• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V PENUTUP

B. Saran

Dengan adanya berbagai alasan orangtua memilih CBE Kampung Juara untuk anak-anak mereka, maka disarankan kepada para orangtua: 1) Kuatkan tekad dan niat untuk mendidik anak-anak dengan kasih sayang, penuh tanggung jawab, dan segenap kemampuan agar tujuan yang diinginkan dapat dicapai. 2) Jika orangtua ingin menyekolahkan anak-anaknya di Kampung Juara, maka siapkan segala hal yang diperlukan yang dapat menunjang belajar anak.

Saran untuk pelaksana pendidikan sekolah formal: 1) pengajaran di sekolah seyogyanya jangan mengabaikan fitrah anak sebagai manusia; 2) personalize learning bisa diterapkan demi usaha memaksimalkan potensi bawaan anak.

Penelitian ini belum sepenuhnya komprehensif, maka bagi peneliti yang berminat dengan kasus ini dapat mengkaji lebih dalam tentang konsep pendidikan untuk usia pra aqil baligh dan aqilbaligh. Karena lingkup fitrah perkembangan ini sangat luas sekali, sehingga membutuhkan kajian yang lebih dalam.

Daftar Pustaka

Arikunto, Suharsimi. Prosedur penelitian : Suatu Pendekatan Praktik. (Edisi Revisi). Jakarta : Rineka Cipta, 2010.

Armstrong, Thomas. Multiple Intelligences in The Classroom. Virginia USA: ASCD. 2009.

Baharuddin. “Gagasan IvanIllich Tentang Pendidikan dalam buku Deschooling Society”, Terampil, Vol 2, No 2, Januari (2014).

Blank, Martin J. Berg, Amy C. Melaville, Atelia. Community-based learning, Engaging Students for Success and Citizenship, , Washingto DC: The Charles Steward Mott Foundation, 2006.

Blank, Martin J. Millaville, Atella. Shah, Bela P. Making The Different Research and Practice in Community School, Washington DC: Institute for Educationa l Leadership, 2003.

Chatib, Munif. Sekolahnya Manusia. Bandung: PT Mizan Pustaka. 2009.

Dayfoos, Joy G. Evaluation of Community School : Finding to Date. New York, 2000, website http://www.communityschools.org diakses tanggal 25 Maret 2017. Depdiknas. 2004, PedomanPenilaian Kelas, Jakarta : Depdiknas.

Dinoto, Anto, “Konsep Fitrah dalam Al Qur’an dan Implikasinya terhadap Pendidikan Islam”, Skripsi, UIN Sunan Kalijaga, 2007.

Mulyasa, E, 2004, Kurikulum Berbasis Kompetensi, Bandung : Rosdakarya

Hermawan, Yudan. dan Suryono, Yoyon. “Partisipasi Masyarakat dalam Penyelenggaraan Program-Program Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat Ngudi Kapinteran”, JurnalPendidikan dan Pemberdayaan Masyarakat, vol 3, no 1 (2016), http://journal.uny.ac.id.index,php/jppm, diakses 23 Maret 2017.

Illich, Ivan. Deschooling Society. Philadelphia US: The Saint Joseph University. 1971.

J. Villani, Christine. dan Atkins, Douglas. “Community Based Education”, The School Community Journal, vol 10, No 1, (2000), diakses 20 Maret 2017.

Katalog BPS. Salatiga dalam Angka 2016. Salatiga: BPS Kota Salatiga, 2016, 3.

Moreo. Kathi, “Specific In the Educational Outcomes of Those Students Who Are

Homeschooled VS. Students in A Traditional School Setting”, Thesis,

Nothern Michigan University, 2012,

https://www.nmu.edu/education/sites/DrupalEducation/files/UserFiles/Mor eau_Kathi_MP.pdf, diakses 23 Maret 2017.

Muhtadi, Ali. “Pendidikan dan Pembelajaran Homeshooling (Suatu Tinjauan Teoritis

dan Praktis), Majalah Ilmiah Pembelajar, Volume 4, Nomor 1 (Mei 2008). Musrofi, M. Melesatkan Prestasi Akademik Siswa, Yogyakarta: Pedagogia, 2010. Musrofi, M. Sukses Akademik Tanpa Stres dan Tambah Jam Belajar. Sukoharjo:

Talent Center. 2013. Permendikbud No 129 tahun 2014

Santoso, Harry. Fitrah Based Education. Bekasi: Cahaya Mutiara Timur. 2015. Saputra, Budiyono. Managemen Penelitian Pengembangan. Yogyakarta: Aswaja

Pressindo. 2016.

