• Tidak ada hasil yang ditemukan

Nyong Eka Teguh Iman Santosa

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "Nyong Eka Teguh Iman Santosa"

Copied!
92
0
0

Teks penuh

(1)

SEJA R A H

IN TELEKTUA L

Seb u a h P en ga n ta r

Nyong Eka Teguh Im an Sant osa

(2)

SEJA R A H

IN TELEKTUA L

Seb u a h P en ga n ta r

Nyong Eka Teguh Iman Sant osa

Dit erbit kan oleh

Sidoarjo, 2014

ISBN: 978-602-70561-1-4

(3)

iii

D af t a r Isi

Pengantar [hal. v-viii]

Nama Disiplin [hal. 1-6]

Asumsi-Asumsi Dasar [hal. 7-26]

Nilai-Nilai [hal. 27-30]

M odel Pengkajian [hal. 31-36]

Obyek Studi [hal. 37-48]

Konsep-Konsep [hal. 49-60]

M etode Penelitian [hal. 61-66]

M etode Analisis [hal. 67-72]

Hasil Analisis [hal. 73-74]

Signifikansi Paradigmatik [hal. 75-76]

Bibliografi [hal. 77-80]

Indeks [hal. 81-82]

(4)

iv

SEJA R A H

IN TELEKTUA L

(5)

v

P en ga n ta r

Sejarah Int elekt ual m erupakan sebuah paradigm a yang m enarik unt uk diaplikasikan dalam program-program penelit ian yang m enaruh perhat ian pada pelacakan t afsir-t afsir (int erpret at ions) at as suat u ide at au konsep yang m uncul dalam kurun w akt u t ert ent u di m asa lalu.

Buku ini hadir sebagai ikht iar aw al unt uk m em aham i Sejarah Int elekt ual (Int ellect ual Hist ory) sebagai sebuah paradigm a. Penulis m endeskripsikan secara ringkas Sejarah Int elekt ual berikut karakt erist ik yang menandainya sebagai sebuah paradigm a yang berbeda dari sub-seksi keilm uan sejarah dan disiplin-disiplin lainnya yang t erkait . Selain it u, t ren paradigm atik dari Sejarah Int elekt ual juga disent uh unt uk m em baca kem ungkinan peluang m asa depan dari t radisi keilm uan ini.

(6)

vi

perspekt if (perspect ive), pendekat an (approach), sudut pandang (point of view ), kerangka pem ikiran (frame of t hought ), kerangka t eorit is (t heoretical framew ork), kerangka konsept ual (concept ual framew ork), kerangka analit ik

(analytical framework), dan aliran at au m adzhab pem ikiran

(school of t hought ).

Beliau berargum en bahw a paradigma t erdiri dari beberapa elemen dan relasi-relasi (basic element s and relat ions), yait u (1) asum si dasar (basic assumpt ions), (2) nilai

(values), (3) m odel (models), (4) m asalah unt uk dipecahkan

(problems t o solve), (5) konsep (concept s), (6) m et ode penelit ian (research met hods), (7) m et ode analisis (met hods of analysis), (8) hasil dari analisis (result s of analysis), dan (9) represent asi hasil (represent at ions). Tiga elemen yang pert am a um um nya bersifat im plisit , sedangkan lainnya eksplisit . Beliau m engem bangkan t eori ini berdasarkan analisis kritisnya t erhadap pemikiran Thom as Kuhn sert a E.C. Cuff dan G.C.F. Payne’s.1 Kont ribusi beliau ini secara

1

(7)

vii

konsept ual dan prakt ikal sangat m encerahkan guna m em ahami Sejarah Int elekt ual t erut am a sebagai sebuah paradigma penelit ian (research paradigm).

Dari sini penulis m em andang bahw a Sejarah Int elekt ual dapat juga dideskripsikan dengan cara yang serupa, yakni dengan m engekplorasi dan m enent ukan elem en-elem en at au unsur-unsur paradigm at iknya. Penulis m em beri penekanan pada t erm a ‘penelit ian’ (research)

dalam t ulisan ini unt uk m enegaskan sekali lagi bahw a Sejarah Int elekt ual adalah sebuah paradigma yang aplikat if dalam prakt ek penelt iain. Sekalipun disadari bahw a penelit ian dalam t erm a yang lebih t eknis, yakni m et ode penelit ian

(research met hod), adalah bagian t ak t erpisahkan dari sebuah paradigma.

Penulis m engelaborasi Sejarah Int elekt ual di buku ini dengan t idak mem bat asi hanya dari sum ber-sum ber karya m ereka yang dianggap at au m em andang diri m ereka sendiri sebagai sejarahw an int elekt ual (int ellect ual historians),

(8)

viii

m engingat ruang lingkup dari kont eks int elekt ual sangat m ungkin saling beririsan dan bert em u dengan lingkup kajian disiplin keilm uan sejarah lainnya, t ermasuk Sejarah Budaya

(Cult ural Hist ory), Sejarah Sosial (Social Hist ory), dan Sejarah Polit ik (Polit ical Hist ory).2

2

Lihat : David Paul Nord, “ Int ellect ual Hist ory, Social Hist ory, Cult ural Hist ory … and Our Hist ory” , (h. 645-648), Journalism and M ass Communicat ion Quart erly, 1990, 67; Donald R. Kelley, “ Int ellect ual Hist ory and Cult ural Hist ory: The Inside and t he Out side” , Hist ory of the Human Sciences, Vol. 15, No. 2, 2002; Annabel Bret t , “ What is Intellect ual Hist ory Now ?” (h. 113-131),

(9)

1

N am a D i si p l i n

Ada dua ist ilah yang sering digunakan saling bergant ian unt uk disiplin ini, yait u Sejarah Int elekt ual

(Int ellect ual Hist ory) dan Sejarah Ide (The Hist ory of Ideas).

Riccardo Bavaj dalam st udinya m enem ukan bahw a ist ilah 'Sejarah Int elekt ual' secara hist oris dicipt akan oleh Jam es Harvey Robinson (1863-1936), seorang sejaraw an Am erika, pada aw al abad kedua puluh. Sem ent ara ist ilah ‘Sejarah Ide’ disebut Art hur O. Lovejoy, salah seorang pendiri The Hist ory of Ideas Club pada t ahun 1923.3

M eskipun dua ist ilah t ersebut relat if sering dipergunakan secara bergant ian unt uk m erujuk pada suat u t radisi keilm uan sejarah yang berfokus pada penelit ian ide, t et api secara m et odologis keduanya biasa dibedakan. Sejarah Int elekt ual dipandang sebagai represent asi dari t radisi ekt ernalis yang m engem bangkan pendekat an kont ekst ual.

3

(10)

2

Sem ent ara Sejarah Ide m erupakan t radisi yang m engem bangkan pendekat an int ernalis. Ditinjau dari perkem bangan t erakhir, ist ilah ‘Sejarah Int elekt ual’ lebih m endapat kan popularit as unt uk m enandai t radisi ini. Hal t ersebut dibukt ikan ant ara lain dengan penggunaannya sebagai nam a m at a kuliah, m asyarakat sejaraw an, sert a publikasi ilm iah m ereka di bidang ini.

Beberapa alasan di balik kecenderungan kont em porer ini dapat dibaca dari ulasan St efan Collini t ent ang dam pak t ak dikehendaki dari penggunaan ist ilah ‘Sejarah Ide’. Dia m elihat adanya bahaya ganda dalam penekanan ist ilah ini sebagai label at au nam a dari disiplin keilm uan sejarah ini (t he label of t his division of labor).

(11)

3

2. Ist ilah ‘Sejarah Ide’ juga dapat m enim bulkan kesalahpaham an dengan m erujuknya kepada ‘pendekat an idiosinkratik’ (idiosyncrat ic approach) dari Lovejoy yang m em prom osikan adanya ‘ide-ide sat uan yang bersifat universal’ (t he universal unit -ideas) yang dapat diket em ukan m elalui st udi sejarah.

Nam un demikian, penggunaan ist ilah ‘Sejarah Int elekt ual’ sendiri juga belum t ent u am an. Karena penggunaannya m asih m ungkin m em antik t erjadinya beberapa kesalah-paham an. St efan Collini t elah m engident ifikasi em pat dari kem ungkinan t ersebut sebagai berikut :

1. Sejarah Int elekt ual adalah sejarah m engenai sesuat u yang t idak pernah benar-benar pent ing (t he history of somet hing t hat never really mat t ered).

(12)

4

w as w hat made t he hist ory a mat t er). It u bisa t erjadi karena dam pak dari dom inasi panjang para sejaraw an polit ik di bidang profesi sejarah;

2. Sejarah Int elekt ual secara inheren bersifat idealis

(inherently idealist ), yang lepas dari kont eks sosial. Collini m enyat akan bahw a dalam m encari pem aham an yang lebih lengkap, sejaraw an int elekt ual t idak dapat m enghindarkan diri dari t unt ut an penyelidikan t ent ang berbagai kont eks sosial;

3. Sejarah Int elekt ual t idak lebih dari sejarah m engenai berbagai disiplin penyelidikan int elekt ual (not hing more t han the hist ory of the various disciplines of int ellect ual

inquiry).

