i
Pendidikan Berbasis Komunitas dan Fitrah
(Studi Kasus Anak Pelaku
Home Education Kelompok Usia
Pendidikan Dasar di Sekolah
Community Based Education
Kampung Juara Salatiga Tahun 2016)
Oleh
HESTI ARIESTINA NIM. 120.2015.0014
Tesis ini diajukan sebagai pelengkap persyaratan untuk gelar Magister Pendidikan
PROGRAM PASCASARJANA
v ABSTRAK
Penelitian ini difokuskan pada implementasi pendidikan berbasiskan fitrah
manusia yang dilaksanakan dalam sebuah komunitas. Mereka membuat sekolah dan
menamakan diri dengan CBE Kampung Juara. Sekolah komunitas ini muncul karena
kondisi riil di masyarakat tentang adanya pergeseran nilai, sikap, dan orientasi yang
terlihat jelas dengan banyaknya fenomena- fenomena menyimpang. Sekolah yang
digadang-gadang mampu menjadi agen perubahan intelektual, ketrampilan dan
karakter sepertinya belum bisa selaras dengan tujuan pendidikan yang sejatinya. Bukan
hanya sekolah, ternyata orangtua pun turut memberikan andil besar dalam pola
pendidikan anak. Pola pikir yang dimiliki orangtua melahirkan perilaku mendidik yang
menyalahi fitrah anak.
Penelitian ini merupakan field researh yang menggunakan pendekatan deskriptif
kualitatif. Di dalamnya dikemukakan tentang hal-hal sebagai berikut: 1) Profil dan
latar belakang orangtua menyekolahkan anaknya di Sekolah Komunitas ini; 2)
implementasi pendidikan berbasis komunitas dan berbasis fitrah; 3) indikator
keberhasilan proses belajar anak dari waktu ke waktu.
Peneliti menemukan pola mendidik anak yang tidak menyalahi fitrah. Proses
pembelajarannya menggunakan personalize dan customize curriculum. Fasilitato r
dalam belajar adalah orangtua yang tergabung dalam komunitas ini. Pembuatan
kurikulum untuk setiap anak menganut prinsip “start from the finish line”
vi
ABSTRACT
The reseach is focused on the implementation of fitrah-based education which
actualized in a community. They made a community School and named CBE Kampung
Juara Salatiga. This community school appears due to the real society condition such
as the friction of value, attitude, and orientation that clearly seen by much phenomeno n.
School which is expected become the agent of change of intellectuality, skill and
character, seems to do the contrary. Not only school, the parents are also have the great
role in their children’s education pattern. The mindset that owned by the parents result
a serries of action which violate children’s fitrah (potention).
The research is a field reseach that uses a qualitative descriptive approach. It tells
about: 1) The profile and the background motive of parents to send their children in
this community school; 2) The implementation of community-based and fitrah-based
education; 3) the indicators of success of the children from time to time.
The researcher finds the pattern to educate the children which do no violate
children’s fitrah. The process of learning apply personalized and customized curriculum. Most of the facilitator of learning are the parents who get involve to this
community. The making of curriculum for every child enforce one principle “start from the finish line”.
Keyword : Education, Community-based, Fitrah-based, Home-based, homeschool.
vii PRAKATA
Alhamdulillah, segala puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, atas segala karunia dan ridho-Nya, sehingga tesis dengan judul “Pendidikan Berbasis Komunitas dan Fitrah (Studi Kasus Anak Pelaku Home Education Kelompok Usia Pendidikan Dasar di Sekolah Community Based Education Kampung Juara Salatiga
Tahun 2016)” ini dapat diselesaikan. Tesis ini disusun untuk memenuhi salah satu
persyaratan memperoleh gelar Magister Pendidikan pada program studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Institut Agama Islam Negeri Salatiga.
Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis menyampaikan rasa hormat dan menghatur terima kasih yang sebesar-besarnya, kepada :
1. Bapak Dr. Zakiyyudin, M.Ag atas bimbingan dan arahannya dalam penulisa n tesis ini.
2. Ketua program studi Pascasarjana PGMI Bapak Dr. Winarno, M.Pd.
3. Suami dan Averroes Omar Arzachel ku tercinta yang selalu menjadi inspiras i dan source of spirit, segenap keluarga Babe, mamak, ibuk, bapak, serta adik-adik tersayang yang tak putus-putus memberi doa dan dukungannya.
4. Bunda Septi Peni Wulandari yang bersedia meluangkan waktu untuk saya wawancara disela-sela kesibukannya.
5. Mbak Ade, Mbak Dewi, Mbak Hermin, Bu Kesi, Mbak Nanik, dan seluruh warga CBE Kampung Juara yang sudah bersedia saya repoti.
6. Sayyidah Aslamah yang sudah mengirimi jurnal-jurnal untuh tambahan referensinya.
7. Rekan-rekan S-2 PGMI yang tidak bisa saya sebut satu persatu.
8. Dan segenap pihak yang telah membantu hingga tesis ini dapat tersusun.
Dengan keterbatasan pengalaman, ilmu maupun pustaka yang ditinjau, penulis menyadari bahwa tesis ini masih banyak kekurangan dan pengembangan lanjut. Oleh sebab itu, penulis sangat mengharap kritik dan saran agar tesis ini lebih sempurna serta sebagai masukan bagi penulis untuk penelitian dan pe4nulisan karya ilmiah di masa yang akan datang.
Akhir kata, penulis berharap tesis ini memberikan menfaat bagi kita semua terutama untuk dunia pendidikan baik di sekolah maupun di rumah.
viii DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ...i
HALAMAN PENGESAHAN ...ii
LEMBAR PERSETUJUAN...iii
HALAMAN PERNYATAAN ...iv
ABSTRAK ...v
PRAKATA ...vi
DAFTAR ISI ...viii
DAFTAR GAMBAR ...x
DAFTAR LAMPIRAN ...xi
BAB I PENDAHULUAN ...1
A. Latar Belakang ...2
B. Rumusan dan Batasan Masalah ...4
C. Signifikansi Penelitian ...5
D. Kajian Pustaka ...6
E. Metode Penelitian ...10
F. Sistematika Penulisan ...14
BAB II SELAYANG PANDANG CBE KAMPUNG JUARA SALATIGA …...15
A. Profil CBE Kampung Juara ...15
B. Tujuan CBE Kampung Juara ...17
C. Animo Orangtua ...19
ix
A. Acuan Kurikulum ...24
B. Sistem Pendidikan ...26
C. Proses Pembelajaran ...32
D. Fitrah sebagai Pendekatan Pembelajaran ...34
BAB IV EVALUASI DI CBE KAMPUNG JUARA SALATIGA ...39
A. Makna Evaluasi bagi CBE Kampung Juara ...39
B. Bentuk Evaluasi CBE Kampung Juara ...40
C. Ukuran Sukses bagi Masyarakat CBE Kampung Juara ...41
BAB V PENUTUP ...43
A. Kesimpulan ...43
B. Saran ...44
DAFTAR PUSTAKA ...46
LAMPIRAN ...48
x
Daftar Lampiran
Wawancara dengan Dewi (Konselor CBE Kampung Juara Salatiga)...48
Wawancara dengan Hermin (Divisi Rumah Ilmu CBE Kampung Juara Salatiga)...56
Wawancara dengan Wahyu Budi U (Fasilitator CBE non orangtua)...58
Wawancaradengan Pratiwi (Orangtua Zada, anak full CBE)...61
Wawancara dengan Nanik (Orangtua Derbi, anak full CBE)...63
Wawancara dengan Ade (Lurah CBE Kampung Juara Salatiga dan Orangtua Azza dan Izzan, anak full CBE) ...64
Wawancara dengan Adriano Rusfi ( Pakar SDM dan Pendidikan Status Marital, Pakar Pendidikan berbasis Fitrah)...66
Wawancara dengan Septi Peni Wulandari (Founder Institut Ibu Profesional, Founder CBE Kampung Juara, Pakar Pendidikan berbasis Fitrah, Praktisi Homeschooling)...68
Pedoman Dasar Kurikulum CBE Kampung Juara Salatiga...73
Foto kegiatan CBE Kampung Kampung Juara Salatiga...75
xi
Daftar Gambar
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Perubahan nilai dalam kehidupan dapat dilihat dari fenomena penyimpangan perilaku
dan degradasi nilai kemanusiaan terutama dikalangan generasi muda. Akhir-akhir ini
menunjukkan bahwa sering terjadi diantara generasi muda yang melakuka n
pelanggaran nilai- nilai sosial, tawuran, penyalahgunaan obat-obat terlarang, pergaulan
bebas, tidak disiplin, kurang empati, berbahasa tidak santun, dan penyimpanga n
perilaku lainnya. Fenomena kehidupan seperti ini, menghadapkan orangtua, guru dan
masyarakat pada tantangan yang sangat kompleks dalam menanamkan nilai-ni la i
agama, nilai-nilai pendidikan, nilai-nilai budaya bangsa dan nilai- nilai positif lainnya
kepada generasi muda harapan bangsa.
