• Tidak ada hasil yang ditemukan

STUDI KRITIS KONSEP ETIKA MURID TERHADAP GURU PERSPEKTIF AZ-ZARNUJI DALAM KITAB TA’LĪM AL-MUTA’ALLIM

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "STUDI KRITIS KONSEP ETIKA MURID TERHADAP GURU PERSPEKTIF AZ-ZARNUJI DALAM KITAB TA’LĪM AL-MUTA’ALLIM"

Copied!
83
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

Oleh:

Naili Afriyyani

NPM: 20120720201

FAKULTAS AGAMA ISLAM

PROGRAM PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (TARBIYAH) UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

(2)

SKRIPSI

Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat guna memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Islam (S. Pd. I) strata Satu Pada Program Studi Pendidikan Agama Islam (Tarbiyah)

Fakultas Agama Islam

Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Oleh:

Naili Afriyyani

NPM: 20120720201

FAKULTAS AGAMA ISLAM

PROGRAM PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (TARBIYAH) UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

2016

(3)

Nomor Mahasiswa : 20120720201

Program Studi : Pendidikan Agama Islam (Tarbiyah)

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi ini merupakan karya sendiri dan belum pernah diajukan untuk memperoleh kelas kesarjanaan di suatu Perguruan Tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya dalam skripsi ini tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.

Yogyakarta, 9 Agustus 2016 Yang membuat pernyataan

Naili Afriyyani NPM: 20120720201

(4)

ىِف ُلَقْ ثَأ ٍءْىَش ْنِم اَم

ُلُخْلا ِنْسُح ْنِم ِناَزيِمْلا

“Tidak ada yang lebih berat dalam timbangan (amal) seorang mukmin pada hari

kiamat, melebihi akhlak yang luhur”. (Sunan Abu Dāwud, 2005: 1717).

(5)

adinda dengan ikhlas dan sabar.

Almamater ku, Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

dan Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah.

(6)

HALAMAN NOTA DINAS ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN ... iv

HALAMAN MOTTO ... v

HALAMAN PERSEMBAHAN ... vi

KATA PENGANTAR ... vii

DAFTAR ISI ... ix

ABSTRAK ... xi

TRANSLITERASI ... xii

BAB I PENDAHULUAN A.Latar Belakang Masalah ... 1

B.Rumusan Masalah ... 4

C.Tujuan dan Kegunaan ... 5

D.Sistematika Penulisan ... 6

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA TEORI A.Tinjauan Pustaka ... 7

B.Kerangka Teori ... 9

BAB III METODE PENELITIAN A.Pendekatan ... 28

B.Teknik Pengumpulan Data ... 30

(7)

A.Biografi Az-Zarnuji ... 32

1. Riwayat Hidup ... 32

2. Latar Belakang Pendidikan ... 36

3. Latar Belakang Sosial Politik ... 39

4. Karya-Karya ... 41

5. Seputar Ta’līm al-Muta’allim ... 44

B. Konsep Etika Murid Terhadap Guru Perspektif Az-Zarnuji ... 45

1. Etika Berbicara ... 48

2. Etika Bertamu ... 55

3. Etika Duduk ... 58

4. Etika Mendengarkan ... 59

BAB V PENUTUP A.Kesimpulan ... 65

B.Saran ... 67

C.Kata Penutup ... 68

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN-LAMPIRAN

CURRICULUM VITAE

(8)
(9)

xi

guru perspektif az-Zarnuji dan mengkaji secara kritis terkait konsep etika murid perspektif az-Zarnuji. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Sumber data primer yang digunakan adalah kitab Ta’līm al-Muta’allim, sedangkan sumber data sekunder adalah Pemikiran Pendidikan Islam. Teknik pengumpulan data dengan metode dokumentasi. Analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif kualitatif.

Penelitian ini menghasilkan kesimpulan sebagai berikut: (1) etika murid terhadap guru menurut az-Zarnuji meliputi; a) etika berbicara, b) etika bertamu, c) etika duduk, d) etika mendengar. (2) terdapat tiga etika (etika berbicara, etika mendengar dan etika duduk) yang masih relevan dan dapat diaplikasikan akan tetapi dengan catatan tidak dapat diaplikasikan secara tekstual dan dimaknai secara general. Apabila ketiga etika murid ini dimaknai secara tekstual dan general maka akan memberikan dampak negatif kepada siswa berupa sikap pasif dan menyebabkan siswa sedikit berpikir sehingga dapat menghambat sistem pembelajaran siswa aktif. Adapun etika bertamu tidak relevan dan tidak dapat diaplikasikan. Hal ini disebabkan tidak adanya persamaan antara etika bertamu menurut az-Zarnuji dengan etika bertamu yang terdapat dalam QS. an-Nūr ayat 27-28.

(10)

1

A. Latar Belakang Masalah

Akhlak merupakan urutan ketiga dalam agama Islam setelah aspek tauhid dan ibadah. Dalam Islam akhlak yang diperlukan adalah akhlak

yang seimbang. Keseimbangan yang dimaksud adalah seimbang antara kehidupan duniawi dan ukhrawi. Jika tidak seimbang maka pola hidup dan

sikap manusia berada pada titik statis (Saebani dan Hamid, 2012: 229). Mengenai akhlak Rasulullah beberapa kali mengingatkan melalui sabdanya bahwa akhlak merupakan aspek penting dalam Islam.

Sebagaimana Rasulullah bersabda:

ِقُلُخْا ِنخسُح خنِم ِناَزيِمخلا ِِ ُلَقخ ثَأ ٍءخىَش خنِم اَم

Artinya: Tidak ada yang lebih berat dalam timbangan (amal) seorang mukmin pada hari kiamat, melebihi akhlak yang luhur (Abu Dāwud, 2005: 1717).

Hadis yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dāwud di atas jelas

menunjukkan bahwa tidak ada timbangan yang lebih berat pada hari kiamat melainkan akhlak yang luhur. Melalui sabda Rasulullah maka jelas

dapat diketahui bahwa posisi akhlak sangat penting dalam Islam yang secara khusus juga dalam dunia pendidikan.

Az-Zarnuji sebagai salah satu tokoh pemikir pendidikan Islam

(11)

Menurutnya, ilmu tanpa diiringi dengan etika tidak akan memberikan berkah kepada sang pemilik ilmu. Pada zamannya, banyak para murid

telah bersungguh-sungguh mencari ilmu dan mendapatkannya, akan tetapi manfaat dan keberkahan ilmu tidak didapatkan.

Realita zaman sekarang, tidak sedikit orang yang terdidik akan tetapi tidak mendapatkan manfaat dan keberkahan ilmu yang dipelajari. Hal ini terbukti dengan adanya tindakan kriminal bahkan tindakan asusila

yang ternyata tidak hanya diisi oleh warga yang tidak pernah merasakan dunia pendidikan, namun para orang terdidik juga terlibat di dalamnya.

Ironisnya, mereka adalah dalang dari tindakan kriminal tersebut (liputan6.com). Melihat realita tersebut, maka dapat dipastikan bahwa terdapat kesalahan dalam proses menuntut ilmu terlepas adanya nafsu

dalam diri setiap manusia.

Az-Zarnuji menuliskan dalam kitabnya Taʻlīm al-Muta’allim

bahwa murid harus memiliki etika kepada guru dalam menuntut ilmu. Dikarenakan sangat urgen, maka az-Zarnuji memberikan bagian tersendiri untuk membahas bab etika murid terhadap guru. Namun, ketika dianalisis

lebih mendalam maka konsep etika murid terhadap guru yang ditulis oleh az-Zarnuji dalam kitabnya memiliki perbedaaan dengan sistem pengajaran

(12)

sekarang adalah murid diharapkan lebih aktif atau lebih dikenal dengan istilah active learning (Muttaqien (penj), 2014: 23).

Sebuah peraturan dapat diterapkan apabila terdapat dalil yang kuat untuk mendukung dan melegitimasikan peraturan tersebut. Dalam dunia

Islam tentunya al-Qur’an dan Hadis yang dijadikan sumber hukum. Apabila dalam proses melegitimasi hukum diambil selain dari sumber keduanya maka harus dapat dipastikan tidak bertentangan dengan al-Qur’an dan Hadis. Namun demikian, dalam kitab Taʻlīm al-Muta’allim

terdapat beberapa contoh kasus yang disandarkan pada hikayat dan syair

yang kemudian dijadikan dalil untuk mendukung konsep etika murid terhadap guru yang dijelaskan az-Zarnuji dalam kitabnya. Padahal apabila hikayat ini dijadikan landasan maka jelas tidak dapat digunakan karena

bertentangan dengan hadis Nabi Muhammad Saw. Di antara salah satu hikayat yang dimaksudkan yaitu:

ِضخعَ ب ِِ َنَكَسَو ىَراَُُ خنِم َجَرَخ خدَق ِِاَوخلَخْا ِةمِئَخأا ُسخََ لَجَخأا ُماَمِخْا ُخخيشلاَو

ختَعَ قَو ٍةَثِداَِِ اًمايَأ ىَرُقخلا

,

ِنخب ِرخكَب ىِضاَقخلا ِماَمِخْا ِخخيشلا ُرخ يَغ ُُذخيِم َََت ُهَتَراَز خدَقَو

ِدمَُُ

ىُُِخرزلا

,

ُهَيِقَل َخِْح ُهَل َلاَقَ ف

:

َلاَق ؟خ ِِخرُزَ ت خََ اَذاَمِل

:

خَِِمخدُِِ ًًخوُغخشَم ُتخُك

َةَدِلاَولا

.

َلاَق

:

ُنُكخسَي َناَك ُهنِإَف ،َكِلَذَك َناَكَو ،َسخردلا َقَنخوَر ُقَزخرُ ت ًَِو ،ُرخمُعخلا ُقَزخرُ ت

ِِ ِهِتاَقخوَأ ِرَثخكَأ ِِ

ُسخردلا ُهَل خمِظَتخَ ي خَََو ىَرُقخلا

(13)

mendapat anugerah buah manis belajarṬ” Lalu kenyataanya seperti itu, hingga sebagian banyak waktu az-Zarnuji digunakan tinggal di pedesaan yang membuatnya kesulitan belajar (Az-Zarnuji, 2013: 33-34).

