingkungan, dengan menghilangkan penggunaan pupuk dan obat-obatan kimia dan manajemen penggunaan air yang terukur secara tidak langsung telah membantu mengkonservasi lingkungan.

 Aspek kesehatan, bagi konsumen produk yang dihasilkan akan lebih sehat dan menyehatkan, karena tidak terkandung residu zat kimia berbahaya yang dapat menimbulkan berbagai macam penyakit dalam tubuh manusia.

 Produktivitas tinggi, bagi produsen atau petani, penerapan metode ini bisa meningkatkan hasil panen yang pada giliranya menghasilkan keuntungan maksimal.

 Kualitas yang tinggi, produk yang dihasilkan memiliki kualitas yang lebih baik dibanding dengan produk konvensional, sehingga harganya pun tentunya akan lebih baik.

(5)

Prinsip budidaya padi organik SRI

 Tanaman bibit muda berusia kurang dari 12 hari setelah semai ketika bibit masih berdaun 2 helai

 Bibit ditanam satu pohon perlubang dengan jarak minimal 25 cm persegi

 Pindah tanam harus sesegera mungkin (kurang dari 30 menit) dan harus hati-hati agar akar tidak putus

 Penanaman padi dengan perakaran yang dangkal

 Pengaturan air, pemberian air maksimal 2 cm dan tanah tidak diairi secara terus-menerus sampai terendam dan penuh, namun hanya lembab (irigasi berselang atau terputus)

 Peningkatan aerasi tanah dengan penggemburan atau pembajakan

 Penyiangan sejak awal sekitar 10 hari dan diulang 2-3 kali dengan interval 10 hari  Menjaga keseimbangan biota tanah dengan menggunakan pupuk organik

Keunggulan budidaya padi organik SRI

Tanaman hemat air, Selama pertumbuhan dari mulai tanam sampai panen memberikan air max 2 cm, paling baik macak-macak sekitar 5 mm dan ada periode pengeringan sampai tanah retak (irigasi terputus)

Hemat biaya, hanya butuh benih 5 kg per hektar. Tidak memerlukan biaya pencabutan bibit, tidak memerlukan biaya pindah bibit, tenaga tanam kurang, dll.

Hemat waktu, ditanam bibit muda 5 – 12 hari setelah semai, dan waktu panen akan lebih awal Produksi meningkat, di beberapa tempat mencapai 11 ton per hektar

Ramah lingkungan, tidak menggunaan bahan kimia dan digantikan dengan mempergunakan pupuk organik (kompos, kandang dan mikro-oragisme lokal), begitu juga penggunaan pestisida.

Tabel 1. Perbanding metode SRI organik dengan sistem konvensional

No Komponen Sistem Konvensional Sistem SRI organik

1 Kebutuhan benih 30-40 Kg/Ha 5-7 Kg/Ha

2 Pengujian Benih Tidak dilakukan Dilakukan pengujian

3 Umur persemaian 20-30 HSS 7-10 HSS

4 Pengolaham tanah 2-3 kali (stuktur lumpur) 3 kali (struktur lumpur & rata)

5 Jumlah

Tanaman/lubang Rata-rata 5 pohon 1 pohon/lubang

6 Posisi akar waktu

(6)

7 Pengairan Terus digenangi Tidak digenangi hanya lembab , Disesuaikan

8 Pemupukan Mengutamakan pupuk kimia kebutuhan hanya dengan pupuk organic

9 Penyiangan Diarahkan pada pemberantasan

gulma Diarahkan pada pengelolaan perakaran

10 Rendemen 50-60% 60-70%

Langkah-langkah budidaya padi organik dengan metode

SRI

Padi terdapat dua jenis, padi sawah dan padi gogo, bedanya terletak pada ada atau tidak adanya air. Pada saat ini kita akan membahas tentang budidaya padi sawah. Padi dapat tumbuh pada ketinggian 0-1500 meter dari permukaan laut dengan temperatur 19-27 derajat celcius, memerlukan penyinaran matahari penuh tanpa naungan. Angin berpengaruh pada penyerbukan dan pembuahan. Padi menghendaki tanah lumpur yang subur dengan ketebalan 18-22 cm dan pH tanah 4 – 7. Sebelum memulai budidaya padi organik, langkah yang paling awal adalah menyiapkan benih yang baik. Seperti apa cara menyeleksi benih padi organik yang baik, silakah lihat di video berikut:

Tahap 1. Penyemaian

Hal pertama yang dilakukan dalam budidaya padi organik adalah menyemai benih. Kegiatan pertama adalah melakukan seleksi benih. Pemilihan benih ini dimaksudkan supaya kita menanam benih yang benar-benar baik. Benih padi yang digunakan untuk luasasn 200 meter persegi adalah sebanyak setengah kilogram.Untuk mengecek baik tidaknya benih bisa dilakukan dengan menguji benih dalam air, benih yang baik adalah benih yang tenggelam, sementara itu benih yang mengapung adalah benih yang kurang baik, biasanya benih yang mengapung adalah benih yang kopong ataupun benih yang telah tumbuh.

Untuk memastikan benih yang tenggelam tersebut benar benar baik, maka uji kembali benih tersebut dengan memasukannya kedalam air yang sudah diberi garam. Larutan air garam yang cukup untuk menguji benih adalah larutan yang apabila dimasukkan telur, maka telur akan terapung. Benih yang baik untuk dijadikan benih adalah benih yang tenggelam dalam larutan tersebut. Benih yang telah diuji lalu direndam dalam air biasa selama 24 jam kemudian ditiriskan dan diperam 2-3 hari ditempat yang lembab hingga keluar calon tunas dan kemudian disemaikan pada media tanah dan kemudian pupuk kompos sekitar sebanyak 10 kg. Setelah umur semai 7-12 hari benih padi sudah siap ditanam. Berikut video cara penyemaian benih padi dengan metode SRI:

(7)

Tahap 2. Pengolahan lahan

Pengolahan lahan untuk penanaman padi sawah dilakukan dengan cara dibajak dan dicangkul. Biasanya dilakukan minimal 2 kali pembajakan yangkni pembajakan kasar dan pembajakan halus yang diikuti dengan pencangkulan: Total pengolahan lahan ini bisa mencapai 2-3 hari. Setelh selasai, aliri dan rendam dengan air lahan sawah tersebut selama 1 hari. Pastikan keesokan harinya benih yang telah disemai sudah siap ditanam, yakni sudah mencapai umur 7-12 harian, perlu diingat, usahakan bibit yang disemai tidak melebihi umur 12 hari mengingat jika terlalu tua maka tanaman akan sulit beradaptasi dan tumbuh ditempat baru (sawah) karena akarnya sudah terlalu besar. Silakan lihat video cara mengolah tanah dengan metode SRI:

Tahap 4. Penanaman

Sebelum ditanam, lakukan pencaplakan (pembuatan jarak tanam), jarak tanam yang baik adalah jarak tanam sesuai dengan metode SRI yakni tidak terlalu rapat, biasanya 25 x 25 cm atau 30 x 30 cm. Lakukan penanaman dengan memasukkan satu bibit pada satu lubang tanam. Penanaman jangan terlalau dalam supaya akar bias leluasa bergerak.

Tahap 5. Perawatan

Pada penanaman budidaya padi organik dengan metode SRI yang paling penting adalah menjaga aliran air supaya sawah tidak tergenang terus menerus namun lebih pada pengaliran air saja. Untuk itu, setiap hari petani biasanya melakukan control dan menutup serta membuka pintu air secara teratur. Berikut panduan pengairan SRI:

 Penanaman dangkal, tanpa digenangi air, mecek-mecek, sampai anakan sekitar 10-14 hari  Setelah itu, isi air untuk menghambat pertumbuhan rumput dan untuk pemenuhan

kebutuhan air dan melumpurkan tanah, digenangi sampai tanah tidak tersinari matahari, stelah itu dilairi air saja.

 Sekitar seminggu jika tidak ada pertumbuhan yang signifikan dilakukan pemupukan, ketika pemupukan dikeringkan dan galengan ditutup

 Ketika mulai berbunga, umur 2 bulan, harus digenangi lagi, dan ketika akan panen dikeringkan

Pemupukan biasanya dilakukan pada 20 hari setelah tebar, pupuk yang digunakan adalah kompos sekitar 175-200 kg. Ketika dilakukan pemupukan sawah dikeringkan dan pintu air ditutup. Setelah 27 hari setelah tebar, aliri sawah secara bergilir antara kering dan basah. Beberapa hama yang sering menyerang tanaman padi diantaranya burung, walang sangit, wereng dan penyakit ganjuran atau daun menguning.

Cara penanganannya bisanya dengan cara manual, membuat orang-orangan sawah untuk hama burung, penyemprotan dengan pestisida hayati seperti nanas, bawang putih dan kipait atau gadung, serta untuk penyakit biasanya dengan cara mencabut dan membakar tanaamn yang sudah terkena penyakit daun menguning. Untuk pencegahan harus dilakukan

(8)

penanaman secara serentak supaya hama dan penyakit tidak datang, penggunaan bibit yang sehat, pengaturan air yang baik, dan dengan melakukan sistem budidaya tanaman sehat yang cukup nutrisi dan vitamin sehingga kekebalannya tinggi.