(13)

5

lebih baik m engenai paduan logika dan perist iw a (t he mixt ure of logic and accident ) dari periode t ert ent u; 4. Sebagai sebuah disiplin, Sejarah Int elekt ual dit unt ut harus

m em iliki m et ode at au t eori at au seperangkat konsep sendiri yang khas (a met hod or t heory or set of concept s t hat is dist inct ively it s ow n).

Collini m engat akan bahw a Sejarah Int elekt ual t idak m em bat asi pengem baraannya dalam kot ak konsept ual yang t erdiri dari beberapa kosakat a khas secara kaku (t he rigid concept ual boxes of some purpose-built vocabulary). Pem bat asan yang bersifat sangat rigid dalam m et ode at au t eori just ru t idak akan m em perkaya ekspresi dari kesadaran m anusia. M enurut nya, suat u disiplin at au bidang keilm uan akan diket ahui dari buah yang dihasilkannya.4

Penulis sendiri di buku ini lebih t ert arik unt uk m em pergunakan Sejarah Int elekt ual sebagai istilah ut am a dari t radisi keilm uan sejarah ini. Sehingga penggunaan ist ilah Sejarah Ide diupayakan hanya pada bagian di m ana ist ilah ini

4

(14)

6

diperlukan unt uk m em beri penekanan pada pem aham an yang berbeda t ent ang Sejarah Int elekt ual at au unt uk m enjaga keaslian kut ipan yang digunakan dalam suat u referensi. Adapun pem ilihan ini lebih didasarkan pada alasan pragm at is bahw a Sejarah Int elekt ual t elah m enjadi branding

kont em porer dari t radisi keilm uan sejarah ini. Dan oleh karena it u, Sejarah Ide kem udian m enjadi bagian int egral dari sejarah pert um buhan kont em porer Sejarah Int elektual dan m ungkin juga perkem bangannya di masa depan.

(15)

7

A su m si - A su m si D asa r

Sejaraw an int elekt ual sert a para sarjana bidang keilm uan lainnya t ent u m enerim a seperangkat pandangan yang dianggap, set idaknya secara hipot et is, sebagai benar dalam karya-karya m ereka. Perangkat t ersebut dapat berupa pandangan-pandangan filosofis at au sudah m erupakan suat u t eori. Inilah yang disebut asum si-asum si dasar (basic assumptions) yang Ahim sa-Put ra m elihat nya sebagai pondasi bagi suat u disiplin keilm uan. M ereka adalah pandangan-pandangan t ent ang hal-hal yang m ungkin berhubungan dengan pem aham an at as sifat ilm u penget ahuan, m anusia, fenom ena sosial at au disiplin keilm uan. Sejaraw an Int elekt ual m em baw a asum si-asum si dasar t ersebut , baik secara sadar at au t idak sadar, dalam akt ivit as pem bacaan dan int erpret asi m ereka at as m asa lalu.

(16)

8

Sejaraw an t idak bisa m ulai berpikir at au m enjelaskan suat u perist iw a t anpa bant uan dari pra-konsepsi, asum si, generalisasi pengalam an yang ia baw a bersam anya dan t erbaw a dalam karyanya. Pikiran sejaraw an bukanlah (ruang) kosong (his mind w as not a blank). Dari sini jelas t erlihat bahw a at uran pert am a bagi sejaraw an adalah keharusan m enjaga sikap krit is pada asum si-asumsi dan pra-konsepsinya sendiri. Jangan sam pai hal ini m enunt un dia m enjadi abai pada pent ingnya beberapa bagian dari bukt i at au adanya koneksi.5

Pada bagian ini, penulis m em bat asi pem bahasan m engenai asum si-asum si dasar sejaraw an int elekt ual pada w at ak disiplin keilm uan mereka sendiri at au apa sebenarnya yang dim aksud dengan Sejarah Int elekt ual. Setidaknya ada t iga asum si dasar di kalangan m ereka m engenai hal ini, yait u bahw a Sejarah Int elekt ual adalah ‘suat u bent uk (keilm uan) sejarah’ (a form of hist ory), ‘bersifat int er-disipliner’

(int erdisciplinary), dan ‘sebuah bidang kajian yang (m asih) t idak m udah unt uk dibakukan’ (elusive field).

5

(17)

9 John W. Burrow juga m enegaskan bahw a Sejarah Int elekt ual adalah “ a form of history,”7 suat u bent uk (keilm uan) sejarah. Sem ent ara J.G.A. Pocock lebih m emilih unt uk m enggam barkan Sejarah Int elekt ual sebagai sebuah spesies dari met ahist ory at au t eori sejarah. Baginya, Sejarah Int elekt ual adalah “ an enquiry int o t he nat ure of hist ory based on various t heories about how ‘int ellect ’ or ‘ideas’ find

(18)

10

philosophy of hist ory or t he history of philosophy.”8 Suat u penyelidikan sejarah berdasarkan berbagai t eori m engenai bagaim ana 'int elek' at au 'ide-ide' m enem ukan t empat nya dalam sejarah. Adapun hasilnya dapat berupa apa yang biasanya kit a sebut filsafat sejarah at au sejarah filsafat .

Pernyat aan t erakhir ini t ent u cukup m enarik unt uk direnungkan lebih jauh karena beberapa sejaraw an just ru m engem ukakan krit ik dengan m enyat akan bahw a

met ahist ory bukanlah bagian dari akt ivit as yang lazim dikerjakan oleh m ereka yang berprofesi sejaraw an.

Terkait kecenderungan ini, Bullock m em iliki penjelasan seput ar sepert i-apa seorang sejarawan it u sem est inya m enjadi sejaraw an sesuai profesinya. Dia berargum en bahw a sem ua upaya, m ulai dari Hegel dan M arx ke Spengler dan Wells, Croce dan Toynbee, yang diarahkan unt uk m enem ukan suat u penjelasan filosofis t ent ang eksist ensi m anusia, at au set idaknya gam baran t ent ang t ahap-t ahap perkem bangannya (a philosophical explanat ion of human exist ence, or at t he very least a panoramic view of

t he st ages of it s development ) m elalui pola, ket erat uran dan

8

(19)

11

keserupaan dalam sejarah adalah sem acam Welt anschauung

at au met ahist ory dalam t erm a Isaiah Berlin. Bullock m elihat bahw a banyak sejaraw an profesional m ungkin t idak percaya dan t idak suka dengan “ akt ivit as spekulat if” (speculat ive act ivit y) sem acam it u.

Bullock m engem ukakan pandangan G.N. Clark yang m engat akan:

(20)

12

Bullock juga t elah m enguraikan t iga hal yang m ana sejaraw an bisa m endapat kan kepuasan m ereka:

Pert am a, dalam hal mencari dan m enem ukan bahan baru unt uk dipergunakan sebagai bukti. Kedua, dalam hal m enangani bahan-bahan ket ika ia t elah m enem ukannya, berusaha unt uk m enem ukan apakah it u asli at au palsu [...] Kepuasan ket iga dan t ert inggi adalah m enem pat kan bukt i t ersebut bersam a-sam a, unt uk m enghasilkan t idak hanya penjelasan t ent ang apa yang t erjadi, t api juga hal-hal lain yang memiliki kait an, m enerangkan m ot if dan ide-ide dari para akt or, pengaruh keadaan, perm ainan kesem pat an dan hal lain yang t ak t erduga. Apa yang m enarik sejaraw an adalah sam pai pada t it ik sedekat m ungkin pada suat u perist iw a dan individu, unt uk m engenali dan m em ahami sedalam m ungkin m anusia at au sekelom pok orang yang dipelajarinya it u (t o t ry and get inside t he skin of t his man or group of men )[...]

Bullock t am paknya m endefinisikan sejarah sebagai disiplin yang “ harus sangat t erbat as cakupan dan t ujuannya”

(21)

13

sist em m et afisik. Sejarah dit em pat kan secara t egas berbeda dari met ahist ory dan sosiologi yang m encoba unt uk m em bersihkan kebingungan fakt a dan m engungkapkan pola, at au m eneguhkan hukum yang t ersim pan di baw ahnya. Baginya, t ujuan sejarah adalah hanya unt uk m em aham i “ apa yang t erjadi” (w hat happened), “ t idak unt uk m em bent uk proposisi um um” (not t o form general proposit ions) tent ang pengalam an masa lalu.

(22)

14

um um dan m elacak pola um um yang luas dari perkembangan sejarah sepert i yang dilakukan oleh, menurut Bullock, para m et ahist orisis dan dogmat is, t et api lebih unt uk belajar dan m encoba m enem bus sem ua individualit as dan keunikan dari perkem bangan suat u m asyarakat, at au suat u peradaban, bukan perilaku m anusia pada um um nya, t et api dari sat u kelom pok t ert ent u dalam jangka w akt u t ert ent u.9

Dalam kacam at a krit is t ahun 60-an t ersebut , ada beberapa poin pemikiran yang relevan unt uk dipert im bangkan dalam rangka m em perjelas posisi Sejarah Int elekt ual sebagai sebuah disiplin keilm uan sejarah. Dari paparan Bullock kit a dapat melihat adanya kebut uhan unt uk m enarik garis bat as yang jelas ant ara sejarah dan m et a-sejarah. Dia m engem ukakan set idaknya dua alasan ut am a bahw a baginya disiplin ilm u sejarah yang sejat i it u adalah, pert am a, jangan t ergoda unt uk m elakukan kegiat an spekulat if; dan kedua, t idak m engabaikan at au m erem ehkan kerum it an at au kom pleksit as fakt a-fakt a unt uk sem at a t ujuan m enem ukan pola-pola um um at au hukum dari perist iw a-perist iw a sejarah.