Selain itu, etika murid terhadap guru menurut az-Zarnuji juga memiliki perbedaan dengan konsep etika murid terhadap guru (hubungan

murid dan guru) yang telah dikonsep oleh Ibnu Taimiyah. Ibnu Taimiyah berpendapat bahwa murid menghormati guru adalah sebuah keharusan, akan tetapi Ibnu Taimiyah juga menganjurkan kepada murid untuk

bersikap kritis dalam mencari hakekat ilmu dan tidak boleh terpaku pada satu guru, sebab keterpakuan hanya kepada Rasul. Ibnu Taimiyah juga

menjelaskan bahwa antara murid dan guru harus ada sikap demokratis. Artinya, antara murid dan guru mempunyai hak dan kewajiban yang berbeda, dengan saling menghormati dan menghargai (Iqbal, 2014: 53-55).

Pada penelitian ini peneliti mengambil tokoh az-Zarnuji karena ia merupakan seorang ulama yang bekecimpung dalam dunia pendidikan,

seorang sufi sekaligus ahli fikih, sedangkan kitab Taʻlīm al-Mutaʻallim yang menjadi pilihan disebabkan kitab ini merupakan kitab rujukan yang pada umumnya digunakan pesantren dalam mengkaji akhlak. Berdasarkan

latar belakang yang telah dijelaskan maka penelitian ini sangat perlu untuk ditelaah dan dikaji lebih mendalam.

B. Rumusan Masalah

(14)

1. Bagaimana konsep etika murid terhadap guru perspektif az-Zarnuji? 2. Bagaimana analisis kritis konsep etika murid terhadap guru perspektif

az-Zarnuji?

C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian 1. Tujuan Penelitian

a. Untuk mengetahui konsep etika murid terhadap guru perspektif az-Zarnuji yang telah dijelaskan dalam karyanya yang berjudul Taʻlīm

al-MutaʻallimṬ

b. Untuk mengkaji secara kritis terkait konsep etika murid terhadap

guru perspektif az-Zarnuji. 2. Kegunaan Penelitian

a. Teoritis

Secara teoritis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi pemikiran terhadap pengembangan keilmuan di bidang

akhlak. b. Praktis

(15)

D. Sistematika Pembahasan

BAB I: Pendahuluan. Meliputi latar belakang, rumusan masalah, tujuan dan kegunaan penelitian, sitematika pembahasan.

BAB II: Tinjauan pustaka dan kerangka teori. Berisi tinjauan

pustaka yang terdahulu dan kerangka teori yang relevan dan terkait dengan tema yang diteliti.

BAB III: Metode penelitian. Memuat secara rinci metode penelitian yang digunakan beserta alasannya yang meliputi pendekatan, jenis penelitian, teknik pengumpulan data serta analisis data yang

digunakan.

BAB IV: Hasil dan pembahasan. Mencakup hasil penelitian,

klarifikasi bahasan yang disesuaikan dengan metode penelitian dan rumusan masalah. Pada bab ini akan dipaparkan mengenai biografi az-Zarnuji dan kitab Taʻlīm al-MutaʻallimṬ Selanjutnya, akan dipaparkan

mengenai konsep etika murid terhadap guru secara umum. Kemudian pembahasan yang terakhir akan dibahas mengenai konsep etika murid

terhadap guru perspektif az-Zarnuji dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan jenis penelitian studi kritis.

BAB V: Penutup. Pada bab terakhir ini berisi kesimpulan,

saran-saran. Kesimpulan menyajikan secara ringkas seluruh penemuan penelitian yang ada hubungannya dengan masalah penelitian. Kesimpulan diperoleh

(16)

7

A. Tinjauan Pustaka

Pembahasan mengenai kitab Taʻlīm Mutaʻallim memang sudah banyak diteliti. Terlebih pembahasan mengenai konsep etika murid

terhadap guru, namun ada sedikit celah untuk diteliti lebih lanjut. Pada umumnya penelitian mengenai kitab Taʻlīm Mutaʻallim hanya sebatas menjelaskan konsep etika murid terhadap guru serta implikasi yang

ditimbulkan dan relevansinya dengan pendidikan di era sekarang.

Adapun penelitian yang dilakukan ini adalah untuk memaparkan

konsep etika murid terhadap guru dari az-Zarnuji yang tidak hanya dimaknai secara tekstual namun juga secara kontekstual. Selain itu, penulis

juga akan memberikan landasan al-Qur’an dan hadis yang juga akan dikorelasikan dengan pendapat para cendekiawan muslim dan barat yang berkecimpung dalam dunia pendidikan. Adapun hal lain yang akan

dijelaskan adalah terkait ketidaksesuaian pemikiran az-Zarnuji dengan Ibnu Taimiyah.

Beberapa penelitian yang telah membahas kitab Taʻlīm al -Mutaʻallim yang berkaitan dengan etika murid terhadap guru adalah

penelitian dari Anisa Nandya (2013) tentang “Etika Murid Terhadap Guru

(17)

analisis deduktif dan content analyze. Adapun kesimpulan dari penelitian ini adalah mengungkapkan kembali isi dari kitab Taʻlīm al-Mutaʻallim

termasuk konsep etika murid terhadap guru serta menerangkan bahwa konsep etika murid perspektif az-Zarnuji sebagian besar masih relevan

untuk digunakan pada era sekarang, meskipun ada beberapa yang dianggap kurang relevan ketika diterapkan pada sistem pendidikan di era sekarang ini.

Kemudian penelitian dari Siti Nur Hidayati (2013) tentang “Konsep Etika Peserta Didik Berdasarkan Pemikiran az-Zarnuji Dalam

Kitab Taʻlīm al-Mutaʻallim Dan Implikasinya Bagi Siswa Madrasah

Ibtidaiyah”Ṭ Penelitian ini menggunakan jenis penelitian library research.

Proses pengumpulan data melalui metode dokumentasi, sedangkan

analisisnya menggunakan analisis isi. Pada intinya skripsi ini menjelaskan tentang konsep etika peserta didik menurut az-Zarnuji. Selain memaparkan

konsep etika peserta didik juga menerangkan implikasi dari konsep etika peserta didik terhadap peserta didik. Kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian ini adalah bahwa etika peserta didik terhadap guru menurut

az-Zarnuji masih sangat relevan apabila diterapkan kepada peserta didik pada masa sekarang, terlebih pada tingkat Madrasah Ibtidaiyah.

Selain itu, penelitian dari Zeni Mufida (2013) tentang “Nilai Pendidikan Karakter dalam Kitab Ta’limul Muta’allim dan Ayyuhal

Walad serta Relevansinya terhadap Pendidikan Agama Islam”. Pada

(18)

research, pengumpulan data dengan dokumentasi serta menggunakan

content analisis. Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat nilai-nilai

religius, disiplin, kerja keras, komunikatif, toleransi, mandiri dan peduli, sehingga masih terdapat relevansi baik tujuan, materi, dan metode yang

digunakan dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam.

Berdasarkan pemaparan dari ketiga penelitian tersebut terdapat persamaan, yaitu sama-sama mengkaji ulang etika murid terhadap guru

menurut az-Zarnuji. Adapun perbedaannya terletak pada jenis metode penelitian kualitatif. Pada penelitian ini menggunakan jenis penelitian

kualitatif studi kritis. Sepanjang penelitian yang telah dilakukan belum ditemukan adanya penelitian kualitatif yang berjenis studi kritis mengenai etika murid terhadap guru menurut az-Zarnuji karena pada umumnya

penelitian yang telah dilakukan hanya pada tahap telaah konsep etika murid terhadap guru dalam kitab Taʻlīm al-Mutaʻallim beserta

relevansinya. Selain itu untuk melihat pengaruh dari intensitas mempelajari kitab Taʻlīm al-Mutaʻallim terhadap murid. Berdasarkan alasan inilah maka penelitian ini dirasa masih sangat penting untuk

dilakukan dan dilanjutkan.

B. Kerangka Teori

1. Konsep

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, konsep memilki

(19)

konsep adalah gambaran mental suatu objek, atau apapun yang ada di luar bahasa, yang dulu digunakan akal untuk memahami

masalah-masalah (3) konsep adalah pemikiran yang umum (4) konsep adalah ide atau pendapat yang diabstrakan melalui peristiwa nyata (KBBI,

1991: 764).

Sedangkan dalam Wikipedia bahasa Indonesia dijelaskan bahwa konsep adalah abstrak, entitas mental yang universal yang

menunjuk pada kategori atau kelas dari suatu entitas, kejadian atau hubungan. Suatu konsep adalah elemen dari proposisi, seperti kata

adalah elemen dari kalimat. Konsep adalah universal dimana mereka bisa diterapkan secara merata untuk setiap eksistensinya. Konsep adalah pembawa arti. Suatu konsep tunggal bisa dinyatakan dengan

bahasa apapun (http://id.wikipedia.org/wiki/konsep).

2. Makna Etika

a. Pengertian Etika

Dalam ensiklopedia New American, sebagaimana diuraikan oleh Hamzah Yaʻqub (1993:13), etika adalah kajian filsafat moral

yang tidak mengkaji fakta-fakta, tetapi meneliti nilai-nilai dan

perilaku manusia serta ide-ide tentang lahirnya suatu tindakan. Menurut Frans Megnis-Suseno, etika adalah usaha manusia untuk

(20)

halnya dengan pandanagn filosofis Epikuros, bahwa arti dari etika yaitu segala sesuatu yang berkaitan dengan nilai-nilai tindakan

manusia yang menurut ukuran rasio dinyatakan dan diakui sebagai sesuatu yang substansinya paling benar. Kaidah kebenaran

disandarkan pada akal sehat manusia dan distandarisasi menurut ukuran yang rasional (Saebani dan Hamid, 2010: 27).