Home education atau pendidikan rumah akhir-akhir ini menjadi santer
dibicarakan di beberapa kalangan masyarakat di Indonesia. Home education atau yang
lebih dikenal dengan HE menjadi salah satu alternatif mendidik anak. Home Education
dalam bentuk sekolah komunitas adalah istilah yang menjadi trend akhir-akhir ini.
Seakan jamur yang tumbuh sporadis, hal tersebut menjadi sebuah fenomena di
Indonesia.
Sebenarnya antara Home Education dan Homeschooling1 tidak berbeda satu
sama lain. Home education adalah membuat rumah sebagai sarana mendidik anak
sepanjang waktu.2 Prosesnya dimulai sejak memilih calon ayah dan calon ibu. Karena
ayah dan ibu adalah promotor utama untuk menjalankan sebuah home based education
yang kuat. Sedangkan homeschooling adalah pilihan.
Indonesia saat ini sudah melegalkan pendidikan informal dan membuat
undang-undang yang mendukung kegiatan tersebut. Pemerintah melalui Kementria n
Pendidikan mengesahkankan Permendikbud nomor 129 tahun 2014 tentang sekolah
rumah yang menjadi bukti bahwa sekolah rumah adalah legal dan diakui pemerinta h.
Dalam peraturan menteri ini disebutkan bahwa sekolah rumah adalah proses layanan
pendidikan yang secara sadar dan terencana dilakukan oleh orangtua atau keluarga, di
rumah atau di tempat-tempat lain dalam bentuk tunggal, majemuk dan komunitas di
mana proses pembelajaran dapat berlangsung dalam suasana yang kondusif dengan
tujuan agar potensi peserta didik yang unik dapat berkembang secara maksimal.3 Hal
ini sejalan dengan Undang – Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional menyebutkan bahwa pendidikan adalah “usaha sadar dan terencana untuk
mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif
mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual agama,
pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan dan akhlak mulia, serta keterampilan yang
diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan Negara.”4
2 Harry Santoso, Fitrah Based Education, Bekasi : Cahaya Mutiara Timur, 2015, 319. 3 Permendikbud No 129 tahun 2014, pasal 1
Salatiga adalah kota dengan luas 56,781 km persegi5 yang terletak antara
kabupaten Semarang dan Boyolali. Geliat pendidikan di Kota Salatiga mengala mi
perkembangan yang dinamis. Menurut data dari Dinas Pendidikan, kota Salatiga
mempunyai 4 sekolah TK/RA negeri dan 148 swasta, 85 SD/MI Negeri dan 29 swasta,
11 SMP/Mts Negeri dan 18 swasta, 4 SMA/MA Negeri dan 10 swasta, serta 3 SMK
Negeri dan 17 swasta.6 Namun hal tersebut tak lantas menafikan keberadaan orangtua
pelaksana homeschooling. Beberapa orang memilih untuk homeschooling sebagai
alternatif untuk mendidik anak-anaknya karena didorong oleh beberapa faktor.
Sekolah Rumah ada beberapa macam. Di antaranya ada yang Sekolah Rumah
Tunggal, Sekolah Rumah Majemuk, dan Sekolah Rumah Komunitas.7 Salah satu
Sekolah Rumah Komunitas di Salatiga adalah CBE (Community Based Education)
Kampung Juara. Komunitas pelaksana homeschooling yang tergabung dalam CBE
terbilang unik. Para orangtua memiliki komitmen tinggi untuk menjadi fasilitator bagi
anak-anaknya. Tak jarang orangtua dan anak terlibat dalam satu aktivita s
pembelajaran.
Yang melatar belakangi penulis untuk menggali lebih dalam tentang sekolah
komunitas CBE Kampung Juara ini adalah ada rasa ingin tahu yang kuat tentang
faktor-faktor apa saja yang mendorong orangtua masuk dalam komunitas ini dan tidak
mengirim anak-anaknya ke sekolah formal. Ada pemikiran tersirat bahwa ijazah tidak
begitu penting, akan tetapi bagi mereka yang terpenting adalah proses belajar. Proses
belajar yang dapat membangkitkan potensi yang dimiliki anak, sehingga anak dapat
menjadi manusia paripurna dan mempunyai kebermanfaatan bagi peradaban.
Selain itu, penulis juga ingin mengeksplorasi bagaimana mekanisme proses
pendidikan di sekolah komunitas ini. Sejauh mana perbedaan cara mendidik sekolah
komunitas ini dibanding dengan sekolah formal yang ada. Terlebih lagi penulis ingin
mendalami kegiatan belajar sekolah komunitas CBE Kampung juara tersebut, adakah
metode, pendekatan dan strategi mengajar yang bisa diterapkan di sekolah-sekolah
pada umumnya.
Berangkat dari pertanyaan di atas, maka penelitian tentang konsep Pendidikan
Berbasis Komunitas dan Berbasis Fitrah menjadi variabel yang menarik untuk ditelit i.
Tujuannya agar dapat diketahui metode dan strategi pembelajarannya, sehingga bisa
diterapkan untuk membangkitkan fitrah anak didik di sekolah formal pada umumnya.
B. Rumusan Masalah
Berbicara masalah Konsep Pendidikan Berbasis Komunitas dan Berbasis Fitrah
yang mana hal itu tidak dilaksanakan dalam sekolah formal maka permasalaha n
penelitian ini dapat diidentifikasi sebagai berikut: 1) Ada sejumlah orangtua yang tidak
menyekolahkan anaknya di sekolah formal, dan akhir-akhir ini semakin meningka t
jumlahnya. Itu berarti ada perubahan mindset orangtua tentang pendidikan.
Faktor-faktor apa sajakah yang menjadi pendorong perubahan mindset itu; 2) Munculnya
menjadi pondasi proses pendidikan sekolah komunitas; 3) Adanya kurikulum unik
yang di sekolah komunitas ini; 4) Pencapaian dalam diri anak pelaku home education
di Sekolah Komunitas CBE Kampung Juara.
Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah dalam penelitian ini,
maka hal yang menjadi fokus dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1) Objek
penelitian adalah anak-anak pelaksana Sekolah Komunitas CBE yang berusia setara
dengan anak SD/MI beserta orangtuanya; 2) Dari berbagai Sekolah Komunitas yang
ada di berbagai wilayah Indonesia, peneliti fokus melakukan penelitian di Sekolah
Komunitas CBE Kampung Juara yang ada di Salatiga.
Dari beberapa permasalahan di atas penulis merumuskan masalah sebagai
berikut:
1. Apa latar belakang orangtua bergabung di CBE Kampung Juara dan memilih
tidak menyekolahkan anaknya di sekolah formal?
2. Bagaimanakah implementasi pendidikan rumah berbasis komunitas
(Community Based Education) dan berbasis fitrah (Fitrah Based Education)
di Sekolah Komunitas Kampung Juara Salatiga?
3. Bagaimana indikator keberhasilan proses belajar anak dari waktu ke waktu?
Pertanyaan-pertanyaan berikut tentunya masih bersifat umum dan masih dapat
dikembangkan oleh para peneliti yang lain.
C. Signifikansi Masalah
Dari uraian rumusan masalah, penulis menguraikan tujuan penelit ian, yakni: 1)
Kampung Juara untuk tidak menyekolahkan anak-anak mereka ke bangku sekolah
formal; 2) Untuk mengetahui bagaimanakah konsep pendidikan rumah berbasis
komunitas (Community Based Education) dan berbasis fitrah (Fitrah Based
Education); 3) Untuk mengelaborasi pola pembelajaran seperti apakah yang
dikembangkan dalam pendidikan sekolah komunitas ini; 4) Untuk mengetahui
indikator keberhasilan proses belajar anak dari waktu ke waktu.
Manfaat penelitian ini secara teoretik diharapkan mempunyai kegunaan baik bagi
pihak peneliti maupun bagi pengembang ilmu dan pengetahuan (secara akademik).
Lebih dari itu, penelitian ini diharapkan akan memberikan sumbangan khasanah
keilmuan terutama di bidang pendidikan baik formal, informal maupun non formal.
Adapun secara praktis penelitian ini diharapkan dapat memberikan informas i
bagi para orangtua bahwa mendidik anak itu adalah sebuah paket kerjasama antara
orangtua dan pihak sekolah. Dengan penelitian ini diharapkan orangtua dapat ikut andil
dalam mendidik anaknya. Bagi guru, diharapkan dapat memberikan wawasan tentang
metode, strategi, pendekatan pembelajaran yang menarik, sehingga anak didik tidak
merasa tertekan, dan selebihnya guru dapat menyusun pembelajaran yang berbeda dari
kebiasaannya sebelumnya.
