• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II KAJIAN PUSTAKA"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

6 BAB II

KAJIAN PUSTAKA

2.1. Manajemen Polusi

Polusi yang diakibatkan oleh suatu perusahaan karena tidak adanya keterkaitan antar area dalam proses produksi yang baik. Hasil dari produksi tersebut adalam produk yang tidak baik, pelayanan yang di bawah rata-rata, dan efisiensi operasional yang rendah. Perusahaan yang efisien mempunyai sedikit atau tidak sama sekali sampah hasil produksi (waste). Mereka mengerti permintaan pelanggan dan mengerti fungsinya masing-masing. Operasi perusahaan yang buruk membuat pemborosan energi dan sumber daya. Mereka membuat pemborosan fisik dan psikologis. Perbedaan tingkatan, perbedaan fungsi dalam suatu organisasi seharusnya dalam satu tujuan untuk memberi produktivitas dan keuntungan dalam pengurangan polusi yang dihasilkan. Manajemen lingkungan dapat menyediakan cara yang efektif untuk mengukur efisiensi dari suatu organisasi atau kekurangannya (Das, 2009).

2.2. Desain untuk Lingkungan

Pendekatan dari manajemen lingkungan sudah dibuat, yaitu Desain untuk Lingkungan. Biasanya disebut juga desain hijau, desain yang mengacu pada lingkungan. dan desain daur ulang. Penekanan terhadap masalah lingkungan menjadi permintaan penting dalam proses desain dimulai tahun 1970-an. Namun pada tahun 1990-an, desain untuk lingkungan menjadi hal yang terpenting dalam komunitas desainer (Das, 2009).

Desain untuk lingkungan menyediakan nilai tambah dengan : 1. Pengurangan biaya produksi,

2. Pengurangan pemborosan,

3. Kepuasan pelanggan terhadap kelestarian lingkungan, 4. Pengurangan beban-beban peraturan,

(2)

7

6. Membuat budaya yang mengharapkan perubahan.

Gambar 2.1 Green Design Life Cycle (Das, 2009)

1. Pengurangan Biaya Produksi

Biaya dari bahan baku dan energi memberikan kontribusi yang sangat berarti dalam total biaya produksi. Desain untuk lingkungan mengurangi biaya produksi dengan :

• Pengurangan berat : meminimalkan jumlah penggunaan bahan baku dengan menghindari desain yang berlebihan,

• Pengurangan jumlah pemborosan akibat pembuangan bahan sisa,

• Pemilihan dari bahan baku yang dapat digunakan ulang berdasarkan data-data komersial (metal, engineering plastics),

(3)

8

• Menggunakan teknologi yang menggunakan energi rendah untuk operasional.

2. Pengurangan Pemborosan

Dalam desain untuk lingkungan pemborosan bukan untuk dibuang, namun sebagai sumber daya yang belum digunakan. Ada 2 pendekatan untuk pengurangan pemborosan :

• Mengurangi sumber : gunakan proses terbaru yang dapat mengurangi pemborosan,

• Rubah pemborosan menjadi produk yang mempunyai nilai. 3. Kepuasan Pelanggan terhadap Kelestarian Lingkungan

Peningkatan pelanggan yang bertanya mengenai produk dan pelayanan yang tidak memproduksi produk atau pemborosan. Penyebab dari hal tersebut karena banyak pelanggan, pribadi maupun komersial, berhadapan dengan biaya dan tanggung jawab untuk menangani dan kemudian membersihkan sumber-sumber polusi. Karena tempat pembuangan berkurang, setiap perusahaan harus membuat produk yang lebih ramah lingkungan dan bersih, jika ingin tetap menjalankan bisnisnya. 4. Pengurangan Beban-Beban Peraturan

Pemakaian energi yang tinggi tanpa adanya peraturan, peningkatan secara signifikan dalam penggunaan kendaraan pribadi dan angkutan masal, penebangan hutan secara sporadis, pemanasan global telah menurunkan secara drastis tingkat kualitas dari lingkungan kita. Banyak negara secara tegas mengharuskan adanya sistem manajemen lingkungan seperti ISO 14000.

