• Tidak ada hasil yang ditemukan

TARI KOMUNAL 43 BAB 2 TARI KOMUNAL

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "TARI KOMUNAL 43 BAB 2 TARI KOMUNAL"

Copied!
28
0
0

Teks penuh

(1)

Pa

da bab ini kita akan membahas pengertian tari komunal. F o k u s p e m b a h a s a n a d a p a d a t i g a h a l y a i t u : b a t a s a n t a r i s e c a r a umum, pengenalan istilah-istilah tari di berbagai daerah, dan ciri-ciri tari komunal. Pembahasan ini dimaksudkan untuk meletak kan suatu dasar berpijak dalam melihat keberadaan tari komunal di masyarakat.

2.1 BATASAN TARI

Seni tari dapat dikatakan sebagai kesenian universal maksudnya adalah kesenian ini terdapat dan dimiliki oleh setiap kelompok masyarakat di seluruh dunia. Seni tari juga sering dikatakan sebagai cabang kesenian yang sangat tua dan menari merupakan aktivitas yang paling dekat dan lekat dengan kehidupan manusia. Alasannya, materi baku dari kesenian ini adalah gerak dan alat ungkap yang paling penting dari kesenian ini adalah tubuh manusia itu sendiri. Manusia mulai bergerak semenjak ia hidup, tidaklah berlebihan jika dikatakan bahwa seni tari ada semenjak manusia ada di dunia. Karena itu, pada tingkatan yang paling dasar (gerak tubuh), sejarah tari dimulai bersamaan dengan kehidupan manusia sendiri.

BAB 2

TARI KOMUNAL

(2)

Banyak orang berpendapat bahwa manusia sudah mulai menari atau memiliki kebiasaan menari sejak bayi. Ekspresi se-orang bayi, baik sedih maupun gembira, banyak terungkap melalui gerak. Namun gerak-gerak kehidupan seperti itu mungkin belum cukup untuk dikatakan sebagai tari. Gerak tubuh seperti itu baru me rupakan reaksi atau ekspresi alami (dengan tingkat kesadaran yang paling awal).

Menari-nari sebagai ungkapan rasa gembira banyak terlihat pada masa kanak-kanak. Misalnya, saat ia memperoleh sesuatu yang diingin kan nya ia biasa menari-nari sebagai ekspresi kegembiraan. Di sini, kita sudah bisa melihat pertumbuhan tingkat kesadaran anak dalam merespons rangsangan. Lihatlah acara kuis di televisi, yang dapat diikuti oleh peserta dari segala umur. Kalau seseorang atau suatu kelompok bisa menjawab pertanyaan dengan benar, secara spontan para peserta akan mengungkapkan perasaan gembiranya dengan menari-nari; meng gerak-gerakkan tubuh atau bagian tubuh lebih daripada biasa nya. Sering kali gerak-gerak seperti itu disertai atau diiringi pula dengan bunyi-bunyian berirama: mulai dari yang paling sederhana seperti tepuk tangan, teriakan-teriakan, baik yang dilakukan sendiri atau secara bersama-sama, sampai dengan nyanyian dan bahkan musik yang dimainkan dengan instrumen yang sengaja telah disiapkan.

Jadi, menari atau menari-nari sesungguhnya bisa dan biasa dilakukan oleh setiap orang. Akan tetapi, perlu disadari bahwa secara koreografis (susunan tari) menari-nari berbeda dengan me-nari. Menari adalah bergerak mengikuti pola-pola koreografi dan meng gunakan teknik gerak yang telah ditentukan. Oleh sebab itu, hingga kini masih ada anggapan di kalangan masyarakat luas bahwa menari adalah sebuah aktivitas budaya yang khusus dan sulit; tari hanya bisa dilakukan oleh orang-orang tertentu yang telah terlatih secara khusus, yaitu penari.

Tampaknya anggapan seperti ini muncul karena kesadaran masyarakat yang kurang bahwa sesungguhnya ada banyak tarian yang bisa dan biasa dilakukan hampir oleh setiap orang.

(3)

Anggapan bahwa “menari sulit dan hanya bisa dilakukan oleh orang-orang tertentu” mungkin karena tari dilihat hanya sebagai seni pertunjukan, yang memang sengaja dipergelarkan untuk mempertontonkan kehebatan (virtuosity) teknik menari.

Berbagai aktivitas budaya yang dilakukan oleh kelompok-kelompok etnis di tanah air menunjukkan bahwa ada banyak tarian yang bisa dilakukan hampir oleh siapa saja. Untuk ikut serta, seseorang tidak dituntut persiapan atau latihan teknik secara khusus, melainkan cukup dengan memiliki dedikasi, rasa pengabdian, dan semangat terhadap kepentingan yang ingin dicapai oleh masyarakat bersangkutan.

Apa yang dianggap “sulit” dan “tidak terjangkau” oleh masyarakat umum, hanyalah cocok terhadap jenis tari yang menuntut bakat, intensitas, dan keseriusan berlatih bertahun-tahun. Jenis tari seperti itu umumnya adalah tari tontonan, yakni suatu tarian yang sengaja dipertontonkan/dipertunjukkan. Namun jika dikaitkan dengan aktivitas masyarakat sehari-hari, menari bukanlah aktivitas yang asing bagi kita dan juga bukanlah sesuatu yang eksklusif yang hanya boleh dilakukan oleh para seniman tari. Keberagaman bentuk dan fungsi tari menyebabkan belum adanya satu batasan tari yang baku dan bisa diberlakukan terhadap semua jenis tarian yang ada di dunia. Fungsi tari dalam suatu masyarakat tidak harus sama dengan masyarakat lainnya sehingga dengan sendirinya terdapat perbedaan dalam mempertunjukkan, melihat, dan memaknai tari. Batasan-batasan yang dibuat oleh para ahli tari pun selama ini masih dipengaruhi oleh atau berdasar pada sudut pandang keilmuan dan budaya masing-masing. Oleh sebab itu, definisi-definisi tari semacam itu hanya mampu membingkai jenis tari dari suatu wilayah budaya tertentu dan tidak mungkin diberlakukan bagi wilayah budaya lainnya.