Hama lain yang sering menyerang adalah hama putih, thrips, wereng, walang sangit, kepik hijau, penggerek batang padi, tikus , dan burung. Sementara itu penyakitnya adalah penyakit bercak daun coklat, penyakit blast, Busuk pelepah daun, fusarium, penyakit kresek atau hawar daun dan penyakit tungro.

Tahap 6. Panen

Padi mulai berbunga pada umur 2-3 bulan bulan dan bisa dipanen rata-rata pada umur sekitar 3,5 sampai 6 bulan bulan, tergantung jenis dan varietasnya. Pada luasan lahan 200 meter persegi, untuk padi yang berumur pendek (3,5 bulan) biasanya diperoleh 2 kwintal gabah basah, setara dengan 1, 5 kuintal gabah kering atau 90 kg beras. Setelah dipanen, padi bisa dijual langsung, atau juga dijemur dulu sekitar 1-2 hari baru kemudian dijual, atau setelah dijemur digiling baru dijual berupa beras ataupun untuk dikonsumsi sebagiannya.

(9)

PERBANDINGAN KOMODITAS PADI DI INDONESIA

DAN THAILAND

PENDAHULUAN

Padi merupakan tanaman sumber pangan berupa rumput berumpun. Tanaman pertanian kuno berasal dari dua benua yaitu Asia dan Afrika Barat tropis dan subtropis. Bukti sejarah memperlihatkan bahwa penanaman padi di Zhejiang (Cina) sudah dimulai pada 3.000 tahun SM. Fosil butir padi dan gabah ditemukan di Hastinapur Uttar Pradesh India sekitar 100-800 SM. Selain Cina dan India, beberapa wilayah asal padi adalah, Bangladesh Utara, Burma, Thailand, Laos, Vietnam Beras merupakan makanan sumber karbohidrat yang utama di kebanyakan negara Asia. Negara-negara lain seperti di benua Eropa, Australia dan Amerika mengkonsumsi beras dalam jumlah yang jauh lebih kecil daripada negara Asia. Selain itu jerami padi dapat digunakan sebagai penutup tanah pada suatu usaha tan Tumbuh di daerah tropis/subtropis pada 45 derajat LU sampai 45 derajat LS dengan cuaca panas dan kelembaban tinggi dengan musim hujan 4 bulan. Terdapat 25 spesies Oryza, yang dikenal adalah O. sativa dengan dua subspesies yaitu Indica (padi bulu) yang ditanam di Indonesia dan Sinica (padi cere).

Hasil padi berupa beras merupakan makanan sumber karbohidrat yang utama dikebanyakan negara Asia. Negara-negara lain seperti di benua Eropa, Australia dan Amerika mengkonsumsi beras dalam jumlah yang jauh lebih kecil daripada negara Asia. Selain itu jerami padi sisa panen dapat digunakan sebagai penutup tanah pada suatu usaha tani.

SEJARAH TANAMAN PADI

Padi (bahasa latin: Oryza sativa L.) merupakan salah satu tanaman budidaya terpenting dalam peradaban. Meskipun terutama mengacu pada jenis tanaman budidaya, padi juga digunakan untuk mengacu pada beberapa jenis dari marga (genus) yang sama, yang biasa disebut sebagai padi liar. Padi diduga berasal dari India atau Indocina dan masuk ke Indonesia dibawa oleh nenek moyang yang migrasi dari daratan Asia sekitar 1500 SM.

Padi diduga pertamakali dibudidayakan di India, selama kurang lebih 9000 tahun. Di Indonesia, Malaysia dan Filipina pembudidayaan padi telah dimulai sesudah 1500 Masehi. Bukti awal pembudidayaan padi yang ditemukan di Thailand, padi ditanam pada waktu 500-900 Masehi.

Padi termasuk genus Oryza L yang meliputi lebih kurang 25 spesies, tersebar didaerah tropik dan daerah sub tropik seperti Asia, Afrika, Amerika dan Australia. Menurut Chevalier dan Neguier padi berasal dari dua benua Oryza fatua Koenig dan Oryza sativa L berasal dari benua Asia, sedangkan jenis padi lainya yaitu Oryza stapfii Roschev dan Oryza glaberima Steund berasal dari Afrika barat.

(10)

Padi yang ada sekarang ini merupakan persilangan antara Oryza officinalis dan Oryza sativa f spontania. Di Indonesia pada mulanya tanaman padi diusahakan didaerah tanah kering dengan sistim ladang, akhirnya orang berusaha memantapkan basil usahanya dengan cara mengairi daerah yang curah hujannya kurang. Tanaman padi yang dapat tumbuh dengan baik didaerah tropis ialah Indica, sedangkan Japonica banyak diusakan didaerah sub tropika. Padi adalah salah satu tanaman budidaya terpenting dalam peradaban manusia. Meskipun terutama mengacu pada jenis tanaman budidaya, padi juga digunakan untuk mengacu pada beberapa jenis dari marga (genus) yang sama, yang disebut padi liar.

Produksi padi dunia menempati urutan ketiga dari semua serealia setelah jagung dan gandum. Namun demikian, padi merupakan sumber karbohidrat utama bagi mayoritas penduduk dunia.

KLASIFIKASI TANAMAN

Klasifikasi botani tanaman padi adalah sebagai berikut: Kingdom : Plantae

Divisi : Spermatophyta Sub divisi : Angiospermae Kelas : Monotyledonae Keluarga : Gramineae (Poaceae) Genus : Oryza

Spesies : Oryza spp.

Terdapat 25 spesies Oryza, yang dikenal adalah O. sativa dengan dua subspesies yaitu Indica (padi bulu) yang ditanam di Indonesia dan Sinica (padi cere). Padi dibedakan dalam dua tipe yaitu padi kering (gogo) yang ditanam di dataran tinggi dan padi sawah di dataran rendah yang memerlukan penggenangan.

CIRI-CIRI TANAMAN

Padi termasuk dalam suku padi-padian atau poaceae. Merupakan rumput semusim, berakar serabut, batang sangat pendek, , tersusun dari deretan buku-buku dan ruas, jumlahnya tergantung pada kultivar dan musim pertumbuhannya; masing-masing buku dengan daun tunggal, kadang-kadang juga dengan akar, ruas biasanya pendek pada pangkal tanaman,

(11)

struktur serupa batang terbentuk dari rangkaian pelepah daun yang saling menutupi satu sama lain membentuk batang semu, terakhir membungkus ruas; helaian daun memita, daun sempurna dengan pelepah tegak, daun berbentuk lanset, warna hijau muda hingga hijau tua, berurat daun sejajar,tertutupi oleh rambut yang pendek dan jarang. Perbungaan malai, di ujung ranting, buliran tunggal, melonjong sampai melanset, berisi bunga biseksual tunggal, bagian bunga tersusun majemuk, tipe malai bercabang,satuan bunga disebut floret yang terletak pada satu spikelet yang duduk pada panikula, tipe buah bulir atau kariopsis yang tidak dapat dibedakan mana buah dan bijinya, bentuk hampir bulat hingga lonjong, ukuran 3mm hingga 15mm,tertutup oleh palea dan lemma yang dalam bahasa sehari-hari disebut sekam,struktur dominan padi yang biasa dikonsuksi yaitu jenis enduspermium. Buah jali bervariasi dalam ukuran, bentuk dan warna, membulat telur, menjorong atau menyilinder, seringkali berwarna kuning keputihan atau coklat.

HABITAT

Padi tumbuh pada di antara 53°LU – 35°LS. Jenis tersebut tumbuh pada tanah kering atau yang teraliri air. Kultivar-kultivar yang toleran dapat hidup pada suhu rendah yang bervariasi. Kultivar tradisional secara umum mempunyai fotoperiode sensitif dan bunga, bila hari panjangnya pendek. Beberapa kultivar baru mempunyai fotoperiode tidak sensitif dan bunga pada beberapa latitude, sedangkan suhu tidak membatasi. Produksi beras tinggi bila radiasi matahari selama fase reproduksi dan fase pemasakan tinggi, jadi secara general produksi padi akan tinggi selama musim kering dari pada selama musim hujan. Kisaran suhu rendah membatasi pertanian padi. Rata-rata suhu selama musim pertumbuhan bervariasi dari 20-38°C. Padi lebih mudah terpengaruh pada suhu rendah pada tingkat inisiasi malai, bila suhu dibawah 15°C di malam hari dapat menyebabkan buliran steril. Suhu rendah dapat juga menghasilkan perkecambahan rendah atau kematian semai, menguningnya daun, jumlah cabang muda rendah, degenerasi buliran, sterilitas yang tinggi, menghambat pertumbuhan dan mengurangi munculnya malai yang menyebabkan produksi biji rendah. Tanah rendah dan suhu aliran air juga mempengaruhi nutrisi, pertumbuhan dan produksi biji padi. Suhu di atas 21°C pada saat pembungaan dibutuhkan untuk antesis dan penyerbukan. Faktor pembatas pertumbuhan yang besar dari padi adalah suplai air. Meskipun demikian, pedoman air dalam pertumbuhan padi dan kebutuhan air sangat bervariasi.