5. Sumber Baru dari Pendapatan dan Keuntungan

Desain untuk lingkungan memberikan pondasi yang baik untuk mengubah limbah menjadi produk yang lebih bernilai.

6. Menciptakan Budaya yang Mengharapkan Perubahan

Desain untuk lingkungan mendorong orang untuk memikirkan kembali sikap manusia terhadap lingkungannya. Kedua alasan paling signifikan bagi perubahan ini adalah biaya dan pelanggan (Das, 2009).

(4)

9 2.3. Polietilena (PE)

Polietilena dibuat dengan jalan polimerisasi gas etilen, yang dapat diperoleh dengan memberi hydrogen gas pertolium pada pemecahan minyak (nafta), gas alam atau asetilen. Polimerisasi etilen ditunjukan pada reaksi di bawah ini (Surdia, Saito, 1995).

Gambar 2.2 Polimerisasi Polietilena (Surdia, 1995)

Polietilena adalah bahan termoplastik yang transparan, berwarna putih, mempunyai titik leleh bervarisasi antara 1100C – 1370C. Umumnya polietilena bersifat resisten terhadap zat kimia. Pada suhu kamar polietilena tidak larut dalam pelarut organik dan anorganik. Polietilena dapat teroksidasi di udara pada temperatur tinggi dengan sinar ultraviolet. Struktur rantai polietilena dapat berupa linier, bercabang atau berikatan silang (Billmeyer, 1984).

Secara kimia, polietilena sangat lembab. Polimer ini tidak larut dalam pelarut apapun pada suhu kamar, tetapi mengembung oleh hidrokarbon dan tetraklorometana (karbon tetra klorida). Polietilena tahan terhadap asam dan basa, tetapi dapat dirusak oleh asam nitrat pekat. Polietilena tidak tahan terhadap cahaya dan oksigen (Cowd, 1991).

Jenis polietilena yang banyak digunakan adalah LDPE (Low Density Polyethylena) yang mempunyai rantai cabang dan HDPE (High Density Polyethylena) yang tidak mempunyai cabang tetapi merupakan rantai utama yang lurus. LDPE bersifat lentur, ketahan listrik yang baik, kedap air, lebih lunak dari HDPE, sifat absorbsi dan tembus cahaya kurang baik. HDPE memiliki kecenderungan tidak tahan terhadap perubahan cahaya sehingga mudah berubah warna oleh pengaruh cahaya matahari.

(5)

10 2.3.1 Sifat-Sifat Fisika dan Mekanik Polietilena

Tabel 2.1 Sifat Fisik dan Mekanik polietilena (Surdia, 1995)

Sifat fisik dan mekanik

LDPE rantai cabang HDPE Berat jenis (gr/cm3) 0,91 – 0,94 0,95 – 0,97 Titik leleh (0C) 105 – 115 135 Kekerasan 44 – 48 55 – 70 Kapasitas panas (kj kg-1 K-1) 1,916 1,916 Regangan (%) 150 – 600 12 – 700 Tegangan tarik (N mm-2) 15,2 – 78,6 17,9 – 33,1 Modulus tarik (N mm-2) 55,1 – 172 413 – 1034 Tegangan impak >16 0,8 – 14 Konstanta dielektrik 2,28 2,32 Resitivitas (Ohm cm) 6 x 1015 6 x 105

2.4 Ekstrusi Bahan Termoplastik

Proses ektrusi bahan termoplastik mempunyai prinsip yang hampir sama untuk ekstrusi logam, hanya saja dalam mengekstrusi bahan polimer tidak lagi menggunakan ram seperti halnya ekstrusi logam, tetapi menggunakan sebuah screw.

Bahan baku yang digunakan dalam proses ekstrusi termoplastik ini juga berbeda dengan ekstrusi bahan logam. Jika pada ekstrusi logam bahan baku yang dimasukkan dalam

bentuk batangan, plat ataupun lembaran. Pada ekstrusi polimer bahan baku yang digunakan adalah dalam bentuk bijih plastik (pellet).

