• Tidak ada hasil yang ditemukan

ETIKA GURU DAN MURID PERSPEKTIF IBN JAMA’AH DALAM KITAB TADZKIRAH AL-SAMI’ WA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "ETIKA GURU DAN MURID PERSPEKTIF IBN JAMA’AH DALAM KITAB TADZKIRAH AL-SAMI’ WA"

Copied!
103
0
0

Teks penuh

(1)

i

ETIKA GURU DAN MURID PERSPEKTIF IBN

JAMA’AH DALAM KITAB

TADZKIRAH AL-

SAMI’ WA

AL-MUTAKALLIM FI ADAB AL-

‘ALIM WA AL

-MUTA’ALLIM

SKRIPSI

Diajukan untuk Memperoleh Gelar

Sarjana Pendidikan

Oleh:

MUHAMMAD KHOIRUR ROIN

NIM: 111-12-190

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) SALATIGA

(2)
(3)
(4)
(5)

v

MOTTO





















“Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga

mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri”.

(6)

vi

PERSEMBAHAN

Dengan ketulusan hati, Skripsi ini penulis persembahkan

untuk:

1. Bapak dan Ibu tercinta (Sugiman dan Saniati) yang

senantiasa membanting tulang dan berdoa untuk

keberhasilanku dalam menuntut ilmu.

2. Adekku Saiful dan Anzili yang selalu aku sayangi dan

banggakan.

3. Semua bapak dan ibu guru yang sudah mendidik dan

membimbingku, semoga ilmu yang kalian berikan

bermanfaat dan barokah.

4. Lek Tun, Lek Kipah, Lek Dah, Lek ER, dan Lek Eni yang

selalu mendukung segala apapun yang menjadi

keinginan penulis.

5. Pak Nardi dan Bu Warsini yang telah menjadi orang

tua keduaku di Salatiga.

6. Lek taufiq, Kang Zuhal, dan Kang Saipul yang sudah

(7)

vii

7. Teman-teman Voliner, BCC, IKAMARU Salatiga,

Hijayat, Mu’thon, Hubab, Syafi’an dan lainnya yang

membuat hidupku lebih bermakna, sukses buat kalian

semua.

8. Dek Eni yang sudah menyemangtiku dan selalu aku

(8)

viii

KATA PENGANTAR

ميحرلا همحرلا الله مطب

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang senantiasa melimpahkan rahmat, taufiq dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini. Shalawat dan salam penulis haturkan kepada

junjungan kita Nabi Agung Muhammad SAW yang kita nantikan syafa‟atnya di

hari akhir.

Skripsi berjudul “ETIKA GURU DAN MURID PERSPEKTIF IBN

JAMA’AH DALAM KITAB TADZKIRAH AL-SAMI’ WA AL

-MUTAKALLIM FI ADAB AL-‘ALIM WA AL-MUTA’ALLIM diajukan

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd.).

Selesainya penyusunan skripsi ini tak terlepas dari bantuan berbagai pihak. Untuk itu penulis mengucapkan terimakasih kepada:

1. Bapak Dr. Rahmat Hariyadi, M. Pd., selaku Rektor IAIN Salatiga.

2. Bapak Suwardi, M. Pd., selaku Dekan FTIK.

3. Ibu Siti Rukhayati, M. Ag. selaku Ketua Jurusan PAI.

4. Bapak Sutrisna, S.Ag., M.Pd., selaku Dosen Pembimbing Akademik.

5. Bapak H. M.Farid Abdullah, S.Pd.I., M.Hum., selaku Dosen

(9)

ix

6. Bapak Sugiman dan Ibu Saniati selaku orang tuaku, yang senantiasa mendukung dan mendoakanku.

7. Teman-teman PAI Angkatan 2012.

Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini jauh dari kata sempurna. Segala bentuk saran dan kritik akan penulis terima dengan lapang dada agar kedepannya lebih baik lagi.

Akhir kata kesempurnaan hanya milik Allah dan manusialah tempatnya kesalahan itu. Semoga usaha penyusunan skripsi ini dimasukkan-Nya sebagai upaya dalam berjihad dijalan-Nya. Amin

Salatiga, 13 Juli 2016

(10)

x

ABSTRAK

Roin, Muhammad Khoirur. 2016. Etika Guru dan Murid Perspektif Ibn Jama‟ah

dalam Kitab Tadzkirah al Sami‟ wa al Mutakallim fi Adab al „Alim wa al

Muta‟allim. Skripsi. Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan. Jurusan Pendidikan Agama Islam. Institut Agama Islam Negeri Salatiga. Pembimbing: H. M. Farid Abdullah, S.Pd.I., M.Hum.

Kata Kunci: Etika guru, murid, Ibn Jamaah

Penelitian ini membahas tentang etika guru dan murid perspektif Ibn

Jama‟ah yang tertuang dalam salah satu karyanya yaitu kitab Tadzkirah al Sami‟

wa al Mutakallim fi Adab al „Alim wa al Muta‟allim. Pertanyaan yang ingin dijawab melalui penelitian ini sebagai berikut: (1) Bagaimana etika guru dan

murid perspektif Ibn Jama‟ah dalam kitab Tadzkirah al Sami‟ wa al Mutakallim fi

Adab al „Alim wa al Muta‟allim?, (2) Bagaimana relevansi etika guru dan murid

perspektif Ibn Jama‟ah dalam Kitab Tadzkirah al-Sami‟ wal Mutakallim fi Adab

al-„Alim wal Muta‟allim dikaitkan dengan konteks kekinian?

Skripsi ini merupakan penelitian studi kepustakaan atau library research. Seluruh data baik dari data primer dan data sekunder diperoleh dengan menggunakan metode dokumentasi. Setelah data terkumpul, selanjutnya dilakukan analisis. Metode yang digunakan untuk menganalisis data adalah dengan analisis isi atau content analysis.

Kesimpulan yang diperoleh dari hasil penelitian ini adalah Pertama, bahwa seorang guru dan murid hendaknya dalam mengajarkan maupun menuntut ilmu harus ikhlas karena Allah SWT, bersikap wara‟, senantiasa sabar, saling

menyayangi, saling menghormati dan menghargai, tawadlu‟, zuhud, qana‟ah,

(11)

xi

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERSETUJUAN ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

HALAMAN PERNYATAAN ... iv

HALAMAN MOTTO ... v

HALAMAN PERSEMBAHAN ... vi

KATA PENGANTAR ... viii

ABSTRAK ... x

DAFTAR ISI ... xi

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Rumusan Masalah ... 4

C. Tujuan Penelitian ... 4

D. Manfaat Penelitian ... 4

E. Metode Penelitian... 5

F. Penegasan Istilah ... 7

G. Sistematika Penulisan ... 9

BAB II BIOGRAFI IBN JAMA’AH ... 11

A. Kelahiran ... 11

B. Pendidikan dan Guru-gurunya ... 11

C. Murid-muridnya ... 13

(12)

xii

E. Kondisi Sosial Keagamaan ... 15

F. Amal dan Perjuangan ... 17

G. Karya-karyanya. ... 20

H. Wafatnya . ... 22

I. Kitab Tadzkirah al-Sami‟ . ... 23

BAB III DESKRIPSI PEMIKIRAN IBN JAMA’AH TENTANG ETIKA GURU DAN MURID ... 26

A. Pengertian Etika Guru dan Murid ... 26

1. Pengertian Etika ... 26

2. Perspektif Islam tentang Guru dan Murid. ... 28

B. Etika Guru dan Murid Perspektif Ibn Jama‟ah ... 32

1. Etika Guru. ... 32

2. Etika Murid ... 45

BAB IV ANALISIS ETIKA GURU DAN MURID PERSPEKTIF IBN JAMA’AH DALAM KITAB TADZKIRAH AL-SAMI’ ... 57

A. Analisis Etika Guru dan Murid Perspektif Ibn Jama‟ah. ... 57

B. Relevansi Etika Guru dan Murid Perspektif Ibn Jama‟ah dalam Konteks Kekinian. ... 77

BAB V PENUTUP ... 85

A. Kesimpulan ... 85

B. Saran ... 86

(13)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Manusia adalah makhluk yang sempurna, diciptakan oleh Allah SWT dengan berbagai keistimewaan dibandingkan dengan makhluk lain. Akal merupakan salah satu keistimewaan yang dimiliki setiap manusia. Dengan akal manusia dapat memperoleh ilmu, membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Ilmu merupakan sarana bagi setiap insan untuk memperoleh ketenteraman hidup baik di dunia maupun di akhirat kelak. Sebagaimana

dikatakan oleh Imam Syafi‟i:

ٍُِِْؼٌبِث ِْٗ١ٍََؼَف َحَشِخَلأا َداَسَا ََِْٓٚ ٍُِِْؼٌبِث ِْٗ١ٍََؼَف بَ١ُّْٔذٌا َداَسَا َِْٓ

Artinya: “Barang siapa menginginkan dunia maka harus dengan ilmu,

barang siapa menginginkan akhirat juga dengan ilmu”. (Nawawi, 1980:30).

Islam menempatkan ilmu pada posisi yang amat penting, sehingga mencari ilmu hukumnya wajib. Mencari ilmu dalam Islam tak mengenal dimensi ruang dan waktu. Artinya di manapun dan kapanpun seseorang bisa belajar (Muchtar, 2008:13). Nabi bersabda:

ٍَػ ٌخَؼْ٠ِشَف ٍُِِْؼٌْا ُتٍََؽ

ٍٍُِْغُِ ًُِّو ٝ

Artinya: “Menuntut ilmu itu hukumnya wajib bagi setiap muslim”. (Al-Munziri, tt:3)

Dalam proses menuntut ilmu terjadi interaksi edukatif yang melibatkan guru maupun murid. Guru bertanggung jawab untuk mengembangkan seluruh

(14)

potensi muridnya, baik potensi afektif, kognitif, maupun psikomotorik sesuai dengan nilai-nilai ajaran Islam (Rasyidin dan Nizar, 2005:41). Untuk itu mengajar bukanlah hal sepele, perlu adanya persiapan yang matang sehingga proses belajar mengajar dapat berjalan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.