D. Kajian Pustaka
1. Penelitian Terdahulu
Lembaga institusi pendidikan pada hakikatnya menjadi agen perubahan sosial
kultural masyarkat modern saat ini. Pendidikan hendaknya mengambil garda terdepan
Kenyataan banyak fungsi dan pranan lembaga pendidikan tidak berjalan dengan
semestinya.8 Sekolah hanya menjejalkan asumsi kepada murinya.9
Munif Chotib dalam bukunya mengemukakan bahwa banyak sekolah yang
ternyata membunuh potensi siswa-siswanya. Sekolah menyamaratakan dan
menyeragamkan kemampuan siswa dan memupus bakat uniknya. Sekolah di Indonesia
banyak yang layak dilabeli sekolah robot: mulai dari proses pembelajaran, target
keberhasilan sekolah, sampai pada sistem penilaiannya. Sekolah yang berbasis
Multiple Intelligences adalah sekolah yang menghargai bakat unik bawaan atau fitrah
anak didiknya yang berbeda-beda.10
Berdasarkan penelitian Yudan Hermawan dan Yoyon Suryono dari mahasiswa
Program Pasca Sarjana, Universitas Negeri Yogyakarta yang ditulis di publis di jurnal
Pendidikan dan Pemberdayaan Masyarakat yang menjelaskan bahwa keberhasila n
PKBM Ngudi Kepinteran terletak pada partisipasi masyarakat.11
Berdasarkan penelitian dari Kathi Moreo seorang mahasiswi dari North
Michigan University mengungkap bahwa keberhasilan antara anak yang mengik ut i
homeschooling dan sekolah formal. Ia menyatakan bahwa homeschooling bisa menjadi
alternatif pendidikan yang efektif bagi anak. Model pendidikan semacam ini
8 Ivan Illich, Deschooling Society, Philadelphia US: The Saint Joseph University, 1971, 6. 9Baharuddin, “Gagasan IvanIllich Tentang Pendidikan dalam buku Deschooling Society”,
Terampil, Vol 2, No 2, Januari (2014), 15.
10 Munif Chatib, Sek olahnya Manusia, Bandung: PT Mizan Pustaka, 2009.
memberikan kesempatan pada orangtua untuk lebih banyak menghabiskan waktu
bersama anak-anaknya sembari belajar sesuai dengan gaya belajarnya. Bahkan diliha t
dari hasil tes, anak homeschooling mempunyai prestasi dan pencapaian akademik yang
sama atau lebih bagus dari anak yang bersekolah. Hal ini memberikan kesempatan yang
besar untuk diterima ke perguruan tinggi yang pada waktu yang sama mencari anak
pelaku homeschooling, karena mereka biasanya mempunyai rata-rata hasil belajar yang
tinggi.12
Anto Dinoto dari UIN Sunan Kalijaga dalam penelitiannya tentang Konsep Fitrah
dalam Al Qur’an dan Implikasinya terhadap pendidikan Islam menjelaskan konsep
fitrah menurut Hamka bahwa fitrah berada dalam juwa dan akal manusia dan harus
diarahkan kepada ketauhidan (beriman kepada Allah SWT. Fitrah tidak dapat digant i
dengan yang lain, karena manusia dilahirkan ke dunia dalam keeadaan fitrah. Dengan
demikian, pendidik bukanlah sebagai pembentuk karakter anak didik, tapi merupakan
fasilitator perkembangan fitrah anak.13
Dibandingkan dengan penelitian-penelitian sebelumnya, penelitian penulis lebih
menitik beratkan tentang eksplorasi bentuk pendidikan yang dilakukan oleh Sekolah
Komunitas CBE Kampung Juara Salatiga.
2. Kerangka Teori
12 Kathi Moreo, “Specific In the Educational Outcomes of Those Students Who Are Homeschooled VS. Students in A Traditional School Setting”, Thesis, Nothern Michigan University,
2012, 31,
https://www.nmu.edu/education/sites/DrupalEducation/files/UserFiles/Moreau_Kathi_MP.pdf, diakses 23 Maret 2017.
a. Pendidikan Berbasis Komunitas
Community Based Education atau Pendidikan berbasis Komunitas sejatinya
sudah lama ada di Indonesia. Pendidikan semacam ini ada dalam wujud PKBM.
Pendidikan semacam ini menghendaki adanya keterlibatan masyakat dalam upaya
pengambilan kebijakan pendidikan. Keterlibatan atau partisipasi masyarakat dalam
pendidikan bukanlah hal yang baru. Community based education mencapai hal yang
ada di luar kapasitas kognitif and mencakup pembelajaran aspek sosial dan aspek
emosional.14
Community based education memperkuat perkembangan personaliti siswa, rasa
kepemilikan terhadap komunitas, pemahaman mereka tentang peran dan tanggung
jawabnya dalam sebuah komunitas.15
(Shadily dalam Toto Suharto) menyatakan terma “masyarakat” merupakan alih
bahasa dari society atau community. Society sering diartikan sebagai “masyarakat
umum”, sedangkan community adalah “masyarakat setempat”16
Untuk mempermudah pemahaman orang tentang community, Gerhard Emanue l
Lenski dalam Toto Suharto membagi community menjadi dua kategori, yaitugeogra fik
dan kultural. Masyarakat geografik adalah masyarakat yang semata-mata oleh ikatan
14 Christine J. Villani dan Douglas Atkins, Community Based Education, The School
Community Journal, vol 10, No 1, 2000, diakses 20 Maret 2017, 122; Marti J. Blank, Atella Millaville, Bela P. Shah, Mak ing The Different Research and Practice in Community School, Washington DC: Institute for Educational Leadership, 2003, 7.
15 The Departement of Education and Early Childhood Development, Community Based
Learning, A Resource for Schools, Nova Scotia Canada, website: https://www.ednet.nsca/docs/cbl-resource.pdf, diakses tanggal 25 Maret 2017, 12.
tempat yang berdekatan seperti lingkungan, desa, kota, dan kota besar. Sedangkan
masyarakat kultural adalah masyarakat yang dipersatukan oleh tradisi budaya umum,
seperti kelompok rasial dan kesukuan.17
Pendidikan berbasis masyarakat (Community Based Education) merupakan
pendidikan yang dirancang, dilaksanakan, dinilai dan dikembangkan oleh masyarakat
yang mengarah pada usaha menjawab tantangan dan peluang yang ada di lingkunga n
masyarakat tertentu dengan berorientasi pada masa depan. Dengan kata lain,
pendidikan berbasis masyarakat adalah konsep pendidikan “dari masyarakat, oleh
masyarakat, dan untuk masyarakat.”18
Community based learning sejatinya bisa diterapkan di sekolah formal sebagai
suplemen untuk pembelajaran dengan diwujudkan dengan bergabung ke sebuah
komunitas atau organisasi, field trip ke suatu komunitas bisnis lokal, industr i,
organisasi, budaya dan fasilitas rekreasi, kewirausahaan yang berkaitan dengan proyek
yang dilakukan di komunitas itu, dan lain sebagainya.19
Persatuan Community-based learning mendesain strategi untuk menarik siswa
pada pembelajaran standar yang tinggi. Meliputi academically based community
service (pembelajaran berbasis pelayanan masyarakat), pendidikan kewarganegaraa n,
pendidikan lingkungan, tempat berbasis pembelajaran, pembelajaran pelayanan, dan
17 Toto Suharto, Konsep Pendidikan Berbasis . . . , 330. 18 Toto Suharto, Konsep Pendidikan Berbasis . . . , 333.
pekerjaan berbasis pembelajaran. Masing-masing strategi ini mempunyai pendukung,
dan praktisi, sejarah, dan prestasi.20
Sekolah komunitas didisain bukan hanya untuk membuat keberhasilan di bidang
pendidikan, akan tetapi juga keberhasilan di bidang lain. Hasil pendidikan itu melip ut i
perilaku sosial yang meningkat dan peningkatan kesehatan para pemuda, keluarga yang
berfungsi dengan baik dan adanya keterlibatan orangtua.21
b. Pendidikan Berbasis Fitrah
Harry Santoso seorang penulis buku Fitrah based Education menyatakan adanya
krisis dan disorientasi pendidikan pada sekolah modern. Ia juga memaparkan bahwa
ada tujuh masalah sistem persekolahan modern. Antara lain: 1) Usang – Like a Dinosaur; 2) Birokrasi Gemuk; 3) suasana penjajahan; 4) Merusak fitrah; 5)
perlombaan yang tak terakhir; 6) tidak relevan dengan lokal dan sosial; 7) indikator
kesuksesan yang konyol.22
Harry juga menuliskan bahwa setidaknya ada 7 kodrat atau fitrah yang gagal
dibangkitkan dan rentan hilang atau menyimpang atau terkubur akibat kurikulum
formal dan seragam persekolahan. 1) Fitrah beragama; 2) Fitrah belajar; 3) Fitrah
bakat; 4) Fitrah perkembangan; 5) Fitrah seksualitas; 6) Fitrah alam atau keunggula n
dan keanekaragaman hayati; 7) Fitrah kearifan dan realitas masyarakat; 8) Fitrah
20 Martin J. Blank, Amy C. Berg, Atelia Melaville, Community-based learning, Engaging Students for Success and Citizenship, The Charles Steward Mott Foundation, Washingto DC, 2006, 7.
