• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pendidikan Berbasis Komunitas dan Fitrah (Studi Kasus Anak Pelaku Home Education Kelompok Usia Pendidikan Dasar di Sekolah Community Based Education Kampung Juara Salatiga Tahun 2016) - Test Repository

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "Pendidikan Berbasis Komunitas dan Fitrah (Studi Kasus Anak Pelaku Home Education Kelompok Usia Pendidikan Dasar di Sekolah Community Based Education Kampung Juara Salatiga Tahun 2016) - Test Repository"

Copied!
95
0
0

Teks penuh

(1)

i

Pendidikan Berbasis Komunitas dan Fitrah

(Studi Kasus Anak Pelaku

Home Education Kelompok Usia

Pendidikan Dasar di Sekolah

Community Based Education

Kampung Juara Salatiga Tahun 2016)

Oleh

HESTI ARIESTINA NIM. 120.2015.0014

Tesis ini diajukan sebagai pelengkap persyaratan untuk gelar Magister Pendidikan

PROGRAM PASCASARJANA

(2)
(3)
(4)
(5)

v ABSTRAK

Penelitian ini difokuskan pada implementasi pendidikan berbasiskan fitrah

manusia yang dilaksanakan dalam sebuah komunitas. Mereka membuat sekolah dan

menamakan diri dengan CBE Kampung Juara. Sekolah komunitas ini muncul karena

kondisi riil di masyarakat tentang adanya pergeseran nilai, sikap, dan orientasi yang

terlihat jelas dengan banyaknya fenomena- fenomena menyimpang. Sekolah yang

digadang-gadang mampu menjadi agen perubahan intelektual, ketrampilan dan

karakter sepertinya belum bisa selaras dengan tujuan pendidikan yang sejatinya. Bukan

hanya sekolah, ternyata orangtua pun turut memberikan andil besar dalam pola

pendidikan anak. Pola pikir yang dimiliki orangtua melahirkan perilaku mendidik yang

menyalahi fitrah anak.

Penelitian ini merupakan field researh yang menggunakan pendekatan deskriptif

kualitatif. Di dalamnya dikemukakan tentang hal-hal sebagai berikut: 1) Profil dan

latar belakang orangtua menyekolahkan anaknya di Sekolah Komunitas ini; 2)

implementasi pendidikan berbasis komunitas dan berbasis fitrah; 3) indikator

keberhasilan proses belajar anak dari waktu ke waktu.

Peneliti menemukan pola mendidik anak yang tidak menyalahi fitrah. Proses

pembelajarannya menggunakan personalize dan customize curriculum. Fasilitato r

dalam belajar adalah orangtua yang tergabung dalam komunitas ini. Pembuatan

kurikulum untuk setiap anak menganut prinsip “start from the finish line”

(6)

vi

ABSTRACT

The reseach is focused on the implementation of fitrah-based education which

actualized in a community. They made a community School and named CBE Kampung

Juara Salatiga. This community school appears due to the real society condition such

as the friction of value, attitude, and orientation that clearly seen by much phenomeno n.

School which is expected become the agent of change of intellectuality, skill and

character, seems to do the contrary. Not only school, the parents are also have the great

role in their children’s education pattern. The mindset that owned by the parents result

a serries of action which violate children’s fitrah (potention).

The research is a field reseach that uses a qualitative descriptive approach. It tells

about: 1) The profile and the background motive of parents to send their children in

this community school; 2) The implementation of community-based and fitrah-based

education; 3) the indicators of success of the children from time to time.

The researcher finds the pattern to educate the children which do no violate

children’s fitrah. The process of learning apply personalized and customized curriculum. Most of the facilitator of learning are the parents who get involve to this

community. The making of curriculum for every child enforce one principle “start from the finish line”.

Keyword : Education, Community-based, Fitrah-based, Home-based, homeschool.

(7)

vii PRAKATA

Alhamdulillah, segala puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, atas segala karunia dan ridho-Nya, sehingga tesis dengan judul “Pendidikan Berbasis Komunitas dan Fitrah (Studi Kasus Anak Pelaku Home Education Kelompok Usia Pendidikan Dasar di Sekolah Community Based Education Kampung Juara Salatiga

Tahun 2016)” ini dapat diselesaikan. Tesis ini disusun untuk memenuhi salah satu

persyaratan memperoleh gelar Magister Pendidikan pada program studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Institut Agama Islam Negeri Salatiga.

Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis menyampaikan rasa hormat dan menghatur terima kasih yang sebesar-besarnya, kepada :

1. Bapak Dr. Zakiyyudin, M.Ag atas bimbingan dan arahannya dalam penulisa n tesis ini.

2. Ketua program studi Pascasarjana PGMI Bapak Dr. Winarno, M.Pd.

3. Suami dan Averroes Omar Arzachel ku tercinta yang selalu menjadi inspiras i dan source of spirit, segenap keluarga Babe, mamak, ibuk, bapak, serta adik-adik tersayang yang tak putus-putus memberi doa dan dukungannya.

4. Bunda Septi Peni Wulandari yang bersedia meluangkan waktu untuk saya wawancara disela-sela kesibukannya.

5. Mbak Ade, Mbak Dewi, Mbak Hermin, Bu Kesi, Mbak Nanik, dan seluruh warga CBE Kampung Juara yang sudah bersedia saya repoti.

6. Sayyidah Aslamah yang sudah mengirimi jurnal-jurnal untuh tambahan referensinya.

7. Rekan-rekan S-2 PGMI yang tidak bisa saya sebut satu persatu.

8. Dan segenap pihak yang telah membantu hingga tesis ini dapat tersusun.

Dengan keterbatasan pengalaman, ilmu maupun pustaka yang ditinjau, penulis menyadari bahwa tesis ini masih banyak kekurangan dan pengembangan lanjut. Oleh sebab itu, penulis sangat mengharap kritik dan saran agar tesis ini lebih sempurna serta sebagai masukan bagi penulis untuk penelitian dan pe4nulisan karya ilmiah di masa yang akan datang.

Akhir kata, penulis berharap tesis ini memberikan menfaat bagi kita semua terutama untuk dunia pendidikan baik di sekolah maupun di rumah.

(8)

viii DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ...i

HALAMAN PENGESAHAN ...ii

LEMBAR PERSETUJUAN...iii

HALAMAN PERNYATAAN ...iv

ABSTRAK ...v

PRAKATA ...vi

DAFTAR ISI ...viii

DAFTAR GAMBAR ...x

DAFTAR LAMPIRAN ...xi

BAB I PENDAHULUAN ...1

A. Latar Belakang ...2

B. Rumusan dan Batasan Masalah ...4

C. Signifikansi Penelitian ...5

D. Kajian Pustaka ...6

E. Metode Penelitian ...10

F. Sistematika Penulisan ...14

BAB II SELAYANG PANDANG CBE KAMPUNG JUARA SALATIGA …...15

A. Profil CBE Kampung Juara ...15

B. Tujuan CBE Kampung Juara ...17

C. Animo Orangtua ...19

(9)

ix

A. Acuan Kurikulum ...24

B. Sistem Pendidikan ...26

C. Proses Pembelajaran ...32

D. Fitrah sebagai Pendekatan Pembelajaran ...34

BAB IV EVALUASI DI CBE KAMPUNG JUARA SALATIGA ...39

A. Makna Evaluasi bagi CBE Kampung Juara ...39

B. Bentuk Evaluasi CBE Kampung Juara ...40

C. Ukuran Sukses bagi Masyarakat CBE Kampung Juara ...41

BAB V PENUTUP ...43

A. Kesimpulan ...43

B. Saran ...44

DAFTAR PUSTAKA ...46

LAMPIRAN ...48

(10)

x

Daftar Lampiran

Wawancara dengan Dewi (Konselor CBE Kampung Juara Salatiga)...48

Wawancara dengan Hermin (Divisi Rumah Ilmu CBE Kampung Juara Salatiga)...56

Wawancara dengan Wahyu Budi U (Fasilitator CBE non orangtua)...58

Wawancaradengan Pratiwi (Orangtua Zada, anak full CBE)...61

Wawancara dengan Nanik (Orangtua Derbi, anak full CBE)...63

Wawancara dengan Ade (Lurah CBE Kampung Juara Salatiga dan Orangtua Azza dan Izzan, anak full CBE) ...64

Wawancara dengan Adriano Rusfi ( Pakar SDM dan Pendidikan Status Marital, Pakar Pendidikan berbasis Fitrah)...66

Wawancara dengan Septi Peni Wulandari (Founder Institut Ibu Profesional, Founder CBE Kampung Juara, Pakar Pendidikan berbasis Fitrah, Praktisi Homeschooling)...68

Pedoman Dasar Kurikulum CBE Kampung Juara Salatiga...73

Foto kegiatan CBE Kampung Kampung Juara Salatiga...75

(11)

xi

Daftar Gambar

(12)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Perubahan nilai dalam kehidupan dapat dilihat dari fenomena penyimpangan perilaku

dan degradasi nilai kemanusiaan terutama dikalangan generasi muda. Akhir-akhir ini

menunjukkan bahwa sering terjadi diantara generasi muda yang melakuka n

pelanggaran nilai- nilai sosial, tawuran, penyalahgunaan obat-obat terlarang, pergaulan

bebas, tidak disiplin, kurang empati, berbahasa tidak santun, dan penyimpanga n

perilaku lainnya. Fenomena kehidupan seperti ini, menghadapkan orangtua, guru dan

masyarakat pada tantangan yang sangat kompleks dalam menanamkan nilai-ni la i

agama, nilai-nilai pendidikan, nilai-nilai budaya bangsa dan nilai- nilai positif lainnya

kepada generasi muda harapan bangsa.