Etika dalam sebuah kegiatan belajar mengajar antara guru dan murid merupakan salah satu hal yang sampai saat ini masih menjadi buah bibir pendidikan di Indonesia. Tak jarang kita jumpai dari berbagai media massa tentang rusaknya etika yang telah mengrogoti praktisi pendidikan baik itu guru maupun murid. Kasus terbaru yang telah mengguncangkan dunia pendidikan adalah salah seorang mahasiswa UMSU Medan yang tega membunuh dosennya sendiri gara-gara masalah skripsi. Tak kalah memprihatinkan pula seorang guru di daerah Medan yang tega memukul kepala muridnya dan menusuk tangannya dengan bolpoin lantaran terlambat masuk kelas. Miris, itulah kata yang tepat untuk menggambarkan dunia pendidikan saat ini.

Secara historis, memang etika guru dan murid sedikit demi sedikit mulai terkikis oleh arus globalisasi. Murid banyak yang tak mau menghormati

gurunya sehingga ilmunya menjadi tidak bermanfaat. Sa‟id Hawwa

(2006:410) menegaskan bahwa, “Etika yang buruk membuat seseorang

mustahil bisa mengambil ilmu dan manfaat dari para syeikhnya”. Dengan kata

(15)

menyayangi muridnya seperti anaknya sendiri sehingga tugasnya sebagai transfer of knowledge dapat diterima murid dengan baik.

Guru juga merupakan spiritual father (bapak ruhani) bagi muridnya yang senantiasa memberi santapan jiwa dengan ilmunya (Suharto, 2006:120). Untuk itu guru dan murid seyogianya beretika yang baik dan berakhlak yang mulia, baik kepada dirinya sendiri maupun dalam kegiatan belajar mengajar. Sehingga apa yang cita-citakan oleh keduanya dapat terealisasi dengan baik yaitu bahagia dunia dan akhirat.

Ibn Jama‟ah merupakan seorang ulama klasik yang hidup pada masa

Dinasti Ayyubiyah dan Dinasti Mamluk. Semasa hidup beliau lebih dikenal sebagai seorang Qadli (ahli hukum), namun beliau juga seorang tokoh pendidikan, berjasa besar dalam dunia pendidikan. Lewat kitabnya Tadzkirah al-Sami‟ wa al-Mutakallim fi Adab al-„Alim wa al-Muta‟allim beliau mencoba untuk memberikan gambaran tentang etika akademis dalam Islam meliputi etika guru, etika murid, etika terhadap buku, serta etika penghuni madrasah dan di sini penulis terfokus untuk meneliti tentang etika guru dan murid.

Beranjak dari latar belakang yang sudah penulis paparkan di atas, maka penulis mencoba menyusun sebuah skripsi dengan mengangkat judul

tentang “ETIKA GURU DAN MURID PERSPEKTIF IBN JAMA’AH

DALAM KITAB TADZKIRAH AL-SAMI’ WA AL-MUTAKALLIM FI

(16)

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana Etika Guru dan Murid Perspektif Ibn Jama‟ah dalam Kitab

Tadzkirah al-Sami‟ wa al-Mutakallim fi Adab al-„Alim wa al-Muta‟allim?

2. Bagaimana Relevansi Etika Guru dan Murid Perspektif Ibn Jama‟ah

dalam Kitab Tadzkirah al-Sami‟ wa al-Mutakallim fi Adab al-„Alim wa al -Muta‟allim dikaitkan dengan konteks kekinian?

C. Tujuan Penelitian

Sesuai dengan rumusan masalah di atas, maka tujuan dari penelitian ini meliputi:

1. Untuk mengetahui Etika Guru dan Murid Perspektif Ibn Jama‟ah dalam

Kitab Tadzkirah al-Sami‟ wa al-Mutakallim fi Adab al-„Alim wa al -Muta‟allim.

2. Untuk mengetahui Relevansi Etika Guru dan Murid Perspektif Ibn

Jama‟ah dalam Kitab Tadzkirah al-Sami‟ wa al-Mutakallim fi Adab

al-„Alim wa al-Muta‟allim dikaitkan dengan konteks kekinian.

D. Manfaat Penelitian

Manfaat yang diharapkan penulis dari hasil penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Menambah wawasan keilmuan khususnya bagi peneliti dan bagi pembaca

pada umumnya.

2. Dapat menjadi pedoman bagi guru maupun murid dalam kegiatan belajar

(17)

3. Dapat menjadi motivasi bagi guru maupun murid untuk senantiasa beretika yang baik.

E. Metode Penelitian

1. Jenis Penelitian

Penelitian ini termasuk dalam kategori penelitian kepustakaan (library recearch) juga bisa disebut dengan istilah studi pustaka ialah serangkaian kegiatan yang berkenaan dengan metode pengumpulan pustaka, membaca, dan mencatat serta mengolah bahan penelitian (Mestika Zed, 2004: 3).

2. Sumber Data

Dalam proses melaksanakan penelitian, maka berikut sumber data yang dipakai oleh peneliti:

a. Sumber Data Primer

Merupakan data yang berkaitan langsung dengan penelitian, yaitu kitab Tadzkirah al-Sami‟ wa al-Mutakallim fi Adab al-„Alim wa al-Muta‟allim.

b. Sumber Data Sekunder

Merupakan data-data yang digunakan sebagai pendukung dari data primer, diantaranya:

1) Az-Zarnuji. Ta‟lim al-Muta‟allim.

2) Nashih „Ulwan. Tarbiyah al-Aulad.

(18)

4) Heri Jauhari Muchtar. Fikih Pendidikan. 5) Toto Soeharto. Filsafat Pendidikan Islam.

6) Fatah Yasin. Dimensi-dimensi Pendidikan Islam.

7) Abuddin Nata. Pemikiran Para Tokoh Pendidikan Islam.

8) Suharsimi Arikunto. Prosedur Penelitian.

9) Eko Budi Minarno. Pengantar Bioetika.

10)Buku-buku pendukung lainnya.

3. Metode Pengumpulan Data

Untuk memperoleh data-data yang diperlukan dalam penelitian ini, penulis menggunakan Metode Dokumentasi. Menurut Suharsimi Arikunto (2010:274) Metode Dokumentasi adalah mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, agenda dan lain sebagainya.

4. Metode Analisis Data

Metode analisis data yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah analisis isi atau content analysis. Analisis isi adalah metode yang digunakan untuk menganalisis teks, sifatnya terus terang dan mengandung makna yang tersurat (Sarosa, 2012:71).

Krippendroff mendefinisikan Content Analysis sebagai metode

(19)

F. Penegasan Istilah

Untuk menghindari terjadinya kesalahpahaman dalam memahami atau mengartikan judul penelitian ini, maka perlu adanya penjelasan terlebih dahulu mengenai pengertian tentang etika, guru, murid, perspektif, Ibn

Jama‟ah, serta kitab Tadzkirah al-Sami‟ wa al-Mutakallim fi Adab al-„Alim wa

al-Muta‟allim sebagai berikut:

1. Etika

Amin dalam Minarno (2010:17) berpendapat bahwa etika merupakan ilmu yang menjelaskan tentang arti baik dan buruk, menerangkan apa yang sebaiknya dilakukan oleh manusia, menyatakan tujuan yang harus dituju oleh manusia di dalam perbuatan mereka, dan menunjukkan jalan untuk melakukan apa yang seharusnya diperbuat.

2. Guru

Guru merupakan orang yang melakukan tugas mengajar. Dalam term lain guru bisa disebut juga dengan pendidik yaitu orang yang berperan mendidik subjek didik atau melakukan tugas pendidikan (Roqib, 2009:36).

(20)

Dalam istilah jawa menyebut guru dengan seseorang yang “digugu

lan ditiru”. Maksudnya bahwa guru itu merupakan sosok yang bisa dijadikan panutan dalam kehidupan bermasyarakat.

3. Murid

Murid bisa juga disebut dengan siswa atau peserta didik. Murid adalah setiap orang yang menerima pengaruh dari seseorang atau sekelompok orang yang menjalankan kegiatan pendidikan (Djamarah, 2005:51).

Dalam UU Sisdiknas 2003 pasal 1 peserta didik/murid didefinisikan sebagai anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran yang tersedia pada jalur, jenjang, dan jenis pendidikan tertentu (Yasin, 2008:95)

4. Perspektif

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2007:864), perspektif didefinisikan sebagai cara melukiskan suatu benda pada permukaan yang mendatar sebagaimana yang terlihat oleh mata dengan tiga dimensi (panjang, lebar, dan tingginya). Bisa diartikan pula sebagai sudut pandang atau pandangan.

Jadi, yang penulis maksud perspektif dalam penelitian ini adalah

pandangan atau pemikiran Ibnu Jama‟ah khususnya tentang etika yang

(21)

5. Ibn Jama‟ah

Nama lengkapnya adalah Muhammad bin Ibrahim bin Sa‟ad Allah

bin Jama‟ah bin Ali bin Jama‟ah bin Hazim bin Shahr al-Kinany

al-Hamawy al-Mishry. Beliau lahir di daerah Hammah yang terletak di

negeri Syam. Beliau lahir pada waktu isya‟ hari Jumat, atau lebih tepatnya

adalah malam sabtu pada tanggal 4 Rabi‟u ats-Tsani tahun 639H. 6. Kitab Tadzkirah al-Sami‟

Ini merupakan kitab karangan dari Ibn Jama‟ah al-Kinany

al-Hamawy al-Mishry. Judul lengkapnya yaitu Tadzkirah al-Sami‟ wa al -Mutakallim fi Adab al-„Alim wa al-Muta‟allim. Kitab ini berisi tentang hal-hal yang berkaitan dengan pendidikan. Mulai dari keutamaan menuntut ilmu, etika guru, etika murid, etika terhadap buku serta etika penghuni madrasah.

