BAB III AGAMA KHONGHUCU PADA MASA ORDE LAMA DAN ORDE BARU DI SURAKARTA. A. Agama Khonghucu pada Masa Orde Lama di Surakarta

Teks penuh

(1)

BAB III

AGAMA KHONGHUCU PADA MASA ORDE LAMA DAN ORDE BARU DI SURAKARTA

A. Agama Khonghucu pada Masa Orde Lama di Surakarta

Pada jaman presiden Soekarno, agama bukan sebuah persoalan. Artinya, secara politis kebebasan beragama tidak terlalu diintervensi sehingga kehidupan beragama di Indonesia nyaris tanpa masalah, terutama bagi masyarakat atau umat pemeluk agama Khonghucu. Akan tetapi sebagaimana dikatakan oleh Tjie, “aktivitas atau kegiatan keagamaan di Lithang Surakarta berjalan biasa saja, tidak ada yang terlalu menonjol. Kegiatan tersebut merupakan kebaktian rutin pada setiap hari Minggu pagi”.1

Agama Khonghucu oleh Soekarno diakui sebagai salah satu agama yang ada di Indonesia selain Islam, Kristen, Katolik, Hindu, dan Budha. Hal itu tercantum dalam keputusan presiden No. 1/Pn.Ps/1965 1/Pn.Ps/1965, yang menegaskan bahwa agama resmi di Indonesia menjadi enam, termasuk Konghucu. Pada awal tahun 1961, Asosiasi Khung Chiao Hui Indonesia (PKCHI), suatu organisasi Khonghucu, mengumumkan bahwa aliran Konghucu merupakan suatu agama dan Confucius adalah nabi mereka. “Bahkan pada masa itu umat penganut agama Khonghucu di Surakarta ini sangat banyak, hingga mencapai ribuan”.2

1

Wawancara dengan Thjie Tjai Ing pada Tanggal 25 Juli 2014

2

(2)

Menurut Buana Jaya, “agama khususnya Khonghucu pada jaman Soekarno tidak begitu menjadi persoalan”3. Artinya, kebijakan-kebijakan yang diambil oleh pemerintahan Soekarno pada waktu itu tidak mengintervensi keberlangsungan agama yang ada di Indonesia.

Lebih lanjut Tjie mengatakan “meskipun pemeluk agama Khonghucu sangat banyak, hampir semua orang Tionghoa memeluk agama Khonghucu, namun yang datang untuk beribadah atau mengadakan kebaktian di Lithang Surakarta hanyalah sedikit”. Hal ini disebabkan karena umat Khonghucu bisa menjalankan ibadah atau kebaktian di rumah atau di Klenteng.

Dibawah ini beberapa hal yang terjadi pada masa Orde Lama :

1. Prosesi Keagamaan

Prosesi Keagamaan umat Khonghucu praktis tidak mengalami intervensi dari pemerintah. Umat agama Khonghucu, khususnya di Surakarta bisa melaksanakan peribadatan secara khidmat dan tenang sebagaimana pemeluk umat agama lain yang ada di Surakarta menjalankan ibadahnya. Upacara-upacara keagamaan Khonghucu bisa dilaksanakan tanpa ada gangguan dari pihak manapun. Pemerintah juga menjadikan hari-hari besar dalam agama Khonghucu sebagai hari libur fakultatif. Beberapa hari besar umat Khonghucu tersebut antara lain, tahun baru Imlek, hari lahir nabi Khonghucu, hari wafat nabi Khonghucu, dan hari raya Ching Bing. Hal ini menunjukkan bahwa agama Khonghucu dipandang sama dengan agama-agama lain yang ada di Indonesia. Sekolah yang

3

(3)

berada di bawah naungan yayasan Tripusaka yang notabene miliki Majelis Agama Khonghucu (MAKIN) Surakarta juga menjadikan hari-hari besar agama Khonghucu sebagai hari libur.4

2. Bidang Pendidikan Agama Khonghucu.

Di jaman Soekarno, agama Khonghucu merupakan salah satu agama yang diakui oleh pemerintah. Penyampaian pelajaran agama bisa disampaikan secara formal di sekolah-sekolah. Pada masa pemerintahan Soekarno, yayasan Tri Pusaka yang bergerak di bidang pendidikan, MAKIN Surakarta memberikan pendidikan keagamaan atau ajaran-ajaran Kong Fu Tze kepada siswa-siswa SD Tripusaka yang berada di lokasi kantor Majelis Agama Khonghucu (MAKIN) Surakarta. Di bawah organisasi Kong Kauw Hwee mendirikan sekolah yang bertujuan untuk memberikan pendidikan bagi anak-anak yang kurang mampu atau miskin.5 Pada mulanya sekolah tersebut sekedar mengajarkan kepada siswa dan siswinya bisa membaca, menulis, dan diajarkan pula agama Khonghucu yang antara lain mengenai budi pekerti. Artinya, tidak sesuai dengan kurikulum sebagaimana diatur oleh pemerintah. Oleh karena itu murid-murid yang belajar di Lithang Surakarta tidak bisa mengikuti ujian nasional. Baru pada tahun 1954 sekolah tersebut dapat bergabung dengan pemerintah dan mengikuti kurikulum sebagaimana yang sudah ada.6

4

Wawancara dengan Buana Jaya pada Tanggal 23 Desember 2014 5 Wawancara dengan Thjie Tjai Ing pada tanggal 7 Maret 2014

6

(4)

3. Prosesi Pernikahan Agama Khonghucu

Sebagaimana agama-agama lain yang ada di Indonesia, agama Khonghucu juga memberikan pelayanan pernikahan secara agama Khonghucu bagi umatnya. Pemberkatan pernikahan agama Khonghucu di Surakarta diadakan di Lithang

Swan Kong Tong. Pada masa pemerintahan presiden Soekarno, pernikahan tidak mengalami masalah. Setiap orang memiliki hak untuk menikah dan memilih agama masing-masing yang mereka percayai karena memang pada masa pemerintahan presiden Soekarno, agama Khonghucu adalah agama yang sah di Indonesia dan menjadi salah satu agama yang di akui.7 Apapun agamanya, bisa menikah sesuai dengan keyakinan yang mereka anut. Apalagi, pernikahan secara agama tertentu juga tidak ditulis di dalam surat atau akta pernikahan.