Padi dataran tinggi, tumbuh sebagai pertanian yang tergantung hujan, membutuhkan curah hujan tertentu paling tidak 750 mm di atas periode 3-4 bulan dan tidak bertoleransi terhadap kekeringan. Kecenderungan padi dataran rendah membutuhkan dataran rendah yang datar, kolam air dan delta-delta. Di negara-negara Asia Tenggara kebutuhan rata-rata air untuk irigasi padi adalah 1200 mm per pertanian atau 200 mm dari curah hujan per bulan. Kelembaban relatif yang rendah di atas kanopi selama musim kering disebabkan oleh angin yang kuat yang dapat menyebabkan buliran steril. Padi umumnya tumbuh mulai daerah pantai, tetapi juga dapat tumbuh di daerah pegunungan di negara-negara Asia Tenggara. Kultivar yang bertoleransi terhadap iklim dingin dapat tumbuh sampai pada ketinggian 1230 m dpl di gunung dari suatu propinsi di Filipina dan dapat mencapai 2300 m dpl. di Himalaya Barat Daya. Tidak ada bukti tentang pengaruh langsung dari ketinggian tempat. Kultivar yang

(12)

bertoleransi terhadap iklim dingin secara morfologi tidak berbeda dengan kultivar lainnya. Meskipun demikian, kultivar-kultivar dapat bertahan di suhu air 12°C pada tingkat semai, 15-17°C suhu malam hari selama inisiasi malai dan 21°C suhu harian selama antesis.

Padi paling bagus pada tanah berat yang fertil. Padi dapat ditanam pada tanah kering atau tanah liat dan tumbuh menyerupai pertanian dataran tinggi, atau pada tanah-tanah yang tergenang. Tanah-tanah dimana padi tumbuh dapat merubah kondisi tanah secara besar-besaran: kisaran tekstur tanah dari pasir sampai liat, kandungan bahan organik 1-50%, pH 3-10, kandungan garam hampir 0-1%, dan zat makanan yang berguna dari kritis sampai melimpah. pH optimum untuk tanah yang tergenang adalah 6.5-7.0. Karena pengelolaan daratan tergantung pada tanah, iklim, suplai air, dan kondisi sosial ekonomi dari daerah tersebut, ada kisaran yang besar dalam pedogenetik dan karakteristik morfologi dari tanah-tanah tempat tumbuh padi tersebut.

Padi terutama tumbuh pada tanah yang terendam air, dan bahan fisik dari tanah relatif tidak penting sepanjang air cukup. Pada tanah yang terendam, pH cenderung netral yaitu pH dari tanah asam bertambah karena pH tanah kapur dan tanah sodic berkurang; ion-ion Fe, N dan S berkurang; suplai dan kegunaan unsur-unsur N, P, Si dan Mo diperbaiki, oleh karena konsentrasi dari pelarut air Zn dan Cu berkurang; produksi racun berkurang seperti metan, asam-asam organik. Komposisi kimia tanah bervariasi di antara kawasan, negara dan daerah. Aliran air yang melimpah dari tanah-tanah yang ditanami padi menghasilkan lingkungan yang mendukung untuk pertrumbuhan mikroba anaerobik dan disertai perubahan biokimia. Sebagai hasilnya angka dekomposisi unsur organik berkurang. Padi dataran rendah dan padi dengan air yang dalam mungkin dipengaruhi oleh kekeringan atau perendaman yang sempurna.

MANFAAT TANAMAN

Padi merupakan makanan pokok dari 40% penduduk dunia serta makanan pokok seluruh penduduk Asia Tenggara. Biji padi dimasak dengan air mendidih atau dengan cara tim, dan dimakan sebagian besar dengan sayuran, ikan atau daging. Seringkali merupakan sumber utama energi. Tepung dari beras digunakan untuk makan pagi, makanan bayi, roti, campuran kue dan kosmetika. Tepung beras yang kenyal mempunyai kualitas tinggi sebagai pengenyal saus putih, puding dan makanan ringan orang-orang timur (oriental). Beras ketan digunakan untuk membuat gula-gula. Pati dibuat dari beras yang ditumbuk dan digunakan sebagai pati pencucian, dalam makanan dan pabrik tekstil. Bir, anggur dan alkohol secara industri dibuat dari beras. Sekam atau kulitnya digunakan sebagai bahan bakar, papan pembenihan, penyerap, papan dinding dan pembawa vitamin, obat, racun dan lain-lain.

Dalam lingkungan rumah tangga kulit beras digunakan untuk menyaring air, media hidroponik dan pabrik briket arang. Dedak beras atau tepung diperoleh seperti proses dalam mutiara yang digosok dan berharga untuk makanan ternak dan unggas. Dedak tersebut mengandung perikarp, lapisan aleuron, embrio dan banyak endosperma. Dedak mengandung 14-17% minyak. Minyak kotor dedak beras digunakan untuk memproduksi minyak beku,

(13)

asam stearat dan oleat, gliserin dan sabun. Minyak dedak yang dihasilkan digunakan untuk memasak, bahan anti karat dan anti korosi, proses akhir pembuatan tekstil dan kulit dan dalam obat-obatan. China, India, Jepang, Vietnam dan Thailand merupakan produsen utama minyak dedak beras. Jerami padi digunakan untuk makanan hewan dan papan pembenihan. Juga digunakan untuk pabrik papan jerami dan pulp untuk kertas, media pertumbuhan jamur, produksi pupuk organik, untuk memupuk pertanian bawang, timun dan jarang untuk tali dan atap rumah.

KANDUNGAN

Padi merupakan bahan makanan yang menghasilkan beras. Bahan makanan ini merupakan makanan pokok bagi sebagian besar penduduk Indonesia. Meskipun padi dapat digantikan oleh makanan lainnya, namun padi memiliki nilai tersendiri bagi orang yang biasa makan nasi dan tidak dapat dengan mudah digantikan oleh bahan makanan yang lain.

Padi adalah salah satu bahan makanan yang mengandung gizi dan penguat yang cukup bagi tubuh manusia, sebab didalamnya terkandung bahan yang mudah diubah menjadi energi. Oleh karena itu padi disebut juga makanan energi.

Menurut Collin Clark Papanek, nilai gizi yang diperlukan oleh setiap orang dewasa adalah 1821 calori yang apabila disetarakan dengan beras maka setiap hari diperlukan beras sebanyak 0,88 kg. Beras mengandung berbagai zat makanan antara lain: karbohidrat, protein, lemak, serat kasar, abu dan vitamin. Disamping itu beras mengandung beberapa unsur mineral antara lain: kalsium, magnesium, sodium, fosphor dan lain sebagainya.

SEJARAH PRODUKSI PADI Indonesia

Di Negara Indonesia dengan berbagai pulau ini dahulu makanan pokok tiap pulau berbeda, namun adanya kebijakan pemerintah, sehingga makanan pokok warga Indonesia menjadi nasi menyebabkan warga Indonesia membutuhkan beras untuk makanan sehari-harinya. Hingga saat ini dan beberapa tahun mendatang, beras tetap menjadi sumber utama gizi dan energi bagi lebih dari 90% penduduk Indonesia. Dengan tingkat konsumsi rata-rata 141 kg/kapita/tahun, untuk mencapai kemandirian pangan hingga tahun 2005 dibutuhkan 34 juta ton beras atau setara dengan 54 juta ton GKG/tahun. Walaupun program diversifikasi pangan sudah sejak lama dicanangkan, namun belum terlihat indikasi penurunan konsumsi beras, bahkan cenderung meningkat sejalan dengan meningkatnya jumlah penduduk.

Kebutuhan pangan nasional memang dapat dipenuhi dari produksi dalam negeri dan impor. Namun karena jumlah penduduk terus bertambah dan tersebar di banyak pulau maka ketergantungan akan pangan impor menyebabkan rentannya ketahanan pangan sehingga berdampak terhadap berbagai aspek kehidupan, termasuk sosial, ekonomi, dan bahkan politik. Selain itu juga, lahan pertanian di Indonesia setiap tahunnya selalu berkurang sejalan

(14)

dengan pertambahan jumlah penduduk, sehingga banyak lahan pertanian yang dirubah menjadi perumahan ataupun bangunan industri untuk lapangan pekerjaan.

Thailand

Pertanian Thailand dapat ditelusuri melalui aspek historis, ilmiah, dan sosial yang menghasilkan pendekatan yang unik Thailand modern dengan pertanian. Setelah Revolusi Neolitik, masyarakat di daerah tersebut berkembang dari berburu dan meramu, melalui fase agro-kota, dan menjadi kerajaan negara-agama. Imigrasi Tai menghasilkan pendekatan yang berbeda untuk pertanian berkelanjutan dibandingkan dengan sebagian besar praktek pertanian lain di dunia.

Dari sekitar 1000, budaya beras ketan basah Tai ditentukan struktur administratif dalam masyarakat pragmatis yang secara teratur menghasilkan surplus yang dapat dijual. Melanjutkan hari ini, sistem ini mengkonsolidasikan pentingnya pertanian beras untuk keamanan nasional dan ekonomi kesejahteraan. Pengaruh Cina dan Eropa kemudian manfaat agribisnis dan memulai permintaan yang akan memperluas pertanian melalui peningkatan populasi sampai tanah diakses telah dikeluarkan.

