PERHIMPUNAN BUDDHIS NICHIREN SHU INDONESIA
O
M
bjek Pemujaan Nichiren Shu, Yang Paling Dipuja, adalah yang
biasa disebut “Mandala.” Tetapi istilah mandala tidak hanya khusus digunakan oleh Nichiren Shu. Istilah mandala berasal dari bahasa sansekerta, India. “Manda” berarti “Intisari/ Pokok” dan “la” berarti “Memperoleh”, Jadi
“Mandala” berarti Memperoleh Intisari / Pokok, dimana Intisari adalah Intisari dari Penerangan Agung Sang Buddha.
Pada masa lalu, untuk menyelamatkan orang lain dari penderitaan, orang india membuat sebuah lingkaran di atas gundukan tanah dan berusaha mewujudkan kebenaran alam semesta dengan menaruh gambaran dari para Buddha dan Bodhisattva didalam lingkaran itu. Nichiren Shonin mengatakan dalam
Goibun Nichinyo Gozen Gohenzi bahwa, “Mandala adalah sebuah istilah dari India. Itu juga berarti “Untuk Menjadi Sempurna,” atau “Untuk Mendapatkan Kebajikan.” Pernyataan Beliau ini juga
memberitahukan mengenai sejarah mandala dari Buddhisme.
andala dibawa dari China
ke Jepang oleh Maha Guru Kobo (Kukai). Ini adalah pertama kalinya sebuah mandala dibawa ke Jepang. Buddhisme baru itu disebut Shingon Mikkyo. Ini adalah Buddhisme Esoterik yang sangat
Cahaya Terang Odaimoku
Menerangi Dunia
entuk dari penulisan Odaimoku dalam Maha Mandala adalah suatu ciri unik dari Nichiren Shonin dan dapat disebut juga sebagai
“Hige-Daimoku,” atau “Odaimoku” dengan ekor panjang sebab beberapa
tarikan kuas Beliau turun seperti membentuk ekor. Tetapi tarikan kuas panjang itu bukan sebuah ekor. Garis panjang itu disebut “Komyo-ten”,
yang mencerminkan sinar terang dari Saddharma Pundarika Sutra yang bersinar mencakupi semuanya.
Maha Mandala Gohonzon yang ditulis oleh Nichiren Shonin bukan sebuah bentuk gambar tetapi adalah sebuah tulisan kaligrafi . Ini adalah bentuk yang paling sederhana dari sebuah Mandala. Namun, meskipun Mandala itu adalah sebuah bentuk sederhana, tetapi Maha Mandala
itu mengungkapkan keinginan tertinggi dari Buddha Sakyamuni Abadi dan merupakan bagian untuk Pencapaian KeBuddhaan bagi semua orang. Ini adalah
sebuah hal yang luar biasa. Nichiren Shonin menulis Maha Mandala dengan kepercayaan yang kuat, hal ini dinyatakan dalam tulisan di Mandala yakni, “Maha Mandala
ini tidak pernah ada sebelum ini, setelah dua ribu dua ratus dua puluh tahun setelah kemoksaan Sang Buddha.” Kita, Nichiren Buddhis
harus meletakkan hati kepercayaan kepada Maha Mandala ini.
etika kamu melihat ke Maha Mandala, kamu akan melihat nama dari
K
berkembang pada periode Heian (794~1191) dibawah perlindungan Kekaisaran Saga. Dalam Buddhisme Shingon Esoterik, Maha Guru Kukai menempatkan Buddha Dainichi sebagai Buddha tertinggi di alam semesta dan mencoba mengambarkan Penerangan dan Penyelamatan Buddha dengan Dunia Mandala.
etapi Nichiren Shonin tidak setuju dengan ide dari Maha Guru Kukai.
Buddha Sakyamuni adalah Buddha Tertinggi bagi Nichiren Shonin. Dan Buddha
Sakyamuni telah membabarkan
Saddharma Pundarika Sutra yang disimpannya dalam hati sejak dari awal Ia hadir di dunia ini. Dalam
Saddharma Pundarika Sutra juga mengungkapkan bahwa Buddha
Sakyamuni adalah Buddha
Kekal Abadi (Kuon Ganjo), yang mengharapkan semua mahluk hidup dapat mencapai KeBuddhaan.
Nichiren Shonin mengatakan sebagai ganti dari pemujaan terhadap Buddha Dainichi, adalah menfokuskan
pemujaan kepada Buddha Sakyamuni Abadi, pengajaran yang paling sempurna dimana Saddharma Pundarika Sutra harus diletakkan ditengah-tengah dari Mandala, dimana cahaya terangnya akan menerangi seluruh alam semesta.
ada tahun 1273, Nichiren Shonin untuk pertama kalinya mewujudkan sebuah Maha Mandala yang diberikan kepada muridnya sebagai objek pemujaan di Pulau Sado, dimana Ia menjalani hukuman pembuangan. Ia mengerakkan kuas sumiNya dan menuliskan Odaimoku, “Na Mu Myo Ho Ren
Ge Kyo”. Odaimoku terdiri dari
Lima Aksara dari Myo, Ho, Ren,
Ge dan Kyo dengan dirangkai oleh dua Aksara Kanji dari Na dan Mu. Namu Myoho Renge Kyo berarti secara tulus menaruh kepercayaan kepada ajaran yang luar biasa, Saddharma Pundarika Sutra.
Nichiren Shonin mengatakan dalam Goibun Kyo-oh dono Gohenji bahwa,
“Aku menulis Odaimoku ini dengan tinta hitam dengan seluruh jiwaKu. Kamu harus percaya bahwa Sang Buddha, membabarkan Saddharma Pundarika Sutra sebagai ajaran yang sesuai dengan Keinginan HatiNya. HatiKu yang sebenarnya adalah Namu Myoho Renge Kyo.”
P
B
T
Empat Raja Langit yang dituliskan di keempat sudutnya. Raja Langit adalah dewa orang india yang dipercaya tinggal di Dunia Surga. Terdapat banyak sekali nama-nama para dewa-dewi didalam Mandala, yang bertindak sebagai pelindung dharma. Diantara mereka, Empat Raja Langit mempunyai tugas yang khusus. Misi mereka adalah melindungi dunia ini dari empat penjuru. Jikaku-ten, Dhrtarastra, Raja Langit yang menjaga dunia bagian timur. Komoku-ten, Virupaksa, Raja Langit yang menjaga dunia bagian barat Zocho-ten, Virudhaka, Raja Langit yang menjaga dunia bagian selatan, dan Bishamon-ten, Vaisravana, melindungi bagian utara.
eberapa rupang dari Empat Raja Langit menempatkan beberapa iblis-iblis kecil dikaki mereka yang disebut Ama-no-Jaki. Para Raja itu akan memusnahkan para iblis-iblis kecil itu. Jika para iblis itu melawan atau ingin menghancur ajaran Buddha, maka Raja Langit akan melawan mereka dan membuat mereka mengikuti, serta melindungi mereka yang melaksanakan ajaran Buddha. Kita harus meluangkan waktu untuk melihat kedalam diri kita sendiri, bahwa terdapat banyak iblis-iblis kecil dalam pikiran kita sendiri. Ketika kita duduk didepan
Maha Mandala, Cahaya Terang dari Odaimoku akan memusnahkan semua iblis dalam pikiran kita.
B
ichiren Shonin menyatakan dalam Goibun Nichinyo Gozen Gohenzi bahwa,
“Maha Mandala Gohonzon ini mengandung dua aksara yakni “Shin “Maha Mandala Gohonzon ini “Maha Mandala Gohonzon ini
N
Jin” atau “Hati Kepercayaan.” Iniadalah makna sesungguhnya dari
“Ishin Tokunyu” yang berarti
"Memasuki Dunia Maha Mandala
dengan Hati Kepercayaan.” Inilah
makna sebenarnya dari Maha Mandala menurut Nichiren Shonin. Gassho.
Redaksi: Keterangan dan Penjelasan lengkap mengenai Gohonzon Nichiren Shu terdapat dalam Buku "Penjelasan Gohonzon Nichiren Shu", karya Sidin Ekaputra
Ket. Skema Mandala Gohonzon Nichiren Shu, yang memuat nama-nama dewa-i
Bimbingan Oleh:
YM.Bhiksuni Myosho Obata
(Bhiksuni Pembimbing Indonesia)ita baru saja melaksanakan Upacara
Urabon Segakie. Upacara ini berarti memanggil arwah-arwah yang menderita dan berdoa agar mereka diberikan kenyamanan. Jadi, kita semua
bersama-sama berdoa untuk dan memberikan kenyamanan kepada para arwah leluhur kita dan seluruh arwah di alam semesta.
Selain itu, jika seseorang meninggal dunia, kemanakah mereka pergi? apakah mereka pergi ke Surga atau Neraka atau mereka memasuki kekosongan? Jika Surga dan Neraka itu ada, dimanakah letaknya? Hari ini, Saya ingin membagi cerita dan jawaban mengenai dimana itu Surga dan Neraka.
Jika sekiranya Surga dan Neraka itu ada, apakah kamu tahu bagaimana keadaan mereka ? Mari Saya ceritakan sebuah cerita agar kalian mengerti ceramah pada hari ini. Pada suatu ketika terdapat dua orang laki-laki yang mati bersamaan. Sebuah keajaiban terjadi, ternyata mereka hidup kembali. Salah seorang dari mereka melihat bagaimana keadaan surga. Dan yang seorang lagi melihat keadaan neraka. Ketika keluarga mereka mendengar cerita mereka, mereka semua menjadi bingung karena surga dan neraka kelihatan sepertinya sama. Jadi, sekarang Saya akan menjelaskan bagaimana kelihatan dari surga dan neraka itu.