Al-Ghazali, seorang tokoh filsafat yang kemudian beralih

konsentrasi di tasawuf berpendapat bahwa etika merupakan salah satu karakteristik mistisisme. Oleh karenanya tasawuf mempunyai

kaitan erat dengan teori-teori etika. Etika Ghazali memiliki kecenderungan corak teleologis atau sering disebut dengan etika kosekuensialistis (Syukur dam Masyharuddin, 2002:185). Ukuran

baik atau buruknya suatu perbuatan dapat dilihat dari sisi akibatnya atau konsekuensi (Al-Ghazali, 1986: jilid IV, 138).

b. Pembagian Etika

Menurut Abd. Haris dan para ahli filsafat, etika dibagi

menjadi tiga yakni etika deskriptif, etika normatif, dan etika metaetika.

1) Etika Deskriptif

Menurut Jan Hendrik, etika deskriptif adalah etika yang menguraikan dan menjelaskan kesadaran dan

(21)

termasuk dalam bidang ilmu pengetahuan empiris dan berhubungan erat dengan kajian sosiologi yang

berusaha menemukan dan menjelaskan kesadaran, keyakinan dan pengalaman moral dalam suatu

lingkungan besar mencakup bangsa-bangsa (Haris, 2010: 36).

Jan Hendrik membagi etika deskriptif menjadi

dua, yakni sejarah moral dan fenomenologi moral. Sejarah moral merupakan bagian etika deskriptif yang

bertugas meneliti cita-cita, aturan-aturan, dan norma-norma moral yang pernah diberlakukan dalam kehidupan manusia pada kurun waktu dan suatu tempat

tertentu atau dalam suatu lingkungan besar mencakup bangsa-bangsa, sedangkan fenomenologi merupakan

etika deskriptif yang berupaya untuk menemukan arti dan makna moralitas dari berbagai fenomenal moral yang ada. Fenomenologi moral ini tidak membahas apa

yang dimaksud dengan yang benar dan yang salah (Haris, 2010: 36).

2) Etika Normatif

Etika normatif seringkali disebut dengan filsafat moral (moral philosophy) atau biasa juga disebut

(22)

sebagian ahli filsafat, etika normatif dibagi menjadi dua, yaitu konsekuensialis (teleological) dan

nonkonsekuensialis (deontolo-gical). Etika normatif konsekuensialis menganggap bahwa moralitas suatu

tindakan ditentukan oleh konsekuensinya. Adapun etika normatif nonkonsekuensialis, moralitas didasarkan pada sebab-sebab yang menjadi dorongan dari tindakan itu,

atau ditentukan oleh sifat-sifat hakikinya atau oleh keberadaannya yang sesuai dengan ketentuan-ketentuan

dan prinsip-prinsip tertentu (Haris, 2010: 37). 3) Etika Metaetika

Etika metaetika adalah sebuah cabang dari etika

yang membahas dan menyelidiki serta menetapkan arti dan makna istilah-istilah normative yang diungkapkan

lewat pertanyaan-pertanyaan etis yang membenarkan atau menyalahkan suatu tindakan. Istilah-istilah normatif yang sering mendapat perhatian khusus, antara

lain keharusan, baik, buruk, benar, salah, yang terpuji, yang tercela, yang adil, yang semestinya dan lain

sebagainya (Haris, 2010: 37).

Etika dalam kacamata Islam sering disebut dengan etika Islam, menurut Majid Fakhry etika Islam terbagi menjadi empat

(23)

1) Moralitas Skriptual

Moralitas Skriptual ini merupakan etika yang

keputusan-keputusan yang terkait dengan etika tersebut diambil dari al-Qur’an dan Hadis dengan memanfaatkan

abstraksi-abstraksi dan analisis-analisis para filosuf dan para teolog di bawah naungan metode-metode dan kategori-kategori diskursif yang berkembang pada abad

8 dan 9. Kelompok yang termasuk tipe ini adalah sebagian para ahli tafsir dan para ahli hadis (Fakhry,

1991: 7). 2) Etika Teologis

Etika Teologis adalah sebuah tipe etika yang

dalam pengambilan keputusan-keputusan etika, sepenuhnya mengambil dari al-Qur’an dan Hadis. Ini merupakan etika tipe kelompok Islam aliran Muʻtazilah

dan Asyʻariyah (Fakhry, 1991: 7).

3) Etika Filosofis

Etika filosofis ini tipe etika yang mengambil keputusan-keputusan etika, mendasarkan diri

sepenuhnya pada tulisan Plato dan Aristoteles yang telah diinterpretasikan oleh para penulis Neo-Platonik dan Galen yang digabung dengan doktrin-doktrin Stoa,

(24)

dan penerusnya termasuk dalam kelompok etika filosofis (Fakhry, 2010: 7).

4) Etika Religius

Etika religius adalah tipe etika yang mengambil

keputusan etikanya berdasarkan al-Qur’an, Hadis, konsep-konsep teologis, kategori-kategori filsafat, dan sedikit sufis. Unsur utama pada etika religius ini

biasanya terkonsentrasi pada dunia dan manusia. Tipe pemikiran ini lebih kompleks dan berciri Islam.

Beberapa tokoh yang termasuk dalam kategori etika religius adalah Ḥasan al-Baṣry, al-Mawardi, al-Gazali, Fakhruddin ar-Razi, Ragib al-Isfihani, dan lain

sebagainya (Fakhry, 2010: 7).

Dengan demikian, maka etika dapat disimpulkan sebagai

aturan atau pola tingkah laku yang dihasilkan oleh akal manusia. Penentuan baik atau buruk yang paling baik disandarkan kepada agama (perbuatan yang sesuai dengan aturan Tuhan). Penentuan

baik atau buruk memiliki perbedaan antara satu agama dengan agama yang lain, meski demikian dalam pembahasan ini penentuan

(25)

3. Makna Murid

a. Pengertian Murid

Dilihat dari etimologi, murid berasal dari bahasa Arab dari akar kata arāda-yurīdu-irādatan yang berarti menghendaki,

mengingini, dan memaksudkan (Munawwir, 1997: 547). Selain kata murid, kata tilmīż dan ālib juga digunakan untuk penyebutan kepada seseorang yang tengah menempuh pendidikan, yang ketiga

istilah tersebut berasal dari bahasa Arab. Kata Tilmīż berasal dari akar kata talmaża-yutalmiżu-talmażatan yang berarti berguru

(Munawwir, 1997: 138), sedangkan kata ālib berasal dari kata alaba-ya lubu- alaban, yang berarti meminta, mencari atau berarti

sama dengan kata murid (Munawwir, 1997: 857). Istilah murid,

peserta didik, siswa dan mahasiswa merupakan istilah yang biasa ditujukan kepada seseorang yang sedang menempuh pendidikan,

meskipun ada pembedaan antar penyebutan siswa dan mahasiswa, karena penyebutan keduanya digunakan pada tingkatan pendidikan yang berbeda.

Secara terminologi murid adalah pribadi “unik” yang

memliki potensi dan mengalami proses perkembangan (Daradjat,

1995: 268). Murid adalah makhluk yang sedang berada pada proses perkembangan dan pertumbuhan menurut fitrah (sifat asal, pembawaan, kesucian dan bakat) masing-masing. Murid

(26)

ke arah titik optimal dari fitrahnya (Arifin dalam Nata, 1997: 79). Abuddin Nata juga menjelaskan bahwa murid adalah orang yang

tengah memerlukan pengetahuan atau ilmu, bimbingan dan pengarahan. Dalam teori Barat pandangan mengenai pesera didik

(murid) juga sama dalam pandangan Islam, yaitu individu yang sedang tumbuh dan berkembang, baik secara fisik, psikologi sosial, dan religious dalam mengarungi kehidupan di dunia dan di akhirat

kelak (Daradjat, 2006: 103).

Ada beberapa pengertian murid menurut para ahli pemikir

pendidikan. Di antaranya menurut Daradjat menuturkan bahwa murid adalah pribadi “unik” yang memliki potensi dan mengalami

proses perkembangan (Daradjat, 1995: 268). Senada dengan

Daradjat, M. Arifin juga menjelaskan bahwa murid adalah makhluk yang sedang berada pada proses perkembangan dan

pertumbuhan menurut fitrah (sifat asal, pembawaan, kesucian dan bakat) masing-masing (Arifin, 1991: 144). Diperkuat lagi dengan pengertian bahwa murid adalah orang yang tengah memerlukan

pengetahuan atau ilmu, bimbingan dan pengarahan. Dalam teori Barat pandangan mengenai pesera didik (murid) juga sama dalam

pandangan Islam, yaitu individu yang sedang tumbuh dan berkembang, baik secara fisik, psikologi sosial, dan religious dalam mengarungi kehidupan di dunia dan di akhirat kelak (Nata,

(27)

Dalam istilah tasawuf, murid diartikan sebagai pencari hakikat di bawah bimbingan dan arahan seorang pembimbing

spiritual (mursyid), sedangkan ālib adalah penempuh jalan spiritual, berusaha keras menempa diri untuk mencapai derajat sufi.

Penyebutan murid, siswa, peserta didik biasa dipakai pada sekolah tingkat dasar, sementara untuk perguruan tinggi biasanya disebut dengan mahasiswa ( ālib) (Drajat, 2006: 104). Meski ada

perbedaan penyebutan berdasarkan jenjang pendidikan, pada intinya penggunaan kata murid, siswa, peserta didik, anak didik

atau mahasiswa ditujukan kepada seseorang yang sedang menempuh pendidikan.

b. Tugas Murid

Setiap orang memiliki tugas masing-masing, begitu juga

dengan seorang murid. Murid sebagai orang yang sedang menempuh perjalanan demi mendapatkan ilmu juga mempunyai tugas yang harus dilaksanakan. Menurut Zakiah Daradjat, tugas

murid dapat dilihat dari berbagai aspek. Di antara aspek-aspek tersebut yaitu (Daradjat, 1995: 268-276):

1) Aspek yang berhubungan dengan belajar. Pada aspek ini murid diharapkan dapat berlaku efektif dan produktif dalam belajar. Mampu memanajemen waktu, mengetahui motif/tujuan belajar,

(28)

pengetahuan dan pengalaman-pengalaman belajar sebelumnya (apersepsi), sehingga murid dengan mudah menerima sesuatu

yang baru.