Di samping itu, batasan-batasan itu pun hanya mungkin cocok untuk periode tertentu yang kemudian menjadi tidak berlaku lagi ke tika terjadi perubahan budaya tari, yang kini berjalan semakin cepat. Semuanya ini mengisyaratkan bahwa sebuah batasan tari

(4)

tidak cukup hanya dilihat berdasarkan gerak atau visualisasinya saja seperti misalnya sifat gerakannya (abstrak, imitatif), kualitas gerakannya (gemulai, keras, ringan, berat, intens, hambar), elemen-elemen pendukungnya (iringan musik, rias dan busana), dan lain sebagainya. Namun tari harus dilihat pula aspek-aspek lainnya se per ti norma, nilai, atau kebiasaan-kebiasaan yang berlaku di kalangan masyarakat pendukung tarian yang bersangkutan.

2.2 ISTILAH-ISTILAH TARI

Setiap daerah atau wilayah budaya di Indonesia memiliki

Gbr. 2.1: Anak bermain-main pada waktu mandi di sungai, mungkin tanpa disadari mereka “menari” sambil bersenang-senang bersama teman.

(5)

batasan tari yang berbeda-beda. Batasan tari ini sangat dipengaruhi oleh keberadaan tari di dalam berbagai aspek kehidupan sosial, spiri tual, dan kultural dari masyarakat yang bersangkutan. Apabila tari sangat dekat dengan aktivitas kehidupan sosial, masya ra kat akan membatasi tari atas dasar nilai-nilai sosial yang terkandung di dalamnya. Akan tetapi jika aktivitas tari lebih dekat kepada kehi dup-an spiritual masyarakat, maka batasdup-an tari akdup-an dibuat atas dasar itu. Kadang gerak permainan pada sebuah komu nitas dikategorikan sebagai tarian oleh komunitas lainnya.

Ada bermacam-macam istilah yang digunakan masyarakat untuk menyebutkan tari. Di kalangan masyarakat Jawa (Jawa

Gbr. 2.3: Seorang anak kecil di Cirebon, Jawa Barat, menari sekehendaknya. Ia berusaha mengikuti latihan tari orang dewasa.

Gbr. 2.4: Anak usia 12-an tahun menari bersama dengan orang dewasa dalam arak-arakan.

(6)

Tengah) kata joged, lenggotbawa, taya, beksa, tandhak, dan

igel di gunakan untuk menyebutkan tarian dengan tingkatan

dan konteks yang berbeda-beda. Kata lenggotbawa dan mataya untuk tarian dari mahluk-mahluk surgawi pada zaman dahulu, kata joged (atau beksa dalam bahasa halusnya) digunakan untuk tarian yang di lakukan manusia untuk dipertunjukkan, dan kata igel atau tandhak dipakai untuk tarian yang dilakukan secara spontan tanpa persiapan. Orang Bugis menyebut tari dengan istilah jaga’ (“siaga”), sere (“mondar-mandir”) atau joget untuk tari hiburan dan pergaulan; orang Toraja menyebutnya gellu (“gemulai”); orang Mamasa me nye butnya malluya (“menginjak-injak”); orang Mamuju Mandar menyebutnya sayo (“melambai”); dan orang Makassar menyebut tari dengan istilah angngaru (“mengamuk”), kanjara (“melonjak”), sere jaga atau akkarena (“bermain”). Di Bali, igel atau solah adalah dua kata benda yang berarti tari. Ngigel atau

masolah, keduanya kata kerja, berarti menari. Sebutan untuk penari

sering kali diguna kan sebutan juru igel . Namun yang paling umum adalah pragina.

Berbagai istilah lokal yang digunakan sebagai batasan tari, jika istilah itu disepadankan dengan istilah dalam bahasa Indonesia, makna yang melekat pada istilah tari lokal sering kali tidak bisa terwakilkan. Di beberapa lingkungan budaya istilah tari hampir tidak dikenal oleh masyarakat. Namun ada istilah-istilah yang berkaitan dengan menarikan tarian tertentu seperti baindang dan bailau (Sumatera Barat), atau ngibing di Jawa. Di Cirebon istilah dalang juga berarti penari. Dengan melihat istilah-istilah yang dipakai dalam berbagai bahasa diharapkan kita akan lebih memahami keberagaman makna tari bagi masyarakat pemiliknya.

Namun demikian, jika kita mengacu pada gerak tubuh sebagai dasarnya, maka kita tahu bahwa gerak adalah pertanda hidup yang utama. Namun yang masih sulit adalah menentukan gerak yang bisa dikategorikan tari dan bukan tari. Itulah sebuah realita yang menunjukkan perbedaan pandangan terhadap tari pada setiap budaya.

(7)

Gbr. 2.6: Tari Pakarena dari Bugis, Sulawesi Selatan.

Gbr. 2.8: Ibing keurseus (“tari pelajaran”) dari Sunda, tarian yang bermula dari tari tayub kalangan bangsawan.