Menurut kedua laki-laki itu, baik surga maupun neraka terdapat sebuah meja yang besar dan bagus. Keadaan sekeliling meja pun kelihatan sama. Berbagai macam bunga bermekaran dan burung-burung bernyanyi. Orang-orang yang telah meninggal duduk mengeliling meja tersebut. Diatasnya tersedia berbagai macam makanan enak,
Dimanakah Surga Dan
Neraka Itu ?
K
termasuk makanan Indonesia.
Kedua meja di surga dan neraka kelihatan sama, sepintas tidak terdapat perbedaan diantara mereka. Namun, jika diteliti terdapat satu perbedaan diantara mereka. Orang-orang di surga kelihatan bahagia dan sehat, dan mereka selalu ketawa dan bersantai berbincang-bincang satu sama lainnya. Sedangkan, orang-orang di neraka terlihat sangat marah dan kurus, kelihatan sepertinya mereka tidak makan apapun. Kenapa mereka kelihatan seperti itu ? tanya keluarga kedua laki-laki tersebut. Mereka mengatakan bahwa orang-orang di surga dan neraka mempunyai sepasang sumpit. Namun, sumpit ini tidak sama dengan yang
ada pada umumnya. Panjang sumpit itu mencapai 1 meter. Ia dapat menjangkau orang yang duduk diseberang meja.
Ketika orang di neraka itu kelaparan dan ingin memakan makanan yang ada didepannya, ia mencoba untuk mengambil beberapa makanan. Ia dapat mengambilnya dengan sumpit, tetapi ketika ia akan memakannya, makanan itu jatuh dari sumpit karena sumpit itu terlalu panjang. Ia mencoba lagi, namun kembali gagal. Ia tidak dapat makan makanan itu. Ini karena orang-orang yang dikirimkan ke neraka, mereka sangat mudah marah. Mereka mulai memukul satu sama lain dengan sumpit mereka dan akhirnya terjadi pertengkaran besar. Jadi, mereka tidak dapat makan apapun dan meskipun mereka mencoba untuk makan dengan sumpit panjang itu, selalu terjadi pertengkaran. Inilah alasannya kenapa mereka kelihatan kurus dan marah.
Sedangkan di surga, ketika seseorang ingin mengambil makanan didepannya dengan sumpit panjang, ia dapat memakannya, karena mereka orang-orang yang dikirimkan ke surga, mereka sangat penuh welas asih. Ketika seseorang ingin memakan sesuatu, orang yang lain akan berkata, “Jangan khawatir aku akan melayanimu, apa yang ingin kamu makan ? Ia pun berkata, aku ingin makan yang ini, orang yang satu lagi kemudian mengambil makanan yang diinginkan dengan sumpit panjang itu dan membawanya ke mulut orang yang menginginkannya. Jadi, mereka dapat memakannya. Kemudian orang yang telah dilayani bertanya, kali ini aku yang akan melayanimu. Apa yang kamu ingin makan ? orang itu berkata, saya mau yang ini, kemudian orang yang pertama mengambilnya dan membawanya ke mulut orang tersebut dengan sumpit yang panjang itu. Setiap orang di surga melakukan
hal itu. Jadi, mereka dapat makan apapun yang mereka ingin makan. Inilah alasan kenapa orang-orang di surga kelihatan sehat dan bahagia.
Lingkungan disekitar kita dapat dirubah dengan mudah sesuai dengan pikiran kita. Jika pikiran kita
serakah dan pemarah, kita akan jatuh dalam neraka seketika meskipun kita masih hidup. Jika hati kita dipenuhi oleh rasa welas asih kepada orang lain; kita telah berada disurga. Cerita ini mengajarkan kita bahwa kita
harus mempunyai rasa welas asih, hati seperti Sang Buddha.
Selanjutnya, dimanakah surga dan neraka itu? Saya ingin membagi beberapa kutipan kalimat dari pendiri kita, Nichiren Daishonin. Jawaban mengenai pertanyaan itu ditulis dalam kutipan surat yang ditulis oleh pendiri kita dalam tulisan Beliau di
Omosu Dono Nyobo Gohenji, “Jika sekiranya kita bertanya dimana Surga atau dimana Neraka, beberapa sutra menyatakan bahwa neraka itu adalah jauh dibawah bumi, yang lain menyatakan Tanah Suci Buddha itu terletak disebelah barat. Namun, kebenaran sesungguhnya keduanya baik neraka maupun surga ada didalam tubuh kita yang setinggi lima kaki ini.”
Ini dapat dikatakan bahwa neraka itu ada didalam pikiran kita ketika seseorang meremehkan ayahnya dan melalaikan ibunya. Sebagaimana halnya bunga Teratai membawa biji dan bunga sekaligus, kita mempunyai Buddha dalam pikiran kita. Ketika pendiri kita, Nichiren Daishonin mempelajari semua Sutra Mahayana, Ia menemukan hal tersebut. Keduanya baik neraka dan surga ada tidak dimana-mana, tetapi dalam badan kita. Dalam Buddhisme, kita tidak hanya mempunyai neraka dan surga dalam pikiran kita tetapi terdapat sepuluh dunia; dunia neraka, dunia kelaparan, dunia binatang, dunia kemarahan, dunia manusia,
dunia surga, dunia sravaka, dunia pratyekabuddha, dunia bodhisttva dan dunia Buddha. Ketika kamu marah tanpa alasan yang jelas, kamu berada dalam dunia neraka. Ketika kamu serakah, kamu ada didunia kelaparan. Ketika kamu bertingkah seperti seekor binatang, kamu ada didunia binatang. Ketika kamu berkelahi satu sama lain, kamu ada di dunia kemarahan. Ketika kita berada dalam ketenangan, kita sedang ada di dunia manusia. Ketika kamu merasa gembira, kamu ada di dunia surga. Ketika kamu mendengarkan ajaran Sang Buddha dan merasa gembira, kamu ada di dunia sravaka. Ketika kamu mencapai Penerangan dengan diri sendiri, kamu ada di dunia pratyekabuddha. Ketika kamu terlibat dalam hal menolong dan membimbing orang lain, kamu ada di dunia bodhisattva. Ketika kamu mencapai Penerangan Agung dan membimbing orang lain ke jalan Buddha, kamu berada di dunia Buddha. pikiran kita selalu bergerak diantara kesepuluh dunia itu. Jika kamu dengan cermat mengamati pikiran kita dalam kehidupan sehari-hari, kamu akan mengenal dengan baik kesepuluh dunia ini.
Hal yang penting ialah kita harus berusaha untuk tinggal lebih lama di dunia yang baik. Kamu tahu mana dunia yang baik dan buruk ? Saya akan menjelaskan hal itu. Kita
harus dapat tinggal didalam Dunia Bodhisattva atau Dunia Buddha sepanjang waktu, ini adalah yang
terbaik. Namun, kita adalah manusia, sewaktu-waktu kita bisa marah, atau bertengkar satu sama lain. Ketika kita merasa demikian, berpikirlah agar segera keluar
dari dunia buruk itu sesegera mungkin dengan menyebut Odaimoku “Namu
Myoho Renge Kyo.
sering pindah-pindah vihara karena berbagai alasan, dan kali inipun dia sudah siap dengan permasalahannya untuk disampaikan kepada Bhiksu tersebut, bahwa dia bermaksud pindah ke vihara lain, dengan segala macam alasan.
Bhiksu tersebut mengetahui muridnya ini, maka permintaan tersebut dikabulkan saja. Begitu bhiksu Dasa mempersiapkan diri dan mengambil tasnya siap untuk memohon ijin berangkat, maka tiba-tiba Bhiksu itu berseru, “Bhiksu Dasa selalu membawa tas yang isinya penuh dengan kotoran anjing, karenanya selalu mengeluh sekelilingnya bau kotoran anjing!” Bhiksu Dasa seketika itu juga sadar akan ucapan Bhiksu tersebut dan mencapai pencerahan. Dia pun membatalkan niatnya untuk pindah vihara dan terus menetap di vihara tersebut.
8. Konsentrasi Benar
onsentrasi Benar berarti
meditasi dengan cara pemusatan pikiran.
Meditasi berarti suatu proses latihan yang terus menerus dengan mengfokuskan suatu objek utama secara tetap tanpa tergoyahkan. Praktek meditasi yang terus-menerus akan membantu kita dalam mengembangkan konsentrasi pikiran memperoleh Kebijaksanaan dan Pencerahan.
Pikiran adalah sukar dikendalikan, sering sebelum kita duduk menjalani meditasi, kita berikrar untuk tidak memikirkan hal-hal lainnya. Namun pada kenyataannya, pikiran sering terusik untuk ikut bereaksi terhadap berbagai hal yang muncul pada saat kita sedang meditasi.
Meditasi Tanpa Suara
Suatu hari terdapatlah lima orang pemuda yang bermaksud mengadakan retreat selama tujuh hari dengan meditasi di hutan. Selama retreat berlangsung, maka ada satu pantangan yang harus dipatuhi, yaitu dilarang berbicara antar sesama dan konsentrasi hanya pada nafas. Alhasil, masing-masing menggunakan bahasa isyarat tarzan, dimana sepanjang siang hari pertama, dapat dilalui dengan berhasil tanpa satu patah kata yang keluar dari kelima pemuda tersebut.
Kemudian pada malam harinya, maka masing-masing sudah siap untuk masuk ke gubuk tempat
Seri Pelajaran Mahayana
DELAPAN RUAS JALAN KEMULIAAN
( BAGIAN. III )
7. Kesadaran Benar
esadaran Benar adalah
suatu kesadaran yang ditujukan kepada diri kita sendiri dengan menyadarinya sebagai suatu proses kehidupan yang selalu tidak kekal adanya, dimana terdapat Empat Dasar
Kesadaran Pokok, yaitu: (1) Tubuh kita kotor dan
tidak murni
(2) Seluruh perasaan akan selalu mengakibatkan penderitaan (3) Pikiran itu tidak kekal
(4) Segala sesuatu bergantung pada yang lain dan tidak memiliki suatu inti yang kekal
Adakalanya kita berpikir bahwa tubuh kita ini sehat, kita bebas berbuat apa saja dan tidak tergantung satu sama lain. Tetapi di lain waktu pada saat tubuh kita sakit, kita akan mencela tubuh ini yang tidak berguna dimana harus tergantung orang lain. Kita sering tidak sadar dan menyalahkan sekeliling kita yang tidak benar, jarang seseorang itu mau bercermin diri melihat kesalahan dan kelemahan sendiri, pada dasarnya segala hal kesukaran itu bersumber dari dalam diri sendiri bukan orang lain.