2) Aspek yang berhubungan dengan bimbingan. Pada dasarnya

tidak semua murid mendapatkan bimbingan dari gurunya. Murid yang mendapat bimbingan hanyalah murid yang dirasa sangat perlu untuk dibimbing secara intensif dikarenakan

adanya berbagai alasan yang dipertimbangkan. Tugas murid pada aspek bimbingan ini adalah rela dan ikhlas untuk

dibimbing, sehingga bimbingan yang dilakukan oleh guru itu dapat dilaksanakan secara efektif.

3) Aspek yang berhubungan dengan administrasi. Tugas murid

terhadap aspek yang berhubungan dengan administrasi adalah menaati tata tertib dan peraturan yang telah dibuat oleh sekolah

demi terciptanya proses belajar yang bermutu dan efektif. 4) Aspek yang berhubungan dengan adab dalam bergaul. Adab

bergaul ini meliputi adab kepada guru, sesama murid dengan

sesama jenis maupun lawan jenis, termasuk juga karyawan sekolah.

(29)

4. Makna Guru a. Pengertian

Dalam bahasa Arab Istilah guru sering disebut dengan mu’allim, mudarris, ustāż, dan mu’addib. Kata mu’allim berasal

dari akar kata ‘allama-yu’allimu-ta’līman yang berarti guru, pelatih dan pemandu, sedangkan kata mudarris yang berasal dari kata

darrasa-yudarrisu-tadrīsan memiliki arti guru pelatih dan dosen. Adapun kata ustāż jamaknya asātiż yang berarti guru, professor, jenjang di bidang intelektual, pelatih, penyair, dan penulis.

Selanjutnya kata mu’addib yang berasal dari kata addaba-yu’addibu-ta’dīban berarti pendidik dan guru dalam lembaga

pedidikan al-Qur’an. Selain empat kata yang biasa digunakan sebagai penyebutan guru, juga ada penyebutan lain yang biasa digunakan untuk menyebut guru, yaitu murabbi. Kata murabbi

yang juga berbahasa Arab berasal dari akar kata rabbā-yurabbī -tarbiyatan yang berarti mengasuh, mendidik dan memelihara

(Munawwir, 1997: 469).

Dalam bahasa Inggris ditemukan beberapa kata yang berdekatan dengan guru. Di antarnya: teacher, tutor, educator.

Teacher berarti guru atau pengajar, tutor berarti guru pribadi atau

guru yang mengajar di rumah, sedangkan educator berarti

(30)

Secara terminologi guru adalah orang yang melakukan kegiatan dalam hal mendidik (Nata, 1997: 61). Menurut WJS.

Poerwadarminto guru (disebut pendidik) adalah orang yang mendidik. Ahmad Tafsir berpendapat bahwa guru adalah siapa saja

yang bertanggung jawab terhadap perkembangan anak didik (Tafsir, 2004: 74). Lain halnya dengan Hadari Nawawi, ia mendefinisikan bahwa guru adalah orang yang kerjanya mengajar

atau memberikan pelajaran di sekolah/di kelas. Secara lebih khusus lagi, beliau mengatakan bahwa guru berarti orang yang bekerja

dalam bidang pendidikan dan pengajaran yang ikut bertanggung jawab dalam membantu anak-anak mencapai kedewasaan masing-masing. Lebih lanjut beliau mengatakan guru dalam pengertian ini

bukan hanya sekedar berdiri di depan kelas untuk menyampaikan materi pengetahuan tertentu, akan tetapi anggota masyarakat yang

harus ikut aktif dan berjiwa bebas serta kreatif dalam mengarahkan perkembangan anak didiknya untuk menjadi anggota masyarakat sebagai orang dewasa (Nata, 1997: 123).

Menurut al-Gazali, guru dalam pengertian akademik ialah seseorang yang meny ampaikan sesuatu kepada orang lain atau

seseorang yang menyertai sesuatu institusi untuk menyampaikan ilmu pengetahuan kepada para pelajarnya. Dalam kitab lain, al-Gazali juga memberikan definisi guru sebagai orang yang

(31)

kepada seseorang yang berkemauan tanpa melihat umur walaupun terpaksa melalui pelbagai cara dan strategi tanpa mengharapkan

ganjaran (gaji) (Iqbal, 2015: 94).

b. Tugas Guru

Tugas pokok dari seorang guru adalah mengajak manusia untuk tunduk dan patuh pada hukum-hukum Allah, guna memperoleh keselamatan dan kebahagiaan di dunia dan di akhirat.

Dan kunci untuk melaksanakan tugas tersebut, seorang pendidik dapat berpegang pada amar ma`ruf nahi munkar, menjadikan

tauhid sebagai pusat kegiatan penyebaran misi iman, Islam, dan Ihsan, kekuatan yang dikembangkan oleh pendidik adalah individualitas, sosial dan moral (nilai-nilai agama dan moral)

(Nafis, 2006: 88).

Muhammad Fathurrohman dan Sulistyorini

mengklasifikasikan tugas guru menjadi tiga bagian, yakni: tugas dalam bidang profesi, tugas kemanusiaan dan tugas dalam bidang kemasyarakatan (Fathurrohman dan Sulistyorini, 2012: 37). Tugas

guru dalam bidang profesi meliputi mendidik, mengajar dan melatih (Fathurrohman dan Sulistyorini, 2012: 37). Tugas guru

dalam bidang kemanusiaan di sekolah harus dapat menjadikan dirinya sebagai orang tua kedua, juga dapat menarik simpati sehingga menjadi idola para murid. Tugas guru dalam

(32)

uswatun ḥasanah karena pada umumnya seorang guru

mendapatkan posisi terhormat di masyarakat dengan ilmu yang

dimilikinya. Selain itu seorang guru juga memiliki peran penting dalam menentukan gerak maju kehidupan bangsa (Akhyak, 2006:

205).

Menurut Abdrurahman an-Nahlawy, di antara tugas guru yaitu: a. Berfungsi sebagai penyuci. Artinya seorang guru itu berfungsi

sebagai pembersih, pemelihara, dan pengembangan fitrah murid.

b. Berfungsi sebagai pengajar. Artinya seorang guru bertugas menginternalisasikan dan mentransformasikan pengetahuan (knowledge) dan nilai-nilai (value) agama kepada murid

(Tafsir, 2002: 88).

Sebagaimana beberapa tugas guru yang telah dijelaskan di atas,

seorang guru harus dapat menjalankan tugas tersebut, disamping seorang guru harus menguasai pengetahuan yang akan diajarkan kepada muridnya, maka seorang guru juga harus memilki sifat-sifat tertentu yang dengan

sifat-sifat tersebut diharapkan dapat menjadikan guru tersebut memiliki kewibawaan di hadapan muridnya, sehingga yang diajarkan oleh guru

(33)

Mohammad Atiyah al-Abrasy menyebutkan tujuh sifat yang harus dimiliki oleh seorang guru. Berikut adalah tujuh sifat tersebut (Nata, 1997:

71-76) :

a. Seorang guru harus memiliki sifat zuhud, yaitu tidak mengutamakan untuk mendapatkan materi dalam tugasnya,

melainkan karena mengharapkan keriḍaan Allah semata-mata. b. Seorang guru harus memiliki jiwa yang bersih dari sifat dan

akhlak yang buruk. Terhindar dari dosa dan kesalahan serta sifat-sifat tercela lainnya menurut agama Islam.

c. Seorang guru harus ikhlas dalam melaksanakan tugasnya. Ikhlas di sini diartikan sebagai perkataan yang terlontar dari guru sesuai dengan perbuatannya, melakukan yang

diucapkannya dan tidak malu untuk mengatakan tidak tahu ketika seorang guru tersebut memang tidak tahu.

d. Seorang guru harus bersifat pemaaf terhadap muridnya. Mampu menahan kemarahan, bersikap lapang dada, sabar dan tidak pemarah.

e. Seorang guru harus dapat menempatkan dirinya sebagai seorang bapak/ibu dari murid-muridnya sebelum seorang guru

menempatkan dirinya sebagai guru. Seorang guru harus mencintai murid-muridnya seperti halnya mencintai anak-anaknya sendiri, dan memikirkan murid-muridnya seperti

(34)

f. Seorang guru harus mengetahui bakat, tabiat dan watak murid-muridnya. Dengan mengatahuinya, diharapakan guru tidak

salah dalam mengarahkan murid-muridnya.

Seorang guru harus menguasai bidang studi yang akan

diajarkannya. Dengan demikian, pelajaran yang disampaikan tidak bersifat dangkal, tidak memuaskan dan tidak menyenangkan bagi orang yang lapar ilmu.

5. Etika murid terhadap guru

Secara definitif etika murid adalah upaya seorang yang sedang dalam proses menuntut ilmu untuk melakukan kebaikan yang sesuai

dengan nilai-nilai yang tidak bertentangan dengan rasio, budaya dan agama.

Dalam ajaran ariqah menetapkan adanya etika yang wajib dilaksanakan oleh murid terhadap gurunya apabila seorang murid dalam pencariannya telah mendapatkan seorang syaikh (sebutan guru

dalam ajaran ariqah). Adapun etika yang dimaksud yaitu: (Jumantoro dan Amin, 2005: 50).