Suharto, Toto. “Konsep Pendidikan Berbasis Masyarakat”, Cakrawala Pendidikan, no 3, (2005), diakses 23 Maret 2017.

The Departement of Education and Early Childhood Development. Community Based Learning, A Resource for Schools. Nova Scotia Canada. website:

https://www.ednet.nsca/docs/cbl-resource.pdf. diakses tanggal 25 Maret 2017

Undang – Undang No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional

http://salatiga.siap.web.id/data-sekolah/data-daftar/ , di akses tanggal 25 Agustus 2016. Yuli Sugiartini, Diyah. “Mengenal Homeschooling Sebagai Lembaga Pendidikan

Narasumber : Retno Dewi Widyastuti (Konselor CBE Kampung Juara Salatiga)

Tanggal : 23 Maret 2017 Waktu : Pukul 14.05 WIB

Tempat : Di Rumah Narasumber

Peneliti : Kapan CBE berdiri?

Narasumber : Sebenarnya tercetusnya sudah lama, sejak anak-anak lebah putih

masih kelas 5. Tapi mulai dirintis sejak dari tahun 2015. Dan baru resmi legal akhir -akhir ini. Dan itu di awali oleh kegalauan orangtua yang anaknya mau lulus dari Lebah Putih. Soalnya Lebah Putih kan sudah berbeda konsepnya sama sekolahan lain, takutnya anak-anak belum tentu krasan dengan sekolah-sekolah itu. Tapi CBE ini sebenernya bukan hanya untuk anak-anak yang selesai dari Lebah Putih aja, yang masih sekolah juga boleh masuk, yang homeschooling juga boleh masuk.

Peneliti : Apa yang melatarbelakangi orangtua bergabung di CBE atau

mencetuskan CBE?

Narasumber : Kita mencari metode pembelajaran yang berbeda. Kalau di sekolah

formal anak-anak kan mempelajari semua mata pelajaran, jadi kita pingin anak-anak

mempelajari mata pelajaran yang memang dibutuhkan sama mereka. Kita ingin “Start from the Finish Line”, pinginnya anak mau jadi apa, terus kita tarik garis ke bawah,

kita breakdown, mata pelajaran apa saja yang perlu dipelajari anak. Jadi tidak dipukul rata. Kondisi semacam ini tidak ada di sekolah formal. Lalu bagaimana caranya kita membikin CBE itu.

Narasumber : Kalau saat ini usia 4 tahun sudah ada yang gabung di CBE, sampai yang paling besar itu usia 16 tahun.

Peneliti : Adakah syarat khusus bagi anak yang mau bergabung dengan CBE?

Narasumber : Ya ada, syaratnya orangtuanya harus ikut dan lulus di Sekolah

Orangtua.Kalau orangtuanya tidak mau terjun kita tidak mau terima. Jadi pertama, itu ada interview orangtua. Jadi istilahnya ada perjanjian dulu. Di CBE itu kan ada penasehat yaitu Pak Dodik dan Bu Septi, kemudian ada konselor yang tugasnya menginterview orangtua dari keluarga yang mau bergabung, dan ada beberapa divis i. Divisi Rumah Ilmu tugasnya mengurusi kurikulum personalnya anak, dan pembelajaran anak. Terus ada divisi Rumah Hati yaitu sekolahnya orangtua, divis i Rumah Arta yang mengurusi keuangan dan ada divisi Sumber Daya yang tugasnya mengurusi fasilitas-fasilitas yang dibutuhkan anak dalam pembelajaran. Selain itu di CBE juga ada Lurah atau yang berlaku sebagai ketua, dan Carik sebagai sekretaris. Karena ini namanya Kampung maka kita buat nama-nama kepengurusan kayak sebuah kampung.

Jadi syarat utamanya itu orangtua harus ikut interview dulu dengan orangtua, baru ikut Sekolahnya orangtua di Rumah Hati, dan itu juga ada lulus tidak lulusnya. Yang tidak lulus itu biasanya yang tidak konsisten, yang tidak istiqomah dan tidak mengerjaka n tugas dengan baik di Rumah Hati. Sebenernya kasihan sekali kalau misal anaknya pingin sekali gabung di CBE tapi orangtuanya setengah-setengah. Karena faktor utama kan orangtua, maka orangtua harus konsisten.