Home education atau pendidikan rumah akhir-akhir ini menjadi santer

dibicarakan di beberapa kalangan masyarakat di Indonesia. Home education atau yang

lebih dikenal dengan HE menjadi salah satu alternatif mendidik anak. Home Education

dalam bentuk sekolah komunitas adalah istilah yang menjadi trend akhir-akhir ini.

Seakan jamur yang tumbuh sporadis, hal tersebut menjadi sebuah fenomena di

Indonesia.

Sebenarnya antara Home Education dan Homeschooling1 tidak berbeda satu

sama lain. Home education adalah membuat rumah sebagai sarana mendidik anak

(13)

sepanjang waktu.2 Prosesnya dimulai sejak memilih calon ayah dan calon ibu. Karena

ayah dan ibu adalah promotor utama untuk menjalankan sebuah home based education

yang kuat. Sedangkan homeschooling adalah pilihan.

Indonesia saat ini sudah melegalkan pendidikan informal dan membuat

undang-undang yang mendukung kegiatan tersebut. Pemerintah melalui Kementria n

Pendidikan mengesahkankan Permendikbud nomor 129 tahun 2014 tentang sekolah

rumah yang menjadi bukti bahwa sekolah rumah adalah legal dan diakui pemerinta h.

Dalam peraturan menteri ini disebutkan bahwa sekolah rumah adalah proses layanan

pendidikan yang secara sadar dan terencana dilakukan oleh orangtua atau keluarga, di

rumah atau di tempat-tempat lain dalam bentuk tunggal, majemuk dan komunitas di

mana proses pembelajaran dapat berlangsung dalam suasana yang kondusif dengan

tujuan agar potensi peserta didik yang unik dapat berkembang secara maksimal.3 Hal

ini sejalan dengan Undang – Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan

Nasional menyebutkan bahwa pendidikan adalah “usaha sadar dan terencana untuk

mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif

mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual agama,

pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan dan akhlak mulia, serta keterampilan yang

diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan Negara.”4

2 Harry Santoso, Fitrah Based Education, Bekasi : Cahaya Mutiara Timur, 2015, 319. 3 Permendikbud No 129 tahun 2014, pasal 1

(14)

Salatiga adalah kota dengan luas 56,781 km persegi5 yang terletak antara

kabupaten Semarang dan Boyolali. Geliat pendidikan di Kota Salatiga mengala mi

perkembangan yang dinamis. Menurut data dari Dinas Pendidikan, kota Salatiga

mempunyai 4 sekolah TK/RA negeri dan 148 swasta, 85 SD/MI Negeri dan 29 swasta,

11 SMP/Mts Negeri dan 18 swasta, 4 SMA/MA Negeri dan 10 swasta, serta 3 SMK

Negeri dan 17 swasta.6 Namun hal tersebut tak lantas menafikan keberadaan orangtua

pelaksana homeschooling. Beberapa orang memilih untuk homeschooling sebagai

alternatif untuk mendidik anak-anaknya karena didorong oleh beberapa faktor.

Sekolah Rumah ada beberapa macam. Di antaranya ada yang Sekolah Rumah

Tunggal, Sekolah Rumah Majemuk, dan Sekolah Rumah Komunitas.7 Salah satu

Sekolah Rumah Komunitas di Salatiga adalah CBE (Community Based Education)

Kampung Juara. Komunitas pelaksana homeschooling yang tergabung dalam CBE

terbilang unik. Para orangtua memiliki komitmen tinggi untuk menjadi fasilitator bagi

anak-anaknya. Tak jarang orangtua dan anak terlibat dalam satu aktivita s

pembelajaran.

Yang melatar belakangi penulis untuk menggali lebih dalam tentang sekolah

komunitas CBE Kampung Juara ini adalah ada rasa ingin tahu yang kuat tentang

faktor-faktor apa saja yang mendorong orangtua masuk dalam komunitas ini dan tidak

(15)

mengirim anak-anaknya ke sekolah formal. Ada pemikiran tersirat bahwa ijazah tidak

begitu penting, akan tetapi bagi mereka yang terpenting adalah proses belajar. Proses

belajar yang dapat membangkitkan potensi yang dimiliki anak, sehingga anak dapat

menjadi manusia paripurna dan mempunyai kebermanfaatan bagi peradaban.

Selain itu, penulis juga ingin mengeksplorasi bagaimana mekanisme proses

pendidikan di sekolah komunitas ini. Sejauh mana perbedaan cara mendidik sekolah

komunitas ini dibanding dengan sekolah formal yang ada. Terlebih lagi penulis ingin

mendalami kegiatan belajar sekolah komunitas CBE Kampung juara tersebut, adakah

metode, pendekatan dan strategi mengajar yang bisa diterapkan di sekolah-sekolah

pada umumnya.

Berangkat dari pertanyaan di atas, maka penelitian tentang konsep Pendidikan

Berbasis Komunitas dan Berbasis Fitrah menjadi variabel yang menarik untuk ditelit i.

Tujuannya agar dapat diketahui metode dan strategi pembelajarannya, sehingga bisa

diterapkan untuk membangkitkan fitrah anak didik di sekolah formal pada umumnya.

B. Rumusan Masalah

Berbicara masalah Konsep Pendidikan Berbasis Komunitas dan Berbasis Fitrah

yang mana hal itu tidak dilaksanakan dalam sekolah formal maka permasalaha n

penelitian ini dapat diidentifikasi sebagai berikut: 1) Ada sejumlah orangtua yang tidak

menyekolahkan anaknya di sekolah formal, dan akhir-akhir ini semakin meningka t

jumlahnya. Itu berarti ada perubahan mindset orangtua tentang pendidikan.

Faktor-faktor apa sajakah yang menjadi pendorong perubahan mindset itu; 2) Munculnya

(16)

menjadi pondasi proses pendidikan sekolah komunitas; 3) Adanya kurikulum unik

yang di sekolah komunitas ini; 4) Pencapaian dalam diri anak pelaku home education

di Sekolah Komunitas CBE Kampung Juara.

Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah dalam penelitian ini,

maka hal yang menjadi fokus dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1) Objek

penelitian adalah anak-anak pelaksana Sekolah Komunitas CBE yang berusia setara

dengan anak SD/MI beserta orangtuanya; 2) Dari berbagai Sekolah Komunitas yang

ada di berbagai wilayah Indonesia, peneliti fokus melakukan penelitian di Sekolah

Komunitas CBE Kampung Juara yang ada di Salatiga.

Dari beberapa permasalahan di atas penulis merumuskan masalah sebagai

berikut:

1. Apa latar belakang orangtua bergabung di CBE Kampung Juara dan memilih

tidak menyekolahkan anaknya di sekolah formal?

2. Bagaimanakah implementasi pendidikan rumah berbasis komunitas

(Community Based Education) dan berbasis fitrah (Fitrah Based Education)

di Sekolah Komunitas Kampung Juara Salatiga?

3. Bagaimana indikator keberhasilan proses belajar anak dari waktu ke waktu?

Pertanyaan-pertanyaan berikut tentunya masih bersifat umum dan masih dapat

dikembangkan oleh para peneliti yang lain.

C. Signifikansi Masalah

Dari uraian rumusan masalah, penulis menguraikan tujuan penelit ian, yakni: 1)

(17)

Kampung Juara untuk tidak menyekolahkan anak-anak mereka ke bangku sekolah

formal; 2) Untuk mengetahui bagaimanakah konsep pendidikan rumah berbasis

komunitas (Community Based Education) dan berbasis fitrah (Fitrah Based

Education); 3) Untuk mengelaborasi pola pembelajaran seperti apakah yang

dikembangkan dalam pendidikan sekolah komunitas ini; 4) Untuk mengetahui

indikator keberhasilan proses belajar anak dari waktu ke waktu.

Manfaat penelitian ini secara teoretik diharapkan mempunyai kegunaan baik bagi

pihak peneliti maupun bagi pengembang ilmu dan pengetahuan (secara akademik).

Lebih dari itu, penelitian ini diharapkan akan memberikan sumbangan khasanah

keilmuan terutama di bidang pendidikan baik formal, informal maupun non formal.