POTENSI PENINGKATAN PRODUKSI Indonesia

Potensi Sumberdaya Lahan

Berdasarkan peta tanah skala 1:1.000.000 dari Pusat Litbang Tanah dan Agroklimat, luas lahan yang sesuai dikembangkan untuk pertanian adalah 24,5 juta ha di lahan basah (sawah) dan 76,3 juta ha di lahan kering.

Lahan sawah. Luas lahan sawah nonrawa pasang surut dengan kelas sesuai untuk tanaman padi adalah 13,26 juta ha, 2,01 juta ha di antaranya terdapat di Sumatera, 1,12 juta ha di Jawa, 0,85 juta ha di Bali dan Nusa Tenggara, 1,03 juta ha di Kalimantan, 1,11 juta ha di Sulawesi, dan 7,89 juta ha di Maluku dan Papua. Dari 13,26 juta ha lahan sawah yang ada, baru 6,86 juta ha yang telah dimanfaatkan. Dengan demikian terdapat 6,4 juta ha lahan yang dapat dikembangkan untuk sawah. Namun perlu dipertimbangkan beberapa hal berikut:

1. Investasi yang mungkin tinggi;

2. Kelanggengan fungsi lahan pertanian yang baru dibuka; 3. Ketersediaan tenaga kerja pertanian;

4. Dampak lingkungan atau perubahan ekosistem, degradasi lingkungan dan sebagainya; dan 5. Masih adanya alternatif peningkatan produksi padi melalui peningkatan produktivitas dan IP.

(15)

Lahan rawa dan pasang surut. Luas lahan rawa dan pasang surut yang sesuai untuk usahatani padi adalah 3,51 juta ha, yang tersebar di Sumatera (1,92 juta ha), Jawa (0,12 juta ha), Kalimantan (1,01 juta ha), Sulawesi (0,31 juta ha), Maluku dan Papua (3,51 juta ha). Hingga saat ini, lahan rawa pasang surut yang telah digunakan untuk sawah baru seluas 0,93 juta ha.

Lahan kering. Lahan kering yang sesuai untuk tanaman semusim diperkirakan seluas 25,33 juta ha. Di banyak daerah, potensi lahan kering belum dimanfaatkan secara optimal bagi pengembangan tanaman padi dan tanaman pangan lainnya. Hingga saat ini kontribusi padi gogo terhadap pengadaan produksi padi nasional baru mencapai 5-6%. Dengan pengelolaan yang tepat, lahan kering diperkirakan dapat mendukung upaya peningkatan produksi padi nasional.

1. Thailand

- Sistem pemilikan tanah pemicu keunggulan Thailand-

Negeri gajah putih ini memiliki tanah hanya sebesar pulau Sumatera, itupun tidak semuanya subur. Lahan pertanian yang menghasilkan padi mutu tinggi dengan tingkat kesuburan memadai hanya wilayah disekitar ibukota Bangkok. Lahan ini juga dialiri oleh banyak kanal dan irigasi teknis. Lahan sisanya hanya tanah berkapur dan bercadas yang kurang subur, namun mampu menghasilkan karet dan cassava terbesar di dunia. Bangsa yang ulet ditempa kerasnya alam ini justru sukses melakukan budidaya pertanian yang pada gilirannya meneruskan cerita sukses kepada sektor industri yang mengolah hasil pertanian.

Lahan pertanian yang terbatas ini dikelola dengan baik oleh sistem kepemilikan tanah dan pemanfaatan yang efisien. Hampir seluruh lahan pertanian Thailand berukuran besar sebagai unit produksi yang memenuhi skala ekonomi. Apabila dilihat dari dalam pesawat udara yang akan mendarat akan terlihat hamparan lahan pertanian yang luas dengan batas-batas kasat mata dan praktis rata tanpa perbukitan. Sistem kepemilikan tanah, lahan yang rata dan hak waris menciptakan lahan luas sehingga efisien dalam mekanisasi pertanian yang pada gilirannya meningkatkan produktivitas lahan. Bandingkan dengan Indonesia yang lahannya rata-rata 0,2 hektar dengan petak pematang sempit dan terasering seperti anak tangga. Lahan dengan geografi seperti Indonesia sedap dipandang mata namun hampir tidak mungkin dikelola dengan mekanisasi pertanian yang efisien. Lahan luas dan rata seperti di Thailand memungkinkan traktor pengolah tanah, mesin penyemai bibit, mesin penebar pupuk dan mesin pemetik hasil tanaman, dapat bekerja dengan efisien.

- Semua bibit unggul

Teknologi budidaya tanaman dikuasai bangsa ini sejak lama. Tidak kurang dari program raja, program pemerintah, program universitas, dan program swasta melakukan sinergi maupun berusaha sendiri-sendiri memproduksi bibit unggul. Agro bisnis dan agro industri telah menciptakan iklim usaha yang kondusif dan menciptakan insentif bagi para pelaku produsen

(16)

bibit unggul sehingga berlomba-lomba melakukan riset untuk memproduksi bibit yang lebih produktif dan efisien. Sektor pertanianpun mampu menyerap bibit unggul yang dihasilkan dan menciptakan sinergi yang saling menguntungkan bersama dengan para pelaku agro bisnis lainnya.

Kebijakan budidaya tanaman pertanian Thailand pada umumnya memfokuskan hanya kepada sedikit jenis spesies bibit unggul. Apabila sudah didapat bibit unggul yang diinginkan, maka spesies lain tidak diperkenankan untuk ditanam sehingga hampir selalu terjadi monokultur tanaman jenis tertentu. Misalnya padi dibatasi hanya 3 spesies, durian 2 spesies, asem jawa manis hanya 1 spesies, sedangkan spesies lain yang tidak diharapkan tidak boleh ditanam dan hanya boleh hidup di kebun-kebun percobaan atau menjadi koleksi lembaga riset. Pola monokultur ini memberikan keseragaman output, memudahkan penanganan pasca panen, meningkatkan daya saing ekspor dan mengendalikan penyakit tanaman.

- Etos Kerja, lembur dengan amfitamin:

Petani dan pekerja Thailand dikenal memiliki etos kerja yang tangguh mampu bekerja lebih lama dengan produktivitas sama dan tekun dalam melakukan pekerjaan. Bahkan untuk mengejar pendapatan yang lebih banyak, mereka terkadang memaksakan diri dengan mengkonsumsi amfitamin yang dampaknya membuat orang tahan kantuk dan lupa kelelahan. Apabila didunia lain orang mengkonsumsi untuk tripping semalam suntuk di diskotik dengan house music yang monoton sampai pagi, di Thailand orang menggunakannya untuk bekerja lembur. Hal yang ingin diungkapkan disini bukan perilaku narkoba tetapi lebih karena perilaku kerja keras petani maupun buruh industri, nelayan, pekerja kasar proyek infrastruktur. Dampak negatif banyak terjadi selepas kerja pada saat mereka dalam perjalanan pulang kerumah. Kelelahan yang diulur dengan obat-obatan mencapai puncak kumulatif ketika mereka di jalan sehingga kurang peka terhadap bahaya lalulintas.

- Keunggulan Keterkaitan Hulu-Hilir Industri Agro-

Sukses Thailand di sektor pertanian masih diperpanjang dengan kondisi harmonis antara pasar pertanian dan pasar industri. Kedua sektor dapat saling menghidupi menciptakan sinergi sehingga keduanya mampu mencapai tingkat kinerja bahkan daya saing yang memadai baik di pasar dalam negeri maupun internasional. Faktor utama yang memberikan kontribusi penting diantaranya aspek distribusi dengan keberadaan pasar agro bisnis yang meliputi mekanisme yang saling menunjang diantara pasar induk, pasar regional, pasar kontrak, pasar lelang, yang bekerja sesuai mekanisme pasar. Dengan adanya pasar berjangka, pasar kontrak, pasar lelang, pasar induk, pasar regional, maka suplly chain management nasional berlangsung secara efisien dan melindungi semua pelaku di pasar.

- Pasca Panen, tidak membawa sampah ke kota-

Satu lagi keunggulan sistem supply chain management nasional Thailand di sektor agro bisnis maupun industri agro adalah prinsip yang sangat sederhana namun sangat efektif

(17)

dengan prinsip distribusi yang ―tidak membawa sampah‖ dari lahan pertanian ke kota, sepanjang rantai distribusi, apalagi untuk keperluan ekspor. Jadi setiap pergerakan distribusi produk pertanian selalu hanya membawa produk yang lulus kualitas, keseragaman, kebersihan. Implementasi dari prinsip ini sederhana saja. Para pedagang yang akan membeli misalnya buah jeruk dari petani tertentu, akan menyediakan kemasan dari karton yang sudah lengkap dengan label dan informasi lain tentang isinya, termasuk sekat-sekat dari kotak karton tersebut yang secara otomatis merupakan ukuran buah jeruk yang dapat diterima oleh pedagang jeruk yang bersangkutan. Dengan adanya sekat untuk setiap butir jeruk, maka hanya jeruk yang memenuhi syarat kualitas, ukuran yang seragam dan kebersihan, yang boleh dimasukkan kedalam kotak karton tersebut. Jeruk lainnya ditolak oleh pedagang dan dipasarkan lokal oleh petani tersebut. Dengan cara ini distribusi berjalan sangat efisien, hanya jeruk yang bisa jadi duit saja yang masuk kota besar bahkan dapat langsung diekspor, sedangkan yang apkir dan potensial menjadi sampah dikota, tidak ikut terbawa dan dimanfaatkan dikonsumsi didesa ataupun menjadi pupuk organik.