9

(23)

15

M asalahnya adalah, apakah disiplin ilm u sejarah m em ang harus demikian, sem acam yang digam barkan oleh Bullock? Lant as, bagaim ana dengan Sejarah Int elektual it u sendiri?

Hal pert am a yang harus dijelaskan di sini adalah bahw a pernyat aan Pocock m enganai Sejarah Int elekt ual sebagai spesies met ahist ory t idak dalam kerangka unt uk m enegaskan bahw a Sejarah Int elekt ual adalah m urni pekerjaan spekulat if. Sejarah Int elekt ual baginya t et ap m erupakan akt ivit as yang menunt ut sejaraw an unt uk m enyelam di kedalaman m asa lalu dengan segala kom pleksit asnya. Pocock juga m enegaskan bahw a Sejarah Int elekt ual m em ang m em anfaat kan berbagai t eori unt uk m em ahami bagaim ana sebuah ide m engam bil t em pat dalam suat u babakan sejarah. Nam un, sepert i juga Bullock mengaku bahw a sepanjang t eori ini t idak disalahgunakan sebagai dogm a, t et api sejauh hanya sebagai hipot esis eksperim ent al, m aka hal t ersebut t idak dapat dihindari dalam kerja-kerja keilm uan sejarah.

(24)

16

bent uk signifikansi st udi t ent ang m asa lalu, adalah hal yang t idak seharusnya dilihat sebagai suat u ‘penyakit ’ dalam disiplin ilm u sejarah. Bahkan bisa jadi hal t ersebut just ru m enjadi nilai t am bah dari Sejarah Int elekt ual. Generalisasi dari fakt a-fakt a yang dit em ukan dalam suat u penelit ian adalah prakt ik yang um um dalam kegiat an int elekt ual at au ilmiah. Dan Bullock sendiri t idak m elarang generalisasi t ersebut secara m ut lak. Generalisasi yang ia dit olak adalah generalisasi dalam salah sat u bent uknya yang spesifik, yait u yang 'spekulat if', dalam art i bahw a t idak didasarkan pada st udi m endalam dan keyakinan penuh pada kom pleksit as fakt a-fakt a m asa lalu.

(25)

17

Nam un demikian, m unculnya krit ik Bullock bukan t anpa alasan. Perkem bangan Sejarah Ide (The Hist ory of Ideas) di t ahun 60-an sendiri m em buka pint u unt uk it u. Bahkan, krit ik t ersebut juga disem at kan pada pengembangan Sejarah Int elekt ual kont em porer, t erut am a unt uk penguat an aspek-aspek m et odologis. Ini t am paknya senafas dengan pandangan yang m elihat m unculnya paradigm a ‘baru’ t idak selalu berart i bahw a paradigma 'lama' secara ot om at is akan digant i dan m enghilang. M ereka bisa saja dit olak at au dikrit ik, nam un, dalam banyak kasus, m ereka t et ap bert ahan hidup m elalui 'perubahan' (modificat ions), 'penyesuaian'

(adjust ment s) at au 'perbaikan' (improvement s). Dari w acana ini paradigm a baru at au sub-paradigm a baru yang mungkin m engem uka. Ini t ent unya m eneguhkan t esis Kuhn bahw a 'revolusi ilm iah' (scient ific revolut ion) t erjadi m elalui serangkaian perubahan at au pergeseran paradigma (t he change or shift of paradigm).

(26)

rekan-18

rekan m ereka dari disiplin ilm u yang sama at au berbeda. Hal ini pula t am paknya yang m enjadi alasan yang m endukung para sejaraw an int elekt ual unt uk m erangkul pendekat an baru dan m em buka jalan baru unt uk m engeksplorasi dan m enggam barkan m asa lalu.

Eksklusivism e hist oris dalam t em purung t ert ut up ant ar disiplin keilm uan t idak akan berart i kecuali hanya pem iskinan (impoverishment ). Di sini, perkem bangan Sejarah Int elekt ual lebih baik dipahami sebagai serangkaian m odifikasi, penyesuaian at au perbaikan. Sejaraw an int elekt ual harus m enjaga upaya t erus-m enerus m ereka unt uk m em perbaiki dan m em perkuat pirant i m et odologis dari bidang keilm uan yang m ereka gelut i. Tak perlu dikat akan, m ereka sebagaim ana pula sarjana lainnya akan dengan sukarela m engejar pem aham an selengkap mungkin at as objek akadem is at au profesional st udi m ereka.

(27)

19

pluridimensional. Di sana, melam paui keragam an yang ada, sejaraw an akan t et ap m enem ukan ruang t erbuka unt uk m enegaskan kesat uan ilm u sejarah (t o assert t he unit y of hist ory). Dia m enganalogikannya dengan kehidupan di m ana pada w akt u yang sam a ia bersifat jam ak sekaligus sat u.10

Interdisipliner

Bavaj t elah m ensurvei karya-karya sejaraw an int elekt ual dari berbagai negara, t erut am a Inggris, Am erika Serikat dan Jerm an. Dari penelit ian t ersebut ia sam pai pada kesim pulan yang m erekat kan klaim bahw a Sejarah Int elekt ual adalah int erdisipliner. Bavaj m engat akan bahw a Sejarah Int elekt ual t elah dikait kan dengan berbagai bidang ilmiah sepert i:

Sejarah filsafat, filsafat sejarah, sejarah ilm u penget ahuan, sejarah sast ra, sejarah seni, ideologi w acana, sejarah budaya-polit ik (Polit ische Kult urforschung), sejarah-budaya polit ik

(Kult urgeschicht e des Polit ischen), sejarah para int elekt ual, sejarah m ent alit as (hist oire des

10

(28)

20

ment alit ies), sejarah buku, sejarah media, dan sejarah visual. Isu yang menjadikan garis bat as ant ara Sejarah Int elekt ual dan Sejarah Budaya sangat sengit diperebut kan.

Tradisi herm eneut ika dan filsafat bahasa, m enurut Bavaj, juga m em pengaruhi perkem bangan Sejarah Int elekt ual. Sejaraw an int elekt ual t elah t ert arik dengan seluk-beluk t radisi herm eneut ika t erm asuk Wilhelm Dilt hey, R.G. Collingw ood, M art in Heidegger, Hans-Georg Gadam er, dan Paul Ricouer. M ereka juga t elah berusaha m enem ukan inspirasi m et odologis dari para filsuf bahasa sepert i Ludw ig Wit t genst ein, John Austin, W.V. Quine dan Donald Davidson; yang t elah m em berikan w aw asan pent ing m engenai produksi m akna dan m enyarankan cara-cara im ajinat if dalam m elakukan penafsiran (secara radikal) yang berm anfaat bagi disiplin keilm uan ini.

(29)

21

Luhm ann, dan Karst en R. St ueber.11 Cara Sejarah Int elekt ual ini dalam hal ‘mem injam alat -alat ’ dari disiplin-disiplin keilm uan lainnya t ersebut t elah m em baw a Alberto Rosa m enyat akan bahw a “ Sejarah Int elekt ual adalah sebuah hibrida” (int ellect ual hist ory is a hybrid).12

Bercerm in pada kenyat aan ini m em buat pernyat aan Brian Young m engenai Sejarah Int elekt ual m enjadi t idak berlebihan. Ia m engat akan, Sejarah Int elekt ual adalah “ Sebuah upaya keilm uan yang am at sangat int erdisipliner” (a supremely int erdisciplinary ent erprise). Upaya ini t elah dirint is dan akan t erus m em prom osikan banyak kegiat an-kegiat an int erdisipliner, baik di ant ara para sejarawan dan juga dalam prakt ek disiplin-disiplin yang t erkait.13

Batas-Batas Keilmuannya Terus Berkembang

Seiring dengan karakt er int erdisipliner-nya, Sejarah Int elekt ual pada gilirannya berkem bang m enjadi t radisi

11

Bavaj, “ Int ellect ual Hist ory.” 12

Albert o Rosa, ” The Past , Intellect ual Hist ories, and Their uses for t he Fut ure: A Response t o M iddlet on and Crook (1996)” , Culture Psychology, 1996, 2: 397.

