215 BAB V
KESIMPULAN, IMPLIKASI, DAN REKOMENDASI
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dikemukakan, dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Gambaran aktual manajemen lesson study berbasis MGMP Matematika SMP Kabupaten Sumedang, menunjukkan berada pada kecenderungan umum dengan kategori tinggi/baik (87,30%) dari skor ideal. Hal ini berarti manajemen lesson study berbasis MGMP Matematika SMP Kabupaten Sumedang yang meliputi kegiatan perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengawasan sudah terlaksana dengan baik.
2. Gambaran aktual perilaku kepemimpinan kepala SMP Kabupaten Sumedang, menunjukkan berada pada kecenderungan umum dengan kategori sedang/cukup baik (73,71%) dari skor ideal. Hal ini berarti perilaku kepemimpinan kepala SMP Kabupaten Sumedang, yang meliputi perilaku kepemimpinan berorientasi tugas, beroirientasi hubungan, dan berorientasi perubahan baru terlaksana dengan cukup baik.
3. Gambaran aktual kinerja mengajar guru Matematika SMP Kabupaten Sumedang, berada pada kecenderungan umum tinggi/baik (81,30%) dari skor ideal. Hal ini berarti kinerja mengajar guru Matematika SMP Kabupaten Sumedang yang meliputi perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, dan pelaksanaan penilaian sudah terlaksana dengan baik.
4. Manajemen Lesson Study berbasis MGMP berkontribusi signifikan terhadap kinerja mengajar guru matematika SMP Kabupaten Sumedang, dengan koefesien korelasi sebesar 0,359 atau besar kontribusi sebesar 12,90% dan sisanya 87,10% dipengaruhi oleh variabel lain. Sedangkan tingkat signifikan 0,002, karena nilai signifikan 0,002 lebih kecil dari 0,05 maka terdapat kontribusi yang signifikan antara manajemen lesson study berbasis MGMP terhadap kinerja mengajar guru. Selanjutnya melalui perhitungan analisis regresi disimpulkan bahwa setiap penambahan 1 unit manajemen lesson study, maka kinerja mengajar guru akan meningkat sebesar 0,385 unit.
5. Perilaku kepemimpinan kepala sekolah berkontribusi signifikan terhadap kinerja mengajar guru matematika SMP Kabupeten Sumedang. Besarnya korelasi sebesar 0,341, dengan tingkat signifikan 0,003. Sedangkan besarnya kontribusi sebesar 11,70% dan sisanya sebesar 82,30% dipengaruhi variabel lain,. Selanjutnya melalui perhitungan analisis regresi disimpulkan bahwa setiap penambahan 1 unit perilaku kepemimpinan kepala sekolah, maka kinerja mengajar guru akan meningkat sebesar 0,366 unit.
6. Manajemen Lesson Study berbasis MGMP dan perilaku kepemimpinan kepala sekolah berkontribusi signifikan terhadap kinerja mengajar guru matematika SMP Kabupaten Sumedang. Besarnya korelasi adalah 0,476 tergolong cukup kuat dengan tingkat signifikan 0,000. Sedangkan besarnya kontribusi sebesar 22,70%, dan sisanya sebesar 77,30% dipengaruhi oleh
variabel lain. Selanjutnya melalui perhitungan analisis regresi disimpulkan bahwa, koefesien regresi manajemen lesson study berbasis MGMP sebesar 0,357 menyatakan bahwa setiap penambahan satu unit manajemen lesson study berbasis MGMP maka kinerja mengajar guru bertambah sebesar 0,357 unit. Koefesien regresi perilaku kepemimpinan kepala sekolah sebesar 0,336 menyatakan bahwa setiap penambahan satu unit perilaku kepemimpinan kepala sekolah, maka kinerja mengajar guru bertambah sebesar 0,336 unit.
B. Implikasi
Berdasarkan kesimpulan di atas, dapat dirumuskan beberapa implikasi sebagai berikut:
1. Manajemen lesson study berbasis MGMP berkontribusi signifikan terhadap kinerja mengajar guru, namun besarnya kontribusi masih rendah (12,90%). Kondisi ini menggambarkan manajemen lesson study perlu terus dilanjutkan namun perlu kajian lebih lanjut tentang pengelolaan lesson study berbasis MGMP yang sekarang sedang dilakukan terutama pada dimensi pelaksanaan serta mencari solusi terbaik sehingga lesson study berbasis MGMP dapat berkontribusi optimal.