Tas Berisi Kotoran
Dalam suatu persamuan yang diketuai oleh seorang Bhiksu, tibalah sesi untuk menyampaikan segala permasalahan yang dihadapi oleh para bhiksu / bhiksuni. Seorang bhiksu muda yang bernama Dasa, terkenal
mereka tidur yang hanya diterangi satu-satunya api lilin. Menjelang tengah malam, bertiuplah angin yang kencang sehingga memadamkan api lilin tersebut, dan mulailah timbul kegelisahan di antara mereka. Setelah sekian lama dalam keadaan gelap-gulita, maka mulailah pemuda pertama berbisik pada teman di sebelahnya,”Kelihatannya api lilin itu padam!” Pemuda kedua menyahut sambil berbisik pula, “Iya..., sebaiknya ada yang menyalahkannya.” Pemuda ketiga menimpali dan mengingatkan akan janji mereka, “Hei...bukankah kita sepakat untuk tidak berbicara?” Pemuda keempat mengiyakan, “Iya nih,.... koq jadi pada berisik sih...” , dan mereka berempatpun baru mulai menyadari hanya ada satu orang yang berhasil tidak berbicara sama sekali, tetapi belum sampai sedetik kemudian, pemuda kelimapun mulai berseru dan yang paling nyaring, “Ha..ha..ha..., lihatlah hanya saya yang paling hebat karena tidak berbicara sama sekali!” GASSHO.
elapan Ruas Jalan Kemuliaan yang diuraikan pada halaman sebelumnya, dapat dikelompokkan menjadi 3 bagian utama, yaitu:
Sila, Samadhi dan Prajna.
Dalam Buddhisme Mahayana, dikembangkan lebih lanjut menjadi
Enam Paramita [Sad Paramita] atau Enam Perbuatan Luhur, dan
merupakan ajaran pertama yang dilakukan oleh para Bodhisattva untuk mencapai pandangan Buddha yang tidak terbatas yaitu Cinta
Kasih [maitri/metta], Kasih Sayang [karuna], Simpati [mudita] dan Keseimbangan Batin [upeksa/ upekkha]. Dengan demikian tindakan
seorang Bodhisattva haruslah benar-benar terlepas dari semua kepentingan atau kebanggaan pribadi, tanpa ikatan, tanpa batas, tanpa henti dan tanpa perbedaan dalam membantu semua makhluk yang memerlukan pertolongan. Tindakan seorang Bodhisattva, dapat disamakan dengan matahari yang menyinari bumi ini, tanpa membeda-bedakan, tanpa ikatan, tanpa batas, tanpa henti, dan tidak pernah membanggakannya atau mengakui pahalanya.
Enam Paramita tersebut terjalin sebagai satu kesatuan, karena pengaruh dari ajaran Asanga (pendiri Yogacara) sebagaimana disebutkan dalam Mahayana Sutralankara dengan urutan :
dana-sila-ksanti-virya-dhyana-prajna. Adapun dalam
pelaksanaan paramita ini dapat dibagi dalam tiga tingkatan sebagaimana tersebut dalam Lankavatara Sutra, yaitu :
I. Tingkat Biasa; merupakan suatu pelaksanaan paramita dengan
SAD PARAMITA
(Enam Perbuatan Luhur)
( BAGIAN. I)
D
harapan untuk memperolehpahala baik pada masa kehidupan saat ini maupun pada kehidupan berikutnya.
II. Tingkat Luarbiasa; merupakan suatu pelaksanaan paramita dengan tujuan untuk mencapai nirvana, untuk tidak dilahirkan kembali.
III. Tingkat Tertinggi; merupakan suatu pelaksanaan paramita oleh para Bodhisattva dalam usahanya untuk menyelamatkan semuat makhluk dari lingkaran penderitaan [samsara].
ana Paramita merupakan perbuatan luhur tentang beramal, berkorban baik materi maupun non-materi.
Dana paramita ini dapat digolongkan lagi atas : Dana, Atidana (yang
lebih tinggi) dan Mahatidana (yang tertinggi).
Para penerima Dana dapat dibagi atas tiga kategori, yaitu: (1)
Dana kepada teman dan keluarga; (2) Dana kepada yang membutuhkan yang miskin, yang menderita dan yang tidak berdaya; (3) dana kepada para bhikshu/bhikkhu dan para brahmana (orang suci Hindu). Dana
yang diberikan adalah merupakan milik kekayaan.
Atidana adalah merupakan
suatu pemberian dana dimana merupakan miliknya yang terakhir dengan tujuan pemupukan kebajikan untuk mengatasi kemelekatan terhadap rasa cinta yang dapat dianggap sebagai penghambat menuju jalan Kebuddhaan, sehingga
D
menimbulkan kepribadian yang luhur. Contoh pelaksanaan Atidana
dikisahkan dengan baik dari cerita Raja Visvantara yang dikutip dari Jatakamala dan Avadana Kalpa Lata.
Pangeran Menyerahkan Semuanya Visvantara merupakan putra Raja Sanjaya. Beliau telah membagi habis harta miliknya sebagai derma, sampai akhirnya Beliau menyerahkan juga gajah putih milik kerajaan kepada kaum pendeta. Kedermawaannya yang tinggi tersebut menyebabkan ayahnya mengusirnya dari kerajaan untuk dikucilkan di Gunung Vanka.
Visvantara dalam perjalanan ke Gunung Vanka ditemani oleh istrinya dan dua orang anaknya dengan menaiki kereta yang ditarik oleh empat ekor kuda. Di tengah perjalanan, mereka bertemu seorang pendeta yang meminta kuda-kuda mereka dimana diberikan semua oleh Beliau. Pada kesempatan lain, keretanya juga diberikan kepada pendeta lain yang ditemuinya. Akhirnya mereka meneruskan perjalanan dengan berjalan kaki dimana Visvantara menggendong putranya, dan istrinya menggendong putrinya. Sesampainya di tempat tujuan, mereka tinggal di rumah yang terbuat dari daun-daunan.
Pada suatu hari sewaktu istrinya sedang pergi, datanglah seorang brahmana yang meminta kedua orang anaknya untuk dijadikan pelayannya. Visvantara tidak sanggup untuk menolak permintaan seorang brahmana, sehingga diserahkannya kedua anaknya tersebut juga. Kejadian tersebut menggugah Deva Sakra yaitu pemimpin para Deva yang kemudian muncul dalam penyamarannya sebagai seorang pendeta yang miskin dan memohon kepada Visvantara agar dapat menyerahkan istrinya kepadanya. Tentu saja permohonan
inipun dikabulkannya, dan atas ketulusan Visvantara kemudian Deva Sakra menjelma kembali ke bentuk aslinya dan memberkahi Visvantara. Brahmana yang membawa kedua anaknya kemudian menyerahkannya kepada kakeknya, Raja Sanjaya .
Kejadian ini membuat Raja Sanjaya dan rakyatnya menjadi terharu sehingga Visvantara dipanggil kembali dan diberikan kedudukan kembali sebagai pangeran kerajaan yang kemudian hari menjadi Raja menggantikan ayahnya.
Mahatidana merupakan pengorbanan dana tertinggi karena yang diberikan adalah anggota tubuh seorang Mahasattva.
Pengertian anggota tubuh ini dapat mencakup daging, darah, organ mata ataupun organ tubuh lainnya, bahkan seluruh tubuhnya karena Sang Mahasattva sudah tiada mempunyai sedikitpun rasa cinta kepada semuanya itu. Kesediaannya memberikan pengorbanan yang besar ini merupakan pencurahan kasih yang luar biasa kepada makhluk hidup dengan tujuan untuk mengakhiri penderitaan. Terdapat banyak kisah di dalam Jataka yang menceritakan tentang pemberian mahatidana oleh Sang Bodhisattva Mahasattva. Salah satunya adalah kisah di bawah ini.
Bodhisattva Mengorbankan Tubuh Pada suatu masa yang silam, hiduplah Raja Maharatha bersama tiga putranya, Mahapranada, Mahadeva, dan Mahasattvavan. Pada suatu hari ketiga pangeran berjalan di dalam suatu hutan yang besar dan sunyi, dimana di tengah perjalanan mereka bertiga bertemu dengan seekor harimau betina yang baru beranak lima ekor. Tubuh harimau betina begitu kurus dan lemah karena lapar dan haus. Mereka bertiga membicarakan tentang keadaan harimau tersebut
dan membayangkan bagaimana bisa harimau betina yang malang tersebut beserta anak-anaknya dapat bertahan hidup.
Mahasattvavan kemudian meminta agar kedua saudaranya berangkat dulu dengan mengatakan nanti dia akan menyusul ke lembah karena hendak melakukan sesuatu. Setelah ditinggal sendirian, maka Mahasattvavan berucap kepada harimau tersebut, “Saya terharu dan dengan rela memberikan tubuh saya untuk kebaikan dunia dan untuk pencapaian bodhi.” Kemudian dia melemparkan dirinya di hadapan harimau betina tersebut, namun harimau yang lemah tersebut tidak dapat berbuat apa-apa terhadap dirinya. Mahasattvavan akhirnya mengambil sebilah bambu tua yang ditemukannya di sekitar lokasi tersebut dan memotong kerongkongannya sehingga mati terbaring dekat harimau tersebut.