4. Kependudukan

Pada jaman pemerintahan Soekarno, belum ada kebijakan agama masuk dalam kartu identitas, dalam hal ini KTP. Tidak ada kolom agama dalam kartu identitas tersebut sehingga umat Khonghucu tidak perlu mencantumkan identitas agama mereka di dalam KTP.

Misalnya, agama tidak perlu dicantumkan di kartu identitas semacam KTP. Keberlangsungan kehidupan beragama justru didorong sebagai kekuatan spiritual. Khonghucu, yang diakui sebagai salah satu agama di Indonesia, juga dianggap sama atau sejajar kedudukannya dengan agama-agama lain seperti Islam, Kristen, Katolik, Hindu, maupun Budha. Begitu pula mengenai hak-hak

7

(5)

sipil yang lain seperti pernikahan.8 Demikian pula pemeluk agama Khonghucu di Surakarta. Mereka tidak merasa risau atau tidak mengalami persoalan dalam hal pencantuman identitas agama di KTP karena memang tidak ada kolom agama di dalamnya.

5. Kesenian dan Budaya Agama Khonghucu

Umat agama Khonghucu di Surakarta pada masa pemerintahan Soekarno juga memiliki kesenian, yaitu Liong dan Barongsai. Kesenian Barongsai dan

Liong tersebut juga berkaitan dengan keyakinan umat Khonghucu. Misalnya, umat Khonghucu percaya bahwa pada kelahiran nabi Khong Fu Tse, binatang

Qilin muncul. Oleh karena itu, pada setiap merayakan hari kelahiran nabi Khong Fu Tse selalu dihadirkan kesenian Liong dan Barongsai, dimana hal itu merupakan representasi dari kehadiran binatang Qilin. Kesenian Liong dan Barongsai pada masa pemerintahan presiden Soekarno boleh dipertontonkan scara umum dan busana khas China yang identik dengan warna merah boleh dipakai. Sama sekali tidak ada pelarangan dari pemerintah. Hal ini juga berdampak pada jumlah penganut agama Khonghucu, pada masa pemerintahan Soekarno mencapai ribuan.9

B. Kehidupan Beragama Umat Khonghucu pada Masa Orde Baru di

Surakarta

Dinamika agama Khonghucu tidak bisa dilepaskan dari pengaruh politik. Kebijakan politik telah membawa dampak atau pengaruh terhadap perkembangan

8

Wawancara Buana Jaya pada tanggal 23 Desember 2014.

9

(6)

agama Khonghucu yang mayoritas pemeluknya etnis Tionghoa. Sebagaimana yang telah disinggung pada bab sebelumnya, salah satu wujud kebijakan yang dijalankan oleh pemerintah Orde Baru adalah diterbitkannya Inpres No. 14 tahun 1967. Kebijakan tersebut membawa pengaruh negatif bagi kehidupan agama Khonghucu karena isinya dianggap mengandung unsur diskriminatif terhadap etnis Tionghoa, khususnya umat Khonghucu.

Instruksi Presiden Nomor 14/1967 yang berisi bahwa pemerintah hanya mengakui lima agama yaitu Islam, Kristen, Katolik, Hindu dan Budha. Artinya bahwa Khonghucu bukanlah agama yang diakui oleh pemerintah. Kebijakan tersebut membuat hak-hak sipil penganut Khonghucu dibatasi. Perayaan keagamaan di gedung dan fasilitas publik dilarang. Hari raya Imlek tidak dimasukkan dalam hari besar di Indonesia. Dari segi pendidikan, sekolah di bawah yayasan Tri Pusaka tidak boleh mengajarkan pelajaran agama Khonghucu.10

Surat Edaran (SE) Menteri Dalam Negeri Nomor 477/74054/BA.01.2/4683/95, tanggal 18 November 1978, yang menyatakan hanya ada lima agama di Indonesia; Islam, Kristen Protestan, Kristen Katolik, Hindu, dan Budha. Padahal, saat SE ini diterbitkan, UU Nomor 5 Tahun 1969 dan Penetapan Presiden Nomor 1.Pn.Ps. Tahun 1965 belum dicabut. 12 tahun kemudian pemerintah melalui Mendagri kembali menerbitkan surat serupa bernomor 77/2535/POUD, tanggal 25 Juli 1990 yang menyatakan bahwa hanya

10

(7)

lima agama yang diakui di Indonesia: Islam, Kristen Protestan, Kristen Katolik, Hindu, dan Budha.11

Walaupun tidak disebutkan secara eksplisit tentang larangan agama Khonghucu di Indonesia, namun dengan diberlakukan undang-undang yang hanya mengakui adanya lima agama yaitu Islam, Kristen, Katholik, Hindu, dan Budha, maka dengan sendirinya agama Khonghucu tidak termasuk di dalamnya. Artinya, agama Khonghucu tidak dianggap agama di Indonesia.