Adapun secara praktis penelitian ini diharapkan dapat memberikan informas i

bagi para orangtua bahwa mendidik anak itu adalah sebuah paket kerjasama antara

orangtua dan pihak sekolah. Dengan penelitian ini diharapkan orangtua dapat ikut andil

dalam mendidik anaknya. Bagi guru, diharapkan dapat memberikan wawasan tentang

metode, strategi, pendekatan pembelajaran yang menarik, sehingga anak didik tidak

merasa tertekan, dan selebihnya guru dapat menyusun pembelajaran yang berbeda dari

kebiasaannya sebelumnya.

D. Kajian Pustaka

1. Penelitian Terdahulu

Lembaga institusi pendidikan pada hakikatnya menjadi agen perubahan sosial

kultural masyarkat modern saat ini. Pendidikan hendaknya mengambil garda terdepan

(18)

Kenyataan banyak fungsi dan pranan lembaga pendidikan tidak berjalan dengan

semestinya.8 Sekolah hanya menjejalkan asumsi kepada murinya.9

Munif Chotib dalam bukunya mengemukakan bahwa banyak sekolah yang

ternyata membunuh potensi siswa-siswanya. Sekolah menyamaratakan dan

menyeragamkan kemampuan siswa dan memupus bakat uniknya. Sekolah di Indonesia

banyak yang layak dilabeli sekolah robot: mulai dari proses pembelajaran, target

keberhasilan sekolah, sampai pada sistem penilaiannya. Sekolah yang berbasis

Multiple Intelligences adalah sekolah yang menghargai bakat unik bawaan atau fitrah

anak didiknya yang berbeda-beda.10

Berdasarkan penelitian Yudan Hermawan dan Yoyon Suryono dari mahasiswa

Program Pasca Sarjana, Universitas Negeri Yogyakarta yang ditulis di publis di jurnal

Pendidikan dan Pemberdayaan Masyarakat yang menjelaskan bahwa keberhasila n

PKBM Ngudi Kepinteran terletak pada partisipasi masyarakat.11

Berdasarkan penelitian dari Kathi Moreo seorang mahasiswi dari North

Michigan University mengungkap bahwa keberhasilan antara anak yang mengik ut i

homeschooling dan sekolah formal. Ia menyatakan bahwa homeschooling bisa menjadi

alternatif pendidikan yang efektif bagi anak. Model pendidikan semacam ini

8 Ivan Illich, Deschooling Society, Philadelphia US: The Saint Joseph University, 1971, 6. 9Baharuddin, “Gagasan IvanIllich Tentang Pendidikan dalam buku Deschooling Society”,

Terampil, Vol 2, No 2, Januari (2014), 15.

10 Munif Chatib, Sek olahnya Manusia, Bandung: PT Mizan Pustaka, 2009.

(19)

memberikan kesempatan pada orangtua untuk lebih banyak menghabiskan waktu

bersama anak-anaknya sembari belajar sesuai dengan gaya belajarnya. Bahkan diliha t

dari hasil tes, anak homeschooling mempunyai prestasi dan pencapaian akademik yang

sama atau lebih bagus dari anak yang bersekolah. Hal ini memberikan kesempatan yang

besar untuk diterima ke perguruan tinggi yang pada waktu yang sama mencari anak

pelaku homeschooling, karena mereka biasanya mempunyai rata-rata hasil belajar yang

tinggi.12

Anto Dinoto dari UIN Sunan Kalijaga dalam penelitiannya tentang Konsep Fitrah

dalam Al Qur’an dan Implikasinya terhadap pendidikan Islam menjelaskan konsep

fitrah menurut Hamka bahwa fitrah berada dalam juwa dan akal manusia dan harus

diarahkan kepada ketauhidan (beriman kepada Allah SWT. Fitrah tidak dapat digant i

dengan yang lain, karena manusia dilahirkan ke dunia dalam keeadaan fitrah. Dengan

demikian, pendidik bukanlah sebagai pembentuk karakter anak didik, tapi merupakan

fasilitator perkembangan fitrah anak.13

Dibandingkan dengan penelitian-penelitian sebelumnya, penelitian penulis lebih

menitik beratkan tentang eksplorasi bentuk pendidikan yang dilakukan oleh Sekolah

Komunitas CBE Kampung Juara Salatiga.

2. Kerangka Teori

12 Kathi Moreo, “Specific In the Educational Outcomes of Those Students Who Are Homeschooled VS. Students in A Traditional School Setting”, Thesis, Nothern Michigan University,

2012, 31,

https://www.nmu.edu/education/sites/DrupalEducation/files/UserFiles/Moreau_Kathi_MP.pdf, diakses 23 Maret 2017.

(20)

a. Pendidikan Berbasis Komunitas

Community Based Education atau Pendidikan berbasis Komunitas sejatinya

sudah lama ada di Indonesia. Pendidikan semacam ini ada dalam wujud PKBM.

Pendidikan semacam ini menghendaki adanya keterlibatan masyakat dalam upaya

pengambilan kebijakan pendidikan. Keterlibatan atau partisipasi masyarakat dalam

pendidikan bukanlah hal yang baru. Community based education mencapai hal yang

ada di luar kapasitas kognitif and mencakup pembelajaran aspek sosial dan aspek

emosional.14

Community based education memperkuat perkembangan personaliti siswa, rasa

kepemilikan terhadap komunitas, pemahaman mereka tentang peran dan tanggung

jawabnya dalam sebuah komunitas.15

(Shadily dalam Toto Suharto) menyatakan terma “masyarakat” merupakan alih

bahasa dari society atau community. Society sering diartikan sebagai “masyarakat

umum”, sedangkan community adalah “masyarakat setempat”16

Untuk mempermudah pemahaman orang tentang community, Gerhard Emanue l

Lenski dalam Toto Suharto membagi community menjadi dua kategori, yaitugeogra fik

dan kultural. Masyarakat geografik adalah masyarakat yang semata-mata oleh ikatan

14 Christine J. Villani dan Douglas Atkins, Community Based Education, The School

Community Journal, vol 10, No 1, 2000, diakses 20 Maret 2017, 122; Marti J. Blank, Atella Millaville, Bela P. Shah, Mak ing The Different Research and Practice in Community School, Washington DC: Institute for Educational Leadership, 2003, 7.

15 The Departement of Education and Early Childhood Development, Community Based

Learning, A Resource for Schools, Nova Scotia Canada, website: https://www.ednet.nsca/docs/cbl-resource.pdf, diakses tanggal 25 Maret 2017, 12.

(21)

tempat yang berdekatan seperti lingkungan, desa, kota, dan kota besar. Sedangkan

masyarakat kultural adalah masyarakat yang dipersatukan oleh tradisi budaya umum,

seperti kelompok rasial dan kesukuan.17

Pendidikan berbasis masyarakat (Community Based Education) merupakan

pendidikan yang dirancang, dilaksanakan, dinilai dan dikembangkan oleh masyarakat

yang mengarah pada usaha menjawab tantangan dan peluang yang ada di lingkunga n

masyarakat tertentu dengan berorientasi pada masa depan. Dengan kata lain,

pendidikan berbasis masyarakat adalah konsep pendidikan “dari masyarakat, oleh

masyarakat, dan untuk masyarakat.”18

Community based learning sejatinya bisa diterapkan di sekolah formal sebagai

suplemen untuk pembelajaran dengan diwujudkan dengan bergabung ke sebuah

komunitas atau organisasi, field trip ke suatu komunitas bisnis lokal, industr i,

organisasi, budaya dan fasilitas rekreasi, kewirausahaan yang berkaitan dengan proyek

yang dilakukan di komunitas itu, dan lain sebagainya.19

Persatuan Community-based learning mendesain strategi untuk menarik siswa

pada pembelajaran standar yang tinggi. Meliputi academically based community

service (pembelajaran berbasis pelayanan masyarakat), pendidikan kewarganegaraa n,

pendidikan lingkungan, tempat berbasis pembelajaran, pembelajaran pelayanan, dan

17 Toto Suharto, Konsep Pendidikan Berbasis . . . , 330. 18 Toto Suharto, Konsep Pendidikan Berbasis . . . , 333.

(22)

pekerjaan berbasis pembelajaran. Masing-masing strategi ini mempunyai pendukung,

dan praktisi, sejarah, dan prestasi.20

Sekolah komunitas didisain bukan hanya untuk membuat keberhasilan di bidang

pendidikan, akan tetapi juga keberhasilan di bidang lain. Hasil pendidikan itu melip ut i

perilaku sosial yang meningkat dan peningkatan kesehatan para pemuda, keluarga yang

berfungsi dengan baik dan adanya keterlibatan orangtua.21

b. Pendidikan Berbasis Fitrah

Harry Santoso seorang penulis buku Fitrah based Education menyatakan adanya

krisis dan disorientasi pendidikan pada sekolah modern. Ia juga memaparkan bahwa

ada tujuh masalah sistem persekolahan modern. Antara lain: 1) Usang – Like a Dinosaur; 2) Birokrasi Gemuk; 3) suasana penjajahan; 4) Merusak fitrah; 5)

perlombaan yang tak terakhir; 6) tidak relevan dengan lokal dan sosial; 7) indikator

kesuksesan yang konyol.22

Harry juga menuliskan bahwa setidaknya ada 7 kodrat atau fitrah yang gagal

dibangkitkan dan rentan hilang atau menyimpang atau terkubur akibat kurikulum

formal dan seragam persekolahan. 1) Fitrah beragama; 2) Fitrah belajar; 3) Fitrah

bakat; 4) Fitrah perkembangan; 5) Fitrah seksualitas; 6) Fitrah alam atau keunggula n

dan keanekaragaman hayati; 7) Fitrah kearifan dan realitas masyarakat; 8) Fitrah

20 Martin J. Blank, Amy C. Berg, Atelia Melaville, Community-based learning, Engaging Students for Success and Citizenship, The Charles Steward Mott Foundation, Washingto DC, 2006, 7.