Para bhiksu / bhiksuni melakukan Fuse (Dana) berupa
Dharma dan Pikiran, sedangkan
umat kebanyakan melakukan Fuse
Materi. Keseimbangan keduanya
dalam Sangha akan menciptakan keharmonisan dan kesinambungan penyebarluasan Dharma. Namun di Nichiren Shu, ketika sebuah kuil tidak mampu mencukupi biaya dari Dana yang diberikan oleh umat, maka para bhiksu/bhiksuni terpaksa untuk terjun mencari pembiayaan hidup sendiri. Hal ini di Jepang banyak kita jumpai, para bhiksu/bhiksuni yang masih bekerja dan juga sekaligus melayani umat di Kuil pada hari Minggu. Sungguh sebuah perjuangan yang tidak mudah, karena itu kita perlu menghargai jerih payah para Bhiksu/bhiksuni dalam tugasnya membimbing umat manusia.
Buku "Writing Of Nichiren Shonin" Doctrine 2
Edited by George Tanabe.Jr, Compiled by Kyotsu HoriTerbitan : Nichiren Shu Overseas Propagation Promotion Association, Tokyo - Japan Diterjemahkan oleh Shami Josho S.Ekaputra
ERTANYAAN: Hal ini
dibabarkan didalam Bab.10 “Guru Dharma” Saddharma Pundarika Sutra, paragraf ke 4, dikatakan bahwa Saddharma Pundarika Sutra adalah “Sulit Untuk Dipercaya dan Dimengerti.” Apakah arti kalimat ini ?
JAWAB: Lebih dari
2,000 tahun sejak Sang Buddha membabarkan Saddharma Pundarika Sutra. Meskipun telah ada di India selama 1,200 tahun lebih dan selama 200 tahun di China, Saddharma Pundarika Sutra telah disebarkan ke Jepang lebih dari 700 tahun yang lalu. Selama masa setelah kemoksaan Buddha Sakyamuni, tidak seorangpun kecuali tiga guru, yang benar-benar
P
Pendahuluan
urat asli yang ditujukan kepada Tuan Toki Jonin, ditulis pada tanggal 26 bulan lima tahun Koan ke-3 (1280) di Gunung Minobu, masih tersimpan dengan baik di Kuil Nakayama Hokekyoji di Ichikawa, Propinsi Chiba. Surat ini menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Tuan Toki yang didasarkan pada kutipan kalimat Bab.10, Saddharma Pundarika Sutra yang menyatakan bahwa sutra ini adalah “nanshin,
nange” (sangat sulit dipercaya dan dipahami).
Mengutip penjelasan dan pemahaman dari Nagarjuna dan T’ien-t’ai, Nichiren Shonin menyatakan bahwa berbagai macam
sutra-sutra lain selain Saddharma Pundarika Sutra dapat dengan mudah dimengerti dan dipercaya karena mereka di babarkan oleh Sang Buddha sebagai ajaran Upaya / Kebijaksanaan dengan menyesuaikan dengan para pendengarnya (Zuitai).
Sebaliknya, Beliau menjelaskan dan membabarkan bahwa Saddharma
Pundarika Sutra sangat sulit dimengerti dan dipercaya karena Sang Buddha langsung membabarkan Kebenaran Yang Sebenarnya
berdasarkan Apa Yang Ada di PikiranNya tanpa memperhatikan hal lain seperti bakat pendengar (Zuijii).
Nichiren memperingatkan bahwa kesalahpahaman dari berbagai guru seperti Kobo, Jikaku and Chisho telah menghancurkan Buddhisme, sebab telah menghilangkan makna sebenarnya dari Dharma Yang Sesungguhnya, yang pada akhirnya menyebabkan keruntuhan dan kehancuran di Jepang. Ia juga menyatakan dengan tegas bahwa
Buddhisme adalah Badan dan Dunia ini adalah Bayangannya, Saddharma Pundarika Sutra dapat membimbing semua orang mencapai KeBuddhaan, ini harus ditegakkan sebagai dasar dari Buddhisme di dunia ini.
SHOKYO TO HOKEKYO
TO NAN’I NO KOTO
(Sulit dan Mudahnya, Dalam Mengerti
Saddharma Pundarika Sutra dan Sutra-sutra lainnya)
Sulit dan Mudahnya,
dalam Mengerti
Saddharma Pundarika
Sutra dan Sutra-sutra
lainnya
telah membaca ungkapan ini dalam Saddharma Pundarika Sutra. Mereka adalah Bodhisattva Nagarjuna, Maha Guru T’ien-t’ai dan Dengyo.
Pertama, dari semuanya, Bodhisattva Nagarjuna di India menyatakan dalam tulisan Beliau
“Percakapan Maha Bijaksana (Daichido-ron)”: “Ajaran dalam Saddharma Pundarika Sutra memungkinkan orang-orang dari Dua Kendaraan (Dwiyana) yaitu Sravaka dan Pratyekabuddha, yang diketahui tidak mempunyai kesempatan untuk mencapai KeBuddhaan, namun dalam sutra ini mereka dapat mencapai KeBuddhaan. Ini sama seperti seorang tabib yang hebat yang diketahui mengunakan racun sebagai obat.” Pernyataaan ini menunjukkan
bahwa Bodhisattva Nagarjuna telah membaca dan mengerti makna empat karakter dari ungkapan “Sulit dipercaya dan dimengerti.”
Di China, Maha Guru T’ien-t’ai, yang paling bijaksana, menjelaskan ungkapan ini dalam tulisan Beliau “Makna Mendalam
dari Saddharma Pundarika Sutra (Hokke Gengi)” : “Diantara semua sutra baik yang telah dibabarkan, sedang dibabarkan, dan akan dibabarkan pada masa mendatang, Saddharma Pundarika Sutra adalah yang paling sulit dipercaya dan dimengerti.”
Maha Guru Dengyo di Jepang menjelaskan lebih lanjut dalam tulisan Beliau “Prinsip Mendalam
dari Saddharma Pundarika Sutra (Hokke Shuku)” : “Sutra-sutra yang telah dibabarkan selama empat periode (sebelum Saddharma Pundarika Sutra) selama hidupnya Buddha Sakyamuni, seperti Sutra Makna Tanpa Batas (Muryogi-kyo), yang sekarang sedang diajarkan, dan Sutra Nirvana (Nehan-gyo), yang akan diajarkan adalah mudah dipercaya dan dimengerti. Ini karena sutra itu semua dibabarkan sebagai Kebijaksanaan / Upaya yang berarti disesuaikan dengan kemampuan orang untuk mengerti. Sebaliknya, Saddharma Pundarika Sutra adalah sangat sulit dipercaya dan dimengerti sebab sutra ini adalah Ajaran Sesungguhnya dibabarkan berdasarkan Pikiran Sang Buddha Sendiri, segera setelah Beliau mencapai Penerangan Agung.”
PERTANYAAN : Kenapa Saddharma Pundarika Sutra itu sulit untuk dipercaya dan dimengerti sedangkan sutra-sutra lain mudah dipercaya dan dimengerti?
JAWAB : Berbagai sutra-sutra lainnya dibandingkan dengan Saddharma Pundarika Sutra adalah mudah dipercaya dan dimengerti sebab Buddha Sakyamuni membabarkan sutra itu semua dengan menyesuaikan dengan kapasitas / kemampuan dari semua orang untuk mengerti tanpa menyatakan Kebenaran Yang Sesungguhnya. Pada sisi lain dalam Saddharma Pundarika Sutra, Buddha Sakyamuni langsung mewujudkan Yang Ada PikiranNya tanpa mempertimbangkan kemampuan orang untuk mengerti. Yang jelas ini
adalah Ajaran Sesungguhnya, dimana tidak mudah bagi orang-orang biasa
untuk dapat percaya dan mengerti. Meskipun demikian, Maha Guru Kobo dan para pengikut Buddhisme Shingon dari Kuil Toji di Jepang, salah mengerti tentang Saddharma Pundarika Sutra bahwa sutra ini paling sulit diantara ajaran eksoterik
(kengyo) tetapi adalah mudah jika
dibandingkan dengan ajaran esoterik
(mikkyo). Menurut para Guru Agung
Jikaku (Ennin) dan Chisho (Enchin) dan para pengikut mereka, keduanya baik Saddharma Pundarika Sutra
(Myoho Renge Kyo) dan Sutra Buddha
Matahari (Dainichi-kyo) adalah sulit, tetapi jika dibandingkan dengan keduanya, meskipun yang pertama adalah sulit, tetapi yang kedua jauh lebih sulit. Kedua pendapat ini baik Toji esoterisme dan Tendai esoterisme tersebarluas diseluruh Jepang.
Setelah membaca Sutra ini, Saya, Nichiren, menyimpulkan bahwa jika kita membandingkan Ajaran Bukan Buddhis dengan Sutra Hinayana Buddhisme, yang pertama lebih mudah dipercaya dan dipahami dibandingkan yang kedua. Membandingkan Sutra Buddha Matahari (Dainichi-kyo); bagaimanapun Sutra Hinayana adalah mudah dipercaya dan dimengerti dibandingkan Sutra Buddha Matahari (Dainichi-kyo). Dibandingkan dengan Sutra Kebijaksanaan (Hannya-kyo
atau Mahaprajnaparamita Sutra),
Sutra Buddha Matahari
(Dainichi-kyo) lebih mudah dipercaya dan
dimengerti, sedangkan Sutra Kebijaksanaan lebih sulit. Demikian juga, ketika kita membandingkan Sutra Kebijaksanaan dengan Sutra Karangan Bunga (Kegon-kyo); Sutra Karangan Bunga (Kegon-kyo) dengan Sutra Nirvana (Nehan-gyo);
Sutra Nirvana (Nehan-gyo) dengan Saddharma Pundarika Sutra (Myoho
Renge Kyo), Separuh Awal (Bagian Teori) dengan Separuh Akhir (Bagian Pokok) Saddharma Pundarika Sutra,
kita akan melihat bahwa yang pertama dari semua sutra diatas adalah lebih mudah dipercaya dan dimengerti dibandingkan yang kedua, yang membuktikan bahwa Saddharma
Pundarika Sutra adalah lebih sulit dibandingkan dengan semua sutra, ini dapat dikatakan karena ini adalah Ajaran Yang Sesungguhnya.