21 Joy G. Dayfoos, Evaluation of Community School : Finding to Date, New York, 2000, website http://www.communityschools.org diakses tanggal 25 Maret 2017,2.
zaman.23 Maka kemudian tercetuslah home education atau sekolah rumah yang dapat
mendidik anak dengan tidak merusak fitrahnya.24
Sekolah rumah akhir-akhir ini seakan menjadi trend di kalangan orangtua yang
peduli dengan pendidikan anak-anaknya. Beberapa ahli dan pengamat pendidikan
memberikan kritik terhadap proses pembelajaran yang ada di sekolah. Di antaranya
Munif Chotib membuat karya yang menggugah banyak orangtua dan insan-insan yang
bergelut di bidang pendidikan. Sekuel buku-buku karyanya25 berisi tentang bagaimana
cara membangun sekolah agar menjadi sebuah miliu yang ramah anak. Karena selama
ini dirasa banyak sekolah yang sadar atau tidak, malah membunuh banyak potensi
siswa-siswa didiknya. Menurut Munif Chotib setelah melakukan penelitian, ternyata
banyak sekolah yang berpredidkat Sekolah Robot; mulai dari proses pembelajara n,
target keberhasilan sekolah, sampai pada sistem penilaiannya.26 Dalam bukunya Munif
menyatakan bahwa banyak murid yang mengalami kebingungan dalam menerima
pelajaran dan tidak mampu mencerna materi yang diberikan. Dan justru mereka yang
dituduh “bermasalah”. Ternyata, ini hanya masalah ketidaksesuaian gaya mengajar
guru dan gaya belajar siswa.27
23 Harry Santoso, Fitrah Based . . . , 62.
24Harry Santoso, Fitrah Based . . . , 60.
25 Karya-karya Munif Chatib antara lain Sek olahnya Manusia 2009, Gurunya Manusia 2011 ,
Orangtuanya Manusia 2012, Kelasnya Manusia 2013 merupakan buku-buku inspiratif untuk perubahan
mindset pelaku pendidikan. Banyak ide segar yang dipaparkan dalam upaya peningkatan SDM ujung tombak pendidikan di Indonesia. Munif Chatib juga merupakan salah satu tokoh pemikir yang mendesain kurikulum 2013.
26 Munif Chatib, Sek olahnya Manusia, Bandung : PT Mizan Pustaka, 2009,1.
Setiap anak mempunyai keunikan dan karakter masing-masing. Anak juga
mempunyai potensi yang berbeda-beda.28 Anak yang lahir ke dunia ini membawa fitrah
dan potensinya sendiri-sendiri. Dari penjelasan di atas, konsep pendidikan berbasis
komunitas dan fitrah yang diterapkan di CBE Kampung Juara menjadi hal yang
menarik karena kekurangan sekolah dalam menjalankan proses pendidikan selama ini
dapat dievaluasi dari sudut pandang masyarakat kelompok tertentu.
E. Metode Penelitian
Penelitian ini adalah field research dengan pendekatan deskriptif kualitatif yaitu
penelitian yang dimaksudkan untuk menyelidiki keadaan, kondisi atau hal lain-la i n
yang sudah disebutkan, yang hasilnya dipaparkan dalam bentuk laporan penelitian. 29
Subyek dalam penelitian adalah anak-anak yang tergabung dalam Sekolah Komunita s
CBE Kampung Juara Salatiga yang masih berusia sekolah dasar.
Sumber data primer digali berasal hasil wawancara praktisi pendidikan berbasis
komunitas dan pendidikan berbasis fitrah serta buku dan publikasi ilmiah. Dan data
sekunder adalah wawancara kepada orangtua yang masuk dalam CBE Kampung Juara
Salatiga. Agar dihasilkan kesimpulan yang bersifat komprehensif, keseluruhan data
tersebut akan dianalisis lalu dikomparasikan satu sama lain atau dengan data lain.
28 Thomas Armstrong, Multiple Intelligences in The Classroom, Virginia USA: ASCD, 2009, 15.
Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah studi pustaka yang digabung
dengan observasi lapangan dan wawancara. Karenanya, langkah-langkah yang akan
ditempuh penulis sebagai berikut :
a. Wawancara
Dalam wawancara penulis kepada pembuat konsep Community –based
education, pengurus CBE Kampung Juara, pelaksana home education yang tergabung
dalam CBE Kampung Juara. Data yang diambil adalah segala hal tentag CBE
Kampung juara dalam mendidik anak.
b. Observasi
Penulis mengamati bagaimana proses pembelajaran di CBE Kampung Juara,
dengan meliputi metode dan pendekatan yang digunakan dalam proses belajar.
c. Dokumentasi
Penulis mengamati profil, sejarah dan latar belakang berdirinya CBE Kampung
Juara, susunan pengurus yang bertanggung jawab di dalamnya, siswa, maupun prestasi
anak.
Analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis data model interaktif. 1)
Reduksi data, merupakan suatu bentuk analisis yang menajamkan, menggolongka n,
mengarahkan, membuang yang tidak perlu, dan mengorganisasi data dengan cara
sedemikian rupa sehingga kesimpulan finalnya dapat ditarik dan diverifikasi; 2)
adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan; 3) Menarik kesimpulan atau
verifikasi.30
F. Sistematika Penulisan
Tesis ini terdiri dari lima bab, dalam Bab I berisi tentang latar belakang masalah,
perumusan masalah, dan dasar-dasar yang menjadi pokok aktivitas penelitian. Dalam
Bab II penulis mengemukakan tentang latar belakang orangtua bergabung di CBE
Kampung Juara dan memilih tidak menyekolahkan anaknya di sekolah formal. Pada
Bab III, berisi tentang implementasi pendidikan rumah berbasis komunita s
(community-based education) dan berbasis fitrah ( fitrah-baesd education). Dalam Bab
IV berisi tentang indikator keberhasilan proses belajar anak dari waktu ke waktu. Bab
V Kesimpulan dan Saran, pada bab ini akan dikemukakan kesimpulan yang
diperoleh dari hasil analisis dan pembahasan dan saran-saran yang diharapkan dapat
berguna dan bermanfaat bagi berbagai pihak.
BAB II
SELAYANG PANDANG CBE KAMPUNG JUARA
PROFIL, TUJUAN, DAN ANIMO ORANGTUA
A. Profil CBE Kampung Juara Salatiga
CBE Kampung Juara Salatiga sudah digagas sejak lama sekitar 3 tahun yang lalu.
Hanya saja realisasinya secara legal terwujud pada 15 Mei 2015. Ide awalnya adalah
masukan dari para orangtua murid School of Life Lebah Putih yang khawatir selepas
anak-anak mereka lulus dari SD Lebah Putih. Ide yang dimiliki oleh para orangtua itu
kemudian dibicarakan dengan pemilik yayasan School of Life Lebah Putih, yaitu
Dodik Maryanto dan Septi Peni Wulandari.
Dodik Maryanto dan Septi Peni Wulandari adalah sepasang suami istri yang saat
ini konsentrasi di bidang peningkatan sumber daya manusia terutama pendidikan
informal untuk ibu-ibu, yaitu dengan mewujudkan Institut Ibu Profesional (tempat
menimba ilmu ibu-ibu rumah tangga yang kebanyakan bekerja di rumah sebagai ibu
rumah tangga). Kecintaan sepasang suami istri dengan dunia pemberdayaan ibu dan
anak, maka kemudian didirikanlah School of Life Lebah Putih, sebuah sekolah yang
berbeda dengan sekolah lain, dari segi pembelajaran dan penanganan terhadap
CBE Kampung Juara dirancang untuk menjawab kegelisaha n orang tua yang
khawatir anaknya tidak kerasan belajar di sekolah formal. Dodik Maryanto dan Septi
Peni merancang kurikulum dasar untuk pedoman pembelajaran di Sekolah Komunita s
tersebut.
Secara fisik CBE Kampung Juara tidak mempunyai bangunan gedung
selayaknya sekolah-sekolahnya yang lain. Mereka belajar di mana pun. Tempat-tempat
yang biasa mereka pakai untuk belajar seperti perpustakaan daerah Kota Salatiga, salah
satu rumah anggota CBE, atau tempat-tempat umum yang lain yang bisa menjadi
sumber dan fasilitas pembelajaran. Kantor sekretariat CBE bertempat di Jl. Imam
Bonjol No. 45 Salatiga tepatnya di rumah bapak Dharma selaku konselor CBE
Kampung Juara.