G. Sistematika Penulisan Skripsi

(22)

BAB I: PENDAHULUAN

Bab ini terdiri dari Latar Belakang Masalah, Rumusan Masalah, Tujuan Penelitian, Manfaat Penelitian, Metode Penelitian, Penegasan Istilah, Sistematika Penulisan skripsi.

BAB II: BIOGRAFI IBN JAMA‟AH

Bab ini menjelaskan tentang riwayat hidup Ibnu Jama‟ah, guru

-gurunya, murid-muridnya, amal dan perjuangannya, karya-karyanya, dan deskripsi singkat tentang kitab Tadzkirah al-Sami‟ wa al-Mutakallim fi Adab al-„Alim wa al-Muta‟allim.

BAB III: DESKRIPSI PEMIKIRAN IBN JAMA‟AH

Bab ini menjelaskan tentang pengertian etika guru dan murid, etika

guru dan murid Perspektif Ibn Jama‟ah.

BAB IV: ANALISIS ETIKA GURU DAN MURID PERSPEKTIF IBN

JAMA‟AH

Bab ini menjelaskan tentang analisis etika guru dan murid perspektif

Ibn Jama‟ah serta relevansi etika guru dan murid perspektif Ibn Jama‟ah

dalam konteks kekinian. BAB V: PENUTUP

(23)

BAB II

BIOGRAFI IBN JAMA’AH

A. Nama lengkap, kelahiran, dan karakteristik (watak)

Nama lengkapnya adalah Badruddin Muhammad ibn Ibrahim ibn

Sa‟ad Allah ibn Jama‟ah ibn Hazim ibn Shakhr ibn „Abd Allah al-Kinany. Ia

lahir di Hamwa, Mesir, pada malam Sabtu, tanggal 4 Rabi‟ul Akhir,

639H./1241M (Nata, 2001:111). Beliau terlahir dari kalangan keluarga yang

berilmu dan berzuhud (Jama‟ah, 2005a:21).

Ibnu Jama‟ah merupakan orang yang sangat sederhana dalam makan,

berpakaian, tunggangan, dan juga tempat tinggalnya. Beliau sangat rendah hati

(berbudi luhur), sangat tawadhu‟ dan juga sangat sopan. Kulitnya putih,

jenggotnya tebal, bersih dari uban, berpakaian yang rapi, dan suaranya lembut

(Jama‟ah, 2005a:21-22).

B. Pendidikan dan Guru-gurunya

Pendidikan awal yang diperoleh oleh Ibn Jama‟ah adalah belajar hadits

tatkala berumur 11 tahun. Pendidikan itu berasal dari ayahnya sendiri Ibrahim

bin Sa‟ad Allah bin Jama‟ah (w. 675 H.) yang merupakan seorang ulama ahli

hadits. Beliau sangat mengagumkan, wirai dan juga berakhlak mulia. Selain

memperoleh pendidikan dari ayahnya, Ibnu Jama‟ah juga memperoleh

pendidikan dari beberapa ulama yaitu dengan Syaikh al-Syuyukh Zain ad-Din

Abi ath-Thahir Ismail bin Abd al-Qowiyy bin „Izzun di Hammah. Kemudian

(24)

Ibnu Jama‟ah melanjutkan pendidikannya di Damasyqus untuk belajar fiqh,

ushul fiqh, nahwu, dan shorf kepada Syaikh Muhammad bin „Abd Allah bin

Malik. Kemudian melanjutkan pendidikan di Qahirah dengan Taqy ad-Din bin Razin. Dengan Taqy ad-Din inilah Ibnu Jama‟ah memperoleh ilmu yang

banyak (Jama‟ah, 2005b:109).

Dalam kitab “Ghuraru al-Tibyan fi Man Lam Yusamma fi al-Qur‟an”

dijelaskan bahwa Ibnu Jama‟ah memperoleh pendidikan dari beberapa ulama

(Jama‟ah, 1990a:67-72), di antaranya: Ibnu al-Baradzi‟i (w. 647 H.), A

l-Rasyid bin Maslamah (w. 650 H.), Al-l-Rasyid al-„Iraqi (w. 652 H.), Syaikh al-Syuyukh al-Anshari (w. 662 H.), Al-Ridla bin al-Burhan (w.664 H.), Ibn „Abd

al-Warits (w. 665 H.), Ibn Qasthalani (w.665 H.), Ibn „Izzun (w. 667 H.), Al

-Majd bin Daqiq al-„Id (w.667 H.), Ibn „Abd al-Daym (w. 668 H.), Syarof

ad-Din al-Subki (w. 669 H.), Al-Mu‟in ad-Damasyqi (w. 670 H.), Ibn Malik (w.

672 H.), Al-Kamal bin „Abd (w. 672 H.), Ibn Abi al-Yasr (w. 672 H.), Ibn

„Allaq (w. 672 H.), Al-Najib (w. 672 H.), Ibn „Atha al-Hanafi (w. 673 H.), Ibn

„Allan (w. 680 H.), Ibn Razzin (w. 680 H.), Ibn Umar (w. 682 H.), dan yang

terkahir adalah Ibn Mutawwij.

Berkat didikan dan pengembaraan dalam menuntut ilmu tersebut, Ibn

Jama‟ah kemudian menjadi seorang ahli hukum, ahli pendidikan, juru dakwah,

penyair, ahli tafsir, ahli hadits, dan sejumlah keahlian dalam bidang lainnya.

namun demikian Ibn Jama‟ah tampak lebih menonjol dan dikenal sebagai ahli

(25)

dan Mesir. Sedangkan profesinya sebagai pendidik, berlangsung ketika ia bertugas mengajar di beberapa lembaga pendidikan seperti Qimyariyah, sebuah lembaga pendidikan yang dibangun oleh Ibn Thulun di Damasyqus dalam waktu yang cukup lama (Nata, 2001:112).

C. Murid-muridnya

Semasa hidup Ibn Jama‟ah memiliki murid yang pernah menuntut ilmu

kepadanya, di antaranya adalah:

1. Al-Imam Asir ad-Din Abu Hayyan Muhammad bin Yusuf bin Ali

al-Andalusy. Beliau wafat pada hari Sabtu tanggal 28 Shafar tahun 745 H.

2. Al-„Allamah Taj ad-Din al-Subki „Abd al-Wahab bin Taq ad-Din al-Subki

meninggal pada tahun 771 H. Beliau merupakan seorang ahli sejarah dan pemikir Islam.

3. Al-Muarrikh al-Kabir Shalahuddin ash-Shafadi. Pada tahun 728 H.

mendapat ijazah dari Ibn Jama‟ah.

4. Al-Imam al-Muhaddits Nur ad-Din Ali bin Jabir al-Hasyimi. Wafat pada tahun 725 H. Beliau merupakan seorang guru ahli hadits di Madrasah Al-Manshuriyyah.

5. Al-Faqih al-Kabir Qathb ad-Din al-Simbathi Muhammad bin „Abd ash

-Shamad bin „Abd al-Qadir. Wafat pada tahun 722 H. Beliau merupakan

seorang ahli fiqh yang besar.

(26)

7. Al-Imam Syamsuddin bin al-Qamah Muhammad bin Ahmad bin Haidarah

bin „Aqil. Wafat pada tahun 741 H. Beliau merupakan seorang yang ahli

dalam bidang fiqh, hadits, dan juga cerdas dalam berfatwa.

8. Muhammad bin Muhammad bin Husain al-Halbi Shalah asy-Syadzili

9. Asy-Syeikh al-Qadli „Imad ad-Din al-Bilbasi Muhammad bin Ishaq bin Muhammad al-Murtadlo. Wafat pada tahun 749 H. Beliau merupakan wali hakim di daerah Iskandariyah.

10.Sultan Mesir al-Malik al-Nashir Muhammad bin Qalawun (Jama‟ah,

1990a:81-83).

D. Kondisi Sosial Politik

Dilihat dari masa hidupnya, Ibn Jama‟ah hidup pada masa Dinasti Ayyubiyah dan Dinasti Mamluk. Dinasti Ayyubiyah dengan pimpinannya Shalahuddin al-Ayyubi menggantikan Dinasti Fatimiyah pada tahun 1174M. Dinasti Ayyubiyah diketahui telah membawa angin segar bagi petumbuhan

dan perkembangan paham sunni, terutama dalam bidang fiqh Syafi‟iyah.

Sedangkan pada masa Dinasti Fatimiyah yang dikembangkan adalah paham

Syi‟ah.

(27)

kekuasaan kaum Mamluk ini berakhir pada tahun 1517 M. Pada masa kaum Mamluk ini telah membawa pegaruh positif bagi kelangsungan Mesir dan Suria, terutama dari serangan kaum Salib, serta mampu menahan serangan kaum Mongol di bawah pimpinan Hulagu dan Timur Lenk. Dengan usaha kaum Mamluk itu, Mesir tidak mengalami kehancuran sebagaimana yang dialami negeri Islam lainnya (Nata, 2001: 112-113).

E. Kondisi Sosial Keagamaan

Pada masa Ibn Jama‟ah, kondisi struktur sosial keagamaan sedang

memasuki masa-masa penurunan. Baghdad sebagai simbol peradaban Islam, sudah hancur yang kemudian berakibat pelarangan secara kuat terhadap kajian-kajian Filsafat dan Kalam, bahkan terhadap ilmu pengetahuan non-agama. Pelarangan ini didukung oleh ulama dan mendapat pengakuan dari penguasa. Bahkan pada masa itu tengah gencar-gencarnya isu tentang

tertutupnya pintu ijtihad. Dengan demikian Ibn Jama‟ah dibesarkan dalam

tradisi sunni yang kontra rasionalis serta kurang mendukung pengembangan ilmu pengetahuan non-agama.