PERTANYAAN : Apakah yang perlu diketahui, mana sutra-sutra yang dibabarkan berdasarkan Pikiran Sang Buddha atau tidak, dan mana sutra-sutra yang mudah atau sulit untuk dipercaya dan dimengerti?
JAWAB : Ajaran ini membuktikan bahwa Saddharma Pundarika Sutra, ajaran terakhir dari semua sutra adalah lampu yang menyinari dalam kegelapan malam panjang dari dunia ilusi yang melewati hidup dan mati, dan ini adalah pedang tajam yang dapat memotong semua akar rumput ketidaktahuan spiritual. Ajaran seperti berbagai sekte Buddhis seperti Sekte Tanah Suci (Shingon Shu) dan Sekte Karangan Bunga (Kegon Shu) mengajarkan dengan cara Kebijaksanaan / Upaya yang didasarkan pada kapasitas dari orang untuk mengerti, jadi ini sangat mudah dipercaya dan dimengerti. Bagaimanapun, mereka tidak mencerminkan Keinginan Sesungguhnya dari Sang Buddha. Seperti yang terdapat dalam sutra mereka, Buddha membabarkan hanya sampai pada tingkatan sembilan dunia (neraka, jiwa kelaparan, binatang, kemarahan, manusia, dewa, sravaka,
pratyekabuddha, dan bodhisattvas), mereka menyebut ini sebagai
“Zuitai” (Berdasarkan pikiran orang lain). Ini sama seperti Ayah
Bijaksana yang mengikuti keinginan dari kebodohan / ketidaktahuan anak-anaknya. Sutra dimana Sang
Buddha menjelaskan tentang Penerangan Beliau disebut “Zuijii” (Berdasarkan Pikiran Sendiri). Ini
sama seperti Ayah Bijaksana yang membimbing anak-anak bodohNya. Hasil pengujian terhadap sutra-sutra seperti Sutra Buddha Matahari (Dainichi-kyo), Sutra Karangan Bunga (Kegon-kyo), dan Sutra Kebijaksanaan (Hannya-kyo), dapat Saya katakan bahwa sutra itu semua adalah ajaran-ajaran “Zuitai”.
PERTANYAAN : Apa yang membuktikan bahwa sutra-sutra lain selain Saddharma Pundarika Sutra telah diajarkan sesuai dengan pikiran orang lain ?
JAWAB : Sutra Srimala membabarkan: “Mereka yang
mempunyai kemampuan rendah untuk mengerti ciri penyebab dari akibat dan berbudi luhur jauh dari iblis, diajarkan “lima ajaran’ dan ‘sepuluh perbuatan baik’ yang merupakan akar kebaikan bagi manusia dan mahluk surgawi, dalam rangka menyesuaikan dengan kemampuan mereka. Untuk mereka yang ingin menjadi seorang sravaka, ajaran sravaka (Empat Kebenaran Mulia) dibabarkan, dan bagi mereka yang menginginkan menjadi pratyekabuddha, ajaran pratyekabuddha (12 rantai sebab dan akibat) pun dibabarkan. Mereka yang menginginkan menjadi seorang Bodhisattva Mahayana, ditegaskan untuk melaksanakan jalan Bodhisatva dari Enam Paramita.” Ini
adalah sungguh sebuah jalan pembabaran yang mudah dari sutra. Hal yang sama dapat dikatakan terhadap berbagai sutra seperti Sutra Karangan Bunga (Kegon-kyo), Sutra Buddha Matahari
(Dainichi-kyo), Sutra Kebijaksanaan (Hannya-kyo) dan Sutra Nirvana (Nehan-gyo).
Sebaliknya, pernyataan dalam Saddharma Pundarika Sutra,
Bab.10 “Guru Dharma” dikatakan: “Yang Dimuliakan Dunia, kemudian berkata kepada 80,000 bodhisattva melalui Bodhisattva Raja Obat (Yakuo Bosatsu atau Bodhisattva Bhaisyajaraja) : “Raja Obat ! kamu lihat dalam pesamuan agung ini terdapat jumlah yang tak terhitung para dewa-dewi, raja naga, yaksa, gandharva, asura, garuda, kimnara, mahoraga, manusia, dan mahluk bukan manusia, serta keempat kelompok pengikut, mereka yang mencari ajaran sravaka, ajaran pratyekabuddha atau jalan untuk KeBuddhaan? Jika ada seseorang diantara mereka merasa gembira
meskipun hanya sebentar
mendengarkan sebait sajak atau ungkapan dari Saddharma Pundarika Sutra dihadapan Sang Buddha, Aku akan menetapkan bahwa mereka semua pasti akan mencapai KeBuddhaan.”
Banyak sutra-sutra lain selain Saddharma Pundarika Sutra
terjadi dengan Buddhisme di Jepang? Karena semua orang dipengaruhi oleh pendapat dari Maha Guru Kobo, Jikaku dan Chisho, Kebenaran dari Saddharma Pundarika yang menyatakan Tujuan Sesungguhnya Sang Buddha telah tertutup dan tersembunyi selama 400 tahun di Jepang. Ini sama seperti menukar sebuah permata dengan sebongkah batu, dan cendana dengan kayu biasa. Ketika Kebenaran Dharma
Buddha sirna, dunia pun demikian. Buddhisme adalah Tubuh dan Dunia ini adalah Bayangannya. Ketika Tubuh tidak lurus, maka bayangan pun demikian halnya.
Beruntunglah, meskipun pengikutKu hanya sedikit, yang mempercayai Saddharma Pundarika Sutra, Keinginan Sesungguhnya Buddha Sakyamuni, secara otomatis mengalir kedalam lautan Nirvana untuk mencapai KeBuddhaan.
Sebaliknya, para buddhis sekte
lainnya didunia sekarang ini, yang percaya dalam ajaran sementara yang dibabarkan sesuai pikiran orang lain, akan jatuh kedalam lautan penderitaan. Saya akan menjelaskan
hal ini lagi secara terperinci pada kesempatan lain.
Dengan hormat, Tanggal 26 bulan lima
Surat Balasan kepada Tuan Toki
Nichiren (tanda tangan) dibabarkan dengan berbagai cara
yang didasarkan kepada kapasitas dari para pendengar. Sebagai contoh “Lima Ajaran” dibabarkan kepada mereka yang ada dalam dunia manusia, “Sepuluh Perbuatan Baik” untuk mereka yang ada di dunia surga, “Welas Asih dan Dana” untuk Raja Surga Brahma, “Memberikan Sumbangan antar Bhiksu” untuk Raja Iblis, “250 aturan” untuk bhiksu, “500 aturan” untuk bhiksuni, “Empat Kebenaran Mulia” untuk manusia sravaka, “12 Rantai Sebab dan Akibat” untuk manusia pratyekabuddha, dan “Enam Paramita” untuk para bodhisattvas. Ini semua sama seperti air yang mengikuti bentuk sesuai dengan tempatnya atau seekor gajah yang mengunakan kekuatannya sesuai dengan jenis musuhnya.
Hal-hal ini tidak terjadi dalam Saddharma Pundarika Sutra, dimana Saddharma Pundarika Sutra dibabarkan sama bagi semua “Delapan Jenis Pelindung” Saddharma Pundarika Sutra dan “Empat Kelompok Pengikut”. Hal ini sama seperti sebuah kekuasaan yang berlaku lurus dalam satu garis atau seekor singa yang mengunakan seluruh kekuatannya tanpa memikirkan kekuatan dari mangsanya. Ketika kita menguji berbagai macam sutra dengan cermin terang dari Saddharma Pundarika Sutra, jelas tidak terdapat keraguan sedikitpun bahwa keduanya baik Sutra Tiga Rangkap Shingon dan Sutra Tiga Rangkap Tanah Suci adalah ajaran Upaya / Kebijaksanaan yang dibabarkan sesuai dengan pikiran orang lain.
Meskipun demikian, apa yang
BODHISATTVA SAMANTABHADRA
Penjelasan Bentuk
Ditangan kiri, Bodhisattva Samantabhadra memegang sebuah bunga teratai mekar. Bunga Teratai melambangkan dasar dari setiap manusia itu adalah suci dan tanpa cela. Kadang-kadang Ia digambarkan duduk diatas seekor gajah, dan sekaligus menyatakan Welas Asih yang tak terbatas dari Bodhisattva Samantabhadra.
Makna dan Janji
Samantabhadra Bodhisattva dapat dikatakan melambangkan welas asih dari Sang Buddha. Pelaksanaan dan Janji dari Bodhisattva Samantabhadra, yang mendorong pelaksanaan bahwa semua orang dapat mencapai KeBuddhaan. Ini pelaksanaan dan 10 janji dari Bodhisattva Samantabhadra:
1. Menghormati semua Buddha,
2. Memuji semua kebajikan para Buddha,
3. Menahan diri melakukan kejahatan, 4. Melakukan persembahan kepada para
Buddha,
5. Suka melakukan kebajikan para Buddha,
6. Selalu mencari ajaran para Buddha, 7. Berusaha mewujudkan Tanah Abadi
Buddha,
8. Selalu belajar dari para Buddha, 9. Selalu memberikan kebajikan kepada
seluruh mahluk hidup, dan
10. Mempersembahkan seluruh kebajikan kepada Tanah Buddha.
Seri Penjelasan Saddharma Pundarika Sutra
Oleh: YM.Bhiksu Shokai KanaiSumber Acuan: Buku "The Lotus Sutra" By Senchu Murano Diterjemahkan oleh: Sidin Ekaputra,SE
Salinan Saddharma Pundarika Sutra dan Komentar Nichiren Daishonin diantara kata-katanya.