Hasil produk dari proses ekstrusi termoplastik juga beraneka ragam, seperti halnya pada ekstrusi logam. Tetapi salah satu bentuk produk yang paling mutakhir adalah hasil produk yang berbentuk kain (sheet) atau bentuk film. Dan hasil keluaran dari mesin ekstrusi ini

(6)

11

dapat diolah menjadi berbagai kegunaan lain seperti kantongan ataupun benang yang digunakan untuk menganyam karung beras.

2.5 Metodologi Six Sigma

Struktur Six Sigma terdiri dari lima tahapan yang disingkat DMAIC: Define, Analyze,

Improve, Control. Selain itu, kesuksesan implementasi Six Sigma ditentukan oleh

kehadiran seorang (atau lebih) fasilitator yang memahami manajemen dan penggunaan statistik; fasilitator ini disebut dengan Black Belt. Namun yang terpenting di atas semua itu adalah team pelaksana, yang sebaiknya terdiri dari anggota yang berasal dari berbagai tim/departemen yang saling terkait (cross-functional team).

Setiap tahap, mempunyai bagian-bagian yang mesti dilaksanakan ataupun mempunyai jenis-jenis konsep statistik yang bisa dipakai, walaupun sebenarnya untuk penggunaan statistik bisa cukup fleksibel.

Implementasi dari Six Sigma meliputi 5 aktivitas, yaitu define (D), measure (M) analyze (A), improve (I), control (C) atau lebih dikenal dengan DMAIC.

1) Define (D)

Menentukan masalah (define) merupakan langkah operasional pertama dalam program peningkatan kualitas Six Sigma. Dalam tahap ini perlu didefinisikan beberapa hal terkait dengan kriteria pemilihan proyek Six Sigma, peran dan tanggung jawab dari orang-orang yang akan terlibat dalam program Six Sigma, kebutuhan pelatihan untuk orang-orang yang terlibat dalam proyek Six Sigma, proses-proses kunci dalam proyek Six Sigma beserta pelanggannya, kebutuhan spesifik dari pelanggan, dan pernyataan tujuan proyek Six Sigma. Jadi, inti dari tahap ini adalah mengidentifikasi masalah dan tujuan proyek Six Sigma.

Pada tahap define ada 2 hal yang perlu dilakukan yaitu:

1. Mendefinisikan proses inti perusahan, Proses inti adalah suatu rantai tugas, biasanya mencakup berbagai departemen atau fungsi yang mengirimkan nilai (produk, jasa,

(7)

12

dukungan, informasi) kepada para pelanggan eksternal. Dalam hal pemilihan tema Six Sigma pertama-tama yang dilakukan adalah mempertimbangkan dan menjelaskan tujuan dari suatu proses inti yang akan dievaluasi. (Peter S. Pende, 2000).

2. Mendefinisikan kebutuhan spesifik kebutuhan pelanggan, Langkah selanjutnya adalah mengidentifikasi pemain paling penting didalam semua proses, yakni pelanggan, pelanggan bisa internal maupun eksternal adalah tugas Black Belt dan tim untuk menentukan dengan baik apa yang diinginkan pelanggan eksternal. Pekerjaan ini membuat suara pelanggan (voice to customer - VOC) menjadi hal yang menantang. Dalam hal mendefinisikan kebutuhan spesifik dari pelanggan adalah memahami dan membedakan diantara dua kategori persyaratan kritis, yaitu persyaratan output dan persyartan pelayanan. (Peter S. Pende, 2000)

2) Measure (M)

Mengukur (measure) merupakan langkah operasional kedua dalam program peningkatan kualitas Six Sigma. pada tahap ini, terdapat tiga hal pokok yang harus dilakukan memilih atau menetukan karakteristik kualitas (CTQ) kunci yang berhubungan langsung dengan kebutuhan spesifik dari pelanggan. Dalam langkah yang kedua dalam tahapan operasional pada program peningkatan kualitas Six Sigma terdapat 3 hal pokok yang dilakukan yaitu: (Vincent Gaspersz, 2002: 72-198)

a. Menentukan karakteristik kualitas kunci, CTQ ditetapkan berhubungan langsung dengan kebutuhan spesifik pelanggan yang diturunkan secara langsung dari persyaratan - persayaratan output dan pelayanan. karakteristik kualitas sama dengan jumlah kesempatan penyebab cacat (opportunities to failure). (Breyfogle III, Forest W, 1999: 140).