(35)

2. Berbaik sangka kepadanya, dan apabila seorang murid melihat secara zahir Syaikhnya berbuat kesalahan,

seyogianya seorang murid tetap berbaik sangka atas ketidaktahuannya terhadap yang dilakukan oleh Syaikh,

akan tetapi bila tetap hal tersebut tidak bisa dilakukan, wajib bagi murid untuk bertanya agar terlepas dari penilaiannya yang minor terhadap Syaikhnya.

3. Murid harus bersikap jujur, dan tidak dibenarkan untuk taat secara zahir dan mengkhianatinya secara batin karena

Syaikh sebagaimana yang dimaksud di atas, mampu mengetahuinya dengan izin Allah.

4. Bila seorang murid ingin mengikuti Syaikh Tahkim

lainnya, selain Syaikh yang pertama, murid wajib meminta izin kepada Syaikh yang pertama. Apabila Syaikh yang

pertama melarang maka seyogianya murid mengikutinya karena Syaikhnya lebih tahu akan kemaslahatan baginya. 5. Apabila seorang murid jauh dari Syaikhnya seyogianya

murid meminta petunjuk-petunjuk yang harus dilakukan dan ditinggalkan.

M. Naquib al-Attas, seorang yang terkenal dengan teori adab dalam melaksanakan pendidikan Islam, membagi menjadi empat poin terkait dengan etika murid terhadap guru. Lebih lanjut

(36)

merupakan kewajiban yang harus dilakukan oleh murid. Di antara

ke empat poin tersebut yakni:

1) Menghormati guru. 2) Percaya kepada guru.

3) Sabar dengan kekurangan guru.

4) Murid harus memahami dengan benar yang disampaikan guru sehingga dapat mengaplikasikan secara tepat dalam kehidupan

pribadi sosial (Iqbal, 2015: 305-306).

Seperti halnya Ibnu Taimiyah, Imam al-Gazali juga

menerangkan etika murid terhadap serangkaian dengan kewajiban murid yang harus dilakukan sebagai pencari ilmu. Al-Gazali menerangkan etika murid terhadap guru dalam poin kewajiban

seoarng murid tidak diperbolehkan sombong karena ilmu dan tidak menentang guru. Selanjutnya al-Ghazali menyebutkan bahwa

seorang murid harus menyerahkan segala urusannya secara keseluruhan dalam setiap rincian kepada guru, mendengarkan nasehat guru seperti halnya orang sakit dan bodoh mendengarkan

(37)

28

A. Pendekatan

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Hal ini dikarenakan penelitian ini membutuhkan pemahaman dari dokumen

tertulis berupa buku, jurnal, juga sumber-sumber tertulis. Seperti halnya surat kabar, opini serta kutipan-kutipan. Penelitian kualitatif yang sering dikenal dengan naturalistic inquiry (inkuiri alamiah) ini memiliki

beberapa definisi yang dikemukakan oleh para pakar pendidikan. Menurut Bogdan dan Taylor dalam Moleong penelitian kualitatif adalah sebuah

prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati

(Moleong, 1998: 3). Sejalan dengan definisi Bogdan dan Taylor, Kirk dan Miller mendefinisikan bahwa penelitian kualitatif adalah tradisi tertentu dalam ilmu pengetahuan sosial yang secara fundamental bergantung pada

pengamatan manusia dalam kawasannya sendiri dan berhubungan dengan orang-orang tersebut dalam bahasanya dan dalam peristilahannya

(Moleong, 1998: 3).

Terdapat penjelasan dalam buku karya Anselm Strauss dan Julie Corbin yang diterjemahkan oleh Muhammad shodiq dan Imam Muttaqien

(38)

dan Corbin, 2003: 4). Masih dalam buku yang sama bahwa penelitian kualitatif ini memiliki tiga unsur utama yang harus terpenuhi. Pertama,

data, bisa berasal dari bermacam sumber. Kedua, prosedur analisis dan interpretasi yang digunakan untuk mendapatkan temuan atau teori. Ketiga,

laporan tertulis dan lisan (Strauss dan Corbin, 2003: 7).

Adapun jenis pendekatan penilitian kualitatif ini digunakan adalah studi kritis. Adapun alasannya dikarenakan penelitian yang akan dilakukan

ini untuk mengetahui secara transaparan terkait etika murid terhadap guru yang telah dikonsep az-Zarnuji sejak 8 abad yang lalu. Selain itu penelitian

ini juga bertujuan untuk mengetahui apakah konsep etika murid terhadap guru tersebut masih relevan di era pendidikan modern seperti sekarang ini. Ketika diperoleh hasil konsep etika murid terhadap guru tersebut masih

relevan sampai sekarang maka apakah bisa secara tekstual (secara apa adanya sesuai yang tertulis dalam kitab Taʻlīm al-Mutaʻallim) ataukah

akan dimaknai secara kontekstual, sehingga aplikasi yang akan diterapkan di sekolah sesuai dengan konteks pendidikan era sekarang bukan lagi berdasarkan apa yang tertulis di kitab Taʻlīm al-Mutaʻallim.

Ada beberapa definisi studi kritis yang dikemukakan oleh para tokoh peneliti. Davis dan Cosenva berpendapat bahwa studi kritis

merupakan proses penelitian untuk mengidentifikasi masalah dan metode untuk mendapatkan solusinya (Davis dan Covensa, 1993: 37), sedangkan menurut Kerlinger bahwa tujuan dari studi kritis untuk melakukan

(39)

Terdapat penjelasan dari Patti Lather bahwasannya teori kritis termasuk pendekatan era post positif, yang mencari makna di balik yang empire, dan

menolak valuefree. Menurutnya teori kritis ini mempunyai dua asumsi dasar yang menjadi landasan, yaitu: pertama, ilmu sosial bukan sekedar

memahami ketidakadilan dalam distribusi kekuasaan dan distribusi resources, melainkan berupaya untuk membantu menciptakan kesamaan dan emansipasi dalam kehidupan. Kedua, pendekatan teori kritis memiliki

keterikatan moral untuk mengkritik status quo dan membangun masyarakat yang lebih adil (Muhadjir, 2000: 196-197).

B. Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dokumentasi, yaitu mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, buku, surat kabar, majalah dan sebagainya (Arikunto,

1998: 236). Adapun penilitian ini termasuk dalam jenis penelitian pustaka (library research), yaitu penelitian yang menggunakan buku-buku sebagai

sumber data dalam melakukan penelitian.

Dalam penelitian ini ada dua sumber yang digunakan yaitu sumber data primer dan sumber data sekunder.

a. Sumber data primer

Sumber data primer yang digunakan dalam penelitian adalah

(40)

b. Sumber data sekunder

Karya-karya digunakan sebagai sumber data sekunder dalam

penelitian ini adalah Pemikiran Pendidikan Islam karya Abu Muhammad Iqbal, Ilmu Akhlak karya Beni Ahmad Saebani,

Abdul Hamid dan Filsafat Pendidikan Islam karya Abuddin Nata serta sumber-sumber pendukung lain yang terkait dengan pembahasan yang akan diteliti.

C. Analisis Data

Setelah data terkumpul langkah yang kemudian ditempuh adalah melakukan penelitian. Adapun analisis yang digunakan bersifat deskriptif

analisis, yaitu suatu bentuk penelitian yang meliputi proses pengumpulan dan penyusunan data, pada tahap selanjutnya data yang sudah terkumpul dan tersusun tersebut dianalisis secara teliti dan mendalam. Pada penelitian

ini digunakan deskriptif analisis yang bersifat deduksi. Deduksi merupakan langkah analisis dari hal-hal yang bersifat umum ke hal-hal

(41)

32

A. Biografi az-Zarnuji 1. Riwayat Hidup

Biografi az-Zarnuji tidak diketahui secara pasti, sehingga

banyak diperselisihkan. Dimulai dari nama, tanggal lahir, wafat, domisili dan daerah asal ia lahir. Menurut salah satu pendapat, nama lengkapnya adalah Syaikh Ibrāhim bin Ismā’il az-Zarnuji

(https://sites.google.com). Ada juga yang berpendapat bahwa ia wafat pada tahun 840 H/1243 M. Awaludin Pimay memaparkan dalam

tesisnya mengenai perbedaan nama lengkap Zarnuji: Khairudin az-Zarkeli menuliskan nama az-Zarnuji dengan Nuʻman bin Ibrāhim bin Khalil az-Zarnuji Tajuddin. Seperti dikutip oleh Tatang M. Amirin, M.

Ali Chasan Umar dalam kulit sampul buku az-Zarnuji yang diterjemahkannya, menyebutkan nama lengkap az-Zarnuji sebagai Syaikh Nuʻman bin Ibrāhim bin al-Khalil az-Zarnuji, sementara

Busyiri Madjidi yang mengutip dari buku Fuad al-Ahwalani menyebutkan nama lengkap az-Zarnuji dengan Burhān ad-Dīn az

-Zarnuji. Demikian juga Muchtar Affandi dan beberapa literatur yang dikutip dalam Burhān ad-Dīn az-Zarnuji. Kecuali itu ditemukan pula

(42)

Dalam kamus Islam terdapat dua nama lengkap untuk

az-Zarnuji, yaitu Burhān ad-Dīn az-Zarnuji, hidup pada abad ke 6 H/

13-14 M dan Tajuddin az-Zarnuji (Nu’man bin Ibrahīm), wafat pada tahun 645 H (https://maragustamsiregar.wordpress.com). Ada juga yang berpendapat bahwa nama lengkapnya adalah Burhān ad-Dīn Ibrāhim az-Zarnuji al-Hanafī. Selain gelar Burhān ad-Dīn, Burhān al

-Islam juga diberikan kepada az-Zarnuji, sehingga ada yang mengenal

bahwa nama lengkap az-Zarnuji adalah Burhān ad-Dīn az-Zarnuji atau Burhān al-Islam az-Zarnuji. Tetapi sebutan dengan Burhān ad-Dīn az

-Zarnuji lebih masyhur. Ada juga yang berpendapat bahwa Burhān ad -Dīn az-Zarnuji adalah nama sejak lahir.