Kebijakan-kebijakan pemerintahan Orde Baru melalui Inpres dan Surat Edaran sebagaimana disebutkan di atas, telah membawa dampak yang kurang baik bagi umat Khonghucu pada khususnya. Para pemuka agama Khonghucu menilai bahwa hal tersebut merupakan perilaku diskriminatif. Mengenai hal ini, Haksu Tjie mengatakan bahwa “kenyataan tersebut berkaitan dengan keadaan politik pada tahun 1965, yaitu terjadinya peristiwa G 30/S PKI. Rupanya ada anggapan bahwa Negara RRC merupakan Negara komunis pada waktu itu, maka muncul stigma pemeluk agama Khonghucu yang mayoritas etnis China, pasti juga berbau komunis”.12

“Aimee Dawis menyebutkan bahwa karena Tionghoa diduga menjalin hubungan dengan komunis Tiongkok, Soeharto memutuskan hubungan

11

Airin Liemanto., Ratio Legis Presiden Abdurrahman Wahid Menjadikan Khonghucu Sebagai Agama Resmi Negara (Analisis Keputusan Presiden Nomor 6 Tahun 2000 Tentang Pencabutan Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967 Tentang Agama, Kepercayaan, dan Adat Istiadat Cina), Skripsi, Malang: Universitas Brawijaya. 2014. hlm. 3.

12

(8)

diplomatik dengan Tiongkok, lalu mengimplementasikan kebijakan asimmilasi yang mengakibatkan erosi bahasa dan budaya Tionghoa”.13

Salah satu sentiment terhadap China adalah adanya sebagian kelompok China, misalnya BAPERKI yang aktivitasnya dianggap sejajar dengan PKI. Dikatakan bahwa sejak PKI meraih kesuksesan pada pemilu 1955 dan sikap simpati terhadap keturunan orang-orang China yang dinyatakan secara terang-terangan, aktivitas BAPERKI makin sejajar dengan PKI. Mulai saat itu komunisme diasosiasikan dengan China.

Pada bulan Oktober 1967, sebuah mata rantai yang penting yang menghalangi usaha pembauran dipatahkan ketika Indonesia memutuskan hubungan diplomatik dengan Peking. Setelah itu berbagai langkah dijalankan untuk membaurkan semua golongan China di Indonesia. Semua sekolah berbahasa China ditutup, termasuk sekolah-sekolah BAPERKI, dan diubah menjadi sekolah-sekolah negeri. Semua surat kabar China juga dilarang.

Dampak negatif dari kebijakan pemerintah Orde Baru sangat dirasakan oleh umat pemeluk Khonghucu, termasuk umat Khonghucu yang ada di Surakarta. Kehidupan keberagamaan mereka terganggu karena dalam menjalankan peribadatan sudah tidak sebebas pada masa sebelumnya (orde lama). Berkaitan dengan hal tersebut, Adjie Chandra menuturkan bahwa pada tahun 1979 akan diadakan kongres Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia

13

Dalam I Wibowo dan Thung Ju Lan (ed)., Setelah Air Mata Mengering: Masyarakat Tionghoa Pasca Peristiwa Mei 1998, (Jakarta: Media Nusantara), hlm.58.

(9)

(MATAKIN) di Surakarta, batal dilaksanakan lantaran ijin pelaksanaannya tiba-tiba dicabut. Padahal, semua delegasi yang ada di seluruh tanah air sudah datang dan siap mengikuti kongres. Kenyataan tersebut tentu saja sangat merugikan dan menimbulkan perasaan yang kurang nyaman khususnya bagi umat pemeluk agama Khonghucu.14

Selain hal di atas, hak-hak sipil umat Khonghucu dilanggar, tidak terkecuali umat Khonghucu yang ada di Surakarta. Di bawah ini akan diuraikan beberapa dampak dari kebijakan yang dijalankan oleh pemerintah Orde Baru selama kurang lebih 32 tahun.

a. Dampak bagi Kehidupan Keagamaan

Dampak negatif dari dikeluarkannya Inpres tersebut menyebabkan ruang gerak agama Khonghucu terbatasi. Misalnya, sulitnya mengadakan upacara atau kegiatan tertentu baik yang berkaitan dengan peribadatan maupun tidak, seperti mengadakan Munas MATAKIN. Setiap kali hendak mengadakan kegiatan atau upacara tertentu wajib melakukan ijin terlebih dahulu kepada pemerintah melalui lembaga yang berwenang. Peristiwa yagn terjadi pada tahun 1979 sebagaimana yang dipaparkan oleh Adjie Chandra di atas satu contoh adanya diskriminasi terhadap umat Khonghucu.

Di dalam menjalankan peribadatan, umat Khonghucu tidak serta merta dapat menjalankan secara bebas. Upacara atau kegiatan keagamaan dijalankan secara tertutup atau tidak diperkenankan diketahui oleh publik. Apabila hendak

14

(10)

melakukan upacara peribadatan, mereka diharuskan ijin terlebih dahulu terlebih kegiatan atau upacara agama tersebut membutuhkan tanah yang luas, artinya harus dilakukan di tempat yang terbuka. Mereka wajib menutup tempat tersebut agar tidak terlihat oleh publik. Kenyataan tersebut menunjukkan bahwa kehidupan beragama umat Khonghucu menjadi terganggu sekaligus merasa diperlakukan deskriminasi. “Misalnya pada tahun 1979, ketika MAKIN Surakarta ini hendak memperingati hari kelahiran nabi Khonghucu. Upacara itu termasuk besar dan butuh tempat. Biasanya juga dilakukan di Lithang. Maka kita tidak boleh keluar dari Lithang ini.”15

Di dalam Instruksi Presiden no 14 tahun 1967 tentang agama, kepercayaan dan adat istiadat China tanggal 6 Desember 1967 disebutkan bahwa Instruksi tersebut mengandung pengertian bahwa segala bentuk peribadatan, tata cara ibadah China yang memiliki aspek afinitas kulturil yang berpusat pada negeri leluhurnya pelaksanaan harus dilakukan secara intern dalam hubungan keluarga atau perorangan. Hal itu menunjukkan adanya usaha pembatasan terhadap kehidupan beragama umat Khonghucu. perayaan-perayaan pesta agama dan adat istiadat dilakukan secara tidak mencolok di depan umum melainkan dilakukan dalam lingkungan keluarga.