Gbr. 2.7: Pjoge dari Bone-Wajo, Sulawesi Selatan

(8)

Istilah komunal mengandung gagasan kesatuan hidup setempat atau suatu kelompok orang yang hidup bersama di suatu wilayah. Ke satuan hidup setempat merupakan kesatuan-kesatuan yang tidak semata-mata ada karena ikatan kekerabatan, tetapi karena ikatan tempat tinggal. Secara konkret, kesatuan hidup setempat se lalu menempati satu wilayah tertentu. Dalam buku-buku pelajaran sosiologi, kesatuan hidup setempat disebut community dan dalam istilah Indonesia disebut komunitas.

Adapun sifat dari komunitas adalah: (a) kelompok yang men-diami wilayah tertentu; (b) kecintaan atau keterkaitan emosional-spiri tual dengan suatu wilayah; dan (c) kepemilikan kepribadian kelom pok. Suatu komunitas bisa berbentuk komuntas kecil dan besar. Contoh dari komunitas kecil adalah suatu kelompok orang-orang ter organisasi dalam sistem yang relatif sederhana (band) seperti kelompok berburu, peladang dan sebagainya; komunitas rukun tetang ga, kampung, atau desa. Sedangkan contoh dari komunitas besar dapat berupa penduduk kota (besar), kabupaten, provinsi, dan ne ga ra. Jika dalam komunitas kecil antarpenduduk kenal satu sama lain, dalam komunitas besar tidaklah demikian. Ikatannya dalam bentuk sistem organisasi atau administrasi politik. Orang Bengkulu, misalnya, belum tentu kenal dengan orang Maluku. Namun semua me rasa dalam satu ikatan bangsa Indonesia. Dengan kata lain, ikatan sosial seperti ini bersifat imajiner, yakni tidak melalui pertemuan secara fisik.

Selain itu, perkembangan peradaban dan teknologi juga mem-ben tuk komunitas imajiner yang bukan hanya berdasar pada batas kewilayahan, melainkan berdasar pada profesi, minat, hobi (kese-nang an), atau perasaan senasib sepe(kese-nanggungan, seperti misalnya kelompok pencinta alam dan organisasi-organisasi profesi lain yang kini sangat banyak jumlahnya. Mereka pun mungkin hanya ber komu nikasi lewat surat, majalah, atau Internet, tidak pernah ber temu satu sama lain seperti halnya dalam komunitas kecil.

(9)

Tari komunal pada intinya merupakan kesenian yang dimiliki oleh orang banyak atau suatu masyarakat dan ditujukan untuk kepentingan kolektif dari anggota masyarakat itu sendiri. Tari ko munal dapat diartikan sebagai tarian yang merupakan milik kolektif dari warga masyarakat kampung dan desa atau kelompok etnis. Dalam realitasnya tarian ini tidak selamanya ditarikan se cara kelompok. Bahkan ada banyak tari komunal yang ditarikan oleh satu orang (sebagai penari utama). Namun kehadiran tarian ini tetap melambangkan atau mencerminkan rasa kebersamaan dari ma syarakat pendukungnya.

Tari komunal, dengan bentuk dan fungsi yang berbeda-beda, bisa ditemukan di berbagai belahan dunia. Di banyak tempat, baik di lingkungan budaya Barat maupun Timur, tari komunal diperlaku-kan secara khusus karena di dalamnya terdiperlaku-kandung nilai-nilai budaya sebagai simbol atau atribut bersama, yang berperan sebagai penguat jalinan sosial. Bahkan, banyak juga tari komunal yang disakralkan, dianggap memiliki kekuatan gaib, karena berhubungan dengan sistem kepercayaan masyarakat pendukungnya.

Indonesia adalah negara multi-budaya yang memiliki ber-ba gai jenis tarian komunal. Didukung oleh berber-bagai kelompok etnis yang tersebar di seluruh Nusantara, tarian komunal pada umumnya dilakukan sebagai bagian dari upacara adat, keagamaan, dan ke giatan kebudayaan lainnya yang sudah mentradisi. Di banyak wilayah, seperti misalnya di Sumatera, Bali, Jawa, Kalimantan, Sula-wesi, Papua, dan lain sebagainya, terdapat sejumlah tarian komunal yang dianggap memiliki kekuatan spiritual, yang hanya diper tun-juk kan pada waktu-waktu tertentu. Di daerah yang sama, dan juga di daerah lainnya, tidak sedikit pula terdapat tari komunal sebagai bagian dari kegiatan sekuler untuk memperkuat rasa kebersamaan dan sebagai hiburan bersama. Sebagai suatu perwujudan ekspresi budaya masyarakat, tarian komunal pun tumbuh dan berkembang mengikuti dinamika perubahan masyarakat pendukungnya.

Fungsi utama tarian komunal pada umumnya untuk keperluan ritus spiritual, sosial, dan kultural dari masyarakat setempat. Tarian

(10)

komunal merupakan ekspresi komunal, yakni perwujudan rasa ke-ber samaan. Tari semacam ini diadakan untuk kebutuhan internal sehingga pada umumnya tidak disajikan sebagai sebuah tontonan semata. Walaupun dalam pelaksanaannya tarian tersebut juga men-datangkan penonton, atau ditonton dan disenangi oleh masyarakat, namun tujuan utama dari penyelenggaraan tarian bukanlah sebagai sajian panggung untuk menghibur, melainkan untuk kepentingan komunitas itu sendiri.