b. Mengembangkan rencana pengumpulan data, Pada dasarnya pengukuran karakteristik kualitas dapat dilakukan pada tiga tingkat, yaitu:

• Rencana pengukuran tingkat proses, adalah mengukur setiap langkah atau aktivitas dalam proses dan karakteristik kualitas input yang diserahkan oleh pemasok yang mengendalikan dan mempengaruhi karaktersitik kualitas output yang diinginkan.

(8)

13

Tujuan dari pengukuran ini adalah mengidentifikasi setiap perilaku yang mengatur setiap langkah dalam proses.

• Pengukuran tingkat output, mengukur karakteristik kualitas output yang dihasilkan suatu proses dibandingkan dengan karakteristik kualitas yang diinginkan pelanggan.

• Rencana pengukuran tingkat outcome, mengukur bagaimana baiknya suatu produk atau jasa itu memenuhi kebutuhan spessifik dari pelanggan. Jadi pada tingkat ini adalah mengukur kepuasan pelanggan dalam menggunakan produk dan/atau jasa yang diserahkan kepada pelanggan. (Vincent Gaspersz, 2002: 96).

c) Pengukuran baseline kinerja, Peningkatan kualitas six sigma yang telah ditetapkan akan berfokus pada upaya-upaya yang giat dalam peningkatan kualitas menuju kegagalan nol (zero defects) sehingga memberikan kepuasan total kepada pelanggan. Maka sebelum peningkatan kualitas six sigma dimulai, kita harus mengetahui tingkat kinerja sekarang atau dalam terminologi Six Sigma disebut sebagai baseline kinerja. Setelah mengetahui baseline kinerja maka kemajuan peningkatan-peningkatan yang dicapai dapat diukur sepanjang masa berlaku Six Sigma:

• Pengukuran baseline kinerja pada tingkat proses, biasanya dilakukan apabila itu terdiri dari beberapa sub proses. Pengukuran kinerja pada tingkat proses akan memberikan bagian secara jelas dan konprehensif tentang segala sesuatu yang terjadi dalam sub proses itu.

• Pengukuran baseline kinerja pada tingkat output, dilakukan secara langsung pada produk akhir yang akan diserahkan pada pelanggan. Pengukuran dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana output akhir dari proses itu untuk memenuhi kebutuhan spesifik dari pelanggan, sebelum produk itu diserahkan pada pelanggan. • Pengukuran baseline kinerja pada tingkat outcome, dilakukan secara langsung pada

pelanggan yang menerima output (produk dan jasa) dari suatu proses. Ukuran hasil baseline kinerja yang digunakan dalam Six Sigma adalah tingkat DPMO (Defects Per Millions Oppurtunities) dan pencapaian tingkat sigma. (Vincent Gaspersz, 2002 : 99.)

(9)

14

3) Analyze (A)

Menganalisa (analyze) merupakan langkah operasional ketiga dalam program peningkatan kualitas Six Sigma. Pada tahap ini perlu dilakukan bebrapa hal berikut menentukan stabilitas dan kapabilitas/kemampuan dari proses, menetapkan target-target kinerja dari karakteristik kualitas kunci (CTQ) yang akan ditingkatkan dalam proyek Six Sigma, mengidentifikasi sumber-sumber dan akar penyebab kecacatan atau kegagalan, dan mengkonversikan banyak kegagalan ke dalam biaya kegagalan kualitas. Jadi, langkah analyze digunakan untuk menemukan “akar masalah”.