13

(30)

22

keilm uan yang bat as-bat as disiplinnya cenderung sangat cair. Art inya, daerah yang disasar dan dieksplorasi oleh Sejarah Int elekt ual bisa luas dan beragam, m em asuki berbagai konsep at au ide-ide yang sangat m ajem uk sesuai dengan keragam an bidang dan disiplin ilm u yang disent uhnya. Bavaj m engident ifikasi bahw a sifat Sejarah Int elekt ual sebagai “ sebuah bidang keilm uan yang bat as-bat asnya sulit dipast ikan” (a field of elusive boundaries) ini disandarkan pada beberapa alasan:

1. Sejarah Int elekt ual m em unculkan banyak isu yang saling t um pang t indih (a bundle of overlapping issues). Hal ini disebabkan ant ara lain karena perbedaan lat ar t radisi kebangsaan dari para sarjananya, lalu berakar pula pada beragam subyek kajian akademik yang dipelajari dan pluralit as pendekat an yang diam bil dalam m et odologinya; 2. Di at as kom plikasi it u sem ua, diskursus ant ar sarjana yang

m ungkin m am pu m enerangi bidang keilm uan ini just ru agak t erbat as;

(31)

23

unt uk saling m em perkaya sat u sam a lain secara m et odologis;

4. M asih adanya sem acam 'parokialism e yang bersifat kebangsaan' (national parochialism) di m ana karya-karya m ereka tidak banyak beredar di negara-negara lain dengan bahasa yang berbeda;

5. Sejarah Int elekt ual juga m enghadapi sem acam ‘deform asi spesifikasi-subyek kajian’ (subject -specific deformat ions)

di m ana seolah-olah ada beberapa dunia yang berbeda nam un secara paralel sam a-sam a m em baw a nam a Sejarah Int elekt ual at au salah sat u dari kerabat konsept ualnya;

6. Bidang ini juga mem iliki laporan-laporan program dan elaborasi-elaborasi met odologis yang cenderung variat if pada prakt ek-prakt ek yang sebenarnya.14

Ist ilah ‘sukar dipast ikan’ (elusive) it u sendiri t am paknya t idak harus dit afsirkan bahw a Sejarah Int elekt ual kem udian m enjadi t idak konsist en di bidangnya. Tidak begit u, t et api konsist ensi Sejarah Int elekt ual dit em pat kan pada fokus penelit iannya m engenai sejarah dari ide-ide at au

14

(32)

24

perkem bangan int elekt ual. Dan dengan mem pert im bangkan ide sebagai suat u konsep yang paling dasar dari dunia int elekt ual, seorang sejaraw an dapat m enjelajahi sejarah ide-ide yang m ungkin juga m erupakan konsep kunci yang diburu oleh disiplin ilm u di luar sejarah. Di sat u sisi, Sejarah Int elekt ual m em ang akan t am pak m uncul sebagai t radisi gado-gado secara t em at is (a hodgepodge t radit ion t hemat ically) karena ia dapat m enghasilkan karya-karya sejarah yang sangat int im dengan disiplin lain. Di sisi lain, hal ini dapat m enunjukkan bahw a subjek st udi Sejarah Int elekt ual sangat luas dan karena it u berpeluang m enghasilkan kont ribusi yang juga kaya dan beragam, t idak m enjem ukan at au m em bosankan.

(33)

25

pem ikir disiplin lainnya. Walaupun, dalam t em uan Bavaj, sebagaim ana disebut kan di at as, t radisi ‘saling m em injam’

(mut ual borrowing) ini just ru m asih sangat t erbat as di ant ara sejaraw an int elekt ual sendiri unt uk m engem bangkan t radisi keilm uan m ereka.

Sekalipun dem ikian, kecenderungan ini bisa juga dilihat dalam perspekt if bahw a perkem bangan Sejarah Int elekt ual saat ini belum t iba pada t it ik penyat uan kanon t radisi. Dan dengan daerah pet ualangan yang kaya dan luas, Sejarah Int elekt ual bisa jadi akan jauh lebih m enarik dengan m em eriahkan sem angat kebebasan dalam mengem bangkan alat -alat m et odologis mereka. Biarkanlah sejarah m asa depan yang akan menilai dan menem pat kan, m elalui karya-karya yang dihasilkan para pendukungnya, m et odologi m ana yang lebih dapat diandalkan unt uk dipert ahankan dalam karya sejaraw an int elekt ual.

(34)

26

(35)

27

N i l ai - N i l ai

Sejaraw an int elekt ual t idak mem persoalkan at au m elarang nilai-nilai apa yang dianut oleh seorang sejaraw an. Perbedaan adalah suat u keniscayaan dan karena it u sangat dihargai. Yang dibut uhkan pada prinsipnya adalah keberanian-int elekt ual sejaraw an unt uk jujur kepada dirinya sendiri sert a orang lain. Dengan ini pem baca akan mengert i sudut pandang seorang sejaraw an yang dit erapkannya dalam m em baca sejarah. Jadi kalau ada krit ik, m aka krit ik tersebut akan m engarah ke alam at yang benar.

(36)

28

akunt abel secara int elekt ual. Inilah m engapa Dom inick LaCapra m engingat kan kit a unt uk m engeksplisit kan asum si-asum si yang kit a baw a saat m em baca dan dan m enafsirkan m asa lalu sehingga secara argument at if dapat diuji oleh orang lain. Baginya, hal ini adalah sebuah etika dalam keilm uan sejarah, “ posisi normat if t idak harus dibiarkan im plisit at au diselundupkan ke dalam int erpret asi; (t et api hal t ersebut ) harus diuraikan, dijelaskan, dan dibela (bilam ana m endapat krit ik” (t he normat ive posit ion must not be left implicit or smuggled int o t he int erpretat ion; it must be

elaborat ed, elucidat ed, and defended).15

Sejaraw an int elekt ual bukanlah kelom pok yang (harus) m emiliki kesam aan et nis, agam a, ras, at au kelas sosial. M ereka adalah orang-orang yang dat ang dari berbagai lat ar belakang ‘ideologi’. M ereka diikat oleh sem angat yang serupa at au sam a yait u m em pelajari sejarah ide at au kehidupan int elekt ual di m asa lalu. Di sana, t ugas sejaraw an adalah unt uk m em aham i m asa lalu. M ereka mungkin m encerit akan pem aham an m ereka. M ereka mungkin m em buat generalisasi at as kesim pulan m ereka. Pem aham an

15

(37)

29

dan kesim pulan m ereka m ungkin saja bias oleh ‘ideologi’ m ereka m asing-m asing. Nam un, m ereka m enyadari kecenderungan ini dan karena it u m ereka m enjaga m at a aw as t erhadap ‘ideologi’ mereka sendiri dan m em perkenankan pem baca unt uk m enyadari dan m enget ahui hal t ersebut secara krit is. Pikiran sejaraw an bukanlah lem baran kosong sebagai Bullock t elah m enegaskannya. M ereka t idak t inggal di sebuah pulau t erpencil. M ereka peka t erhadap kepent ingan dan perm asalahan m asyarakat di m ana mereka t inggal. Di sinilah, nilai-nilai yang dianut para sejaraw an pent ing unt uk diperhat ikan.

(38)

30

(39)

31

M od el P en gk a ji an

M odel, m enurut Ahimsa-Put ra, adalah sebuah m et afora, analogi, alegori, at au perum pam aan dari fenom ena yang sedang dit elit i. Ini adalah panduan unt uk penelit ian. Sebuah m odel bisa dalam bent uk kat a-kat a dan gam bar, t et api um um nya berupa deskripsi. Ini disebut m odel ut am a, sedangkan yang sekunder um um nya berupa gam bar dalam rangka m emfasilit asi seorang int elekt ual m enjelaskan hasil analisis at au t eori. Ini bisa berupa diagram, skema, t abel at au gam bar yang m em buat orang lebih m udah unt uk m em ahami isi penjelasan.

(40)

32 sebagai m odel. Difusionisme m enggunakan ‘bat u dilem parkan ke t engah-t engah kolam yang menyebabkan gelom bang air m elingkar m engelilingi’ sebagai m odel. St rukt ural-Fungsionalism e m enggunakan ‘organisme’ at au ‘m esin’ sebagai m odel.

Lalu, bagaim ana dengan Sejarah Int elekt ual?

M enurut Pet er E. Gordon, sejaraw an int elekt ual

Ahim sa-Putra, ” Paradigm a, Epist em ologi, dan M et ode Ilm u Sosial Budaya …”

17

(41)

33

(42)

34

t em a um um (ide at au konsep) t anpa m engakui kem ungkinan variasi-variasi yang bersifat rinci at au det ail. Nam un, t em a ut am a dapat dit em ukan dan sepenuhnya diident ifikasi hanya ket ika berbagai variasi yang ada t idak diabaikan.

Dengan ini seorang sejaraw an int elekt ual tidak harus m em ilih salah sat u dari dua, m enjadi sepert i penerbang (t he airman) at au penduduk kam pung (t he countryman)

sebagaim ana diperbandingkan oleh Bullock dalam krit iknya t erhadap met ahist ory. Dia pernah m em buat analogi yang secara t ersirat m engkrit ik sejaraw an yang bekerja secara spekulat if. Bullock m engat akan,

(43)

35

jalanan desanya sepert i ia m engenali punggung t angannya sendiri (?)18

Pada kont eks ini, para sejaraw an int elekt ual bisa ‘m enjadi’ dua orang t ersebut sekaligus dalam karya-karyanya. M ereka bisa menjadi sepert i penduduk kam pung yang m enikm at i hari-harinya m enyusuri jalan set apak di desanya dan seraya dengan it u ia m engident ifikasi set iap rincian dari apapun yang dit em uinya.

Di lain w akt u, t idak ada alasan yang m enghalanginya unt uk bisa m enurut i dan m em enuhi keinginannya unt uk t erbang dengan balon udara at au pesaw at t erbang ke angkasa sejauh ia m emiliki kem am puan dan kompet ensi unt uk m elakukan hal it u. Di sana, dengan perangkat t erbangnya, ia m em iliki kesem pat an unt uk m em aham i desanya dari sudut pandang yang lebih luas.