Seperti sebuah kampung, CBE Kampung Juara juga mempunyai kepengurusa n,
yang terdiri dari penasehat, konselor, lurah, carik. Selain itu CBE ini juga mempunya i
pengurus pada posisi divisi Rumah Hati yang mana tempat untuk mewawancarai dan
mematrikulasi orangtua yang baru bergabung dengan CBE Kampung Juara. Ada divis i
Rumah Arta yang berfungsi seperti bendahara, divisi Rumah Ilmu yang berfungs i
sebagai penyusun kuriklum. Divisi Rumah Sumber Daya berfungsi sebagai
menyiapkan fasilitas dan akomodasi yang digunakan anak-anak dalam belajar.31
Syarat utama di CBE Kampung Juara adalah orangtua harus melewati dan
melampaui matrikulasi orangtua dengan predikat lulus. Karena jika tidak lulus harus
ada pengulangan matrikulasi sampai mereka berhasil melampauinya. Sebab syarat
utama mendidik anak adalah orangtua. Jika orangtua mampu memahami anak secara
utuh dan fitrahnya maka akan berhasil mendampingi anak-anak dalam belajar karena
orangtua adalah fasilitator utama bagi anak.32
B. Tujuan CBE Kampung Juara
CBE mempunyai proses kegiatan belajar yang menyenangkan, karena orangtua
ikut terlibat di semua jenis kegiatan anak, misalnya karyawisata, membuat kerajinan,
menggambar hingga membaca semua buku yang dipilih oleh anak-anak, dan saya
membuat sendiri program kegiatan anak. Bagi orangtua bermain dan belajar bersama
anak-anak adalah manfaat terbesar di CBE Kampung Juara.
Anak bisa belajar banyak hal tentang kegiatan yang tidak dilakukan di sekolah
formal. Alih-alih sekedar hafal tentang tanggal, definisi, dan rumus-rumus, anak-anak
di CBE bisa belajar tentang orang-orang yang menarik dalam sejarah, mengik ut i
penemuan-penemuan baru dalam sains, dan menjelajahi konsep-konsep yang ada di
balik soal-soal matematika. Ini merupakan proses belajar seumur hidup yang terbaik.
Anak-anak bisa menikmatinya belajar di CBE Kampung Juara dan tidak
terganggu dengan beban sekolah formal seperti mengerjakan tugas rumah yang jika
tidak dikerjakan mendapat vonis negatif dari guru maupun lingkungan sekolah formal.
Yang lebih menarik anak-anak masih bisa bermain bola, latihan band, berkuda,
fotografi dan lain sebagainya dan orangtua juga ikut terlibat didalamnya langsung.
Dengan CBE Kampung Juara membuat anak bisa memperlihatka n
antusiasmenya dalam mengasah dan memperdalam pengetahuan tentang minat mereka
sendiri-sendiri. Selain itu di CBE anak-anak akan dituntun bagaimana untuk bisa fokus
terhadap bidang-bidang yang mereka pilih. Berbeda dengan sekolah formal jika anak
memiliki minat pada bidang yang ada di luar jalur sekolah tidak akan membuat anak
unggul di mata guru-guru dan murid lainnya. Namun di kalangan anak-anak yang
bergabung di CBE, justru minat-minat itulah yang membuat teman-teman mereka
semakin tertarik.
CBE mengajari anak-anak cara berinteraksi dengan orang dewasa dalam
komunitas maupun diluar komunitas, mereka belajar bagaimana orang-orang yang
beradab bisa saling memperlakukan satu sama lain di ruang publik. Ini adalah jenis
sosialisasi yang tidak dialami oleh sebagian besar anak sekolah formal sampai mereka
benar-benar siap untuk masuk ke dunia nyata.
Dengan CBE mengakrabkan orangtua dan anak dalam menetukan materi
pelajaran tanpa harus dilakukan pengekangan dan tugas. Di CBE anak diajari menjadi
pribadi yang mandiri dan tanggung jawab dari pelajaran yang mereka tentukan sendiri.
Penyesuaian dengan jadwal di rumah, anak tidak perlu bangun pagi-pagi sekali
untuk mengejar bis sekolah. Tidak ada perdebatan apakah kita harus melakukan wisata
pada keluarga untuk melakukan hal-hal penting lainnya dalam kehidupan mereka,
sesuai jadwal mereka.
CBE membuat orangtua dan anak-anak menjadi berkompeten karena bisa belajar
melakukan banyak hal yang sebelumnya orangtua dan anak-anak pikir tidak bisa
dilakukan. Salah satunya adalah bisa belajar bersama menjadi pembaca pemula, belajar
trigonometri, dan sebagainya.
CBE membantu memperkuat nilai-nilai dalam keluarga. Misalnya memberika n
hadiah (dengan pizza, permen, atau pergi ke taman hiburan) atas prestasi yang
anak-anak raih. Atau menilai orang melalui prestasi olahraga mereka atau nilai yang mereka
dapat.
C. Animo Orangtua Menyekolahkah Anak-Anaknya di CBE Kampung Juara
Orangtua “antipati” terhadap kurikulum dan metode pendidikan sekolah formal
menjadi salah satu faktor dominan dalam menentukan pendidikan anak- anaknya.
Banyak orangtua menyesalkan metode pendidikan sekolah formal yang kurang tepat
bagi anak-anak mereka. Entah itu kurikulumnya, cara mengajar gurunya di kelas, serta
lingkungan pergaulan anak di sekolah. Ada orangtua yang memiliki riwayat sekolah
formal yang cukup buruk, misalnya salah jurusan, pekerjaan tidak sesuai dengan
konsentrasi belajarnya dan seterusnya sehingga membuat trauma tersendiri, yang
kemudian memutuskan untuk menjauhkan anak-anak mereka dari sekolah formal.
Selain itu para orang tua khawatir dengan kondisi pergaulan sekolah yang tidak terlalu
terlarang. Ada juga beberapa dari anak pelaku home education tidak suka sekolah
formal dan lebih menyukai gaya belajar informal. Kualitas sekolah formal kurang
sesuai dengan frame pemikiran dan visi misi keluarga mereka.33
Lain dengan Hermin yang menyatakan sebenarnya dia tidak begitu fanatis
terhadap sekolah formal. Jika dikemudian hari anaknya lebih memilih sekolah formal,
ia akan mengikuti kemauan anak, hanya saja ia sekeluarga tidak akan keluar dari
keanggotaan CBE. Ia merasa dapat mendapatkan ilmu lebih karena CBE Kampung
Juara juga merupakan Sekolahnya Manusia.34
CBE Kampung Juara hadir dalam memberikan warna tersendiri dalam dunia
pendidikan Indonesia yakni dengan metode fokus kepada potensi bawaan atau lebih
dikenal dengan istilah bakat. Di sekolah komunitas ini orangtua harus turun tangan
langsung dalam pendidikan anak-anaknya, sehingga orangtua juga akan mudah
mengawasi perkembangan anak-anak. Orangtua di CBE memiliki pemahaman mereka
sendiri tentang pendidikan anak. Mereka merasa bahwa sekolah formal tidak membuat
bakat dan minat anak-anak berkembang dengan baik, karena metode, gaya maupun
motivasi belajar anak-anak tidak diketahui dengan baik di sekolah formal. Maka di
CBE Kampung Juara orangtua memiliki kesempatan yang lebih banyak untuk
33 Hasil Wawancara dengan Dewi (Konselor) tanggal 23 Maret 2017 dan Ade (Lurah ) CBE Kampung
menyusun kurikulum sendiri sesuai dengan kebutuhan invidu anak, serta menjalanka n
program-program yang sesuai dengan bakat dan minat anak-anak mereka.35
Di sekolah komunitas CBE Kampung Juara setiap anak diberikan kemerdekaan
dalam menentukan minatnya, orangtua menjadi pendamping utama dalam menjalanka n
kegiatan belajar anak. Maka orangtua di CBE selalu diberikan pelatihan dan konseling
berupa matrikulasi dalam penyusunan kurikulum anak-anak yang itu tidak dilakukan
oleh sekolah formal.36
Sekolah formal belum bisa memahami potensi bawaan atau bakat anak-anak
yang menjadi perhatian para orangtua di CBE. Selain itu sekolah formal seolah-olah
hanya menjadi industri pendidikan yang tidak bisa merangsang anak-anak untuk
menghasilkan karya. Selain itu, adab atau perilaku bukan menjadi capaian utama di
dalam keberhasilan pendidikan, mengingat pendidikan moral dan agama sangat minim
jam ajarnya dan kurangnya penekanan dan ketegasan dalam masalah tersebut, dengan
kata lain, orangtua tidak merasa puas dengan kualitas pendidikan formal.37
“Beragam, Bahagia, Mulia” menjadi tagline di CBE Kampung Juara, artinya di
dalam komunitas ini terdiri dari berbagai agama, golongan, aliran kepercayaan,
budaya, minat, bakat, ekonomi, pendidikan bahkan politik yang menyatu dan terlibat
menjadi satu dalam rangka mendidik anak-anak sesuai dengan bakat dan minat nya
35 Hasil wawancara dengan Dewi tanggal 23 Maret 2017, Ade (Lurah CBE Kampung Juara salatiga)
tanggal 24 Maret 2017 dan Pratiwi tanggal 24 Mater 2017.