Berkaitan dengan hal ini, Buana Jaya mengatakan. “Melihat dari dampak yang ada, pemerintah Indonesia di bawah kepemimpinan presiden ke 2, telah melakukan pelanggaran hak asasi bagi pemeluk agama tertentu, membunuh

15

(11)

kesempatan keimannnya. Hal tersebut sebetulnya merupakan kezaliman penguasa pada saat itu”.16

b. Dampak dalam Bidang Pendidikan

Perlu diketahui bahwa MAKIN Surakarta memiliki yayasan yang bernama Tripusaka. Nama Tripusaka mengacu pada tiga pokok etika moral konfucian atau

Ti Jien Yong yang penjabarannya adalah Kebijakan, Cinta kasih, dan Keberanian atau menaruh perhatian terhadap pendidikan intelektual, perasaan dan kemauan. Salah satu bidang yang dijalankan oleh yayasan Tripusaka adalah bidang pendidikan. Di kota Surakarta terdapat sekolah yang berada di bawah naungan yayasan Tripusaka dalam berbagai jenjang yaitu SD, SMP, dan SMA. Sebagai sekolah yang berada di bawah yayasan Khonghucu, maka lembaga-lembaga pendidikan tersebut juga mengajarkan agama Khonghucu. “Sebagaimana yayasan lain yang berada di bawah organisasi keagamaan tertentu, sekolah-sekolah yang berada di bawah yayasan Tripusaka juga mengajarkan agama Khonghucu, dimana agama tersebut yang dianut dan diyakini oleh pihak yayasan”.17

Sekolah yang berdiri kira-kira tahun 1925 tersebut pada mulanya berupa pendidikan yang bertujuan untuk membantu anak-anak miskin agar bisa membaca bahasa melayu dan berhitung. Pada perkembangan selanjutnya, sekolah Tripusaka menjadi sekolah formal pada tahu 1935 tetapi masih bersifat membantu anak-anak ekonomi lemah. Baru sekitar tahun 1950 Tripusaka dijadikan sekolah nasional Indonesia dengan mata pelajaran mengikuti ketentuan pemerintah dengan tidak

16

Wawancara dengan Buana Jaya pada tanggal 23 Desember 2014. 17

(12)

meninggalkan misi semula. Pada tahun 1966 sekolah menampung anak-anak yang tidak dapat lagi sekolah lain, karena tuntutan sosial maka didirikan SMP siang pada tanggal 14 Februari 1967, yang kemudian masuk pagi mulai tahun 1976. SMP Tripusaka mendapatkan status diakui pada tanggal 31 Desember 1985 dan diperbaruhi status diakui pada tahun 1992 hinga sekarang. Kemudian pada tanggal 31 Oktober 1981, menyusul didirikan SMA Tripusaka yang kemudian mendapatkan status diakui pada tanggal 6 Januari 1986.

Namun dengan tidak diakuinya keberadaan Khonghucu sebagai agama di Indonesia, maka secara otomatis agama Khonghucu tidak masuk dalam kurikulum sekolah. Hal ini akan menyulitkan siswa pemeluk agama Khonghucu. Sebab seandainya agama Khonghucu tetap diajarkan di sekolah, maka para siswa tidak akan bisa mengerjakan atau tidak bisa mengikuti tes atau ujian. Hal ini sebagaimana yang dikatakan Haksu Tjie. “Sebenarnya tidak ada kata-kata yang secara jelas mengatakan bahwa agama Khonghucu dilarang di Indonesia. Namun dengan hanya diakuinya lima agama selain agama Khonghucu, maka para siswa pemeluk agama Khonghucu kesulitan, terutama ketika akan menghadapi tes ujian”.18

Salah satu sikap yang diambil adalah dengan memberikan dua pelajaran agama, yaitu agama Khonghucu dan agama lain yang diakui pemerintah sebagaimana yang tertulis dalam undang-undang. Dengan demikian para siswa tetap bisa mengikuti ujian agama, dan di sisi lain mereka tetap menerima pelajaran agama Khonghucu. Berkaitan dengan hal itu, Purwani selaku pengajar di SD

18

(13)

Tripusaka dan sekolah Warga pada waktu itu, mengatakan bahwa; “apa yang dilakukan tersebut memiliki tujuan agar pengajaran agama Khonghucu tetap bisa diberikan kepada siswa yang memeluk agama Khonghucu, dan pada saat yang bersamaan mereka juga dapat mengikuti kurikulum yang diberlakukan pemerintah, yaitu tetap bisa mengikuti ujian tes bidang studi agama”.19

Adapun mengenai agama yang diajarkan untuk kepentingan kurikulum, guru memilih agama Hindu. Pemilihan agama Hindu untuk keperluan tersebut didasarkan pada pertimbangan karena ada kedekatan dalam proses peribadatan misalnya sama-sama menggunakan dupa. Semula agama yang diajarkan oleh guru agama adalah Budha sebagai wujud untuk memenuhi tuntutan kurikulum sebagaimana yang diatur pemerintah. Akan tetapi di dalam prosesnya guru agama Khonghucu dan para tokoh Khonghucu Surakarta menilai ada indikasi „pencaplokan‟ siswa pemeluk agama Khonghucu oleh lembaga agama Budha.20

Situasi ini membuat para tokoh Khonghucu Surakarta mempertimbangkan kembali mengenai pilihan agama yang diajarkan di sekolah, terutama sekolah di bawah naungan MAKIN Surakarta, yaitu yayasan Tripusaka. Namun pada tahun-tahun selanjutnya, ada pelarangan sama sekali terhadap pengajaran agama Khonghucu di sekolah. Hal ini berdampak pada ditiadakannya pengajaran agama Khonghucu yang sebenarnya sudah berjalan walaupun di luar kurikulum dan tidak menjadi bidang studi yang akan diujikan kepada siswa. “Aturan yang melarang sama sekali untuk mengajarkan agama Khonghucu di sekolah, tidak mungkin

19

Wawancara dengan Purwani pada tanggal 23 Desember 2014.