Jadi, sejaraw an int elekt ual dapat m engam bil jarak dari rincian obyek st udi m ereka unt uk m elihat nya sebagai sebuah gam baran besar. Dan dia juga bisa m endekat i dan m enem bus it u sedekat m ungkin unt uk m engident ifikasi

18

(44)

36

(45)

37

Ob y ek St u d i

Sejum lah pert anyaan at au hipot esis yang m enggam barkan suat u m asalah penelit ian umum nya diform ulasikan unt uk mem ulai sebuah st udi. Bagi Ahim sa-Put ra, rum usan m asalah penelit ian dalam bent uk pertanyaan at au hipot esis dapat dianggap sebagai t ahap yang paling pent ing dalam kegiat an ilmiah. Di sini ia berpendapat bahw a m elalui t injauan krit is t erhadap rum usan m asalah yang disusun akan m em ungkinkan kit a unt uk m enem ukan peran pent ing dari asum si dasar yang diam bil secara sadar at au t idak dan juga unt uk m engident ifikasi m odel yang dit erapkan unt uk m em pelajari isu-isu yang dipilih.

(46)

38

akan m enent ukan kejelasan realit as at au fenom ena yang dipelajari.19

Lant as, apa yang m enjadi obyek kajian dari para sejaraw an int elekt ual?

Sesuai dengan karakt ernya sebagai bagian dari disiplin sejarah, perm asalahan yang dit elit i oleh para sejaraw an int elekt ual t idak akan keluar dari m asa lalu. Tepat nya, Sejarah Int elekt ual adalah “ st udi t ent ang pikiran-pikiran m asa lalu” (t he st udy of past t hought s), kat a Quent in Skinner.20 Ia berusaha m em aham i “ ide-ide, pikiran, argum en, keyakinan, asum si, sikap dan perilaku yang secara bersam a-sam a m enyusun kehidupan reflekt if at au int elekt ual m asyarakat lam pau” (ideas, t hought s, argument s, beliefs, assumptions, at t it udes and preoccupat ions t hat toget her

made up t he int ellect ual or reflect ive life of previous

societ ies), dem ikian Collini menyat akan.21

Selaras juga dengan karakt er int erdisipliner-nya, isu yang diangkat sebagai t em a oleh para sejaraw an int elekt ual

19

Ahim sa-Putra, ” Paradigm a, Epist em ologi, dan M et ode Ilm u Sosial Budaya …”

20

Collini, “ What is Int ellect ual Hist ory?” 21

(47)

39

bisa sangat beragam. M eskipun, m ereka ‘dipersat ukan’ oleh fokus yang diam bil dalam karya-karya m ereka yait u unt uk m engeksplorasi kehidupan ide at au kehidupan int elekt ual dalam babakan hist oris t ert ent u di m asa lalu. Bagaim ana sebuah ide at au gagasan hidup di m asa lalu m enjadi pusat perhat ian m ereka. Bagaim ana kehidupan int elekt ual dengan berbagai kegiat an reflektifnya bekerja dalam suat u periode t ert ent u di m asa lalu m em bent uk gairah kesarjanaan m ereka.

Bruce Kuklick m engat akan bahw a sejaraw an int elekt ual menekankan st udi m ereka pada “ pent ingnya kesadaran at au ide-ide dalam m em aham i m asa lalu” (t he importance of consciousness or ideas in underst anding t he

past ).22. Jadi, problem at isasi isu yang diangkat oleh sejaraw an int elekt ual t idak akan lepas dari konsep ide at au kehidupan int elekt ual di m asa lalu. Kedua konsep ini, yait u ide dan kehidupan int elekt ual, akan dibahas kem udian dalam bagian t erpisah di buku ini.

Sekarang, yang but uh perhat ian adalah t ent ang konsepsi ‘m asa lalu’ (t he past ) it u sendiri. Hal ini cukup

(48)

40

m endasar karena beberapa klaim m uncul dengan argum en bahw a karya para sejaraw an t ak ubahnya sepert i fiksi yang dikisahkan oleh para novelis. Apakah karya Sejarah Int elekt ual benar-benar m enggali kebenaran fakt a tent ang ide-ide t ert ent u at au kehidupan int elekt ual di m asa lalu at au hanya sebuah usaha (m enulis) fiksi at as suat u ide yang dicerit akan sedem ikian rupa sehingga seolah-olah it u adalah suat u realit as kehidupan yang nyat a di m asa lalu?

(49)

41

Sejaraw an int elekt ual, t ent u saja, percaya bahw a m asa lalu dan gagasan yang pernah t um buh m ekar di w akt u t ersebut adalah nyat a. M ereka percaya bahw a m asa lalu dan apa yang t erm asuk di dalamnya adalah fakt a. Sem entara it u, m ereka t et ap t idak m engabaikan krit ik-krit ik kont em porer, t erut am a dari kaum posm odernis, sebagaim ana sem pat dikem ukakan di bagian t erdahulu.

Sejaraw an, t erm asuk sejaraw an int elekt ual, t idaklah m ust ahil unt uk bisa m em baw a kem bali melalui st udi dan penelit ian m ereka suat u gam baran yang ‘m endekat i’ fakt a yang benar-benar t erjadi di m asa lalu. Walaupun represent asi hasil st udi m ereka sering disusun dalam bent uk bercerit a, t et api m ereka secara sadar m elakukannya berdasarkan dat a-dat a yang t ersedia, bukan m engada-ada.

Argum en balasan m engenai krit ik di at as t elah dikem ukakan oleh Eric Hobsbawm23 ham pir set engah dekade lalu. Dia secara ekspresif m engat akan bahw a apa yang dipelajari oleh para sejaraw an bukanlah ilusi, “ Saya sangat m em bela pandangan bahw a apa yang sejaraw an selidiki adalah nyat a” (I st rongly defend t he view t hat w hat hist orians

23

(50)

42

invest igat e is real). Hal ini pent ing bagi para sejaraw an unt uk m em iliki kesadaran dan kepekaan dalam m em bedakan m ana yang fakt a dan m ana yang fiksi. M ereka harus m am pu m enent ukan “ perbedaan ut am a ant ara fakt a yang ada dan fiksi, ant ara pernyat aan sejarah berdasarkan bukt i dan t unduk pada bukt i dan pernyat aan yang t idak dem ikian.” Bahkan Hobsbaw m dengan nyaring m enggarisbaw ahi, “ Singkat nya, saya percaya bahw a t anpa perbedaan ant ara apa yang fakt a dan apa yang bukan, t idak akan ada sejarah.”

Pandangan ini m enolak klaim yang m enyebut kan bahw a fakt a-fakt a t idak lebih dari hanya suat u konst ruksi pikiran. Pandangan ini pada dasarnya m enganggap bahw a suat u konst ruk (pem ikiran) sah sebagaim ana yang lainnya dengan m enerim a mereka karena berupa sekedar pernyat aan at au proposisi dan m engabaikan dasar argum ent at ifnya, apakah didukung oleh logika dan bukt i at aukah t idak. Sejaraw an int elekt ual t ent u harus benar-benar m em iliki kem am puan dalam m em buat pem isahan ant ara fiksi dan apa yang m ereka klaim sebagai fakt a fakt a karena dibangun di at as bukt i-bukt i yang sah.

(51)

43

bagian dari kesadaran m anusia. Ini adalah elem en yang m elekat pada lem baga, nilai-nilai, dan pola-pola akt ivit as lain dari m asyarakat m anusia. Nah, di sinilah sebenarnya t ugas sejaraw an, yait u unt uk m enganalisis ‘cit a m asa lalu’ ini dalam m asyarakat sert a unt uk m elacak perubahan dan t ransform asinya. Dia berkat a, “ Kit a berenang di m asa lalu laiknya ikan di air, di m ana kit a t idak bisa lepas dari itu. Tapi m oda hidup dan bergerak kit a di m edium ini m emerlukan analisis dan diskusi.”

Ia juga m enyebut kan bahw a ‘m asa lalu’ bisa dipaham i dan diperlakukan dalam beberapa pengert ian. 1. Pola unt uk m asa sekarang (t he pat t ern for t he present ).

Di sini, m asa lalu t erlihat seperti drum t ua (t he old cont ainer) di m ana anggur baru dapat dit uangkan. M asa lalu diyakini at au set idaknya dianggap secara t erus-m enerus erus-meerus-m bent uk erus-m asa kini. Dengan kat a lain, ‘erus-m asa kini’ akan selalu mereproduksi ‘m asa lalu’.

2. M odel bagi m asa kini (t he model of t he present ).

M asa lalu juga dapat dilihat sebagai t openg unt uk inovasi

(52)

44

t erjadi secara cepat . Pem ulihan harfiah dari m asa lalu sekarang hanya m ungkin dilakukan secara ala-kadarnya at au sim bolik (in t rivial or symbolic), t idak dalam bent uk yang efekt if. Di sini, inovasi at au fabrikasi secara t ot al dapat m enggant ikan upaya-upaya m encipt akan ulang at au m em ulihkan m asa lalu (recreat ing or rest oring t he past ).

3. Proses m enjadi masa kini (a process of becoming t he present ).

Legit im asi at as perubahan m asa kini dilakukan dengan m elabuhkannya kepada m asa lalu. Jadi, m elampaui (hanya) sebagai senarai dari t it ik-t itik at au durasi rujukan, m asa lalu hadir berm anifest asi sebagai m asa kini it u sendiri.