2. Perilaku kepemimpinan kepala sekolah berada pada kategori sedang dan kontribusi terhadap kinerja mengajar guru baru 11,70%, artinya kontribusi perilaku kepemimpinan kepala sekolah terhadap kinerja mengajar guru masih rendah. Kondisi ini belum mendukung terhadap peningkatan kinerja
mengajar guru. Oleh karena itu perlu peningkatan kualitas perilaku kepemimpinan kepala sekolah.
3. Peningkatan kinerja mengajar guru melalui lesson study berbasis MGMP memerlukan dukungan semua pihak terutama kepala sekolah dan pengawas dalam hal melakukan pengawasan terhadap penerapan hasil-hasil MGMP oleh guru model atau guru pengamat di kelasnya masing-masing.
4. Manajemen lesson study berbasis MGMP terbukti telah berkontribusi secara signifikan terhadap peningkatan kinerja guru. Oleh karena itu perlu penyebarluasan yang intensif kepada mata pelajaran lain (selain MIPA). C. Rekomendasi
Berdasarkan kesimpulan dan implikasi yang telah dikemukakan, penulis merekomendasikan hal-hal sebagai berikut:
1. Meskipun manajemen lesson study berbasis MGMP berada pada kecenderungan tinggi/baik, namun masih terdapat dimensi yang memperoleh prosentase kecil dibandingkan dengan dimensi lainnya, yaitu dimensi pelaksanaan terutama pada indikator kegiatan guru pengamat pada saat open lesson dan kegiatan guru pada saat refleksi dan tindak lanjut. Kedua indikator tersebut merupakan hal yang sangat penting dalam meningkatkan kinerja mengajar guru melalui kegiatan lesson study, oleh karena itu perlu ditingkatkan.
Untuk meningkatkan dimensi pelaksanaan, Terry (Hasibuan, 1996) dan Siagian (2008), menyarankan dilakukan dengan cara menggerakan semua komponen yang terlibat agar mau bekerja secara efektif dalam
mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Upaya tersebut sering disebut dengan istilah actuating, directing, leading (Hasibuan, 1996:) atau motivating (Siagian, 2008). Oleh karena itu:
a. Bagi Tim Akhli Lesson Study UPI Bandung kehadirannya sebagai nara sumber masih sangat diperlukan.
b. Bagi dinas pendidikan:
(1) kegairahan dan kerja sama diantara para pejabat struktural dalam penyelenggaraan lesson study berbasis MGMP perlu disegarkan kembali.
(2) kemampuan pengawas tentang pembelajaran dan kehadiran dalam setiap kegiatan lesson study berpotensi untuk dioptimalkan
(3) tidak mengadakan kegiatan yang melibatkan kepala sekolah, pengawas, atau guru matematika bersamaan dengan hari MGMP
(4) pemberian sertifikat secara rutin tiap semester kepada peserta MGMP, (5) penyediaan anggaran yang memadai
(6) kiranya dapat dipertimbangkan pemberian penghargaan kepada kepala sekolah yang memiliki komitmen tinggi terhadap lesson study, termasuk menjadi bahan pertimbangan dalam rotasi kepala sekolah. c. Bagi kepala sekolah,:
(1) kehadiran dan ikut serta sebagai pengamat pada kegiatan open lesson sangat diperlukan untuk memotivasi guru mengikuti kegiatan dengan baik.
(2) mendorong guru secara terus menerus untuk mengikuti kegiatan MGMP sangat diperlukan
(3) melakukan pengawasan pembelajaran secara efektif akan sangat mendorong guru untuk mengkuti kegiatan MGMP dan membantu guru dalam menerapkan hasil-hasil MGMP.
d. Bagi guru,
(1) keikhlasan untuk terus mengikuti kegiatan MGMP dilanjutkan (2) diharapkan dapat memetik pelajaran dari kegiatan MGMP dan
diterapkan dalam kelas masing-masing.