36 Hasil wawancara dengan Septi tanggal 5 April 2017, Dewi tanggal 23 Maret 2017.
yang dikemas dengan nama rumah hati. Mereka percaya, dalam urusan menuntut ilmu
tidak harus terbatas hanya kepada orang-orang yang satu agama, satu aliran, atau yang
lainnya. Bukankah Nabi Muhammad pernah menyuruh sahabat-sahabatnya untuk
menuntut ilmu sampai ke negeri Cina yang mempunyai latar belakang budaya, agama,
ras yang berbeda.38
Metode belajar mengajar pada CBE menurut orangtua sangat menyenangka n
karena dapat dilakukan di dalam rumah, di luar rumah, di tempat-tempat seperti bank,
pasar, playground, supermarket, perpustakaan, dimana saja, kapan saja, dan anak
bebas memilih pelajaran yang disukainya sehingga merasa nyaman. Anak-anak
memiliki kebutuhan khusus dan sistem di sekolah formal tidak bisa memberika n
pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan khusus anak. Selain itu anak bisa belajar
tanpa rasa tertekan, dan bisa belajar sesuai dengan passion serta sesuai dengan gaya
belajarnya.39
Kurikulum sekolah yang dirasa mereka terlalu membebani tidak sesuai dengan
perkembangan kemampuan dan usia anak. Terlebih tugas sekolah yang terlalu banyak
menjadi beban bagi anak. Kebanyakan sekolah melakukan penyeragaman kemampua n
dan keterampilan anak di sekolah dapat mematikan bakat dan minat anak. Jadi anak
yang terlalu aktif atau hyperactive seakan tidak mendapat tempat di sekolah karena
dianggap sebagai “anak nakal”, dan kadang sekolah terpaksa memanggil orangtuanya
38 Hasil wawancara dengan Dewi tanggal 23 Maret 2017.
karena guru mengalami kesulitan dalam mengontrol anak di kelas yang cenderung
mengganggu temannya. Bahkan ada anak yang pernah mengalami bullying secara
verbal ataupun tingkah laku baik dari teman atau guru.40
Dari alasan-alasan diatas, CBE memang bukan hanya solusi bagi pendidikan
formal kita yang dinilai belum maksimal. Lebih jauh dari itu, CBE memberika n
kesempatan agar setiap potensi anak yang unik dapat berkembang secara maksimal.
Saat ini memang kebanyakan keluarga anggota CBE Kampung Juara berasal dari
keluarga golongan ekonomi menengah dan menengah atas. Sebenarnya bergabung di
Sekolah Komunitas ini tidaklah mahal. Biayanya relatif terjangkau untuk berbagai
kalangan golongan ekonomi manapun. Tiga Ratus Ribu Rupiah (Rp 300.000,00) untuk
pendaftaran keanggotaan. Dan Dua Puluh Lima Ribu Rupiah (Rp 25.000,00) untuk
biaya bulanan yang mana biaya tersebut meliputi biaya untuk satu keluarga yang
beranggotakan berapapun juga. Maka tidak menutup kemungkinan model pendidikan
seperti ini bisa diakses oleh masyarakat lainnya yang lebih luas.41 Pendidikan yang
dimulai dari kokohnya keluarga, kekuatan dan sinergi komunitas, diharapkan dapat
membentuk generasi yang shaleh yang dapat mengambil peran mulia dimasa depan
peradaban.
40 Hasil wawancara dengan Ade tanggal 24 Maret 2017.
BAB III
KURIKULUM CBE KAMPUNG JUARA
A. Acuan Kurikulum
Kurikulum adalah suatu hal yang sangat penting dari sebuah lembaga
pendidikan. Karena ini merupakan pondasi dasar dari sebuah kerangka program besar
mulai dari persiapan, pelaksanaan hingga evaluasi tentang sebuah proses pendidikan.
Kurikulum CBE disusun oleh Dodik Maryanto dan Septi Peni Wulandari yang mana
perumusannya melibatkan orang tua yang menginginkan berdirinya sekolah komunita s
lanjutan dari School of Life Lebah Putih.
“It takes a village to reach a child” yang artinya memerlukan orang sekampung
untuk mendidik seorang anak. Sejatinya yang namanya pendidikan adalah berbentuk
community based. Pendidikan menggali potensi dan kearifan lokal yang ada di
daerahnya dan memunculkan local leader yang memimpin proses pendidikan di daerah
itu. Jadi satu anak adalah milik bersama.
Kurikulum di CBE Kampung Juara disusun dengan pemikiran agar tidak
menyalahi fitrah anak. Kurikulumnya mengintegrasikan community-based untuk
pelaksanaannya, dan fitrah based sebagai pendekatannya. Berbagai macam fitrah yang
Sebenarnya susunan kurikulumnya sederhana. Akan tetapi apa yang ada dalam
kurikulum adalah hal yang sangat fundamental. Dan apa yang ada dalam kurikulum
merupakan hal yang diabaikan dalam dunia pendidikan selama ini.42
Sistem pendidikan di CBE Kampung Juara menggunakan customize and
personalize curruculum. Masing-masing keluarga mempunyai kurikum yang
berbeda-beda. Bahkan keluarga diharapkan bisa membuat kurikulum untuk masing- mas i ng
anaknya. Karena belum tentu anak-anak dalam sebuah keluarga mempunyai karakter
dan passion yang sama.
CBE ini juga mempunyai prinsip “start from the finish line” dalam menentukan apa yang akan dipelajari oleh sang anak. Orangtua bersama anak berdiskusi untuk
menentukan apa misi hidupnya kelak. Sebagai contoh Chelsea, usia 10 tahun putri dari
pasangan Dharma dan Dewi, berkeinginan kelak menjadi seorang penari profesiona l.
Berarti orangtua dan divisi Rumah Ilmu bermusyawara h menyusun kurikulum
pembelajaranya. Apa saja yang akan dipelajari Chelsea.
Gambar 3.1
Aplikasi Personalize & Customize Curriculum43
B. Sistem Pendidikan
Kurikulum CBE disetting untuk orang tua dan anak, berbeda dari
sekolah-sekolah yang tanpa ada sistem untuk orang tua, atau di homeschooling individu yang
juga tidak ada kurikulum untuk orang tua. Keluarga adalah komunitas terkecil. Maka
dari keluarga itulah sebuah pendidikan dimulai. Pada awal keikutsertaan sebuah
keluarga ke CBE Kampung Juara, ortangtua harus bertemu dengan konsellor CBE
untuk wawancara. Konselor menggali informasi dari para orangtua tentang apa
motivasi mau bergabung di CBE Kampung Juara. Poin titik tekan wawancara antara
orangtua dan konselor adalah kerelaan orangtua untuk mau terlibat langsung dalam
pembelajaran anak. Karena CBE Kampung Juara tidak akan menerima orangtua yang
maunya hanya memasrahkan anak sepenuhnya tanpa mau terlibat. Seperti yang terjadi
di masyarakat luas, orangtua pasrah sepenuhnya kepada sekolah akan pendidikan
anaknya.
43 Hasil wawancara dengan Dewi tanggal 23 Maret 2017 dan Dokumen Acuan Kurikulum CBE
Setelah diketahui orangtua satu visi misi dan satu nafas dengan CBE, maka
konselor baru memutuskan keluarga tersebut dapat diterima di CBE Kampung Juara.
Lalu orangtua dan anak mengikuti matrikulasi terpisah selama 3 bulan. Apabila
seorang anak yang bergabung di CBE sudah bersekolah sebelumnya, maka mereka
akan melewati masa penetralisiran atau detoksifikasi. Katakanlah anak sudah
bersekolah di SD 1 tahun, artinya masa detoksifikasi mereka 1 bulan. Apabila mereka
sudah bersekolah 3 tahun, maka masa detoksifikasinya adalah 3 bulan. Masa ini disebut
masa unschooling.