Pada masa Ibn Jama‟ah telah muncul berbagai lembaga pendidikan. Di

antaranya:

1. Kuttab, yaitu lembaga pendidikan dasar yang digunakan untuk

memberikan kemampuan membaca dan menulis.

(28)

tersendiri yang didasarkan pada kemampuan anak didik dan kehendak orang tua anak.

3. Kedai atau toko kitab yang fungsinya sebagai tempat untuk menjual kitab

serta tempat berdiskusi di antara para pelajar.

4. Rumah para ulama yaitu tempat yang sengaja disediakan oleh para ulama

untuk mendidik para siswa. Hal ini dilakukan antara lain karena ulama yang bersangkutan sudah terlalu sibuk untuk meninggalkan tempat atau alasan-alasan lain yang menghendaki para siswa datang mengunjungi tempat ulama tersebut.

5. Rumah sakit yang dikembangkan selain untuk kepentingan medis juga untuk mendidik tenaga-tenaga yang akan bertugas sebagai perawat dan juga sebagai tempat pengobatan.

6. Perpustakaan yang berfungsi selain tempat menyimpan buku-buku yang diperlukan juga untuk keperluan diskusi dan melakukan penelitian. Di antara perpustakaan yang cukup besar adalah Dar al-Hikmah.

7. Masjid yang berfungsi selain tempat melakukan ibadah shalat, juga sebagai kegiatan pendidikan dan sosial (Nata, 2001:113).

Selain itu, pada masa Ibn Jama‟ah juga telah berkembang lembaga

(29)

Bahkan, menurut Bulliet ada 39 madrasah yang berkembang di Persia, Iran yang dibangun dua abad sebelum Madrasah Nizham al-Muluk.

Dengan demikian, terlihat bahwa pada masa Ibn Jama‟ah lembaga

pendidikan telah berkembang pesat dan telah mengambil bentuk yang

bermacam-macam. Suasana inilah yang membantu mendorong Ibn Jama‟ah

menjadi ulama yang menaruh perhatian terhadap pendidikan (Nata, 2001:114).

F. Amal dan Perjuangan

Selama hidup Ibn Jama‟ah lebih dikenal sebagai seorang ahli hukum

atau hakim. Hal ini tak lepas dari sebagian hidup beliau yang berkutat dalam ranah pengadilan. Namun selain menjadi ahli hukum beliau juga memiliki jasa yang besar dalam dunia pendidikan. Di antara amal dan perjuangan beliau selama hidup adalah sebagai berikut:

1. Hakim

Beliau menjadi hakim di beberapa wilayah, di antaranya:

a. Hakim di Masjid al-Aqsha sekaligus menjadi imam pada bulan

Ramadhan 687 H.

b. Hakim di Mesir dari tanggal 14 Ramadhan 690 H. sampai dengan bulan Shafar 693 H.

c. Hakim di Syam dari tanggal 14 Dzulhijjah 693 H. sampai dengan bulan Jumadil Akhir 696 H.

d. Hakim di Syam untuk kedua kalinya pada hari Kamis 15 Sya‟ban 699

(30)

e. Hakim di Mesir untuk kedua kalinya pada hari Sabtu 14 Rabi‟ul Awal 702 H. dan dilanjutkan pada bulan Jumadil Akhir 727 H. sampai beliau

wafat tahun 733 H (Jama‟ah, 1990b:17-18).

2. Juru Dakwah

Semasa hidupnya Ibn Jama‟ah juga menjadi seorang ahli dakwah

di beberapa Masjid Besar, antara lain:

a. Berdakwah di Masjid Al-Aqsha pada bulan Ramadhan tahun 677 H.

b. Berdakwah di Masjid Jami‟ Al-Azhar pada bulan Ramadhan tahun 690

H.

c. Berdakwah di Masjid Al-Umawi Damasyqus pada bulan Syawal dari

tahun 694 H. hingga tahun 702 H (Jama‟ah, 1990b:21).

3. Pendidik

Pada masanya Ibnu Jama‟ah juga menjadi pendidik di beberapa

madrasah yaitu 5 madrasah di Damasyqus dan 8 madrasah di Qahirah

(Jama‟ah, 1990b:27-30). Madrasah-madrasah itu antara lain sebagai

berikut:

a. Madrasah yang berada di Damasyqus, yaitu:

1) Madrasah Qimariyah di Damasyqus.

2) Madrasah al-„Adaliyyah al-Kubra di Damasyqus.

3) Madrasah Syamiyah al-Barraniyah. Beliau mengajar pada bulan

Dzulhijjah tahun 693 H.

(31)

5) Madrasah Ghazaliyyah. Beliau mengajar pada tahun 685 H. kemudian meninggalkan madrasah tersebut dan kembali mengajar lagi pada tahun 699 H.

b. Madrasah yang berada di Qahirah, yaitu:

1) Madrasah Shalihiyyah. Ibn Jama‟ah mengajar di madrasah ini pada

bulan Ramadhan tahun 690 H sampai bulan Dzulhijjah 693 H.

Kemudian pada bulan Rabi‟ul Awal 711 H sampai bulan Rajab 727

H.

2) Madrasah Nashiriyyah. Beliau mengajar pada mulai dari bulan Shafar 693 H-727 H.

3) Madrasah Kamiliyyah. Beliau mengajar mulai dari tahun 711H-727H.

4) Madrasah Jami‟ ibn Thalun. Madrasah ini dibangun oleh Al-Amir

Abu al-Abbas Ahmad bin Thalun pada tahun 263 H yang terletak

di Jabal Syukur Qahirah. Ibnu Jama‟ah menjabat sebagai kepala madrasah pada bulan Rabi‟ul Akhir tahun711 H.

5) Madrasah Jami‟ al-Hakim. Beliau mengajar hadits, nahwu dan

qira‟at.

6) Madrasah Zawiyyah al-Imam asy-Syafi‟i. Ibnu Jama‟ah mengajar

di madrasah ini sampai beliau meninggal dunia (733 H.).

7) Madrasah Al-Masyhad al-Husaini. Beliau mengajar pada bulan

Shafar tahun 693 H.

8) Madrasah Al-Khasyabiyyah. Beliau mengajar pada bulan Shafar

(32)

G. Karya-karyanya

Ibn Jama‟ah adalah seorang ulama yang tergolong kreatif dan

produktif. Karya-karya Ibn Jama‟ah pada garis besarnya terbagi kepada masalah pendidikan, astronomi, ulumul hadits, ulum at-Tafsir, Ilmu Fiqh dan Ushul al-Fiqh (Nata, 2001:114). Karya-karya dapat terperinci seperti di bawah ini, antara lain sebagai berikut:

1. Ulum al-Tafsir/ Ilmu Tafsir, yaitu: a. Al-Tibyan fi Mubhimat al-Qur‟an.

b. Ghurr al-Thibyan fi Man Lam Yusamma fi al-Qur‟an.

c. Kasyf al-Ma‟any an al-Mutasyabih min al-Matsany.

d. Al-Fawaid al-Laihat min Surat al-Fatihah.

e. Al-Muqtash fi Fawaid Tikrar al-Qashash. 2. Ulum al-Hadits/ Ilmu Hadits, yaitu:

a. Al-Munhil al-Rawy fi „Ulum al-Hadits al-Nabawy.

b. Al-Fawaid al-Ghazirat al-Mustanbithah min Hadits Barirah. c. Muhtashar fi Munasabat Tarajum al-Bukhari li Ahadits al-Abwab. d. Mukhtasar Aqsa al-Amal wa al-Syawq fi ‟Ulum Hadits al-Rasul li

Ibn al-Shalah.

3. Ilmu Fiqh, yaitu:

a. Al-„Umdah fi al-Ahkam.

(33)

e. Tanqih al-Munadharat fi Tashih al-Mukhabarah.

4. Ilmu Aqidah dan Kalam, yaitu:

a. Al-Radd ‟ala al-Musyabbahah fi Qaulihi al-Rahman ‟Ala al-‟Arsy Istawa.

b. Al-Tanzih fi Ibtal Hujjah al-Tasybih. c. Idlah al-Dalil fi Qath‟i Hujaj Ahl al-Ta‟til. 5. Ilmu Politik Islam, yaitu:

a. Tahrir al-Ahkam fi Tadbir Ahl al-Islam. b. Hujat as-Suluk fi Muhadat al-Muluk. 6. Ilmu Sejarah, yaitu:

a. Al-Mukhtashar al-Kabir fi al-Sirah. b. Nur al-Rawd.

7. Ilmu Nahwu, yaitu:

a. Syarh Kafiyah ibn al-Hajib.

b. Al-Dliya‟ al-Kamil fi Syarh al-Syamil.

8. Ilmu Perang, yaitu:

a. Tajnid al-Ajnad wa Jihat al-Jihad. b. Mustanid al-Ajnad fi Alat al-Jihad. 9. Ilmu Falaq, yaitu: Risalah fi al-Asthuralab.

10.Ilmu Pendidikan, yaitu: Tadzkirah al-Sami‟ wal Mutakallim fi Adab al -„Alim wa al- Muta‟allim.

11.Ilmu Adab, yaitu: a. Lisan al-Adab. b. Diwan khatab.

(34)

Dari beberapa karya tulis Ibn Jama‟ah yang sudah dipaparkan di

atas, penulis tertarik untuk meneliti tentang kitab Tadzkirah al-Sami‟ wa al-Mutakallim fi Adab al-„Alim wa al-Muta‟allim yang membahas tentang pendidikan.

H. Wafatnya Ibn Jama’ah

Akhir hayat, beliau berkonsentrasi pada bidang hadits dan tasawuf. Orang-orang datang belajar hadits dan meminta berkah darinya. Enam tahun

buta dan meninggalkan karir publik (Asari, 2008:35). Ibnu Jama‟ah wafat

pada malam Senin setelah Isya‟ tanggal 21 Jumadil Ula dalam usia 94 tahun.