Peneliti : Anggota CBE ini kebanyakan datang dari masyarakat golongan apa

mbak?

Narasumber : CBE ini kan punya tagline “Beragam, Bahagia, Mulia”. Beragam

maksudnya kita tidak bicara masalah SARAT ya. Dari sukub bangsa apapun, dari agama apapun, dari golongan politik apapun, dari latar belakang ekonomi keluarga

seperti, itu tidak masalah. Tapi yang pasti kita tidak berbicara masalah itu. Kita Cuma bicara tentang pendidikan anak saja. Kalau memang jelas beda agama ya tidak apa-apa. Prinsip kami, bagimu agamamu, bagiku agamaku. Kita saling menghargai aja. Kalau kita berbeda aliran aja, kita juga saling menghargai. Jadi misal ada salah satu anak yang sedang diajar sama saya, trs pas lagi sholat kok dia gerakannya berbeda, kita tidak boleh langsung menegur anaknya. Jadi nanti kalau sudah ketemu sama orangtuanya, kita baru menanyakan pelan-pelan ke orangtuanya. Apa memang seperti itu, atau anak yang masih salah belajar sholatnya. Kita boleh langsung menegur anak, kalau itu berkaitan dengan adab. Misal si anak makan sambil jalan, orangtua CBE yang sedang berada didekatnya harus menegurnya. Jadi kita anggap semua anak itu adalah anak kita semua.

Peneliti : Kalau CBE ini kan berbasis komunitas ya mbak ya? Adakah bedanya

dengan homeschooling?

Narasumber : Kalau homeshooling itu kan ada yang individu, jadi tergantung

keluarga masing- masing. Tapi kalau CBE ini adalah homeschooling yang berkelompok. Untuk kurikulumnya tetap personalize and customize curiculum. Dalam praktiknya, kita bersama-sama mengajar satu anak, walaupun di situ ada banyak anak, ya kita ajar bersama. Tapi kita mempunyai kurikulum yang wajib. Wajib untuk orangtua dan yang wajib dipelajari oleh anak, baru nanti istilahnya setelah lulus matrikulasi yang wajib itu, baru nanti yang customize atau personalize kurikulum. Jadi anak-anak yang di CBE ini tiap hari ketemu berkumpul untuk mempresentasikan apa yang telah dilakukan. Sekitar 2 jam. Baru setelah 2 jam mereka melakukan apa yang mereka pelajari masing- masing. Yang mengajar itu ya fasilitatornya adalah kita-kita secara berganti-gantian. Misalnya hari senin dengan saya di perpustakaan daerah, selasa dengan ibu A di perpustakaan IAIN , hari rabu belajar berenang dengan ibunya siapa, pokoknya ganti-ganti. Kecuali kalau kita gak bisa ya mbak. Misal gini, si A inginnya menjadi gitaris. Anak itu ingin berlatih gitar, sedangkan kami tidak ada yang bisa bermain gitar, baru kita carikan fasilitator dari luar dan itu yang berbayar. Tapi

sebelumnya kita tanyakan ke orangtuanya biaya segitu sanggup tidak, gitu. Itu tugasnya Divisi Rumah Sumber Daya untuk mencarikan hal-hal seperti ini.

Peneliti : Kalau sekolah komunitas ini ada semacam SPP tidak mbak?

Narasumber : Ada, SPPnya perkeluarga. Misal anaknya 5, atau 2, atau 1 ya bayarnya

tetap sama, dihitung 1 keluarga.

Peneliti : Berapa itu mbak?

Narasumber : Kalau sementara saat ini masih Rp 25.000,00 per bulan.

Peneliti : Berarti kalau misalnya anak-anak mau belajar praktik apa, gitu gimana

mbak?

Narasumber : Ya mereka pakai uang mereka sendiri. Kan berbeda-beda. Pokoknya

kalau iuran keanggotaan per bulan itu Rp 25.000,00. Tapi untuk uang masuknya, istilahnya uang pendaftaran dan uang gedung itu Rp 300.000,00. Kalau sudah praktik, itu uang masing- masing, CBE tidak menanggung. Misal kalau praktiknya berkuda, wah CBE bisa tekor bayarin...

Peneliti : Ini tadi kan CBE setiap hari berkumpul, itu satu minggu full atau

bagaimana?

Narasumber : Satu minggu full dari hari senin sampai hari Jumat. Tapi kita itu Cuma

ketemu selama 2 jam saja. Setelah itu mereka melanjutkan sesuai dengan passionnya.