VARIETAS YANG DIKEMBANGKAN Indonesia

Varitas unggul nasional berasal dari Bogor: Pelita I/1, Pelita I/2, Adil dan Makmur (dataran tinggi), Gemar, Gati, GH 19, GH 34 dan GH 120 (dataran rendah). Varitas unggul introduksi dari International Rice Research Institute (IRRI) Filipina adalah jenis IR atau PB yaitu IR 22, IR 14, IR 46 dan IR 54 (dataran rendah); PB32, PB 34, PB 36 dan PB 48 (dataran rendah). Selain itu varietas yang dianjurkan ditanam pada berbagai tipe lahan dan musim adalah varietas Lematang, IR64, Kapuas, Sei Lilin, Cisanggarung, IR42, Cisadane, Way seputih.

Thailand

Jenis padi yang ditanam sebagian besar adalah padi yang menghasilkan beras Jasmine Rice 105, yang merupakan jenis padi yang paling baik dan paling diminati oleh pasar dunia. Varietas padi yang dikembangkan dan dilestarikan di Thailand ada sekitar 24 ribu varietas. Varietas padi dan beras yang diteliti dan dikembangkan di Thailand disimpan dalam sebuah Bank khusus untuk tanaman padi (Gene Bank), yang sekarang telah mengoleksi atau menyimpan 24 ribu varietas, terdiri dari 17 ribu jenis lokal, 3000 jenis yang dikembangkan, 3000 dari luar negeri, dan 1000 jenis padi liar.

Strain yang paling banyak diproduksi beras di Thailand adalah beras melati, yang lebih tinggi kualitas jenis beras. Namun, melati memiliki tingkat imbal hasil jauh lebih rendah daripada jenis lain beras, tetapi juga biasanya menjemput lebih dari dua kali lipat harga strain lainnya di pasar global.

(18)

LUAS LAHAN Indonesia

Pusat penanaman padi di Indonesia adalah Pulau Jawa (Karawang, Cianjur), Bali, Madura, Sulawesi, dan akhir-akhir ini Kalimantan. Pada tahun 1992 luas panen padi mencapai 10.869.000 ha dengan rata-rata hasil 4,35 ton/ha/tahun. Di Indonesia hanya memiliki 0,3 ha sawah per kepala. Kondisi inilah yang menyebabkan Indonesia masih memerlukan impor beras.

Thailand

Total luas wilayah penanaman padi di Thailand adalah sekitar 9-11 juta hektar dengan 45% di antaranya berada di wilayah timur laut Thailand (Isaan) dan sisanya berada di wilayah tengah dan utara Thailand. Di Thailand, rata-rata petani di sana sudah memiliki 3 ha sawah.

Di Thailand, terdapat sebuah kawasan yang dikenal dengan tingkat produktivitas padi tertinggi di negera itu. Provinsi Suphan Buri, namanya. Berlokasi sekitar 150 km dari ibukota Thailand, Bangkok. Lahan di Suphan Buri bisa menghasilkan panen sampai 4 kali setahun, dan kesuburan tanah itu membuat warganya terbebas dari beban hutang.

Thailand telah merencanakan untuk lebih meningkatkan lahan yang tersedia untuk produksi beras, dengan tujuan menambahkan 500.000 hektar untuk nya sudah 9,2 juta hektar padi-tumbuh daerah. Departemen Pertanian Thailand mengharapkan produksi beras untuk menghasilkan sekitar 30 juta ton beras untuk tahun 2008.

PRODUKSI PADI Indonesia

Tahun 2005 Indonesia merupakan negara peringkat ke-3 sebgai produsen padi terbesar setelah China dan India dengan presentase sebesar 9 % yaitu sebanyak 54 (juta metrik ton). Hal ini menunjukkan betapa besarnya hasil padi yang di hasilkan oleh Indonesia pada waktu itu, Indonesia sempat menjadi salah satu negara produsen padi terkemuka di dunia.

Pada tahun 2011 produksi padi Indonesia mengalami sedikit peningkatan di bandingkan dengan tahun 2010. Pada tahun 2010 hasil produksi padi Indonesia mencapai 66,41 juta ton gabah kering giling (GKG), meningkat sebanyak 2,01 juta ton (3,13 persen) dibandingkan tahun 2009. Dan pada Tahun 2011 Indonesia berhasil memproduksi sebesar 67,31 juta ton GKG, meningkat sebanyak 895,86 ribu ton (1,35 persen) dibandingkan tahun 2010. Kenaikan produksi diperkirakan terjadi karena peningkatan luas panen seluas 14,51 ribu hektar (0,11 persen) dan produktivitas sebesar 0,62 kuintal/hektar (1,24 persen). Semantara itu daerah sebagai penghasil padi terbesar nasional adalah Jawa Barat. Produksi padi di Jawa Barat dari awal Januari hingga pertengahan September 2011 mencapai 9,128 juta ton gabah kering giling (GKG) atau 73,03 persen dari target yang mencapai 12,5 juta ton GKG. Sentra

(19)

produksi padi Jawa Barat terutama di daerah pantura, seperti Kabupaten Indramayu, Karawang, Subang, dan Cirebon.

Thailand

Penduduk yang bermata pencaharian sebagai petani padi di seluruh Thailand ada sekitar 5,6 juta KK atau sekitar 66% dari seluruh masyarakat yang bermata- pencaharian di bidang pertanian. Produksi gabah sekitar 30-31 juta ton/ tahun dengan nilai sebesar 180-200 milyar baht.

Di Thai terdapat garapan padi mutu unggul 14 ribu are dengan produksi gabah kering giling setiap tahun 20 juta ton. Tahun lalu Thai mengekpor beras 8,9 juta ton, konsumsi domestik 6,5 juta ton, cadangan negara 2,2 juta ton, dan yang lain diolah menjadi makanan jenis beras. Ekspor beras Thai menghasilkan devisa sekitar US$ 4 miliar, sehingga negara ini menduduki peringkat pertama ekspor beras dunia selama 10 tahun berturut-turut.

Saran

Dengan keadaan peningkatan produksi yang di capai Indonesia, bukan tidak mungkin Indonesia menjadi eksportir beras terbesar. Namun dengan tingkat konsumsi beras yang sangat tinggi di Indonesia, hal ini masih belum bisa di wujudkan. Banyaknya permintaan lebih besar di bandingkan pasokan yang tersedia menyebabkan penekanan harga beras semakin tinggi. Tingginya konsumsi beras di Indonesia mencapai 140 kilogram per orang per tahun. Berbeda dengan konsumsi beras di negara-negara Asia seperti Thailand yang hanya 70 kg per orang per tahun. Hal itu mengakibatkan Indonesia tidak dapat memenuhi kebutuhan beras secara swasembada. Menurut menteri perdagangan RI Gita Wirjawan, pola konsumsi beras di Indonesia harus di kurangi. Beras sebagai makanan pokok dapat di selingi dengan makanan lain seperti singkong. Untuk itu pemerintah akan mengkaji peralihan ini termasuk diversifikasi pangan dan ketersediaan lahan untuk tanaman pengganti beras. Ini tidak dapat dilakukan dalam waktu singkat dan memerlukan kerja sama antarkementerian.

KONDISI PADI Indonesia

Produksi padi nasional sejak tahun 1970 hingga 2004 meningkat hampir tiga kali lipat. Hal ini tentu terkait dengan peningkatan produktivitas dan luas areal tanam. Peningkatan produktivitas padi dalam kurun waktu tersebut mencapai 87,6%, dari 2,42 ton/ha pada tahun 1970 menjadi 4,54 ton/ha pada tahun 2004. Sementara peningkatan luas areal panen dalam periode yang sama mencapai 39,8%, dari 8,3 juta ha pada tahun 1970 menjadi 11,6 juta ha pada tahun 2004. Keberhasilan upaya peningkatan produksi padi nasional tidak terlepas pula dari implementasi berbagai program intensifikasi yang didukung oleh inovasi teknologi

(20)

pancausahatani, terutama varietas unggul dan teknologi budi daya, rekayasa kelembagaan, dan dukungan kebijakan pemerintah.

Sampai saat ini sekitar 90% produksi padi nasional dipasok dari lahan sawah irigasi yang sebagian telah terkonversi untuk berbagai keperluan di luar pertanian. Sementara lahan sawah tadah hujan, lahan kering, dan lahan pasang surut yang tersebar luas di berbagai daerah belum banyak berkontribusi dalam peningkatan produksi padi. Ke depan, selain di lahan sawah irigasi, upaya peningkatan produksi padi perlu pula diarahkan ke lahan sawah tadah hujan, lahan kering, dan lahan pasang surut.