20

(14)

untuk tidak dipatuhi. Sebab kalaupun guru bertekad memberikan pelajaran, sudah pasti akan ditegur oleh kepala sekolah”.21

Keadaan seperti itu telah membawa dampak yang „kurang baik‟ bagi agama Khonghucu, yaitu banyaknya umat pemeluk agama Khonghucu yang berpindah ke agama lain seperti Katholik, Protestan, dan Islam. Menurut apa yang dituturkan oleh Haksu Tjie, “mayoritas mereka berpindah ke agama Katholik”.22

Perpindahan agama tersebut sebagai upaya untuk menyikapi kebijakan pemerintah. Dengan kata lain, kebanyakan pemeluk agama Khonghucu yang pindah agama untuk mencari „selamat‟ agar tidak kesulitan kelak dikemudian hari dalam segala urusan yang berkaitan dengan adminitrasi dan birokrasi.

Kenyataan tersebut tentu saja secara kuantitas, umat pemeluk agama Khonghucu menjadi berkurang. Di Lithang Swan Khong Tong, yang kebetulan terdapat sekolah yang memang di bawah naungan yayasan Tripusaka juga mengambil sikap terhadap dampak dari diberlakukannya Inpres no 14 tahun 1967.

c. Dampak dalam hal Pernikahan

Pernikahan merupakan salah satu tahapan hidup yang harus dilalui oleh setiap orang. Pernikahan juga sesuatu yang sakral dan agung. Oleh karena itu agama apapun mengatur perihal pernikahan tidak terkecuali agama Khonghucu. Hal ini sebagaimana diatur di dalam UU Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, yang menyaratkan perkawinan sah apabila dilakukan menurut hukum

21

Wawancara dengan Purwani pada tanggal 17 Desember 2014.

22

(15)

masing-masing agama dan kepercayaan itu. Undang-undang tersebut berbunyi sebagai berikut “Perkawinan ialah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa”.23

Pernikahan bukan hanya sekedar legitimasi hubungan seksual antara seorang wanita dengan seorang pria. Sebuah pernikahan bukan juga sekedar upacara perestuan akan berlangsungnya proses lahirnya generasi baru manusia. Ternyata, pernikahan masih mempunyai fungsi yang ketiga, yaitu dimulainya kemandirian seorang anak manusia memasuki kehidupan bersosial. Artinya, anak manusia tersebut akan melakukan interaksi sosial secara mandiri.24

Pernikahan dalam pengertian ajaran Khonghucu sendiri adalah perkawinan antara laki-laki dan perempuan, pertautan antara Khian dan Khun-lah yang melahirkan keturunan anak manusia dan ini adalah Firman Tuhan atau Kodrat. Sebagaimana yang ada dalam kepercayaan agama Khonghucu bahwa Tuhan

(Tian/Thian) telah menciptakan manusia di dunia ini berlainan jenis Yin dan Yang

(pria dan wanita) yang saling melengkapi. Mereka memiliki Xin (Watak Sejati) dan juga memiliki Hi, Ho, Ay, Lok, 4 (nafsu-nafsu) yang mendorong mereka saling memiliki daya tarik, saling mengenal satu sama lain, saling mencintai, dan saling menyayangi untuk hidup bersama. Dengan kata lain, telah menjadi kodrat alam bahwa dua insan yang berlainan jenis kelamin itu membentuk suatu ikatan

23

Diambil dari UU Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.

24

(16)

lahir batin dengan tujuan menciptakan keluarga yang bahagia, sejahtera dan harmonis (Hee) serta abadi dalam ikatan perkawinan.

Menurut Confucius (Khonghucu) perkawinan adalah hal yang paling pokok dalam berkeluarga karena keluarga merupakan susunan masyarakat terkecil sebagai proses pembelajaran hidup dan arti kehidupan. Masa perkawinan adalah masa dimana memisahkan kehidupan dari orang tua (menuju proses berdikari) dimana mereka harus menentukan nasibnya sendiri untuk memenuhi kehidupannya, menjalin hubungan yang harmonis antara suami istri yang berbeda karakter dan sifat-sifatnya, membesarkan anak-anaknya berdasarkan pada tatanan etika moral Ren, Yi, Li, Ti, Yong dan Xin.25

Sebagaimana diketahui dalam kaitannya dengan alam, Khian

dilambangkan sebagai langit, sedangkan Khun dilambangkan sebagai Bumi. Berkaitan dengan metafisika, maka Khian itu melambangkan Tian ( Tuhan Khalik Semesta Alam ), sedangkan Khun adalah ciptaan-Nya yakni alam semesta dan seisinya. Dalam kaitannya dengan manusia, Khian dilambangkan sebagai laki-laki, sedang Khun dilambangkan sebagai wanita atau ibu. Bahwa “terjadinya berlaksana benda tak lain adalah pertautan antara (Khun/Yin dan Khian/Yang.