Beliau disholatkan pada waktu pagi sebelum Dhuhur di Masjid Jami‟ al

-Nashiriy Mesir. Dikubur di daerah Qurafah. Jenazah beliau penuh dengan keagungan. Semoga Allah merahmati beliau. Amin.

I. Kitab Tadzkirah al-Sami’ wa al-Mutakallim fi Adab al-‘Alim wa al -Muta’allim

Ibn Jama‟ah menulis kitab Tadzkirah al-Sami‟ wa al-Mutakallim fi

Adab al-„Alim wa al-Muta‟allim pada masa muda. Manuskrip menyatakan, kitab ini selesai ditulis tahun 672/1237. Saat itu usianya 33 tahun. Kitab ini diedit sebanyak 2 kali, dicetak dan diterbitkan 3 kali, yaitu edisi Muhammad Hasyim al-Nadwi yang terbit di Hyderabat oleh Da‟irah al-Ma‟arif al

-„Usmaniyyah, tahun 1345H/1935M; lalu edisi Hyderabat dicetak ulang di

Beirut oleh Dar al-Kutub al-„Ilmiyyah tanpa keterangan tahun; dan terakhir

edisi „Abd al-Amir Syams al-Din yang diterbitkan Dar Iqra‟ Beirut tahun 1986

(35)

Edisi terbaru (1986) menyempurnakan edisi sebelumnya. Edisi baru menggunakan versi manuskrip lebih banyak. Syams al-Din menyatakan ia menggunakan lima versi manuskrip Tadzkirah al-Sami‟ wa al-Mutakallim, sekaligus edisi cetak Hyderabat. Antara lain:

1. Manuskrip al-Khizanah al-Rampuriyyah, Rampur, India, selesai ditulis tahun 742/1341.

2. Manuskrip Jerman, selesai ditulis tahun 842/1438.

3. Manuskrip al-Maktabah al-Usmaniyyah, Aleppo, selesai ditulis tahun

922/1516.

4. Manuskrip al-Khizanah al-Asifiyyah, Hyderabat, selesai ditulis tahun 1027/1618.

5. Manuskrip al-Maktabah al-Zahiriyyah, Damaskus, selesai ditulis tahun 1354/1935.

Kitab Tadzkirah al-Sami‟ sendiri terdiri dari 5 bab, di antaranya sebagai berikut:

1. Bab Pertama. Pada bab ini menjelaskan tentang keutamaan ilmu dan para

ulama serta keutamaan dalam mempelajari ilmu dan mengamalkannya. 2. Bab Kedua. Pada bab ini menjelaskan tentang etika yang harus dimiliki

oleh seorang pendidik atau guru. Terbagi menjadi tiga pasal, yaitu: a. Pasal pertama etika guru terhadap dirinya sendiri (12 macam).

b. Pasal kedua etika guru terhadap muridnya (14 macam).

(36)

3. Bab ketiga. Pada bab ini terdapat penjelasan perihal etika yang harus dimiliki oleh peserta didik. Terbagi menjadi tiga pasal, yaitu:

a. Pasal pertama etika murid terhadap dirinya sendiri (10 macam).

b. Pasal kedua etika murid terhadap guru (13 macam).

c. Pasal ketiga etika murid dalam pembelajaran (13 macam).

4. Bab keempat. Pada bab ini menjelaskan perihal etika terhadap buku yang

merupakan media pembelajaran (11 macam).

5. Bab kelima. Pada bab yang terakhir ini menjelaskan tentang etika penghuni madrasah (11 macam).

(37)

BAB III

DESKRIPSI PEMIKIRAN IBN JAMA’AH TENTANG ETIKA GURU DAN

MURID DALAM KITAB TADZKIRAH AL-SAMI’

A. Pengertian Etika Guru dan Murid

1. Pengertian Etika

Secara bahasa, kata etika berasal dari bahasa Yunani ethos yang berarti watak, kesusilaan, atau adat. Dalam Encyclopedia Britanica dijelaskan bahwa etika berasal dari bahasa Yunani ethos yang berarti karakter dan studi yang sistematis tentang pengertian dan hakikat nilai baik dan buruk, salah dan benar, seharusnya dan tidak sepantasnya, serta prinsip umum yang membenarkan kita melakukan atau menggunakan sesuatu. Dalam bahasa Belanda ethica berarti ilmu moral atau etika; ethisch berarti segala sesuatu yang berhubungan dengan moral; sedangkan

etiquette adalah tata tertib dalam pergaulan (Depag, 2009:6).

Adapun pengertian etika secara istilah mengandung banyak arti. Pengertian tersebut diutarakan oleh beberapa ahli pendidikan yang termuat

dalam buku “Etika Berkeluarga, Bermasyarakat dan Berpolitik” yang

disusun oleh Depag (2009:6-7) sebagai berikut:

a. Ki Hajar Dewantara

Etika merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari soal kebaikan dan keburukan dalam hidup manusia semuanya, terutama mengenai gerak-gerik pikiran dan rasa yang merupakan pertimbangan dan perasaan sampai mengenai tujuannya dalam bentuk perbuatan.

(38)

b. Soegarda Poerbakawatja

Mendefinisikan etika adalah filsafat nilai, pengetahuan tentang nilai-nilai, ilmu yang mempelajari nilai-nilai, dan kesusilaan tentang baik dan buruk.

c. SGF Brandon

“Ethics is subject of adab it means good manners”. Etika adalah adab yang berarti sikap atau tatakrama yang baik.

d. Mu‟jamul-Falsafi

Etika adalah ilmu yang membahas ketentuan-ketentuan tentang perbuatan manusia dari segi baik atau buruk.

Etika merupakan cabang aksiologi yang secara prinsipil membicarakan masalah predikat-predikat nilai “benar” (right) dan “salah” (wrong) dalam pengertian susila (moral) dan tidak susila (Immoral). (Halimi, 2008:12).

Dari beberapa keterangan di atas, dapat dipahami bahwa etika berhubungan dengan 4 hal, yaitu dilihat dari segi objeknya, etika membahas perbuatan yang dilakukan manusia; dilihat dari segi sumbernya, etika bersumber dari akal pikiran dan filsafat; dilihat dari segi

(39)

Jadi, etika adalah ilmu yang berkaitan dengan perilaku manusia yang dipandang baik atau buruk berdasarkan akal pikiran.

2. Perspektif Islam tentang Guru dan Murid

a. Guru/Pendidik

Kata “pendidik” jikalau disinonimkan dalam literarur bahasa

arab yang sering digunakan dalam kegiatan pendidikan memiliki banyak istilah, antara lain: ustadz, mu‟allim, murabbiy, mursyid, mudarris dan mu‟addib.

Bilamana istilah pendidikan diambil dari kata tarbiyah maka orang yang melaksanakan kegiatan pendidikan (tarbiyah) dalam arti orang yang tugasnya sebagai pencipta, pemelihara, pengatur, dan pemerbaharu (pemerbaik) disebut murabbiy atau “pendidik”. Apabila istilah pendidikan diambil dari kata ta‟lim maka pendidik disebut mu‟allim, demikian pula kata ta‟dib maka istilah pendidik disebut mu‟addib.

Dalam literatur kependidikan Islam kata tarbiyah lebih populer digunakan dalam pendidikan. Oleh sebab itu, kata pendidik lebih identik dengan kata murabbiy. Seorang murabbiy yang melaksanakan kegiatan pendidikan di lembaga-lembaga pendidikan pada umumnya disebut ustadz (guru).

(40)

makna bahwa seorang pendidik (guru) dituntut untuk berkomitmen terhadap profesionalisme dalam mengemban tugasnya.

Seorang ustadz (guru) memiliki tugas dan kompetensi yang melekat pada dirinya antara lain:

1) Sebagai Mu‟allim, artinya bahwa seorang pendidik itu adalah orang yang berilmu (memiliki ilmu) pengetahuan yang luas, dan

mampu menjelaskan/mengajarkan/mentransfer ilmu tersebut

kepada anak didiknya sehingga dapat diamalkan dalam kehidupan.

2) Sebagai Mu‟addib, yang berarti mendisiplinkan atau menanamkan

sopan santun, maka seorang mu‟addib adalah seseorang yang

memiliki kedisiplinan kerja yang dilandasi dengan etika, moral dan sikap yang santun, serta mampu menanamkannya kepada anak didiknya melalui contok untuk ditiru anak didiknya.

3) Sebagai Mudarris, artinya orang yang memiliki tingkat kecerdasan

intelektual lebih, dan berusaha membantu menghilangkan kebodohan/ketidaktahuan anak didiknya dengan cara melatih intelektualnya melalui proses pembelajaran.

4) Sebagai Mursyid, artinya orang yang memiliki kedalaman spiritual,

(41)

Dari beberapa penjelasan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa pendidik dalam perspektif Islam adalah orang yang bertanggung jawab untuk membina dan mengarahkan anak didiknya baik jasmani maupun rohani agar potensi yang dimiliki dapat berkembang secara optimal.

b. Murid

Dalam paradigma pendidikan Islam, peserta didik (murid) merupakan orang yang belum dewasa dan memiliki sejumlah potensi (kemampuan) dasar yang masih perlu dikembangkan (Rasyidin dan Nizar, 2005:47).

Peserta didik merupakan subyek sekaligus obyek pendidikan yang

memerlukan bimbingan orang lain (guru) untuk membantu

mengembangkan potensi yang dimilikinya, serta membimbingnya menuju kedewasaan.

Dalam literatur bahasa arab peserta didik memiliki banyak istilah antara lain:

1) Mutarabbiy

(42)

2) Muta‟allim

Orang yang sedang belajar menerima/mempelajari ilmu dari seorang mu‟allim melalui proses kegiatan belajar mengajar. 3) Muta‟addib

Orang yang sedang belajar meniru, mencontoh sikap dan perilaku yang sopan dan santun melalui kegiatan pendidikan dari seorang mu‟addib.

4) Daaris

Orang yang sedang berusaha belajar melatih intelektualnya melalui proses pembelajaran sehingga memiliki kecerdasan dan keterampilan yang dibina oleh seorang mudarris.