Peneliti : terus yang mereka pelajari di sekolah komunitas yang 2 jam itu apa

mbak?

Narasumber : Jadi gini, kalau anak yang tadinya sekolah formal terus menuju ke

homeschooling atau CBE ini istilahnya ada sakitnya. Berarti jika anak itu sekolahnya 6 tahun, istilanya dia sakitnya selama 6 bulan. Jadi selama 6 bulan itu istilahnya UNSCHOOLING (tidak sekolah). Gunanya untuk detoxifikasi racun-racun, yang

tadinya di sekolah tertekan, banyak PR, sering dibully, itu dibuang semua. Kita ajak pergi, tapi sambil belajar. Dan pada masa itu anak-anak dibimbing untuk menguasai 10 Dasar Ketrampilan.

Peneliti : CBE itu berbeda dengan Qoryah Toyyibah tidak mbak?

Narasumber : Jadi yang punya Qoryah Toyyibah itu kan Pak Bahrudin. Dia itu

ownernya, yang mendirikan juga, kemudian mengajak masyarakat disekitar itu untuk belajar bersama terus akhirnya sampe ke mana-mana. Pak Bahrudin itu sebenarnya satu komunitas juga dengan Bu Septi, untuk konsepnya memang hampir sama, based on fitrah, based on talent, bedanya disana tidak ada sekolah orangtua. Di sana fasilitato r dibayar, merekrut dari luar, tapi kalau di CBE fasilitator ya kita sendiri yang tahu anaknya.

Peneliti : Kalau di CBE fasilitator free ya mbak?

Narasumber : Saat ini fasilitator free.

Peneliti : Tadi kan dibilang kurikulumya personalize dan customize mbak

berarti metode belajarnya kan sendiri-sendiri menurut anak-anak. Lha kalau pas belajar bersama-sama di sekolah komunitas, adakah metode khusus yang diterapkan oleh CBE yang berbeda dengan sekolah mbak?

Narasumber : Bedanya yang pertama di materi mbak. Kalau tadi ada program

unschooling yang mana ada penyampaian 10 Ketrampilan Dasar, kemudian matrikulas i itu juga diadakan secara bersama-sama. Dalam matrikulasi itu yang pertama tentang kultur, menyamakan kulturnya anak-anak CBE. Kulturnya itu adalah ADAB SEBELUM ILMU. Adab itu kan turunannya banyak sekali mbak, contohnya, adab murid terhadap guru, adab guru terhadap murid, adap murid terhadap buku dan lain-lain. Pokoknya sekarang anak CBE itu tidak ada anak yang membeca buku kemudian bukunya ditekuk untuk memberi tanda. Bicara tentang adab itu dah banyak sekali waktunya yang dialokasikan. Setelah itu mereka dibimbing untuk memahami tagline

CBE. Beragam itu seperti apa, bahagia tolok ukurnya bagaimana, mulia itu seperti apa. Kalau bab 1 sudah jalan, baru dilanjut ke fitrah. Fitrah itu ada apa aja? Ternyata fitrah itu ada fitah iman, fitrah bakat, fitrah belajar, fitrah perkembangan, fitrah seksual, fitrah gender, fitrah estetika, fitrah komunal, itu yang harus dipahami terutama oleh orangtua selaku fasilitator. Setelah semuanya sudah disampaikan, baru ke akademisnya mbak. Akademis itu akhir-akhir. Yang penting adabnya dulu. Karena itu pondasinya. Akademisnya itu cuma struktur berpikir dan komunikasi. Struktur berpikir itu seperti apa? Penguatan di sceptical thinking, logical thinking, creative thinking dan mind mapping. Sedangkan untuk komunikasi itu bukan bahasa inggris, atau bahasa yang lainnya. Tetapi bagaimana caranya berbicara, membaca, menulis, bagaimana cara mendengarkan. Jadi mendengarkan itu seperti apa sih? Terus nanti prakteknya sama orangtuanya masing- masing.

Peneliti : Implementasi yang customize dan personalize curriculum itu seperti

apa mbak?