21 Joy G. Dayfoos, Evaluation of Community School : Finding to Date, New York, 2000, website http://www.communityschools.org diakses tanggal 25 Maret 2017,2.

(23)

zaman.23 Maka kemudian tercetuslah home education atau sekolah rumah yang dapat

mendidik anak dengan tidak merusak fitrahnya.24

Sekolah rumah akhir-akhir ini seakan menjadi trend di kalangan orangtua yang

peduli dengan pendidikan anak-anaknya. Beberapa ahli dan pengamat pendidikan

memberikan kritik terhadap proses pembelajaran yang ada di sekolah. Di antaranya

Munif Chotib membuat karya yang menggugah banyak orangtua dan insan-insan yang

bergelut di bidang pendidikan. Sekuel buku-buku karyanya25 berisi tentang bagaimana

cara membangun sekolah agar menjadi sebuah miliu yang ramah anak. Karena selama

ini dirasa banyak sekolah yang sadar atau tidak, malah membunuh banyak potensi

siswa-siswa didiknya. Menurut Munif Chotib setelah melakukan penelitian, ternyata

banyak sekolah yang berpredidkat Sekolah Robot; mulai dari proses pembelajara n,

target keberhasilan sekolah, sampai pada sistem penilaiannya.26 Dalam bukunya Munif

menyatakan bahwa banyak murid yang mengalami kebingungan dalam menerima

pelajaran dan tidak mampu mencerna materi yang diberikan. Dan justru mereka yang

dituduh “bermasalah”. Ternyata, ini hanya masalah ketidaksesuaian gaya mengajar

guru dan gaya belajar siswa.27

23 Harry Santoso, Fitrah Based . . . , 62.

24Harry Santoso, Fitrah Based . . . , 60.

25 Karya-karya Munif Chatib antara lain Sek olahnya Manusia 2009, Gurunya Manusia 2011 ,

Orangtuanya Manusia 2012, Kelasnya Manusia 2013 merupakan buku-buku inspiratif untuk perubahan

mindset pelaku pendidikan. Banyak ide segar yang dipaparkan dalam upaya peningkatan SDM ujung tombak pendidikan di Indonesia. Munif Chatib juga merupakan salah satu tokoh pemikir yang mendesain kurikulum 2013.

26 Munif Chatib, Sek olahnya Manusia, Bandung : PT Mizan Pustaka, 2009,1.

(24)

Setiap anak mempunyai keunikan dan karakter masing-masing. Anak juga

mempunyai potensi yang berbeda-beda.28 Anak yang lahir ke dunia ini membawa fitrah

dan potensinya sendiri-sendiri. Dari penjelasan di atas, konsep pendidikan berbasis

komunitas dan fitrah yang diterapkan di CBE Kampung Juara menjadi hal yang

menarik karena kekurangan sekolah dalam menjalankan proses pendidikan selama ini

dapat dievaluasi dari sudut pandang masyarakat kelompok tertentu.

E. Metode Penelitian

Penelitian ini adalah field research dengan pendekatan deskriptif kualitatif yaitu

penelitian yang dimaksudkan untuk menyelidiki keadaan, kondisi atau hal lain-la i n

yang sudah disebutkan, yang hasilnya dipaparkan dalam bentuk laporan penelitian. 29

Subyek dalam penelitian adalah anak-anak yang tergabung dalam Sekolah Komunita s

CBE Kampung Juara Salatiga yang masih berusia sekolah dasar.

Sumber data primer digali berasal hasil wawancara praktisi pendidikan berbasis

komunitas dan pendidikan berbasis fitrah serta buku dan publikasi ilmiah. Dan data

sekunder adalah wawancara kepada orangtua yang masuk dalam CBE Kampung Juara

Salatiga. Agar dihasilkan kesimpulan yang bersifat komprehensif, keseluruhan data

tersebut akan dianalisis lalu dikomparasikan satu sama lain atau dengan data lain.

28 Thomas Armstrong, Multiple Intelligences in The Classroom, Virginia USA: ASCD, 2009, 15.

(25)

Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah studi pustaka yang digabung

dengan observasi lapangan dan wawancara. Karenanya, langkah-langkah yang akan

ditempuh penulis sebagai berikut :

a. Wawancara

Dalam wawancara penulis kepada pembuat konsep Community –based

education, pengurus CBE Kampung Juara, pelaksana home education yang tergabung

dalam CBE Kampung Juara. Data yang diambil adalah segala hal tentag CBE

Kampung juara dalam mendidik anak.

b. Observasi

Penulis mengamati bagaimana proses pembelajaran di CBE Kampung Juara,

dengan meliputi metode dan pendekatan yang digunakan dalam proses belajar.

c. Dokumentasi

Penulis mengamati profil, sejarah dan latar belakang berdirinya CBE Kampung

Juara, susunan pengurus yang bertanggung jawab di dalamnya, siswa, maupun prestasi

anak.

Analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis data model interaktif. 1)

Reduksi data, merupakan suatu bentuk analisis yang menajamkan, menggolongka n,

mengarahkan, membuang yang tidak perlu, dan mengorganisasi data dengan cara

sedemikian rupa sehingga kesimpulan finalnya dapat ditarik dan diverifikasi; 2)

(26)

adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan; 3) Menarik kesimpulan atau

verifikasi.30

F. Sistematika Penulisan

Tesis ini terdiri dari lima bab, dalam Bab I berisi tentang latar belakang masalah,

perumusan masalah, dan dasar-dasar yang menjadi pokok aktivitas penelitian. Dalam

Bab II penulis mengemukakan tentang latar belakang orangtua bergabung di CBE

Kampung Juara dan memilih tidak menyekolahkan anaknya di sekolah formal. Pada

Bab III, berisi tentang implementasi pendidikan rumah berbasis komunita s

(community-based education) dan berbasis fitrah ( fitrah-baesd education). Dalam Bab

IV berisi tentang indikator keberhasilan proses belajar anak dari waktu ke waktu. Bab

V Kesimpulan dan Saran, pada bab ini akan dikemukakan kesimpulan yang

diperoleh dari hasil analisis dan pembahasan dan saran-saran yang diharapkan dapat

berguna dan bermanfaat bagi berbagai pihak.

(27)

BAB II

SELAYANG PANDANG CBE KAMPUNG JUARA

PROFIL, TUJUAN, DAN ANIMO ORANGTUA

A. Profil CBE Kampung Juara Salatiga

CBE Kampung Juara Salatiga sudah digagas sejak lama sekitar 3 tahun yang lalu.

Hanya saja realisasinya secara legal terwujud pada 15 Mei 2015. Ide awalnya adalah

masukan dari para orangtua murid School of Life Lebah Putih yang khawatir selepas

anak-anak mereka lulus dari SD Lebah Putih. Ide yang dimiliki oleh para orangtua itu

kemudian dibicarakan dengan pemilik yayasan School of Life Lebah Putih, yaitu

Dodik Maryanto dan Septi Peni Wulandari.

Dodik Maryanto dan Septi Peni Wulandari adalah sepasang suami istri yang saat

ini konsentrasi di bidang peningkatan sumber daya manusia terutama pendidikan

informal untuk ibu-ibu, yaitu dengan mewujudkan Institut Ibu Profesional (tempat

menimba ilmu ibu-ibu rumah tangga yang kebanyakan bekerja di rumah sebagai ibu

rumah tangga). Kecintaan sepasang suami istri dengan dunia pemberdayaan ibu dan

anak, maka kemudian didirikanlah School of Life Lebah Putih, sebuah sekolah yang

berbeda dengan sekolah lain, dari segi pembelajaran dan penanganan terhadap

(28)

CBE Kampung Juara dirancang untuk menjawab kegelisaha n orang tua yang

khawatir anaknya tidak kerasan belajar di sekolah formal. Dodik Maryanto dan Septi

Peni merancang kurikulum dasar untuk pedoman pembelajaran di Sekolah Komunita s

tersebut.