5) Muriid

Orang yang sedang belajar mendalami ilmu agama dari seorang mursyid melalui kegiatan pendidikan (Yasin, 2008:101)

(43)

B. Etika Guru dan Murid Perspektif Ibn Jama’ah 1. Etika Guru

Ibn Jama‟ah membagi etika guru menjadi 3 bagian, antara lain

sebagai berikut:

a. Etika Guru Terhadap Dirinya Sendiri (12 macam), yaitu

لَّوَلأَا

،

ٍََٝػ ِخَظَفبَذٌُّاَٚ ،ِخَّ١َِٔلاَؼٌاَٚ ِشِّغٌا ِٟف ٌٝبَؼَر ِالله ِخَجَلاَشُِ َُاََٚد

ٌِِٗبَؼْفَأَٚ ٌِِٗاَْٛلَأَٚ ِِٗربََٕىَعَٚ ِِٗربَوَشَد ِغْ١َِّج ِْٟف ِِٗفَْٛخ

Pertama, seorang guru harus senantiasa menyadari keberadaan Allah

SWT baik dalam keadaan sendiri maupun bersama orang lain, dan

ulama terdahulu serta mengamalkannya yang dapat menuntun menuju keagungan dan kemuliaan. Ketiga, guru hendaknya bersikap zuhud terhadap kehidupan dunia dan

(44)

secara pas atau sekedarnya saja (tidak berlebih-lebihan) tidak termasuk kategori kebutuhan duniawi yang dilarang.

، عِباَّرلا

ِعاَشْغَلأا ٌَِٝئ ِِٗث ًَُّطََٛزُ٠ بًٍَُّع ٍََُٗؼَج َْٓػ ٍَُِّْٗػ َِّٖضَُٕ٠ َْْأ

ِِٗٔاَشْلَأ ٍََٝػ ٍَُّذَمَرَْٚأ ٍخَِْذِخَْٚأ ٍحَشَْٙشَْٚأ ٍخَؼُّْعَْٚأ ٍيبََِْٚأ ٍٖبَج ِِْٓ ِخَّ٠َِٛ١ُّْٔذٌْا

Keempat, pendidik seharusnya tidak menyalahgunakan ilmu yang

dimiliki sebagai perantara untuk mencapai tujuan yang bersifat duniawi seperti untuk memperoleh jabatan, harta, kesombongan diri, kemuliaan, pelayanan atau untuk menyaingi orang lain.

صِماَّخلا

bersifat rendahan dan hina atau yang tidak direkomendasikan baik oleh tradisi masyarakat maupun agama, semisal profesi bekam dan menyamak kulit. Keenam, seorang guru hendaknya senantiasa memelihara syiar-syiar

(45)

، عِباَّطلا

َُِصَلاُ١َف ِخَّ١ٍِْؼِفٌْاَٚ ِخَّ١ٌَِْٛمٌا ِخَّ١ِػْشَّشٌا ِدبَثُْٚذٌَّْْٕا ٍََٝػ َعِفبَذُ٠ َْْأ

ِْبَغٌٍِّاَٚ ِتٍَْمٌْبِث ٌٝبَؼَر ِالله ِشْوِرَٚ ِْآْشُمٌْا َحََٚلاِر

Ketujuh, seorang guru hendaknya senantiasa memelihara untuk

menunaikan ibadah-ibadah sunnah, baik yang berupa tindakan maupun ucapan sebagai contoh senantiasa memelihara melantukan Al-Qur‟an dan berdzikir kepada Allah baik dengan dengan hati maupun lisan.

ا

، هِماَّثل

ِءبَشْفِئَٚ ،ِْٗجٌَْٛا ِخَل َلاَؽ ِِْٓ ِق َلاْخَلأا ََِسبَىَِّث ِطبٌَّٕا ُخٍََِبَؼُِ

ِطبٌَّٕا َِٓػ َٜرَلأا ِّفَوَٚ ،ِعْ١َغٌْا ُِْظَوَٚ ،َِبَؼَّطٌا َِبَؼْؽِئَٚ ،ََِلاَّغٌا

Kedelapan, bersosialisasi dengan akhlaq yang mulia terhadap

masyarakat dengan cara memperlihatkan wajah yang berseri, mengucapkan salam, berbagi makanan, menahan amarah dan tidak berbuat jahat kepada mereka.

Kesembilan, membersihkan/mensucikan diri baik secara lahir maupun

(46)

، رِشاَعلا

ِدبَِٙزْجِلااَٚ ،ِّذِجٌْا ِخََِصَلاُِّث ِدبَ٠ِدْصِلاا ٍََٝػ ِصْشِذٌْا َُاََٚد

بَغِزْشِلااَٚ ِحَدبَجِؼٌْا َِِٓ ِداَسَْٚلأْا ِفِئبَظَٚ ٍََٝػ ِخَجَظاٌَُّْٛاَٚ

ًحَءاَشِل ِيبَغْشِلإاَٚ ِي

بًضْذَثَٚ بًفْ١ِْٕظَرَٚ بًظْفِدَٚ بَمْ١ٍِْؼَرَٚ اًشْىِفَٚ ًخَؼٌَبَطَُِٚ ًءاَشْلِئَٚ

Kesepuluh, terus semangat untuk memperoleh ilmu lebih dengan

senantiasa tekun, teguh dan konsisten melantunkan ibadah wirid, sibuk dan menyibukkan diri untuk belajar dan mengajar, mengkaji,

mengutarakan pendapat dan memberikan komentar, serta

menghafalkan, menyusun dan meneliti.

،َرَشَع يِداَحلا

َُُْٗٔٚد َُٛ٘ َِِّْٓ ٍَُُّْٗؼَ٠ َلابَِ َذْ١ِفَزْغَ٠ َْْأ َفِىَْٕزْغَ٠َلا َْْأ

َْٚأ بًجَغََْٔٚأ بًجِظَِْٕ

بًِّٕع

Kesebelas, tidak gengsi atau malu untuk mengambil pengalaman dari orang

yang posisinya lebih rendah, baik secara pangkat, nasab maupun usia.

ا

،َرَشَع يِواَّثل

َِبََّر َغَِ ِْٓىٌَ ِفْ١ٌِْأَّزٌاَٚ ِغَّْجٌْاَٚ ِفْ١ِْٕظَّزٌبَث ُيبَغِزْشِلاا

ٍَْ١ِؼَفٌْا

ِخَّ١ٍَِْ٘لأا ِيبََّوَٚ ،ِخ

Keduabelas, sibuk untuk menyusun, mengumpulkan dan membuat

buku dengan catatan ilmu yang dimiliki telah mumpuni dan terhitung sebagai pakar di bidang tersebut.

b. Etika Guru dalam Mengajar (12 macam), yaitu:

، لَّوَلأَا

اَرِئ

ِشُجُخٌْاَٚ ِسَذَذٌْا َِِٓ َشََّٙطَر ِظْ٠ِسْذَّزٌا ِظٍِْجَِ ٍََٝػ َََضَػ

(47)

Pertama, jika telah berniatan kuat untuk menghadiri majelis ilmu,

maka seorang guru hendaknya membersihkan/mensucikan diri dari hadats dan kotoran, memakai wewangian, mengenakan pakaian terbaik yang etis dan sesuai dengan baju yang dikenakan orang-orang di saat itu dengan tujuan memuliakan ilmu dan menjunjung tinggi syariat.

ِواَّثلا

Kedua, jika keluar dari rumah seorang guru hendaknya berdoa dengan

niatan yang benar (semata-mata untuk mencari ridla Allah). Dari Nabi

SAW doanya yaitu “Ya Allah Ya Tuhan kami sesungguhnya aku

berlindung kepada-Mu dari kesesatan atau disesatkan, tergelincir atau digelincirkan, mendzalimi atau didzalimi, kebodohan atau atau dibodohi, Maha Mulia nan Agung kekuasan dan Pujian-Mu, dan tiada Tuhan selain Engkau”.

، ثِلاَّثلا

ٍُِِْؼٌْبِث ٍَُِِْٙػبَفَأ َشِّلَُٛ٠َٚ ، َْٓ٠ِشِػبَذٌْا ِغْ١َِّجٌِ اًصِسبَث َظٍِْجَ٠ َْْأ

ِفَشَّشٌاَٚ ِحَلاَّظٌاَٚ ِِّّٓغٌاَٚ

Ketiga, duduk berbaur dengan seluruh hadirin dan memprioritaskan

(48)

، عِباَّرلا

ِِْٓ ٍءَْٟش َحَءاَشِل ِظْ٠ِسْذَّزٌاَٚ ِشْذَجٌْا ِٟف ِعُْٚشُّشٌا ٍََٝػ ََِّذَمُ٠ َْْأ

بََّوَٚ بًَُّّٕ١َرَٚ بًوُّشَجَر ٌَٝبَؼَر ِالله ِةبَزِو

ِِٗغْفٌَِٕ ِحَاَشِمٌْا َتْ١ِمَػ ُْٛػْذَ٠َٚ َحَدبَؼٌْا َُٛ٘

َْٓ١ٍِِّْغٌُّْا ِشِئبَعَٚ َْٓ٠ِشِػبَذٌٍَِْٚ

Keempat, ketika hendak memulai kegiatan belajar mengajar seorang

guru hendaknya membacakan potongan ayat Al-Qur‟an sebagai bentuk

tindakan ngalap berkah dan sebagaimana adat yang ada juga serta berdoa untuk diri sendiri, para hadirin, dan juga seluruh muslimin.

صِماَّخلا

pelajaran yang paling mulia lebih didahulukan, disusul mata pelajaran lain yang paling penting. Seperti mendahulukan mata pelajaran Tafsir

al-Qur‟an, kemudian hadits, Ushuluddin, Madzab, Perbandingan

Madzhab, atau Nahwu. Apabila di dalam madrasah yang ia (guru) tempati untuk mengajar mensyaratkan tentang mata pelajaran tertentu, maka ia harus mentaati persyaratan tersebut dengan mendahulukan mata pelajaran yang menjadi dasar atau tujuan madrasah tersebut dibangun.