Narasumber : Implementasinya tiap anak sendiri-sendiri sesuai dengan bimbinga n

orangtuanya. Jadi tiap hari kan anak-anak tetep berkumpul ketemu, mereka mempresentasikan apa yang mereka sudah pelajari. Selain itu kita tanya mereka, kamu pingin jadi apa sih? Misal mereka ingin menjadi chef. Berarti orangtua juga ikut belajar. Orangtua dan Divisi Rumah Ilmu meminta anak mencari 10 master chef indonesia, 10 master chef dunia, broswing-browsing nama alat-alat masak dan sebagainya. Kalau dia ingin serius menggeluti dunia itu, kita biuatkan silabusnya. Kemarin saya baru saja dari tempaynya Bu Manzu untuk meminta tolong membuatka n silabus.

Peneliti : Adakah anak CBE yang pernah ikut lomba-lomba?

Narasumber : Iya ada, tapi biasanya itu lomba yang bisa diikuti oleh umum. Terus

nanti mereka dibantu oleh orangtuanya membuat portofolio. Contohnya ada salah satu dari kami yang yang sudah berusia 16 tahun, dia dari dulu tidak pernah sekolah. Kalau

misal mau ikut tes toefl ya ke UKSW. Kalau memang anak ingin punya ijazah kan kita bekerja sama dengan PKBM, tapi kalau misal tidak mau ya tidak apa-apa. Kita Cuma mengeluarkan sertifikat saja dari CBE. Jadi kalau dia mau melanjutkan kuliah, dia bia menggunakan portofolionya itu untuk mendaftar. Saat ini kita sudah kerjasama dengan UNIKA untuk penerimaan anak-anak CBE yang full homeschooling. Jurusannya design grafis.

Peneliti : Bagaimana membuatkan kurikulum buat masing-masing anak?

Istilahnya bagaimana contoh implementasi customize curriculumnya CBE, mbak?

Narasumber : Misal Chelsea, dia kan ingin menjadi penari, kalau belajar menari itu

apa to yang dipelajari? 1) Gerak atau koreografi; 2) Tata rias wajah dan tata busana; 3) Seni budaya seluruh Nusantara, berarti kan berhubungan dengan sosiologi dan IPS; kalau misal anak ingin ke luar negri kan berarti harus bisa berkomunikasi, oke berarti belajar bahasa Inggris, karena struktur berfikir harus jalan, berarti harus belajar matematika, tapi matematikanya tidak serumit yang dipikirkan anak. Kalau sin, cos, tan itu kan untuk anak arsitek, terus integral itu buat anak apa, tapi kalau untuk penari cukup matematika logika saja. Jika A maka B, gitu saja mbak.

Kalau misal dengan berjalannya waktu, pas lagi belajar jadi penari tiba-tiba anak tertarik dengan pariwisata, ya tidak apa-apa. Pas belajar tentang bangunan- banguna n bersejarah mereka jadi tertarik di sejarah ya tidak masalah, siapa tahu nanti malah bisa jadi ambasador, atau diplomat, jadi dari keinginan anak jadi penari saja, turunannya sudah banyak sekali. Yang penting anak suka dan enjoy menjalaninya. Tidak ada intervensi sedikitpun dari orangtua.

Peneliti : Terus untuk anak-anak CBE yang sementara masih bersekolah di

sekolah formal gimana mbak?

Narasumber : tidak masalah, sementara mereka ikut program-program CBE yang

Peneliti : Kalau pandangannya mbak dewi tentang sekolah formal itu gimana mbak? Kalau chelsea (anak mbak Dewi) kan di Lebah Putih ya. Walaupun sekolah formal, tapi berbeda dengan sekolah formal yang lainnya. Kalau sekolah yang lainnya umumnya di Indonesia atau khususnya di Salatiga gimana, mbak?

Narasumber : Sebenarnya kalau dilihat dari segi sejarah, sekolah kan dimulai awal

abad 20an. Berawal dari revolusi industri, orangtuanya bekerja, terus anak-anaknya dititipin ke sekolah, tapi kebablasen sampe saat ini. Padahal sebenarnya yang tahu sifat, karakter dan bakat itu kan orangtuanya. Kalau misal kita titipin ke sekolah kok rasanya kurang sreg ya menurutku.kalau pengalaman dan kesan yang saya rasakan tentang sekolah kok kita harus mempelajari semua mata pelajaran, akhirnya Cuma bisa setengah-setengah. Dan sayapun masuk jurusan-jurusan waktu SMA Cuma ikut-ikuta n saja. Sayang banget. Semua dipelajari, tapi tidak ada yang fokus. Malah yang diunggul-unggulkan adalah matematika dan IPA. Jika anak suka mate pelajaran itu, pasti nilainya kan bagus, akhirnya mereka dikategorikan sebagai anak pintar. Yang nilainya jelek di mata pelajaran itu berarti anak bodoh. Inilah yang memupus fitrah anak.