RINGKASAN
ab terdahulu berakhir dengan kata-kata : “Belajar
dan laksanakanlah secara terus-menerus, dan kalian akan menjadi Buddha”. Dalam
bab ini, Buddha Sakyamuni memberikan kepastian akan masa depan Kebuddhaan kepada empat dari sepuluh murid utamaNya. Kepastian ini lebih seperti suatu piagam sementara. ‘Sertifikat’ Kebuddhaan yang sesungguhnya akan diberikan pada saat mereka menyelesaikan berbagai macam pelajaran dan pelaksanaan. Meskipun hanya ‘serifikat’ sementara, tapi ini menjadi dorongan semangat yang luar biasa bagi keempat muridNya dan bagi kita semua.
PENJELASAN
Keempat Kepastian:
1. “Maha-Kasyapa akan menjadi
seorang Buddha bergelar Tathagata Cahaya.” (P.115, LL.5-10)
2. “Subhuti akan menjadi seorang
Buddha bergelar Tathagata Ber-rupa Indah.” (P.118, LL.25-29)
3. “Katyayana Agung akan menjadi
seorang Buddha bergelar Tathagata Cahaya Emas
Jamabunada.” (P.121,
LL.2-13)
4. “Maudgalyayana Agung
akan menjadi seorang
Buddha bergelar
Tathagata Wewangian Tamalapattracandama.” (P.122, L.26 - P.123, L.4)
Apa sajakah persyaratan untuk mencapai Kebuddhaan? ereka akan m e n j u m p a i ribuan dan jutaan Buddha,
memberi persembahan bagi mereka, menghormati mereka, memuliakan mereka, memuji mereka, dan membabarkan ajaran-ajaran mulia dari para Buddha yang tak terhitung jumlahnya di kehidupan mendatang mereka. (P.115, P.118, P.121, P.122)
Berkaitan dengan persembahan bagi ribuan dan jutaan Buddha, dalam bab mendatang Saddharma Pundarika Sutra, diberikan pelaksanaan yang lebih realistis.
“Meski Mara dan para pengikutnya juga akan tinggal disana, mereka tidak akan berbuat kejahatan tetapi akan melindungi ajaran-ajaran dari Buddha.” (P.115, LL.26-28):
Kalimat ini seringkali dikutip ketika bhiksu Nichiren Shu dalam melakukan pemberkatan "kito". Bagi para pelaksana Saddharma Pundarika Sutra, semua setan dan iblis menjadi pelindung mereka. Sebuah contoh yang bagus adalah Kishimo-jin atau Hariti. Ia mempunyai banyak anak dan memberi mereka makan berupa bayi-bayi orang lain. Ketika ia mendengar ajaran Buddha, ia menyesali kesalahan-kesalahannya dan bersumpah melindungi Buddhisme dan para penganutnya. Hal ini diungkapkan dalam bab 26 Saddharma Pundarika Sutra.
“Andaikan ada seseorang yang datang dari negeri yang sedang menderita wabah kelaparan. Sekarang ia melihat makanan dari seorang raja besar. Ia tidak
BAB VI
RAMALAN TENTANG YANG
AKAN TERJADI
B
akan makan dalam keragu-raguan dan rasa takut. Setelah ia diperintah orang sang raja untuk mengambilnya, ia mengambilnya dengan segera.” (P.118, LL.3-8)
Kalimat ini selalu digunakan ketika bhiksu Nichiren Shu mengadakan upacara peringatan
"Segaki". "Segaki" adalah sebuah upacara pemberian persembahan bagi roh-roh kelaparan. Upacara
ini diadakan bagi ketenangan arwah orang-orang yang telah meninggal dunia. Bendera-bendera dalam upacara Segaki yang terdiri dari lima jenis warna yang berbeda juga dikibarkan dengan kalimat-kalimat di atas tertera pada bendera tersebut.
Kalimat-kalimat tersebut dimaksudkan untuk memberi ketenteraman bagi para arwah, tapi juga menjamin masa depan Kebuddhaan kita. Kita akan merasa sesejuk dan sesegar pada saat kita disirami dengan minuman.
Pesan dari bab ini:
Meski sang Buddha memastikan Kebuddhaan kita, kita masih saja berharap agar Ia memanggil nama kita satu per satu dan memberikan kita gelar Buddha. Bukankah kita ini anak-anak yang manja? GASSHO.
Buku "A Collection of Nichiren's Wisdom"
Volume 1 Nichiren Shonin GoibunTerbitan : Nichiren Buddhist International Center Diterjemahkan oleh : Sidin Ekaputra,SE
Seorang Pelaksana Saddharma Pundarika Sutra
Yang Sebenarnya
Sulit dan Jarang "Sesuai dengan apa yang Sang Buddha ramalkan dalam Sutra, bahwa ada “Tiga Macam Musuh Saddharma Pundarika Sutra” diseluruh Jepang. Meskipun demikian, kita tidak melihat adanya pelaksana Saddharma Pundarika Sutra. Apakah ini berarti bahwa kata-kata Sang Buddha itu sebuah kebohongan belaka ? Mungkinkah ? Meskipun demikian, siapa orang yang telah dicaci maki dan diremehkan oleh orang-orang bodoh hanya demi Saddharma Pundarika Sutra? Siapa bhiksu yang telah diserang dengan pedang dan tongkat demi Saddharma Pundarika Sutra? Bhiksu manakah yang telah memohon kepada pemerintah demi Saddharma Pundarika Sutra? Bhiksu manakah yang telah dikucilkan atau diasingkan demi Saddharma Pundarika Sutra? Tidak seorang pun di Jepang, kecuali Nichiren. Bagaimanapun, para dewa telah meninggalkan Aku, Nichiren. Aku mungkin bukanlah seorang pelaksana Saddharma Pundarika Sutra. Siapa orang yang akan menjadi pelaksana Saddharma Pundarika Sutra, untuk mewujudkan ramalan Sang Buddha? Buddha Sakyamuni dan musuh berbuyutannya, Devadatta selalu bersama-sama, kehidupan demi kehidupan, bagaikan bayangan yang mengikuti badannya. Pangeran Shotoku dan musuh politiknya Mononobe-no-Moriya selalu bersama-sama bagaikan bunga dan buah Bunga Teratai yang tumbuh pada waktu yang bersamaan. Hal yang sama pula, ketika ada seorang pelaksana Saddharma Pundarika Sutra, maka harus ada Tiga Musuh Sutra ini. Bagaimanapun “Tiga Macam Musuh Sutra” telah muncul, siapakah pelaksana Saddharma Pundarika Sutra itu? Kita harus menemukan dan mencari untuk dijadikan guru kita. Untuk dapat bertemu dengan orang itu adalah sangat sulit, bagaikan seekor kura-kura bermata satu yang berusaha menemukan potongan kayu dengan ukuran lubang yang sesuai untuknya, yang mengapung di samudra luas.
Kaimoku Sho Membuka Mata Kepada Saddharma Pundarika Sutra (Latar Belakan: Pebruari 1272, di Pulau Tsukahara Sado, Showa
Teihon P.598)
Note: Nichiren Shonin (1222-1282) seumur hidupnya berjuang untuk menyebarluaskan Saddharma Pundarika Sutra. Risalah Beliau yang terkenal adalah "Rissho Ankoku-ron" yang menegaskan perlunya menegakkan ajaran yang sesuai dengan Kehendak Sang Buddha, yakni Saddharma Pundarika Sutra, demi tercapainya kedamaian negara Jepang dan seluruh dunia."
Ket. (kiri) Kishimojin atau Hariti, (Kanan) Juratsetsunyo, Dua Iblis Pelindung yang menjadi pelindung Buddha Dharma.
Perayaan 100 Tahun
ebih dari 2.700 umat Nichiren Shu ikut bergabung bersama dalam peringatan ulang tahun ke-100, patung perunggu agung Nichiren Shonin pada tanggal 28 oktober 2004 di Hakata, Fukuoka, Jepang. Untuk peringatan 100 tahun, tiga pintu gerbang telah dibangun untuk menciptakan suasana lebih khidmat ketika memasuki daerah ini. Selama perayaan upacara ulang tahun ke-100 ini, YM.Bhiksu Zengyo Sano, yang mengurusi patung raksasa ini mengatakan bahwa dukungan dari seluruh kuil Nichiren Shu dan anggota sangat luar biasa. Beliau mengatakan, “Aku tidak bisa menghentikan air mataKu setiap hari, ketika aku menerima berbagai macam sumbangan dan dukungan dari seluruh Jepang. Sumbangan itu kami gunakan untuk membangun tiga pintu gerbang dan bagian jalan-jalan menuju ke patung agung, Nichiren Shonin dan juga untuk renovasi daerah ini. Sumbangan ini akan terukir ditempat ini selamanya. Silahkan datang untuk melihat patung agung Nichiren Shonin, dan bertanyalah kepadaNya jika kamu mempunyai banyak kebimbangan, dan dengarkanlah jawaban dariNya. Taruhlah tanganmu dalam Gassho atau anjali dan perkuatlah hati kepercayaanmu.”
atung ini terletak dan berdiri megah di Higashi-koen (taman timur) di kota Fukuoka dan mempunyai tinggi keseluruhan 22 meter (sekitar 73 kaki) dari dasarnya. Tinggi badan Nichiren Shonin sendiri 10 meter (33 kaki). Patung Nichiren Shonin itu menghadap ke barat dan membawa sebuah naskah Rissho Ankoku Ron di tangan kanannya, sedangkan ditangan kananNya terdapat sebuah Juzu. Patung ini melambangkan Nichiren Shonin sedang membabarkan Saddharma Pundarika Sutra kearah Mongolia atau seberang lautan. Pada dasar patung disalah satu sisinya diukir isi dari Rissho Ankoku Ron. Dan juga dikelilingi oleh ukiran-ukiran mengenai tujuh penganiayaan besar yang dialami seumur hidup Nichiren Shonin. Biasanya orang-orang yang berkunjung
Perayaan 100 Tahun Patung Perunggu Agung
Nichiren Shonin
di Hakata - Jepang
Ket. Patung Perunggu Agung dari Nichiren Shonin terletak di Taman Timur Hakata, menghadap ke Mongolia
mengelilingi seluruh patung dengan menyebut Odaimoku dan berdoa. Lukisan-lukisan itu terlihat mengkilap karena orang-orang menyentuhnya ketika mengelilingi patung tersebut. Sungguh begitu besar perhatian dan penghormatan dari seluruh umat kepada Beliau, Nichiren Shonin. Para pejiarah itu datang dari seluruh Jepang, dan ini merupakan sebuah monumen yang luar biasa dan ini membuktikan bahwa Nichiren Shonin mendapatkan tempat dihati seluruh umat dan masyarakat Jepang bahkan dunia.