4. Silsilah dan kronologi (geneology and chronology).

(53)

45

Sem ent ara it u, Bavaj sehubungan dengan rum usan m asalah t elah m em et akan berbagai t opik di m ana perdebat an di ant ara sejaraw an int elekt ual biasanya t erpusat . M enurut dia, set idaknya ada enam isu pent ing sebagai berikut :

1. Tujuan Sejarah Int elekt ual (t he purpose of int ellect ual hist ory).

Haruskah para sarjana di bidang ini bert ujuan t erut am a unt uk m elakukan t elaah sejarah pemikiran m asa lalu, di m ana sebagian besarnya m em bat asi dirinya pada upaya m eninjau kem bali dan m em bangun kem bali ‘arsip-arsip’ ide; at aukah m ereka seharusnya juga m endiskusikan m asalah-m asalah t em at ik dalam suat u ‘laborat orium ’

Ideenpolitik yang berorient asi m asa depan, yakni Sejarah Int elekt ual sebagai cara unt uk bepolit ik?

2. Adanya pert anyaan-pert anyaan perenial (the exist ence of perennial quest ions).

(54)

46

dianggap mem iliki kualit as abadi dan diyakini m am pu m elam paui babakan-babakan hist oris?

3. Penjelasan t ransm ut asi int elekt ual (t he explanat ion of int ellect ual t ransmut at ions).

Bagaimana sejaraw an int elekt ual menjelaskan perubahan ide-ide dari w akt u ke w akt u? St rat egi apa yang dapat m ereka adopsi unt uk m engungkap hubungan yang kom pleks ant ara perubahan int elekt ual dan sosial? Dan bagaim ana m ereka mendekat i int eraksi ant ara st rukt ur dan agensi vis-à-vis m odifikasi-m odifikasi ideasional? 4. Ket erkait an ant ara t eks dan kont eks (t he int errelat ion of

t ext and cont ext ), yang seringkali juga disebut , jika t idak keliru, sebagai hubungan luar-dalam at au int ernal-ekst ernal (t he inside-out side or int ernal-ext ernal relat ion). Bagaimana seharusnya sejaraw an int elekt ual m enem pat kan ide-ide yang dapat dilacak dalam ujaran t ekst ual, dalam jejaring diskursif t eks-t eks lainnya sebagaim ana juga dalam kont eks st rukt ur sosial, lingkungan budaya, sist em polit ik dan inst it usi?

(55)

47

Haruskah sejaraw an int elekt ual berurusan t erutam a dengan hanya sat u at au dua individu; at aukah m ereka seharusnya m engkaji kelom pok orang yang lebih besar; at au bahkan m ungkin sekum pulan pemikiran (collectives of t hought )? Haruskah m ereka fokus pada para t okoh int elekt ual at au pem ikir besar, yakni agen-agen pemikiran yang t erkenal, t erm asuk di dalam nya yang dianggap m assa aw am (inarticulat e masses)?

6. Basis bahan kajian (t he source base).

Haruskah sejaraw an int elekt ual m em bat asi diri secara ket at pada ujaran-ujaran t ekst ual (t ext ual ut t erances);

at aukah m ereka seharusnya m eregangkan bat as-bat as bidang kajian m ereka dengan m em anfaat kan pula bahan-bahan yang dapat didengar at au dilihat?24

24

(56)

48

“ Kit a berenang di masa lalu laiknya ikan di air, di mana kit a t idak bisa lepas dari it u. Tapi moda hidup dan bergerak kit a

di medium ini memerlukan analisis dan diskusi.”

(57)

49

K on sep - K on sep

Konsep adalah kat a dengan makna t ert ent u. Konsep m erupakan elem en pent ing bagi sebuah paradigm a. Di m ana suat u konsep t ert ent u dapat saja dikenali sebagai konsep yang paling at au lebih pent ing daripada konsep-konsep lainnya yang ada dalam paradigm t ersebut. Dan t idak m enut up kem ungkinan bahw a beberapa paradigma yang berbeda m enggunakan dan menerapkan sat u at au beberapa konsep yang sam a. Selanjut nya bagaim ana m ereka m endefinisikan konsep-konsep ini yang secara harfiah t idak berbeda kem udian menjadi jelas berbeda sehingga ikut m enandai ‘bat as-bat as’ yang khas dari paradigm a m ereka m asing-m asing.

(58)

50

Sejarah

Guna m em ahami Sejarah Int elekt ual, perlu kejelasan apa sebenarnya yang dim aksud dengan sejarah it u sendiri. Sebagai aw alan, sejarah dapat dipaham i dengan m em aham i dua konsep yang erat t erkait , yait u ant ara t he past, m asa lalu, dan hist oriography, penulisan t ent ang m asa lalu. Chase F. Robinson t elah m endefinisikan sejarah (hist ory) sebagai ist ilah yang dapat m ew akili dua pengert ian sekaligus, yait u (1) m asa lalu, dan (2) disiplin at au cabang ilm u yang t erkait dengan berfikir, m engajar, dan m enulis t ent ang m asa lalu. Sehingga sejarah kem udian bisa t um pang t indih dengan pem aham an kit a t ent ang hist oriografi yang hanya bisa berart i m enulis t ent ang m asa lalu (w riting about t he past ).25.

Kesam aan ant ara kedua ist ilah t ersebut sebenarnya sudah diperingat kan jauh sebelum nya oleh J.H. Hext er. Agar t idak m enim bulkan kebingungan, ist ilah ‘sejarah’ (hist ory)

bisa digunakan unt uk m enggam barkan suat u disiplin st udi yang sist em at is t ent ang m asa lalu. Ist ilah ini digunakan t idak hanya unt uk m erujuk kepada ‘m asa lalu’ (t he past ). Am biguit as yang tidak perlu kadangkala m em ang t erjadi

25

(59)

51

karena ist ilah ‘sejarah’ dipergunakan unt uk m engident ifikasi dua hal sekaligus yait u ‘m asa lalu’ dan ‘st udi sistem at is’ m engenai hal it u. Adapun ist ilah ‘hist oriografi’, ‘ret orika sejarah’, dan ‘m enulis sejarah’ bisa dipergunakan sebagai sinonim. Hist oriografi berbeda dari koleksi bukt i sejarah, penyunt ingan sum ber-sum ber sejarah, pelaksanaan pem ikiran dan im ajinasi hist oris, krit ik penulisan sejarah, dan filsafat sejarah, m eskipun m ereka sem ua t erkait dan beberapa di ant aranya saling t um pang t indih. Hist oriografi juga berbeda dari sejarah penulisan sejarah.26

Pada kont eks ini, gagasan m engenai sejarah sebagaim ana dibangun oleh kaum posm odernis t idak boleh diabaikan bahkan oleh para sejaraw an int elekt ual. Keit h Jenkins m isalnya berpendapat bahw a dalam dunia kont em porer, kit a perlu pem aham an baru t ent ang sejarah. Gagasan m odernis mengenai sejarah t idak lagi sepenuhnya relevan dalam kont eks posm odern sekarang ini. Dia m engat akan bahw a m ereka yang akan menjadi pem andu t erbaik bagi disiplin sejarah saat ini adalah m ereka yang t idak hanya t ahu t ent ang sem ua hal m engenai runt uhnya versi

26

(60)

52

at as dan baw ah dari sejarah ke dalam ket idakpastian, t api m ereka yang m enyukai hal t ersebut dan bisa m enerim anya. Apa yang dibut uhkan saat ini adalah para pem andu yang m enyadari bahw a sejarah m odernis yang dikem bangkan dalam m odernit as, seiring dengan berakhirnya era m odern m aka cara-caranya dalam m engkonsept ualisasi sejarah juga t urut berakhir. Dan dengan t ibanya era post m odern kit a, penafsiran m odernis saat ini m enjadi t am pak naif. M om ent um kesejarahan m ereka t elah berlalu. Sehingga yang diperlukan saat ini adalah pem andu yang t idak sem at a bisa m enerim a akhir dari sejarah m odern per se t api juga m am pu m enghadapi akhir dari penafsiran m odernis at as sejarah dengan t enang dan bahkan opt im ism e.27

Jenkins sendiri m em bedakan ant ara posm odernit as dan posm odernisme. Dia m enjelaskan bahw a kita t idak punya pilihan dalam posm odernit as, t et api punya di posm odernism e. Post m odernit as t epat nya adalah kondisi kit a, nasib kit a (precisely our condition: it is our fat e). Ini bukan ideologi at au posisi yang kit a bisa m emilih unt uk ikut sert a at au t idak. Kit a tidak bisa melarikan diri dari hal ini

27

(61)

53

karena kit a adalah bagian darinya. Sement ara it u, post odernism e adalah form asi-form asi sosial yang t idak m em iliki alasan-alasan ont ologis at au epist em ologis at au et ika yang absah bagi keyakinan at au t indakan di luar st at us sebagai percakapan (ret oris) yang sangat m engandalkan referensi diri sendiri. Di sini, kit a m enem ukan ruang di m ana pem aham an kit a saat ini t ent ang sejarah dapat disem purnakan dengan m enyuling residu sisa dari kepast ian-kepast ian law as milik m odernism e t erm asuk objekt ivit as

(object ivit y), kenet ralan (disint erest edness), fakta-fakt a

(fact s), ket idakbiasan (ubiasedness), kebenaran (t ruth); dan m enyerap w acana ret orika posm odernism e sepert i pem bacaan (readings), pengam bilan posisi (posit ionings),

perspekt if (perspect ives), konst ruksi (const ruct ions), dan keserupaan (verisimilit ude).