25

Ongky Setio Kuncono, Perkawinan Menurut Agama Khonghucu

Ditinjau Dari Undang-undang Nomor l Tahun 1974, dalam .

http://spocjournal.com/hukum/346-perkawinan-menurut-agama-khonghucu-ditinjau-dari-undang-undang-nomor-l-tahun-1974.html diakses pada tanggal 22 April 2014.

(17)

Maka hanya pertauta antara Khun/Yin (Perempuan) dan Khian/Yang (Lelaki) sajalah keturunan manusia itu akan terjadi”.26

Namun demikian, pada jaman Orde Baru, para pemeluk agama Khonghucu mengalami kesulitan dalam hal pernikahan. Artinya, umat Khonghucu tidak mendapatkan hak untuk ditulis di catatan sipil mengenai cara menikah mereka selaku pemeluk agama Khonghucu. Hal ini karena petugas catatan sipil tidak bersedia mencatat keterangan menikah dengan cara agama Khonghucu sebab agama tersebut tidak diakui di dalam undang-undang yang ada.

Di Surakarta, umat pemeluk agama Khonghucu melakukan prosesi pernikahan atau pemberkatan di dalam Lithang Swan Kong Tong. Tetapi ketika hendak didaftarkan ke catatan sipil, petugas tidak bersedia mencatat agama mereka. Hal ini terjadi karena agama Khonghucu tidak lagi diakui sebagai agama yang ada di Indonesia.

Sebagai konsekuensinya, mereka harus menggunakan agama lain dalam hal menikah, misalnya Budha. Sehingga pada surat nikah ditulis pernikahan tersebut dilakukan dengan cara agama Budha. Hal ini tentu membuat umat pemeluk agama Khonghucu merasa tidak nyaman. Namun pada satu sisi, mereka juga sulit untuk menentang kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah Orde Baru. Sebab di dalam ajaran yang mereka yakini, menyatakan bahwa perkawinan dianggap sah apabila telah disumpah di hadapan altar (tempat ibadah) Nabi

26

SoetandyoWignyosoebroto,1997,dalam

http://spocjournal.com/hukum/346-perkawinan-menurut-agama-khonghucu-ditinjau-dari-undang-undang-nomor-l-tahun-1974. html diakses paada tanggal 28 September 2014.

(18)

Khonghucu maupun Altar leluhur dan dilakukan oleh seorang Rohaniawan beserta saksi-saksi, disetujui oleh kedua belah pihak orang tua.

d. Dampak dalam hal Kartu Identitas atau KTP

KTP merupakan salah satu kartu identitas yang wajib dimiliki oleh setiap warga Negara Indonesia terutama yang sudah memenuhi syarat untuk memilikinya sebagaimana yang diatur di dalam undang-undang. Pada jaman pemerintahan Orde Baru atau Orba, para pemeluk agama Khonghucu mendapatkan kesulitan. Dengan kata lain, hak kependudukan penganut agama Khonghucu juga dilanggar. Penganut agama Khonghucu sebelum reformasi tidak bisa membuat Kartu Tanda Penduduk (KTP) dengan agama Khonghucu. Mereka boleh meminta KTP asalkan agama yang tertulis dalam kolom agamanya bukan agama Khonghucu, pemeluk Khonghucu biasanya memilih Budha atau Kristen dalam KTP mereka. “Dengan tidak diakuinya Khonghucu sebagai agama di Indonesi, maka umat Khonghucu juga tidak bisa menuliskan agama yang mereka anut pada kolom agama di KTP yang mereka miliki. Sehingga mereka dengan terpaksa mencantumkan agama lain yang sebenarnya di luar keyakinan mereka”.27

Akibat adanya Inpres tersebut, masyarakat atau umat pemeluk agama Khonghucu kehilangan hak sipilnya. Hak sipil itu antara lain; hak menikah secara agama Khonghucu, hak mencantumkan agama Khonghucu pada kartu identitas seperti KTP, hak mendapatkan pendidikan agama Konghucu baik di SD, SMP, SMA dan Perguruan Tinggi. Padahal, sebelum ada Inpres no 14 tahun 1967

27

(19)

tersebut, sudah ada TAP MPRS tentang keharusan diadakannya kurikulum dan pelaksanaan pendidikan agama Islam, Kristen, Katholik, Hindu, Budha, dan Khonghucu. Lebih jauh Buana Jaya menilai bahwa “melihat dampak sebagaimana dikatakan di atas, pemerintah Indonesia yang pada saat itu di bawah kekuasaan presiden Soeharto, telah melakukan pelanggaran hak asasi bagi pemeluk agama, khususnya Khonghucu”.28

Mengenai persoalan KTP, Purwani yang merupakan pemeluk agama Khonghucu sekaligus salah satu pengurus MAKIN Surakarta, juga pernah menuliskan agama di kolom KTP nya dengan agama Islam. Hal ini dilakukan karena adanya tuntutan keadaan waktu itu. Akan tetapi setelah reformasi, Purwani kembali mengganti identitas agamanya dengan Khonghucu.

e. Dampak dalam bidang Seni dan Budaya

Lebih jauh, Inpres no 14 tahun 1967 juga membuat budaya etnis Tionghoa menjadi terhambat, misalnya tidak diperbolehkan merayakan tahun baru Cina atau Imlek dan menampilkan ke publik kesenian Liong dan Barongsai. Kesenian Liong

dan barongsai pada masa Orde Baru tetap ada, walaupun dalam menampilkan kesenian ini harus secara sembunyi-sembunyi. Kesenian Liong dan Barongsai dilarang tampil di muka umum. Selain kesenian Liong dan Barongsai, dalam merayakan tahun baru China atau Imlek, pemeluk Khonghucu dilarang menggunakan busana khas China.