Secara fisik CBE Kampung Juara tidak mempunyai bangunan gedung

selayaknya sekolah-sekolahnya yang lain. Mereka belajar di mana pun. Tempat-tempat

yang biasa mereka pakai untuk belajar seperti perpustakaan daerah Kota Salatiga, salah

satu rumah anggota CBE, atau tempat-tempat umum yang lain yang bisa menjadi

sumber dan fasilitas pembelajaran. Kantor sekretariat CBE bertempat di Jl. Imam

Bonjol No. 45 Salatiga tepatnya di rumah bapak Dharma selaku konselor CBE

Kampung Juara.

Seperti sebuah kampung, CBE Kampung Juara juga mempunyai kepengurusa n,

yang terdiri dari penasehat, konselor, lurah, carik. Selain itu CBE ini juga mempunya i

pengurus pada posisi divisi Rumah Hati yang mana tempat untuk mewawancarai dan

mematrikulasi orangtua yang baru bergabung dengan CBE Kampung Juara. Ada divis i

Rumah Arta yang berfungsi seperti bendahara, divisi Rumah Ilmu yang berfungs i

sebagai penyusun kuriklum. Divisi Rumah Sumber Daya berfungsi sebagai

menyiapkan fasilitas dan akomodasi yang digunakan anak-anak dalam belajar.31

(29)

Syarat utama di CBE Kampung Juara adalah orangtua harus melewati dan

melampaui matrikulasi orangtua dengan predikat lulus. Karena jika tidak lulus harus

ada pengulangan matrikulasi sampai mereka berhasil melampauinya. Sebab syarat

utama mendidik anak adalah orangtua. Jika orangtua mampu memahami anak secara

utuh dan fitrahnya maka akan berhasil mendampingi anak-anak dalam belajar karena

orangtua adalah fasilitator utama bagi anak.32

B. Tujuan CBE Kampung Juara

CBE mempunyai proses kegiatan belajar yang menyenangkan, karena orangtua

ikut terlibat di semua jenis kegiatan anak, misalnya karyawisata, membuat kerajinan,

menggambar hingga membaca semua buku yang dipilih oleh anak-anak, dan saya

membuat sendiri program kegiatan anak. Bagi orangtua bermain dan belajar bersama

anak-anak adalah manfaat terbesar di CBE Kampung Juara.

Anak bisa belajar banyak hal tentang kegiatan yang tidak dilakukan di sekolah

formal. Alih-alih sekedar hafal tentang tanggal, definisi, dan rumus-rumus, anak-anak

di CBE bisa belajar tentang orang-orang yang menarik dalam sejarah, mengik ut i

penemuan-penemuan baru dalam sains, dan menjelajahi konsep-konsep yang ada di

balik soal-soal matematika. Ini merupakan proses belajar seumur hidup yang terbaik.

Anak-anak bisa menikmatinya belajar di CBE Kampung Juara dan tidak

terganggu dengan beban sekolah formal seperti mengerjakan tugas rumah yang jika

tidak dikerjakan mendapat vonis negatif dari guru maupun lingkungan sekolah formal.

(30)

Yang lebih menarik anak-anak masih bisa bermain bola, latihan band, berkuda,

fotografi dan lain sebagainya dan orangtua juga ikut terlibat didalamnya langsung.

Dengan CBE Kampung Juara membuat anak bisa memperlihatka n

antusiasmenya dalam mengasah dan memperdalam pengetahuan tentang minat mereka

sendiri-sendiri. Selain itu di CBE anak-anak akan dituntun bagaimana untuk bisa fokus

terhadap bidang-bidang yang mereka pilih. Berbeda dengan sekolah formal jika anak

memiliki minat pada bidang yang ada di luar jalur sekolah tidak akan membuat anak

unggul di mata guru-guru dan murid lainnya. Namun di kalangan anak-anak yang

bergabung di CBE, justru minat-minat itulah yang membuat teman-teman mereka

semakin tertarik.

CBE mengajari anak-anak cara berinteraksi dengan orang dewasa dalam

komunitas maupun diluar komunitas, mereka belajar bagaimana orang-orang yang

beradab bisa saling memperlakukan satu sama lain di ruang publik. Ini adalah jenis

sosialisasi yang tidak dialami oleh sebagian besar anak sekolah formal sampai mereka

benar-benar siap untuk masuk ke dunia nyata.

Dengan CBE mengakrabkan orangtua dan anak dalam menetukan materi

pelajaran tanpa harus dilakukan pengekangan dan tugas. Di CBE anak diajari menjadi

pribadi yang mandiri dan tanggung jawab dari pelajaran yang mereka tentukan sendiri.

Penyesuaian dengan jadwal di rumah, anak tidak perlu bangun pagi-pagi sekali

untuk mengejar bis sekolah. Tidak ada perdebatan apakah kita harus melakukan wisata

(31)

pada keluarga untuk melakukan hal-hal penting lainnya dalam kehidupan mereka,

sesuai jadwal mereka.

CBE membuat orangtua dan anak-anak menjadi berkompeten karena bisa belajar

melakukan banyak hal yang sebelumnya orangtua dan anak-anak pikir tidak bisa

dilakukan. Salah satunya adalah bisa belajar bersama menjadi pembaca pemula, belajar

trigonometri, dan sebagainya.

CBE membantu memperkuat nilai-nilai dalam keluarga. Misalnya memberika n

hadiah (dengan pizza, permen, atau pergi ke taman hiburan) atas prestasi yang

anak-anak raih. Atau menilai orang melalui prestasi olahraga mereka atau nilai yang mereka

dapat.

C. Animo Orangtua Menyekolahkah Anak-Anaknya di CBE Kampung Juara

Orangtua “antipati” terhadap kurikulum dan metode pendidikan sekolah formal

menjadi salah satu faktor dominan dalam menentukan pendidikan anak- anaknya.

Banyak orangtua menyesalkan metode pendidikan sekolah formal yang kurang tepat

bagi anak-anak mereka. Entah itu kurikulumnya, cara mengajar gurunya di kelas, serta

lingkungan pergaulan anak di sekolah. Ada orangtua yang memiliki riwayat sekolah

formal yang cukup buruk, misalnya salah jurusan, pekerjaan tidak sesuai dengan

konsentrasi belajarnya dan seterusnya sehingga membuat trauma tersendiri, yang

kemudian memutuskan untuk menjauhkan anak-anak mereka dari sekolah formal.

Selain itu para orang tua khawatir dengan kondisi pergaulan sekolah yang tidak terlalu

(32)

terlarang. Ada juga beberapa dari anak pelaku home education tidak suka sekolah

formal dan lebih menyukai gaya belajar informal. Kualitas sekolah formal kurang

sesuai dengan frame pemikiran dan visi misi keluarga mereka.33

Lain dengan Hermin yang menyatakan sebenarnya dia tidak begitu fanatis

terhadap sekolah formal. Jika dikemudian hari anaknya lebih memilih sekolah formal,

ia akan mengikuti kemauan anak, hanya saja ia sekeluarga tidak akan keluar dari

keanggotaan CBE. Ia merasa dapat mendapatkan ilmu lebih karena CBE Kampung

Juara juga merupakan Sekolahnya Manusia.34

CBE Kampung Juara hadir dalam memberikan warna tersendiri dalam dunia

pendidikan Indonesia yakni dengan metode fokus kepada potensi bawaan atau lebih

dikenal dengan istilah bakat. Di sekolah komunitas ini orangtua harus turun tangan

langsung dalam pendidikan anak-anaknya, sehingga orangtua juga akan mudah

mengawasi perkembangan anak-anak. Orangtua di CBE memiliki pemahaman mereka

sendiri tentang pendidikan anak. Mereka merasa bahwa sekolah formal tidak membuat

bakat dan minat anak-anak berkembang dengan baik, karena metode, gaya maupun

motivasi belajar anak-anak tidak diketahui dengan baik di sekolah formal. Maka di

CBE Kampung Juara orangtua memiliki kesempatan yang lebih banyak untuk

33 Hasil Wawancara dengan Dewi (Konselor) tanggal 23 Maret 2017 dan Ade (Lurah ) CBE Kampung

(33)

menyusun kurikulum sendiri sesuai dengan kebutuhan invidu anak, serta menjalanka n

program-program yang sesuai dengan bakat dan minat anak-anak mereka.35

Di sekolah komunitas CBE Kampung Juara setiap anak diberikan kemerdekaan

dalam menentukan minatnya, orangtua menjadi pendamping utama dalam menjalanka n

kegiatan belajar anak. Maka orangtua di CBE selalu diberikan pelatihan dan konseling

berupa matrikulasi dalam penyusunan kurikulum anak-anak yang itu tidak dilakukan

oleh sekolah formal.36

Sekolah formal belum bisa memahami potensi bawaan atau bakat anak-anak

yang menjadi perhatian para orangtua di CBE. Selain itu sekolah formal seolah-olah

hanya menjadi industri pendidikan yang tidak bisa merangsang anak-anak untuk

menghasilkan karya. Selain itu, adab atau perilaku bukan menjadi capaian utama di

dalam keberhasilan pendidikan, mengingat pendidikan moral dan agama sangat minim

jam ajarnya dan kurangnya penekanan dan ketegasan dalam masalah tersebut, dengan

kata lain, orangtua tidak merasa puas dengan kualitas pendidikan formal.37

“Beragam, Bahagia, Mulia” menjadi tagline di CBE Kampung Juara, artinya di

dalam komunitas ini terdiri dari berbagai agama, golongan, aliran kepercayaan,

budaya, minat, bakat, ekonomi, pendidikan bahkan politik yang menyatu dan terlibat

menjadi satu dalam rangka mendidik anak-anak sesuai dengan bakat dan minat nya

35 Hasil wawancara dengan Dewi tanggal 23 Maret 2017, Ade (Lurah CBE Kampung Juara salatiga)

tanggal 24 Maret 2017 dan Pratiwi tanggal 24 Mater 2017.