Selanjutnya dalam rangka mengoptimalkan pelaksanaan pengamatan, Japan International Cooperation Agency (2009) menyarankan bahwa seorang guru pengamat harus berdiri di posisi-posisi dimana mereka bisa melihat wajah para siswa, menjaga ketenangan, menahan diri untuk tidak berbicara dan mengajari siswa, dan dapat memetik pelajaran berharga dari kelas yang mereka amati serta menerapkannya di kelas masing-masing .Oleh karena itu, guru pengamat disarankan :
a. berkosentrasi dan berdisiplin dalam melaksanakan pengamatan, b. meningkatkan ketajaman dalam melakukan pengamatan.
Menurut JICA (2009), untuk meningkatkan kemampuan guru pada kegiatan refleksi sangat tergantung pada peran moderator dalam menghidupkan diskusi. Dengan demikian kemampuan moderator harus ditingkatkan. Untuk meningkatkan kemampuan moderator, Gary Yulk (2009) menyarankan dilakukan melalui pelatihan (coaching), memberikan
nasehat (mentoring), dan konseling karier.
Oleh karena itu, untuk meningkatkan kegiatan guru pada saat refleksi dan tindak lanjut disarankan:
e. meningkatkan kemampuan moderator (fasilitator) dalam memimpin diskusi (refleksi) melalui optimalisasi pendampingan fasilitator lama dan pengawas di basecampnya masing-masing.
f. meningkatkan kemampuan guru dalam menganalisis dan menyampaikan komentar pada kegiatan refleksi
g. dukungan kepala sekolah dan pengawas dalam melakukan pengawasan pembelajaran secara efektif akan sangat membantu guru dalam menerapkan hasil-hasil MGMP di sekolah masing-masing.
2. Perilaku kepemimpinan kepala sekolah, berada pada kecenderungan umum cukup baik /sedang dan berkontribusi signifikan terhadap kinerja mengajar guru. Kondisi tersebut memberikan gambaran bahwa perilaku kepemimpinan kepala sekolah masih berpotensi untuk dioptimalkan. Prosentase yang paling kecil berada pada dimensi perilaku kepemimpinan yang berorientasi hubungan, terutama pada indikator kepala sekolah kurang memberikan pengakuan atau penghargaan kepada bawahan atau guru yang meraih prestasi. Padahal pemberian penghargaan sangat penting dilakukan untuk meningkatkan kinerja guru. Gary Yulk (2009) menyatakan pemberian penghargaan bertujuan memperkuat perilaku yang diinginkan dan komitmen pada tugas. Wikoff et al (Gary Yulk, 2009) menemukan bahwa penghargaan oleh penyelia telah meningkatkan kinerja bawahan.
Oleh karena itu penulis menyarankan:
a. selain mengutamakan pencapaian tujuan yang telah ditetapkan, memelihara hubungan baik kepala sekolah dengan guru juga sangat penting
b. kiranya dapat dipertimbangkan pemberian penghargaan kepada guru yang memperoleh keberhasilan yang signifikan, dan kontribusi yang penting bagi sekolah, agar lebih meningkatkan kinerjanya.
3. Kinerja mengajar guru Matematika SMP Kabupaten Sumedang, berada pada kecendeungan umum tinggi/baik. Namun demikian dimensi penilaian memperoleh prosentase paling kecil sehingga masih perlu ditingkatkan. Depdiknas (2009) menyarankan agar penilaian dapat dilakukan dengan baik perlu memperhatikan prinsip-prinsip penilaian sebagaimana tertuang dalam Permendiknas Nomor 20 Tahun 2007. Oleh karena itu penulis menyarankan:
a. hendaknya guru mempelajari kembali prinsip-prinsip penilaian sebagaimana tertuang dalam Permendiknas Nomor 20 Tahun 2007 dan panduan lainya di bawah bimbingan kepala sekolah atau pengawas.
b. setiap guru hendaknya menganalisis butir soal baik secara kualitatif maupun kuantitatif sehingga dapat diketahui kualitas soal yang telah disusun.
c. perlu peningkatan pendokumentasian proses pelaksanaan remedial dan pengayaan