4) Improve (I)

Memperbaiki (improve) merupakan langkah operasional keempat dalam program peningkatan kualitas Six Sigma. Setelah diketahui sumber-sumber dan akar penyebab dari masalah kualitas, maka perlu dilakukan penetapan rencana tindakan (action plans). Rencana-rencana tindakan akan mendeskripsikan tentang alokasi sumber-sumber daya serta prioritas dan atau alternatif yang dilakukan dalam implementasi rencana tersebut. Jadi, pada tahap ini akan diputuskan apa yang harus dicapai (berkaitan dengan target yang ditetapkan), alasan kegunaan (mengapa) rencana tindakan itu harus dilakukan, dimana rencana tindakan itu akan diterapkan atau dilakukan, siapa yang akan menjadi penanggung jawab dari rencana tindakan tersebut, bagaimana melaksanakan rencana tindakan itu, dan berapa besar biaya untuk melaksanakan rencana tindakan itu serta manfaat positif yang diterapkan dari implementasi rencana tindakan itu. Metode 5W-2H dapat digunakan pada tahap ini.

5) Control (C)

Kontrol (control) merupakan langkah operasional terakhir dalam proyek peningkatan kualitas Six Sigma. Pada tahap ini hasil-hasil peningkatan kualitas didokumentasikan dan disebarluaskan, praktek-praktek terbaik yang sukses dalam peningkatan proses distandarisasikan dan dijadikan pedoman kerja standar, serta kepemilikan atau tanggung jawab ditransfer dari tim Six Sigma pada pemilik atau penanggung jawab proses. Tujuan

(10)

15

dari tahap ini adalah untuk meyakinkan bahwa modified process sekarang memampukan kunci variabel untuk tetap berada dalam range penerimaan yang telah ditetapkan.

2.6 Rancangan Percobaan

Analisis ragam adalah suatu metode untuk menguraikan keragaman total data menjadi komponen-komponen yang mengukur berbagai sumber keragaman. Dalam suatu percobaan, tiga type jenis kertas cetak yang berbeda digunakan untuk mencetak sebuah brosur dengan menggunakan satu buah mesin cetak jenis Heidelberg. Mesin cetak tersebut dijalankan dengan kecepatan yang sama dalam waktu 30 menit. Kita ingin menguji hipotesis nol bahwa ketiga type jenis kertas tersebut secara rata-rata memberikan jumlah hasil cetak yang sama. Untuk menguji apakah dua diantara ketiga type jenis kertas tersebut memberikan hasil yang berbeda nyata.

Dalam percobaan tersebut kita memperoleh dua komponen, yang pertama mengukur keragaman yang disebabkan oleh galat percobaan dan yang kedua mengukur keragaman yang disebabkan oleh galat percobaan plus keragaman yang disebabkan oleh perbedaan type jenis kertas. Bila hipotesis nol benar, sehingga ketiga type jenis kertas itu memberikan hasil yang secara rata-rata sama, maka kedua komponen itu masing-masing memberikan nilai dugaan bagi galat percobaan. Dengan demikian kita mendasarkan uji kita pada perbandingan kedua komponen tersebut dengan menggunakan sebaran F.

Teknik analisis ragam digunakan sebagai suatu proses penguraian keragaman total data percobaan ke dalam beberapa komponen yang mengukur sumber-sumber keragaman data tersebut. Penerapan langkah itu bergantung pada rancangan percobaan yang yang digunakan untuk membangkitkan data itu. Dalam kebanyakan hal ilmuwan atau statistikawan memecahkan masalah yang dihadapi dengan merencanakan percobaannya sesuai dengan rancangan-rancangan yang ada.

Yang paling sederhana di antara semua rancangan percobaan adalah rancangan acak lengkap. Rancangan ini dicirikan dengan memberikan perlakuan secara acak pada seluruh bahan percobaan atau apabila semua faktor yang mempengaruhi konsumen sudah

(11)

16

terpenuhi. Bila perlakuannya berupa tiga type jenis kertas cetak yang berbeda yang dicetak pada mesin jenis yang sama dalam waktu selama 30 menit, maka rancangannya dikatakan diacak secara lengkap atau sempurna.

Bila kita mempuyai k populasi. Dari masing-masing populasi diambil contoh berukuran n, misalkan pula bahwa k populasi itu bebas dan menyebar normal dengan nilai tengah µ1, µ2, ………..,µ3 dan ragam sama σ2. Kita ingin memperoleh cara dengan pengujian hipotesis.

H0 : µ1 = µ2 = µ3

H1 : sekurang-kurangnya dua nilai tengah tidak sama.