L
Awal Pembangunan Patung
Agung
ada tahun 1888, Gubernur Propinsi Fukuoka, Yasukazu Yasuba memulai merencanakan membangun sebuah monumen peringatan tentang serangan dari Mongolia ke Jepang bertempat didaerah dimana awal terjadinya peperangan. Ketika itu YM.Bhiksu Zenrei Sano, seorang Kepala Bhiksu dari Kuil Honbutsuji - Nichiren Shu di Fukuoka, mendengar tentang berita ini. Beliau melakukan perundingan dan menyetujui rencana untuk meletakkan monumen patung Nichiren Shonin. Namun, rencana ini mendapat tantangan keras dari organisasi agama lainnya, sehingga rencana pembangunan tertunda.
M.Bhiksu Sano kemudian memutuskan untuk membangun sebuah patung perunggu Nichiren Shonin yang akan dibangun oleh Nichiren Shu, jadi dia mengajukan ijin kepada pemerintah Fukuoka. Setelah terjadi penundaan dan hambatan beberapa kali, beliau melakukan perundingan secara pribadi dengan menteri
P
Ket. Ukiran yang mengambarkan tujuh penganiayaan yang dialami oleh Nichiren Shonin dipahat mengelilingi bagian dasar dari monumen. Terlihat mengkilap karena disentuh oleh para pejiarah.
Yorimichi Saigo dan akhirnya mendapatkan persetujuan untuk membangun patung tersebut. Pada bulan Nopember 1890, sebuah upacara pembukaan dilakukan untuk pelaksanaan proyek ini. Kemudian, untuk meningkatkan dana bagi proyek ini, YM.Bhiksu Sano bersama dengan para bhiksu pengikutnya melakukan kunjungan ke seluruh kuil dan sangha diseluruh Jepang. Namun, para bhiksu dan penganut awam dari organisasi lainnya berusaha untuk menghalangi
rencana dari YM.Bhiksu Sano. Perselisihan antara YM.Bhiksu Sano dengan organisasi agama lain terjadi disana sini. Kadang-kadang mereka mengadakan debat agama, kadang-kadang menyerang secara fisik terhadap YM.Bhiksu Sano, sehingga Ia mendapatkan banyak ancaman seumur hidupnya.
ada tahun 1892, dari tanggal 23 april, selama tiga hari lamanya, Upacara peletakkan batu pertama dilakukan didaerah dimana patung itu akan diletakkan di bagian timur taman. Sekitar seratus bhiksu melakukan upacara itu dan sekitar 10.000 umat memenuhi seluruh daerah upacara. Pada hari itu, perusahaan kereta api Kyushu, mengangkut penumpang dengan muatan berlebihan, bahkan ada yang berada diatas atap kereta api. Sesudah itu, YM.Bhiksu Sano dan pengikutnya melakukan kunjungan keliling seluruh Jepang dan mengumpulkan sumbangan dan bahan baku perunggu dan tembaga yang akan menjadi bahan dasar pembuatan patung tersebut. Jumlah berat keseluruhan dari sumbangan perunggu yang terkumpul adalah 37
Y
P
Ket. 2.700 bhiksu dan umat Nichiren Shu bersama-sama melakukan upacara peringatan 100 tahun patung perunggu agung Nichiren Shonin, Fukuoka - Jepang.
ton. Pada musim semi tahun 1897, pembangunan pondasi dimulai dan lebih dari 200 sukarelawan datang untuk bekerja setiap hari. Meskipun secara fisik mereka harus bekerja keras, namun penyebutan Odaimoku tiada henti mengiringi pekerjaan mereka dan mengetarkan seluruh taman tersebut.
embuatan dari patung raksasa ini, dicetak di Tokyo dan Saga, Kyushu hal ini berkaitan dengan kemudahan transportasi. Kepala dan tangan patung dibuat di Tokyo dan badan di buat oleh perusahaan Taniguchi di Saga. Seihachi Taniguchi, pemilik dari perusahaan tersebut adalah seorang pengikut Nichiren Shu yang kuat hati kepercayaannya dan Ia menempah badan patung itu dengan tangannya sendiri. Pembuatan tubuh utama dari patung dibagi dalam tujuh bagian dan memakan waktu empat tahun, dan selesai pada tanggal 20 Juni 1904. Total keseluruhan beratnya mencapai 75 ton.
ada tanggal 8 Nopember 1904, sebuah upacara pembukaan patung perunggu agung Nichiren Shonin dilaksanakan. Kedua sisi dari patung itu dihiasi oleh sejumlah panji, bendera negara dan lantera. Dilihat dari sisi jalan akan terlihat sebuah kota baru muncul di taman itu. Upacara itu diselenggarakan oleh 100 orang lebih Bhiksu, dan penutup dari patung agung Nichiren Shonin pun dibuka. Tinggi keseluruhan patung mencapai 73 kaki berdiri tegak bagaikan stupa pusaka, dan dibagian dasarnya diukir lukisan tentang pembabaran Saddharma Pundarika Sutra. Semua usaha keras dari YM.Bhiksu Zenrei Sano dan pengikutnya telah terbayar pada acara ini. Air mata bercucuran di wajah YM.Sano. Sebuah contoh bagi kita semua. Gassho.
P
P
ichiren Shonin berkata bahwa
“Buddha Dharma itu akan berkembang dengan pesat jika terdapat para murid yang tulus (faktor dalam) dan dukungan dari para pengikut (faktor luar).”
Sang Buddha lahir di Taman Lumbini, daerah pinggiran kota Kapilavastu. AyahNya adalah Raja Suddhodana, seorang raja dari Kapilavastu (sekarang Tilonakot, Nepal) terletak di India Tengah. Pangeran Siddhartha meninggalkan istananya untuk melaksanakan pertapaan sebagai seorang biarawan.
Masalah pertama yang muncul adalah bagaimana caranya hidup sendiri, karena sejak kecil ia sudah terbiasa dikelilingi oleh para pelayan yang siap melayaninya setiap hari. Ia tidak mempunyai kekhwatiran tentang apapun dan segala sesuatunya akan dilayani secara baik. Tetapi sekarang diluar istana, ia harus menghadapi kenyataan yang sebenarnya. Ia harus meminta-minta untuk mendapatkan makanan, diganggu oleh nyamuk, lalat dan berbagai macam serangga lainnya yang memenuhi daerah tersebut. Di istana, ia mempunyai sandal yang nyaman untuk berjalan, tetapi sekarang ia harus melaksanakan praktek pertapaan, ia harus berjalan sekeliling dengan kaki telanjang. Duri bunga mawar, semak belukar, rumput, kerikil tajam, dan batu-batuan lain menyakiti kakinya ketika berjalan. Untuk sang pangeran, hal-hal seperti ini adalah untuk pertama kalinya, sehingga banyak rintangan dan kesulitan harus dialami untuk memasuki kependetaan. Dan hal ini butuh beberapa waktu untuk dapat menyesuaikan diri dengan keadaan dan kenyataan yang sekarang berbeda.
Sakyamuni Buddha
dan Para Pendukung
Oleh: Prof. Ken-yo Mitomo, Ph. D
N
Dukungan dari “Teman
Yang Baik”
etika sang pangeran m e n i n g g a l k a n istana, ayahnya, Raja Suddhodana, mengirimkan lima orang kepercayaannya untuk mengikuti anaknya dan pergi untuk melaksanakan praktek pertapaan. Ini adalah sebuah wujud cinta dari seorang ayah kepada anaknya, yang berkeinginan untuk mencapai dunia luar. Sang Buddha pada akhirnya mencapai Penerangan, dan mendapat bantuan dan dukungan dari orang-orang ini.
Ketika Sang Buddha telah mencapai Penerangan Agung, Beliau memberikan pembabaran yang pertama kepada para pendukungnya. Kelima orang tersebut adalah pengikut yang setia dan bersemangat, sehingga mereka juga dapat segera mencapai Jalan Penerangan.
K
“Anya! Kaudinya! Apakah kamu mampu mencapai Jalan Penerangan?” tanya Sang Buddha. Ini adalah nama dari salah satu dari kelima pengikut pertama. Kemudian Sang Buddha memberitahukan kepada para muridnya tentang proses dengan “Teman Yang Baik”. Ketika kamu tidak dapat menemukan
“Teman Yang Baik”, maka majulah
sendiri bagaikan badak dengan cula satu. Wapadalah terhadap “Teman
Yang Buruk”, mereka yang ingin
kamu keluar dari jalan, kata Sang Buddha.
Raja Bimbisara, raja kelima dari dinasti Saisnaga di Magadha, yang sangat mengagungkan Sang Buddha dan menginginkan Ia agar membantunya dalam memimpin tentaranya. Namun, Sang Buddha menolak, Ia berkata bahwa Ia menjadi seorang bhiksu bukan untuk mendapatkan kekuasaan atau ketenaran. Raja Bimbisara kemudian menjadi pengikut Buddha yang setia dan bersemangat sampai pada akhirnya ia dipenjara oleh anaknya sendiri, Ajatasatru, sampai akhir hidupnya.