Dalam masa unschooling anak dibebaskan dari apa yang membelenggunya
selama mereka sekolah. Mereka dialihkan ke kegiatan yang mereka sukai dan diberi
materi 10 kompetensi dasar. Kompetensi itu meliputi: 1) Menjaga kesehatan dan
keselamatan dengan cara menjaga pola tidur, pola makan, melakukan pola aktivita s
sehat, berenang, bela diri, dan pertolongan pertama (P3K); 2) Literasi: membaca dan
mengerti isi yang dibaca, membaca petunjuk, membaca resep, membaca petunjuk,
membaca rambu-rambu lalu lintas, dan membaca tabel; 3) Mengurus diri sendiri:
mengatur waktu, menepati rencana, mengetahui koridor hal baik dan buruk, serta
membuat keputusan; 4) Berkomunikasi: mengajukan pertanyaan, mengobro l,
berkenalan dengan orang baru, memberi dan menerima feedback, mengapresiasi dan
bernegosiasi; 5) Melayani: mengerjakan pekerjaan rumah, berkontribusi dalam
keluarga, lingkungan dan masyarakat sosial; 6) Menghasilkan makanan: bercocok
tanan, berbelanja, mengolah bahan pangan, dan memasak; 7) Perjalanan mandiri: naik
asal. 8) Memakai teknologi: memakai gadget, mengenal batas hukum dan etik,
menghindari kecanduan, menggunakan secara produktif; 9) Transaksi Keuangan:
belanja, mendapatkan penghasilan, menabung, transaksi dalam sistem keuangan; 10)
Bekerja: menghasilkan karya, membuat output (tulisan, lagu, musik, cerita atau
presentasi, video animasi, dan lain-lain).44
Dewi, seorang konselor di CBE Kampung Juara memaparkan bahwa materi yang
meliputi 10 ketrampilan dasar ini wajib dimiliki anak. Ketrampilan ini melatih
kemandirian dan tingkat survival yang tinggi. Jadi anak-anak CBE ini cakap dan
mandiri.45
Selepas masa unschooling, anak-anak mengikuti program matrikulasi yang
difasilitatori oleh salah satu orangtua CBE Kampung Juara secara bergilira n.
Sedangkan matrikulasi untuk orangtua difasilitatori oleh orang-orang yang ahli di
bidang materi yang diberikan. Isi program matrikulasi untuk anak dan orangtua tidak
berbeda. Materi matrikulasi meliputi tiga hal, yaitu kultur, fitrah dan akademis.
1. Kultur
Dalam bab ini disampaikan materi yang berkaitan dengan tatanan pola hidup
yang berkembang dalam sebuah komunitas. Diantaranya adab menuntut ilmu yang di
dalam meliputi adab murid kepada dirinya sendiri, adab murid dalam belajar, adab
murid kepada guru sebagai teladannya, adab guru kepada muridnya, adab guru dalam
44Dokumen Matrikulasi anak CBE Kampung Juara, 10 Ketrampilan Dasar” tahun 2016.
mengajar, adab guru kepada ilmunya, adab kepada kitab sebagai sarana belajar. Materi
ini di sampaikan selama 7 pertemuan.
Setelah mengupas tuntas tentang adab, pembahasan berikutnya adalah tentang
core value komunitas. CBE Kampung Juara mempunyai tagline “Beragam, Bahagia,
Mulia”. Seperti yang telah diutarakan dalam profil CBE di bab II bahwa dalam memaknai “Beragam” CBE Kampung Juara tidak menutup untuk agama apapun dan
golongan apapun walau landasan pijakan ajarannya bernafaskan Islam.
“Bahagia” menjadi salah satu dari core value komunitas ini. Perasaan bahagia
akan menajdikan orang semangat dalam menjalani hidup dan melakukan hal yang
bermanfaat. Dengan perasaan bahagia pun tubuh akan menjadi sehat karena hormon
yang dihasilkan dari perasaan bahagia berkhasiat untuk memperkuan sistem imunita s
alami tubuh sehingga orang akan jarang sakit. Anak yang melakukan pembelajara n
dengan bahagia akan merasa enjoy, akibatnya hasil yang dia dapatkan juga akan
maksimal. Ketika hasilnya maksimal, maka anak bisa berkarya.
“Mulia” yang dimaksudkan dalam core value CBE Kampung Juara adalah anak
-anak dapat membuat dirinya bermanfaat bagi orang banyak, berkarakter dan berakhlak
santun. Mempunyai bekal keimanan yang kuat. Sehingga anak akan menjadi manus ia
berperadaban.
2. Fitrah
Di dalam komunitas CBE Kampung juara, sebelum melangkah lebih jauh tentang
pemetaan minat anak, setiap orangtua harus memahami pendidikan anak dengan
peradaban dari dalam rumah dengan mempelajari ilmu- ilmu apa saja yang perlu
dikuasai seiring dengan misi hidup kita di muka bumi ini. Minimal orangtua akan
memiliki prioritas ilmu- ilmu apa saja yang harus dikuasai di tahap awal, dan segera
jalankan, setelah itu tambah ilmu baru lagi, menurut septi dalam matrikulasinya.
Selanjutnya, tahap yang harus dijalankan pendidikan anak dengan kekuatan
fitrah; 1) Bersihkan hati nurani, karena ini faktor utama yang menentukan keberhasila n
pendidikan anak-anak; 2) Gunakan Mata Hati untuk melihat setiap perkembanga n
fitrah anak-anak. Karena sejatinya sejak lahir anak-anak sudah memiliki misi spesifik
hidupnya, tugas orangtua adalah membantu menemukannya sehingga anak-anak tidak
akan menjadi seperti kita (orangtua), yang telat menemukan misi spesifik hidupnya ; 3)
Pahami Fitrah yang dibawa anak sejak lahir itu apa saja. Mulai dari fitrah Ilahiya h,
Fitrah Belajar, Fitrah Bakat, Fitrah Perkembangan, Fitrah Seksualitas dan lain-lain; 4)
Upayakan proses mendidik yang sealamiah mungkin sesuai dengan sunatullah tahap
perkembangan manusia. Analogkan diri orangtua dengan seorang petani organik. 5)
Selanjutnya tugas orangtua adalah menemani, sebagaimana induk ayam mengerami
telurnya dengan merendahkan tubuh dan sayapnya, seperti petani menemani
tanamannya. Bersyukur atas potensi dan bersabar atas proses. Semua riset tentang
pendidikan ternyata menunjukkan bahwa semakin berobsesi mengendalikan, bernafsu
mengintervensi, bersikukuh mendominasi dan sebagainya hanya akan membuat proses
pendidikan menjadi semakin tidak alamiah dan berpotensi membuat fitrah anak anak
kita rusak. 6) Manfaatkan momen bersama anak-anak, bedakan antara waktu bersama
dari hati, fisik dan pikiran bersama dalam satu lokasi. Waktu dengan anak, orangtua
dan anak secara fisik berada dalam lokasi yang sama, tapi hati dan pikiran kita entah
kemana. 8) Rancang program yang khas bersama anak, sesuai dengan tahap
perkembangannya, karena anak “very limited special edition”.46
Dalam bab fitrah akan dipaparkan apa saja fitrah yang dibawa anak sejak lahir.
Gambar 3.2 Fitrah Manusia
3. Akademis
CBE Kampung Juara juga memberikan materi yang berkaitan dengan obyek
belajar anak-anak yang bisa menguatkan setruktur berpikir dengan komunikasi. Maka
fasilitator atau orang tua harus ikut belajar banyak hal guna mendukung obyek belajar.
Setruktur berfikir anak di CBE Kampung Juara dikategorikan sceptical thinking
(mencari sumber yang valid), creative thinking (kreatif), logical thinking dan mind
maping. Selain struktur berfikir yang dibentuk, CBE Kampung Juara memperkuat anak
46 Dokumen matrikulasi orangtua CBE Kampung Juara tahun 2016.
FITRAH MANUSIA
FITRAH KEIMANAN FITRAH BELAJAR FITRAH BAKAT
di bidang komunikasi dan bahasa. Komunikasi atau bahasa diwujudkan dengan
mendengarkan, berbicara atau presentasi dan menulis.47
Anggota CBE Kampung Juara ini tidak sepenuhnya homeschooling. Mereka
masih ada yang tetap bersekolah di sekolah formal yaitu School of Life Lebah Putih.
Bagi anak-anak yang masih bersekolah, maka mereka mengikuti program kegiatan
pembelajaran di akhir pekan. Akan tetapi bagi anak yang homeschooling murni,
mereka ada kelas di sekolah komunitas selama 2 jam dari senin sampai jumat. Biasanya
pagi dari jam 8 hingga jam 10. Setelah mereka belajar sesuai dengan proyek dan
passion mereka masing- masing.
Bagaimana jika di tengah jalan anak berganti keinginan? Menurut orangtua CBE
Kampung Juara tidak masalah. Tidak ada yang sia-sia dari apa yang telah dipelajar i.
Menurut mereka proses dan kepernahanlah yang terpenting. Karena filosofi mereka
proses tidak akan pernah ingkar dengan hasil.