Misalkan Xij adalah pengamatan ke-j dari populasi ke-i dan susunlah datanya seperti dalam tabel berikut ini :

Tabel 2.2 Tabel k Contoh Acak Populasi 1 2 … i … k X11 X12 .. . . X1n X21 X22 . .. . X2n …. …. …. …. …. …. Xi1 Xi2 . . . Xin …. …. …. …. …. …. Xk1 Xk2 . . . Xkn Total Nilai Tengah T1• • 1 X T2• • 2 X ….. ….. Ti• • i X ….. ….. Tk• • k X T•• • • X

(12)

17

Disini Ti. adalah total semua pengamatan dalam contoh dari populasi ke-i, Xi. Adalah rata-rata semua pengamatan dalam contoh dari populasi ke-i, T.. adalah total semua nk pengamatan, dan X.. adalah rata-rata semua nk pengamatan. Setiap pengamaan dapat ditulis dalam bentuk

Xij = µi + εij’

Yang dalam hal ini εij’ adalah simpangan pengamatan ke-j dalam contoh ke-i dari nilai tengah populasi ke-i. Bentuk lain yang lebih disukai bagi persamaan ini diperolah dengan mendistribusikan µi = µ + σi, sedangkan µ. Adalah nilai tengah semua µi.; artinya

k k i i

= = 1

µ

µ

oleh karena itu kita dapat menuliskan

' ij i ij

x =µ+α +∈

dengan ketentuan bahwa

= = = − = k i k i i 1 1 0 ) (µ µ α

sudah menjadi kebiasaan untuk menyebut αi sebagai pengaruh populasi ke-I

Hipotesis nol bahwa semua nilai tengah populasi itu sama lawan alternatifnya bahwa sekurang-kurangnya dua nilai tengah tidak sama, juga dapat dinyatakan oleh hipotesis berikut setara

H0 : α1 = α2 = ……….= αk = 0

(13)

18

Uji kita akan didasarkan pada perbandingan dua nilai dugaan yang bebas bagi ragam populasi σ2. Niai dugaan itu dapat diperoleh dengan cara menguraikan keragaman total menjadi dua komponen.

Ragam semua pengamatan bila semua pengamatan itu tidak dikelompok-kelompokkan diberikan oleh rumus

1 ..) ( 1 1 2 2 − − =

∑∑

= = nk x x s k i n j ij

penjumlahan itu berarti bahwa kita menjumlahkan semua kemungkinan suku, dan ini akan diperoleh dengan mengambil i dan j dari 1 sampai k untuk setiap nilai j dari 1 sampai n. pembilang S2 itu, yang disebut jumlah kuadrat total, mengukur keragaman total dalam data kita. Keragaman total itu dapat diuraikan melalui identitas berikut.

akan lebih memudahkan bagi uraian selanjutnya bila suku-suku jumlah kuadrat itu diberi notasi berikut:

JKT = jumlah kuadrat total,

JKK = = jumlah kuadrat untuk nilai tengah kolom,

JKG = = jumlah kuadrat galat

∑ ∑

∑ ∑

= = = = = − + − = − k i n j ij k i n j k i i ij x n x x x x x 1 1 2 1 1 1 2 . 2 . .) ( ..) ( ..) (

∑ ∑

= = = − k i n j ij x x 1 1 2 ..) (

= • • •− k i i x x n 1 2 ) (

= • − k i i ij x x n 1 2 ) (

(14)

19

Dengan demikian, identitas jumlah kuadrat itu dapat dilambangkan melakukan persamaan

JKT = JKK + JKG

2.7 Uji t Berpasangan (Paired t Test)

Uji t berpasangan (Paired-Samples t Test) digunakan untuk membandingkan selisih dua purata (mean) dari dua sampel yang berpasangan dengan asumsi data terdistribusi normal.