، شِداَّطلا

بًؼْفَخ ُُٗؼِّفَخُ٠َلاَٚ ِخَجبَذٌْا ِسْذَل ٍََٝػ اًذِئاَص َُٗرَْٛط ْغَفْشَ٠ َلا َْْأ

(49)

Keenam, seorang guru hendaknya tidak mengencangkan suara secara

berlebihan sampai di luar kebutuhan dan hendaknya tidak pula mempelankan suara yang berpengaruh pada kesempurnaan faidah.

، عِباَّطلا

ِؾْغٌٍَّا َِٓػ َُٗغٍِْجَِ َُْْٛظَ٠ َْْأ

ِؾْغٌٍَْا َذْذَر َؾٍََغٌْا َِّْاَف ،

ِغْفَس َْٓػَٚ

ِشْذَجٌْا ِدبَِٙج ِفَلاِزْخاَٚ ،ِداَْٛطَلأا

Ketujuh, seorang guru hendaknya menjaga majelisnya agar tidak gaduh, karena sesungguhnya kesalahan (pemahaman oleh murid) sering terjadi karena kegaduhan, menjaga majelisnya dari bersendau gurau, dan perdebatan yang tidak karuan.

، هِماَّثلا

َظَْٚأ ِِٗضْذَث ِٟف ِّٜذَؼُر َِْٓ َشَجْضَ٠ َْْأ

ِءُْٛعَْٚأ ِِٗضْذَث ِٟف ٌدَذٌَ ُِِْٕٗ َشَٙ

َْٚأ ،ٍحَذِئبَف ِشْ١َغِث ِحبَ١ِّظٌا ُشَضْوَأَْٚأ ،ِّكَذٌْا ِسُُْٛٙظ َذْؼَث ِفبَظِْٔلإا ِنْشَرَْٚأ ٍةَدَأ

َْٓ١ِجِئبَغٌْا َِٚأ َْٓ٠ِشِػبَذٌْا َِِٓ ِِٖشْ١َغ ٍََٝػ ُُٗثَدَأ َءبَعَأ

Kedelapan, seorang guru hendaknya memperingatkan siswa yang

(50)

، رِشاَعلا

َّدََٛزَ٠ َْْأ

َّْْاَف ؛َُٖسْذَط ِحَشْشَ١ٌِ ٌَُٗ ُؾِغَجَْٕ٠َٚ َُٖذِْٕػ َشَؼَد ٍتْ٠ِشَغٌِ َد

ٍََُٗجْخَِ َهٌَِر َِّْاَف ؛ٌَُٗ بًثاَشْغِزْعا ِْٗ١ٌَِئ ُشْظٌَّٕاَٚ ُدبَفِزٌِْلاا ُشُضْىَ٠َلاَٚ ٌخَشَْ٘د َِِدبَمٌٍِْ

Kesepuluh, menyambut baik orang asing yang turut menghadiri forum

dan memberikan tempat yang layak karena orang tersebut masih gerogi karena belum mengenal orang-orang yang di dalam forum. Selain itu juga tidak telalu banyak mengamati dan mengarahkan pandangan kepada orang tersebut karena merasa asing terhadapnya. Tindakan ini justru menyudutkan orang asing tersebut.

،َرَشَع يِداَحلا

:ٍطْسَد ًُِّو ُِْزَخ َذِْٕػ ُطِّسَذٌُّْا َيُْٛمَ٠ َْْأ ِحَدبَؼٌْا ُدَشَج

ِةاََٛجٌْا ِخَثبَزِو ِذْؼَث ِٟزْفٌُّا ُتُزْىَ٠ َهٌَِزَوَٚ "ٍَُُْػَأ ُاللهَٚ"

Kesebelas, sesuai dengan kebiasaan guru mengatakan: “Allah lebih

tahu” di akhir pelajaran. Mufti juga biasanya menuliskan kalimat

Keduabelas, tidak menghandle suatu pelajaran jika bukan pakar di

(51)

c. Etika Guru dalam Bergaul dengan Murid (14 macam), yaitu: Pertama, seorang guru dalam mengajar dan mendidik murid-muridnya

hendaknya benar-benar ikhlas karena Allah, murni menyebarkan ilmu

pengetahuan, menghidupkan syari‟at, menegakkan kebenaran,

mencegah kejahatan, dan senantiasa menjaga kemaslahatan umat.

،ًِواَّثلا

ِزَ١ِٔ ِصٍُُْٛخ ََِذَؼٌِ ِتٌِبَّطٌا ُِْ١ٍِْؼَر ِِْٓ َغَِٕزَّْ٠ َلا َْْأ

ِخَ١ٌِّٕا َْٓغُد َِّْاَف ؛ِٗ

ٍُِِْؼٌْا ِخَوَشَجِث ٌٌَُُٗٛجْشَِ

Kedua, seorang guru hendaknya tidak mencegah atau pun menolak

murid yang ingin menuntut ilmu kepadanya walaupun niatnya belum sungguh-sungguh. Karena sesungguhnya niat yang baik (bersungguh-sungguh, ikhlas karena Allah) diharapkan dapat terwujud sebab keberkahan ilmu yang dipelajari dan diperolehnya.

ثِلاَّثلا

،

ُالله َّذَػَأ بَِ ِشْوِزِث ِدبَلَْٚلأا ِشَضْوَأ ِٟف َُٗجٍََؽَٚ ٍُِِْؼٌْا ِٟف َُٗجَغْشَ٠ َْْأ

ِءبٍََُّؼٌٍِْ ٌٝبَؼَر

Ketiga, seorang guru hendaknya mencintai ilmu, memotivasi muridnya

(52)

َّرلا

Keempat, seharusnya seorang guru mencintai muridnya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri. Seorang guru juga hendaknya memperhatikan kemaslahatan murid sebagaimana ia memperhatikan anak tercintanya dengan penuh kasih sayang, kemurahan hati, dan senantiasa sabar atas perilaku buruknya.

، صِماَّخلا

ِٟف ِفُّطٍََّزٌا ِْٓغُدَٚ ِِّْٗ١ٍِْؼَر ِٟف ِءبَمٌِْلإا ِخٌَُُْٛٙغِث ٌَُٗ َخَّْغَ٠ َْْأ

ِِّْٗ١ِْٙفَر

Kelima, dalam kegiatan belajar mengajar hendaknya seorang guru

menggunakan penyampaian yang sesederhana mungkin agar mudah untuk dipahami oleh murid dan bersikap lemah lembut dalam menyampaikan materi pelajaran.

، شِداَّطلا

َْٕٝؼٌَّْا ِتْ٠ِشْمَرَٚ ِِٖذُْٙج ِيْزَجِث ِِّْٗ١ِْٙفَرَٚ ِِّْٗ١ٍِْؼَر ٍََٝػ َصِشْذُ٠ َْْأ

َُٗظْفِد َُٗطِجْؼَ٠َلا ٍؾْغَثَْٚأ ُُِْٕٗ٘ر ٍَُُِّٗزْذَ٠َلا ٍسبَضْوِئ ِشْ١َغ ِِْٓ ٌَُٗ

Keenam, hendaknya seorang guru senantiasa bersemangat dalam

mengajarkan ilmu dan memahamkan bagi murid. Seorang guru juga harus memperhatikan kemampuan murid-muridnya dengan tidak memberikan beban yang melebihi kapasitas intelektualnya.

، عِباَّطلا

ُكٍََّؼَزَر ًَِئبَغَِ ِحْشَطِث َطْأَث َلاَف ٍطْسَد ِحْشَش ِِْٓ ُخْ١َّشٌا َؽَشَف اَرِئ

(53)

Ketujuh, ketika seorang guru selesai menyampaikan materi pelajaran

maka hendaknya memberikan pertanyaan kepada muridnya yang berkaitan dengan materi yang diajarkan untuk mengetahui kadar kepahaman dan daya tangkap mereka terhadap materi tersebut.

، هِماَّثلا

،ِدبَظُْٛفْذٌَّْا ِحَدبَػِاِث ِدبَلَْٚلأا ِغْؼَث ِٟف ُخَجٍََّطٌا َتٌِبَطُ٠ َْْأ

ِخٌَُِّّّٙا ِذِػاََٛمٌْا َِِٓ ٌَُُْٙ َََّذَل بٌَِّ ُُُْٙطْجَػ ُِٓذَزَّْ٠َٚ

Kedelapan, hendaknya seorang guru mengarahkan murid-muridnya untuk menggunakan sebagian waktunya (waktu-waktu tertentu) untuk mengulang-ulang hafalannya dan menguji daya tangkapnya terhadap materi yang telah lalu terutama pada poin-poin (kaidah-kaidah) yang dianggap penting.

، عِضاَّتلا

ٍُُِّْٗذَرَْٚأ ٌُُٗبَد ِْٗ١ِؼَزْمَ٠ بَِ َقَْٛف ًِْ١ِظْذَّزٌا ِٟف َتٌِبَّطٌا َهٍََع اَرِئ

ِِٗغْفَِٕث ِكْفِّشٌبِث ُٖبَطَْٚأ ُُٖشْجَػ ُخْ١َّشٌا َفبَخَٚ ُُٗزَلبَؽ

Kesembilan, jika seorang guru mengetahui muridnya sedang berusaha

keras untuk mencapai sesuatu di luar batas kemampuannya dan khawatir akan terjadi hal yang buruk kepadanya, maka hendaknya seorang guru menasihatinya dengan lemah lembut agar beristirahat dan mengurangi intensitas belajar untuk sementara waktu.