Semua yang telah dipaparkan pada bab ini menunjukkan bahwa peristiwa tari demikian beragam, sangat tergantung pada konteks peristiwa dan lingkup budaya yang mewadahinya. Gambaran seperti ini justru penting dipahami dalam masyarakat Indonesia yang multi-etnik, multikultur. Sejalan dengan fenomena ini, batasan tari komu-nal tidak dapat dirumuskan secara kaku dan tidak semata-mata hanya menyentuh pada permasalahan keindahan dengan berbagai kebakuannya, walau itu pun telah menjadi kesepakatan komunitas pe miliknya. Pemaknaan tari komunal harus juga menyentuh per-masa lahan keterlibatan emosional masyarakat dalam berbagai akti vitas, yang sering kali tidak berhubungan dengan masalah keindahan atau tidak “membutuhkan” keterampilan penari khusus bagi para pelakunya.

Tari komunal juga bukan semata hanya tari upacara, namun, se-perti disinggung di atas ada juga fungsinya sebagai hiburan. Mung-kin hal itu terjadi karena ada pergeseran fungsi tari. Saat ini banyak tarian yang lebih bersifat hiburan, meskipun awalnya seba gai bagian upacara adat. Dalam fungsinya sebagai hiburan itu, sering tampak adanya hubungan jender yang tidak simetris (“seimbang”), misalnya kaum laki-laki yang dihibur dan penari perempuan sebagai peng-hiburnya. Di Jawa, misalnya, dalam tayuban umumnya rong geng (penari perempuan) menjadi target hiburan bagi kaum laki-laki sebagai penari tamunya. Di situ, laki-laki membayar, sedangkan

rong geng dibayar. Tarian sejenis tayuban Jawa itu banyak terdapat

di ber bagai wilayah, di Bali disebut joged bumbung; orang Bugis memiliki tari-tarian sejenis yang disebut pajoge (ditarikan oleh

(11)

perempuan) dan pajoge angkong (ditarikan oleh penari waria atau banci); masyarakat Melayu memiliki ronggeng Melayu, sedang Betawi mempunyai tradisi cokek, dan sebagainya. Tari-tarian ini kini sudah biasa dipentaskan sebagai hiburan masyarakat, saat ini tarian-tarian ini tidak lagi terkait dengan ritus kesuburan seperti pada jaman dahulu. Namun demikian, gandrung Banyuwangi misalnya, yang serupa dengan peran ronggeng, masih biasa dipertunjukkan dalam suatu upacara adat, seperti telah disinggung dalam Bab 1.

Jadi, yang dimaksudkan dengan tari komunal dalam buku ini adalah segala aktivitas tari yang melibatkan instrumen atau struktur sosial kemasyarakatan, baik atas dasar kepen ting an bersama dalam komunitas, maupun kepentingan in dividual. Seperti akan disinggung lagi di bawah ini, aktivitas individual seperti upacara pernikahan dan kematian yang disertai pertunjukan tarian umumnya melibatkan instrumen sosial.

2.5 CIRI-CIRI TARI KOMUNAL

Terlepas dari perbedaan wujud dan bentuk serta keunikan

ek-Gbr. 2.9: Tari seblang dari Banyuwangi, Jawa Timur, tari komunal yang dimainkan penari tunggal. Tari dipertunjuk kan pada hari kedua Hari Raya Idul Fitri. Tarian gandrung (sejenis ronggeng) sekarang, dianggap tumbuh dari tarian ini.

Gbr. 2.10: Tari badenda dari Buton, Sulawesi Tenggara, kini biasa dipertunjukkan sebagai tari perempuan yang berpasangan. Gbr. 2.11: Penyanyi dalam gambang

kromong, di daerah budaya Betawi, di pinggiran Jakarta, biasa juga menarikan tari berpasangan yang disebut cokek.

(12)

presi budayanya, tarian komunal yang tersebar di berbagai daerah, baik di Indonesia maupun di negara-negara lain, memiliki beberapa ciri yang khusus. Sebagai pegangan umum, berikut ini adalah ciri-ciri tarian komunal.

2.5.1 Diadakan Untuk Kepentingan Komunitas

Tujuan utama dari diadakannya tarian komunal adalah untuk memenuhi kebutuhan komunitas, baik dalam tatanan yang bersifat spiritual, sosial, maupun kultural, dan diadakan oleh warga ma syarakat setempat. Tarian ini pada umumnya merupakan perwujudan ekspresi rasa kebersamaan anggota komunitas dan orang luar di komunitas itu sendiri. Jadi, roh tari komunal adalah rasa kebersamaan yang bersifat kolektif.

Dalam pelaksanaannya, inisiatif pengadaan tari komunal mung-kin saja atas dasar kepentingan sebuah keluarga, atau kelompok kecil di masyarakat, seperti halnya yang terjadi dalam upacara kematian di Toraja, Batak, dan Bali. Di situ, fungsi tari menjadi suatu bagian tak terpisahkan dari ritualnya sendiri. Karena itu menari bukan hanya merupakan penampilan keindahan gerak dari pe nari-nya saja. Mungkin saja tu ju an tarian tersebut ada lah untuk meng-hin da ri ter ja dinya hal-hal yang tidak diingin kan terhadap kehidup an ma sya rakat. Namun demi kian mungkin juga tari merupakan bagian dari sistem kekeluar ga-an atau sistem kema-sya ra katan nya.

2.5.2 Melibatkan Sistem Sosial Yang Telah Ada

P e l a k s a n a a n tari komunal selalu melibatkan komponen-k o m p o n e n s o s i a l seperti para tetua adat

(13)

dan penghulu, tokoh agama (kyai, pendeta, pemangku), perangkat desa (kepala desa, ketua rukun kampung), seniman (penari, pemain musik) dan lain-lainnya yang telah lama terbangun di lingkungan masyarakat setempat. Keterlibatan dari komponen-komponen masyarakat ini sudah diatur sedemikian rupa sebagai suatu rangkaian mata rantai berdasarkan kebiasaan yang sudah disepakati bersama. Oleh sebab itu, ketidak hadiran salah satu komponen akan dapat menyebabkan tidak berfungsinya komponen-komponen sosial lainnya.