36 Hasil wawancara dengan Septi tanggal 5 April 2017, Dewi tanggal 23 Maret 2017.

(34)

yang dikemas dengan nama rumah hati. Mereka percaya, dalam urusan menuntut ilmu

tidak harus terbatas hanya kepada orang-orang yang satu agama, satu aliran, atau yang

lainnya. Bukankah Nabi Muhammad pernah menyuruh sahabat-sahabatnya untuk

menuntut ilmu sampai ke negeri Cina yang mempunyai latar belakang budaya, agama,

ras yang berbeda.38

Metode belajar mengajar pada CBE menurut orangtua sangat menyenangka n

karena dapat dilakukan di dalam rumah, di luar rumah, di tempat-tempat seperti bank,

pasar, playground, supermarket, perpustakaan, dimana saja, kapan saja, dan anak

bebas memilih pelajaran yang disukainya sehingga merasa nyaman. Anak-anak

memiliki kebutuhan khusus dan sistem di sekolah formal tidak bisa memberika n

pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan khusus anak. Selain itu anak bisa belajar

tanpa rasa tertekan, dan bisa belajar sesuai dengan passion serta sesuai dengan gaya

belajarnya.39

Kurikulum sekolah yang dirasa mereka terlalu membebani tidak sesuai dengan

perkembangan kemampuan dan usia anak. Terlebih tugas sekolah yang terlalu banyak

menjadi beban bagi anak. Kebanyakan sekolah melakukan penyeragaman kemampua n

dan keterampilan anak di sekolah dapat mematikan bakat dan minat anak. Jadi anak

yang terlalu aktif atau hyperactive seakan tidak mendapat tempat di sekolah karena

dianggap sebagai “anak nakal”, dan kadang sekolah terpaksa memanggil orangtuanya

38 Hasil wawancara dengan Dewi tanggal 23 Maret 2017.

(35)

karena guru mengalami kesulitan dalam mengontrol anak di kelas yang cenderung

mengganggu temannya. Bahkan ada anak yang pernah mengalami bullying secara

verbal ataupun tingkah laku baik dari teman atau guru.40

Dari alasan-alasan diatas, CBE memang bukan hanya solusi bagi pendidikan

formal kita yang dinilai belum maksimal. Lebih jauh dari itu, CBE memberika n

kesempatan agar setiap potensi anak yang unik dapat berkembang secara maksimal.

Saat ini memang kebanyakan keluarga anggota CBE Kampung Juara berasal dari

keluarga golongan ekonomi menengah dan menengah atas. Sebenarnya bergabung di

Sekolah Komunitas ini tidaklah mahal. Biayanya relatif terjangkau untuk berbagai

kalangan golongan ekonomi manapun. Tiga Ratus Ribu Rupiah (Rp 300.000,00) untuk

pendaftaran keanggotaan. Dan Dua Puluh Lima Ribu Rupiah (Rp 25.000,00) untuk

biaya bulanan yang mana biaya tersebut meliputi biaya untuk satu keluarga yang

beranggotakan berapapun juga. Maka tidak menutup kemungkinan model pendidikan

seperti ini bisa diakses oleh masyarakat lainnya yang lebih luas.41 Pendidikan yang

dimulai dari kokohnya keluarga, kekuatan dan sinergi komunitas, diharapkan dapat

membentuk generasi yang shaleh yang dapat mengambil peran mulia dimasa depan

peradaban.

40 Hasil wawancara dengan Ade tanggal 24 Maret 2017.

(36)

BAB III

KURIKULUM CBE KAMPUNG JUARA

A. Acuan Kurikulum

Kurikulum adalah suatu hal yang sangat penting dari sebuah lembaga

pendidikan. Karena ini merupakan pondasi dasar dari sebuah kerangka program besar

mulai dari persiapan, pelaksanaan hingga evaluasi tentang sebuah proses pendidikan.

Kurikulum CBE disusun oleh Dodik Maryanto dan Septi Peni Wulandari yang mana

perumusannya melibatkan orang tua yang menginginkan berdirinya sekolah komunita s

lanjutan dari School of Life Lebah Putih.

“It takes a village to reach a child” yang artinya memerlukan orang sekampung

untuk mendidik seorang anak. Sejatinya yang namanya pendidikan adalah berbentuk

community based. Pendidikan menggali potensi dan kearifan lokal yang ada di

daerahnya dan memunculkan local leader yang memimpin proses pendidikan di daerah

itu. Jadi satu anak adalah milik bersama.

Kurikulum di CBE Kampung Juara disusun dengan pemikiran agar tidak

menyalahi fitrah anak. Kurikulumnya mengintegrasikan community-based untuk

pelaksanaannya, dan fitrah based sebagai pendekatannya. Berbagai macam fitrah yang

(37)

Sebenarnya susunan kurikulumnya sederhana. Akan tetapi apa yang ada dalam

kurikulum adalah hal yang sangat fundamental. Dan apa yang ada dalam kurikulum

merupakan hal yang diabaikan dalam dunia pendidikan selama ini.42

Sistem pendidikan di CBE Kampung Juara menggunakan customize and

personalize curruculum. Masing-masing keluarga mempunyai kurikum yang

berbeda-beda. Bahkan keluarga diharapkan bisa membuat kurikulum untuk masing- mas i ng

anaknya. Karena belum tentu anak-anak dalam sebuah keluarga mempunyai karakter

dan passion yang sama.

CBE ini juga mempunyai prinsip “start from the finish line” dalam menentukan apa yang akan dipelajari oleh sang anak. Orangtua bersama anak berdiskusi untuk

menentukan apa misi hidupnya kelak. Sebagai contoh Chelsea, usia 10 tahun putri dari

pasangan Dharma dan Dewi, berkeinginan kelak menjadi seorang penari profesiona l.

Berarti orangtua dan divisi Rumah Ilmu bermusyawara h menyusun kurikulum

pembelajaranya. Apa saja yang akan dipelajari Chelsea.

(38)

Gambar 3.1

Aplikasi Personalize & Customize Curriculum43

B. Sistem Pendidikan

Kurikulum CBE disetting untuk orang tua dan anak, berbeda dari

sekolah-sekolah yang tanpa ada sistem untuk orang tua, atau di homeschooling individu yang

juga tidak ada kurikulum untuk orang tua. Keluarga adalah komunitas terkecil. Maka

dari keluarga itulah sebuah pendidikan dimulai. Pada awal keikutsertaan sebuah

keluarga ke CBE Kampung Juara, ortangtua harus bertemu dengan konsellor CBE

untuk wawancara. Konselor menggali informasi dari para orangtua tentang apa

motivasi mau bergabung di CBE Kampung Juara. Poin titik tekan wawancara antara

orangtua dan konselor adalah kerelaan orangtua untuk mau terlibat langsung dalam

pembelajaran anak. Karena CBE Kampung Juara tidak akan menerima orangtua yang

maunya hanya memasrahkan anak sepenuhnya tanpa mau terlibat. Seperti yang terjadi

di masyarakat luas, orangtua pasrah sepenuhnya kepada sekolah akan pendidikan

anaknya.

43 Hasil wawancara dengan Dewi tanggal 23 Maret 2017 dan Dokumen Acuan Kurikulum CBE

(39)

Setelah diketahui orangtua satu visi misi dan satu nafas dengan CBE, maka

konselor baru memutuskan keluarga tersebut dapat diterima di CBE Kampung Juara.

Lalu orangtua dan anak mengikuti matrikulasi terpisah selama 3 bulan. Apabila

seorang anak yang bergabung di CBE sudah bersekolah sebelumnya, maka mereka

akan melewati masa penetralisiran atau detoksifikasi. Katakanlah anak sudah

bersekolah di SD 1 tahun, artinya masa detoksifikasi mereka 1 bulan. Apabila mereka

sudah bersekolah 3 tahun, maka masa detoksifikasinya adalah 3 bulan. Masa ini disebut

masa unschooling.