Jenkins m enandaskan bahw a ada perbedaan radikal yang dapat dit arik ant ara ‘m asa lalu’ (t he past ) dan ‘sejarah’

(62)

54

kesejarahan. Dan jika kem udian ini dikait kan dengan sejarah penafsiran, m aka net ralit as at au objekt ivit as penafsiran m enjadi sangat kabur. M enurut Jenkins, hari ini, t idak ada int erpret asi yang net ral at au obyekt if it u. Sebagaim ana t idak ada survei yang lugu (innocent ) at au posisi yang t ak mem ihak

(unposit ioned posit ions). Dalam st udi sejarah, hal t erbaik yang bisa kit a lakukan adalah m engingat kan dan t erus m engingat kan pem baca m engenai posisi yang kit a ambil saat m enafsirkan sejarah. Daripada berkhayal bahw a penafsiran m ungkin t idak hanya m uncul tidak dari m ana-m ana, t et api bahw a sebagian penfasiran sam a sekali t idak int erpret at if m elainkan ‘kebenaran’ it u sendiri.

Penerjem ahan dengan nuansa posm odernis ini akan lebih baik didudukkan dalam w acana Sejarah Int elekt ual dengan m elihat kem bali uraian Hobsbawm m engenai konsep sejarah dan m asa lalu di bagian sebelum nya.28 Sem ent ara isu

28

(63)

55

yang berkait an dengan subjekt ivit as dalam kegiat an penafsiran dapat dihubungkan kem bali dengan pandangan LaCapra di bagian at as t ent ang Nilai. Di sana, sejaraw an int elekt ual m enegaskan bahw a subjekt ivit as adalah aspek yang t idak t erpisahkan dalam karya int elekt ual at au sejaraw an. Yang bisa dilakukan unt uk m enyajikan sebuah st udi dan analisis yang kredibel adalah dengan m enjadi t ransparan dan akunt abel secara int elekt ual. Pada t it ik ini, pem ikiran LaCapra bert em u dan sepakat dengan Jenkins. Sebagai et ika, sebuah posisi norm at if t idak boleh dit inggalkan im plisit at au diselundupkan ke dalam penafsiran. Posisi t ersebut harus diuraikan, dijelaskan, dan dipert ahankan.

Ide

Dengan m engacu pada serangkaian volum e Ideas in Cont ext (ide-ide dalam kont eks) yang dit erbit kan oleh Cam bridge Universit y Press, Young m enggam barkan Sejarah Int elekt ual sebagai suat u disiplin yang berkait an dengan m em ahami bagaim ana ide-ide berasal dan berkem bang dalam kont eks sejarah yang spesifik. Hal ini juga berkait an dengan penelusuran sejarah m ereka dalam kont eks sejarah

(64)

56

yang lebih luas dari m asyarakat dan budaya yang m ereka t elah t urut sert a m em bant u m em bent uknya, dan yang sebaliknya juga t elah m em bent uk mereka. Potret ini m enekankan bet apa vit al dan pent ingnya konsep ide unt uk karya-karya sejaraw an int elekt ual. Sem ua upaya m ereka dit uangkan unt uk mengident ifikasi, m engeksplorasi, dan m enjelaskan ide-ide yang m ereka pelajari.29 Tapi, bagaim ana sejaraw an int elekt ual sendiri benar-benar m elihat ide?

Biasanya ide-ide lebih m enarik dilihat pada perannya dalam sejarah m onast ik at au dasar t eologis dari cit a-cit a hidup kont em plat if. Sekalipun dem ikian, ide-ide sendiri oleh sejaraw an int elekt ual dilihat , sepert i dit egaskan LaCapra, t idak sebagai sesuat u yang dingin dan t anpa darah t et api sebagai sesuat u yang bernyaw a, pent ing, dan bahkan bisa t erlihat erot is. Ide-ide selalu m uncul dalam banyak bent uk dan t idak kesem uanya it u, sepert i pendapat Burrow , m udah diident ifikasi dengan bent uk-bent uk yang dicipt akan dan dit egakkan oleh disiplin keilm uan m odern.

Ide-ide dari kehidupan int elekt ual m asa lalu dalam prakt ek sejaraw an int elekt ual dapat dipelajari dari t eks dan

29

(65)

57

arsip. Di sini, ada sedikit perbedaan pengert ian ant ara 't eks' dan 'arsip'. Teks ham pir secara eksklusif m erujuk pada t ulisan-t ulisan dalam bent uk sepert i buku, art ikel jurnal at au m akalah yang berbicara t ent ang t opik t ert ent u dan kem udian dijabarkan secara ringkas at au panjang lebar. Sem ent ara arsip lebih m erujuk pada bahan-bahan t ert ulis at au dokum en sem acam daft ar harga, lem bar dem ografi, dan lainnya.

Konteks Intelektual

Ist ilah ‘kehidupan int elekt ual m asa lalu’ (int ellect ual life of t he past ) dapat dikat egorikan secara longgar sebagaim ana saran Burrow , ke dalam t erm a ‘budaya’

(66)

58

Burrow t idak set uju dengan asum si bahw a Sejarah Int elekt ual m em but uhkan kosakat a t eorit is yang khusus dan sist em at is unt uk ent it as dan relasi-relasi yang berhubungan dengan kajiannya. Posisi sikap ini berdasarkan penalaran at as dua keyakinan yang berhubungan erat dengan asum si. 1. Bahw a bagian-bagian dari kehidupan int elekt ual m asa lalu

yang t erfikirkan dianggap sebagai asing (alien), t ert ut up

(closed), t anpa kom prom i (hard-edged).

2. Bahw a mereka juga sangat koheren, sehingga kit a dapat m em ahami kehidupan int elekt ual t ersebut dalam t ot alit asnya, dan m ungkin t erkait dengan aspek-aspek lain dari organisasi sosialnya, karena m ereka sendiri t idak bisa. Di sini, Burrow m enyoal dua keyakinan t ersebut .

(67)

59

2. Unt uk kecenderungan kuat dan agak m odis yang m engat akan bahw a m odel siap-pakai yang kit a baw a unt uk m enjum pai m asa lalu it u akan m engarahkan kit a sepert i m endengar gem a dari suara kit a sendiri, Burrow m enanggapi bahw a dia t idak percaya jika it u t ak t erhindarkan. M eskipun dia berfikir bahw a hal sem acam it u dapat dan sungguh-sungguh t erjadi.

Dia m elihat hubungan kit a dengan w acana m asa lalu bisa m enjadi sem acam negosiasi, dalam art i bahw a ada dua sisi di mana kit a dapat m endengar dan juga berbicara. Bahkan dalam posisi m endengar ent ah dengan t idak sabaran, t idak perhat ian, lalai, at au just ru selekt if, kit a m asih dapat m endengar sesuat u yang sem ula t idak kit a kehendaki. Di sit ulah kit a belajar m engenali kem am puan m asa lalu unt uk m engejut kan kit a, m uncul secara berbeda, t idak cocok sebagaim ana pra-anggapan kit a sem ula m engenainya.

(68)

60

nyam an. Dia t idak m enyangkal bahw a pent ing bagi kit a unt uk m engam bil m anfaat ket ika belajar, m enyim pul, at au m em injam dari m anapun, konsep-konsep yang bisa m em bant u kit a m enjadi lebih baik dalam m enafsirkan dan m em ahami at uran-at uran, konvensi dan sekaligus ket erbat asan yang m ana pem bicara di m asa lalu t idak m engalam i it u. Tapi pat ut diingat bahw a “ Sejarah Int elekt ual bukanlah sebuah parodi” (int ellect ual hist ory is not parody), kat a Burrow . Dia hendak mereit erasi klaim bahw a lebih baik t idak boleh ada hanya sat u m et odologi t erpadu, skem a konsept ual, at au bahasa t eorit is yang digunakan secara definit if unt uk menandai Sejarah Int elekt ual dan para prakt isinya.30

30

(69)

61

M etod e P en el i ti an

Pada dasarnya, m et odologi yang dikem bangkan oleh sejaraw an int elekt ual adalah m et odologi yang juga dit erapkan oleh para sejaraw an pada umum nya. Perbedaannya t erlet ak pada aspek-aspek t ert ent u dari m asa lalu yang akan dipelajari. Ini, ant ara lain, t elah dikonfirm asi oleh Collini, salah sat u sejaraw an int elekt ual kont em porer dari Inggris. Dia m engat akan, “ Sepert i sem ua sejaraw an, sejaraw an int elekt ual lebih sebagai konsum en daripada produsen 'm et ode'; sam a halnya ket ika m engklaim bahw a t idak ada jenis bukt i yang secara khusus dan eksklusif adalah m iliknya. Kekhasannya t erlet ak pada aspek m ana dari m asa lalu yang hendak diungkap, t idak pada kepem ilikan eksklusif baik yang bekenaan dengan bukt i at au t eknik-t eknik kajian.”31

M asa lalu it u sendiri t elah mew ujud dalam bent uk t eks at au arsip. It u m em buat sem ua sejaraw an dalam prakt eknya adalah penafsir t eks. M eskipun unt uk sebagian

31

(70)

62

besar jenis sejaraw an, sepert i Collini kem ukakan, t eks-t eks ini hanya sarana yang diperlukan unt uk mem ahami sesuat u selain dari t eks it u sendiri. Bagi sejaraw an int elekt ual, pem aham an penuh at as t eks yang m ereka pilih dengan sendirinya adalah t ujuan dari perburuan int elekt ual m ereka.