Dalam berbagai kegiatan komunal seperti ini, setiap komponen bergerak dan berfungsi secara otomatis tanpa harus dikomando. Setiap orang dari komponen-komponen di atas sudah mengetahui tugas dan kewajiban masing-masing dalam pelaksanaan suatu peristiwa komunal. Dalam kaitannya dengan pelaksanaan upacara kematian, pekerjaan mengurus mayat, pelaksanaan ritual termasuk pembuatan sesaji, mengadakan sajian tari untuk upacara, oleh warga masyarakat telah membagi tugas. Setiap orang melakukan kewajibannya sesuai dengan yang telah “ditetapkan” secara turun-temurun. Di beberapa desa masyarakat Sasak, di lereng Gunung Rinjani, Lombok, NTB, terdapat tradisi ngayu-ayu, di mana tarian

Tandang Mendet diper tunjuk kan. Pada upacara yang di ada kan

hanya 3 atau 4 tahun se kali itu, semua perang kat desa menari, baik kepala desa maupun pa mong desanya, terma suk penghulu, yakni

Gbr. 2.13: Tari tabot dari Bengkulu, seperti halnya tabuik di Sumatera Barat (lihat Bab 1), dimainkan pada upacara bulan Muharam.

(14)

pemimpin agama Islam.

2.5.3 Pengabdian Sosial dan Ling-kung an

Tatkala ikut ter-li bat dalam peristiwa komu nal semacam ini se tiap orang melihat par tisi pasi nya sebagai sebuah sumbangan atau pengabdian terhadap komu nitas sosial dan lingkungannya. Ketika waktunya telah tiba, w a r g a m a s y a r a k a t atau kelompok kecil yang te lah ditetapkan, secara sukarela menari bersama-sama warga masyarakat lainnya. Semuanya dilakukan atas dasar kesadaran

so sial dan sama sekali bukan untuk mendapatkan imbalan upah be-rupa uang, atau material lainnya. Kesadaran sosial seperti ini sering muncul karena setiap orang menyakini bahwa nantinya dirinya pun akan membutuhkan bantuan dari warga masyarakat lainnya.

Selain ciri-ciri di atas, yang secara mendasar membedakan tarian komu nal dengan tarian lainnya, masih ada ciri lain yang secara fisik biasanya terjadi terdapat pada tari ko munal. Unsur-unsur fisik yang dimaksud tentu saja ma sih mengacu kepada ketiga ciri di atas. Unsur-unsur tersebut adalah sebagai berikut.

2.5.4 Ditarikan oleh Satu atau Banyak Orang

(15)

tarian komunal melibatkan banyak orang, karena diadakan atas kebutuhan orang banyak, namun tidak berarti tari komunal selalu dilakukan secara beramai-ramai. Ada sejumlah tari komunal di negeri ini, dan juga di luar negeri, yang dimainkan oleh satu orang (selaku penari utama). Kendati pun ekspresi komunal sangat menonjol dalam tarian ini, sehingga muncul kesan bahwa tari ini bi-sa dilakukan oleh siapa bi-saja, pada beberapa tradisi tari komunal juga dibutuhkan profesionalisme. Tidak jarang, suatu pertunjukan tari komunal hanya bisa dilakukan oleh penari khusus atau profesional.

Bissu di Sulawesi Selatan, seblang Banyuwangi, topeng pajegan

di Bali, dan topeng Cirebon merupakan contoh-contohnya. Selain itu, dalam suatu peristiwa tari komunal, unsur pertunjukan juga

Gbr. 2.15: Pertunjukan liong, “naga” dari masyarakat Tionghoa, pada waktu hari besar keagamaan Imlek.

Gbr. 2.16: Suatu pertunjukan topeng di Afrika untuk upacara ritual di sungai.

(16)

sangat kuat. Karena itu keistimewaan seorang penari bisa muncul. Namun demikian, tujuan uta ma diadakannya tarian ini bukanlah untuk memuaskan penonton, melainkan sebagai kewajiban seseorang untuk berpartisipasi dalam suatu peristiwa bersama. Dengan kata lain, kehadiran penonton luar (pihak yang tidak terlibat dalam pertunjukan), tidak merupakan sya rat untuk terseleng gara-nya tarian ini.

Dalam pelaksanaannya, ada tarian yang dari sejak awal hingga akhir hanya dimainkan oleh seorang penari (yang menari ditengah-tengah kerumunan warga masyarakat), atau oleh sekelompok orang. Namun tarian yang pada waktu dimainkan oleh seorang penari kemudian diikuti oleh banyak orang. Tidak jarang pula sebuah tarian diawali dengan tarian bersama, namun kemudian berakhir dengan tarian tunggal.

Dalam upacara ritual theyam di India Selatan, yakni sebuah upacara pemanggilan dewa-dewa, dipertunjukkan beberapa tarian semalam suntuk yang umumnya bertopeng, sebagai gambaran dari dewa-dewa tersebut. Senimannya profesional (pekerjaan khusus), dan mereka pulalah yang memahami tempat-tempat dan waktu ke datangan dewa-dewanya. Menjelang pagi, dipertunjukkan tarian yang memakai busana dan perlengkapan tari yang berketinggian beberapa meter ting gi nya. Perlengkapan itu terbuat dari janur. Di sekeliling pinggangnya dipancangkan tong kat-tongkat dengan obor pada ujungnya. Obor itu itu dinyala kan sehingga membentuk jeruji-jeruji obor dengan lingkaran selebar 3 meteran. Sejumlah orang ikut membantu menyalakan obor atau men jaga kobaran api agar jangan sampai mencelakakan para penonton.