Dalam masa unschooling anak dibebaskan dari apa yang membelenggunya

selama mereka sekolah. Mereka dialihkan ke kegiatan yang mereka sukai dan diberi

materi 10 kompetensi dasar. Kompetensi itu meliputi: 1) Menjaga kesehatan dan

keselamatan dengan cara menjaga pola tidur, pola makan, melakukan pola aktivita s

sehat, berenang, bela diri, dan pertolongan pertama (P3K); 2) Literasi: membaca dan

mengerti isi yang dibaca, membaca petunjuk, membaca resep, membaca petunjuk,

membaca rambu-rambu lalu lintas, dan membaca tabel; 3) Mengurus diri sendiri:

mengatur waktu, menepati rencana, mengetahui koridor hal baik dan buruk, serta

membuat keputusan; 4) Berkomunikasi: mengajukan pertanyaan, mengobro l,

berkenalan dengan orang baru, memberi dan menerima feedback, mengapresiasi dan

bernegosiasi; 5) Melayani: mengerjakan pekerjaan rumah, berkontribusi dalam

keluarga, lingkungan dan masyarakat sosial; 6) Menghasilkan makanan: bercocok

tanan, berbelanja, mengolah bahan pangan, dan memasak; 7) Perjalanan mandiri: naik

(40)

asal. 8) Memakai teknologi: memakai gadget, mengenal batas hukum dan etik,

menghindari kecanduan, menggunakan secara produktif; 9) Transaksi Keuangan:

belanja, mendapatkan penghasilan, menabung, transaksi dalam sistem keuangan; 10)

Bekerja: menghasilkan karya, membuat output (tulisan, lagu, musik, cerita atau

presentasi, video animasi, dan lain-lain).44

Dewi, seorang konselor di CBE Kampung Juara memaparkan bahwa materi yang

meliputi 10 ketrampilan dasar ini wajib dimiliki anak. Ketrampilan ini melatih

kemandirian dan tingkat survival yang tinggi. Jadi anak-anak CBE ini cakap dan

mandiri.45

Selepas masa unschooling, anak-anak mengikuti program matrikulasi yang

difasilitatori oleh salah satu orangtua CBE Kampung Juara secara bergilira n.

Sedangkan matrikulasi untuk orangtua difasilitatori oleh orang-orang yang ahli di

bidang materi yang diberikan. Isi program matrikulasi untuk anak dan orangtua tidak

berbeda. Materi matrikulasi meliputi tiga hal, yaitu kultur, fitrah dan akademis.

1. Kultur

Dalam bab ini disampaikan materi yang berkaitan dengan tatanan pola hidup

yang berkembang dalam sebuah komunitas. Diantaranya adab menuntut ilmu yang di

dalam meliputi adab murid kepada dirinya sendiri, adab murid dalam belajar, adab

murid kepada guru sebagai teladannya, adab guru kepada muridnya, adab guru dalam

44Dokumen Matrikulasi anak CBE Kampung Juara, 10 Ketrampilan Dasar” tahun 2016.

(41)

mengajar, adab guru kepada ilmunya, adab kepada kitab sebagai sarana belajar. Materi

ini di sampaikan selama 7 pertemuan.

Setelah mengupas tuntas tentang adab, pembahasan berikutnya adalah tentang

core value komunitas. CBE Kampung Juara mempunyai tagline “Beragam, Bahagia,

Mulia”. Seperti yang telah diutarakan dalam profil CBE di bab II bahwa dalam memaknai “Beragam” CBE Kampung Juara tidak menutup untuk agama apapun dan

golongan apapun walau landasan pijakan ajarannya bernafaskan Islam.

“Bahagia” menjadi salah satu dari core value komunitas ini. Perasaan bahagia

akan menajdikan orang semangat dalam menjalani hidup dan melakukan hal yang

bermanfaat. Dengan perasaan bahagia pun tubuh akan menjadi sehat karena hormon

yang dihasilkan dari perasaan bahagia berkhasiat untuk memperkuan sistem imunita s

alami tubuh sehingga orang akan jarang sakit. Anak yang melakukan pembelajara n

dengan bahagia akan merasa enjoy, akibatnya hasil yang dia dapatkan juga akan

maksimal. Ketika hasilnya maksimal, maka anak bisa berkarya.

“Mulia” yang dimaksudkan dalam core value CBE Kampung Juara adalah anak

-anak dapat membuat dirinya bermanfaat bagi orang banyak, berkarakter dan berakhlak

santun. Mempunyai bekal keimanan yang kuat. Sehingga anak akan menjadi manus ia

berperadaban.

2. Fitrah

Di dalam komunitas CBE Kampung juara, sebelum melangkah lebih jauh tentang

pemetaan minat anak, setiap orangtua harus memahami pendidikan anak dengan

(42)

peradaban dari dalam rumah dengan mempelajari ilmu- ilmu apa saja yang perlu

dikuasai seiring dengan misi hidup kita di muka bumi ini. Minimal orangtua akan

memiliki prioritas ilmu- ilmu apa saja yang harus dikuasai di tahap awal, dan segera

jalankan, setelah itu tambah ilmu baru lagi, menurut septi dalam matrikulasinya.

Selanjutnya, tahap yang harus dijalankan pendidikan anak dengan kekuatan

fitrah; 1) Bersihkan hati nurani, karena ini faktor utama yang menentukan keberhasila n

pendidikan anak-anak; 2) Gunakan Mata Hati untuk melihat setiap perkembanga n

fitrah anak-anak. Karena sejatinya sejak lahir anak-anak sudah memiliki misi spesifik

hidupnya, tugas orangtua adalah membantu menemukannya sehingga anak-anak tidak

akan menjadi seperti kita (orangtua), yang telat menemukan misi spesifik hidupnya ; 3)

Pahami Fitrah yang dibawa anak sejak lahir itu apa saja. Mulai dari fitrah Ilahiya h,

Fitrah Belajar, Fitrah Bakat, Fitrah Perkembangan, Fitrah Seksualitas dan lain-lain; 4)

Upayakan proses mendidik yang sealamiah mungkin sesuai dengan sunatullah tahap

perkembangan manusia. Analogkan diri orangtua dengan seorang petani organik. 5)

Selanjutnya tugas orangtua adalah menemani, sebagaimana induk ayam mengerami

telurnya dengan merendahkan tubuh dan sayapnya, seperti petani menemani

tanamannya. Bersyukur atas potensi dan bersabar atas proses. Semua riset tentang

pendidikan ternyata menunjukkan bahwa semakin berobsesi mengendalikan, bernafsu

mengintervensi, bersikukuh mendominasi dan sebagainya hanya akan membuat proses

pendidikan menjadi semakin tidak alamiah dan berpotensi membuat fitrah anak anak

kita rusak. 6) Manfaatkan momen bersama anak-anak, bedakan antara waktu bersama

(43)

dari hati, fisik dan pikiran bersama dalam satu lokasi. Waktu dengan anak, orangtua

dan anak secara fisik berada dalam lokasi yang sama, tapi hati dan pikiran kita entah

kemana. 8) Rancang program yang khas bersama anak, sesuai dengan tahap

perkembangannya, karena anak “very limited special edition”.46

Dalam bab fitrah akan dipaparkan apa saja fitrah yang dibawa anak sejak lahir.

Gambar 3.2 Fitrah Manusia

3. Akademis

CBE Kampung Juara juga memberikan materi yang berkaitan dengan obyek

belajar anak-anak yang bisa menguatkan setruktur berpikir dengan komunikasi. Maka

fasilitator atau orang tua harus ikut belajar banyak hal guna mendukung obyek belajar.

Setruktur berfikir anak di CBE Kampung Juara dikategorikan sceptical thinking

(mencari sumber yang valid), creative thinking (kreatif), logical thinking dan mind

maping. Selain struktur berfikir yang dibentuk, CBE Kampung Juara memperkuat anak

46 Dokumen matrikulasi orangtua CBE Kampung Juara tahun 2016.

FITRAH MANUSIA

FITRAH KEIMANAN FITRAH BELAJAR FITRAH BAKAT

(44)

di bidang komunikasi dan bahasa. Komunikasi atau bahasa diwujudkan dengan

mendengarkan, berbicara atau presentasi dan menulis.47

Anggota CBE Kampung Juara ini tidak sepenuhnya homeschooling. Mereka

masih ada yang tetap bersekolah di sekolah formal yaitu School of Life Lebah Putih.

Bagi anak-anak yang masih bersekolah, maka mereka mengikuti program kegiatan

pembelajaran di akhir pekan. Akan tetapi bagi anak yang homeschooling murni,

mereka ada kelas di sekolah komunitas selama 2 jam dari senin sampai jumat. Biasanya

pagi dari jam 8 hingga jam 10. Setelah mereka belajar sesuai dengan proyek dan

passion mereka masing- masing.

Bagaimana jika di tengah jalan anak berganti keinginan? Menurut orangtua CBE

Kampung Juara tidak masalah. Tidak ada yang sia-sia dari apa yang telah dipelajar i.

Menurut mereka proses dan kepernahanlah yang terpenting. Karena filosofi mereka

proses tidak akan pernah ingkar dengan hasil.