Beberapa masalah yang diperkirakan menjadi pembatas peningkatan produksi adalah:

1) Keterbatasan sumberdaya lahan sebagai akibat konversi menjadi pabrik, jalan, perkantoran maupun pemukiman,

2) Pemilikan lahan yang relatif kecil-kecil sehingga sulit berproduksi secara optimal, 3) Kualitas agroekosistem yang kian miskin bahkan jenuh input; dan

4) Sebaran produksi yang sebagian besar masih bertumpu di Pulau Jawa.

Lahan garapan yang sempit dengan rata-rata 0,32 ha per musim mendorong petani untuk memaksimalkan pendapatan dengan cara meningkatkan intensitas tanam dan menyesuaikan pola tanam dengan masukan sangat intensif. Pada musim hujan dan musim kemarau, produktivitas padi masing-masing 5,65 ton dan 5,49 ton/ha.

Nilai penerimaan dari usahatani padi dengan status garapan milik pada musim hujan (MH), musim kemarau (MK) I, dan MK II berturut-turut adalah Rp 5,5 juta, Rp 5,4 juta, dan Rp 5,3 juta/ha. Total biaya tunai untuk masingmasing musim tanam adalah Rp 2,7 juta, Rp 2,9 juta, dan Rp 3 juta/ha, sehingga keuntungan atas biaya tunai berturut-turut adalah Rp 2,7 juta, Rp 2,6 juta, dan Rp 2,3 juta/ha.

Pada usahatani padi dengan status garapan sewa, keuntungan atas biaya tunai pada musim hujan hanya sekitar Rp 1 juta/ha karena kompensasi untuk sewa lahan mencapai Rp 1,56 juta/ha/musim. Pada MK I keuntungan lebih rendah dan bahkan pada MK II keuntungan kurang dari Rp 500 ribu/ha. Untuk menyiasati keuntungan yang rendah tersebut, petani penyewa umumnya mengusahakan komoditas nonpadi pada MK II, terutama hortikultura. Pendapatan usahatani padi dengan status garapan sakap (bagi hasil) lebih tinggi daripada garapan sewa. Pada musim hujan, keuntungan atas biaya tunai rata-rata Rp 1,15 juta/ha, sedangkan pada MK I meningkat menjadi Rp 1,35 juta/ha. Walaupun demikian tidak semua petani penyakap bernasib lebih baik daripada petani penyewa, karena kualitas lahan yang disewakan umumnya lebih baik dan petani penyewa umumnya menanam komoditas yang bernilai ekonomi lebih tinggi.

(21)

Thailand

Thailand adalah salah satu negara ketergantungan pertanian terbesar. Negara ini mampu untuk tetap kompetitif dalam kata karena keunggulan komparatif yang memanfaatkan itu scape tanah besar dan cuaca yang menyediakan makanan besar. Pertanian sendiri memberikan kontribusi sekitar 1,26 triliun baht terhadap PDB negaranya.

Total volume ekspor beras Thailand untuk tahun 2010 adalah 9,05 juta ton atau senilai 5,35 milyar USD, dengan volume ekspor ke Indonesia sebesar 277,305.23 ton.

Pemasukan Thailand dari produksi gabah, apabila dihitung dari keseluruhan proses, mulai dari hasil pemanenan padi, penggilingan beras, pasar induk, penjual eceran, dan ekspor mencapai sekitar 400 milyar baht per tahun.

Kebijakan nasional Thailand terkait padi, beras dan petani dituangkan dalam sebuah Thai Rice Master Strategies 2007-2011yang disusun bersama oleh Kementerian Pertanian dan Koperasi Thailand dengan Kementerian Perdagangan Thailand.

Tujuan utama rencana strategis tersebut adalah ―menjadikan Thailand negara yang memiliki kualitas beras dan produk beras nomor satu di dunia demi kesejahteraan petani dan konsumen‖.

Dari seluruh gabah yang dihasilkan, sebanyak 45% gabah dijual oleh petani ke pihak swasta (pembeli gabah, makelar), 30% langsung masuk ke penggilingan beras, sementara 25% sisanya disimpan di koperasi petani dan lumbung negara (public warehouse). Setelah diolah di penggilingan beras, 45% dipergunakan untuk keperluan ekspor dengan jumlah sekitar 7-9 juta ton/ tahun dan sisanya sebanyak 55% untuk keperluan domestik yang berjumlah sekitar 6,6-8 juta ton/tahun.

Saran

Produksi padi Indonesia baru cukup untuk kebutuhan dalam negeri karena jumlah penduduk Indonesia 4 kali lipat penduduk Thailand. Tapi luas lahan pertanian padinya hanya 1,5 kali dari luas lahan Thailand. Sehingga sangat diperlukan peningkatan produksi padi dalam negeri agar didapat surplus yang lebih yang akhirnya dapat swasembada beras seperti pada tahun dulu.

Sikap petani yang subsisten juga harus dikurangi sehingga dapat meningkatkan pendapatan petani itu sendiri dari hasil pertanian yang dikembangkan yang akhirnya dapat meningkatkan kesejahteraan petani itu sendiri seperti pada Negara Thailand.

(22)

PENENTUAN MUTU PADI Indonesia

Standar mutu Bulog yang lebih berorientasi untuk tujuan penyimpanan dan tidak berdasarkan preferensi konsumen(Damardjati, 1995). Dalam standar mutu Bulog lebih dititik beratkan pada komponen mutu fisik dan tidak memperhatikan mutu tanak, mutu rasa dan jenis atau varietas padi (Bulog, 1989).

Di Indonesia ketentuan GAP sudah tersedia untuk sistem produksi buah dan sayur sejak 2004, namun penerapannya belum berkembang. Sebenarnya banyak manfaat dari penerapan GAP bagi petani, bagi konsumen dan bagi pelestarian sumberdaya. Belum adanya kesadaran petani dan belum adanya dukungan dari pedagang dan konsumen dalam memberikan insentif harga, menjadi penghambat diadopsinya GAP oleh petani. Padahal, memelihara dan menjaga kelestarian lingkungan dan keberlanjutan sistem produksi pertanian tidak dapat hanya dibebankan kepada petani, tetapi harus didukung oleh seluruh masyarakat, utamanya konsumen. GAP for Rice semestinya juga menjadi agenda program pembangunan pertanian (padi) demi keberlanjutan produksi padi di Indonesia.

Thailand

Thailand tidak menghadapi masalah dalam kecukupan produksi padi untuk kebutuhan pangan dalam negeri, sehingga dalam budidaya mengutamakan aspek mutu produk. Seperti halnya pada produk hortikultura, produk padi (beras) mulai dikenakan aturan sertifikasi sistem produksi dan produknya, dalam sistem perdagangan internasional dan nasional. Sistem sertifikasi sistem produksi padi tersebut adalah ketentuan Rice GAP (Good Agriculture Practices for Rice).

Tujuan dari penerapan GAP for rice adalah memberikan sertifikat produk (beras) bahwa sistem produksinya ramah lingkungan, memelihara keberlanjutan, melindungi keamanan pekerja dilapangan, dan produknya aman dikonsumsi. Produk yang memiliki sertifikat GAP dapat diekspor ke Eropa dan negara-negara lainnya yang mempersyaratkan adanya sertifikat GAP, dengan harga jual yang lebih tinggi. Pada tahun 2010 GAP for Rice di Thailand sudah diterapkan oleh 38.543 petani, seluas 125.360 hektar.

Saran

Bagi Indonesia, Perum Bulog diharapkan lebih mengetahui strategi pengadaan gabah/beras agar dapat mengupayakan pelayanan dalam menghasilkan beras yang berkualitas baik. Pengadaan gabah/beras merupakan kegiatan awal yang harus dibenahi agar memenuhi standar kualitas yang telah ditetapkan.

(23)

LEMBAGA YANG TERKAIT PRODUKSI DAN PENGEMBANGAN PADI Indonesia

- Lembaga Penelitian

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, merupakan unit Kerja ini berada di bawah: Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan dengan tugas pokok lembaga ini adalah melaksanakan penelitian tanaman padi. Fungsi dari lembaga ini antara lain:

1. Pelaksanaan penelitian genetika, pemuliaan, perbenihan dan pemanfaatan plasma nutfah tanaman padi

2. Pelaksanaan penelitian morfologi, fisiologi, ekologi, entomologi, dan fitopatologi tanaman padi

3. Pelaksanaan penelitian komponen teknologi sistem dan usaha agribisnis tanaman padi 4. Pemberian pelayanan teknik kegiatan penelitian tanaman padi

5. Penyiapan kerja sama, informasi, dan dokumentasi serta penyebarluasan dan pendayagunaan hasil penelitian tanaman padi

6. Pelaksanaan urusan tata usaha dan rumah tangga

Balai Penelitian Padi (disingkat Balitpa) adalah satu dari lembaga penelitian di bawah Balitbang Pertanian yang bertugas meneliti semua aspek pertanian tanaman padi, mulai dari biologi hingga sosial ekonomi. Balitpa merupakan lembaga induk yang juga bertugas mengkoordinasi penelitian padi di berbagai wilayah Indonesia.