Narasumber : Hermin Liana Sari (Divisi Rumah Ilmu CBE Kampung Juara)

Tanggal : 23 maret 2017 Waktu : Pukul 17.00 WIB

Tempat : Di Rumah Narasumber

Peneliti : Mengapa mbak Hermin sekeluarga tertarik ikut CBE Kampung Juara?

Narasumber : karena unik aja. Beda sama yang lain. Pertama saya tak cerita tentang

sejarahnya kenapa saya sampai memilih menyekolahkan anak di Lebah Putih. Dulu sebelum saya pindah ke Salatiga, saya tinggal di Semarang. Saat itu anak saya yang besar saya sekolahkan di sekolah yang lumayan dekat dengan rumah. Sekolah itu baru, fasilitasnya lengkap dan biayanya murah. Tapi setelah seminggu masuk sekolah, anak saya mogok sekolah, tidak mau berangkat, dan ketika berangkat pasti ada drama sembari berlinangan air mata. Setelah itu saya pindahkan ke sekolah alam masih di Semarang juga. Alhamdillah anak saya krasan dengan model pembelajaran yang seperti itu.

Pada saat anak saya kelas 3, saya sekeluarga harus pindah ke Salatiga. Sebelum saya pindah, saya mencari informasi tentang sekolah di Salatiga yang bentuknya hampir mirip dengan sekolahan tempat anak saya sekolah saat itu. Akhirnya saya menemuka n Lebah Putih. Sekarang anak saya kan kelas 6, sebentar lagi mau lulus. Dari Lebah Putih, jadi saya ikut bergabung di CBE ini.

Di CBE kita jadi tambah mantep untuk mendidik anak sebagai amanah yang dititipka n Allah kepada kita karena kita bisa mendapatkan ilmu di Rumah Hati.

Peneliti : Bagaimana pandangan mbak Hermin dan suami dengan sekolah

formal?

Narasumber : Sebenarnya kita tidak terlalu fanatik sih. Misal nanti anak mau

memilih sekolah formal setelah ia lulus dari Lebah Putih ya tidak masalah. Toh juga banyak orang sukses dari sekolah formal. Mungkin orang yang sukses itu yang sesuai dengan potensi bawaannya, maka nilai akademisnya, jenjang karirnya menjadi cemerlang. Yang penting kami tetap mendampingi terus selama anak berproses.

Peneliti : Kebetulan mbak Hermin kan masuk di Divisi Rumah Ilmu, tugas mbak Hermin selama ini bagaimana?

Narasumber : Tugas kami di sini adalah ketika ada anak berkeinginan menjadi A,

maka kami membantu orangtua dan anak merumuskan apa saja yang akan dipelajar i anak.

Peneliti : Untuk metode pembelajaran di CBE bagaimana mbak? Adakah yang

spesial dari CBE?

Narasumber : Metode belajar mengajar pada CBE menurut orangtua sangat

menyenangkan karena dapat dilakukan di dalam rumah, di luar rumah, di tempat-tempat seperti bank, pasar, playground, supermarket, perpustakaan, dimana saja, kapan saja, dan anak bebas memilih pelajaran yang disukainya sehingga merasa nyaman. Anak-anak memiliki kebutuhan khusus dan sistem di sekolah formal tidak bisa memberikan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan khusus anak. Selain itu anak bisa belajar tanpa rasa tertekan, dan bisa belajar sesuai dengan passion serta sesuai dengan gaya belajarnya.

Peneliti : Apa kendala dan hambatan CBE selama ini?

Narasumber : Mungkin hambatan dari dalam orang-orang sendiri. Masih banyak

yang kurang konsisten. Jadi istilahnya mereka maunya pasrah anaknya dididik oleh fasilitator CBE tapi orangtunya tidak mau repot. Itu ada. Ada beberapa yang mengundurkan diri dari CBE karena katanya tidak sesuai dengan visi misi keluarganya.

Tagline kita kan “Beragam, Bahagia, Mulia” ada beberapa keluarga yang tidak bisa dengan keberagaman. Maka mereka memilih mundur dari CBE. Tapi kami tidak apa-apa sih. Yang terpenting bagi kami adalah pendidikan anak.

Narasumber : Wahyu Budi Utomo (Fasilitator CBE, bukan orangtua anak)

Dokumen terkait