Di propinsi Iwate (Jepang) terdapat sebuah tarian berkelompok dengan gerak-gerak menjangan/rusa, yang dinamakan Shishi Odori (“tari kijang”). Tarian itu dilakukan secara massal oleh sekitar 20 orang laki-laki, mengenakan tata busana yang terdiri dari hiasan kepala berupa rambut, tanduk, dan topeng, yang menari sambil memukul gendang (yang dibawa oleh setiap orang penari seperti yang terjadi dalam marching band).

(17)

baik berpasangan maupun sendiri-sendiri. Namun tarian itu tetap membentuk semacam kesatuan suasana. Hal itu bisa terlihat misalnya pada tayuban, yang awalnya merupakan bentukan dari pasangan-pasang an ronggeng (penari perempuan) dan penari-tamu yang berasal dari penonton nya. Namun, keterbatasan jumlah

ronggeng biasanya tidak mem batasi bengkaknya jumlah penari

dari kalangan penonton yang kemudian merangsek masuk di area tari. Dalam acara pertunjukan jaipongan atau bajidoran di daerah Subang, Jawa Barat, misalnya, 10 penari jaipongan bisa disertai oleh puluhan atau bahkan ratusan penari lainnya, yang menari di halaman di depan panggung.

2.5.5 Dilaksanakan Secara Spontan atau Terencana

Tarian komunal bisa berupa tarian formal (tarian yang serius dengan struktur yang jelas) dan tarian informal (menari-nari dan

Gbr. 2.18: Tari topeng dalam acara ngarot (upacara muda-mudi) di Indramayu, Jawa Barat, tarian tunggal untuk kepentingan komunitas.

Gbr. 2.17: Tarian tunggal dari Simalungun tapi biasanya juga disertai oleh penari lainnya secara bersamaan. Tarian itu diiringi oleh seperangkat gendang sipitu-pitu.

(18)

sejenisnya yang tidak memiliki bentuk yang baku). Jenis-jenis tarian komunal dari kategori pertama, yang dapat disaksikan dalam ber bagai aktivitas ritual, sosial, dan kultural di masyarakat, pada umum nya memiliki pola-pola gerak, musik iringan, tata busana, dan tata penyajian yang relatif baku. Masyarakat umum biasanya dapat mengenali bukan saja jenis tarian yang bersangkutan melainkan juga dari asal wilayah budaya tarian tersebut berasal.

Tari joged bumbung Bali memiliki gerakan tari yang lincah dengan iringan musik bambu, tari janger dengan bersuasana ceria, tari rego dan pajoge yang bersuasana anggun dari Sula we si Tengah, atau tari alang suntiang penghulu yang bernuansa reli gius dari nagari Padang Laweh (Sumatera Barat), adalah be be ra pa contoh tari komunal yang formal karena telah memiliki bentuk yang pasti sehingga dimungkinkan untuk dilakukan secara berulang-ulang.

Tarian komunal dari jenis yang kedua pada umumnya muncul

(19)

secara spontan (mendadak) dalam suatu kejadian yang melibatkan orang banyak. Spontanitas bisa diartikan dalam dua pemahaman sekaligus, yaitu dari sisi proses keterlibatan seseorang dalam sebuah peristiwa tari dan dari sisi produk gerak tari yang dilakukan oleh masing-masing individu yang terlibat di dalamnya. Proses ini sering berkaitan dengan kebutuhan seseorang akan sebuah rujukan kolektif melalui sebuah peristiwa adat, yang tentunya merupakan sebuah kebutuhan yang sebelumnya bisa dilihat sebagai sebuah kewajiban. Produk gerak yang digunakan seringkali tidak memberikan tekanan pada persyaratan teknis yang mengarah pada nilai estetika yang berlaku setempat. Namun kalau seseorang akan terlibat dalam tari an komunal keagamaan, yang biasanya secara teknis ada homo-genitas bentuk gerak yang diungkapkannya, seseorang harus me-ngetahui motif-motif gerak yang digunakan. Namun apabila pelaku tari adalah seseorang dari luar kultur setempat, spontanitas yang muncul pasti akan berbeda dibandingkan dengan mereka yang hidup di dalam budaya yang bersangkutan. Kemunculan tari secara spontan seperti ini seringkali atas gagasan yang muncul secara tiba-tiba dari warga masyarakat yang ingin ikut berpartisipasi dalam peristiwa yang dibangun oleh komunitas masyarakat di luar diri mereka, sehingga yang muncul kemudian adalah produk gerak spontan dari warga masyarakat tersebut.

Tarian komunal yang muncul secara spontan, gerakan apa pun yang pada umumnya dilakukan secara berimprovisasi, bisa dimasukkan ke dalam tarian seperti ini dan sangat tergantung pada seseorang yang menjadi pusat perhatian, dan para pesertanya dapat menggunakan busana apa saja yang mereka miliki. Gerakan menari-nari para penonton sepak bola, gerakan memenari-nari-menari-nari para penonton

baseball di Amerika Serikat, gerakan menari para penonton konser

musik dangdut atau musik rock yang melibatkan ribuan orang adalah beberapa contoh dari tarian komunal kolosal yang informal (tidak memiliki bentuk yang pasti).