، رِشاَعلا

َ٠ َْْأ

ُِْ٠ِذْمَزَو ،بًمٍَْطُِ بَِِّئ ،َُِشَخَْٕرَلا ِٟزٌَّا َِّٓفٌْا َذِػاََٛل ،ِخَجٍََّطٌٍِ َشُوْز

(54)

Kesepuluh, hendaknya seorang guru mengajarkan tentang

kaidah-kaidah dalam cabang ilmu kepada muridnya. Baik kaidah-kaidah yang mutlak

seperti kaidah “mendahulukan pelaku utama daripada sebab” dalam

masalah dloman, atau kaidah yang bersifat umum seperti kaidah

“sumpah itu haknya mudda‟a alaih (yang diadukan) ketika tidak ada

bukti (dari si pengadu)” kecuali dalam masalah qosamah.

َرَشَع يِداَحلا

(55)

Ketigabelas, hendaknya seorang guru mementingkan hal-hal yang dapat membuat maslahah bagi para murid serta menolong mereka dengan jabatan dan kekayaan dengan catatan ia mampu melakukannya, tidak menggangu agamanya dan tidak dalam kondisi sulit/terdesak.

،َرَشَع عِباَّرلا

بَِّث ََبَل اَرِئ ًٌِئبَع ٍذِشْشَزْغُِ ًُِّوَٚ ِتٌِبَّطٌا َغَِ َغَػاََٛزَ٠ َْْأ

ِِٗلُْٛمُدَٚ ٌٝبَؼَر ِالله ِقُْٛمُد ِِْٓ ِْٗ١ٍََػ ُتِجَ٠

Keempatbelas, hendaknya seorang guru bersikap rendah hati kepada murid-muridnya dan terhadap setiap orang yang meminta arahan kepadanya. Menghargai hak-hak Allah dan hak orang-orang tersebut.

2. Etika Murid

Ibn Jama‟ah juga membagi etika murid menjadi 3 bagian,

diantaranya sebagai berikut:

a. Etika Murid Terhadap Dirinya Sendiri (10 macam), yaitu:

لَّوَلأَا

،

ٍحَذْ١ِمَػ ِءُْٛعَٚ ٍذَغَدَٚ ًٍِّغَٚ ٍظََٔدَٚ ٍّشَغ ًُِّو ِِْٓ َُٗجٍَْل َشَِّٙطُ٠ َْْأ

ٍكٍُُخَٚ

Pertama, hendaknya siswa membersihkan hatinya dari segala macam

kotoran, rasa hasud, akidah yang buruk serta akhlak yang tercela.

،ًِواَّثلا

ًَّجَٚ َّضَػ الله َْٗجَٚ ِِٗث َذِظْمَ٠ َْْأِث ٍُِِْؼٌْا ِتٍََؽ ِٟف ِخَ١ٌِّٕا ُْٓغُد

Kedua, seorang murid harus mempunyai niat yang baik dalam

menuntut ilmu yaitu semata-mata karena ridlo Allah SWT.

ثِلاَّثلا

،

ِعْذَخِث َشَزْغَ٠ َلاَٚ ،ًِْ١ِظْذَّزٌا ٌَِٝئ ِِٖشُّْػ ِدبَلَْٚأَٚ َُٗثبَجَش َسِدبَجُ٠ َْْأ

(56)

Ketiga, seorang murid hendaknya memanfaatkan masa mudanya dan waktu-waktunya untuk mencapai keberhasilan dalam menuntut ilmu dan tidak terbujuk pada kebiasaan buruk yaitu menunda-nunda dan berkhayal atau berangan-angan.

، عِباَّرلا

بَِّث طِبَجٌٍِّا ََِِٓٚ ،اًشْ١ِغَ٠ َْبَو ِْْئ َٚ َشَّغَ١َر بَِّث ِدُْٛمٌْا َِِٓ َغَْٕمَ٠ َْْأ

بًمٍَِخ َْبَو ِْْئَٚ ٍُُْٗضِِ ُشُزْغَ٠

Keempat, seorang murid sebaiknya menerima apa yang ada padanya

baik itu berupa pakaian, makanan, dan lain sebagainya.

، صِماَّخلا

َِّْاَف ِِٖشُُّػ ِِْٓ َِٟمَث بَِ ََُِٕزْغَ٠َٚ ،ِِٖسبَََٙٔٚ ٍِِْٗ١ٌَ ِدبَلَْٚأ َُِّغَمُ٠ َْْأ

ٌَُٗ َخَّْ١ِلَلا ِشُّْؼٌْا ُخَّ١ِمَث

Kelima, seorang murid seyogianya memanage waktu antara siang dan

malam. Menggunakan dengan sungguh-sungguh umur yang

dimilikinya untuk belajar. Karena umur adalah hal yang tak ternilai Keenam, salah satu kiat terbaik agar fokus belajar, mudah paham dan

tidak bosan adalah memakan makanan yang halal seperlunya saja

، عِباَّطلا

َُٗغْفَٔ َزُخْأَ٠ َْْأ

ِٟف َيَلاَذٌَْا َّٜشَذَزَ٠َٚ ،ِِْٗٔأَش ِغْ١َِّج ِٟف ِعَسٌَْٛبِث

(57)

Ketujuh, hendaknya seorang murid bersifat wara‟ dalam segala hal. Mencari atau memilih yang halal baik itu makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal, dan pada seluruh yang dia butuhkan.

، هِماَّثلا

ِفْؼَػَٚ ِحَدَلاَجٌْا ِةبَجْعَأ ِِْٓ َِٝ٘ ِٟزٌَّا ُِِػبَطٌُّْا َيبَّْؼِزْعا ًٍََِّمُ٠ َْْأ

ًَِّخٌْا ِةْشُشَٚ ِلاِلبَجٌاَٚ ِغِِبَذٌْا ِحبَفُّزٌبَو ِطاََٛذٌْا

Kedelapan, seorang murid hendaknya menyedikitkan makan yang

dapat menjadikan bodoh dan lemahnya panca indera seperti apel yang masam, kubis dan minum cuka.

، عِضاَّتلا

ِٟف ُذْ٠ِضَ٠ َلاَٚ ِِِْٕٗ٘رَٚ َِِٗٔذَث ِٟف ٌسَشَػ ُْٗمَذٍَْ٠ ٌَُْبَِ ََُِْٗٛٔ ًٍََِّمُ٠ َْْأ

َٔ

ِْبََِّضٌا ُشٍُُص ََُٛ٘ٚ ٍدبَػبَع َِْبَّص ٍََٝػ ِخٍَْ١ٌٍَّاَٚ ََِْٛ١ٌْا ِٟف ِِِْٗٛ

Kesembilan, seorang murid sebaiknya meminimalkan waktu tidur

selagi tidak berdampak buruk pada diri sendiri, akal, dan hatinya serta tidak menambah alokasi waktu tidur lebih dari 8 jam (sepertiga waktu) dalam sehari semalam. Kesepuluh, hendaknya seorang murid meninggalkan banyak pergaulan

(58)

b. Etika Murid dalam Bergaul dengan Guru (13 macam), yaitu

لَّوَلأَا

،

ٍَُِْؼٌْا ُزُخْأَ٠ َّْْٓ١ِف َالله ُشْ١ِخَزْغَ٠َٚ ،َشَظٌَّٕا ََِّذَمُ٠ َْْأ ِتٌِبَّطٌٍِ ِٟغَجَْٕ٠ ََُّٗٔأ

ُِِْٕٗ ِةاَد٢اَٚ ،ِقَلاْخَلأا َْٓغُد ُتِغَزْىَ٠َٚ ،َُْٕٗػ

Pertama, seorang murid seyogianya memprioritaskan untuk memilih

guru dan beristikharah kepada Allah perihal kepada siapa ia akan menuntut ilmu. Sebaiknya memilih guru yang akhlaknya baik demikian pula dengan adabnya.

،ًِواَّثلا

ِِٖشْ١ِثْذَرَٚ ِِٗ٠ْأَس َْٓػ ُطِشْخُ٠ َلاَٚ ِِٖسُُِْٛأ ِٟف ِِٗخْ١َشٌِ َدبَمُْٕ٠ َْْأ

ًَْث

ِشِ٘بٌَّْا ِتْ١ِجَّطٌا َغَِ ِغْ٠ِشٌَّْبَو َُٗؼَِ ُُْْٛىَ٠

Kedua, hendaknya seorang murid senantiasa taat kepada gurunya

dalam segala hal. Tidak diperbolehkan keluar dari pengamatan guru, senantiasa bersamanya (dekat dengan guru) seperti orang sakit yang senantiasa didampingi oleh seorang dokter ahli.

ثِلاَّثلا

،

ِيبََّىٌْا ُخَجَسَد ِْٗ١ِف َذِمَزْؼَ٠َٚ ِي َلاْجِلإا ِْٓ١َؼِث َُٖشُظَْٕ٠ َْْأ

Ketiga, seorang murid hendaknya memandang gurunya dengan

pandangan yang terhormat dan berkeyakinan pada sang guru bahwa beliau memiliki derajat yang sempurna.

، عِباَّرلا

ٍَُْٗؼَف ٌَُٗ َٝغَْٕ٠َلاَٚ َُّٗمَد ٌَُٗ َفِشْؼَ٠ َْْأ

Keempat, hendaknya seorang murid mengetahui hak-hak gurunya dan

tidak lupa akan keutamaan beliau.

صِماَّخلا

،

ُُّٖذُظَ٠ َلاَٚ ٍكٍَْخ ِءُْٛعَْٚأ ِِٗخْ١َش ِِْٓ ُسُذْظَر ٍحَْٛفَج ٍََٝػَشِجْظَ٠ َْْأ

Referensi

Dokumen terkait

Alasan mereka yang lebih memilih bertanya langsung meskipun tidak dibuka sesi tanya jawab adalah karena mereka menganggap apa yang menjadi problem pada waktu itu harus

Pertama, Seorang murid harus membersihkan jiwanya terlebih dahulu dari akhlak yang buruk dan sifat-sifat tercela dalam hal ini Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa ilmu adalah ibadahnya