Menurut al-Gazali, kedua gelar tersebut diberikan kepada

az-Zarnuji karena ia memberikan kontribusi besar melalui pemikiran pendidikan dan pengajaran Islam pada masanya. Ini merupakan

kebiasaan ulama dan tokoh-tokoh tertentu dengan gelar-gelar keagamaan, dengan harapan supaya orang yang menyandang gelar tersebut dapat mewujudkan dan mengembangkan masyarakat religius

(http://hakamabbas.blogspot.com).

Selain dari beberapa pendapat mengenai nama lengkap az-Zarnuji, ada juga beberapa pendapat mengenai di mana az-Zarnuji

hidup. Sebagian peneliti berpendapat bahwa az-Zarnuji berasal dari Zaradj, yaitu suatu daerah yang kini dikenal sebagai Afganistan, jika

(43)

berpendapat bahwa ia berasal dari daerah Mā Warā’a an-Nahar (Transoxinia) (https://sites.google.com). Menurut Von Grunebaum

dan Abel seperti yang dikutip oleh Maemonah dalam tesisnya (Iqbal, 2015: 370), mereka berpendapat bahwa az-Zarnuji adalah seorang

sarjana dari Persia. Lebih lanjut mereka menyatakan bahwa az-Zarnuji adalah ahli hukum dari sekolah Imam Hanafī yang ada di Khurasan

(Kharasan Raya (bahasa Persia: گرزب ناسارخ) (juga dieja Kharasaan, Khurasan dan Khurasaan) adalah istilah modern untuk wilayah timur

Persia kuno sejak abad ke-3. Kharasan raya meliputi wilayah yang kini

merupakan bagian dari Iran, Afganistan, Tajikistan, Turmenistan dan Uzbekistan. Kharasan Raya meliputi Nashapur, Tus (kini Iran), Heart, Balkh, Kabul dan Ghazni (kini di Afganistan), Merv (kini di

Turkmenistan), Smarqand, Bukhara dan Khiva (kini di Uzbekistan), Khujand dan Panjakent (kini Tajikistan))

(http://id.wikipedia.org/wiki/Khorasan_Raya) dan Transoxiana (Transoxiana adalah nama sebuah wilayah kuno yang terletak di Asia Tengah , antara Sungai Amu Darya dan Sungai Syr Darya Penggunaan

istilah ini harusnya digunakan sampai abad ke 7 tetapi istilah masih digunakan di kalangan sejarawan Barat beberapa abad setelahnya.

Nama Transoxiana berasal dari bahasa Latin yang berarti "daerah di sekitar sungai Oxus", sungai Oxus yaitu sebutan kuno dari Sungai Amu Darya. Setelah ditaklukkan Arab pada abad ke 8, daerah ini

(44)

"yang berada di luar sungai". Sekarang daerah ini termasuk dalam wilayah yang sebagian besar berada di Uzbekistan, tetapi juga

sebagian di selatan Kazakhstan, Tajikistan dan Turkmenistan. Kota-kota bersejarah yang penting di Transoxania yaitu Samarkand dan

Bukhara (http://id.wikipedia.org/wiki/Transoxiana), sayangnya tidak ada informasi yang mendukung informasi ini (http://hakamabbas.blogspot.com).

Disebutkan pula bahwa az-Zarnuji tinggal di Zarnuq atau Zarnuj, seperti kata itulah yang dibangsakan kepadanya. Seperti

disebutkan dalam Qāmus Islami, bahwa Zarnuq atau Zarnuji adalah nama negeri masyhur yang terletak di kawasan sungai Tigris (Mā

Warā’a an-Nahar) yakni Turkistan Timur (Turkmenistan) (http://id.wikipedia.org). Ada pula yang berpendapat bahwa az-Zarnuji

tinggal di kawasan Irak-Iran. Ini dikarenakan ia hidup pada akhir periode Abbasiyah dan ia mengetahui syair Persia, disamping juga

banyaknya contoh-contoh peristiwa pada masa Dinasi Abbasiyah yang dituturkan dalam kitabnya (Yaqub, 1986: 79). Hal ini terbukti dengan adanya kisah Hārūn ar-Rasyīd yang dituliskan dalam kitabnya, sebagai

berikut:

َمخلِعخلا ُهَمَلخعَ يِل ِىِعُمخصَأا ََِإ ُهَخ با َثَعَ ب ىِدخيِشَرلا َنخوُراَ َةَفخ يِلَخْا نَأ َىِكُح

ىَلَع َءاَمخلا بُصَي ِةَفخ يِلَخْا ُنخباَو ،ُهَلخجِر ُلِسخغَ يَو ُأضَوَ تَ ي اًمخوَ ي ُآَرَ ف َبَدَخأاَو

ُمخصَخأا ُةَفخ يِلَخْا خبَتاَعَ ف ،ِهِلخجِر

َلاَقَ ف َكِلَذ ِِ ىِع

(45)

ىَرخخُخأاِب َلِسخغَ يَو ،ِهخيَدَي ىَدخحِإِب َءاَمخلا بُصَي خنَأِب ُخرُمخأَت خََاَذامَلَ ف ُهِبدَؤُ تَو

؟َكَلخجِر

Dikisahkan bahwa Khalifah Hārūn ar-Rasyīd mengirim

putranya kepada ustaz Aṣmuʻi supaya diajari ilmu dan akhlak yang terpujiṬ Kemudian pada suatu hari Hārūn ar-Rasyīd melihat Aṣmuʻi sedang wudu membasuh kakinya dengan air yang dituangkan oleh putra khalifahṬ Melihat hal itu, Hārūn ar-Rasyīd berkata, “Aku kirim anakku kepadamu supaya kamu ajari ilmu dan budi pekerti, lalu mengapa tidak kamu perintah dia untuk menuangkan air dengan

tangan kiri supaya yang kanan bisa membasuh kakimu?”(Az-Zarnuji,

2013: 34-35)

Selain Afganistan, Persia, Irak dan Iran yang kemungkinan menjadi asal az-Zarnuji, Turki juga menjadi daerah asal az-Zarnuji karena az-Zarnuji sendiri dinisbatkan pada suatu tempat bernama

Zurnuj yaitu sebuah tempat yang berada di wilayah Turki (http://biografiulama4.blogspot.com). Ada beberapa peneliti

berpendapat bahwa dilihat dari penisbatan nama az-Zarnuji diambil berdasar pada daerah dari mana ia berasal, yaitu daerah Zarand (Nata, (2001) dalam Iqbal (2015: 370)). Zarand adalah salah satu daerah di

wilayah Persia yang pernah menjadi ibu kota Sidjistan yang terletak di sebelah selatan heart (Iqbal, 2015: 370).

2. Latar Belakang Pendidikan

Az-Zarnuji menuntut ilmu di Bukhara dan Samarkand, dua tempat yang disebut-disebut sebagai pusat keilmuan, pengajaran dan

(46)

Burhan ad-dīn Ali bin Abi Bakar al-Marginani (tahun 1197), ia adalah pembesar ulama Hanafiyah pengarang kitab al-Hidāyah, Syamsudin

Abdi al-Wajdi, Muhammad bin Muhammad Abdul Satar, selain itu banyak guru az-Zarnuji yang pendapat-pendapat mereka banyak

diangkat dalam karyanya Taʻlīm al-MutaʻallimṬ Selain tiga ulama tersebut, az-Zarnuji juga berguru kepada Ali bin Abi Bakar bin Abdu al-Jalil al-Farhani, Ruknu al-Islām Muhammad bin Abu Bakar yang

dikenal dengan nama Khawahir Zada, seorang mufti Bukhara yang ahli dalam bidang fikih, sastra dan syair, Hammad bin Ibrāhim ahli fikih,

sastra dan ilmu kalam, Fahruddin al-Kasyani, Ruknu ad-Dīn al -Farhami ahli fikih, sastra dan syair. Ia juga belajar kepada al-Imam Sadiduddin asy-Syirazi (https://sites.google.com) .

Pemikiran dan intelektualitas az-Zarnuji banyak dipengaruhi oleh paham fikih aliran Hanafiyah. Ini terbukti dari para ulama yang

menjadi gurunya. Sebagai contoh, az-Zarnuji merekomendasikan untuk mempelajari karangan Abu Hanīfah, sebagaimana yang tertulis

dalam Taʻlīm al-Mutaʻallim:

ىِغَبخَ يَو

ُها َىِضَر َةَفخ يَِح خوُ بَأ اَهَ بَتَك ِِلا َةيِصَوخلا َباَتِك َلِصخََ خنَأ ِمخلِعخلا ِبِلاَطِل

ِهِلخَأ ََِإ ِعخوُجرلا َدخِع ِِخمِسلا ِدِلاَخ ِنخب َفُسخوُ يِل ِهخيَلَع

Para pelajar seharusnya membaca kitab wasiat karangan Abu Hanīfah yang dipersembahkan kepada Yusuf Khalid Assimti, ketika ia kembali kepada keluarganya (Az-Zarnuji, 2013: 22).

Berikut adalah ulama-ulama yang pernah menjadi guru

(47)

1. Abu Hanīfah yaitu Nuʻman bin abit bin Zūṭā ia merupakan pendiri mazhab Hanafi. Dikatakan bahwa ia termasuk dari

kalangan tābiʻ at-tābiʻīn.

2. Imam Burhān ad-Dīn Ali bin Abi Bakar al-Farginani al-Marginani (w. 593 H/1195 M), murid Abu Hanīfah. Ia adalah

pensyarah kitab Bidāyah al-Mubtadi’, yang kemudian diberi nama Kifayah al-Muntahi. Dirasa terlalu besar kemudian ia

menulis syarah kitab Bidāyah al-Mubtadi dengan ringkas dengan judul Al-Hidāyah Syarḥ Bidāyah Al Mubtadi

(http://www.rumahfiqih.com).