Ada tiga bentuk hipotesis untuk uji-t dimana penggunaannya tergantung dari persoalan yang akan diuji :

1. Bentuk uji hipotesis satu sisi (one-sided atau one-tailed test) untuk sisi bawah (lower tailed) dengan hipotesis :

H0 : µ1 ≥µ2 atau H0 : µD ≥0 H1 : µ1 <µ2 atau H1 : µD <0 di mana µD = µ1 -µ2

2. Bentuk uji hipotesis satu sisi (one-sided atau one-tailed test) untuk sisi atas (upper tailed) dengan hipotesis :

H0 : µ1 ≤ µ2 atau H0 : µD ≤0 H1 : µ1 > µ2 atau H1 : µD >0 di mana µD = µ1 - µ2

3. Bentuk uji hipotesis dua sisi (two-sided atau two-tailed test) dengan hipotesis : H0 : µ1 = µ2 atau H0 : µD =0

H1 : µ1 ≠ µ2 atau H1 : µD ≠0 di mana µD = µ1 - µ2

(15)

20 2.8 Kekuatan Mekanik

Kekuatan tarik (σ t) adalah salah satu sifat dasar dari bahan polimer yang terpenting dan sering digunakan untuk karakteristik suatu bahan polimer. Kekuatan tarik suatu bahan didefinisikan sebagai besarnya beban maksimum (Fmaks.) yang digunakan untuk memutuskan specimen bahan dibagi luas penampang awal (Ao).

Tes kekuatan mekanik merupakan metode yang sering digunakan untuk mengetahui karakter kekuatan material. Alat uji yang digunakan seperti gambar 2.3, yang terdiri dari satu batang tetap dan satu batang bergerak dengan penjepitnya masing-masing.

Gambar 2.3 Alat Uji Kekuatan Mekanik Plastik (Mark, 2006)

Sampel uji untuk tes kekuatan mekanik bisa berbentuk dumbbell atau persegi panjang, seperti diperlihatkan pada gambar 2.4.

Gambar 2.4 Sampel Uji Kekuatan Mekanik (Mark, 2006)

Bila suatu bahan dikenakan beban tarik yang disebut tegangan (gaya per satuan luas), maka bahan akan mengalami perpanjangan (regangan). Kurva tegangan terhadap regangan merupakan gambaran karakteristik dari sifat mekanik suatu bahan. Disamping kekuatan

(16)

21

tarik, sifat mekanik bahan juga diamati dari sifat kemulurannya (ε). Hal ini dapat terlihat pada gambart 2.5.

Gambar

Gambar 2.1 Green Design Life Cycle (Das, 2009)
Gambar 2.2 Polimerisasi Polietilena (Surdia, 1995)
Tabel 2.1 Sifat Fisik dan Mekanik polietilena (Surdia, 1995)
Tabel 2.2 Tabel k Contoh Acak
+3

Referensi

Dokumen terkait

Efesiensi kolektor meningkat dengan adanya modifikasi jarak antar pipa riser yang lebih rapat, jenis material absorber yang memiliki konduktivitas termal yang tinggi, susunan

Hasil Data Training Backpropagation Proses training backpropagation menggunakan 3 sampel pola data yang mencirikan masing-masing tingkat kematangan buah tomat (3 sampel data

Hasil hafalan diperoleh 4-5 halaman dalam waktu 12 jam dalam satu bulan kemampuan menghafal Al-Quran peserta didik SMP Baitul Quran Sragen dengan menggunakan media

“Like and dislike” ini. Suara yang digunakan berupa perekaman suara secara live dan secara dubbing. Perekaman suara secara live yaitu pengambilan gambar dengan suara jadi

Setelah dilakukan pengolahan pada setiap line yang ada, didapatkan letak cracks yang diindikasikan dengan penampang resistivitas yang rendah yang terakumulasi pada

Ini terjadi dimungkinkan karena pemulihan dan pertumbuhan gulma golongan rumput, lebih cepat dibandingkan dengan jenis gulma yang lain, dan pengambilan bobot kering

Setelah reformasi pelaksanaan kemandiriasn, independensi hakim perlu diawasi oleh lembaga eksternal sesuai dengan Undang-undang Nomor 18 Tahun 2011 bahwa

(2) Melakukan analisa terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku dan sumber hukum lain baik secara vertikal maupun secara horizontal, serta hubungan satu dengan lainnya