28

(20)

Tahun baru Imlek dan kesenian Barongsai dan Liong, sebenarnya bukanlah semata-mata bentuk kesenian atau wujud budaya belaka. Tetapi merupakan bagian dari ajaran agama Khonghucu itu sendiri. Mengenai Imlek, nabi Khong Zi yang merupakan penyebar agama Khonghucu, pernah bersabda bahwa, “Kembalilah pada penanggalan dinasti Xia.” Sekedar diketahui, sebelum

ada sabda itu, umat Khonghucu mengikuti penanggalan berdasarkan awal musim dingin. Imlek merupakan penanggalan berdasarkan awal musim semi atau musim tanam. Sedangkan dinasti Xia merupakan dinasti pertama, yaitu 23 abad SM. Dinasti Xia tersebut menetapkan tahun baru imlek pada awal musim semi. “Pada masa dinasti Shang, yaitu dinasti kedua, tahun baru Imlek diajukan di akhir musim dingin. Adapun nabi Khong Zi sendiri hidup pada masa dinasti Zhou, atau tepatnya dinasti ketiga setelah dinasti Shang”.29

Mengenai Barongsai dan Liong, orang China khususnya pemeluk agama Khonghucu menganggap bahwa dua binatang tersebut merupakan binatang yang sakral dimana juga menjadi bagian dari agama Khonghucu. Umat Khonghucu percaya bahwa dua binatang tersebut menyimbolkan tolak bala terhadap bencana, paceklik dan lain sebagainya. Selain itu, dengan binatang tersebut juga dipercaya memberikan pertanda akan adaya hari-hari yang lebih baik.

Pada kesenian Barongsai dan Liong di MAKIN Surakarta, ada tiga misi yaitu misi ritual, misi entertainmen dan misi olah raga. “Khusus mengenai misi ritual, Barongsai dan Liong yang dimainkan biasanya dominan dengan warna

29

Wawancara dengan Haksu Tjie Tjai Ing pada Tanggal 23 Desember 2014.

(21)

Hitam dan Putih atau merah dan putih sebagai simbol unsur Yin dan Yang karena dipercaya bisa menolak bala”.30

Selain beberapa dampak di atas, dampak lebih jauh dari kebijakan pemerintahan Orde Baru tidak hanya membatasi ruang gerak umat agama Khonghucu dalam menjalankan praktik keagamaannya saja melainkan juga membuat sebagian besar umat berpindah keyakinan. Mengenai jumlah pasti berapa banyak pemeluk agama Khonghucu di kota Surakarta, sulit ditelusuri. Namun menurut pengakua Tjhie Tjay Ing selaku sesepuh MAKIN Surakarta dan sekaligus salah satu pengurusnya, mengatakan bahwa “sebelum pemerintahan Orde Baru, umat penganut agama Khonghucu mencapai ribuan”.31

Kebijakan yang dijalankan oleh pemerintahan Orde Baru telah mengakibatkan mayoritas pemeluk agama Khonghucu berpindah agama. Mengenai berapa jumlah umat Khonghucu yang pindah agama juga sulit ditelusuri data yang valid. Namun yang jelas, secara kuantitas jumlah pemeluk agama Khonghucu jauh berkurang. Hal ini misalnya dilihat dari komposisi jumlah pemeluk agama (2013). Kepala Kantor Kemenag Surakarta, Ahmad Nasirin mencatat bahwa “pemeluk agama Islam 44.2654 jiwa, Kristen 83.519 jiwa,

30

Henricus Hans Sp., “Komunikasi dan Akulturasi (Studi Deskriptif Kualitatif Komunikasi antar Budaya Tionghoa dan Jawa dalam Proses Akulturasi pada Kelompok Barongsai di Yayasan Tripusaka Surakarta)”, Skripsi, Surakarta, FISIP UNS,2011. hlm.4

31

Wawancara dengan Haksu Tjhie Tjai Ing pada Tanggal 23 Desember 2012

(22)

Katolik 7.3275 jiwa, Hindu 1.283 jiwa, Budha 3.610 jiwa dan Konghuchu 500 jiwa, lainnya 9 jiwa”.32

Berdasarkan komposisi di atas, jumlah umat Khonghucu dapat dikatakan paling sedikit bila dibanding dengan jumlah pemeluk agama lain yang ada di kota Surakarta. Jumlah pemeluk agama Khonghucu masih sangat sulit dilakukan pendataannya. Hal itu mengakibatkan adanya perbedaan jumlah yang ada pada lembaga yang memiliki data statistik. Dalam hal ini dapat dicontohkan dari data BPS kota Surakarta yang menuliskan bahwa jumlah umat pemeluk agama Khonghucu 111.33

Adanya perbedaan data tersebut salah satunya disebabkan karena adanya umat Khonghucu yang memiliki KTP dimana pada kolom agama tercantum agama lain namun di dalam praktik keagamaannya tetap memeluk agama Khonghucu. Barangkali umat yang identitasnya sudah terlanjur tercantum di kolom KTP dengan agama lain karena dampak kebijakan Orde Baru, enggan mengurusnya agar bisa mengganti lagi identitas agamanya. Barangkali mereka malas melakukan itu karena sudah tua dan sebagainya.34 Jadi, sebenarnya jumlah pemeluk agama Khonghucu tidak sesuai dengan yang tercatat pada lembaga yang berwewenang seperti BPS atau Kemenag dan lain sebagainya. Misalnya saja, jumlah pengurus dan anggota MAKIN bisa mencapai 600 an. Namun yang hadir pada sembahyang rutin di Lithang hanya 10 persennya saja.

32

http://edysupriatna.blogspot.com/2014/08/surakarta-di-panggung-kerukunan antaragama.html#sthash.ExpnA5Pr.dpuf. Diakses pada tanggal 24 Desember 2014.