3. Muhammad bin Hasan, murid Abu Hanīfah yang merupakan ahli fikih dan tokoh ketiga mazhab Hanafi. Kitab yang dikarang

salah satunya adalah al-Jāmiʻ al- Kabīr (https://taufikirawan.wordpress.com).

4. Abu Yusuf, Ulama Fikih Mazhab Hanafi. Ia juga murid Abu Hanīfah yang menjadi pelopor, sebagaimana Muhammad bin

Hasan. Salah satu karya ia adalah Ikhtilāf Abi Hanīfah wa Ibn

Abi Laila (http://www.referensimakalah.com).

5. Hammad bin Ibrāhim (w. 587 H/ 1180 M ), Ulama Fikih

Mazhab Hanafi.

6. ‘Ali bin Abi Bikr bin Abdu al-Jalīl al-Farghani al-Marghinani al-Rustami Ruknu al-Islām Muhammad bin Abi Bakar (w. 573

(48)

7. Taruddin al-Ḥasan bin Mansyur atau Qaḍi an (w. 592 H/1196 M).

8. Ruknu ad-Dīn al-Firghani (w. 594 H/1098 M). 9. Al-Imam Sadiduddin asy-Syirazi.

3. Latar Belakang Sosial Politik

Menurut mayoritas pendapat, pemikiran az-Zarnuji sangat dipengaruhi oleh Mazhab Hanafi. Hal ini dikarenakan ia hidup pada masa ulama-ulama Hanafiyah, bahkan ada yang berpendapat bahwa ia hidup pada masa Imam Abu Hanīfah. Namun, menurut sejarah Abu

Hanīfah hidup pada masa pemerintahan Abbasiyah pertama, yaitu

sekitar tahun 700-767 M (Yatim, 2011: 56), sedangkan az-Zarnuji hidup pada akhir abad ke-7 H dan awal abad ke-8 H atau abad ke-12 M dan awal abad ke-13 M. Ini menunjukkan bahwa az-Zarnuji tidak pernah bertemu apalagi berguru kepada Abu Hanīfah. Ia bermazhab

Hanafi dikarenakan para gurunya adalah ulama-ulama Hanafiyah.

Tercatat dalam sejarah bahwa pada abad ke-12 merupakan masa disintegrasi dan pada abad ke-13 adalah masa kemunduran umat Islam (Yatim, 2011: 61). Masa ini persatuan umat Islam pudar dan

terpecah belah. Kejayaan Islam semakin merosot dan terpuruk setelah beberapa tahun Islam jaya dan berada pada zaman keemasan. Kondisi

(49)

terjadinya perang salib (Yatim, 2011: 63-76). Selain ketiga penyebab tersebut, adannya faktor internal juga sangat mempengaruhi

kemunduran Dinasti Abbasiyah, misalnya, kehidupan para khalifah yang cenderung untuk hidup mewah bahkan cenderung mencolok,

ditambah dengan kelemahan khalifah dalam memimpin menyebabkan kondisi pemerintahan dan perpolitikan Islam semakin kacau (Yatim, 2011: 61-62).

Melihat keadaan sosial dan politik yang dialami oleh az-Zarnuji, maka dapat dipastikan bahwa di samping keilmuannya sangat

mumpuni dalam berbagai bidang, tetapi di sisi lain pada masa tersebut bidang keilmuan terjadi kemerosotan. Artinya, pada masa az-Zarnuji ini berbeda dengan masa kemajuan pada masa Dinasti Abbasiyah yang

para ilmuwan dan ilmu sangat dijunjung tinggi, sehingga melahirkan beberapa karya dari berbagai disiplin ilmu bahkan dalam bidang

filsafat dari bangsa Yunani. Pada masa az-Zarnuji cenderung pada masalah tasawuf dan menolak filsafat. Filsafat dianggap sebagai ilmu yang banyak mudaratnya terhadap agama. Selain itu pada masa ini

para ulama hanya mempermasalahkan masalah fikih. Sebagaimana yang dikemukakan Anisa Nandya dalam skripsinya:

(50)

Melihat perkembangan sosial politik pada masa kehidupan az-Zarnuji maka sedikit banyak memengaruhi isi kandungan kitab

yang telah ditulis olehnya, misalnya pengaruh tasawuf. Bukan suatu hal baru, karena pada umumnya karya yang telah dilahirkan oleh para

ulama maupun para penulis lain akan sangat dipengaruhi oleh latar belakang kehidupannya. Baik dari segi pendidikan, sosial, politik, budaya dan agama. Dari keadaan sosial politik pada masa az-Zarnuji

ini dijadikan argumentasi bahwa az-Zarnuji hidup sekitar akhir abad ke-12 dan awal abad ke-13, sedangkan yang berpendapat bahwa

Zarnuji hidup sebelum abad-12 ini untuk mendukung kenyataan az-Zarnuji yang penuh dengan disiplin ilmu, karena pada abad tersebut Islam belum mengalami kemunduran, Dinasti Abbasiyah masih kokoh

tegak seiring dengan kemajuan berbagai keilmuan pada masanya.

4. Karya-karya

Kitab Taʻlīm al-Mutaʻallim merupakan salah satu karya az-Zarnuji yang dikenal oleh dunia. Taʻlīm al-Mutaʻallim merupakan

salah satu kitab yang digunakan sebagai rujukan dalam dunia pendidikan, terutama yang berbasis pondok. Namun begitu, karya lain dari az-Zarnuji belum ditemukan dan dijumpai layaknya kitab Taʻlīm

al-Mutaʻallim. Menurut Khalifah, kitab ini merupakan satu-satunya kitab yang dihasilkan oleh az-Zarnuji, meskipun menurut peneliti lain

(51)

salah satu dari sekian banyak kitab yang ditulis oleh az-Zarnuji (http://biografiulama4.blogspot.com).

Menurut M. Plessner, seorang orientalis berpendapat bahwa Taʻlīm al-Mutaʻallim adalah salah satu karya az-Zarnuji yang masih

tersisa. M. Plesser menduga kuat bahwa az-Zarnuji memilki karya lain, tetapi banyak yang hilang, karena serangan tentara Mongol yang dipimpin oleh Hulaghu Khan terhadap kota Baghdad pada tahun 1258

M (http://biografiulama4.blogspot.com). Pendapat ini dikuatkan oleh Muhammad ‘Abd Qadir Ahmad. Menurutnya, minimal ada dua alasan

bahwa Zarnuji menulis banyak karya, yaitu: pertama, kapasitas az-Zarnuji sebagai pengajar yang menggeluti bidang kajiannya. Kedua, ulama-ulama yang hidup semasa telah menghasilkan banyak karya.

Karena itu, mustahil bila az-Zarnuji hanya menulis satu buku (http://biografiulama4.blogspot.com).

Namun demikian ada pendapat lain yang tertuang dalam skripsi Anisa Nandya, mahasiswa STAIN Salatiga:

(52)

Di samping kitab Taʻlīm al-Mutaʻallim ini berbahasa Arab dan sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh Abdul Kadir Aljufri

pada tahun 1416 H/ 1995 M yang diterbitkan oleh Mutiara Ilmu Surabaya, kitab ini juga diterjemahkan dalam bahasa Turki oleh Abd.

Al-Majid bin Nusuh bin Isra’il dengan judul Irsyād at-Taʻlīm fī Taʻlīm al-Mutaʻallim. Kitab ini juga sudah diberi syaraḥ oleh beberapa tokoh, di antaranya: Ibrāhim bin Ismāil pada tahun 996H/1588 M, Nauʻi

tanpa keterangan tahun penerbit, As-Sa’rani pada tahun 710/711 H, Ishāq bin ar-Rumi Qili’ tahun 720 H dengan judul Mir’atu al- ālibīn,

Qadi B. Zakariya al-Anshari A’saf, Otman Pazari 1986 M dengan judul Tafhīm al-Mutafahhim, H.B. al-Faqir, tanpa tahun penerbitan

(Iqbal, 2015: 376-377).

Terlepas berapa banyak karya yang telah dilahirkan oleh az-Zarnuji, yang jelas melalui karyanya yang diberi nama Taʻlīm al -Mutaʻallim ini memberikan kontribusi dalam dunia pendidikan,

terutama kepada seorang yang ingin belajar, sehingga perlu untuk dikaji dan dipelajari guna menambah wawasan dan pengetahuan untuk

mencapai keberhasilan serta keberkahan dalam menuntut ilmu dan pengamalannya. Seperti itulah harapan az-Zarnuji ketika mulai

(53)

5. SeputarTaʻlīm al-Mutaʻallim

Kitab Taʻlīm al-Mutaʻallim ini merupakan salah satu kitab yang ditulis oleh az-Zarnuji. Menurut salah satu pendapat, kitab ini adalah satu-satunya kitab yang berhasil diselamatkan dari adanya

serangan tentara mongol terhadap Dinasti Abbasiyah. Tujuan dari penulisan kitab Taʻlīm al-Mutaʻallim ini supaya seorang murid akan

menuntut ilmu mampu mempersiapkan hati dan dirinya dengan ikhlas, ketika sedang menuntut ilmu mampu bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu, dan pada akhirnya seorang murid tersebut

mendapatkan barokah dari ilmu yang telah didapat. Karena menurut az-Zarnujji, banyak dari kalangan ilmuan yang mengenyam pendidikan

pada masanya tidak lagi mendapatkan barokah dari ilmunya yang berarti hanya hafal apa yang telah dipelajari tanpa berbekas untuk diamalkan. Ilmu mumpuni tapi perilaku tidak akhlaki (Az-Zarnuji,

2013: 7).

Kitab ini berisi tentang kewajiban murid dan metode belajar

murid. Terdapat tiga belas pasal pembahasan dalam kitab Taʻlīm al -MutaʻallimṬ Di antara ketiga belas pasal tersebut yaitu: Pertama,

menerangkan hakikat ilmu, hukum, mencari ilmu dan keutamaannya.