Di beberapa daerah ada pula tarian komunal yang muncul secara direncanakan atau dipersiapkan sebelumnya. Pemunculan yang direncanakan tidak selamanya latihan serius yang membutuhkan

(20)

waktu panjang. Namun sedikitnya pada peristiwa itu telah ada peristiwa terjadi komu ni kasi antarwarga masyarakat sehingga mereka yang ingin berpartisipasi dapat mempersiapkan diri. Hal ini bisa terjadi dalam pelaksanaan tarian komunal keagamaan yang biasa memiliki pola-pola gerak simbolik yang harus dilakukan.

Agar bisa ikut berpartisipasi, beberapa orang warga mungkin saja mempelajari beberapa gerak pokok dari tarian yang akan dilaku kan. Pemunculan semacam ini biasanya terjadi pada tarian yang terkait dengan peristiwa-peristiwa yang bersifat tahunan dengan kalender pelaksanaan yang sudah ditetapkan. Beberapa contoh dari tarian komunal yang muncul secara direncanakan adalah tari sodoran dari masyarakat suku Tengger, tari prajuritan keraton Yogyakarta dan Surakarta, tari rejang dan baris gede di Bali, dan tari Pajoge Mahardika di Sulawesi Tengah.

2.5.6 Menampilkan Rasa Solidaritas dan Keakraban

Suasana yang biasanya terlihat dalam peristiwa tari komunal adalah suasana kebersamaan dan keakraban, cenderung homogen, atau adanya ekspresi solidaritas sosial yang kental. Ketika menari

Gbr. 2.20: Seorang peserta arakan nyongkol (menjemput dan mengiring pengantin) di Lombok, yang menari secara spontan sendiri.

Gbr. 2.21: Menari gaya dangdutan dalam arak-arakan memeriahkan upacara laut. songkolan-lombok 2.tif

Joged-ark.tsm.bmp flores-helelarak.JPG Pajogek Bone-Wajo.JPG

(21)

Gbr. 2.22: Tarian yang diadakan terencana, teratur kelompoknya, tapi gerakan detailnya masing-masing dilakukan secara spontan (dari Watublapi, Flores).

Gbr. 2.23: Pajogek dari Bone-Wajo, Sulawesi Selatan, tari komunal yang lebih diatur untuk suatu pertunjukan.

bersama secara partisipatif, berbagai perbedaan latar belakang budaya, kelompok etnis, agama, atau status sosial tidak menjadi halangan. Semuanya seolah larut sedemikian rupa dalam suatu rasa kebersamaan yang baru. Jika dapat menari dengan perasaan yang tulus, setiap partisipan tidak lagi terhalang oleh perbedaan-perbedaan tersebut. Secara emosional, relasi para penari terajut dalam sebuah kesamaan suasana, baik karena interaksinya dalam bergerak, maupun dalam mengikuti irama musiknya. Dalam aktivitas menari seperti itu, pertunjukan pun menjadi sebuah ajang silaturahmi kelompok yang seringkali dapat menghilangkan ketegangan-ketegangan sosial.

(22)

Dalam kehidupan multikultural di kalangan masyarakat urban, persentuhan ekspresi kultural yang berbeda-beda ini sering kali juga penting. Tujuannya agar suatu saat bisa melakukan komunikasi bersama melalui bahasa kesenian yang tidak verbal. Pada salah sebuah festival di kota “segala bangsa” Los Angeles, Amerika, kelompok-kelompok etnis di seluruh wilayah kota menampilkan tarian dari tradisinya masing-masing. Dengan forum itu, rasa kebanggaan terhadap tradisi masing-masing bisa timbul, yang membuat warganya menjadi betah tinggal di kota itu, tapi sekaligus juga menumbuhkan kesadaran bahwa mereka berada dalam suatu lingkungan yang berdampingan dengan kelompok lainnya. Dengan demikian, peristiwa itu dianggap dapat menum buhkan rasa betah dan kebanggaan yang baru, bukan hanya pada budayanya sendiri melainkan juga pada kemampuan kebersamaan hidup dengan kelompok sosial atau budaya lain. Acara-acara seperti ini, kini banyak diadakan di berbagai kota, di banyak negara.

2.6 PARTISIPASI

Tari komunal adalah salah satu budaya tari yang lebih mengedepankan partisipasi masyarakat pendukung daripada kemampuan teknik menari mereka. Partisipasi masyarakat

Gbr. 2.24: Padekko, main musik yang kadang disertai tarian, dari Karampuang, Sinjai, Sulawesi Selatan. Agar keber samaan terjadi, masing-masing harus memahami tugasnya.

(23)

Gbr. 2.25: Ibu-ibu di Minangkabau, membawa makanan sajian dalam suatu upacara adat.

Gbr. 2.26: Tarian massal, perempuan dari masyarakat Tonga, Kepulauan Pasifik.

yang dimaksudkan di sini adalah keterlibatan warga masyarakat pendukung, baik langsung maupun tidak langsung dalam peristiwa tari yang tengah terjadi. Keterlibatan dari para partisipan (penonton dan pemain) inilah yang lebih dipentingkan ketimbang untuk menampilkan keterampilan menari yang akan menyenangkan penonton. Nilai partisipatif inilah yang kemudian menjadi salah satu indikator utama dalam menentukan apakah suatu tarian lebih

(24)

merupakan tari tontonan atau tari komunal.

Dalam tari komunal para partisipan bisa melibatkan dirinya secara penuh, baik dalam aktivitas kinetik (gerak fisik) maupun emosional. Walaupun yang menarikan hanya seorang atau sejumlah orang, setiap orang memiliki kedekatan emosional sehingga akan merasa ikut terwakili oleh mereka yang tampil. Jika ada kesempatan, para penonton pun dapat ikut menari.