C. Proses Pembelajaran
Septi juga mengungkapkan mendidik bukanlah menjejalkan, mengajarka n,
mengisi dsbnya. Tetapi pendidikan, sejatinya adalah proses membangkitka n,
menyadarkan, menguatkan fitrah anak kita sendiri. Lebih penting mana membuat anak
bergairah belajar dan bernalar atau menguasai banyak pelajaran, lebih penting mana
membuat mereka cinta buku atau menggegas untuk bisa membaca. Jika mereka sudah
cinta, ridha, bergairah maka mereka akan belajar mandiri sepanjang hidupnya.48
Checklist pendidikan anak-anak sebagai berikut; Apakah sampai hari ini tetap
memilih jurusan ilmu tersebut di Universitas Kehidupan ini?. Sudahkah belajar
konsisten untuk mengisi checklist harian?. Ibu dan Anak maka Ibu tersebut
menetapkan tahapan ilmu yang harus dikuasai. Tetapkan milestone untuk memandu
setiap perjalanan menjalankan Misi Hidup bersama. Koreksi kembali checklist-nya.
CBE di Kampung Juara menggunakan konsep; 1) belajar hal berbeda yakni, belajara
apa saja yang bisa, menguatkan Iman, menumbuhkan karakter yang baik, menemuka n
passion-nya. 2) cara belajar berbeda yakni, melatih anak-anak terampil bertanya bukan
menjawab, misal menfaatkan anggota tubuh sebagai simbol-simbol pertanyaan. 3)
semangat belajar berbeda yakni, fokus dan total memahami subyek dan obyek, belajar
ingin meraih tujuan dan cita-cita bukan ijazah atau lainnya, setrategi belajar dengan
menggunakan yakni, menggali hobi, passion, dan kecintaan anak-anak dan
mendukungnya.49
Mengolah kemampuan berpikir anak CBE di Kampung Juara dengan; Melatih
anak untuk belajar bertanya, caranya: dengan menyusun pertanyaan
sebanyak-banyaknya mengenai suatu objek. Belajar menuliskan hasil pengamatannya. Belajar
untuk mencari alternatif solusi atas masalahnya. Presentasi yaitu mengungkapkan akan
48 Hasil Wawancara dengan Septi Peni Wulandari Founder CBE, tanggal 5 April 2017
apa yang telah didapatkan atau dipelajari. Kemampuan berpikir pada balita bisa
ditumbuhkan dengan cara aktif bertanya pada si anak.
Ketika mewawancarai salah seorang fasilitator CBE Kampung Juara yang
membimbing materi Sejarah Peradaban Islam dan Keislaman, ia memaparkan bahwa
sistem pembelajaran mengimplementasikan paradigma intergrasi interkoneksi. Tujuan
dari integrasi interkoneksi ini adalah untuk bisa memahami kehidupan manusia yang
kompleks secara terpadu dan menyeluruh.50
Mereka juga tidak mengabaikan gaya belajar masing- masing anak. Ketika
pembelajaran di sekolah komuitas fasilitator hanya sebagai pendamping dan pemantik.
Tugas fasilitator hanya sebagai penunjuk arah dan pengingat rambu-rambu. Anak
dirangsang untuk dapat bertanya sebanyak-banyaknya tentang topik yang sedang
didiskusikan. Pembelajaran kebanyakan dengan cara diskusi, dan berbasis proyek.
Tidak ada mencatat, tidak ada PR, tidak ada tes, yang ada hanya evaluasi bulanan yang
berbentuk report dan evaluasi tahunan.51
D. Fitrah Sebagai Pendekatan Pembelajaran
Di atas sudah dituliskan macam-macam fitrah. Lalu, mau diapakan fitrah-fitrah yang
ada dalam diri anak itu? Jawabannya, fitrah dijadikan sebagai pendekatan mendid ik
50 Hasil wawancara dengan fasilitator CBE Kampung Juara Salatiga (bukan orangtua anak CBE) pada
tanggal 26 Maret 2017.
51 Hasil wawancara dengan Ade (Lurah) tanggal 24 Maret 2017 dan Dewi (Konselor CBE Kampung
anak. Berikut ini penulis akan mengupas satu-persatu implementasi fitrah dalam
mendidik.
1. Fitrah keimanan
Implementasi fitrah keimanan dalam pendekatan mendidik adalah membent uk
rasa cinta kepada Allah bukan menakut-nakuti anak agar termotivasi untuk beribadah.
Jangan pernah berwajah tidak bahagia ketika adzan berkumandang, jangan pernah
memperlihatkan wajah suram ketika memberi shodaqoh kepada fakir miskin dan
sebagainya. Itu semua akan mematikan fitrah anak.
Membangun imaji positif dengan mengajak anak belajar ke alam, bangkitkan
imajinasi bahwa burung-burung juga sholat dengan merentangkan tangannya, bulan,
planet, dan bintang juga sholat dengan berjalan pada garis edarnya. Ketika anak usia
0-6 tahun sudah mempunyai imaji- imaji positif alam semesta, maka pada usia 7 tahun,
anak akan melakukan sholat dengan tanpa perlawanan. Hal ini berlaku untuk hukum
syariah yang lainnya.52
Yang terpenting adalah membangkitkan rasa cinta anak kepada Allah, karena
rasa cinta akan mengalahkan rasa takut. Akan timpang jika anak hanya diajarkan ritual
melakukan ibadah secara syar’iyah tetapi tidak memperkuat elemen dasar aqidah yang
terwujud dengan sikap cinta Allah dan rasulnya.
2. Fitrah Belajar dan Nalar
Ruang lingkup fitrah ini meliputi fitrah kreasi dan penciptaan, fitrah kreasi dan
eksplorasi serta meneliti. Fitrah ini berkaitan dengan fitrah alam di mana anak
dilahirkan meliputi derivasinya seperti fitrah keunggulan lokal, fitrah keanekaragama n
hayati, dan sebagainya. Fitrah ini terkait dengann peran peradaban atau misi sebagai
Imaroh atau memakmurkan bumi.
Fitrah belajar dan bernalar atau gairah alami anak terhadap pengetahuan bisa
dihancurkan dengan empat cara : 1) Guru atau pendidik terlalu menyetir proses belajar
anak, sehingga daya kreatif anak lumpuh; 2) guru atau pendidik terlalu banyak
menyarikan materi, sehingga anak tidak berkesempatan memaknai dan memunculka n
sendiri asosiasi antara ide-ide, daya pikirnya tak terlatih; 3) buku teks yang digunaka n
kering (sekedar menyajikan fakta) tak mengandung ide-ide menggugah; 4) dipakainya
kompetisi dan rasa takut sebagai pelecut belajar, sehingga anak tak lagi belajar
terutama karena rasa ingin tahunya.
Warga CBE Kampung Juara mengimplementasikannya dengan cara
memerdekan anak. Membiarkan anak menyusun sendiri apa yang ingin dipelajar i.
Orang tua tidak menjejalkan atau menyetir proses belajar anak.53
3. Fitrah Bakat
Lingkup fitrah ini adalah fitrah belajar dan bernalar meliputi fitrah keistimewaa n
fisik dan keistimewaan sifat. Warga CBE mengimplementasikannya dengan
membiarkan fitrah ini berkembang tanpa menumpulkannya. Misal, anak yang berbakat
menjadi ketua, dipupuk terus leadershipnya. Anak yang berbakat sebagai manajer,
maka ia di beri stimulus yang berkaitan dengan mengatur suatu hal. Anak yang yang
berbakat dengan ide kreatif, akan dipantik terus sehingga muncul ide-ide lain. Fitrah
bakat ini akan menjadi senjata utama anak untuk memperoleh incomenya di kehidupan
masa depannya.
4. Fitrah Perkembangan
Dalam Islam sejatinya tahapan usia perkembangan hanya ada 2 tahap. Yaitu
tahap Pre Aqilbaligh usia 0-14 tahun dan tahap Aqilbaligh usia di atas 15 tahun.
Berbeda sekali dengan tahapan usia perkembangan yang selama ini kita tahu. Jika bisa
konsisten dalam pendidikannya, anak bisa mandiri dan mapan saat masuk usia
aqilbaligh. Jaman dahulu, banyak sahabat Nabi yang sudah bisa meminpin peperangan,
melakukan perjalanan perdagangan ke luar negeri, pada usia 16 atau 17 tahun.54
5. Fitrah Komunal
Ruang lingkup fitrah ini adalah fitrah alam dan potensi kearifan lokal. Dengan
fitrah ini anak dibangkitkan kesadaran untuk menjaga keseimbangan alam dan tidak
merusaknya. Meskipun di sekolahan juga ada materi pelajaran yang membahas tentang
hal ini, akan tetapi seakan pengetahuan itu sebatas hanya di akal saja. Ketika ulanga n