Kedua, niat dalam mencari ilmu. Ketiga, cara memilih ilmu, guru, teman, dan ketekunan. Keempat, cara menghormati guru. Kelima,

(54)

waktu belajar ilmu. Kesembilan, saling mengasihi dan saling menasehati. Kesepuluh, mencari tambahan ilmu pengetahuan. Kesebelas, bersikap wara’ ketika menuntut ilmu. Keduabelas, hal-hal

yang dapat menguatkan hafalan dan yang melemahkannya

(Az-Zarnuji, 2013: 8).

B. Konsep Etika Murid Terhadap Guru Perspektif az-Zarnuji

Menjadi sebuah kewajiban bagi seorang yang menuntu ilmu untuk menghormati guru dengan cara memahami dan menerapkan dalam keseharian, selain kewajiban utama seorang murid adalah

belajar sungguh-sungguh. Menurut az-Zarnuji ada sembilan etika murid terhadap guru yang wajib dilaksanakan, kesembilan tersebut

yaitu (Az-Zarnuji, 2013: 32-35): 1. Tidak berjalan di hadapan guru. 2. Tidak duduk ditempat guru.

3. Tidak memulai bicara, kecuali ada izinnya. 4. Tidak banyak bicara di hadapan guru.

5. Tidak boleh bertanya bila guru sedang capek atau bosan. 6. Tidak mengetuk pintu, tetapi menunggu sampai guru keluar. 7. Menghormati teman sang guru dan orang yang mengajar.

8. Tidak duduk berdekatan dengan guru ketika mengajar, harus ada jarak antara murid dan guru kira-kira sepanjang busur

(55)

9. Tetap memerhatikan dengan rasa hormat terhadap ilmu yang disampaikan meskipun sudah pernah mendengarkan ilmu yang

disampaikan sebanyak seribu kali.

Pada kitab Ta’līm al-Muta’allim terdapat salah satu hikayat

yang menunjukkan salah satu contoh etika murid terhadap guru yang harus dilaksanakan.

ىَراَُُ خنِم َجَرَخ خدَق ِِاَوخلَخْا ِةمِئَخأا ُسخََ لَجَخأا ُماَمِخْا ُخخيشلا َناَكَو

ُرخ يَغ ُُذخيِم َََت َُراَز خدَقَو ُهَل ختَعَ قَو ٍةَثِداَِِ اًمايَأ ىَرُقخلا ِضخعَ ب ِِ َنَكَسَو

ِخْا ِخخيشلا

ُهَيِقَل َخِْح ُهَل َلاَقَ ف ىُُِخرزلا ِدمَُُ ِنخب ِرخكَب ىِضاَقخلا ِماَم

:

خََ اَذاَمِل

َلاَق ؟خ ِِخرُزَ ت

:

ِةَدِلاَولا ِةَمخدُِِ ًًخوُغخشَم ُتخُك

.

َلاَق

:

ُقَزخرُ ت ًَِو ،ُرخمُعخلا ُقَزخرُ ت

خسَي َناَك ُهنِإَف ،َكِلَذَك َناَكَو ،َسخردلا َقَنخوَر

خَََو ىَرُقخلا ِِ ِهِتاَقخوَأ ِرَثخكَأ ِِ ُنُك

ُسخردلا ُهَل خمِظَتخَ ي

.

Syaikh al-Imam al-Ajall Syaikh al-Aimmah al-Khulwaniy, karena suatu peristiwa yang menimpa dirinya, maka berpindah untuk beberapa lama, dari Bochara kesuatu pedesaan. Semua muridnya berziarah kesana kecuali satu orang saja, yaitu syaikh al-Imam al-Qaḍi Abu Bakar az-Zarnuji. Setelah suatu saat bisa bertemu, beliau bertanya: “kenapa engkau tidak menjengukku? Jawabnya : “Maaf tuan, saya sibuk merawat ibuku” beliau berkata: “Engkau dianugrahi panjang usia, tetapi tidak mendapat anugerah buah manis belajarṬ” Lalu kenyataanya seperti itu, hingga sebagian banyak waktu az-Zarnuji digunakan tinggal di pedesaan yang membuatnya kesulitan belajar.(Az-Zarnuji, 2013: 33-34)

Hikayat tersebut memberikan penjelasan bahwa betapa penting menghormati seorang guru, bahkan lebih penting dari pada

(56)

Tidak ada tambahan atau penjelasan lain mengenai hikayat tersebut. Apabila yang dimaksudkan seperti ini maka jelaslah

berlawanan dengan hadis Rasulullah yang menjelaskan bahwa ibu adalah madrasah pertama. Selain itu, ada juga hadis Rasulullah

yang menerangkan bahwa birru al-walidain merupakan amalan utama yang menduduki urutan kedua setelah salat pada waktunya. Ini menunjukkan bahwa menghormati ibu (orang tua) mempunyai

posisi penting dan tidak bisa disejajarkan dengan guru. Sebagaimana pertanyaan ʻAbdullāh bin Masʻūd kepada Rasulullah

tentang amalan yang paling utama:

ََِإ ُبَرخ قَأ ِلاَمخعَأا ىَأ ِهللا َِِن اَي ُتخلُ ق َلاَق ٍدوُعخسَم ِنخب ِهللا ِدخبَع خنَع

َلاَق ِةَخْا

«

اَهِتيِقاَوَم ىَلَع ُةََصلا

»

.

َلاَق ِهللا َِِن اَي اَذاَمَو ُتخلُ ق

«

رِب

اَوخلا

ِنخيَدِل

»

.

َلاَق ِهللا َِِن اَي اَذاَمَو ُتخلُ ق

«

ِهللا ِليِبَس ِِ ُداَهِخْا

»

ُ.

اور

ملسم

َ

Dari ʻAbdullāh bin Masʻūd dia berkata, aku bertanya wahai Nabi Allah, amal apa yang paling mendekatkan ke surga? Rasulullah menjawab: salat pada waktunya. Aku bertanya lagi, apalagi wahai Nabi Allah? Rasulullah menjawab: birru al-walidain. Kemudian aku bertanya lagi, apalagi Nabi Allah? Rasulullah menjawab lagi: Jihad fi sabilillah. (HR. Muslim, 2005: 765)

Semakin jelaslah bahwa kedudukan orang tua dan berbuat baik kepadanya merupakan amal yang paling utama bahkan dapat

(57)

termasuk dosa besar. Seperti halnya yang disabdakan oleh Rasulullah:

َلاَقَ ف

«

ِرِئاَبَكخلا ََِخكَأِب خمُكُئِبَ نُأ ًََأ

؟

-)

اًثَََث

(

ُقوُقُعَو ِهللاِب ُكاَرخشِْا

ِنخيَدِلاَوخلا

ِروزلا ُلخوَ ق خوَأ ِروزلا ُةَداَهَشَو

»

.

ِهللا ُلوُسَر َناَكَو

هيلع ها ىلص

ملسو

اَُرِرَكُي َلاَزاَمَف َسَلَجَف اًئِكتُم

َتَكَس ُهَتخيَل اَخلُ ق َِح

ُ

ملسم اور

َ

Rasulullah bersabda: maukah kalian aku beritahu tentang tiga hal yang termasuk dosa besar, yaitu syirik kepada Allah, druhaka kepada orang tua, dan saksi palsu atau berkata dusta. Dan Rasulullah dalam keadaan bertelekan, kemudian Rasulullah duduk dan senantiasa mengulang-ngulang sampai kami berpaling setelah itu Rasulullah diam. (HR. Muslim, 2005: 765)

Dari kesembilan etika murid terhadap guru perspektif

az-Zarnuji tersebut penulis mengelompokkan menjadi empat poin dikarenakan kesepuluh etika tersebut terdapat beberapa kesamaan.

Empat poin tersebut dijelaskan sebagai berikut:

1. Etika Berbicara

Etika berbicara seorang murid kepada guru “tidak mulai bicara kecuali ada izinnya, tidak banyak bicara di hadapan

guru, tidak boleh bertanya apabila guru sedang capek atau bosan”. Etika berbicara menimbulkan dampak positif bagi

siswa yaitu timbulnya sikap sopan dan santun yang terlahir dari

diri siswa. Dampak positif lain dari sikap siswa yaitu akan tumbuh sikap menghargai dan menghormati kepada seorang

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan dari penelitian deskriptif adalah mengambarkan sebuah obyek secara sistematis. Dalam hal ini peneliti akan mendeskripsikan tentang perspektif hakim Pengadilan

Namun meskipun demikian saat ini java bukanlah satu-satunya Bahasa yang dapat digunakan untuk membangun aplikasi Android seperti Xamarin dengan menggunakan Bahasa

Serangan DoS (denial-of-service attacks') adalah jenis serangan terhadap sebuah komputer atau server di dalam jaringan internet dengan cara menghabiskan sumber (resource)

Sedangkan, support pada penelitian lainnya diketahui memberikan pengaruh terhadap eksplorasi karier dimana remaja lebih mengeksplor kariernya karena mendapatkan dukungan

Berdasarkan hasil reviu bahwa, menurut Peraturan Bupati Tabanan Nomor 20 Tahun 2018 tentang Penyelenggaraan Pelayanan Perijinan dan Non Perijinan dalam Pasal 2 ayat (3) yang

Umumnya karya tersebut merupakan reproduksi ulama sebelumnya, baik bersifat pembuktiandan editing (tah}qi>q), perbandingan (muqa>ranah), maupun pengembangan.. Usaha

Pada Aplikasi manajemen proyek ini dimasukkan fitur untuk mengetahui kapan proyek tersebut dimulai, apakah proyek tersebut sudah dibayar atau belum, sudah sampai pada

❖ Menjawab pertanyaan tentang materi Hukum Hooke yang terdapat pada buku pegangan peserta didik atau lembar kerja yang telah disediakan. ❖ Bertanya tentang hal yang belum