- Lembaga Pengelola Beras

Kementerian Pertanian sudah mengembangkan Lembaga Distribusi Pangan Masyarakat (LDPM). Lembaga ini berfungsi sebagai lumbung berasnya desa yang dikelola oleh para petani. Namun jumlahnya masih sangat sedikit bila dibanding jumlah desa di Indonesia yang mencapai 70 ribu lebih. Selain itu, manajemen stok di setiap LDPM pun belum bagus.

- Lembaga Penyimpanan

Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik atau disingkat Perum Bulog adalah sebuah lembaga pangan di Indonesia yang mengurusi tata niaga beras. BULOG adalah perusahaan umum milik negara yang bergerak di bidang logistik pangan. Ruang lingkup bisnis perusahaan meliputi usaha logistik/pergudangan, survei dan pemberantasan hama, penyediaan karung plastik, usaha angkutan, perdagangan komoditi pangan dan usaha eceran. Sebagai perusahaan yang tetap mengemban tugas publik dari pemerintah, BULOG tetap melakukan kegiatan menjaga Harga Dasar Pembelian untuk gabah, stabilisasi harga khususnya harga pokok, menyalurkan beras untuk orang miskin (Raskin) dan pengelolaan stok pangan.

(24)

Pada Keppres No. 29 tahun 2000, tugas pokok BULOG adalah melaksanakan tugas Pemerintah di bidang manajemen logistik melalui pengelolaan persediaan, distribusi dan pengendalian harga beras (mempertahankan Harga Pembelian Pemerintah – HPP), serta usaha jasa logistik sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Thailand

Peran Serta Pemerintah, Kerajaan dan Masyarakat. Payung hukum untuk penanganan komoditas padi dan beras adalah Rice Trade Act tahun 1946.

- Lembaga Penentu Kebijakan

Salah satu pasalnya mengatur pembentukan sebuah komite tingkat nasional yang disebut National Rice Policy Committee, yang dipimpin oleh Perdana Menteri terpilih dengan anggota terdiri dari para Menteri terkait masalah padi, beras dan petani.

National Rice Policy Committee berwenang untuk mengajukan kebijakan dan strategi jangka pendek maupun jangka panjang terkait masalah padi, beras dan petani kepada parlemen. Komite tersebut juga bertugas untuk mengkajiberbagai proyek terkait produksi beras dan pasar beras, mendukung penelitian dan pengembangan terkait produksi dan pasar beras, serta menentukan langkah-langkah untuk mendukung para petani dan para pengusaha beras.

- Lembaga Penanganan Masalah Padi

Selain Komite tersebut, juga terdapat Rice Department yang berada di bawah Kementerian Pertanian dan Koperasi Thailand. Instansi tersebut berwenang dan bertugas menangani masalah padi, beras dan petani yaitu di antaranya melakukan studi dan analisa sebagai bahan referensi dalam menentukan kebijakan pemerintah, melakukan penelitian dan pengembangan varietas padi dan beras serta pengembangan tahap produksinya, alih ilmu dan teknologi kepada petani, sebagai otoritas kualifikasi beras serta mendukung sistem manajemen sistem pasca produksi.

- Lembaga Penyimpanan dan Perdagangan

Pada tahap pasca produksi, yaitu tahap penyimpanan dan perdagangan gabah dan beras ditangani oleh Kementerian Perdagangan Thailand. Khusus untuk pasar domestik dilakukan oleh Department of Internal Trade, sementara yang bertanggungjawab untuk pasar internasional (ekspor) adalah Department Foreign Trade.

- Lembaga Penelitian

Penelitian dan pengembangan padi dan beras dilakukan oleh Bureau of Rice Research and Development (BRRD) yang berada di bawah koordinasi Rice Department, Ministry of Agriculture and Cooperatives. Pusat Penelitian BRRD tersebar di 27 Propinsi di Thailand. BRRD pusat berfungsi sebagai pusat kebijakan dan strategi yang akan diteruskan kepada

(25)

Pusat Penelitian yang terdapat di daerah.Khusus untuk pusat penelitian tingkat daerah, selain berdasarkan karakteristik pografi, jenis tanah, dan iklim, penelitian juga dipusatkan pada pengembangan penanaman padi yang sesuai dengan karakteristik wilayah masing-masing, termasuk di dalamnya karakteristik pola konsumsi masyarakat setempat.Kerajaan Thailand juga memberikan intribusi yang signifikan dalam penelitian dan pengembangan padi dan beras di Thailand melalui Thai Rice Foundation under Royal Patronage, yang merupakan sebuah yayasan di bawah asuhan Kerajaan. Yayasan tersebut dikelola oleh wakil dari instansi Kerajaan, Pemerintah, pengusaha swasta, dan wakil dari Asosiasi Petani Thailand. Yayasan ini menitikberatkan kepada penelitian dan pengembangan kualitas padi dan beras termasuk peningkatan kualitas .petani. Yayasan tersebut juga menyediakan dana bagi penelitian dan pengembangan padi dan beras.

- Lembaga Keuangan

Bank of Agriculture and Agricultural Cooperatives (BAAC). Lembaga ini didirikan sejak tahun 1966 dengan tujuan utama untuk membantu meringankan beban hutang para petani, terutama di daerah agar dapat meningkatkan kesejahteraannya melalui tabungan dan pinjaman dengan bunga ringan.

Selain pinjaman berupa uang, di daerah-daerah terdapat pula skema bantuan untuk masyarakat petani, seperti Bank Sapi dan Kerbau (Royal Cattle and Buffalo Bank). Melalui skema ini, para petani dapat meminjam sapi atau kerbau untuk usaha atau untuk diperkerjakan di sawah.

Saran

Untuk Indonesia, perlu dilengkapi kelembagaan yang menangani komoditas padi, juga lembaga yang dibentuk sebaiknya khusus untuk satu bidang saja seperti pada negera Thailand sehingga kinerja dari lembaga tersebut dapat maksimal. Seperti, pada Indonesia, tidak adanya lembaga khusus yang menangani tentang kebijakan harga, karena kebijakan tersebut langsung dari pemerintah. Selain itu tidak adanya lembaga khusus yang menangani masalah padi, di Indonesia hanya ada lembaga peneliti yang melakukan inovasi dalam pengedaliannya seperti pengadaan varietas tahan dan lainnya. Apabila terdapat 1 lembaga dalam 1 bidang maka lembaga tersebut dapat bekerja maksimal dan akhirnya dapat menghasilkan produksi yang tinggi.

PERHATIAN TERHADAP PETANI DAN INOVATOR Indonesia

Kementerian Pertanian menetapkan tujuh strategi yang dirangkum dalam gema revitalisasi pertanian. Revitalisasi lahan, revitalisasi perbenihan dan pembibitan, revitalisasi infrastruktur dan sarana, revitalisasi SDM, revitalisasi pembiayaan pertanian, revitalisasi kelembagaan petani dan revitalisasi teknologi dan industri hilir.

(26)

Revitalisasi lahan, antara lain, diwujudkan melalui program pencetakan sawah dan lahan pertanian baru. Revitalisasi pembenihan dan pembibitan, diwujudkan melalui pengembangan riset benih dan bibit serta program bantuan benih dan bibit. Adapun revitalisasi infrastruktur dan sarana, diwujudkan antara lain melalui program perbaikan irigasi desa. Revitalisasi sumber daya manusia, diwujudkan melalui pengembangan SDM lewat pelatihan dan pendampingan oleh penyuluh pertanian. Di pihak lain, revitalisasi pembiayaan petani, antara lain diwujudkan melalui program pembiayaan melalui Pengembangan Usaha Agribisnis Pertanian (PUAP) dan Sarjana Membangun Desa (SMD). Revitalisasi kelembagaan petani, diwujudkan melalui berbagai program pemberdayaan kelompok tani, gabungan kelompok tani, serta pembentukan Lembaga Keuangan Mikro. Revitalisasi Pembiayaan dan Revitalisasi Kelembagaan Petani, diharapkan menjadi cikal bakal tumbuh kembangnya lembaga-lembaga keuangan mikro di pedesaan yang kelak menjadi Bank Pertanian di desa-desa. Program revitalisasi teknologi dan industi hilir dilakukan dengan cara pengembangan dan bantuan alat mesin pertanian seperti traktor, pompa air, penggilingan gabah, alat pemerah susu, rumah potong hewan serta perangkat pengolahan kompos dan biogas. Lewat revitalisasi ini peluang bagi terciptanya lapangan kerja baru akan terbuka lebar yang pada akhirnya diharapkan akan mampu meningkatkan taraf hidup para petani.

Namun, berbelok dari revitalisasi tersebut, sebelumnya petani Indonesia kurang mendapatkan perhatian dari pemerintah. Seperti, tidak adanya pembenahan terhadap fasilitas pertanian yang ada, sehingga usahatani yang dilakukan tidak dapat maksimal. Selain itu, subsidi yang diberikan mengenai benih, pupuk, dan pestisida juga berkurang dan bahkan ada yang dicabut. Selain itu kurang perhatiannya lembaga keuangan pemerintah, perbankan menganggap pertanian sebagai sektor pembiayaan berisiko tinggi. Pasalnya, tingkat kegagalan usaha pertanian masih tinggi yang berpotensi membuat kreditnya macet. Penyebabnya antara lain dipicu ancaman serangan hama, harga jatuh di pasaran, tidak laku karena kualitas buruk, tata niaga belum tertata serta hasil pertanian yang tergantung musim tanam.