Sejarah Int elekt ual seringkali t erlihat m em baw a fokus kajiannya pada st udi t ent ang ide-ide ‘t inggi’ (t he high ideas) dari periode m asa lalu, yakni pem ikiran para int elekt ual yang berpart isipasi dalam budaya kaum t erdidik di m asanya. Penekanan ini t ak urung m em buat m ereka sering didiskredit kan sebagai disiplin keilm uan sejarah yang m enerapkan (pendekat an) elit is (elit ist hist ory), di m ana sejarah t ert ulis dari at as ke baw ah (t he 't op down'). Walaupun m enjelaskan ‘ide-ide t inggi’ adalah yang ut am a, sejaraw an int elekt ual dipast ikan m enem ukan kem ust ahilan bilam ana m elakukan penjelasan m engenai hal t ersebut t anpa m em eriksa kont eks sosial di m ana ide-ide dim aksud berkem bang.

(71)

63

dapat dibat asi hanya dengan kajian m engenai apa yang t erjadi dalam realit as gaib di kepala sebagian para pem ikir besar, t erpisah dari realit as-realit as duniaw i yang nyat a.

Dia m engat akan, “ Bahkan, pem aham an yang t epat at as pem ikiran dari suat u periode akan bergant ung pada penget ahuan at as sem ua ide yang ada pada saat it u, dari yang populer hingga ilmiah. Selain it u spekt rum ide yang ada t idak boleh diam bil begit u saja (t aken for grant ed) t anpa dijadikan pula sebagai subyek dari penyelidikan it u sendiri. Ket erkait an ant ar ide pada st rat a budaya yang berbeda di m asyarakat sangat m enunt ut adanya perhat ian. Sebuah st udi yang melakukannya dengan adil akan m em peroleh klaim t erbaik unt uk disebut sebagai Sejarah Int elekt ual yang sejat i m engenai periode yang dipilihnya.”32

M ichael Biddiss juga m enegaskan hal yang serupa dengan m engat akan, “ Set iap survei um um Sejarah Int elekt ual sekarang harus m em pert im bangkan t idak hanya ide-ide polit ik dan sosial, t et api juga dari int eraksi m ereka dengan perkem bangan ilm u penget ahuan alam, filsafat dan pem ikiran agam a, dan t idak lupa, dengan lit erat ur dan seni di

(72)

64

m ana t um pang t indih dengan Sejarah Budaya menjadi sangat kent ara. Di m ana kat a-kat a m asih t et ap m enjadi kendaraan ut am a w acana dalam sum ber-sum ber kajian kit a, m aka kit a m asih harus banyak belajar dari t et angga-t et angga kit a, di bidang sosiolinguistik khususnya.”33

Pem bahasan ini menunjukkan bahw a dalam perkem bangan Sejarah Int elekt ual set idaknya ada dua aliran ut am a, yait u Elit is dan Kont ekst ualis. Aliran yang pert am a, m enurut Bavaj, dapat dit em ukan dalam karya Arthur O. Lovejoy,34 pendukung t erkem uka Sejarah Ide, dan Reinhart Koselleck, prom ot or Begriffsgeschicht e, Sejarah Konsep. Aliran yang kedua, Kont ekst ualis, bisa diident ifikasi dari sejaraw an t he Cambridge School of Int ellect ual Hist ory

sepert i Quent in Skinner, Pet er Laslet t , John Pocock, John Dunn, M ark Bevir, dan Dom inick LaCapra.

Skinner m enjelaskan sejumlah pendekat an yang t elah diprakt ekkan oleh para sejaraw an int elekt ual dari sejak

33 Ibid. 34

Lihat : Art hur O. Lovejoy, The Great Chain of Being: A St udy of t he Hist ory of an Idea, (Cam brige & London: Harvard University Press, 1936); dan M ark Bevir, The Logic of t he History of Ideas,

(73)

65

m unculnya Sejarah Ide hingga saat ini dalam karya-karya m ereka.

1. M ereka m em usat kan perhat iannya pada konsep-konsep yang sangat um um at au 'ide-ide sat uan' (unit ideas) yang t elah m uncul dan m uncul kem bali sepanjang sejarah kit a dalam banyak t eori yang berbeda dari kehidupan sosial dan polit ik sepert i kebebasan, keset araan, keadilan, kem ajuan, t irani dan ist ilah kunci lainnya. Karya Art hur O. Lovejoy m ew akili pendekat an ini.

2. M ereka m engum pulkan dan m enaw arkan dengan sangat hat i-hat i bahan dari berbagai t eks yang paling berpengaruh dalam m em bent uk t radisi m ereka, m isalnya dalam t radisi polit ik Barat , m encakup banyak m onograf klasik t ent ang beberapa t okoh ut am a sepert i Plat o dan Arist ot eles, Hobbes dan Locke, Rousseau, Hegel, M arx dan para pengikut sezam annya. Sejaraw an dari t eori sosial dan polit ik m erepresent asikan pendekat an ini.

(74)

66

sebelum nya yang dianggap ket inggalan zam an. M ereka m elihat bahw a t idak lagi cukup hanya dengan m enganalisis preposisi dan argum ent asi yang t erkandung dalam t eks. Konsep harus t idak dipandang t idak hanya sebagai proposisi dengan m akna yang menyert ainya; m ereka juga harus dipandang sebagaim ana saran Heidegger sebagai senjat a (as w eapons) at au dalam ist ilah Wit t genst ein sebagai alat (as t ools). John Dunn, John Burrow , dan St efan Collini t elah m em prakt ekkan pendekat an ini. Demikian pula, J.G.A. Pocock t elah m engajak sejaraw an ide-ide polit ik unt uk berkonsentrasi bukan lagi pada t eks at au t radisi pemikiran m elainkan pada apa yang disebut nya st udi bahasa-bahasa polit ik.35

Collini, sem bari m enghargai karakt er sejarah asli dari sejarah ‘elit is’ ide, m enyarankan sejaraw an int elekt ual kont em porer unt uk m engikut i pendekat an baru yang t elah disebut kan t ersebut .

35

(75)

67

M etod e A n al i si s

Dalam prakt ek analisis, ada dua langkah ut am a yang bersifat int egrat if yang dapat diam bil di sini, yakni (1) m em baca (reading) dan (2) menafsirkan (int erpret ing). John Burrow m enaw arkan dua analogi yang dapat dipergunakan unt uk m enggam barkan kedua langkah t ersebut , yait u (1) ‘m enguping’ percakapan (t he ‘eavesdropping’ on a conversation) dan (2) penerjem ahan (a t ranslat ion).36

Unt uk yang pert am a, yakni m enguping percakapan, m enurut Burrow , m em prakt ekkan Sejarah Int elekt ual t idak m em but uhkan penget ahuan t ent ang sebuah m odel at au resep, m elainkan hanya kesabaran, kew aspadaan dan ket ekunan dalam m em elihara perhat ian kit a pada percakapan m asa lalu, m encoba m em ahami mereka sepert i laiknya kit a belajar sebuah bahasa biasa, secara perlahan sam pai pada t it ik m em ahami kom ponen dengan kont eks-nya dan m em bangun kepekaan kit a akan kont eks karena kit a m engident ifikasi kom ponen-kom ponennya. Teori-t eori

36

(76)

68

adalah pem bahasan at au penjelasan dari apa yang kit a lakukan, m ereka bukan resep unt uk m elakukannya.

Unt uk yang kedua, yakni penerjem ahan, mem ikirkan pem ikiran m asa lalu yang dit aw arkan Sejarah Int elekt ual sebagai akt ivit as ‘m encipt akan kem bali’ (recreat ing) at au ‘m engalami kem bali’ (reexperiencing) hanyalah set engah dari proses. Seandainya m ungkin, proses ini seolah-olah hendak m enam bahkan sat u orang yang secara ret rospekt if m elakukannya ke dalam populasi m asyarakat m asa lalu t ersebut . Int inya adalah agar dapat berbicara t ent ang hal it u, unt uk m enjadi perant ara dari dua dunia.

Referensi

Dokumen terkait

dan “as” merupakan kata sambung paling sedikit dari subordinating conjunctions yaitu masing-masing sebanyak 1 atau 1,09%. Universitas

Adat yang sudah mengakar dan mentradisi merupakan salah satu contoh hambatan yang timbul dalam inovasi pendidikan pada bidang..

pada penelitian ini dibuat sistem yang dapat melakukan peramalan menggunakan metode JST backpropagation dengan Artificial Bee Colony untuk mengetahui tingkat

Chapter 8-3 Inventory Classificatio n and Control Physical Goods Included in Inventory Costs Included in Inventory Cost Flow Assumptio ns LIFO: Special Issues

Observasi pra-PPL menyangkut perangkat pembelajaran (meliputi kurikulum, silabus, dan RPP), proses pembelajaran (meliputi cara membuka pelajaran, menyajikan materi,

Dengan ini diberitahukan bahwa setelah diadakan penelitian oleh Kelompok Kerja Konstruksi IV (empat) ULP Kabupaten Lampung Tengah menurut ketentuan – ketentuan yang berlaku,

[r]

Berdiskusi kegiatan apa saja yang sudah dimainkannya hari ini, mainan apa yang paling disukai 34. Bercerita pendek yang berisi