2.7 ATURAN-ATURAN

Secara umum dapat dikatakan bahwa dalam tari komunal tidak ada aturan-aturan teknik yang bersifat baku dan mengikat yang harus diikuti oleh setiap partisipan. Aturan-aturan yang ada pada umumnya bersifat kebiasaan, baik yang menyangkut bentuk dan struktur tarian maupun yang berkaitan dengan teknis penampilan, seperti rias, busana, musik iringan, ataupun perlengkapan lainnya yang digunakan penari. Semuanya ini hampir selalu diberlakukan secara luwes, fleksibel, yang sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada. Namun demikian, tidak adanya aturan yang jelas itu sesungguhnya bukan sama sekali tidak ada aturan. Hanya saja, aturan itu tumbuh dan dipahami oleh setiap orang dari suatu kebiasaan berpartisipasi, dan bukan dari suatu pelajaran formal. Adanya suatu gaya atau ciri khas tarian dari suatu daerah, berarti di situ terdapat suatu norma atau aturan, sehingga jika seseorang menampilkan sesuatu yang aneh, berarti keluar dari aturan tersebut.

Norma atau aturan bermacam-macam tingkatannya. Dari yang tidak terkatakan sampai pada yang ketat sekali dirumuskan dalam tatakrama menarikannya. Seperti misalnya dalam beberapa tradisi (Jawa, Batak, Bugis, dan lain-lain) terdapat aturan bahwa penari perempuan tidak dibolehkan untuk diangkat melebihi bahu, atau gerakan kakinya tidak boleh berjingkrak-jingkrak. Dengan ini, jelaslah bahwa tari-menari, tidak hanya berkaitan dengan masalah estetika atau seni gerak saja, melainkan juga berhubungan dengan norma-norma sosial dalam adat masing-masing.

(25)

berasal dari tradisi kehidupan budaya seperti halnya di desa-desa. Heterogenitas masyarakat (dan nilainya) memungkinkan berkembangnya untuk kesepakatan sosial baru yang lebih bebas sehingga berbagai norma yang datang dari berbagai latar belakang budaya dan kelompok etnis dapat terwakili.

Dengan demikian, aturan, norma, atau nilai-nilai tarian pun bisa berubah-ubah sesuai dengan perkembangan sosial-budayanya. Pada zaman feodal dahulu, misalnya, tari tayub di Sunda, Jawa Barat, biasa dilakukan di pendopo kabupaten, dengan menghadirkan ronggeng. Kemudian, pada awal abad 20, tumbuh tradisi pelajaran tari tayub untuk kaum laki-lakinya yang lambat laun menjadi standar. Karena tradisi pelajaran itulah, muncullah yang disebut ibing keurseus, yang berarti “tarian pelajaran” yakni tarian yang dikursuskan. Karena gaya tarian ini banyak disenangi masyarakatnya, ibing keurseus ini kemudian berkembang menjadi tari tontonan, dengan tetap memakai kostum kebangsawanan Sunda masa lalu

Gbr. 2.27: Tarian berkelompok laki-laki dari Lapaha (Tonga, Kepulauan Pasifik) dalam suatu pacara penobatan pendeta: ada keteraturan, kebersamaan, tapi tidak seragam seluruhnya.

(26)

Gbr. 2.29: Dalam sebuah arak-arakan, tampak seolah tanpa aturan, tapi sesungguhnya, ada suatu norma bersama sehingga semua bisa berjalan tanpa ada kekacauan.

Gbr. 2.28: Gamat, tarian dan nyanyian dari Sumatera Barat, kesenian pengaruh Barat yang telah menjadi tradisi setempat, menumbuhkan gaya dan aturan baru.

(27)

Gbr. 2.30: Para mahasiswi universitas kesenian di Thailand sedang melatih organ tubuh mereka. Lengan ditekankan pada lutut dan jari-jarinya ditarik, agar dapat melengkung, berbentuk seperti tampak pada posisi tangan penari dan bentuk tangan dari wayang kulit Siam di sebelahnya.

(28)

RANGKUMAN BAB 2

1. Tari Komunal pada umumnya sangat terikat pada nilai budaya masyarakat setempat, baik dalam menentukan penari maupun tata cara penampilannya.

Berdasarkan hal ini tiap wilayah Nusantara bisa jadi memakai istilah yang tidak sama dalam menyebut kata tari, seperti: di Bali tari disebut dengan igel atau solah dan penarinya disebut pragina; (2) orang Bugis menyebutnya jaga’ (siaga), sere, jogek; (3) msyarakat Jawa menyebut tari: joged, taya, beksa, tandhak; dan banyak lagi istilah dari daerah lainnya.

2. Komunal adalah terdapatnya kesatuan hidup dari sekelompok orang pada suatu wilayah atau pada suatu areal profesi dan status. Adapun tari komunal adalah tari yang terdapat pada suatu daerah yang merupakan milik masyarakat setempat, walau untuk kebersamaan tari komunal tidak selalu ditarikan secara berkelompok. 3. Tari merupakan wadah (dan media) dalam menunjukkan

identitas budaya (gaya hidup) masyarakat dari sutau daerah (etnis).

4. Dari sekian banyak tari komunal yang tersebar di wilayah Nusantara, walau tidak memiliki bentuk yang sama, masih bisa dilihat ciri-ciri yang kurang lebih sama-sama dimiliki, yaitu: penyesuaian dengan kebutuhan masyarakat bersangkutan, walaupun tarian bisa dipertunjukkan oleh seorang penari saja maupun secara bersama-sama; bisa dilakukan hanya oleh seniman tertentu maupun atau anggota masyarakat umum.

Referensi

Dokumen terkait