Thailand

Negara ini mengalokasikan dana yang cukup besar untuk petani, baik dalam berbagai skema subsidi maupun untuk membangun bendungan dan jaringan irigasi. Selain memberikan subsidi kredit ekspor dan pinjaman bank tanpa agunan, Thailand memiliki skema paddy mortgage oleh Bank of Agriculture and Cooperative. Semua dilakukan untuk satu tujuan utama: memenuhi kebutuhan pangan dalam negeri (self sufficiency).

Tanpa bantuan dan subsidi semacam itu, mustahil petani Thailand bisa bersaing dengan negara-negara produsen beras di Asia. Meskipun lahannya sempit, biaya produksi padi di Thailand tergolong tinggi, US$ 129 per ton. Bandingkan dengan ongkos produksi petani padi di Indonesia yang tergolong rendah (US$ 81 per ton), lebih rendah ketimbang India (US$ 82 per ton).

Award untuk Inovasi Petani. Selain Pemerintah dan Kerajaan, satu faktor yang sangat menentukan dalam pengembangan kualitas padi dan beras di Thailand adalah peran serta

(27)

partisipasi aktif masyarakat Thailand, baik di tingkat pusat, maupun di daerah kantong-kantong pertanian Thailand. Pada tingkat pusat, selain mengikutsertakan asosiasi petani di dalam yayasan, khususnya dalam hal penelitian dan pengembangan, para petani juga akan diberikan pelatihan- pelatihan sehingga dapat menjadi kader- kader penyuluh yang diharapkan dapat menyalurkan ilmu dan pengetahuannya kepada petani lainnya.

Untuk mendorong serta meningkatkan produksi varietas beras unggul, setiap tahun Pemerintah memberikan Rice Innovation Award, kepada para petani yang melakukan inovasi baru untuk menambah nilai produk (value-added) dengan cara menghasilkan atau menciptakan produk yang berbahan baku beras.

Thailand juga memberikan berbagai penyuluhan dan program pelatihan bagi petani dan menargetkan sebanyak 1 juta orang petani mendapatkan ilmu pengetahuan tentang prodksi dan manajemen produksi.

Pemerintah mengedukasi petani untuk menanam padi dan menjaga kualitasnya. Pemeritahnya memberikan garansi dengan membeli beras hasil petani, dan hasilnya sebagian diekspor dengan harga yang mahal.

Saran

Indonesia bisa menerapkan sistem harga jika ingin menguasai pasar ekspor besar. Misalkan, menetapkan harga beras lokal untuk konsumsi penduduk dengan harga terjangkau dan mengekspor beras dengan harga mahal, sehingga petani bisa menikmati harga jual berasnya. Jadi, pemerintah bisa menetapkan harga berdasarkan kualitas berasnya. Peran pemerintah dalam memberikan perhatian terhadap petani sangat diperlukan untuk peningkatan produksi padi dan kesejahteraan petani seperti pada Negara Thailand yang memberikan perhatian yang optimal pada petaninya sehingga petani dapat menghasilkan produksi yang maksimal dan kesejahteraan petanipun akan meningkat. Dengan informasi dan pengetahuan yang diberikan dapat mendorong petani untuk berkembang dan dapat meningkatkan produksinya. Sehingga perhatian pemerintah terhadap petani

TEKNOLOGI PENINGKATAN PRODUKSI Indonesia

- Varietas Unggul

Badan Litbang Pertanian telah menghasilkan berbagai terobosan peningkatan produksi padi, terutama varietas unggul berdaya hasil tinggi dan komponen teknologi budidaya yang diyakini mampu meningkatkan produktivitas padi nasional di masa datang.

Padi varietas unggul tipe baru Fatmawati mampu berproduksi 10-20% lebih tinggi dari IR64 yang hingga kini disukai oleh banyak petani dan konsumen.

(28)

Varietas unggul. Dalam periode 2000-2004, Balai Penelitian Tanaman Padi dari Badan Litbang Pertanian, telah menghasilkan 54 varietas unggul padi, 40 di antaranya untuk lahan sawah irigasi (termasuk 4 varietas unggul hibrida = VUH, dan 4 varietas unggul tipe baru = VUTB), 5 varietas untuk lahan kering (padi gogo), dan 9 varietas untuk lahan pasang surut. Berdasarkan masalah dan kendala produksi serta tuntutan pengguna, varietas-varietas unggul tersebut dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu varietas yang diperuntukkan bagi peningkatan produktivitas yang melebihi barier potensi hasil yang sudah melandai (VUH dan VUTB) dan varietas yang diperuntukkan bagi stabilitas hasil, termasuk mutu rasa, mutu gizi, dan super genjah (varietas unggul spesifik, VUS).

Di antara banyak kultivar padi sawah yang dilepas dalam beberapa tahun terakhir, kultivar yang lebih disukai oleh petani dan konsumen selain IR64 adalah Ciherang, Ciliwung, Way Apo Buru, dan Memberamo. VUB ini telah berkembang dan mulai menggeser dominasi IR64. VUB lainnya seperti Gilirang, Cigeulis, Cimelati, dan VUH Rokan, Maro Hipa-3, Hipa-4, dan VUTB Fatmawati berdaya hasil 5-20% lebih tinggi dari IR64. Pengembangan VUH dan VUTB pada lahan suboptimal (lahan sawah tadah hujan, lahan kering, dan lahan rawa pasang surut) diperkirakan mampu meningkatkan produktivitas padi nasional.

Padi hibrida Maro, Rokan, Hipa-3, Hipa-4 yang dikembangkan oleh Badan Litbang Pertanian dan 13 varietas padi hibrida lainnya yang dikembangkan oleh pihak swasta di Indonesia memiliki produktivitas yang lebih tinggi daripada IR64 di daerah bukan endemik hama dan penyakit. Beberapa galur padi hibrida generasi berikutnya seperti H-6, H-17, H-18, H-19, dan H-21 mampu berproduksi 7-12 t/ha dan memiliki tingkat ketahanan yang lebih baik terhadap beberapa hama penyakit utama.

Gunakan VUB (varietas unggul baru) yang mampu beradaptasi dengan lingkungan untuk menjamin pertumbuhan tanaman yang baik, hasil tinggi dan kualitas baik serta rasa nasi diterima pasar. Tanam VUB secara bergantian untuk memutus siklus hidup hama dan penyakit. Saat ini telah tersedia berbagai varietas unggul yang dapat dipilih sesuai dengan kondisi wilayah, mempunyai produktivitas tinggi, dan sesuai permintaan konsumen. Sebagai Contoh, varietas unggul baru yang dapat dikembangkan di Provinsi Lampung antara lain varietas Mekongga, Batang Piaman, Ciherang, Cigeulis, Ciliwung, Sarinah, dan Bondoyudo. - Model PTT (Pengelolaan Tanaman dan Sumberdaya Terpadu)

Model PTT (Pengelolaan Tanaman dan Sumberdaya Terpadu) diharapkan menjadi salah satu pilar Revolusi Hijau Lestari dalam memacu produksi padi di masa yang akan datang. Melalui model PTT, varietas unggul yang dikembangkan mampu berproduksi sesuai dengan potensi genetiknya. Dalam model PTT, komponen budidaya seperti pengelolaan hama terpadu (PHT), pengelolaan gulma terpadu, pengelolaan hara spesifik lokasi, dan pengelolaan pascapanen dipadukan sehingga memberikan efek sinergis dalam peningkatan produktivitas dan efisiensi usahatani.

Gambar

Tabel 1. Perbanding metode SRI organik dengan sistem konvensional

Referensi

Dokumen terkait

Hal tersebut disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya yaitu KSLL memiliki kekakuan lebih tinggi dibandingkan dengan pondasi rakit karena adanya pemadatan tanah

Terkait risiko terinfeksi HIV, hepatitis dan PMS (penyakit menular seksual), populasi warga binaan dapat memiliki risiko yang lebih tinggi dari pada populasi umum melalui

Rumusan masalah dalam penulisan skripsi ini adalah (1) Bagaimanakah penerapan model pembelajaran Kooperatif tipe Think-Pair-Share (TPS) untuk meningkatkan kreativitas

Beberapa bagian yang telah disampaikan diatas merupakan sejarah perjalanan Direktorat Peralatan Angkatan Darat dalam rangka mendukung kegiatan TNI AD untuk mengamankan negara

Manual Prosedur Penggunaan Fasilitas Laboratorium Sains bertujuan untuk meningkatkan profesionalisme, efisiensi, dan kualitas menejemen administrasi aktivitas layanan

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa : Customer Relationship Management tidak berpengaruh terhadap Kepuasan Pelanggan di Rama Jaya Fitness Centre Sidoarjo

Berangkat dari permasalahan yang ada pada teks iklan McDonald’s versi ”kelaparan tengah malam”, peneliti menangkap adanya permasalahan di dalam pelayanan kepada konsumen dalam

Berdasarkan hasil penelitian penerapan metode mind map untuk meningkatkan kemampuan bercerita pada anak kelompok B 2 TK AL-Fatah Karanganyar Tahun Ajaran 2015/2016 yang