Suku Shaka, dimana Sang Buddha berasal, yang merupakan sebuah kerajaan kecil yang berlokasi di antara kerajaan Kosala dan Magadha. Sang Buddha tahu bahwa suatu hari nanti, kerajaan kecil itu akan diambil alih oleh tetangganya.
Dukungan Dari Seorang Asusila
(Pelacur)
jaran Buddha tidak melakukan diskriminasi yang membeda-bedakan golongan dan jenis kelamin. Amrapali adalah seorang pelacur dan ia memberikan sumbangan sebuah taman dengan nama Taman Amrapali kepada Sang Buddha. Sebagian orang mengatakan bahwa sumbangan dari seorang pelacur adalah kotor; namun
Ket. Relik ini terpahat di Grandhara, Pakistan yang mengambarkan Sang Buddha sedang menerima kue dari pasir dari seorang anak laki-laki kecil, diluar Vihara Venawana. Anak kecil sedang bermain-main rumah-rumahan ketika Sang Buddha lewat untuk meminta sedekah. Legenda mengatakan bahwa anak kecil itu pada kehidupan selanjutnya menjadi Raja Asoka. Relik ini berukuran 32 x 37 x
9cm tertanggal Abad 2 atau 3 SM, sekarang tersimpan di Musium Peshawar. Foto diambil oleh Hiroki Fujita.
Sang Buddha menerimanya tanpa keraguan sedikitpun. “Persembahan
dari seseorang harus diterima sebab itu akan memberikan kebajikan bagi orang tersebut,” kata Buddha.
Sang Buddha sering menerima persembahan dari orang-orang miskin.
Pembabaran Sang Buddha biasanya dilakukan pada sore hari, untuk menghindari udara panas di siang harinya. Ketika sore hari seluruh murid dan pengikutnya mengelilingi Beliau dengan lilin atau minyak lilin. Ketika itu angin bertiup dengan kencang sehingga memadamkan semua lilin, namun terdapat sebuah nyala api dari sebuah minyak lilin kecil yang masih menyala. Lilin itu adalah sumbangan dari seorang wanita tua miskin, ia begitu miskin sehingga hanya bisa menyumbang sedikit minyak, sekuat apapun angin bertiup tidak mampu memadamkan apinya. Ia membawa minyak lilin itu dan mempersembahkan kepada Sang Buddha dan untuk menyelamatkan seluruh umat manusia.
Ini membuktikan bahwa meskipun seseorang itu miskin, tetapi terdapat kesungguhan hati dan kebajikan yang luar biasa.
Biara Hutan Bambu
ni adalah biara pertama Buddhis yang dibangun di Magadha untuk Sang Buddha. Segera setelah Sang Buddha mencapai Penerangan, seorang yang kaya menyumbangkan sebuah Biara Hutan Bambu kepada Sang Buddha. Pada masa itu di India, Hutan Bambu adalah sungguh berharga dan sangat jarang, sehingga orang yang menyumbangkannya meskilah seorang yang sangat kaya atau ia adalah seorang raja. Seorang bhiksu harus meminta sedekah untuk hidup; kadang mereka tinggal di dalam goa atau dibawah pohon atau menginap di rumah kerabat. Sebagian orang mengatakan bahwa seorang bhiksu harus keluar dari rumah dan yang lain mengatakan untuk tinggal di rumah. Buddha tidak pernah mengatakan mana yang baik, tinggal di luar atau didalam, tetapi Beliau mengatakan
bahwa tujuan utama dari seorang bhiksu adalah mencapai Penerangan Agung.
Biara Hutan Jeta
iara ini disumbangkan kepada Sang Buddha oleh dua orang yakni Pangeran Jeta dari Sravasti, anak dari Raja Prasenajit, dan Sudatta, seorang
A
I
yang sangat kaya yang terkenal sering memberikan makanan kepada orang-orang miskin. Sudatta, sedang mencari sebuah tempat yang tenang dan bersih untuk biara bagi para bhiksu. Beliau menemukan tempat yang cocok di Taman Jeta Anathapindala dan bertanya kepada Pangeran Jeta, apakah tamannya itu bisa disumbangkan kepada Sang Buddha dan para muridnya. Pangeran Jeta, pada mulanya menolak, tetapi karena Sudatta begitu gigih, sehingga akhirnya ia menyerah dengan syarat: Sudatta harus terlebih dulu menyumbangkan emas yang banyak untuk mendapatkan taman itu. Ia melakukannya dan Pangeran Jeta terkejut akan kesungguhan hatinya. Jika ini merupakan sebuah hal yang baik, Ia akhirnya ingin ikut terlibat didalamnya. Berdua antara Sudatta dan Pangeran Jeta saling mendukung dan menyumbangkan Biara Taman Jeta kepada Sang Buddha dan para muridnya. Sang Buddha terlihat menyukai Biara Hutan Jeta ini dan sering tinggal disini untuk membabarkan Dharma. Tempat ini menjadi tempat pembabaran dari berbagai sutra dan ceramahNya.
Sumbangan Jubah Mandi dari
Wanita Kaya
etika itu terdapat seorang wanita kaya yang ingin mengundang Sang Buddha dan kelompoknya untuk menikmati sebuah jamuan makan. Ia menyuruh seorang pelayan untuk mengundang mereka kerumahnya. Pada waktu itu hujan turun dengan derasnya, Sang Buddha dan para pengikutnya sedang mandi disungai dalam keadaan telanjang. Melihat hal itu pelayan itu segera pulang dan mengatakan kepada majikannya mengenai apa yang ia lihat dan mengatakan bahwa mereka bukan kelompok yang suci. Ketika wanita
kaya itu mendengar hal itu, dan segera ia mengirimkan jubah mandi untuk Sang Buddha dan para muridnya.
Sejak hari itu, Sang Buddha memberitahukan kepada para pengikutnya agar mengenakan jubah mandi ketika sedang mandi. Kelengkapan seorang bhiksu terdiri dari tiga jubah dan sebuah mangkuk sedekah. Ketiga jubah itu menutupi tubuh dan mangkuk itu digunakan untuk mencari sedekah makanan. Inilah alasan kenapa mereka harus mandi telanjang, tetapi sejak hari itu mereka tidak ingin mempermalukan orang lain lagi, terima kasih atas pengertian dari para pendukung. Aturan buddhis telah berubah dari waktu ke waktu, namun tidak merubah dasar utamanya. Buddha pada awalnya tidak mengerti budaya dari masyarakat awam. Jadi, Ia terus berpergian untuk mendapat sedekah sepanjang musim. Banyak orang yang tidak menyetujui hal itu.
Setelah orang-orang menyumbang biara, para bhiksu tinggal didalam biara. Dengan cara ini maka dukungan dari semua orang pun berdatangan dan menyebarluaskan Buddhisme.
Raja Asoka, Pendukung Setelah
Sang Buddha Moksa.
pakah kamu tahu bahwa terdapa gambar seekor singa sebagai tiang utama dalam bendera India? Ini awalnya berasal dari Raja Asoka. Ketika ia berusaha menyatukan seluruh India, banyak orang yang kehilangan hidupnya dan sang raja menemukan bahwa menyatukan negeri dengan kekuatan senjata adalah salah. Beliau akhirnya memutuskan untuk menyatukan seluruh negeri dengan hukum. Raja Asoka tidak hanya menolong agama Buddha tetapi juga agama-agama lainnya. Ia menyediakan rumah
sakit untuk binatang, dan menanam pohon disepanjang jalan dan membangun tiang singa diseluruh India dengan Sutra Buddha tercantum didalamnya.
Dalam naskah Buddhis dikatakan bahwa pada kehidupan lampaunya, Raja Asoka adalah seorang anak kecil yang mempersembahkan kue pasir kepada Sang Buddha. Sang Buddha tersenyum dan menerimanya dengan senang hati. “Kenapa Sang Buddha menerima kue ini padahal tidak bisa dimakan?” tanya salah seorang muridNya. Sang Buddha menjawab
bahwa perasaan untuk memberikan adalah hal yang terpenting. Sang
Buddha meramalkan bahwa pada kehidupan selanjutnya, anak kecil ini akan menjadi seorang raja yang luar biasa yang mempersatukan seluruh India. Akhirnya Raja Asoka ditempatkan dalam naskah Buddhis sebagai seorang pendukung yang terpenting. Gassho.
ANEKA PERISTIWA NICHIREN SHU
(Liputan Aneka Berita Nichiren Shu Indonesia dan Luar Negeri)
UPACARA TOKUDO
26 JUNI 2005
atu lagi peristiwa penting yang berlangsung dalam susunan Nichiren Shu Indonesia, yang merupakan awal dari sejarah panjang untuk Kosenrufu di Indonesia. Pada tanggal 26 Juni 2005, telah berlangsung Upacara Tokudo. Upacara Tokudo adalah upacara untuk pentabhisan seorang calon bhiksu dalam tradisi Nichiren Shu. Upacara ini adalah tahap awal dari tiga tahap yang harus dilalui oleh seseorang yang berkeinginan untuk mengabdikan hidupnya dalam tugas seorang Bhiksu. Tahap kedua adalah Upacara Docho, yang diadakan di Kuil Seicho-Ji, dimana merupakan tempat Nichiren Daishonin masuk sebagai calon bhiksu, maka jarak waktu antara upacara Tokudo dan Docho adalah 3 tahun. Tahap terakhir adalah pelatihan selama 30 hari di Kuil Pusat Nichiren Shu, Minobusan Kuon-Ji, yang merupakan tempat pelatihan bagi para calon-calon bhiksu/ bhiksuni. Jarak waktu dari Upacara Docho Ket. (Atas) kiri; Shami Josho S.Ekaputra dan kanan; YM.Bhiksuni Myosho Obata, (Bawah - Kiri); Foto bersama dengan umat Tangerang, (Bawah - Kanan); Foto bersama dengan anggota Yayasan Atman Shakti - Bandung