33

Wawancara dengan Adjie Chandra pada Tanggal 23 Desember 2014.

34

(23)

Di bawah ini merupakan contoh umat Khonghucu yang memiliki identitas agama Kristen meskipun masih tetap menjalankan kebaktian atau peribadatan agama Khonghucu.

Gambar 3

Contoh KTP Umat Khonghucu dengan identitas agama lain

Identitas agama yang tercantum dalam KTP sebenarnya bukan agama yang dianutnya tersebut merupakan perwujudan dari sikap yang ditujukan pada kebijakan pemerintah Orde Baru.Karena agama Khonghucu tidak diakui dan untuk menghindari persoalan, lebih baik mencantumkan agama lain di KTP.

Informasi lain tentang jumlah penduduk berdasarkan agama di Surakarta juga dapat dilihat dari data yang ada di Dispendukcapil Surakarta. Dari data yang ada menunjukkan bahwa penduduk Kota Surakarta pada umumnya memeluk agama Islam (77,78 persen), disusul kemudian pemeluk agama Kristen (14,37 persen) dan Katholik (7,50 persen). Sedangkan Hindu, Budha dan Konghucu serta aliran kepercayaan sangat sedikit (0,36 persen). Jika dikaitkan dengan wilayah

(24)

kecamatan, maka agama islam mendominasi semua wilayah kecamatan di Kota Surakarta.

Berdasarkan uraian di atas, Inpres dan segala bentuk aturan yang berkaitan dengan deskriminasi terhadap umat agama Khonghucu telah membawa dampak yang tidak baik bagi pemeluk agama Khonghucu. Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh Buana Jaya, “bahwa Inpres no 14 tahun 1967 yang dikeluarkan oleh presiden Soeharto memiliki tujuan untuk mengontrol sepenuhnya segala bentuk budaya yang dipandang asing khususnya yang datang dari Negara-negara komunis”.35 Dengan demikian maka tidak heran seandainya kegiatan keagamaan umat Khonghucu sangat dibatasi oleh pemerintah Orde Baru yang waktu itu pemegang kekuasaan.

C. Sikap Tokoh Agama Khonghucu

Kenyataan adanya perlakuan yang dikrimantif dari pemerintah Orde Baru, para pemuka agama Khonghucu tidak hanya pasrah atau diam dalam menyikapinya. Para tokoh Khonghucu melakukan upaya tertentu agar aktualisasi yang mereka lakukan dalam beragama tetap bisa dijalankan dengan sebaik dan senyaman mungkin sebagaimana halnya para pemeluk agama lain.

Kebijakan politik yang membatasi ruang gerak umat Khonghucu dalam menjalankan praktik keagamaan mereka, tidak serta merta seluruh pemeluk atau umat agama Khonghucu, khususnya di kota Surakarta meninggalkan keyakinan mereka. Umat Khonghucu yang masih bertahan atau tetap berpegang pada

35

(25)

keyakinannya sebagai pemeluk agama Khonghucu, mengakui bahwa dengan adanya kebijakan pemerintah Orde Baru yang bersifat diskriminatif terhadap umat Khonghucu, telah membawa dampak yang buruk bagi pemeluk Khonghucu. Banyak umat Khonghucu yang terpakasa harus pindah agama karena kebijakan pemerintah Orde Baru. Akibatnya, secara kuantitatif jumlah umat Khonghucu sangat banyak berkurang.

Data yang sudah dipaparkan di atas, baik dari BPS, Kemenag, maupun Dispendukcapil menunjukkan bahwa pemeluk agama Khonghucu tetap ada walaupun secara kuantitas sedikit. Para pemeluk agama Khonghucu yang masih memegang teguh keyakinan mereka di tengah kebijkan politik yang diskriminatif tersebut tetap membuat mereka terus berjuang untuk mengembalikan hak-hak mereka sebagai warga Negara dan sekaligus pemeluk agama sebagaimana yang diyakini.

Para tokoh atau pemuka agama Khonghucu bukan tidak melakukan tindakan apapun. Artinya, para pemuka agama Khonghucu tidak sekedar pasrah terhadap keadaan yang cenderung merugikan agama yang mereka anut tersebut. Ada beberapa sikap yang diambil selain tetap memberikan pembelajaran agama Khonghucu di sekolah meskipun akhirnya dilarang juga, para tokoh dan pemuka agama Khonghucu yang tetap pada keyakinannya, tidak mau atau mempertahankan identitas mereka sebagai pemeluk agama Khonghucu. Tokoh agama Khonghucu seperti Thjie Tjai Ing tetap menuliskan agama mereka pada KTP dengan atau sebagai pemeluk agama Khonghucu.

(26)

Dalam menyikapi kebijakan pemerintahan Orde Baru yang mendiskriminasi umat pemeluk agama Khonghucu, para pemuka agama Khonghucu melakukan beberapa tindakan, di antaranya melakukan komunikasi dengan pemerintah, baik di daerah maupun pusat, menemui menteri agama dan menteri dalam negeri, yang pada puncaknya mengadakan pertemuan dengan wakil presiden Adam Malik untuk membicarakan persoalan yang dihadapi umat Khonghucu. Dari komunikasi tersebut, selanjutnya para perwakilan tokoh Khonghucu yang didampingi oleh Adam Malik melakukan pertemuan dengan presiden Soeharto. Pertemuan tersebut membuahkan hasil bahwa mengenai keberadaan agama Khonghucu di Indonesia, pemerintah memandang positif namun pasif. Hal ini oleh tokoh agama Khonghucu “dianggap sebagai kemajuan, mengingat sebelumnya pemerintah terkesan memandang negatif pada umat agama Khonghucu”.36

36

Figur

Memperbarui...