C. Proses Pembelajaran

Septi juga mengungkapkan mendidik bukanlah menjejalkan, mengajarka n,

mengisi dsbnya. Tetapi pendidikan, sejatinya adalah proses membangkitka n,

menyadarkan, menguatkan fitrah anak kita sendiri. Lebih penting mana membuat anak

bergairah belajar dan bernalar atau menguasai banyak pelajaran, lebih penting mana

(45)

membuat mereka cinta buku atau menggegas untuk bisa membaca. Jika mereka sudah

cinta, ridha, bergairah maka mereka akan belajar mandiri sepanjang hidupnya.48

Checklist pendidikan anak-anak sebagai berikut; Apakah sampai hari ini tetap

memilih jurusan ilmu tersebut di Universitas Kehidupan ini?. Sudahkah belajar

konsisten untuk mengisi checklist harian?. Ibu dan Anak maka Ibu tersebut

menetapkan tahapan ilmu yang harus dikuasai. Tetapkan milestone untuk memandu

setiap perjalanan menjalankan Misi Hidup bersama. Koreksi kembali checklist-nya.

CBE di Kampung Juara menggunakan konsep; 1) belajar hal berbeda yakni, belajara

apa saja yang bisa, menguatkan Iman, menumbuhkan karakter yang baik, menemuka n

passion-nya. 2) cara belajar berbeda yakni, melatih anak-anak terampil bertanya bukan

menjawab, misal menfaatkan anggota tubuh sebagai simbol-simbol pertanyaan. 3)

semangat belajar berbeda yakni, fokus dan total memahami subyek dan obyek, belajar

ingin meraih tujuan dan cita-cita bukan ijazah atau lainnya, setrategi belajar dengan

menggunakan yakni, menggali hobi, passion, dan kecintaan anak-anak dan

mendukungnya.49

Mengolah kemampuan berpikir anak CBE di Kampung Juara dengan; Melatih

anak untuk belajar bertanya, caranya: dengan menyusun pertanyaan

sebanyak-banyaknya mengenai suatu objek. Belajar menuliskan hasil pengamatannya. Belajar

untuk mencari alternatif solusi atas masalahnya. Presentasi yaitu mengungkapkan akan

48 Hasil Wawancara dengan Septi Peni Wulandari Founder CBE, tanggal 5 April 2017

(46)

apa yang telah didapatkan atau dipelajari. Kemampuan berpikir pada balita bisa

ditumbuhkan dengan cara aktif bertanya pada si anak.

Ketika mewawancarai salah seorang fasilitator CBE Kampung Juara yang

membimbing materi Sejarah Peradaban Islam dan Keislaman, ia memaparkan bahwa

sistem pembelajaran mengimplementasikan paradigma intergrasi interkoneksi. Tujuan

dari integrasi interkoneksi ini adalah untuk bisa memahami kehidupan manusia yang

kompleks secara terpadu dan menyeluruh.50

Mereka juga tidak mengabaikan gaya belajar masing- masing anak. Ketika

pembelajaran di sekolah komuitas fasilitator hanya sebagai pendamping dan pemantik.

Tugas fasilitator hanya sebagai penunjuk arah dan pengingat rambu-rambu. Anak

dirangsang untuk dapat bertanya sebanyak-banyaknya tentang topik yang sedang

didiskusikan. Pembelajaran kebanyakan dengan cara diskusi, dan berbasis proyek.

Tidak ada mencatat, tidak ada PR, tidak ada tes, yang ada hanya evaluasi bulanan yang

berbentuk report dan evaluasi tahunan.51

D. Fitrah Sebagai Pendekatan Pembelajaran

Di atas sudah dituliskan macam-macam fitrah. Lalu, mau diapakan fitrah-fitrah yang

ada dalam diri anak itu? Jawabannya, fitrah dijadikan sebagai pendekatan mendid ik

50 Hasil wawancara dengan fasilitator CBE Kampung Juara Salatiga (bukan orangtua anak CBE) pada

tanggal 26 Maret 2017.

51 Hasil wawancara dengan Ade (Lurah) tanggal 24 Maret 2017 dan Dewi (Konselor CBE Kampung

(47)

anak. Berikut ini penulis akan mengupas satu-persatu implementasi fitrah dalam

mendidik.

1. Fitrah keimanan

Implementasi fitrah keimanan dalam pendekatan mendidik adalah membent uk

rasa cinta kepada Allah bukan menakut-nakuti anak agar termotivasi untuk beribadah.

Jangan pernah berwajah tidak bahagia ketika adzan berkumandang, jangan pernah

memperlihatkan wajah suram ketika memberi shodaqoh kepada fakir miskin dan

sebagainya. Itu semua akan mematikan fitrah anak.

Membangun imaji positif dengan mengajak anak belajar ke alam, bangkitkan

imajinasi bahwa burung-burung juga sholat dengan merentangkan tangannya, bulan,

planet, dan bintang juga sholat dengan berjalan pada garis edarnya. Ketika anak usia

0-6 tahun sudah mempunyai imaji- imaji positif alam semesta, maka pada usia 7 tahun,

anak akan melakukan sholat dengan tanpa perlawanan. Hal ini berlaku untuk hukum

syariah yang lainnya.52

Yang terpenting adalah membangkitkan rasa cinta anak kepada Allah, karena

rasa cinta akan mengalahkan rasa takut. Akan timpang jika anak hanya diajarkan ritual

melakukan ibadah secara syar’iyah tetapi tidak memperkuat elemen dasar aqidah yang

terwujud dengan sikap cinta Allah dan rasulnya.

(48)

2. Fitrah Belajar dan Nalar

Ruang lingkup fitrah ini meliputi fitrah kreasi dan penciptaan, fitrah kreasi dan

eksplorasi serta meneliti. Fitrah ini berkaitan dengan fitrah alam di mana anak

dilahirkan meliputi derivasinya seperti fitrah keunggulan lokal, fitrah keanekaragama n

hayati, dan sebagainya. Fitrah ini terkait dengann peran peradaban atau misi sebagai

Imaroh atau memakmurkan bumi.

Fitrah belajar dan bernalar atau gairah alami anak terhadap pengetahuan bisa

dihancurkan dengan empat cara : 1) Guru atau pendidik terlalu menyetir proses belajar

anak, sehingga daya kreatif anak lumpuh; 2) guru atau pendidik terlalu banyak

menyarikan materi, sehingga anak tidak berkesempatan memaknai dan memunculka n

sendiri asosiasi antara ide-ide, daya pikirnya tak terlatih; 3) buku teks yang digunaka n

kering (sekedar menyajikan fakta) tak mengandung ide-ide menggugah; 4) dipakainya

kompetisi dan rasa takut sebagai pelecut belajar, sehingga anak tak lagi belajar

terutama karena rasa ingin tahunya.

Warga CBE Kampung Juara mengimplementasikannya dengan cara

memerdekan anak. Membiarkan anak menyusun sendiri apa yang ingin dipelajar i.

Orang tua tidak menjejalkan atau menyetir proses belajar anak.53

3. Fitrah Bakat

Lingkup fitrah ini adalah fitrah belajar dan bernalar meliputi fitrah keistimewaa n

fisik dan keistimewaan sifat. Warga CBE mengimplementasikannya dengan

(49)

membiarkan fitrah ini berkembang tanpa menumpulkannya. Misal, anak yang berbakat

menjadi ketua, dipupuk terus leadershipnya. Anak yang berbakat sebagai manajer,

maka ia di beri stimulus yang berkaitan dengan mengatur suatu hal. Anak yang yang

berbakat dengan ide kreatif, akan dipantik terus sehingga muncul ide-ide lain. Fitrah

bakat ini akan menjadi senjata utama anak untuk memperoleh incomenya di kehidupan

masa depannya.

4. Fitrah Perkembangan

Dalam Islam sejatinya tahapan usia perkembangan hanya ada 2 tahap. Yaitu

tahap Pre Aqilbaligh usia 0-14 tahun dan tahap Aqilbaligh usia di atas 15 tahun.

Berbeda sekali dengan tahapan usia perkembangan yang selama ini kita tahu. Jika bisa

konsisten dalam pendidikannya, anak bisa mandiri dan mapan saat masuk usia

aqilbaligh. Jaman dahulu, banyak sahabat Nabi yang sudah bisa meminpin peperangan,

melakukan perjalanan perdagangan ke luar negeri, pada usia 16 atau 17 tahun.54

5. Fitrah Komunal

Ruang lingkup fitrah ini adalah fitrah alam dan potensi kearifan lokal. Dengan

fitrah ini anak dibangkitkan kesadaran untuk menjaga keseimbangan alam dan tidak

merusaknya. Meskipun di sekolahan juga ada materi pelajaran yang membahas tentang

hal ini, akan tetapi seakan pengetahuan itu sebatas hanya di akal saja. Ketika ulanga n

Gambar

Gambar 3.2 Fitrah Manusia

Referensi

Dokumen terkait